Membangun Generasi Anak Panah
Editor | Kolom Lepas | September 1st, 2009 | No Comments »
Oleh: Kak Sugeng*
“Sekarang ini, sebenarnya anak-anak kita hidup dalam masa penjajahan.
Namun, kita para orang tua dan para pendidik tidak menyadarinya.”
~ Kak Sugeng
Seperti anak panah di tangan pahlawan yang siap diluncurkan, demikianlah mereka menggunakannya sebagai senjata untuk melawan musuh. Anak panah itu adalah anak-anak kita. Para pahlawan itu adalah kita, para orang tua, yang berjuang dengan sekuat tenaga. Dan, tergantung kita, apakah kita meluncurkan anak panah tepat sasaran atau meleset, sehingga akan tidak ada artinya sama sekali.
Anak-anak adalah generasi masa depan suatu bangsa. Andai sekarang ini anak-anak hancur, tidak bermoral, tertindas, maka ke depannya entah bagaimana nasib bangsa ini. Sudah selayaknya kita benar-benar menjaga anak-anak kita supaya mereka benar-benar menjadi manusia yang tangguh dan berdaya saing.
Sekarang ini banyak negara maju sedang menginvestasikan dana yang besar agar generasi mudanya bisa melanjutkan kejayaan bangsanya. Anak-anak seharusnya dijaga karena lebih berharga dari kekayaan alam yang dimiliki satu bangsa. Anak-anak kita adalah harta karun terpendam, seperti permata yang sangat berharga. Kita para orang tua seharusnya menjaga dengan cinta dan penuh kewaspdaan. Kadang sikap penjagaan kita terhadap kekayaan tidak sebanding dengan kewaspadaan untuk menjaga buah hati kita.
Hari-hari ini, ada aparat keamanan menjaga dengan ekstra keras tempat-tempat tertentu guna menanggulangi ancaman teror. Masa sekarang sedang gencar-gencarnya menjaga keamanan dengan kewaspadaan. Setiap aparat tidak ingin tempat yang mereka jaga kecolongan terkena aksi teror.
Namun sayangnya, kewaspadaan menjaga keamanan sekeliling kita tidak sebanding dengan upaya menjaga anak-anak kita. Lihat saja di malam hari anak-anak dengan bebasnya melihat tayangan-tayangan yang sebetulnya belum saatnya mereka lihat. Orang tua tanpa sadar membiarkan anak-anak diteror oleh ancaman bahwa anak-anaknya akan bertindak seperti yang mereka tonton. Akibatnya, sekarang tidak sedikit anak bertindak ala orang dewasa. Masih ingat, dulu sampai ada korban meninggal gara-gara sang anak meniru gulat bebas yang dia tonton dari tayangan televisi.
Sebentar lagi kita akan memasuki pasar bebas. Persaingan akan ketat sekali. Bangsa-bangsa yang maju sudah selangkah lebih maju menyiapkan generasi mudanya agar nantinya bisa bersaing. Sejak dari kecil sudah dilacak apa potensinya dan diasah supaya benar-benar menjadi generasi yang mumpuni.
Namun, ironi sekali dengan kondisi anak-anak di negeri tercinta. Di sini anak-anak tertindas dengan sistem pendidikan yang nyata-nyata membebani mereka. Potensi anak tidak tersentuh sama sekali. Anak-anak hanya dicekoki dengan mata pelajaran yang kadang-kadang belum waktunya, bahkan berlebihan kadarnya. Indikasinya, lihat saja ketika anak akan berangkat sekolah. Raut muka mereka tidak ada secercah pun senyuman gembira. Dari rumah mereka sudah dibayang-dibayangi oleh monster soal-soal yang sepertinya siap menerkam mereka. Mungkin, setiap kali diberi tahu besok mau ulangan, itu seperti teror saja.
Kasihan anak-anak. Siapa yang akan menjadi pembela anak-anak. Masih adakah orang tua yang dengan senang hati menanyakan, “Nak, apakah kamu senang di sekolah tadi? Kalau kamu sudah lelah, sana tidur lagi!” Sekarang ini, waktu bermain dan masa-masa liburan adalah waktu emas yang mereka tunggu. Ketika mereka bisa libur, itu seperti keluar dari penjara.
Saya ingat betul, anak saya yang baru TK Besar, ketika bangun pagi sepertinya (dalam bahasanya jawa) aras-arasen selama beberapa bulan. Saya amati, ternyata anak sekecil itu sudah harus dipaksa untuk bisa ini bisa itu.
Sekarang ini, sebenarnya anak-anak kita hidup dalam masa penjajahan. Namun, kita para orang tua dan para pendidik tidak menyadarinya. Kapan waktunya proklamasi kemerdekaan bagi anak-anak? Kapan waktunya anak-anak bebas merdeka mengepresikan potensinya?
Kalau Anda amati pengalaman anak-anak yang masih TK, rasa ingin tahu mereka besar sekali. Setiap hari saya mengalaminya, anak saya tanpa lelah memberondong saya dengan banyak pertanyaan. Namun, apakah rasa ingin tahu yang besar ini akan bertahan pada tahun-tahun berikutnya? Faktanya, ketika anak sudah menginjak kelas 3 SD ke atas, rasa ingin tahu itu hilang entah ke mana.
Ketika guru selesai menjelaskan materinya, lalu bertanya kepada anak-anak apakah ada pertanyaan, kenyataannya tidak ada satu pun yang bertanya. Kalau rasa ingin tahu ini sampai mati dalam diri anak-anak kita, itu fatal sekali. Orang-orang jenius, penemu-penemu ternama, orang-orang berpengaruh di dunia, modal utama mereka ya rasa ingin tahunya itu.
Para orang tua, para pendidik, dan siapa pun yang terlibat dalam dunia pendidikan… Mari benar-benar memoles anak-anak kita supaya menjadi anak panah yang siap diluncurkan untuk bersaing dalam kehidupan nyata yang penuh perjuangan. Kita sendirilah yang akan menuai. Jangan sampai kita menjadi orang tua yang menabur beban bagi anak-anak kita. Karena, kita sendiri yang akan menuainya. Mari kita bangun generasi anak menjadi generasi anak panah.[ks]
* Kak Sugeng adalah Motivator Pelajar pertama di Solo yang telah melayani lebih dari 1500 pelajar dari SD sampai SMA. Bekerja di GBI Keluarga Allah pada Staff Departemen Anak bagian pelayanan masyarakat. Website: facebook.com/kaksugeng.
Oleh: Kak Sugeng*
Oleh: