Membangun Generasi Anak Panah

ksOleh: Kak Sugeng*

Sekarang ini, sebenarnya anak-anak kita hidup dalam masa penjajahan.

Namun, kita para orang tua dan para pendidik tidak menyadarinya.

~ Kak Sugeng

Seperti anak panah di tangan pahlawan yang siap diluncurkan, demikianlah mereka menggunakannya sebagai senjata untuk melawan musuh. Anak panah itu adalah anak-anak kita. Para pahlawan itu adalah kita, para orang tua, yang berjuang dengan sekuat tenaga. Dan, tergantung kita, apakah kita meluncurkan anak panah tepat sasaran atau meleset, sehingga akan tidak ada artinya sama sekali.

Anak-anak adalah generasi masa depan suatu bangsa. Andai sekarang ini anak-anak hancur, tidak bermoral, tertindas, maka ke depannya entah bagaimana nasib bangsa ini. Sudah selayaknya kita benar-benar menjaga anak-anak kita supaya mereka benar-benar menjadi manusia yang tangguh dan berdaya saing.

Sekarang ini banyak negara maju sedang menginvestasikan dana yang besar agar generasi mudanya bisa melanjutkan kejayaan bangsanya. Anak-anak seharusnya dijaga karena lebih berharga dari kekayaan alam yang dimiliki satu bangsa. Anak-anak kita adalah harta karun terpendam, seperti permata yang sangat berharga. Kita para orang tua seharusnya menjaga dengan cinta dan penuh kewaspdaan. Kadang sikap penjagaan kita terhadap kekayaan tidak sebanding dengan kewaspadaan untuk menjaga buah hati kita.

Hari-hari ini, ada aparat keamanan menjaga dengan ekstra keras tempat-tempat tertentu guna menanggulangi ancaman teror. Masa sekarang sedang gencar-gencarnya menjaga keamanan dengan kewaspadaan. Setiap aparat tidak ingin tempat yang mereka jaga kecolongan terkena aksi teror.

Namun sayangnya, kewaspadaan menjaga keamanan sekeliling kita tidak sebanding dengan upaya menjaga anak-anak kita. Lihat saja di malam hari anak-anak dengan bebasnya melihat tayangan-tayangan yang sebetulnya belum saatnya mereka lihat. Orang tua tanpa sadar membiarkan anak-anak diteror oleh ancaman bahwa anak-anaknya akan bertindak seperti yang mereka tonton. Akibatnya, sekarang tidak sedikit anak bertindak ala orang dewasa. Masih ingat, dulu sampai ada korban meninggal gara-gara sang anak meniru gulat bebas yang dia tonton dari tayangan televisi.

Sebentar lagi kita akan memasuki pasar bebas. Persaingan akan ketat sekali. Bangsa-bangsa yang maju sudah selangkah lebih maju menyiapkan generasi mudanya agar nantinya bisa bersaing. Sejak dari kecil sudah dilacak apa potensinya dan diasah supaya benar-benar menjadi generasi yang mumpuni.

Namun, ironi sekali dengan kondisi anak-anak di negeri tercinta. Di sini anak-anak tertindas dengan sistem pendidikan yang nyata-nyata membebani mereka. Potensi anak tidak tersentuh sama sekali. Anak-anak hanya dicekoki dengan mata pelajaran yang kadang-kadang belum waktunya, bahkan berlebihan kadarnya. Indikasinya, lihat saja ketika anak akan berangkat sekolah. Raut muka mereka tidak ada secercah pun senyuman gembira. Dari rumah mereka sudah dibayang-dibayangi oleh monster soal-soal yang sepertinya siap menerkam mereka. Mungkin, setiap kali diberi tahu besok mau ulangan, itu seperti teror saja.

Kasihan anak-anak. Siapa yang akan menjadi pembela anak-anak. Masih adakah orang tua yang dengan senang hati menanyakan, “Nak, apakah kamu senang di sekolah tadi? Kalau kamu sudah lelah, sana tidur lagi!” Sekarang ini, waktu bermain dan masa-masa liburan adalah waktu emas yang mereka tunggu. Ketika mereka bisa libur, itu seperti keluar dari penjara.

Saya ingat betul, anak saya yang baru TK Besar, ketika bangun pagi sepertinya (dalam bahasanya jawa) aras-arasen selama beberapa bulan. Saya amati, ternyata anak sekecil itu sudah harus dipaksa untuk bisa ini bisa itu.

Sekarang ini, sebenarnya anak-anak kita hidup dalam masa penjajahan. Namun, kita para orang tua dan para pendidik tidak menyadarinya. Kapan waktunya proklamasi kemerdekaan bagi anak-anak? Kapan waktunya anak-anak bebas merdeka mengepresikan potensinya?

Kalau Anda amati pengalaman anak-anak yang masih TK, rasa ingin tahu mereka besar sekali. Setiap hari saya mengalaminya, anak saya tanpa lelah memberondong saya dengan banyak pertanyaan. Namun, apakah rasa ingin tahu yang besar ini akan bertahan pada tahun-tahun berikutnya? Faktanya, ketika anak sudah menginjak kelas 3 SD ke atas, rasa ingin tahu itu hilang entah ke mana.

Ketika guru selesai menjelaskan materinya, lalu bertanya kepada anak-anak apakah ada pertanyaan, kenyataannya tidak ada satu pun yang bertanya. Kalau rasa ingin tahu ini sampai mati dalam diri anak-anak kita, itu fatal sekali. Orang-orang jenius, penemu-penemu ternama, orang-orang berpengaruh di dunia, modal utama mereka ya rasa ingin tahunya itu.

Para orang tua, para pendidik, dan siapa pun yang terlibat dalam dunia pendidikan… Mari benar-benar memoles anak-anak kita supaya menjadi anak panah yang siap diluncurkan untuk bersaing dalam kehidupan nyata yang penuh perjuangan. Kita sendirilah yang akan menuai. Jangan sampai kita menjadi orang tua yang menabur beban bagi anak-anak kita. Karena, kita sendiri yang akan menuainya. Mari kita bangun generasi anak menjadi generasi anak panah.[ks]

* Kak Sugeng adalah Motivator Pelajar pertama di Solo yang telah melayani lebih dari 1500 pelajar dari SD sampai SMA. Bekerja di GBI Keluarga Allah pada Staff Departemen Anak bagian pelayanan masyarakat. Website: facebook.com/kaksugeng.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.7/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Di Balik Krisis Ada Kesempatan

Kak SugengOleh: Kak Sugeng*

Krisis ini tidak akan berakhir tetapi orang-orang yang melihat kesempatan di balik krisis dia akan tampil sebagai pemenang. Orang-orang yang melihat peluang di balik petaka justru dia akan tampil sebagai orang yang berhasil. Makin kaya, tambah kaya, dan menjadi sangat kaya sekali.

Di balik krisis memang ada bahaya dan seharusnya kita jadi waspada. Namun, yang lebih penting lagi adalah kita harus bisa melihat kesempatan dalam kesempitan. Kita harus berlatih untuk melihat peluang di balik gejolak.

Sudah biasa kalau kita mencari kejelekan seseorang, namun untuk melihat kebaikan seseorang perlu belajar dari hari ke hari. Demikian juga kalau kita melihat situasi dan kondisi, terlalu mudah untuk melihat yang negatif di hadapan kita. Namun, perlu kerja ekstra untuk melihat sesuatu yang positif di balik segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita.

Beberapa orang selalu berkata, “Semua ini pasti ada hikmahnya.” Sama juga dengan krisis multidimensi yang menerpa bangsa kita. Semua ini Tuhan izinkan supaya kita manusia menjadi manusia yang bertuhan. Manusia yang percaya akan adanya Tuhan. Negara-negara Barat yang banyak orang sudah berkepercayaan ateis, lebih menyedihkan lagi. Mereka masih mengandalkan kekuatan manusia.

Sejarah hidup membuktikan, saat krisis justru banyak orang yang mendapatkan keuntungan. Orang-orang yang berjiwa besar, pantang menyerah, dan ulet selalu berusaha bangkit dari keterpurukan. Aneh tetapi nyata, bila diteliti, justru di saat-saat krisislah pembangunan kota-kota menjadi lebih hebat lagi. Banyak bangunan baru di saat krisis.

Seorang walikota yang  dulunya menjadi seorang pengusaha di bidang furniture dililit utang yang banyak. Saat krisis tahun 1998, hampir setiap sektor perekonomian mengalami krisis. Bahkan, dollar AS yang semula hanya senilai Rp 2.000 menjadi lebih dari Rp 15.000. Tetapi, walikota yang pernah menjadi pengusaha ini tak patah arang, dia malahan menggenjot eksportnya. Tak dinyana, tak diduga, justru hanya dalam waktu empat bulan semua hutangnya bisa dilunasi. Pundi-pundi uangnya bertambah banyak. Dia tambah kaya, usahanya semakin besar. Sekali lagi, fakta membuktikan sekalipun gejolak ekonomi justru mucul milarder-miliarder baru.

Orang China adalah bangsa yang mengerti betul makna krisis. Dulu bangsa China sangat dekat sekali dengan kemiskinan dan penderitaan. Kalau ditelusuri, kata krisis sendiri dalam bahasa Mandarin adalah wei ji. Kalau Anda belajar bahasa Mandarin, anda akan mengetahui bahwa setiap kata itu mempunyai makna khusus. Jadi, WEI itu dari kata WEI XIAN artinya bahaya. Di dalam krisis itu ada bahaya. Dan sebaliknya, JI itu dari kata JI HUI yang artinya kesempatan. Jadi, dalam krisis ada bahaya sekaligus ada kesempatan. Tak heran kalau sekarang ini bangsa China menjadi bangsa yang disegani dan diperhitungkan dalam percaturan bangsa-bangsa di dunia.

Antara 10-15 tahun lalu, kalau pengusaha Indonesia datang ke China yang dilihat adalah orang-orang di sana seperti menjadi pengemis yang minta dana investasi di China. Namun sekarang ini, kalau para pengusaha Indonesia datang kagi ke sana, justru pengusaha Indonesialah yang minta kucuran dana investasi.

Jangan putus asa di saat krisis seperti sekarang ini, justru kita harus bangkit. Kalau krisis lalu kita berputus asa, kita akan tenggelam. Jika Anda tawar hati, akan kecil kekuatan Anda. Bahaya besar akan mencekam hidup Anda, kalau nyali kita sudah tidak ada.

Kisah nyata dan luar biasa lagi dari pendiri Hotel Hilton, dulunya dia punya toko kelontong. Waktu itu sama seperti sekarang ini, Amerika sedang dilanda krisis. Toko yang dia kelola akhirnya bangkrut dan harus ditutup. Pendiri Hilton ini tidak menyerah dan berputus asa. Akhirnya, orang ini bangkit. Dia sudah sejak lama memimpikan bisa membangun sebuah hotel. Tanpa pikir panjang lagi toko kelontong dia ubah menjadi sebuah penginapan. Dengan semangat membara dan pantang menyerah, dia memperjuangkan usahanya. Bukti semangat pantang menyerahnya adalah sekarang dia sudah memiliki puluhan hotel yang tersebar di seluruh dunia. Lagi, ada kesempatan di balik krisis kembali dibuktikan oleh pendiri Hotel Hilton.

Tengoklah Obama, kalau ditelusuri dia berasal dari keluarga yang berantakan. Orang tua beberapa kali bercerai. Suatu kali dia ke Kenya dan merasakan betapa menderita kalau manusia dihinggapi oleh kemiskinan dan kemelaratan. Akhirnya, dia berjanji di depan nisan ayahnya untuk menjadi orang yang berguna dalam hal memerangi kemiskinan. Amerika beruntung sekali mempunyai presiden yang sudah terbentuk oleh alam, di mana dia pernah merasakan penderitaan jadi orang miskin. Di balik krisis kehidupannya dulu yang amburadul, Obama melihat kesempatan untuk berjuang menjadi orang yang berguna bagi banyak orang.

Seekor anak rajawali yang sedang belajar terbang tahu betul apa artinya badai. Ketika dia terbang dan ada badai di hadapannya, dia akan terbang lebih tinggi lagi. Untuk menjadi rajawali yang berani menantang badai, ada tahapan-tahapan pembelajaran dalam hidupnya. Ketika belum bisa terbang dan masih kecil, sang induk akan menggoyang-goyang sarangnya sampai anak rajawali ini jatuh. Anak rajawali mungkin berpikir, “Orangtuaku ini kejam sekali, dia ingin membunuhku.” Ketika anak rajawali hampir jatuh, sang induk langsung menukik menopang anaknya. Tenanglah sang anak karena induknya datang tepat waktu.

Di tengah-tengah kenyamanannya, anak rajawali ini tiba-tiba dijatuhkan lagi oleh induknya. Terpaksa kali ini dia harus mengepak-kepakkan sayapnya. Anak rajawali ini akan sering dijatuhkan dan hati yang deg-degan pasti sering ia alami. Selama rajawali junior belum bisa terbang, dia akan sering dijatuhkan sampai dia betul-betul bisa terbang.

Sama seperti rajawali menghadapi badai dan bisa terbang lebih tinggi. Kita manusia mempunyai kekuatan yang lebih dahsyat lagi untuk menghadapi badai krisis. Bahkan, yakinlah justru badai atau krisis ini akan membawa kita naik ke tingkat yang lebih tinggi. Anda yang masih optimis, selamat Anda akan mengalami kenaikan pendapatan, hidup Anda tidak akan sama lagi di kemudian hari. Sudah pasti itu harus disertai dengan keyakinan dan disertai usaha yang kuat ditambah keimanan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka kita akan naik lebih tinggi lagi.

Jangan khawatir! Badai saat ini akan menjadi sarana bagi kita, para pejuang kehidupan, untuk terbang lebih tinggi dan mengalami kemakmuran hidup, serta menjadi pahlawan-pahlawan pejuang akan penjajahan kemiskinan yang melanda banyak orang.[ks]

* Kak Sugeng adalah seorang motivator dan pengembangan diri anak. Ia berkantor di Jl. Sutan Syahrir 88 Widuran, Solo, Telp: 634996, HP: 08812944185, 0271-7020778, 9111778, atau pos-el di kaksugeng[at]yahoo[dot]com dan website: www.kaksugeng.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Kasihan Anak-anak

kak sugengOleh: Kak Sugeng*

Apa pun peristiwa yang terjaditerutama kalau bencanaselalu ada saja korban di dalamnya. Kebanyakan juga ada korban yang masih kanak-kanak. Golongan ini memang yang paling lemah, rentan sekali jadi korban. Namun, tanpa kita sadari, anak-anak di sekitar kita juga jadi korban sekalipun  sebetulnya tidak ada bencana, tidak ada perang.

Lihatlah di sekiling Anda, banyak anak menjadi korban karena berbagai hal. Lihatlah anak-anak yang mengemis atau mengamen di tengah terik matahari. Anak-anak menjadi korban karena orang tua yang tidak bertanggung jawab. Orang tua yang sangat tega membiarkan anaknya, membiarkan darah dagingnya sendiri, seperti itu. Orang tua yang malas dan tidak mau berjuang keras untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Orang tua yang tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga, sampai anak-anak dilibatkan bekerja.

Kasihan sekali anak-anak yang sudah diajari menjadi pengemis sejak dari kecil. Padahal, mental seorang pengemis itu sangat tidak baik. Mental pengemis bisa menjadi bumerang bagi anak itu sendiri. Sama saja, masa depan anak itu sudah dihancurkan sejak kanak-kanak, karena mental pengemis sudah mendarah daging dalam diri mereka. Apa jadinya bangsa ini dengan generasi pengemis atau peminta-minta seperti itu.

Selain korban kemiskinan, anak-anak dari kalangan atas juga bisa menjadi korban. Lihatlah, banyak orang tua yang berduit yang tidak peduli dengan anak-anaknya. Mentang-mentang mereka punya harta yang melimpah, lalu merasa harta merekalah yang membahagiakan anak-anaknya. Padahal, kebahagian yang sejati bukan dari materi yang melimpah saja.

Memang, mereka bisa memberikan warisan yang besar kepada anak-anak. Mereka juga bisa memberikan rumah bak istana yang megah kepada keturunannya. Tetapi, mereka terlalu sibuk dengan urusan bisnis, menganggap waktu adalah uang, waktu habis untuk pekerjaan, sementara waktu untuk bersama anak-anak tidak pernah diberikan. Sehingga, warisan yang paling hakiki, yang seharusnya menjadi warisan sejati, justru tidak pernah mereka siapkan. Warisan sejati itu adalah kerohanian yang matang, moral, dan karekter yang baik. Kasihan anak-anak.

Terlebih lagi, lihatlah anak-anak yang waktunya habis untuk kegiatan sekolah. Coba tanyakan saja, waktu kosong mereka dari hari Senin sampai Sabtu. Apakah ada waktu untuk bermain setelah pulang sekolah? Adakah waktu untuk mengekpresikan kreativitas mereka? Banyak orang tua memaksakan kehendak agar anaknya mengikuti les ini, les itu, tanpa memikirkan hak asasi setiap anak. Tanpa disadari, hak asasi si anak diinjak-diinjak oleh orang tua yang tidak berpengertian.

Sekali lagi, anak-anak menjadi korban.Bbukan karena korban perang, bukan karena korban bencana, tetapi menjadi korban keluaganya sendirinya. Naif sekali.

Belum lagi masa sekarang anak ini, banyak anak menjadi korban media. Lihat saja, banyak tayangan televisi yang tidak mendidik masuk ke dalam alam bawah sadar mereka. Tanpa disadari, itu seperti bom waktu, dan nantinya anak-anak akan menjadi generasi yang amburadul.

Perhatikan lagu-lagu yang mereka nyanyikan. Jarang sekali mereka menyanyikan lagu anak-anak, seperti generasi anak-anak 10-20 tahun yang lalu. Hari-hari ini, banyak anak yang lebih suka menyanyikan Lelaki Buaya Darat, Kucing Garong, lagu tentang pacaran, dan banyak lagu lainnya yang tidak mendidik.

Andai kata anak-anak sudah mengerti hukum dan hak asasi mereka yang telah diinjak-diinjak, bisa saja mereka mengajukan gugatan kepada orang tua sendiri. Memang, pasti tidak akan ada pengacara yang mendukung anak-anak melakukan hal seperti itu. Namun, tanpa kita sadari, anak-anak sendiri yang menjadi korban dan mereka sendiri yang menanggung akibatnya.

Kita tidak menyadari, sepuluh tahun ke depan, apa yang akan terjadi pada mereka. Bagaimana bangsa ini bisa maju, kalau anak-anaknya senantiasa menjadi korban? Kata orang, anak-anak adalah generasi bangsa, masa depan bangsa. Omong kosong belaka kalau kita tidak peduli dengan kebutuhan yang paling hakiki dari setiap anak.

Kebutuhan itu adalah rasa dihargai. Setiap manusia butuh penghargaan. Hargailah anak-anak untuk menentukan pilihannya sendiri. Hargailah anak-anak untuk setiap pendapatnya tentang apa saja yang  dia lakukan setiap hari. Istimewakan anak Anda dengan waktu-waktu yang berharga.

Saat kita memerhatikan mereka di tengah-tengah kesibukan kita, mereka akan merasa disayangi dan dihargai. Sudah pasti ke depannya anak-anak itu tidak akan mencari kasih sayang dari orang lain di luar keluarga mereka. Mereka tidak akan mencari kasih sayang dari pergaulan yang buruk, kehidupan malam, atau narkoba. Sayangi anak-anak, tidak sekadar kata-kata, tetapi sayangi mereka dengan perbuatan yang nyata.

Setiap keluarga pasti rindu rumahnya menjadi surga bagi anak-anak. Ciptakan surga di tengah-tengah zaman yang semakin sulit ini. Anak-anak yang mengalami rasa bahagia sejati, merasakan suasana surga di rumahnya sendiri, maka mereka akan mendapatkan banyak pengaruh positif.

Ketika mereka mendapatkan kebahagian yang sejatitidak hanya dicukupi materinya sajamaka itu akan memengaruhi cara mereka menghadapi hidup yang penuh tantangan ini. Anak-anak yang perkasa seperti inilah yang akan membuat bangsa kuat. Anak-anak yang kuat, baik secara lahir dan batin, inilah yang akan menjadikan bangsa kita bermartabat dan berbudaya.

Biarlah anak-anak datang kepada surga di rumah mereka. Izinkan mereka menikmati surga di rumah bersama orang tua yang mengasihi mereka. Jangan halangi mereka bertemu dengan surga dan kebahagian mereka sendiri di rumah.[ks]

* Kak Sugeng adalah seorang motivator dan pengembangan diri anak. Office: Jl. Sutan Syahrir 88 Widuran, Solo, Telp: 634996, HP: 08812944185, 0271-7020778, 9111778, Email : kaksugeng@yahoo.com, Website: www.kaksugeng.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Mental Baja Menghadapi Badai

ksOleh: Kak Sugeng*

Mental baja itu seperti mental seorang pejuang yang tidak akan menyerah menghadapi apa pun yang mendera kehidupan. Mental baja itu laksana seorang pahlawan yang pantang menyerah menghadapi penjajah untuk meraih kemerdekaan sejati. Mental baja itu bak pedang bermata dua yang siap menghunus musuh-musuh kesulitan hidup yang mendatangi.

Tetapi sebaliknya, kalau mental tempe selalu menyerah dengan keadaan, selalu ingin lari dari masalah, selalu lembek dengan masalah, sama seperti tempe yang lembek dan mudah patah. Sama seperti seseorang yang mudah patah semangat sewaktu menghadapi tantangan dan masalah. Mental tempe tidak beda jauh dengan binatang undur-undur, yang kalau berjalan selalu mundur.

Namun, bertolak belakang dengan seseorang yang bermental baja, dia akan manganggap tantangan sebagai batu loncatan untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. Laksana burung rajawali, justru dia akan terbang semakin tinggi. Beda dengan burung biasa, kalau ada angin kencang malahan sembunyi dan menghindar. Seseorang bermental baja menganggap kesulitan dan krisis sebagai peluang untuk mendapatkan pendapatan yang lebih banyak lagi dari sebelumnya.

Kalau masyarakat dalam satu kota memiliki sikap mental yang luar biasa ini, tidak mustahil kota itu akan menjadi kota yang kuat, kota yang kokoh, dan sudah pasti akan menjadi kota yang maju.

Berbicara mental seseorang tidak beda jauh dengan sumber daya manusia (SDM). Maju mundurnya satu kota ditentukan oleh SDM yang berkualitas dan berkarakter.

Contoh sederhana, suatu kawasan kumuh dengan SDM rendahan, kalau orang-orangnya dipindahkan ke satu kawasan perumahan yang elit dan berkelas. Maka, tidak lama kemudian kawasan berkelas yang semula indah dan bagus akan menjadi kawasan kumuh. Akan kotor, bau, dan banyak sampah tersebar di mana-mana. Namun, sebaliknya andaikata orang-orang terpelajar, orang -orang yang ber-SDM tangguh, atau manusia-manusia bermental baja dipindahkan ke kawasan yang kumuh. Tidak lama kemudian, kawasan yang kotor, bau, dan tidak enak dipandang itu akan berubah menjadi kawasan elit dan berkelas.

Tempatnya sama, tetapi penghuninya beda, itulah kekuatan dari SDM dari orang-orang yang tinggal di sana. Itulah pengaruh dari sikap mental, sampai sekeliling lingkungan pun ikut terkena dampaknya.

Jadi, perlu dipikirkan bagaimana upaya membangun SDM masyarakat kota supaya lebih baik lagi. Tidak akan berguna kalau kita membangun fasilitas yang modern, namun hanya ditinggali oleh SDM rendahan. Perlu sekali diadakan pelatihan-pelatihan yang menyentuh langsung masyarakat dengan SDM rendah. Tentunya, pelatihan-pelatihan yang membentuk mental dan berkarakter baja.

Tidak hanya masyarakat yang bermental baja, tetapi para pejabat dan aparat hukum, atau mereka yang punya kekuasaan yang besar, merekalah sasaran utama untuk memiliki mental yang baik. Jangan sampai kita memiliki pejabat dan aparat hukum yang bermental pengemis, peminta-minta. Sangat memalukan sekali.

Alkisah, ada seorang anak yang sedang mengemis. Otomatis anak ini punya mental pengemis. Suatu ketika, ada seorang bangsawan yang belum dikaruniai anak. Dia ingin mengangkat si pengemis menjadi anaknya. Sang bangsawan sangat kasihan sekali pada si pengemis cilik ini. Dia sudah tinggal dilingkungan bangsawan yang nyaman, indah, dan sangat menyenangkan. Sayang sekali, pengemis ini tidak meninggalkan mental pengemisnya. Padahal, apa pun yang ia pinta tinggal minta dan langsung ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan.

Akibatnya, sering kali anak ini kedapatan meminta-meminta pada lingkungan bangsawan di mana orang tua angkatnya tinggal. Sangat memalukan sekali. Bahkan dalam satu rapat dengan raja, eh anak ini masih saja mengemis kepada para pejabat sebelum memasuki istana. Padahal, orang tuanya tidak kurang-kurang memberitahu dan melarangnya mengemis. Namun sekali lagi, kalau mental pengemis tidak ditanggalkan, maka akan sangat memalukan, baik bagi anak ini, juga bagi orang tua angkatnya.

Akhirnya, karena tidak kuat menanggung malu, bangsawan terkemuka ini mengambil tindakan. Pengemis cilik ini dikembalikan ke habitat awalnya. Anak ini kembali lagi di jalanan menjadi pengemis. Mungkin dan bisa terjadi selamanya dia akan tetap menjadi seorang pengemis. Selama dia tidak membuang sikap mental pengemis, selama itu pula hidupnya masih di bawah kemiskinan.

Alkisah, ada lagi seorang remaja yang belum berpengalaman dalam dunia peperangan, tiba-tiba berani berduel menantang seorang tentara raksasa. Bak gajah melawan semut yang kecil, itulah gambaran duelnya, seperti gladiator. Mengapa hanya seorang remaja ingusan yang berani berduel? Mengapa hanya seorang pemuda minim pengalaman berani bertarung antara hidup dan mati? Di mana para prajurit yang gagah berani? Di mana tentara yang terlatih untuk membunuh lawan? Ke mana para petarung yang tertempa medan pertempuran?

Para tentara bertubuh kekar ini hanya gagah tampak luarnya saja. Tetapi di dalam tubuhnya hanya terdapat dan berdiam hati yang ciut. Itulah gambaran orang yang bermental tempe. Dari luarnya saja kelihatan perkasa, namun dalamnya keropos. Dari luarnya seperti binaraga, namun dalamnya “bina rangka” alias jerangkong hidup. Namun, remaja yang bernyali ini, sekalipun kalau dilihat dari postur tubuh tidak menyakinkan, tetapi di dalam dirinya ada semangat yang menyala-nyala. Ada satu gairah hidup yang tidak gentar dengan raksasa di hadapannya.

Hari –hari ini kita seperti menghadapi raksasa-raksasa masalah, raksasa-raksasa kesulitan hidup. Orang yang bermental baja tidak ciut nyalinya sekalipun ada monster-monster krisis yang menantangnya.

Sangat menyedihkan kalau sampai kita mempunyai mental yang tidak baik. Pengaruh mental masyarakat itu akan menentukan maju atau mundurnya suatu kota. Bahkan, mental rakyat akan menentukan maju mundurnya suatu bangsa.

Coba kita amati, apakah bangsa yang maju berdasarkan usianya? Lihatlah bangsa-bangsa yang tua, peradabannya jauh lebih lama, contohnya Mesir. Kalau dibanding-bandingkan, Mesir masih kalah dengan bangsa yang lebih muda. Banyak bangunan yang jelek ada di sana. Bahkan, kebanyakan bangunan dibarkan tidak selesai. Tiang-tiang besi penyangga masih kelihatan. Selidik punya selidik, ternyata di sana ada satu peraturan; kalau rumah sudah jadi, si empunya harus membayar kepada pemerintah. Jadi, sengaja dibiarkan besi kelihatan biar tampak belum selesai pembangunanya. Sehingga, pemiliknya tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar kepada pemerintah setempat.

Ternyata keberhasilan satu bangsa tidak dipengaruhi dari usia.

Coba Anda cermati, apakah bangsa yang maju adalah bangsa yang kekayaannya melimpah? Luas negaranya sangat besar? Lihat saja Singapura, yang tidak mempunyi kekayaan alam, wilayah negara sangat kecil. Bahkan, untuk air bersih saja harus beli dari Indonesia. Namun, semua orang tahu Singapura adalah negara yang maju, bangsa yang berpengaruh bagi kawasan Asia pada khususnya. Lihatlah Jepang, luas negaranya yang kecil, lebih bagus di Indonesia. Namun sekali lagi, kekayaan dan luas wilayah tidak menjadi dasar kemajuaan bangsa. Yang menjadi dasar kemajuan bangsa adalah mental dan karakter bangsa itu. Bagaimana dengan daerah Anda?[ks]

* Kak Sugeng adalah seorang motivator dan pengembangan diri anak. Office: Jl. Sutan Syahrir 88 Widuran, Solo, Telp: 634996, HP: 08812944185, 0271-7020778, 9111778, Email : kaksugeng@yahoo.com, Website: www.kaksugeng.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.4/10 (11 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 4 votes)

Dahsyatnya Visi di Tengah Krisis

Kak SugengOleh: Kak Sugeng*

Ada satu ilustrasi yang unik dan berkesan bagi saya. Suatu ketika, ada pemancing sedang melakukan hobi kesukaannya yaitu memancing. Namun, ada hal yang aneh dia lakukan. Ketika dia mendapatkan tangkapan, dia selalu mengukur dengan tongkat yang dia bawa. Kalau ikan yang dia dapatkan lebih kecil atau sama dengan panjang dari tongkatnya, ikan itu akan dia ambil untuk dibawa pulang. Namun, kalau ikan yang ia dapatkan lebih panjang dari tongkat yang dia bawa, pemancing aneh ini akan menceburkan lagi. Ikan yang lebih besar dari tongkat senantiasa akan dibuang alias tidak diambil. Aneh tapi nyata.

Di tengah-tengah krisis yang baru menerpa kita, rasanya aneh berbicara masalah visi. Namun, impian atau visi besar kita tidak boleh dibatasi dengan kondisi sekarang ini. Kalau kita berpikir terbatas pada situasi dan kondisi sekarang ini, kita tidak akan mendapatkan sesuatu yang luar biasa dalam hidup kita. Jangan mau dibatasi dengan keadaan saat ini. Jangan mengukur keterbatasan dalam kondisi yang serba sulit. Kalau Anda membatasi diri Anda dengan kondisi sekarang ini, Anda tidak akan mendapatkan sesuatu yang lebih besar dari yang Anda dapatkan sebelumnya. Anda akan mendapatkan sama besarnya seperti masa-masa sebelumnya.

Dalam kondisi tidak baik tetapi kita punya visi besar, kita justru akan mendapatkan lebih banyak. Melalui tulisan ini, saya ingin menyebarkan semangat optimis bagi masyarakat untuk membangun daerah kita supaya lebih baik lagi. Kerinduan saya bagi pembaca sekalian adalah untuk mendapatkan lebih besar lagi dari tahun-tahun sebelumnya.

Hari-hari ini kita banyak mendengar kata “krisis”. Ada sebagian orang yang tahu, ada yang tidak mau tahu. Bahkan, ada yang sok tahu, ditambah lagi bukannya menguatkan, tetapi malahan menakut-nakuti. Sebagian orang merasa khawatir, sebagian orang masa bodoh atau tidak perduli. Namun, ada juga tetap tegar karena sudah makan asam garam kehidupan.

Ada sebagaian yang masih pesimis dengan bersungut-sungut atas semua yang terjadi. Sebaliknya, lebih banyak orang yang tetap optimis sekalipun krisis. Ada badai ekonomi justru melihat kesempatan. Meskipun ada banyak badai kesempitan pasti masih ada hujan kesempatan, masih ada peluang untuk meraih secercah harapan untuk meraih hari esok yang lebih baik.

Sejarah bangsa ini membuktikan betapa kuat visi pendahulu kita untuk merdeka. Masa di mana bangsa kita belum meraih kemerdekaan pastilah lebih buruk dibandingkan dengan masa sekarang ini. Masa sukar, yaitu masa penjajahan, lebih menyengsarakan rakyat Indonesia, dan sangat jauh berbeda dengan masa sekarang.

Sekalipun dulu adalah masa krisis penjajahan, namun beberapa orang memiliki visi yang kuat agar bangsa ini menjadi bangsa yang merdeka. Orang-orang yang visioner ini bahkan sampai harus dipenjara, harus diasingkan. Namun, sekalipun tubuh mereka dipenjara, dibelenggu rantai, impian mereka, visi besar mereka tidak bisa dibelenggu. Impian para pejuang bangsa kita tetap bebas merdeka. Penderitaan di penjara tidak menghentikan usaha dan perjuangan para pejuang visi untuk mengantarkan bangsa ini kepada satu tujuan, satu visi yaitu MERDEKA.

Andaikan para pahlawan bangsa pada waktu itu tidak punya visi untuk merdeka, maka tidak akan ada kemerdekaan bangsa Indonesia. Tidak akan ada bangsa Indonesia. Tanpa visi, tak akan ada masa depan. Terima kasih para pendahulu yang sudah memperjuangkan visi mulia, visi yang membawa bangsa ini ke depan pintu gerbang kemerdekaan.

Masa sekarang bakal menjadi ujian bagi para pemimpin negeri ini untuk mencatatkan diri mereka pada sejarah bangsa Indonesia. Apakah mereka menjadi pahwalan atau pencundang? Apakah nantinya mereka menjadi simbol kejayaan bangsa, atau sebaliknya menjadi kambing hitam atas kejatuhan bangsa ini? Sekali lagi, visi dari para pemimpin yang akan menentukan keberhasilan negeri ini. Visi para pemimpin daerah yang menentukan keberhasilan dari daerah yang dipimpin.

Tanpa visi, maka rakyat menjadi liar. Proses demokrasi negeri ini sudah mengeleminasi pemimpin yang kurang bervisi, dan memenangkan pemimpin yang punya visi kuat, punya impian yang mulia. Andai kata tidak ada visi, kekisruhanlah yang akan terjadi. Setiap kelompok akan bergerak sendiri-sendiri menurut kepentingannya. Setiap kelompok akan memperjuangkan keuntungan kelompoknya sendiri. Hanya keegoisan kelompok yang akan tejadi.

Tidak ada untungnya kalau kita memperjuangkan kepentingan keegoisan kelompok kita. Kalau seperti itu, kekuatan bangsa akan kurang. Sudah saatnya kita mendukung 100 persen visi para pemimpin bangsa untuk mengantarkan bangsa ini menuju bangsa yang disegani. Bangsa yang bermartabat dan bangsa yang diperhitungkan dalam kancah persaingan bangsa-bangsa di dunia. Sudah selayaknya kita dukung visi para pemimpin daerah kita untuk membawa daerah kita masing-masing menjadi kota yang terpandang, menjadi daerah yang disegani. Menjadi kota warisan yang berharga bagi anak cucu kita nanti.

Pemimpin yang punya visi besar seharusnya bisa mengerti atau bisa melihat masa depan negeri yang dia pimpin. Pemimpin bangsa yang bervisi mulia semestinya sudah tahu masa depan bangsa ini. Karena visi itu tidak kelihatan, namun tidak menjadi hambatan supaya visi itu menjadi kenyataan. Para pembuat sejarah dunia sudah membuktikan, mereka punya visi, dan akhirnya menjadi kenyataan.

Coba cek benda-benda di sekitar Anda, Anda akan menemukan semua yang kelihatan itu berawal atau tercipta dari yang tidak kelihatan. Lihatlah lampu listrik yang ada di rumah Anda! Penemunya adalah Thomas Alva Edison. Penemu ini pada awalnya hanya membayangkan. Khayalan penemu lampu yang tidak kelihatan itu kini menjadi nyata, dan kita masih bisa menikmati jerih payah penemuannya.

Seperti sebuah rumah yang didirikan dengan fondasi kuat, sekalipun ada topan dan badai yang datang, rumah itu tetap akan kokoh. Demikian juga semakin kuat visi dari seorang pemimpin, maka sekalipun ada krisis daerah atau bangsa, kita akan tetap kokoh mengahadapi badai krisis ekonomi saat ini. Mari kita tularkan semangat optimisme di mana pun kita berada. Sekali lagi, kekuatan visi itu sungguh dahsyat[ks]

* Kak Sugeng adalah seorang motivator dan pengembangan diri anak. Office: Jl. Sutan Syahrir 88 Widuran, Solo, Telp: 634996, HP: 08812944185, 0271-7020778, 9111778, Email : kaksugeng@yahoo.com, Website: www.kaksugeng.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox