Indonesia Menatap Kepemimpinan Global
Editor | Kolom Lepas | September 1st, 2009 | 1 Comment »
Oleh: J. I. Michell Suharli*
Kepemimpinan global adalah kepemimpinan yang pengaruhnya melintasi batas budaya dan negara. Dengan demikian, sifatnya universal dan berkontribusi besar kepada jiwa kemanusiaan yang mengubah peradaban manusia. Jasa para pemimpin global menyebabkan kehidupan banyak orang lebih menarik, lebih indah, lebih sejahtera, lebih bermartabat, atau lebih baik.
Pemimpin global pastilah seorang visioner, berjasa bagi kehidupan dan peningkatan kualitas hidup bangsa-bangsa di dunia. Sering kali para pemimpin global adalah pribadi kontroversial, namun fenomena kepemimpinan mereka tak pelak lagi telah mengubah kehidupan bangsa-bangsa.
Fenomena Kepemimpinan Global
Fenomena kepemimpinan global pertama adalah visi seorang pemimpin tentang bagaimana seharusnya hidup yang lebih bermartabat. Pada tahun 1862 Abraham Lincoln memproklamasikan tentang pembebasan budak. Sementara, Mahatma Gandhi memiliki visi perjuangan tanpa kekerasan sebagaimana pada pidato tahun 1920 di Madras. Marthin Luther King mengumandangkan visi tentang persamaan hak bagi warga kulit hitam pada pidato tahun 1963 di Washington. Bunda Theresa menyampaikan visi tentang kehidupan berlandaskan kasih selama abad ke-20 hingga dianugerahi hadiah nobel. Begitu pula visi “satu komputer di setiap meja dan di setiap rumah” dari seorang Bill Gates.
Fenomena kedua adalah kebesaran pikiran yang mampu mengubah cara berpikir global. Kelanggengan pemikiran Aristoteles (384-322 SM) yang diakui Plato sebagai filsuf kebenaran dan Cicero mengakuinya sebagai pemikir ”subur”. Socrates sebagai tokoh filsafat. Kejeniusan Albert Einstein dan Stephen W. Hawking yang memajukan dunia. Pemikiran spiritualitas Kung Fu Tze, Mahaguru Zen (Hui Neng), Kahlil Gibran, dan Anthony De Mello. Begitupula inspirator kesuksesan seperti: Napoleon Hill, Andrew Carnegie, Edward De Bono, John C. Maxwell, Stephen Covey, dan Peter Drucker.
Fenomena ketiga kepemimpinan global menemukan alat-alat yang dapat digunakan untuk kebaikan hidup dan keselamatan masyarakat dunia. Thomas Alfa Edison membantu manusia bekerja meski bumi diselimuti gelap. Alexander Graham Bell membantu manusia berbicara lintas benua. Wright bersaudara yang memampukan manusia ”terbang”. Alexander Fleming menyelamatkan banyak nyawa melalui antibiotika. Christian N. Bernard sebagai pencangkok jantung manusia pertama. Sedangkan Lee De Frost penemu tabung hampa udara dan bapak televisi.
Fenomena keempat adalah membuat hidup di dunia lebih menarik dan indah untuk dijalani. Mozart, Beethoven, dan Handel yang membuat musik dunia menjadi indah didengar. Charles Dickens dan Ernest Hemingway dengan gemerlap sinar dunia tulis-menulis. Shakespeare, G.Bernard Shaw, dan Charles Chaplin menciptakan ”dunia lain” di atas panggung. Leonardo Da Vinci dan Pablo Picasso sebagai pelukis dunia. Walt Disney dan Stephen Spielberg yang membuat ”dunia fantasi” di layar kaca. Begitu pula Pele, Muhammad Ali, Diego Maradona, dan Tiger Wood dalam dunia olahraga.
Fenomena kelima adalah meningkatkan kesejahteraan ekonomi di masyarakat dunia. Adam Smith, Luca Paciolo, J.M.Keynes, dan Karl Marx sebagai tokoh ekonomi. Henry Ford, Warren Buffet, Konosuke Matsushita, William Palley, Sichiro Honda, Lakshmi Mital, Sam Walton, Ronald Kuok Hock Nien, Lee Kong Chian, Donald Trump, Ray Kroc, Steve Jobs, Richard Branson, dan Jack Welch adalah contoh mereka yang banyak meningkatkan kesejahteraan dunia sebagai perbisnis global.
Konteks Indonesia
Indonesia adalah negara keempat terbesar dunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Dibanding ketiga negara lain di atas, masih sedikit dunia mencatat pemimpin global dari Indonesia. Setiadi (2008) menyampaikan bahwa sesungguhnya, dibandingkan Cina dan India, Indonesia memiliki lebih banyak modal dasar selain jumlah penduduk yang besar (Setiadi, 2008). Cina cukup lama dalam pemerintahan komunis sedangkan Indonesia dipimpin pemerintahan yang relatif lebih demokratis. Sampai kini India tidak memiliki bahasa nasional sedangkan Indonesia telah memiliki Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional sejal 1928. Sumber daya alam Indonesia juga lebih kaya daripada mereka.
Ki Hajar Dewantoro juga dapat ”diangkat” menjadi pemimpin global dengan konsep Tut Wuri Handayani yang menjadi inti The 8th Habit dari Stephen Covey. R.A. Kartini juga memiliki kualitas kepemimpinan global sebagai pejuang persamaan gender. Sri Sultan Hamengkubuwono IX menjunjung keharmonisan budaya Barat dan budaya Timur. Ir. Soekarno sebagai pelopor KTT Asia-Afrika dan H.M. Soeharto sebagai penggagas gerakan nonblok, Moh.Hatta, Frans Seda, Gus Dur, Franz Magnis Suseno, dan Nurcholis Madjid punya jejak kepemimpinan global sebagai tokoh cendikiawan. Indonesia juga punya tokoh seperti William Soeryadjaya, Ciputra, Julius Tahija, dan Yohanes Surya yang dapat kita jagokan.
Sayangnya, kita terlalu sibuk ”ribut” sendiri di dalam rumah bersama, bernama Indonesia. Akibatnya, minim upaya ”mengangkat” kepemimpinan mereka ke tataran masyarakat global. Banyak dari kita yang tidak rela apabila saudara sebangsa menjadi pemimpin global. Ini yang disebut sindrom ”nabi ditolak di negerinya sendiri”.
Semua pribadi memang punya kekurangan. Namun, demi kebesaran bangsa, mengapa kita tidak mampu mewartakan jasa-jasa kepemimpinan saudara sebangsa ke tataran global? Mohon dicatat, pemimpin sejati adalah mereka yang berjasa atau menjadi pahlawan bagi kehidupan orang yang dipimpin dan mengalami akibat dari kepemimpinannya. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya?[jims]
* J.I. Michell Suharli adalah seorang edupreneur dan penulis buku Mind Set – Winning Strategy for Winning People.