Adilkah Kita?
Editor | Kolom Lepas | September 29th, 2009 | 1 Comment »
Oleh: Ingrid Gunawan*
“Kenapa saya enggak boleh duduk di sini, Bu? Kok, dia boleh?” demikian pertanyaan yang dilontarkan seorang teman ketika saya memintanya pindah dari tempat duduknya, dan kemudian memberikan kursinya kepada tamu yang telah berdiri di samping kursinya. Saya tidak sempat berargumentasi dengan dia karena tamu-tamu terus berdatangan sehingga saya sibuk mencarikan tempat duduk yang kosong. Saya lihat teman itu masih tetap bertahan di kursinya, tanpa memedulikan tamu-tamu yang belum mendapatkan kursi.
Setelah acara usai, ketika saya menceritakan hal ini kepada teman yang lain, teman saya itu tidak memihak saya. Malah dia berbalik menyatakan, “Ya, wajar saja dia tidak mau bangun, lha istri manajer. Anak ibu manajer juga ikut duduk di sana. Padahal, kan mereka bukan karyawan sedangkan dia karyawan, jadi dia tentu lebih berhak duduk disana. Inikan perayaan hari ulang tahun perusahaan kita,” demikian kata teman saya.
Setelah saya renungkan, betul juga sih perkataannya. Mungkin wawasan berpikir saya dan cara berpikir teman itu berbeda. Saya berpikir, sebagai seorang penerima tamu dan tuan rumah yang harus menjalankan tugasnya, mempersilakan tamu-tamu undangan untuk duduk; sedangkan teman saya itu berpikir dia sebagai karyawan yang perusahaannya sedang berulang tahun. Jadi, tentunya dia berhak menikmati acara yang diselenggarakan oleh perusahaan. Adilkah saya mengatakan dia tidak sopan?
“Suami saya tidak bekerja, Bu! Bisakah saya mendapatkan benefit pengobatan untuk keluarga saya, seperti karyawan pria, Bu?” demikian permohonan yang saya dengar ditanyakan oleh rekan kerja wanita di tempat kami bekerja. Memang pegawai wanita yang telah menikah tetap dianggap berstatus lajang dalam benefit pengobatan yang disediakan oleh perusahaan. Jadi, hanya pribadinya saja yang ditanggung perusahaan apabila dia sakit. Berbeda dengan pegawai pria, benefit pengobatan istri dan anak-anaknya juga ditanggung oleh perusahaan. Bahkan, fasilitas keluarganya pun mengikuti fasilitas seperti yang diperoleh oleh suami atau ayahnya yang bekerja di perusahaan tersebut. Terkadang, fasilitas keluarganya yang tidak bekerja di perusahaan itu lebih baik dari pada fasilitas yang dinikmati oleh karyawan yang bekerja di perusahaan itu, hanya karena jabatan suami atau ayahnya itu. Adilkah perusahaan?
Kemarin saya datang ke pameran perumahan di JHCC. Para pengembang sedang memamerkan perumahan susun yang dibangun bertower-tower dengan puluhan lantai dan puluhan unit di setiap lantainya. Rupanya, pemerintah juga memikirkan perumahan untuk masyarakat lapisan bawah yang belum banyak memiliki tempat tinggal memadai dan dengan harga terjangkau, namanya Rusunami. Menurut saya, harga rumah susun ini sudah cukup mahal. Setahun yang lalu, ketika dipasarkan harganya sudah mencapai Rp 80 juta, harga itu pun sudah disubsidi oleh pemerintah.
Menurut penjualnya, seluruh unit senilai tersebut sudah terjual habis. Kalaupun masih ada unit, mungkin kita adalah pembeli kedua. Jadi, harganya sudah tidak sebesar itu lagi alias sudah naik. Kalau kita tertarik ambil satu unit, untuk investasi tidak rugi. Pembeli-pembeli umumnya juga membeli untuk investasi. “Wah, jadi mereka bukan orang susah, dong?!” seloroh saya pada tenaga penjualnya. Mengapa orang yang mempunyai uang masih harus disubsidi pemerintah? Adilkah mereka bertindak demikian?
“Orang yang kaya mempunyai rumah beberapa buah dan dibiarkan kosong tidak ditempati. Sedangkan saya, satu pun tidak punya!” demikian keluhan yang saya dengar dari sepupu saya. Itu dilontarkannya usai dia diajak majikannya membersihkan salah satu rumah yang sudah lama tidak ditinggali. Adilkah orang kaya?
Kemarin kami kebagian distribusi jeruk dari seorang klien yang mengirimkan dua kotak besar jeruk untuk dibagikan. Bukannya saya ingin mendapatkan bagian yang lebih dari bagian yang telah ditetapkan, namun untuk direktur mereka mendapat bagian yang lebih banyak dari pada staf. Padahal, kalau dipikir-pikir direktur pasti bisa membeli satu kotak kalau mau. Sedangkan staf, untuk membeli satu kilo pun sulit. Jadi, mengapa untuk direktur harus mendapat bagian yang lebih banyak? Adilkah kita memperlakukan mereka seperti itu?
“Aduh sebel banget, deh!” Baru saja cuci tangan dan mau makan, eh tukang ngamen itu tiba-tiba datang. Dan, jreng-jreng-jreng lagunya tidak karuan jluntrungnya, nyanyi dengan suara sumbang lagi. Itulah tidak nyamannya makan di kaki lima, trotoar jalan. Meskipun rasa masakannya tidak kalah dari restoran, tetapi gangguan pengamen itu yang mengesalkan. Meskipun hati kesal, tetapi kalau tidak kasih uang receh rasanya tidak tega. Kita makan enak-enak, dia hanya melihat saja dan minta diberikan sumbangan, paling hanya lima ratus atau seribu rupiah. Begitu saja juga susah. Adilkah hidup ini?
Begitu banyak ketidakadilan terjadi di dunia ini, tergantung dari mana kita memandangnya. Mungkin buat seseorang dia berkata, “Saya sudah bertindak adil.” Namun, menurut orang lain dia tidak adil. Jadi, di mana keadilan? Bagaimana yang dianggap adil? Seperti apa keadilan itu? Lantas pertanyaannya, bisakah kita bertindak adil? Siapakah yang bisa berbuat adil? Pantaskah kita mempertanyakan keadilan?[ig]
* Ingrid Gunawan adalah seorang executive secretary sebuah perusahaan swasta. Meminati bidang tulis-menulis, aktif dalam pelayanan sosial, dan ia dapat dihubungi melalui pos-el: ingridguna[at]yahoo[dot]com.
Oleh: Ingrid Gunawan*
Oleh: Ingrid Gunawan*
Oleh: Ingrid Gunawan*
Oleh: Ingrid Gunawan*
Oleh: Ingrid Gunawan*
