Adilkah Kita?

igOleh: Ingrid Gunawan*

“Kenapa saya enggak boleh duduk di sini, Bu? Kok, dia boleh?” demikian pertanyaan yang dilontarkan seorang teman ketika saya memintanya pindah dari tempat duduknya, dan kemudian memberikan kursinya kepada tamu yang telah berdiri di samping kursinya. Saya tidak sempat berargumentasi dengan dia karena tamu-tamu terus berdatangan sehingga saya sibuk mencarikan tempat duduk yang kosong. Saya lihat teman itu masih tetap bertahan di kursinya, tanpa memedulikan tamu-tamu yang belum mendapatkan kursi.

Setelah acara usai, ketika saya menceritakan hal ini kepada teman yang lain, teman saya itu tidak memihak saya. Malah dia berbalik menyatakan,Ya, wajar saja dia tidak mau bangun, lha istri manajer. Anak ibu manajer juga ikut duduk di sana. Padahal, kan mereka bukan karyawan sedangkan dia karyawan, jadi dia tentu lebih berhak duduk disana. Inikan perayaan hari ulang tahun perusahaan kita,” demikian kata teman saya.

Setelah saya renungkan, betul juga sih perkataannya. Mungkin wawasan berpikir saya dan cara berpikir teman itu berbeda. Saya berpikir, sebagai seorang penerima tamu dan tuan rumah yang harus menjalankan tugasnya, mempersilakan tamu-tamu undangan untuk duduk; sedangkan teman saya itu berpikir dia sebagai karyawan yang perusahaannya sedang berulang tahun. Jadi, tentunya dia berhak menikmati acara yang diselenggarakan oleh perusahaan. Adilkah saya mengatakan dia tidak sopan?

“Suami saya tidak bekerja, Bu! Bisakah saya mendapatkan benefit pengobatan untuk keluarga saya, seperti karyawan pria, Bu?” demikian permohonan yang saya dengar ditanyakan oleh rekan kerja wanita di tempat kami bekerja. Memang pegawai wanita yang telah menikah tetap dianggap berstatus lajang dalam benefit pengobatan yang disediakan oleh perusahaan. Jadi, hanya pribadinya saja yang ditanggung perusahaan apabila dia sakit. Berbeda dengan pegawai pria, benefit pengobatan istri dan anak-anaknya juga ditanggung oleh perusahaan. Bahkan, fasilitas keluarganya pun mengikuti fasilitas seperti yang diperoleh oleh suami atau ayahnya yang bekerja di perusahaan tersebut. Terkadang, fasilitas keluarganya yang tidak bekerja di perusahaan itu lebih baik dari pada fasilitas yang dinikmati oleh karyawan yang bekerja di perusahaan itu, hanya karena jabatan suami atau ayahnya itu. Adilkah perusahaan?

Kemarin saya datang ke pameran perumahan di JHCC. Para pengembang sedang memamerkan perumahan susun yang dibangun bertower-tower dengan puluhan lantai dan puluhan unit di setiap lantainya. Rupanya, pemerintah juga memikirkan perumahan untuk masyarakat lapisan bawah yang belum banyak memiliki tempat tinggal memadai dan dengan harga terjangkau, namanya Rusunami. Menurut saya, harga rumah susun ini sudah cukup mahal. Setahun yang lalu, ketika dipasarkan harganya sudah mencapai Rp 80 juta, harga itu pun sudah disubsidi oleh pemerintah.

Menurut penjualnya, seluruh unit senilai tersebut sudah terjual habis. Kalaupun masih ada unit, mungkin kita adalah pembeli kedua. Jadi, harganya sudah tidak sebesar itu lagi alias sudah naik. Kalau kita tertarik ambil satu unit, untuk investasi tidak rugi. Pembeli-pembeli umumnya juga membeli untuk investasi. “Wah, jadi mereka bukan orang susah, dong?!” seloroh saya pada tenaga penjualnya. Mengapa orang yang mempunyai uang masih harus disubsidi pemerintah? Adilkah mereka bertindak demikian?

“Orang yang kaya mempunyai rumah beberapa buah dan dibiarkan kosong tidak ditempati. Sedangkan saya, satu pun tidak punya!” demikian keluhan yang saya dengar dari sepupu saya. Itu dilontarkannya usai dia diajak majikannya membersihkan salah satu rumah yang sudah lama tidak ditinggali. Adilkah orang kaya?

Kemarin kami kebagian distribusi jeruk dari seorang klien yang mengirimkan dua kotak besar jeruk untuk dibagikan. Bukannya saya ingin mendapatkan bagian yang lebih dari bagian yang telah ditetapkan, namun untuk direktur mereka mendapat bagian yang lebih banyak dari pada staf. Padahal, kalau dipikir-pikir direktur pasti bisa membeli satu kotak kalau mau. Sedangkan staf, untuk membeli satu kilo pun sulit. Jadi, mengapa untuk direktur harus mendapat bagian yang lebih banyak? Adilkah kita memperlakukan mereka seperti itu?

Aduh sebel banget, deh!” Baru saja cuci tangan dan mau makan, eh tukang ngamen itu tiba-tiba datang. Dan, jreng-jreng-jreng lagunya tidak karuan jluntrungnya, nyanyi dengan suara sumbang lagi. Itulah tidak nyamannya makan di kaki lima, trotoar jalan. Meskipun rasa masakannya tidak kalah dari restoran, tetapi gangguan pengamen itu yang mengesalkan. Meskipun hati kesal, tetapi kalau tidak kasih uang receh rasanya tidak tega. Kita makan enak-enak, dia hanya melihat saja dan minta diberikan sumbangan, paling hanya lima ratus atau seribu rupiah. Begitu saja juga susah. Adilkah hidup ini?

Begitu banyak ketidakadilan terjadi di dunia ini, tergantung dari mana kita memandangnya. Mungkin buat seseorang dia berkata, “Saya sudah bertindak adil.Namun, menurut orang lain dia tidak adil. Jadi, di mana keadilan? Bagaimana yang dianggap adil? Seperti apa keadilan itu? Lantas pertanyaannya, bisakah kita bertindak adil? Siapakah yang bisa berbuat adil? Pantaskah kita mempertanyakan keadilan?[ig]

* Ingrid Gunawan adalah seorang executive secretary sebuah perusahaan swasta. Meminati bidang tulis-menulis, aktif dalam pelayanan sosial, dan ia dapat dihubungi melalui pos-el: ingridguna[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Cinta Itu Anugerah

ig1Oleh: Ingrid Gunawan*

“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari Atas,

diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada

perubahan atau bayangan karena pertukaran.”

Kata orang, ada tiga hal yang tidak bisa diatur oleh manusia yaitu kelahiran, jodoh (pernikahan), dan kematian. Kayaknya memang benar kelahiran dan kematian tidak bisa ditentukan oleh manusia, karena kita tidak tahu kapan kita dilahirkan dan kapan kita meninggal. Tetapi, benarkah jodoh atau pernikahan tidak bisa diatur oleh manusia? Pertanyaannya, kalau bisa diatur oleh manusia, kenapa ada orang yang tidak menikah? Jadi, benarkah jodoh adalah anugerah Tuhan?

Kita tahu zaman sekarang ini banyak pria dan wanita dewasa yang seharusnya sudah memiliki pasangan ternyata masih melajang. Rubrik jodoh, chating di internet, Take Me Out Indonesia (acara yang sedang ditayangkan di Indosiar), menjadi ajang untuk mencari jodoh. Memang tidak sedikit yang berhasil mendapatkan pasangannya melalui cara seperti itu.

Kita juga percaya bahwa tidak ada satu pun pertemuan yang terjadi secara kebetulan. Kalau kita pikirkan, setiap hari kita bertemu dengan banyak orang, tetapi belum tentu kita bisa mengenal orang-orang itu. Seandainya pun kita mengenalnya, belum tentu kita tertarik dan saling menyukai, serta cocok sehingga dapat berlanjut ke jenjang pernikahan.

Jadi sekarang, percayakah Anda kalau Jodoh atau pasangan Anda adalah Anugerah Tuhan?

Memang tidak mudah menyatukan dua orang yang berbeda latar belakang keluarga, cara pendidikan yang diajarkan oleh orang tua, kebiasaan keluarga di mana seseorang dibesarkan, dan lain sebagainya.

Veronica Saputra, direktur perusahaan swasta yang telah menikah hampir 35 tahun mengatakan, “Pernikahan itu adalah suatu keputusan dan komitmen untuk terus hidup bersama dengan orang yang telah saya pilih dalam susah ataupun senang.” Veronica menyadari sejak awal kalau pasangannya adalah belahan jiwanya. Karena dulu ketika berencana melangsungkan pernikahan dengan pacarnya Arthur Saputra, dia mempunyai pengertian bahwa menikah berarti hidup bersama dengan orang yang dicintai dan mencintai dirinya dengan mendapat restu dari Tuhan serta orang tua.

Ketika Tuhan sudah mempertemukan dan menyatukan dua anak manuasia dalam suatu ikatan pernikahan kudus, seperti dikatakan dalam firman Tuhan “Mereka bukan lagi dua tetapi satu”, tentunya kesatuan itu harus dijaga dan dipelihara. Karena, pernikahan adalah tentang memulai kehidupan baru bersama pasangan kita. Banyak hal yang baru disadari ketika sudah hidup bersama dalam satu atap; perbedaan-perbedaan dan penyesuaian diri terhadap satu sama lain.

Mengutip cuplikan rubrik Konsultasi Psikologi Kompas, Minggu, 15 Pebruari 2009, dikatakan Perkawinan dapat menjadi sumber kebahagiaan terbesar kita, tetapi bisa juga merupakan sumber stres yang terkuat dalam hidup. Menyadari kenyataan seperti itu yang akan dihadapi oleh pasangan pengantin baru, sekarang ini mulai disosialisasikan seminar ataupun workshop pembinaan pranikah. Isinya tentang bagaimana mengenali pasangan Anda melalui interaksi dan pengetahuan yang dipaparkan oleh pakar bidang keluarga, seperti Pak Bambang dan Ibu Hani Syumanjaya, yang suka saya dengar programnya melalui siaran radio. Perlukah pengetahuan yang disampaikan di dalam kelas pembinaan pranikah ini? Apa saja yang dibahas dalam kelas ini?

Mungkin buat orang muda yang belum dan baru akan menikah mengatakan, Ah, repot sekali mau menikah saja harus belajar!” Memang tujuannya adalah agar setiap peserta diharapkan lebih mengerti arti pernikahan yang sesungguhnya, dan menjadi semakin siap dalam memasuki bahtera kehidupan bersama.

Pre-marital session itu sangat perlu, kata Veronica. “Tetapi, itu harus disampaikan oleh sepasang suami istri hamba Tuhan yang sudah lama menikah sehingga mereka tahu persis problem-problem umum dalam rumah tangga. Dan, nasihatnya dapat diterima oleh pasangan yang akan menikah itu. Juga hamba Tuhan itu harus betul-betul mengerti dan menghayati Firman Tuhan, sehingga mereka bisa membimbing pribadi-pribadi yang akan menikah, baik dalam bentuk nasihat, doa, maupun pelayanan pelepasan sehingga mereka betul-betul siap menjadi suami istri. Bukan hanya siap secara jasmani, tetapi juga terlebih secara rohani.

Dalam perjalanan pernikahan Veronica yang sudah berlangsung demikian lama tentu tidak sedikit suka duka yang telah dialami bersama suami. Juga dalam membesarkan sepasang anak yang telah dewasa. Dia tidak segan-segan membagikan pengalamannya kepada para pasangan muda untuk menjaga keharmonisan pernikahan, yaitu “Dengan bersandar pada Tuhan sepenuhnya dan banyak berdoa. Setia terhadap pasangan, berusaha untuk selalu tenang dan sabar, menjadi pendengar yang baik, dan menjadi penolong yang sepadan. Juga tidak menuntut pasangan melebihi kemampuannya serta berusaha untuk senantiasa tampil rapi secara jasmani maupun rohani.

Tidak mudah menjalankan semua nasihat yang disampaikan oleh Veronica itu. Namun, kita harus mengerti bahwa pernikahan itu adalah suatu rencana Tuhan yang indahyang hanya bisa terwujud ketika kita taat pada Firman-Nya. Pasangan kita adalah belahan jiwa yang dianugerahkan Tuhan sehingga kita tidak boleh menyia-nyiakannya.

Veronica yang juga sudah memiliki sepasang cucu memberikan tips-nya untuk pasangan muda. Katanya, bagaikan sepasang tangan, ada lima do’s dan lima don’ts yang perlu diingat dan dijalankan agar pernikahan mereka bisa langgeng.

The do’s:

  1. Takutlah akan Tuhan (kalau takut akan Tuhan maka kita tidak akan melakukan hal-hal yang menyakiti pasangan kita walaupun ketika berjauhan). Untuk itu, berdoalah bersama dan bacalah Alkitab.
  2. Berkomunikasilah dan jadilah pendengar yang baik bagi pasangan kita.
  3. Belajarlah koreksi diri, hargai pasangan anda, jangan saling menyalahkan, dan jangan gengsi untuk minta maaf atau memaafkan.
  4. Bertanggung jawablah sebagaimana mestinya, namun bertolong-tolonganlah ketika pasangan Anda dalam kesulitan memenuhi tanggung jawabnya.
  5. Ingatlah selalu janji pernikahan saat pemberkatan, yaitu untuk menerima pasangan kita dalam susah maupun senang, sakit maupun sehat, sampai Tuhan menjemput.

The don’ts:

Jangan mendustai pasangan kita dengan alasan apa pun karena begitu Anda mulai berdusta maka status Anda pindah menjadi Anak Iblis (sebab Yesus bilang “iblislah bapakmu”), dan Anda akan terus menutupi dusta dengan dusta, sehingga akhirnya perilaku Anda serupa dengan perilaku iblis, dan dampaknya dapat dibayangkan sendiri.

Jangan pernah membandingkan pasangan kita dengan orang lain/pasangan orang lain ketika sedang kecewa dengan pasangan kita (karena rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau dari jauh).

Jangan hanya berfokus pada sisi negatifnya, tetapi lihatlah sisi-sisi positif pasangan kita juga.

Jangan sembarang sharing ketika menghadapi masalah, tetapi carilah nasihat dari hamba Tuhan atau teman atau saudara seiman yang Anda tahu persis kehidupan rohaninya.

Last but not least, mengucap syukurlah dalam segala hal, dan percayalah bahwa Tuhan selalu turut serta dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikkan bagi orang yang mengasihi Dia.

Jadi, menikahlah dengan orang yang Anda cintai, karena CINTA itu ANUGERAH dan cintailah orang yang Anda nikahi, sampai kematian memisahkan Anda berdua…. Love you![ig]

* Ingrid Gunawan adalah seorang executive secretary sebuah perusahaan swasta. Meminati bidang tulis-menulis, aktif dalam pelayanan sosial, dan ia dapat dihubungi melalui pos-el: ingridguna[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Sebelum Perjalanan Berakhir

igOleh: Ingrid Gunawan*

Ke mana laki-laki tua itu, kok tidak kelihatan? Biasanya dia berdiri di ujung jalan itu, dekat lampu merah di pertigaan jalan yang saya lalui setiap pagi. Hati bertanya, namun mulut tidak berucap, saya memang tidak kenal dia, belum pernah bertegur sapa, hanya melihatnya setiap pagi berdiri di sana. Kalau dianggap orang kerja, dia termasuk pegawai yang rajin karena sudah berdiri di sana sebelum pukul 08.00 pagi. Hal ini dapat saya pastikan karena jam masuk kantor saya pukul 08.00 pagi dan saya lewat di sana pasti sebelum jam itu. Saya juga tidak tahu sampai jam berapa dia tetap berdiri di sana.

Sesungguhnya, hati ini senang kalau bisa membuat orang lain bergembira. Pernah sekali saya memberinya uang kertas paling kecil keluaran republik ini. Mukanya berseri-seri sambil mengucapkan terima kasih. Mengenang itu teringat juga saya akan teman seperjalanan yang setiap pagi duduk di sebelah saya. Saya selalu minta tolong dia yang memberikan uang ke laki-laki tua itu. Namun, semua itu hanya tinggal kenangan. Teman saya itu telah berjalan lebih dahulu dari saya. Misteri kehidupan….

Meskipun setiap pagi selama setahun ini teman ini hampir selalu bersama saya—karena tinggalnya di seberang rumahtetapi saya tidak pernah tahu deritanya. Saya memang tidak suka mengorek-ngorek kehidupan orang kalau orang itu sendiri tidak menceritakannya. Sehingga, ketidakyakinan yang saya rasakan ketika saya diberitahu dia telah pergi.

Hah, masa…?! Kenapa kapan?!Itulah pertanyaan yang saya lontarkan. Hati terasa nelongso…. Ada rasa kasihan dan tidak percaya. Sejak dia tidak ada, tidak ada teman seperjalanan dan saya tidak pernah lagi memberi laki-laki tua itu uang. Bukan disengaja, tetapi memang keadaan tidak memungkinkan saya berhenti di pertigaan itu. Lampu merahnya tidak berfungsi sehingga saya terus berjalan.

Perjalanan saya terus berlanjut melewati jalan-jalan yang sama. Selama itu dilakukan dengan hati ikhlas, tidak ada kebosanan dan kemalasan yang dirasakan. Karena, kita tahu arti dan tujuan yang akan kita capai, bukan? Apakah kita merasakan kerutinan sebagai sesuatu yang membosankan? Bukankah setiap orang pun melakukan yang sama, siklus kehidupan yang terus berputar? Mulai dari titik awal kembali ke titik akhir, dari tidak ada menjadi ada, kemudian tidak ada lagi.

Demikianlah, yang saya rasakan dan coba renungkan dalam kehidupan ini. Bertemu dengan orang-orang yang dikenal, bertemu dengan orang yang tidak dikenal, berpisah sebentar dan selama-lamanya. Sungguh menyedihkan ketika kita meributkan hal-hal yang kecil maupun yang besar. Karena, pada akhirnya semua itu tidak ada gunanya ketika kita harus kembali kepada Sang Khalik yang menciptakan semua ini tanpa dapat berbantah dan menolaknya.

Hari itu saya lihat lagi si laki-laki itu berdiri di sana. Dengan sabar dia menanti orang yang lewat dan tergerak oleh belas kasih untuk menolongnya, memberi sedikit berkat. Heran juga saya, di mana dia tinggal? Bagaimana dia bisa tiba di sana dan apakah ada sanak keluarganya? Matanya yang tidak melihat, tidak menyurutkan wajahnya untuk tersenyum ketika ada orang yang menyapanya. Sesungguhnya, Tuhan itu baik. Apakah orang kaya atau orang miskin, rasa senang adalah milik semua orang. Saya pikir saya akan menegurnya suatu hari nanti, entah kapan, tentunya sebelum perjalanan itu berakhir.[ig]

* Ingrid Gunawan adalah seorang executive secretary sebuah perusahaan swasta. Meminati bidang tulis-menulis, aktif dalam pelayanan sosial, dan ia dapat dihubungi melalui pos-el: ingridguna[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Problematika Menikah

igOleh: Ingrid Gunawan*

Sampai sebegini tua saya belum menikah. Kata orang saya tidak jelek. Jadi, bukan persoalan fisik yang menyebabkan saya belum menikah. Tetapi, yang pasti adalah belum ada pria yang melamar saya. Itulah persoalannya.

Berbicara mengenai menikah, sepertinya semua orang dewasa normal pasti ingin menikah tapi apakah semua orang dewasa mengerti mengapa mereka harus menikah? Secara statistik pasti yang rumah tangganya langgeng sampai tua alias tidak bercerai lebih banyak dari pada yang bercerai, tetapi itu bukan jaminan rumah tangga mereka harmonis.

Sekarang bukan zamannya lagi menikah demi melangsungkan keturunan. Manusia sudah terlalu banyak menempati bumi ini. Lalu, apakah memang karena sudah kodratnya semua orang dewasa harus menikah?

Janganlah menikah karena memang sudah seharusnya menikah! Pikirkanlah baik-baik mengapa kita harus menikah. Tidak ada seorang pun yang mau menikah lalu hidup dengan pertengkaran dan bercerai ataupun terjadi kekerasan dalam rumah tangganya seperti yang sedang marak sekarang ini melanda para selebriti. Hal itu terjadi bukan hanya pada selebriti cuma karena mereka orang terkenal, sehingga beritanya dipublikasikan. Tidak tertutup kemungkinan kejadian tersebut lebih banyak yang tidak tersiar karena terjadi pada orang-orang biasa.

Banyak hal yang bisa menyebabkan pernikahan tidak harmonis, terutama ketika dua orang yang sepakat menikah tidak tahu apa tujuan mereka menikah. Ketika mereka berpacaran mereka berpikir, ”Ah, senangnya mempunyai pasangan yang saling mencintai… will be happily ever after….” Naif sekali pikiran seperti itu. Kenyataan tidak seindah khayalan. Begitu banyak persoalan akan datang menyerbu ketika memasuki mahligai rumah tangga. Tidak perlu dipaparkan persoalan yang dihadapi, mulai dari latar belakang berbeda, keluarga berbeda, anak-anak yang dilahirkan, persoalan keuangan, dan segudang masalah lainnya.

Ketika sudah hidup dalam satu rumah, kalau masing-masing pihak masih tetap ingin membawa cara hidupnya sendiri-sendiri tanpa kesediaan menyesuaikan dengan pasangannya, maka rusaklah rumah tangga itu. Kedua belah pihak harus sama sepakat mengarahkan kapal itu menuju tujuan yang sama. Memang pepatah mengatakan banyak jalan menuju Roma. Jalannya memang banyak tetapi tujuannya cuma satu yaitu Roma.

Demikianlah pasangan itu harus mencari cara yang sama agar tujuan mereka tercapai. Sungguh tidak enak ketika kita hidup dalam satu rumah tetapi di dalamnya hawa neraka yang ada. Bukankah dambaan semua orang mempunyai keluarga yang harmonis. Oleh karena itu, menikah harus dipikirkan secara dewasa, bukan membabi buta tanpa persiapan mental yang matang.

Saya sedih sekali ketika mendengar seorang teman mengatakan dia sudah putus asa dengan kehidupan rumah tangganya, yang setiap hari cekcok dari hal-hal kecil apalagi yang besar. Ah, malang sekali kehidupannya, apa arti keluarga? Bukankah keluarga tempat kita saling menolong, mendukung, dan berbagi? Bagaimana dapat menolong kalau setiap hari ribut, yang ada cuma kekesalan dan kekecewaan? Itu namanya menciptakan neraka di dalam rumah. Jadi, neraka sudah ada di dunia ini sebelum orang itu mati.

Kita sering mendengar orang berkata “hidup ini cuma sebentar, waktu demikian cepat berlalu”; namun kalau setiap hari cekcok, saya rasa waktu demikian panjang serasa tanpa akhir. Apakah kita akan merasa lega ketika salah seorang dari pasangan pergi untuk selamanya? Jangan biarkan orang yang kita pilih pada awalnya, akhirnya menjadi orang yang paling ingin kita jauhi secepatnya. Menyedihkan dan capai sekali.

Sungguh alangkah indahnya dan nikmatnya hidup ini kalau kita hidup rukun bersama orang-orang tercinta.[ig]

* Ingrid Gunawan adalah seorang executive secretary sebuah perusahaan swasta. Meminati bidang tulis-menulis, aktif dalam pelayanan sosial, dan ia dapat dihubungi melalui pos-el: ingridguna[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.2/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Siapa Mau Menjadi Tua?

igOleh: Ingrid Gunawan*

Hari libur Nyepi kemarin, saya pergi ke panti werdha, panti perawatan orang tua. Berarti dalam bulan tersebut saya sudah dua kali mengunjungi panti werdha dengan tempat yang berbeda. Di awal bulan ke Parung, dan di akhir bulan ke Bandung. Sebenarnya, bukan masalah di mana tempat panti werdhanya, karena keduanya sama-sama menampung para orang tua yang harus tinggal sendiri di sana. Sebab, tidak ada keluarga yang mengurus, atau tidak ada yang mau mengurus dengan berbagai macam alasan. Bisa karena alasan ekonomi, atau bisa juga karena anaknya tinggal di tempat yang jauh. Dan, ada juga yang memang tidak mempunyai anak serta saudara yang bisa ditumpangi.

Apa pun alasannya, ketika saya bertemu dan melihat mereka, saya sedih bahkan menangis. Bukankah ketika kita berulang tahun, orang sering kali mengucapkan selamat panjang umur? Jadi, kita pasti akan menjadi tua, dan dengan semestinya tubuh jasmani akan mengalami kemunduran-kemunduran. Tenaga akan melemah, pendengaran, penglihatan, dan penciuman semakin menurun, sehingga akhirnya mau tidak mau kita akan menjadi tergantung pada orang lain.

Orang-orang tua yang tinggal di panti werdha umumnya banyak yang sudah lemah fisik dan tidak kuat lagi melakukan pekerjaan. Bahkan, berjalan pun ada yang sulit. Kami tiba di Panti Werdha Senjarawi, (kenapa yah, namanya kok dipilih sesuai dengan kondisi penghuninya?) saat masih cukup pagi. Sebagian besar orang tua yang masih sanggup berjalan sudah berkumpul di serambi gedung. Mungkin ada sekitar 60 orang dan mereka sudah bersiap untuk memuji Tuhan.

Setelah duduk sebentar, saya berjalan ke samping gedung dan melihat-lihat keadaan kamar-kamarnya. Dalam satu bangunan ada tiga ruang yang diisi oleh tiga orang, masing-masing satu sekatan dan di ujung kamar ada kamar mandi. Akhirnya, saya berjalan ke arah belakang dan melihat ada seorang emak tua yang sedang berdiri di balik pintu, berpegangan pada ambangnya. Saya hampiri dia dan menyapanya, apakah dia mau keluar dan saya bermaksud membantunya karena jalannya sudah susah.

Dia hanya meraba untuk berpegangan pada pinggiran benda-benda yang dilewatinya, tubuhnya sudah bungkuk. Tetapi, ternyata dia tidak mau saya bantu, malah berjalan masuk dan menuju ke kamarnya. Saya mengikutinya karena memang ingin tahu seperti apa sih kamarnya. Ada satu tempat tidur nomor 3, kursi rotan, rak samping, dan lemari tua di ujung menutup sebagian jendela. Kamarnya cukup bersih, dan emak itu pun bersih, sepertinya baru mandi. Dia menyuruh saya duduk di kursi rotan yang ada, sementara dia sendiri duduk di pinggir ranjang.

Saya tanya, Emak, sudah lama tinggal di sini?

“Sudah sudah 6 tahun di sini. Sebelumnya kamarnya di sebelah depan. Karena banjir (ditunjukkannya bekas banjir yang membekas di tembok), lalu dipindah ke sini. Di depan 30 tahun….”

“Hah…! Sudah 36 tahun tinggal di panti werdha?!” tanya saya dalam hati.

Kemudian, dia bercerita masa lalunya, bahwa dia orang Semarang, namanya Anna Oei, anaknya satu, cucunya dua orang, suaminya sudah lama meninggal ketika masih muda. Dia bilang, “Dulu saya guru, pernah kerja di Jakarta di rumah sakit Yang Seng Ie (sekarang RS Husada) sebagai perawat merangkap bagian pemberian obat.”

Dan, masih beberapa saat dia bercerita, kalau saya total-total dari ceritanya umurnya berarti 91 tahun. Sebelum ceritanya habis, saya pamit keluar sebentar karena takut nanti dicari teman-teman yang lain. Memang, acara puji-pujian sudah hampir selesai dan dilanjutkan dengan pembagian bingkisan yang kami bawa dan makan siang yang telah dipesan.

Saya ambil beberapa bingkisan untuk dibagi-bagikan kepada oma-oma dan opa-opa, termasuk saya mau kembali ke kamar si emak Anna Oei tadi. Saya lihat dia sudah keluar dari kamarnya dan berdiri lagi di balik pintu. Kemudian, saya berikan bingkisan untuknya, dan dia mengucapkan terima kasih, lalu berjalan ke kamarnya.

Kembali saya ke luar untuk memberikan bingkisan kepada penghuni panti lainnya dan melewati lagi kamar emak itu. Saya lihat dia sedang berusaha membuka kantong kertas bingkisan yang distaples. Lalu, saya membantu membukakan dan mengeluarkan isinya. Yah, karena saya yang membungkusnya, saya sudah tahu isinya. Saya keluarkan handuk, mug plastik, dan biskuit. Dia bilang, “Bagus yah, bagus yah….” Mukanya pun berseri-seri.

Saya bilang, “Dipakai, ya handuk dan mugnya, biskuitnya dimakan….” Dia bilang mau kasih lihat anaknya dulu. Ternyata, seorang ibu tetap saja ingat anaknya, apakah demikian juga dengan anak akan selalu mengingat orang tuanya? Saya sih sungguh berharap, begitulah adanya.

Karena waktunya sebentar, saya segera berpamitan. Saya bilang, “Hati-hati ya, Tuhan Yesus memberkati.” Dia bilang terima kasih dan Tuhan memberkati saya juga. Dia sempat bertanya apakah saya sudah berkeluarga, saya bilang belum. Dia segera mendoakan saya agar mendapatkan jodoh dan berkeluarga. Kemudian, kami berpelukan dan saling mendoakan. Lalu, saya buru-buru meninggalkannya sebelum air mata saya mengalir, saya tidak mau menangisinya.

Saya sungguh menghimbau teman-teman yang masih mempunyai orang tua, agar menjaga dan merawat orang tua Anda. Jangan pernah menaruh mereka di panti werdha. Bukan panti werdhanya yang tidak baik, bahkan saya sungguh salut dengan para pengurusnya yang bersedia mengurus para orang tua itu. Namun, perasaan tidak dikasihi dan ditinggalkan sendirian itulah yang membuat sedih. Ketika mereka sudah tidak mampu melakukan sesuatunya sendirian, ah… enggak tega deh memikirkannya. Hormati dan kasihilah orang tua Anda, agar damai sejahtera hidup Anda. Amin.[ig]

* Ingrid Gunawan adalah seorang executive secretary sebuah perusahaan swasta. Meminati bidang tulis-menulis, aktif dalam pelayanan sosial, dan ia dapat dihubungi melalui pos-el: ingridguna[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Bahayanya Ucapan Negatif

igOleh: Ingrid Gunawan*

“It’s only words. And words are all I have to take your heart away.”

~ Bee Gees

Kata-kata itu dengan mudah, lancar, dan otomatis meluncur dari mulut saya, “Bego amat, sih! Begitu saja enggak bisa! Dasar… enggak selamat, lu!” Kata-kata yang menyakitkan buat orang yang mendengar dan menerimanya. Itu dulu, ketika saya belum mengerti kekuatan sebuah ucapan. Kalau mengingatnya sekarang, menyesal saya. Mengapa harus mengatai orang seperti itu? Mungkin, dia juga tidak sengaja melakukan kesalahannya. Dan, kalaupun dia memang bodoh, kan itu bukan keinginannya sendiri?

Kita sering kali tidak sadar, betapa kata-kata yang diucapkan sangat besar pengaruhnya dan mempunyai kekuatan. Sekarang ini, sudah banyak pakar psikologi yang membahas mengenai kata-kata yang diucapkan berulang-ulang akan tertanam di otak, dan akhirnya akan berpengaruh terhadap tingkah laku orang yang menerima kata-kata tersebut.

Contohnya, anak yang selalu dikata-katai bodoh oleh orangtuanya. Lama-kelamaan anak itu akan benar-benar menjadi bodoh. Mungkin, sebenarnya anak tersebut tidak bodoh. Tetapi, karena selalu dikata-katai bodoh, secara berulang-ulang, akhirnya anak meyakini, menerimanya, serta mematahkan semangatnya. Sehingga, dia tidak berani mencoba serta menganggap dirinya memang sudah bodoh. Anda mau mencobanya kepada anak Anda? Seram sekali, yah…. Kalau saja kita mengerti, betapa kata-kata itu begitu kuat dampaknya terhadap seseorang.

Ketika saya menceritakan dengan kesal tentang seorang teman yang menyebalkan, teman saya berkata, “Jangan ngomong begitu. Kita jangan suka mengeluarkan kata-kata kosong.” Saya tidak mengerti apa maksudnya kata-kata kosong. Dia jelaskan, bahwa kala berbicara kita jangan suka mengeluarkan kata-kata kasar, mengumpat orang, mengeluh, dan kata-kata lain yang tidak ada artinya alias sia-sia. “Oh, maksudnya begitu, toh!” Jadi, sekarang saya ingat, kalau ingin mengekspresikan kekesalan terhadap seseorang, saya menahannya di ujung lidah. “Seeeeh…,” tanpa kata-kata. Kalau dipikir-pikir, memang tidak baik berkata kasar, tidak ada manfaatnya.

Bagaimana kalau kita yang dikata-katai orang, apakah kita perlu membalasnya? Tentu saja tidak perlu. Kita memang tidak bisa menahan mulut orang untuk tidak berkata kasar, karena mulut itu mulutnya sendiri. Yang bisa kita lakukan, sebaiknya ya hindari orang tersebut. Tidak perlu diladeni dan biarkan saja dia berkata-kata. Yang penting kita tidak memasukkannya ke dalam hati kita. Kita tolak kata-katanya. Hal ini saya lakukan walau awalnya sukar, tetapi setelah latihan beberapa kali, bisa tuh.

Kita tahu, saat ini keadaan ekonomi lagi sukar. Biasa, kalau orang lagi menawar sesuatu, maka keadaan sulit dijadikan alasan agar harga bisa dikurangi. Saya langsung saja bilang, “Keadaan sulit jangan diamini Pak, nanti dia enggak mau pergi-pergi. Habis disebut-sebut terus!”

Tadi, waktu saya memeriksakan ban mobil saya, tukang tambal ban memberitahukan, “Bu, bannya sudah tipis. Takut nanti kalau di jalan tol meledak.” Langsung saja saya tolak, “Yah, jangan dong!” Tukang bannya tersipu-sipu, “Eh, enggak, sih!”

Jadi, mana yang lebih tepat, pepatah “lidah tak bertulang” atau “silent is golden” (diam adalah emas)? Asal bukan diam berarti bisu? Semua pokok pangkalnya adalah lidah dan mulut. Ucapan kita bisa menjadi berkat atau penuh kutukan, karena ucapan yang kita keluarkan didengar Tuhan dan setan. Seperti ada tertulis, yang berbahaya itu bukan apa yang masuk ke dalam mulut, tetapi apa yang keluar dari mulutlah yang berbahaya, karena dari hatimulah mengalir air kehidupan. Kalau hati kita jahat, yang ada kita selalu mereka-reka hal-hal yang negatif. Tetapi, kalau kita memikirkan yang baik, yang keluar adalah hal-hal positif.

“Hati-hati lho sama dia, orangnya suka memutar balik kata-kata,” demikian peringatan yang disampaikan oleh teman saya. “Ngomong sama saya begini, nanti ngomong sama kamu begitu. Kita diadu domba,” dia meneruskan. Saya diam saja mendengarkan, karena prinsipnya saya tidak akan mengiyakan pendapat seseorang tanpa tahu dan mengalaminya sendiri. Kalau sudah mengenal dan merasakannya, baru saya akan berkesimpulan, memang orang itu seperti yang dia katakan.

Memang, setelah mendapat tugas baru di bagian marketing, saya menjadi lebih banyak berhubungan dengan orang-orang di luar perusahaan, yang mempunyai berbagai macam sifat dan latar belakang. Betul, kita harus lebih berhati-hati agar tidak terjadi kesalahpahaman dan disalahmengertikan.

Pernah satu kali saya menangani seorang client yang mempunyai masalah pembayaran. Ketika saya menghubunginya, mula-mula biasa saling bertukar sapa, apa kabar. Namun, ketika pembicaraan mengarah ke persoalannya, tensi menjadi tinggi. Dia bilang, “Saya ini orang tua. Mana mungkin bohong,” katanya. Padahal, tidak ada satu kata pun yang mengindikasikan saya mengatakan dia berbohong. Tetapi rupanya, untuk meyakinkan saya dia perlu berkata seperti itu. Dalam hati saya berkata, “Bukan orang tua saja yang tidak boleh berbohong. Orang muda pun tidak boleh bohong. Berbohong kan tidak ada diskriminasi…?”

Kalau kita menonton film detektif Barat, ketika seseorang akan ditangkap, kata pertama yang diucapkan oleh polisi yang menangkap adalah, “You may remain silent and keep it silent until…,” karena dengan ucapan orang dibenarkan, dan dengan ucapan pula orang akan dituntut.

Tahukah Anda bahwa ucapan yang sudah terlanjur dilontarkan tidak bisa ditarik kembali? Ketika suatu ucapan sudah kita utarakan, apakah itu gosip atau fakta, sekali sudah didengar orang pasti tidak bisa ditarik kembali. Bahkan, itu bisa menyebar dan melebar ke mana-mana. Apalagi kalau hal itu mengenai sesuatu yang buruk. Sering kali kita mendengar istilah “tembok bertelinga”. Tentunya, itu bukan benar-benar tembok punya telinga. Maksudnya, kalau berita buruk, meskipun tidak pakai pemberitahuan sirkulasi, eh tahu-tahu sudah menyebar. Bagaimana penyebarannya? Sulit dilacak awalnya. Padahal, sudah dipesankan, ”Ini rahasia, lho! Just for you and me….” Nah, siapa yang you, siapa yang me?

Istilahnya, ludah sudah keluar; sulit untuk dihapus. Hati yang terluka karena ucapan kasar, meskipun kita sudah memohon maaf, namun perihnya hati yang tergores memerlukan waktu untuk mengering, tidak secepat ketika mengatakannya. Oleh karena itu, hati-hatilah mengeluarkan ucapan, terutama kepada orang yang dekat, yang kita kasihi.

Peringatan, “Jangan sembarangan berkata” adalah lebih mudah untuk dikatakan daripada dilakukan. Ketika perbuatan seseorang tidak menyenangkan atau tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, dengan serta merta terlontar umpatan, bahkan kutukan. Oleh karena itu, jangan sampai mulut kita membawa kita ke dalam dosa, “Oh, kejamnya mulut ini!”

Itulah hebatnya kata-kata, tepat sekali istilah WoM, words of mouth. Iklan berjalan ini sangat efektif. Kalau kita berjualan sesuatu dan ingin iklan yang murah, tetapi besar pengaruhnya, sebarkanlah dengan WoM. Mulut manusia itu besar sekali pengaruhnya dan orang lebih percaya ketika yang mengatakan adalah temannya sendiri. Apalagi kalau ditambahi bumbu, “Ini pengalaman saya sendiri, saya sudah cobain, enak tenan, murah lagi, enggak rugi, deh!”

Saya pernah membaca stiker, yang ditempelkan oleh pemilik hotel kecil di luar kota tempat saya menginap. Tulisan itu berbunyi, “Apabila anda senang dengan pelayanan kami, beritahukan teman-teman Anda. Namun, apabila Anda kecewa dengan pelayanan kami, beritahukanlah kami.” Orang yang punya hotel ini memahami benar rekomendasi WoM.

Lidah dan mulut adalah organ tubuh yang tergolong kecil dalam tubuh manusia. Namun, mereka berfungsi sangat besar. Oleh karena itu, jagalah lidah dan bibir Anda terhadap yang jahat dan terhadap ucapan-ucapan yang tak berguna. Selamat menjaga mulut Anda, eh ucapan Anda.[ig]

* Ingrid Gunawan adalah seorang executive secretary sebuah perusahaan swasta. Meminati bidang tulis-menulis, aktif dalam pelayanan sosial, dan ia dapat dihubungi melalui email: ingridguna[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Sejumput Pesan dari Balik Jeruji Besi

igOleh: Ingrid Gunawan*

Sabtu pagi itu, saya tiba di kantor pukul 08.05. Kami akan mengadakan aksi sosial dengan mengadakan kunjungan ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita dan Anak, Tangerang. Rekan-rekan sudah berkumpul di lobi kantor dan menunggu mobil yang akan membawa kami ke sana.

Perjalanan Sabtu pagi itu lumayan lancar. Dalam waktu 45 menit kami sudah tiba di lokasi LP yang berpagar hijau dengan halaman luas. Dari jalan raya mungkin ada sekitar 30 meter ke pintu gerbang LP. Karena tidak tahu pasti apakah tempat yang dimaksud benar atau tidak, saya mengontak perantara yang mengatur kunjungan. Ternyata tempatnya benar, jadi kami menunggu teman-teman dari beberapa mobil lain di halaman.

Tak lama kemudian, ibu perantara tiba dan mengatur persiapan untuk masuk ke dalam LP. Pukul 09.45 kami semua masuk ke dalam melewati gerbang pemeriksaan. Karena sudah diinformasikan sebelumnya agar sebaiknya tidak membawa tas dan HP, maka pemeriksaan tidak bertele-tele.

Setelah melewati gerbang pemeriksaan, kami berjalan melalui jalan bersemen sekitar 25 meter menuju aula. Di kiri kanan jalan ada bangunan seperti bangsal rumah sakit dan sepintas terlihat ranjang besi. Tetapi, kami tidak bisa melihat jelas karena agak jauh dan dibatasi jalan tanah yang cukup lebar. Di sepanjang jalan kami berpapasan dengan beberapa perempuan muda berpakaian kaos seragam Natal 2007 dari sebuah gereja di bilangan Jakarta Pusat. Untuk sopan-santun, saya memasang muka tersenyum kepada mereka, karena mengira mereka adalah pengunjung dari gereja lain yang juga sedang melakukan aksi sosial.

Sampai di aula sudah berjejer bangku-bangku plastik warna hijau. Dan ternyata, perempuan-perempuan tadi yang saya jumpai di jalan, juga sudah berkumpul di dalam aula. Saya bertanya-tanya di dalam hati, “Siapa mereka, ya? Penghuni LP atau pengunjung?

Pukul 10.00 kami memulai acara kebaktiannya. Rombongan kami duduk terpisah dengan perempuan-perempuan berseragam tadi. Kemudian, ada sedikit penjelasan dari pembina dan perantara kami, bahwa kami diminta duduk berbaur dengan mereka. Oh, jadi ternyata mereka adalah penghuni LP. Kaget bercampur tidak percaya, dan hati terenyuh melihat perempuan-perempuan muda, berwajah manis, putih bersih, dan tidak ada tampang jahat atau garang, meski ada satu dua yang bersorot mata tajam.

Mulailah kami mencari pasangan dan duduk bersama dengan mereka. Sambil menyanyikan lagu pembuka, dilanjutkan kemudian dengan lagu kedua, “Aku Datang Ya Tuhan”. Sampai pada bait Aku tau kau Pembelaku, Aku tau kau Penolongku..., tak terasa air mata menetes. Cepat-cepat saya hapus karena malu kalau kelihatan menangis.

Ada pertanyaan dalam hati saya, “Apakah mereka juga merasakan, bahwa Yesus adalah pembela dan penolong mereka juga? Mengapa mereka bisa sampai berada di sana? Apa yang sudah mereka lakukan di masa lalu?” Terlintas di hati, bagaimana perasaan orang tua kalau melihat anaknya berada di LP.

Di sela-sela nyanyian, saya berusaha mencari tahu dengan memperkenalkan diri dan menanyakan namanya. Seorang gadis menyebutkan namanya, sebuah nama yang manis, seperti nama teman sekantor saya. Anaknya kecil, putih, mata sedikit sipit, rambutnya dipotong jongenskop. Sekolahnya hanya sampai SMP di sebuah kota di Kalimantan. Dengan tanpa malu-malu dia mengatakan kenapa berada di sana, ”Karena narkoba… Saya sudah tujuh tahun menjadi pemakai dan kemudian jadi pengedar. Asal-muasalnya mengenal narkoba dari diskotik.” Kata anak ini, dia ditangkap tahun 2005 dan harus menjalani hukuman selama 4,5 tahun. Dia berharap dan sedang mengajukan permohonan, supaya dalam waktu empat bulan lagi bisa keluar dari sana. Sebenarnya, banyak yang ingin saya ketahui, tetapi tidak enak kalau harus mengorek terlalu detail.

Kemudian, saya bertanya kepada satu anak lainnya. Anaknya juga manis, mukanya putih bersih tanpa jerawat, rambut hitam dan panjangnya sepunggung. Dia terkena narkoba juga karena pergaulan yang tidak terkontrol. Dia dikenalkan dengan narkoba oleh cowoknya, dan akhirnya tertangkap serta ditahan 4,5 tahun juga. Umur gadis-gadis muda ini rata-rata 23 tahunan. Memang, rata-rata kasus mereka adalah narkoba dan beberapa di antaranya terlibat penipuan/pemalsuan.

Ah, sedih sekali rasanya hati ini…. Masa muda yang seharusnya penuh dengan vitalitas, semangat, ternyata harus dihabiskan di balik jeruji besi dan tembok tinggi. Penuh dengan teman-teman senasib yang tidak baik pergaulannya. Waktu yang terbuang sia-sia karena di sana tidak ada kegiatan belajar. Yang ada hanya kerja masal mengarit rumput. Memang, setiap harinya dari Senin sampai Jumat ada waktu besuk untuk orang luar. Namun, waktu kunjungan dibatasi hanya setengah jam. Bahkan, di hari Minggu pun tidak ada kegiatan sama sekali. Mereka hanya diam di blok masing-masing. Berbagai peraturan mengisolir mereka, dan sungguh terenyuh hati ini.

Saya berkata dalam hati, ”Mereka berada di sana itu, apakah semata-mata kesalahan mereka? Siapa sebenarnya yang bersalah… orang tua, lingkungan, atau keadaan?” Tentu, banyak faktor penyebabnya. Mungkin orang tua konflik, orang tua yang tidak peduli dengan anaknya, keluarga yang broken home, pergaulan bebas, dan macam-macam penyebab lainnya. Akibatnya, mereka terjebak dalam lingkaran setan narkoba. Bagaimana mereka nanti akan menuliskan riwayat hidupnya?

Oleh karena itu, wahai para orang tua, di tangan Andalah masa depan anak-anak Anda. Bertanggung jawablah dalam membina kehidupan rohani dan jasmani mereka. Arahkan mereka kepada hal-hal yang benar supaya mereka tidak salah jalan. Kesalahan yang akan membuat penyesalan selanjutnya.

Wahai anak-anak, hargai pengajaran orang tuamu dan carilah Tuhan selalu, agar kalian diberikan pengawalan supaya selamat dalam perjalanan hidup kalian.

Kita yang berada di luar seharusnya bersyukur, bahwa kita bisa bekerja yang berguna untuk diri sendiri dan orang lain. Dapat berkumpul dengan keluarga, bertemu dengan teman/saudara tanpa halangan, dan bisa pergi berjalan-jalan ke mana saja dengan bebas.

Ini baru cuplikan kecil atas pemandangan yang saya lihat di LP. Masih banyak yang tidak terlihat dan saya ketahui, yang pastilah dialami serta terjadi pada masing-masing penghuni LP itu. Saya hanya berdoa, mohon kepada Tuhan supaya selalu melindungi dan menjaga agar saya, keluarga saya, dan mereka semua tidak tersesat atau salah jalan.

Apakah mereka bisa menghayati dan meyakini lagu penutup yang kami nyanyikan saat itu…..”S’mua Baik, S’mua Baik; S’gala yang t’lah Kau perbuat di dalam hidupku, S’mua baik, sungguh teramat baik, kau jadikan hidupku berarti….”Semoga, Amin.[ig]

* Ingrid Gunawan adalah seorang executive secretary sebuah perusahaan swasta. Meminati bidang tulis-menulis, aktif dalam pelayanan sosial, dan ia dapat dihubungi melalui email: ingridguna[at]yahoo[dot]com

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox