Apakah Hanya Anak yang Durhaka?

Iftida YasarOleh: Iftida Yasar*

Banyak cerita tentang bagaimana seorang anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya, yang akhirnya dikutuk menjadi batu seperti si Malin Kundang. Dari kecil, kita diajari untuk patuh kepada orang tua, menghormati, dan mentaati perintahnya. Anak yang menurut apa kata orang tuanya akan selamat, dan yang tidak menuruti nasihat orang tua akan celaka.

Kebanyakan orang tua masuk dalam kategori baik dan normal sehingga antara nasihat dan perbuatan seiring sejalan. Anak akan mengikuti nasihat orang tuanya jika ia juga tahu bahwa orang tuanya melakukan hal-hal yang dinasihatkannya. Orang tua yang mengajarkan disiplin, misalnya bangun pagi, dan jika mereka juga bangun pagi setiap hari, maka akan menularlah kebiasaan bangun pagi itu kepada keluarganya.

Sebaliknya, jika antara nasihat dan perbuatan tidak seiring sejalan, bahkan bertolak belakang, maka anak akan sulit menuruti nasihat orang tuanya. Orang tua yang merasa bahwa nasihat itu hanya berlaku untuk anaknya, dan bukan kepada dirinya juga, akan kesulitan dalam memberikan pengertian kepada anaknya. Contoh paling nyata adalah jika kita tidak pernah terlihat melakukan salat lima waktu, bagaimana kita dapat membuat anak kita salat? Mungkin, waktu masih kecil mereka bisa dipaksa melakukan hal itu. Tetapi, pada saat mereka sudah mampu berpikir, apalagi sudah dewasa, maka nasihat orang itu tidak berlaku.

Beberapa teman sering mengeluhkan bagaimana perilaku orang tua mereka. Ada yang tidak memikirkan sama sekali bagaimana persiapan pensiunnya. Pada waktu muda dan masih menjabat, uang dihabiskan untuk kesenangan diri sendiri. Pada saat sudah tidak mempunyai penghasilan lagi, gaya hidup enak sudah tidak bisa diubah. Kebiasaan hidup senang, makan enak, baju bagus, dan bepergian ke mana saja dia suka tidak dapat ditinggalkan. Hasilnya, sedikit demi sedikit uang yang tersisa jadi habis, lalu mulailah menjual harta benda yang ada, bahkan sampai tidak mempunyai apa-apa sama sekali.

Memang, kewajiban anak adalah menjaga dan merawat orang tuanya pada saat mereka sudah tidak mampu. Di sisi lain, orang tua juga harus sadar atas kemampuan anaknya. Jika kebetulan mempunyai anak yang berlebihan dan cukup, mungkin tidak ada persoalan lagi. Tetapi, jika anak hidupnya pas-pasan, seharusnya orang tua memahami keadaan ini. Kalaupun anak hidup berkecukupan, alangkah indahnya jika kita sebagai orang tua tidak menggantungkan diri sepenuhnya kepada anak. Untuk orang tua yang memang keadaannya tidak mampu dan mengharapkan agar anaknya gantian menjaga serta merawat mereka, memang itu bisa dimaklumi.

Yang ingin saya bicarakan di sini adalah orang tua yang tidak mempersiapkan hari tuanya, padahal sebenarnya mereka mampu. Ada orang tua yang tidak mau tahu dengan keadaan anaknya. Mereka, dengan gaya hidupnya yang tidak mau susah, akhirnya bisa menjadi beban anaknya. Keadaan rumah tangga anak pun dapat menjadi panas dikarenakan urusan mertua dan orang tua yang tidak ada habisnya.

Ada juga orang tua yang senang menjalin hubungan dengan orang lain, dalam arti mempunyai affair atau kawin cerai, tanpa memikirkan bagaimana nasib anaknya. Yang dikejar hanya kesenangan dirinya sendiri. Sebagian laki-laki muslim—dengan dalih mampu dan mengikuti sunnah Rasul—mereka melakukan poligami. Jika dilakukan dengan baik dan terbuka, serta dimusyawarahkan dengan baikapalagi jika dapat berlaku adil terhadap keluargamaka keadaan akan aman dan damai. Biasanya, yang terjadi justru sebaliknya, selingkuh atau kawin lagi dilakukan dengan diam-diam. Jika ketahuan akan terjadi keributan. Bisa juga mereka yang doyan kawin cerai, hanya mengurus istri dan anak yang terakhir saja, sementara anak-anak dari perkawinan yang terdahulu tidak diurus lagi.

Ada teman perempuan saya yang sudah kawin cerai sebanyak tiga kali. Setiap kali kawin pasti mempunyai anak, dan ketika bercerai semua anak ikut dia. Masalahnya, selain beban ekonomi juga ada masalah antara anak dengan bapak tirinya, atau dengan keluarga suaminya. Biasanya, perempuan menjadi rentan atau stres, berakhir dengan marah-marah dan pelampiasan kepada anak-anaknya yang tidak berdosa.

Dari cerita teman saya itu, suami ketiganya yang diharapkan terakhir, ternyata hanya bertahan baik selama setahun pertama saja. Sekarang, suaminya mulai main judi dan tidak memberikan nafkah lagi. Apa ini nasib? Atau, apakah ini disebabkan karena teman saya itu terlalu cepat mengambil keputusan kawin lagi, tanpa pertimbangan yang cermat?

Ada juga teman saya yang punya anak lima. Alasan dia kawin tidak dengan dasar cinta, tetapi karena dijodohkan (dan karena anaknya lima?). Teman ini membalas perilaku selingkuh suaminya dengan ikutan-ikutan selingkuh. Lucunya, pasangan selingkuhnya suami orang, dan jauh kualitasnya dibandingkan suaminya yang dulu. Alhasil, anak-anaknya yang sudah besar, dan bahkan sudah ada yang menikah, jadi kecewa sekali. Ibu seharusnya memberikan contoh ketabahan dan kesetiaan, bukannya menghibur diri sendiri dengan jalan yang salah.

Dari cerita di atas, kemungkinan besar anak akan mendapat gambaran yang buruk mengenai perilaku orang tuanya. Mereka akan merasa sebagai pihak yang disakiti, tidak diperhatikan, kurang mendapatkan kasih sayang, bahkan berebut perhatian dan kasih sayang di antara saudara. Sebagai anak, hak kita dirampas tanpa bisa berbuat apa pun.

Kalaupun kita termasuk anak yang tidak terurus, tetapi nantinya berhasil atau sukses, maka jangan disalahkan jika anak tidak menaruh hormat atau sayang kepada orang tuanya. Mereka merasa bahwa kesuksesannya diraih tanpa dukungan orang tuanya. Merekayang tidak mengerti latar belakangnya mengapa anak bersikap demikianakan memberikan komentar, bahwa kita adalah anak yang tidak mengurus orang tuanya. Apalagi jika kita mampu dan kaya, mungkin komentarnya kita ini sebagai anak durhaka.

Selalu dikatakan, bahwa jangan pernah melawan orang tua, jangan pernah menyakiti mereka, dengan alasan apa pun, tidak ada ruang gerak bagi anak untuk berbuat tidak baik terhadap orang tuanya. Memang, tidak dapat dipaksakanjika anak yang merasa disakiti, tidak diurus, bahkan ditelantarkan—akhirnya mereka tidak meedulikan orang tuanya.

Kalau kita termasuk orang yang bijak dan ikhlas, kemungkinan besar kita akan mengurus orang tua kita, tanpa memerhitungkan bagaimana jeleknya perlakuan orang tua kepada kita dahulu. Yang terpenting, kita mengambil hikmah untuk tidak melakukan hal yang sama seperti orang tua kita. Kita mesti belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik, sembari mempersiapkan hari tua kita sendiri. Kita mesti belajar menjadi teladan bagi anak-anak kita serta berusaha supaya tetap dapat bermanfaat bagi lingkungan kita.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida juag dikenal sebagai pribadi yang sangat aktif, suka tantangan, senang bertemu dengan orang-orang baru, membangun jejaring, membangun kompetensi SDM, bepergian, dan baca buku. Ia adalah penggemar berat Kho Ping Hoo, Winnetou, Mushashi, Sinchan, dan Andrea Hirata. Iftida dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau email: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: -2 (from 2 votes)

Honey Money

iftida yasarOleh: Iftida Yasar*

Siapa yang tidak suka uang? Hampir semua orang punya impian muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga. Tidak ada yang salah dengan impian dan keinginan untuk memiliki uang banyak, sangat manusiawi. Yang menjadi salah adalah jika keinginan untuk memiliki uang itu dilakukan dengan berbagai cara. Kalau kita seorang pekerja dengan gaji misalnya Rp 2.000.000 sebulan, maka seharusnya pengeluaran kita disesuaikan dengan pendapatan yang kita punya. Prioritaskan apa yang harus kita bayar pada awal bulan, seperti biaya makan sebulan di muka, uang sekolah anak, listrik, telpon, dan biaya transportasi. Sisihkan, walaupun sedikit, dana cadangan yang dapat dipergunakan untuk keperluan darurat, seperti sakit, musibah, dsb.

Rasanya, memang pas sekali jika penghasilan yang kita terima untuk memenuhi kebutuhan hidup. Padahal, keinginan lain masih banyak; mau jalan-jalan ke mal, mau beli baju baru, mau ganti handphone, mau ini, mau itu, semua mau. Begitu banyak barang yang belum kita miliki atau keinginan yang belum terlaksana, semuanya butuh uang. Kalau kita tidak kuat menahan keinginan dan menyelaraskannya dengan kemampuan, maka sudah dapat dipastikan hidup kita akan kacau.

Sebetulnya, bukan berapa besar uang yang kita miliki yang dapat membuat hidup kita senang dan teratur. Tetapi, yang lebih penting lagi adalah seberapa besar kemampuan kita mengatur uang yang kita miliki itu agar hidup kita aman dan senang. Berapa pun banyaknya uang yang kita miliki tidak akan pernah cukup untuk memenuhi keinginan kita.

Sesungguhnya, kitalah yang berperan besar dalam menentukan bagaimana kita mau mengatur hidup ini. Kalau kita kaji, sebenarnya berapa pun kecilnya gaji yang diterima, itu selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Walaupun, menurut kacamata orang lain yang pendapatannya lebih banyak, “Kok, ya bisa ya hidup dengan penghasilan segitu? Sebaliknya, berapa pun besarnya uang atau penghasilan yang diterima, kok ya rasanya ada saja alasan untuk merasa kurang. Bagaimana enggak merasa kurang, sebab selalu ada keinginan memilki sesuatu yang nilainya lebih besar dari penghasilan yang diterima. Sehingga, rasanya enggak ada habisnya mencari jalan keluar untuk memenuhi keinginan itu.

Memiliki impian atas suatu barang yang mahal seperti mobil, rumah, atau perhiasan dapat memacu kita bekerja keras agar keinginan suatu saat terwujud. Gantungkan cita-cita kita setinggi langit, miliki impian, dan terus-menerus dengungkan itu di kepala kita agar dapat tercapai. Biasanya, keinginan yang kuat akan terwujud asalkan secara spesifik kita bisa memvisualisasikannya dengan jelas, lalu mentargetkan kapan harus terwujud, dan membuat perencanaan serta strategi bagaimana melaksanakannya. Jangan lupa memasukan ke dalam kepala kita, bahwa untuk mencapai impian itu tidak mudah, ada kendalanya, perlu kerja keras, kreativitas, dan mental baja untuk mewujudkannya. Jika hal ini tidak dimasukan ke dalam paket impian kita, maka sudah dapat dipastikan yang terjadi adalah bagaimana meraih impian tadi dengan segala cara.

Cara cepat jadi kaya: investasikan uang Anda, dan dalam waktu cepat uang Anda akan berkembang tanpa perlu bekerja keras. Anda akan menerima 5 persen sebulan, ditambah bonus akhir tahun jika Anda memercayakan uang Anda untuk kami kelola,” kata sebuah iklan di koran. Begitu serakahnya orang karena ingin segera meraih keuntungan sehingga langsung tergiur oleh tawaran itu. Hasilnya, bukan keuntungan yang didapat, malah malapetaka yang didapatkan. Uang tidak kembali, apalagi keuntungan manis yang dijanjikan.

Karena kemalasan bekerja keras, akal sehat kita bisa tidak bekerja dengan baik. Jika saya memiliki usaha yang sangat bagus dengan keuntungan sebesar 5 persen sebulan atau 60 persen setahun, itu artinya saya mempunyai pohon uang yang akan saya sembunyikan dari orang lain. Usaha itu akan saya jalankan sendiri secara diam-diam agar keuntungannya dapat saya nikmati sendiri. Buat apa saya mengajak orang lain, apalagi orang yang tidak saya kenal untuk bersama-sama menikmati pohon uang itu? Kalaupun saya mau membaginya, sudah barang tentu keluarga, saudara, dan sahabat saya yang akan mendapatkan prioritas menikmati pohon uang itu, bukan orang lain.

Untuk pekerja, ada juga cara cepat menjadi kaya; lakukan korupsi, misalnya penggantian uang perjalanan dinas sesuai dengan penggunaaan at cost, maka masukkan semua kemungkinan untuk memperoleh cash dengan jalan mengeluarkan kwitansi fiktif. Untuk pekerja yang menempati posisi basah, misalnya bagian pengadaan barang, menangkan vendor yang bersedia memberikan sebagian keuntungannya kepada kita. Nilai proyek yang hanya Rp 10 juta, naikan menjadi Rp 15 juta agar sisanya dapat kita kantongi.

Cara cepat lainnya untuk mendapatkan gaji lebih tinggi adalah dengan jalan menjilat atasan agar disayang dan cepat naik pangkat, atau diberikan berbagai macam proyek tambahan. Usahakan hanya kita yang mendapat penghasilan tambahan tadi. Kalau perlu, sikut kanan kiri dan injak kaki bawahan agar semua masuk kantong. Mempunyai hubungan khusus atau intim dengan atasan, atau hubungan dengan si pemberi proyek dapat juga menjadi jalan pintas untuk menggelembungkan pundi-pundi kita.

Apakah hanya uang satu-satunya yang dapat membuat kita bahagia? Ada penelitian yang mengatakan, bahwa uang atau dalam bentuk kenaikan gaji misalnya, hanya dapat membuat orang senang atau bahagia selama tiga bulan. Ada hal lain seperti ketenangan kerja, penghargaan, suasana kerja sama, dan suasana kekeluargaan yang jauh lebih membuat orang senang dan bahagia lebih lama. Tidak heran, saya pernah bekerja di perusahaan yang memberikan penghargaan berupa uang atau fasilitas yang sangat baik. Tetapi, karyawannya banyak yang hanya bertahan sebentar di sana. Perusahaan membesarkan karyawannya atau merasa hanya uanglah yang mampu membahagikan karyawannya.

Banyak komentar atau ketidakpuasan yang dilontarkan karyawan, justru pada saat mereka naik pangkat atau naik gaji. Kalau naik gaji komentarnya, Kok, cuma segini naiknya? Atau, kalau naik pangkat diberikan misalnya mobil Corolla Altis, komentarnya bukan berterima kasih tapi, Kok, bukannya BMW? Mungkin, itu adalah buah yang dipetik karena membesarkan karyawan dengan hanya berdasarkan nilai material semata. Sehingga, mereka tidak merasa bersyukur apalagi berterima kasih. Sebaliknya, ada juga perusahaan biasa-biasa saja dalam memberikan paket material kepada karyawannya, tetapi kok herannya mereka betah di sana. Malahan, mereka tidak mau dibajak walaupun dengan iming-iming gaji yang besar.

Sebagai manusia kita diberi akal pikiran oleh Tuhan untuk dapat menilai mana yang benar mana yang salah, sebelum memutuskan sesuatu. Mestinya, kita dapat belajar dari pengalaman orang-orang terdahulu. Lihat bagaimana kehancuran suatu keluarga yang kaya raya, tetapi mungkin mendapatkannya dengan jalan pintas.

Lihat juga contoh keberhasilan tokoh yang sukses mengembangkan usahanya, juga berkah, serta selamat, karena semua kekayaannya didapatkan dengan jalan halal, kerja keras, kreatif, dan juga berbagi dengan sesama. Usaha yang langgeng adalah mempunyai mesin uang yang dilumasi dengan minyak halal, hasil dari kerjasama seluruh tim yang percaya bahwa intergritas, kerja keras, dan keadilan dijalankan dalam usaha itu.

Jadi, jangan pernah percaya dengan orang yang mengatakan, Mencari uang haram saja susah apalagi, yang halal?!” Uang memang manis bagai madu, tetapi akan berubah menjadi racun jika kita mendapatkannya tidak dengan jalan yang benar.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida juag dikenal sebagai pribadi yang sangat aktif, suka tantangan, senang bertemu dengan orang-orang baru, membangun jejaring, membangun kompetensi SDM, bepergian, dan baca buku. Ia adalah penggemar berat Kho Ping Hoo, Winnetou, Mushashi, Sinchan, dan Andrea Hirata. Iftida dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau email: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Krisis Global, Kesempatan Kerja, dan Outsourcing

iyOleh: Iftida Yasar*

Apa yang masih dapat kita lakukan dalam menghadapi krisis ekonomi global?

Analisis para ahli ekonomi mengatakan, bahwa krisis global yang melanda seluruh dunia dampaknya akan jauh lebih hebat dibandingkan dengan krisis ekonomi yang tejadi pada tahun 1997. Diperkirakan, akan ada satu juta orang yang kehilangan pekerjaan akibat krisis ini. Banyak kajian dan diskusi diadakan untuk membahas apa yang masih dapat kita lakukan sekarang ini.
Di antaranya diskusi pada tanggal 2 Desember 2008 di hotel Aryaduta, Jakarta, yang membahas tentang ketenagakerjaan, kaitannya dengan dampak krisis ekonomi dunia, yang diprakasai oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI.

Diskusi ini diberi judul “High Level Round table Discussion on Employment Issues and Macro Policy Coherence in Indonesia. Diskusi yang melibatkan berbagai instansi, termasuk ILO (International Labour Oganisations) dan APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia) itu membicarakan berbagai opsi kebijakan akibat dampak krisis keuangan global terhadap ketenagakerjaan di Indonesia.

Secara garis besar, diperlukan langkah strategis dan terpadu dalam menghadapi adanya ancamana PHK akibat krisis global. Baik pengusaha, pemerintah, dan serikat pekerja diharapkan bersatu dalam mengurangi dampak krisis global. Kalangan pengusaha sebetulnya sangat kecewa dengan sikap pemerintah yang merevisi SKB 4 Menteri. Terkesan pemerintah tidak tegas dan tidak peka terhadap adanya krisis yang sudah di depan mata. Di pihak lain, mereka yang mengail di air keruh adalah para politisi, terutama yang sedang dalam masa kampanye agar dapat dipilih.

Para gubernur dan bupati menaikan upah minumum tanpa memperhitungkan kemampuan sektor usaha formal yang jumlahnya hanya 30 persen dari populasi tenaga kerja. Apalagi pekerja non-formal yang jumlahnya sebasar 70 persen. Sementara itu, pihak serikat pekerja juga tidak realistis untuk tetap meminta kenaikan upah di atas angka pertumbuhan ekonomi. Padahal, bisnis mengalami penurunan yang sangat drastis. Diperkirakan akan ada penurunan jumlah ekspor sebesar 25 hingga 30 persen, yang berakibat pada berkurangnya pekerjaan. Tidak ada pilihan lain bagi pengusaha, jika sangat terpaksa mereka akan melakukan PHK.

Dalam situasi seperti ini, diharapkan adanya dana dari pemerintah untuk melaksanakan berbagai proyek padat karya, agar rakyat dapat bekerja dan membeli barang kebutuhan. Selain itu, perlu juga diterapkan adanya peningkatan pengetahuan dan keahlian bagi pekerja agar mereka mempunyai multi-skills dan multi-fungsi. Dengan adanya multi-skills ini, mereka dapat meningkatkan kompetensinya dan tetap dapat bekerja di bidang lain jika sewaktu-waktu terjadi PHK.

Hubungan industrial, terutama di kalangan bipartit (pekerja dan pengusaha) perlu ditingkatkan. Itu diperlukan agar masing-masing mempunyai pandangan yang sama, demi menjaga kelangsungan bisnis, yang berdampak pada adanya kelangsungan hubungan kerja. Harus disadari, bahwa pekerja dan pengusaha adalah kawan seiring seperjuangan, yang harus bahu membahu mengatasi kesulitan. Jangan hanya menuntut hak tanpa memedulikan kesulitan bersama. Mari berjuang bersama mempertahankan kapal agar jangan sampai tenggelam.

Perluasan Kesempatan Kerja Melalui Outsourcing

Sebelum tutup tahun 2008, banyak analisis dari para ekonom, asosiasi pengusaha, dan juga Kadin Indonesia, yang memperkirakan akan adanya penurunan eksport sebesar kurang lebih 20 sampai dengan 30 persen. Itu berarti berkurangnya pemasukan bagi Indonesia, yang dapat juga berdampak pada berkurangnya kesempatan kerja. Menurut Sofjan Wanandi, Ketua Umum APINDO, diperkirakan akan ada PHK sebesar satu juta orang selama tahun 2008.

Kalau selama ini kita sibuk menolak outsourcing, apalagi ditambah dengan maraknya demo dari pekerja yang menuntut penghapusan outsourcing, maka sudah saatnya pemahaman mengenai outsourcing diluruskan. Di tengah susahnya mencari pekerjaan di dalam negeri, negara lain seperti India dan Cina menikmati lezatnya kue Business Process Outsourcing” yang diperoleh dari mancanegara.

Di Philipina, bahkan outsourcing menjadi peringkat nomor 1 dari perluasan kesempatan kerja, dibandingkan dengan pekerjaan lain. Kita baru menjalankan usaha outsourcing ini dalam skala yang kecil. Padahal, terbuka luas kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan dari luar negeri. Jika saja secara serentak para pejabat pemerintah, pengurus Kadin, dunia usaha, dan para duta besar di luar negeri menjajaki dan mencari pekerjaan yang dapat dilaksanakan di Indonesia, maka dampaknya akan sangat luar biasa.

Pekerjaan seperti TI, pembuatan film animasi, data entry, pengerjaan administrasi proses klaim biaya kesehatan, penggajian, call center, dan lain-lain dapat dilakukan di Indonesia. Teknologi sangat memungkinkan untuk melakukan pekerjaan itu. Berapa banyak tenaga kerja yang akan terserap, ditambah lagi adanya transfer of technology dan pengetahuan yang akan terjadi?

Di sisi lain, saya juga berharap agar para pembuat kebijakan membuat suatu aturan main yang lebih memenuhi kebutuhan dunia usaha akan perluasan kesempatan kerja. Outsourcing jangan dianggap sebagai suatu yang negatif. Tetapi, outsourcing adalah solusi atau alternatif untuk memperluas kesempatan kerja, yang pada akhirnya akan mengurangi pengangguran.

Kementerian yang terlibat langsung dalam pembuatan kebijakan yang terkait dengan outsourcing seharusnya memberikan perhatian yang adil, terutama dalam menyikapi maraknya protes para pekerja dan serikat pekerja, yang salah memahami praktik outsourcing. Outsorcing bukan “perbudakan gaya baru”, tetapi sungguh merupakan solusi dan salah satu alternatif perluasan kesempatan kerja.

Dunia perguruan tinggi agar didorong membuat kajian dan memasukan mata kuliah mengenai outsourcing ini kepada para mahasiswanya. Pemahaman outsourcing yang benar sejak masa kuliah dapat mengurangi dampak negatif pelaksanaan outsourcing di lapangan. Jika nanti mereka menjadi karyawan dan menjadi salah satu karyawan perusahaan outsourcing, maka mereka akan mengerti hak dan kewajibannya. Jika mereka menjadi pengusaha atau masuk dalam jajaran manajemen, mereka juga dapat menerapkan aturan main yang benar. Untuk siswa SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) yang dipersiapkan langsung masuk ke pasar kerja, mereka pun sudah mulai diberi pengertian mengenai hubungan industrial, yang mana di dalamnya ada materi mengenai outsourcing.

Selama ini, outsourcing mendapatkan stigma negatif akibat pemahaman yang kurang sehingga implementasinya menjadi berbeda. Sekalipun, ada maksud dan tujuannya yang baik di sini, yaitu perluasan kesempatan kerja dan mengurangi besarnya jumlah pengangguran. Semoga dengan pemahaman yang semakin baik dari masyarakat mengenai pengertian outsourcing, terutama dunia usaha dengan jajaran manajemen dan karyawannya, maka maksud dan tujuan baik outsourcing dapat tercapai.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida juag dikenal sebagai pribadi yang sangat aktif, suka tantangan, senang bertemu dengan orang-orang baru, membangun jejaring, membangun kompetensi SDM, bepergian, dan baca buku. Ia adalah penggemar berat Kho Ping Hoo, Winnetou, Mushashi, Sinchan, dan Andrea Hirata. Iftida dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau email: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Tante Ann: Ibunda Barrack Obama

iyOleh: Iftida Yasar*

Perempuan adalah makhluk yang sangat istimewa. Oleh Allah perempuan diberikan kemuliaan untuk menjaga amanah melahirkan generasi penerus. Tugasnya sebagai sosok yang sangat berperan dalam menentukan kualitas generasi penerus, baik secara fisik maupun pembentukan karakter, membuatnya harus dapat selalu menjaga citra diri dan memeliharanya.

Perempuan adalah tiang rumah tangga, pemersatu keluarga, cahaya keindahan dan kebenaran. Ia adalah pemimpin dalam rumahnya untuk anak-anaknya dalam menanamkan nilai-nilai baik kejujuran, keteguhan, kesetiaan, kelembutan, dan kasih sayang. Dengan kasih sayangnya ia menjaga rumah tangganya dari segala tantangan baik dari luar maupun dari dalam.

Tidak semua perempuan memahami dan mampu menerapkan tugas dan kodratnya. Banyak yang gamang dan larut dalam kungkungan masalah tanpa mampu bangkit serta melihat indahnya tantangan kehidupan. Perempuan sebagai makhluk yang mengemban tugas melahirkan generasi penerus harus sehat dan bahagia. Ia layaknya mampu mengetahui kodratnya sebagai pemersatu keluarga dan mampu menjaga rumah tangganya dari tantangan. Tantangan dari dalam berupa keteguhan untuk meyakini bahwa kodratnya adalah membentuk karakter anak-anaknya dengan menjadi panutan dan menjalankan nilai baik, seperti kejujuran, keteguhan, dan kasih sayang.

Perempuan sering digambarkan sebagai mahluk Tuhan yang halus, memesona, indah, lemah, perlu dijaga, dan dilindungi karena dibuat dari tulang rusuk laki-laki. Halus, sehingga jika perempuan berkata keras atau mempertahankan pendapatnya dengan gigih di muka umum, maka ia akan dicap sebagai perempauan keras atau kasar. Perempuan tidak usah neko-neko berdebat atau mempertahankan pendapatnya, tidak pantas, lebih baik diam saja, dan mengalah.

Perempuan yang memercayai hal ini seratus persen akan selalu merindukan sang pangeran yang akan selalu mencintai, melindungi, dan mendampinginya. Kebutuhannya akan berhenti di batas ini seperti Dewi mencari cinta”. Tanpa cinta maka hidupnya tidak akan bahagia. Bisa jadi jika ia tidak bahagia, maka hidupnya akan murung, sedih dan lupa akan tugasnya mengantarkan anak-anaknya tumbuh kembang dan menjadi manusia yang kuat, bahagia, dan sukses.

Perempuan digambarkan memesona dan indah sehingga ia harus tampil prima, menjaga keindahan tubuhnya, berpakaian dan berdandan yang menarik untuk mempertahankan citra pesonanya. Jika perempuan terlihat lusuh, tidak berdandana, gembrot, maka ia dianggap bukan perempuan. Banyak kasus cacat bahkan kematian perempuan akibat operasi plastik, suntik, dan lain-lain tindakan karena keinginan perempuan untuk terlihat cantik dan langsing. Begitu sibuknya perempuan mempercantik dirinya sehingga mungkin lupa memikirkan tumbuh kembang anak-anaknya, yang lebih banyak bersama mbaknya (baca: pembantu/pengasuh) karena ibu mereka sibuk di salon.

Perempuan lemah, jadi ia jangan mengerjakan pekerjaan yang berat. Kasih saja yang ringan dan tidak memerlukan kemampuan yang tinggi. Karena lemah, perempuan jadi tidak mau menerima tantangan tugas yang beragam, tidak mau pulang telat, sering izin dengan berbagain alasan, mulai dari sakit perut karena menstruasi, anak sakit, pembantu tidak ada, dsb. Ada juga perempuan yang dengan atribut keperempuannya meminta jatah jabatan atau kedudukan karena, katanya, suatu pekerjaan tidak akan seronok dan hambar tanpa kehadiran perempuan. Dengan kenesnya perempuan jenis ini tidak malu menyodorkan dirinya untuk menjadi sesuatu tanpa menyadari dia tidak punya kompetensi, hanya karena ia ingin perempuan ada di situ.

Tetapi, di lain pihak perempuan juga menginginkan adanya kesamaan hak, menuntut gaji yang sama besar, fasilitas yang sama, jabatan yang sama dengan laki-laki, semuanya dengan cap emansipasi. Bahkan yang lebih ekstrim adalah tidak butuh laki-laki, lakukan semua sendiri, pekerjaan seberat apa pun tidak mau dibantu.

Kita yang sering menonton film barat dapat melihat dengan jelas bagaimana mandiri dan perkasanya perempuan seperti itu. Mereka tidak berdandan, berpenampilan gagah perkasa, bahkan menjadi orang tua tunggal “by choice” hanya untuk membuktikan bahwa mereka bisa hidup tanpa laki-laki.

Beda dengan kita di Indonesia, banyak perempuan terutama yang berada pada lapisan bawah, mereka harus bekerja keras menghidupi keluarganya. Lihat di Bali, bagaimana para perempuan menjadi kuli bangunan, mengangkat batu, dan bekerja keras di bawah teriknya matahari. Semua dilakukannya karena ia harus membantu mencari nafkah dengan alasan yang klasik, bahwa penghasilan suami tidak mencukupi untuk keluarga. Perempuan juga banyak yang berperan sebagai penghasil utama dan penopang kehidupan rumah tangganya.

Biasanya, pekerja perempuan lebih penurut, gampang diatur, fleksibel, dan mau mengerjakan pekerjaan apa saja tanpa hitung-hitungan. Hikmahnya, ia akan bekerja lebih keras dan sering menghadapi tantangan sehingga terasah kemampuannya, dan akhirnya dapat memiliki karier yang baik.

Pendapat di atas agak kontradiktif memang, yang mengatakan bahwa perempuan adalah makhluk lemah yang tidak bisa mengerjakan apa-apa, tetapi di lain pihak jika ia mau (by choice) atau karena terpaksa, maka perempuan bisa menjadi apa saja. Perempuan bisa jadi tukang becak, sopir taksi, tukang bangunan, supervisor, bahkan direktur utama di perusahaan besar. Semuanya dimulai dari bagaimana cara pandang kita memperlakukan diri sendiri.

Kenapa judul tulisan diatas adalah mengenai Tante Ann, Ibunda dari Maya Soetoro dan Barack Obama, presiden Amerika Serikat yang ke 44? Saya melihat Tante Ann adalah sosok ibu yang sangat istimewa, yang mampu mengantarkan anak-anaknya hidup dengan harga diri, mandiri, dan selalu berjuang untuk mencapai cita-citanya. Tante Ann adalah perempuan istimewa, bukan perempuan biasa. Sebagai perempuan kulit putih, ia berani memutuskan menikah dengan orang yang bukan kulit putih. Walaupun kedua perkawinannya kandas, tetapi ia tetap mengajarkan anak-anaknya agar menghargai bapaknya.

Dari biografi tentang Barrack Obama, banyak perjalanan yang dilakukannya untuk bertemu dengan keluarga ayahnya. Maya Soetoro juga kelihatannya tumbuh menjadi perempuan yang bahagia, mandiri, dan mempunyai kepedulian terhadap masyarakat. Walaupun sejak kecil ia ikut ibunya, tapi Maya tetap menjalin hubungan baik dengan keluarga ayahnya.

Di sini terlihat jelas, bahwa tante Ann mampu memainkan peranan sebagai ibu yang mandiri, walaupun harus menghidupi anak-anaknya sendiri. Tante Ann tidak terpuruk dalam kesedihan menangisi kegagalan cintanya. Ia berkonsentrasi membesarkan anak-anaknya dan mewarisi nilai-nilai baik yang mampu mengawal kedua anaknya menjadi manusia yang berhasil.

Perjalanan panjang dan penuh dengan perjuangan untuk bertahan dan meraih sukses melekat erat pada diri Obama. Awal perjuangannya mencalonkan diri sebagai kandidat presiden Amerika Serikat dipandang sebelah mata oleh lawan politiknya. Bagaimana mungkin seorang keturunan Afrika dapat menjadi presiden di negara adidaya, yang notabene masih memandang orang kulit putih adalah lebih pantas untuk menjadi presiden mereka? Apalagi ia pernah tinggal di Indonesia dan diisukan pula beragama Islam. Walaupun Amerika ingin dipandang sebagai negara demokrasi, baik dalam bidang politik maupun agama, tetapi rasanya mempunyai seorang presiden yang beragama Islam bukan pilihan bagi mereka.

Berbagai isu dapat dilewati oleh Obama, bahkan secara telak ia dapat mengalahkan Hillary Clinton, lawan beratnya yang merupakan senator dari New York, dan pernah menjadi seorang first lady Amerika Serikat. Sampai detik terakhir kampanyenya Hillary tidak pernah menyangka ia harus menyerah dan kalah dari seorang Obama yang keturunan Afrika, disukan beragama Islam, dan juga mempunyai karier politik yang jauh lebih yunior dibandingkan dengan dirinya.

Hebatnya, setelah dinyatakan kalah Hillaryyang walaupun kecewa beratlalu mendukung penuh pencalonan Obama sebagai wakil partai demokrat untuk maju sebagai kandidat persiden Amerika Serikat. Sungguh, Hillary juga bukan perempuan biasa. Ia termasuk perempuan istimewa yang meminta 18 juta pendukungnya memilih Obama menjadi persiden.

Tanpa bimbingan seorang ibu yang kuat, seorang Obama tak akan mampu terus maju menggapai impiannya menjadi persiden Amerika. Walau harus menghadapi kesulitan sebesar apa pun, ia punya mimpi yang tak kunjung padam, menjadi presiden Amerika. Tekad kuat Tante Ann adalah memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anaknya, dibarengi dengan pendidikan moral untuk selalu hormat pada orang lain, mempunyai kebanggaan terhadap kemampuan diri sendiri, dan berbuat baik kepada orang banyak. Pendidikan karakter yang baik ini diwarisi dan dijalankan oleh kedua anak tante Ann.

Michelle Obama, pendamping sang presiden, adalah juga perempuan cerdas yang istimewa. Ia mampu membawakan peranannya sebagai pendukung suaminya. Dalam berita Kompas 27 Agustus 2008 lalu, ia mengatakan di depan puluhan ribu pendukung Demokrat di Denver, Barack dan Michelle dibesarkan dengan nilai keluarga yang harus bekerja keras, memegang moto bahwa janjimu adalah utangmu, mengatakan apa yang harus dilakukan dan memperlakukan orang secara hormat walaupun saling tidak sependapat.

Mereka berdua membangun nilai-nilai tersebut dan mewariskannya pada generai muda. “Kami menginginkan anak-anak kami dan semua anak din egeri ini mengetahui bahwa batas tingginya cita-cita kita adalah mencapai mimpi dan kemauan untuk mewujudkannya,” demikian Michelle Obama. Begitu besar peran ibu dalam pembentukan pribadi Obama sehingga sang istri begitu mencintai dan menghormatinya.

Sebagai perempuan, Tante Ann adalah figur yang patut dijadikan panutan. Ia cantik bukan hanya fisiknya saja, tetapi juga hatinya. Ia percaya dengan apa yang dianggapnya baik dan menjalankan kehidupannya dengan mandiri. Tante Ann adalah tiang rumah tangga, pemersatu keluarga, cahaya keindahan dan kebenaran. Ia adalah pemimpin dalam rumah untuk anak-anaknya dalam menanamkan nilai-nilai baik kejujuran, keteguhan, kesetiaan, kelembutan, dan kasih sayang. Dengan kasih sayangnya ia menjaga dan membimbing anak-anaknya dari segala tantangan untuk meraih mimpi mereka.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Ia suka tantangan, senang bertemu dengan orang-orang baru, membangun jejaring, membangun kompetensi SDM, bepergian, dan baca buku. Ia adalah penggemar berat Kho Ping Hoo, Winnetou, Mushashi, Sinchan, dan Andrea Hirata. Iftida dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau email: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox