Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing

bukuiftida1Judul: Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing

Oleh: Iftida Yasar

Penerbit: PPM Manajemen, 2009

ISBN: 978-979-442-255-7

Tebal: xii + 143 halaman

Harga: Rp50.000,-

Outsourcing (alih daya) adalah suatu perjanjian di mana pemborong (pengguna jasa) mengikat diri dengan vendor (penyedia jasa) untuk memborongkan pekerjaan dengan sejumlah pembayaran tertentu.

Perjanjian kerja alih daya merupakan hubungan kerja sama antara perusahaan alih daya (vendor) dengan perusahaan pengguna jasa yang diikat dalam suatu perjanjian tertulis. Perjanjian tersebut dapat berbentuk perjanjian pemborongan pekerjaan atau perjanjian penyediaan jasa pekerja.

Pekerjaan yang dapat dialihkan (diperjanjikan) adalah pekerjaan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi, atau pekerjaan di luar usaha pokok (core business) suatu perusahaan. Kegiatan tersebut dapat berupa , antara lain, usaha pelayanan kebersihan, usaha penyediaan makanan bagi karyawan perusahaan, usaha tenaga keamanan, usaha jasa penunjang di pertambangan dan perminyakan, ataupun usaha penyediaan tenaga kerja, dan sebagainya.

Buku ini memberikan panduan kepada penyedia (vendor) maupun pengguna jasa pekerjaan (user) untuk merancang perjanjian kerja yang akan dialihdayakan, merancang Service Level Agreement (SLA), ataupun merancang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, dan lain-lain. Buku ini juga dilengkapi dengan bab khusus yang berisi contoh-contoh perjanjian kerja yang dimaksud.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Mitra Kerja atau Budak Kerja?

iy1Oleh: Iftida Yasar*

Perusahaan besar biasanya memberikan kesempatan kepada pihak ketigayang dalam hal ini bisa berupa perorangan atau badan hukumuntuk mengerjakan sebagian pekerjaannya. Misalnya, menjadi pemasok barang-barang merchandize berupa gelas, jam tangan, atau tas dengan logo perusahaan sebagai alat bantu promosi. Atau, bisa juga pencetakan alat-alat kantor.

Banyak perusahaan yang telah menerapkan cara ini. Sebuah jaringan pusat perbelanjaan di Indonesia bahkan sama sekali tidak memiliki stok barang sendiri. Para pihak ketigalah yang memasok barang untuk memenuhi kebutuhan konsumennya. Proses terjalinnya kerjasama antara mereka biasanya didahului dengan pengumuman terbuka akan adanya tender pengadaan barang atau jasa. Kualifikasi dan persyaratan untuk dapat mengikuti tender itu juga diumumkan. Dengan penggambaran umum yang cukup jelas biasanya berbagai pihak yang merasa memenuhi kualifikasi untuk ikut tender akan tertarik.

Setelah itu, mulailah perjalanan panjang bagi mitra kerja untuk mengikuti berbagai babak kualifikasi, sampai akhirnya mendapatkan pekerjaan itu. Banyak hal yang menjadi alasan sebuah perusahaan dapat dipilih untuk menjadi mitra kerja. Misalnya, pengalaman dari pemilik atau profesionalisme dalam menangani pekerjaan yang sama sebelumnya. Siapa saja klien yang pernah ditangani, berapa lama usia perusahaan, nama baik perusahaan, dan harga yang kompetitif sering menjadi pertimbangan.

Sebagai perusahaan kecil, tentu saja bangga jika terpilih menjadi mitra kerja perusahaan besar. Terbayang hal itu akan dapat mendongkrak citra bonafiditas perusahaan dengan menyebutkan nama perusahaan besar itu dalam daftar portofolio klien. Begitu juga bayangan keuntungan yang akan mengalir dari perusahaan besar tadi.

Karena bayangan-bayangan indah itu, tak jarang mitra kerja mau saja melaksanakan apa yang diminta oleh perusahaan besar pemberi kerja. Biasanya perjuangan tahap akhir adalah menentukan harga jasa atau barang yang akan dijadikan objek pekerjaan. Tim dari perusahaan besar biasanya sangat ahli dan piawai dalam menekan harga. Maklum, mereka adalah sekumpulan orang pintar yang memang terlatih untuk melakukan pekerjaan itu.

Semua alasan yang dikemukakan mitra kerja seperti kualitas, keunikan, nilai tambah, dan lain-lain bisa saja tidak digubris oleh tim itu. Mereka hanya mau tahu, apakah si vendor bersedia atau tidak dengan harga yang ditawarkan. Setelah itu, take it or leave it. Vendor juga tak diberi waktu yang cukup untuk berpikir, karena masih banyak mitra kerja lain yang antri untuk mengerjakan pekerjaan ini, jika ia tidak mau. Take it or leave it, dengan kata lain tidak peduli apakah mitra kerjanya ini akan dapat bayaran atau imbalan yang layak sehingga dapat bekerja dengan baik. Mitra kerja yang dapat memberikan harga yang paling murah adalah mitra kerja yang bisa diajak bekerja sama dan diberikan kesempatan.

Akhirnya, menyerahlah mitra kerja tadi terhadap harga dan kondisi kerja yang sudah ditentukan oleh perusahaan besar. Harapannya, dengan mengerjakan pekerjaan ini akan memberikan nilai tambah terhadap nama perusahaannya, dan itu dapat menjadi bekal untuk mendapatkan pekerjaan lainnya di perusahaan besar lainnya. Mulailah mitra kerja ini bekerja dengan keras untuk menyiasati bagaimana dengan budget yang minim dapat memenuhi permintaan dan persyaratan dalam perjanjian kerja itu. Berat rasanya apalagi ditambah dengan adanya permintaan tambahan pekerjaan yang tidak tercakup di perjanjian kerja tetapi harus dikerjakannya. Mau menolak tidak enak, karena berharap akan mendapatkan pekerjaan tambahan lagi. Akhirnya, di akhir kontrak pekerjaan babak belurlah mitra kerja tadi, baik dalam pengerjaannya maupun dalam meraih keuntungan.

Perusahaan besar seharusnya menjadi bapak angkat, menjadi pendorong serta mentor agar perusahaan kecil dapat belajar mendapatkan transfer of knowledge atau technology, bukan menjadi monster yang menjadikan mitra kerjanya sebagai budak kerja. Hey…why not? Ini adalah hukum dagang , siapa yang pintar dan kuat berhak menentukan siapa yang menjadi mangsanya. Kalau tidak mau masih banyak perusahaan lain yang antri untuk mendapatkan pekerjaan ini. Bertanyalah pada hati nurani, jika kita sebagai pihak yang mengerjakannya, apakah sudah layak antara hak dan kewajibannya? Sudah saatnya diatur perjanjian kerjasama yang lebih adil antara pihak yang kuat dengan pihak yang lebih lemah agar perusahaan kerja betul menjadi mitra kerja bukan budak kerja.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida juag dikenal sebagai pribadi yang sangat aktif, suka tantangan, senang bertemu dengan orang-orang baru, membangun jejaring, membangun kompetensi SDM, bepergian, dan baca buku. Ia adalah penggemar berat Kho Ping Hoo, Winnetou, Mushashi, Sinchan, dan Andrea Hirata. Iftida dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Loyalty

iyOleh: Iftida Yasar*

Jika kita bicara mengenai kesetiaan atau setia, yang langsung terbayang di benak kita adalah hubungan antara pria wanita atau suami istri yang saling setia satu sama lain. Mereka hidup bahagia dan hanya maut yang mampu memisahkan mereka. Begitu juga kalau kita bicara mengenai ketidaksetiaan, maka yang ada adalah cerita mengenai perselingkuhan atau hubungan gelap yang terjadi antara aku, kamu, dan dia. Sering kita sebut dengan cinta segi tiga, segi empat, bahkan multi-segi.

Padahal, kesetiaan bisa diimplementasikan pada semua segi kehidupan. Kesetiaan adalah karakter yang bisa dibentuk pada diri manusia ketika ia berinteraksi dengan banyak hal. Ayah saya adalah pegawai negeri yang sampai usia pensiun bekerja dengan setia mengabdikan diri pada negara. Kariernya diawali dengan menjadi tentara pelajar, lalu menjadi pengusaha yang cukup kaya, tetapi kemudian bangkrut sampai akhirnya menjadi pegawai negeri. Pekerjaan ini ditekuninya dengan dedikasi tinggi.

Saya ingat, sebagai anak dari karyawan perusahaan negara yang kaya pada saat itu, segala kebutuhan kami sangat tercukupi. Sejak kecil saya boleh ikut kegiatan volley, tenis, bowling, karate, dan kegiatan pramuka dengan fasilitas terbaik dan semua atas biaya perusahaan. Dengan fasilitas yang menurut ukuran kami sudah sangat bagus, masih saja ada orang yang tidak pernah puas. Ada saja yang melakukan kecurangan, ada yang melakukan bisnis pribadi dengan menggunakan fasilitas kantor, atau bekerja dengan malas-malasan karena tidak akan dipecat dari kantor. Seharusnya karyawan yang sudah dicukupi kebutuhan hidupnya dan keluarganya oleh perusahaan mampu menunjukan kesetiannya dengan cara bekerja yang benar.

Hubungan antar teman sejawat, antara atasan dan bawahan juga harus didasari dengan saling setia. Keberhasilan suatu departemen atau divisi adalah keberhasilan tim, bukan perorangan. Kalau kebetulan kita mempunyai jabatan sebagai pemimpin suatu perusahaan, jangan pernah mengklaim keberhasilan itu adalah hanya karena usaha pimpinan semata. Begitu juga sebaliknya, jika gagal maka dengan mudahnya kita sebagai atasan menyalahkan anak buah. Keberhasilan atau kegagalan suatu proyek atau pekerjaan adalah hasil dari seluruh tim. Pemimpin akan mendapatkan nilai lebih jika pekerjaan timnya berhasil. Tetapi sebaliknya juga akan mendapat kecaman lebih jika gagal. Masih banyak orang yang tidak berani menunjukkan kesetiannya membela teman atau anak buah jika menghadapi kegagalan.

Dalam perjalanan karier saya ada beberapa bos yang merupakan atasan saya yang sebetulnya saya tidak cocok dengan mereka. Kebanyakan ketidakcocokan itu didasarkan pada perbedaan nilai hidup. Misalnya, saya pernah punya atasan yang kalau berbicara antara benar dan bohong sangat tipis bedanya. Dia sangat berani mengemukakan satu pandangan tanpa didasari dengan data dan fakta yang ada. Kata orang Sunda, kumaha engke. Artinya, yang penting omong besar dulu supaya lawan bicara tertarik dan kita mendapatkan pekerjaan, urusannya nanti belakangan. Dalam hal ini saya berusaha memberikan data dan analisis kepada bos ini agar ia jangan berbicara terlalu jauh dari kenyataan.

Saya selalu dengan setia membantu dan mencoba untuk sedapat mungkin mengurangi atau setidaknya memahami apa maksud dari semua omong besarnya. Saya mencoba untuk tidak mengkhianati dan mendukungnya semampu saya selama masih menjadi asistennya. Tetapi, hanya bertahan selama 1 tahun, karena ternyata untuk bisa setia kepada orang yang tidak sama cara pandangnya dengan kita, sungguh sangatlah sulit.

Ada juga tipe orang yang tidak pernah setia terhadap teman, bawahan, atau atasan. Jika ada yang mempunyai gagasan atau usulan proyek maka dia akan mengambilnya dan mengaku sebagai gagasannya. Jika ada masalah atau ada kegagalan di kantor yang kebetulan dia ada dalam tim itu, dengan cepat ia membersihkan diri dan mengatakan bahwa itu bukan gagasannya. Atau, dari awal memang dia sudah tidak menyetujui gagasan itu, tetapi si anu memaksakan.Tepat sekali gambaran dari salah satu iklan rokok yang menggambarkan ada seorang cowboy dengan kudanya yang berlari kencang siap berperang. Pada saat dia sudah berhadapan dengan pasukan Indian yang jumlahnya banyak, maka dia sangat kaget ternyata teman-temannya tidak ada satu pun yang mendukung dia dan dia hanya sendirian. Perasaan ini yang dirasakan oleh kita atau teman kita yang ditinggalkan dan menghadapi kegagalan sendirian.

Banyak kejadian nyata di sekitar kita di mana kita harus tegar menghadapi penghianatan dari orang yang dekat dengan kita, yang diharapkan memberi dukungan dalam suka dan duka, ternyata pergi ketika duka menyapa. Untuk saya kesetiaan adalah terhadap nilai-nilai yang baik seperti integritas misalnya, bukan setia pada seseorang secara membabi buta. Jika nilai yang baik itu sudah tidak ada pada diri teman, atasan atau bawahan kita lebih baik dipikirkan kembali hubungan itu. Dalam perjalanan hidup kita ditinggalkan teman, kekasih, atau sahabat sangat mungkin terjadi. Banyak orang yang berubah cara pandang hidupnya karena pergaulan atau untuk meraih suatu kepentingan. Untuk saya kalau harus memilih lebih baik dikhianati daripada mengkhianati.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida juag dikenal sebagai pribadi yang sangat aktif, suka tantangan, senang bertemu dengan orang-orang baru, membangun jejaring, membangun kompetensi SDM, bepergian, dan baca buku. Ia adalah penggemar berat Kho Ping Hoo, Winnetou, Mushashi, Sinchan, dan Andrea Hirata. Iftida dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Link and Match dan Kemajuan Bangsa

iy3Oleh: Iftida Yasar*

Jika kita bicara soal kesempatan kerja, maka di negara kita jika ada satu pekerjaan maka diperkirakan ada seribu orang yang akan melamar. Dari seribu orang itu mungkin hanya sekitar seratus orang yang memenuhi persyaratan administrasi dan lulus tes psikologi. Intinya, begitu besar gap atau perbedaan antara supply and demand, antara persyaratan kerja dengan mereka yang memenuhi kualifikasi persyaratan kerja tersebut.

Hasil dari dunia pendidikan berupa lulusan SMK atau Politeknik yang memang dipersiapkan untuk segera memasuki dunia kerja masih jauh dari harapan. Ada beberapa sekolah kejuruan atau politeknik yang lulusannya langsung dapat masuk ke pasar kerja. Mereka mempunyai peralatan latihan kerja yang memadai, biasanya merupakan proyek percontohan atau bekerjasama dengan industri tertentu. Sekolah kejuruan dan politeknik yang berjalan tanpa menyediakan peralatan latihan kerja yang memadai, akan ketinggalan teknologi dan lulusannnya masih harus dibekali dengan keterampilan untuk dapat memenuhi standar industri.

Pada negara lain yang sudah maju masih terdapat juga masalah link and match antara keluaran dari pendidikan dengan kebutuhan dunia industri. Bedanya setiap tahun besarnya gap itu semakin diperkecil dengan selalu mengevaluasi dan memperbaiki sistem pendidikannya. Jepang saja sebagai negara industri yang sangat maju masih ada mis-match dalam penempatan tenaga kerjanya. Hal ini diatasi dengan memberikan kesempatan bagi pencari kerja angkatan muda untuk melaksanakan program magang. Dengan magang di industri atau di UKM (Usaha Kecil Menengah), dan mendapatkan uang saku yang memadai, maka keterampilan bekerja seseorang menjadi meningkat.

Di Jerman untuk pendidikan Vokasi atau kejuruan, Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Jerman memegang peranan sangat besar. Pemerintah memberikan kewenangan kepada KADIN Jerman untuk membuat kurikulum, menyediakan tempat magang, menyediakan para trainer atau pengajar, dan juga assesor-nya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan materi ajar, penguji, pengajar, dan evaluasi sekolah kejuruan ditangani oleh KADIN Jerman.

Dual sistem atau sistem ganda pada sekolah kejuruan di Jerman, mengajarkan teori sekitar 20 persen di sekolah dan 80 persennya adalah magang dengan bimbingan para supervisor di industri. Tidak heran lulusan SMK otomotif misalnya langsung mendapatkan pekerjaan di perusahaan otomotif. Biasanya mereka langsung diterima bekerja diperusahaan tempat mereka magang. Dengan magang langsung di industri, semua peralatan dan kebutuhan perusahaan selalu up to date, tidak ada perbedaan anatara alat peraga yang ada di sekolah dengan yang ada di industri, seperti yang kita alami.

Saya melihat sendiri bagaimana anak magang mempelajari otomotif di pabrik Porsche, mobil canggih yang sangat mahal harganya. Paling murah harga mobil Porsche adalah 650.000 dollar AS. Bandingkan dengan anak SMK Otomotif kita yang masih belajar dengan mesin mobil kuno yang tidak sesuai dengan perkembangan teknologi.

Seharusnya pemerintah daerah dengan kekuasaan otonominya mengetahui dengan pasti apa keunggulan daerahnya. Berdasarkan produk keunggulan daerahnya, maka dibangunlah kompetensi sumber daya manusianya. Misalnya, di Bali yang terkenal dengan pariwisatanya, maka pemerintah daerah fokus pada pembangunan kompetensi keahlian yang berbasis pariwisata. Di Jawa Tengah yang terkenal sebagai pusat budaya dan juga kerajinan furniture, dibangun kompetensi yang berbasis kerajinan furniture. Di Papua yang kaya emas dan juga kayunya, dibangun komptensi keahlian emas dan kayu. Dengan demikian terbentuk suatu keahlian yang khusus, unik, dan berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Jika selama ini kita masih sibuk menghabiskan anggaran untuk membangun infrastruktur, misalnya gedung, sekolah, dan perlengkapannya atau mengundang investor membangun industri di daerah. Maka, sudah saatnya investasi kita arahkan untuk pembangunan sumber daya manusianya dulu.

Tanpa kompetensi, tanpa adanya link and match antara pendidikan dan dunia industri, maka segala peralatan, gedung, dan investasi menjadi tidak maksimal dan sia-sia. Berapa banyak gedung sekolah dengan segala peralatannya yang canggih tidak berfungsi dengan baik, karena tidak ada tenaga ahli yang dapat menjalankannya?

Sudah saatnya kita bekerjasama membangun kompetensi unggulan daerah. Anggaran pendidikan yang begitu besar seharusnya juga diberikan kepada lembaga pelatihan industri yang sudah terbukti berhasil. Misalnya, untuk mendidik tenaga kerja yang terampil dibidang otomotif, tidak perlu membangun sekolah otomotif sendiri, tetapi serahkan dana tersebut misalnya kepada ASTRA group untuk mengembangkan lembaga pelatihan otomotifnya. Untuk mencetak tenaga ahli elektronik, berikan anggaran kepada Panasonic Gobel misalnya untuk memperkuat lembaga pelatihan elektronik yang selama ini hanya untuk melayani kebutuhan internal.

Sudah saatnya kita bersatu, bekerjasama, saling membantu, dan saling memperkuat sektor yang sudah baik untuk kemajuan bangsa. Berapa banyak perjalanan studi banding dilakukan oleh para pejabat kita, tanya pada hati nurani apakah sudah saatnya menghentikan segala macam perjalanan studi banding yang menghabiskan anggaran dan belum terlihat tanda kapan akan diimplementasikan demi kemajuan bangsa kita tercinta.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourcing. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida juag dikenal sebagai pribadi yang sangat aktif, suka tantangan, senang bertemu dengan orang-orang baru, membangun jejaring, membangun kompetensi SDM, bepergian, dan baca buku. Ia adalah penggemar berat Kho Ping Hoo, Winnetou, Mushashi, Sinchan, dan Andrea Hirata. Iftida dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

The Power of Gaul

iy2Oleh: Iftida Yasar*

Dulunya waktu masih muda, saya termasuk anak gaul. Saya hampir selalu ikut semua kegiatan. Mulai dari pramuka, tenis, bulutangkis, karate, voli, paduan suara, mengaji, dan main ke mana saja saya pasti ikut. Sebagai anak gaul tentu saja kegiatan saya tidak ada habisnya. Rasanya selalu kekurangan waktu untuk melakukan semua hal yang saya inginkan. Kayaknya dulu main lebih penting dari sekolah. Walaupun pada waktu itu prestasi sekolah saya yah, lumayan juga, enggak bego-bego amat. Karena banyak bergaul dan berteman dengan siapa saja, sangat mudah bagi saya untuk menemukan objek pembicaraan dengan siapa saja.

Memasuki dunia kerja, hobi gaul itu ternyata banyak sekali manfaatnya. Dunia ini memang sempit, di mana pun berada pasti kita akan bertemu dengan orang yang kita kenal. Atau, setelah kita mengobrol, ternyata sambung-menyambung ada hubungannnya dengan si anu teman kita, saudara kita, dan tetangga kita. Untungnya anak gaul itukalau track record-nya baikmaka banyak keuntungan yang didapat. Misalnya, ada suatu masalah kantor di mana saya harus menyelesaikannya dengan bertemu seseorang yang kelihatannya susah sekali (diajak kompromi). Tetapi, dengan berusaha mendekatinya, mengobrol dan mencoba menghubungkan dengan sesuatu yang membuatnya senang, maka persoalan menjadi lebih mudah.

Tadinya, saya tidak begitu menyadari kelebihan saya sebagai anak gaul. Tetapi, kalau diurut-urut, ada berbagai peristiwa atau masalah yangtingkat kesulitannnya cukup tinggi—kemudian dapat diselesaikan dengan gaya santai saya. Ini merupakan akibat pengalaman bergaul dengan berbagai ragam karakter.

Saya pernah menjadi orang yang pekerjaannya, di antaranya, mengeluarkan orang jika terbukti dia bersalah. Pekerjaan yang sangat tidak menyenangkan, dibenci orang, bahkan bisa membahayakan keselamatan saya kalau saya tidak melakukannya dengan adil. Adil di sini dalam pengertian dapat menjembatani antara kepentingan perusahaan dengan kepentingan karyawan. Yang namanya diancam dan dibenci adalah bagian dari pekerjaan itu. Tetapi, dalam face to face pertemuan dengan karyawan yang mau dikeluarkan, saya selalu tenang dan tidak pernah takut. Perusahaan besarberdasarkan pengalaman sayasangat berhati-hati dalam mengambil tindakan PHK. Jika karyawanya terbukti bersalah, maka masalah harus segera diselesaikan. Biasanya, semua akan berjalan dengan baik. Tinggal bagaimana cara kita supaya harus tegas sesuai peraturan, tetapi tetap manusiawi dalam menjelaskan dan menyelesaikannya.

Karena saya bekerja di divisi sumber daya manusia, kegemaran saya gaul juga menjadi modal utama untuk masuk ke semua lapisan di kantor. Biasanya, orang SDM itu enggak begitu disukai. Mereka dianggap polisi yang mengawasi pekerjaan karyawan. Apalagi bagian yang saya kerjakan ada urusan pecat memecatnya di sana. Dengan keluwesan sayaatau dengan kata lain cuek alias ndableksaya aktif di klub karyawan. Saya ikut latihan silat di mana biasanya yang ikut latihan di sana adalah para jagoan atau informal leader-nya perusahaan. Bekal karate saya memudahkan saya mempelajari silat itu. Bahkan jika ada acara kantor, saya selalu diajak memamerkan keahlian mematahkan besi, es balok, dan botol minuman. Dengan latihan silat saya menjadi dekat dengan para informal leader itu dan tahu bagaimana cara pandang mereka terhadap perusahaan.

Jika perusahaan mengadakan pertandingan tahunan saya juga terlibat, mulai dari budgeting sampai pertandingannya saya ikuti. Selain mengincar hadiahnyauntuk ukuran bekas atlet saya selalu dapat at least juara 3 untuk pingpong, bulutangkis, dan tennis. Tetapi kalau voli, karena saya memilih tim yang kuat, biasanya pasti juara 1. Ajang pertandingan internal ini dapat juga mendekatkan saya dengan karyawan. Setidaknya, kebijakan perusahaanmelalui peraturan yang dikeluarkan dan diawasi oleh bagian SDMmenjadi lebih gampang diterima pada saat disosialisasikan dan dijalankan.

Hikmah lainnya yang sangat terasa adalah pada saat saya memutuskan untuk berusaha sendiri menjadi entreprenuer. Setidaknya, KKN-nya terjadi pada saat saya mau memperkenalkan perusahaan kepada para calon klien. Kalau kebetulan pejabatnya adalah teman maka mereka akan memberikan kesempatan atau memfasilitasi agar perusahaannya mau memberikan kami waktu memperkenalkan diri. Walaupun keputusan akhir biasanya diputuskan oleh tim dari perusahaan, tetapi buat saya, sebagai perusahaan baru yang dapat kesempatan presentasi memperkenalkan diri, kesempatan itu sangatlah berharga.

Seingat saya, klien baru kami dapatkan dengan cara “getok tular”. Artinya, dari teman ke teman atau dari klien yang sudah pernah menggunakan jasa kami. Kalaupun bukan dari networking atau teman, klien baru biasanya didapat dengan cara berkenalan di pesawat, seminar, atau dikenalkan oleh teman.

Sampai sekarang saya masih memelihara hubungan baik dengan teman saya di berbagai tingkat, mulai dari teman TK, SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi dan teman kantor. Kami secara rutin masih saling bertemu. Walaupun kelihatannya hanya sekadar cerita-cerita yang lucu atau mengobrol ngalor ngidul, tetapi selalu saja ada hikmah di balik itu jika kita melakukannya dengan tulus dan tanpa pamrih. Teman yang setia dan hubungan tanpa pamrih adalah harta yang paling berharga dalam hidup ini. Beruntunglah jika kita masih memilikinya.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida juag dikenal sebagai pribadi yang sangat aktif, suka tantangan, senang bertemu dengan orang-orang baru, membangun jejaring, membangun kompetensi SDM, bepergian, dan baca buku. Ia adalah penggemar berat Kho Ping Hoo, Winnetou, Mushashi, Sinchan, dan Andrea Hirata. Iftida dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Menjadi Kaya dan Berguna untuk Sesama

Iftida YasarOleh: Iftida Yasar*

Sering kita saksikan di televisi dan baca di koran, bagaimana enaknya kehidupan menjadi orang kaya. Ke mana-mana selalu diantar mobil bagus, ada mobil baru kalau kepingin langsung ganti. Belum lagi selalu mendapatkan kemudahan di mana pun berada sebab ia adalah prime customer. Toko mana atau siapa sih yang tidak mau berhubungan dengan si orang kaya? Hal yang disebutkan barusan hanya sebagian kecil saja dari enaknya menjadi orang kaya. Masih banyak hal lain yang bisa menghabiskan berlembar-lembar cerita jika disebutkan.

Kalau sebagai orang kaya kita juga mau berbagi dengan orang yang kurang beruntung, mau berlaku adil dalam menunaikan hak orang lain, bermanfaat bagi orang banyak, maka akan semakin banyak hal baik tentang keuntungan yang bisa ditulis sebagai orang kaya. Tuhan pun lebih sayang dan lebih suka terhadap orang kaya yang mampu bermanfaat bagi orang banyak. Semakin banyak kita bermanfaat bagi orang lain, semakin tinggi nilai kita di mata manusia dan juga Tuhan.

Kalau mau disayang oleh manusia apalagi oleh Tuhan, cara menjadi kayanya harus dilakukan dengan benar. Jangan mengambil jalan pintas untuk menjadi kaya. Kaya dengan jalan menipu, korupsi itu sama saja dengan mengambil hak orang lain. Kalau memang ingin menjadi kaya, ya jangan menjadi pegawai, apalagi pegawai negeri. Seberapa besar pun gaji dan tunjangan yang diterima secara halal, tidak mungkin akan membuat kita mempunyai kekayaan sekaliber pengusaha. Kalaupun ada yang kaya, pasti kekayaannya itu bukan berasal dari pendapatannya sebagai pegawai.

Kenapa sih penting sekali menjadi kaya dengan jalan berbisnis? Dalam sejarah tidak ada yang namanya orang kaya berasal dari kalangan pegawai atau pekerja. Yang kaya pasti adalah keluarga yang berasal dari lingkungan bisnis. Sebagai orang Islam, kalau kita baca buku sejarah Rasulullah juga berdagang dan menjalankan usaha. Istrinya, Siti Khadijah merupakan konglomerat wanita yang kaya raya. Begitu juga para sahabat baginda Nabi juga merupakan pedagang. Kalau kita sebutkan contoh para pengusaha yang berhasil dan kaya di Tanah Air, pasti urutan sejarahnya berasal dari keluarga pengusaha.

Timbul keraguan dalam hati, bagaimana kita yang tidak mempunyai modal, tidak berbakat menjadi seorang pengusaha, dan tidak berasal dari lingkungan pengusaha? Rasanya tidak mungkin kita dapat berhasil menjadi seorang pengusaha, apalagi sukses. Sebenarnya, kalau kita baca lagi biografi para pengusaha sukses itu, kebanyakan dari mereka bukan berasal dari keluarga kaya pada mulanya. Modal utamanya adalah kerja keras, disiplin, amanah, dan juga yang terpenting mendapat lampu hijau dari Tuhan.

Ada teori yang mengatakan bahwa modal itu (materi) hanya memberikan kontribusi sebesar 10 persen dari keberhasilan kita. Sisanya 90 persen adalah hasil dari keyakinan, ketekunan, kerja keras, amanah, disiplin, dan restu dari Tuhan.

Saya sendiri mengalami, dalam perjalanan hidup ini banyak sekali pertolongan Tuhan yang hadir dalam berbagai bentuk yang menunjang keberhasilan dalam usaha. Misalnya, pada awal merintis usaha, pelan tetapi pasti jumlah klien bertambah. Hampir semuanya adalah perusahaan besar, bahkan multinasional. Kalau mengikuti suatu tender dengan terus terang saya menerangkan bahwa pengalaman sebagai sebuah perusahaan kami belum ada (karena mereka selalu minta dicantumkan pengalaman sebelumnya). Tetapi, saya sendiri pada waktu menjadi seorang profesional di perusahaan besar dan mempunyai pengalaman mengerjakan pekerjaan itu. Alhamdulillah kami mendapatkan berbagai pekerjaan karena track record saya di lingkungan teman, perusahaan tempat bekerja sebelumnya termasuk baik dan amanah. Sehingga, modal itulah yang dipakai untuk mendapatkan pekerjaan.

Selain hal yang saya sebutkan di atas, ada lagi yang perlu diingat bahwa kita harus tahan banting, ulet, dan kreatif kalau mau menjadi pengusaha. Ada saja peristiwa yang mungkin dapat membuat down jika kita tidak mempunyai hati yang kuat. Fitnah, ditipu, bahkan dikhianati oleh orang yang dekat dengan kita juga merupakan ujian yang harus dilewati. Semakin tinggi kedudukan kita, termasuk semakin kaya, maka cobaan akan semakin banyak. Itu adalah bagian dari risiko yang harus kita hadapi. Kalau kita mau mendapatkan lebih, maka kita harus bekerja lebih keras, dan menghadapi tantangan yang lebih tinggi.

Sebagai pengusaha apalagi misalnya kita termasuk pengusaha yang berhasil dan kaya, maka kita akan banyak menciptakan lapangan pekerjaan. Biasanya ada saja kesempatan atau celah bisnis yang akan kita kembangkan jika kita kreatif. Jika kita adil dalam memenuhi hak pekerja, amanah dalam menjalankan pekerjaan Insya Allah keberkahan akan diberikan Tuhan kepada kita.

Dengan semakin banyaknya kita membuka lapangan pekerjaan maka akan semakin banyak manfaatnya bagi orang banyak. Tidak ada kebahagiaan yang hakiki selain dapat bermanfaat bagi orang banyak. Orang kaya sejati bukanlah orang yang mampu membuatkan istana untuk dirinya sendiri, tetapi juga mau membuat orang lain menikmati apa yang dihasilkannya.

Menjadi pengusaha itu sama dengan pejuang. Ia berani mempertaruhkan harta bendanya untuk dimanfaatkan bagi kepentingan orang banyak, bukan hanya untuk kepentingannnya sendiri. Ia mempunyai karakter berbagi dan memikirkan kepentingan orang banyak. Jiwanya adalah memberi yang membuatnya berada dalam posisi di atas, di mana tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan . Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida juag dikenal sebagai pribadi yang sangat aktif, suka tantangan, senang bertemu dengan orang-orang baru, membangun jejaring, membangun kompetensi SDM, bepergian, dan baca buku. Ia adalah penggemar berat Kho Ping Hoo, Winnetou, Mushashi, Sinchan, dan Andrea Hirata. Iftida dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

How Do I Look

Iftida YasarOleh: Iftida Yasar*

Jika kita akan memutuskan melakukan sesuatu biasanya sudah didasari dengan berbagai pertimbangan. Misalnya membeli baju baru, kita akan mempertiimbangkan berdasarkan sudah saatnya membeli baju karena yang lama sudah kuno. Pilihan kita akan baju baru juga berdasarkan selera kita baik model, warna maupun harganya. Ada yang memikirkan juga apa komentar orang jika kita memakai baju tersebut, rasanya pingin sekali mengenakan baju itu tetapi nanti kata orang tidak pantas. Ada yang cuek dan tetap mengenakan pakaian yang sesuai dengan seleranya tanpa peduli pendapat orang, tetapi ada juga yang akhirnya tidak jadi membeli karena takut dengan pendapat orang lain.

Masalah baju hanyalah salah satu hal kecil yang keputusan membeli atau tidak semestinya tergantung dari pendapat kita pribadi bukan pendapat orang lain atau sedang mode. Ada orang yang tahu bagaimana memutuskan sesuatu untuk dirinya baik atau tidak tetapi banyak juga orang yang selalu bingung dalam memutuskan sesuatu.

Dalam melaksanakan pekerjaan sehari-hari apa pun profesi kita selalu butuh untuk memutuskan ya atau tidak, lakukan atau tidak lakukan sesuatu. Kalau atasan kita memberikan tugas yang menurut kita tidak masuk akal, terlalu berat target yang diberikan, atau kita memerlukan penjelasan yang lebih rinci. Apa yang biasanya kita lakukan?

Ada tipe orang yang dengan langsung mengemukakan keberatan dengan mengemukakan segala alasannya, atau menawar agar target yang diberikan diturunkan sesuai dengan bench mark, atau langsung minta penjelasan yang lebih rinci agar dapat melaksanakan tugas dengan lebih baik. Tetapi, ada juga orang yang takut mengemukakan keberatannya kepada atasan (apalagi jika atasan terkenal kejam dan tidak bisa kompromi). Mereka memilih diam dan mengambil posisi aman, yang lebih dikenal dengan julukan yes man atau Asal Bos Senang. Biasanya, tipe orang seperti ini akan menggerutu di belakang bos. Sebab, dia takut jika berterus-terang akan mendapatkan penilaian yang kurang baik dari atasannya. Takut dinilai tidak kreatif, takut akan tantangan, dan kurang cerdas jika banyak bertanya.

Begitu juga jika kita adalah seorang atasan yang mempunyai bawahan yang bermasalah. Ada yang langsung menegur dengan cepat agar kesalahpahaman dapat diperbaiki sehingga akan tercapai tujuan perusahaan dengan benar. Tetapi, ada juga yang takut tidak popular di mata bawahannya, istilahnya selalu ingin menjadi nice guy. Atasan tipe ini memilih menahan diri untuk menegur bawahannya, bahkan dalam kadar yang lebih parah, mereka berpura-pura tidak tahu ada masalah dengan harapan masalah akan selesai bersama waktu yang berlalu. Jika yang disampaikan adalah kabar gembira, misalnya kenaikan gaji, promosi, maka ia akan menjadi orang pertama yang ingin menyampaikannya secara langsung. Jika kabar buruk yang diemban untuk disampaikan, misalnya membahas kemungkinan adanya surat peringatan, ia akan berusaha mendelegasikannya kepada orang lain (biasanya bagian Sumber Daya Manusia). Padahal, ia dibayar lebih untuk menjadi seorang pemimpin adalah untuk melaksanakan semua tugas, termasuk menyampaikan kabar baik dan buruk.

Menyampaikan dan mempertahankan pendapat dengan baik adalah hal yang harus terus-menerus dibiasakan. Jika kita sebagai orang tua memberikan dorongan kepada anak untuk menyampaikan perasaannya, pendapatnya, bahkan keberatannya jika ada. Sebagai guru kita memberikan suatu lingkungan yang menyenangkan agar anak didik terbiasa menyampaikan pendapatnya dan berdiskusi menyelesaikan suatu masalah. Dengan demikian terbuka kesempatan adanya komunikasi dua arah yang dapat mengakibatkan adanya keterbukaan.

Ada seorang teman yang dianggap sangat vokal dan berani sekali memberikan pendapatnya kepada atasannya. Padahal, atasannya dikenal sebagai orang yang sangat otoriter dan selalu memberikan pesan “Do as I order”. Sampai pada suatu titik, di mana teman tadi merasa tidak tahan lagi dan berkeinginan untuk keluar dari perusahaan. Ternyata, atasannya sangat menentang keinginan tersebut, dan berharap ia tetap bekerja sama karena masukan dan pendapatnya sangat dibutuhkan. Sang atasan berterima kasih dan menghargai sekali ada orang yang seperti dia, yang mempunyai pendapat dan memperkaya wawasannya, dibandingkan dengan bawahan lainnya yang hanya manggut dan manut. Alhasil, teman tadi sekarang dipercaya menduduki posisi yang lebih tinggi.

Jadi, jangan takut dengan pendapat orang lain atau pendapat umum yang kadang kala hanya merupakan mitos yang belum tentu benar keadaanya. Jadilah diri kita sendiri, berikan pendapat, kontribusikan hal positif yang Anda yakini kebenarannya dengan baik agar hidup ini penuh warna.

Selamat menjadi diri anda sendiri dengan segala keunikan dan perbedaannya dengan orang lain.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourcing. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida juga dikenal sebagai pribadi yang sangat aktif, suka tantangan, senang bertemu dengan orang-orang baru, membangun jejaring, membangun kompetensi SDM, bepergian, dan baca buku. Ia adalah penggemar berat Kho Ping Hoo, Winnetou, Mushashi, Sinchan, dan Andrea Hirata. Iftida dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Menjadi Istri Orang Kaya atau Menjadi Orang Kaya?

Iftida YasarOleh: Iftida Yasar*

Dulu, bahkan mungkin sekarang, masih dilakukan oleh ibu atau orang tua kita; mendoakan, mengarahkan, bahkan memaksa anak perempuannya untuk kawin dengan orang kaya. Banyak cara dilakukan oleh orang tua, mulai dari mencekoki pemikiran betapa enaknya menjadi istri orang kaya, memfasilitasi dengan perawatan tubuh dan pakaian yang bagus, sampai mencarikan jodoh orang kaya.

Ada kenalan saya yang dari kecil ibunya selalu berusaha membelikan pakaian bagus dengan segala cara (terutama kalau ada pesta) untuk anak perempuannya, walaupun untuk makan sehari-hari termasuk sederhana. Dalam urusan jodoh ibunya yang sangat berperan memutuskan mencarikan suami dari kalangan orang kaya. Sehingga, dia harus patah hati berpisah dengan kekasih pujaan hati yang bukan masuk dalam golongan orang kaya.

Ada juga istri seorang teman yang dari kecil berasal dari keluarga kaya dan tidak pernah merasakan susahnya hidup. Segala fasilitas harus nomor satu. Kalau menginap di hotel haruslah minimal bintang empat dengan kamar suite. Pergaulannya selalu dengan para selebriti dan kalangan atas, begitu juga baju, tas, dan sepatu selalu merek terkenal. Untunglah, teman saya termasuk profesional yang dapat memenuhi keinginan istrinya tercinta. Walau dia pernah—dalam beberapa kali kesempatan—cerita betapa beratnya memenuhi gaya hidup istri tercinta. Karena sebetulnya, ia termasuk orang yang cukup sederhana. Berapa pun penghasilan yang dia dapatkan selalu habis karena rumah tangganya masuk dalam golongan “high salary and high class life style”. Pada saat gajinya berjumlah tiga kali lipat dari saya, teman tadi sudah mengeluh karena istrinya merasa gajinya kecil sekali. Kita doakan semoga teman tadi tetap mendapatkan posisi yang baik dengan gaji yang besar.

Hal lain yang bisa kita lakukan sebagai perempuan untuk mendapatkan suami kaya adalah berkencan dengan bos kita. Rasanya, kalau dalam lingkungan kantor yang menjadi incaran adalah the real boss, setidaknya orang nomor dua atau nomor tiga. Kalau yang umurnya sebaya atau beda dua sampai lima tahun rasanya masih bukan target utama, sebab kurang kaya. Maka, dimulailah segala cara untuk menggaet si bos agar tergoda oleh kita.

Bagaimana dengan status bos sebagai suami orang? Emang gue pikirin? Namanya juga usaha, ngapain juga menunggu pacar yang sebaya yang belum tentu jadi orang kaya? Lebih baik the real boss yang sudah di depan mata. Begitu banyak kasus kehancuran rumah tangga yang diakibatkan karena para suami yang bos dipikat dan diikat dengan segala cara sehingga meninggalkan keluarganya.

Cerita di atas menggambarkan betapa tidak percaya dirinya perempuan dalam menjadikan dirinya kaya atas usahanya sendiri. Kenapa ia harus menggantungkan hidupnya pada orang lain untuk memenuhi keinginannya? Perempuan secara tradisional diajarkan untuk tidak mempunyai keinginan bagi dirinya sendiri. Ia diciptakan dan dipersiapkan untuk melakukan tugasnya secara tradisional, seperti menjadi istri dan menjadi ibu. Jika ada perempuan berhasil menjadi orang kaya, biasanya pertanyaan yang timbul adalah: Siapa suaminya? Anak siapa? Pemikiran pertama masyarakat adalah pasti ia menjalankan usaha keluarga atau hanya membantu suaminya. Perempuan jarang langsung diakui sebagai orang yang berada di balik keberhasilannya sendiri menjadi orang kaya.

Bagi perempuan sebetulnya penting sekali menjadi orang kaya, bukan istri orang kaya atau simpanan orang kaya. Perempuan mempunyai banyak keinginan yang kadang kala susah diterjemahkan dengan akal sehat, kenapa ia menginginkan barang atau hal tersebut. Tidak heran perempuan selalu menjadi objek yang mudah bagi segala macam produk barang dan jasa yang mencoba memenuhi beragam keinginannya tersebut. Jika ia menjadi kaya hasil dari usahanya maka ia akan dengan mudah mewujudkannya tanpa harus menunggu persetujuan dari suaminya.

Dalam kasus yang ekstrim perempuan harus bertanggung jawab atas anak yang dilahirkannya jika suami meninggal atau meninggalkannya karena perempuan lain. Jika ia memiliki kemampuan mandiri maka kelangsungan hidupnya yang terbiasa enak akan terus terjamin. Lain halnya jika ia tidak punya kemampuan mengelola keuangan dengan baik, bisa jadi harta yang banyak pun, hasil peninggalan suaminya akan habis dengan cepat karena tidak bisa dia kelola.

Jadi, kita sebagai perempuan, ubah pemikiran yang ingin kaya dan enak dengan mempunyai suami kaya. Kalau itu bisa terwujud, nasib baik bagi yang mendapatkannya. Tetapi jika tidak beruntung, daripada frustasi mulailah berusaha menjadi kaya dengan usaha sendiri.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourcing. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida juag dikenal sebagai pribadi yang sangat aktif, suka tantangan, senang bertemu dengan orang-orang baru, membangun jejaring, membangun kompetensi SDM, bepergian, dan baca buku. Ia adalah penggemar berat Kho Ping Hoo, Winnetou, Mushashi, Sinchan, dan Andrea Hirata. Iftida dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Sebarkan Energi Positif

Iftida YasarOleh: Iftida Yasar*

Saya selalu percaya bahwa segala sesuatu di alam ini terjadi bukan secara kebetulan. Artinya, kejadian hari ini ada kaitannya dengan kejadian di masa lalu. Lebih jelasnya, misalnya, kebaikan yang kita terima hari ini adalah buah dari kebaikan yang telah kita tanam lebih dahulu. Begitu juga sebaliknya, malapetaka, musibah, atau kesulitan yang menimpa kita adalah akibat dari perbuatan jelek kita. Atau, kalaupun bukan akibat hal buruk yang kita lakukan di masa lalu, mungkin ada hikmah di balik kejadian tadi. Ada pelajaran yang harus diambil dari musibah tadi, agar kita lebih waspada dan mengevaluasi diri. Terimalah musibah itu sebagai peringatan bahwa Tuhan sayang kepada kita.

Banyak peristiwa dalam hidup saya yang menambah keyakinan saya bahwa di balik semua kejadian ada yang mengaturnya.Tuhan selalu berada di balik kejadian atau peristiwa yang kita alami. Saya pernah mengikuti berbagai kegiatan pertukaran pelajar atau pekerja, di mana kami tinggal di rumah orang lain untuk belajar mengenai kehidupan mereka. Saya selalu bertemu dengan orang yang bahkan baru dikenal atau tidak dikenal, yang memperlakukan saya dengan baik. Menganggap anak sendiri, memberikan hadiah atau kemudahan, atau mencoba membuat saya nyaman dan bahagia.

Ini mungkin merupakan buah dari kebaikan yang ditanam oleh orang tua saya yang selalu dengan senang hati menerima tamu dan menjamu mereka sesuai dengan kemampuannya. Walaupun waktu kecil saya tidak terlalu suka dengan tamu yang datang silih berganti, menginap, bahkan ada yang sakit dan meninggal di rumah kami. Ternyata, kebiasaan baik itu secara tidak sadar juga menular kepada saya, walaupun anak-anak seperti saya dulu juga tidak terlalu senang dengan tamu yang sering datang, tetapi mereka juga merasakan manfaatnya secara langsung. Di mana pun anak-anak saya berada untuk mengikuti kegiatan pramuka atau home stay, mereka diperlakukan dengan baik oleh mereka yang bukan orang tua kandungnya.

Namun, ada juga beberapa peristiwa tidak enak yang saya terima dari orang lain, misalnya ditipu, dikhianati, atau dimarahi oleh orang lain. Biasanya, setelah mendapat kesempatan merenung, saya akan menerimanya dengan lapang dada dan menganggap itu bagian dari teguran Tuhan kepada saya agar lebih hati-hati.

Untuk urusan menipu dan menghianati, sampai hari ini, alhamdulillah saya tidak pernah melakukannya. Tetapi, kalau hal itu menimpa saya, yang penting nasihat ibu saya selalu terngiang bahwa, “Tidak apa-apa orang menipu, menjahati, atau mengkhianati kita. Yang penting bukan kita yang melakukannya.

Kejelekan saya waktu kecil misalnya nakal sama pembantu, suka melawan orang tua, lebih suka main dibandingkan belajar, dan kalau punya kemauan pasti harus dilaksanakan, dibalas secara tunai oleh anak-anak saya. Mereka juga nakal sama pembantu, kadang mbak-mbaknya sampai menangis dan enggak betah karena kenakalan mereka. Padahal, untuk menebus kenakalan saya semasa kecil saya terhadap pembantu, saya selalu menegur anak-anak kalau mereka nakal terhadap mbaknya.

Begitu juga soal main, anak saya semuanya mementingkan main dan bergaul dengan temannya dibandingkan belajar. Mereka juga suka mengkritik dan mendebat pendapat saya jika tidak setuju. Memang betul, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Rumah saya, waktu anak-anak saya masih kecil, hampir tidak punya kursi, apalagi guci dan kristal seperti rumah yang dihias pada umumnya. Hanya ada karpet dan bantal sehingga anak-anak bebas berlarian, bahkan main sepeda dan bola di dalam.

Makanya, saya suka kagum dengan teman yang punya anak kecil, tetapi dapat menghias rumahnya dengan pernak-pernik yang terbuat dari keramik atau gelas. Kata mereka, anak-anak sudah diberi pengertian agar jangan merusak atau memainkan benda pajangan tersebut. Kalau saya perhatikan dengan cermat, ternyata teman saya itu juga adalah orang yang baik dan tidak mempunyai sejarah nakal, atau memecahkan perabot rumah tangga waktu kecilnya. No wonder, anak-anak mereka pun juga mempunyai sifat yang sama dengan orang tuanya.

Berbuat baiklah terhadap siapa saja dengan niat baik, tulus, dan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan. Jangan pernah menjadi orang jahat karena kita diperlakukan tidak adil atau jahat oleh orang lain. Menebarkan energi positif akan mendapat imbalan dengan mendapatkan tambahan energi positif juga. Mungkin, bukan dari orang yang kita berikan kebaikan, tetapi dari orang lain yang tidak kita duga-duga. Alam semesta ini dapat menangkap energi positif yang kita sebarkan dan tahu kapan waktunya akan dikembalikan kepada kita. Jangan pernah berputus asa memberikan energi positif.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourcing. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida juag dikenal sebagai pribadi yang sangat aktif, suka tantangan, senang bertemu dengan orang-orang baru, membangun jejaring, membangun kompetensi SDM, bepergian, dan baca buku. Ia adalah penggemar berat Kho Ping Hoo, Winnetou, Mushashi, Sinchan, dan Andrea Hirata. Iftida dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Apakah Hanya Anak yang Durhaka?

Iftida YasarOleh: Iftida Yasar*

Banyak cerita tentang bagaimana seorang anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya, yang akhirnya dikutuk menjadi batu seperti si Malin Kundang. Dari kecil, kita diajari untuk patuh kepada orang tua, menghormati, dan mentaati perintahnya. Anak yang menurut apa kata orang tuanya akan selamat, dan yang tidak menuruti nasihat orang tua akan celaka.

Kebanyakan orang tua masuk dalam kategori baik dan normal sehingga antara nasihat dan perbuatan seiring sejalan. Anak akan mengikuti nasihat orang tuanya jika ia juga tahu bahwa orang tuanya melakukan hal-hal yang dinasihatkannya. Orang tua yang mengajarkan disiplin, misalnya bangun pagi, dan jika mereka juga bangun pagi setiap hari, maka akan menularlah kebiasaan bangun pagi itu kepada keluarganya.

Sebaliknya, jika antara nasihat dan perbuatan tidak seiring sejalan, bahkan bertolak belakang, maka anak akan sulit menuruti nasihat orang tuanya. Orang tua yang merasa bahwa nasihat itu hanya berlaku untuk anaknya, dan bukan kepada dirinya juga, akan kesulitan dalam memberikan pengertian kepada anaknya. Contoh paling nyata adalah jika kita tidak pernah terlihat melakukan salat lima waktu, bagaimana kita dapat membuat anak kita salat? Mungkin, waktu masih kecil mereka bisa dipaksa melakukan hal itu. Tetapi, pada saat mereka sudah mampu berpikir, apalagi sudah dewasa, maka nasihat orang itu tidak berlaku.

Beberapa teman sering mengeluhkan bagaimana perilaku orang tua mereka. Ada yang tidak memikirkan sama sekali bagaimana persiapan pensiunnya. Pada waktu muda dan masih menjabat, uang dihabiskan untuk kesenangan diri sendiri. Pada saat sudah tidak mempunyai penghasilan lagi, gaya hidup enak sudah tidak bisa diubah. Kebiasaan hidup senang, makan enak, baju bagus, dan bepergian ke mana saja dia suka tidak dapat ditinggalkan. Hasilnya, sedikit demi sedikit uang yang tersisa jadi habis, lalu mulailah menjual harta benda yang ada, bahkan sampai tidak mempunyai apa-apa sama sekali.

Memang, kewajiban anak adalah menjaga dan merawat orang tuanya pada saat mereka sudah tidak mampu. Di sisi lain, orang tua juga harus sadar atas kemampuan anaknya. Jika kebetulan mempunyai anak yang berlebihan dan cukup, mungkin tidak ada persoalan lagi. Tetapi, jika anak hidupnya pas-pasan, seharusnya orang tua memahami keadaan ini. Kalaupun anak hidup berkecukupan, alangkah indahnya jika kita sebagai orang tua tidak menggantungkan diri sepenuhnya kepada anak. Untuk orang tua yang memang keadaannya tidak mampu dan mengharapkan agar anaknya gantian menjaga serta merawat mereka, memang itu bisa dimaklumi.

Yang ingin saya bicarakan di sini adalah orang tua yang tidak mempersiapkan hari tuanya, padahal sebenarnya mereka mampu. Ada orang tua yang tidak mau tahu dengan keadaan anaknya. Mereka, dengan gaya hidupnya yang tidak mau susah, akhirnya bisa menjadi beban anaknya. Keadaan rumah tangga anak pun dapat menjadi panas dikarenakan urusan mertua dan orang tua yang tidak ada habisnya.

Ada juga orang tua yang senang menjalin hubungan dengan orang lain, dalam arti mempunyai affair atau kawin cerai, tanpa memikirkan bagaimana nasib anaknya. Yang dikejar hanya kesenangan dirinya sendiri. Sebagian laki-laki muslim—dengan dalih mampu dan mengikuti sunnah Rasul—mereka melakukan poligami. Jika dilakukan dengan baik dan terbuka, serta dimusyawarahkan dengan baikapalagi jika dapat berlaku adil terhadap keluargamaka keadaan akan aman dan damai. Biasanya, yang terjadi justru sebaliknya, selingkuh atau kawin lagi dilakukan dengan diam-diam. Jika ketahuan akan terjadi keributan. Bisa juga mereka yang doyan kawin cerai, hanya mengurus istri dan anak yang terakhir saja, sementara anak-anak dari perkawinan yang terdahulu tidak diurus lagi.

Ada teman perempuan saya yang sudah kawin cerai sebanyak tiga kali. Setiap kali kawin pasti mempunyai anak, dan ketika bercerai semua anak ikut dia. Masalahnya, selain beban ekonomi juga ada masalah antara anak dengan bapak tirinya, atau dengan keluarga suaminya. Biasanya, perempuan menjadi rentan atau stres, berakhir dengan marah-marah dan pelampiasan kepada anak-anaknya yang tidak berdosa.

Dari cerita teman saya itu, suami ketiganya yang diharapkan terakhir, ternyata hanya bertahan baik selama setahun pertama saja. Sekarang, suaminya mulai main judi dan tidak memberikan nafkah lagi. Apa ini nasib? Atau, apakah ini disebabkan karena teman saya itu terlalu cepat mengambil keputusan kawin lagi, tanpa pertimbangan yang cermat?

Ada juga teman saya yang punya anak lima. Alasan dia kawin tidak dengan dasar cinta, tetapi karena dijodohkan (dan karena anaknya lima?). Teman ini membalas perilaku selingkuh suaminya dengan ikutan-ikutan selingkuh. Lucunya, pasangan selingkuhnya suami orang, dan jauh kualitasnya dibandingkan suaminya yang dulu. Alhasil, anak-anaknya yang sudah besar, dan bahkan sudah ada yang menikah, jadi kecewa sekali. Ibu seharusnya memberikan contoh ketabahan dan kesetiaan, bukannya menghibur diri sendiri dengan jalan yang salah.

Dari cerita di atas, kemungkinan besar anak akan mendapat gambaran yang buruk mengenai perilaku orang tuanya. Mereka akan merasa sebagai pihak yang disakiti, tidak diperhatikan, kurang mendapatkan kasih sayang, bahkan berebut perhatian dan kasih sayang di antara saudara. Sebagai anak, hak kita dirampas tanpa bisa berbuat apa pun.

Kalaupun kita termasuk anak yang tidak terurus, tetapi nantinya berhasil atau sukses, maka jangan disalahkan jika anak tidak menaruh hormat atau sayang kepada orang tuanya. Mereka merasa bahwa kesuksesannya diraih tanpa dukungan orang tuanya. Merekayang tidak mengerti latar belakangnya mengapa anak bersikap demikianakan memberikan komentar, bahwa kita adalah anak yang tidak mengurus orang tuanya. Apalagi jika kita mampu dan kaya, mungkin komentarnya kita ini sebagai anak durhaka.

Selalu dikatakan, bahwa jangan pernah melawan orang tua, jangan pernah menyakiti mereka, dengan alasan apa pun, tidak ada ruang gerak bagi anak untuk berbuat tidak baik terhadap orang tuanya. Memang, tidak dapat dipaksakanjika anak yang merasa disakiti, tidak diurus, bahkan ditelantarkan—akhirnya mereka tidak meedulikan orang tuanya.

Kalau kita termasuk orang yang bijak dan ikhlas, kemungkinan besar kita akan mengurus orang tua kita, tanpa memerhitungkan bagaimana jeleknya perlakuan orang tua kepada kita dahulu. Yang terpenting, kita mengambil hikmah untuk tidak melakukan hal yang sama seperti orang tua kita. Kita mesti belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik, sembari mempersiapkan hari tua kita sendiri. Kita mesti belajar menjadi teladan bagi anak-anak kita serta berusaha supaya tetap dapat bermanfaat bagi lingkungan kita.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida juag dikenal sebagai pribadi yang sangat aktif, suka tantangan, senang bertemu dengan orang-orang baru, membangun jejaring, membangun kompetensi SDM, bepergian, dan baca buku. Ia adalah penggemar berat Kho Ping Hoo, Winnetou, Mushashi, Sinchan, dan Andrea Hirata. Iftida dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau email: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox