You What You Are

iyOleh: Iftida Yasar*

Kalau kita baca atau lihat iklan mobil BMW dikatakan bahwa “You What You Drive”. Dimana pesan yang ingin disampaikan adalah ketika mengendarai mobil bergengsi kita tidak perlu lagi meninggikan mutu diri, sebab mobil itu sudah menunjukan siapa kita. Apapun pekerjaan dan siapapun kita tidak menjadi penting, yang penting kalau sudah mampu menaiki BMW kita akan dihargai karena masuk dalam golongan orang yang hebat dan keren. Mulai dari pandangan dan komentar kagum orang lain sampai kemudahan tempat parkir diberikan kepada mereka yang mengendarai mobil ini. Sedangkan masalah mobil keren itu didapatkan dari hasil korupsi misalnya atau menyewa menjadi tidak penting lagi.

Banyak sekali orang terkecoh dengan gaya hidup seperti itu. Kita menjadi tidak percaya diri kalau belum memakai barang bermerek. Saya sendiri adalah orang yang gaptek dengan teknologi telepon genggam. Yang penting bagi saya adalah fungsinya, bukan fitur canggih dan selalu berubah dengan cepat setiap saat. Selama hampir dua tahun saya memakai telepon genggam yang sama dengan model sederhana. Karena sudah terlalu lama maka warnanya menjadi dekil, apalagi telepon genggam itu berwarna putih. Teman dan staf di kantor selalu berkomentar melihat handphone yang selain sudah berwarna putih tua juga sudah mulai pudar angkanya.

“Ganti dong handphone-nya, masak bos handphone-nya jelek bener!

Ada juga komentar lain, ”Buat apa uang banyak disimpan-simpan, beli dong barang bagus.. Pelit banget.

Akhirnya oleh kantor, saya dibelikan handphone yang paling canggih dan mahal, yang sebetulnya tidak saya gunakan dengan maksimal. Satu hal yang akhirnya saya suka dari handphone itu adalah saya bisa mengirim SMS tanpa membuat pegal tangan karena bentuknya seperti laptop kecil.

Banyak orang yang tidak percaya diri jika tidak dilengkapi dengan barang mahal dari merek terkenal. Mulai dari rambut yang tertata rapi made in salon, baju model sekarang, tas, perhiasan, jam tangan, dan sepatu semuanya dari merek terkenal. Alasannya adalah tuntutan pekerjaan atau pergaulan yang mengharuskan ia berdandan, melengkapi diri dengan barang merek terkenal yang asli.

Golongan yang mendewakan hal ini adalah golongan berada yang menilai ke-bonafide-an seseorang adalah dari apa yang dipakainya. Mereka akan tahu jika barang yang dipakai seseorang palsu dan ini akan membuat kita susah untuk masuk ke lingkungan mereka. Bayangkan berapa anggaran yang harus dialokasikan untuk mendapatkan predikat bonafide.

Dimana kita makan juga menjadi ukuran ke-bonafide-an seseorang. Bagi yang memposisikan diri sebagai profesional muda, ga keren kayak-nya kalau makan di kantin atau pesan di kantor. Biasanya pada jam makan siang, berbondong-bondong mereka pergi mencari makan siang di kafe yang banyak berada di sekitar perkantoran. Dengan dalih untuk memperluas networking, pulang dari kantor mereka akan menghabiskan waktu untuk clubbing atau hanya sekedar kongkow dan ngobrol di kedai kopi. Uang dan energi mereka seakan tidak terbatas, rumah hanya menjadi sekedar tempat untuk numpang tidur.

Kalau semua dilakukan dengan dukungan pandapatan yang jelas dan besar, hal ini menjadi tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah jika lebih besar pasak daripada tiang, apalagi jika gaya hidup semu itu ditopang oleh hutang dari kartu kredit. Dalam tiga bulan pertama mungkin kita bisa mempertahankan gaya hidup seperti ini, tapi memasuki bulan keempat cashflow menjadi kacau. Hal ini dikarenakan semua uang dipakai untuk membayar tagihan minimum kartu kredit ditambah dengan bunganya yang mencekik leher. Semua gaya hidup yang kelihatan glamour hanya semu belaka akan berakhir dengan malapetaka.

Hidup dengan lilitan hutang adalah mimpi buruk, bukan saja untuk kita, tapi juga keluarga dan lingkungan kantor. Bukan hanya si pengemplang hutang saja yang akan dikejar oleh debt collector tapi juga orang rumah dan orang kantor akan repot menghadapi hal ini. Mereka tidak segan untuk menelpon dan menggunakan kata yang tidak sopan sampai mengancam kepada siapa saja yang dianggap menyembunyikan keberadaan kita.

Saya punya teman yang sampai trauma karena pada suatu hari TV, kulkas sampai sofa diangkut oleh para debt collector tersebut. Ada juga teman lain yang mertuanya sampai stroke dan harus masuk rumah sakit berbulan-bulan karena kaget mendapati menantunya yang tinggal serumah mempunyai hutang yang begitu banyak. Yang lebih mengerikan, ada juga yang harus berakhir di penjara karena menipu di berbagai tempat untuk berhutang dan tidak dapat melunasinya.

Saya sendiri termasuk tipe orang yang susah menabung, rasanya gatal kalau melihat uang ditangan langsung dibelikan barang yang sebetulnya tidak terlalu dibutuhkan. Berdasarkan pengalaman pribadi saya selalu menikmati keadaan untuk memiliki barang yang mahal dengan cara berhutang. Jika cicilan sudah lunas maka langsung otak ini berputar mau hutang apa lagi ya? Mulai dari panci, microwave, TV layar lebar sampai mobil adalah hasil dari berhutang.

Rasanya lega dan bangga bisa memiliki barang bagus serta mahal dari hasil kerja keras menyisihkan uang tiap bulan untuk mencicil. Saking seringnya berhutang dengan catatan pembayaran cicilan yang sangat bagus, maka tawaran hutang pun selalu mengalir lancar. Saya adalah “pelanggan yang dapat dipercaya dan memenuhi kriteria bonafide”. Begitu cicilan terakhir lunas langsung ditawarkan hutang baru lagi, baik dari bank untuk Kredit Tanpa Agunan, sampai perusahaan leasing mobil. Saking seringnya membeli mobil dengan cara kredit, perusahaan leasing langganan saya menjadi banyak dan mereka dengan senang hati meluluskan permintaan saya membeli mobil apa saja tanpa harus melengkapi persayaratan administrasi apapun.

Menurut saya tidak ada yang salah dengan berhutang, asal dilakukan dengan bijaksana dan sesuai dengan kemampuan kita. Jaga reputasi sebagai penghutang yang dapat dipercaya. Jadi, jangan terkecoh dengan jargon “You What You Drive”, You What You Wear”, atau “ You What You Have”, apalagi kalau kita tidak mampu. Penting bagi kita untuk mengenal diri sehingga dapat menilai dengan jelas siapa diri kita, apa yang kita butuhkan, dan bagaimana kemampuan kita. “You What You Are”, kita apa adanya adalah lebih penting dengan segala kelebihan dan kekurangannya. [iy]

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Kenapa Orang Miskin Tetap Miskin

iy1Oleh: Iftida Yasar*

Jika kita dilahirkan dalam keadaan miskin, sudah dapat dipastikan kita berasal dari orang tua yang miskin, tinggal di perkampungan kumuh, bertetangga dengan orang miskin, dan kebanyakan saudara kita miskin. Karena miskin, kita tidak punya kesempatan sekolah. Kalaupun sekolah hanya SD atau paling banter SMP. Dengan pendidikan yang rendah, apa yang bisa kita lakukan? Akhirnya kita bekerja serabutan, apa adanya, asal bisa makan. Keterampilan yang apa adanya ditambah dengan keadaan yang terpaksa, akhirnya membuat kita mau saja menerima bayaran sesuai kerelaan atau belas kasihan mereka yang butuh jasa kita.

Begitu banyak orang yang seperti itu, bekerja tidak setiap hari. Dengan uang yang pas-pasan, makan sangat teratur; artinya pagi makan, siang belum tentu, atau sebaliknya lebih banyak puasa atau makan seadanya. Asupan makanan jauh dari bergizi karena sekadar mengisi perut. Akibatnya mereka kurang gizi, lemah, dan sakit-sakitan. Kalau sakit tidak punya uang, akhirnya banyak pula yang mati muda tanpa pernah menikmati senangnya kehidupan.

Ada puluhan juta orang miskin di negeri kita yang tercinta ini. Saudara kita yang kebetulan tidak mendapat kesempatan dan mendapatkan ujian dengan menjadi orang susah. Allah memang menciptakan manusia, ada yang kaya untuk membantu yang miskin, dan ada yang miskin agar orang kaya bersyukur serta tergerak hatinya untuk membantu.

Kemiskinan menjadi terstruktur jika suatu negara membiarkan korupsi merajalela. Uang negara yang diperuntukan bagi rakyat miskin agar mereka sejahtera malah dimakan oleh pejabat untuk menyejahterakan dirinya sendiri. Banyak anggaran dipersiapkan untuk membantu orang miskin yang berbentuk cash Bantuan Langsung Tunai (BLT). Ini cukup membantu jika langsung diterima oleh si miskin tanpa potongan. Pembagian beras miskin lewat lurah juga sangat membantu jika tidak dijual ke pihak yang tidak berhak dengan harga yang lebih tinggi demi mendapat keuntungan. Rakyat yang terkena bencana atau tinggal di daerah terpencil akan sangat terbantu jika dibangun akses jalan dan fasilitas penunjang. Ini dimaksudkan agar masyarakat mampu mandiri dan menjual hasli buminya. Sayangnya mutu jalan dan infrastruktur dikorupsi sehingga sering sekali jalan baru dibangun sudah rusak.

Kenapa ada manusia yang tega memakan manusia lainnya? Mereka memenuhi perut sendiri dan perut anak istrinya dengan uang haram? Mereka membuat diri mereka kaya, tapi membuat orang lain semakin miskin. Banyak contoh di mana pejabat yang meninjau daerah bencana malah merepotkan. Apalagi jika ia adalah orang penting dari pusat. Anggaran malah habis untuk mempersiapakan kedatangannya. Aparat lokal dipersiapkan untuk menyambutnya dan berebut cari muka. Pejabatnya pun mungkin akan marah jika yang menyambut kedatangannya hanya sedikit.

Belum lagi makanan yang akan dimakan si pejabat haruslah istimewa dan banyak. Apalagi kalau si pejabat membawa rombongan ajudan , istri, dan keluarganya. Kok menengok bencana malahan menjadi merepotkan? Bukankah sebaiknya berikan saja doa restu dan audit pengunaan anggaran untuk menuntaskan kemiskinan dan menanggulangi bencana dengan baik?

Saya saja yang bukan siapa-siapa pernah mengalami dijemput dan diantar oleh banyak orang pemda, yang sebenaranya menurut ukuran saya yang swasta, itu semua sangat mubazir. Sebagai orang swasta kedatangan kita ke daerah cukup dijemput sopir saja yang akan membawa kita ke tempat acara atau tempat bencana.

Untuk mendapatkan BLT, Raskin (Beras Miskin), Jamkesmin (Jaminan Kesehatan Miskin), semuanya harus dicap miskin. Ada pengantar dari kelurahan untuk menyatakan bahwa kita miskin. Kalau perlu diberi seragam atau cap yang membedakan kasta kita adalah kasta miskin proletar yang berhak dapat bantuan. Di kelurahan sendiri juga rawan korupsi. Banyak kartu miskin malah diberikan kepada mereka yang tidak miskin. Apakah mereka ini sudah sedemikian rusak mentalnya dan tidak punya harga diri sehingga tidak malu mengaku miskin agar dapat bantuan dari pemerintah?

Kalau untuk mendapatkan BLT sontak pejabat desa, kecamatan, dan kabupaten berlomba-lomba mendata sebanyak mungkin warganya yang miskin. Bahkan, banyak data yang fiktif, ada data tapi orangnya sudah meninggal. Tapi, jika untuk laporan kemajuan desa, data yang dikeluarkan lain lagi. Pokoknya yang menggambarkan baagimana hebatnya aparat birokrat mengelola daerahnya. Dengan data dan laporan yang bagus, akan keluar lagi kucuran dana untuk program lainnya. Rakyat masih dijadikan alat untuk kepentingan para birokrat, belum diperlakukan dengan benar untuk mengangkat derajatnya agar mereka sejahtera.

Kalau rakyat masih mau dijadikan komoditas politik kepentingan para penguasa, dan mau dijadikan objek kemiskinan, mereka akan berkubang dalam lumpur kemiskinan. Cara berpikirnya adalah miskin, meminta-minta, dan mengggantungkan hidupnya pada orang lain. Jika birokrat masih menjadikan rakyat hanya sebagai alat untuk mendapatkan tambahan anggaran yang peruntukannya tidak sesuai dengan alokasi anggaran, akan terciptalah mental penguasa yang bobrok. Mereka miskin kasih sayang, miskin moral, dan miskin belas kasihan kepada`rakyat yang seharusnya mereka lindungi.

Kita harus memerangi keadaan seperti ini agar jangan sampai orang miskin tetap miskin. Orang miskin hanya dianggap sebagai angka; yang semakin besar jumlahnya semakin banyak bantuan yang diberikan. Sudah saatnya kita semua memperjuangkan suatu negara yang makmur, merdeka, sejahtera, di mana rakyatnya mempunyai harga diri dan semangat untuk mandiri. Masyarakat yang malu untuk meminta-minta dan berjuang untuk hidup secara bermartabat.

Sedih rasanya dalam bulan puasa misalnya, kita melihat bagaimana rakyat miskin yang memang biasa tidak makan malahan tidak puasa. Mereka di bulan suci tersebut malah berjejer di jalan, lengkap dengan anak-istri, bahkan membawa bayi sambil menadahkan tangannya. Manusia gerobak semakin hari semakin banyak saja berjejer di pinggir-pinggir jalan besar. Rasanya mustahil jika tidak ada yang mengorganisir. Begitu banyak gerobak itu mungkin ada juragan gerobak yang mengambil keuntungan dengan menyewakannya.

sOrang miskin mungkin menjadi putus asa dan tidak percaya lagi kepada Allah. Mereka mencari kasih sayang Allah sepanjang hidupnya, namun belum menemukannya dalam bentuk kesejahteraan. Rawan sekali jika kita membiarkan saudara kita tersebut semakin banyak saja yang bertambah miskin. Mereka nantinya bukan saja miskin harta, tapi juga miskin iman. Bisa tidak percaya lagi kepada kasih sayang Allah.

Bahkan, dikhawatirkandemi mengejar kebutuhan perut—mereka akan terperosok ke dalam perbuatan yang tidak bermartabat, seperti minta-minta dan bahkan berbuat kriminal. Bayangkan jika begitu banyak saudara kita yang miskin, ini juga akan membahayakan kita yang dianggap mampu tapi tidak mau membantu. Kemungkinan ada kecemburuan sosial dan kalau ada kejadian yang tidak diinginkan mereka akan gelap mata.

Jadi, jangan berbahagia apalagi tidak peduli terhadap orang miskin. Kita harus membantu mereka.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourcing. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.8/10 (12 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +8 (from 8 votes)

From Zero to Zero

iyOleh: Iftida Yasar*

Kalau kita orang Islam mendapatkan kemalangan, baik itu kehilangan seseorang atau kehilangan suatu benda, atau mendapatkan musibah, kalimat yang biasanya diucapkan adalah “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rojiun” yang artinya; semua yang berasal dari Allah akan kembali kepada Allah. Jika kalimat ini diresapi artinya, akan jelas tergambarkan bahwa kita ini sekadar menikmati, sekadar mampir sekejap untuk menumpang minum di suatu kedai. Dan selesai minum kita akan pergi. Artinya, kehidupan di dunia ini singkat, sekejap saja, dibandingkan nanti dengan kehidupan kita di akhirat. Kehidupan yang sangat singkat itu menjadi bekal kita di kemudian hari dalam menjalani kehidupan di dunia kekal yaitu akhirat.

Jika di dunia kita mendapatkan kesempatan mendapatkan rezeki yang lebih dibandingkan orang lain, bukan berarti kita adalah orang yang hebat yang bisa mendapatkannya sendiri tanpa izin Allah. Banyak orang yang merasa bahwa harta dunia yang diperolehnya karena jabatan, pangkat, dan kepercayaan orang lain itu jatuh dari langit. Ada juga yang merasa tidak ada campur tangan dari Yang Maha Kuasa dalam hal keberkahan yang diperolehnya. Ingat cerita tentang ”Karun”, seorang kaya raya yang tidak mau bersyukur dan berterima kasih kepada Allah. Bahkan, dengan sombongnya ia mengatakan semua kekayaannya didapatkan atas usahanya sendiri. Maka, Allah menghukumnya dengan menimbun dan menenggelamkan Karun ke dalam bumi. Makanya, sekarang kalau kita menemukan harta yang tertimbun di dalam tanah, maka itu disebut ”harta karun”.

Perjalanan kehidupan manusia seperti roda, kadang di atas kadang di bawah. Pada saat kita di atas jangan sombong dan selalu ingat bahwa ada kemungkinan kita akan berada di posisi bawah. Kalau kita sedang susahdalam arti tidak punya uang atau mampu memenuhi kebutuhan hidupjangan putus asa. Selalu berdoa dan berharap bahwa roda akan berputar ke atas. Jadi, selalu ada harapan dan keyakinan bahwa dengan kerja keras dan doa suatu saat kita akan selamat.

Ada yang sudah mendapat amanah dari Allah dalam bentuk harta kekayaan yang luar biasa dan keberkahan dalam mencari rezeki. Tetapi, ia tidak mau menafkahkan sebagian hartanya kepada orang lain. Ada juga yang seakan tidak pernah susah selalu mendapatkan kemudahan, karena apa yang diberikan kepadanya disampaikan lagi kepada orang yang membutuhkan. Sedekah, apalagi kepada orang yang sangat membutuhkan, akan membuat rezeki kita dilipatgandakan Allah.

Dalam melakoni usaha, kadang apa yang kita sudah bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun runtuh dengan begitu saja dalam sekejap mata. Banyak yang menjadi penyebabnya; bisa karena produk atau jasa yang kita berikan kepada pelanggan menjadi tidak layak jual lagi, atau karena kalah bersaing dengan produk dan layanan baru. Pada saat krisis global melanda dunia, banyak sekali perusahaan kecil, bahkan perusahaan raksasa seperti General Motor kebanggaan Amerika Serikat, juga bangkrut. Perusahaan kecil yang selama ini melayani atau menjadi subkontraktor perusahaan besar juga tutup karena dampak krisis.

Gaya hidup sang pemilik perusahaan juga berpengaruh terhadap kelanggengan jalannya perusahaan. Jika semua keuntungan digunakan untuk membeli berbagai barang mewah, maka bisa jadi tidak ada sisa keuntungan yang dialokasikan untuk investasi atau diversifikasi usaha. Semua barang mewah atau gaya hidup mewah seperti bepergian keluar negeri, tinggal di hotel yang mewah, dan membeli barang mewah yang tidak penting dapat membuat kita bangkrut. Maha jutawan almarhun Michael Jackson yang demikian kaya raya, meninggal dunia dengan meninggalkan hutang sebesar Rp 4 triliun. Sungguh suatu angka yang sangat fantastis. Yang mana kalau dibuat atau diinvestasikan dalam bentuk usaha rakyat akan menghasilkan ribuan unit usaha yang akan menyerap jutaan tenaga kerja.

Bisa juga apa yang kita miliki hilang, kita harus menanggung utang, atau harus bertanggung jawab atas kesalahan bawahan kita. Sebagai pimpinan sudah pasti bahwa keberhasilan adalah milik bersama dan layak dinikmati oleh semua pihak yang terlibat dalam melakukan usaha tersebut. Jika rugi, walaupun kerugian itu diakibatkan oleh kesalahan karyawan, apakah kita bisa berkata kepada pelanggan bahwa perusahaan tidak dapat melakukan pekerjaan atau tidak bertanggung jawab terhadap kesalahan karyawan? Dalam situasi seperti ini, perusahaan yang mempunyai komitmen tinggi akan mengambil alih tanggung jawab. Pada waktu pekerjaan itu diberikan kepada kita, sudah barang tentu nama perusahaan dan reputasinya memegang peranan penting dalam mendapatkan pekerjaan itu. Adalah wajar jika perusahaan kita mau menjaga reputasi dan kelanggengannya, maka perusahaan akan tetap berkomitmen menyelesaikan pekerjaan itu.

Apa pun yang terjadi dalam hal kehilangan seluruh harta benda, baik karena kesalahan kita sendiri maupun karena kesalahan karyawan, tetap yakin dan percaya bahwa kita yang tadinya lahir ke dunia tanpa membawa apa pun juga, atau dengan modal nol, lalu mendapatkan kesempatan memperoleh banyak rezeki, lalu kehilangan dan dalam kondisi nol lagi. Harta benda yang kita dapatkan adalah dengan modal kerja keras, kejujuran, keyakinan bahwa harta itu hanya titipan. Dalam keadaan nol, yang hilang hanya harta benda yang tadinya memang tidsak ada. Semangat, keyakinan dan kemampuan kita kembali bangkit tidak akan hilang dan tidak akan tergantikan. Pelanggan yang sudah mengenal kemampuan kita akan kembali kepada kita dan dengan usaha yang tidak pantang menyerah, Insya Allah kondisi nol akan naik menjadi seperti semula. Bahkan, mungkin jauh lebih baik. Orang yang mampu mengatasi masalahnya sebesar apa pun akan tetap bertahan dan kembali berjuang untuk meraih sukses.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourcing. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Manfaat Komentar Positif

iyOleh: Iftida Yasar*

Dalam beberapa acara gathering atau acara kantor yang bersifat bergembira, biasanya kita memanggil organ tunggal lengkap dengan penyanyinya. Penyanyinya selalu tampil seronok dengan dandanan yang aduhai. Berdasarkan pengalaman ini, biasanya saya selalu berpesan kepada panitia agar penyanyinya, selain dapat menyanyi dengan baik, dia juga harus berdandan dengan tidak terlalu menor atau seksi. Sebab, biasanya ibu-ibu bisa merasa gerah melihatnya, dan juga para suami yang biasanya getol berjoget menjadi keok dan malu di depan keluarganya jika dipanggil menyanyi.

Tapi memang, mungkin sudah pakemnya atau standar para penyanyi itu untuk bergoyang dengan seksi dan sedikit senggol-senggolan dengan tamu laki-laki yang turut bernyanyi. Alhasil, kami jadi berkomentar mestinya para penyanyi tadi diberi pemahaman mengenai “how to know your customer”, bagaimana mengenal karakter pengundang apakah itu kantoran, rumahan, atau kawinan. Jika saja mereka mengenal karakter pengundangnya, dengan cepat mereka akan menyesuaikan diri, baik dandanan maupun cara berjoget dengan para bapak. Itu agar di rumah nanti para suami tidak dijewer atau dicemburui istri karena berjoget terlalu hot.

Kita juga gampang memberi komentar terhadap orang lain, baik penampilan fisiknya, caranya berbicara, berjalan, sampai mengomentari hasil pekerjaan orang lain. Ada yang memang mulutnya gatal dan usil jika melihat orang lain sepertinya kurang beres menurut ukurannya. Ada juga yang memang komentarnya bermanfaat dan dapat menjadi masukan yang berharga. Jangan sembarangan memberi komentar pada pertemuan pertama, lebih baik pelajari situasi, mendengarkan, dan jika sudah dapat mengetahui keadaan lebih baik baru boleh memberi komentar.

Dalam suatu perkenalan dengan seorang pejabat yang cukup tinggi di sebuah departemen, saya melihat bapak pejabat tersebut kakinya agak pincang dan diseret. Dengan maksud memberi perhatian (sok akrab), saya mengatakan, “Aduh kenapa Pak, habis jatuh, ya?” Beliau dan stafnya hanya senyum dan tidak berkomentar lebih jauh. Dan ternyata, belakangan saya baru tahu memang kakinya agak cacat.

Pernah juga saya mengunjungi seorang relasi yang baru melahirkan anak pertama kurang lebih 1 bulan yang lalu. Seperti biasa saya dengan sok akrab mengatakan, “Lucu ya rambutnya gundul baru dicukur, ya?” Ternyata, si ibu menjawab bahwa memang anaknya dari lahir tidak ada rambutnya alias gundul belum tumbuh..

Kalau mau memberikan komentar berikanlah dengan tulus dan dengan maksud membangun. Sebagai pengajar pada pelatihan pengembangan kepribadian saya selalu bertanya “Apa yang dilakukan jika teman kamu mempunyai bau badan?” Biasanya, topik ini menjadi bahan tertawaan dan jawabannya biasanya mereka enggan memberi tahu, membicarakan di belakang, atau menjauh tidak mau bergaul dengan si BB (Bau Badan).

Dalam kasus ini, saya menganjurkan agar mereka berani menolong teman tersebut dengan membicarakannya langsung. Atau, secara halus misalnya memberikan salah satu produk penghilang bau badan. Yang lain, secara diam-diam memberikan obat itu dalam amplop dengan catatan “Jangan tinggalkan rumah tanpa memakai produk ini. Hal ini jauh lebih konstruktif dibandingkan dengan membicarakan teman tadi di belakang.

Jika teman kita melakukan presentasi mengajukan suatu usulan proyek, bantulah dia dengan memberikan masukan yang membangun. Jika menurut kita sudah bagus katakanlah itu bagus. Tetapi, jika masih ada yang kurang berikanlah komentar agar usulan proyek itu dapat lebih disempurnakan. Jangan pelit memberikan komentar yang positif, apalagi merasa rugi jika komentar yang kita berikan kepada teman dapat menjadi perbaikan yang membuat teman tadi mendapatkan nilai lebih.

Pengetahuan dan pengalaman kita yang diberikan kepada orang lain melalui komentar kita bukan saja bermanfaat bagi si penerima. Tetapi, itu juga bermanfaat bagi kita karena kita akan terbiasa memberikan kontribusi yang positif bagi lingkungan kerja. Orang yang paling bermanfaat adalah orang yang bermanfaat banyak bagi orang lain.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourcing. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Kalau Bisa Dipersulit Kenapa Harus Dipermudah?

iyOleh: Iftida Yasar*

Ingat iklan layanan masyarakat yang menggambarkan buruknya pelayanan publik di Indonesia? Sebagai rakyat, kadang untuk mengurus segala sesuatu harus dilalui dengan susah payah, dan waktu juga terbuang sia-sia. Urusan KTP sekarang sudah lancar, begitu juga pengalaman saya mengurus perpanjangan pasport, lancar dan pembayaran sesuai dengan harga yang tertera di loket. Sepanjang pengalaman saya, PLN sebagai satu-satunya perusahaan yang menyediakan listrik bagi kita, masih memberikan pelayanan yang buruk. Listrik bisa saja mati tiba-tiba, hanya PLN dan Tuhan yang tahu kapan listrik akan mati.

Coba bagi Anda penggemar olahraga sepeda, apakah anda menikmati enaknya bersepeda di kota Jakarta yang macet, berdebu, dan penuh dengan lalu lalang kendaraan yang tidak mau mengalah? Jika Anda nak bus kota, hanya busway yang agak lumayan, baik kebersihan, kenyamanan, maupun kelancarannya. Yang lain seperti metromini, angkot, ojek, bus kota, kereta api rakyat, semua memerlukan kesabaran, dan juga hati yang lapang untuk tidak protes karena tidak ada pilihan lain.

Hal ini berbeda dengan Jepang, teman! Di Jepang pepatah di atas tidak berlaku. Jepang sebagai negara yang memahami dan menjalankan dengan baik konsep negara kesejahteraan, mampu membuat rakyatnya menikmati dan bangga menjadi orang Jepang. Begitu memasuki bandara Narita, terlihat segala sesuatunya telah ditata dengan rapi. Mulai dari penataan interior yang menyejukkan, baik warna maupun perabot yang sederhana dan berkelas, sampai petugas yang melayani di bandara. Mereka menyambut tamu dengan ramah dan menggunakan bahhsa Inggris yang jauh lebih baik dibandingkan ketika saya ke Jepang tahun 1991. Petugas mampu menerangkan cara mengisi formulir barang yang kita bawa masuk Jepang. Petugas imigrasi berdandan ala anak muda sekarang, rambut gondrong tapi rapi, setelan jas yang modis, ramah, dan tidak berwajah angker.

Dari Narita ke Chiba kami naik bus limousin yang bersih dan mewah. Kopor bawaan juga dilayani sampai masuk ke dalam bagasi. Ada buku saya ketinggalan di dalam bus dan baru ingat dua jam kemudian. Oleh petugas hotel dibantu dicarikan pengemudi yang tadi mengantar saya. Dan, kami bertemu jam 16.16 sore, tepat di tempat yang sama dan dengan buku dikembalikan secara utuh. Sungguh pelayanan yang sopan, cepat, dan ramah.

Sore hari di tengah cuaca dingin saya belanja di Carefour terdekat dari hotel dengan berjalan kaki. Terlihat orang Jepang dengan santai naik sepeda di trotoar lebar yang khusus disediakan bagi pejalan kaki dan pemakai sepeda. Cuaca dingin tidak menghalangi semangat untuk bersepeda karena memang suasana kota memungkinkan untuk itu.

Di depan hotel tersedia payung umum yang boleh dipinjam bagi pengunjung hotel yang kebetulan tidak membawa payung. Jika sudah selesai harap dikembalikan dan lama meminjam tidak boleh lebih dari tiga hari. Tidak ada petugas yang mencatat siapa yang memakai payung dan kapan mengembalikannya, apakah lebih dari tiga hari, dan sebagainya. Tetapi, orang Jepang yang taat aturan akan mengikuti aturan pinjam-meminjam payung. Taman kota tertata rapih, gedung asrama bersih, dan di mana-mana tersedia fasilitas umum yang baik. Seperti: lobi ruang tunggu, kamar mandi yang bersih, kantin, serta kamar asrama yang rapih dan bersih. Wow, rasanya enak ya jadi rakyat Jepang, semuanya diperhatikan dengan baik oleh pemerintahnya.

Bagi saya, yang paling berkesan adalah fasilitas kamar mandi umum yang sangat nyaman. Toilet umum dilengkapi dengan berbagai tombol dengan warna berbeda sesuai kegunaannya. Ada tombol merah dengan tulisan stop, ada tombol hijau untuk membilas kalau kita buang air kecil, ada tombol pink untuk bilas buang air besar, dan yang paling hebat ada tombol putih yang jika dipencet akan mengalunkan lagu. Bagaimana pemerintah Jepang ingin membahagiakan dan melayani rakyatnya terjawab melalui kelengkapan toilet umum tadi. Bahkan, pada musim dingin seperti sekarang, jika kita duduk di toilet maka akan terasa hangat, begitu juga air bilasan disetel hangat.

Di tempat saya menginap dan mengikuti pelatihan namanya OVTA (Oversea Vocational Training Association), terlihat banyak pekerja Indonesia yang mengikuti kerja magang di Jepang. Anak-anak muda yang kelihatan gagah, tampan, dan memiliki semangat serta harga diri sebagai pekerja. Setiap kali bertemu mereka akan mengucapkan ”konichiwa” atau selamat siang, sambil menunduk dengan sopan. Sungguh membanggakan melihat anak bangsa yang kalau dididik dengan benar mampu membuat dirinya berkualitas. Budaya Jepang yang sopan, disiplin, dan semangat bekerja yang tinggi mampu dengan cepat diserap oleh mereka yang berada di lingkungan ini.

Indonesia kamu bisa! Hai…hai dozo, tapi kapan?![iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourcing. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Makna Menjadi Owner

iy1

Oleh: Iftida Yasar*

Sesungguhnya kita bukanlah pemilik dari apa pun.”

~ Iftida Yasar

Dalam kartu nama yang diberikan oleh seorang teman tertulis dengan jelas di situ jabatannya adalah “owner” atau pemilik dalam bahasa Indonesia. Pemilik kartu nama ingin memberikan penegasan kepada masyarakat bahwa ia bukan hanya, misalnya sebagai direktur atau apa pun jabatannya, tetapi adalah “pemilik perusahaan”.

Tidak ada yang salah dalam penulisan kartu nama tersebut. Mungkin saja ia ingin memberikan tanda kepada penerima kartu namanya,Jika ada yang ingin dibicarakan, jika ada transaksi bisnis yang ingin dilakukan, langsung saja dengan saya. Saya adalah pemilik perusahaan. Jadi, saya dapat langsung memutuskan tanpa meminta persetujuan orang lain lagi.” Namun, mungkin juga itu dilakukan berdasarkan pengalaman atau penampilan yang kurang meyakinkan, sehingga orang perlu menuliskan dengan jelas bahwa ia adalah pemilik perusahaan.

Ada juga seseorang yang karena penampilannnya sangat meyakinkan dianggap sebagai pemilik perusahaan. Karena, memang fist impression atau dalam pandangan pertama melihatnya saja sudah sangat meyakinkan. Padahal, dalam bisnis seseorang yang sudah diserahi tanggung jawab dan kewenangan dapat melakukan dan memutuskan sesuatu berdasarkan kewenangannya. Mungkin saja, lagak dan gaya orang ini begitu hebat dibandingkan dengan pemilik perusahaan yang lebih suka berada di balik layar.

Ada juga pemilik perusahaan yang sangat ingin memperlihatkan kepada karyawannya bahwa ia memang beda kelas, ia lebih hebat, lebih kaya, dan lebih pintar, sehingga karyawan hanyalah pelengkap penderita. Pemilik perusahaan model ini menerapkan manajemen gaya warung yang memainkan peranannya secara tunggal. Ia ingin semua orang tahu dia adalah “owner” dan ingin diperkenalkan sebagai “owner”.

Ada juga pemilik perusahaan yang biasa biasa saja, sederhana, menghargai, dan memberikan kewenangan pada pekerjanya. Tetapi, pekerja yang bermental penjilat atau budak sangat menaruh hormat luar biasa pada pemilik perusahaan. Setiap bertemu pekerja ini memuji dan selalu siap menjalankan perintah, memanggil pemilik perusahaan dengan “boss”, “tuan”, “nyonya” atau panggilan lain yang dilakukan dengan takzim dan hormat di depan majikannya.

Dan, jika mendampingi pemilik perusahaan untuk bertemu orang lain, pekerja ini akan memperkenalkan pemilik perusahaan dengan pernyataan Beliau ini adalah owner perusahaan”. Biasanya, pekerja tipe ini belum tentu tulus. Jika keluar dari pekerjaan atau ternyata sang “owner” tidak menjadi “owner” lagi, sikapnya langsung berubah 180 derajat. Sesuai dengan sifatnya yang penjilat dan bermental budak, ia akan menjilat dan patuh kepada owner yang baru.

Sesungguhnya, kita bukanlah pemilik dari apa pun. Nyawa yang ada di dalam tubuh kita tak akan sanggup dipertahankan jika sudah diminta pemiliknya. Kita hanya diberi amanah untuk menjalankan usaha, tetapi bukan pemilik dari usaha itu sendiri. Yang tadinya orang biasa bisa menjadi owner, yang tadinya owner suatu saat bisa kehilangan semuanya. Sebagai orang yang diberi amanah, kita tidak usah terlalu sombong dan membanggakan diri dengan apa yang kita miliki namun tidak akan abadi.

Sebagai pekerja kita jangan terlalu menjilat dan bermental budak. Hargailah siapa pun manusia dengan tulus. Jangan hanya baik di muka atau hanya baik jika orang tersebut masih menjadi owner. Menjadi orang baik itu adalah karakter, bukan profesi, yang suatu saat bisa berubah. Owner...? Ah, siapalah kita ini, hanya Allah yang pantas memiliki semuanya.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.1/10 (13 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +5 (from 5 votes)

Bencana

iyOleh: Iftida Yasar*

Begitu banyak bencana alam yang menimpa kita saat ini, tsunami, banjir, dan gempa yang terus menerus melanda saudara-saudara kita. Allah menentukan dan memilih siapa yang harus mengalami hal itu, tanpa kita tahu kenapa? Kenapa ada yang selamat? Kenapa kita yang terpilih dalam musibah itu? Satu kampung saudara kita di Agam, Sumatra Barat, pergi bersama-sama dipanggil Allah. Mereka sedang dalam suasanan berpesta, tanpa ada yang mengetahui atau mempunyai firasat akan terjadi bencana.

Hidup dan kematian adalah rahasia Allah, di mana pun kita berada selalu berbuat baik. Kita tidak pernah tahu kapan maut akan menjemput, dan apa yang akan terjadi dengan kita. Hidup adalah misteri, tetaplah menjadi baik dan selalu berbuat baik, agar kita mempunyai bekal dalam menghadap-Nya.

Dalam kehidupan sehari-hari tirulah atau jalinlah hubungan baik dengan orang yang baik pula. Pada masa yang penuh dengan cobaan, selayaknya kita tetap percaya bahwa hidup adalah roda yang berputar. Kalau saat ini kebetulan kita diberi amanah untuk mengelola sesuatu lakukan dengan niat tulus. Berbuat baik adalah karakter bukan profesi. Apalagi jika berbuat baik dilakukan hanya untuk kedok agar cepat naik pangkat dan mendapatkan keuntungan.

Kita menjadi orang baik saja, selalu ada cobaan dari mereka yang bodoh dan tidak tau bahwa yang dilakukannya adalah salah. Apalagi jika kita sengaja berbuat jahat kepada orang yang dulu pernah dekat dengan kita. Jika kita berbuat baik kepada orang tentu saja tidak pernah mengharapkan terima kasih, tetapi juga tidak pernah membayangkan akan dibalas dengan perbuatan jahat.

Sebagai atasan ada yang menekan bawahan agar turut serta dalam usaha memutuskan silaturahmi , menyebar fitnah, dan menjatuhkan seseorang. Semua dilakukan agar terlihat hebat dan mendapatkan nama. Tujuannya apalagi jika bukan untuk mendapatkan keuntungan material, menjaga agar tetap menjabat, bahkan mungkin naik pangkat.

Sebagai bawahan kalau memang itu yang akan membuat anda selamat dalam menjaga periuk nasi, apa boleh buat? Lakukanlah tetapi dengan kedaan terpaksa, bukan menjadi karakter. Selayaknya sebagai bawahan harus pintar juga melihat siapa yang harus diservis habis, jangan salah jilat. Jilatlah pemilik perusahaan, apalagi jika ia merangkap atasan kita. Jangan silau dengan jabatan atasan yang belagak pemilik perusahaan. Sebab, dia adalah karyawan juga. Kalau sekarang kelihatannya hebat, itu kebetulan saja, karena tidak ada pilihan. Tuhan tidak pernah tidur, Ia akan membalas dan memberikan ganjaran kepada kita sesuai dengan apa yang kita lakukan.

Sesungguhnya, berbuat baik adalah untuk keuntungan diri sendiri dan berbuat ajahat akan kembali kepada kita lagi.

Jika hubungan baik dianggap sebagai suatu ancaman, tidak heran dan dapat dimengerti jika ada yang berkeinginan me-remove nama seseorang dari list Facebook (mungkin saja sebentar lagi ada sweeping list dari teman FB). Juga tidak heran jika semua cerita akan disampaikan juga kepada penguasa palsu yang belagak owner. Fitnah dan cobaan adalah bagian dari perjalanan hidup seorang pemimpin. Bagi pemimpin tidak penting bagaimana nasibnya sendiri, yang penting adalah bagaimana nasib umatnya, karyawannya.

Semoga hanya sedikit dari kita yang meniru dan membangun karakternya seperti karakter para penjilat, para budak, dan penghianat. Rasanya baru kemarin sang penjilat selalu mencium tangan, berangkat bareng, setia setiap saat seperti rexonaAh, tidak penting sekali rasanya meniru perilaku rendah seperti itu.

Pemimpin adalah pejuang di mana pun dan dalam situasi apa pun. The real pemimpin tidak pernah kalah dan selalu berhasil membangun pemimpin lainya. Kalaupun ada yang gagal itu pun kegagalan diri orang itu sendiri bukan kegagalan kita sebagai pemimpin.

Semoga dalam situasi yang penuh ketidakpastian dan bencana ini, kita dapat selalu saling menyayangi, menghormati, membantu satu sama lain, dan bersatu dalam kebaikan

Bencana yang sesungguhnya adalah menceburkan diri dalam keadaan celaka di mana kita berbuat baik, patuh, kerja keras, hormat sebagai profesi bukan sebagai karakter. Apalagi jika semuanya itu dipersembahkan bagi manusia.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Enaknya Hidup di Indonesia

iyOleh: Iftida Yasar*

Wah, ternyata jadi orang Indonesia enak dan asyik. Hal ini terasa banget setelah saya baru kembali dari pelatihan di Jepang selama dua minggu. Mendarat di bandara tercinta Soekarno-Hatta, lumayan sekarang toiletnya baru, bersih, dan ada tisunya, lho! Senang melihat pak porter berseragam hijau yang dengan sigap membantu membawakan tas. Di Jepang lumayan, sopir bus dan taksi masih mau membantu menaikan dan menurunkan tas ke bus dan taksi. Di Italia misalnya, no way deh. Semua urus sendiri.

Pelayanan imigrasi dan kostum di bandara kita juga cepat dan baik, hanya perlu agak ramah. Begitu keluar dari bandara, wah udara enak betul, nyaman dan sejuk. Di Jepang dua minggu, kalau mau keluar ruangan harus berjuang dengan hawa dingin, hujan, dan angin yang menyengat dengan suhu tiga derajat celsius. Baju harus pakai sampai dengan lapis empat, ditambah sarung tangan dan topi, dan di dalam ruangan juga harus dibantu dengan hangatnya heater. Di dalam ruangan dengan heater apalagi tidur dengan udara panas buatan, membuat napas kering dan tidak nyaman. Kulit saya yang cukup sensitif mulai terasa gatal pada hari ke tujuh, walaupun sudah mengoleskan begitu banyak krem kulit.

Yang namanya lagu anak TK “bangun tidur ku terus mandi” mungkin hanya cocok di Indonesia. Sebab, siraman air dingin di pagi hari membuat segar dan semangat. Di Jepang, bangun tidur berjuang dulu mengatasi rasa malas, ngantuk, dingin, dan takut kena air. Walau mandi air hangat, tetap saja habis mandi kedinginan lagi.

Senang rasanya bertemu tempat tidur saya yang besar dan hangat dengan banyak bantal. Di Jepang kami tinggal di asrama, dengan tempat tidur cukup satu orang, dan bantal hanya satu yang ada isinya semacam jagung. Bantal di Jepang diisi semacam butiran sebesar jagung, yang kalau kita tidur terasa seperti dipijat. Tadinya saya mau beli satu, tetapi ternyata harganya cukup mahal, sekitar Rp1 juta.

Habis mandi lewatlah berbagai tukang makanan seperti bubur ayam, roti, bubur kacang hijau, bahkan jamu sehat langganan saya. Jam 7 sudah siap meracik jamu yang membuat tubuh segar dan kuat. Di rumah saya lihat juga sudah tersedia makan pagi, ada nasi goreng, roti, dan teh manis. Sementara di asrama saya harus turun ke lantai 2 dari lantai 18 kamar saya, hanya untuk mengambil air panas karena mau membuat teh atau kopi. Kalau mau makan juga harus ke kantin di lantai satu. Kadang kami beli makanan di supermarket dan makan bersama di dalam kamar dengan teman-teman.

Pagi hari saya hanya mengeluarkan uang Rp 10.000 buat jamu, dan dua mangkok bubur ayam juga Rp 10.000. Di Jepang saya baru merasakan lezatnya Indomie Indonesia. Sebab, makanan di sana mahal sekali. Untuk makan nasi, sop, salad, atau satu macam lauk di kantin sana, kita harus membayar 850 yen atau setara dengan Rp 100.000. Pop Mie harganya sekitar Rp 12.000 ampai Rp 16.000 per bungkus, di sini kita bisa dapat lima buah. Semua makanan serba mahal, tetapi bagusnya buat saya, saya malah bisa diet di sana.

Yang sangat saya senang di Jepang adalah melihat bagaimana makanan khas mereka yang sangat sederhana seperti moci (beras ketan diisi kacang merah manis yang dihaluskan), juga kacang hijau kupas yang dibentuk berbagai macam boneka jepang menjadi souvenir yang sangat cantik dan menarik buat oleh-oleh. Tetapi, rasanya jadi sayang untuk memakannya karena bentuknya bagus banget. Di sepanjang bandara Narita memang dipajang berbagai oleh-oleh khas Jepang, yang mestinya kita dapat meniru melakukan hal tersebut.

Home sweet home, biar bagaimana Indonesia adalah negara kelahiran kita. Maka, apa pun yang ada mari kita syukuri dan mari terus berkontribusi membuat negeri tercinta ini menjadi lebih baik lagi.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: -1 (from 1 vote)

Makan untuk Hidup atau Hidup untuk Makan?

iy1Oleh: Iftida Yasar*

Kompas, Minggu 18 Desember 2007 pernah menceritakan bagaimana para pencari sagu suku asmat harus berjuang melawan ratusan nyamuk di hutan demi mendapatkan sagu untuk keluarga mereka. Kebanyakan pencari sagu adalah para ibu rumah tangga. Setelah berjalan sekitar 2 jam di hutan, baru mereka menemukan pohon sagu. Dan setelah ditebang serta diproses, kira-kira sore hari baru mereka pulang dengan membawa sagu untuk keluarganya. Betapa berat perjuangan mereka untuk mendapatkan bahan makanan buat keluarganya di rumah. Dibandingkan dengan kita, warga metropolitan yang dalam keadaan yang berkecukupan, yang malah selalu bingung untuk menentukan mau makan apa hari ini.

Saya pernah berkantor di Setiabudi Building, di mana banyak sekali tempat pilihan restoran di sana. Setiap hari mulai dari waktu sarapan sampai dengan malam, hampir semua tempat penuh. Biasanya, mulai jam 11 siang deretan panjang mobil yang antri untuk masuk pelataran parkir sudah mulai terlihat. Pihak pengelola gedung yang sudah menambahkan sarana parkir masih saja tidak bisa menampung jumlah mobil yang datang. Untuk tempat yang paling sering didatangi pengunjung, mereka tidak memperbolehkan pengunjung me-reserved tempat. Penikmat makan enak harus rela datang lebih dahulu untuk mendapatkan tempat, atau menunggu selesai orang lain yang sudah lebih dulu makan di sana. Bagi yang sudah mendapatkan tempat lebih dahulu juga harus tebal muka dan cuek untuk tetap menikmati makan siang sambil haha hihi dengan teman semeja, tanpa memedulikan tatapan tidak sabar dari pengunjung yang masih antri di depan mereka. Belum lagi tatapan para waitres yang tidak sabar ingin segera membersihkan meja kita begitu melihat makanan di meja telah habis.

Biasanya, kalau kita makan di restoran kita sudah tahu makanan apa yang enak di sana. Tetapi, tetap saja kita masih suka bingung menu apa yang akan dipilih. Semua kelihatannya enak dan mengundang selera sehingga akhirnya karena lapar mata memilih berbagai menu. Setelah makanan terhidang baru menyadari banyak betul makanan yang dipesan. Karena semua makanan enak sayang jika tidak dihabiskan sehingga semua disikat walaupun akhirnya kekenyangan. Alhasil, setelah kekenyangan rasanya justru menjadi kurang nikmat lagi dan membuat rasa begah di perut, bahkan menjadi mengantuk.

Saya pernah menjadi training manajer di sebuah perusahaan asing di mana training selalu dilakukan di hotel berbintang, minimal hotel bintang tiga. Makanan yang terhidang sangat mewah dan berlebih. Mulai dari coffee break pertama setidaknya dua macam snack ditambah kopi atau teh. Makan siangnya beraneka macam makanan enak ditambah dessert-nya yang juga sangat menggugah selera. Diakhiri dengan coffee break sore yang juga sarat dengan pilihan kue yang lezat. Dengan pilihan makanan yang menurut saya sudah diatur sedemikian baik oleh para ahli perhotelan, ternyata masih ada saja yang komplain. Menunya yang kurang cocok, kuenya kurang enak, dessert-nya kurang banyak, dll. Kalau komplain dari peserta training sudah keterlaluan, biasanya saya tanya, “Apa sih yang kamu makan di rumah? Saya pingin lihat, kok makanan begini enak masih komplain?!”

Tidak ada yang salah dengan pola makan yang seperti itu, terutama jika kita telah mencapai taraf hidup tertentu yang memang mampu membiayai hal tersebut. Saya sendiri dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang selalu menyediakan makanan satu untuk semua, tidak ada yang diistimewakan. Saya pernah komplain kepada Ibu saya, kenapa setiap anak tidak dimasakan sesuai dengan kesukaannya masing-masing, seperti yang dilakukan ibunya teman saya sebelah rumah.

Teman saya sangat dimanjakan oleh ibunya. Setiap hari untuk empat orang anak dimasakan menurut kesukaan masing-masing. Kalau sore hari selalu ada kue-kue, sementara kulkas dan lemari makannya selalu penuh dengan makanan enak. Sering sekali bau asap sate atau bau kuah bakso tercium dari rumah sebelah karena mereka sering sekali jajan. Rasanya saya iri dan menganggap Ibu saya pelit. Ingin rasanya Ibu saya juga seperti ibu teman saya. Usulan dan komplain tetap tidak didengar, makanan yang terhidang selalu sama untuk semua. Kalaupun ada kue-kue paling pisang goreng atau pisang rebus yang juga dalam jumlah yang banyak untuk orang sekampung.

Ibu saya selalu memasak dalam jumlah besar, dan biasanya lebih banyak sayur mayur dibandingkan dengan lauk daging atau ikan. Selain keluarga kami yang enam orang di rumah, banyak saudara baik dekat maupun jauh yang ikut kami. Kadang-kadang jumlahnya tidak tanggung-tanggung. Pernah yang ikut kami berjumlah 16 orang ditambah kami sendiri yag enam orang sehingga jumlahnya 22 orang. Bayangkan, setiap hari berapa liter beras yang harus dimasak?

Waktu kecil saya saya sampai sebal sekali dengan mereka. Sebab, kadang-kadang lauk habis dimakan oleh mereka dan yang tinggal hanya sisa sayur. Padahal, pembantu setia kami selalu menyembunyikan lauk untuk saya, tetapi kadang tetap saja hilang. Kalau saya marah, biasanya Ibu akan berkata, “Sudahlah kasihan mereka, kamu dibuatkan telur goreng saja, ya?”

Kini, hasil didikan Ibu saya yang selalu mengajarkan berbagi dengan saudara, dan makan apa saja yang terhidang, membuat saya gampang sekali dalam hal makanan. Saya tidak pernah komplain mengenai makanan yang disediakan oleh pembantu di rumah atau di kantin kantor. Karena terbiasa dari kecil makan sayur, jumlah serat dari sayur dan buah mendominasi pola makan saya. Komposisi jumlah sayur dan buah sekitar 2/3 dari jumlah karbohidrat dan protein. Makan hanya untuk hidup bukan hidup untuk makan….

Di rumah saya juga jarang sekali menyediakan camilan atau makanan kecil. Isi kulkas juga sesuai dengan kebutuhan. Kalaupun saya harus makan enak di restoran, itu hanya untuk menyenangkan keluarga sekali-kali, atau makan dengan klien karena urusan bisnis.

Dampaknya terhadap saya adalah dalam usia 47 tahun (saat artikel ini ditulis) saya tetap langsing untuk ukuran emak-emak, awet muda, dan jarang sekali sakit karena pola makan saya yang sehat. Tentang teman saya yang dulu terbiasa makan enak kelihatannya jauh lebih tua dari saya. Badannya gemuk, sakit-sakitan, bahkan kena gula sehingga ia sangat tersiksa karena kalau makan sekarang harus ditakar. Makanan rumahan, biar bagaimanapun sederhananya, tetap lebih sehat dibandingkan dengan makanan restoran. Sekali-kali boleh makan enak di restoran, tetapi jangan jadikan sebagai gaya hidup. Itu jika Anda ingin sehat dan hemat.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

UA:A [1.5.7_846]
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Lakukan Pekerjaan Satu Per Satu

iyOleh: Iftida Yasar*

Stres, lesu, dan lelah membayang dengan jelas di wajah kita ketika banyak pekerjaan yang belum selesai. Pekerjaan yang lama belum selesai sudah datang pekerjaan baru, rasanya otak mau pecah, kepala pusing. Coba satu hari lebih dari dua puluh empat jam, pasti pekerjaan yang menumpuk ini akan selesai. Jika saja bos berbaik hati memberikan asisten kepada kita pasti pekerjaan ini selesai pada waktunya. Kelihatannya teman sebelah meja kok tenang-tenang saja dalam menyelesaikan pekerjaan. Mungkin pekerjaan dia lebih ringan daripada kita, jadi pekerjaannya cepat selesai.

Tunggu dulu, jangan terlalu cepat menyalahkan keadaan di luar diri kita. Coba analisis keadaan kita satu per satu. Dimulai dengan bagaimana cara kita mengerjakan pekerjaan, apakah langsung dikerjakan atau kita tunda sampai tenggat waktu mengejar kita? Perhatikan juga apakah kita mampu membedakan mana yang penting tetapi mendesak, atau penting tidak mendesak, atau sebaliknya mendesak tetapi tidak penting. Dan yang terakhir, tidak penting dan juga tidak mendesak.

Kerjakan dahulu yang penting dan mendesak. Kerjakan ini sendiri tanpa mendelegasikan kepada orang lain. Jika memang dapat didelegasikan, pastikan bahwa pekerjaan itu dikerjakan sesuai perintah dan tepat waktu. Kerjakan yang lainnya satu per satu sesuai dengan skala prioritas.

Tidak mungkin kita mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Ini justru akan membuat kita tidak fokus dan bingung memilih mana yang akan dikerjakan terlebih dahulu. Jika begitu banyak hal yang harus dikerjakan, buat suatu daftar pekerjaan beserta tenggat waktunya dan periksa kembali mana yang harus didahulukan serta mana yang harus ditunda. Biasakan menuliskan dalam suatu kertas kerja agar kita dapat melihat dengan jernih apakah memang pekerjaannya banyak atau hanya bayangan kita saja yang mengatakan bahwa kita mempunyai banyak pekerjaan. Dengan menuliskannya, akan terlihat nanti mana yang harus kita lakukan sendiri dan mana yang bisa didelegasikan kepada orang lain.

Bisa juga daftar pekerjaan tadi kita pisahkan mana yang pekerjaan kantor, mana yang urusan pribadi. Kita juga dapat mendiskusikannya dengan teman, atasan, bahkan bawahan untuk mendapatkan pencerahan, wawasan, atau bantuan pemikiran. Karena, mungkin saja saking paniknya kita jadi buntu pikirannya. Fokus mengerjakannya satu demi satu, bagaimanapun beratnya masalah yang kita hadapi. Kita akan memetik manfaatnya dan melihat bahwa ternyata semua dapat dikerjakan dengan mengerjakannya secara displin satu demi satu.

Kalau masih stres juga dan tetap merasa overload, coba lihat kembali kapan terakhir kali Anda tertawa, menikmati hidup, bepergian bersama keluarga atau teman. Jika itu sudah lama sekali, mungkin memang benar Anda butuh istirahat dan berlibur agar dapat cerah kembali dan fokus terhadap pekerjaan.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourching. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox