Kenapa Orang Miskin Tetap Miskin
Editor | Kolom Tetap | February 24th, 2010 | 3 Comments »
Oleh: Iftida Yasar*
Jika kita dilahirkan dalam keadaan miskin, sudah dapat dipastikan kita berasal dari orang tua yang miskin, tinggal di perkampungan kumuh, bertetangga dengan orang miskin, dan kebanyakan saudara kita miskin. Karena miskin, kita tidak punya kesempatan sekolah. Kalaupun sekolah hanya SD atau paling banter SMP. Dengan pendidikan yang rendah, apa yang bisa kita lakukan? Akhirnya kita bekerja serabutan, apa adanya, asal bisa makan. Keterampilan yang apa adanya ditambah dengan keadaan yang terpaksa, akhirnya membuat kita mau saja menerima bayaran sesuai kerelaan atau belas kasihan mereka yang butuh jasa kita.
Begitu banyak orang yang seperti itu, bekerja tidak setiap hari. Dengan uang yang pas-pasan, makan sangat teratur; artinya pagi makan, siang belum tentu, atau sebaliknya lebih banyak puasa atau makan seadanya. Asupan makanan jauh dari bergizi karena sekadar mengisi perut. Akibatnya mereka kurang gizi, lemah, dan sakit-sakitan. Kalau sakit tidak punya uang, akhirnya banyak pula yang mati muda tanpa pernah menikmati senangnya kehidupan.
Ada puluhan juta orang miskin di negeri kita yang tercinta ini. Saudara kita yang kebetulan tidak mendapat kesempatan dan mendapatkan ujian dengan menjadi orang susah. Allah memang menciptakan manusia, ada yang kaya untuk membantu yang miskin, dan ada yang miskin agar orang kaya bersyukur serta tergerak hatinya untuk membantu.
Kemiskinan menjadi terstruktur jika suatu negara membiarkan korupsi merajalela. Uang negara yang diperuntukan bagi rakyat miskin agar mereka sejahtera malah dimakan oleh pejabat untuk menyejahterakan dirinya sendiri. Banyak anggaran dipersiapkan untuk membantu orang miskin yang berbentuk cash Bantuan Langsung Tunai (BLT). Ini cukup membantu jika langsung diterima oleh si miskin tanpa potongan. Pembagian beras miskin lewat lurah juga sangat membantu jika tidak dijual ke pihak yang tidak berhak dengan harga yang lebih tinggi demi mendapat keuntungan. Rakyat yang terkena bencana atau tinggal di daerah terpencil akan sangat terbantu jika dibangun akses jalan dan fasilitas penunjang. Ini dimaksudkan agar masyarakat mampu mandiri dan menjual hasli buminya. Sayangnya mutu jalan dan infrastruktur dikorupsi sehingga sering sekali jalan baru dibangun sudah rusak.
Kenapa ada manusia yang tega memakan manusia lainnya? Mereka memenuhi perut sendiri dan perut anak istrinya dengan uang haram? Mereka membuat diri mereka kaya, tapi membuat orang lain semakin miskin. Banyak contoh di mana pejabat yang meninjau daerah bencana malah merepotkan. Apalagi jika ia adalah orang penting dari pusat. Anggaran malah habis untuk mempersiapakan kedatangannya. Aparat lokal dipersiapkan untuk menyambutnya dan berebut cari muka. Pejabatnya pun mungkin akan marah jika yang menyambut kedatangannya hanya sedikit.
Belum lagi makanan yang akan dimakan si pejabat haruslah istimewa dan banyak. Apalagi kalau si pejabat membawa rombongan ajudan , istri, dan keluarganya. Kok menengok bencana malahan menjadi merepotkan? Bukankah sebaiknya berikan saja doa restu dan audit pengunaan anggaran untuk menuntaskan kemiskinan dan menanggulangi bencana dengan baik?
Saya saja yang bukan siapa-siapa pernah mengalami dijemput dan diantar oleh banyak orang pemda, yang sebenaranya menurut ukuran saya yang swasta, itu semua sangat mubazir. Sebagai orang swasta kedatangan kita ke daerah cukup dijemput sopir saja yang akan membawa kita ke tempat acara atau tempat bencana.
Untuk mendapatkan BLT, Raskin (Beras Miskin), Jamkesmin (Jaminan Kesehatan Miskin), semuanya harus dicap miskin. Ada pengantar dari kelurahan untuk menyatakan bahwa kita miskin. Kalau perlu diberi seragam atau cap yang membedakan kasta kita adalah kasta miskin proletar yang berhak dapat bantuan. Di kelurahan sendiri juga rawan korupsi. Banyak kartu miskin malah diberikan kepada mereka yang tidak miskin. Apakah mereka ini sudah sedemikian rusak mentalnya dan tidak punya harga diri sehingga tidak malu mengaku miskin agar dapat bantuan dari pemerintah?
Kalau untuk mendapatkan BLT sontak pejabat desa, kecamatan, dan kabupaten berlomba-lomba mendata sebanyak mungkin warganya yang miskin. Bahkan, banyak data yang fiktif, ada data tapi orangnya sudah meninggal. Tapi, jika untuk laporan kemajuan desa, data yang dikeluarkan lain lagi. Pokoknya yang menggambarkan baagimana hebatnya aparat birokrat mengelola daerahnya. Dengan data dan laporan yang bagus, akan keluar lagi kucuran dana untuk program lainnya. Rakyat masih dijadikan alat untuk kepentingan para birokrat, belum diperlakukan dengan benar untuk mengangkat derajatnya agar mereka sejahtera.
Kalau rakyat masih mau dijadikan komoditas politik kepentingan para penguasa, dan mau dijadikan objek kemiskinan, mereka akan berkubang dalam lumpur kemiskinan. Cara berpikirnya adalah miskin, meminta-minta, dan mengggantungkan hidupnya pada orang lain. Jika birokrat masih menjadikan rakyat hanya sebagai alat untuk mendapatkan tambahan anggaran yang peruntukannya tidak sesuai dengan alokasi anggaran, akan terciptalah mental penguasa yang bobrok. Mereka miskin kasih sayang, miskin moral, dan miskin belas kasihan kepada`rakyat yang seharusnya mereka lindungi.
Kita harus memerangi keadaan seperti ini agar jangan sampai orang miskin tetap miskin. Orang miskin hanya dianggap sebagai angka; yang semakin besar jumlahnya semakin banyak bantuan yang diberikan. Sudah saatnya kita semua memperjuangkan suatu negara yang makmur, merdeka, sejahtera, di mana rakyatnya mempunyai harga diri dan semangat untuk mandiri. Masyarakat yang malu untuk meminta-minta dan berjuang untuk hidup secara bermartabat.
Sedih rasanya dalam bulan puasa misalnya, kita melihat bagaimana rakyat miskin yang memang biasa tidak makan malahan tidak puasa. Mereka di bulan suci tersebut malah berjejer di jalan, lengkap dengan anak-istri, bahkan membawa bayi sambil menadahkan tangannya. Manusia gerobak semakin hari semakin banyak saja berjejer di pinggir-pinggir jalan besar. Rasanya mustahil jika tidak ada yang mengorganisir. Begitu banyak gerobak itu mungkin ada juragan gerobak yang mengambil keuntungan dengan menyewakannya.
sOrang miskin mungkin menjadi putus asa dan tidak percaya lagi kepada Allah. Mereka mencari kasih sayang Allah sepanjang hidupnya, namun belum menemukannya dalam bentuk kesejahteraan. Rawan sekali jika kita membiarkan saudara kita tersebut semakin banyak saja yang bertambah miskin. Mereka nantinya bukan saja miskin harta, tapi juga miskin iman. Bisa tidak percaya lagi kepada kasih sayang Allah.
Bahkan, dikhawatirkan—demi mengejar kebutuhan perut—mereka akan terperosok ke dalam perbuatan yang tidak bermartabat, seperti minta-minta dan bahkan berbuat kriminal. Bayangkan jika begitu banyak saudara kita yang miskin, ini juga akan membahayakan kita yang dianggap mampu tapi tidak mau membantu. Kemungkinan ada kecemburuan sosial dan kalau ada kejadian yang tidak diinginkan mereka akan gelap mata.
Jadi, jangan berbahagia apalagi tidak peduli terhadap orang miskin. Kita harus membantu mereka.[iy]
* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourcing. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida baru saja meluncurkan dua buku terbarunya yaitu Merancang Perjanjian Kerja Outsourcing (PPM, 2009) dan Perempuan Makan Perempuan (Kosmis, 2009). Ia dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.
Oleh: Iftida Yasar*
Oleh: Iftida Yasar*



Oleh: Iftida Yasar*
Oleh: Iftida Yasar*
Judul: Perempuan Makan Perempuan
