Cinta Seorang Penjambret Kecil
Editor | Kolom Lepas | July 21st, 2009 | 2 Comments »
Oleh: Ida Rosdiana Natapermadi*
Seorang pria, sekitar usia 50 tahunan, siang itu memasuki sebuah apotik. Ia membayar sejumlah harga obat dari resep yang ia sodorkan kepada penjaga apotik, lalu duduk menunggu racikan semua obat pesanannya.
Tas plastik putih penuh obat yang bertuliskan “Semoga Lekas Sembuh” itu dijinjingnya, dan pria paruh baya itu keluar menuju ke mobil mewah miliknya yang diparkir di pelataran apotik. Obat yang baru ditebusnya itu diperuntukkan bagi istrinya yang sedang sakit flu dan batuk di rumah.
Ketika baru keluar dari pintu apotik, tiba-tiba ada yang merampas tas obat yang sedang dijinjingnya itu. “Hei, berhenti!” hardiknya dengan keras kepada seseorang yang menjambret tas obatnya.
Sesaat dia melihat sosok yang berkelebat di hadapannya, maka sekali lagi ia berteriak “Hei, kamu! Berhenti…!” Lebih keras dari teriakan pertama. Namun, sudah tentu si penjambret malah kabur melarikan diri. Di sekitar apotik saat itu sedang sepi, tidak ada orang lain selain dirinya dan si penjambret yang sudah kabur itu.
Pria paruh baya mengejar si penjambret yang ia sendiri tidak tahu seperti apa wajahnya. Matanya mencari-cari, dan tiba-tiba ia melihat seseorang sedang menjinjing tas plastik putih. “Ah, itu dia…!” pikirnya, lalu ia berlari mengejar sampai ke tempat sosok penjambret itu berada. Tetapi, si penjambret telah menghilang lagi.
Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, matanya terus mencari-cari. Menyapu setiap tempat. Tiba-tiba dia melihat ke satu tempat di mana banyak becak sedang mangkal di sana. Dia yakin si penjambret tadi lari ke arah pangkalan becak itu. Lalu, pria paruh baya itu berlari kecil menyeberang jalan, mengikuti kata hatinya.
Jalanan yang dia lalui semakin jauh dari apotik tempat dia memarkirkan mobilnya, tetapi dia terus mencari si penjambret itu. Akhirnya, dia keheranan mengapa orang itu menjambret tas plastik berisi obat miliknya. Dia bertanya sendiri dalam hati.
Kemeja yang dikenakannya mulai basah oleh keringat karena berlari-lari di siang bolong. Dia sudah mulai menyerah. “Dia pikir aku menaruh dompetku di tas itu? Rasain, makan tuh obat!” pria paruh baya itu menggerutu sendirian. Saat dia akan berbalik pulang, di kejauhan dia melihat ada orang yang menjinjing tas plastik obat miliknya.
Dia mengurungkan niatnya untuk pulang, dia mengejar penjambret itu lagi. Kini jarak antara dia dan si penjambret kira-kira 500 meteran saja. Tiba-tiba, pria paruh baya itu berhenti berlari, dia tertegun sesaat, dan akhirnya berjalan biasa.
Berdegup hati si pria paruh baya melihat sosok si penjambret. Seorang anak kecil kira-kira berumur 10 tahunan, berjalan agak terseret-seret karena kaki sebelah kirinya pincang, badannya kurus, hitam, dan pakaiannya compang-camping.
Sekarang dia ada di belakang si penjambret tas obat itu. Hanya tinggal beberapa meter saja jarak antara mereka berdua. Penjambret yang berada di hadapannya pun semakin lambat jalannya sambil beberapa kali menengok ke belakang dengan wajah ketakutan.
Anak itu terus berjalan dengan sesekali menengok ke arah pria paruh baya di belakangnya. Kini jarak mereka sudah sangat dekat sekali, karena meskipun pria paruh baya itu jalan perlahan, tetapi si anak kecil penjambret itu lebih pelan lagi jalannya. Sebab, kaki kirinya yang sangat kecil dan lumpuh itu menahan langkahnya. Anak itu terlihat sangat kelelahan.
Si pria paruh baya coba berbicara kepada anak compang-camping di depannya “Hei, kita tukaran yuk, kembalikan tas plastik itu pada saya, dan saya akan memberi kamu uang…?!”
Anak itu tidak menjawab, malah wajahnya terlihat lebih pucat, dengan terseok-seok dia berusaha mempercepat langkahnya sambil terus memeluk erat-erat tas obat curiannya.
“Itu cuma obat-obatan biasa, kamu tidak membutuhkannya, Nak…!” si pria terus membujuk anak itu agar menyerahkan tas obat miliknya. Anak compang-camping itu terus berjalan ke depan dan tidak menengok-nengok lagi ke belakang. Sepertinya dia sudah pasrah bila akhirnya tertangkap oleh pria di belakangnya.
Sekarang jalan yang mereka lalui semakin sempit dan sepi. Mulai terlihat bedeng-bedeng kumuh di sekitarnya. Pria paruh baya menutup hidung dan sebagian wajahnya karena bau busuk sampah menyengat hidungnya, dan lalat beterbangan ke sana ke mari. Dia memutuskan untuk tidak bicara lagi.
Tiba-tiba si anak berhenti di salah satu bedeng yang penuh dengan tambalan kardus-kardus. Sebelum masuk anak itu menengok ke pria paruh baya. Tatapan mata anak itu seakan memberitahu bahwa mereka sudah sampai di rumahnya.
Pria paruh baya tertegun dan ragu sejenak, apakah akan ikut masuk ke dalam bedeng reyot itu, atau tetap berdiri di luar saja. Tetapi, rasa penasaran dan tatapan mata anak itu membawa kakinya melangkah masuk. Dengan menundukkan kepala, pria itu masuk ke dalam bedeng reyot menyusul si anak yang membawa tas obatnya.
Alangkah terkejut si pria paruh baya itu…. Perih hatinya melihat pemandangan di hadapannya. Si anak sedang membuka botol obat batuk dari plastik obat miliknya dan meminumkan isinya kepada seorang perempuan tua yang terbaring di sebuah dipan tanpa kasur.
Perempuan tua itu masih terbatuk-batuk meski telah menelan satu sendok obat batuk. Dan, si anak mengelus-elus punggungnya dengan kasih sayang, seakan ingin meredakan batuk si wanita tua yang tak kunjung berhenti.
Pria paruh baya sangat terharu melihat pemandangan yang menyedihkan hatinya itu. Hatinya bagai teriris sembilu. Lalu, dia duduk di dipan reyot milik si anak dan perempuan tua yang sakit itu. Dia bertanya kepada si anak dengan suara yang dipaksakan keluar, “Dia ibumu, Nak?”
Si anak lelaki kecil itu menundukkan kepalanya, dan mengangguk perlahan.
“Siapa namamu, Nak?” si pria paruh baya itu bertanya lagi.
Tetapi, si anak tetap tidak menjawab.
“Nama dia, Bayu…Tuan, dia ketakutan melihat Tuan, karena orang seperti Tuan sering kali menghardiknya,” dengan suara terbata-bata perempuan tua yang ternyata ibu si anak kecil penjambret itu menjawab untuk anaknya.
Si pria paruh baya tidak lagi merasa berada di bedeng reyot, bahkan dia lupa bahwa dia sudah tidak lagi menutup hidungnya. Dia tidak lagi mencium bau sampah dan gangguan lalat di tubuhnya.
Dia hanya merasakan ada tetesan air hangat mengalir di kedua pipinya. Diraihnya tangan mungil si anak kecil itu dengan lembut, “Kamu mau sekolah, Nak?”
Si anak tetap diam dan menunduk.
Lalu, pria paruh baya itu bicara kepada ibunya, “Bu, jika Ibu berkenan, saya akan memindahkan Ibu dan Bayu ke tempat yang lebih baik. Dan, saya akan menyekolahkan Bayu, namun terlebih dulu saya akan membawa Ibu ke dokter…?”
Bayu mengangkat kepalanya perlahan, tanpa sadar dia menghambur ke dalam pelukan pria paruh baya yang tadi mengejar-ngejarnya.
Yah, begitulah, Tuhan mengetuk hati seseorang dengan berbagai cara. Pria paruh baya itu terketuk hatinya melihat cinta seorang anak kepada ibunya.[irn]
* Ida Rosdiana Natapermadi, lahir di Bandung pada tanggal 24 April 1960. Ibu yang senang membaca puisi dan menonton pertunjukan teater ini adalah seorang karyawati di salah satu perusahaan televisi swasta di Jakarta. Ibu dari satu orang anak ini tidak pernah mengira dirinya bisa menulis. Setelah disemangati oleh teman-teman penulisnya, ia kini mulai menulis. Ida dapat dihubungi di pos-el: aten_kck18[at]yahoo[dot]com.
Oleh: Ida Rosdiana Natapermadi*
Oleh: Ida Rosdiana Natapermadi*