Home » Posts tagged 'Ida Rosdiana Natapermadi'

Tag Archives: Ida Rosdiana Natapermadi

Cinta Seorang Penjambret Kecil

irn1Oleh: Ida Rosdiana Natapermadi*

Seorang pria, sekitar usia 50 tahunan, siang itu memasuki sebuah apotik. Ia membayar sejumlah harga obat dari resep yang ia sodorkan kepada penjaga apotik, lalu duduk menunggu racikan semua obat pesanannya.

Tas plastik putih penuh obat yang bertuliskan “Semoga Lekas Sembuh” itu dijinjingnya, dan pria paruh baya itu keluar menuju ke mobil mewah miliknya yang diparkir di pelataran apotik. Obat yang baru ditebusnya itu diperuntukkan bagi istrinya yang sedang sakit flu dan batuk di rumah.

Ketika baru keluar dari pintu apotik, tiba-tiba ada yang merampas tas obat yang sedang dijinjingnya itu. “Hei, berhenti!” hardiknya dengan keras kepada seseorang yang menjambret tas obatnya.

Sesaat dia melihat sosok yang berkelebat di hadapannya, maka sekali lagi ia berteriak “Hei, kamu! Berhenti!” Lebih keras dari teriakan pertama. Namun, sudah tentu si penjambret malah kabur melarikan diri. Di sekitar apotik saat itu sedang sepi, tidak ada orang lain selain dirinya dan si penjambret yang sudah kabur itu.

Pria paruh baya mengejar si penjambret yang ia sendiri tidak tahu seperti apa wajahnya. Matanya mencari-cari, dan tiba-tiba ia melihat seseorang sedang menjinjing tas plastik putih. Ah, itu dia…!” pikirnya, lalu ia berlari mengejar sampai ke tempat sosok penjambret itu berada. Tetapi, si penjambret telah menghilang lagi.

Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, matanya terus mencari-cari. Menyapu setiap tempat. Tiba-tiba dia melihat ke satu tempat di mana banyak becak sedang mangkal di sana. Dia yakin si penjambret tadi lari ke arah pangkalan becak itu. Lalu, pria paruh baya itu berlari kecil menyeberang jalan, mengikuti kata hatinya.

Jalanan yang dia lalui semakin jauh dari apotik tempat dia memarkirkan mobilnya, tetapi dia terus mencari si penjambret itu. Akhirnya, dia keheranan mengapa orang itu menjambret tas plastik berisi obat miliknya. Dia bertanya sendiri dalam hati.

Kemeja yang dikenakannya mulai basah oleh keringat karena berlari-lari di siang bolong. Dia sudah mulai menyerah. “Dia pikir aku menaruh dompetku di tas itu? Rasain, makan tuh obat!” pria paruh baya itu menggerutu sendirian. Saat dia akan berbalik pulang, di kejauhan dia melihat ada orang yang menjinjing tas plastik obat miliknya.

Dia mengurungkan niatnya untuk pulang, dia mengejar penjambret itu lagi. Kini jarak antara dia dan si penjambret kira-kira 500 meteran saja. Tiba-tiba, pria paruh baya itu berhenti berlari, dia tertegun sesaat, dan akhirnya berjalan biasa.

Berdegup hati si pria paruh baya melihat sosok si penjambret. Seorang anak kecil kira-kira berumur 10 tahunan, berjalan agak terseret-seret karena kaki sebelah kirinya pincang, badannya kurus, hitam, dan pakaiannya compang-camping.

Sekarang dia ada di belakang si penjambret tas obat itu. Hanya tinggal beberapa meter saja jarak antara mereka berdua. Penjambret yang berada di hadapannya pun semakin lambat jalannya sambil beberapa kali menengok ke belakang dengan wajah ketakutan.

Anak itu terus berjalan dengan sesekali menengok ke arah pria paruh baya di belakangnya. Kini jarak mereka sudah sangat dekat sekali, karena meskipun pria paruh baya itu jalan perlahan, tetapi si anak kecil penjambret itu lebih pelan lagi jalannya. Sebab, kaki kirinya yang sangat kecil dan lumpuh itu menahan langkahnya. Anak itu terlihat sangat kelelahan.

Si pria paruh baya coba berbicara kepada anak compang-camping di depannya “Hei, kita tukaran yuk, kembalikan tas plastik itu pada saya, dan saya akan memberi kamu uang…?!

Anak itu tidak menjawab, malah wajahnya terlihat lebih pucat, dengan terseok-seok dia berusaha mempercepat langkahnya sambil terus memeluk erat-erat tas obat curiannya.

“Itu cuma obat-obatan biasa, kamu tidak membutuhkannya, Nak…! si pria terus membujuk anak itu agar menyerahkan tas obat miliknya. Anak compang-camping itu terus berjalan ke depan dan tidak menengok-nengok lagi ke belakang. Sepertinya dia sudah pasrah bila akhirnya tertangkap oleh pria di belakangnya.

Sekarang jalan yang mereka lalui semakin sempit dan sepi. Mulai terlihat bedeng-bedeng kumuh di sekitarnya. Pria paruh baya menutup hidung dan sebagian wajahnya karena bau busuk sampah menyengat hidungnya, dan lalat beterbangan ke sana ke mari. Dia memutuskan untuk tidak bicara lagi.

Tiba-tiba si anak berhenti di salah satu bedeng yang penuh dengan tambalan kardus-kardus. Sebelum masuk anak itu menengok ke pria paruh baya. Tatapan mata anak itu seakan memberitahu bahwa mereka sudah sampai di rumahnya.

Pria paruh baya tertegun dan ragu sejenak, apakah akan ikut masuk ke dalam bedeng reyot itu, atau tetap berdiri di luar saja. Tetapi, rasa penasaran dan tatapan mata anak itu membawa kakinya melangkah masuk. Dengan menundukkan kepala, pria itu masuk ke dalam bedeng reyot menyusul si anak yang membawa tas obatnya.

Alangkah terkejut si pria paruh baya itu…. Perih hatinya melihat pemandangan di hadapannya. Si anak sedang membuka botol obat batuk dari plastik obat miliknya dan meminumkan isinya kepada seorang perempuan tua yang terbaring di sebuah dipan tanpa kasur.

Perempuan tua itu masih terbatuk-batuk meski telah menelan satu sendok obat batuk. Dan, si anak mengelus-elus punggungnya dengan kasih sayang, seakan ingin meredakan batuk si wanita tua yang tak kunjung berhenti.

Pria paruh baya sangat terharu melihat pemandangan yang menyedihkan hatinya itu. Hatinya bagai teriris sembilu. Lalu, dia duduk di dipan reyot milik si anak dan perempuan tua yang sakit itu. Dia bertanya kepada si anak dengan suara yang dipaksakan keluar, “Dia ibumu, Nak?”

Si anak lelaki kecil itu menundukkan kepalanya, dan mengangguk perlahan.

Siapa namamu, Nak?” si pria paruh baya itu bertanya lagi.

Tetapi, si anak tetap tidak menjawab.

“Nama dia, Bayu…Tuan, dia ketakutan melihat Tuan, karena orang seperti Tuan sering kali menghardiknya,dengan suara terbata-bata perempuan tua yang ternyata ibu si anak kecil penjambret itu menjawab untuk anaknya.

Si pria paruh baya tidak lagi merasa berada di bedeng reyot, bahkan dia lupa bahwa dia sudah tidak lagi menutup hidungnya. Dia tidak lagi mencium bau sampah dan gangguan lalat di tubuhnya.

Dia hanya merasakan ada tetesan air hangat mengalir di kedua pipinya. Diraihnya tangan mungil si anak kecil itu dengan lembut, “Kamu mau sekolah, Nak?

Si anak tetap diam dan menunduk.

Lalu, pria paruh baya itu bicara kepada ibunya, “Bu, jika Ibu berkenan, saya akan memindahkan Ibu dan Bayu ke tempat yang lebih baik. Dan, saya akan menyekolahkan Bayu, namun terlebih dulu saya akan membawa Ibu ke dokter…?

Bayu mengangkat kepalanya perlahan, tanpa sadar dia menghambur ke dalam pelukan pria paruh baya yang tadi mengejar-ngejarnya.

Yah, begitulah, Tuhan mengetuk hati seseorang dengan berbagai cara. Pria paruh baya itu terketuk hatinya melihat cinta seorang anak kepada ibunya.[irn]

* Ida Rosdiana Natapermadi, lahir di Bandung pada tanggal 24 April 1960. Ibu yang senang membaca puisi dan menonton pertunjukan teater ini adalah seorang karyawati di salah satu perusahaan televisi swasta di Jakarta. Ibu dari satu orang anak ini tidak pernah mengira dirinya bisa menulis. Setelah disemangati oleh teman-teman penulisnya, ia kini mulai menulis. Ida dapat dihubungi di pos-el: aten_kck18[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.5/10 (11 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +6 (from 6 votes)

“Beri Aku Waktu Satu Hari Saja”

irnOleh: Ida Rosdiana Natapermadi*

Malam itu, sekitar pukul delapan malam, telepon genggam saya berdering. Seperti biasa sebelum saya jawab selalu saya lihat dulu siapa yang menelepon. Segera saya tekan tombol jawab dan terdengar suara kakak ipar saya di seberang. Sepintas saya bingung, “Mas Yo menelepon aku? Dalam hitungan detik suara Mas Yo yang terbata-bata dan gemetar menyadarkan saya bahwa ada yang tidak beres! “Dik, Ibu gawat, harus dibawa ke rumah sakit lagi. Cepat datang sekarang…!Dengan perasaan panik saya jawab bahwa saya akan langsung ke rumah Ibu dan meminta Mas Yo dan kakak perempuan saya membawa Ibu ke RS Santo Carolus, tempat Ibu dirawat sebelumnya.

Saya langsung bergegas memberitahu suami dan anak saya untuk ikut ke rumah Ibu di Matraman, Jakarta Timur. Entah mengapa saya tidak memikirkan kemungkinan Ibu sudah di bawa ke rumah sakit saat saya tiba di Matraman nanti.

Ada firasat buruk yang saya rasakan saat mobil kami meninggalkan rumah. Di sepanjang perjalanan kami bertiga tidak saling bicara, entah mengapa. Seperti ada yang mengomandoi kami untuk diam, sunyi. Bahkan, telepon genggam anak saya yang biasanya selalu berdering setiap sepuluh menit itu ikut diam. Atau, mungkin telah sengaja diatur ke nada silent oleh anak saya…. Hanya bunyi mesin mobil dan suara desis AC yang terdengar.

Malam itu saya merasakan AC mobil begitu dingin sehingga tubuh saya sampai menggigil kedinginan. Saya memutar tombol pengatur temperatur AC agar lebih hangat. Anak saya tidak memprotes saya seperti biasanya. Dia seakan membiarkan apa pun yang ingin saya lakukan saat itu. Atau, dia juga sedang dalam alam pikirannya sendiri.

Di perjalanan, saya coba menelepon Mas Yo, tetapi tidak dijawab. Saya coba menelepon kakak perempuan saya, Mbak Wiwin dan Mbak Henny, tidak ada jawaban juga.

Lalu, saya kembali diam, tidak berusaha menelepon siapa-siapa lagi. Bahkan, saya tidak ingin menerima telepon dari siapa pun untuk menerima kabar tentang hal yang sudah saya ketahui. Tubuh saya terasa lemas dan ingin sekali tidur. “Duh, ini pasti ada yang tidak beres....” pikir saya. Beberapa kali saya pernah mengalami hal yang tidak beres dalam hidup saya, tubuh saya bereaksinya persis seperti ini.

Saya sandarkan tubuh ke kursi mobil, saya pejamkan mata…. Saya menarik napas dalam-dalam…. Wajah itu… ya, wajah yang begitu saya kenal. Kulit putihnya, hidung bangir-nya, mata beningnya dengan bola mata yang agak kecoklatan. Warna rambutnya pun dulu agak kecoklatan sewaktu muda, panjang dan tebal karena sering diminyaki dengan minyak kemiri. Walaupun rambut itu kini sudah memutih, namun Ibu tetap cantik di usia tuanya.

Banyak orang mengatakan saya mirip Ibu saya. Saya tersipu malu jika ada orang mengatakan begitu di depan Ibu. Saya merasa tersanjung, dan saat saya melirik Ibu untuk meminta persetujuannya atas pujian itu, saya lihat Ibu tersenyum bangga. Saya anggap beliau setuju.

Saya anak perempuan terkecil dan anak kesepuluh dari tiga belas anak Ibu-Bapak saya. Heran? Saya juga heran, kok bisa ya wanita langsing itu melahirkan tiga belas anak dari perutnya. Apalagi di antara ketiga belas anak-anak itu ada yang kembar.

Ibu melahirkan anak pertama di usia 20 tahun dan melahirkan anak ketiga belas di usia 41 tahun. Betapa kuat fisiknya dalam waktu 20 tahun melahirkan 13 orang anak.

“Ma, udah sampai,” suara suami saya membuyarkan lamunan. Saya membuka mata dan mobil kami sudah menepi di pinggir jalan di depan rumah Ibu saya. Saya dan anak saya masuk ke pekarangan rumah Ibu. Kali ini rumah Ibu berbeda dari biasanya. Tetangga kiri kanan Ibu berdatangan, dan sayup-sayup saya mendengar suara orang membaca surat Yasin di antara isak tangis.

Saya masuk ke dalam rumah, saudara-saudara saya menyambut dengan pelukan dan isak tangis. Saya diam tenang dan membisu seribu bahasa. Saya tidak mengerti ke mana emosi saya yang selama ini mudah meledak. Ke mana air mata yang biasanya cepat menggenang di pelupuk mata? mengapa saya begitu tenang menghadapi kematian Ibu? Semua tidak terjawab malam itu.

Saya mendekati Ibu yang sedang tidur di pembaringannya. Hampir sama seperti biasanya jika beliau sedang tidur, yang membedakannya kali ini adalah Ibu tidur dengan posisi telentang. Posisi tidur Ibu biasanya memiringkan badan ke kiri atau ke kanan, sama seperti kebiasaan tidur saya, memeluk guling ke kiri atau ke kanan. Satu hal lagi yang lain dengan tidur Ibu kali itu, wajah Ibu ditutupi selendang putih tipis miliknya.

Perlahan saya buka selendang tipis penutup wajah itu…. Hmm… bau vernis lemari pakaian di selendang itu tercium oleh hidung saya. Saya ingat selendang ini pernah diperlihatkannya pada saya dulu, ya… dulu sekali. “Id, lihat ini bagus, kan? Ini Ibu beli murah lho di pasar Jatinegara. Coba pegang, bahannya halus, kan?” kata Ibu sambil menyodorkan selendang itu pada saya untuk disentuh. “Kata si abang penjualnya, ini buatan China. Ibu beli satu yang putih ini, barang kali suatu hari diperlukan.

Saya pandangi wajah cantik wanita tua yang melahirkan saya ini.Ahh...,” saya mendesah dalam sampai ke ulu hati, dan perlahan saya bergumam “Innalillahi wa innaillahi rojiun.Lalu saya cium kening putihnya yang masih hangat itu, lama… lamaaaa…sekali.

Mbak Henny mendekati sambil memegang pundak saya dan berbisik,Menangislah kalau mau nangis…. Jangan dipendam begitu, Mbak enggak sanggup melihat kamu seperti ini.

Saya tengok mata Mbak Henny yang sembab. Saya perhatikan wajah-wajah saudara saya lainnya di ruang itu, wajah yang kuyu dan lelah karena menangis. Mereka sangat sedih dengan kepergian Ibu. Anak saya juga menangis sambil memegangi ujung kaki jenazah neneknya. Suami saya terisak perlahan berdiri agak jauh dari saya, sepertinya dia sengaja memberi saya ruang untuk bersama Ibu.

Mereka mengira saya menahan tangis dan sengaja memendam kesedihan. Mereka pikir saya berusaha kuat dan tegar ditinggal Ibu. Duh, mereka salah, salah sekali! Sebenarnya, saya ingin berlari sambil menjerit memanggil Ibu. Saya ingin berteriak sekeras-kerasnya agar Ibu terbangun dari tidurnya dan memarahi saya. Tetapi, entah ke mana hilangnya kekuatan itu. Sekali lagi, saya diam.

Perlahan saya tutup kembali wajah Ibu dengan kain putih tipis miliknya. Lalu, saya duduk bersimpuh di bawah tempat tidur kayu tempat Ibu bersemayam. Dalam diam terus-menerus saya membaca surat Al-Fathihah. Saya menunduk dan sesekali mengangkat kepala melihat Ibu. Ada sedikit harap agar Ibu bergerak, meminta saya mengambilkan air putih, atau mengantarnya ke kamar mandi seperti beberapa hari lalu ketika masih sakit. Namun, cepat saya tepiskan harapan itu.

Kakak laki-laki tertua saya, Mas No berada di samping saya. Mas No adalah anak tertua Ibu dan merupakan anak kesayangan beliau. Kami semua tahu itu. Bukan rahasia lagi bahwa di akhir hidupnya Ibu hanya memikirkan Mas No yang keadaan ekonomi dan rumah tangganya memprihatinkan. Selama Ibu sakit, Mas No lah yang selalu disebut-sebut namanya.

Mas No juga bersimpuh di sebelah kanan saya. Dia terus mengumandangkan surat Yasin untuk Ibu. Saat selesai membacakan ayat terakhir, saya mengingatkannya untuk membaca surat Ar-Rahman saja, karena pada saya saat saya membesuknya di rumah sakit, Ibu pernah berpesan, Bacakan surat Ar-Rahman jika Ibu meninggal dunia kelak, jangan bacakan surat Yasin.” Saya mengangguk tanda setuju. Ibu lalu menjelaskan alasannya, bahwa surat Ar-Rahman menceritakan tentang kehidupan di surga setelah kematian di dunia.

Setelah mengingatkan Mas No, saya terdiam kembali sambil, terus mendengarkan alunan merdu suara Mas No membaca surat Ar-Rahman. Dan, kami pun bergantian membacakannya untuk Ibu.

Hari semakin malam, saya melihat jam di dinding menunjuk ke pukul 11: 20 wib. Hampir pagi dan saya mulai merasa kedinginan lagi di sekujur tubuh saya. Ibu pernah mengingatkan saya, bahwa angin malam tidak baik bagi tubuh kita karena itu adalah angin laut yang bertiup ke darat. “Masuklah Id, jangan mengobrol terus di teras. Angin malam tidak bagus untuk kesehatan tubuh kita…. Atau, pakailah ini….Katanya sambil menyampirkan baju hangat miliknya ke pundak saya. Begitu Ibu mengingatkan ketika saya bermalam di rumah Ibu dan mengobrol ngalor-ngidul bersama kakak-kakak saya sampai pagi.

Dingin yang saya rasakan malam itu lebih dingin dari dinginnya malam-malam yang lain. Rasa dinginnya sampai menembus tulang. Aaaahhh…. saya menggigil lagi.

Saya beranjak mencari tempat duduk yang lebih hangat. Saya melihat beberapa orang ada yang mulai tertidur di kursi, sebagian orang masih ada yang mengobrol bisik-bisik. Bau bakaran kemenyan begitu menusuk hidung saya dan membuat badan ini tambah menggigil di hari menjelang tengah malam itu. Sebenarnya, saya tidak suka dengan tradisi bakar kemenyan di hari kematian seseorang, dan saya tahu Ibu juga tidak menyukai hal itu. Tetapi apa boleh buat, tetangga-tetangga yang membantu kami menyarankan demikian.

Tiba-tiba Herry, adik laki-laki saya mengulurkan secangkir teh hangat, “Ini Mbak, minum dulu teh manis hangat. Manisnya dari madu, kok…. Saya terima cangkir teh itu dan setelah saya teguk dua-tiga kali isinya, saya letakkan cangkir bersama cangkir-cangkir teh lainnya di atas meja kecil di samping kiri saya. Ini adalah cangkir kelima yang saya letakkan di sana dengan teh yang masih terisi separuhnya. “Habiskan dulu Mbak tehnya. Dari kemarin sore kok cuma minum satu-dua teguk….Kata Herry seraya duduk di kursi samping di sebelah kanan saya.

Ini pastel buatan Imas, kesukaan Mbak. Makan satu, ya… pleaaaase….” katanya lagi seraya menyodorkan pastel buatan isterinya yang sangat saya gemari itu.Tadi Mas Win izin pulang dulu mau mengambil pakaian Mbak dan Celina, dan segera akan kembali lagi…” lanjutnya.

Sambil menggigit ujung pastel dan mengunyahnya dengan enggan, saya mendengar Herry terus bicara. Tetapi sesungguhnya saya tidak paham dengan isi pembicaraan adik saya itu, karena benak saya sedang bicara juga. Saya bicara dengan diri saya sendiri.

Seandainya, ya… seandainya suatu keajaiban terjadi pada saya malam itu, seandainya Tuhan datang pada saya dan berkata, “Aku Tuhanmu, Aku Kuasa atas segala sesuatunya, dan Aku akan mengabulkan satu permintaanmu, maka mintalah kepada-Ku saat ini, apa saja, maka Aku akan mengabulkannya….”

Lalu, saya akan bersimpuh, “Tuhan, aku hanya minta waktu satu hari saja bersama Ibuku.

Dan, Tuhan pun menjawab, “Baik… Itu permintaan sederhana, namun sebelum Aku mengabulkannya, beri tahu Aku apa alasannya dan apa yang akan kau lakukan dengan waktu satu hari bersama Ibumu?”

“Tuhan, Engkau pasti sedang mengujiku. Kau Mahamengetahui, tetapi baiklah jika Tuhan ingin mendengar langsung dariku.Pertama, aku akan meyakinkan Ibu, bahwa Mas No akan baik-baik saja sepeninggal Ibu. Kedua, aku akan mengajak Ibu jalan-jalan ke Bandung. Ketiga, aku juga akan mengajak Ibu menemui familinya di Cempaka Putih. Keempat, aku akan mengajak Ibu makan di restoran sunda kegemarannya yang enak dan nyaman. Dan, kelima… kelima… aku akan meminta maaf pada Ibu karena….

Lamunan saya buyar, terhenti oleh suara saya yang saya dengar sendiri. Tubuh saya terguncang-guncang, air mata bercucuran. Saya menangis pilu…. Herry mendekap saya dan berkata lembut,Ya Mbak, menangislah… menangislah… menangislah sepuasnya Mbakku sayang.…”

Saya melepaskan diri dari dekapan sayang adik saya dan berlari menghambur ke jenazah Ibu. Saya bersimpuh di bawah tempat tidur kayu yang tidak beralaskan kasur itu. Saya berusaha mengeluarkan suara di hadapan jenazah Ibu yang sudah mulai dingin dan kaku. Sambil sesunggukan saya berusaha sekuat tenaga untuk bicara, “Maafkan aku Bu, maafkan aku… Maaf karena tidak bisa memenuhi semua permintaan terakhir Ibu…. Aku tidak mengindahkan semua permintaan terakhir Ibu. Ibu begitu ingin bersamaku di akhir hidup Ibu. Ibu hanya ingin aku menyisihkan waktuku sebentar untuk Ibu. Maaf Ibu... Maaf….”

Permintaan maaf itu terus terucap dari bibir saya sampai urugan tanah kubur terakhir. Sampai semua orang meninggalkan tanah pekuburan yang sunyi itu, kecuali saya.Bahkan, sampai saya menuliskan huruf-huruf terakhir saya di sini. “Maafkan aku Bu….”[irn]

(Jakarta, 21 Mei 2009: Tulisan ini saya persembahkan kepada seluruh anak manusia di dunia, “Berilah sebagian besar waktumu untuk kedua orang tuamu jika mereka masih ada. Insya Allah, kau tidak akan pernah menyesal….”)

* Ida Rosdiana Natapermadi, lahir di Bandung pada tanggal 24 April 1960. Ibu yang senang membaca puisi dan menonton pertunjukan teater ini adalah seorang karyawati di salah satu perusahaan televisi swasta di Jakarta. Ibu dari satu orang anak ini tidak pernah mengira dirinya bisa menulis. Setelah disemangati oleh teman-teman penulisnya, ia kini mulai menulis. Ida dapat dihubungi di pos-el: aten_kck18[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.5/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Para Pejuang Kehidupan

irn1Oleh: Ida Rosdiana Natapermadi*

Sore itu, ketika saya dari kantor hendak menuju ke Plaza Senayan, Jakarta, saya harus melalui Jalan Raya Lapangan Sepak Bola, Kebon Jeruk. Hampir semua orang yang rutin melewati jalan itu tahu bahwa jalan yang menuju ke arah Jalan Panjang Kelapa Dua itu sangat padat. Dan, antrian mobil di lampu lalu lintas di sana sangat lama, terutama pada jam-jam kerja.

Ketika saya sedang mengantri di lampu lalu lintas itu, pandangan saya tertuju kepada seorang ibu penjual koran yang berada di ujung jalan dekat tiang lampu lalu lintas. Saya sering melihatnya di sana menawar-nawarkan korannya ke mobil yang antri. Perhatian saya tertarik kepadanya karena si ibu penjual koran itu selalu menggendong anak di punggungnya.

Menurut perkiraan saya usia ibu itu sekitar tiga puluh tahunan. Dan, ketika ia sampai ke mobil saya yang mengantri, seperti biasa dia tersenyum seraya menunjuk koran-koran bawaannya, mengisyaratkan kalau-kalau saya mau membeli. Sebenarnya, saya tidak membutuhkan korannya. Tetapi, karena kasihan saya membuka jendela dan membeli korannya.

Umur berapa anaknya, Bu?” saya bertanya sambil menyerahkan uang lima puluh ribuan.

Mungkin hampir dua tahun, Non,” jawab si ibu penjual koran itu.

Kenapa tidak ditinggal saja di rumah, kan polusi knalpot beracun, Bu? Berbahaya untuk kesehatan anak ibu,” saya menasihati.

Di rumah enggak ada yang jaga, Non. Bapaknya kerja jadi kuli bangunan, sedangkan kedua kakaknya sekolah dan terus jualan koran juga seperti saya,jawabnya lagi sambil terus tersenyum.

Manis juga senyum ibu penjual koran ini, kata saya dalam hati. Lalu, saya bertanya lagi, “Memangnya ini anak keberapa, Bu?“

Si ibu penjual koran menjawab, “Ini anak ketiga, Non....”

Saya kaget juga, si ibu itu sudah punya anak tiga. “Waduh, banyak juga anaknya ya, Bu!

Si ibu penjual koran itu menjawab perlahan, “Sebenarnya anak kandung saya cuma satu orang Non. Sudah kelas 2 SMP, perempuan. Sedangkan yang dua lainnya adalah anak angkat, salah satunya ya ini.” Si ibu menolehkan kepalanya ke belakang sesaat, dan sambil tersenyum ia menyerahkan uang kembalian koran kepada saya.

“Kenapa ibu mengangkat anak? tanya saya lagi. Mobil maju perlahan saat lampu lalu lintas hijau, dan kemudian berhenti lagi saat lampu lalu lintas merah kembali. Si ibu penjual koran kembali mendekati mobil saya.

“Saya kasihan Non sama anak-anak terlantar ini. sambil wajahnya menengok anak yang berada di gendongannya. Sementara, anak usia dua tahunan yang digendongnya itu, hanya kelihatan kepalanya saja yang menyembul keluar dari kain panjang yang menggendongnya.

Di mana Ibu bertemu anak-anak angkat Ibu? saya sungguh ingin tahu.

“Kakaknya saya temukan ketika sedang mengais-ngais sampah di dekat rumah petakan saya. Setelah saya kasih makan, saya suruh mandi, eeh anak itu malah gak mau pergi, Non… Ya, sudah. Sampai sekarang di rumah saya dan sudah sekolah kelas 5 SD, Non…”

Si ibu terdiam sejenak. Terlihat wajahnya berseri-seri saat menceritakan tentang anak-anaknya. Lalu, ia melanjutkan, “Si kecil ini saya temukan ketika saya dan suami kembali pulang dari kampung, di gerbong kereta api yang sudah kosong. Saat itu sudah tengah malam, tiba-tiba saya dan suami mendengar suara anak kecil menangis….“ Ibu itu terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Ya, anak ini yang sedang duduk sendirian sambil menangis.

Duuh,” seru saya dalam hati saya. “Terus, Bu…?“ tanya saya penasaran.

“Terus saya gendong dan saya bawa ke masinis di lokomotif. Saya bilang ada yang meninggalkan anak di kereta, tetapi Pak Masinis gak peduli, malah menyuruh saya membawanya pulang,” kata ibu itu.

“Orang tuanya gak nyariin, Bu? saya tambah ingin tahu.

Si ibu menghela napas sejenak, lalu melanjutkan, “Saya dan suami nunggu sampai sore di stasiun. Tetapi, gak ada orang yang cari anaknya, Non. Akhirnya, terpaksa saya bawa pulang deh, daripada diambil orang lain dan dijadikan pengemis!” demikian ibu penjual koran itu menceritakan kisah pertemuan dengan anak-anak angkatnya.

Tanpa terasa mobil saya sudah melaju meninggalkan lampu lalu lintas, dan meninggalkan si ibu penjual koran di belakang. Namun, kisah ksatria si ibu penjual koran terus terbawa dalam pikiran saya.

Ada ibu penjual koran. Sebelumnya, ada Ibu Santi yang bekerja di rumah saya sebagai pembantu rumah tangga. Ibu Santi adalah pembantu rumah tangga pulang hari, pagi sekali Ibu Santi datang ke rumah dan setelah pekerjaan rumah selesai dia pulang. Di rumah petakannya, dia dan suaminya yang bekerja sebagai tukang bakso keliling mengurus anak yang mereka angkat sedari bayi. Anak angkatnya dipanggil si Ade, sekarang sudah kelas 3 SMP. Si Ade diangkat anak oleh Ibu Santi dari seorang ibu hamil yang sama-sama mengontrak rumah petakan di perkampungan Bintaro. Waktu melahirkan si Ade, ibu kandungnya meninggal dunia. Sedangkan ayah si Ade tidak pernah diketahui keberadaannya sejak si Ade dalam kandungan.

Karena rasa kasihan dan iba pada si bayi, Ibu Santi meminta izin suaminya dan izin dari Pak RT untuk mengurus si bayi. Akhirnya, keluarga itu dengan ikhlas membesarkan si bayi piatu dari penghasilan mereka yang sangat pas-pasan.

Saya menghela napas panjang, dalam perjalanan menuju ke Plaza Senayan malam itu. Saya mendapat satu kesadaran baru, bahwa berbagi dengan sesama tidak harus dalam kelebihan. Ternyata, nun jauh di sana di rumah-rumah petakan kecil, banyak terdapat pejuang-pejuang Kehidupan. Saya bertanya kepada diri sendiri, “Harta yang sekarang aku kumpulkan, aku hitung-hitung, aku simpan, akhirnya akan aku bawa ke mana nanti?Semoga kisah kedua ibu pejuang kehidupan itu bisa menjadi renungan kita bersama.[irn]

* Ida Rosdiana Natapermadi, lahir di Bandung pada tanggal 24 April 1960. Ibu yang senang membaca puisi dan menonton pertunjukan teater ini adalah seorang karyawati di salah satu perusahaan televisi swasta di Jakarta. Ibu dari satu orang anak ini tidak pernah mengira dirinya bisa menulis. Setelah disemangati oleh teman-teman penulisnya, ia kini mulai menulis. Ida dapat dihubungi di pos-el: aten_kck18[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.2/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Sebuah Renungan: Tiket Perjalanan ke Masa Depan

Ida Rosdiana NatapermadiOleh: Ida Rosdiana Natapermadi*

Ada kisah menarik selagi saya duduk mengantri di ruang tunggu salah satu bank swasta di Jakarta. Seorang ibu paruh baya duduk di sebelah saya. Saya menoleh kepadanya dan tersenyum. Menabung, Bu…?” begitulah saya mengawali obrolan kami pagi itu.

Ehhmm… iya dan tidak Mbak…,jawabannya, membuat saya penasaran.

Maksud Ibu?”

Lalu, ibu itu meneruskan kata-katanya,Saya selalu menabung, tetapi uangnya selalu tidak terkumpul….

Wah, saya jadi tambah penasaran dengan penjelasan si ibu. Rupanya, ibu itu melihat keheranan di wajah saya. Lalu ia meneruskan, “Uang hasil menabung selama beberapa tahun ini selalu berpindah ke tangan orang lain. Niat semula menabung untuk pensiun hari tua saya, tetapi ternyata selalu saja ada yang lebih dulu membutuhkannya.

Ehmmm... selalu..? Maksud Ibu?” saya masih saja penasaran.

“Begini lho Mbak…,si ibu mulai menceritakan pengalamannya kepada saya dengan wajah ikhlas tanpa beban sedikit pun. Saya pun fokus mendengarkan.

Saya ibu dari satu orang anak, dan saya bekerja. Sedari muda saya membiasakan diri menabungkan sebagian uang penghasilan saya. Tentunya setelah dipotong kewajiban zakat sebagai seorang muslim,begitu ia menjelaskan. “Setelah beberapa tahun menabung dan uang terkumpul, mulanya adik laki-laki saya membutuhkan uang untuk membuka usaha kecil-kecilan, karena dia susah mencari kerja di kantor. Dengan sedikit berat hati, akhirnya saya berikan seluruh uang tabungan saya. Dan, saya mulai menabung lagi. Setelah beberapa tahun dan uang saya terkumpul lagi, tanpa diduga kakak laki-laki saya meminta bantuan saya untuk membiayai pendidikan anaknya ke perguruan tinggi. Tidak ada pilihan lain, saya pun meyerahkan uang tabungan saya kepadanya, dan saya mulai menabung lagi. Kembali uang terkumpul setelah beberapa tahun menabung. Eh... datang saudara saya yang lain meminta anaknya disekolahkan ke perguruan tinggi juga. Alhamdulillah saya pun memenuhinya….”

Ibu itu menghela napas, lalu meneruskan ceritanya, “Begitulah semua bermula, Mbak. Hingga tanpa saya sadari, setelah membantu kebutuhan saudara-saudara terdekat, saya mulai mencari-cari orang lain yang tidak mampu untuk saya sekolahkan.

“Oooh….” pikir saya, mengagumi kebaikan ibu itu. Begitu rupanya yang terjadi dalam hampir separuh usianya. Menabung, terkumpul, lalu dipindahkan ke tabungan orang lain yang memerlukannya. “Semuanya Ibu sekolahkan di perguruan tinggi, Bu?” saya bertanya sekedar ingin tahu.

“Oh tidak, Mbak. Saya tidak semampu itu, walaupun ingin sekali. Ada anak tukang kebun yang saya sekolahkan dari sekolah dasar hingga saat ini sedang saya daftarkan di SMK otomotif. Dia bilang ingin cepat kerja di perusahaan mobil agar dapat membantu keuangan keluarganya. Ada juga seorang pembantu rumah tangga lulusan sekolah dasar yang saya kursuskan menjahit. Dan, alhamdulillah sekarang dia bekerja di perusahaan garmen. Terus ada lho Mbak, anak tukang bangunan yang saya kursuskan komputer dan nasib baik membawanya ke negara Kuba. Sampai sekarang dia masih bekerja sebagai local staff kedutaan Indonesia di Kuba….”

Ibu itu begitu semangat menceritakan keberhasilan “anak-anaknya”. Saya semakin tertarik, ingin tahu lebih dalam lagi. “Ehmm… anak ibu sendiri kuliah di mana? Ibu suka membantu orang ya…. Apakah semua itu sepengetahuan suami Ibu?” tanya saya berturut-turut.

“Anak saya sudah di semester dua di sebuah universitas swasta yang cukup baik di Jakarta. Apa yang saya lakukan ini mendapat dukungan dari suami dan anak saya. Lagi pula sekalian memberi pendidikan kepada anak kami tentang hal berbagi kepada orang lain. Khususnya kepada orang tak mampu, jawabnya.

“Ibu baik, ya…,” kata saya memuji kebaikannya.

Aaah tidak…,” sanggahnya. “Saya hanya membelikan tiket perjalanan untuk mereka, dengan harapan mereka bisa sampai ke masa depan yang lebih baik dari sebelumnya.

Obrolan terhenti karena giliran si ibu masuk ke antrian pelayanan. Saya masih merenungkan kata-kata terakhir si ibu. “Membelikan tiket perjalanan…. Hmm… barangkali si ibu benar, uang yang kita tabung saat ini akan lebih berguna dan akan lebih besar artinya jika kita membelikan tiket perjalanan ke masa depan bagi mereka yang sangat membutuhkan.

Saya tercenung sambil memandangi buku tabungan saya. Perlahan saya membuka lembaran buku tabungan itu, di sana tercetak sederet angka-angka dengan jumlah uang yang lebih dari cukup untuk membelikan setidaknya satu buah tiket untuk satu orang anak tak mampu.

Sekarang keputusan ada pada diri saya. Sanggupkah saya memindahkan sebagian atau bahkan semua hasil tabungan saya untuk membelikan tiket perjalanan ke masa depan yang lebih baik bagi mereka yang membutuhkan? Tuhan punya cara sendiri untuk mengetuk hati umat-Nya. Melalui ibu itu, Tuhan mengetuk hati saya. Bagaimana dengan Anda?[irn]

* Ida Rosdiana Natapermadi, lahir di Bandung pada tanggal 24 April 1960. Ibu yang senang membaca puisi dan menonton pertunjukan teater drama ini adalah seorang karyawati di salah satu perusahaan televisi swasta di Jakarta. Ibu dari satu orang anak ini tidak pernah mengira dirinya bisa menulis. Setelah disemangati oleh teman-teman penulisnya dia kini mulai menulis. Ia dapat dihubungi di pos-el: aten_kck18[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.4/10 (7 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)