Menghilangkan Minder Itu Mudah!
Editor | Kolom Lepas | October 28th, 2009 | 3 Comments »
Oleh: Hartati Nurwijaya*
Seluruh mahluk hidup di dunia ini pasti punya masalah. Bukan hanya manusia saja, ciptaan Tuhan yang punya masalah, dan menghadapi berbagai hal serta kejadian di dunia ini. Semua hal ditakdirkan oleh Tuhan berpasangan; ada panas dan ada dingin, ada baik dan buruk, ada susah dan senang. Manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan alam jagat raya ini punya takdirnya masing-masing. Tumbuhan ada yang liar hidup di hutan dan tidak pernah disentuh oleh tangan jahil yang merusaknya. Ada hewan yang diburu dan diperjualbelikan, ada hewan yang disayang, dipelihara, bahkan dibelikan perhiasaan seharga jutaan dolar. Anjing peliharaan Paris Hilton misalnya, atau hewan kesayangan selebritis dunia yang hidupnya kaya raya dan serbamewah.
Siapa sih yang tidak ingin hidup serba senang, mewah, dan berkecukupan? Pasti semua orang menginginkan hal itu. Walau tidak dimungkiri ada banyak juga individu yang memilih hidup dengan menjadi pertapa, biarawan, dan sebagainya. Mereka meninggalkan kemewahan dunia. Di Yunani misalnya, banyak biarawan berasal dari anak-anak muda yang punya penghasilan bagus atau berasal dari latar belakang keluarga yang kaya raya. Mereka memilih hidup dan tinggal di monasteraki dan memberikan seluruh kekayaannya pada gereja.
Anda dan saya yang memilih hidup untuk tetap menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat. Kita menghadapi berbagai peristiwa yang membahagiakan, mengecewakan, dan membingungkan. Misalanya saja salah seorang pembaca www.andaluarbiasa.com mengirim email pada saya dan bertanya tentang bagaimana caranya mengatasi rintangan dalam pergaulan.
Email yang saya terima cukup panjang, berikut petikannya: “… jika saya tidak diberi kemampuan untuk membawakan diri dengan tepat seperti orang lain dalam pergaulan, lalu apa yang harus disyukuri di balik semua itu? Seperti pada contoh ketika saya tidak bisa membeli makanan-makanan yang enak seperti ayam goreng dan pizza. Akan tetapi, saya masih bisa bersyukur bahwa saya masih bisa kenyang (tidak lapar) dengan sekadar makan nasi dan lauk tempe tahu telur. Namun, bagaimana dengan masalah saya ini?”
Pertanyaan ini bukan hanya milik seorang saja. Pasti banyak pembaca yang mengalami hal yang sama. Saya sendiri sering merasakannya ketika dalam suatu pertemuan, dalam suatu pesta bertemu dengan orang-orang yang tidak saya kenal. Kemudian, saya dikenalkan dan berbincang dengan mereka. Namun, ada respon lawan bicara yang seolah-olah dia tidak ingin memperpanjang percakapan dengan saya.
Menyikapi kejadian tersebut, kalau saya boleh berpendapat; jangan dipikirkan! Jangan biarkan timbul pikiran negatif dalam otak Anda. Singkirkan perasaan bahwa dia sombong, enyahkan pikiran bahwa Anda tidak selevel dengannya. Intinya, tetap fokuskan pada jati diri Anda, tumbuhkan kepercayaan diri Anda dengan memikirkan bahwa Anda lebih baik dari dia. Anda bisa merasa lebih baik dalam beribadah, lebih baik dalam berhubungan dengan orang tua dan sanak keluarga Anda. Ingat kembali prestasi-prestasi yang pernah Anda capai selama ini.
Satu hal lagi yang perlu diingat, bahwa kita sebagai manusia selalu punya keinginan-keinginan. Namun, Tuhan memberikan lain dari harapan. Dalam kitab suci agama-agama yang ada, disebutkan bahwa apa yang kita anggap baik belum tentu baik bagi diri kita. Ada hikmah di setiap peristiwa yang mungkin Anda dan saya belum mengetahuinya.[hw]
* Hartati Nurwijaya (41), adalah seorang pemerhati masalah sosial kemasyarakatan dan politik. Ia telah menerbitkan buku Perkawinan Antarbangsa Love and Shock dan Hidangan Favorit Ala Mediterania , Bahaya Alkohol dan Cara Mengatasi Kecanduannya. Sejak 2003, alumnus Jurusan Sosiologi, Fisipol, UGM, Yogyakarta ini menetap di Yunani. Ia dapat dihubungi melalui email: tatia41[at]gmail[dot]com.
Oleh: Hartati Nurwijaya*
Oleh: Hartati Nurwijaya*
Oleh: Hartati Nurwijaya*
Oleh: Hartati Nurwijaya*
