Menjadi Pengundang Keajaiban Hidup

gnOleh: Guntur Novizal*

“Keajaiban itu lahir dari ibu yang bernama kesulitan dan ayah yang bernama upaya.”

~ Mario Teguh.

Hampir seluruh negara di dunia saat ini sedang dilanda krisis ekonomi global. Krisis yang bermula dari negara adikuasa Amerika Serikat telah merusak stabilitas ekonomi di hampir seluruh negara. Layaknya seperti virus, krisis ekonomi ini cepat menyebar ke seluruh belahan penjuru dunia. Indonesia pun tidak luput dari serangan ‘virus’ yang membahayakan ini. Bila ini tidak cepat diatasi, kondisi ini akan berpengaruh terhadap kesetabilan perekonomian kita. Pemerintah harus berupaya sekuat tenaga untuk bisa membendungnya. Paling tidak, derasnya laju hantaman krisis ekonomi global bisa ditahan agar dampaknya tidak semakin parah.

Dalam kondisi krisis, masyarakat lapisan bawah (wong cilik) akan menjadi pihak yang sangat terpukul apabila pemerintah gagal mengatasi kondisi ini. Carut marut yang selama ini mereka rasakan akan semakin bertambah pelik dengan datangnya krisis. Alih-alih bisa bisa keluar dari kemiskinan yang sudah dirasakan sejak lama, mereka justru makin terpuruk oleh keadaan.

Kondisi ekonomi di seluruh dunia memang sulit, tetapi mari kita coba dari sudut pandang yang bisa lebih mencerahkan. Coba kita sedikit flashback pada masa-masa di mana kita dihadapkan pada kesulitan. Tentu kita masih ingat betul krisis ekonomi yang menimpa pada negara kita di tahun 1998. Tetapi akhirnya, lambat laun kesulitan itu bisa diatasi, dan kita bisa beradaptasi serta akhirnya keluar dari kondisi sulit itu.

Begitu juga dalam kehidupan pribadi, kita pernah berkali-kali menghadapi kesulitan dan ujian dalam hidup. Tetapi, coba kita lihat sekarang, kita masih ada dan masih berdiri kokoh dalam melewati setiap kesulitan yang datang. Selama matahari hari masih terbit dari timur dan tenggelam dari barat, selama embun pagi masih menetes di pagi hari, dan selama raga ini masih bisa bernapas, kita masih mempunyai kesempatan untuk mengubah keadaan dengan semangat pantang menyerah, dan berusaha keluar dari kesulitan. Yakinlah, bahwa sesungguhnya setelah kesulitan pasti akan datang kemudahan. Mengutip ucapan Gede Prama,Ketika kita sedang dilanda kesedihan, percayalah bahwa di ruang tamu ada yang sedang menunggu, yaitu kebahagiaan.”

Sebetulnya, ketika kesulitan datang itu merupakan pertanda bahwa cara-cara yang kita gunakan sudah tidak tepat lagi. Karena, kalau apa yang kita lakukan benar, pasti kita tidak akan bertemu dengan kesulitan itu. Kita sebaiknya ikhlas dan sadar menerima bahwa setiap kesulitan adalah perintah agar kita menyegerakan pembaharuan diri. Bagi orang yang melihat bahwa setelah kesalahan akan datang hukuman, maka kesulitan yang datang akan dianggap sebagai sarana untuk menghukum dirinya. Dampaknya dia akan bersedih hati dan mengulangi kesalahannya. Tetapi, bagi orang yang menganggap setelah kesalahan akan datang hadiah dari disadarinya kesalahannya, maka dia akan memperbaiki dirinya dengan ikhlas.

Tuhan kadang menempatkan kita pada posisi yang sangat sulit, agar kita menyadari bahwa tidak ada yang sulit bagi Dia. Kita sering tidak berserah kepada-Nya sampai kita tidak memiliki apa-apa. Dalam kondisi sulit yang dialami hampir seluruh negara di dunia, yakinlah itu hanya masalah yang bersifat statistik, dan ketika kita berbicara statistik, maka hitungannya akan rata-rata. Tetapi, dalam kondisi sesulit apa pun, yakinlah bahwa rezeki itu bersifat pribadi. Apa pun kesulitan yang kita alami dalam masalah ekonomi, kita harus tetap bersemangat dan berpikir positif.

Jadi, di saat orang lain mengeluh, merintih, meratap, dan menyalahkan kepada banyak hal, ini kesempatan kita untuk berdoa dan berusaha dengan keras. Maka, hal itu akan menjadi pembeda kita dengan orang lain di hadapan Tuhan. Sehingga, dalam ekonomi yang sulit rezeki kita tetap pribadi dan berbeda dengan orang lain. Maka, perbaikilah hubungan pribadi kita agar kita semakin dekat dengan-Nya. Yakinlah bahwa ketika Tuhan berpihak pada kita, tidak ada yang tidak mungkin.

Karena Tuhan akan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, dan hanya dengan upaya maka kita akan bisa mengubah nasib. Maka, mulai dari sekarang berusahalah lebih keras lagi. Pantaskanlah diri kita untuk bisa mendapatkan apa yang pantas kita dapatkan dengan cara melakukan hal-hal yang sekarang kita anggap kecil dengan kesungguhan yang besar. Dalam kondisi sesulit apa pun, cobalah berdiri lebih gagah, duduk lebih tegak, mengangguklah lebih anggun, dan tersenyumlah lebih ramah. Kalau kita memilih menjadi pribadi yang pantas mendapatkan keajaiban, bukan hanya keajaiban itu yang akan datang pada kita. Tetapi, kita akan menjadi pengundang keajaiban bagi diri dan lingkungan kita. Bila kita percaya maka kita akan melihatnya.[gn]

* Guntur Novizal lahir di Brebes pada 11 Noverber 1984. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jenderal Soedirman dengan predikat Cum Laude. Ketika masih aktif kuliah dulu pernah menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Akuntansi UNSOED. Sekarang sehari-hari bekerja sebagai auditor di salah satu kantor akuntan publik di Jakarta. Bisa dihubungi di blog: www.gunturnovizal.tk, pos-el: vizal_jr[at]yahoo[dot]com, HP: 081548865435.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.4/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Hiduplah dalam Kehidupanmu

Guntur NovizalOleh: Guntur Novizal*

“Dalam hidup ada kehidupan. Kita harus mampu menghidupkan kehidupan ini agar kita bisa benar-benar hidupdalam menjalani hidup kita. Setelah kita benar-benar hidup, kita dapat menghidupkan kehidupan orang lain sehingga hidup kita tidak sekedar hidup-hidupan.”

~ Adi W. Gunawan

Tulisan ini saya mulai dengan untaian kata filosofis yang didapat dari salah satu buku bestseller milik Adi W. Gunawan. Dia salah satu guru imajiner dari sekian banyak orang-orang hebat yang saya kagumi. Dia sendiri senang menyebut dirinya sebagai Re-Educator dan Mind Navigator. Kalimat dalam bukunya tersebut jelas cukup menggelitik saya untuk bisa merenungkan kembali dan bertanya pada diri tentang apa itu hidup. Mengapa saya hidup? Untuk apa saya hidup?

Mencoba menjawab pertanyaan tersebut di atasdengan menggunakan pendekatan akademis yang tersisa dari proses pendidikan di kampus dulu semasa kuliahhasilnya ternyata masih belum bisa menjawab pertanyaan sesulit itu. Maklum, selama di kampus dosen saya banyak mengajarkan tentang pengetahuan dan keterampilan teknis yang masih bersifat semu dan maya. Konsekuensi logisnya tidak mengherankan jika saya masih bingung dalam menghadapi dunia yang riil, dan tidak jarang saya merasa terasing dengan diri sendiri.

Sistem pendidikan yang ada sekarang masih belum mampu menghasilkan lulusan yang bisa menjawab pertanyaan di atas. Apalagi untuk menghasilkan lulusan yang mempunyai kualitas dan mental yang kuat, serta menghasilkan manusia-manusia yang bijak dan bisa bermanfaat buat sesama. Maka, dalam konteks ini tidaklah mengherankan kalau Topatimasang (1998) mengatakan bahwa pendidikan tidak ubahnya seperti candu yang memabukan, membuat banyak orang terlena dan terbius sehingga tidak bisa mengenal realitas yang ada di sekitarnya. Tentunya ini bertolak belakang dengan apa yang inginkan oleh salah satu tokoh pendidikan dunia, yaitu Paulo Freire yang berpendapat bahwa tujuan akhir dari upaya proses pendidikan adalah memanusiakan manusia (humanisasi), yang berarti pemerdekaan atau pembebasan manusia dari situasi batas yang menindas dari kehendak mereka.

Dalam praktiknya pendidikan yang kita dapat selama ini belum mengakui sepenuhnya bahwa manusia itu sosok yang unik, artinya sosok yang satu akan berbeda dengan sosok yang lain. Buktinya, untuk bisa mengukur kecerdasan seseorang masih saja digunakan kecerdasan tunggal, yaitu kecerdasan intelektual, dengan melihat dari keterampilan menghitung, merinci, dan menganalisis. Tidak heran kalau nilai raport dan IPK (Indek Prestasi Kumulatif) menjadi ukuran kebanggaan yang mutlak bagi anak didik dan orang tua, sehingga tidak jarang anak didik dan mahasiswa yang menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan nilai yang bagus. Hal inilah yang menyebabkan Adi W. Gunawan mengatakan dengan bahasa provokatif di salah satu artikelnya, bahwa sekolah hanya dirancang untuk menghasilkan orang-orang gagal.

Dalam kehidupan ini, ternyata secara tidak sadar kita sering merasa minder dengan kelemahan yang dimiliki. Dan celakanya proses itu muncul dari interaksi dengan lingkungan terdekat kita. Lingkungan dalam keluarga, pertemanan dan sekolah sering menjadi titik awal rasa minder dan lemah itu muncul. Sebagai contoh kecil, ketika kita dulu sekolah pernah mengalami kesulitan dengan salah satu pelajaran, semisal bermasalah dengan pelajaran matematika. Ketidakmampuan kita dalam menyelesaikan soal-soal matematika membuat kita berpikir bahwa ”Akulah anak paling bodoh di kelas ini!” atau ”Akulah siswa yang pantas gagal!”. Bahkan tidak jarang ucapan yang bernada pengecilan terhadap kemampuan anak itu berasal dari orang tua dan guru.

Kondisi di atas, bila dipelihara terus, akan sangat berbahaya. Ini akan menyebabkan seseorang terpenjara mentalnya seumur hidup. Karena, ketika persepsi ketidakmampuan kita terus dipelihara, bahkan didukung oleh lingkungan terdekat kita, maka lama kelamaan ini akan menjadi belief system yang akan mengakar kuat, sehingga pada akhirnya akan menempel dan mengendap pada alam bawah sadar kita. Keadaan ini akan membelenggu dan membenamkan setiap potensi besar kita untuk diaktualisasikan. Jelas kalau sudah pada tahap ini tidak mudah untuk “disembuhkan”. Perlu upaya yang cukup keras dan lumayan rumit untuk bisa mengembalikan pada kondisi semula. Ibarat sebuah komputer yang sudah terkena virus ganas, maka harus cepat-cepat diinstal ulang, dengan menghilangkan program-program lama diganti dengan yang baru.

Berbicara masalah cerdas atau tidak cerdasnya seseorang, jawabannya mungkin ada pada hasil penelitian Howard Gardner. Dia menemukan bahwa dalam diri seseorang terdapat kecerdasan majemuk. Artinya, beberapa kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Beberapa jenis kecerdasan tersebut adalah linguistic, logical-mathematical, bodily-kinesthetic, spatial-visual, musical, intrapersonal, dan interpersonal. Penemuan tersebut disempurnakan oleh Daniel Goleman dengan hasil penelitian yang cukup menggemparkan dan mengubah tatanan nilai yang dianut serta dipercaya sebelumnya. Dia mengatakan bahwa kecerdasan intelektual hanya berpengaruh 20 persen terhadap kesuksesan dalam hidup. Selebihnya itu ditentukan oleh kecerdasan lain, yaitu kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional itu sendiri merupakan kemampuan untuk memahami diri sendiri sehingga bisa memahami orang lain dan bisa membina hubungan baik dengan orang lain. Kecerdasan inilah yang sangat dibutuhkan seseorang dalam menghadapi kesulitan dalam hidup.

Hanya saja sangat disayangkan, karena banyak orang yang tidak mengetahui dan menyadari hal ini. Kelemahan yang kita miliki telah membutakan mata hati kita untuk mengali potensi dan kekuatan yang telah diberikan Tuhan pada kita. Kita sering fokus untuk membanding-bandingkan kelemahan kita dengan kelebihan yang dimiliki orang lain. Mengutip ucapan Mario Teguh bahwa ketika kita berfokus pada satu hal, maka kita akan tumbuh pada hal tersebut. Jadi, ketika hanya berfokus pada kelemahan yang dimiliki hasilnya kita akan semakin menyesali diri dan merasa inferior. Sehingga, ketika kesulitan datang kita sudah buru-buru mengatakan bahwa kita tidak mampu, ini terlalu berat buat kita, atau ini tidak mungkin untuk diselesaikan. Ketika perasaan ini muncul, maka sebenarnya kita telah mati dalam kehidupan ini.

Kembali pada ucapan indah di atas, ternyata banyak di antara kita belum benar-benar hidup dalam kehidupan. Ini bisa dilihat dari belum maksimalnya atau bahkan masih terkuburnya potensi besar dalam diri kita. Jelas ini tugas kita untuk bisa membangunkan setiap kemampuan terpendam yang masih tertidur, dengan harapan kita akan semakin merasa percaya diri dan bersyukur pada Tuhan karena telah diberi kemampuan sehebat ini. Sehingga, tugas kita tinggal satu lagi, yaitu memberi manfaat dari kehadiran kita dengan membantu dan menolong orang lain untuk bisa menghidupkan kehidupannya. Karena, ketika kita berhasil membantu orang untuk menemukan dan mengembangkan potensinya, maka kehadiran kita bisa memberi manfaat buat orang lain. Bukankah orang hebat dan terbaik itu, adalah orang yang paling bermanfaat? SALAM SUKSES!!![gn]

* Guntur Novizal lahir di Brebes pada 11 Noverber 1984. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jenderal Soedirman dengan predikat Cum Laude. Ketika masih aktif kuliah dulu pernah menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Akuntansi UNSOED. Sekarang sehari-hari bekerja sebagai auditor disalah satu Kantor Akuntan Publik di Jakarta. Web: www.gunturnovizal.tk, pos-el: vizal_jr[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 4.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox