Happiness Inside

bk-gobind-kclJudul: Happiness Inside

Oleh: Gobind Vashdev

Penerbit: Hikmah, Bandung, 2009

ISBN: 978-979-3714-60-8

Tebal: xx + 278 hal.

“Membaca buku ini akan membuka cakrawala pikir yang menghentak kesadaran, emmbangkitkan ketenangan, dan kebijaksanaan bahwa kebahagiaan hakiki justru terletak di dalam diri.”

~ Adi W. Gunawan

The Re-Educator & Mind Navigator

Penulis “Quantum Life Transformation” dan “Quitters Can Win”

Seorang anak terlihat sedang membungkuk-bungkuk mencari-cari sesuatu di depan rumahnya. Ketika ditanya apa yang sedang dia cari, dia menjawab, “Saya sedang mencari kunci saya yang hilang.”

“Lho memang kuncinya hilang di mana?”

“Di dalam.”

“Lalu kenapa kamu mencarinya di luar?”

“Karena di luar lebih terang….”

Itulah sepenggal kisah yang menjadi ilustrasi dalam buku ini. Sebuah analogi yang sangat pas dalam menggambarkan sebuah fenomena usaha manusia di seluruh dunia, MENCARI KEBAHAGIAAN.

Ya, demi kebahagiaan kita berusaha memenuhi diri dengan berbagai macam fasilitas; harta melimpah, rumah mewah, mobil mewah, kekuasaan, dan lain sebagainya. Tetapi benarkah kita sudah bahagia? Ataukah kita masih merasa bahwa kebahagiaan itu masih begitu jauh dari genggaman?

Gobind Vashdev, seorang pembicara multitalenta ini, menjawab alasan kekosongan manusia dalam menjalani hidup dan memberikan jalan keluarnya. Sesungguhnya kebahagiaan tidka punya aturan. Sebuah jalan keluar yang sederhana namun kerap terlupakan. Jalan keluar yang sebenarnya membimbing kita melihat ke dalam, ke diri kita, dan menemukan kebahagiaan sejati.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.7/10 (22 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +12 (from 14 votes)

Bunuh Diri Ternyata Menular

gvOleh: Gobind Vashdev*

Sudah sejak lama saya mengamati sekaligus bertanya-tanya tentang fenomena “menular” yang terjadi di sekitar kita. Mungkin, kata “menular” identik dengan penyakit. Namun, yang akan kita bahas kali ini bukan penyakit, tetapi lebih ke kejadian-kejadian yang kita lihat, dengar, atau baca. Bila kita perhatikan akhir-akhir ini, terjadinya suatu kecelakaan pesawat tidak lama disusul lagi dengan kecelakaan pesawat lainnya. Sebuah pesawat swasta nasional mengalami kecelakaan di Solo beberapa tahun lalu, dalam kurang dari 2 x 24 jam, tiga kecelakaan pesawat terjadi lagi di negeri ini. Anda mungkin masih ingat beberapa bulan yang lalu, kecelakaan kereta api juga terjadi dalam waktu yang berdekatan.

Menariknya, kejadian yang berurutan ini tidak sekadar hanya berlaku pada kecelakaan saja. Pengambilan keputusan tentang hal-hal yang sangat personal seperti perkawinan dan perceraian juuga mempunyai efek yang menular. Pernikahan para selebritas dengan orang asing beberapa waktu lalu, dan maraknya perceraian akhir-akhir ini, mungkin menjadi contoh yang baik untuk itu. Fenomena kesurupan di Indonesia pun terjadi secara menular pada anak-anak sekolah dasar. Dan, yang sangat menyesakkan adalah fenomena bunuh diri pada anak-anak atau remaja akhir-akhir ini.

Mungkinkah ini semua menular? Apa ini rasional? Apa yang menyebabkan ini semua? Mengapa ini semua bisa terjadi? Bukankah selama ini hanya penyakit fisik yang bisa menular?

Pada awalnya, hal-hal di atas saya anggap sebagai peristiwa kebetulan semata. Namun, setelah kejadian demi kejadian berulang, pastilah ini bukan semata kebetulan.

Dalam pencarian jawaban, saya bertemu dengan pemikir cerdas, Malcolm Gladwell, lewat bukunya Tipping Point. Malcolm mengambil contoh dari penelitian yang dilakukan di Kepulauan Mikronesia, kepulauan di Laut Pasifik, mengenai bunuh diri pada anak-anak atau remaja usia 15-20 tahun. Sebelum tahun 1960, belum pernah ada kejadian bunuh diri yang dilakukan oleh remaja di negara tersebut. Namun, setelah peristiwa bunuh diri pertama terjadi dan diberitakan di media massa setempat, angka bunuh diri pada remaja langsung meroket. Sebagai perbandingan, angka bunuh diri di Amerika Serikat sampai akhir tahun 80-an adalah 22 dari 100.000 penduduk, sedangkan di Mikronesia angka bunuh diri sebesar 160 jiwa dari 100.000 penduduk. Ini berarti tujuh kali lipat, sebuah angka yang luar biasa tinggi.

Menariknya, mereka melakukan bunuh diri dengan cara yang hampir serupa. Para remaja di Mikronesia ini selalu mencari tempat yang sepi, lalu mengambil tali dan membuat simpul jerat, tapi mereka tidak menggantung diri seperti umumnya di Indonesia. Mereka mengikatkan tambang ke sebuah dahan rendah atau daun pintu, kemudian mereka merebahkan tubuh ke depan sampai tambang itu menjerat leher dengan ketat dan memutus aliran darah ke otak.

Yang lebih menyedihkan dari epidemi atau kejadian menular, menurut antropolog Donald Rubinstain, adalah semakin banyaknya anak-anak yang melakukan bunuh diri. Sebelumnya hanya remaja, namun berkembang menjadi anak-anak berusia 8-9 tahun, bahkan akhir-akhir ini ditemukan mereka yang berusia 5- 6 tahun. Ini sangat memprihatinkan, apalagi sejumlah anak selamat dari percobaan bunuh diri. Dan, ketika ditanyai, mereka beralasan hanya coba-coba Mereka  melakukannya karena melihat atau sering mendengar anak-anak yang melakukan bunuh diri.

Peranan media

Seorang pelopor dalam bidang penelitian bunuh diri, David Philips, dari University of California di San Diego telah melakukan penelitian dengan mengkliping berita bunuh diri yang dimuat di media massa. Profesor tersebut menemukan bahwa ada korelasi positif antara pemberitaan media massa tentang bunuh diri dengan tingkat bunuh diri di daerah penyebaran media massa tersebut. Semakin besar jangkauan atau wilayah peredarannya, maka wilayah orang yang bunuh diri pun semakin luas. Misalnya, pada saat Marilyn Monroe memilih untuk bunuh diri, maka pada bulan tersebut angka bunuh diri di Amerika Serikat meningkat sampai 12 persen.

Bila seseorang melakukan bunuh diri dengan menabrakkan mobilnya ke pohon, dan diberitakan di headline media massa suatu daerah, maka dalam sepuluh hari ke depan angka kecelakaan meningkat tajam dengan kasus serupa.. Angka kecelakaan menurun menjadi normal setelah sepuluh hari.

Berita di media seolah-olah memberikan sebuah inspirasi pada pembacanya. Inspirasi cara untuk menyelesaikan masalah, memberikan sebuah pembenaran bahwa suatu cara boleh ditempuh. Menurut Philips, cerita tentang bunuh diri adalah semacam iklan alami tentang salah satu cara memecahkan masalah.

Selain media massa, lingkungan sekitar kita juga sangat memengaruhi pengambilan keputusan kita. Misalnya, kita menerobos lampu merah karena melihat yang lain melakukan hal yang sama. Atau, yang menarik lagi misalnya bila Anda berada di antrean lampu merah dan mobil Anda ada di urutan keempat atau kelima, lalu muncul seorang pengemis atau pengamen dan mendekati mobil yang berada di urutan pertama. Bila pengemudi tersebut memberi sejumlah uang recehan kepada pengemis tersebut, kemungkinan besar pengemudi yang di urutan kedua juga akan melakukan hal serupa.

Pengemis ini akan mendapat kemungkinan yang lebih besar lagi di mobil urutan ketiga dan seterusnya. Saya tidak tahu apa ini namanya. Namun, bila saya melihat hal itu terjadi di depan saya, saya atau paling tidak teman yang duduk di sebelah saya juga akan ikut-ikutan. Kita semua seolah-olah mendapat izin untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan orang lain.

Efek penularan ini bukan sesuatu yang rasional atau terjadi secara sadar. Penyebarannya tidak bersifat persuasif, namun lebih samar daripada itu.

Kembali ke maraknya bunuh diri anak yang terjadi di sekitar kita sekarang ini. Kita tahu bahwa ada banyak sekali faktor yang memengaruhi seorang anak untuk melakukan tindakan nekat tersebut. Untuk itu, mungkin tip di bawah ini bisa dilakukan untuk menghindari bunuh diri terjadi pada buah hati kita.

1. Saringlah informasi yang masuk

Menghindarkan anak dari tontonan berita-berita kriminal yang marak di televisi adalah langkah yang baik agar anak berpandangan baik tentang dunia ini. Selain itu, menghindari berlangganan majalah, tabloid, atau koran yang memuat banyak berita-berita gosip atau kekerasan adalah tindakan bijak lainnya.

2. Pilih mainan yang digunakan

Temani dan arahkan anak Anda untuk memilih permainan yang digemari. Akan baik sekali bila permainan yang Anda beli untuk si kecil adalah permainan yang mengasah kemampuan sensorik dan motoriknya. Bila membeli DVD untuk video game, hindarkan permaianan yang mengandung unsur kekerasan.

3. Belajarlah mendengar

Banyak masalah anak yang berasal dari kurangnya komunikasi dari orang tua kepada buah hatinya. Komunikasi merupakan kemampuan yang paling penting dalam dunia ini. Kita menghabiskan sebagian besar hidup kita untuk belajar membaca dan menulis. Kita juga menghabiskan waktu untuk belajar berbicara yang baik, namun bagaimana dengan mendengarkan?

Jika kita ingin berinteraksi secara efektif dan mengerti kebutuhan anak secara utuh, kita perlu mengerti apa yang diinginkan anak secara detail dan mendalam. Untuk ini, kita harus mendengarkan secara empati, melihat dengan kacamata si kecil.

Kebanyakan dari kita merasa lebih pintar dan lebih tahu apa yang dibutuhkan anak, sehingga kita jarang mau mendengar mereka secara mendalam. Kita sering sekali memotong perkataan mereka dan memberikan contoh masa lalu kita.

Coba kita tengok sebentar, ketika seorang anak ingin meminta pengertian dari ayahnya mengenai keengganannya melajutkan sekolah. Hampir semua ayah tak mencoba memahami alasannya. Alih-alih sang ayah langsung menimpali dengan menceritakan bahwa dirinya bisa sukses karena dulu ia rajin sekolah.

Ketidakpuasan anak karena tidak dimengerti akan membuat anak menjadi pasif dalam berkomunikasi dengan orang tua. Anak akan menjawab seperlunya dan ini akan menjadi cikal bakal tindakan-tindakan nekat sang anak, terutama pada anak laki-laki.

Statistik menunjukkan bahwa empat dari lima orang yang bunuh diri adalah pria. Hal ini disebabkan pria lebih sedikit berbagi, tidak boleh menangis, dan lebih jarang berpelukan. Padahal, curhat atau berbagi, berpelukan, dan menangis adalah pelepasan emosi dalam bawah sadar yang sangat baik.

Akankah kita segera belajar untuk mendengar atau membiarkan segala sesuatunya terlambat?[gv]

* Gobind Vashdev adalah seorang trainer, public speaker, praktisi hipnosis, dan juga seorang pesulap. Ia tinggal di Ubud, Bali, dan telah menerbitkan buku perdananya berjudul Happiness Inside. Gobind dapat dihubungi melalui pos-el: v_gobind[at]yahoo[dot]com atau di blog-nya: http://happinessinside.wordpress.com/article/.

** Artikel ini diambil dari buku Happiness Inside karya Gobind Vashdev.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.3/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +5 (from 5 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox