Semut dan Ulat

gv1Oleh: Gobind Vasdhev*

Ingatlah, di saat kemampuan kita kecil, masalah terlihat sangat besar dan begitu kemampuan kita besar, masalah-masalah tersebut menjadi pernak-pernik kecil yang membuat kehidupan tampak berkilau.”

~ Gobind Vasdhev

Buah campur adalah menu tetap di setiap sarapan pagi saya. Namun, hari itu ada yang istimewa…. Sewaktu asyik menikmatinya, seekor ulat kecil berwarna merah yang lucu keluar dari timbunan buah yang tersusun tidak rapi di piring bundar. Tak lama lagi seekor yang lain muncul. Terus terang saya terkejut melihat reaksi saya yang tidak kaget melihat ulat yang tiba-tiba muncul tersebut. Saya ingat sekali beberapa tahun yang lalu. Kejadian yang hampir sama pernah saya alami dan waktu itu saya memutuskan untuk tidak melanjutkan makan buah itu lagi.

Tapi sekarang, sama sekali tidak terlintas perasaan jijik. Malah sebuah perasaan senang bahwa sarapan pagi itu saya nikmati beramai-ramai. Saya merasakan suatu perasaan yang sulit digambarkan. Saya melihat bahwa ulat tersebut dan saya diciptakan oleh pencipta yang sama, dan kita sama-sama sedang mengambil energi dari buah yang sama untuk kelangsungan hidup masing-masing.

Ini mengingatkan saya sewaktu baru saja saya pindah ke Ubud, di mana kamar yang saya tempati sering dilalui banyak semut. Semut dengan berbagai ukuran itu mucul dengan tiba-tiba. Awalnya saya jengkel dengan kehadiran mereka. Saya merasa terganggu, mulai dari cairan sampai kapur pengusir serangga sudah saya gunakan untuk mengusirnya. Sampai suatu saat, ketika saya ingin mengusir mereka, ada sesuatu yang berbicara dalam diri saya. Mungkin, itu yang dinamakan suara hati yang berkata demikian, “Tunggu dulu, mengapa kamu marah?”

Sementara, diri saya yang lainnya menjawab, Ya, dia sangat menggangguku.

Kemudian, yang pertama langsung mendebat, Siapa mengganggu siapa? Bukankah semut-semut itu sudah ada sebelum kamu di sini, atau bahkan sebelum kamar ini di bangun? Dan lagian, semut-semut itu kan hanya mencari makanan?!

Dia bukan mencari, tapi mencuri!” kata yang kedua.

Bukankah kita manusia juga mencuri? Kita mengambil buah dari pohonnya. Bahkan, kita mengambil nyawa dari hewan untuk memenuhi kepuasan lidah kita. Jangan karena mereka tidak mengenal uang kau bilang mereka mencuri. Semut juga bekerja, mereka pasti mempunyai fungsi di alam semesta ini. Sama seperti ulat yang menggemburkan tanah dan untuknya mereka mendapat upah makanan berupa buah dari pohon…!”

Sering sekali hal ini terjadi. Pergumulan saya dan diri saya yang lain ini awalnya sering membuat saya frustrasi. Mereka sama-sama mempunyai alasan yang kuat. Mereka sama-sama pintar memberikan argumennya. Namun, di sisi lain pergumulan ini sangatlah mencerahkan, membuat saya melihat segala sesuatunya dari perspektif yang lain, sisi yang beda, yang lebih terang dan lebih luas.

Sewaktu di sekolah kita pasti pernah belajar tentang evolusi. Evolusi dari satu bentuk kera ke bentuk kera yang lain, juga hewan-hewan yang lain. Evolusi yang kita pelajari di sekolah adalah evolusi fisik. Selain evolusi fisik ada namanya evolusi pikiran, yaitu sebuah perubahan secara bertahap dalam tingkat pemikiran kita. Perubahan ini bukan dari tidak tahu menjadi tahu tapi lebih dari sekadar tahu. Juga lebih dari mengerti atau paham namun sadar. Bila seseorang tahu dan mengerti namun belum melakukan apa yang dia pahami, saya menyebutnya ia belumlah sadar.

Saya tidak mengetahui mekanisme secara terinci dalam diri seseorang bagaimana evolusi pikiran ini bisa tumbuh. Yang saya tahu adalah evolusi ini bertumbuh dari dalam, bukan dari luar. Walau sering kita mendengar bahwa banyak faktor luar yang dapat mengubah seseorang. Ada yang mengatakan, kita bisa mendapat tingkat berpikir yang lebih baik dengan cara belajar dari buku atau guru yang luar biasa. Ada juga yang berpendapat bahwa pengalaman yang besar atau mengejutkan akan mengubah seseorang. Seperti berdampingan dengan kematian misalnya, seseorang langsung tersadar dan berubah. Kemudian, orang tersebut melihat hidup dengan cara yang lain, melihat begitu berharganya setiap tarikan napas.

Ya, benar sekali kejadian eksternal akan meningkatkan cara berpikir seseorang bila ditambahkan sebuah syarat. Dan, syarat penting itu adalah bila orang yang mengalami sebuah kejadian bisa mengambil pelajaran darinya. Bukan kejadian yang mengubah seseorang, tetapi orang tersebutlah yang mengubah dirinya sendiri dengan mengambil sesuatu pelajaran dari kejadian itu.

Begitu pula bukan buku atau orang lain yang mengubah seseorang, namun pelajaran yang diambil dari buku yang dibaca atau orang lain yang ia kenali itulah yang mengubahnya. Peran seseorang dalam mengambil pelajaran inilah yang terpenting dalam mengubah dirinya, dan inilah yang menjadikan kita mempunyai tingkatan berpikir lebih tinggi lagi. Dan, dengan cara inilah evolusi pikiran terjadi. Bila terjadi evolusi dalam tingkat pikiran, pastilah kita akan melihat dunia dengan cara yang berbeda. Bahkan, sesuatu yang dulu dianggap sebagai masalah sekarang mungkin sebagai kesenangan, seperti contoh ulat dalam buah tersebut.

Albert Einstein seorang ilmuwan yang abad ini dinobatkan sebagai Man of the Century versi majalah Time pernah menulis, “Masalah penting yang kita hadapi tidak dapat kita pecahkan pada tingkat berpikir yang sama seperti ketika kita menciptakan masalah tersebut.Tingkat berpikir yang lebih tinggi adalah hal yang wajib dan diperlukan untuk memecahkan masalah.

Contoh sederhananya adalah sewaktu kita duduk di bangku sekolah dasar misalnya. Semua pelajaran kelas 1 SD pada saat kita di kelas 1 SD terasa sangat sulit. Kesulitan sangat terasa ketika kita sudah naik ke kelas 2, apalagi ke kelas-kelas yang lebih tinggi. Atau, pernahkah Anda membaca sebuah buku dan Anda tidak mengerti apa yang Anda baca? Dan, setelah beberapa waktu Anda membaca lagi, Anda pun mengerti apa yang dimaksud oleh buku tersebut? Bila ya, itu artinya bahwa sewaktu kali kedua Anda membaca, cara atau tingkat pemikiran Anda sudah berubah.

Begitu juga di kehidupan ini, masalah hanya terjadi ketika tingkat kemampuan seseorang tidak lebih tinggi daripada masalah tersebut. Di saat tingkat pemikiran sudah di atas masalah, semuanya terlihat bukan sebagai masalah. Nah, ketika sebuah atau beberapa masalah datang berulang-ulang dalam hidup kita, kita mempunyai pilihan untuk mengeluh, meyalahkan orang lain, atau menghindarinya. Atau, kita ambil pendekatan lain, yaitu mencoba belajar untuk meningkatkan pengetahuan dan level berpikir kita sehingga yang kemarin menjadi masalah hari ini menjadi sebuah kesenangan. Ingatlah, di saat kemampuan kita kecil, masalah terlihat sangat besar dan begitu kemampuan kita besar, masalah-masalah tersebut menjadi pernak-pernik kecil yang membuat kehidupan tampak berkilau.[gv]

* Gobind Vashdev adalah seorang trainer, public speaker, praktisi hipnosis, dan juga seorang pesulap. Ia tinggal di Ubud, Bali, dan tengah menantikan penerbitan buku perdananya. Gobind dapat dihubungi melalui pos-el: v_gobind[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Sukses Tidak Punya Aturan

gvOleh: Gobind Vasdhev*

“Kita menguras habis energi kita untuk mengubah diri daripada memusatkan perhatian kita pada keistimewaan yang kita miliki dalam berupaya meraih sukses.

~ Gobind Vasdhev

Sukses dan bahagia, mungkin inilah dua hal yang paling diinginkan setiap orang. Sukses sering dikonotasikan dengan pencapaian materi, misalnya rumah besar di perumahan elit, mobil mewah, atau karier yang cepat naik, sejumlah deposito, dan lain sebagainya. Sementara, bahagia sering diartikan sebagai sebuah perasaan yang damai, tenang, atau secara kasat mata kita melihat orang yang berbahagia adalah orang dengan senyum yang selalu menempel di bibirnya.

Tentang arti sukses dan bahagia ini, tidaklah salah kalau kita melihat dari kacamata umum yang ada di masyarakat. Namun secara individu, kacamata yang dipakai beramai-ramai ini tentu tidak selalu cocok untuk setiap penggunanya. Dengan kata lain, sukses sifatnya sangatlah pribadi. Pak Jono misalnya, yang senang berkeluyuran dengan sedan hitam mulus bermerek BMW. Menurut masyarakat yang berdampingan di sekitar tempat tinggalnya, Pak Jono dianggap sebagai orang yang sukses. Namun, menurut Pak Jono sendiri sukses baru dirasakan atau diperoleh kalau dia sudah mempunyai mobil sedan merek Jaguar keluaran terbaru.

Bila sukses ukurannya bisa sangat individu, apalagi dengan kata yang satu lagi, yaitu bahagia. Tanpa ingin masuk di wilayah pribadi setiap individu pembaca tentang ukuran sukses apalagi bahagia, izinkan saya berada di wilayah umum di mana ukuran mengenai sukses dilihat secara dangkal dan samar.

Buku buku tentang bagaimana seseorang bisa menjadi sukses memang banyak sekali di terbitkan, begitu juga dengan seminar-seminarnya. Dalam buku atau seminar tersebut, Anda akan menjumpai sejumlah kumpulan syarat dan apa yang harus dilakukan maupun tidak dilakukan, atau sikap apa yang diperlukan seseorang bila kesuksesan ingin direngkuh. Satu syarat yang sering kita dengar adalah seperti ini: Untuk sukses seseorang haruslah berpikiran atau mempunyai karakter yang positif, bukan yang negatif. Rasa percaya diri akan jauh menghasilkan kesuksesan dibanding seseorang yang selalu merasa minder, atau optimis lebih baik daripada pesimis.

Tanpa ragu lagi apa yang dicontohkan di atas adalah sesuatu yang baik dilakukan untuk meraih kesuksesan. Namun, bagaimana dengan sahabat-sahabat lain yang tidak mempunyai karakter yang seperti diharapkan dari buku dan seminar itu? Atau, sahabat yang susah untuk berubah, apakah mereka semua adalah orang-orang yang tidak sukses atau tidak akan pernah bisa sukses? Atau sebaliknya, mereka yang menerapkan prinsip dari orang-orang sukses yang ditulis dalam buku pasti akan menjadi sukses?

Pada kenyataannya, yang kita lihat di sekitar kita tidak seperti itu, bukan? Banyak juga dari mereka yang mempunyai karakter yang disebut sebagai “negatif” menjadi sukses dalam materi, dan tidak sedikit yang “positif” malah tidak mencapai hasil yang diharapkan.

Mark Twain contohnya. Ia adalah seorang yang sangat pesimis, skeptik, dan sarkastik. Kita bisa melihat dari tulisan-tulisan yang diciptakan, semua bertutur tentang ras manusia yang minus. Namun, kemampuan yang unik dari seorang Mark Twain inilah yang menjadikan dirinya meraih kesuksesan. Sifat negatifnya justru menjadikan seorang sastrawan jenius yang diakui oleh dunia.

Contoh lainnya adalah seorang penulis juga yang telah mengharumkan nama negeri tercinta ini, Pramodeya Ananta Toer. Maestro yang baru saja melepaskan jasadnya dan meninggalkan kita dengan kenangan yang dalam ini pun memanfaatkan kenegatifannya”, yaitu kekurang-PD-annya yang telah ada sejak masa ciliknya. Pram kecil mulai belajar menulis, ia menuangkan semua isi hatinya melalui guratan pena karena ia tidak mempunyai keberanian berbicara. Kekuatan yang terpendam dari ketidakberanian bicara inilah yang menjadi bahan bakar yang dahsyat sehingga menjadikan dirinya seorang penulis Indonesia yang tak tergantikan.

Bukan hanya dalam karakter atau sifat, bahkan dalam bentuk fisik sekalipun sesuatu yang dicap jelek pun dapat mengahasilkan rezeki dan kesuksesan yang sama. Anda bisa melihat sahabat pelawak atau komedian yang mempunyai bentuk dan ukuran tubuh yang dianggap di luar batas kewajaran. Mereka dapat memanfaatkan apa yang mereka miliki menjadi ladang penghasilan yang tak terkira sebelumnya.

Kita semua telah diprogram oleh peradaban yang kita semua tidak tahu asal muasalnya. Kita telah diprogram untuk meyakini tingkah laku tertentu adalah positif, dan yang lainnya adalah negatif. Orang sukses adalah orang yang positif, sementara negatif pasti gagal. Karena itu, kita menguras habis energi kita untuk mengubah diri daripada memusatkan perhatian kita pada keistimewaan yang kita miliki dalam berupaya meraih sukses.

Anda bisa sukses dengan “positif” dan Anda juga bisa sukses dengan memiliki “negativitas” di dalam diri Anda. Sifat-sifat negatif yang ada dalam diri Anda tidak akan menghalangi usaha Anda dalam meraih kesuksesan di bumi ini. Mereka itu adalah bagian dari diri Anda. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa belajar mencintai, menerima, dan memanfaatkannya.

Apa pun kenegatifan Anda, buatlah itu sebagai lahan untuk mendapatkan nilai tambah dalam hidup Anda. Bila Anda susah untuk bangun pagi maka Anda bisa memanfaatkan kenegatifan Anda dengan mencari pekerjaan yang jam kerjanya malam hari di mana kemungkinan Anda dibayar lebih tinggi. Bila kenegatifan Anda suka melahap makanan lezat saja, carilah pekerjaan sebagai koki atau tulislah buku tentang tempat-tempat makan yang terbaik di kota Anda. Atau, bila sesuatu yang negatif dalam diri Anda adalah suka menonton film, jadilah kritikus film.

Jika Anda belum menemukan pekerjaan seputar “kenegatifan” Anda, maka pikirkan sesuatu yang kreatif,sesuatu yang belum terpikir oleh orang lain. Di dalam setiap halbaik positif atupun yang negatifselalu tersimpan aset yang luar biasa yang selalu menanti untuk ditemukan. Misteri kehidupan ini tidak di mana-mana, ia bersembunyi di dalam misteri sifat Anda.

Pencipta kita sangatlah adil. Ia memberikan segala sesuatunya dengan baik. Bila Ia menciptakan orang percaya diri, Ia juga menciptakan seseorang yang minder. Namun, keduanya adalah baik dan keduanya pun sama-sama mempunyai kelebihan. Dan, kesuksesan bisa diraih oleh keduanya.

Kalau seperti ini ceritanya, sepertinya sukses tidak memiliki peraturan, bukan? Sukses dapat menghampiri mereka yang optimis, juga menyapa yang pesimis. Sukses dapat berlabuh pada seorang yang cekatan dan keras, namun sukses juga bisa mendarat pada para sahabat yang lambat dan fleksibel.

Sekarang, apakah Anda ingin membenci sifat-sifat negatif yang melekat dalam diri Anda? Berusaha menyingkirkannya dengan sekuat tenaga atau merangkulnya? Menjadikannya seorang sahabat dan memanfaatkannya? Semua tergantung sepenuhnya pada Anda.[gv]

* Gobind Vashdev adalah seorang trainer, public speaker, dan pesulap. Ia tinggal di Ubud, Bali, dan tengah menantikan penerbitan buku perdananya. Gobin dapat dihubungi melalui pos-el: v_gobind[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Kunci Kebahagiaan

gvOleh: Gobind Vasdhev*

“Tinggi rendahnya tingkat kebahagiaan seseorang berbanding lurus

dengan tinggi rendahnya rasa bersyukurnya.

~ Gobin Vasdhev

Beberapa hari lalu sewaktu nonton Oprah Show, ada sebuah kalimat yang menggugah saya. Sampai-sampai saya sulit menahan rasa untuk berbagi dengan sahabat-sahabat pembaca. Kalimat tersebut dilontarkan oleh Michael Beckwith, seorang narasumber dari film The Secretsebuah film tentang hukum ketertarikan (law of attraction) yang sekarang jadi perhatian dunia. Di sana Michael berkata, “Tidak ada yang bertambah dalam dirimu sampai pada saat kamu bersyukur.

Kalau kita perhatikan, apa yang diakatakan Michael ini mempunyai esensi yang sama dengan apa yang tertulis dalam Alquran. Saya percaya, sahabat-sahabat muslim pasti mengetahuinya. “Sesungguhnya, jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu….

Saya sangat percaya bahwa bersyukur adalah satu-satunya hal yang membawa kita menjadi bahagia. Tidak peduli berapa uang yang Anda punyai, tidak perduli beberapa harta benda yang Anda kuasai, selama tidak ada rasa syukur dalam hal apa apa pun dalam diri Anda, Anda tidak mungkin berbahagia. Bahagia dalam diri hanya muncul bersamaan dengan rasa syukur. Dengan kata lain, tinggi rendahnya tingkat kebahagiaan seseorang berbading lurus dengan tinggi rendahnya rasa bersyukurnya.

Seseorang bisa saja kaya raya dengan segala kelebihan materinya. Atau, seorang cendekia dengan IQ yang tinggi, gelar yang sederet, dan bermacam ilmu bergelantungan di dalam kepalanya, bisa saja selalu merasa tidak bahagia bila dia tidak mensyukuri apa yang ada. Dan sebaliknya, yang kekurangan dalam materi atau ilmu pun bisa berbahagia selama dia bersyukur. Bersyukur ibaratnya adalah kunci untuk membuka pintu kebahagiaan.

Coba kita cermati sekali lagi kalimat dari Michael beckwith itu, “Tidak ada yang bertambah dalam dirimu sampai pada saat kamu bersyukur.Sewaktu kita bersyukur, ada sesuatu yang bertambah dalam diri kita. Ada sesuatu yang bertumbuh dalam hati kita. Dan, inilah yang membuat kita berbahagia. Kita bisa mempunyai tabungan yang betambah sekian ratus juta setiap bulannya. Namun, selama kita tidak berhenti sejenak dan merasa bersyukur dengan pertambahan tersebut, pertambahan itu tidak akan pernah masuk ke dalam jiwa kita.

Seperti koin yang bermata dua, kata terimakasih selalu mewakili sisi di balik dari rasa bersyukur. Bila kata terimakasih terucapkan, itu artinya bagian koin yang tertulis terimakasih ada di atas. Dan, seperti kita tahu, bahwa bila bagian koin yang tertulis terimakasih ada di atas makan koin yang bertulis rasa syukur ada di bawah. Ini artinya, pada setiap terimakasih yang muncul ada rasa bersyukur yang menopang di baliknya. Begitu pula sebaliknya, dalam rasa syukur ada terimakasih yang tak terlihat.

Dalam penelitian DR Masaru Emoto tentang reaksi air dengan pikiran manusia, jelaslah terlihat bahwa krital-kristal air terindah muncul sewaktu kita berpikir atau mengucapkan kata love and gratitude.

Terimakasih dan rasa bersyukur memang sangat mudah kita ucapkan pada saat kejadian terjadi seperti yang kita harapkan. Namun, bagaimana dengan sebaliknya? Bila kejadian tidak sesuai dengan harapan kita, apakah kita bisa belalu berucap terimakasih? Sangat gampang bagi kita untuk bersyukur sewaktu kita mendapat tambahan seorang anggota baru dalam keluarga. Namun, bagaimana bila ada anggota keluarga yang pergi meninggalkan kita selama-lamanya? Sangat mudah bagi kita untuk berterimakasih kepada seseorang yang memberi kita rezeki berupa uang atau benda lainnnya. Namun, bagaimana kita bisa berterimakasih pada orang yang mengambil uang kita?

Lagi-lagi, semua terserah kita dari mana kita mau melihat. Saya bisa menangis, berduka terus-menerus, sambil dihantui rasa takut akan masa depan karena kehilangan orang tua sewaktu remaja. Namun, saya juga bisa memilih bersyukur dan berterimakasih karena diberi kesempatan untuk memiliki orang tua dengan segalah kasih sayangnya sampai remaja.

Saya bisa bersedih, marah, dan menyimpan dendam kepada orang yang mengambil uang saya. Namun, saya juga bisa berterimakasih karena diberikan sebuah pelajaran yang sangat berharga dalam hidup ini. Menyimpan dendam, marah, dan bersedih tidak akan mengembalikan orang yang kita cintai dan uang yang diambil. Semua itu malah sering merugikan keadaan pikiran, mental, dan fisik kita.

Seorang sahabat dan juga guru saya, Gede Prama, pernah menulis dengan indahnya, “Orang bodoh kalah dengan orang pintar, orang pintar kalah dengan orang licik, dan orang licik kalah dengan orang yang beruntung. Siapakah orang yang beruntung ini? Orang yang beruntung adalah orang yang selalu merasa bersyukur dengan apa yang telah terjadi. Tidak perduli apa yang terjadi, dia selalu bisa berterimakasih, dia selalu bisa bersyukur.

Kita selalu bisa berterimakasih untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mi instan, karena itu artinya ia bersama saya, bukan dengan orang lain.

Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya
ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.

Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan.

Kita juga bisa berbahagia untuk tagihan pajak yang cukup besar, karena itu artinya kita bekerja dan digaji tinggi.

Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus kita bersihkan, karena itu artinya keluarga kita dikelilingi oleh banyak teman.

Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya kita cukup makan.

Untuk rasa lelah, capai, dan penat di penghujung hari, karena itu artinya kita masih mampu bekerja keras.

Kita juga bisa bersyukur untuk semua kritik yang kita dengar tentang pemerintah, karena itu artinya masih ada kebebasan berpendapat.

Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yang membangunkan kita, karena itu artinya kita masih bisa terbangun, masih hidup.

Untuk setiap permasalahan hidup yang kita hadapi, karena itu artinya Tuhan sedang membentuk dan menempa kita untuk menjadi lebih baik lagi…

Saya menyebut orang orang dengan keberlimpahan rasa syukur ini sebagai orang yang telah lulus dari Universitas Kehidupan dan mendapat gelar S-4. Lho,m emang ada gelar S-4? Ya, S-4 itu adalah singkatan dari Senang Syukur, Susah Syukur, Sehat Syukur, dan Sakit Syukur.

Di akhir tulisan saya ingin berbagi sebuah cerita favorit saya tentang seorang raja dan perdana menteri yang selalu bersyukur serta berterimakasih atas setiap kejadian yang terjadi, semoga bermanfaat.

Seorang raja yang sangat berkuasa baru saja mendapat hasil buruan yang istimewa. Setibanya di kerajaan, sang raja ingin sekali memasak hasil tangkapannya tersebut. Dengan ditemani koki nomor satu, raja mulai memotong-motong, memisahkan daging dengan tulangnya, ketika tiba-tiba terdengar teriakan yang sangat keras dari sang raja.

Apa yang terjadi? Ternyata, ibu jari sang raja terpotong dan putus. Segala upaya darurat dilakukan oleh para penyembuh, namun ibu jari sang raja tidak dapat disatukan kembali. Dalam keadaan kesedihan dan penyesalan yang mendalam, sang perdana menteri yang bijak muncul dan berkata,Janganlah cemas dan menyesal. Bersyukurlah Baginda, semua yang terjadi ini pasti ada bagusnya!

Mendengar kata-kata sang perdana menteri, naik darahlah sang raja. “Perdana menteri! Apa kamu sudah gila!? Ibu jariku putus seperti ini, kamu masih berani berkata kalau ini ada bagusnya… Coba katakan, apa bagusnya dari terpotongnya ibu jariku ini?!

Perdana menteri tidak bisa menjawab. Dengan murka, sang raja memerintahkan pengawal menjebloskan perdana menteri ke dalam penjara.

Beberapa bulan berlalu, sang raja kembali ke kegiatan berburu untuk pertama kalinya setelah ibu jarinya putus. Hasrat yang begitu kuat dalam mendapatkan buruan membuat raja lupa diri dan masuk ke wilayah terlarang yang dikuasai suku primitif. Raja ditangkap oleh kawanan suku tersebut dan dihadapkan kepada kepala suku. Dengan muka ceria sang kepala suku langsung memerintahkan anak buahnya menyiapkkan segala sesuatunya untuk membuat sebuah upacara besar di tengah malam.

Malam itu, sang raja dinaikan ke panggung yang cukup tinggi dan di bawahnya terdapat api yang membara. Dalam hitungan detik sebelum sang raja di lempar ke dalam api, kepala suku berteriak memecah keheningan “STOP!!! Kita tidak mungkin mempersembahkan manusia yang tidak sempurna ini kepada dewa kita!Sang raja pun dilepas dan dibiarkan pergi hidup-hidup.

Maka, pulanglah sang raja dengan selamat. Dalam perjalanan, ia teringat kata-kata sang perdana menteri, bahwa semua ada bagusnya. Sesampainya di istana, sang raja langsung menuju ke penjara yang mengurung perdana mentri selama lebih dari tiga bulan itu.

Perdana menteri, ternyata Anda betul… Saya minta maaf karena telah memenjarakan kamu! kata sang raja penuh penyesalan.

Tidak baginda” sahut sang perdana menteri. Jangan meminta maaf kepada hamba. Hambalah yang seharusnya berterimakasih kepada baginda karena baginda memenjarakan hamba.

Dengan kaget bercampur tidak percaya, raja berkata Apa? Apa kamu sudah gila? Anda bertrimakasih karena saya penjarakan? Apakah dikurung dalam penjara membuatmu pikiranmu tidak waras?”

Dengan tersenyum lembut sang perdana mentri yang bijaksana itu menjawab, “Ya, Baginda… Hamba sangat bersyukur dan berterimakasih kepada baginda. Karena, kalau saya tidak dipenjarakan oleh baginda, pasti hamba akan ikut berburu dengan baginda. Dan, bila bukan baginda yang dimasukan kedalam api tersebut, maka hambalah yang akan menggantikannya.”[gv]

* Gobind Vashdev adalah seorang trainer, public speaker, dan pesulap. Ia tinggal di Ubud, Bali, dan tengah menantikan penerbitan buku perdananya. Gobin dapat dihubungi melalui pos-el:

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.3/10 (8 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox