Budaya Negara Maju dalam Membesarkan Anak

ghsOleh: Gatut Heru Susanto*

Setiap berkunjung ke negara maju umumnya perhatian kita pertama tertuju pada fasilitas umum dan infrastruktur yang serba memadai dan nyaman. Jalan mulus dan memiliki banyak lajur, sekolah negeri dari SD sampai SMA memiliki fasilitas yang bagus dan gratis. Kantor-kantor pelayanan publik bekerja dengan profesional dan sangat efisien. Kemudian kita juga memerhatikan ketertiban umum dan disiplin yang sangat bagus dan cara orang-orangnya berinteraksi.

Kalau dari sudut prasarana fisik dan taraf ekonomi, saya pikir masih perlu 20 tahun atau bahkan lebih bagi Indonesia untuk masuk dalam kategori negara maju. Harus sedemikian lamakah kita menunggu untuk menikmati kenyamanan hidup ala negara maju?

Kita bisa menikmati kenyamanan budaya ala negara maju dalam waktu relatif lebih cepat kalau kita mau. Kita juga bisa membantu mempercepat pembangunan dengan menghasilkan generasi muda yang cerdas dan inofatif. Untuk bagian pertama dari meneropong negara maju dari sudut budaya, saya memilih budaya mendidik anak, karena anak adalah calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang. Kita bisa mulai dari diri sendiri dan keluarga untuk mendidik dan membesarkan anak dengan lebih optimal.

Ketika kita membeli barang baru apakah itu kendaraan, laptop, kamera, iPhone, atau yang lain umumnya selalu disertai dengan buku manual cara mengoperasikan dan perawatannya. Nah, saat kita mendapat anak yang menurut saya jauh lebih sulit dari pada mengurus mobil atau apa pun lainnya, malahan tidak ada manualnya. Yang rajin membaca barangkali akan berburu buku-buku tentang membesarkan dan mendidik anak. Sebagian besar lainnya memilih membesarkan anak dengan cara orang tua membesarkan mereka. Apakah ini salah? Mungkin juga tidak tetapi bisa jadi kurang optimal.

Setiap orang tua pasti ingin anaknya menjadi anak pintar dan kelak menjadi orang sukses. Saya bukannya mau mengupas bagaimana membesarkan dan mendidik anak agar menjadi sukses, melainkan membuat perbandingan budaya membesarkan dan mendidik anak di Amerika Serikat yang mudah-mudahan bisa kita ambil sisi positifnya.

1. Pemenang yang happy dan berhasil

Orang tua di Indonesia sangat senang apabila anaknya menang dalam suatu perlombaan termasuk lomba nilai rapor untuk mendapatkan ranking atas di sekolah. Kadang untuk mencapai kemenangan itu, anak dipaksa untuk berlatih dan berlatih terus, tanpa peduli apakah anak sudah menjadi jenuh karena kebanyakan latihan atau metode latihannya kurang tepat untuk anak-anak. Akibatnya, kalaupun berhasil keluar menjadi pemenang, anak sudah kecapaian dan tidak lagi terlalu happy dengan keberhasilannya. Ada seorang teman yang selalu juara sejak kelas 1 SD sampai SMP, rupanya di SMA prestasinya mulai turun. Saat kuliah dia malah drop out karena tidak mampu mengikuti pelajaran. Mungkin saja otaknya sudah mencapai titik jenuh karena terlalu dipaksa menghafal pelajaran sejak kecil.

Di lingkungan tempat saya tinggal sekarang, sering saya mendengar orang tua bertanya pada anaknya: “Are you happy, honey?” Pertanyaan ini begitu penting bagi para orang tua di sini untuk mengetahui bahwa anaknya happy atau tidak happy dengan sesuatu hal. Maka, dalam metode latihan/belajar untuk mencapai prestasi selalu diusahakan mencari cara yang menyenangkan atau fun. Cara ini disepakati oleh anak dan orang tua, dan apabila sudah deal maka tidak ada lagi istilah excuse atau mangkir.

Orang Amerika sangat heran dan kecewa apabila ada yang tidak disiplin dengan jadwal atau mangkir dari kesepakatan awal. Saya melihat disiplin bisa timbul begitu kuat adalah karena kesepakatan dan jadwal itu dibuat dan disetujui kedua belah pihak, yaitu anak dan orang tua atau pelatih. Maka, ketika anak berhasil menjadi pemenang, dia akan sangat happy karena merasa dilibatkan sejak proses latihan/belajar. Kalaupun kalah, anak telah belajar sesuatu yaitu cara latihan yang telah disepakati tidak bisa membawa kemenangan. Anak akan tertantang untuk menerima metode latihan/belajar yang lebih keras secara sukarela.

2) Penghargaan diri

Orang tua di negeri kita cenderung menomorduakan pendapat dan suara anak. Yang paling penting dan paling tahu adalah orang tua. Ketika orang tua akan pindah rumah—apakah karena pindah tugas atau sekadar pindah ke rumah yang lebih besar dan lebih nyaman—anak paling-paling hanya diberitahu bahwa kita akan pindah rumah, tanpa merasa perlu menanyakan apakah sang anak setuju atau tidak dengan rencana tersebut. Parahnya, ketika anak memberanikan diri bertanya kenapa harus pindah dan lain-lain, ada orang tua yang menjawab, “Sudahlah ini urusan orang tua, kamu diam saja.” Maka, anak Indonesia menjadi anak yang kurang berani mengeluarkan pendapat, apalagi menyatakan pendapat yang berbeda.

Tetangga di depan rumah saya di Houston, memiliki dua orang anak yang baru berumur 5 tahun dan 2 tahun. Sekitar dua bulan sebelum mereka pindah rumah, sang ayah sering mengomunikasikan rencana ini dan memberitahukan alasan kepindahan kepada dua orang anaknya yang masih sangat belia tersebut. Sejujurnya, saya sempat skeptis dan berpkir, “Ah, tahu apa sih anak-anak seumur itu?” Namun rupanya, mereka membahasnya dengan serius dan sang ayah menjawab dengan sabar setiap pertanyaan anak-anaknya. Bart, nama tetangga saya itu, memperlakukan dan mendengar pendapat anak-anaknya yang masih belia seperti dia memperlakukan orang dewasa. Dan, memang begitulah umumnya cara orang tua berkomunikasi dengan anak-anaknya di AS.

Makanya, anak-anak Amerika cenderung speak out dan berani mengutarakan pendapat meskipun berbeda. Pernah ketika saya berada di sebuah toko di Disneyland Orlando, seorang gadis kecil kira-kira berusia 4 tahun meminta pendapat saya, “Mana yang lebih bagus antara boneka berwarna pink dan putih?” Kemudian, saya jawab, “Keduanya cantik.” Namun, dia bilang, “Mommy only allow me to buy one.” Dan, ketika saya jawab, “Pink”, dengan gembira dia berlari menghampiri ibunya dan berkata, “Mommy, mommy I want the pink one.”

3) Perkembangan emosi

Anehnya ada orang tua di Indoneisa yang kadang memanjakan anak dengan membiarkan sang anak bertingkah nakal dan semaunya. Anak bermain pisau dibiarkan, anak memanjat meja dan lemari dibiarkan, anak membanting mainan dibiarkan, bahkan ada orang tua yang hanya bilang “jangan” ketika anaknya dengan sengaja meludahi minuman tamunya. Barangkali, mereka berpikir dengan tidak terlalu banyak dilarang anak akan menjadi lebih berani dan pintar. Dengan lugu mereka berkata, “Lihatlah cara orang Amerika mendidik anaknya. Mereka kan tidak banyak melarang ini dan itu sehingga anaknya menjadi lebih berani dan cerdas.”

Entah mereka mengamati dari mana cara orang Amerika mendidik anaknya, tetapi yang saya tahu mereka juga melarang ketika anak-anaknya bermain dengan barang berbahaya. Mereka juga menegur anaknya jika melakukan kesalahan.

Ketika anak tetangga saya berlairan di halaman depan rumah saya dan membuat sampah daun yang sedang dikumpulkan tukang kebun berserakan, ibunya segera menegur dan meminta anaknya meminta maaf kepada saya secara langsung. Perlu saya sampaikan bahwa ini anak kecil baru berusia sekitar 4 – 5 tahun. Dia datang ke saya dan menyatakan penyesalannya sambil minta maaf serta bilang tidak akan berlarian di halaman rumah saya lagi. Saya pun dengan senyum memaafkan anak tersebut dan menyatakan dia boleh kapan saja bermain di halaman rumah saya asal sudah minta izin orang tuanya.

4) Menggali potensi terbaik anak

Ketika anak TK/SD di Indoensia ditanya apa cita-cita mereka kalau sudah besar kelak, rata-rata jawabannya ingin menjadi insinyur, ingin jadi dokter, ingin jadi pengusaha, dan lain-lain. Jarang yang bilang ingin jadi pembalap, penyanyi, bintang film, pemain bola, atau apalagi tukang kayu. Mungkin juga kondisi negara maju yang memungkinkan olahragawan atau artis sebagai profesi yang menjanjikan juga memengaruhi cara berpikir mereka. Di sebuah acara TV di Amerika, saya takjub mendengar jawaban anak-anak yang jauh lebih beragam ketika ditanya ingin jadi apa kalau sudah besar. Ada yang menjawab normal (menurut saya) seperti ingin jadi dokter, lawyer, dan lain-lain. Tetapi, tidak sedikit juga yang menjawab ingin menjadi pembalap NASCAR, mekanik sepeda motor, tukang kayu, pemadam kebakaran, dan lain-lain. Dan ketika menjawab, kelihatan sekali matanya berbinar-binar penuh semangat menandakan itu adalah keinginan pribadi dan bukan hasil indoktrinasi orang tua. Orang tua di Amerika cenderung mengikuti dan mengarahkan agar bakat terbaik anaknya keluar apabila bekerja di bidang yang disukainya.

Ketika anak sudah kelas 3 SMA, orang tua di Indonesia umumnya lebih sibuk daripada sang anak dalam mencari informasi soal jurusan dan perguruan tinggi favorit yang tepat untuk anak. Memang saya yakin ada diskusi dua arah tentang masa depan anak, tetapi umumnya orang tua lebih dominan karena merasa lebih tahu apa yang terbaik untuk anaknya.

Teman sekantor saya di sini kebetulan anaknya masuk kuliah tahun depan. Nah, dia sampai mengorbankan cutinya dalam satu tahun hanya untuk berburu universitas. Ia menemani anaknya mengunjungi beberapa universitas pilihan dan berdiskusi dengan bagian penerminaan mahasiswa baru tentang keunggulan universitas tersebut, fasilitas yang mereka punya, kegiatan ekstra kurikuler, dan lain-lain. Sang orang tua sangat mendukung anaknya dalam mencari kampus dan jurusan pilihan. Namun, orang tua hanya memberikan pandangan agar sang anak menerima informasi yang lebih komplet. Rick, nama rekan sekantor saya tersebut, mengaku sama sekali tidak meminta/memengaruhi anaknya untuk memilih jurusan tertentu.

Dari keempat poin tersebut saya menyimpulkan kata kuncinya dalah komunikasi. Jadi, jika ingin anak tumbuh dengan cerdas, berani mengeluarkan pendapat, dan menjadi orang yang berhasil kelak, sering-seringlah berkomunikasi dengan anak dengan cara yang positif. Dengarkanlah dan hargailah pendapat mereka dan dukunglah cita cita positif mereka dengan sepenuh hati. Selamat berkomunikasi yang positif dengan anak.[ghs]

* Gatut Heru Susanto SE. AK, adalah profesional yang berkarier di perusahan minyak dan gas multinasional sejak lulus kuliah tahun 1989, dan telah menempati berbagai posisi di departemen Finance dan Planning. Ia menguasai berbagai aplikasi finance dan planning, mengantongi sertifikat penyusun model keekonomian (Certified Economics Modeller), menguasai sistem Kontrak Bagi Hasil (PSC Fiscal Terms), US GAAP, proses penyusunan Business Plan dan Strategic Plan, dll. Saat ini, ia bertugas di kantor pusat perusahaannya di Houston, AS. Gatut adalah pendiri Chevron Automotive Club dan menjadi chairman-nya yang pertama (2002-2006), Presiden Rumbai Country Club (2004-2006), dan saat ini berdomisili di Houston, Amerika Serikat. Ia bisa dihubungi melalui pos-el: gatuths[at]chevron[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.4/10 (10 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Inovasi Doa

Gatut Heru SusantoOleh: Gatut Heru Susanto*

Di antara kita pasti banyak yang pernah mengalami didatangi pengamen di lampu merah yang hanya bermodalkan tutup botol minuman yang dipakukan ke sebilah bambu dan nyanyinya enggak karuan. Setelah beberapa patah syair lagu dia mengetok-ketok kaca mobil meminta uang. Kita semua maklum, jika kita tidak memberi uang, alat musik sederhananya bisa jadi alat penggores mobil yang efektif .

Atau di antara kita pasti pernah didatangi seorang pengemis yang tubuhnya masih sehat dan sempurna, namun memilih jalan pintas untuk mendapatkan uang dengan meminta-minta.
Kita mungkin heran atau sedikit kesal meskipun bisa saja masih mau memberikan uang sekadarnya. Intinya, kita tidak suka peminta-minta yang tidak tahu diri.

Disadari atau tidak, kita pun telah seringkali menjadi peminta-minta yang tidak tahu diri. Setelah melakukan ibadah, kita umumnya berdoa meminta dilimpahkan rezeki atau memohon kesehatan. Seolah kita meminta imbalan atau upah setelah sembahyang dengan meminta rezeki dan kesehatan.

Sesungguhnya ini sangat memalukan, Tuhan tidak akan berkurang sedikit pun kekuasaan-Nya ketika kita tidak menyembahnya. Pun tidak bertambah sedikit kekuatan-Nya karena kita menyembahnya.

Ibadah yang kita lakukan adalah sujud syukur atas semua anugerah yang telah dilimpahkan kepada kita, tanda berserah diri kepada Sang Khalik. Jadi, logikanya kita tidak berhak lagi untuk meminta yang lain-lain.

Cuplikan kisah Nabi Ayyub A.S. berikut mungkin bisa memberikan inspirasi. Suatu ketika Nabi Ayyub yang sebelumnya menikmati kehidupan sejahtera, mendapat cobaan berat secara beruntun mulai dari seluruh ternaknya yang mati, seluruh ladangnya rusak dan kekeringan, anak-anaknya meninggal karena tertimpa reruntuhan bangunan akibat gempa bumi, sampai dengan Nabi Ayyub menderita sakit yang misterius.

Ketika istrinya meminta Nabi Ayyub memohon kepada Tuhan untuk kesembuhannya dan agar dibebaskan dari penderitaan, maka Ayyub balik bertanya pada istrinya, “Berapa lama kita menikmati masa hidup mewah, makmur dan sejahtera?”

Istrinya menjawab “80 tahun….”

Bertanya lagi Nabi Ayyub, “Berapa lama kita hidup dalam penderitaan ini?”

“Tujuh tahun.” jawab istrinya.

Maka, Nabi Ayyub A.S. berkata, “Aku malu memohon kesembuhan kepada Allah, karena masa penderitaan kita belumlah seberapa dibanding masa kejayaan yang telah dikaruniakan Allah kepada kita.”

Selanjutnya Ayyub memohon ampunan dan lindungan Allah dari godaan setan. Sebuah sikap dan tauladan yang luar biasa yang seharusnya mengajarkan kita makna keimanan, kesabaran, dan doa. Barangkali kita tak kan mampu menyamai atau bahkan mendekati saja tingkat keimanan dan kesabaran Nabi Ayyub A.S. Namun, dari kisah ini sesungguhnya bisa ditarik pelajaran untuk jangan terlalu mudah meminta dan untuk lebih tahu diri.

Sungguh keterlaluan rasanya jika kita yang sudah diberkati kesehatan, ilmu pengetahuan, kecukupan materi, masih selalu memohon minta rejeki di sela-sela Ibadah kita. Apalagi sampai berdoa meminta promosi atau meminta nilai terbaik dari hasil evaluasi kinerja kita tahun lalu. Bagaimana kalau kita mulai mengubah doa-doa konvensional kita dengan doa-doa yang inovatif, positif, dan lebih tahu diri? Mudah-mudahan doa kita akan lebih sering dikabulkan.

Jangan lagi berdoa meminta rezeki atau agar dagangan kita laris, tetapi berdoalah meminta agar Tuhan membukakan mata dan pintu hati kita untuk bisa lebih banyak membantu orang miskin dan kelaparan. Janganlah berdoa minta dipromosikan atau mendapat posisi strategis, tetapi berdoalah meminta agar semua korban lumpur porong segera mendapat ganti rugi untuk bisa membangun rumah di tempat lain. Berdoalah memohon agar bencana tidak lagi mendera rakyat yang sudah kesulitan hidup, atau berdoa agar para koruptor dibukakan pintu hatinya untuk setidaknya berhenti mencuri uang rakyat.

Gantilah doa untuk dijauhkan dari segala macam penyakit dengan doa agar orang tua, saudara atau rekan kita yang sedang sakit segera diberikan kesembuhan. Jangan berdoa untuk diringankan cobaan yang sedang menimpa kita tetapi berdoalah untuk selalu mendapat perlindungan dan ampunan Tuhan atas segala dosa dan khilaf kita. Selamat berdoa.[ghs]

* Gatut Heru Susanto SE. AK, adalah profesional yang berkarier di perusahan minyak dan gas multinasional sejak lulus kuliah tahun 1989, dan telah menempati berbagai posisi di departemen Finance dan Planning. Ia menguasai berbagai aplikasi finance dan planning, mengantongi sertifikat penyusun model keekonomian (Certified Economics Modeller), menguasai sistem Kontrak Bagi Hasil (PSC Fiscal Terms), US GAAP, proses penyusunan Business Plan dan Strategic Plan, dll. Saat ini, ia bertugas di kantor pusat perusahaannya di Houston, AS. Gatut adalah pendiri Chevron Automotive Club dan menjadi chairman-nya yang pertama (2002-2006), Presiden Rumbai Country Club (2004-2006), dan saat ini berdomisili di Houston, Amerika Serikat. Ia bisa dihubungi melalui pos-el: gatuths[at]chevron[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Menyambut Hari dengan Senyum Kemenangan

ghsOleh: Gatut Heru Susanto*

Tersenyum dan menyambut kemenangan setiap pagi? Ah, yang bener saja! Di masa sulit begini sudah untung kalau saya belum stres. Bisnis mandek, investasi di saham hancur, kerjaan di kantor tidak ada habisnya, mana bisa tersenyum setiap pagi?

Kalau saat bangun pagi, diri kita mengingatkan ada pekerjaan di kantor yang belum beres, atau kondisi kesehatan kita yang sedang tidak bagus, atau hal negatif yang lain yang akan membuat hari itu menjadi hari yang suram. Maka kita sudah mempersepsikan hari itu adalah hari kekalahan kita berikutnya, kita akan jadi pecundang lagi hari ini. Kalau semangat sudah hilang dari diri kita, ide kreatif untuk memecahkan masalah sudah pasti absen. Mengharapkan pertolongan orang lain? Ah, jangan-jangan mereka malah menghindar melihat muka kita dilipat tujuh dan pasang tampang angker. Mukjizat Tuhan yang disediakan untuk kita pun terlewatkan begitu saja karena pikiran kita terlalu sibuk untuk berkeluh kesah menyesali keadaan.

Tetapi, kalau kita awali hari dengan senyum dan katakan pada diri kita bahwa kita akan atasai masalah dan sambut kemenangan hari ini. Dan, bangun dari tempat tidur kita berdoa: “Ya Tuhan, hari ini aku akan jalani hidupku dengan penuh semangat dan siap menjemput rezeki-Mu. Aku tahu Engkau punya banyak mukjizat untukku dan akan kujemput sebagian hari ini.” Maka, hari itu akan menjadi hari kemenangan kita, ide kreatif akan hadir dalam jiwa yang bersemangat dan pikiran yang positif.

Karena dengan senyum, keramahan dan pikiran positif, maka setiap orang yang kita jumpai akan senang dan ikut bersemangat. Bukan mustahil kalau atasan Anda tiba-tiba menawarkan bantuan tambahan tenaga untuk menyelesaikan proyek yang tertunda. Atau, teman lama yang baru berjumpa kembali tiba-tiba menawarkan peluang bisnis kepada Anda.

Ada kisah dua orang mahasiswa mengurus permohonan beasiswa pada saat-saat terakhir. Bagian administrasi mengatakan kalau batas waktu mengajukan permohonan beasiswa adalah kemarin dan nama beserta data calon penerima beasiswa sedang dikonsolidasi untuk diranking dan di-review. Salah satu mahasiswa tersebut langsung kecewa dan sambil menggerutu dia pun pergi. Sementara, mahasiswa yang satu lagi dengan tetap tersenyum menanyakan apakah boleh tetap memasukkan aplikasi karena orang tuanya baru saja kehilangan pekerjaan. Melihat senyum dan semangat mahasiswa ini, mungkin saja bagian administrasi menjadi iba dan akhirnya menerima aplikasinya.

Seminggu kemudian, keluar pengumuman dan nama mahasiswa yang memasukkan aplikasi permohonan di saat-saat terakhir rupanya masuk dalam daftar penerima beasiswa semester itu. Beberapa hari kemudian, dia tahu namanya masuk karena menggantikan penerima beasiswa yang pindah ke universitas lain.

Terinspirasi burung-burung yang berkicau heboh setiap pagi di pepohonan di depan dan belakang rumah menyambut datangnya pagi. Siulan mereka saling sahut meriah sekali seolah-olah sedang merayakan pesta besar setiap pagi, ya setiap pagi.

Kalau bisa ingin rasanya saya tegur: “Hai burung, apa kalian tidak membaca koran yang menyebutkan harga saham makin anjlok dan ekonomi makin buruk? Apa belum dengar banyak perusahaan merumahkan karyawannya karena penjualan anjlok?”

Namun, mungkin juga burung-burung itu lebih mengerti rahasia Tuhan yang tidak pernah meninggalkan mereka dan selalu menyayangi makhluk ciptaan-Nya.

Jadi, jangan biarkan diri kita mengatakan pada kita apa yang akan terjadi hari ini. Tetapi, kita yang mengatakan pada diri kita, apa yang akan kita lakukan hari ini untuk menyambut sukses. Kalau biasanya orang menang dulu baru tersenyum, maka kita tersenyumlah dulu karena sudah tahu akan menang hari ini. Kalau burung saja bisa, masak kita tidak. Salam Kemenangan!!![ghs]

* Gatut Heru Susanto SE. AK, adalah profesional yang berkarier di perusahan minyak dan gas multinasional sejak lulus kuliah tahun 1989, dan telah menempati berbagai posisi di departemen Finance dan Planning. Ia menguasai berbagai aplikasi finance dan planning, mengantongi sertifikat penyusun model keekonomian (Certified Economics Modeller), menguasai sistem Kontrak Bagi Hasil (PSC Fiscal Terms), US GAAP, proses penyusunan Business Plan dan Strategic Plan, dll. Saat ini, ia bertugas di kantor pusat perusahaannya di Houston, AS. Gatut adalah pendiri Chevron Automotive Club dan menjadi chairman-nya yang pertama (2002-2006), Presiden Rumbai Country Club (2004-2006), dan saat ini berdomisili di Houston, Amerika Serikat. Ia bisa dihubungi melalui pos-el: gatuths[at]chevron[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox