Budaya Negara Maju dalam Membesarkan Anak
Editor | Kolom Lepas | September 29th, 2009 | No Comments »
Oleh: Gatut Heru Susanto*
Setiap berkunjung ke negara maju umumnya perhatian kita pertama tertuju pada fasilitas umum dan infrastruktur yang serba memadai dan nyaman. Jalan mulus dan memiliki banyak lajur, sekolah negeri dari SD sampai SMA memiliki fasilitas yang bagus dan gratis. Kantor-kantor pelayanan publik bekerja dengan profesional dan sangat efisien. Kemudian kita juga memerhatikan ketertiban umum dan disiplin yang sangat bagus dan cara orang-orangnya berinteraksi.
Kalau dari sudut prasarana fisik dan taraf ekonomi, saya pikir masih perlu 20 tahun atau bahkan lebih bagi Indonesia untuk masuk dalam kategori negara maju. Harus sedemikian lamakah kita menunggu untuk menikmati kenyamanan hidup ala negara maju?
Kita bisa menikmati kenyamanan budaya ala negara maju dalam waktu relatif lebih cepat kalau kita mau. Kita juga bisa membantu mempercepat pembangunan dengan menghasilkan generasi muda yang cerdas dan inofatif. Untuk bagian pertama dari meneropong negara maju dari sudut budaya, saya memilih budaya mendidik anak, karena anak adalah calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang. Kita bisa mulai dari diri sendiri dan keluarga untuk mendidik dan membesarkan anak dengan lebih optimal.
Ketika kita membeli barang baru apakah itu kendaraan, laptop, kamera, iPhone, atau yang lain umumnya selalu disertai dengan buku manual cara mengoperasikan dan perawatannya. Nah, saat kita mendapat anak yang menurut saya jauh lebih sulit dari pada mengurus mobil atau apa pun lainnya, malahan tidak ada manualnya. Yang rajin membaca barangkali akan berburu buku-buku tentang membesarkan dan mendidik anak. Sebagian besar lainnya memilih membesarkan anak dengan cara orang tua membesarkan mereka. Apakah ini salah? Mungkin juga tidak tetapi bisa jadi kurang optimal.
Setiap orang tua pasti ingin anaknya menjadi anak pintar dan kelak menjadi orang sukses. Saya bukannya mau mengupas bagaimana membesarkan dan mendidik anak agar menjadi sukses, melainkan membuat perbandingan budaya membesarkan dan mendidik anak di Amerika Serikat yang mudah-mudahan bisa kita ambil sisi positifnya.
1. Pemenang yang happy dan berhasil
Orang tua di Indonesia sangat senang apabila anaknya menang dalam suatu perlombaan termasuk lomba nilai rapor untuk mendapatkan ranking atas di sekolah. Kadang untuk mencapai kemenangan itu, anak dipaksa untuk berlatih dan berlatih terus, tanpa peduli apakah anak sudah menjadi jenuh karena kebanyakan latihan atau metode latihannya kurang tepat untuk anak-anak. Akibatnya, kalaupun berhasil keluar menjadi pemenang, anak sudah kecapaian dan tidak lagi terlalu happy dengan keberhasilannya. Ada seorang teman yang selalu juara sejak kelas 1 SD sampai SMP, rupanya di SMA prestasinya mulai turun. Saat kuliah dia malah drop out karena tidak mampu mengikuti pelajaran. Mungkin saja otaknya sudah mencapai titik jenuh karena terlalu dipaksa menghafal pelajaran sejak kecil.
Di lingkungan tempat saya tinggal sekarang, sering saya mendengar orang tua bertanya pada anaknya: “Are you happy, honey?” Pertanyaan ini begitu penting bagi para orang tua di sini untuk mengetahui bahwa anaknya happy atau tidak happy dengan sesuatu hal. Maka, dalam metode latihan/belajar untuk mencapai prestasi selalu diusahakan mencari cara yang menyenangkan atau fun. Cara ini disepakati oleh anak dan orang tua, dan apabila sudah deal maka tidak ada lagi istilah excuse atau mangkir.
Orang Amerika sangat heran dan kecewa apabila ada yang tidak disiplin dengan jadwal atau mangkir dari kesepakatan awal. Saya melihat disiplin bisa timbul begitu kuat adalah karena kesepakatan dan jadwal itu dibuat dan disetujui kedua belah pihak, yaitu anak dan orang tua atau pelatih. Maka, ketika anak berhasil menjadi pemenang, dia akan sangat happy karena merasa dilibatkan sejak proses latihan/belajar. Kalaupun kalah, anak telah belajar sesuatu yaitu cara latihan yang telah disepakati tidak bisa membawa kemenangan. Anak akan tertantang untuk menerima metode latihan/belajar yang lebih keras secara sukarela.
2) Penghargaan diri
Orang tua di negeri kita cenderung menomorduakan pendapat dan suara anak. Yang paling penting dan paling tahu adalah orang tua. Ketika orang tua akan pindah rumah—apakah karena pindah tugas atau sekadar pindah ke rumah yang lebih besar dan lebih nyaman—anak paling-paling hanya diberitahu bahwa kita akan pindah rumah, tanpa merasa perlu menanyakan apakah sang anak setuju atau tidak dengan rencana tersebut. Parahnya, ketika anak memberanikan diri bertanya kenapa harus pindah dan lain-lain, ada orang tua yang menjawab, “Sudahlah ini urusan orang tua, kamu diam saja.” Maka, anak Indonesia menjadi anak yang kurang berani mengeluarkan pendapat, apalagi menyatakan pendapat yang berbeda.
Tetangga di depan rumah saya di Houston, memiliki dua orang anak yang baru berumur 5 tahun dan 2 tahun. Sekitar dua bulan sebelum mereka pindah rumah, sang ayah sering mengomunikasikan rencana ini dan memberitahukan alasan kepindahan kepada dua orang anaknya yang masih sangat belia tersebut. Sejujurnya, saya sempat skeptis dan berpkir, “Ah, tahu apa sih anak-anak seumur itu?” Namun rupanya, mereka membahasnya dengan serius dan sang ayah menjawab dengan sabar setiap pertanyaan anak-anaknya. Bart, nama tetangga saya itu, memperlakukan dan mendengar pendapat anak-anaknya yang masih belia seperti dia memperlakukan orang dewasa. Dan, memang begitulah umumnya cara orang tua berkomunikasi dengan anak-anaknya di AS.
Makanya, anak-anak Amerika cenderung speak out dan berani mengutarakan pendapat meskipun berbeda. Pernah ketika saya berada di sebuah toko di Disneyland Orlando, seorang gadis kecil kira-kira berusia 4 tahun meminta pendapat saya, “Mana yang lebih bagus antara boneka berwarna pink dan putih?” Kemudian, saya jawab, “Keduanya cantik.” Namun, dia bilang, “Mommy only allow me to buy one.” Dan, ketika saya jawab, “Pink”, dengan gembira dia berlari menghampiri ibunya dan berkata, “Mommy, mommy I want the pink one.”
3) Perkembangan emosi
Anehnya ada orang tua di Indoneisa yang kadang memanjakan anak dengan membiarkan sang anak bertingkah nakal dan semaunya. Anak bermain pisau dibiarkan, anak memanjat meja dan lemari dibiarkan, anak membanting mainan dibiarkan, bahkan ada orang tua yang hanya bilang “jangan” ketika anaknya dengan sengaja meludahi minuman tamunya. Barangkali, mereka berpikir dengan tidak terlalu banyak dilarang anak akan menjadi lebih berani dan pintar. Dengan lugu mereka berkata, “Lihatlah cara orang Amerika mendidik anaknya. Mereka kan tidak banyak melarang ini dan itu sehingga anaknya menjadi lebih berani dan cerdas.”
Entah mereka mengamati dari mana cara orang Amerika mendidik anaknya, tetapi yang saya tahu mereka juga melarang ketika anak-anaknya bermain dengan barang berbahaya. Mereka juga menegur anaknya jika melakukan kesalahan.
Ketika anak tetangga saya berlairan di halaman depan rumah saya dan membuat sampah daun yang sedang dikumpulkan tukang kebun berserakan, ibunya segera menegur dan meminta anaknya meminta maaf kepada saya secara langsung. Perlu saya sampaikan bahwa ini anak kecil baru berusia sekitar 4 – 5 tahun. Dia datang ke saya dan menyatakan penyesalannya sambil minta maaf serta bilang tidak akan berlarian di halaman rumah saya lagi. Saya pun dengan senyum memaafkan anak tersebut dan menyatakan dia boleh kapan saja bermain di halaman rumah saya asal sudah minta izin orang tuanya.
4) Menggali potensi terbaik anak
Ketika anak TK/SD di Indoensia ditanya apa cita-cita mereka kalau sudah besar kelak, rata-rata jawabannya ingin menjadi insinyur, ingin jadi dokter, ingin jadi pengusaha, dan lain-lain. Jarang yang bilang ingin jadi pembalap, penyanyi, bintang film, pemain bola, atau apalagi tukang kayu. Mungkin juga kondisi negara maju yang memungkinkan olahragawan atau artis sebagai profesi yang menjanjikan juga memengaruhi cara berpikir mereka. Di sebuah acara TV di Amerika, saya takjub mendengar jawaban anak-anak yang jauh lebih beragam ketika ditanya ingin jadi apa kalau sudah besar. Ada yang menjawab normal (menurut saya) seperti ingin jadi dokter, lawyer, dan lain-lain. Tetapi, tidak sedikit juga yang menjawab ingin menjadi pembalap NASCAR, mekanik sepeda motor, tukang kayu, pemadam kebakaran, dan lain-lain. Dan ketika menjawab, kelihatan sekali matanya berbinar-binar penuh semangat menandakan itu adalah keinginan pribadi dan bukan hasil indoktrinasi orang tua. Orang tua di Amerika cenderung mengikuti dan mengarahkan agar bakat terbaik anaknya keluar apabila bekerja di bidang yang disukainya.
Ketika anak sudah kelas 3 SMA, orang tua di Indonesia umumnya lebih sibuk daripada sang anak dalam mencari informasi soal jurusan dan perguruan tinggi favorit yang tepat untuk anak. Memang saya yakin ada diskusi dua arah tentang masa depan anak, tetapi umumnya orang tua lebih dominan karena merasa lebih tahu apa yang terbaik untuk anaknya.
Teman sekantor saya di sini kebetulan anaknya masuk kuliah tahun depan. Nah, dia sampai mengorbankan cutinya dalam satu tahun hanya untuk berburu universitas. Ia menemani anaknya mengunjungi beberapa universitas pilihan dan berdiskusi dengan bagian penerminaan mahasiswa baru tentang keunggulan universitas tersebut, fasilitas yang mereka punya, kegiatan ekstra kurikuler, dan lain-lain. Sang orang tua sangat mendukung anaknya dalam mencari kampus dan jurusan pilihan. Namun, orang tua hanya memberikan pandangan agar sang anak menerima informasi yang lebih komplet. Rick, nama rekan sekantor saya tersebut, mengaku sama sekali tidak meminta/memengaruhi anaknya untuk memilih jurusan tertentu.
Dari keempat poin tersebut saya menyimpulkan kata kuncinya dalah komunikasi. Jadi, jika ingin anak tumbuh dengan cerdas, berani mengeluarkan pendapat, dan menjadi orang yang berhasil kelak, sering-seringlah berkomunikasi dengan anak dengan cara yang positif. Dengarkanlah dan hargailah pendapat mereka dan dukunglah cita cita positif mereka dengan sepenuh hati. Selamat berkomunikasi yang positif dengan anak.[ghs]
* Gatut Heru Susanto SE. AK, adalah profesional yang berkarier di perusahan minyak dan gas multinasional sejak lulus kuliah tahun 1989, dan telah menempati berbagai posisi di departemen Finance dan Planning. Ia menguasai berbagai aplikasi finance dan planning, mengantongi sertifikat penyusun model keekonomian (Certified Economics Modeller), menguasai sistem Kontrak Bagi Hasil (PSC Fiscal Terms), US GAAP, proses penyusunan Business Plan dan Strategic Plan, dll. Saat ini, ia bertugas di kantor pusat perusahaannya di Houston, AS. Gatut adalah pendiri Chevron Automotive Club dan menjadi chairman-nya yang pertama (2002-2006), Presiden Rumbai Country Club (2004-2006), dan saat ini berdomisili di Houston, Amerika Serikat. Ia bisa dihubungi melalui pos-el: gatuths[at]chevron[dot]com.
Oleh: Gatut Heru Susanto*
Oleh: Gatut Heru Susanto*