Jangan Pernah Merasa Pensiun

gg1Oleh: Gagan Gartika*

“Pensiun sering menakutkan bagi seseorang sehingga untuk menghilangkan ketakutan tersebut kita perlu aktivitas lain agar jangan pernah merasa pensiun.

~ Gagan Gartika

Usia pensiun pegawai pemerintah rencananya akan dinaikkan dari batas usia 55 tahun menjadi 58 tahun. Bagi mereka yang usianya mendekati pensiun, mendengar berita itu pasti banyak yang bergembira. “Lumayan, waktu bekerja tambah tiga tahun. Dari pada di rumah mendingan tetap bekerja. Selain dapur tetap ngebul, waktu tak terbuang. Dan, kalau hanya di rumah saja bisa cepat tua,” ucap mereka yang mendukung.

Aneh memang, ketika bekerja dan banyak kegiatan raut wajah terlihat ceria. Tetapi, menjelang pensiun wajah mulai berkerut, terlihat kusam, mata mulai menerawang—melamunkan pekerjaan setelah pensiun. Kondisi ini banyak dirasakan khususnya oleh mereka calon pensiunan pegawai negeri.

Untuk itu, agar terhindar dari cepat keriput, kusam, lunglai, dan tak berkegiatan, sebaiknya Anda jangan pernah merasa pensiun. Meskipun telah berhenti bekerja usahakan tetap memiliki kegiatan lain. Agar pikiran bisa bergerak terus dan berkegiatan—apalagi Anda telah berpengalaman bekerjasumbangkan saja pengalaman itu pada generasi berikut atau untuk perusahaan yang perlu bantuan.

Hal ini banyak dilakukan sekalipun oleh para mantan Presiden Amerika Serikat. Mereka tak pernah mau diam dan malah bergerak terus dalam bidang sosial. Mereka membuat organisasi dermawan yang membantu masyarakat miskin atau membantu mereka yang terkena penyakit yang sulit disembuhkan. Sehingga, hidup mereka selalu diisi dengan berbagai kegiatan dan tak pernah merasa pensiun. Mereka tetap memelihara jaringannya dan masih bisa berbaur dengan sesama teman dan itu membuat umur mereka lebih panjang.

Di luar pegawai negeri atau pada perusahaan swasta, meskipun pegawainya telah masuk usia pensiun tetapi masih banyak dari mereka yang memilih tetap berkarya. Bahkan, seperti bekerja seumur hidup alias tak merasa pensiun sehingga banyak dari mereka malah masih kuat, tak kalah dari yang muda.

Juga bagi mereka yang punya banyak kegiatan di luar selain sebagai pegawai negeri biasanya juga lebih sering memilih cepat pensiun. Karena, waktu mereka lebih sering dialihkan untuk kegiatan mandiri dan menciptakan pekerjaan bagi orang lain. Atau, mereka lebih bisa memerhatikan dirinya sendiri dibanding saat harus terus mengabdi pada pekerjaan pemerintah.

Memang masing-masing orang memiliki alasan sendiri dan tergantung dari mana mereka memandang saat memilih pensiun. Bagi yang tak ada pekerjaan lagi, orang lebih nyaman melanjutkan pekerjaannya. Sementara bagi yang berkegiatan di luar, pasti mereka lebih senang mengambil pensiun muda.

Mereka yang cepat pensiun bisa saja waktunya digunakan untuk berwiraswasta atau mengajar. Pengalaman telah ada, jaringan juga luas, teman banyak—tinggal memaksimalkan jaringan dan temannya tersebut. Lebih istimewanya, waktu dan bekal pensiun sudah ada sehingga itu jadi modal dalam berkarier selanjutnya. Ini beda dibandingkan dengan mereka yang dari nol dan tak ada kekuatan ketika harus berjuang mendirikan perusahaan.

Namun, meskipun telah berpengalaman, ternyata masih banyak di antara mereka yang ketika terjun berbisnis malah tidak berhasil. Mungkin karena sebelumnya terbiasa menjadi orang gajian, sementara dalam wiraswasta harus mampu menggaji diri sendiri. Inilah yang membuat mereka belum terbiasa; ke mana-mana dengan ongkos sendiri, mulai modal, penyediaan tempat, peralatan, membayar karyawan dll. Terkadang setelah berinvestasi pengembaliannya tak kunjung tiba sehingga modal dan investasi bisa melayang. Kadang bila bekerjasama, ketika partner-nya enggak cocok, malah bisa tertipu. Inilah tantangan dalam berusaha.

Maka dari itu, mindset pegawai negeri perlu segera diubah menjadi mindset sebagai pelaku usaha. Biasa enak lalu harus berubah menjadi apa adanya. Biasa santai, mesti berubah menjadi berjuang keras. Biasa ada petunjuk berubah jadi mencari petunjuk, mencari terobosan-terobosan baru. Biasa dapat makan, sekarang harus siap berubah menjadi pemberi makan. Pokoknya serba mandiri. Kalau enggak mandiri tak ada penghasilan dan tak ada makan kita menjadi terbiasa berpikir, berelasi, bertemu orang, melalui berbagai media atau komunitas serta organisasi yang banyak bertebaran. Ujungnya, suatu saat kita bertemu keberhasilan yang menjadikan hidup kita tetap berseri dan tak pernah merasa pensiun.

Setidaknya ini yang dilakukan teman saya. Sebelumnya ia bekerja di bagian hukum dan perizinan perusahaan BUMN. Begitu pensiun, ia tak mau menganggur. Makanya, ia memasuki sebuah organisasi pengusaha di bisnis tranportasi dan pergudangan. Ternyata, keahliannya banyak diperlukan oleh para pengusaha. Akhirnya, sekarang ia menjadi bagian personalia dan perizinan, menimati kegiatan baru pada perusahaan swasta. Pengalaman kerjanya bisa diaplikasikan pada perusahaan tersebut.

Pada saat yang sama para pensiun lainnya masih banyak yang merenungi nasibnya. Mereka meraba-raba mencari tahu jalan baru dalam mengisi kehidupannya. “Kenapa saya bangkrut terus saat mendirikan usaha? Bahkan selalu tertipu Jadi, bagaimana ya cara berusaha yang benar?” tanya seorang pensiunan kepada saya.

Setelah saya selidiki, ternyata penyakitnya adalah ia mendirikan usaha yang bukan berdasar keahliannya sehingga uang pensiunnya habis. Dan jalan keluarnya, sebaiknya ia bekerja sesuai keahlian karena keahlian bisa mendukung kelancaran dalam berusaha. Selain itu, ia tidak perlu banyak belajar lagi. Jadi tinggal menyesuaikan ritme dan model berusaha. Dengan demikian waktu tidak terbuang percuma.

Selanjutnya, ketika telah berhasil dalam berbisnis, kita akan mengetahui bahwa perputaran uang yang lebih menguntungkan adalah dari pendirian perusahaan. Hasilnya bisa berlipat jauh dibanding dengan uang yang ditaruh dalam instrumen investasi lainnya, baik deposito, reksadana, atau lembaran saham yang risikonya juga tinggi.

Kini apa pun bidangnya yang Anda pilih dalam bekerja, yang paling penting Anda memiliki aktivitas sehingga Anda tak merasa tua lagi serta masih terus berpenghasilan. Janganlah Anda merasa pensiun, tetapi tetap bergerak terus. Antara lain, terus bersilaturahmi dengan teman kantor, menginventarisir teman lama, teman baru, dan masuk organisasi. Jangan lupa untuk tetap bergerak sesuai keahlian agar Anda bisa dihargai dan banyak yang membutuhkan. Anda tak akan pernah merasa kesepian, apalagi harus meratapi kesedihan dan ketakutan karena telah kehilangan kebanggaan dalam bekerja. Dan sekarang, bangkitlah dan janganlah merasa pensiun. Dngan banyak bersilturahmi dan ikut masuk komunitas baru maka kemajuan akab tetap dalam genggaman Anda.[gg]

* Gagan Gartika adalah Praktisi Silaturahmi Marketing (Simark), Pengusaha di bidang Forwarding, Transportasi dan Pengurusan Jasa Kepabeanan pada PT. Kumaitu Cargo dan PT. Penata Logistic. Ia pemilik Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi Indonesia. Pendidikan terakhir, S2 Manajemen dari Ibii. Selain itu pada dibidang pengajaran, mengabdi menjadi Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti, Jakarta. Email: gagan@kumaitucargo.co.id atau website: www.silaturahmimarketing.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Semangat, Semangat, Semangat!

ggOleh: Gagan Gartika*

Semangat membuat tubuh, jiwa, dan pikiran kita yang terasa lemas menjadi bangkit kembali.

~ Gagan Gartika

Untuk menyegarkan tubuh, pagi-pagi saya suka jalan kaki, sekitar rumah dan keliling stadion di Jakarta Utara. Kata dokter cukup berolahraga tigapuluh menit saja sehari, badan kita sudah sehat. Dan karena itu, saya mencoba menjalankan terapi dokter tersebut. Selain supaya menjadi sehat, biar hidup saya bisa semangat dan bergairah kembali.

Memang terbukti. Pak Jaya misalnya, semula berpenyakit stroke. Untuk melangkah ke depan rumah saja tak sanggup. Namun, ia paksakan agar bisa jalan. Ia sendiri menyesal ketika jatuh sakit. Ia ingin sekali berolahraga, tetapi selagi sehat malas banget sehingga badan hancur dan kolesterol tinggi. Untuk itu, meskipun selangkah dan selagi masih bisa berdiri, ia bertekad bisa melangkah lagi.

Seminggu kemudian, Pak jaya sudah bisa melangkah lebih jauh, meskipun masih di sekitar rumah. Tetapi sebulan kemudian, ia sudah bisa keliling stadion, sama seperti yang saya lakukan. Bahkan, bulan berikutnya ia terlihat mampu keliling dengan bersepeda.

Di stadion terlihat banyak orang berjalan kaki, berlari, dan berolahraga lainnya. Mereka lakukan kegiatan itu setiap pagi. Saya lihat berbagai cara orang ingin sehat. Mereka berjalan sambil mengobrol sama teman, meskipun baru bertemu saat berolahraga. Saya sendiri kadang ikut nimbrung, berbagi cerita sambil jalan pagi. Ada cerita  menggembirakan dan menyedihkan. Dan yang paling kasihan, ada teman yang setiap membuka usaha selalu rugi.

Saat awal, ceritanya, ia buka bengkel kendaraan motor bekerja sama dengan seorang ahli perbaikan kendaraan. Kebetulan ia keluar dari tempat kerjaan pas ketemu saya yang kebetulan baru pensiun. Tak lama dari situ, kerja sama pun terjadi, mereka mendirikan usaha bengkel. Ia kebagian mempersiapkan tempat dan peralatan bengkel, sementara temannya yang mengoperasikan.

Saat awal berusaha bengkel itu banyak pelanggan dan bengkel pun mengalami kemajuan. Namun saat pembagian hasil, sering mengalami kendala. Mereka merasa yang kerja atau bagian operasional langsung perlu mendapatkan bagian lebih. Sementara, teman saya menginginkan uang dikumpul terlebih dahulu—baru dibagi, lagian modal seharusnya kembali dahulu.

“Semula saya mengalah, namun lama-kelamaan ia malah semakin menjadi-jadi. Mengambil uang tanpa sepemgetahuan saya. Wah repot, pikirku. Ujungnya terjadi perceraian, usaha tak berlanjut meskipun dalam keadaan maju, jelas teman saya ini.

Ia menyesalkan kejadian tersebut. Tapi harus gimana? “Meskipun bengkel banyak pelanggan, dan saat awal usaha kita baik-baik saja, bahkan usaha dilakukan dengan semangat sekali, sebelum ada penlanggan, saya dan mereka gencar berpormosi, mulai mengontak tetangga, memperkenalkan dengan menyebar brosur, yang terus menerus, sehingga bengkel dikenal orang. Namun karena permasalahan itu tadi, setelah berhasil pembagian menjadi tidak jelas dan sering selisih pendapat, usaha menjadi bangkrut, meskipun dalam kemajuan dan banyak pelanggan”, paparnya,

Semangat, semangat, semangat!pekik pejalan kaki lainnya yang berpapasan dengan kami, mengingatkan kami agar berolahraga penuh semangat.

Pembicaraan pun terhenti karena stop press dari pejalan kaki tersebut. Kemudian kata teman saya, “Saya bekerja sama dalam membangun perumahan karena melihat kawannya yang berhasil bergerak di bidang itu. Saya menyaksikan sendiri dan datang ke kantornya. Perusahaan dia berhasil mengembangkan usaha properti. Melihat saya pensiun dan menganggur tak ada pekerjaan, saya diajak bergabung mengembangkan lahan baru.

Si teman ini melanjutkan ceritanya, “Karena melihat keberhasilannya, saya bergabung bersama teman lainnya kumpulkan dana untuk membebaskan lahan baru. Kemudian, proses perizinan dan pembebasan tanah dilakukan. Saya yakin banget akan berhasil karena ditangani orang yang berpengalaman. Tetapi, ternyata di luar dugaan proses pembebasan tanah itu tak mulus. Terjadi sengketa. Padahal, banyak uang sudah keluar. Akhirnya, karena tanahnya luas dan banyak uang mati dalam pengurusan tanah tersebut, proyek tak bisa berjalan. Dan, usaha kedua kembali gagal.

Begitulah, nasib setelah pensiun. Menurut teman saya ini, ternyata membuka lahan usaha tidak gampang dan mendingan bekerja saja. Dalam berusaha, katanya, penuh intrik dan tipuan yang belum pernah ditemukan saat bekerja sebelumnya. Belum lagi kita harus berani menanggung rugi. Uang hasil pensiun bisa terkuras habis bila usaha terus begini. “Lantas, harus bagaimana? Kalau diam saja di rumah menjadi jenuh. Ketika berusaha, malah rugi terus!” keluhnya.

“Semangat, semangat, semangat,” teriak pejalan kaki tadi mengingatkan kami saat berpapasan lagi.

Kami yang lagi seru-serunya mengobrol sambil berjalan kaki jadi kaget dan seakan diingatkan. Apa pun masalahnya, kita memang harus tetap semangat berusaha. Memang begitulah, membuka usaha baru tidak gampang karena kita perlu berkenalan dulu dengan usaha yang kita jalankan. Baik mengenai produk, pasar, konsumen, harga, letak lokasi, tenaga kerja, termasuk teman kerjasama, dll. Dalam hal ini saya teringat selagi saya bekerja di perusahaan baru, perusahaan garment asal Korea. Saat awal berpoduksi—untuk menyamakan ritme bekerja—perusahaan mulai melakukan pelatihan karyawan. Kemudian sebelum menerima pekerjaan untuk ekspor, perusahaan terlebih dahulu mengerjakan pekerjaaan subkontrak. Dalam hal ini perusahaan bekerja membantu pekerjaan perusahaan lain yang memang perlu bantuan dan kelebihan order. Pekerjaan subkontrak ini dipakai untuk latihan sehingga pekerjaan dari luar negeri tidak langsung diterima, tetapi lebih menerima pekerjaan asal domestik atau pekerjaan teman.

Enam bulan kemudian tenaga kerja sudah mahir. Mereka sudah seirama dalam mengerjakan sesuatu. Kelemahan bekerja dan kekompakan terus telah mengalami perbaikan selama trial produksi. Setelah hasilnya bagus, kompak, dan lancar barulah perusahaan mulai berani menerima order untuk tujuan ekspor. Dan akhirnya, sebagai tenaga bagian ekspor, saya mulai mengurus dokumen ekspor perdana peusahaan tersebut. Pengguntingan pita perdana oleh pejabat sebagai bukti ekspor perdana sukses. Dan kesuksesan tersebut karena ada kesamaan dalam ritme bekerja yang sudah terlatih sebelumnya; mulai dari pimpinan, karyawan, bagian produksi, cutting, jahit, quality control, bahan baku, packing, dan ekspor terpadu menjadi satu irama kekuatan sehingga usaha bisa berhasil.

“Semangat, semangat, semangat!pekik pejalan kaki yang tadi berpapasan. Memang, apa pun masalah yang dihadapi, kita harus tetap semangat menjalani kehidupan ini. Karena dengat semangat itulah kita sudah membuka peluang agar suatu saat kita bisa berhasil. Jangan lupa, “Semangat, semangat, semangat ya Pak!demikian pesan saya sambil berpisah mengakhiri olahraga jalan kaki pagi itu.[gg]

*Gagan Gartika adalah Praktisi Silaturahmi Marketing (Simark), Pengusaha di bidang Forwarding, Transportasi dan Pengurusan Jasa Kepabeanan pada PT. Kumaitu Cargo dan PT. Penata Logistic. Ia pemilik Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi Indonesia. Pendidikan terakhir, S2 Manajemen dari Ibii. Selain itu pada dibidang pengajaran, mengabdi menjadi Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti, Jakarta. Email: gagan@kumaitucargo.co.id atau website: www.silaturahmimarketing.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Bisa, Ala Biasa

ggOleh: Gagan Gartika*

“Bisa ala biasa, sehingga apa pun bisa mahir dikerjakan asal terbiasa.”

~ Gagan Gartika

Meskipun Anda merasa bodoh atau kurang mampu, ketika menghadapi persoalan—tak perlu minder dan takut. Tapi kerjakan, sebab seorang yang tak bisa sekalipun, setelah mengerjakan pasti bisa, karena terbiasa. “Bisa ala biasa, kata isteri saya pede banget, saat meyakinkan dirinya agar bisa melaksanakan pekerjaan yang sulit sekalipun. Semboyan itu bisa mendorong seseorang yang belum bisa apa-apa dalam bekerja menjadi terbiasa bekerja, dan akhirnya mahir.

Saya mempunyai teman, Kolonel Tony Tambunan. Meskipun pangkatnya tinggi, ia keluar dari tentara dan beralih pada pekerjaan lain. Tentu karena mengerjakan sesuatu bukan pada bidangnya, yaitu berurusan dengan transportasi. Saat awal bekerja, ia tak bisa apa-apa sehingga sehari-harinya ia terus bertanya kepada bawahan agar pekerjaan yang merupakan tanggung jawabnya sebagai seorang manajer dapat dikerjakan. Meskipun sebagai pimpinan, ia tak malu bertanya pada anak buah. Misalnya, untuk mengetahui dokumen pengapalan, ia selalu menanyakan tentang persyaratan penerbitan dokumen, dukumen salah atau hilang, dan apakah perbaikan bisa menimbulkan masalah. Semua itu ditanyakan karena sebagai penandatangan Tony tidak mau bermasalah di kemudian hari.

Setiap hari Tony terus memelajari model bisnis sampai kepada model pengurusan dokumen. Ia memetakan persoalan secara keseluruhan soal pengiriman barang. Akhirnya, pekerjaan itu dikuasai karena ia menerapkan semboyan; bisa ala biasa.

Hebatnya, saat awal bekerja, hanya sebagai manajer, tetapi ketika ia pindah ke perusahaan lain, atau ditempat baru, Tony ini selalu dianggap sebagai seorang ahli transportasi sehingga dia diangkat menjadi seorang direktur perusahaan. Dan, orang baru disekitarnya menganggap dia piawai, apalagi didukung pangkatnya yang Kolonel, jadi semakin disegani.

Begitu juga bagi teman saya yang baru lulus perguruan tinggi, semula ia hanya sebagai mahasiswa PKL (Praktik Kerja Lapangan) dalam perusahaan pelayaran. Namun karena kegigihannya, ia menjadi ahli dalam menyandarkan dan melepas kapal. Dan berkat keahliannya, dia bisa bekerja di sana, dan bahkan sekarang tanpa dirinya perusahaan bisa sering kedodoran. Banyak kapal terhambat bongkar karena terlambat sandar. Banyak konsumen komplain dan biaya menjadi tinggi karena pengurusan dokumen terlambat. Anak muda ini bisa bekerja karena biasa. Bisa ala biasa.

Dalam mengurus perizinan di berbagai intansi pemerintah, misalnya saat mengurus STNK, KTP, surat-surat di Departemen Perdagangan, Departemen Kehakiman, Kantor Pajak, sering ada orang menawarkan jasanya agar mudah dan cepat pengurusan. Kita sendiri kadang sering kaku dan bingung dalam melakukan pengurusan. Banyak bertanya ke sana kemari, selain lambat akhirnya banyak biaya keluar. Tetapi melalui jasa mereka, yang terbiasa mengurus perizinan, selain biaya bisa ditetapkan segala urusan bisa cepat kelar. Mereka bisa mengurus cepat karena terbiasa. Jadi, bisa ala biasa.

Dengan begitu, kalau kita menerapkan semboyan bisa ala biasa dalam kehidupan, saat belajar atau saat ingin mendirikan usaha, kita akan cepat berhasil. Contoh, ketika kita melatih ingatan dalam mengembangkan vocabulary bahasa Inggris, memori kita akan kuat mengingatnya. Saat terjadi pemanggilan kata dan data tersimpan dalam memori akan cepat keluar. Selanjutnya, percakapan bahasa Inggris menjadi mahir karena otak pun kalau terlatih akan terbiasa berubah dan bertambah kuat. Bisa ala biasa.

Jadi, apaapun bisa dikerjakan dengan sukses karena kebiasaan kita dalam bekerja. Seorang sales akan jadi pedagang mahir karena terbiasa menawarkan. Seorang politikus akan pandai berkelit karena terbiasa berdebat. Seorang peneliti akan dapat menemukan sesuatu yang baru karena terbiasa meneliti seorang penunggang kuda. Pembalap, pemain sepak bola, akan bisa berlari kencang karena terbiasa bertanding. Seorang artis dan Master of Ceremony (MC) pandai berbicara karena biasa tampil di hadapan umum. Jadi, mereka bisa ala biasa.

Sehingga, bagi yang masih ketinggalan dalam berkeahlian, tak usah khawatir dan kerjakan terus. Lambat laun pekerjaan itu akan bisa dikuasai karena biasa. Begitu juga dalam memperluas jaringan, bagi mereka yang biasa bergaul, mereka akan mempunyai kenalan banyak dan relasi ada di mana-mana. Mereka akan mengetahui informasi baru dengan banyak teman sehingga tak akan lagi kesusahan dalam mendapatkan modal, meluaskan usaha, serta tak akan kesusahan dalam mencari solusi permasalahan.

Dalam hal permodalan, apabila orang berjejaring atau terbiasa bersilaturahmi dengan mereka yang memiliki dana dengan bunga pengembalian murah, mereka juga pasti mempunyai akses dalam hal mendapatkan dana. Dalam hal ini perusahaan perbankan, perusahaan pembiayaan, perusahaan leasing, penggadaian, asuransi, memang mereka ahli dalam bidang keuangan dan pendanaan. Mereka bisa menjadi perusahaan seperti itu karena tebiasa bergerak dan bergaul di bidangnya. Bisa ala biasa.

Dokter biasa membedah orang yang memiliki penyakit. Ia tak gentar dan pusing ketika harus memotong tangan orang, menyilet tubuh dengan berlumuran darah, karena memang sudah terbiasa. Pesulap bisa menghilangkan benda dan memainkan trik membuat penonton penasaran. Mereka pun bisa seperti itu karena biasa. Begitu juga mereka yang jadi pengacara, ahli pengurusan tanah, ahli beternak, ahli pertanian, keahlian tersebut timbul karena terbiasa. Jadi, bisa ala biasa.

Begitu ampuhnya prinsip bisa ala biasa bagi kehidupan seseorang. Maka, ketika saya menghadapi persoalan, saya sering tak berpikir panjang. Ketika ingin menguasai pekerjaan di mana saya terus saja mengerjakankarena saya yakin perkerjaan itu akan dapat dikuasai kalau sudah terbiasapekerjaan itu pun akhirnya saya kuasai dengan baik karena terbiasa.

Namun, tak semua pekerjaan dikerjakan sendiri karena keterbatasan waktu. Dalam hal ini saya akan menyerahkan pada ahlinya yang sudah terbiasa menangani pekerjaan. Begitu juga dalam menempatkan pegawai, saya sering menggunakan prinsip the right man in the right place. Menempatkan orang sesuai tempatnya agar pekerjaan bisa lancar. Bisa ala biasa.[gg]

* Gagan Gartika adalah Praktisi Silaturahmi Marketing (Simark), Pengusaha di bidang Forwarding, Transportasi dan Pengurusan Jasa Kepabeanan pada PT. Kumaitu Cargo dan PT. Penata Logistic. Ia pemilik Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi Indonesia. Pendidikan terakhir, S2 Manajemen dari Ibii. Selain itu pada dibidang pengajaran, mengabdi menjadi Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti, Jakarta. Email: gagan@kumaitucargo.co.id

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Silaturahmi: Cara Mudah Mendapatkan Jodoh

gg1Oleh: Gagan Gartika*

Kemudahan bagi seseorang, bisa dianggap sukar bagi orang lain, kecuali bagi mereka yang pandai bersilaturahmi segalanya menjadi mudah.

~ Gagan Gartika

Mendapatkan pasangan hidup, misalnya, bagi sebagian orang sangat mudah, tetapi bagi yang lainnya sukar. Saya mempunyai teman yang susah sekali dapat jodoh. Saya ambil contoh seorang teman wanita lajang, yang sampai saat ini sudah berumur lima puluh lima tahun, ia sukar sekali mendapatkan jodoh. Bukan tidak berkeinginan menikah, namun sulit banget mendapatkan pasangan hidup sehingga ia stres, hilang harapan.

Semula parasnya menunjukan dia wanita cantik, tapi kini sudah mulai memudar, kuyu, bahkan suka berpakaian asal-asalan. Dirinya merasa tak ada lagi yang akan memerhatikan. Kalau ditanya dia cepat tersinggung. Kini dia menumpahkan perhatian pada kucing sehingga kucing di rumahnya semakin banyak. Ia memelihara, memberi makan, memandikan, memakaikan baju, dan menjadikan semua kucingnya lucu-lucu.

Saya sendiri sempat bertanya, “Kenapa masih sendiri, apa enggak ingin menikah? Jawabannya, datar-datar saja, menunjukan dia frustrasi dalam usaha mendapatkan laki-laki.

Lain cerita dengan teman saya yang satu ini. Teman pria ini malah hobinya kawin, padahal pekerjaan belum punya. Bila ada pekerjaan, ya hanya sekali-kali. Itu pun kalau ada yang menyuruh menyopir sehingga penghasilan tidak jelas. Tetapi aneh, kok istrinya banyak? Ketika saya tanya, “Istrinya makan dari mana? Jawabannya enteng banget, “Mereka masing-masing cari sendiri.

Nah, bagi seseorang, berpoligami ini mudah sekali dijalankan. Sementara bagi yang lain, susah sekali, bahkan bisa menimbulkan stres karena harus membagikan keadilan.

Lalu, apa rahasianya, agar mudah mendapatkan pasangan hidup? Ternyata sederhana, yaitu mau membuka diri untuk bisa bergaul dan bersilaturahmi.

Dengan bersilaturahmi, kita bisa menceritakan keinginan kita kepada teman. Siapa tahu sebagai teman mereka bisa membantu? Sebab, yang susah mendapatkan jodoh itu tidak hanya dialami kaum wanita, tetapi banyak juga dari kaum laki-laki.

Teman saya, sering dipanggil Pak Ong, ia hidupnya membujang (usia 48 tahun). Sehingga, segala keperluan hidupnya serba dikerjakan sendiri, mulai dari mencuci, menjemur, menyeterika, sampai keperluan makan. Lagi-lagi, bujang lapuk ini ketika ada masalah sedikit saja juga sering tersinggung. Saya sendiri tak mengerti kok setiap orang yang belum dapat jodoh, apa berperilaku begitu ya, cepat tersinggung? Jawabannya, biarlah kalangan psikolog yang bisa menjawab. Tetapi kenyataan yang saya temui hampir sama.

Makanya, saya pikir kenapa ya mereka sulit mendapatkan jodoh? Sementara, yang lain tampaknya gampang-gampang saja. Akhirnya, penyelenggara biro atau lembaga kontak jodoh pun ramai dikunjungi. Biro-biro jodoh ini sebagai mediasi untuk mempertemukan mereka yang kesulitan mendapatkan pasangan. Dalam kegiatannya, lembaga ini lebih banyak menerapkan pola silaturahmi untuk menyandingkan mereka.

Biro-biro tersebut membuat serangkaian event agar para bujang dan lajang itu bisa dekat, berkumpul bersama, menyanyi bersama, olah raga bareng, piknik, sehingga memungkinkan mereka saling mengenal dan bercerita.

Ketika berkumpul bersama, misalnya, mereka perlu saling menyapa, bersalaman, saling menceritakan tentang hobi, kesenangannya, pekerjaan sehari hari sampai kepada tipe idaman yang diinginkan. Kagiatan pertemuan sering diadakan terus-menerus sehingga mereka mendapatkan pasangan yang cocok.

Melihat model itu, ternyata silaturahmi mempunyai kekuatan yang ampuh bagi orang yang susah mendapatkan jodoh.

Menyontek model yang dilakukan biro jodoh ini, bagi kita yang masih jomblo, namun tidak berkenan datang ke sana, bisa berusaha mendapatkan pendamping hidup dengan sering melakukan silaturahmi. Caranya ya dengan mendatangi perkumpulan-perkumpulan yang banyak massanya, bertegur sapa lewat internet, karena di sana pasti akan mendapatkan peluang dan ketemu berbagai macam orang.

Dalam silaturahmi, supaya lancar kita perlu memilki sikap penolong dan mau membantu orang yang sedang dalam kesusahan. Hasil bantuan kita akan mendapat perhatian dari orang lain sehingga citra kita sebagai seorang penolong dan peduli terhadap orang lain makin melekat.

Makanya, saya yakin bagi orang yang tadinya susah mendapatkan jodohdengan sering melakukan silaturahmiakan cepat memperoleh apa yang dicita-citakan. Kita bisa meluaskan hubungan, meluaskan relasi. Dan, dengan banyaknya kenalan, masak sih enggak ada yang melirik kemampuan kita? Apalagi memiliki jiwa penolong. Pasti deh, dapat dan mudah. Hehehe….[gg]

* Gagan Gartika adalah praktisi Silaturahmi Marketing (SiMark), pengusaha di bidang forwarding, transportasi, dan pengurusan jasa kepabeanan pada PT Kumaitu Cargo dan PT Penata Logistic. Ia adalah pemilik Lembaga Pendididikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi Indonesia. Pendidikan terakhirnya adalah S-2 Manajemen dari Ibii, Jakarta. Selain itu, pada bidang pengajaran Gagan mengabdi sebagai dosen Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti, Jakarta. Per November 2009, Gagan tergabung sebagai Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com. Artikel di atas merupakan bagian dari naskah yang hendak diterbitkan menjadi buku dengan judul The Power of Silaturahmi. Gagan dapat dihubungi melalui pos-el: gagan[at]kumaitucargo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.7/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 2 votes)

Silaturahmi: Cara Gampang Memperoleh Modal

ggOleh: Gagan Gartika*

Orang memberikan modal karena kepercayaan, sementara kepercayaan meningkat karena seringnya kita bersilaturahmi.

~ Gagan Gartika

Pak Anas bekerja pada perusahaan truk. Orangnya rajin bergaul sehingga banyak berkenalan dengan orang yang akan mengirimkan barang dari pelabuhan ke pabrik. Maklum, daerah pelabuhan adalah tempat perputaran bisnis di bidang bongkar muat, transportasi, pengurusan dokumen barang, pengiriman barang untuk keluar negeri, atau yang datang dari luar. Sehingga, kegiatan di sana sibuk sekali, karena 80 persen kegiatan ekspor impor terpusat di Pelabuhan Tanjung Priok.

Karena banyaknya kenalan, Pak Anas pun banyak mengetahui tentang bagaimana cara mendapatkan order muatan, cara pengadaan truk, cara pengurusan dokumen pelabuhan, dan seluk beluk supir. Ketika truk perusahaan tempat ia kerja tak memadai, kelimpungan order, ia lemparkan ke perusahaan lain sebagai rekanan sehingga tak ada order muatan yang tak tertangani. Semua pelanggan puas, akhirnya muatan berikutnya terus-menerus dipercayakan melalui perantaraannya.

Berkat tekad untuk maju, selain memperluas pergaulan ia pun sering menyisihkan hasil usahanya dengan menabung ke bank tak jauh dari tempat kerja. Lama kelamaan tabungannya menjadi besar. Ia berpikir, daripada order dilempar keperusahaan lain, mendingan ditangani sendiri karena dalam bisnis truk sebetulnya hanya perlu menyiapkan uang muka dalam pengadaan truk dan selanjutnya cicilan dari muatan berjalan. Akhirnya, Pak Anas membeli truk dari temannya yang kebetulan mau dijual.

Seiring waktu berjalan, tabungannya meningkat pula, order muatan terus berdatangan. Bank tempat menabung mengetahui pergerakan anak muda ini. Karena kepercayaannya bank berani memberikan pinjaman modal untuk meningkatan usaha melalui pemberian uang muka truk. Kini truk yang diusahakan sudah mencapai 25 truk, suatu prestasi yang luar biasa karena tadinya tidak memiliki truk. Ini berkat ketekunan bergaul dan menumbuhkan kepercayaan pada pemberi order muatan serta perbankan. Itu semua menjadikannya seorang yang sukses.

Model seperti Pak Anas ini bisa kita temui di mana-mana, di lingkungan sekitar kita, yang membuktikan bahwa semakin luas pergaulan, semakin luas relasi, semakin kita akan mendapatkan kesempatan untuk maju. Dan, permodalan bukan sesuatu yang susah sekali kita dapat, tetapi dengan jalan kepercayaan, semua bisa berjalan dengan lancar.

Di sinilah kekuatan bersilaturahmi bisa menunjukan perannya. Pantesan, kalau ingat orang tua dulu sering memberikan nasihat, “Jangan sampai putus sama saudara atau putus sama teman lama. Karena ternyata, silaturahmi akan mendatangkan sesuatu rezeki yang kadang tidak terduga serta memberikan modal kepercayaan bagi orang lain.

Anda sendiri bisa mencoba mendapatkan modal dengan cara itu. Yang penting sebelum melakukan pinjaman kita perlu menguji dulu diri sendiri. Sehingga, ketika pemilik modal mengujinya, tak aneh lagi kita akan lulus dan mendapatkan kepercayaan.

Cara mengujinya, yaitu kita harus sanggup menyisihkan penghasilan kita dengan jalan menabung agar memudahkan pencatatan dan pengukuran perputaran uang. Meskipun sedikit, tabungan itu lama-lama akan bertambah. Nah, dari sana kita akan mengetahui berapa uang yang bisa mengendap. Uang itu dapat diputar lagi, dan perputaran itu lama-lama akan semakin besar.

Tingkat perputaran, yang semakin tinggi dan selalu ada pengendapan sering menggoda bank untuk memberikan pinjaman modal. Karena, kita telah menguji diri sendiri dengan jalan menabung tadi, dan hasilnya telah ada pengendapan uang di bank. Maka, kalau kita ingin mengambil modal perbankan sebaiknya dapat disesuaikan dengan berapa besar jumlah uang yang mengendap tersebut. Sehingga, kita mampu mengembalikan pinjaman bank dan selain itu perputaran bisnis bisa semakin bagus.

Saya sendiri ketika memerlukan mobil boxsebelum meminjam modal dari bank atau mengambil leasingsaya berhitung seberapa banyak uang mengendap dari hasil usaha. Saya lihat catatan keuangan, ternyata uang yang selalu tak terpakai dalam catatan bank cukup lumayan. Sementara, untuk mengantarkan kiriman barang saya sendiri selalu menyewa truk dari perusahaan lain. Akhirnya, saya berani mengambil mobil box tersebut secara leasing dengan pembayarannya dari hasil uang yang tak terpakai tersebut. Sehingga, perputaran uang kita semakin bertambah yang didapat dari hasil uang yang biasa untuk sewa truk ke perusahaan lain. Selain itu, saya ada tambahan aset dari mobil box yang kini telah lunas.

Jadi, dengan memberikan kepercayaan terhadap orang lain, selain silaturahmi menjadi lancar dan banyak orang yang bisa memberikan modal, usaha kita akan bertambah besar. Dan sekarang, bila Anda mau memperoleh modal dengan model gampang seperti itu, Anda dapat mencobanya dengan cara sederhana tadi. Tentu usahanya disesuaikan dengan usaha Anda. Yang paling prinsip ciptakan uang agar mengendap. Jika memerlukan modal, ambil modal pinjam tersebut dengan memperhitungan uang pengendapan. Lalu, lakukan usaha dan pengembalian dengan jujur sehingga pinjaman bisa balik, dan selanjutnya perbankan atau leasing bisa memberikan modal yang lebih besar lagi.[gg]

* Gagan Gartika adalah praktisi Silaturahmi Marketing (SiMark), pengusaha di bidang forwarding, transportasi, dan pengurusan jasa kepabeanan pada PT Kumaitu Cargo dan PT Penata Logistic. Ia adalah pemilik Lembaga Pendididikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi Indonesia. Pendidikan terakhirnya adalah S-2 Manajemen dari Ibii, Jakarta. Selain itu, pada bidang pengajaran Gagan mengabdi sebagai dosen Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti, Jakarta. Per November 2009, Gagan tergabung sebagai Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com. Artikel di atas merupakan bagian dari naskah yang hendak diterbitkan menjadi buku dengan judul The Power of Silaturahmi. Gagan dapat dihubungi melalui pos-el: gagan@kumaitucargo.co.id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.3/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Silaturahmi: Cara Cepat Mengembangkan Usaha

gg1Oleh: Gagan Gartika*

Usaha yang dilakukan secara sederhana ternyata lebih cepat berkembang, apalagi ditunjang dengan kekuatan silaturahmi.”

Saat awal belajar usaha ternyata kita sering salah melakukan sesuatu, terlalu berpikir njelimet, dan rumit. Seakan dalam berusaha itu seperti mau berperang melawan musuh. Untuk persiapan berusaha kita persiapkan jauh-jauh hari, mulai sekolah berlama-lama sampai akhirnya di perguruan tinggi. Setelah lulus sarjana ternyata belum jadi pengusaha juga. Kita malah sering bingung sendiri. Dari semenjak jadi sarjana saja, ilmu demikian banyak, penerapannya malah menjadi rumit. Dari belajar manajemen SDM saja misalnya, ilmu yang dipelajari seabreg, mulai dari mempelajari rekrutmen pegawai, cara penggajian, hingga melakukan pelatihan dan peningkatan keterampilan pegawai. Jika terus diikuti ilmunya jelas tak akan habis-habis.

Selanjutnya, kita kejar belajar organisasi agar tahu cara berorganisasi, belajar keuangan agar tahu cara mengelola keuangan, belajar pemasaran agar tahu cara menjual barang, belajar ekonomi makro, dan ekonomi mikro agar tahu perkembangan pergerakan ekonomi secara keseluruhan. Banyak sekali ilmu yang perlu dipelajari. Tetapi setelah selesai belajar, kita malah sering stres, ilmu apa dulu ya yang perlu diaplikasikan dalam pekerjaan? Menggunakan teori apa ya agar usaha bisa berdiri?

Semua yang dipelajari di atas ternyata baru teori cara mengelola perusahaan. Sementara, produk apa yang akan kita usahakan belum juga ketemu. Dari sini kita berpikir njelimet lagi sehingga sudah sekian tahun kita belajarbahkan sampai bergelar doktor sekalipun—namun perusahaan belum berdiri juga karena kita belum ketemu produk yang akan diusahakan. Akhirnya, kita terdampar menjadi dosen karena kita terus-menerus meneliti. Ketika ditanya, “Bagaimana wiraswastanya?” Jawabannya, “Belum siap!” Karena dalam berwirawasata, katanya, kita harus siap mental, punya keberanian, punya modal, berpengalaman, dan banyak persyaratan lainnya. Sehingga, lagi-lagi kita semakin jauh dari mimpi punya usaha sendiri.

Namun, kalau kita berpikir sederhana, kita akan melirik kepada perusahaan-perusahaan yang telah berdiri. Ternyata, usaha yang dilakukan secara sederhana justru bisa cepat berkembang. Dengan berjualan kopi saja, misalnya, begitu banyak perusahaan berhasil menggapai kesuksesan besar. Pemainnya ada Starbucks, Kopi Luwak, Coffee Beans, dll.

Contoh lain, jualan ayam goreng di sini berdiri KFC, AW, McDonald, dll. Atau, jualan donat saja ada Dunkin Donuts dan J.Co Donuts. Ternyata, produk yang diusahakan oleh semua perusahaan tadi adalah produk-produk sederhana. Saya yakin banyak dari kita pun mampu mengembangkan produk seperti itu. Cuma, ya itu tadi, karena cara berpikir kita terlalu njelimet sehingga pendirian usaha tak jadi-jadi.

Untuk itu, mencontoh dari keberhasilan mereka, mulailah mengusahakan produk sederhana. Misalnya, kalau mau jualan tahu buat deh berbagai model tahu; kemasan tahu, variasi tahu, dan pendamping makan tahu. Atau, makan tahu pakai kecap dan cabe, tahu pakai saos, tahu goreng, tahu pakai sayuran, tahu potong miring, tahu bulat, tahu putih, atau tahu warna. Lalu, tinggal dikasih merek agar tahu yang kita jual pun jadi branded.

Juga jual tempe, ya tempe goreng, tempe goreng tepung, tempe bacem, atau tempe mendoan. Lalu, dimakan pakai sambel, tempe diorek, tempe dikukus, tempe potong tebal, potong tipis, tempe kuning, tempe merah, ya pokoknya tempe dibuat variasinya, lalu kasih merek lagi biar branded. Jadi, deh usahanya. Dengan demikian, kalau usaha ingin cepat berkembang, kita juga tak perlu berpikir yang njelimet-njelimet. Yang sederhana saja, setelah itu kembangkan secara menarik.

Bila banyak pakar pemasaran, pakar inovasi, mulai berpikir dan mendorong bangsa Indonesia ke arah pengusahaan kekayaan dan warisan makanan nenek moyang kita, dengan cara sederhana seperti itu, saya yakin akan ada banyak pengusaha kita bisa cepat berhasil.

Memang agak terbalik cara berpikir kita. Kalau berpikir kita inginnya yang canggih-canggih. Misalnya, membuat pesawat terbang atau membuat produk dengan teknologi tinggi. Sementara, bangsa lain seperti Malaysia berpikir sederhana yaitu mengembangkan produk dari dasar tradisional sehingga kita sering kebobolan, yaitu banyak warisan budaya kita yang diambil oleh mereka. Padahal, ribuan budaya kita ternyata juga masih banyak yang bisa dikembangkan. Gampangnya, ambil salah satu, kemas dengan baik, kembangkan.

Dan, warisan budaya Indonesia sangat kaya. Setiap daerah memiliki kekhasan masing-masing sehingga kemasan budaya ini akan cepat berkembang menjadi usaha yang bisa menarik tujuan pariwisata dunia. Misalnya, batik yang telah diakui dunia adalah merupakan warisan leluhur bangsa Indonesia. Dan, produk-produk lain toh masih banyak yang perlu dikembangkan. Kemudian, setelah produk yang secara sederhana diusahakan, tinggal kita memperkuat pengembangan dan pemasarannya, yaitu lewat kekuatan jaringan silaturahmi.

Kegiatan silaturahmi juga merupakan budaya di Indonesia yang perlu dikedepankan. Namun, terkadang kita kurang menyadari sehingga kita terlalu njelimet mencari teori-teori lain yang lebih rumit. Padahal, kalau kita mengembangkan dan meluaskan tali silaturahmi sajayang dimanfaatkan buat pengembangan usaha—saya yakin usaha kita akan cepat berkembang. Dalam pengembangan usaha lewat silaturahmi, kita bisa membuat event tempat orang bisa ramai-ramai berkumpul banyak. Mereka bisa bertukar pikiran tentang cara mengusahakan suatu produk, mereka bisa bertemu dalam satu tempat, dan mereka juga bisa saling memasarkan produknya.

Dalam silaturahmi kita berpikir meluaskan hubungan dan relasi sehingga kita dapat mengemasnya dengan berbagai cara meluaskan hubungan. Misalnya, lewat pertemuan melalui hobi, olahraga, gathering, organisasi, pengembangan cabang usaha, chating lewat internet, blog, Facebook, website, dll. Dengan begitu, semakin luas kita bersilaturahmimeskipun produk yang diusahakan sederhana—itu akan membuat produk kita tersebar meluas ke konsumen.

Alhasil, produk tersebut akan berkembang sesuai dengan permintaan konsumen. Akhirnya, produk akan kuat di pasar dan dibutuhkan oleh pelanggan setianya. Sehingga, produk tradisional kita tak kalah oleh produk-produk keluaran bangsa lain. Karena itu, menggerakan usaha sederhana akan lebih cepat berkembang, apalagi kalau didukung oleh kekuatan silaturahmi.[gg]

* Gagan Gartika adalah seorang pelaku Silaturahmi Marketing (SiMark) dan pengusaha forwarding konsolidator, transportasi, dan kepabeanan. Ia juga menjadi dosen STMT Trisakti, Jakarta, dan saat ini sedang menulis sebuah buku pemasaran. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: gagan[at]kumaitucargo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.4/10 (9 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Silaturahmi, Cara Gampang Memperoleh Pekerjaan

ggOleh: Gagan Gartika*

Anda masih menganggur, belum mendapatkan pekerjaan tetap sampai saat ini? Coba kita telaah, mungkin ada yang salah dalam cara Anda mendapatkan pekerjaan atau dalam menjalani hidup, khususnya, dalam melakukan silaturahmi.

Saat melihat banyak pengangguran di sekitar kita, terkadang saya suka merasa kasihan kepada mereka. Padahal, ilmu dicapai sudah demikian tinggi. Dari gelar yang diperolehnya, bukan main, banyak yang telah lulus perguruan tinggi, bahkan telah menapaki jenjang S-2 (Magister). Namun, kok masih belum mendapatkan pekerjaan? Mereka yang sudah bergelar insinyur, sarjana ekonomi, sarjana pertanian, sarjana hukum, dan lainnya, kok terus-menerus menenteng lamaran kerja? Mereka masih bingung ke sana kemari mencari pekerjaan.

Di antara mereka, bahkan ada yang sempat stres ingin mengembalikan ijazah yang telah diperoleh dari perguruan tinggi. Mereka merasa ijazah yang telah diperoleh itu tidak ada gunanya lagi. Berbagai perusahaan yang telah dilamar, hampir semuanya serentak mengatakan tidak ada lowongan pekerjaan. Sementara, perusahaan yang membuka lowongan, klasifikasinya sering tidak masuk sehingga lamaran jarang direspon.

Apalagi zaman sekarang, untuk melamar pekerjaan sudah tidak murah lagi, khususnya pegawai negeri. Persiapan untuk fotocopy ijazah serta untuk memenuhi persyaratan lainnya, yang didapatkan perlu dengan pengeluaran uang, antara lain surat kesehatan, bukti kelakuan baik, tes pskologi, tes TOEFL, dan ongkos pengiriman lamaran, biayanya cukup besar.

Bayangkan bila kita harus menyebar lamaran ke berbagai perusahaan, tentu pengeluaran secara total menjadi besar. Padahal, lamaran yang dimasukan tersebut belum tentu mendapatkan tanggapan dari perusahaan. Dan, biaya itu pun baru sebatas pengiriman sesuai persyaratan yang diminta oleh perusahaan pemasang iklan di surat kabar.

Sehingga wajar apabila banyak orang stres dalam mendapatkan perkerjaan ini. Apalagi kalau orang tua kita bawel, tak sabar melihat kita ingin cepat bekerja, kita lebih stres. Belum lagi tetangga, teman seangkatan, saudara, yang sering bertanya tentang pekejaan itu. Ini menjadikan kita pontang-panting untuk segera mendapatkan pekerjaan.

Sebetulnya, bagi orang yang tahu kiatnya, tak begitu sukar memperoleh pekerjaan. Karena, yang membuat Anda sulit mendapatkan pekerjaan adalah diri kita sendiri. Dalam hal ini ada beberapa hambatan untuk memperoleh pekerjaan.

Pertama, mengenai keahlian praktis dalam bekerja, apakah Anda telah miliki? Karena, dunia kerja sering menuntut ilmu terapan, tidak sekadar teori. Berbeda dengan perguruan tinggi, di antaranya masih banyak yang hanya memberikan teori-teori dalam pengajarannya. Sementara, model praktisnya kurang diberikan. Hal ini wajar karena dosen yang bersangkutan belum pernah mengenyam dunia kerja praktis. Tetapi, dosen hanya mengenyam pengalaman dari sisi keilmuan. Untuk mengatasinya, Anda perlu menambah ilmu praktis dengan kursus terapan atau banyak praktik kerja.

Kedua, Anda telah memiliki keahlian, tapi belum dikenal di pasar kerja, bisa saja Anda masih menganggur. Karena, perusahaan belum mengetahui kemampuan Anda, sementara lamaran yang Anda berikan hanya terdampar di file perusahaan. Apalagi kalau Anda mengirim lamaran lewat perantaraan kantor pos. Jalan keluarnya, bagi pelamar yang masuk kategori ini, Anda harus mengenalkan kemampuan Anda kepada dunia kerja dengan cara magang kerja. Setelah lulus kuliah, enggak apa-apalah Anda bekerja dulu tanpa digaji. Anggaplah ini merupakan biaya perkenalan atau dalam jualan catering disebut sebagai test food dulu. Sehingga, dengan mereka mengenal kemampuan pekerjaan atau lezatnya masakan Anda, mereka akan ketagihan. Selanjutnya, mereka akan menjadikan Anda sebagai pegawai tetap, atau kalau untuk catering mereka akan memesan makanan Anda buat karyawan mereka. Dengan demikian, magang merupakan alternatif cepat dalam mengenalkan keahlian dan memperoleh kerja dibanding dengan melamar-lamar pakai pos.

Ketiga, Anda terlalu jual mahal sehingga setiap melamar pekerjaan selalu mempermasalahkan gaji yang akan diterima. Padahal, keahlian Anda belum ditunjukan kepada perusahaan. Mereka tahu Anda hanya berdasar fotocopy ijazah. Sehingga, perusahaan enggan menerima karena anggaran perusahaan belum cocok untuk memenuhi gaji sesuai dengan permintaan pelamar. Cara mengatasinya, kalau Anda sebagai pelamar baru, sebaiknya Anda menyesuaikan dengan anggaran mereka. Lain lagi kalau setelah masuk bekerja perusahaan akan mengetahui keandalan Anda, termasuk tekun, rajin, berkualitas, mampu bekerja dalam tekanan. Nah, setelah kenal, biasanya perusahaan akan mempertimbangkan kenaikan salary dan pemberian fasilitas.

Keempat, kurangnya kenalan atau relasi. Akibatnya, Anda kurang informasi mengenal perusahaan mana yang membutuhkan tenaga Anda. Sehingga, pasar kurang mengetahui keandalan atau keahlian yang Anda miliki. Berbeda dengan orang yang rajin bersilaturahmi, ia pandai bergaul, begitu lulus dan memiliki keahlian tertentu, keahliannya sudah banyak dikenal oleh temannya yang sudah bekerja. Karena, ia terbiasa mengerjakan pekerjaan paruh waktu, kuliah sambil bekerja. Dan ketika ia lulus kuliah, pekerjaan cepat ia raih. Silaturahmi membuat relasi semakin luas. Relasi yang luas akan memberikan peluang bagi seseorang menjadi lebar. Sehingga, kalau hanya urusan mendapatkan pekerjaan, bisa cingcailah apalagi teman sudah lama mengenal kemampuan dan prilaku kerja Anda, akan mudah menolong.

Karena itulah bagi mereka yang belum mendapatkan perkerjaan, mulailah sekarang meluaskan silaturahmi dengan teman atau mengenalkan diri kepada kemunitas sesuai dengan keahlian ilmu yang dimiliki. Supaya gampang memperoleh pekerjaan, bersilaturahmilah![gg]

* Gagan Gartika adalah Pengusaha di bidang Forwarding, Transportasi dan Pengurusan Jasa Kepabeanan pada PT Kumaitu Cargo dan PT. Penata Logistic. Ia pemilik Lembaga Pendididikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi Indonesia. Pendidkan terakhir, S2 Manajemen dari IbiI. Selain itu pada dibidang pengajaran, mengabdi menjadi Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi Trisakti. Alamat Rumah: Jalan Alur Laut Blok HH-42, Jakarta, pos-el: gagan[at]kumaitucargo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox