Mengubah Ujian Menjadi Anugerah Kenikmatan

Fita IrnaniOleh: Fita Irnani*

Anugerah dan bencana adalah kehendakNya, Kita mesti tabah menjalani

Hanya cambuk kecil agar kita sadar, Adalah Dia di atas segalanya….

~ Ebiet G. Ade

Beberapa pekan sudah waktu bergulir meninggalkan babak memilukan pada salah satu bagian Republik ini, Situ Gintung. Bencana selalu datang tiba-tiba, tidak diduga, seolah buta menghampiri siapa pun di hadapannya. Tidak pandang kaya atau miskin, pria atau wanita, tua atau balita. Tepat setelah kumandang adzan subuh, ledakan besar terjadi pada salah satu sisi tanggul danau Situ Gintung.

Jutaan meter kubik air danau tumpah menerjang kawasan pemukiman di sekitarnya, memorak-porandakan apa saja yang dilaluinya. Jerit kengerian dan tangisan menyayat hati mengalun dari bumi Situ Gintung. Setelah rentetan bencana yang menimpa negeri ini beberapa waktu lalu, kali ini, kembali Indonesia berduka.

Serasa disayat sembilu menyaksikan episode bencana Situ Gintung ini. Bagaimana tidak, dari rekaman kamera peliputan sebuah media elektronik diperoleh gambar kekalutan seorang warga yang kehilangan seluruh anggota keluarganya. Ada adegan kepanikan seorang warga berlari menggendong jasad kaku putri balitanya. Lalu, histeria seorang ibu mendapati anaknya terbujur tanpa nyawa, adegan anggota tim penyelamat yang kesulitan menarik jasad-jasad korban yang terjepit pohon, pemakamam massal, rumah, dan mobil yang tidak lengkap lagi bentuknya.

Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Banyak warga kehilangan sanak keluarga dan harta benda dalam musibah jebolnya danau tua ini. Tercatat lebih kurang 100 korban tewas diketemukan, sementara puluhan korban lain belum diketahui rimbanya. Rumah tinggal hancur tersapu air bah, harta benda hilang dan porak poranda. Sungguh tragis memang, di tengah ingar bingar gelombang kampanye pemilu di negara ini, tersisa kisah sedih dari Situ Gintung.

Wajah-wajah duka dan trauma kehilangan, memancar dari korban selamat musibah ini. Mengapa setiap bencana selalu menyisakan duka? Mengapa pula bencana seolah kerap menyambangi bumi kita ini, setelah Tsunami Aceh di NAD dan gempa bumi di DIY, lalu kini Situ Gintung? Benarkah ini pertanda bahwa Tuhan sedang murka?

Saya percaya Tuhan tidak semata-mata menurunkan bencana tanpa ada maksud menyertainya. Jika mau dirunut ke belakang, bencana Situ Gintungpun terjadi karena kelalaian manusia. Kabarnya, dua tahun lalu kerusakan tanggul warisan Belanda ini sudah dilaporkan kepada pemerintah namun tidak ditanggapi. Pun ketika terjadi luberan tanggul pada tahun 2008, hal ini pun masih tidak beroleh tanggapan.

Terlalu mudahnya Pemda memberikan izin alih fungsi lahan di sekitar situ menjadi lokasi perumahan dan pemukiman, juga berperan dalam mempersempit lahan untuk irigasi yang menyebabkan situ menjadi tidak mampu lagi menampung limpahan air hujan.

Pada dasarnya, siapa pun tidak menginginkan mendapat musibah. Namun, jika musibah sudah menghampiri, apakah kita sanggup menolaknya? Ia datang kapan saja, di mana saja, dan dalam bentuk apa saja. Tidak peduli di kala kita susah atau dalam kegembiraan. Lantas, bagaimana kita menyikapi ketika dihampiri musibah? Hal ini tergantung cara pandang masing-masing individu, namun yang perlu dikedepankan adalah untuk selalu berbaik sangka.

Ada yang memandang musibah sebagai bencana. Cara pandang ini akan menghambat kita untuk berpikir secara jernih dalam mengambil hikmah di balik bencana. Yang ada justru kita kian mengutuki nasib, tidak berhenti meratapi kedukaan, dan kehilangan yang disebabkan oleh bencana, serta sibuk mencari kambing hitam. Lebih parah lagi akan menyalahkan Tuhan (jangan pernah terjadi).

Sebagian lagi memandang musibah sebagai ujian dari Tuhan. Cara pandang ini akan menimbulkan kesadaran moral untuk mawas diri, berpikir dan mencari pelajaran di balik bencana. Sikap sabar akan lahir dari sini. Sabar atau tidak sabar, toh ujian yang telah ditetapkan akan tetap terjadi. Jika memang demikian, akan lebih baik jika kita memilih sabar menjalaninya, bukan? Dan, sanggup atau tidak sanggup kita menghadapinya, yang pasti, Tuhan juga telah menakar kekuatan kita untuk melewati ujian-ujian-Nya.

Saya percaya bahwa musibah adalah bentuk kasih sayang Tuhan kepada umat-Nya. Barangkali hal ini adalah cara Tuhan menguji, menasihati, menyadarkan akan kekhilafan, kesalahan, dan kelalaian manusia, yang mungkin telah tergelincir melupakan-Nya. Pada kenyataannya, memang setiap hari kita masih menghadapi aneka bentuk kemaksiatan, korupsi di mana-mana, menghilangkan nyawa orang semudah membunuh lalat, perkosaan bahkan terhadap anak kandung sekalipun. Dan saya yakin, masih banyak lagi perbuatan yang jauh dari yang namanya ibadah kepada Tuhan.

Perlu diketahui bahwa di setiap kesulitan akan ada kemudahan, yang akan melahirkan kebahagiaan. Namun, kadang manusia juga dibutakan oleh kebahagiaannya, lupa mensyukuri, dan bahkan lupa kepada si pengirim kebahagiaan. Musibah dan kebahagiaan akan datang silih berganti, menjadi bagian dari kehidupan yang membawa hikmah tersendiri. Keduanya adalah skenario terbaik untuk manusia.

Ketika musibah datang, sesungguhnya saat itu Tuhan tengah berbicara kepada manusia melalui bahasa cinta-Nya, lantas kenapa kita tidak menikmatinya?[fi]

* Fita Irnani lahir di kota Semarang 13 Juni 1975. Sulung dari tiga bersaudara ini menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota kelahirannya. Alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari 2009 ini menetap di kota Bogor dan saat ini bekerja sebagai HR Executive pada sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Sudirman. Fita dapat dihubungi melalui pos-el: acho_fit[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Menghargai Pilihan

fi2Oleh: Fita Irnani*

Memasuki pergantian tahun dari 2008 menuju 2009 yang lalu, pastilah menorehkan kisah tersendiri bagi setiap orang di belahan bumi mana pun. Masyarakat Eropa, Amerika, Asia, Australia, dan tidak terkecuali kita di Khatulistiwa, bersuka cita merayakan pergantian tahun. Tradisi count down menuju pukul 00.00 dini hari, tepat di hari pertama bulan Januari diwarnai dengan pesta kembang api aneka warna dan rupa, membangkitkan decak kagum umat manusia atas kreativitas anak-anak negeri. Ingar bingar tontonan musik yang digelar sebagai perhelatan akbar perayaan Old and New, seolah menandai kebangkitan semangat untuk kembali melangkah, mengisi tahun yang baru, dan memperbaiki rencana masa silam di tahun ini.

Namun, benarkah momentum tahun baru selalu diwarnai dengan kebahagiaan, spirit baru, dan keyakinan untuk mantap memijakkan kaki di tahun baru? Saya agak ragu, terlebih ketika teman dekat saya justru mengutarakan keraguannya, untuk tetap melanjutkan prestasi pada perusahaan tempat kami mengabdikan diri di awal tahun ini. Kecewa, sedih, shock bercampur menjadi satu manakala dia mencurahkan isi hatinya. Ada keraguan di matanya, ada kebimbangan dalam suaranya, dan ada air mata manakala dia bertutur perihal alasannya.

Saya hanyut dengan sedu sedannya. Kata-kata manis dan klise pun terlontar dari bibir saya, “Yang sabar ya, jangan gegabah menyimpulkan, coba berpikir positif, jangan terburu-buru mengambil keputusan, kamu belum dapat kerja lagi, lho ….” Saya memahami, sebanyak apa pun saya coba menghiburnya, yang dia butuhkan hanyalah tempat untuk menumpahkan emosinya, dan jadilah saya pendengar terbaiknya kala itu.

Seiring, dengan bergulirnya waktu, saya menangkap kebulatan tekad yang semakin nyata pada dirinya. Inikah akhir pilihannya? Saya masih berharap dia mengubah keputusannya. Saya masih berharap, dia tetap di sini. Ada banyak hal yang masih ingin saya pelajari darinya, namun tampaknya nasi sudah menjadi bubur. Hingga pada suatu hari, memasuki minggu pertama bulan kedua, kebimbangan saya terjawab. Sepucuk pemberitahuan resmi pun dia layangkan. Ada yang berdesir di hati saya, antara percaya dan tidak. Saya baca berulang kali kalimat pengunduran dirinya. Bersyukur, saya lebih dulu menangkap sinyal ‘pilihan lain’ di hatinya, hingga pada hari itu saya tidak terlalu terkejut dengan keputusan terakhirnya.

Dalam kehidupan, kita dihadapkan pada berbagai macam pilihan. Memilih untuk diam atau bergerak; memilih untuk maju atau mundur; memilih untuk tegar atau hancur; memilih untuk memimpin atau dipimpin; memilih yang positif atau justru terperosok ke arah negatif; dan masih banyak lagi pilihan-pilhan lain yang disiapkan Tuhan untuk manusia. Pilihan-pilihan ini bisa menjadi pijakan kokoh bagi hidup kita selanjutnya. Atau, dapat pula menjadi batu sandungan bagi kita, karena setiap pilihan memiliki konsekuensi tersendiri. Ada risiko yang harus ditanggung pada setiap pilihan.

Seperti keputusan sahabat saya di atas. Keluar dari perusahaan dengan kondisi belum memiliki pekerjaan kembali. “Tidak masalah,” katanya pada kami, teman-teman dekatnya, kala mempertanyakan kesiapan dia ‘menganggur’. “Setidaknya, gue bisa fokus merawat anak-anak, gue bisa ada waktu lebih untuk tugas-tugas S-2 gue, ya… Walaupun gue sudah tidak ada ‘bulanan’ lagi, tapi gue harus jalani.” Jawaban yang mantap mengindikasikan bahwa dirinya telah memikirkan keputusan menentukan pilihan dan risiko yang akan dia hadapi.

Tidak jarang dalam mengambil keputusan manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Lalu, bagaimana memutuskan atau memilih yang terbaik? Tuhan menganugerahkan akal dan hati kepada manusia. Akal dipakai sebagai ‘alat’ oleh manusia untuk memutuskan yang terbaik serta memikirkan konsekuensi apa yang mungkin menyertai pilihan-pilihan itu. Akal memegang peranan penting. Akal dapat melihat kebenaran dan dapat pula menuntun hati yang diliputi kebimbangan. Ilham yang diperoleh dari kebersihan hati berperan untuk mempertajam akal. Kolaborasi antara akal dan hati sangat diperlukan untuk melahirkan pertimbangan yang bijak, yaitu pertimbangan yang tidak dimenangkan oleh hawa nafsu atau ketersesatan hati.

Terkadang, hasil pengambilan keputusan tidak selalu berdampak untuk kita sendiri, namun juga berpengaruh kepada orang lain. Bayangkan, jika seorang pemimpin salah mengambil keputusan, akibatnya akan berdampak kepada anak buahnya. Kadang-kadang kita bahkan tidak mengetahui apakah pilihan tersebut benar atau salah. Lantas, bagaimana jika pilihan kita salah? Salah ‘memilih’ bukan berarti kita bodoh. Jangan pernah menyerah, terima dengan lapang dada, karena pada tahap berikutnya kita akan bertemu dengan persimpangan, di mana kita harus memilih kembali.

Saya jadi teringat dengan diri saya sendiri. Pada saat kuliah dulu, saya memilih mengambil fakultas sesuai impian saya. Namun, ketika selesai kuliah, saya justru memilih bekerja di bidang yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kuliah saya dulu. Apakah saya telah salah memilih? Atau, apakah Tuhan yang telah memilihkan untuk saya? Tentu saja tidak, karena semua pilihan adalah keputusan saya sendiri. Tuhan hanya menyediakan pilihan yang tak terhitung jumlahnya di setiap detik kehidupan, dan Dia hanya akan mengatur hasil akhirnya.

Kondisi ini akan berulang dan terus berulang dalam kanvas kehidupan kita. Banyak pilihan akan melatih kita mengambil keputusan dan berani menghadapi kesulitan. Bukankah ini juga ujian dari Tuhan yang akan menjadikan hidup kita menjadi lebih hidup dan berwarna? Yang terpenting adalah hargai pilihan kita, hadapi kehidupan dengan gagah, jalani keputusan dengan penuh tanggung jawab, dan yakini bahwa pilihan kita saat ini akan menjadi batu pijakan untuk melompat lebih tinggi.

Dan terakhir, hal terbaik yang dapat dilakukan adalah berdoa, semoga pilihan kita benar dan tetap berada dalam koridor Tuhan, sehingga kita dapat menerima dengan legowo segala konsekuensinya.[fa]

* Fita Irnani, lahir 13 Juni 1975, menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota Semarang. Saat ini bertempat tinggal di kota Bogor dan bekerja sebagai HR Executive pada sebuah perusahaan multinasional di Jakarta. Fita dapat dihubungi melalui email: acho_fit[at]yahoo[dot] co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Jika Masih Hak Kita, Akan Tetap Milik Kita

fi1Oleh: Fita Irnani*

Suatu ketika, saya menerima sebuah pesan melalui SMS dari seorang teman saya, yang berbunyi, “Ini nomor saya yang baru, mohon di-save. Nomor lama hilang berikut handphone-nya. Terima kasih. Dalam hati terbersit perasaan iba, karena saya pernah mengalami kehilangan yang sama.

Sekitar lima tahun yang lalu, di bulan Desember, handphone saya tertinggal di dalam taksi. Suami saya yang kala itu bersama saya, segera menghubungi pool taksi tersebut. Sialnya, saya tidak mampu mengingat dengan pasti nomor pintu ataupun nama si sopir taksi. Saat itu, saya benar-benar mengalami apa yang namanya kehilangan benda kesayangan dan kebanggaan, karena kala itu masih sedikit orang yang memiliki handphone berkamera seri terbaru keluaran sebuah merek terkenal.

Butuh cukup lama untuk melupakan kekecewaan saya. Berbagai pertanyaan muncul di kepala saya, mungkinkah ini hukuman Tuhan untuk saya? Benarkah selama ini saya kurang berbuat amal? Apakah saya pernah mengambil apa yang bukan hak saya? Apakah sopir taksi atau penumpang lain, atau siapa pun yang menemukan handphone itu adalah orang jahat yang, yang dengan sengaja mengambil keuntungan atas kehilangan barang saya? Begitu banyakkah orang tidak jujur saat ini? Sejak saat itu, saya trauma untuk memiliki handphone bernilai jutaan rupiah.

Dua tahun setelah kejadian tersebut, saya tergoda untuk kembali membeli handphone merek yang sama dengan tipe berbeda. Tentu saja dengan tingkat kecanggihan yang berlipat lebih tinggi. Ada cerita menarik dari handphone milik saya ini. Suatu ketika, entah bagaimana ceritanya, saya tidak menyadari jika handphone ini tertinggal di meja salah satu teman kerja di kantor. Berselang sekitar satu jam, tiba-tiba teman saya menghampiri saya, dan berkata, “Ini handphone kamu, barusan ketinggalan di meja saya.” Saya hanya terpaku dalam keheranan. “Astaga, rupanya handphone saya tertinggal di meja orang, batin saya.

Beberapa waktu kemudian, kembali handphone saya tertinggal di sebuah pusat jajan yang berlokasi di depan kantor saya, di kawasan Sudirman. Kala itu, bahkan saya sudah beranjak sekitar 60 meter meninggalkan kedai bakso tempat saya makan siang. Saya terkejut dengan panggilan si ibu pemilik warung, yang berusaha menghentikan langkah saya sambil melambai-lambaikan handphone saya. Masya Allah, untuk kedua kalinya handphone saya tertinggal di tempat umum. Selama dua tahun ini, saya mencatat sudah lima kali handphone saya tertinggal di tempat umum, dan saya bersyukur karena barang ini selalu kembali kepada saya.

Pada saat terjadi kehilangan barang, terkadang kita merasa mendapat kesialan, merasa diperlakukan tidak adil, berpikir negatif terhadap si pengambil, dan bahkan kita mulai menghitung jasa ataupun amalan yang pernah kita keluarkan. Kita sering menjumpai berbagai kasus kriminal yang bermula dari masalah kehilangan. Orang sanggup menghilangkan nyawa orang lain karena kehilangan kekasih, kehilangan pekerjaan, kehilangan jabatan, kehilangan tanah, dan kehilangan hak-hak yang lainnya. Namun, kita sering lupa bahwa kehidupan berjalan karena diatur oleh Sang Mahapengatur. Apa yang terjadi pada diri kita merupakan bagian dari rencana-Nya.

Hal yang paling mudah untuk menjauhkan diri kita dari pikiran-pikiran buruk, sebagai upaya memaknai kehilangan, adalah dengan mencoba bertanya kepada diri sendiri, apakah yang sudah kita lakukan selama ini? Apakah kita pernah sedikit saja tergelincir mengambil hak orang lain, tanpa kita sadari? Apakah kita pernahsengaja atau tidak sengajamenghilangkan hal yang sama dari orang lain? Sudahkah kita penuhi keranjang amal kita dengan amalan baik? Apakah kita sudah menjalani kehidupan sesuai rambu-rambu yang ditetapkan oleh Sang Pencipta melalui ajaran agama masing-masing?

Menjauhkan fikiran negatif dalam memaknai kehilangan dapat pula dilakukan dengan mendatangkan pikiran-pikiran positif, “Barangkali, hal itu masih bukan hak kita; barangkali orang yang menemukan barang itu lebih membutuhkan; barangkali ini teguran dari Tuhan atas kekhilafan kita di masa lalu; barangkali saat ini kita masih belum pantas untuk memilikinya; barangkali akan ada sesuatu yang lebih besar yang lebih berharga akan kita dapatkan.”

Saya percaya, dengan mendatangkan pikiran-pikiran positif dalam memaknai kehilangan, itu akan menumbuhkan energi positif yang membawa kita pada suatu bentuk keikhlasan.

Sesungguhnya, tidak ada asap jika tidak ada api. Sesungguhnya, Sang Mahamengetahui tidak pernah lalai mencermati sepak terjang umat-Nya. Saya meyakini, apa yang ditetapkan Tuhan masih menjadi hak kita, walaupun seberapa sering hal itu terambil dari kita. Maka, dengan sendirinya melalui tangan-tangan-Nya, Tuhan akan mengembalikannya kepada kita dalam bentuk yang sama, atau dalam bentuk yang lebih istimewa.[fi]

* Fita Irnani, lahir 13 Juni 1975, menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota Semarang. Saat ini bertempat tinggal di kota Bogor dan bekerja sebagai HR Executive pada sebuah perusahaan multinasional di Jakarta. Fita dapat dihubungi melalui email: acho_fit[at]yahoo[dot] co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Ponari: The Magneto

fiOleh: Fita Irnani*

Siapa tidak kenal Ponari ? Namanya begitu tenar belakangan ini. Ponari adalah bocah “sakti “ berusia 9 tahun, dari Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang. Kiprahnya merebut perhatian media massa dan masyarakat, mengalahkan gosip perceraian dan pertikain artis, melibas warta aktivitas caleg-caleg negeri ini. Siapa bocah yang begitu menyita perhatian publik ini?

Tak berbeda dengan Magneto, Mutan Leshnerr di film X-Man yang memiliki kemampuan magnetik mengontrol benda-benda yang terbuat dari besi terisap ke arahnya, Ponari pun demikian. Kesaktian batu petir yang dimiliki Ponari, yang kabarnya sanggup menyembuhkan berbagai macam penyakit, mampu menyedot perhatian masyarakat dan media massa ke arahnya.

Kabarnya, batu sakti Ponari diperoleh melalui sambaran petir ketika anak itu tengah bermain di bawah air hujan. Batu ini dibawa pulang ke rumah oleh Ponari bahkan sempat dibuang, konon secara gaib batu ini “muncul” kembali di rumah Ponari. Suatu ketika, “tanpa sengaja” Ponari memberi minum air putih yang dicelupi batu tersebut kepada tetangganya yang menderita sakit. Tetangga ini ternyata sembuh. Dalam sekejap berita batu petir penyembuh sakit ini menyebar ke seantero negeri. Berbondong-bondong orang mengepung rumah Ponari, mengantri, dan rela berdesak-desakan demi sekadar memperoleh air celupan batu Ponari.

Berbagai media massa Tanah Air dan situs-situs berita internet berlomba-lomba memublikasikan popularitas Ponari. Tak kurang paranormal papan atas seperti Mama Laurent dan Ki Gendeng Pamungkas terusik untuk menerawang asal muasal kekuatan batu mistik tersebut. Mama Laurent memaparkan bahwa kekuatan itu sebenarnya bukan berasal dari batu melainkan kekuatan anak itu sendiri yang mendapat “kekuatan”, sedangkan air yang notabene ciptaan Allah sejak dulu dipercaya sebagai media penyembuhan. Saya pikir, bukankah sampai saat ini pun masih banyak praktik pengobatan tradisional dengan meminum air putih yang diberi doa-doa?

Miris memang menyaksikan kiprah sang bocah. Di usianya yang masih belia, Ponari harus kehilangan hak sebagai mana bocah seusianya. Kabarnya, sejak buka praktik pengobatan, Ponari sudah tidak lagi bersekolah. Sejak kemunculannya, sudah tercatat ribuan pasien yang mengunjungi Ponari. Bahkan, pasien Ponari rela tidur di pinggir jalan di sekitar rumah Ponari mengantri pengobatan.

Ketika aparat memutuskan menutup sementara praktek Ponari, para pasien Ponari pun bereaksi keras. Ironisnya, entah siapa yang memulai, masyarakat pun berebut air comberan yang mengalir dari got-got di sekitar rumah Ponari. Saya menggeleng-gelengkan kepala sendiri, sebegitu mudahkah mereka terprovokasi hingga kehilangan akal sehatnya?

Inikah gambaran betapa tingginya jumlah masyarakat tidak sehat di negeri ini? Seberapa mahalkah harga kesehatan di negeri kita sehingga masyarakat membanjiri rumah Ponari untuk mengharapkan air celupan batu dengan sekadar membeli tiket dan memasukan beberapa ribu dalam kotak amal? Mengapa masyarakat masih memercayai kesembuhan dari hal-hal yang irasional?

Sosiolog Universitas Padjadjaran, Bandung, Budi Rajab, mengatakan, sulit mengikis kepercayaan masyarakat terhadap keajaiban di balik dukun cilik Ponari. Fenomena Ponari, menurut Budi, pasti akan dilirik oleh masyarakat yang tingkat ekonominya belum mapan. Tetapi, tak tertutup kemungkinan para profesional pun memilih Ponari sebagai alternatif dalam menyembuhkan penyakitnya. Karena dukun cilik langka, Budi mengungkapkan masyarakat pun penasaran, meskipun banyak dukun dewasa yang membuka praktik pengobatan serupa. ”Dukun memang dipercaya oleh masyarakat. Tapi, dukun yang masih kecil jauh lebih dipercaya,” kata Budi.

Meskipun diperoleh fakta bahwa tidak semua pasien Ponari dapat disembuhkan, ternyata kabar batu bertuah Ponari menginspirasi kemunculan batu-batu mistik lainnya. Apakah batu ini sungguh bertuah atau kemunculannya hanya sekadar mendompleng popularitas Ponari? Sampai saat ini, sudah tercatat dua batu bertuah lain yang mulai santer terdengar. Batu keong mas milik gadis cilik bernama Dewi serta “batu bicara” milik wanita bernama Siti Nurohmah. Kedua batu ini pun diyakini masyarakat dapat memberi kesembuhan atas penyakit, dan kabarnya khalayak juga mulai membanjiri tempat praktik mereka.

Fenomena maraknya praktik perdukunan seperti ini akan memudahkan masyarakat tergelincir untuk menyekutukan Tuhan, jika mereka tidak diyakinkan bahwa si batu ataupun pemiliknya bukanlah sumber pemberi kesembuhan yang sesungguhnya.

Seiring dengan berakhirnya bulan Februari yang lalu, atas desakan keluarga dan mengingat jumlah massa yang semakin meningkat dan berpotensi menjadi sumber konflik, aparat bersama Polres Jombang secara resmi menutup tempat praktik Ponari yang sensasional ini. Meskipun, keputusan itu tampaknya bertentangan dengan kepentingan warga desa Balongsari, yang tidak sedikit mendulang untung atas kehadiran Ponari yang diserbu masyarakat dari luar desa Balongsari. Jutaan rupiah setiap hari bisa terkumpul dari hasil penjualan tiket saja.

Keputusan Kapolres Jombang untuk menutup praktik Ponari melegakan Kak Seto, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak. “Kalau sekarang ini dihentikan oleh Bapak Kapolres, pada prinsipnya adalah justru untuk mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak, yaitu tidak mendapatkan tekanan-tekanan yang melebihi kapasitas sebagai seorang anak. Nantinya, jika semua sudah tertib dan rapi kembali, Insya Allah Ponari bisa menjalankan hobby atau potensi yang dia miliki dengan pengaturan yang lebih baik,” ujar kak Seto.

Saat ini, yang dibutuhkan Ponari adalah waktu untuk mengembalikan kondisi psikologisnya setelah berhari-hari menjadi magnet perhatian, diharapakan Ponari dapat kembali bersekolah, tumbuh normal, dan menjalani haknya sebagai seorang anak, terbebas dari beban berat yang dipikul untuk menyembuhkan pasien.[fi]

* Fita Irnani, lahir 13 Juni 1975, menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota Semarang. Saat ini bertempat tinggal di kota Bogor dan bekerja sebagai HR Executive pada sebuah perusahaan multinasional di Jakarta. Fita dapat dihubungi melalui email: acho_fit[at]yahoo[dot] co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox