Home » Posts tagged 'Fita Irnani'

Tag Archives: Fita Irnani

Superwoman Kampung

fiOleh: Fita Irnani*

Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis tema ini, Superwoman Kampung. Berawal dari ketertarikan saya akan sepak terjang seorang hawa di kampung saya. Tidak muluk-muluk tampaknya jika saya menggunakan istilah kampung untuk menyebut pemukiman saya. Sebuah kompleks perumahan yang wilayahnya mengalami perluasan bertahap. Alotnya transaksi pembebasan lahan dengan penduduk lokal rupanya sedikit menghambat pengembang mendulang kesepakatan harga jual. Kawasan pemukimannya sendiri tidak besar. Kawasan ini menginduk pada satu Rukun Warga, yang menaungi tiga Rukun Tetangga, berisi rata-rata lebih dari lima puluh KK disetiap RT.

Tidak bermaksud untuk berhiperbola ketika saya menggunakan istilah superworman. Sosoknya biasa saja, ibu rumah tangga dengan dua orang putri yang sopan dan pintar-pintar. Semula saya tidak mengenalnya, mengingat kami tidak berada dalam lingkungan RT yang sama. Dalam satu RT saja belum tentu 100 persen saya hafal penghuninya, apalagi beda RT? Ditambah aktivitas saya di kantor yang tidak menjamin keberadaan saya setiap saat full day di rumah (bukan bermaksud ngeles, lho). Kesempatan bebas bertemu tetangga hanya terjadi pada akhir pekan, sabtu dan minggu.

‘Kerjasama’ saya dengan ibu ini berawal dari ajakannya mengikuti kegiatan silaturahmi yang dikemas dalam bentuk arisan RW. Supaya lebih saling mengenal, katanya kala itu. Pesertanya tidak banyak. Dua puluh lima orang tapi dari berbagai RT. Ini artinya, sang ibu berhasil mengumpulkan peserta dari ujung ke ujung. Jangan salah, tidak hanya sebatas arisan RW saja, model arisan ekonomis yang bermodal seratus ribu rupiah per orang pun dia selenggarakan. Alasannya supaya mencakup berbagai kalangan.

Tidak berhenti pada arisan, ibu ini juga merambah pada bisnis kecil khas ibu-ibu RT. Segala musim tidak pernah sepi berdagang. Kue kering lebaran, tabungan kurban, buku dan alat tulis, seragam sekolah, semua dijajakan door to door antar-tetangga. Dari alas kaki, pakaian pria-wanita, tas, dompet hingga perlengkapan rumah tangga aneka merek.

Tidak jarang juga, si ibu mengambil peran sebagai event organizer yang mendatangkan aneka demo untuk ibu-ibu rumah tangga. Demo rias wajah, masak-memasak, demo tabung gas hemat energi, demo aneka alat masak. Semua dikoordinir sendiri. Belum lagi untuk perayaan-perayaan hari besar. Andilnya tidak pernah hilang, bahkan untuk menjadi vokalis karaoke pada acara 17-an.

Pernah saya bertanya mengenai kesibukannya ini. Dari sisi materi, saya rasa jauh dari yang namanya kurang. Alasannya hanya satu, aktivitas dan bisnis kecil yang dia jalankan semata-mata untuk menyibukan dirinya. Barangkali ini adalah cara terampuh membunuh kesepian lepas mengantar kedua putrinya bersekolah, sementara profesi suaminya yang seorang pelaut, tentu dapat diprediksi keberadaannya di rumah.

Cinta dan perhatian pada kedua buah hatinya kadang mengundang kecemburuan saya. Setiap pagi telaten menyuapi sebelum mengantar ke sekolah. Malam hari menemani mengerjakan PR. Beberapa kali saya temui jika kebetulan bertandang kerumahnya. Si ibu ini tidak sungkan pula merayakan ulang tahun putrinya pada acara arisan ibu-ibu RW.

Hilir mudik dari klien ke klien, dia lakukan dengan sepeda motor bebeknya. Setiap kali melaju di depan rumah saya, formasi duduknya tidak berubah, berbonceng tiga dengan kedua putrinya. Antar-jemput sekolah, sekadar bertandang ke kerabat, atau mengantar barang orderan klien.

Perannya menjadi ‘toa’ kampung, istilah saya untuk penyebar informasi terkini (seputar kampung tentunya), tidak diragukan lagi. Jadwal arisan, kelahiran, kedukaan, pengajian, hajatan, keamanan lingkungan, produk dagangan baru, setiap saat tersebar secara face to face atau via sms.

Saya sering membaca profil sukses superwoman Indonesia. Pendidikan tinggi, karier cemerlang, anak-anak pintar, keluarga yang bahagia, memimpin lebih dari satu perusahaan, plus social live after office hour. Luar biasanya mereka. Dua puluh empat jam yang dimiliki teralokasi super sempurna. Apa yang saya lakukan saat ini mungkin tidak mampu menandingi kesuperannya.

Hal yang menarik, menjadi super rupanya tidak melulu membutuhkan pendidikan tinggi, tidak perlu jebolan universitas manca negara, tidak perlu memiliki kerajaan bisnis, atau tidak perlu terlahir dari klan ‘berada’. Tergantung pada bagaimana mendefinisikan super itu sendiri. Untuk saya, apa yang dilakukan ibu tetangga saya ini sudah luar biasa bagi perempuan seprofesinya.

Pendidikan yang tidak tinggi, berbekal gaya komunikasi dan kehebatan bersosialisasi (yang entah dari mana belajarnya) dirinya membuka rintisan membangun jaringan, meski hanya seputaran kampung, toh sampai sekarang bisnis kecilnya tidak pernah mati. Kegiatan arisan saja bersambung jilid dua untuk tahun berikutnya.

Inisiatifnya dalam mengadakan acara-acara positif inilah yang menarik perhatian saya. Apa saja dikerjakan, peminatnya juga jangan ditanya. Bahasa gaulnya, “Nggak ada matinya”. Komitmennyalah yang patut dipuji. Bahkan ketika ‘tas kerjanya’ raib dirampas penjahat jalanan, tak kenal lelah beliau mendatangi satu per satu kliennya, sekadar mencatat ulang nomor handphone dan menyalin kembali catatan arisan dan tabungan kurban klien. Salah satu bentuk tanggung jawab si ibu rupanya.

Keberadaan figur seperti ini sesungguhnya sangat diperlukan dalam hidup bermasyarakat. Ketika sekelompok orang disibukkan dengan aktivitas di kantor (seperti saya), fungsi penggerak seperti ini sangat membantu sekali. Ibaratnya kalau semua orang sibuk di kantor, tentu perlu seseorang yang luwes yang mampu dan mau menyemarakkan kampung. Selain Pak RT tentunya, yah.

Ibu rumah tangga yang cerdik, pandai memanfaatkan waktu, percaya diri, mau mencoba dan pintar melihat peluang meskipun dalam skala kecil. Lingkungan kampung. Kelas RT. Kelas Kampung! Superwoman Kampung.[fi]

* Fita Irnani lahir di kota Semarang 13 Juni 1975. Sulung dari tiga bersaudara ini menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota kelahirannya. Alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari 2009 ini menetap di kota Bogor dan saat ini bekerja sebagai Learning & Development Specialist pada sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Sudirman. Fita dapat dihubungi melalui pos-el: acho_fit[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Magic Words: Hal Kecil yang Kadang Terlupakan

fi1Oleh: Fita Irnani*

Beberapa hari yang lalu saya mengalami kejadian yang cukup menggelitik perasaan saya. Bukan perkara besar, malah barangkali boleh dibilang sepele, yaitu perihal mengucap kata ‘terima kasih’. Sore itu perjalanan dari Kuningan menuju Sudirman saya tempuh dengan menumpang sebuah taksi yang sudah cukup memiliki nama di wilayah Jakarta. Taksi berhenti tepat di stasiun kereta Dukuh Atas, argo mencatat biaya sebesar Rp. 12.400,-.

Merasa tidak ada pecahan ribuan, terpaksa saya keluarkan satu lembar lima puluh ribuan yang langsung terulur ke arah si sopir seraya bertanya, “Ada kembalian tidak, Pak?” Sesaat melirik ke arah lembaran rupiah di tangan, si sopir bertanya “Kembalian berapa?” Sungguh, pertanyaan yang tidak cukup cantik untuk mengekspresikan harapan si sopir beroleh tip.

Apa dia tidak tahu harus mengembalikan berapa rupiah, pikir saya saat itu. “Lima belas ribu saja, Pak” jawab saya segera. Saya rasa cukup fair untuk ukuran kantong saya melakukan pembulatan tagihan menjadi Rp. 15.000,-. Sejurus kemudian tanpa mengucapkan terima kasih dan menoleh ke arah saya untuk sekadar berbasa-basi sekalipun, si sopir mengulurkan kembalian sebesar Rp. 35.000,-.

Terlepas dari ikhlas atau tidak ikhlas memerkarakan sejumlah tip sebesar Rp. 2.600,-, saya dibuat heran dengan perilaku si sopir. Kenapa tidak ada kata terima kasih yang terucap? Terlalu kecilkah tip yang saya berikan? Atau, memang sedemikian sulit untuk mengucap terima kasih? Atau memang kata ini terlalu sepele untuk diucapkan?

Kata terima kasih bersama dengan teman-temannya seperti kata maaf, tolong, silakan, mohon, bagaimana jika..., bisa saya…, dapatkah..., mari saya..., merupakan contoh deretan magic words atau kata-kata ajaib yang tampaknya biasa, namun sesungguhnya memiliki dampak besar jika diucapkan kepada si penerima kata.

Mengucap terima kasih bagi saya memiliki makna perwujudan rasa syukur kepada sang Mahapemberi atas sesuatu yang diberikan melalui tangan manusia yang dipilih-Nya. Bentuk pemberian dalam hal ini bisa bervariasi; informasi, jawaban, hadiah, jabatan, kenaikkan gaji, jasa antar atau sekadar titipan pesan. Demikian juga bagi si penerima kata, walaupun terkadang tampak sebagai formalitaslantaran kerap diucapkandisadari atau tidak ucapan ini membawa dampak positif bagi si penerima. Energi positif akan tersalur menyertai kata-kata ajaib ini, dan berikutnya, siklus memberi dan menerima akan terus berputar.

Ada kebiasaan unik dari salah satu kantor tempat saya pernah bekerja dulu. Dari posisi manajer hingga office boy, setiap kali menutup telepon selalu berucap ‘thank you, yah…!’ dengan intonasi yang sama dan khas menurut saya. Tidak jelas siapa yang memulai, namun saya percaya pengucapan kata ajaib ini tentu diawali oleh seseorang, kemudian menular kepada followers lainnya. Satu bukti bahwa kebiasaan mengucap magic word dapat ditularkan.

Mengucapkan kata ajaib ‘maaf’ misalnya, belum tentu si pengucap telah melakukan kesalahan. Kata maaf dalam hal ini berfungsi sebagai penetralisir suatu interaksi yang tengah membara. Bagi pekerja di bidang service tentu sangat akrab dengan kata ini. Maaf terbukti cukup jitu meredakan emosi pelanggan dengan hard complaint. Tentunya, customer tetaplah customer, kadang-kadang salah pun belum tentu meminta maaf. Justru pihak pemberi service-lah yang harus memasukkan kata maaf dalam bahasa layanannya. Lain halnya dengan maaf sebagai pernyataan telah berbuat salah. Tentu saja mengucap ‘maaf’ dalam hal ini perlu keberanian dan kematangan tingkat tinggi. Hanya gentleman sejati yang mampu melakukannya.

Ketika memasuki area gedung perkantoran, security guard di garda depan, tentu akan meminta tanda pengenal Anda. Cermati, apakah semuanya menggunakan kata ‘maaf’ terlebih dahulu? “Maaf Pak, boleh saya pinjam ID card-nya?” Bagi sebagian orang yang terburu-buru memasuki gedung tentu tidak akan menemukan nilai rasa ‘lebih’ ketika mendapat ungkapan tersebut. Bandingkan dengan sapaan “ID card-nya, Pak!”, mana yang lebih santun dan mana yang membawa energi positif? Mana yang membuat kita merasa nyaman?

Tampaknya magic words tidak serta merta diucapkan begitu saja. Setiap kata yang terlontar tentunya memiliki harapan membawa kebaikan bagi penerima kata. Hal lain yang perlu mendapat perhatian pada saat mengucap magic words adalah bagaimana bahasa non-verbal dan intonasi suara yang digunakan.

Anda dapat membayangkan, melontarkan kata ajaib ‘maaf’ dengan posisi tubuh membelakangi si penerima kata, apakah akan tetap menjadi kata ajaib? Adakah kesantunan di sana? Atau “Tolong ya, kamu hubungi si vendor sekarang juga!” Mengucap ‘tolong’ dengan nada suara tinggi, apakah menjamin muatan magic-nya tidak berubah menjadi bentuk menyuruh? Dapat Anda bayangkan reaksi penerima kata tersebut saat itu. Minta tolong ya minta tolong, tapi jangan nyuruh begini dong…! Mungkin, demikian kira-kira ekspresi yang timbul.

Kata silakan untuk mempersilakan duduk misalnya, apakah akan menimbulkan kenyamanan jika dilakukan tanpa memandang atau melakukan eye contact dengan si penerima kata? Terlebih tanpa mengalihkan pandangan kita dari layar komputer misalnya?

Magic words bukan masalah besar, namun mengucapkannya akan membawa dampak besar bagi penerima kata. Di mana pun kita berinteraksi dengan orang lain, semestinya magic words tidak perlu lepas dari jalinan kalimat yang terucap dari bibir. Bagaimana menggunakannya pun tentu memerlukan kaidah pengucapan yang tidak semata-mata keluar dari bibir saja. Namun, itu juga perlu memerhatikan posisi tubuh, gerak tubuh, kontak mata, dan nada suara pada saat mengeluarkan kata ajaib tersebut. Seperti kutipan dari Erik Peterson dan Virginia Greene berikut: “Believe it or not, what you say to your customers and how you says it make an impact.”[fi]

* Fita Irnani lahir di kota Semarang 13 Juni 1975. Sulung dari tiga bersaudara ini menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota kelahirannya. Alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari 2009 ini menetap di kota Bogor dan saat ini bekerja sebagai Learning & Development Specialist pada sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Sudirman. Fita dapat dihubungi melalui pos-el: acho_fit[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Do It Now!

fiOleh: Fita Irnani*

Teringat ucapan seorang kawan sembilan tahun lalu, pada sebuah kantor tempat saya bekerja untuk pertama kalinya. “Sudah malam, kerjakan besok saja. Jangan sampai besok enggak ada kerjaan!” katanya ketika mendapati saya masih tidak beranjak dari meja kerja Padahal, jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Betul juga! pikir saya saat itu memberikan pembenaran. Kalau diselesaikan malam ini, besok kerja apa? Demikianlah kesimpulan sederhana, minimalis, dan jangka pendek dari pemikiran seorang karyawan baru seperti saya.

Lain kasus ketika melakukan perekrutan untuk karyawan baru, sering kali saya melemparkan pertanyaan pada setiap kandidat perihal bagaimana mereka menyelesaikan aneka macam tugas pada saat tight schedule. Jawaban yang saya terima beraneka ragam. Kerjakan yang paling penting dahulu, atau utamakan yang deadline-nya paling cepat, atau kerjakan yang sedang ditunggui oleh user, atau kerjakan satu per satu dengan prinsip first in first out.

Berada dalam kondisi tight schedule tentunya pernah dihadapi oleh sebagian karyawan selama menjalani rutinitas di kantor. Tidak jarang seorang karyawan tidak berkutik mencari cara menentukan mana yang menjadi prioritasnya. Di sisi lain, sebagian karyawan justru asyik menjalani rutinitas tanpa memberikan jeda untuk mengkaji apakah yang dikerjakan selama ini sudah benar-benar tepat dikerjakan, atau bahkan malah beranggapan itulah prioritasnya.

Saya sering mengamati perilaku dari beberapa karyawan perihal bagaimana mereka melakukan penyelesaian tugas. Untuk bagian tertentu, mereka tampak mahir menerapkan strategi efektif hingga pada jam pulang kantor, mereka dapat menutup seluruh pekerjaannya. Bagian yang lain, justru hampir setiap hari langganan pulang malam, dan anehnya didominasi oleh pekerja yang itu-itu saja.

Secara perorangan, saya juga mendapati bahwa ternyata kemampuan mengelola waktu dan tenaga untuk menyelesaikan pekerjaan, berlainan antara satu dengan yang lainnya. Sebagian tangkas menyelesaikan apa pun yang dititahkan kepadanya, sebagian cerdik mengatur dan melakukan delegasi tugas, sebagian memborong pekerjaan karena krisis kepercayaan terhadap rekan kerjanya, dan sebagian yang lain justru menunda apa yang sebenarnya menjadi prioritas.

Jujur, saya pernah menjalani semua cara mengalokasikan waktu dan tenaga untuk menyelesaikan tugas. Kadang saya bisa secepat kilat menyelesaikan ‘orderan’ kadang takes time, butuh waktu untuk check & recheck. Kadang saya bisa dengan cepat melakukan delegasi dan bagi-bagi tugas, atau tidak jarang saya menyelesaikan pekerjaan sendiri dengan pertimbangan akan lebih cepat jika di-handle sendiri. Sampai pada akhirnya saya terbentur pada suatu pemahaman prinsip Do It Now diikuti dengan kajian penundaan yang tepat.

Do It Now akan memfokuskan kita untuk menuntaskan pekerjaan sekarang, bukan nanti. Hari ini, bukan esok hari. Jika perkerjaan hari ini tidak diselesaikan hari ini, tidaklah bijak jika kita sengaja menggesernya menjadi kewajiban esok hari. Jangan takut tidak ada lagi yang akan dikerjakan esok hari jika semua pekerjaan dikebut hari ini, karena setiap hari memiliki tantangannya sendiri. Perlu diingat bahwa kesengajaan menggeser sedikit saja merupakan gejala awal penyakit menunda. Sebelum penyakit ini menggerogoti, cegah dari sekarang.

Analisis dengan saksama, perlukah melakukan penundaan? Tentukan apa yang menjadi prioritas Anda. Review kembali bagaimana cara Anda memanfaatkan waktu dan tenaga. Penundaan boleh saja dilakukan, namun putuskan dengan cermat, buat skala prioritas, pegang komitmen penyelesaian. Analisis terlebih dahulu tingkat kepentingan dan kemendesakannya.

Seberapa penting tugas yang akan diselesaikan. Apakah hal ini mendukung pencapaian target atau sasaran kerja kita ? Atau justru tidak memberi kontribusi terhadap pencapaian target? Analisis kemendesakkannya. Apakah menuntut penyelesaian saat ini juga, atau sebenarnya justru tidak berpacu dengan waktu? Kemendesakan identik dengan alokasi waktu penyelesaian.

Penting dan mendesak, tentu saja ini menjadi prioritas utama penyelesaian tugas. Biasanya hal yang dikerjakan memiliki kontribusi yang tinggi terhadap pencapaian target kerja serta dibatasi oleh waktu. Misalnya, pembayaran gaji karyawan, komplain pelanggan, pembayaran vendor jatuh tempo.

Penting dan tidak mendesak, merupakan prioritas kedua penyelesaian tugas. Biasanya hal yang dikerjakan memiliki kontribusi yang tinggi terhadap pencapaian target kerja, namun tidak dibatasi oleh waktu. Sifatnya antisipatif untuk memperlancar tugas diprioritas pertama. Misalnya scheduling pembayaran vendor jauh-jauh hari, pencadangan dana untuk semua expenses perusahaan, budgeting di awal tahun.

Tidak penting tetapi mendesak. Sangat dibatasi waktu, namun apa yang akan diselesaikan tidak memberikan sumbangsih terhadap pencapaian target dan sasaran kerja. Contoh sederhana menjawab telepon, membuka surat masuk, atau menerima tamu asing.

Tidak penting dan tidak mendesak. Tidak dibatasi waktu, dan apa yang akan dikerjakan tidak memberi kontribusi terhadap target dan sasaran kerja. Apakah masih perlu dikerjakan? Atau coba geserkan aktivitas ini di luar waktu kerja. Misalnya, mengobrol dengan teman, jokes via e-mail, curhat karyawan yang berlebihan.

Analisis tingkat kepentingan dan kemendesakkan akan melahirkan daftar tugas yang menjadi prioritas Anda. Kelompokkan mana yang akan diselesaikan sekarang, dan mana yang menjadi prioritas kedua, ketiga atau dapat dilakukan penggeseran waktu penyelesaian. Pada saat melakukan penundaan, tanamkan komitmen untuk menyelesaikan sesuai kesepakatan waktu yang digariskan. Sedikit jeda atau misdeadline yang berulang, akan menjadi kebiasaan menunda.

Problem penundaan akan mengikat erat waktu yang kita miliki. Satu hal yang terus berjalan dan tak dapat dipanggil balik. Kehilangan waktu di hari ini, belum tentu akan kita peroleh esok hari. Buat apa ditunda jika bisa dituntaskan sekarang. So, Do It Now![fi]

* Fita Irnani lahir di kota Semarang 13 Juni 1975. Sulung dari tiga bersaudara ini menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota kelahirannya. Alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari 2009 ini menetap di kota Bogor dan saat ini bekerja sebagai Learning & Development Specialist pada sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Sudirman. Fita dapat dihubungi melalui pos-el: acho_fit[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Berbuat Baik Hanya untuk Tuhan

fi1Oleh: Fita Irnani*

Sebagai makhluk sosial, tentunya manusia akan selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Hubungan yang terbina ini kadang-kadang tidak selamanya mulus. Adakalanya justru berbuah konflik di antara mereka sendiri. Demikianlah, jika batas-batas toleransi dalam memaknai hubungan dirasa sudah tidak dapat dijunjung tinggi lagi. Sayangnya, justru batasan toleransi diciptakan berdasarkan sudut pandang pribadi yang tidak objektif. Banyak muatan egoisme dan kepentingan di dalamnya.

Selama persinggungan antarmanusia masih berjalan, demikian pula konflik akan tetap terjadi. Tidak hanya untuk mereka yang sudah saling mengenal, yang belum mengenal pun dapat menciptakan konflik, entah secara sengaja ataupun tidak. Sering saya menyaksikan di tempat-tempat umum bagaimana konflik terlahir di antara orang-orang yang tidak saling mengenal. Hanya lantaran hak antrian diambil orang lain, mampu mendidihkan emosi. Hanya lantaran tersenggol pada saat berdesak-desakan dalam transportasi yang sarat penumpang, kadang baku hantam terjadi.

Terciptanya konflik tidak melulu di dominasi oleh laki-laki. Perempuan pun mampu menberikan andil dalam menyulut konflik. Berebut tempat duduk dalam kereta pun, bahkan berhasil menuai adu mulut dengan penumpang wanita lainnya. Setidaknya, hal ini pernah saya temui dan tiada ending yang membahagiakan. Karena, sepanjang perjalanan adalah mulut yang tiada henti meracau serta body language yang jelas ditunjukkan sebagai bentuk ketidakterimaan.

Hubungan antarsesama saudara kandung juga berpotensi menciptakan konflik. Begitu pula antarteman, dalam komunitas apa pun, di lingkungan perumahan, kantor, atau sekolah, semua berpotensi menciptakan konflik. Demikianlah manusia, dikarunia oleh Tuhan kekayaan akal, nafsu, sekaligus hati. Segala penggunaan ketiga piranti tersebut dan bagaimana menjaga keseimbangannya, kembali pada manusia sendiri.

Akan berbahaya jika nafsu lebih mendominasi dari dua lainnya. Akibatnya tentu saja bangunan konflik yang makin runcing dengan manusia lain. Begitulah nafsu bekerja, menjadikan manusia melupakan manusia lainnya. Sesungguhnya pada saat itu, manusia tengah lupa, yang diingat hanya kepuasaan pribadi, yang penting kemenangan, yang penting kepuasaan, yang penting apa yang diinginkan tercapai. Keegoisan berada pada urutan pertama. Jika hal ini terjadi, sudah pasti segala hal menjadi halal dilakukan, karena dalam pikirannya hanya nafsu mengalahkan.

Sejatinya jika manusia mengedepankan pemanfaatan akal dan kebersihan hati, konsep berpikir dalam memaknai konflik akan mengalami perubahan kearah kematangan. Dari tinjauan berpikir yang matang, biasanya akan disertai teknik pemilihan tindakan yang dewasa.

“Ini lho gue! Lu mesti ikut pendapat gue! Yang gue lakukan benar, kok! Kalau gue enggak mau, lu mau apa? Terserah lu! Kan udah gue bilang! Lu urus diri lu sendiri! Jangan urusin gue! Siape lu?” barang kali demikian contoh kata-kata yang terlintas pada saat berkonflik dengan manusia lain, ditambah intonasi dan bahasa nonverbal yang jelas killer. Jelas sekali, ketidaksukaan yang dominan terhadap lawan bicaranya. Lantas, bagaimanakah kita harus bersikap?

Terpancing pada awalnya tentu saja, karena ini adalah bagian dari proses pembelajaran ke arah kesabaran. Secara naluri pada awalnya reaksi manusia cenderung defensif menerima aksi dari luar. Selanjutnya, untuk beberapa saat manusia butuh waktu untuk berpikir dan menimbang. Di sinilah akal mulai bekerja. Tidak mudah untuk menerima dengan lapang dada, perlakuan seperti di atas, diperlukan ekstra kesabaran menghadapinya. Kadang justru kita membalas dengan perilaku yang sama. Jika sudah demikian apa yang kita cari? Apa yang kita dapatkan? Apakah ada kemenangan di sana? Ataukah kepuasaan?

Permasalahannya, tindakan mana yang lebih baik? Menganggap perlakuan mereka seolah tidak pernah terjadi—lalu memosisikan diri tetap berada dalam situasi tanpa konflik—tetap berbuat baik dan tetap memperlakukan mereka layaknya sahabat atau saudara? Atau, justru melakukan hal yang sama, berusaha mengalahkan, berusaha menunjukkan sebagai pihak yang menang? Setiap hari memikirkan strategi bagaimana menjadi sang juara? Setiap hari menunjukkan perbedaan pendapat dan perilaku yang tidak objektif dengan satu tujuan, “Ingat lho… kita berseberangan!”

Satu hal yang pasti, Tuhan mengajarkan hal baik melalui setiap ajaran agama, dan apa pun agamanya mengajarkan seluruh manusia untuk tidak saling bertikai, melainkan untuk saling mengasihi. Saya percaya, dalam hati setiap manusia beragama tentulah memiliki perasaan kasih yang sama. Jika mereka belum menunjukkannya, tidak rugi pula apabila kita mengawalinya untuk tetap berbuat baik terhadap mereka. Apabila masih terasa berat, pertajam penggunaan hati, jangan biarkan nafsu yang berbicara. Berlatih setiap saat untuk menjaga keseimbangannya. Selanjutnya akan muncul suatu bentuk keikhlasan, dan sedikit demi sedikit kedamaian akan menyelimuti hati. Indah, bukan?

Jangan merasa sudah beribadah dengan baik, jika dalam keseharian kita masih mengabaikan perasaan manusia lain. Jangan merasa yang paling benar jika kita paling pintar menyalahkan orang lain. Tetap berbuat baik dengan siapa pun. Apa pun dan bagaimanapun buruknya perlakuan orang lain, tetaplah berbuat baik hanya dengan satu alasan. Untuk Tuhan. Selamat menikmati keindahan bulan Ramadhan.[fi]

* Fita Irnani lahir di kota Semarang 13 Juni 1975. Sulung dari tiga bersaudara ini menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota kelahirannya. Alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari 2009 ini menetap di kota Bogor dan saat ini bekerja sebagai Learning & Development Specialist pada sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Sudirman. Fita dapat dihubungi melalui pos-el: acho_fit[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Disiplin Itu Nomor Satu

fiOleh: Fita Irnani*

Jika Anda berdomisili di kota Bogor, tentunya cukup akrab dengan kondisi lalu lintas di kota ini. Bagi Anda yang pada akhir minggu meluangkan waktu menghabiskan liburan untuk berwisata belanja atau kuliner di kota ini, sudah pasti hafal dengan antrian angkutan umum, yang akrab dinamai angkot, di jalanan kota hujan ini. Pun bagi saya, yang sudah belasan tahun berdiam di kota ini, masih saja direpotkan dengan kemacetan yang terjadi. Kadang sempat bertanya dalam hati, apakah penduduk kota ini yang demikian banyak yang memerlukan angkot, atau justru jumlah armada angkot yang luar biasa banyaknya?

Hampir setiap saat, ketika saya dan suami, melintas di jalanan kota ini, entah berangkat menuju kantor, pulang menuju rumah, atau sekadar menuju pusat-pusat belanja di Bogor, seolah dipaksa meluaskan hati, menyabarkan diri, dan mengalah menghindari serobotan angkot memotong jalan. Kadang, pada posisi dua jalur pun mendadak dengan cerdik angkot berhasil mengubah satu sisi jalur menjadi dua lajur. Kami yang semula berjalan pada jalur yang benar, terkondisi sedikit demi sedikit justru berjalan di atas marka tengah jalan, mengambil sedikit space jalur arah berlawanan. Tentu saja karena deretan kendaraan dalam jalur kami, terpaksa dibagi dengan angkot yang membuka jalur baru di sisi kiri, mengambil hampir seluruh bahu jalan.

Lain hari, dalam antrian cukup cantik, mendadak bisa terjadi putar balik angkot tidak pada lokasi U-turn. Tentu saja, satu gerakan contoh yang dirasa menguntungkan dan mempersingkat waktu tempuh akan diikuti oleh kelompok sejenis lainnya. Kami yang tidak terbiasa, atau tepatnya tidak berani melakukan manuver pelanggaran lalu lintas hanya mengurut dada, menerima ‘macet’ yang semakin lama. Belum lagi jika terjadi gerakan menyalip dengan jeda body angkot beberapa sentimeter dari kendaraan kami. Biasanya, secara refleks justru kami yang mengurangi kecepatan, lebih suka mempersilahkan angkot berjalan lebih dahulu. Ditambah lagi jika mengantri atau berhenti menunggu penumpang pada tempat-tempat tidak semestinya, dua lajur pula dibentuk, yang berarti mengambil space jalur cepat kendaraan lainnya, semakin menambah kesemrawutan saja, seolah benang kusut, yang membuat menyerah siapa pun yang berusaha mengurainya.

Satu hal sederhana yang dapat membuat segala sesuatunya berjalan dengan tertib, lancar, dan mempercepat kita dengan apa yang menjadi tujuan, apakah itu? Tentu saja disiplin. Satu kata yang dapat mengubah dunia. Tidak saja di jalan raya, namun juga di mana saja, jika diawali dengan disiplin, tidak hanya kita si pelaku, namun juga semua orang di sekitar kita akan memperoleh dampaknya. Bagi sebagian orang, disiplin akan terasa sulit dilakukan. Disiplin kadang diartikan sebagai suatu keterpaksaan. Sesutu yang dianggap justru memperlambat proses pencapaian sukses.

Jika dikaitkan dengan kemacetan pada cerita sebelumnya, barangkali akan muncul banyak pembenaran dari sana, misalnya, jika tidak menyerobot jalan, akan didahului angkot lainnya; jika tidak ‘ngetem’ atau mengantri di tempat-tempat tertentu, mana mungkin cepat dapat penumpang; atau jika tidak segera putar balik mana mungkin cepat sampai tujuan; atau jika tidak buka jalur baru pada bahu jalan, mana mungkin cepat sampai terminal dan kembali ke pusat kota mengambil penumpang lagi.

Satu hal yang dilupakan, tidak ada jalan cepat menuju tujuan, semua ada tahapannya, butuh pertimbangan menentukan cara terbaik yang digunakan, menguntungkankah? Merugikankah? Atau, menguntungkan kita namun justru merugikan orang lain? Mana yang akan ditempuh? Untuk mengejar impian tidak cukup dengan niat yang bulat, tidak cukup dengan berpikir dan bertindak positif. Satu hal yang penting dan harus ditambahkan adalah disiplin. Menjalankan rencana dengan tindakan positif disertai dengan disiplin tinggi dan tidak pernah berhenti.

Mulai dari hal yang paling kecil setiap hari, disiplin selalu tepat waktu memulai aktivitas kerja di kantor, akan membuka kesempatan untuk berdisiplin jam berapa bangun pagi untuk menghindari terlambat tiba di kantor. Menyelesaikan pekerjaan dengan deadline waktu yang sudah jelas setiap bulan, lakukan dengan disiplin, selesaikan pada waktunya, jangan membuka peluang untuk memundurkan barang setengah bahkan satu hari. Kebiasaan memberi toleransi pada diri sendiri untuk sedikit saja mis-deadline akan memorak-porandakan bangunan jembatan menuju impian.

Jika impian Anda memperoleh tabungan sejumlah tertentu pada akhir tahun, lakukan dengan disiplin, sisihkan beberapa persen penghasilan Anda, sejumlah berapa besar Anda berkomitmen untuk menyimpan penghasilan bulanan. Letakkan komitmen ini sebagai prioritas utama. Pada awalnya akan terasa berat, karena memerlukan penyesuaian pengurangan pengeluaran bulanan Anda. Cara jitu untuk mengesampingkan gangguan yang timbul adalah fokuskan pada hasil akhir, abaikan godaan hari ini. Mulai komitmen Anda dengan target penyisihan penghasilan sejumlah tertentu, dan jika Anda berhasil menjalani dengan disiplin tinggi, naikkan target penyisihan penghasilan di tahun berikutnya. Cobalah untuk mengalkulasi hasil akhir jika seluruh rencana Anda jalani dengan disiplin.

Bagi saya yang sehari-hari melintasi jalan tol menuju kantor, sering mendapati kendaraan besar berjalan pada jalur tengah atau jalur cepat, suatu contoh pengabaian kedisiplinan karena sudah sangat jelas bahwa kendaraan besar harus berada pada jalur kiri. Akibatnya tentu saja, antrian kendaraan mengekor si keong dengan kecepatan di bawah standar pada jalur cepat. Contoh lain, banyak kita jumpai kendaraan-kendaraan yang naas karena nekat memotong jalan dengan laju tinggi menyusuri bahu jalan atau pindah jalur tanpa memberikan sinyal lampu sein yang akibatnya mengagetkan kendaraan di belakangnya. Bersyukur jika kendaraan di belakang sigap dan tidak menghentikan laju mendadak. Bagaimana jika melakukan hal sebaliknya? Apakah itu tujuan kita?

Sebulat apa pun niat kita untuk menggapai impian, atau setinggi apa pun tekad kita menuju sukses, tanpa dilengkapi dengan kedisiplinan yang tinggi dan terus-menerus, mustahil akan kita dapatkan. Mulai berdisiplin dari diri sendiri. Lakukan sedikit demi sedikit pada satu bidang, karena keberhasilan menerapkan displin pada satu bidang akan menular pada bidang lainnya. Jika disiplin sudah terbina dalam setiap bidang kehidupan dan menjadi kebiasaan, bukan hal sulit untuk meraih sukses kita.[fi]

* Fita Irnani lahir di kota Semarang 13 Juni 1975. Sulung dari tiga bersaudara ini menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota kelahirannya. Alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari 2009 ini menetap di kota Bogor dan saat ini bekerja sebagai Learning & Development Specialist pada sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Sudirman. Fita dapat dihubungi melalui pos-el: acho_fit[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Do What You Love, Love What You Do

fiOleh: Fita Irnani*

Pernah suatu ketika, pada senin pagi seorang kawan di kantor mengajak saya breakfast bersama. Memang, perusahaan tempat kami bekerja memberikan fasilitas menjadi member pusat kebugaran tertentu di mana salah satu privilege-nya adalah kesempatan breakfast gratis ala hotel berbintang.

Belakangan, ajakan seperti ini kerap saya tolak. Saya lebih memilih untuk melahap bekal makan pagi yang sengaja saya beli di perjalanan menuju kantor. Alasan saya karena lebih cepat dan rasanya kok sayang jika harus melewatkan waktu untuk meninggalkan keasyikan saya bekerja meski sejenak. Setidaknya 30 menit bisa terlepas untuk berjalan menuju ke lokasi yang berjarak lima belas lantai, ditambah sedikit ngobrol santai dengan kawan-kawan. “Fasilitas kok tidak dimanfaatkan, yang namanya pekerjaan sampai kapan pun akan selalu datang,” demikian komentar kawan saya.

Selama karier saya, tercatat sudah tiga kali saya berkantor pada tiga perusahaan berbeda. Dan, satu kebiasaan saya yang tidak pernah berubah adalah datang pagi ke kantor, setidaknya satu jam sebelum jam kantor dimulai. Petugas cleaning service pun kalah. Kebiasaan ini tidak dipengaruhi oleh jenis transportasi yang saya pilih. Menggunakan kendaraan pribadi atau jasa kereta api, tetap saja saya akan memilih waktu berangkat lebih pagi meski bertempat tinggal di Bogor.

Sering kali kawan-kawan kantor bertanya mengenai stamina tubuh dalam menjalani kebiasaan pergi pagi pulang malam. Atau, tidak jarang mereka melontarkan kelakar,Wah... tampaknya menginap di kantor, nih!Bahkan, mereka ada yang menyimpulkan bahwa saya termasuk kelompok yang tidak menikmati hidup, pecandu kerja, atau pemuja hidup untuk kerja.

Pada awalnya saya sempat terusik dengan respon kawan-kawan saya. Namun tetap saja, day to day-nya saya keukeuh untuk tidak mengubah pola hidup saya. Toh saya bahagia menjalani hidup saya, dan kehidupan sosial saya masih berada pada level seimbang. Lunch break di kantor tetap saya pergunakan untuk makan siang, waktu ibadah tetap setia termanfaatkan, berbincang dengan kawan-kawan di kantor selama istirahat, sharing atau menampung ‘curhat’ karyawan tetap menjadi bagian saya sehari-hari.

Tak terlintas dalam pikiran saya, ada sesuatu yang terampas dari hidup saya karena saya menjalaninya dengan ikhlas. Barangkali itu sebabnya saya tidak sekadar menjalani sebagai rutinitas, melainkan saya justru asyik menikmati apa yang saya sukai. Tidak menjadikan pekerjaan sebagai beban atau sekadar sarana transaksi penopang kesejahteraan. Tidak sekadar menghitung telah sebulan bekerja, kemudian akhir bulan menanti imbalan.

Jika dibandingkan dengan penikmat pekerjaan yang lain, tentu saja apa yang saya jalani masih belum seberapa. Dari kalangan musisi, sebut saja Ahmad Dhani, puluhan tembang hit berhasil tercipta dari kepiawaiannya menggubah nada. Andrias Harefa dari kalangan penulis, sudah berapa judul buku, bahkan bestseller, terbit dari hasil pemikirannya. Program televisi, berapa banyak acara televisi diciptakan dari ide Helmy Yahya. Dari kalangan desainer, sebut Anna Avatie, berapa macam sudah model rancangan gaun pengantin menjadi koleksinya.

Saya percaya, hasil karya mereka bukan semata-mata karena tuntutan pekerjaan, namun lebih jauh karena mereka menikmati pekerjaannya, mereka mencintai dunianya. Do what you love, Love what you do. Namun, ada satu pertanyaan, apabila kita sudah mencintai apa yang kita kerjakan dan kita menikmati kegemaran ini, lantas tidak akankah kejenuhan suatu saat menghampiri? Adakah pekerjaan yang selamanya mengasyikkan?

Suatu ketika, satu tim dalam departemen saya tengah menjalani satu project mendadak dengan deadline kurang dari seminggu. Saya pun terlibat dengan tanggung jawab yang telah dibagi untuk masing-masing. Tidak mudah mengumpulkan kembali hard copy data-data satu tahun yang lalu secara detail lalu menduplikasinya. Sementara, data mentah berada dalam tumpukan file di gudang arsip. Pekerjaan sepele, membosankan, dan tentu saja takes times. Namun the show must go on, saya hanya membekali diri dengan keikhlasan. Saat itu, ikhlas menjadi satu-satunya cara untuk mengenyahkan keberatan-keberatan dari separuh hati saya.

Deadline satu hari pengumpulan data terlampaui meski terbeli dengan ekstra kerja lembur hingga benar-benar larut. Anehnya, segalanya berlalu seperti biasa, tak ada beban, bahkan ingatan akan ekstra lembur yang telah dikeluarkan. Luar biasanya lagi, meski pada akhirnya data yang terkumpul batal dimanfaatkan, tak ada kekecewaan telah memubazirkan waktu untuk pekerjaan yang sia-sia.

Dalam perjalanannya, pastilah kejenuhan akan tetap ada, kendala suatu saat akan menyambangi, tekanan dari pekerjaan yang kita cintai akan tetap datang. Namun, asalkan dalam menjalaninya diawali dengan keikhlasan, tetap kita akan mencintainya.

Beruntunglah bagi siapa pun yang telah memperoleh pekerjaan yang dicintai, memandangnya sebagai hal yang mengasyikkan, mencintai sebagaimana hidupnya dan ikhlas mengerjakannya. Ini berarti Anda dekat apa yang anda cita-citakan.[fi]

* Fita Irnani lahir di kota Semarang 13 Juni 1975. Sulung dari tiga bersaudara ini menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota kelahirannya. Alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari 2009 ini menetap di kota Bogor dan saat ini bekerja sebagai Learning & Development Specialist pada sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Sudirman. Fita dapat dihubungi melalui pos-el: acho_fit[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Awas Jebakan Pikiran Negatif!

fi1Oleh: Fita Irnani*

Suatu ketika saya pernah menerima pop message melalui jendela Yahoo Messenger saya, “Saya sedang kepikiran,” begitu kira-kira kalimat yang tertera dari seorang teman yang kebetulan sudah pindah bekerja pada perusahaan lain. Sesuai dengan profesi saya, memang tidak sedikit karyawan di kantor yang menumpahkan unek-uneknya kepada saya, termasuk beberapa teman yang sudah keluar dari kantor pun masih membawa kebiasaan curhat ini.

Percakapan dengan teman saya berlanjut. Rupanya, teman ini ‘merasa’ sedang menghadapi masalah, posisinya terancam digantikan oleh orang lain. Saya katakan ‘merasa’, karena dari dialog kami, saya mendapati bahwa dirinya baru sebatas menduga-duga, hal-hal buruk yang bermain dalam pikirannya begitu kuat memengaruhi perilakunya. Pengandainya bahkan membawa kesimpulan mengambil keputusan besar, keluar dari perusahaannya saat ini.

Anda tentu sepakat bahwa masalah akan selalu datang dalam kehidupan manusia. Tidak ada manusia yang tidak pernah mendapat masalah. Kedatangannya tentu saja harus dihadapi, karena sebenarnya, manusia berpotensi untuk menghadapi masalah-masalahnya. Apabila kita runut ke belakang dari mana masalah berasal pun, tentunya kita juga sepakat bahwa masalah yang menghampiri manusia adalah bagian dari scenario Tuhan. Jelas, Tuhan bukan tanpa perhitungan mengirim masalah untuk manusia. Dia tentu sudah menakar kemampuan umat-Nya, seberapa jauh manusia sanggup menghadapi permasalahan. Jika memang demikian, kenapa manusia tidak berpintar-pintar menghadapi permasalahan?

Perilaku yang ditunjukkan teman saya di atas bukan satu kali saya temui. Kadang hanya lantaran ketidakcocokan dengan atasan, ide-ide yang sering ditolak atasan, laporan yang tidak pernah benar, presentasi yang banyak menuai kritik dan tak sekalipun beroleh pujian, solusi yang dinilai tidak tepat sasaran, atau bombardir aneka macam tugas tanpa guidline yang jelas. Kadang karena kesempatan mengikuti training yang tidak singgah untuk kita, atau malah justru diberikan kepada orang lain, sehingga tidak jarang menjadi pemicu orang berpikir buruk tentang masa depannya. Berbagai kesimpulan yang berasal dari dugaan pribadi mulai muncul memenuhi kepala.

Merasa sudah tidak diperlukan, merasa akan dilengserkan, merasa dipojokkan, merasa gagal menjalankan tugas, dan merasakan hal-hal buruk lain yang sesungguhnya tercipta dari pikiran-pikirannya sendiri. Lebih jauh, jika kita dalam kondisi seperti ini, keputusan nekat pun akan dijalani, dari yang diam-diam melancarkan ‘usaha’ mengirim lamaran kerja ke perusahaan lain (saya bahkan pernah menemui print-out CV salah satu karyawan tergelatak di meja kerjanya), terang-terangan melakukan curhat terbuka pada rekan-rekan kerja, atau serta merta menyerahkan surat pengunduran diri. Padahal, permasalahnnya hanya berasal dari duga-duga pikirannya sendiri yang belum tentu kebenarannya.

Cara paling mudah melenyapkan jebakan pikiran-pikiran buruk seperti itu tentu saja harus berpikir kebalikannya, berpikir positif! Memang benar, untuk sebagian orang yang belum terbiasa melakukan hal ini tentu saja akan mengalami kesulitan. Dalam kondisi banyak sekali dugaan-dugaan buruk yang menari dalam pikiran, orang cenderung malas berpikir positif, semua perhitungannya akan bernilai negatif. Pada saat inilah dibutuhkan teman curhat, namun yang perlu diingat tidak semua orang bisa menjadi pendengar yang baik.

Saya pernah menemui tipe orang seperti ini. Setiap ada waktu berkumpul, misal pada saat lunch break, bahasannya adalah permasalahan pribadinya, seperti; ketidakcocokannya dengan atasan, wewenangnya yang mulai dikurangi, kesulitan menafsirkan keinginan atasan, dan yang lainnya. Melampiaskan unek-unek memang diperlukan, tetapi tentu saja perlu dicermati kepada siapa unek-unek itu tumpah terlebih ditempat umum. Perlu berhati-hati mencermati lawan bicara. Kita tidak akan pernah tahu mana lawan bicara yang tulus mendengarkan dan memberikan solusi; mana yang malah memprovokasi dan semakin membenarkan dugaan-dugaan dalam pikiran kita; dan mana yang sebenarnya juga menghadapi permasalahan yang sama yang justru menambah variasi dugaan-dugaan buruk di kepala kita.

Dengan menceritakan pemasalahan kepada orang yang tepat, sedikit banyak akan cukup membantu melegakan perasaan kita. Terlebih jika solusi dan jalan keluar terbaik pun kita terima. Namun, ada kalanya kelegaan kita tidak berhenti sampai di situ. Kita masih perlu menimbang-nimbangnya kembali. Tentu saja, semua keputusan berada di tangan kita sendiri. Dalam kondisi seperti ini, cobalah untuk berdoa.

Berserah diri dan pasrah kepada pemilik kehidupan adalah obat mujarab untuk kebimbangan hati. Dalam kondisi tenang, khusyuk, melepaskan seluruh pikiran buruk dan hanya fokus kepada yang di Atas, yakinlah bahwa semangat baru akan muncul. Sedikit demi sedikit, emosi akan menurun, pikiran positif akan mulai mengenyahkan dugaan-dugaan negatif sebelumnya. Dalam kejernihan pikiran, kita akan dituntun untuk membentuk kesimpulan yang tepat. Segala risiko tindakan yang akan diambil, akan kita pertimbangkan dari sini. Berserah diri kepada Tuhan akan membawa kita pada suatu bentuk keikhlasan, hingga di kemudian hari tidak akan ada penyesalan dari semua keputusan yang kita pilih.

Sangat penting untuk berlatih mendatangkan pikiran-pikiran positif, karena hal ini mendasari semuanya. Setiap kali kita menyikapi sesuatu, tentu akan datang godaan dari pikiran-pikiran negatif yang melahirkan dugaan-dugaan keliru seperti contoh di atas. Namun, jika kita memilki gudang penyimpanan pikiran positif di kepala kita, apa pun bentuk dugaan negatif akan rontok dengan sendirinya. Demikianlah contoh sederhana dari ajaibnya berpikir positif dan menghindari jebakan berpikir negatif. Saya sudah membuktikannya.[fi]

* Fita Irnani lahir di kota Semarang 13 Juni 1975. Sulung dari tiga bersaudara ini menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota kelahirannya. Alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari 2009 ini menetap di kota Bogor dan saat ini bekerja sebagai Learning & Development Specialist pada sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Sudirman. Fita dapat dihubungi melalui pos-el: acho_fit[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

I Really Love Mondays

Fita IrnaniOleh: Fita Irnani*

Tentu kita sering mendengar orang berucap: “I don’t like Monday” atau tidak sedikit pula status update pada Facebook teman-teman kita, tertulis kalimat yang sama menjelang hari Senin. Sebenarnya, punya salah apakah hari Senin sehingga orang kerap membencinya ? Ataukah sekadar mempertahankan kepopuleran lagu Sir Bob Geldof yang berjudul sama? Sementara, Bob Geldof sendiri menciptakan tembang ini karena mengutip alasan Brenda Ann Spencer, gadis 16 tahun pelaku pembunuhan dan serangan pada sebuah sekolah dasar di San Diego, Amerika Serikat. Sejatinya, memang Sir Bob Geldof pun tidak memiliki sejarah membenci hari Senin.

Bagi saya yang bertempat tinggal di luar kota Jakarta, keunikan hari Senin ditandai dengan tumpah ruahnya masyarakat yang menjejali terminal bus dan stasiun kereta sejak subuh. Tentu saja angkutan kota menuju kedua tempat tersebut selalu sarat penumpang meskipun hari masih gelap. Pemandangan ini memang tidak dijumpai pada hari-hari lainnya. Masyarakat yang selama ini bekerja di Jakarta dan memilih kos di kota, memanfaatkan hari Sabtu Minggu untuk berlibur pulang ke tempat asal dan kembali ke Jakarta pada hari Senin pagi. Ini pun dijalani oleh mahasiswa yang tengah berstudi dan kos di Jakarta. Tidak salah jika hari Senin pagi dipadati orang yang hilir mudik ke Jakarta. Bisa dibayangkan jalan-jalan utama kota Jakarta akan terkena imbas tumpah ruahnya penumpang. Kemacetan inilah yang dijadikan alasan untuk tidak menyenangi hari Senin.

Ketidaksukaan terhadap hari Senin, barangkali juga karena hari ini mengawali aktivitas pekerja kantoran, selepas dua hari menjalani liburan. Mungkinkah dua hari libur tidak cukup untuk me-recharge baterai penyadangan energi baru, guna menjalani aktivitas senin hingga Jumat berikutnya? Ataukah sebenarnya ada keengganan untuk kembali menenggelamkan diri dalam setumpuk deadline tugas-tugas kantor? Lantas muncul pernyataan “I don’t like Monday” dan kalimat ini tersimpan dalam pikiran. Selama tidak ada usaha mengenyahkannya, lambat laun pernyataan itu akan menetap di alam bawah sadar yang melahirkan pembenaran atas ‘parahnya’ hari Senin.

Menjelang hari Senin, orang sering berucap: “Cepat sekali liburan berlalu”,Yah, sudah Senin lagi“, atau “Ah, besok sudah kerja lagi”. Lantas, jika hari Senin adalah hari libur, akankah mereka membenci hari Selasa? Dari ungkapan-ungkapan yang barangkali juga terlontar tanpa sadar ini, sebenarnya kita bisa mencari jawab atas beberapa alasan membenci hari Senin.

1. Pemanfaatan libur yang tidak optimal.

Libur Sabtu dan Minggu pada dasarnya adalah waktu yang tepat untuk melepaskan kepenatan setelah lima hari bekerja. Beberapa sahabat menceritakan, mereka lebih suka menikmati liburan bersama keluarga di hari Sabtu, entah berjalan-jalan keluar rumah atau menyibukan diri berlibur di rumah, sementara hari Minggu dimanfaatkan untuk beribadah dan mempersiapkan tenaga untuk beraktivitas keesokan harinya.

Sebagian orang berpikir untuk mengisitirahatkan tubuh dengan tidur seharian setelah lelah bekerja seminggu. Rasa malas lahir karena tubuh justru terlalu banyak beristirahat, misalnya terlalu banyak tidur selama liburan. Hal ini tidak berbeda pada saat kita berpuasa seharian penuh, lalu ‘balas dendam’ pada saat berbuka puasa. Perlu berhati-hati, berlama-lama tidur justru akan membuat tubuh terasa berat untuk bangkit kembali. Lakukan tidur dengan waktu yang cukup selama liburan.

2. Menghadapi kemacetan.

Secara normal Senin pagi memang identik dengan kemacetan, seperti tertulis diawal bahwa hari itu menjadi awal beraktivitasnya pekerja atau mahasiswa. Semua orang tumplek blek (tumpah ruah) di jalanan, mobil dan angkutan umum antri sepanjang jalan, termasuk jalan tol yang katanya bebas hambatan. Kondisi ini sudah sering terjadi, dan akan terjadi. Jika memang demikian tentu kita perlu mempersiapkan mental atau strategi untuk menghadapinya, toh kita tidak akan berhasil menghilangkan kemacetan, bukan? Mengeluh saja tidak cukup untuk menghindari kemacetan.

Cara yang saya pakai adalah mengubah jam berangkat ke kantor, biasanya saya majukan 30 menit atau satu jam dari jam biasa saya berangkat. Tidak masalah jika terlalu pagi tiba di kantor. Masih lebih baik daripada terjebak kemacetan di tengah jalan. Sebenarnya, untuk kota sesibuk Jakarta, kemacetan tidak selalu identik dengan hari Senin. Pulang kantor pun ada kalanya terkena macet, terlebih pascahujan lebat. Jadi, tidak tepat jika lantaran alasan ini, muncul pernyataan “I don’t like Monday”.

3. Tenggelam dalam rutinitas pekerjaan.

Anda patut waspada jika di hari pertama mengawali aktivitas kerja tiba-tiba rasa enggan muncul, lalu mengambing-hitamkan hari Senin. Bisa jadi justru bukan “I don’t like Monday” namun “I don’t like my job”. Seseorang bisa saja menjadikan pekerjaannya sebagai beban, bekerja sebagai sebuah keterpaksaan. Jika kita mencintai pekerjaan, mustahil muncul keengganan menyambutnya. Perlu kajian lebih jauh jika isyarat enggan bertemu rutinitas pekerjaan mulai muncul, bisa jadi fisik atau mental kita gagal beradaptasi dengan pekerjaan. Dan, itu menjadikan kita tidak menyukai pekerjaan. Bisa jadi stres tengah menghinggapi kita.

Terkait masalah pekerjaan, sesungguhnya tidak ada perbedaan antara hari Senin dengan hari yang lain. Barangkali justru kita sendiri yang membuatnya berbeda. Untuk meminimalisir ketidaksukaan terhadap hari Senin, menjelang liburan pastikan tidak ada pekerjaan yang di-pending, selesaikan segala sesuatunya dengan baik, asumsikan setelah hari Jumat adalah hari Senin. Hal ini akan membantu menambah semangat menjemput rutinitas.

Tidak ada yang salah dengan hari, Tuhan menciptakan hari bersama nikmat di masing-masing hari. Setiap hari akan memiliki ceritanya sendiri. “I don’t like Monday” hanya permainan pikiran yang menyugesti kita. Mulai dengungkan kalimat positif untuk mencintai hari Senin. Lakukan dengan berulang, tularkan kepada yang lain, bayangkan indahnya hari Senin. “I really love Mondays!”[fi]

* Fita Irnani lahir di kota Semarang 13 Juni 1975. Sulung dari tiga bersaudara ini menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota kelahirannya. Alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari 2009 ini menetap di kota Bogor dan saat ini bekerja sebagai HR Executive pada sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Sudirman. Fita dapat dihubungi melalui pos-el: acho_fit[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Seberapa Besar Niatmu

Fita IrnaniOleh: Fita Irnani*

Anda tentu memerhatikan iklan suatu produk rokok yang tervisualisasi melalui obsesi seorang pemuda mendapatkan pacar. Berbagai jalan ditempuh guna mendekati sang pujaan hati, termasuk menaklukan ayah dan anjing penjaga. Satu-dua jalan dilalui tak kenal lelah. Pengunaan tiang pelontar tubuh adalah titik pungkas pencapainnya, dan ketika badannya hinggap di jendela lantai dua, ayah si gadis menyambutnya dengan tanya: “Lagi ngapain kamu?” Dengan muka kocak si pemuda menjawab, “Ngejalanin niat, Om ?” Tak berhenti di situ, si Om masih bertanya, “Seberapa niatmu?”

Jika kita punya sedikit waktu untuk mencermati tingkah si pemuda, sebenarnya yang dia lakukan adalah gambaran dari perjuangan hidup yang sesungguhnya. Tidak salah jika si Om dalam iklan tersebut menanyakan ‘seberapa niatmu’, karena sesungguhnya niat yang besar berperan penting dalam penentuan sukses tidaknya perjuangan seseorang. Niat adalah dasar utama penyusun batu bata perjuangan hidup. Kesuksesan seseorang berawal dari sini.

Pada dasarnya niat adalah keinginan untuk mendapatkan atau melakukan sesuatu. Keinginan ini akan menghujam jauh ke dalam hati, dan dari sinilah niat terlahir. Dari dalam hati, niat akan tersampaikan ke otak. Selanjutnya otak akan memerintahkan seluruh panca indera dan tubuh kita untuk berbuat mewujudkan niat, seperti yang dilakukan si pemuda dalam iklan tersebut, niatnya mendapatkan pacar memaksa otaknya mencari jalan cerdik mendekati gadis pujaannya.

Seandainya si pemuda gentar menghadapi sang ayah dan anjingnya yang sangar di rintangan pertama, kemudian menyerah, apakah dia akan berhasil bertemu dengan si gadis? Belum tentu. Kesuksesannya hinggap di jendela rumah si gadis adalah bagian dari besarnya niat pemuda itu, lalu seperti apakah niat yang besar itu?

  1. Simpan niat dalam hati dan yakini kebenarannya.

Dalam cerita iklan, hal ini telah tertulis di awal pembukaan iklan.

  1. Biarkan panca indera bekerja menegaskan niat.

Dalam cerita iklan, si pemuda mantap menyebut keinginannya.

  1. Biarkan tubuh bergerak melakukan perbuatan mewujudkan niat.

Dalam cerita iklan, jelas sekali apa yang dilakukan si pemuda.

Untuk memastikan terwujudnya keinginan kita, maka ketiga hal tersebut harus diselaraskan, satu sama lain harus focus untuk tujuan yang sama. Hal yang sia-sia juga jika memiliki niat namun tidak diwujudkan dalam perbuatan. Ini berarti niat yang tidak besar atau malah setengah-setengah. Jika memang demikian, apakah keinginan kita akan terwujud?

Niat terlahir dari dalam hati, niat adalah perbuatan hati. Dia mendasari seluruh perbuatan kita, baik atau buruk. Niat akan menjadi jiwa dari seluruh perbuatan, jadi jangan sampai salah meniatkan sesuatu. Perbuatan kita akan menjadi positif jika berawal dari niat yang baik, dan sebaliknya akan menjadi negatif karena niat yang salah.

Oktober tahun lalu saya mendapat e-mail mengenai workshop “Cara Gampang Menulis Artikel dan Buku Bestsellerbatch VII dari Pembelajar Writer Sschool. Tentu saja saya meresponnya dengan baik karena sejak dahulu saya memang ingin menulis artikel. Formulir pendaftaran sudah saya layangkan, namun beberapa hari menjelang hari H, saya diliputi ‘keraguan’, antara membatalkan workshop karena kesibukan kantor yang tidak bisa ditinggal atau tetap mengambil cuti untuk mengikuti workshop, dan pada akhirnya saya memilih absen dalam workshop batch ini.

Penting untuk dilakukan adalah meyakinkan niat dan memastikan bahwa dia selalu ada di dalam hati, karena dalam perjalanan ‘berbuat’ untuk mewujudkan niat, akan banyak kendala yang menghalangi. Jangan biarkan dia pergi dari hati, sekali dia pergi, maka otak akan diliputi keraguan untuk mewujudkannya.

Febuari lalu, kembali saya mendapat email mengenai workshop yang sama, namun judulnya menjadi “Cara Gampang Menulis Buku Bestsellerbatch VIII. Tidak mau absen untuk kedua kali, dengan mantap saya ikuti workshop ini, kendati target saya hanya belajar menulis artikel, bukan menulis buku bestseller. Keinginan saya terwujud, saat ini Anda tengah membaca salah satu artikel saya.

Ada kalanya orang meniatkan sesuatu untuk memperoleh hal-hal yang barangkali tidak luar biasa, maka hasil yang diperoleh pun menjadi tidak luar biasa. Seperti ketika saya mengikuti workshop dengan niat hanya untuk dapat menulis artikel saja. Andai saat itu saya meniatkan untuk mampu menulis buku bestseller, apakah saat ini Anda tengah membaca buku saya? Bisa jadi, karena semakin kita meniatkan sesuatu yang luar biasa, saat itu juga hati, pancaindra dan tubuh kita akan bekerja sama mewujudkannya.

Niatkan hal-hal positif yang luar biasa mulai dari sekarang karena potensi yang besar sesungguhnya sudah tersimpan dalam tubuh Anda. Niat adalah nyawa dari seluruh perjuangan hidup, apa yang kita peroleh saat ini berasal dari niat kita sendiri, seberapa besarkah itu?[fi]

* Fita Irnani lahir di kota Semarang 13 Juni 1975. Sulung dari tiga bersaudara ini menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota kelahirannya. Alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari 2009 ini menetap di kota Bogor dan saat ini bekerja sebagai HR Executive pada sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Sudirman. Fita dapat dihubungi melalui pos-el: acho_fit[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Move Forward or Keep Quiet

Fita IrnaniOleh: Fita Irnani*

Anda tentu pernah mendengar atau justru pernah mengalami sendiri, proses pergantian pemimpin dalam suatu organisasi. Berita mutakhir saat ini adalah proses pergantian pemimpin di negara kita, namun saya tidak akan berbicara mengenai pergantian pemimpin dalam konteks kenegaraan. Bahasan saya kali ini lebih berfokus pada pergantian pemimpin dalam suatu lembaga atau organisasi perusahaan karena kebetulan, saya berkesempatan menyaksikan terjadinya perubahan pemimpin berikut perilaku orang-orang dalam organisasi tersebut.

Suatu ketika, manajemen perusahaan tempat saya bekerja memutuskan melakukan perubahan pimpinan pada salah satu divisi di perusahaan. Alasan utamanya adalah di samping karena pejabat lama memilih hengkang untuk berbisnis sendiri, juga karena manajemen berupaya untuk melakukan perbaikan performance divisi tersebut.

Tentu saja dengan masuknya pemimpin baru, memunculkan reaksi beragam dari sejumlah karyawan. Hal yang tidak aneh, karena datangnya pemimpin baru akan dilekati dengan sistem kerja dan gaya memimpin yang juga baru. Bagi sebagian karyawan kondisi ini akan menjadi ajang pembuktian prestasi dan kesempatan untuk meningkatkan nilai diri. Namun, bagi sebagian yang lain, hal ini berarti ancaman terhadap ‘kenyamanan’ yang tengah mereka nikmati.

Setelah satu-dua bulan melakukan observasi kinerja dan sistem kerja warisan lama, si pimpinan mulai melakukan pengenalan sistem dan gaya kerja yang baru. Perbaikan target kerja yang dituangkan dalam KPI (Key Performance Indicator) pun dilakoni, tidak lagi pencapaian target yang sekadar meet tetapi juga digenjot menuju exceed performance.

Kedisiplinan menjadi nomor satu. Pukul 08.30 pagi, tidak lagi menjadi jam ‘masuk kerja’, namun menjadi jam ‘siap kerja’, membiasakan regular meeting dengan titik berat pertemuan semua bagian, ‘duduk sama-sama’ membeberkan permasalahan sekaligus memamerkan ‘kesuksesan’ tiap bagian, serta perumusan the best solution untuk permasalahan yang dihadapi. Tentu saja, pendekatan pribadi terhadap karyawan juga menjadi prioritasnya. Memperlakukan bawahan layaknya teman, membiarkan karyawan melemparkan opini, membuka tangan lebar-lebar untuk semua ketidaktahuan, dan bijak memberikan revisi.

Pada dasarnya semua karyawan berkeinginan untuk maju, atau berubah ke arah yang lebih baik. Tidak ada orang yang ingin hidupnya mundur, semuanya ingin sukses, semuanya ingin exceed. Namun, di sinilah duduk permasalahannya. Untuk mencapai kesuksesan tentunya akan banyak menemui hambatan. Mana ada kesuksesan semudah membalikkan telapak tangan.

Menyikapi hal ini, ternyata ada kelompok yang berani menghadapi hambatan-hambatan tersebut, namun ada juga kelompok yang justru dibayangi oleh ‘rasa takut’, misalnya:

  • Takut mengambil risiko
  • Takut menerima tanggung jawab yang lebih besar
  • Takut bergesekan dengan bagian lain
  • Takut load kerjanya bertambah banyak
  • Takut gagal
  • Takut disalahkan, dan sebagainya.

Namun di sisi lain, dalam diri dua kelompok tersebut sebenarnya juga memiliki motivasi berupa ‘rasa ingin’, misalnya:

  • Ingin naik gaji
  • Ingin mendapat promosi ke jenjang yang lebih tinggi
  • Ingin mendapat bonus lebih besar
  • Ingin menyelesaikan pekerjaan dengan baik
  • Ingin berprestasi
  • Ingin bekerja sesuai deadline, dan sebagainya.

Namun pada kenyataannya, orang sering kali gagal memperoleh “keinginannya” karena terbelenggu oleh “rasa takutnya”. Sebagai contoh: Pimpinan memberikan tugas untuk menyelesaikan suatu project pada Anda, dan harus selesai dalam waktu satu minggu. Dalam realisasinya Anda menemukan banyak kendala sehingga “rasa takut” mulai muncul. Dalam kondisi seperti ini, apa yang akan Anda lakukan?

Kelompok I: Keep Quiet (rasa takut > rasa ingin)

Kelompok ini akan cenderung menarik diri ke wilayah yang aman, berusaha menghindar dari konflik, menghindar untuk mengambil keputusan, dan menjadikan faktor external sebagai alasan atas kegagalannya. Rasa takut untuk keluar dari zona nyamannya lebih besar dibandingkan keinginan menyambut perubahan. Beberapa pernyataan di bawah ini akan terdengar familiar dilontarkan oleh kelompok ini:

“Maaf Pak, bagian lain kurang support.”

“Maaf Pak, saya tidak tahu batas otoritas saya.”

“Maaf Pak, bukan dalam kapasitas saya untuk menyelesaikan masalah tersebut.”

“Maaf Pak, waktunya tidak cukup.”

“Maaf Pak, sudah saya sampaikan melalui e-mail tetapi belum ada tanggapan dari Bapak.”

“Maaf Pak, takut Bapak marah jadi saya putuskan menunggu.”

Kelompok II: Move Forward (rasa ingin > rasa takut)

“Rasa ingin”-nya yang tinggi akan menarik kelompok ini keluar dari wilayah amannya. Tekadnya kuat untuk memberikan yang terbaik, selalu berinisiatif, dan tidak gentar mencoba. Orang-orang dalam kelompok ini selalu mencari jalan keluar pada saat menemukan masalah dan tidak berhenti di satu titik. Sakit, capai, kerja lembur, ditegur, dimarahi, atau bahkan dipecat adalah risiko yang siap ditanggung oleh mereka.

Contoh statement dari kelompok ini adalah:

“Maaf Pak, untuk project yang Bapak berikan telah saya selesaikan tepat waktu, namun konsepnya agak berubah. Saya sudah berusaha menghubungi Bapak melalui e-mail, juga berusaha menghubungi melalui SMS dan telepon, namun tidak pernah berhasil. Kemudian saya ambil inisiatif berkonsultasi ke bagian terkait, meminta saran ke pihak internal, dan akhirnya saya memutuskan option yang terbaik. Bila saya dianggap salah, saya bersedia menerima risikonya.”

Orang-orang yang berada dalam kelompok ini memiliki perilaku kesuksesan yang lebih unggul dibanding kelompok pertama. Hebatnya lagi, beberapa orang dalam kelompok ini, yang semula adalah orang biasa-biasa, ternyata berhasil menunjukkan prestasi kerja yang signifikan.

Jika saat ini Anda seorang karyawan, di kelompok manakah Anda? Atau, mana yang akan Anda pilih? Move Forward or Keep Quiet?[fi]

* Fita Irnani lahir di kota Semarang, 13 Juni 1975. Sulung dari tiga bersaudara ini menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota kelahirannya. Alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari 2009 ini menetap di kota Bogor, dan saat ini bekerja sebagai HR Executive pada sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di kawasan Sudirman. Fita dapat dihubungi melalui pos-el: acho_fit[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)