Saat Anda Tak Memiliki Waktu

faOleh: Fida Abbott*

Time is Money. Pernyataan ini sudah sangat umum kita dengar dan sudah tidak asing lagi bagi kita. Sebenarnya, apakah artinya? Menurut saya, pernyataan itu mengartikan bahwa waktu itu sangatlah berguna sehingga selayaknyalah kita bijaksana dalam memanfaatkannya.

Status sebagai seorang wanita yang telah berkeluarga dan telah memiliki putera-puteri, tentu sangat menguras tenaga dan pikiran, apalagi bila ada embel-embel berikutnya, yaitu bekerja di luar rumah ditambah melakukan beberapa aktivitas sukarelawan, plus kegiatan tulis-menulis. Ini belum seberapa bila dibandingkan ada anggota keluarga yang sakit. Siapakah yang paling repot? Tentu saja seorang ibu. Belum lagi setiap hari harus memikirkan kira-kira makanan apa yang akan disantap oleh keluarga, baik untuk sarapan pagi, makan siang dan makan malam, ditambah urusan sekolah yang paling tidak seorang ibu harus mempersiapkan keperluan sekolah atau membantu mengajar anak-anaknya.

Kondisi di atas adalah sebuah contoh yang saya alami sendiri. Dapatkah Anda membayangkan bagaimana sibuknya diri saya? Bahkan dalam kurun waktu sekitar delapan bulan saya dapat menyelesaikan penulisan sebuah novel pertama saya tanpa melalaikan semua tugas satu pun di atas. Tambahan aktivitas tersebut sangat menguras energi, pikiran, dan emosi. Apalagi saya menulisnya dalam bahasa kedua saya, yaitu bahasa Inggris. Seminggu setelah menyelesaikan total penulisan tersebut, saya tak menyentuh notebook yang biasa saya gunakan untuk menulis novel. Saat itu pun saya baru sadar betapa besarnya energi, pikiran, dan emosi yang terlibat selama kurun waktu penulisannya. Kalau saya katakan tak ada satu pun kagiatan lainnya yang terganggu, berarti ada satu hal lainnya yang harus saya korbankan. Apakah itu? Tak lain adalah waktu tidur saya yang berkurang.

Saya sadar apabila ingin mencapai sesuatu tujuan yang diinginkan akan ada sesuatu yang harus saya korbankan, yaitu mengurangi waktu tidur. Bila Anda memiliki waktu tidur antara 8-10 jam per hari, maka saya berkurang setengahnya. Meskipun begitu ada sesuatu kenikmatan dan kepuasan dalam hati yang tak dapat dibayar oleh apa pun setelah menyelesaikannya hingga tuntas, dan itu merupakan obat yang mujarab sepanjang masa.

Kalau Anda pernah mendengar seorang yang belum berkeluarga dan menyukai dunia tulis-menulis mengatakan tak ada waktu untuk menulis, maka saya katakan untuk perlu mengoreksi pernyataannya. Hasrat yang tinggi disertai tekat bulat akan mengalahkan segalanya, termasuk waktu itu sendiri.

Kalau seorang ibu rumah tangga dengan segudang kegiatannya, baik di dalam dan di luar rumah, aktivitas online-nya, sukarelwan maupun yang tidak, maka saya yakin Anda-anda yang masih single, belum berkeluarga akan lebih jauh dapat melakukan hal-hal yang lebih besar daripada itu. Bagaimana? Setujukah Anda dengan pernyataan saya tersebut?[fa]

* Fida Abbott adalah Arek Suroboyo yang lahir pada 11 Pebruari 1970 di Surabaya dan sekarang tinggal di Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia mengenal dunia tulis menulis sejak usia 8 tahun hasil didikan langsung ayahndanya, Imam Sujono, dan melahirkan cerpen remaja pertamanya berjudul “Kidung Kasih untuk Lintang” pada usia 13 tahun. Menulis merupakan aktivitas lulusan Pertanian jurusan Agronomi dari UPN ‘Veteran’ Surabaya ini. Fida memiliki beberapa pengalaman kerja di bidang landscape, dari proyek kecil hingga besar, dari perumahan tunggal, real estate, hingga hotel, kondominium, apartemen berbintang lima di Surabaya. Ia pernah berkarier di AIG-Lippo, jadi guru les privat, dan kini tercatat sebagai WALMART Associate, menjadi Redaktur Pelaksana Harian Online KabarIndonesia (HOKI), www.kabarindonesia.com sekaligus Direktur Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH). Tulisan-tulisannya tersebar di beberapa media online, antara lain di KabarIndonesia, Helium, Cross-Written, The Daily Avocado, dan ketiga blog-nya di www.fidaabbott.com, www.buanainspiration.blogspot.com dan www.abbottsbooks.com. Fida adalah penulis buku What Prayers does Mommy Teach Me, Dancing in My World, dan buku seri Amerindo Kitchen. Buku seri pertama Amerindo Kitchen sudah terbit dengan judul Fabulous Leftover Turkey.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Hasrat Seorang Penulis

fa

Oleh: Fida Abbott*

Berbicara mengenai hasrat atau keinginan, setiap orang pasti memilikinya. Entah itu hasrat dengan sebuah cita-cita, atau impian yang sangat tinggi atau sederhana saja, tidak memandang profesi dan status.

Sebuah contoh, seorang anak bimbingan les privat yang pernah saya asuh, tahun sebelumnya tidak naik kelas. Masalahnya sederhana, bukan karena anak itu bodoh, tetapi takut bertindak dan menjawab setiap pertanyaan yang diberikan oleh sang guru. Hal ini menghalangi konsentrasinya selama menerima pelajaran di kelas. Setelah saya melihat beberapa sisi permasalahannya, ternyata faktor yang membuatnya seperti itu adalah karena kedua orang tuanya sering bertengkar. Hal itu membuatnya merasa takut bahkan tidak berani berbicara dengan siapa pun. Padahal, usianya masih sangat muda, sekitar delapan tahun.

Setelah saya dipercaya untuk membimbingnya, fokus utama saya adalah melakukan pendekatan yang tidak sangat mudah. Butuh waktu sekitar tiga bulan sampai dia mau memanggil nama saya. Bahkan, berkata ‘ya’ dan ‘tidak’ pun belum pernah ia katakan saat itu. Melihat kemajuan ini, saya pun sangat senang. Selanjutnya, saya berusaha memberinya sebuah motivasi yang sangat sederhana. Saya katakan kepadanya, apabila ia ingin naik kelas, maka ia harus berani menjawab pertanyaan saya. Salah atau benar, tidak menjadi masalah. Dengan begitu dia akan mendapatkan sebuah petunjuk apabila menjawab sesuatu yang tidak benar.

Ternyata, trik saya benar-benar manjur. Oleh karena hasrat yang besar untuk naik kelas, dia mulai memberanikan diri melakukan pembicaraan-pembicaraan sederhana dengan saya selama bimbingan berlangsung. Hal ini menimbulkan rasa percaya diri terhadap dirinya. Tidak terduga, ternyata hasilnya sangat memuaskan. Sebuah warta yang menggemparkan di akhir tahun pelajaran sekolah tiba, dia naik kelas dan berhasil meraih juara kedua di kelasnya. Sejak saat itu, saya kebanjiran permintaan untuk menerima anak-anak les privat.

Apabila Anda seorang penulis, saya yakin Anda pasti memiliki sebuah hasrat tertentu dalam dunia tulis-menulis yang sedang Anda geluti. Entah itu terjadi pada para penulis pemula atau yang sudah professional sekalipun. Tidak jarang kita mendengar ucapan-ucapan atau tulisan-tulisan dari mereka yang menunjukkan impian dan cita-cita masing-masing dalam meraih hasrat atau keinginannya itu.

Ada penulis pemula yang ingin tulisan-tulisannya dapat dipublikasikan di surat-surat kabar, ingin menulis sebuah buku, dan sebagainya. Ada juga penulis yang telah menulis banyak buku, memiliki keinginan yang lain, yaitu menjadi penerbit sekaligus, dan sebagainya. Apa pun hasrat dan keinginan Anda, tanpa ada semangat untuk melakukannya dan berjuang untuk mewujudkannya, maka hasrat dan keinginan itu tak akan pernah diraih.

Sebagai seseorang yang menyukai dunia tulis-menulis, ada sebuah hasrat tinggi yang ingin saya capai setelah kepindahan saya ke AS. Sama halnya dengan
rekan-rekan penulis pada umumnya, yaitu menulis buku. Buat saya, menulis sebuah buku
tidaklah hal yang sangat sulit dilakukan
. Tetapi masalahnya, bagaimana menembus
pasar AS, karena s
istem penerbitan buku di AS tidaklah sama dengan di Indonesia.

Untuk dapat mencapai penerbit, para penulis harus melalui agen-agen resmi yang menghubungkan para penulis dengan para penerbit, sehingga penerbit tidak melakukan hubungan langsung dengan para penulisnya. Untuk keperluan ini, penulis melakukan sebuah kontrak beberapa bulan dengan seorang agen resmi. Apabila agen tersebut gagal meloloskan manuscript-nya ke para penerbit, maka penulis berhak melakukan perpanjangan dengan agen tersebut atau memutuskan kontrak dengannya dan memilih agen resmi lainnya.

Mengapa demikian? Karena, di AS banyak sekali orang yang menulis buku sehingga persaingan maupun syarat penerbitan sebuah naskah sangatlah ketat. Agen dan penulis harus melakukan kerja sama yang baik untuk menampilkan sebuah proposal yang sempurna pada saat melakukan submitting naskahnya. Tidak diperkenankan ada kesalahan ketik sekali pun, tanda baca, punctuation, tahu dengan baik pangsa pasarnya, marketable, menarik, dan sebagainya.

Hal tersebut bukanlah hal yang mudah, mengingat bahasa Inggris bukanlah bahasa ibu saya. Tentu saya akan kalah jauh deangan mereka para penulis dari AS atau negara lainnya yang mana bahasa Inggris adalah sebagai bahasa ibu mereka. Lalu, apakah saya akan hilang semangat? Tentu tidak. Sebagai seseorang yang memiliki hasrat, saya mencari alternatif lain dengan cara self-publishing.

Saya belajar banyak mengenai hal ini karena sistemnya pun sangat berbeda sekali antara di Indonesia dan AS. Dari sana saya mulai menanjak untuk melirik kemungkinan self-publishing yang melibatkan pihak profesional lainnya untuk proses pengeditan, penyusunan, dan marketing yang bertaraf internasional. Masalahnya, ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apakah saya berhenti mencoba? Tentu tidak juga. Saya mulai memberanikan diri untuk menulis sebuah novel dan saya kirimkan ke sebuah komunitas workshop, tempat para penulis novel internasional mengirimkan tulisan-tulisannya untuk saling di-review.

Apakah yang saya dapatkan dengan bergabung sebagai anggota di sana? Saya mendapatkan banyak hal postitif, antara lain:

Pertama, mereka mengenal saya dan membaca bab-bab novel saya.

Kedua, pengalaman belajar dari masukan-masukan yang saya terima, dan yang tak kalah pentingnya adalah,

Ketiga, yaitu mendapatkan compliments dan dukungan dari mereka.

Tidak tanggung-tanggung, seorang ambassador lembaga internasional terkenalyang juga telah menulis beberapa bukutelah me-review sebuah bab di novel saya yang saat ini masih sedang saya tulis kelanjutan bab-babnya.

Berikut kutipan sebagian komentarnya: “There is an honesty about this story which is wonderfully captivating. We want her enthusiasm to succeed. We are on her side; and, in the end, we read what she has to say with just as much enthusiasm as she has herself.”

Pernyataan tersebut membuat mata dan hati saya terasa ingin mengeluarkan air mata karena terharu. Meskipun hanya beberapa kalimat yang ditulisnya, sangat berarti bagi saya untuk tetap semangat meneruskan penulisan novel hingga akhir. Apakah harapan saya berikutnya? Saya yakin bahwa segalanya memerlukan proses dan perjuangan.

Berapa lama? Saya tidak peduli berapa lama karena dengan kesungguhan dan
semangat, maka waktulah yang akan menjawabnya. Satu keinginan
atau langkah sederhana saya, novel yang sedang saya tulis akan tampil dan tersedia di sejumlah website internasional yang sangat popular, yaitu Amazon, Barne & Noble, dan toko-toko buku online/offline internasional lainnya.

Ternyata keinginan ini terwujud dengan sebuah cara lain. Hari Sabtu kemarin, tanggal 6 Juni 2009, saya mendapatkan sebuah e-mail dari perusahaan self-publishing, tempat buku-buku digital dan print saya diterbitkan, yang menyebutkan bahwa buku memasak berseri pertama saya (First Amerindo Kitchen in Series) telah dipilih untuk masuk dan dipasarkan dalam list buku-buku di Amazon. Benar-benar suatu kejutan untuk saya. Entah kriteria apa yang menentukannya, saya yakin mereka memilihnya karena sebuah alasan sederhana, yaitu judul dan isinya yang menarik.

Pagi itu rasanya saya sedang menerima energi yang berlipat ganda, lebih semangat lagi daripada hari-hari sebelumnya. Ternyata usaha-usaha dan kerja keras saya membuahkan hasil. Kalau yang tidak pernah saya pikirkan saja telah terpenuhi, apalagi yang telah saya pikirkan. Saya beriman, selama memiliki semangat untuk berjuang mencapai cita-cita dan impian disertai dengan doa dengan bermacam-macam cobaan yang mungkin akan dilalui, atau bahkan harus melewati Sodom dan Gomora sekalipunmenerima hinaan dan cibiransaya pribadi akan memanfaatkannya untuk semakin menumbuhkan semangat saya.

Selama kita bertahan dan terus mengejarnya, maka ada satu hal yang ada, yaitu sebuah harapan. Harapan ini akan membantu kita memberikan semangat yang tak berkesudahan untuk mengejar dan mencapai cita-cita dan impian kita.

Saya sependapat dengan apa yang pernah dikatakan oleh Sylvester Stallone, salah seorang aktor termahal di AS yang berasal dari keluarga yang sangat miskin dan dengan keterbatasan fisiknya, dia masih tetap memiliki cita-cita dan impian yang sangat luar biasa pada saat itu. Cita-cita dan impiannya itu tercapai setelah bertahun-tahun dia berjuang untuk menjadi salah seorang actor terkenal dan termahal di AS, hanya oleh karena dia percaya dan memiliki sebuah prinsip: “When you are committed enough, there is always a way.”[fa]

* Fida Abbott adalah Arek Suroboyo yang lahir pada 11 Pebruari 1970 di Surabaya dan sekarang tinggal di Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia mengenal dunia tulis menulis sejak usia 8 tahun hasil didikan langsung ayahndanya, Imam Sujono, dan melahirkan cerpen remaja pertamanya berjudul “Kidung Kasih untuk Lintang” pada usia 13 tahun. Menulis merupakan aktivitas lulusan Pertanian jurusan Agronomi dari UPN ‘Veteran’ Surabaya ini. Fida memiliki beberapa pengalaman kerja di bidang landscape, dari proyek kecil hingga besar, dari perumahan tunggal, real estate, hingga hotel, kondominium, apartemen berbintang lima di Surabaya. Ia pernah berkarier di AIG-Lippo, jadi guru les privat, dan kini tercatat sebagai WALMART Associate, menjadi Redaktur Pelaksana Harian Online KabarIndonesia (HOKI), www.kabarindonesia.com sekaligus Direktur Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH). Tulisan-tulisannya tersebar di beberapa media online, antara lain di KabarIndonesia, Helium, Cross-Written, The Daily Avocado, dan ketiga blog-nya di www.fidaabbott.com, www.buanainspiration.blogspot.com dan www.abbottsbooks.com. Fida adalah penulis buku What Prayers does Mommy Teach Me, Dancing in My World, dan buku seri Amerindo Kitchen. Buku seri pertama Amerindo Kitchen sudah terbit dengan judul Fabulous Leftover Turkey.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Label Seorang Penulis

fa1Oleh: Fida Abbott

Apakah Anda menganggap diri sendiri sebagai seorang penulis? Apakah Anda dikenal sebagai seorang penulis oleh khalayak umum? Termasuk jenis penulis apakah Anda? Pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin pernah terlintas di benak seseorang sebagai penulis.

Tiga puluh tahun silam, menulis merupakan bagian dari salah satu kegiatan sekolah bagi saya, seperti mengerjakan pekerjaan rumah yang telah diberikan oleh para guru, termasuk di dalamnya menulis halus. Setelah mengenal mata pelajaran Bahasa Indonesia yang mengajarkan tentang mengarang, saat itu saya mulai mengenal salah satu dunia baru. Mengarang awalnya menjadi suatu hal yang cukup mengasyikkan, meskipun akhirnya saya pun sedikit bosan karena tema yang diberikan selalu mengenai hari libur sekolah, mengunjungi nenek di desa, berkebun, membantu ibu di rumah, dan sejenisnya.

Tak ada satu hal yang lebih menarik dari hal tersebut, waktu itu, meskipun saya tergolong masih terlalu muda untuk berpikir ke arah sana. Untunglah, berkat asahan sang Ayah, mulai terbukalah banyak ide dalam menulis. Beliau merupakan salah satu sosok yang turut andil dalam mematri pertumbuhan saya dalam tulis-menulis, meskipun tak selamanya beliau memantau karena tugas negara yang diemban. Paling tidak beliau telah mengarahkan sesuatu kepada saya. Menulis apa saja, yang dilihat, dipikirkan, dirasakan, dialami, diinginkan, dan sebagainya.

Walaupun aktivitas menulis hanya sekadar pengisi waktu, akhirnya membuahkan sesuatu di saat saya berusia sekitar 13 tahun. Saat itu, majalah sekolah akan dipublikasikan pertama kali, dan setiap siswa diharapkan berkontribusi. Tanpa pikir panjang pun ajakan itu menyulut hasrat saya untuk menulis sesuatu. Sesuatu yang pernah terlintas di pikiran saya dan terbuang begitu saja.

Tanpa terasa, dalam waktu tak berapa lama, saya menyelesaikan sebuah cerpen remaja yang saya tulis untuk pertama kalinya. Setelah itu, tanpa pikir panjang lagi, saya meminjam mesin ketik tetangga dan mulailah saya mengetik serta menyerahkannya di hari berikutnya. Puas rasanya, tiada terkira. Kepuasan itu sedikit pudar setelah mengingat berapa jumlah murid di sekolah saya. Kalau murid kelas I SMP di sekolah saya berjumlah sekitar 38-40 murid per kelas, dan apabila jumlah kelas I saat itu adalah sepuluh kelas, maka untuk murid kelas I saja sudah berjumlah 380-400 orang siswa. Jumlah itu belum terhitung untuk kelas II dan III.

Akhirnya, perasaan ciut juga untuk berharap cerpen saya akan dipublikasikan. Apalagi sekolah saya termasuk salah satu sekolah favorit di Kota Pahlawan, yang anak-anaknya umumnya berlevel cukup diperhitungkan di peringkat SMP Negeri. Kesimpulannya, umumnya mereka pandai-pandai dan sangat kreatif. Perasaan itu terus menghantui yang mengakibatkan saya tak lagi memikirkannya, apalagi berharap akan dimuat.

Setelah beberapa minggu berlalu, tiba-tiba seorang pengurus OSIS masuk ke ruangan dan menyerahkan majalah sekolah volume I kepada Ketua Kelas untuk dibagikan ke setiap siswa. Tak berharap apa pun, saya buka majalah itu. Dan, betapa terpananya ketika cerpen saya dimuat di halaman berikutnya sebagai cerpen utama. Jantung saya berdebar mengikuti rasa gembira yang tiba-tiba memuncak. Bahagia tak terkirakan dan tak dapat dikatakan lewat untaian kata. Sejak saat itu saya mulai melirik kemungkinan menulis cerpen lagi, juga puisi untuk majalah sekolah, yang akhirnya tak lama usia keberadaannya.

Beruntunglah, setelah beberapa tahun kegiatan menulis saya berhenti, saya masih memiliki sahabat-sahbat di bangku SMA yang sama-sama menyukai dunia tulis-menulis. Ajang tulis-menulis menjadi meningkat saat itu. Kalau dulu di SD hanya untuk mengisi waktu luang, di SMP untuk mengisi majalah sekolah, maka di SMA saling berlomba mengirimkannya ke surat-surat kabar lokal dan jenis-jenis lomba lainnya yang digelar di Kota Pahlawan.

Masa mahasiswa pun tiba. Fakultas Pertanian yang telah saya pilih tak memungkinkan saya memfokuskan diri ke dunia tulis-menulis lagi. Setiap hari tugas praktikum menumpuk dan harus diselesaikan bila ingin mengikuti praktikum berikutnya. Hingga terkadang, di akhir pekan pun terisi hanya untuk mengerjakan tugas-tugas praktikum. Tak ayal keingingan menulis tenggelam begitu saja.

Masa-masa bekerja juga menyita waktu. Kegiatan menulis pun tak terpikirkan sama sekali. Setelah kepindahan ke Amerika Serikat, salah satu teman setia saya adalah komputer dan internet. Tidak pernah terlewat sehari pun untuk online meskipun hanya mengecek email saja. Suatu hari, saya menemui blog seorang penyair muda yang cukup terkenal, dan sebuah karyanya yang sangat saya sukai dan telah menyentuh hati saya. Dia juga salah seorang rekan dari salah satu sanak famili saya di Surabaya.

Langsung saja saya mencoba menyapanya dengan mengirim sebuah email kepadanya dan disambut dengan baik. Di akhir email-nya dia mengajak saya untuk membuat sebuah blog yang menurutnya sebagai tempat untuk mencurahkan perasaan saya. Istilah umumnya sebagai tempat curhat. Awalnya, benar-benar saya tak mengenal sama sekali mengenai dunia blog, tetapi ajakan itu membuat saya sangat tertarik untuk mencobanya.

Betapa senangnya saya, akhirnya memiliki sebuah blog, meskipun sangat sederhana sekali. Setelah mulai berselancar, saya merasa blog saya tak ada apa-apanya bila dibanding dengan blog lain yang telah saya kunjungi. Atau mungkin dengan perkataan lain, blog saya adalah yang terjelek. Hal ini mengusik hati saya. Mulailah belajar sedikit demi sedikit, dari yang tak mengenal kode HTML, saya mulai belajar sendiri meskipun hanya dasarnya saja. Saya juga mulai melakukan improvisasi sedikit demi sedikit, baik itu penampilan blog maupun content-nya. Ini tidak memerlukan waktu yang pendek. Berbulan-bulan saya belajar sendiri, terutama dalam hal menulis yang tentu saja berpengaruh setelah sekian lama lebih dari 10 tahun lamanya tidak pernah menulis.

Waktu pun berlalu. Dunia blogging sudah menjadi bagian dari aktivitas saya. Rekan-rekan blogger dari berbagai latar belakang telah mengenal saya, bahkan secara terus terang menyatakan kalau mereka menyukai tulisan-tulisan saya, karena memberikan berkat dan inspirasi kepada mereka. Tidak berlebihan bila pernyataan tersebut membuat saya bersyukur, karena memang itulah niat saya ber-blogging-ria. Tidak untuk tempat curhat, tetapi untuk berbagi kepada sesama. Mendengar betapa rekan-rekan blogger menyukai berkunjung ke blog untuk membaca tulisan-tulisan atau warta terbaru saya, sudah merupakan sebuah tanda bahwa di mata mereka saya cukup berpotensi dalam dunia menulis.

Tahun 2008 saya pun terpilih menjadi salah satu finalis untuk kategori blog Personal di ajang Christian Indonesia Blogger Festival (CIBFest 2008). Tujuan saya mengikuti festival itu tidak lain hanya ingin melihat sejauh mana kemampuan saya untuk berkiprah di ajang nasional, sekaligus menimba pengalaman dari ajang tersebut. Jadi, bukan melihat hadiahnya karena terus terang saya pun tidak tertarik dengan hadiahnya, sebuah Ipod Touch untuk pemenangnya. Selain jenis hadiahnya, juga pasti tak akan dapat digunakan di AS karena bentuk electrical penghubungnya pun sudah berbeda. Dan, tak mungkin juga mereka akan mengirimkannya ke AS karena biayanya yang mahal. Bisa jadi, lebih mahal ongkos pengirimannya daripada harga Ipod Touch itu sendiri.

Dua alasan di atas itulah yang mendorong saya mengikuti festival itu. Template lama pun tidak saya ubah, tetapi mengandalkan content-nya saja. Beruntunglah, meskipun hanya sebagai finalis dari ratusan peserta, sudah cukup membuat senang untuk mengukur kemampuan.

Ajang dunia blogging menjadi perhatian saya. Bulan Februari 2009, saya masuk nominasi Best Personal Development Blog di sebuah ajang kontes. Kali ini bukan tingkat nasional tetapi bertaraf internasional. Saingannya pun cukup berat. Saya bersyukur dengan komentar dan voting yang masuk mendukung saya, juga termasuk penilaian team mereka, blog saya pun terpilih sebagai Honorable Mention bulan Februari 2009. Predikat ini tak lebih berpengaruh selain untuk keperluan dunia blogging saja, melainkan komentar-komentar yang ditujukan oleh rekan-rekan blogger itulah yang sebenarnya membuat saya terharu. Benar-benar di luar dugaan dan telah menyentuh hati saya.

Beberapa komentar yang masuk, baik di ajang contest atau melalui email menjadi perhatian saya adalah sebagai berikut:

- 10 stars for Fida! One of my favorite friends online, with a passion to blog and write. Her published work continues to inspire me to be the best writer and blogger I can be, good luck Fida! You rock! (Mariuca, Malaysia)

- The first time I visited her blog, I like to stay there to read all about her personal blog and that time I felt I wanna be her friend. I tried to visit her blog every time if I was blogwalking. Now, we know each other although through bloggosphere world. One day I have to meet her. (Bintang, Dubai)

- My Vote is 10 stars for her!!!!
She is a great and an inspirational woman. I love to read what she wrote. They are different. She presented in her own different ways in her writing style. Never boring to read them. Good luck and success for you!!!! (BaikBear, USA)

- I just Vote 10 Stars, my dear friend. You are an extraordinary woman blogger. Salut! (Wuryanano, Surabaya)

- Madame Fida, I’ve voted for you 10 stars. I know, you are an extraordinary woman, but the most important, your writings inspired to others people. Good Luck! (Sahala, Jakarta)

- Fida’s blog is very useful, inspiring, and motivating me… really. (Edy Zaqeus, Tangerang).

Awal bulan Februari, seorang rekan blogger telah mengundang saya untuk berkontribusi di website motivasi AndaLuarBiasa.com. Dia diminta untuk mencari seorang penulis wanita yang memberikan inspirasi-inspirasi dalam tulisannya. Betapa terkejutnya saya menerima email-nya, ternyata secara diam-diam ia pun memberikan perhatian kepada tulisan-tulisan saya. Kalau pun saya telah dianggap menjadi seorang penulis inspirasional, tanpa pernah terbersit satu pun di benak dan pikiran saya, pernyataan itu merupakan anugerah yang harus diemban untuk terus berbagi melalui tulisan-tulisan saya. Menjadi berkat untuk sesama adalah yang utama bagi saya yang telah menjadikan kegiatan tulis-menulis bagian dari kehidupan saya saat ini.

Apabila Anda mengalami hal serupa, itu merupakan suatu biji yang keluar dari sebuah bunga. Biji itu harus ditumbuhkan pada lahan yang sesuai untuk dapat tumbuh dan berkembang. Hasilnya akan menjadi berkat untuk sesama, entah itu menghasilkan buah yang nikmat atau bunga yang indah.

Suatu hari suami saya pernah berkata bahwa sebagai penulis yang ingin memublikasikan buku-bukunya untuk pertama kali, jangan berharap buku itu akan jadi bestseller. Saya menjawabnya, apabila saya memublikasikan sesuatu, tujuan utama bukan untuk menghasilkan dan mengumpulkan materi, atau menjadi terkenal. Tetapi, jauh di lubuk hati, saya berharap akan banyak menarik minat pembaca yang telah terispirasi oleh tulisan-tulisan saya. Kalaupun menjadi bestseller, itu merupakan suatu anugerah dan sebuah berkat berikutnya yang patut disyukuri.

Kemarin, hari Kamis, 19 Februari 2009, saya menerima sebuah email dari seorang penulis dari salah satu international writer community, sebuah website tempat para penulis bergabung. Ia menulis:

Fida: I read your autobiography article and was impressed with your story. I live in Pennsylvania, too, at the other end of the state from you, in Indiana, PA. I have a friend at the university here, IUP, who is from Indonesia as well. He is from Jakarta.

Memang tanpa diduga artikel saya itu pernah bertahan beberapa bulan sebagai artikel top dari 68 artikel yang masuk, dan saat ini telah berbulan-bulan lamanya bertahan di peringkat kedua. Tentu saja menjadi perhatian bagi mereka yang ingin menulis pada judul yang sama.

Tanpa pikir panjang, saya langsung membalasnya mengucapkan terima kasih. Pagi ini saya mendapat email balasan darinya, memberitahukan bahwa email saya telah masuk ke junk email, dan telah terhapus. Ia meminta saya untuk mengirimkan kembali email balasan saya yang pertama. Sebelum saya membalasnya, terlebih dahulu ingin rasanya mengetahui siapa gerangan penulis tersebut melalui halaman profilnya. Betapa terkejutnya, ternyata ia adalah seorang penulis profesional, mendapat tiga bintang untuk karya-karya tulisnya, dan telah meletakkan saya sebagai penulis favoritnya, hanya seorang.[fa]

Coatesville, 20 Maret 2009

* Fida Abbott adalah Arek Suroboyo yang lahir pada 11 Pebruari 1970 di Surabaya dan sekarang tinggal di Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia mengenal dunia tulis menulis sejak usia 8 tahun hasil didikan langsung ayahndanya, Imam Sujono, dan melahirkan cerpen remaja pertamanya berjudul “Kidung Kasih untuk Lintang” pada usia 13 tahun. Menulis merupakan aktivitas lulusan Pertanian jurusan Agronomi dari UPN ‘Veteran’ Surabaya ini. Fida memiliki beberapa pengalaman kerja di bidang landscape, dari proyek kecil hingga besar, dari perumahan tunggal, real estate, hingga hotel, kondominium, apartemen berbintang lima di Surabaya. Ia pernah berkarier di AIG-Lippo, jadi guru les privat, dan kini tercatat sebagai WALMART Associate, menjadi Redaktur Pelaksana Harian Online KabarIndonesia (HOKI), www.kabarindonesia.com sekaligus Direktur Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH). Tulisan-tulisannya tersebar di beberapa media online, antara lain di KabarIndonesia, Helium, Cross-Written, The Daily Avocado, dan ketiga blog-nya di www.fidaabbott.com, www.buanainspiration.blogspot.com dan www.abbottsbooks.com. Fida adalah penulis buku What Prayers does Mommy Teach Me, Dancing in My World, dan buku seri Amerindo Kitchen. Buku seri pertama Amerindo Kitchen sudah terbit dengan judul Fabulous Leftover Turkey.


VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Penantian Membuka Kado Istimewa

faOleh: Fida Abbott*

Sudah dua hari lamanya saya belum juga membuka kado ulang tahun dari suami, sebuah kotak putih bertuliskan Gateway masih terbungkus rapi. Saya hanya membaca deskripsi produknya saja. Suami saya beberapa kali menanyakan mengapa saya belum membukanya. Apakah saya tidak merasa excited? Saya berusaha menjelaskan kepadanya, bahwa saya menginginkan waktu yang relaks dan santai pada saat membuka kado istimewa darinya, tanpa merasa terganggu dengan kesibukan-kesibukan saat berada di rumah. Saya benar-benar ingin menikmati pada saat membukanya nanti, tanpa ada perasaan khawatir dan tergesa-gesa untuk melakukan tugas rutinitas lainnya. Suami saya pun memahaminya.

Meskipun hari Minggu dan hari Senin adalah hari libur bagi saya, tetapi pada hari Minggu tanggal 15 Pebruari 2009 kemarin saya benar-benar sibuk mempersiapkan makan malam untuk memperingati hari ulang tahun saya, yang mana beberapa anggota keluarga lainnya akan hadir. Kali ini saya menginginkan sesuatu yang berbeda. Nasi tumpeng merupakan pilihan saya sekaligus merupakan bagian dari proyek yang sedang saya kerjakan. Persiapan tentunya telah saya lakukan beberapa hari sebelumnya, dari berbelanja dan menyiapkan bahan-bahan lainnya.

Soal belanja, saya tak mengkhawatirkannya, karena sepulang kerja, saya langsung dapat melakukannya di tempat di mana saya bekerja karena Walmart tidak kalah lengkapnya dengan Acme, Giant, atau supermarket besar khusus grocery lainnya di USA ini. Walaupun, kalau boleh dibilang memang masih kalah lengkap dengan mereka, tetapi lumayanlah paling tidak hampir seluruh kebutuhan sehari-hari tersedia di sana. Maklum, WALMART memang perusahaan retail terbesar, terlengkap, dan termurah di dunia. Jadi, beruntunglah saya menjadi bagian dari keluarga mereka. Selain dapat menikmati beraneka macam discount sebagai salah seorang associate di sana, saya pun dengan mudah dan berhemat waktu dalam berbelanja.

Hari Sabtu malam sepulang kerja, saya mulai memasak beberapa menu yang siap disimpan di lemari es, sebelum esok harinya akan dihidangkan. Kira-kira waktu akan segera menunjukkan pukul 1 dini hari, saya baru menyelesaikannya. Hari Minggu sekitar pukul 5 dini hari, saya luangkan waktu khusus untuk online sebentar menyelesaikan beberapa tugas yang kebetulan Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH) angkatan pertama akan dimulai hari Senin, tanggal 16 Februari, dua minggu yang lalu. Oleh karena tertidur hanya sekitar empat jam, maka rasa mengantuk pun tak terelakkan rasanya. Akhirnya, saya pun tertidur meskipun tak beberapa lama suami membangunkan saya dengan sebuah kado kejutannya.

Sepulang dari gereja, setelah beristirahat sebentar sesudah makan siang, saya putuskan memulai memasak kembali meskipun diselipi oleh beberapa puluhan menit ber-online ria menunaikan tugas harian sebagai Redaktur Pelaksana di HOKI (Harian Online KabarIndonesia). Memasak aneka hidangan pelengkap tumpeng memang tidaklah mudah, karena harus dilengkapi dengan bermacam-macam lauk-pauk dan aneka sayuran. Namun, saya tetap menikmatinya karena memang sudah sekitar dua tahun lamanya terakhir kali saya membuat tumpeng untuk presentasi suami sebagai salah satu mata pelajaran kuliahnya waktu itu.

Kali ini programnya pun berbeda, selain untuk makan malam memperingati hari ulang tahun saya sendiri, juga sebagai ajang project penulisan buku berseri saya. Sekali menyelam minum air, begitu kira-kira statement yang tepat untuk disebutkan. Maka tak ayal lagi, digital camera Fuji Film model FinePix A805 dengan 8.3 mega pixels, sebuah hadiah Mothers Day dari suami saya setahun lalu, buku tulis, dan pelengkap lainnya khusus saya sediakan untuk pengambilan foto-foto yang saya bidik sendiri.

Benar-benar melelahkan, tetapi saya benar-benar mengerjakannya secara maksimal dan hasilnya pun tak mengecewakan. Seluruh anggota keluarga terkagum-kagum dengan hasil 100 persen buatan saya tanpa dibantu siapa pun juga. Rasanya pun nikmat, dan pujian pun beruntun saya terima. Lega dan senang rasanya meskipun seluruh tubuh sudah mulai merasakan tanda-tanda KO.

Hari Senin berikutnya merupakan hari bebas untuk saya setelah seharian kemarin tenaga saya terkuras habis untuk membuat tumpeng. Sisa makanan masih cukup untuk sehari penuh sehingga saya tak perlu lagi memasak yang lain. Namun begitu, saya masih belum juga membuka kado tersebut. Aktivitas-aktivitas harian masih pada kegiatan-kegiatan lainnya yang membutuhkan konsentrasi saya, dari mempersiapakan si kecil berangkat sekolah, mengantar jemput, tugas online, laundry, dan sebagainya.

Hari Selasa pun tiba. Di saat saya merasa tak dikejar-kejar oleh waktu karena si kecil tak akan berangkat sekolah karena jadwal sekolahnya di Pre-K hanya tiga hari dalam seminggu, yaitu hari Senin, Rabu, dan Jumat, maka waktu tersebut benar-benar tak akan menyibukkan saya, kecuali untuk persiapan berangkat kerja di siang hari setelah makan siang tiba.

Melihat suami saya masih tertidur di sofa karena tugas kerja malam hari di rumah sakit, si kecil sedang asyik bermain games online di lantai atas, pagi itu saya putuskan untuk membuka kado istimewa tersebut. Dengan pelan-pelan saya membukanya untuk menghindari tak terbenturnya notebook tersebut. Warna biru navy gelap mewarnai thema notebook itu. Jujur, saya bukan peminat warna biru, tetapi warna tersebut benar-benar elegan, membuat hati saya mulai jatuh cinta. Inginnya sih kalau memilih, pasti akan saya pilih warna feminine, seperti merah, hijau pupus, atau ungu. Tetapi, saya yakin pilihan warna tersebut juga tidak jauh dari pengaruh warna kesukaan suami yang tentunya tidaklah feminine. Untunglah dia memilih warna biru navy gelap, yang ternyata dapat meluluhkan hati saya.

Satu per satu instruksi saya baca hingga selesai. Nyaman rasanya menikmati sesuatu yang special tanpa diganggu oleh siapa pun. Seperti yang pernah saya katakan kepadanya bahwa saya benar-benar membutuhkan waktu rileks atau santai pada saat membukan kado istimewa darinya.

Beranjak saya charge notebook itu. Tertulis perintah paling tidak diperlukan lima jam untuk awal pengisian. Sudah tak tahan lagi kira-kira bagaimana perasaan suami saat mengetahui saya telah membuka kado istimewa darinya, apalagi berselancar setelah waktu charging usai, karena saya mengetahui computer adalah salah satu hobi suami saya. Pasti dia pun tak tahan untuk melakukan cek darn ricek notebook baru pemberiannya.[fa]

Coatesville, 1 Maret 2009

* Fida Abbott adalah Arek Suroboyo yang lahir pada 11 Pebruari 1970 di Surabaya dan sekarang tinggal di Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia mengenal dunia tulis menulis sejak usia 8 tahun hasil didikan langsung ayahndanya, Imam Sujono, dan melahirkan cerpen remaja pertamanya berjudul “Kidung Kasih untuk Lintang” pada usia 13 tahun. Menulis merupakan aktivitas lulusan Pertanian jurusan Agronomi dari UPN ‘Veteran’ Surabaya ini. Fida memiliki beberapa pengalaman kerja di bidang landscape, dari proyek kecil hingga besar, dari perumahan tunggal, real estate, hingga hotel, kondominium, apartemen berbintang lima di Surabaya. Ia pernah berkarier di AIG-Lippo, jadi guru les privat, dan kini tercatat sebagai WALMART Associate, menjadi Redaktur Pelaksana Harian Online KabarIndonesia (HOKI), www.kabarindonesia.com sekaligus Direktur Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH). Tulisan-tulisannya tersebar di beberapa media online, antara lain di KabarIndonesia, Helium, Cross-Written, The Daily Avocado, dan ketiga blog-nya di www.fidaabbott.blogspot.com, www.buanainspiration.blogspot.com dan www.abbottsbooks.blogspot.com. Fida adalah penulis buku What Prayers does Mommy Teach Me dan Dancing in My World.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Renungan di Balik Memperingati Hari Ulang Tahun

fa

Oleh: Fida Abbott*

Setiap tahun tentunya kita selalu memperingati hari ulang tahun. Bagi mereka, siapa pun yang sedang memperingati ulang tahun, lagu-lagu “Happy Birthday to You” atau “Panjang Umurnya” tak akan terlewat begitu saja sebelum meniup lilin-lilin yang berdiri tegak di atas cake.

Seminggu yang lalu, beberapa hari sebelum ulang tahun saya tiba, pesan utama yang saya utarakan kepada sang suami adalah agar ia tak perlu repot-repot membeli hadiah spesial untuk saya. Meskipun saya mengetahui, bahwa sebenarnya usaha saya itu pun akan sia-sia belaka. Apa pun alasan saya, saya yakin ia pun masih akan tetap memberikan sebuah hadiah ulang tahun kepada saya.

Setiap menjelang ulang tahun tiba, saya selalu merenungkan sejenak bagaimana saat saya lahir ke dunia ini. Dari beberapa cerita yang saya dengar, baik dari Bapak dan keluarga dari pihak Ibu saya mengatakan, bahwa saya terlahir dengan ukuran bayi yang sangat kecil, yaitu hanya seberat 2,2 kg. Bayangkan! Saat itu, menurut cerita mereka, Indonesia masih belum memiliki alat pembantu khusus (inkubator) untuk bayi-bayi yang lahir dengan ukuran kecil. Sehingga, mereka hanya melakukan blonyohan (mengolesi) minyak di sekujur tubuh saya dalam beberapa bulan dari awal kelahiran saya. Katanya sih sebagai pengganti proses tersebut. Tidak tahu apakah itu benar bila dipandang dari segi medical, tetapi nyatanya, saya berhasil tumbuh dan berkembang dengan sangat baik hingga dewasa. Dan, saya pun telah dikarunia seorang putri, buah cinta dari perkawinan saya dengan seseorang berwarga negara Amerika.

Saya kembali merenung, bagaimana keadaan saya waktu itu. Mereka bercerita, kalau mereka tidak tega saat melihat saya sewaktu bayi. Ukuran baju yang telah mereka sediakan pun tampak kebesaran di badan saya waktu itu. Sekarang setelah usia hampir berkepala empat, tubuh saya pun masih terlihat mungil. Seorang dokter di AS pernah mengatakan, bahwa saya adalah seorang pasiennya yang terkecil yang pernah ditanganinya selama bertahun-tahun. Dia pun bersyukur bahwa ternyata saya melahirkan dengan C-section (operasi cesar) karena posisi diagonal si jabang bayi, yang mana kondisi kepala di sebelah kanan atas dan kaki di sebelah kiri bawah. Seharusnya, posisi kepala berada di bagian bawah dan kaki di bagian atas. Kalau tidak melalui C-section, ia merasa khawatir, saya akan menemukan kesulitan dalam proses melahirkan bayi saya. Karena, dia yakin persentase tinggi si bayi ini pasti berukuran tidak kecil, mengingat suami saya memiliki postur tubuh sebagaimana orang-orang AS, tinggi dan besar.

Renungan terakhir menjelang ulang tahun saya adalah semakin bertambah usia, maka semakin berkuranglah usia saya untuk hidup di dunia ini. Mengingat semua itu, kembali saya terpanggil untuk mengingat apa hal yang baik atau terbaik dan berguna atau bermanfaat yang telah saya berikan atau bagikan kepada sesama, terutama linkup terkecil dan utama/pertama, yaitu keluarga sendiri. Itu semua tentu mengarah kepada eksistensi kita sebagai manusia, apakah berguna bagi sesama kita.

Saya merenungkan kembali malam itu. Ternyata, saya akui bahwa selama kita hidup di dunia, kita akan selalu dikenang oleh sesama. Baik itu oleh keluarga, sanak famili, para sahabat, rekan-rekan sejawat, dan lain-lain, apakah kita telah melakukan hal-hal yang baik ataupun sebaliknya. Apabila kita telah terlabel, bahwa kita banyak melakukan hal-hal yang baik, maka kita akan dikenang jasa-jasa baik kita. Misalnya, sebagai seorang penulis pemberi inspirasi; seorang dokter yang murah hati dan tidak berorientasi terhadap apa yang diterimanya saja; seorang guru yang tidak menjual keprofesioanalannya demi mendapatkan tambahan income, dan sejenisnya.

Sebaliknya, apabila kita sering melakukan hal-hal yang tidak baik, misalnya terkenal sebagai pencuri, perampok, salah satu koruptor negara, dan sejenisnya, maka kita pun akan dikenang dengan label tersebut. Manakah yang Anda pilih? Anda dikenang dengan jasa-jasa baik ataukah dikenang oleh karena telah melakukan hal-hal yang tidak berkenan? Saya yakin Anda akan memilih pilihan yang pertama, yaitu sebagai seseorang yang dikenang oleh karena jasa-jasa baik yang telah dilakukan.

Malam itu pun pikiran saya teringat akan keluarga di Indonesia. Merayakan ulang tahun bukanlah hal yang biasa dilakukan oleh keluarga saya. Biasa-biasa saja, hampir tak ada tanda untuk hari spesial itu bagi masing-masing anggota keluarga, selain ucapan selamat. Paling tidak, saya ditodong oleh rekan-rekan di tempat kerja atau teman-teman dekat untuk memberi traktiran. Terkadang ada juga yang memberi sebuah kado atau selembar kartu ucapan, atau sebuah ucapan saja, itu semua saya hargai, karena merupakan suatu bentuk perhatian khusus yang mereka berikan kepada saya secara pribadi.

Setelah perkawinan saya di AS, ternyata perayaan ulang tahun telah menjadi tradisi di pihak keluarga suami saya. Meskipun hanya berupa sebuah cake, dan sebuah hadiah, setiap ulang tahun dari masing–masing anggota keluarga tiba, pasti akan dirayakan walaupun hanya dihadiri oleh anggota keluarga sendiri. Jadi, saya merasa usaha untuk meminta suami saya agar tidak memberikan saya sebuah hadiah, pasti akan sia-sia belaka. Dia akan mencari tahu sendiri kira-kira benda apa yang sedang saya butuhkan saat ini, sehingga ia akan membelikannya sebagai kado ulang tahun.

Waktu telah menunjukkan pukul 11.30 malam waktu di tempat saya. Mata saya masih tetap kuat bertahan, namun tubuh saya sudah mulai tampak lelah. Karena itu, rasanya ingin rebah saja di atas tempat tidur. Menjelang menit-menit ulang tahun saya tiba, saya berdoa dalam hati, kiranya saya hadir ke dunia boleh menjadi berkat untuk sesama, baik itu untuk keluarga sendiri, para sahabat, rekan-rekan sejawat dan sekerja, offline maupun online, baik itu melalui tingkah laku/sikap, perkataan, pikiran, maupun tulisan-tulisan saya.

Akhirnya, saya pun terlelap. Saat bangun di pagi hari, tiga buah mawar merah dan sebuah kartu menyambut pagi indah saya. Ternyata ada satu lembar uang cash di dalam kartu. Suami saya berkata, “Buy a very nice thing for yourself!” Malam itu juga saya membeli sebuah baju yang sederhana, tetapi tampak indah dan semampai di tubuh saya. Suami dan si kecil pun menyukainya. Senang rasanya saya dapat menuruti permintaannya. Saya berpesan lagi kepadanya, agar tidak ada lagi hadiah untuk saya pada hari Minggu (15 Februari 2009), yang mana suami punya rencana untuk merayakan ulang tahun saya yang akan dihadiri oleh anggota-anggota keluarga lainnya.

Sekali lagi pesan saya tidak mempan juga. Hari Minggu pagi sebelum saya berangkat ke gereja, di atas tempat tidurdengan mata yang masih berat untuk dibukasuami saya menghampiri dan membangunkan saya sambil memberi sebuah bungkusan. Dia berkata, “Happy Birthday! One Birthday present for you.” Saya pun terjaga dan terbangun. “Gateway” adalah sebuah tulisan pertama dalam pembungkus kotak tersebut yang saya baca. Oh my God! begitu saya berucap dalam hati saya. Sebuah notebook yang telah saya incar selama ini dan saya sudah siap untuk membelinya dengan uang hasil jerih payah sendiri, ternyata kini sudah berada di depan mata saya. Kemudian saya bangkit dan menghampirinya, memeluknya dan mengucapkan terima kasih.

Ternyata dia memang mengetahuinya, bahwa saat ini saya sedang memerlukan sebuah notebook, agar saya dapat menemani si kecil ke mana-mana tanpa meninggalkan jadwal online saya yang kian padat.

Semua hal-hal tersebut yang telah saya ceritakan di atas mengekspresikan, bahwa ulang tahun merupakan hari yang spesial bagi kita masing-masing untuk merenungkan arti hidup kita, yang semakin hari semakin bertambah tua. Apa yang telah kita perbuat untuk sesama dan keluarga, negara Tanah Air kita? Menerima dan menikmati berkat dari mereka yang menyayangi/mencintai kita melalui apa-apa yang telah diterima. Dapatkah kita memanfaatkannya untuk berbagi kepada sesama? Kadangkala kita melupakan hal ini karena umumnya yang kita ingat hanya bagaimana kita akan merayakan ulang tahun kita, masakan/menu apa yang akan kita hidangkan untuk perayaan ulang tahun tersebut, siapa-siapa saja tamu yang akan diundang, dirayakan di mana; di restaurant sederhana atau di hotel berbintang lima, dan sebagainya.

Saat akan mengakhiri tulisan ini, sebuah kartu ulang tahun dari sang suami masih tergeletak di samping saya. Memang, saya sangat menyukai bait-bait puisi yang tertera di dalamnya. Dua buah kalimat paling akhir tertera demikian:

You bring so much joy to my life

just by being the beautiful,

caring person you are.

I’m very lucky man to have you

For my wife

HAPPY BIRTHDAY

***

Coatesville-PA, 17 Pebruari 2009[fa]

* Fida Abbott adalah Arek Suroboyo yang lahir pada 11 Pebruari 1970 di Surabaya dan sekarang tinggal di Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia mengenal dunia tulis menulis sejak usia 8 tahun hasil didikan langsung ayahndanya, Imam Sujono, dan melahirkan cerpen remaja pertamanya berjudul “Kidung Kasih untuk Lintang” pada usia 13 tahun. Menulis merupakan aktivitas lulusan Pertanian jurusan Agronomi dari UPN ‘Veteran’ Surabaya ini. Fida memiliki beberapa pengalaman kerja di bidang landscape, dari proyek kecil hingga besar, dari perumahan tunggal, real estate, hingga hotel, kondominium, apartemen berbintang lima di Surabaya. Ia pernah berkarier di AIG-Lippo, jadi guru les privat, dan kini tercatat sebagai WALMART Associate, menjadi Redaktur Pelaksana Harian Online KabarIndonesia (HOKI), www.kabarindonesia.com sekaligus Direktur Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH). Tulisan-tulisannya tersebar di beberapa media online, antara lain di KabarIndonesia, Helium, Cross-Written, The Daily Avocado, dan ketiga blog-nya di www.fidaabbott.blogspot.com, www.buanainspiration.blogspot.com dan www.abbottsbooks.blogspot.com. Fida adalah penulis buku What Prayers does Mommy Teach Me dan Dancing in My World. Ia dapat dihubungi melalui email: …

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.3/10 (21 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +9 (from 9 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox