All about Pemboti
Editor | Kolom Lepas | July 21st, 2009 | No Comments »
Oleh: Fatma Kartika Sari*
Sejak kecil saya dibiasakan ibu saya menyebut orang yang membantu di rumah kami dengan sebutan mbak, teteh, atau bibi ketimbang dengan kata pembantu. Sekali saja kata pembantu terlontar dari bibir, sekali cubitan langsung mampir di pinggang. Baru-baru ini beberapa teman mengeluhkan kelakuan para pengasuh anak mereka yang sekaligus membantu pekerjaan rumah. Ada-ada saja keluhannya, luapan kekesalan, dan amarah yang keluar tentang kelakuan para pemboti (istilah gaul untuk kata pembantu: red).
Misalnya, keluhan pemboti mereka lebih yang sering mengutak-atik handphone-nya ketimbang menyelesaikan pekerjaan rumah seperti menyuapi anak, mencuci, dan menyeterika pakaian. Ada lagi yang mengeluhkan kelakuan pembantu yang sering keluar bersama pacarnya.
“Sekarang enggak hanya pembokat (istilah gaul lain untuk pembantu: red) yang muda saja yang genit! Pembokat gue saja yang janda, umurnya sudah empat puluh tahun lebih, sering banget ditelepon cowok dan kerjaannya SMS terus!!!” gerutu salah seorang teman.
Entah apakah zaman memang sudah berubah atau memang manusianya yang lebih mudah untuk berubah. Dulu, mungkin hanya orang-orang kaya saja yang mampu menggaji seorang pembantu untuk bekerja di rumahnya. Karena, tugas dan peranan seorang ibu benar-benar hanya untuk mengasuh, mendidik, dan membesarkan anak-anak. Sekarang, karena tuntutan hidup yang tinggi, permasalahan gender, dan alasan lainnya semakin banyak ibu yang membutuhkan jasa para pembantu rumah tangga untuk menggantikan separuh bahkan seluruh tugas rumah tangganya.
Lain lagi cerita mereka sisi para pemboti yang sering saya dengar. Mereka juga mengeluhkan sifat dan kelakuan para majikannya. Ada yang bilang majikan mereka pelit, cerewet, galak, dan umpatan-umpatan lainnya. “Mimin”, salah seorang pembantu tetangga saya sering mengeluhkan kepada saya tentang kelakuan “Ita” majikannya yang dianggapnya keterlaluan.
“Kalau ada makanan lebih, nyonya lebih memilih makanan itu basi ketimbang dikasih saya. Merek mi instan yang nyonya makan sama saya enggak boleh sama, saya harus mi yang murahan!” ujar Mimin sambil mengelus dada.
Terlepas dari itu semua, saya merenungi mengapa saya dan beberapa teman masih belum mampu menghargai betapa kita membutuhkan sekali jasa mereka. Masih banyak kekurangan dalam diri kita dalam memperlakukan mereka. Banyak dari kita yang masih belum bisa memberikan pembantu pakaian yang layak dan memberi mereka makanan seperti apa yang kita makan. Dan, kita justru lebih suka memberikan pekerjaan yang berat, bahkan kadang-kadang tak seimbang dengan gaji yang kita berikan pada mereka. Maka, tak heran kalau mereka tidak bertahan lama bekerja dengan kita dengan segudang alasan agar bisa berhenti.
Banyak dari mereka para pemboti ini kemudian lebih memilih bekerja di pabrik atau menjadi tenaga kerja di luar negeri daripada bertahan bekerja di negeri dan bangsanya sendiri. Mereka berharap meskipun pekerjaan mereka lebih berat—bahkan dalam banyak kasus harus kena siksa dan diperlakukan tidak adil di sana—mereka tetap bertahan karena harapan gaji lebih besar daripada yang mereka terima di Tanah Air. Seandainya kita dapat saling menghargai, mungkin para pemboti itu akan tetap memilih bekerja dan mengabdikan tenaganya untuk kita. Mereka akan membantu kita dalam mengasuh anak- anak ketika kita sedang keluar rumah dan mau mengerjakan tugas-tugas dengan baik.[fks]
* Fatma Kartika Sari lahir di Jakarta pada 14 juni 1980. Sehari-hari ia adalah seorang wiraswasta di bidang travel haji, umroh, dan katering. Fatma dapat dihubungi melalui pos-el: fatma45_ibrahim[at]yahoo[dot]com.
Oleh:
Oleh: Fatma Kartika Sari*
