All about Pemboti

fks1Oleh: Fatma Kartika Sari*

Sejak kecil saya dibiasakan ibu saya menyebut orang yang membantu di rumah kami dengan sebutan mbak, teteh, atau bibi ketimbang dengan kata pembantu. Sekali saja kata pembantu terlontar dari bibir, sekali cubitan langsung mampir di pinggang. Baru-baru ini beberapa teman mengeluhkan kelakuan para pengasuh anak mereka yang sekaligus membantu pekerjaan rumah. Ada-ada saja keluhannya, luapan kekesalan, dan amarah yang keluar tentang kelakuan para pemboti (istilah gaul untuk kata pembantu: red).

Misalnya, keluhan pemboti mereka lebih yang sering mengutak-atik handphone-nya ketimbang menyelesaikan pekerjaan rumah seperti menyuapi anak, mencuci, dan menyeterika pakaian. Ada lagi yang mengeluhkan kelakuan pembantu yang sering keluar bersama pacarnya.

“Sekarang enggak hanya pembokat (istilah gaul lain untuk pembantu: red) yang muda saja yang genit! Pembokat gue saja yang janda, umurnya sudah empat puluh tahun lebih, sering banget ditelepon cowok dan kerjaannya SMS terus!!!” gerutu salah seorang teman.

Entah apakah zaman memang sudah berubah atau memang manusianya yang lebih mudah untuk berubah. Dulu, mungkin hanya orang-orang kaya saja yang mampu menggaji seorang pembantu untuk bekerja di rumahnya. Karena, tugas dan peranan seorang ibu benar-benar hanya untuk mengasuh, mendidik, dan membesarkan anak-anak. Sekarang, karena tuntutan hidup yang tinggi, permasalahan gender, dan alasan lainnya semakin banyak ibu yang membutuhkan jasa para pembantu rumah tangga untuk menggantikan separuh bahkan seluruh tugas rumah tangganya.

Lain lagi cerita mereka sisi para pemboti yang sering saya dengar. Mereka juga mengeluhkan sifat dan kelakuan para majikannya. Ada yang bilang majikan mereka pelit, cerewet, galak, dan umpatan-umpatan lainnya. Mimin”, salah seorang pembantu tetangga saya sering mengeluhkan kepada saya tentang kelakuan “Ita” majikannya yang dianggapnya keterlaluan.

“Kalau ada makanan lebih, nyonya lebih memilih makanan itu basi ketimbang dikasih saya. Merek mi instan yang nyonya makan sama saya enggak boleh sama, saya harus mi yang murahan! ujar Mimin sambil mengelus dada.

Terlepas dari itu semua, saya merenungi mengapa saya dan beberapa teman masih belum mampu menghargai betapa kita membutuhkan sekali jasa mereka. Masih banyak kekurangan dalam diri kita dalam memperlakukan mereka. Banyak dari kita yang masih belum bisa memberikan pembantu pakaian yang layak dan memberi mereka makanan seperti apa yang kita makan. Dan, kita justru lebih suka memberikan pekerjaan yang berat, bahkan kadang-kadang tak seimbang dengan gaji yang kita berikan pada mereka. Maka, tak heran kalau mereka tidak bertahan lama bekerja dengan kita dengan segudang alasan agar bisa berhenti.

Banyak dari mereka para pemboti ini kemudian lebih memilih bekerja di pabrik atau menjadi tenaga kerja di luar negeri daripada bertahan bekerja di negeri dan bangsanya sendiri. Mereka berharap meskipun pekerjaan mereka lebih beratbahkan dalam banyak kasus harus kena siksa dan diperlakukan tidak adil di sanamereka tetap bertahan karena harapan gaji lebih besar daripada yang mereka terima di Tanah Air. Seandainya kita dapat saling menghargai, mungkin para pemboti itu akan tetap memilih bekerja dan mengabdikan tenaganya untuk kita. Mereka akan membantu kita dalam mengasuh anak- anak ketika kita sedang keluar rumah dan mau mengerjakan tugas-tugas dengan baik.[fks]

* Fatma Kartika Sari lahir di Jakarta pada 14 juni 1980. Sehari-hari ia adalah seorang wiraswasta di bidang travel haji, umroh, dan katering. Fatma dapat dihubungi melalui pos-el: fatma45_ibrahim[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Terjebak Background

fksOleh: Fatma Kartika Sari*

Sering kali kita harus berhadapan dengan kondisi yang sebenarnya tidak kita inginkan, tetapi kita tetap harus melakukan sesuatu. Dengan rasa terpaksa seseorang harus menutupi kekurangannya agar tak terlihat oleh orang lain. Berpura-pura bahagia dengan senyumannya, padahal seharusnya ia menangis karena kondisi sesungguhnya. Ada lagi seseorang yang layaknya seperti orang yang tak memiliki masalah. Ia terpaksa begitu karena berusaha mengimbangi orang-orang di sekitarnya yang selama ini menganggapnya sebagai orang kaya. Beban itu harus ditanggung hanya karena rasa takutnya akan ejekan yang mendera. Ia tidak ingin malu di hadapan orang lain sehingga akhirnya malah terkungkung oleh situasi yang seharusnya tidak dilakukan. Orang itu terjebak oleh keadaan.

Banyak contoh yang membuat orang harus terjebak oleh situasi seperti itu. Ada sepasang suami istri yang dikenal berasal dan berlatar belakang dari keluarga kaya. Keluarga sang suami sungguh senang karena menantu mereka bukan orang susah sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk kelangsungan rumah tangga anak mereka. Begitu pula dengan keluarga sang istri, merasa tak kalah senang karena anak perempuannya tidak akan merasa kekurangan, karena memiliki mertua yang kaya.

Ternyata ekonomi rumah tangga suami istri itu tak selamanya berjalan mulus. Beberapa kali mereka harus mendapatkan permasalahan ekonomi. Mereka pun berharap orang tua dapat membantu kesulitan yang sedang mereka alami. Tetapi, kedua belah pihak keluarga mereka sama-sama saling mengandalkan. Akhirnya, pasangan suami istri itu bingung harus meminta pertolongan kepada siapa. Si suami malu hati kalau orang tua si istri menganggap dirinya tak becus mengurus keluarga. Apalagi mertuanya berkecukupan. Sedangkan kalau meminta bantuan pada orang tuanya sendiri, ia juga tak kalah malu kalau-kalau nanti dikira bahwa orang tua si istri sedang jatuh miskin. Sebuah dilema karena mereka terjebak oleh background keluarga masing-masing. Sehingga pada saat mereka terjatuh, mereka tak memiliki nyali untuk membuka keadaan yang sesungguhnya.

Contoh lain, karena ingin berbakti dan membahagiakan orang tua, seorang anak akhirnya membantu usaha orang tuanya yang sedang berjalan. Meskipun dalam hati mereka sebenarnya tidak tertarik dengan pekerjaan itu ataupun ingin usaha dan bekerja di bidang lainnya. Mungkin, kita bisa melihat beberapa orang yang sukses dengan pekerjaan mereka, meskipun itu warisan usaha orang tuanya. Akan tetapi, bisa kita temui ada beberapa orang yang harus jatuh bangun karena memang tidak memiliki keahlian di bidang itu. Dan akhirnya, mereka terjebak oleh kondisi yang tidak mendukung semacam itu. Mereka harus berpura-pura menyenangi pekerjaan dan terpaksa menunjukkan wajah penuh bangga karena tidak perlu susah lagi mencari pekerjaan.

Mungkin hanya beberapa orang saja yang pernah mengalami kejadian seperti contoh-contoh di atas tadi. Ya, masih banyak contoh lain yang saya tidak ketahui namun orang lain pernah merasakannya. Yang saya tahu sungguh tidak mengenakkan berada dalam posisi tersebut. Kita tidak leluasa mengekspresikan apa yang kita rasa. Menutupi permasalahan mungkin sah-sah saja selama masih dalam batas tertentu. Tetapi, akan lebih baik bila permasalahan itu dapat diselesaikan bersama orang-orang terdekat kita, tanpa rasa canggung atau malu hati. Intinya, jangan sampai latar belakang dan keadaan malah menyusahkan langkah kita menuju hari-hari yang lebih baik lagi.[fks]

* Fatma Kartika Sari lahir di Jakarta pada 14 juni 1980. Sehari-hari ia adalah seorang wiraswasta di bidang travel haji, umroh, dan katering. Fatma dapat dihubungi melalui pos-el: fatma45_ibrahim[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Frenemy

fksOleh: Fatma Kartika Sari*

Pernah enggak merasakan teman yang awalnya sangat baik dan dekat dengan kita, tiba-tiba dia berubah menjadi musuh dan menusuk kita dari belakang? Banyak orang yang sudah mengalaminya, bilang sama saya, kalau hal itu membuat sakit hati banget! Enggak percaya, orang yang mulanya kita percaya dan yakini bahwa dia baik-baik saja, ternyata tega melakukan hal yang menyakitkan, baik di sengaja ataupun tidak.

Ada seorang teman yang pernah cerita pada saya. Sahabat teman saya ini tega main hati dengan cowoknya ketika ia sedang kuliah di luar negeri. Lu bayangin, dong Fat Gimana perasaan gue lihat cowok yang gue sayang direbut sama sahabat gue sendiri!” cerita teman saya sambil berurai air mata dan napas yang tidak beraturan karena rasa sesak di dadanya. Sementara, saya masih memutar otak membayangkan perasaannya yang tersakiti oleh perbuatan sahabatnya. Hhmm… membayangkan saja rasanya sakit, bagaimana kalau merasakannya, ya? Pasti sumpah serapah sudah dikeluarkan dari hati teman saya itu, gara-gara sakit hatinya.

Sejak saat itu, dia tidak pernah mau bertemu mantan sahabatnya maupun mantan kekasihnya, sampai sekarang. Begitu mengetahui kalau ternyata hubungan mantan sahabat dan kekasihnya itu akhirnya putus juga, teman saya itu bercerita lagi kepada saya. Syukurin deh, akhirnya putus juga tuh hubungan mereka!” Dan, setelah putus dari mantan sahabatnya, kekasih teman saya itu langsung memutuskan menikahi wanita lain.

Ada seorang teman saya yang lain juga bercerita tentang perbuatan temannya yang menjelek-jelekan dirinya kepada orang lain. Semua aib saya dibongkar sama dia, Fat! Kurang ajar banget!” Kelihatan sekali, teman saya yang masih keturunan keraton ini ingin melampiaskan kemarahannya. Tetapi, akhirnya ia mampu menguasai diri dan mengendalikan kemarahannya itu.

Namun, suatu hari teman saya ini menemui saya dengan wajah yang sumringah. “Habis dapat arisan, Bu?goda saya ketika itu. Ternyata, dugaan saya salah. Teman saya bilang, kalau orang yang dulu pernah menjelek-jelekannya itu mendapat musibah yang memalukan.

Tuhan tuh tidak pernah tidur Fat! Saya lega banget, sekaligus bahagia akhirnya dia merasakan juga apa yang saya rasakan dulu, malah lebih memalukan!” ujar teman saya sembari senyum berganti derai tawa. Sedangkan saya masih bingung mengartikan ucapannya, bahwa Tuhan tidak pernah tidur.

Ya, iyalah… Kalau Tuhan tidur, apa jadinya dunia!?

Terlepas dari permasalahan teman-teman saya itu, saya pun pernahbahkan cenderung seringmerasakan hal serupa dengan mereka. Saya selalu merasa bahagia jika mendengar kabar buruk dari orang yang tidak saya sukai. Meskipun, saya tidak sampai hati untuk mendendam. Saya tahu dan sadar, itu bukan perbuatan yang baik. Tetapi, saya sering tidak bisa mengelak dari perasaan-perasaan saya itu, yang mana banyak orang berkata, bahwa perasaan itu adalah hal yang manusiawi.

Hmm… aneh juga ya, kalau dipikir-pikir kenapa banyak manusiayang seperti saya khususnya—tidak mampu sekadar tersenyum atas keberhasilan dan kebahagiaan seseorang yang tidak saya sukai? Tetapi, kenapa saya bisa terbahak-bahak ketika orang itu mengalami cobaan dan musibah? Padahal, sudah berapa ustaz yang pernah saya dengar tausyiah-nya yang membahas tentang hati? Begitu banyak buku yang telah saya baca tentang kisah Nabi Muhammad SAW yang begitu sabar dan bersikap baik terhadap orang-orang yang tidak menyukai beliau.

Pada akhirnya, hikmah yang dapat kita petik dari pengalaman-pengalaman ini, bahwa tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri dan hati. Semoga saja sayadan makhluk-makhluk seperti saya khususnya hehehe—mampu menyingkirkan perasaan-perasaan jelek yang mengintai. Tak ada lagi istilah teman menjadi musuh. Kalau memang mereka ada kesalahan, belajarlah untuk cepat memaafkan dan tak mendendam.

Dan, hal yang paling sulit tetapi ingin saya wujudkan adalah menjadikan musuh-musuh sayamaksudnya orang-orang yang memusuhi saya—sebagai teman dan sahabat saya. Dunia pasti indah hehehe…[fks]

* Fatma Kartika Sari lahir di Jakarta pada 14 juni 1980. Sehari-hari ia adalah seorang wiraswasta di bidang travel haji, umroh, dan katering. Fatma dapat dihubungi melalui pos-el: fatma45_ibrahim[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox