Personal Leadership, Nasib, dan Kenyamanan Hidup

ekOleh: Eni Kusuma*

Ada sebagian orang yang karena terlalu malas, cepat menyerahkan urusannya kepada nasib atau kepada Tuhan. Mereka tinggal memohon saja tanpa usaha apa pun dari pihak mereka. Seakan nasib sudah tertulis dalam buku sejarah mereka, tanpa campur tangan karakter, sikap, dan tindakan-tindakan sendiri.

Sebagian lagi percaya bahwa nasib ada di tangan mereka sendiri. Nasib mereka ada di bawah kendali mereka. Mereka menciptakan nasib yang mereka kehendaki berdasarkan atas pilihan-pilihan sikap dan tindakan-tindakannya. Seakan-akan itu dilakukannya tanpa campur tangan Allah. Karena itu, mereka hanya mengambil ayat-ayat yang pro terhadap usaha manusia, dan meremehkan atau membiarkan ayat-ayat yang dianggap fatalis untuk orang-orang yang mau memeluknya.

Golongan yang pertama adalah orang-orang yang malas dan mau enaknya sendiri. Jika nasib mereka jelek, mereka serta merta menganggap kehendak Allah “semena-mena” terhadap mereka. Sehingga, mereka mudah menyalahkan dan berburuk sangka kepada Allah.

Golongan kedua adalah orang-orang yang terlalu membanggakan diri. Menganggap nasib mereka yang baik, adalah mutlak karena usahanya, yaitu karena karakter, sikap, dan tindakan-tindakannya, yang mereka sebut dengan personal leadership. Jadi, tidak ada campur tangan Tuhan di sini.

Jika golongan pertama dan kedua dipertemukan, tentu kita tahu bahwa debat di antara mereka tidak pernah bisa didamaikan. Yang satu memeluk takdir, dan yang satunya lagi memeluk kebebasan kehendak. Benarkah dalam filsafat ketuhanan, tak ada penjelasan yang cukup memuaskan untuk memahami dilema antara Kemahatahuan dan Kemahaadilan Tuhan? Kebebasan manusia dan Kemahakuasaan Tuhan? Kemahacintaan Tuhan dan misteri penderitaan…. dan masih banyak lagi?

Orang Jawa bilang, kodrat itu biso diwirodat, yang artinya, kodrat itu bisa diubah, direkayasa, dan disiasati. Dan, Allah berfirman, “Tidak berubah nasib suatu kaum kecuali mereka sendiri yang mengubahnya.” Jika demikian, bukankah nasib ada di tangan manusia? Benar, tetapi mutlak tidak ada campur tangan Tuhan dalam hal ini adalah suatu ketidakpantasan, atau bahasa kejamnya adalah kesombongan.

Kita tentu pernah mendengar nasihat bijak yang membuat hidup kita tenteram dan nyaman, “ Kita berusaha, namun Tuhan jualah yang menentukan.” Bukankah ini berarti ada campur tangan Tuhan? Dan, memang demikian adanya karena Kemahatahuan, Kemahaadilan, Kemahacintaan Tuhan sekaligus kebebasan manusia dalam berkehendak. Tentang misteri penderitaan? Bagi saya, itu tidak ada, karena Allah Mahabaik yang hanya memiliki sifat-sifat baik. Itu yang diajarkan Tuhan kepada kita.

Menderita hanyalah prasangka, persepsi, atau perasaan manusia saja. Karena, sesuatu yang dirasakan “baik” tidak selalu merupakan kebaikan bagi kita. Sebaliknya, pada saat kita terlihat menderita, kita tidak dapat menganggap pengalaman itu sebagai hal yang “buruk”. Allah berfirman, “Ada hal-hal yang diberikan untukmu tetapi kamu tidak menyukainya walaupun itu baik bagimu, dan ada hal-hal yang kamu menyukainya tetapi itu tidak baik bagimu.”

Jadi, kita tidak perlu menganggap penderitaan dan rasa sakit sebagai musuh kita. Namun, lebih baik kita menganggapnya sebagai suatu kejadian atau pengalaman yang akan membantu kita menyeimbangkan aspek fisik, emosi, mental, dan spiritual. Sehingga, kita bisa merasa nyaman menjalaninya.

Kembali lagi kepada usaha manusia dan campur tangan Tuhan. Jika dalam usaha mewujudkan apa yang kita inginkan, kemudian kita bertemu dengan kejadian-kejadian atau bertemu dengan orang-orang yang mendukung langkah-langkah kita, apakah itu merupakan suatu kebetulan belaka? Bagi saya, itu adalah takdir, yaitu campur tangan Tuhan untuk menolong kita.

Contoh kecil saja yang terjadi pada saya. Saya terinspirasi menulis dari iklan workshop kepenulisan yang diadakan di Hong Kong, waktu itu saya masih menjadi PRT di sana. Saya pun memiliki keinginan menjadi seorang penulis. Apakah secara kebetulan saya kemudian bertemu dengan orang-orang yang mendukung keinginan saya tersebut?

Saya rasa tidak. Allah yang mengirim orang-orang untuk membantu saya melalui mekanisme universal yang telah diciptakan-Nya. Allah yang menciptakan alam semesta beserta isinya, lengkap dengan program-program yang ada di dalamnya, bagaikan sebuah komputer raksasa paling canggih. Begitu saya merasa yakin dan mampu dengan keinginan saya tersebut, dan kemudian mewujudkannya melalui usaha-usaha (sehingga alam bawah sadar pun meresponnya), maka sinyal-sinyal ini pun akan terhubung dengan orang lain. Bahkan, melibatkan berbagai mekanisme alamiah di sekitarnya secara otomatis. Inilah yang disebut mestakung = semesta mendukung, yang dipopulerkan pertama kali oleh Profesor Yohanes Surya.

Kepercayaan dan keyakinan diri yang positif, sikap, dan tindakan-tindakan kita yang positif inilah yang disebut personal leadership, yang menjadi dasar terjadinya nasib melalui Kemahakuasaan Tuhan, pemegang otoritas tertinggi kehidupan.

Dalam konteks berdoa kepada Tuhan, maka personal leadership berpadu dengan prasangka positif kepada Tuhan, akan berproses mengikuti mekanisme keberhasilan tersebut. Itulah sebabnya mengapa doa kita terkabul. Apakah kita masih kurang nyaman dalam menjalani hidup dengan segala fasilitas yang diberikan Tuhan kepada kita tersebut?

Bagaimana menurut Anda?[ek]

* Eni Kusuma adalah nama pena Eni Kusumawati yang lahir di Banyuwangi pada 27 Agustus, 31 tahun yang lalu. Ia berangkat dari menulis puisi dan fiksi. Puisinya dibukukan bersama seratus penyair Indonesia “Yogya, 5,9 skala richter”, sementara cerita fiksinya bertebaran di berbagai media dan juga dibukukan. Ia bercita-cita mendirikan sekolah gratisdan rumah baca di daerahnya di Banyuwangi. Pendidikan formal terakhir di SMUN 1, Banyuwangi, lulus tahun 1995. Sementara, pendidikan nonformalnya, S-1 di Pembelajar.Com (2006 sampai sekarang), dan S-2 di Andaluarbiasa.Com (15 Januari 2009 sampai sekarang). Eni menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong tahun 2001-2007. Eni, yang ketika kecil menderita gagap bicara ini, kini menjadi seorang motivator dan telah memberikan seminarnya di berbagai perusahaan, lembaga sosial, birokrasi pemerintahan, serta berbagai kampus di seluruh Indonesia. Eni adalah penulis buku laris Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007). Silahkan hubungi Eni di ek_virgeus@yahoo.co.id atau enikusuma@ymail.com , HP 081 389 641 733. Website: Pembelajar.Ccm dan Andaluarbiasa.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Nyaman Hidup dengan Pengendalian Diri

ek1Oleh: Eni Kusuma*

Setiap orang berhak untuk bisa nyaman dalam menjalani hidup. Tetapi terkadang kita sendirilah yang menciptakan ketidaknyamanan tersebut. Setiap orang bereaksi terhadap makna dari informasi yang diterimanya. Baik melalui cerita orang lain maupun apa yang dilihat dan dialaminya sendiri. Apa pun reaksi itu. Dan reaksi setiap orang tidak sama meskipun informasi yang diterimanya sama. Karena tiap orang berbeda dalam memaknai setiap informasi yang didapat.

Jika Anda menceritakan kabar gembira kepada orang dekat Anda, maka orang itu akan bereaksi dengan merasa ikut gembira. Semua itu bukan karena suara Anda yang keras, mengalun merdu, atau mendayu-dayu. Yang menyebabkan dia ikut gembira adalah karena isi atau makna dari informasi yang telah Anda ceritakan tersebut. Karena, reaksi tiap orang berbeda, maka jika orang dekat Anda itu tertawa gembira, mungkin orang lain yang mendengar cerita yang sama dari Anda menangis gembira atau hanya tersenyum saja. Tergantung bagaimana orang memaknai cerita Anda. Apakah Anda juga mengalaminya ketika menonton acara lawak di televisi atau membaca buku komedi?

Tentu saja tidak ada masalah dengan informasi yang menggembirakan. Tetapi, bagaimana dengan berita sedih, bahkan berita yang membuat kita menjadi marah, jengkel, atau dendam? Tentu, ini akan mengganggu keseimbangan emosi kita. Apalagi jika mengalaminya secara rutin, ini akan merusak jiwa kita. Sedangkan emosi yang terkendali dan seimbang secara terus-menerus akan memperkuat jiwa kita.

Ada jargon yang saya kenal yaitu, “Dunia ini antara ada dan tiada”. Rasanya, ini pas dengan pengendalian emosi menuju keseimbangan. Jika kita mendengar, melihat, dan mengalami sesuatu yang akan membuat kita bereaksi negatif, hendaknya kita ambil jeda dan tidak bereaksi atas makna informasi yang didapat saat itu juga. Ini untuk menghindari supaya kita tidak salah dalam memaknai, atau mengendalikan diri kita dari makna informasi tersebut.

Jika kita melakukan itu, maka kita akan menyadari bahwa emosi negatif itu sebenarnya tidak ada, jika kita dengan sengaja meniadakannya. Sebaliknya, emosi negatif itu ada, jika kita membuatnya ada. Kita berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai karakter. Karena itu, setiap perkataan atau perbuatan mereka yang tidak berkenan dengan kita, hendaknya disikapi dengan sangat bijak. Ini yang akan membuat kita nyaman dalam menjalani hidup.

Banyak kejadian yang tidak mengenakkan ada di hadapan kita. Di jalan raya ketika tiba-tiba ada kendaraan yang melaju kencang mendahului, kita digunjing negatif, dikerjain teman, dibenci oleh teman sekantor yang merasa tersaingi, ditipu, dan sebagainya. Itu semua bukan masalah kita. Yang menjadi urusan kita adalah mengendalikan diri dan memperbaiki kesalahan agar tidak terulang pada pola yang sama.

Pengendalian diri, yaitu membuat diri tenteram, damai, ikhlas, dan lain-lain. Jika ini dilakukan secara terus menerus, berarti kita sedang menyusun dan membangun kekuatan otak dan jiwa kita. Sedangkan jika kita marah, benci, dendam, jengkel secara terus-menerus, berarti kita sedang merusak otak dan jiwa kita seperti halnya yang dilakukan oleh kanker atau tumor otak.

Jika kita sudah terbiasa memelihara emosi positif, maka kejadian atau sesuatu yang menjengkelkan sekalipun, tidak akan membuat kita bereaksi negatif. Tetapi sebaliknya, jika kita secara sadar atau tidak sadar memelihara emosi negatif, maka kejadian-kejadian kecil yang menjengkelkan akan membuat kita bereaksi tak terkendali. Bahkan, kadang kita salah memaknai informasi atau kejadian yang sebenarnya netral. Sehingga, reaksi kita akan sangat berlebihan atau merugikan.

Saya percaya, kita akan nyaman menjalani hidup dengan fokus dan terus mengendalikan diri serta terus belajar memperbaiki diri agar lebih baik, dan tidak terjebak kembali pada pola yang sama, yaitu emosi negatif yang merugikan. Demikiankah?[ek]

* Eni Kusuma adalah seorang motivator, mantan pembantu rumah tangga di Hongkong, kolomnis Pembelajar.com, AndaLuarBiasa.com, dan penulis buku laris Anda Luar Biasa!!!.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.6/10 (8 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: -1 (from 3 votes)

Anda Luar Biasa, Jika Nyaman Belajar

ekOleh: Eni Kusuma*

“Belajar tidak sama dengan bermain. Jika belajar seperti bermain, maka semua orang akan nyaman melakukannya. Tetapi, bagi orang-orang yang luar biasa, belajar adalah kenyamanannya layaknya bermain.”

~ Eni Kusuma

Ketika kita masih balita, kita belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar. Seperti bermain balok sambil mengenal angka dan huruf, bermain puzzle sambil mengenal warna dan lain-lain. Tetapi, ketika kita tumbuh besar dan bersekolah, tentu cara belajar dan cara bermain pun berbeda dan terpisah. Karena, belajar membutuhkan konsentrasi tinggi yang melibatkan otak kanan dan kiri. Kita harus membaca buku-buku pelajaran, mengotak-atik angka, mengerjakan soal-soal dan lain-lain. Sedangkan bermain tidak begitu melibatkan konsentrasi. Misalnya, main ke rumah teman, bikin pesta, jalan-jalan ke mal, ke pantai, nonton TV, dan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan lainnya. Makanya, kita lebih suka bermain daripada belajar.

Demikian juga kita yang tumbuh sebagai orang dewasa, pikiran kita pun lebih kompleks lagi, karena kita memiliki tanggung jawab terhadap keluarga, orang tua dan pekerjaan kita. Berbagai masalah kehidupan pun mendera. Dari luar kita maupun dari dalam diri kita. Dari luar misalnya, masalah finansial, hubungan atau relationship, sampai masalah anak-anak kita. Dari dalam misalnya, rasa khawatir, tidak berani, gelisah, jenuh, putus asa dan lain-lain. Cara belajar pun berbeda lagi.

Jika dari luar yaitu, bagaimana kita mengelola keuangan kita, mengatur pekerjaan, membina hubungan serta mendidik anak-anak. Sedangkan dari dalam, bagaimana kita mengelola emosi kita tersebut. Kita perlu belajar itu semua jika ingin hidup kita bahagia. Kita bisa belajar dari nasihat, buku-buku, pengalaman diri sendiri maupun pengalaman orang lain. Banyak sekali buku, koran, majalah, maupun internet yang membahas tentang keuangan, bisnis, relationship, mendidik anak sampai dengan cara mengatasi masalah dari dalam diri kita seperti, pengembangan diri dan motivasi.

Sepertinya, kita disuruh untuk banyak membaca. Saya rasa memang demikian. Karena, dengan membaca kita bisa belajar lebih cepat, karena satu buku bisa berarti pengalaman orang selama bertahun-tahun. Dan, pengalaman adalah mahal harganya.

Jika kita ingin tumbuh dan berkembang menjadi seorang yang luar biasa, baik kepribadian maupun kehidupan kita, kita memang harus belajar. Dan, seperti yang sudah kita ketahui bahwa sedikit sekali orang yang luar biasa, yang bersedia untuk belajar. Selebihnya, banyak sekali yang tidak mau bersusah payah untuk belajar. Asal bisa makan dan bisa hidup, ya sudah. Karena, belajar membutuhkan konsentrasi, sedangkan konsentrasi memberikan ketidaknyamanan, maka sedikit sekali yang bisa menikmatinya.

Lebih banyak orang yang menghabiskan waktu hanya untuk kerja dan nasi, kerja dan bermain. Padahal, jika kita tahu, belajar akan memberikan kenyamanan jika dilakukan secara terus-menerus. Kita akan mengetahui banyak hal dan ini memberikan kenyamanan. Belajar akan melatih otak, semakin lama semakin terlatih, sukses adalah efeknya. Ini juga akan memberikan kenyamanan karena kita seperti berfantasi dengan pikiran kita. Tak heran, orang-orang yang luar biasa menganggap belajar adalah bermain, sedangkan bermain memberikan kenyamanan.

Orang-orang luar biasa seperti Albert Einstein sang penemu hubungan antara energi dengan massa dan kecepatan, Jennie S. Bev sang penulis lebih dari 60 buku dan peresensi lebih dari 1.300 buku, Andrias Harefa sang pembelajar, Edy Zaqeus sang guru menulis dan sederet nama-nama luar biasa lainnya adalah orang-orang yang nyaman dalam belajar. Jika tidak, tentu julukan yang ada sekarang tidaklah melekat pada mereka.

Terbiasa tidak belajar dan terbiasa belajar sama-sama memberikan kenyamanan. Karena, itu sama-sama memberikan efek keterbiasaan. Jika terbiasa tidak belajar namun tiba-tiba belajar, orang akan merasa tidak nyaman sehingga sangat mungkin ia akan kembali ke kenyamannnya semula. Begitu pula sebaliknya, jika orang-orang luar biasa seperti nama-nama di atas berhenti berkarya, mereka akan merasa tak nyaman dan tak betah. Sehingga, mereka akan kembali ke bentuk kenyamanannya semula. Jika pada akhirnya toh sama-sama nyaman, kenapa tidak memilih terbiasa belajar yang akan menjadikan kita luar biasa, meski awalnya tidak nyaman? Bagaimana menurut Anda?[ek]

* Eni Kusuma adalah seorang motivator, mantan pembantu rumah tangga (TKW) di Hongkong, kolomnis Pembelajar.com, dan penulis buku laris Anda Luar Biasa!!!.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Anda Luar Biasa, Jika Nyaman Menghadapi Tantangan

ek5Oleh: Eni Kusuma*

“Rasa nyaman menjawab tantangan dipengaruhi oleh ide atau tantangan yang rasional bagi dirinya, sehingga membentuk keyakinan yang kuat. Tetapi keyakinan ini terbentuk dengan sendirinya, bukan paksaan. Sehingga tidak ada keragu-raguan yang akan menghambat proses keberhasilan.”

~ Eni Kusuma

Tantangan adalah sesuatu yang di luar kemampuan kita. Dengan belajar, kita bisa menjawab tantangan tersebut. Ini yang akan membuat kita tumbuh dan berkembang. Sebaliknya, sesuatu yang bisa kita kerjakan dengan sangat mudah bukanlah suatu tantangan. Ini tidak membuat kita tumbuh dan berkembang. Sesuatu yang bisa kita kerjakan dengan mudah tentu membuat kita nyaman dan tidak terbebani. Tetapi, bagaimana jika kita menghadapi tantangan yang tidak begitu mudah kita kerjakan? Bisakah kita tidak khawatir, merasa nyaman, dan tidak terbebani dalam melakukannya?

Saya akan menerangkan ilustrasi di atas, sebagai berikut:

Pembaca, ketika saya berkeinginan merantau menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong, saya tidak merasakan kekhawatiran yang merisaukan. Karena, menjadi pembantu itu adalah sebuah pekerjaan yang “siapa pun bisa melakukannya, jika sudi”. Jadi, ini bukan suatu tantangan bagi saya. Saya merasa demikian pede untuk pekerjaan ini. So pasti, saya begitu yakin, merasa nyaman dan tidak terbebani. Karena, ini bukan hal yang luar biasa.

Apakah Anda pernah mengalami saat melakukan pekerjaan yang sangat mudah bagi Anda? Anda tidak merasa khawatir, bukan? Justru Anda merasa sangat yakin dapat melakukannya. Tentu saja ini tidak membuat Anda lebih hebat, karena ini bukan suatu tantangan. Yang Anda kerjakan tidak membutuhkan segenap kemampuan Anda yang sebenarnya. Sehingga, Anda tidak berkembang dan tumbuh.

Sebaliknya, jika kita melakukan pekerjaan yang kita rasa di luar batas kemampuan kita, apakah kita merasa khawatir tidak bisa melakukannya dengan baik? Ini baru namanya tantangan. Tetapi, kita menjadi luar biasa jika bisa menjawab tantangan ini. Kita akan belajar, maka kita akan berkembang dan tumbuh.

Demikian juga saya, ketika saya mendapat tantangan untuk menulis buku, jelas ini di luar batas kemampuan saya. Karena, saya sadar tidak semua orang bisa melakukannya. Bahkan, tidak semua orang pintar yang memiliki gelar akademik sekalipun bisa menelurkan buku. Khawatir? Jelas saya rasakan. Tetapi entahlah, tiba-tiba saya merasa yakin benar bisa melakukannya dengan belajar. Keyakinan itu muncul layaknya kemunculan sebuah ide. Begitu spontan sehingga kekhawatiran saya terkikis dan saya merasa nyaman, tanpa beban melakukannya.

Keyakinan saya muncul karena bagi saya tantangan yang saya hadapi ini benar-benar rasional sehingga tidak ada pertentangan dalam benak saya. Meskipun mungkin bagi orang lain tantangan saya ini irasional atau emosional. Keyakinan inilah yang terus-menerus memprovokasi pikiran bawah sadar saya.

Sekarang, apakah Anda pernah bertemu dengan seseorang yang sepertinya dia yakin benar bisa menjawab tantangan yang dihadapinya, tetapi hasilnya nihil?

Saya pernah mengalaminya. Saya mendapat tantangan menjadi sales untuk menjual produk. Saya merasa yakin bisa melakukannya dengan baik, karena pekerjaan ini rasional bagi saya dan merupakan keinginan saya. Tetapi, hasilnya nihil. What’s wrong with me? Rasional sudah, yakin sudah. So, what?

Ternyata, saya membohongi diri saya sendiri. Keyakinan saya sangat dipaksakan. Ini yang membuat saya kurang nyaman dan menghambat saya. Keyakinan saya tidak timbul dengan sendirinya. Yang sebenarnya adalah saya tidak yakin dan ragu-ragu. Saya pikir keyakinan bisa dipaksakan. Dan, saya pikir pula keyakinan akan tumbuh, berkembang dan menguat jika terus-menerus dipaksakan. Ternyata, semakin dipaksa semakin tersiksa. Pekerjaan ini tidak pernah terlintas sedikit pun dalam benak saya sebelumnya. Tetapi menulis, sempat terlintas dalam pikiran saya ketika saya masih sekolah.

Seperti kata-kata puitis William Shakespeare: “Bukan aku yang membentuk puisiku, tapi puisiku yang membentuk aku menjadi seperti ini.” Jika saya tarik benang merahnya akan seperti ini: “Bukan aku yang membentuk keyakinan (bahwa aku bisa), tapi keyakinanlah yang membentuk aku menjadi seperti ini.”

Dengan demikian keyakinan tidak bisa dibentuk, dipaksakan, atau dilatih. Begitu ia mendapat ide, jika ia pas dengan ide tersebut, maka keyakinan akan timbul dengan sendirinya secara spontan, semakin lama semakin menguat. Yang bisa dibentuk dan dilatih adalah tindakan yang mengarah kepada ide dan keyakinannya itu.

Seperti keyakinan Einstein akan idenya yang menghasilkan teori-teori spektakuler dan menjadikannya sebagai manusia jenius. Ia pun berkata: “Aku tidak tahu bagaimana prosesnya, tiba-tiba ide itu muncul dalam pikiran saya.”

Contoh yang lain yaitu, keyakinan Thomas Alva Edison bahwa ia akan berhasil membuat lampu pijar, tidak membuatnya lelah melakukan seribu kali percobaan. Keyakinan Edisonlah yang membuatnya sebagai penemu lampu pijar.

Keyakinan Andrie Wongso yang menjadikannya Motivator No.1 Indonesia. Keyakinan Bob Sadino yang membuatnya pengusaha luar biasa. Keyakinan Cak Man yang menjadikannya pengusaha bakso sukses, dan keyakinan-keyakinan orang-orang luar biasa lainnya yang menjadikannya seperti apa yang mereka yakini.

Setiap orang tentu memiliki ide atau gagasan (bahkan lebih dari satu) yang menantang, baik untuk dirinya sendiri, maupun untuk menantang orang lain. Dan setiap orang tentu akan menimbang apakah ide tersebut rasional atau tidak bagi dirinya. Jika bersifat rasional akan lebih mudah meyakininya daripada yang bersifat emosional atau irasional.

Tetapi, meskipun ide kita masuk akal atau rasional, jika keyakinan akan ide tersebut dipaksakan, itu tidak akan bekerja. Biarlah keyakinan Anda yang akan membentuk Anda. Bahkan, banyak orang yang nyaman dengan lebih dari satu macam tantangan. Karena, mereka memiliki keyakinan yang tidak dipaksakan atau tidak pura-pura.

Bagaimana menurut Anda?[ek]

* Eni Kusuma adalah seorang motivator, mantan pembantu rumah tangga di Hongkong, kolomnis Pembelajar.com, AndaLuarBiasa.com, dan penulis buku laris Anda Luar Biasa!!!.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.9/10 (7 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Kenyamanan Orang-orang Luar Biasa!!!

ek5Oleh: Eni Kusuma*

“Kebiasaan akan membentuk kenyamanan, baik itu kebiasaan positif maupun negatif. Kebiasaan positif yang dilakukan dengan senang hati (nyaman), akan membawa kita menjadi manusia yang luar biasa. Sebaliknya, Anda harus hati-hati jika kebiasaan negatif membuat Anda merasa nyaman.”

~ Eni Kusuma

Apakah Anda berprestasi dan berkarya di lingkungan tempat Anda tinggal? Misalnya, di kantor jika Anda seorang pegawai kantor, di sekolah maupun kampus jika Anda seorang pelajar/mahasiswa, di rumah jika Anda seorang ibu rumah tangga. Atau, yang lebih luas lagi, yaitu Anda berkarya sedangkan karya Anda bermanfaat bagi umat manusia, bahkan dunia.

Pada kenyataannya, hanya sebagian kecil saja orang yang berhasil berprestasi di bidangnya masing-masing. Hanya sedikit orang yang luar biasa. Sebagian besar orang berada pada level biasa-biasa saja. Bahkan, ada di antara mereka yang frustrasi dan terpuruk.

Hidup ini memang sebuah pilihan. Tetapi, mengapa banyak orang yang tidak memilih untuk berprestasi dan berkarya? Mereka bukan tidak memilih. Jika kita tanyakan pada semua orang, tentu mereka akan memilih menjadi orang yang luar biasa daripada yang biasa-biasa saja. Mungkin, mereka tidak tahu caranya. Yang tahu caranya pun tidak konsisten melakukannya. Ini bisa terjadi karena mereka merasa tidak nyaman dengan apa yang mereka lakukan.

Untuk memperjelas uraian saya di atas, mari kita simak ilustrasi di bawah ini:

Seseorang yang sudah terbiasa melakukan yang terbaik, jika suatu hari ia tidak melakukan dengan baik, ia akan merasa tidak nyaman. Sehingga, tak heran bila prestasi dan penghargaan selalu menempel padanya. Sebaliknya, jika seseorang itu terbiasa dengan kemalasan, maka untuk berubah menjadi rajin tentu tidak akan membuatnya merasa nyaman. Apalagi, ia sudah merasa nyaman dengan kemalasannya. Sehingga, kita pun tak heran bila dia akan menjadi manusia yang biasa-biasa saja. Bukan suatu yang mustahil dia akan terpuruk lebih dalam. Menjadi sampah masyarakat.

Orang-orang yang luar biasa seperti Thomas Alva Edison, Soichiro Honda, Andrie Wongso, Susi Susanti, dan sederet orang luar biasa di bidangnya masing-masing, tentu merasa nyaman melakukan kegiatan yang menunjang cita-cita mereka itu. Jika Thomas Alva Edison tidak merasa nyaman, tentu tidak akan betah melakukan berbagai percobaan sampai keseribu kalinya. Demikian juga dengan Susi Susanti, tentu ia merasa nyaman dengan latihan-latihan yang super ketat. Jika tidak, ia akan merasa terbebani sehingga enggan untuk berlatih keras. Mereka (orang-orang luar biasa) sudah memupuk kebiasaannya sampai merasa nyaman. Ini yang membuat mereka luar biasa di mata orang lain.

Sejak semasa sekolah, saya suka membaca. Jika tidak membaca saya merasa tidak nyaman. Ketika masih bekerja menjadi PRT Hongkong pun, saya tidak nyaman jika saya tidak membaca. Maka, saya membeli buku-buku dan browsing di internet untuk mendukung kebiasaan saya tersebut. Sampai akhirnya saya terinspirasi untuk menulis. Dan, kebiasaan baru pun mudah terbentuk, karena hal ini didukung oleh kebiasaan lama yang menyenangkan. Bahkan, saya merasa kurang nyaman jika tidak menuliskan sesuatu di atas kertas pada hari itu. Dan, karya pertama pun lahir.

Setelah saya menikah dan memiliki anak, waktu untuk membaca dan menulis rutin mulai terganggu oleh padatnya aktivitas saya sebagai ibu rumah tangga dan sebagai motivator. Mulanya, saya tidak nyaman dengan keadaan ini. Tetapi, setelah saya nikmati beberapa waktu lamanya, saya merasa terbiasa dan nyaman. Sampai akhirnya saya harus kembali menulis karena stok tulisan saya di situs motivasi sudah habis. Kebetulan anak saya sudah mulai besar. Anehnya, ketika saya di depan komputer, saya merasa kurang nyaman. Mengantuk adalah alasan terbesarnya. Sering saya matikan kembali komputer saya. Wah, gawat! Saya harus mengembalikan kebiasaan saya yang sempat hilang. Saya membaca buku tiap hari, mencari bahan, berpikir, mengolah ide-ide saya, dan menuliskannya. Awalnya memang sulit, tetapi ini hanya awalnya saja. Setelah terbiasa, kenyamanan segera didapat. Apalagi jika kita begitu termotivasi. Bisa-bisa tak terbendung.

Sekarang saya mengerti, kenapa banyak orang yang menjadi orang yang biasa-biasa saja daripada menjadi orang yang luar biasa dengan prestasi dan karya. Ternyata, mereka bukan tidak memilihnya, tetapi karena mereka tidak bisa mengatasi start-nya. Mereka sangat tidak nyaman, jenuh, menyerah, merasa terbebani, tertekan, dan menderita jika harus melakukan kebiasaan yang mendukung cita-citanya. Akhirnya, cita-cita sebatas keinginan belaka.

Seperti halnya seorang siswa yang terbiasa bangun siang, terbiasa mengerjakan PR di kelas, terbiasa tidak menyiapkan pelajaran yang akan diterangkan oleh guru, terbiasa tidak fokus ketika guru menerangkan di depan kelas, dan terbiasa tidak mengulang pelajaran pada hari itu sepulang sekolah. Maka, ketika ia bercita-cita ingin menjadi juara sekolah, ia harus mengubah kebiasaan lamanya dengan kebiasaan baru yang mendukung keinginannya tersebut. Jika motivasinya besar dan menggebu-gebu, tentu ia bisa melewati awal yang sulit. Sehingga kebiasaan baru pun akan membuatnya nyaman. Apalagi jika ia sudah mulai dipuji karena nilai-nilainya. Pasti ia akan lebih bersemangat lagi dan tambah nyaman saja, meskipun kebiasaannya sekarang sangat menyita waktu dan tenaga. Demikian juga halnya kita di kehidupan nyata sebagai orang dewasa.

Lelah tapi puas, itu yang akan membuat kita bahagia dan bangga jika kita berhasil dengan prestasi dan karya. Bukan hanya kita, tapi orangtua, orang-orang terdekat kita, teman-teman, almamater bahkan negara kita juga ikut bangga. Masalahnya sekarang, bersediakah kita mulai melakukan kebiasaan seperti “orang-orang luar biasa” melakukannya?[ek]

* Eni Kusuma adalah seorang motivator, mantan pembantu rumah tangga di Hongkong, kolomnis Pembelajar.com, dan penulis buku laris Anda Luar Biasa!!!.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox