Nyaman Menuruti Kata Hati

ekOleh: Eni Kusuma*

“Jangan abaikan ‘kata hati’.” Kita sering kali mendengar nasihat bijak ini. Memang benar “kata hati” adalah pengendali langkah dan pemberi informasi yang benar. Siapa pun kita, apa pun profesinya, jika selalu mendengarkan ‘kata hati’, maka senantiasa tepat dalam pengambilan keputusan untuk menentukan prioritas.

Dan ‘kata hati’ ini bersifat universal. Karena, dari ‘kata hati’ akan melahirkan kebenaran, keadilan, kasih, sayang, cinta, perdamaian dan sebagainya, yang bersifat universal pula.

Kegelisahan terasakan saat Prita Mulyasari terbelit hukum yang mengharuskan ia membayar denda sebesar ratusan juta rupiah. Apa yang Anda rasakan? Adalah dorongan kata hati untuk menolongnya. Sehingga, terkumpullah “koin untuk Prita”, bahkan lebih jika untuk membayar denda yang dibebankan kepadanya.

Perasaan ingin menolong, rasa kasih, sayang, dan perasaan ingin melindungi adalah sifat-sifat Sang Pencipta yang Maha-Penolong, Maha-Pengasih, Maha-Penyayang, dan Maha-Pelindung yang ditiupkan juga ke dalam jiwa manusia. Sehingga, manusia secara fitrah memiliki sifat-sifat mulia tersebut dari Tuhannya. Jika manusia menyalahi fitrahnya tersebut dengan berbuat keburukan, maka pastilah muncul perasaan tidak nyaman karena terus-menerus dinasihati oleh “kata hati”nya.

Berbagai kalangan dari orang tua sampai anak-anak, laki-laki, dan perempuan merasakan kesamaan rasa terhadap Prita. Rasa ingin menolong. Rasa ini bersifat universal karena semua manusia memiliki fitrah ini. Dan, berbagai kalangan juga merasakan kesamaan rasa “tidak suka atau merasa tidak adil bagi Prita”. Sebentuk rasa universal karena sebuah nilai keadilan tercabik-cabik.

“Kata hati” sering kali terabaikan oleh berbagai kepentingan sehingga ia tidak didengarkan untuk acuan pengambilan keputusan. Bagi orang yang berprinsip pada kepentingan politik, maka keputusannya diprioritaskan untuk keuntungan politik. Bagi orang yang berprinsip pada kepentingan tim suksesnya yang telah mengantarkannya ke singgasana kekuasaan, maka keputusan akan mementingkan tim suksesnya. Mereka yang berprinsip pada persahabatan maka keputusan yang diambil untuk melanggengkan persahabatan, tidak peduli mengorbankan banyak orang.

Kadang orang mengabaikan kata hati dalam pengambilan keputusan, bahkan menyimpang dengan “kata hati” karena banyak hal, antara lain, merasa tidak enak hati apalagi karena pernah ditolong atau takut diancam, dan lain-lain. Jika ini terjadi, maka kita akan mendapatkan keuntungan yang bersifat jangka pendek. Jika suatu saat terbongkar, itu akan menimbulkan kerugian jangka panjang karena krisis kepercayaan yang muncul di mana-mana. Dan pasti terbongkar cepat atau lambat. “Kata hati” adalah keseimbangan karena yang ditimbulkan oleh “kata hati” seperti kebenaran, keadilan, dll, memberikan keseimbangan. Keputusan yang menyimpang dari “kata hati” akan berakhir dengan menyedihkan karena segala sesuatu pasti menuju kepada keseimbangan.

Jika kita mendengarkan “kata hati” dalam pengambilan keputusan untuk menentukan prioritas kejujuran dan keadilan, serta mengesampingkan berbagai kepentingan, maka keuntungan jangka panjanglah yang diperoleh, bukan keuntungan jangka pendek. Mungkin juga kita akan menerima kerugian tetapi kerugian ini bersifat jangka pendek. Karena seperti uraian di atas, semua menuju kepada keseimbangan.

Contoh lain, dalam hubungan majikan terhadap pembantu rumah tangganya. Andai semua majikan dalam memperlakukan pembantunya sesuai dengan “kata hati”-nya, dan para pembantu juga bekerja dengan hatinya, maka akan tercipta kondisi kerja yang baik. Terutama para majikan di luar negeri, andaikan mereka dalam memperlakukan pekerja rumah tangganya sesuai dengan “kata hati”-nya, dengan mengabaikan stigma atau pandangan negatif yang terlanjur melekat pada PRT Indonesia (hal ini dikarenakan oleh kurang siap dan kurang terlatihnya para PRT Indonesia), maka tentu akan tercipta kondisi kerja yang baik. Adapun stigma yang terlanjur melekat pada PRT Indonesia adalah, bahwa PRT Indonesia itu bodoh, tidak becus kerja, lambat, malas, tidak pintar berbahasa Inggris, dan lain-lain. Jika kondisi kerja yang baik tercipta, maka PRT Indonesia tidak akan mengalami kejahatan perdagangan manusia atau trafficking di negeri sendiri oleh bangsa sendiri.

Saya yakin, majikan yang merasa takut penuh kecurigaan terhadap masuknya “orang asing” ke wilayah prifat mereka, sehingga memicu mereka berbuat kejam dan tidaklah nyaman dalam menjalani hidupnya sehari-hari. Tapi apa boleh buat, sering kali mereka dilindungi oleh negaranya.

Apa pun profesi kita, sebagai hakim, bos perusahaan, menteri, gubernur, majikan terhadap pembantunya bahkan sebagai presiden, pengambilan keputusan hendaknya dilandasi dengan “kata hati”. Sehingga, kita merasa nyaman dalam menjalani profesi kita dan nyaman pula dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari.

Demikiankah?[ek]

* Eni Kusuma adalah nama pena Eni Kusumawati, perempuan kelahiran Banyuwangi, 27 Agustus, 31 tahun yang lalu. Ia berangkat dari menulis puisi dan fiksi. Puisinya dibukukan bersama seratus penyair Indonesia dengan judul Yogya, 5,9 Skala Richter, sementara cerita fiksinya bertebaran di berbagai media dan juga dibukukan. Ia bercita-cita mendirikan sekolah gratis dan rumah baca di Banyuwangi. Pendidikan formal terakhir di SMUN 1, Banyuwangi (1995). Sementara, pendidikan nonformalnya, S-1 di Pembelajar.Com (2006 sampai sekarang), dan S-2 di Andaluarbiasa.Com (15 Januari 2009 sampai sekarang). Eni menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong tahun 2001-2007. Eni, yang ketika kecil menderita gagap bicara ini, kini menjadi seorang motivator dan telah memberikan seminarnya di berbagai perusahaan, lembaga sosial, birokrasi pemerintahan, serta berbagai kampus di seluruh Indonesia. Eni adalah penulis buku laris Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007). Saat ini ia tengah menyelesaikan buku motivasi kedua dan ketiganya. Silahkan hubungi Eni di ek_virgeus[at]yahoo[dot]co[dot]id atau enikusuma[at]ymail[dot]com , HP: 081 389 641 733.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +6 (from 6 votes)

Kenyamanan Hidup Pribadi dan Sosial

ekOleh: Eni Kusuma*

Rumusan orang mengenai kenyamanan hidup pastilah beragam. Maka, tak heran jika masing-masing memiliki definisinya sendiri. Makan enak, rumah mewah, penghasilan besar, dan sebagainya, mungkin menjadi bagian dari “isi” kenyamanan hidup dari kita semua. Sehingga, hal itu patut untuk diperjuangkan.

Tetapi, kenyamanan pribadi seperti di atas bukanlah segala-galanya bagi seseorang. Banyak orang yang telah memperoleh berbagai macam kenikmatan secara individu, tetapi justru merasa kesepian dan gelisah. Kenapa seperti itu? Tidak lain adalah ia telah melupakan kenyamanan yang lebih tinggi sebagai makhluk sosial yaitu kenyamanan sosial (istilah baru dari saya, hehehe…).

Di sini ia akan merasakan lebih bahagia ketika hidup di dalam komunitas tertentu. Lebih bahagia lagi jika bisa memberi kontribusi di dalamnya. Ia akan merasa hidupnya berguna, berarti, dan dihargai. Melalui komunitasnyalah ia bisa berekspresi, yang secara fitrah adalah sebuah kebutuhan. Orang yang hidup kaya raya cepat atau lambat akan mencapai puncak kejenuhan. Jika ia tidak bisa mengekspresikan dirinya maka ia akan merasa gelisah, tidak berguna, dan hidup terasa hampa. Meskipun segala kenikmatan telah dimilikinya.

Agar bisa berekspresi, seseorang butuh orang lain untuk mengapresiasi atau merespon ekspresinya. Bahkan, dengan pujian dan penghargaan. Ini adalah fitrah sosial sebagai manusia. Makanya, ia butuh hidup dalam komunitas tertentu. Karena sesungguhnya, salah satu bentuk kenyamanan hidupnya ada pada kehidupan sosial itu. Kenyamanan sosial ini akan mengantarkan seseorang untuk mencapai kenyamanan hidup yang lebih tinggi, lebih luas, dan lebih banyak.

Kita bisa membedakan lebih tinggi mana, apakah tingkat kenyamanan pribadi ataukah kenyamanan sosial, melalui gambaran di bawah ini.

Katakanlah soal makan enak. Kenikmatan makan adalah ketika ia bisa makan sampai kenyang. Yang menjadi parameter di sini adalah isi perut dan rasa di lidah. Jika sudah kenyang, makanan yang enak pun akan terasa tidak enak lagi. Dan, jika lidah sudah berulang kali merasakannya, semuanya akan membosankan. Mencoba mengejar lagi, mencari makanan yang lain, hasilnya sama saja. Betapa terbatasnya kenyamanan pribadi itu.

Demikian juga dengan penghasilan besar yang bisa untuk membeli rumah mewah, perhiasan, pakaian mahal, dan lain-lain. Awalnya sangatlah senang memiliki rumah mewah dan perhiasan mahal. Tetapi, itu tidak akan bertahan lama. Beberapa bulan atau tahun, perasaan itu sudah biasa lagi. Ketika ia hanya diukur untuk kepentingan pribadi, kenikmatannya menjadi demikian terbatas, tidak tahan lama dan semakin lama akan biasa bahkan membosankan. Makanya, supaya tidak bosan ia akan mengejar lagi dan lagi apa-apa yang belum ia punyai. Milik orang selalu menggiurkan. Dan, sering kali bosan dengan segala sesuatu yang telah dimiliki dan berulang kali dinikmati. Termasuk dalam urusan seksualitas. Maka, ia akan terjebak pada keserakahan.

Dalam kesempatan ini saya akan menyinggung sedikit tentang poligami. Apalagi sekarang marak kontroversi tentang berdirinya klub poligami di Bandung. Ketika poligami untuk kesenangan pribadi, maka poligami tak lebih adalah sebuah bentuk dari keserakahan manusia yang dilegalkan. Ini tak ada bedanya dengan sudah punya mobil, masih ingin punya mobil lagi lebih banyak. Karenanya sangat keliru kalau kita mencoba mengatasi desakan keinginan dan kesenangan pribadi dengan cara mengumbarnya agar tercapai kepuasan yang kita inginkan. Padahal, kepuasan pribadi tidak akan pernah terpuaskan. Jika berpoligami dibolehkan menurut agama yang mereka anut, apakah tidak keliru? Sedangkan di Kitab Suci mereka, tidak akan pernah ditemukan ayat yang membolehkan poligami karena alasan kesenangan pribadi.

Tentang berdirinya klub poligami yang asalnya dari Malaysia itu. Ini bukti bahwa mereka tidak nyaman dengan hidup mereka. Bosan, hampa, dan merasa diri tidak berarti meskipun telah memiliki empat orang istri dan kaya sekalipun. Makanya, mereka membangun komunitas agar mereka bisa mengekspresikan dirinya sehingga mendapat apresiasi atau bahkan penghargaan dan pujian dari komunitasnya tersebut. Sehingga, diharap hidup mereka tidak hampa lagi. Untuk itu masyarakat tidak perlu resah, kita semua memaklumi jika pemahamannya seperti itu.

Sangat terasa sekali bedanya, bukan? Ternyata kenyamanan pribadi itu sangat terbatas jika dibandingkan dengan kenyamanan sosial. Kita akan merasa sangat bahagia jika bisa memberikan kontribusi dan membantu orang lain. Semakin kita lakukan semakin kita bahagia dan puas. Bahkan, kebahagiaan dan kenyamanan kita tidak terbatas. Ini berarti kenyamanan yang lebih tinggi ada pada interaksi dan saling memberi manfaat. Kita boleh mengejar kenyamanan pribadi, tetapi tidak boleh mengumbarnya sehingga menjadi serakah. Karena kenyamanan pribadi itu cepat atau lambat akan mencapai titik kejenuhan. Sedangkan kenyamanan sosial tidak pernah mengalami titik jenuh. Karena sumbernya lebih banyak dan bersumber pada orang lain.

Demikiankah?[ek]

* Eni Kusuma adalah nama pena Eni Kusumawati, perempuan kelahiran Banyuwangi, 27 Agustus, 31 tahun yang lalu. Ia berangkat dari menulis puisi dan fiksi. Puisinya dibukukan bersama seratus penyair Indonesia dengan judul Yogya, 5,9 Skala Richter, sementara cerita fiksinya bertebaran di berbagai media dan juga dibukukan. Ia bercita-cita mendirikan sekolah gratis dan rumah baca di Banyuwangi. Pendidikan formal terakhir di SMUN 1, Banyuwangi (1995). Sementara, pendidikan nonformalnya, S-1 di Pembelajar.Com (2006 sampai sekarang), dan S-2 di Andaluarbiasa.Com (15 Januari 2009 sampai sekarang). Eni menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong tahun 2001-2007. Eni, yang ketika kecil menderita gagap bicara ini, kini menjadi seorang motivator dan telah memberikan seminarnya di berbagai perusahaan, lembaga sosial, birokrasi pemerintahan, serta berbagai kampus di seluruh Indonesia. Eni adalah penulis buku laris Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007). Saat ini ia tengah menyelesaikan buku motivasi kedua dan ketiganya. Silahkan hubungi Eni di ek_virgeus[at]yahoo[dot]co[dot]id atau enikusuma[at]ymail[dot]com , HP: 081 389 641 733.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Nyaman dengan Rasa Syukur

ek

Oleh: Eni Kusuma*

Berhasil, gagal, apa bedanya? Gagal bisa lebih berhasil daripada berhasil itu sendiri. Sempurna, cacat, apa bedanya? Cacat bisa lebih sempurna daripada sempurna itu sendiri.

~ Eni Kusuma

Pernahkah Anda merasa usaha yang Anda lakukan sia-sia? Saya pernah. Ini terjadi karena saya terlalu terburu-buru menyimpulkan proses yang saya jalani adalah kesia-siaan dengan melihat hasil yang jauh dari harapan saya.

Kita cepat mempersepsi kegagalan sebagai garis finish yang sudah selesai. Padahal, berusaha adalah lebih baik daripada malas, meski hasilnya sama-sama gagal. Karena, tidak ada usaha yang sia-sia, yang ada hanyalah kita sendiri yang sulit menangkap apa makna dari sebuah proses. Dan, belajar tidak melulu di bangku sekolah dengan mendapat tuntunan istimewa, yang terlihat begitu sempurna. Tetapi, belajar juga bisa didapat dari hal-hal yang sepele dan tidak penting seperti mencincang sayur dan membuang sampah.

Saya akan mengajak Anda melihat jauh ke belakang sebagai cermin perenungan. Ketika masa sekolah, dengan sangat bersemangat saya belajar, membaca, serta mengerjakan tugas. Tetapi, saya merasa itu sia-sia ketika saya melihat hasil akhir setiap semester tidak seperti yang saya harapkan. Setiap saya berusaha keras memperbaiki nilai, saya semakin kecewa. Karena, akhirnya toh saya gagal juga melanjutkan sekolah yang lebih tinggi karena soal prestasi. Untuk apa capai-capai berusaha keras, toh hasilnya gagal juga, sama dengan yang malas.

Merasa hidup sia-sia, akhirnya saya terdampar di Hong Kong sebagai pembantu rumah tangga. Hari-hari berlalu dengan menyapu, mengepel, mengganti popok, mencuci, memasak, dan membersihkan WC. Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Saya pun merasa hidup tak bermakna. Saya merasa apa yang saya lakukan ini adalah kesia-siaan. Ada kerinduan akan sebuah cita-cita yang sempurna, seperti orang-orang kebanyakan.

Ada sebersit keraguan, mampukah saya dengan keinginan saya itu? Tetapi, siapa sih saya? Bukankah yang lebih pantas dengan cita-cita seperti itu adalah mereka yang berkutat dengan buku-buku, bergelar, sukses, atau bergulat dengan pendidikan? Sedangkan saya bergulat dengan sapu, pisau dapur dan popok bau?

Hati saya panas. Saya marah dengan keadaan saya, mengeluh dan protes pada Tuhan secara rutin. Dalam kemarahan saya justru melakukan pekerjaan dengan lebih baik dan lebih cepat. Waktu berlalu. Si kecil, momongan saya di Hong Kong pun telah bersekolah TK. Tiba-tiba saya memiliki banyak waktu untuk merenungi hubungan antara mencuci piring, memotong sayur, menyapu, mengepel dengan pengembangan diri seseorang.

Semula saya mengira menyapu dan mengepel lantai bertujuan membersihkan lantai rumah. Kemudian saya merasa itu sebagai bentuk ketekunan dan kedisiplinan. Semula saya mengira mengganti popok dan membersihkan WC, ya untuk menyelesaikan tugas. Tetapi kemudian, saya merasa itu sebagai bentuk keikhlasan dan kerendahan hati. Semula saya mengira omelan dan cacian majikan sebagai penghinaan sehingga timbul rasa tak berharganya akan diri sendiri. Tetapi kemudian, saya merasa itu adalah untuk melatih kesabaran. Dengan bekal itu saya pun menulis dengan bimbingan guru saya, dan lahirlah buku Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007).

Kini, pelajaran yang saya petik dari perenungan ini adalah: Berhasil, gagal, apa bedanya? Gagal bisa lebih berhasil daripada berhasil itu sendiri. Sempurna, cacat, apa bedanya? Cacat bisa lebih sempurna daripada sempurna itu sendiri. Bekerja kasar, bekerja halus, apa bedanya? Bekerja kasar bisa lebih halus daripada bekerja halus itu sendiri. Kaya, miskin, apa bedanya? Miskin bisa lebih kaya daripada kaya itu sendiri. Kiai, bukan kiai, apa bedanya? Bukan kiai bisa lebih kiai daripada kiai itu sendiri.

Dengan pemikiran seperti ini, kita akan bersyukur bahkan melebihi rasa syukur yang biasa kita rasakan. Tidak mengeluh dan tidak protes lagi. Karena siang dan malam tidak ada bedanya. Siang bisa kita buat malam, dan malam bisa kita buat siang. Demikian juga dengan penderitaan dan kebahagiaan, juga tidak ada bedanya. Penderitaan justru lebih mendekatkan diri kita kepada Tuhan yang akan membuat kita berbahagia, bahkan lebih berbahagia daripada kebahagiaan itu sendiri. Dengan rasa syukur, tidak ada alasan untuk tidak percaya diri dan tidak ada alasan untuk tidak merasa nyaman dalam menapaki hidup ini.

Demikiankah?[ek]

* Eni Kusuma adalah nama pena Eni Kusumawati, perempuan kelahiran Banyuwangi, 27 Agustus, 31 tahun yang lalu. Ia berangkat dari menulis puisi dan fiksi. Puisinya dibukukan bersama seratus penyair Indonesia dengan judul Yogya, 5,9 Skala Richter, sementara cerita fiksinya bertebaran di berbagai media dan juga dibukukan. Ia bercita-cita mendirikan sekolah gratis dan rumah baca di Banyuwangi. Pendidikan formal terakhir di SMUN 1, Banyuwangi (1995). Sementara, pendidikan nonformalnya, S-1 di Pembelajar.Com (2006 sampai sekarang), dan S-2 di Andaluarbiasa.Com (15 Januari 2009 sampai sekarang). Eni menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong tahun 2001-2007. Eni, yang ketika kecil menderita gagap bicara ini, kini menjadi seorang motivator dan telah memberikan seminarnya di berbagai perusahaan, lembaga sosial, birokrasi pemerintahan, serta berbagai kampus di seluruh Indonesia. Eni adalah penulis buku laris Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007). Saat ini ia tengah menyelesaikan buku motivasi kedua dan ketiganya. Silahkan hubungi Eni di ek_virgeus[at]yahoo[dot]co[dot]id atau enikusuma[at]ymail[dot]com , HP: 081 389 641 733.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.7/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Kekuatan dari Sifat Hati-Hati

ekOleh: Eni Kusuma*

Kerap kali kita mendengar kata “hati-hati” diucapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Seorang ibu yang melepas kepergian anaknya ke sekolah dengan ucapan “hati-hati”. Seorang istri yang melepas sang suami untuk bekerja dengan ucapan “hati-hati” pula. Sepele memang. Kadang kita tidak begitu memerhatikan. Kata “hati-hati” dianggap sebagai pelengkap kalimat perpisahan saja. Padahal “hati-hati” mengandung makna yang sangat dalam. Karena, jika ingin hidup kita sukses dan bahagia, sifat berhati-hati adalah juga salah satu faktor penentunya.

Kita tentu mendengar dan melihat berita-berita tentang musibah yang menimpa orang-orang di sekitar kita. Biasanya, itu berawal dari keteledoran atau ketidakhati-hatian. Rumah yang terbakar karena lupa mematikan kompor; anak balita yang tersiram air panas karena lupa tidak menaruhnya di tempat yang aman; remaja yang bersahabat dengan narkoba karena mudah terpengaruh dan tidak hati-hati memilih teman.

Demikian juga pejabat yang ditangkap KPK. Ini bukan karena ia tidak hati-hati dalam melakukan korupsi sehingga ketahuan, tetapi karena ia teledor terhadap hidupnya sendiri. Dia tidak berhati-hati untuk menjauhi segala kecurangan. Betapa kehati-hatian adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan kita.

Saya belajar sifat hati-hati ini secara detail ketika saya menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong. Apalagi saya menjaga anak orang dari bayi sampai tumbuh menjadi seorang anak usia sekolah. Saya harus berhati-hati mulai dari menjaga kebersihannya sampai keamanannya.

Apa pun yang sedang saya kerjakan, hati-hati adalah prioritas utama. Ketika saya memasak, saya harus hati-hati memasukkan garam (takut keasinan, hehehe…). Demikian juga ketika saya meletakkan sesuatu yang bisa berbahaya bagi anak-anak. Apalagi ketika menjaga anak balita yang sedang giat-giatnya belajar berjalan.

Dengan demikian, bukankah sifat hati-hati akan menyelamatkan kita dari musibah dan malapetaka yang disebabkan oleh keteledoran?

Ada kisah dari Timur Tengah yang diceritakan oleh Ibnul Jauzi tentang keteledoran ini, yakni seorang laki-laki yang sedang memotong kukunya. Karena tidak hati-hati, maka ia memotong jarinya, dan mati. Juga seseorang yang masuk kandang keledai. Karena tidak hati-hati, ia diseruduk keledai dan langsung meninggal.

Berhati-hati bukan berarti lamban. Justru berhati-hati sering berarti kecepatan. Contohnya, mengendarai mobil dengan tidak hati-hati dan terlalu cepat justru sering akan lebih lambat sampai ke tujuan.

Berhati-hati juga berarti mengontrol diri secara ketat, yaitu meninggalkan kesalahan-kesalahan, keteledoran, dan hal-hal bodoh serta menggantinya dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat, seperti bertindak dengan benar, menciptakan ide-ide brilian, dan lain-lain.

Saya sendiri sedang latihan mengontrol diri, yaitu memaksa diri saya supaya pintar-pintar mencari waktu luang untuk menulis. Karena, tidak memanfaatkan waktu dengan baik adalah bagian dari kebodohan saya. Bukankah memberikan kontribusi kepada khalayak dengan menulis di forum ini merupakan kebanggaan dan kebahagiaan saya?

Bagaimana dengan Anda?[ek]

* Eni Kusuma adalah nama pena Eni Kusumawati, perempuan kelahiran Banyuwangi, 27 Agustus, 31 tahun yang lalu. Ia berangkat dari menulis puisi dan fiksi. Puisinya dibukukan bersama seratus penyair Indonesia dengan judul Yogya, 5,9 Skala Richter, sementara cerita fiksinya bertebaran di berbagai media dan juga dibukukan. Ia bercita-cita mendirikan sekolah gratis dan rumah baca di Banyuwangi. Pendidikan formal terakhir di SMUN 1, Banyuwangi (1995). Sementara, pendidikan nonformalnya, S-1 di Pembelajar.Com (2006 sampai sekarang), dan S-2 di Andaluarbiasa.Com (15 Januari 2009 sampai sekarang). Eni menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong tahun 2001-2007. Eni, yang ketika kecil menderita gagap bicara ini, kini menjadi seorang motivator dan telah memberikan seminarnya di berbagai perusahaan, lembaga sosial, birokrasi pemerintahan, serta berbagai kampus di seluruh Indonesia. Eni adalah penulis buku laris Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007). Saat ini ia tengah menyelesaikan buku motivasi kedua dan ketiganya. Silahkan hubungi Eni di ek_virgeus[at]yahoo[dot]co[dot]id atau enikusuma[at]ymail[dot]com , HP: 081 389 641 733.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Nyaman dengan Memahami Rasa Marah

ekOleh: Eni Kusuma*

“Berbicaralah kita ketika sedang marah,

maka kita akan melakukan percakapan terbaik yang akan selalu kita sesali.”

~ anonim

Satu dari banyak hal yang membuat seseorang merasa tidak nyaman dalam menjalani hidup adalah rasa marah. Rasa marah mungkin mendapat tempat istimewa daripada rasa takut dan rasa bersalah. Ini dapat dilihat dari dampak yang akan timbul jika seseorang bereaksi atas ketiga rasa tersebut. Reaksi dari rasa takut dan rasa bersalah mungkin tidak sedahsyat rasa marah jika dalam keadaan wajar. Reaksi dari rasa marah bukan saja berdampak pada diri seseorang saja melainkan juga akan melukai orang-orang di sekitarnya. Apalagi orang-orang yang sebenarnya kita cintai. Sedangkan reaksi dari rasa takut dan rasa bersalah dalam ambang kewajaran, mungkin hanya akan dirasakan oleh diri si perasa saja. Ini berbeda dengan reaksi dari ketiga rasa tersebut jika sudah akut. Reaksi dari ketiga rasa tersebut tidak saja melukai tetapi bisa membunuh, baik itu rasa marah, rasa takut maupun rasa bersalah.

Sebenarnya, tidak ada emosi negatif karena yang ada adalah emosi yang memengaruhi secara negatif. Mungkin, ini yang kerap kali sering kita sebut emosi negatif. Emosi ini bisa kita manfaatkan secara positif jika kita memahaminya. Hanya memahaminya karena memiliki, bukan dimiliki oleh mereka. Baik itu rasa marah, rasa takut, maupun rasa bersalah.

Rasa marah tidak boleh ditunjukkan karena akibat dari itu akan berdampak sangat merugikan. Bukan hanya melukai orang-orang sekitar, tetapi integritas kita dipertaruhkan dan kenyamanan hidup jauh dari kenyataan. Tetapi, jika itu sudah terjadi karena kekhilafan, tidak ada kata terlambat untuk berubah. Minimal belajar untuk berubah. Dan, biarlah waktu yang bicara.

Jika tidak boleh kita tunjukkan, apakah harus kita tekan dan sembunyikan? Menekan dan menyembunyikan rasa marah sama tidak nyamannya dengan menunjukkannya. Karena, ibarat bom waktu, dapat meledak suatu saat nanti, cepat atau lambat. Bagaimanakah sebaiknya? Seperti uraian saya di atas, rasa marah harus bisa dikenali, diamati, diperhatikan, dipahami, dan dimengerti.

Bagaimanakah melakukannya? Jika sedang marah, katakanlah: “Saya melihat sejumlah rasa marah dalam diri saya!” Atau, “Saya memiliki rasa marah pada diri saya!” Coba bandingkan dengan pernyataan kedua: “Saya marah!!!” lengkap dengan atribut yang menyertainya, yaitu nada tinggi, mata membelalak, napas naik turun dengan cepat. Mungkin akan sangat berbeda dirasakan ketika kita berbicara kalimat yang pertama tadi pada diri. Pada kalimat pertama, kita memiliki emosi tetapi emosi tidak memiliki kita. Sedangkan pada kalimat kedua, “Saya marah” berarti kita adalah emosi itu, dan emosi itu adalah kita, dan berarti pula kita dimiliki oleh emosi itu. Sehingga, secara alamiah kita terdorong untuk bereaksi menunjukkannya. Ini yang sangat merugikan.

Adanya emosi pada diri kita disebabkan oleh kebutuhan kita akan suatu hal belum terpenuhi. Ini berarti emosi merupakan tanda, sebagai indikasi, atau sebagai penunjuk kebutuhan utama kita. Untuk itu, menjadikannya sahabat adalah sangat bijak. Karena memperlakukan emosi sebagai musuh bisa sangat merugikan. Jika kita memahami perasaan ini, bukan bereaksi, kita dapat sangat beruntung. Bayangkanlah sesuatu yang menguatkan seperti kita membayangkan suatu hubungan yang damai dan harmonis, penuh cinta dan perasaan sayang. Dan, ini tidak bisa kita gadaikan dengan sejumlah uang. Semakin kita membayangkan hal ini, semakin kuat pula kita mengatakan “tidak perlu marah” kepada diri sendiri meskipun kita sadar memiliki perasaan itu.

Emosi-emosi yang merupakan tanda bahwa kebutuhan kita belum terpenuhi adalah seperti berikut:

Kemarahan, memberi tahu ada sesuatu yang keliru dan mungkin perlu diperbaiki.

Ketakutan, memperingatkan kita akan adanya ancaman.

Rasa bersalah, memperingatkan kita untuk bersikap sensitif terhadap hubungan yang penting.

Seperti nasihat bijak yang berkata: “Rasa marah dapat membutakan, rasa takut dapat melumpuhkan dan rasa bersalah dapat melemahkan.”

Demikiankah?[ek]

* Eni Kusuma adalah nama pena Eni Kusumawati, perempuan kelahiran Banyuwangi, 27 Agustus, 31 tahun yang lalu. Ia berangkat dari menulis puisi dan fiksi. Puisinya dibukukan bersama seratus penyair Indonesia dengan judul Yogya, 5,9 Skala Richter, sementara cerita fiksinya bertebaran di berbagai media dan juga dibukukan. Ia bercita-cita mendirikan sekolah gratis dan rumah baca di Banyuwangi. Pendidikan formal terakhir di SMUN 1, Banyuwangi (1995). Sementara, pendidikan nonformalnya, S-1 di Pembelajar.Com (2006 sampai sekarang), dan S-2 di Andaluarbiasa.Com (15 Januari 2009 sampai sekarang). Eni menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong tahun 2001-2007. Eni, yang ketika kecil menderita gagap bicara ini, kini menjadi seorang motivator dan telah memberikan seminarnya di berbagai perusahaan, lembaga sosial, birokrasi pemerintahan, serta berbagai kampus di seluruh Indonesia. Eni adalah penulis buku laris Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007). Saat ini ia tengah menyelesaikan buku motivasi kedua dan ketiganya. Silahkan hubungi Eni di ek_virgeus[at]yahoo[dot]co[dot]id atau enikusuma[at]ymail[dot]com , HP: 081 389 641 733.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.3/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Kekuatan Minat

ek1Oleh: Eni Kusuma*

Ketika saya memotivasi para mahasiswa di Ponorogo beberapa hari yang lalu, seorang mahasiswa bertanya pada saya, “Kenapa Mbak Eni memilih untuk menulis, kok gak yang lain?”

Saya menjawab, “Karena bidang yang saya minati adalah menulis.” Dan, ketika saya balik bertanya kepada mereka, “Apa bidang yang paling kalian minati sebagai bekal untuk hidup?” Kebanyakan dari mereka belum siap dengan pertanyaan saya. Hanya beberapa gelintir saja yang telah memiliki tujuan yang jelas.

Saat menjadi mahasiswalah saat yang paling tepat untuk menekuni bidang yang paling diminati. Masa menjadi mahasiswa adalah masa belajar dan berlatih sehingga ketika lepas kuliah diharapkan telah menjadi ahli di bidangnya. Nyatanya, kebanyakan dari mereka—yang mungkin bisa mewakili rekan-rekan mahasiswa dari perguruan tinggi lain—masih santai, sebagian lagi masih bingung. Hal ini dikarenakan oleh kondisi mereka yang belum mengalami masa kritis. Selepas kuliah, mereka baru akan mengetahui dunia yang sebenarnya.

Bagi yang telah memiliki keahlian yang dipupuk sejak kuliah, mereka tidak akan bingung dengan masa depan mereka. Tetapi, bagi mereka yang tidak belajar dan tidak melatih bidang yang diminati sebelumnya, mereka akan mengalami masa kritis. Terutama bagi mereka yang pada akhirnya menganggur. Jika toh kemudian mereka menemukan bidang yang diminati, mereka akan belajar dan berlatih dari nol. Ini bila dibandingkan dengan mereka yang telah memiliki persiapan sebelumnya. Tetapi, ini masih bagus daripada mereka yang tidak berusaha mencari minatnya sama sekali.

Kebanyakan dari kita akan bangkit dan termotivasi untuk melakukan sesuatu jika telah mengalami masa kritis atau masa terjepit. Kita akan dipaksa oleh keadaan untuk melakukan sesuatu, jika tidak kita akan mati. Sehingga, kadang ini justru menjadi titik awal kesuksesan kita. Karena, orang yang telah mengalami masa kritis, biasanya memiliki daya juang yang tinggi, berani mengambil risiko, dan tidak takut gagal.

Nah, ketidaktakutan akan kegagalan itu karena sekarang pun orang tidak memiliki apa-apa alias masih nol. Jadi, untuk apa takut? Namun, kita tidak harus menunggu masa kritis baru bertindak, bukan? Bagaimanapun juga persiapan tetap lebih baik dan memiliki peluang berhasil lebih besar jika dibarengi oleh motivasi yang besar pula.

Ketika saya ditanya kembali oleh salah satu mahasiswa di sana, “Menulis kan berisiko, Mbak?”

Setiap apa yang kita lakukan memang berisiko. Apalagi jika kita tidak melakukan apa-apa, risikonya mungkin malah lebih besar. Saya memulai menulis dari nol, jadi jika saya gagal pun saya tetap nol. Jadi, untuk apa takut? Jika tulisan-tulisan saya ditertawakan, saya akan ikut tertawa juga, hehehe…. Tetapi, “tertawa” saya adalah “tertawa” pertanda mengerti akan kebodohan saya sendiri. Yang berarti saya selangkah lebih maju dari sebelumnya. Yang berarti pula saya telah belajar. Itulah sebabnya, saya katakan: “Belajar adalah Hak Saya!”[ek]

* Eni Kusuma adalah nama pena Eni Kusumawati, perempuan kelahiran Banyuwangi, 27 Agustus, 31 tahun yang lalu. Ia berangkat dari menulis puisi dan fiksi. Puisinya dibukukan bersama seratus penyair Indonesia dengan judul Yogya, 5,9 Skala Richter, sementara cerita fiksinya bertebaran di berbagai media dan juga dibukukan. Ia bercita-cita mendirikan sekolah gratis dan rumah baca di Banyuwangi. Pendidikan formal terakhir di SMUN 1, Banyuwangi (1995). Sementara, pendidikan nonformalnya, S-1 di Pembelajar.Com (2006 sampai sekarang), dan S-2 di Andaluarbiasa.Com (15 Januari 2009 sampai sekarang). Eni menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong tahun 2001-2007. Eni, yang ketika kecil menderita gagap bicara ini, kini menjadi seorang motivator dan telah memberikan seminarnya di berbagai perusahaan, lembaga sosial, birokrasi pemerintahan, serta berbagai kampus di seluruh Indonesia. Eni adalah penulis buku laris Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007). Saat ini ia tengah menyelesaikan buku motivasi kedua dan ketiganya. Silahkan hubungi Eni di ek_virgeus[at]yahoo[dot]co[dot]id atau enikusuma[at]ymail[dot]com , HP: 081 389 641 733.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Hidup Nyaman dengan Kesempurnaan yang Tidak Sempurna

Eni KusumaOleh: Eni Kusuma*

Jika kesempurnaan sebagai motivasi maka ketidaksempurnaan sebagai investasi.

~ Eni Kusuma

Memang tidak ada manusia yang sempurna. Tetapi, bisakah ini dijadikan acuan dalam tindakan-tindakan kita untuk meraih suatu keberhasilan? Kita tentu setuju bahwa hakikat kemanusiaan adalah ketidaksempurnaan. Tetapi, benarkah tuntutan, perintah, atau ajakan untuk menjadi sempurna sama sekali tidak realistis?

Jika Anda bertanya pada sayayang notebene pernah menjadi pembantu rumah tanggaapakah kesempurnaan itu penting? Ya, bagi saya kesempurnaan itu penting sekaligus tidak perlu!

Penting, yaitu sebagai tujuan dari usaha-usaha kita. Coba bayangkan, jika kesempurnaan bukan tujuan dari usaha kita, kita akan setengah-setengah dalam menjalankannya. Bahkan, gampang meremehkan dengan alasan:Ah, aku kan manusia, manusia itu tidak sempurna, wajar kalau aku salah lagi, salah lagi.” Malah, kita mungkin akan terjebak pada kesalahan yang sama karena tidak serius dalam belajar.

Apa jadinya jika pekerjaan saya sebagai PRT di Hong Kong kala itu tidak menjadikan kesempurnaan sebagai tujuan? Bukan tidak mungkin saya akan mengalami kekerasan karena tidak memenuhi standar yang majikan berikan. Menyetrika harus licin, mencuci dan mengepel harus kinclong, menjaga baby harus bernilai seratus, dan sebagainya.

Demikian juga dengan belajar menulis dan berbicara di depan umum. Bisa-bisa saya tidak serius dalam belajar karena tidak menjadikan kesempurnaan (nilai seratus) sebagai goal-nya. Saya yakin orang-orang luar biasa seperti penemu telepon, penemu lampu pijar, penemu mobil, pembangun Microsoft, dan lain sebagainya harus demikian berusahanya melakukan eksperimen demi mencapai goal-nya, yaitu kesempurnaan hasil temuannya.

Tidak perlu. Kesempurnaan tidak perlu dijadikan beban. Apalagi merasa dikejar-kejar oleh tuntutan yang memang memberatkan itu. Bagaimana tidak berat, keahlian dan keberhasilan apa sih, yang tidak didahului oleh trial and error, coba-salah-coba lagi? Masih ada “lain kali” dan “yang akan datang” untuk memperbaikinya. Tidak perlu stres memikirkannya.

Sebagai pemula, jika kita terobsesi oleh kesempurnaan, bisa-bisa kita tidak bergerak ke mana-mana. Karena takut salah, takut malu, takut dicemooh, takut dinilai tidak bermutu, takut gagal, takut ditolak. Mudah menyalahkan sesuatu yang lain (mencari kambing hitam) yang sebenarnya adalah alasan untuk malu mengakui kelemahannya.

Dan, jika saya terobsesi oleh kesempurnaan (meski saya pribadi menjadikannya sebagai tujuan) saya tentu tidak akan bergerak ke mana-mana. Saya tidak akan sampai ke Hong Kong karena takut tidak bisa bekerja dengan baik dan takut dimarahi majikan. Juga saya tidak akan pernah bisa menulis dan berbicara di depan umum karena takut dicemooh, takut dibilang tidak bermutu, dan takut ditertawakan. Untunglah, saya tidak terobsesi memikirkan: “Saya harus OK sampai detail dan njelimet dari menulis sampai berbicara.”

Bagi seseorang yang telah memiliki keahlian, jika orang ini terobsesi oleh kesempurnaan ia akan menjadi seorang pengkritik yang sinis, penilai yang “keji”, dan penghantam kesalahan orang lain karena tidak mencapai standar yang ia bayangkan. Secara psikologis, sebenarnya ini sangat menyiksa yang bersangkutan. Sangat merasa tidak nyaman karena harus marah dengan orang lain yang dianggapnya tidak sesuai standar. Juga merasa jengkel dan bosan dengan dirinya sendiri yang terbebani dengan tuntutan kesempurnaan.

Jika kesempurnaan sebagai motivasi maka ketidaksempurnaan sebagai investasi. Sebagai pendekatan hidup, panggilan kepada kesempurnaan cukuplah sebagai sumber motivasi untuk belajar serius demi meraih yang lebih baik dan lebih baik lagi. Meski kita tahu, sangat mustahil meraih kesempurnaan 100 persen.

Sebaliknya, ketidaksempurnaan dipahami sebagai investasi yang suatu saat diambil lagi untuk pembelajaran dan pemahaman agar kita terhindar dari kesalahan yang sama pada situasi yang sama pula. Melakukan kesalahan adalah wajar. Yang keterlaluan adalah melakukan kesalahan yang sama pada situasi yang mirip. Ini berarti ia tidak menginvestasikan kesalahannya sebagai pembelajaran, tetapi hanya membuang dan melupakannya. Sehingga, tak heran kesalahan yang sama pada situasi yang sama terulang kembali.

Kesempurnaan adalah tujuan dan ketidaksempurnaan adalah realitas. Usaha-usaha yang tidak memiliki tujuan menuju sempurna adalah semu. Dan, tidak mengakui ketidaksempurnaan sebagai realitas berarti menyalahi kodrat, yang memang dunia ini adalah ketidaksempurnaan, ketidakpastian, ketidakmapanan, penuh perubahan, dan persaingan. Maka, kita dituntut belajar untuk itu.

Hidup ini kaya dimensi. Mengambil yang satu dan meremehkan yang lain kiranya bukan cara yang bijaksana. Keseimbangan di antaranya dan tahu pemanfaatan masing-masing adalah kunci keefektivan dan kenyamanan kita dalam menjalani hidup.

Demikiankah?[ek]

* Eni Kusuma adalah nama pena Eni Kusumawati, perempuan kelahiran Banyuwangi, 27 Agustus, 31 tahun yang lalu. Ia berangkat dari menulis puisi dan fiksi. Puisinya dibukukan bersama seratus penyair Indonesia dengan judul Yogya, 5,9 Skala Richter, sementara cerita fiksinya bertebaran di berbagai media dan juga dibukukan. Ia bercita-cita mendirikan sekolah gratis dan rumah baca di Banyuwangi. Pendidikan formal terakhir di SMUN 1, Banyuwangi (1995). Sementara, pendidikan nonformalnya, S-1 di Pembelajar.Com (2006 sampai sekarang), dan S-2 di Andaluarbiasa.Com (15 Januari 2009 sampai sekarang). Eni menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong tahun 2001-2007. Eni, yang ketika kecil menderita gagap bicara ini, kini menjadi seorang motivator dan telah memberikan seminarnya di berbagai perusahaan, lembaga sosial, birokrasi pemerintahan, serta berbagai kampus di seluruh Indonesia. Eni adalah penulis buku laris Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007). Saat ini ia tengah menyelesaikan buku motivasi kedua dan ketiganya. Silahkan hubungi Eni di ek_virgeus[at]yahoo[dot]co[dot]id atau enikusuma[at]ymail[dot]com , HP: 081 389 641 733.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.8/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +6 (from 6 votes)

Nyaman Menghadapi Masalah

Eni KusumaOleh: Eni Kusuma*

Masalah. Bayangkan dunia tanpa masalah. Seperti buku tanpa kisah. Jalan tanpa lubang. Gunung tanpa batu dan bahkan, seperti manusia tanpa makna. Masalah, adalah satu-satunya sensasi yang mampu membuat orang menjadi dewasa. Masalah bisa lahir dari mana saja. Dari dalam atau dari luar manusia. Dari dalam rumah atau dari luar rumah. Dari ucapan, pikiran, dan tindakan. Dari bagaimana muncul sampai kenapa bisa muncul.

Masalah. Adalah sulit kita untuk menghindarinya. Tidak dikehendaki, tetapi harus ada yang merupakan bagian dari diri kita. Masalah dapat menghasilkan perasaan ingin masuk jurang atau perasaan ingin memasukkan orang ke dalam jurang. Masalah, mampu membuat orang berlari darinya, atau lebih dikenal dengan “lari dari masalah”. Sebenarnya, binatang buas juga dapat memberikan efek yang sama, namun itu di luar konteks.

Masalah hendaknya menjadi sahabat kita, bukan musuh kita. Tinggal bagaimana kita mengatasinya, atau istilah kerennya solve the problem. Lebih afdol lagi mengatasi masalah tanpa masalah. Ini bukan iklan pegadaian. Sekali lagi itu di luar konteks. Dengan begitu kita akan nyaman dalam menjalani hidup. Tidak tersiksa dan menderita hanya karena tidak bisa mengatasi masalah.

Terkadang masalah harus diatasi agar tidak berlarut-larut. Terkadang pula mengatasi masalah harus dengan dilupakan agar kita tetap fokus kepada goal atau tujuan kita, bukan fokus kepada masalah, yang kerjanya untuk menghalangi kita. Masalah yang biasanya harus diatasi adalah masalah keluarga, cinta, pekerjaan, keuangan, persahabatan, dan lain-lain. Sedangkan masalah yang harus dilupakan adalah masalah ketidak-pede-an, ketakutan, keraguan, kekurangan, keterbatasan, dan lain-lain yang akan menghalangi kita untuk fokus kepada tujuan kita.

Namun, bagaimana dengan masalah yang ada di luar kita yang akan membuat kita nanti bermasalah, jika kita tidak melakukan tindakan yang tepat? Misalnya, kita tidak didengar oleh yang tua karena lebih muda dan dinilai kurang berpengalaman, kita disakiti oleh orang lain baik dengan ucapan maupun perbuatan, dan lain-lain. Saya pikir harus dengan pengendalian diri yaitu emosi yang terkontrol. Jika kita bereaksi dengan melampiaskan, maka nanti yang timbul justru mengatasi masalah dengan masalah.

Biasanya kita mudah mengontrol diri kepada orang lain, tetapi akan sulit kepada orang-orang terdekat kita. Misalnya, suami atau istri, saudara, anak, mertua dan lain-lain. Jika ada yang tidak berkenan, akan mudah meletup, karena kita lebih terikat secara emosional dengan orang-orang terdekat kita. Dan ini dibutuhkan kontrol diri yang bagus, jika tidak, akan timbul KDRT. Ironis, padahal orang-orang terdekat kita adalah orang-orang yang kita cintai. Memaklumi, memaafkan, tidak buru-buru memaknai sesuatu yang akan membuat kita tidak terkontrol, ambil jeda untuk melihat secara netral dan lain-lain adalah cara mengatasi masalah tanpa masalah, saya kira.

Cara-cara menguntungkan dalam mengatasi berbagai masalah harusnya menjadi suatu kebiasaan, jika kita menginginkan “manis” pada akhirnya. Kebiasaan terbentuk dari dalam maupun dari luar diri kita. Dari luar adalah dengan latihan dan tindakan sedangkan dari dalam adalah keyakinan. Ini akan membuat kita memiliki value, identitas diri, atau integritas. Jika kita terus menerus berlatih mengatasi masalah dengan tepat dan ini menjadi suatu kebiasaan, maka kita akan disebut dewasa. Dewasa berarti paham, mengerti, bijak dan lain-lain. Semua itu tidak ada jika tidak ada masalah. Bukankah hanya masalah yang akan melatih kedewasaan kita? Semakin banyak masalah maka semakin banyak pula kesempatan kita untuk berlatih mengatasinya. Maka, semakin cepat pula kita membentuk value, identitas diri, atau integritas.

Bukan masalah yang membuat kita tidak nyaman. Tetapi, tidak bisa mengatasi masalah dengan tepatlah yang membuat kita tidak nyaman. Berlatih mengatasi masalah dengan tepat dan menjadikannya suatu kebiasaan akan membuat kita nyaman dalam menjalani hidup. Demikiankah?[ek]

* Eni Kusuma adalah nama pena Eni Kusumawati, perempuan kelahiran Banyuwangi, 27 Agustus, 31 tahun yang lalu. Ia berangkat dari menulis puisi dan fiksi. Puisinya dibukukan bersama seratus penyair Indonesia dengan judul Yogya, 5,9 Skala Richter, sementara cerita fiksinya bertebaran di berbagai media dan juga dibukukan. Ia bercita-cita mendirikan sekolah gratis dan rumah baca di Banyuwangi. Pendidikan formal terakhir di SMUN 1, Banyuwangi (1995). Sementara, pendidikan nonformalnya, S-1 di Pembelajar.Com (2006 sampai sekarang), dan S-2 di Andaluarbiasa.Com (15 Januari 2009 sampai sekarang). Eni menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong tahun 2001-2007. Eni, yang ketika kecil menderita gagap bicara ini, kini menjadi seorang motivator dan telah memberikan seminarnya di berbagai perusahaan, lembaga sosial, birokrasi pemerintahan, serta berbagai kampus di seluruh Indonesia. Eni adalah penulis buku laris Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007). Saat ini ia tengah menyelesaikan buku motivasi kedua dan ketiganya. Silahkan hubungi Eni di ek_virgeus[at]yahoo[dot]co[dot]id atau enikusuma[at]ymail[dot]com , HP: 081 389 641 733.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Kepuasan Memberikan Kenyamanan?

Eni KusumaOleh: Eni Kusuma*

Merasa puas dengan apa yang dimiliki dan merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki, sama-sama tidak bisa memberikan kenyamanan. Yang bisa memberikan kenyamanan adalah yang memiliki kedua-duanya.”
~ Eni Kusuma

Jika Anda bingung dengan judul dan ungkapan saya di atas, Anda tidak sendirian. Saya sendiri mulanya juga bingung dengan apa yang saya utarakan tersebut. Namun, setelah saya pelajari saya pun mengerti.

Sejak kita masih TK, kita tentu mengenal anjuran yang selalu dikhotbahkan oleh orang tua kita dan mungkin orang lain yang menasihati untuk selalu merasa puas dengan apa yang dimiliki. Dengan demikian, kita akan merasa nyaman, damai, dan tenteram dalam menjalani hidup. Cara berpikir dan cara pandang seperti ini sudah lumrah oleh kebanyakan orang. Bersedihlah, dan Anda salah satunya akan mendapatkan pencerahan seperti ini.

Tetapi, nasihat ini akan membuat Anda merasa nyaman untuk sesaat. Kenapa sesaat? Karena, dengan merasa “puas terhadap apa yang dimiliki” saja, Anda tidak akan berkembang, bisa-bisa mundur. Sedangkan orang yang berkembang maju adalah orang yang merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki. Anda tentu tahu, tidak bisa berkembang akan menimbulkan ketidaknyamanan. Itulah kenapa anjuran “puas terhadap apa yang dimiliki” akan memberikan kenyamanan sesaat, dan Anda akan kembali merasa tidak nyaman.

Hidup ini dinamis bukan statis. Kita harus mengambil prinsip dan strategi sekalipun berlawanan; kita ambil dua-duanya agar bisa kita terapkan dalam kenyanaman hidup kita.

Mari kita ambil contoh sebagai pembelajaran kita. Orang-orang yang berpikir “puas terhadap apa yang dimiliki” berbunyi: “Renungkanlah dunia seisinya. Banyak dipan-dipan putih di rumah sakit ditiduri oleh ribuan manusia yang terkena penyakit ringan maupun yang mematikan. Banyak penjara yang terdapat ribuan manusia di belakang terali besi, yang hidup nista dan tidak menikmati kehidupan mereka. Banyak rumah sakit jiwa yang dihuni oleh orang yang kehilangan akal sehatnya. Adanya bencana, perang, dan seterusnya. Bukankah di sini kita terlindungi, selamat, sehat, baik, tentram, aman, dan damai meski kita hidup sangat sederhana? Toh, kita mati juga tidak membawa harta, istana, atau pesawat pribadi? Yang kita bawa hanya selembar kain putih. Jadi, bersyukurlah dan puaslah dengan apa yang telah engkau miliki.”

Tidak ada yang salah dengan pikiran di atas, malah kedengarannya sangat menenteramkan hati dan membuat kita nyaman. Karena, memang demikian adanya. Tetapi, pikiran semacam ini memicu timbulnya kemalasan, yaitu “Tidak aku lakukan sesuatu yang akan mengorbankan tidur nyenyak dan istirahatku karena aku bersyukur dan puas dengan apa yang aku miliki.”

Sayang sekali, di saat orang-orang di sekitar kita berkembang pesat dengan kekayaan, karya, dan prestasi yang luar biasa, kita hanya berjalan di tempat. Apakah kita akan terus merasa nyaman dengan terus berjalan di tempat dan berputar-putar pada pola yang sama tanpa ada perkembangan?

Berpikir puas terhadap apa yang dimiliki adalah sangat penting. Cara pandang seperti itu begitu indah dan menntramkan hati. Tetapi, bisa juga dibelokkan menjadi cara mudah untuk menutupi kemalasan! Padahal, konsep ini begitu agung, tetapi sayangnya juga tercemar oleh orang yang tidak mau repot dan malas berjuang.

Apakah itu anak-anak kita yang mengatakan, “Sudahlah, Ma. Dapat nilai enam juga mesti bersyukur, karena banyak lho, teman-temanku yang mendapat nilai dibawah itu.” Atau, suami kita yang bilang, “Sudahlah, Ma. Kita harus melihat ke bawah, jangan melihat ke atas. Kita harus bersyukur dan puas dengan pekerjaan Papa, meskipun pas-pasan. Banyak lho, orang yang kena PHK, kabarnya ribuan.”

Sebaliknya, berpikir tidak puas dengan apa yang dimiliki sudah dicap sebagai sesuatu yang berdosa, karena berarti keserakahan dan ketamakan, yang berarti pula tidak mau mensyukuri apa yang telah dianugerahkan Tuhan padanya.

Untuk orang-orang yang memuja berpikir “puas terhadap apa yang dimiliki” serta meremehkan cara berpikir “tidak puas dengan apa yang dimiliki”, silakan menjadi orang-orang yang biasa-biasa saja.

Berpikir “puas terhadap apa yang dimiliki” hendaknya dijadikan sebagai pertahanan diri atau antisipasi untuk menghadapi berbagai kemungkinan terjadinya kesulitan dan kegagalan dalam proses pencapaian cita-cita. Jadi, kita tidak akan merasa bersedih atau depresi.

Karena itu, berpikirlah “tidak puas terhadap apa yang dimiliki”, karena pikiran ini akan memberi landasan bagi keoptimisan kita dalam pencapaian cita-cita. Dan, berpikirlah “puas terhadap apa yang dimiliki” untuk antisipasi dalam munculnya berbagai penderitaan yang ada. Milikilah kedua-duanya untuk keseimbangan yang akan memberikan kenyamanan hidup Anda! Bukankah, demikian?[ek]

* Eni Kusuma adalah nama pena Eni Kusumawati, perempuan kelahiran Banyuwangi, 27 Agustus, 31 tahun yang lalu. Ia berangkat dari menulis puisi dan fiksi. Puisinya dibukukan bersama seratus penyair Indonesia dengan judul Yogya, 5,9 Skala Richter, sementara cerita fiksinya bertebaran di berbagai media dan juga dibukukan. Ia bercita-cita mendirikan sekolah gratis dan rumah baca di Banyuwangi. Pendidikan formal terakhir di SMUN 1, Banyuwangi (1995). Sementara, pendidikan nonformalnya, S-1 di Pembelajar.Com (2006 sampai sekarang), dan S-2 di Andaluarbiasa.Com (15 Januari 2009 sampai sekarang). Eni menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong tahun 2001-2007. Eni, yang ketika kecil menderita gagap bicara ini, kini menjadi seorang motivator dan telah memberikan seminarnya di berbagai perusahaan, lembaga sosial, birokrasi pemerintahan, serta berbagai kampus di seluruh Indonesia. Eni adalah penulis buku laris Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007). Saat ini ia tengah menyelesaikan buku motivasi kedua dan ketiganya. Silahkan hubungi Eni di ek_virgeus[at]yahoo[dot]co[dot]id atau enikusuma[at]ymail[dot]com , HP: 081 389 641 733.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Nyaman dengan Menjadi Orang Baik

Eni KusumaOleh: Eni Kusuma*

Menjadi orang baik sebenarnya sebuah proses untuk kembali

kepada fitrah kita sebagai manusia yang sesungguhnya.

~ Eni Kusuma

Konon, menjadi orang yang baik itu sulit dan identik dengan menderita, sehingga sangat tidak nyaman. Betapa tidak menderita, jika menjadi orang baik itu harus mengalah, sabar, menahan diri, jujur, tidak egois, bahkan tidak memikirkan kesenangan pribadi. Apalagi, jika kita dicekoki tayangan-tayangan televisi seperti sinetron yang memperlihatkan betapa menderitanya menjadi orang baik, selalu menjadi bulan-bulanan tokoh antagonis atau tokoh jahat. Akhir cerita pun juga tidak nyaman yaitu harus memaafkan, yang merupakan bagian dari sifat orang baik. Benarkah menjadi orang baik sangat tidak nyaman?

Menjadi orang baik sebenarnya sebuah proses untuk kembali kepada fitrah kita sebagai manusia yang sesungguhnya. Maka, manifestasi dari sifat baik adalah berbuat baik pada diri sendiri, berbuat baik pada orang lain, berbuat baik pada lingkungan, dan mengikhlaskan ketaatan kepada Sang Pencipta, secara seimbang. Jika orang lain kita anggap atau kita nilai tidak baik, tidak adil terhadap kita, itu bukan urusan kita. Urusan kita adalah menjaga agar kita tetap menjadi orang baik dengan mengendalikan diri agar keseimbangan emosi kita tetap terjaga.

Di hari Minggu, Anda ingin bersama kekasih Anda. Tetapi, di telepon ia mengatakan bahwa ia harus mengantar ibunya berbelanja, setelah itu ia harus menemui dosennya untuk membicarakan skripsinya. Daripada bete, Anda berinisiatif makan siang sendiri di restoran. Sebenarnya, restoran itu tempat favorit Anda bersama sang kekasih. Tak disangka, ketika Anda baru saja memasukkan makanan ke dalam mulut, Anda melihat sosok yang Anda kenal dengan seorang perempuan.

Ternyata kekasih Anda sedang makan di situ dengan perempuan lain. Anda tidak beranjak untuk memastikan apakah perempuan seusia Anda itu hanya teman atau kekasihnya. Dari tingkah lakunya, Anda pun bisa memastikan jika perempuan itu kemungkinan adalah kekasihnya. Anda pun kemudian meneleponnya melalui HP. Dan jawabannya sama, ia sedang berada di supermarket bersama ibunya. Apa reaksi Anda selanjutnya?

Saya tidak heran jika Anda marah dan jengkel. Saya pun maklum jika Anda ingin melabrak mereka habis-habisan. Anda pun berpikir, betapa tega kekasih Anda, sedangkan Anda sudah berusaha menjadi yang terbaik baginya. Banyak di antara kita jika mendapati situasi yang sama seperti di atas, akan langsung kehilangan kontrol diri dan marah-marah pada pasangan yang sudah terang-terangan tidak jujur itu.

Tetapi, jika Anda tetap tenang menghadapi kejadian seperti itu dengan mempersepsi bahwa pasangan Anda itu bukan yang terbaik bagi Anda, dan Anda sangat beruntung mengetahuinya sekarang daripada mengetahuinya setelah Anda menikah dengannya. Maka, Anda akan dengan sangat mudah mengambil keputusan dan tindakan.

Suatu hari, Anda diundang makan malam oleh seorang teman yang sangat berterima kasih kepada Anda karena kebaikan Anda yang telah membantunya. Anda disuguhi sate daging, menu kesukaan Anda. Setelah selesai acara makan malam, tiba-tiba teman Anda mengatakan jika daging sate itu adalah daging tikus. Apa reaksi Anda? Mungkin Anda mual mau muntah. Saya juga tidak heran jika Anda pun marah dan jengkel karena teman Anda telah “ngerjain” Anda. Ada dua kemungkinan. Pertama, daging itu bukan daging tikus, dan yang kedua daging itu benar-benar daging tikus. Tetapi terlepas dari itu semua, toh semua sudah terlanjur dan percuma kalau marah-marah. Jika Anda tetap terkendali, maka teman Anda yang “ngerjain” itu akan heran dan salut terhadap Anda.

Jika kita menemui kejadian yang kita rasa tidak adil, dan kita melampiaskan kemarahan dan kejengkelan kita, kita sebenarnya sedang membangun ‘penderitaan’. Demikian juga jika kita terpaksa “menahan diri” untuk tidak melampiaskan amarah dan kejengkelan kita, kita juga sebenarnya sedang membangun ‘penderitaan’.

Yang pertama, jika kita marah tak terkendali dan terlampiaskan, maka dampak lanjutannya ialah sistem hormonal dalam tubuh kita berjalan tidak wajar, sehingga kita tidak hanya sakit secara mental-emosional, tetapi juga secara fisik. Yang kedua, jika kita terpaksa “menahan diri”, maka kita sangat tidak nyaman dalam menjalaninya karena yang dilakukan hanyalah keterpaksaan. Padahal mestinya ‘pengendalian diri’ untuk sabar, mengalah, dan lain-lain tidak membawa kita kepada belenggu yang menyengsarakan, melainkan membawa kita kepada ‘kebebasan’ yang membahagiakan. Pengendalian diri yang baik adalah yang bisa membawa kita kepada kebahagiaan dan kenyamanan hidup ketika kita bisa berlaku tidak emosional.

Ada keuntungan-keuntungan yang kita peroleh jika kita tidak emosional:

1. Fisik dan psikis lebih sehat

Apabila kita memikirkan keadaan sakit, pertama kali selalu terpikirkan oleh kita adanya luka atau rasa sakit di luar maupun di dalam badan sebagai penyebabnya. Tetapi aspek mental, pikiran, dan perasaan kita yang tidak seimbang yang disebabkan oleh ketidakmampuan kita mengendalikan emosi juga dapat menimbulkan rasa sakit dan penderitaan, walaupun secara klinis tidak ada yang “salah” dengan fisik kita. Tetapi jika mental, pikiran, dan perasaan kita seimbang karena kemampuan kita mengendalikan emosi, maka kita akan sehat baik fisik maupun psikis.

2. Pikiran lebih jernih

Kita tahu pikiran jernih disebabkan oleh dua hal, pertama karena makan tidak terlalu kenyang, sehingga tidak akan mengganggu kerja otak yang disebabkan oleh kantuk. Yang kedua karena emosi yang rendah. Karena emosi yang tinggi menyebabkan kita suntuk, jengkel, dan tidak terkontrol sehingga pikiran kita tidak jernih. Maka, seseorang yang tidak makan terlalu kenyang dengan emosi yang rendah atau terkendali ditengarai lebih jernih dalam menghadapi segala macam persoalan hidup.

3. Sikap lebih bijaksana

Jika pikiran kita jernih maka kita akan bijaksana. Sebaliknya, jika kita tidak bisa berpikir jernih, sudah dipastikan tidak bijaksana.

Terbukti, kan jadi orang baik yaitu sabar, mengalah, tenang, dan bijaksana membuat kita menjadi nyaman dalam menjalani hidup, bukannya menderita. Bahkan, lebih banyak manfaatnya daripada ruginya.Yang jelas, emosi yang tinggi lebih banyak ruginya. Bagaimana menurut pendapat Anda?[ek]

* Eni Kusuma adalah nama pena Eni Kusumawati yang lahir di Banyuwangi pada 27 Agustus, 31 tahun yang lalu. Ia berangkat dari menulis puisi dan fiksi. Puisinya dibukukan bersama seratus penyair Indonesia “Yogya, 5,9 skala richter”, sementara cerita fiksinya bertebaran di berbagai media dan juga dibukukan. Ia bercita-cita mendirikan sekolah gratisdan rumah baca di daerahnya di Banyuwangi. Pendidikan formal terakhir di SMUN 1, Banyuwangi, lulus tahun 1995. Sementara, pendidikan nonformalnya, S-1 di Pembelajar.Com (2006 sampai sekarang), dan S-2 di Andaluarbiasa.Com (15 Januari 2009 sampai sekarang). Eni menjadi pembantu rumah tangga di Hong Kong tahun 2001-2007. Eni, yang ketika kecil menderita gagap bicara ini, kini menjadi seorang motivator dan telah memberikan seminarnya di berbagai perusahaan, lembaga sosial, birokrasi pemerintahan, serta berbagai kampus di seluruh Indonesia. Eni adalah penulis buku laris Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007). Silahkan hubungi Eni di ek_virgeus@yahoo.co.id atau enikusuma@ymail.com , HP 081 389 641 733. Website: Pembelajar.com dan Andaluarbiasa.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (16 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +9 (from 11 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox