Satelit Swasta Indonesia Pertama

eksOleh: Enggar Kusumaningsiwi*

Kegiatan pemanfaatan dan penggunaan ruang angkasa yang dilakukan oleh umat manusia sudah berlangsung lama dan merupakan suatu kegiatan yang tak asing lagi bagi kita. Pada kegiatan pemanfaatan dan penggunaannya yang tergolong matang dalam praktik adalah peluncuran satelit telekomunikasi. Sebenarnya, peluncuran satelit dengan kegunaan bertelekomunikasi termasuk golongan kegiatan yang bersifat komersial.

Tujuan dari kegiatan peluncuran ini adalah mendapatkan penerimaan sinyal yang baik di bumi yang akan digunakan di setiap kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh manusia. Mungkin bisa diambil contoh, saat kita menonton televisi, tentunya kita membutuhkan penerimaan sinyal yang baik sehingga kita dapat menikmati semua tayangan yang kita pilih dengan nyaman.

Belum lama ini seperti yang kita ketahui dari banyak media, baik media cetak maupun elektronik, Indonesia telah sukses meluncurkan satu lagi satelit telekomunikasi. Sebenarnya, Indonesia telah memiliki beberapa satelit telekomunikasi. Satelit terbaru yang diberi nama Indostar II ini sebenarnya bukan milik pemerintah, namun bisa dikatakan merupakan satelit satu-satunya yang dimiliki oleh perusahaan swasta berbadan hukum di Indonesia, yaitu PT MNC Sky Vision.

Untuk merealisasikan niatnya, PT MNC mengadakan kerjasama internasional dengan beberapa negara. Perusahaan Boeing asal Amerika Serikat yang telah terdengar gaung namanya merupakan pihak yang ditunjuk untuk membuat satelit telekomunikasi milik PT MNC ini. Satelit Indostar II merupakan satelit telekomunikasi berjenis S-Band terbesar di dunia saat ini. Selain memasarkan dan menjual produknya, perusahaan Boeing juga memiliki fasilitas pembuatan, perakitan, penggabungan, dan pengetesan satelit yang di pesan oleh banyak negara di dunia.

Semua kegiatan pemanfaatan dan penggunaan ruang angkasa seperti peluncuran satelit dalam prosesnya untuk bisa berada pada orbit bumi, tentunya memerlukan sebuah roket pendorong. PT MNC memutuskan menggunakan roket jenis Breeze-M buatan Khrunichev State Research asal Rusia. Yang utama dari proses peluncuran ini adalah menentukan di mana lokasi peluncuran satelit tersebut sehingga satelit bisa berada pada orbit bumi yang telah ditentukan. Walaupun wilayah negara Indonesia terbentang luas dari Sabang sampai Merauke, namun PT MNC setuju untuk melaksanakan peluncuran satelitnya di Boikonur, Kazakhstan.

Keunggulan tehnologi yang diberikan oleh satelit Indostar II tak hanya akan dinikmati oleh masyarakat di Indonesia saja. Ada beberapa negara lain yang telah meminta untuk dapat menikmatinya pula. Negara-negara tersebut antara lain India, Philipina, dan Taiwan. Dalam penggunaannya, negara-negara tersebut tidak akan menikmati layanan tayangan acara Indovision seperti di Indonesia, namun mereka akan memanfaatkannya sebagai layanan internet dengan berkecepatan tinggi.

Pada setiap kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat apalagi masyarakat dunia, tentunya akan selalu berkaitan dengan adanya hukum yang mengatur. Sehingga, semua dapat memperoleh kebaikan dan kenyamanan bersama. Begitu pula dengan kegiatan pemanfaatan dan penggunaan ruang angkasa pun telah diatur secara internasional sejak tahun 1967. Aturan tersebut adalah Treaty on Principles Governing the Activities of States in the Exploration and Use of Outer Space, Including the Moon and Other Celestial Bodies, atau yang biasa di kenal dengan Outer Space Treaty 1967.

Seperti yang termaksud dalam pasal 1 Outer Space Treaty 1967, Semua kegiatan pemanfaatan dan penggunaan ruang angkasa harus dimaksudkan untuk memberikan kebaikan bagi umat manusia. Selayaknya pula dapat memberikan kebaikan dan kemajuan manusia di bidang ekonomi dan ilmu pengetahuan dan tehnologi, dengan tidak melupakan adanya kewajiban untuk saling menghormati hak dan kewajiban negara masing-masing. Sehingga, mereka dapat melakukan penelitian dan investigasi secara maksimal di Ruang Angkasa melalui kegiatan yang mereka lakukan.

Selain daripada itu, kegiatan pemanfaatan dan penggunaan ruang angkasa tidak boleh memberlakuan diskriminasi, bahwa semua negara di dunia harus mendapatkan perlakuan dan kesempatan serta hak kebebasan yang sama dalam melaksanakan kegiatan pemanfaatan dan penggunaan ruang angkasa tersebut seperti yang diatur dalam hukum internasional.

Kerjasama internasional pun disebut dalam pasal 1, Outer Space Treaty 1967 tersebut. Pada saat negara memutuskan untuk melakukan kegiatan pemanfaatan dan penggunaan ruang angkasa, hampir dari semua negara di dunia mempertimbangkan untuk mengadakan kerjasama dengan negara lain. Karena kegiatan ini termasuk kegiatan yang dapat menelan biaya yang sangat tidak sedikit jumlahnya. Oleh karena itu, pasal I ini memungkinkan adanya kerjasama internasional untuk pelaksanaannya. Sehingga, pelaksanaannya tidak akan terhalangi karena adanya berbagai macam alasan teknis. Dan, dengan memilih negara-negara yang telah berpengalaman pun turut menunjang keberhasilan peluncuran satelit Indostar II ini.

Dari aturan yang telah ditentukan tertulis dalam pasal 1, Outer Space treaty 1967, kegiatan pemanfaatan dan penggunaan ruang angkasa dengan diluncurkannya satelit telekomunikasi Indostar II ini, bahwa Indonesia melalui badan hukum swastanya, PT MNC Sky Vision telah ikut melakukan usaha kemanusiaan untuk kemajuan di bidang ekonomi dan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Kegiatan yang dilakukan pun tidak menyimpang atau menyalahi aturan hukum internasional. Sehingga, kebaikan yang menyertai kegiatan tersebut dapat dinikmati pula oleh negara lain di Asia.

Penggunaan satelit ini masih harus menunggu badan objek luncur dari satelit Indostar II berada mapan pada posisi yang telah ditentukan. Tidak hanya keberhasilan proses peluncuran saja yang meminta perhatian, namun hal-hal yang terkait dengan pasca peluncuran satelit Indostar II pun tetap memerlukan perhatian yang cukup besar dari negara penyelenggara kegiatan peluncuran tersebut.

Akhir kata, selamat kepada PT MNC Sky Vision atas keberhasilannya meluncurkan satelit telekomunikasi Indostar II. Semoga sukses dan maju terus di bidangnya. Dan, selamat menikmati tayangan dengan gambar yang baik dengan pilihan channel yang banyak kepada para pelanggan Indovision di Indonesia.[eks]

* Enggar Kusumaningsiwi, SH. LL.M, Alumnus Magister Hukum, Universitas Leiden, Negeri Belanda, Jurusan Hukum Internasional Udara dan Angkasa, kontak: ciplat4[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Lagi-lagi Pesawat Terbang Jatuh

eksOleh: Enggar Kusumaningsiwi*

Dulu, dapat terbang di langit menembus awan merupakan keajaiban bagi kita. Sekarang ini, bisa dikatakan berkilo-kilometer jauhnya terbang sudah tidak menghadapi kendala lagi. Dari fasilitas yang ditawarkan oleh maskapai penerbangan selama perjalanan, sampai dengan kecanggihan teknologi pesawatnya pun dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi para penumpangnya. Sehingga, para penumpang bebas menentukan maskapai mana yang mereka pilih untuk dapat mengantar mereka ke tempat tujuan.

Dalam kegiatan kita sehari-hari, pastilah tak lepas dari adanya hukum yang mengatur tindak tanduk kita dalam hidup bermasyarakat. Begitu pula dengan kegiatan penerbangan. Untuk dapat melakukan kegiatan itu, kita pun diberi aturan hukum yang dapat memberikan pakem yang berguna untuk memberikan kenyamanan bagi para pelaku kegiatan penerbangan. Konvensi Chicago tahun 1944 tentang Penerbangan Sipil Internasional, ada dan mengikat bagi negara-negara pesertanya.

Tidak menutup kemungkinan, negara-negara di dunia mengadakan kesepakatan untuk kerjasama internasional di bidang penerbangan, baik itu kerjasama bilateral maupun multilateral. Isi pokok dari kesepakatan-kesepakatan yang dibuat berdasarkan kerjasama internasional, sebenarnya adalah saling sepakat untuk memberikan izin kepada maskapai-maskapai negara penandatangan kesepakatan untuk melintas di atas wilayah kedaulatan masing-masing negara tersebut. Dengan demikian, memungkinkan banyak maskapai penerbangan dapat terbang melayani masyarakat dunia untuk melakukan segala aktivitasnya dari satu negara ke negara lain.

Dapat terbang dari satu negara ke negara lain secara garis besar memang menyenangkan. Kita dapat memperoleh pengalaman yang berbeda-beda dengan beragam layanan maskapai penerbangan yang kita dapat. Namun, bagaimana bila selama perjalanan menggunakan pesawat terbang kita mengalami kecelakaan?

Pesawat terbang milik maskapai penerbangan Air France mengalami kecelakaan baru-baru ini. Diberitakan 228 orang penumpangnya dipastikan tidak selamat. Kecelakaan tersebut dialami saat mereka sedang melakukan perjalanan dari Rio de Janeiro, Brazil ke Paris, Perancis. Seperti yang diberitakan di media-media, bahwa pesawat terbang tersebut jatuh di Laut Atlantik sesaat setelah mengalami guncangan hebat akibat adanya cuaca buruk yang terjadi. Dari hasil kontak terakhir dengan awak ruang kendali pesawat dilaporkan bahwa pesawat tersebut mengalami kegagalan dalam teknis listrik. Karena adanya kondisi cuaca buruk, kondisi terakhir yang terekam di menara kontrol menyatakan bahwa pesawat terbang tersambar petir.

Kecelakaan yang terjadi ini merupakan kecelakaan terburuk bagi perusahaan maskapai Air France, dan terburuk pula sepanjang sejarah dunia penerbangan sejak tahun 2001. Tentunya, Perancis sebagai negara asal maskapai penerbangan tersebut melakukan pencarian badan pesawat yang telah jatuh itu. Negara di sekitar lokasi kejadian pun dengan segera melakukan pencarian lokasi jatuhnya pesawat. Brazil yang dibantu oleh Afrika Barat bahkan yang terlebih dulu mengadakan pencarian lokasi jatuhnya pesawat sebelum Perancis.

Setelah beberapa hari proses pencarian dilakukan, puing-puing dari badan pesawat terbang milik maskapai Air France akhirnya diketemukan. Semuanya jadi terlihat tak ada artinya bila dibandingkan dengan keadaan badan pesawat pada saat pesawat masih dalam keadaan utuh; besar dan perkasa. Dengan diketemukannya badan pesawat tersebutwalaupun sudah dalam keadaan porak porandanamun toh itu dapat memberikan perasaan lega kepada para pihak yang terkait dengan penerbangan berjadwal tersebut. Berita duka yang mendalam tak hanya dialami oleh pihak maskapai, namun juga oleh keluarga, teman, sahabat, maupun orang-orang terkasih kita yang menjadi penumpang di penerbangan berjadwal tersebut.

Bantuan yang diberikan dengan segera oleh negara-negara sekitar lokasi kejadian kecelakaan, dapat dikatakan menjadi kewajiban dari masyarakat dunia, terutama mereka para peserta Konvensi Chicago 1944. Sesuai dengan pasal yang terdapat dalam konvensi tersebut, bilamana terjadi kecelakaan pada pesawat terbang berjadwal, hendaknya segera dilakukan usaha pencarian di lokasi kecelakaan.

Semua fasilitas di negara sekitar lokasi kejadian kecelakaan wajib digunakan untuk secara bersama-sama mengadakan kerjasama mengadakan pencarian di mana badan pesawat terbang yang mengalami kecelakaan. Tindakan investigasi yang dilakukan oleh negara-negara sekitar lokasi kejadian kecelakaan, hendaknya mengutamakan sebuah kepentingan bersama untuk bergotong royong membantu satu sama lainnya, tanpa menutup-nutupi segala informasi yang telah mereka masing-masing dapatkan di lokasi kejadian kecelakaan pesawat.

Pencarian badan pesawat Air France yang mengalami kecelakaan pun harus sesuai dengan rekomendasi yang diberikan oleh ICAO (International Civil Aviation Organization). Negara tempat di mana pesawat terbang tersebut terdaftar, yaitu Perancis, hendaknya diberikan keleluasaan yang maksimal untuk dengan segera mengumpulkan semua informasi terkait yang mungkin di dapat oleh negara lain yang juga membantu melakukan pencarian bada pesawat yang jatuh.

Selain keleluasaan untuk memperoleh semua informasi tentang letak jatuh dan puing-puing dari badan pesawat, Perancis berhak diberi kesempatan luas untuk mengadakan observasi atas terjadinya kecelakaan pesawat terbang miliknya. Sehingga, fakta-fakta lengkap di lokasi terjadinya kecelakaan dapat diperoleh oleh Perancis.

Kesadaran akan keselamatan bersama hendaknya memang harus diutamakan, tanpa kita harus melihat siapa, apa, dan bagaimana si korban dari kecelakaan tersebut. Konvensi Chicago 1944, secara tegas mengatur bahwa adanya gotong royong dalam bidang penerbangan akan membawa sebuah kemenangan yang luar biasa hebat bagi masyarakat dunia. Semua tentunya juga tak lepas dari kita untuk tetap saling menghormati satu sama lainnya atas wilayah kedaulatan negara di dunia.

Apa yang sudah didapati oleh Perancis, Brazil, dan Afrika Barat atas pencarian pesawat Air France merupakan pelaksanan prinsip yang tertulis dalam Konvensi Chicago 1944. Dengan adanya kesadaran untuk bergotong royong dalam pencarian badan pesawat Air France maka makin efisien pula waktu, tenaga, dan tentunya biaya pencarian. Pemerintahan negara mereka pun, melalui instansi-instansi terkait, tentunya secara serta merta turut andil dalam melakukan pencarian. Pihak angkatan bersenjata pun ikut mambantu dalam proses pencarian. Semoga kesadaran akan keselamatan bersama atas fasilitas bersama ini, seperti pesawat terbang, dapat senantiasa dijaga bersama dan kita dapat memperoleh manfaat yang maksimal untuk masa yang akan datang. Maju terus dunia penerbangan, jayalah di udara.[eks]

* Enggar Kusumaningsiwi adalah alumnus Magister Hukum Internasional Jurusan Hukum Udara dan Angkasa, Universitas Leiden, Belanda. Enggar tinggal di Cipinang Latihan, Jakarta, dan dapat dihubungi melalui Hp: 085888551098.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox