Mengapa LoA Tidak Bekerja?

aasOleh: Ade Asep Syarifuddin*

TEMAN saya yang pernah menonton film The Secret sekaligus membaca bukunya protes kepada saya bahwa Law of Attraction (LoA) atau hukum tarik menarik sama sekali tidak bekerja. Dirinya melakukan semua saran dan tahapan-tahapan yang disarankan di dalam film itu. Mulai dari meminta, menerima, dan merasakan seolah-olah sudah terwujud.

Kemudian saya tanyakan apakah dirinya masih memiliki ganjalan hati sehingga tidak merasa bahagia, tidak merasa damai? Dari situ dia merenung sejenak, kemudian terlihat matanya menerawang masa lalunya. Dengan kalimat yang terbata-bata dia mengatakan bahwa dia memang memiliki dendam kepada seseorang. Sampai sekarang dendam itu belum juga hilang dari ingatannya. Bahkan dia pernah bersumpah, sebelum membalas dendam itu, dia tidak akan melupakan kejadian yang menyakitkan tadi.

Pertanyaan berikutnya, apakah LoA itu memang tidak bekerja atau memang kita sendiri yang menghambat kerja LoA? Dalam kasus ini teman saya memiliki energi negatif yang terus-menerus disimpan di dalam tubuhnya sehingga dia sama sekali tidak merasakan kebahagiaan. Bisa jadi yang menghambat terwujudnya hukum tarik-menarik adalah dendam yang tersimpan tadi. Hukum tarik-menarik ini tidak pernah berhenti bekerja, persis seperti hukum gravitasi atau hukum sebab akibat. Bila terlihat tidak bekerja dipastikan ada persoalan di dalam diri kita.

Coba bandingkan kalau kita memiliki sebuah magnet, tetapi sayangnya magnet tersebut sangat kotor dan penuh dengan tanah dengan ketebalan tidak kurang dari 1 sentimeter. Pertanyaannya, apakah magnet tersebut masih bisa bekerja secara efektif, menarik benda-benda seperti besi atau tidak? Bisa dipastikan cara kerja magnet tersebut sudah berkurang kekuatannya atau bahkan tidak bisa lagi menarik besi. Sebab, terhalang oleh kotoran tadi.

Coba magnet tersebut dibersihkan bisa dengan cara dicuci, dilap sampai kotoran-kotoran dan tanah yang menempel tadi terlepas. Sekarang, coba lagi apakah magnet tersebut bisa menarik besi atau tidak. Ternyata, magnet tadi sudah bisa bekerja sesuai dengan “fitrahnya”. Bahkan, kekuatannya terasa lebih besar. Sama halnya dengan hukum tarik-menarik, kalau di dalam diri kita banyak kotoran negatif apakah itu trauma, dendam, kebencian, atau energi negatif lainnya, bisa dipastikan kita tidak bisa menarik sesuatu yang kita inginkan. Kemudian, bagaimana caranya agar kita bisa kembali menarik segala sesuatu yang kita inginkan sesuai dengan hukum tarik-menarik?

Pembersihan. Benar sekali pembersihan. Persis seperti magnet yang dibersihkan tadi. Di dalam diri manusia juga banyak sekali kotoran negatif, baik yang terasa maupun yang tidak terasa. Apa saja? Bisa luka lama seperti trauma masa lalu, benci kepada seseorang, iri, berburuk sangka, dll. Berapa kali harus membersihkan dan siapa yang tahu kalau kita sudah bersih? Ini bukan membersihkan lantai atau kamar mandi. Kita bisa melihat kotoran dan noda-moda dengan mata kita. Ini membersihkan rasa, kita tidak bisa melihat secara langsung.

Tetapi, ada cara untuk mengetahui apakah yang kita bersihkan sudah benar-benar bersih atau tidak, yaitu lewat perasaan kita. Kalau perasaan kita masih galau, bingung, tidak nyaman, khawatir, itu pertanda bahwa hati kita belum bersih. Tetapi, kalau perasaan kita sudah gembira, damai, bahagia itu adalah suatu pertanda bahwa hati kita berangsur-angsur mulai bersih. Indikator perasaan ini yang harus selalu dikontrol oleh kita untuk mengetahui sejauh mana tingkat kebersihan pikiran dan hati kita.

Pertanyaan lainnya, bagaimana cara membersihkannya? Ini juga hal penting sehingga kita tidak ragu-ragu untuk membersihkannya. Secara sederhana pembersihan luka di hati bisa dikatakan mudah bisa juga sulit. Mengapa demikian, kalau seseorang sudah berniat untuk membersihkan dendam kepada seseorang maka prosesnya menjadi lebih cepat. Secara teknis, carilah tempat yang nyaman, duduk dalam posisi yang enak, tarik napas dalam dalam beberapa kali, dan keluarkan secara pelan-pelan. Lakukan beberapa kali sampai tubuh benar-benar terasa nyaman.

Setelah masuk dalam kondisi yang nyaman mulailah kita meniatkan diri untuk membersihkan segala energi negatif. Sampai di sini kita harus mengidentifikasi ada berapa energi negatif yang menjadi beban pikiran. Kalau kita merasa hanya ada satu energi negatif, benci kepada seseorang misalnya, maka mulailah berniat melepaskan kebencian tadi. “Saya berniat melepaskan kebencian kepada seseorang.” Ulangi beberapa kali sampai merasa ada sesuatu yang keluar dari dalam tubuh kita baik lewat telapak kaki maupun lewat kepala.

Rasakan, apakah beban sudah berkurang? Kemudian dilanjutkan lagi dengan kata-kata, “Saya menyayangi orang tersebut, seperti saya menyayangi diri sendiri dan keluarga. Karena, saya tahu bahwa dia adalah orang yang baik.” Rasakan kembali apakah beban yang ada berangsur-angsur mulai berkurang? Lanjutkan dengan kata-kata, “Maafkan saya kalau selama ini saya membenci Anda. Saya sudah melakukan perbuatan dosa.” Diakhiri dengan kata-kata, “Terimakasih ya Tuhan, Engkau sudah memberikan berkah dan nikmat yang tiada terhingga kepada saya.”

Rasakan apa perubahan yang terjadi dalam diri kita ketika melalui proses pembersihan tadi. Ulangi beberapa kali dalam sehari, kalau sudah merasakan bahagia, damai, lakukan hal tadi untuk kepentingan pembersihan diri atas energi negatif yang nyangkut di dalam pikiran dan hati yang terjadi setiap hari. Ketika hari-hari kita diisi dengan hati dan perasaan yang damai, bahagia, senang di situlah hukum tarik-menarik mulai akrab dengan kita. Dan, niatkan untuk meminta sesuatu, kemudian serahkan kepada Yang Mahakuasa dan lupakan.

Apa yang terjadi? Rasakan saja sendiri, Anda pasti akan menemukan sesuatu yang selama ini Anda idam-idamkan. Salam damai, bahagia. Saya menyayangi Anda, terimakasih, dan mohon maaf.[aas]

* Ade Asep Syarifuddin adalah Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan, bisa dihubungi di asepradar[at]gmail[dot]com atau http://langitbirupekalongan.blogspot.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox