Don’t Open Your Mouth When …

eaeOleh : Emmy Angdyani Erawati*

Ketika saya membuka e-mail lama yang masuk ke inbox saya, saya tertarik membaca kembali e-mail yang dikirim oleh seorang teman. “Don’t open your mouth when : “, demikian judulnya. Ada lebih kurang 15 point singkat petunjuk praktis tentang judul di atas.

01. In the heat of anger

Jika panas sudah sampai di ubun-ubun, hati kita sudah panas mendidih, tentu Anda setuju siapa pun dan sepandai-pandainya orang me”manage” hati, pasti kecenderungan kalimat yang kontraproduktif bahkan destruktif akan terlontarkan.

02. When you don’t have all the facts and you haven’t verified the story .

Check and recheck mungkin itu singkatnya. Acapkali kita sudah memperbincangkan bahkan telah membroadcast kemana-mana, padahal kevalidan berita atau cerita belum ada.

03. If you can’t say it without screaming it.

Saya pernah mendapat pertanyaan dari mentor rohani saya begini, “Mengapa jika dua orang bertengkar, maka volume suara akan begitu keras, bahkan sampai berteriak-teriak?” Jawabannnya adalah karena secara fisik ke dua orang itu berdekatan, tapi jiwa ke dua orang itu berjauhan sehingga dalam menyampaikan sesuatu , satuan “decibel” suara akan berlipat agar sampai kepada lawan bicara. Biasanya naiknya emosi berbanding lurus dengan volume suara.

04. If you would be ashamed of your words later or you may eat your words later

Istilah yang umum dipakai adalah “menjilat ludah sendiri”. Lebih baik tidak berkata apa-apa dari pada kita sendiri yang malu di kemudian hari. Atau pepatah “mulutmu harimaumu” juga tepat dikaitkan dengan point ini.

05. If your words will damage a friendship

Tidak jarang pertemanan atau relationship lainnya yang sudah dibangun dengan susah payah seringkali ternodai karena kita tidak mampu mengendalikan kata kata yang keluar dari mulut kita.

06. If your words will damage someone else’s reputation

Biasanya diawali dengan “bisik bisik” menceritakan kejelekan atau aib orang lain, lama-kelamaaan reputasi orang lain akan tercoret dengan tinta merah. Berawal dari bisik-bisik, secara sistemik akan mampu merusak reputasi seseorang. Bukankah ini berarti secara sistemik pula kita menghancurkan hidup orang lain?

Ada pepatah yang mengatakan: “Pikiran hebat membicarakan ide, pikiran biasa membicarakan kejadian, pikiran bodoh membicarakan orang.” Tentu membicarakan orang di sini dalam konotasi membicarakan kejelekan atau aib orang. Apakah kita memilih untuk berpikiran bodoh?

07. It is time to listen

Ada waktu untuk berbicara, ada waktu untuk mendengar. Mengapa Tuhan menciptakan kita dengan dua telinga dan satu mulut, agar kita ingat bahwa kita perlu cepat mendengar dan lebih lambat untuk berbicara.

Jadi, jika saat kita membuka mulut, malah membuat panas suasana, mendemotivasi, tidak jelas kebenarannya atau membuat perpecahan, adalah lebih bijak jika kita berdiam diri.[eae]

* adalah seorang Insinyur Teknik Kimia yang lahir di Surabaya, 2 Maret 1969. Emmy adalah ibu dari seorang anak berusia 10 tahun dan pernah berkarier di perbankan selama sepuluh tahun. Sekarang ia bekerja di sebuah perusahaan pelayaran nasional di Surabaya sekaligus menjalankan wirausaha persewaaan mobil. Ia dapat dihubungi di Pantai Mentari M-40, Surabaya, HP: 081.2358.7773 atau pos-el: angdyany[at]telkom[dot]net.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.2/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +7 (from 11 votes)

Psy War

eaeOleh: Emmy Angdyani Erawati*

Suatu ketika, di kelas anak-anak di komunitas kami diumumkan bahwa akan ada lomba menghafal ayat. Siapa yang berhasil menghafal ayat terbanyak, dia akan mendapat hadiah berupa parcel berisi coklat, soft drink, dan beberapa makanan ringan yang lain. Jumlah ayat yang disiapkan oleh guru kelas ada 43 ayat, mulai dari yang sangat singkat sampai yang terdiri dari beberapa puluh kata.

Semua murid kelas yang berjumlah sekitar 12 orang sangat antusias merespon. Murid-murid diberi waktu dua minggu untuk menghafal ayat-ayat yang disediakan oleh guru kelas. Sistem penilaian diumumkan, yaitu menggunakan sistem lelang. Siapa penawar tertinggi, maksudnya yang berani menghafal ayat terbanyak di depan kelas, dialah yang akan tampil sebagai pemenang.

Minggu berikutnya ketika berada di dalam kelas, si A yang memang di kelas cukup menonjol dengan pertanyaan-pertanyaan yang kritis, mempropagandakan—pada akhirnya lebih tepat disebut memprovokasi—teman-teman sekelas bahwa ia sudah menghafal 42 ayat.

“Waduh…,” kata si B sambil garuk-garuk kepala karena bingung menanggapi.

“ Ha?!” sahut yang lain, sambil bengong terkagum-kagum.

“Kalahlah aku!” timpal si C, sambil cengar-cengir.

Kurang lebih seperti itulah respon yang muncul. Intinya, semua down, hilang semangat, dan terheran-heran mendengar kehebatan si A. Semua bingung bagaimana cara si A bisa menghafal 42 dari 43 ayat yang ada di hampir 5 lembar kertas tersebut dengan tepat. Semua terbius dengan propaganda si A, karena performance-nya yang memang seperti seperti di atas rata-rata. Jadi, semua percaya!

Anak saya sendiri sudah menyiapkan diri dengan menghafal 12 ayat. Sempat ada rasa percaya diri bahwa dia akan mampu bersaing dalam “lelang menghafal ayat”. Itu saat dia belum mendengar propaganda si A. Namun begitu mendengar cerita si A, anak saya termasuk kelompok yang hampir menyerah sebelum “lelang”. Mana cukup dengan modal 12 ayat bisa bersaing dengan 42 ayat?

Anak saya berhitung, mana mungkin dia bisa menghafal 43 ayat atau minimal 42 ayat agar bisa bersaing dengan si A? Impposible! Apalagi peserta yang tampil di lelang harus tampil perfect. Jika tidak bisa menghafal sesuai dengan jumlah ayat yang disampaikan di depan peserta dan panitia lelang, kesempatan langsung pindah ke penawar lain di bawahnya. Menunggu “kegagalan” si A? Menunggu muntahan bola kekeliruan si A? Sepertinya terlalu sulit. Itu yang ada di pikiran hampir semua murid kelas.

Anak saya hampir memilih tidak ikut lelang minggu depan. “Percuma saja,” katanya.

Ketika tiba hari perlombaan, iseng-iseng saya dekati si A. Saya menanyakan bagaimana caranya bisa menghafal 42 ayat dengan luar biasa. Ia terkekeh-kekeh.

“Aku cuma hafal dua, kok….”

Lho…? Katanya sudah hafal 42 ayat?”

“Biar teman-teman keder saja. Empatnya ngglundhung, tinggal dua,” katanya sambil tertawa lagi.

Dan ternyata benar, pada hari “lelang” si A memang tidak ikut lelang sama sekali. Ia cuma menonton! Si A memang kalah di “lelang” tetapi sebenarnya ia menang di psy war. Semua temannya sudah loyo sebelum bertanding karena “melihat” kekuatan lawan. Hampir saja semua menaruh senjata melihat kehebatan lawan, yang notabene belum teruji benar kesaktiannya. Aura kepiawaiannya dalam berkomunikasi dan propaganda sangat berpengaruh.

Beberapa murid sudah ciut nyalinya. Ia sudah menang satu sesi di pertandingan awal: psy war. Dan, ini jadi bagian yang penting untuk menjatuhkan mental lawan untuk sesi-sesi berikutnya. Di sisi lain, pesaing-pesaingnya terlalu mudah dipengaruhi oleh propaganda si A. Pada kenyataannya, semua hanya pepesan kosong.

Tentu kita punya pengalaman serupa, dengan kondisi yang mungkin berbeda. Berapa di antara kita yang give up melihat propaganda dari pesaing-pesaing yang ada. Hanya karena demikian kuat aura past performance-nya? Atau, kelebihan pada satu bidang, tetapi belum tentu di bidang yang lain, dan itu sudah membuat kita mengeneralisasi bahwa ia pendekar untuk semua pertempuran.

Menurut saya, the real battle adalah pada sesi ini. Jika mental kita jatuh pada sesi psy war, habislah semangat tempur kita untuk “adu kesaktian” pada pertempuran selanjutnya. Pesaing kita akan mudah melenggang tanpa ada pertarungan yang seru.

Tentu, waspada dan paham peta kekuatan lawan menjadi senjata yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Bahkan, itu sangat penting untuk mengukur kekuatan lawan dan membuat strategi. Tetapi, menyerah dulu karena psy war lawan itulah yang harusnya dieliminasi.

Pertempuran yang saya maksud di sini bisa berarti pertandingan menjadi yang terbaik di ladang bekerja kita. Atau, bisa juga untuk wanita-wanita cantik dan pintar yang akan bertanding di festival miss-miss-an. Atau, untuk pria-pria kekar dalam pertandingan tinju merebut gelar WBA atau WBC misalnya. Atau mungkin hanya sekadar untuk memenangkan pertandingan panjat pinang saat perayaan Tujuh Belasan di kampung kita. Setuju?[eae]

* Emmy Angdyani Erawati adalah seorang Insinyur Teknik Kimia yang lahir di Surabaya, 2 Maret 1969. Emmy adalah ibu dari seorang anak berusia 10 tahun dan pernah berkarier di perbankan selama sepuluh tahun. Sekarang ia bekerja di sebuah perusahaan pelayaran nasional di Surabaya sekaligus menjalankan wirausaha persewaaan mobil. Ia dapat dihubungi di Pantai Mentari M-40, Surabaya, HP: 081.2358.7773 atau pos-el: angdyany[at]telkom[dot]net.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.8/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Mahalnya Kesempatan Mencintai

Emmy Angdyani ErawatiOleh: Emmy Angdyani Erawati*

“Papa hanya mau hidup sampai umur 63 tahun.”

“ Papa lebih senang hidup sampai usia 63 tahun.”

Dulu, pernyataan pernyataan seperti itu sering terucap dari ayahanda saya tercinta. Cukup sering beliau mengungkapkan hal itu kepada kami putra putrinya dan beberapa orang terdekat. Saya tidak tahu mengapa ayah menyebut angka 63. Sampai saat ini pun, saya juga tidak pernah menanyakan kepada beliau. Metode apa yang dipakai sehingga muncul angka 63? Dalil apa yang beliau gunakan?

Tetapi, sungguh sujud syukur dan terima kasih kami, karena atas perkenan dan anugerah-Nya beliau dikaruniai umur panjang dan tetap sehat di usia 72 tahun sekarang ini. Memang, sejak operasi prostat beberapa tahun silam, kondisi beliau tidak sebugar sebelumnya. Lima atau enam tahun yang lalu, ayah masih bisa mengayuh sepeda, membuat lemari kayu setinggi dua meter, berkebun, atau pulang pergi dengan pesawat Jakarta-Surabaya dengan tentengan lebih dari 20 kg.

Dulu, semua beliau lakukan sendiri, meskipun maaf kata, kaki beliau extra ordinary. Diameter tulang betis hingga pangkal paha beliau tidak lebih dari dua kali diameter tulang bayi usia dua tahun. Ayah pernah terkena penyakit polio sehingga kaki kiri beliau lebih kecil dari ukuran kaki normal dan timpang jalannya. Berat badan pun tidak pernah menyentuh kepala empat. Secara fisik kondisi beliau tampak lebih rapuh dari almarhumah ibu. Hal itulah yang membuat “tampak luar” saya seperti memberi perhatian ekstra kepada ayah.

Banyak anggota keluarga dan kerabat yang men-judge saya lebih mencintai ayah dibanding almarhumah ibu. Mungkin kurang tepat. Yang benar adalah saya mencintai ayah dan ibu saya dengan kuantitas dan kualitas yang sama. Cinta, bakti, dan hormat saya kepada kedua orang tua saya sama persis. Kalau kemudian tampak bahwa neraca perhatian saya berat sebelah, itu hanya ekses ketakutan dan kekhawatiran saya akan kehilangan ayah. Karena, kalimat-kalimat yang beliau sampaikan tentang batas usia ayah (tentu versi beliau) sangat mengganggu pikiran saya.

Saya menyadari bahwa masalah usia adalah kedaulatan absolut Tuhan. Saya juga telah berusaha menepis dari pikiran saya dan berusaha meyakinkan bahwa Tuhanlah penentu segalanya. Tetapi, kadang-kadang dalam alam bawah sadar saya masih sering muncul ketakutan ketakutan seperti itu. Berulang-ulang saya mensyukuri bahwa ternyata Sang Pencipta masih memberi umur panjang kepada ayah.

Bagaimana dengan almarhumah ibu saya? Ibu saya telah berpulang delapan tahun silam, di usia yang menurut saya masih belum terlalu uzur, 58 tahun. Sepertinya, begitu cepat beliau menghadap Sang Khalik, sementara secara fisik beliau jauh lebih sehat, segar, dan sangat energik.

Dulu, saya seperti mempunyai keyakinan bahwa almarhumah ibu akan terus mendampingi kami sampai kami semua anak-anaknya menikah, berumah tangga, dan melihat bagaimana cucu-cucu ibu tumbuh dan berkembang sebagai remaja, dan mungkin sampai dewasa. Tetapi siapa menyangka, jika Tuhan berkehendak dan mengizinkan kebersamaan kami hanya sampai ibu berusia 58 tahun. Jika waktu boleh diputar, saya ingin memberi perhatian yang lebih, lebih, dan lagi dari yang pernah saya lakukan untuk ibu. Pokoknya, saya akan bahagiakan ibu sebahagia-bahagianya.

Bukan berarti saya menyesali telah mencintai ayah saya “lebih” dari ibu saya, karena sampai hari ini saya masih mencintai dan menghormati ayah saya. Dan bahkan, saya masih selau seperti kekurangan waktu untuk dapat memberikan kasih saya kepada beliau karena alasan jarak. Tetapi, yang saya sesali adalah mengapa saya dulu begitu terpagari pikiran-pikiran manusiawi saya. Sehingga, saya tidak memanfaatkan semaksimal mungkin sources yang saya miliki untuk mencintai ibu saya. Saya khilaf untuk menyadari bahwa semua kesempatan harus dipahami dalam konteks tidak pernah ada yang tahu seberapa lama “durasi” kesempatan yang diberikan kepada kita untuk mencintai.

Tentu banyak cerita bagaimana seseorang merasa amat kehilangan orang yang dikasihinya karena mereka telah tiada lagi. Cerita-cerita itu seharusnya mengingatkan kita untuk menempatkan cinta kasih kita kepada orang-orang yang kita kasihi pada posisi dan porsi yang seharusnya. Memberi waktu, perhatian, atau bahkan isi “simpanan” kita dengan bijaksana sebelum semuanya terlambat. Karena, kita tidak pernah tahu kapan kesempatan itu akan sirna. Hilangnya kesempatan itu tentu berarti dua sisi. Kesempatan kita mengasihi mereka, atau kesempatan mereka menikmati kasih dan cinta kita. Benar tidak?[eae]

* Emmy Angdyani Erawati adalah seorang Insinyur Teknik Kimia yang lahir di Surabaya, 2 Maret 1969. Emmy adalah ibu dari seorang anak berusia 10 tahun dan pernah berkarier di perbankan selama sepuluh tahun. Sekarang ia bekerja di sebuah perusahaan pelayaran nasional di Surabaya sekaligus menjalankan wirausaha persewaaan mobil. Ia dapat dihubungi di Pantai Mentari M-40, Surabaya, HP: 081.2358.7773 atau pos-el: angdyany[at]telkom[dot]net.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.6/10 (7 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Hitung, Lalu Syukuri

eaeOleh: Emmy Angdyani Erawati*

Masa ujian sekolah bagi saya, seorang ibu, adalah masa yang cukup membuat “tegang”. Saya akan mengerahkan seluruh tenaga , waktu, dan pikiran untuk mendampingi buah hati saya, agar sukses melewati ujian. Sebenarnya hanya Ujian Tengah Semester (UTS) untuk seorang murid yang masih duduk di Sekolah Dasar, tepatnya kelas 4. Mungkin, karena atmosfir persaingan di kelasnya begitu terasa, atau mungkin juga atmosfir dalam pikiran dan hati saya yang begitu bersemangat sekali untuk tampil perfect, yang membuat kami memberi ekstra perhatian pada moment ini.

Semaksimal mungkin saya memanfaatkan waktu saya. Kesempatan senggang di kantor, saya pakai untuk membuat soal latihan. Begitu sampai di rumah, saya segera mendampingi anak saya untuk belajar. Dini hari ketika semua terlelap, bahkan ayam jantan yang ada di rumah saya belum berkokok, saya sudah berlutut berdoa, tentu termasuk mendoakan anak saya. Di alam supranatural, selain berdoa, saya juga lengkapi dengan puasa.

Pagi-pagi sekali saya bangunkan anak saya untuk mengulang pelajaran. Referensi soal-soal ujian tahun lalu sudah saya kumpulkan, jauh-jauh hari sebelum tanggal ujian. Pokoknya, DO OUR BEST. Ketika ujian selesai, kami mempunyai keyakinan pasti semua hasil nilai UTS anak saya di atas 90. Dan, itulah target kami.

Memang hampir benar, hasil ujian anak saya Matematika 92, Agama 92, Bahasa Inggris 97, Bahasa Jawa 97, Sains 88, IPS 90, PKN 92, Bahasa Indonesia 100 dan 90. Puaskah kami? Maksud saya, puaskah saya ? Betul sekali, saya puas. Suenang dan buangga, namun hanya sebentar, tidak lebih dari dua menit. Begitu melihat jawaban-jawaban dari anak saya pada UTS, ternyata yang membuat salah adalah hal yang sepele. Misalnya, ia tidak teliti, tidak cermat membaca, lupa menulis, kelewatan, dll.

Entah apa namanya, tiba-tiba desire, passion, ambition, menjadi begitu terstimulus. Saya langsung berandai-andai, dan dilanjutkan dengan sedikit complain. Seandainya saja anak saya tidak terburu-buru, mau membaca ulang, lebih cermat, mau meneliti kembali jawabannnya, pasti nilainya bisa 100 atau minimal di atas nilai yang sekarang. Lho? Bukankah kami mempunyai target nilai di atas 90? Bukankah sudah tercapai?

Ini yang namanya tidak pernah puas. Tetapi, bukankah ini manusiawi? Mungkin pembenaran bahwa itu adalah nature dari seorang manusia bisa diterima, dan menjadi alasan saya tidak lupa untuk bersyukur.

Malam itu, pemikiran saya menjadi berubah. Ketika kami melaksanakan doa keluarga, bersama anak dan suami, anak saya berdoa dengan kalimat yang membuat saya terhenyak. “Tuhan, Obed bersyukur, Tuhan sudah memberkati dan memberi hikmat Obed sehingga Obed bisa dapat nilai bagus pada UTS. Terima kasih Tuhan.”

Wow… saya ingin segera membuka mata saya dan memeluk anak saya. Ia lebih memahami arti sebuah process oriented dan mengakhiri dengan ucapan syukur. Anak saya sudah melakukan semua proses dengan baik. Belajar ekstra dan men-delete jadwal bermain dari agenda sehari-harinya. Mengesampingkan kegemarannya main Play Station di hari libur. Melupakan nonton TV. Tentu “penyangkalan diri” seperti itu bukan hal mudah. Toh, ia sudah melakukannya tanpa keluhan. Tidak ada gerutu sedikit pun.

Saya tahu benar, ia berdoa dengan sungguh-sungguh. Ketika hasil telah dicapai, ia sangat senang, puas, dan kemudian sangat bersyukur. Targetnya jelas dan terukur, serta diakhiri dengan rasa terima kasih. Untuk selanjutnya ia membuat target yang baru, UTS ke depan nilai seratusnya harus lebih banyak. Jadi, ia harus lebih teliti, lebih tenang , dan tidak terburu-buru. Thus... intinya ia sangat menikmati semua proses dan hasil yang dicapai. Ketika saya sempat khawatir pada reaksi anak saya dengan complain yang saya utarakan, ia hanya tersenyum, tanpa beban. Tidak ada kata “nyesek” seperti yang saya alami. Benar-benar happy.

“Obed getun enggak dengan nilai ulangan yang dibagi, Nak?” tanya saya.

“Iya, sih, tetapi Obed senang nilainya sudah di atas 90 semua,” jawab anak saya dengan mata berbinar. “Tenang saja Mam, nanti UAS diusahakan dapat nilai 100.

Bukankah yang kerap terjadi pada “dunia hidup dewasa” kita adalah sering kali menaikkan goal kita pada garis yang imajiner, menariknya terus dan terus ke atas tanpa ada waktu jeda, menengok ke belakang, me-review proses yang kita lewati dan mencermati hasil yang kita capai. Jika sudah tercapai, kita bersyukur dan kemudian membuat target baru. Tentu, itu membuat kita lebih menikmati setiap proses dan hasil yang kita capai. Dan bahkan, kita memiliki multiplikasi energi karena ada sukacita dan rasa syukur di dalamnya.

So, mari kita hitung apakah kita sudah mengumpulkan poin dengan do our best dan memberi finishing touch dengan thanks God.[eae]

* Emmy Angdyani Erawati adalah seorang Insinyur Teknik Kimia yang lahir di Surabaya, 2 Maret 1969. Emmy adalah ibu dari seorang anak berusia 10 tahun dan pernah berkarier di perbankan selama sepuluh tahun. Sekarang ia bekerja di sebuah perusahaan pelayaran nasional di Surabaya sekaligus menjalankan wirausaha persewaaan mobil. Ia dapat dihubungi di Pantai Mentari M-40, Surabaya, HP: 081.2358.7773 atau pos-el: angdyany[at]telkom[dot]net.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox