Pipiet Senja: Berbagilah dengan Siapa pun

pipietsenjaJika Anda adalah penulis pemula, mungkin Anda akan “merinding” melihat data produktivitas seorang Pipiet Senja. Tahun 1978-1985, ia menerbitkan 12 novel populer. Lalu, tahun 1991-2006, ia meluncurkan 28 buku anak. Kemudian, tahun 2001-2008, ia berhasil menerbitkan 33 novel islami! Dan, sepanjang 1983-2008, ia juga menerbitkan 23 antologi puisi bersama. Total, sekurang-kurangnya Pipiet sudah menghasilkan 96 buku dalam waktu 30 tahun terakhir. Dan, itu semua belum termasuk ratusan cerpen serta puluhan novel bahasa Sunda yang tak terdata semua judulnya.

Apa komentar yang tepat untuk prestasi tersebut? Fantastik… Dahsyat… Luar biasa! Sebuah kombinasi yang kokoh antara kreativitas, imajinasi yang kaya, dedikasi pada profesi, dan motivasi diri yang tak terbendung.

Tetapi, yang juga menambah bobot “keelokan” seorang Pipiet adalah bahwa ia menuliskan karya-karya tersebut dalam belenggu penyakit thallasemia. Penyakit kelainan darah sejak lahir semacam ini suka memutus-mutus tali asa penderitanya. Tetapi, belenggu thallasemia justru memacu kreasi dan prestasi penulis fiksi islami ini. Produktivitasnya seolah tak tertandingi oleh penulis-penulis yang lain.

Pipiet Senja dikenal dengan karya-karya seperti Lukisan Rembulan, Menggapai Kasih-Mu, namaku May Sarah, Tembang Lara, Rembulan Sepasi, Meretas Ungu, atau kapas-kapas di Langit yang jadi novel bestseller itu. dan, oleh Ahmadun Yosi Herfanda, seorang jurnalis dan penyair, perempuan bernama asli Etty Hadiwati Arief kelahiran 16 Mei 1957 di Sumedang, Jawa Barat, ini disebut sebagai Sang Ikon Fiksi Indonesia.

Sudah lebih dari 30 tahun berkiprah di dunia kepenulisan, Pipiet belum juga surut berkarya. Di usianya yang sudah lebih dari setengah abad, ia malah makin tertantang untuk berpacu karya dengan penulis yang masih muda-muda.

Selain itu, dari dulu hingga sekarang, ia terus berbagi pengalaman dan ilmu dengan menularkan virus gemar menulis ke semua kalangan. Satu hal yang mendorong dia melakukan hal itu adalah sebuah visi; “Saya ingin banyak generasi muda, terutama kaum perempuan yang menjadi penulis.” Pertengahan januari 2009 lalu, dalam sebuah wawancara melalui email dengan Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com, Pipiet Senja menegaskan, supaya kita tidak takut hilang “jatah rezeki” hanya karena berbagi. Berikut petikan wawancaranya:

Sebagai aktivis Forum Lingkar Pena (FLP), bisa Anda gambarkan bagaimana perkembangan terakhir organisasi kepenulisan tersebut?

Semakin bagus, semakin pesat secara karya, baik yang di daerah di Indonesia maupun yang di mancanegara. Meskipun secara organisasi agak keteteran, terutama yang di daerah. Perlu disemangati, dimotivasi selalu para kadernya, terutama untuk menumbuhkembangkan para penulis pemula menjadi eksis!

Anda disebut-sebut sebagai salah satu sastrawati yang memberikan corak atau warna islami dalam setiap karya Anda. Sesungguhnya, corak atau warna islami itu tadi seperti apa gambarannya?

Intinya, yang sastra islami itu, antara lain tak ada unsur ngeseks. Kalaupun ada, biasanya kita mengambil simbol-simbol. Baik melalui simbol alam maupun rasa bahasa yang terselubung. Atau, bahasa yang puitis. Karya islami ditujukan untuk menginspirasi, mencerahkan umat.

Dengan karya yang lebih dari 80 buku, sebenarnya bagaimana cara Anda menggali tema-tema tulisan?

Temanya beragam, mulai dari tema untuk anak-anak batita, balita, ABG, remaja, sampai lansia. Menggali ide, mungkin ya? Ide jika sudah ada tinggal kita siapkan segala perlengkapannya. Umpamanya, kalau perlu survei ke suatu tempat, kita lakoni. Kalau tidak bisa, kita bisa browsing-an dan chatting-an. Umpamanya untuk mem-plot setting atau “penglataran” luar negeri, atau tempat yang masih asing bagi kita.

Dari semua karya, mana yang sangat menguras emosi, daya tahan, dan daya kreatif Anda?

Meretas Ungu (Gema Insani Press), Kupenuhi Janji (Duha Publishing), Kapas-kapas di Langit (Zikrul Hakim), Dalam Semesta Cinta (Jendela), Jejak Cinta Sevilla (Jendela), dan Cinta dalam Sujudku (Luxima Publishing).

Kalau karya yang Anda anggap monumental?

Kapas-kapas di Langit dan Tuhan Jangan Tinggalkan Aku.

Bagaimana cara Anda mempertahankan ‘daya tahan’ untuk tetap produktif?

Sering mencermati karya terbaru, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Jadi, saya selalu tergerak untuk terus berkarya. Merasa tertantang untuk tetap eksis di khazanah kepenulisan. Lagi pula, memang inilah duni saya, profesi saya, sumber mata pencaharian saya. Ya, terus saja daku berkarya, sampai ajal menjemput….

Anda tidak kuatir ada duplikasi tema atau ide dalam karya-karya Anda?

Tidaklah. Karena saya yakin, setiap penulis selalu memiliki ciri khasnya tersendiri. Tidak mungkin karya kita bisa diduplikat secara persis!

Sebenarnya, apa yang membanggakan dari profesi sebagai penulis itu?

Lebih dekat ke masyarakat luas, hehehe…. Nama kalau sudah dikenal kan banyak yang menyapa? Ini membuat saya (punya) banyak saudara di mana-mana. Banyak mengalir rezeki jika saya dalam kemalangan. Terima kasih, ya Allah, dan para penggemar saya, terima kasih!

Kalau ditanya, Anda itu hidup untuk menulis, atau menulis untuk hidup, jawabannya?

Insya Allah, saya hidup untuk menjalankan perintah Allah. Menulis hanya sekadar sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup, kebutuhan batin juga. Hanya salah satu sarana! Tidak lebih!

Ketika Anda menulis, “Mosok ada penulis bisa naik haji dari bukunya?” Sesungguhnya, apa yang ada di benak Anda terkait dengan profesi sebagai penulis dengan kesejahteraan hidup?

Alhamdulillah, saya termasuk yang berangkat umroh dan haji memang karena saya seorang penulis. Ada seorang penggemar, kebetulan teman di pengajian yang begitu empati dan suka sekali dengan karya-karya saya. Melalui adik inilah saya diajak umroh, kemudian dihajikan secara gratis. Subhanallah, alhamdulillah…. Hanya Allah Swt yang bisa membalas budi baiknya.

Ketika, akhirnya, Anda bisa naik haji berkat tulisan, apa pendapat Anda?

Tiada mampu berkata-kata untuk waktu lama sekali, seperti mimpi laiknya. Namun, intinya adalah bahwa melalui lahan profesi apa pun, kita bisa saja naik haji. Jika Allah sudah berkenan, mana lagi yang tiada mungkin?

Tak sedikit orang, bahkan sebagian di antaranya penulis, yang memandang bahwa imposible banget hidup dari hanya menulis. Pandangan Anda?

Tergantung siapa yang menjadi penulisnya, barangkali. Kalau gaya hidupnya memang hura-hura dan amburadul, yah, dari pekerjaan apa pun bisa imaging! Saya pribadi memang hidup ini, maksud saya makan dan nafkah saya, selain atas izin Allah Swt, Dia pun telah memberkahi saya sesuatu, yakni menulis!

pipietsApa idealisme Anda sehingga mau melanglang buana dan sangat gencar menyebarkan ‘virus gemar menulis’?

Saya ingin banyak generasi muda, terutama kaum perempuan yang menjadi penulis. Saya tak pernah takut menularkan virus menulis ini, khawatir diambil jatah rezeki saya umpamanya, tidak! Allah sudah mengatur semuanya untuk kita. Maka, berbagilah dengan siapa pun.

Anda juga menyemaikan ‘virus gemar menulis’ itu ke lingkungan keluarga sendiri. Ini lebih sulit atau lebih mudah?

Kalau kepada anak-anak, sama sekali tidak sulit. Bahkan, sesungguhnya tanpa diajak-ajak pun; Butet (Adzimattinur Siregar) dan Abang (Haekal Siregar) sudah ngebet duluan berkarya. Mereka melihat contoh dari ibunya, barangkali pikir mereka; “Kok si Mama tanpa keluar rumah pun punya duit banyak, ya?” Hihihi.…

Penulis-penulis baru akan terus bertumbuh, dan Anda adalah salah satu yang berperan dalam menginspirasi dan melahirkan mereka. Lalu, di mana Anda menempatkan diri dalam gelombang kemunculan penulis-penulis baru tersebut?

Bukan saya yang menempatkan diri, tetapi masyarakatlah atau kalangan komunitas sastra biasanya yang melakukan hal demikian. Aduh, teteh mah hepi-hepi sajaaah! Senang banget atuh banyak penulis baru di Tanah Air. Luar biasa memang pesatnya!

Hal apa lagi yang ingin Anda raih dari aktivitas menulis ke depan?

Pertama, ingin mengangkat karya-karya islami, bukan cuma karya saya sendiri, ke dunia layar lebar dan pertelevisian. Kedua, ingin memiliki rumah baca untuk anak-anak miskin di sekitar rumah saya. Masih banyak anak yang tak mampu untuk sekolah, dan perempuan yang buta huruf. Ketiga, ingin lebih banyak menulis buku untuk anak-anak dan lansia.

Terakhir, kita semua hanya “mampir ngombe” di dunia ini. Kalau masa “mampir ngombe” itu sudah habis, Anda ingin dikenang sebagai penulis yang seperti apa?

Insya Allah, saya hanya ingin dikenang sebagai umat yang ikhlas, tawadu, dan istikamah saja di mata Allah. Amin, ya Robbal alamin.[ez]

Catatan: terima kasih kepada SuaraSurabaya.net atas izin pemuatan foto-fotonya.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Melly Kiong: Dengan Moral Kita Bisa Hidup Lebih Baik

melly-kiongOrang bijak mengatakan, pengalaman adalah guru yang terbaik. Tampaknya, itulah yang berhasil digambarkan dan ditularkan oleh Melly Kiong, penulis buku parenting berjudul Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik? (Elex Media Komputindo, 2008). Bukan psikolog, bukan sarjana pendidikan, bukan pula seorang trainer, namun itu tidak menghalangi Melly untuk berbagi pengalaman dalam memberikan pendidikan moral, budi pekerti, dan kedisiplinan kepada anak-anaknya.

Melalui buku yang sudah mengalami cetak ulang tadi, perempuan kelahiran Singkawang, 17 Juli 1969, yang bernama asli Kiong Mui Lie, itu membeberkan pengalamannya meresapkan kasih sayang sembari memupuk kedisiplinan anak sejak dini. Cara yang dia pakai pun terbilang sederhana, mudah, namun sangat kreatif. Semisal, Melly selalu menyelipkan catatan-catatan atau memo kecil di kotak pensil anak-anaknya, Julian Liem dan Matthew Liem. Isinya? Pujian, ungkapan kasih sayang, selain juga mengingatkan supaya si anak tidak lupa mengerjakan PR dan mengikuti pelajaran di kelas dengan saksama.

Tidak itu saja, melalui buku tersebut, Melly juga menegaskan bagaimana seorang ibu yang berkarier di kantor bisa menempatkan para pembantu atau pengasuh anak sebagai mitra strategis dalam mendidik anak. Jauh dari kebiasaan masyarakat kita umumnya, yang cenderung kurang memandang posisi mereka, istri Tatang Wijaya ini justru menegaskan supaya kita menjadikan para pembantu dan pengasuh anak itu sebagai “rekan kerja”.

Karena itu, “Mereka harus kita perlakukan dengan baik, kita bimbing, dan kita hargai martabatnya. Bila perlu diperlakukan seperti anggota keluarga sendiri. Perlakuan baik kita itu akan kembali kepada anak-anak yangkita percayakan kepada mereka selagi kita tidak di rumah,” ujar perempuan berputera dua yang sehari-hari menjadi tenaga marketing di sebuah perusahaan kimia itu.

Melly yang berdomisili di Jakarta Barat ini adalah tipe perempuan yang sanggup bekerja sekeras mungkin untuk menggapai cita-citanya. Ini dibuktikan dengan keberhasilannya menerbitkan buku parenting, walau ia sendiri mengaku bukan seorang penulis dan tidak bisa menulis. Perjalanan menerbitkan buku itu pun juga mengalami banyak batu sandungan, bahkan dari suaminya sendiri. Namun, segala hambatan itu tidak meredakan semangatnya, karena Melly bertekad membuktikan bahwa kemauan dan visinya sungguh berharga. Dan, Melly pun akhirnya berhasil membuktikannya.

Kepada Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com, Melly Kiong menuturkan visi dan misinya, pentingnya pendidikan moral diawali dari rumah, serta suka duka yang dialami ketika hendak menerbitkan buku pertamanya. Berikut adalah petikan wawancara yang berlangsung akhir 2008 lalu, saat Melly berkunjung ke Redaksi AndaLuarBiasa.com.

Bagaimana ceritanya sampai kepikiran bikin buku ini?

Awalnya, saya ini kan bekerja kantoran. Sementara bagi saya, keluarga saya itu harus saya utamakan. Makanya, setiap kali ketemu orang, saya pasti cerita tentang suami saya, anak saya.lalu, ada teman saya namanya Mario, dia sampai bilang begini, “Saya kalau lihat Bu Melly itu kayaknya kok enak banget. Kerja bagus, tapi anak kok juga lucu-lucu dan terdidik dengan baik. Kenapa Ibu tidak tulis buku aja?” Ah, gila lu, yang bener aja…. Akhirnya, ya benar juga. Kenapa enggak, ya?

Saat mulai menulis buku, suami tahu?

Suami saya tidak tahu pas saya mulai mengetik. Jadi saya dibelikan communicator, saya sambil nunggu orang, ngetik. Enggak bakalan bisa mengetik di rumah. Makanya, suamiku itu enggak tahu saya bikin buku hahaha… Ntar kalau dia sudah tidur, aku ketik-ketik di dalam, input ke dalam. Tahu-tahu, benar juga lho, jadi 49 halaman….

Lalu, bagaimana perjalanan naskah Anda?

Saya pas sharing di Radio Cosmo, saya jadi tahu Bu Clara (Clara Kriswanto, psikolog Jagadnita Consutling: red). Saya email, lama tidak ada respon. Sampai saya pikir, “Siapa, sih aku, enggak mungkin dikenal sama orang….” Saya pikir, enggak mungkinlah ke Gramedia, pupuslah harapan saya. Akhirnya, saya kenal Clara. Saya bilang, “Pokoknya (buku) ini bagus banget, deh! Saya yakin itu.” Saya punya kepedulian ini…ini… Dia kasih respon positif. Lalu, saya ketemu Mas Edy. Mas Edy minta …. (menyebut angka: red), kaget saya…. Semua orang marahin saya, lho! Sampai seorang teman bilang, “Gila, goblok kamu begini…begini….” Ya sudahlah. Saya enggak pernah sedih, karena saya punya niat.

Komentar suami Anda?

Nah, waktu saya tunjukkan draf MOU ke suami, dia bilang, “Pokoknya aku enggak mau ya, keluar duit!” Akhirnya, saya enggak ngomong ke dia. Dan, Mas Edy baik juga. “Ya, udah, Ibu bayar aku beberapa kali, deh….” Masih itu struknya saya simpan hahaha….

Sempat ada keraguan melangkah?

Yang aneh, saya sama sekali tidak ada keraguan. Karena, di mana pun saya cetak (buku), saya sudah punya market. Waktu saya berpikir seperti itu, 500 buku sudah ada di tangan saya. Pas suami saya bilang begitu tadi, saya takut. Tapi, saya sudah bayar dua kali, hampir yang ketiga. Saya hanya berharap, jangan sampai saya ada masalah gara-gara itu, kan? Lalu, entah pas Natal atau pas saya ulang tahun, saya bilang sama suami saya. “Boleh enggak aku minta sesuatu…?” Suamiku kaget, “Ada apa?” “Kita sudah sekian tahun menikah, aku enggak pernah minta apa-apa lho sama kamu. Aku minta maaf aja, aku sudah bayar Mas Edy itu dua kali. Karena aku dapat THR, aku lunasi itu.” Aduh, saat itu, suami saya diam saja, tidak mau ngomong sama saya. Saya bilang, “Selama ini aku tidak pernah ngeyel, tapi cuma kali ini doang. Ya, aku mohon maaf.” Saya ada rasa bersalah, tapi ada rasa plong setelah ngomong itu.

Proses selanjutnya?

Setelah itu, menunggu endorsement. Begitu saya dapat dari Kak Seto, wah… saya semangat sekali. Lalu, semua saya mintai. Akhirnya, saya jadi tambah semangat. Begitu mendapat banyak endorsement, suami pun mulai mencair. Dengan agak kesal, dia bilang, “Sini, satu kopi, aku mau kasih ke bosku.” Sorenya, dia sudah bawa tulisan ke saya, “Itu, istrinya bosku kasih satu (komentar).” Saya senang banget.

Setelah itu, naskah dimasukkan ke penerbit apa?

Waktu itu, Mas Edy rencana mau ke penerbit lain ya… Enggak ke Gramedia. Saya minta waktu satu minggu. Lalu, saya ketemu saudara, yang punya kenalan di Kompas, tapi bukan di Gramedia. Sabtu, saudara saya telepon, disambungkan dengan orang Kompas itu. Saya bilang, “Pokoknya saya punya buku sudah tidak perlu diedit lagi, karena sudah diedit. Dan, saya dalam waktu singkat sudah dipanggil untuk seminar.” Saya juga katakan, 500 buku pasti sudah terjual, dipesan. Dan, saya yakin banget karena saya orang marketing.

Selanjutnya?

Akhirnya, saya ditelepon orang Gramedia (maksudnya penerbit Elex Media dari Kompas-Gramedia Group; red). Mungkin sudah jalannya kali ya. Selasa kami ketemu Lia jam 9. Saya presentasi tentang apa saja yang akan saya lakukan. Hari itu juga, dia bilang naskah buku saya diterima. Padahal, dia sama sekali tidak membaca.

Pandangan penerbit atas gagasan-gagasan Anda?

Elex Media merasa, kehadiran saya memberikan nuansa yang agak beda. Sampai dia bilang, saya itu benar-benar marketing sekali!

Kapan suami semakin mendukung kiprah Anda?

Mulai kelihatan saat saya kasih informasi, bahwa buku saya sudah diterima di Elex Media. Dia kan pernah cerita, “Wong direkturku saja mau terbitin buku enggak jadi-jadi!” Makanya, begitu tahu buku saya diterima, itu ada suatu nilai kebanggaan buat dia. Waktu itu, buku belum terbit, Elex sudah mulai sounding, di sebuah radio di Surabaya. Anak buah suami saya, yang dengerin siaran itu, cerita, katanya ada sebuah buku yang akan beredar dan sedang ditunggu-tunggu, berjudul “Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik?” Akhirnya, suami yang waktu itu di Surabaya telepon saya, “Selamat, lho sudah diumumkan di radio.”

Begitu melihat buku secara fisik?

Tahulah, seorang laki-laki biasanya kan sulit mengatakan apa yang dirasakan sebenarnya. Tapi, saya bisa tahu betapa dia bangga sekali dengan saya. Setiap kali saya membawakan seminar, dia selalu SMS-in ke saya, “Sukses, ya!” Nah, itu suatu spirit ya dari suami saya. Saya bilang, keberhasilan saya dalam menyusun buku ini dan dalam mendidik anak, itu bukan keberhasilan saya sendiri. Sebab, suami sayalah yang menjadi juri dalam menetapkan pola mendidik anak. Kalau saya ada yang kurang, dia bilang, “Oke, menurut aku begini….” Jadi, bukan kehebatan saya. Di balik itu adalah kehebatan seorang suami.

Arti dukungan suami atas apa yang Anda lakukan saat ini, berbagi melalui seminar-seminar?

Sekarang, apa yang saya senang lakukan, dia ikut senang. Kalau suami secara direct mau share ke saya sih jarang ya. Tapi, kalau setiap kali ada pemberitaan di koran, dia pasti bilang, “Ini dikliping dong… dikliping….” Saya membaca itu, dia merasa bangga, ya. Dan, anak-anak saya juga merasa bangga.

Waktu Anda menjual langsung buku itu, kebanyakan pembelinya siapa?

Kalau untuk di pabrik, banyak sekali bapak-bapak yang beli. Saya sering banget ketemu, contohnya seorang satpam, saya tanya, “Pak, bagaimana keadaan Ibu? Kerja enggak?” Kita tahu dong, satpam penghasilannya berapa. “Aduh, Ibu ngurusin anak di rumah, deh!” Lalu saya bilang, “Pernahkah Bapak berpikir, kalau sesuatu terjadi pada Bapak, dengan seorang istri yang tidak siap, apa yang akan terjadi dengan rumah tangga? Anak harus makan, kan? Keluarga harus tetap berjalan, kan?” Itu yang akhirnya membuat mereka mengatakan, “Iya, ya Bu, kenapa saya tidak berpikir seperti itu?” Lalu, suami-suami yang tidak ingin istrinya bekerja itu menganggap kalau istrinya kerja tidak bisa mendidik anak. Saya jelaskan, saya melakukannya seperti di buku ini. Saya bukan teori, tapi menjalankan. Sampai akhirnya satpam pun beli buku saya.

Jago juga Anda “merayu” calon pembaca hahaha?

Satpamnya bilang, “Bu, saya tidak punya uang…?” “Oke, Bapak punya uang berapa?” Dia jawab, “Saya cuman punya dua puluh ribu…” “Oke, dua puluh ribu saja enggak apa-apa. Tapi ingat, Bapak harus lebih berpikir bagaimana membangun masa depan anak supaya lebih baik.” Sebab, kalau bicara masa depan, kita harus bicara bagaimana menciptakan anak-anak yang berkualitas. Saya banyak melihat, di kalangan “susah” pun mentalitas juang mereka sudah tidak ada.

Kalau pembeli buku dari relasi Anda?

Kalau relasi hampir semua membeli. Mau laki-laki mau perempuan, semua beli. Sampai orang yang tadinya belum berkeluarga pun, berkomentar, “Aduh, setelah saya baca buku Bu Melly saya langsung kepingin cepat-cepat nikah…!” Jadi, menurut saya buku saya ini soal mindset. Mau miskin dia perlu, mau kaya dia perlu.

Anda juga menindaklanjuti buku itu dengan seminar, kan?

Ya. Ketika saya datang memberikan seminar kepada orang-orang miskin, sangat hebat lho, Pak sambutannya. Tiga puluh orang yang hadir, sepuluh buku saya terjual di tempat orang-orang yang tidak mampu. Lalu, di daerah Curug (Tangerang) yang dihadiri hampir 200 orang, yang kebanyakan orangnya penganggur, saya bisa jual 24 buku. Kalau ketemu bos-bos, mereka langsung beli sepuluh buku untuk dibagi-bagikan ke orang lain.

Sebenarnya, apa sumber ketertarikan para pembeli langsung itu?

Satu, saya yakinkan orang bahwa buku saya beda dengan buku orang lain. Buku saya tidak menyampaikan bagaimananya secara teori, tapi secara fakta. Saya berharap, jangan sampai orang lain mengalami pengalaman yang pernah saya lewati. Dengan seorang Ibu yang tidak siap menjadi seorang single parent. Takut menjadi seorang ibu yang tidak siap secara mental. Tapi, ada juga lho yang ngomong, “Aduh, saya sih sudah siapkan duit segunung!” Tapi, yang namanya duit segunung kalau dipacul habis juga, kan? Jadi, menurut saya, mentality itu sangat penting.

Anda mendirikan Rumah Moral, apa visi dan misi lembaga itu?

Itu semacam gambaran atau iming-iming buat saya. Saya itu ingin membuat sesuatu, supaya anak-anak itu di sekolah pun juga diajari tentang moral. Karena, bagi saya moral itu penting banget. Saya mengajarkan sopan santun kepada anak-anak saya, misalnya melalui kaca pembesar. Itu sebenarnya tentang pesan moral, tentang tanggung jawab, tentang disiplin. Saya merasa, di rumahlah saya harus mulai untuk memberikan sebuah pesan moral itu. Jika memungkinkan nanti, saya akan membangun Rumah Moral itu sebagai suatu proyek percontohan. Sebab, dengan moral kita bisa hidup lebih baik.

Rumah Moral ini secara vironer sangat bagus. Kalau benar-benar dikembangkan, mungkin semangatnya bisa ditularkan ke banyak orang. Sebab, segala perbaikan kondisi bangsa kita bisa diawali dari rumah moral ini…?

Mulai, Pak. Ya, makanya sekarang kalau ke mana saja saya selalu membawa “Salam Peduli Anak Bangsa”. Setiap kali ada yang minta tanda tangan (di buku), saya selalu cantumkan; Selamat bergabung, salam peduli anak bangsa, yang dimulai dari rumah. Kenapa saya bilang, saya ingin jadi sebatang lilin? Saya bilang, ketika saya menjadi sebatang lilin dan saya punya api, ketika api saya menyalakan seribu lilin lainnya, toh saya enggak akan mati, kan? Itu arti yang ingin saya sampaikan kepada orang lain. Makanya, saya menghimbau semua orangtua, mulailah berperan dari rumah sendiri, masing-masing satu orang menyalakan satu lilin saja dari rumah, berarti ke depannya kita masih punya harapan untuk melihat terang, kan? Itu kira-kira misi saya.

melly-kiong-familyBisa lebih dijelaskan lagi misi Anda?

Saya punya misi yang luhur, semua orangtua itu bisa hadir dalam seminar saya dan saya masuk dari sekolah. Saya berpikir dari pengalaman sendiri, ketika mau tahu soal parenting saya harus keluar uang Rp 600 ribu. Berarti, cuma bagi orang tertentu saja yang bisa belajar, kan? Bagi orang yang tidak punya, kan dia tidak bisa belajar? Makanya, saya ngamen, saya ketuk sekolah-sekolah satu per satu. Saya juga bilang, kalau pembaca buku saya memandang buku itu baik, saya minta supaya mereka kasih pinjam ke sepuluh tetangga atau orang di sekitarnya. Itu misi saya.

Bagaimana testimoni pembaca buku Anda?

Setiap kali habis seminar, saya selalu minta feedback. Semua saya filing, termasuk semua SMS yang masuk. Termasuk Mbak Eny Kusuma (motivator, penulis buku Anda Luar Biasa!!!: red), yang menulis ke saya, “You’re my inspiration. Ini buku pegangan saya dalam mendidik anak saya.” Banyak sekali, saya kliping semua. Banyak juga testimoni yang mengharukan. Kalau saya talk show di radio, rata-rata penyiarnya yang menangis. Sampai penyiar radio Female itu, kan cowok itu, nangis juga dan bilang, “Bagaimana ya seandainya aku itu punya ibu seperti Ibu Melly….” Ada juga salah satu pembaca yang berkomentar, “Melly, kamu punya buku harusnya sudah masuk arround Indonesia dan pasti bisa diterima. Karena apa? Kita semua problemnya sama, termasuk yang di Malaysia, Hongkong, Singapura, Jepang. Asia semua… mereka semua kesulitan dalam mendidik anak, karena orangtua tidak ada waktu.”

Sejauh mana Anda akan melangkah dengan buku ini?

Saya tidak akan main-main dengan buku saya. Belum tentu lho buku motivator terkenal misalnya, bisa diterima seluruh lapisan masyarakat. Belum tentu buku, yang menurut kita begitu bagus, bisa diterima oleh seluruh masyarakat. Tapi, saya yakin sekali dengan buku saya. Sampai ada testimoni SMS, “Bu, buku itu bisa saya praktikkan 10 atau 15 tahun lagi pada saat saya sudah berkeluarga.” Bagi saya, menjual satu juta kopi itu bukan sesuatu yang mustahil.

Katanya sampai pernah ada yang menanyakan latar belakang pendidikan Anda?

Saya sih apa adanya. Ketika talk show ada yang tanya, “Ibu itu pendidikannya apa, sih?” “Mau tahu pendidikan saya, saya itu S-3!” “Woo… hebat amat, masih muda sudah S-3!” Dia enggak tahu, maksud saya S-3 itu SD, SMP, SMA hahaha…. Seorang psikolog pun bernah berkomentar, bahwa dia tidak menyangka saya sampai bisa berpikir seperti itu.

Anda juga ingin berbagi mengenai pengalaman menulis dan menerbitkan buku ini?

Yang saya ingin sampaikan, kalau suatu saat kita bisa membuat seminar, bahwa sebaiknya kita itu menulis sesuatu secara jujur, seperti yang ada dalam hati kita. Kalau kita yakin apa yang kita tuliskan berguna buat orang lain, kita enggak perlu khawatir.

Kabarnya Anda hendak mengusulkan buku ini supaya mendapat penghargaan MURI?

Iya, saya sedang bicara dengan Jaya Suprana. Ia menjelaskan ada beberapa kategori untuk buku. Saya bilang, “Menurut saya, buku saya adalah buku yang harus dibaca orangtua yang ingin menjadi orangtua.” (Pada Januari 2009, Musium Rekor Dunia Indonesia menganugerahi Melly Kiong penghargaan atas rekor: “Ibu Rumah Tangga Sektor Publik penulis buku Pedoman Parenting untuk para Ibu Rumah Tangga Sektor Publik”: red)[ez]

Foto-foto: dokumentasi pribadi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

63 Ayat Titipan untuk Para Capres

Oleh: Edy Zaqeus*

DATA BUKU

bk-63-ayatJudul: 63 Ayat Dasar Seandainya Saya Jadi Presiden

Oleh: Dr. Todung Lumban Toruan

Penerbit: Pustaka Mina, Jakarta, 2008

Halaman: 236 hal

ISBN: 978-979-3756-35-6

Harga: Rp 35.000,-

Terpilihnya Barack Obama sebagai Presiden AS jelas menumbuhkan kegairahan tersendiri di kalangan para politisi nasional, terlebih bagi mereka yang mengharapkan adanya perubahan politik pada pemilu 2009 nanti. Tak ayal lagi, sejumlah politisi, baik muka baru maupun muka lama, serasa tambah bersemangat saja untuk maju sebagai calon presiden. Alhasil, saat ini muncul begitu banyak nama capres, dan diperkirakan akan semakin ramai pula mendekati pemilu legislatif dan pemilu presiden ke depan.

Tapi, kalau diamati dengan lebih saksama, barangkali bisa dirasakan adanya keganjilan dalam dinamika bursa capres ala Indonesia ini. Mudah sekali menemukan sosok yang meminati kursi kepresidenan, namun susah amat mengetahui platform politiknya, terlebih detail program yang akan dikampanyekan atau diusung untuk mendulang suara pemilih. Makanya, apa yang sering kita saksikan dalam iklan-iklan politik para tokoh politik maupun parpol—baik di media cetak maupun elektronik—hanyalah serangkaian slogan-slogan tanpa kejelasan program politik ke depan.

Dalam konteks itulah, menarik rasanya mengintip buku sederhana karya Dr. Todung Lumban Toruan yang berjudul 63 Ayat Dasar Seandainya Saya Jadi Presiden (Pustaka Mina, 2008). Menilik judulnya, buku ini seolah cukup ambisius untuk digunakan—oleh penulisnya—sebagai alat kampanye calon presiden. Tapi, sejauh yang bisa dikorek informasinya dari forum publik, penulisnya sendiri justru tidak (atau belum?) memaksudkan bukunya sebagai jembatan untuk meraih kursi RI-1. Malahan, penulisnya menitipkan gagasan-gagasan dalam buku ini kepada setiap partai politik atau bakal calon presiden, supaya mereka menjadikannya sebagai pedoman berkampanye atau memerintah nantinya.

Sistematika buku ini cukup mudah diikuti, karena bab-babnya terdiri dari 63 tulisan pendek—barang tiga sampai lima halaman—yang berisi pembahasan topik-topik pemerintahan terpenting. Kalau kita pakai parameter ipoleksosbudhankam, boleh dikata buku ini sudah mencakup semua unsur dalam akronim populer era Orde Baru tersebut. Jadi, buku ini bisa diibaratkan sebagai “GBHN” yang siap dipromosikan di masa kampanye atau sungguh-sungguh dijalankan sebagai program pemerintahan.

Yang menarik, beda dengan buku-buku analisis politik lainnya, buku ini sangat kaya dengan gagasan alternatif. Tidak selalu baru memang, tetapi ketika gagasan-gagasan alternatif tersebut dikompilasi dalam buku semacam ini, terasa ada kekuatan lebihnya. Mengapa? Sebab, buku ini tidak sekadar menganalisis kelemahan-kelemahan pelaksana pemerintahan dan jalannya pembangunan. Namun, buku ini juga mengajukan pikiran-pikiran atau gagasan-gagasan yang sarat dengan alternatif solusi. Pendek kata, tidak hanya mengkritik, tetapi juga punya solusi secara gagasan.

Dari 63 Ayat ala Todung ini, simak misalnya Ayat 7 yang menyatakan, gubernur, bupati, dan walikota harus magang di luar negeri supaya bisa mempercepat pembangunan nasional (hal. 33-35). Lalu, ada Ayat 20 yang mengajukan pemikiran supaya kurs rupiah disamakan dengan kurs mata uang internasional (hal. 74-76). Juga ada Ayat 36, dengan gagasan supaya pemerintah memudahkan dan mengratiskan pengurusan sertifikat tanah (hal. 131-134). Atau, Ayat 41 yang menganjurkan supaya ada pemanfaatan pulau-pulau kosong secara produktif (150-153).

Dihadapkan pada suhu politik yang bakal menghangat, akan mudah sekali mendapati komentar atau analisis yang sarat dengan kecaman. Lihat saja berita-berita di media massa atau acara-acara debat di televisi sudah menunjukkan indikasi tersebut. Bagi mereka yang jeli, akan terasa sekali, betapa sulitnya menemukan ide-ide atau pemikiran-pemikiran yang bernas, berbobot, bisa dipertanggungjawabkan, kaya dengan solusi, dan bersifat produktif bagi masyarakat.

Memang, buku karya pegiat bidang pendidikan ini tak luput dari aneka kelemahan. Semisal, gagasan-gagasan yang tidak dieksplorasi secara lebih mendalam, solusi sering tidak fokus dan detail, atau bahkan kelemahan elementer seperti soal tata bahasa dan ejaan. Bahkan, ada saja ketidaktelitian editor (atau bahkan tanpa editor?) yang bisa menurunkan “wibawa” penulisnya, contohnya meloloskan keterangan mata uang Singapura adalah ringgit, bukan dollar Singapura (hal. 75).

Namun, pada situasi seperti sekarang, buku sejenis ini, yang memang tidak banyak jumlahnya, layak untuk dibaca dan dijadikan “penyegar” pikiran, atau bahkan “tonikum” bagi kekayaan wawasan kebangsaan kita. Buku ini juga bisa jadi contoh bagi siapa pun yang ingin memberikan kontribusi pemikiran kepada masyarakat. Jadi, masih banyak hal positif yang bisa diambil ketimbang memikirkan kekurangannya.[ez]

* Edy Zaqeus adalah editor AndaLuarBiasa.com.


VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Rahasia Mendapatkan Nilai 100

rahasia-mendapatkan-nilai-11Judul: Rahasia Mendapatkan Nilai 100
Oleh: Hindra Gunawan, S.Pd.
Penerbit: SINOTIF Publishing, Jakarta, 2008
Harga : Rp 49.500,-
Ukuran : 15 X 23 cm
Hal: xxxviii + 212
ISBN: 978-979-18733-0-7

PUJIAN UNTUK BUKU INI
“Sebelumnya alasan saya untuk memeroleh nilai 100 hanyalah karena hal itu merupakan kewajiban saya sebagai anak sekolah. Namun, sejak membaca buku ini pandangan saya terhadap alasan untuk mencapai nilai sempurna tersebut berubah total. Sekarang, saya yakin setiap manusia sama halnya seperti mutiara yang tertutup debu, harus terus-menerus diasah agar dapat menampakkan kilaunya. Saya yakin, apabila semua siswa mau menerapkannya, buku ini dapat mengubah mereka untuk berlomba-lomba mendapatkan nilai 100. Terima kasih bukunya!”
Natalia Sri Rejeki, Siswi Kelas 8 dan Ketua OSIS 2008-2009 di SMP Tarakanita, Citra Raya-Tangerang, Juara Kelas dan Juara Cerdas Cermat Bidang Sains di Kabupaten Tangerang

“Buku ini enak dibaca, mudah dipahami, tidak monoton, dan tidak membosankan. Sangat menginspirasi karena banyak kata bijak dan cerita-cerita pengandaian, sehingga saya merasa tergugah, terinspirasi, bahkan termotivasi.”
Tania Olga, Siswa SMA St. Ursula Jakarta Kelas 2 dan Peserta Bimbingan Belajar SINOTIF

“Buku yang sangat inspiratif dan sangat memotiviasi! Hindra Gunawan dapat mengubah cara pandang saya terhadap angka 100. Ah….. andai saya sudah baca buku ini sejak SMP. Tapi, tidak hanya untuk pelajaran sekolah, buku ini juga pelajaran bagi kehidupan bangsa kita tentang bagaimana cara meraih mimpi.”
Zivanna Letisha Siregar, Puteri Indonesia 2008

“Saya berterima kasih kepada Hindra Gunawan atas terbitnya buku ini. Terlalu banyak orangtua yang tidak mempunyai banyak waktu untuk anak-anaknya. Dengan adanya buku ini, semoga kita orangtua bisa belajar mengajak dan mengarahkan anak untuk belajar dengan benar. Saya selalu mengatakan kepada anak saya, ‘Tanpa usaha, mustahil kita dapatkan hasil maksimal.’ Tapi ternyata, usaha saja tidak cukup tanpa sistem yang benar. Semoga buku ini dapat menjadi bekal anak-anak kita dalam menghadapi kehidupan mereka nanti, dan mewujudkan harapan kita semua, di mana kita semua tahu bahwa sebuah bangsa yang bagus dan sukses bermula dari kemampuan pendidikannya.”
Vina Panduwinata, Orangtua Siswa & Penyanyi

“Buku ini merupakan panduan yang tepat agar siswa bisa belajar dengan efektif.”
Ferdy Hasan, Orangtua Siswa, TV Presenter, & MC

“Sebagai orangtua, rasanya ini adalah buku yang saya cari. Bukan sekadar buku yang hanya ditulis dari sisi pandangan orangtua saja, melainkan juga dari sisi anak-anak sebagai siswa. Dan, buku ini juga membuka pemikiran kita, sekaligus memberikan harapan kepada kita sebagai orangtua, bahwa ternyata anak kita juga pasti bisa menjadi anak di atas rata rata. Saya yakin, buku ini bisa dijadikan buku panduan yang bermutu.”
Melly Kiong, Orangtua Siswa dan Penulis Buku Laris “Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik”

“Saya ucapkan selamat dan sukses untuk penerbitan buku ini, semoga dunia pendidikan kita lebih maju karena adanya pemerhati sekaligus praktisi pendidikan dan pengajar seperti Pak Hindra. PROFICIAT!!!”
Julius Joni, Orangtua Siswa, tinggal di Batam

“Tugas kita para guru setiap hari adalah mengajar. Namun, sungguh ironis justru ilmu dan teknik mengajar inilah yang amat sangat minim sekali dikuasai oleh kebanyakan guru di Indonesia. Sehingga, jika banyak terjadi fenomena anak yang gagal belajar. Maka, patutlah kita pertanyakan, sesungguhnya mereka yang gagal belajar atau justru kita para guru yang telah gagal mengajar? Buku ini saya rekomendasikan untuk dimiliki oleh para guru dan orangtua, yang ingin menghilangkan fenomena anak yang gagal belajar supaya mereka menjadi anak-anak yang berhasil mencapai potensi nilai 100 bagi keunggulannya masing-masing.”
Ayah Edy, Pembicara dan Penulis Tetap Program Pendidikan Keluarga di Radio Smart FM 95.9 Jakarta dan “Majalah Mother & Baby”, www.ayahkita.blogspot.com

“Buku yang bagus, pantas dimiliki! Bagi kita yang sering bertanya-tanya, bagaimana membantu anak-anak didik dalam pencapaian nilai akademik terbaik, buku RAHASIA MENDAPATKAN NILAI 100 ini adalah salah satu buku pemberi strategi untuk meraihnya. Terima kasih dan PROFICIAT! kepada Hindra Gunawan yang telah menyumbangkan pemikiran bagi kita, yang mendampingi anak-anak muda melalui jalur pendidikan.”
Sr. Anna Maria, SPC., Koordinator Yayasan Insan S.P.C, Jakarta, Sekolah St. Paulus Jakarta

“Sesungguhnya, tak banyak guru, apalagi siswa, yang sungguh-sungguh mengerti secara detail cara mencapai sukses di sekolah dengan meraih nilai optimal. Buku ini ditulis oleh seorang guru fisika yang saya kenal, yang sudah teruji kebolehannya dalam membimbing siswanya. Terlebih dari itu, penulis juga sudah membuktikan teori yang ia tulis. Apa yang dipaparkan dalam buku ini sungguh suatu bukti bahwa keberhasilan milik semua orang yang mau mau berusaha, pantang menyerah, serta dibantu dengan pemahaman teori praktis yang dipaparkan dalam buku ini. Semua hal tersebut akan mempermudah siapa pun untuk mencapai sukses dalam belajar.”
Elika DM, Kepala Jenjang SLTA BPK Penabur, Jakarta

“Banyak sekali usaha dan dorongan terhadap siswa yang sedang menempuh pembelajaran untuk mendapatkan hasil yang maksimal, tetapi hampir semuanya bersifat eksteral dan instan. Akibatnya, anak menjadi sangat terbebani dan terpacu kencang, tanpa tahu dasar dan tujuan sebenarnya yang hendak dicapai dari usaha yang mati-matian itu. Buku ini hadir dengan usaha yang sama, tetapi dengan dasar filosofi yang benar dan tepat. Sehingga, siswa dapat menerapkan teknik yang ada, tanpa dia merasa bahwa dorongan untuk beprestasi dari luar, tapi justru datang dari diri sendiri. Selain wajib dibaca oleh para siswa, buku ini juga wajib dibaca oleh para orangtua dan pendidik yang ingin memacu prestasi anak dan siswanya dengan cara yang benar. Buku yang luar biasa! Great book, Pak!”
Ignatius Indriyanto, Head of Training Stella Maris School, Mantan Kepala Sekolah SMA Stella Maris

“Saya sebagai salah satu bagian dari pendidik, sekaligus pengajar di salah satu sekolah menengah swasta, merasa hati nurani dan semangat saya tergugah hebat untuk menggali lebih dalam metode praktis, sederhana, dan efektif untuk mendongkrak nilai anak-anak didik saya. Buku ini bukan saja memberikan panduan dan formula yang tepat guna untuk para murid sekolah menengah, serta siapa saja yang melakukan pendampingan siswa untuk mendapatkan nilai 100. Tetapi, buku ini juga memberikan strategi sebagai self-motivation, sekaligus membangun spiritualitas yang mendasar dalam diri anak-anak. Dengan demikian, mendapatkan nilai 100 bukanlah hal yang mustahil dan sulit diraih, tetapi hal yang bisa dicapai oleh setiap siswa dengan komitmen, sikap disiplin, jujur, dan metode yang tepat. Jadi, buku panduan ini sangat berguna untuk memberdayakan kemampuan siswa mendapatkan nilai 100, dan secara umum berguna untuk kemajuan dunia pedidikan di Indonesia.”
Dra. Jenny Paulus, Guru Senior Matematika SMA dan Mantan Kepala Sekolah Yos Sudarso, Batam

“Sebuah buku yang sangat komunikatif dan inspiratif. Hindra menunjukkan pada kita cara yang praktis untuk memperolah nilai 100. Meraih prestasi sambil membangun karakter anak didik.”
Dra. Ivonne M. Barbara Somar, Mantan Guru dan Orangtua Siswa, tinggal di Jayapura, Irian Jaya

“Terima kasih. Saya mendapatkan inspirasi dan energi baru. Buku ini juga menjabarkan berbagai teknik dan strategi yang harus dilakukan agar bisa meraih kesuksesan.”
Budi Gunawan, Guru Matematika Senior, Kepala Sekolah St. Yosef, Pangkalpinang, Bangka Belitung

“Buku ini merupakan sharing pengalaman otentik penulis yang lengkap dan memberi alasan yang mendasar mengapa kita harus mencapai hasil optimal dengan nilai sempurna 100. Bahkan, makna bagaimana keunggulan pada setiap langkah belajar—yang dapat menjadi langkah perkembangan diri maksimal mencapai keutamaan, melalui cara dan tahapan yang perlu dilatihkan untuk menjadi sebuah habit yang magis. Sehingga, kita guru dan orangtua tidak perlu berteriak-teriak lagi untuk membuat anak didik/putra-putri kita belajar, tetapi cukup menghadiahkan dan meminta mereka membaca buku ini serta mencobanya.”
Drs.Th. Sukristiyono, Kepala SMA Kolese De Britto Yogyakarta

“Sukses meninggalkan jejak. Buku ini mengungkapkan tabir rahasia para juara, sangat menginspirasi, dan akan memberikan para siswa lompatan quantum untuk meraih sukses yang diinginkan. Wajib dibaca semua insan pendidikan.”
Anthonyus Kuswanto, S.Pd, Co-Founder SINOTIF & Elcen & Directur Franchise SINOTIF

“Buku yang sebaiknya tidak hanya dibaca, tetapi juga dipraktikkan dalam belajar maupun dalam hidup sehari-hari. Bukan hal yang tak mungkin, asal ada alasan dan motivasi yang kuat, pasti nilai 100 akan didapatkan dalam pelajaran atau ujian hidup. Selamat berjuang, semoga semakin hari akan bertambah semakin baik.”
Drs. Edi Asmanto, Guru Matematika SMA Kolese Loyola, Semarang

“Bagi saya buku ini langka dan ‘berbahaya’. Langka, karena buku yang memandu orang muda agar belajar tentang cara belajar, sangat sulit dicari setelah karya-karya The Liang Gie dan E.P Hutabarat di tahun 80-an silam. Dan, “berbahaya” karena cara belajar yang tepat tentu akan membuat orang melesat bak meteor menjadi insan luar biasa, sehingga perlu pandai-pandai mengelola keluarbiasaannya agar tak lupa diri. Ditulis oleh orang yang berulang kali menjadi juara umum di masa sekolah, buku ini benar-benar perlu dibaca dan dipraktikkan isinya. BACALAH!”
Andrias Harefa, Penulis 30 Buku Bestseller, Certified Trainer and Therapist, & Pembelajar Mindset Tranformation

“A book such as this is long overdue. Every student, parent and teacher will benefit from getting and applying Hindra Gunawan’s ideas. I like it because it’s down to earth and it Hindra’s language and tone is encouraging from beginning to end. May this book re-kindle the joy of learning and the bliss of parenting.”
James Gwee T.H., MBA, Indonesia’s Favourite Trainer & Seminar Speaker, Author of Best Selling Book “Positive Business Ideas”, Host “Smart Business Talk” Radio Smart FM

“Nilai 100 adalah ukuran terbaik prestasi di sekolah, di berbagai bidang pekerjaan, dan lain sebagainya. Semua orang mengerti betapa penting mendapatkan nilai tersebut. Tentu bukan hanya karena nilainya akan sangat membanggakan dan menyenangkan, melainkan proses yang membentuk kebiasaan diri kita untuk selalu melakukan yang terbaik. Dalam buku ini Hindra Gunawan menjelaskan dengan begitu baik bagaimana agar kita selalu mendapatkan nilai 100 atau yang terbaik.”
Andrew Ho, Pengusaha, Motivator, Penulis Buku-buku Bestseller dan Seminar Speaker.

“Nilai 100 adalah nilai terbaik. Yang mampu meraihnya adalah murid terbaik. Baik motivasinya, baik pula cara belajarnya. Prestasi itu membanggakan dan bikin pede, meskipun murid itu anak orang miskin. HEBAT! Hindra Gunawan memberikan kiat-kiatnya. Buku ini bakal mencetak generasi yang LUAR BIASA!”
Eni Kusuma, Motivator, Mantan TKW Indonesia di Hongkong, Penulis Buku Laris “Anda Luar Biasa!!!”

“Salah satu tugas besar Indonesia adalah merampungkan pekerjaaan rumah intelektual. Sebelum soal-soal, intelektual itu dirampungkan, mustahil tatanan masyarakat akan maju ke tingkatan selanjutnya: menjadi cerdas emosional dan cerdas spiritual. Hindra Gunawan membuka jalan menuju kecerdasan yang fundamental ini!”
Prie GS, Budayawan, Penulis Sketsa Indonesia di Jaringan Radio SmartFM

“Saya sangat setuju dengan pernyataan penulis bahwa tidak ada anak yang bodoh atau pintar, yang ada adalah otak yang terlatih atau tidak terlatih. Adalah salah jika mengatakan anak vegetarian itu bodoh karena kurang gizi, sebab fakta penelitian membuktikan bahwa anak vegetarian sehat dan cerdas. Bahkan, ilmuwan terkenal seperti Albert Einstein, Thomas Alva Edison, Leonardo Da Vinci, Phytagoras, Socrates, Plato, dan Aristoteles adalah vegetarian. Buku ini sangat penting dibaca oleh murid, orangtua, dan pendidik karena pembahasannya sangat komprehensif, yaitu tentang filosofi dan teknik-teknik yang telah teruji untuk mencapai hasil belajar yang terbaik, termasuk melatih otak agar berfungsi maksimal sehingga disebut ‘cerdas’ dan tidak disebut ‘bodoh’. Penulis adalah seorang pendidik yang beridealisme tinggi, konsisten, rajin, tekun, ulet, jujur, rendah hati, dan hidup bersahaja. Oleh karena itu, buku ini bukan hanya sekadar teori dan filosofi, tetapi adalah gambaran nyata dari seorang pendidik yang patut dijadikan sebagai panutan. Salam dan SSCP!”
Drs. Susianto, MKM, Ketua Operasional Indonesia Vegetarian Society (IVS), Sekjen Asia Vegetarian Union (AVU), Koordinator International Vegetarian Union (IVU) Asia Pasifik

“Ada yang bertolak belakang dalam buku ini yaitu bahasanya sangat ringan namun isinya sungguh berbobot. Disamping itu buku ini mengandung kelemahan yaitu bila seorang siswa membaca dan menerapkan isi buku ini, maka bisa dipastikan tinta merah tidak akan menghiasi lembar ujian apalagi rapor nya. ”
Gobind Vashdev, Speaker, Trainer, Writer

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

8 Langkah Ajaib Menuju ke Langit

cover-8-langkah-rgbJudul: 8 Langkah Ajaib Menuju ke Langit – Rahasia Dahsyat Meraih Impian
Oleh: Victor Asih
Penerbit: Penerbit Andi, Yogyakarta, 2008
Harga: Rp 38.888,-
Ukuran buku: 16 cm x 23 cm;
Hal: xvi+188
ISBN: 978-979-290-868-8

BUKU UNIK

Buku paling unik dengan angka ‘8’ yang harus menjadi salah satu koleksi buku Anda.
Harga unik Rp 38.888,-
Buku terdiri dari 8 bab dan 188 halaman isi.
Backcover-nya menampilkan 8 endorser dari berbagai kalangan profesi.
Penulisan naskahnya membutuhkan waktu 88 jam.
ISBNnya pun diakhiri angka 8-8, ISBN 978-979-290-868-8.
Dicetak limited edition 8.888 eksemplar edisi perdana oleh Penerbit Andi.
Launching diadakan pada tanggal 08-08-08 jam 08.08 malam (waktu unik yang ada tiap 1000 tahun sekali) di Toko Buku GRAMEDIA (8 huruf) - Paris Van Java- Bandung, dengan 88 kursi undangan dan rencananya akan diliput oleh 8 media massa.
Launching akan diawali dengan bedah buku dan talkshow selama 88 menit dengan jumlah penanya dibatasi 8 orang, acara bedah buku dimulai pukul 18.38.
Akan dilelang buku dengan register nomor 8, 88, dan 888.
Disediakan hadiah hadiah bagi 8 orang yang berulang tahun tanggal 8 bulan 8 di acara launching-nya 8x Seminar Buku ini akan digelar menyusul launching-nya.
Bukan hanya judulnya “8 langkah…”, tetapi penerapan isi materi bukunya juga memberi makna simbolisasi ‘8’.
Buku unik yang mengajarkan bukan hanya menggerakkan pikiran, tetapi juga menggerakkan spiritual dan menggerakkan fisik dengan gerakan praktis senam 8 langkah ajaib-nya.

PUJIAN UNTUK BUKU INI

“Buku ini bila direnungkan dan dihayati mampu membangkitkan semangat hidup agar seseorang tidak putus asa bila mengalami kesulitan, dalam konteks ke-Indonesia-an buku ini berguna untuk membangkitkan dan menyadarkan kembali semangat kemadirian dari seluruh elemen bangsa bahwa Indonesia dengan segala potensi yang dimiliki mampu menjadi negara maju dan besar apabila seluruh elemen bangsa mempunyai mimpi untuk berhasil dan berusaha bersama-sama mewujudkan mimpi tersebut.”
~ Ginandjar Kartasasmita, Ketua DPD RI (Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia).

“Beraneka ragam sukses didefinisikan orang. Orang sukses adalah orang yang berani mendefinisikan sukses dan mencapainya bagi dirinya. Buku Victor Asih ini memberikan acuan sistematik tentang cara mendefinisikan dan mencapai sukses berdasarkan pengalamannya, sehingga seseorang berbahagia karena mensyukuri karya nyatanya.”
~ Djoko Santoso, Rektor ITB (Institut Teknologi Bandung).

“Teori yang baik adalah teori yang telah dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Dan teori sederhana macam apapun, bila diterapkan dengan gegap gempita, bisa memberikan hasil yang luar biasa. Sebaliknya, praktik yang antusias, jika diteorikan akan menginspirasi banyak orang juga. Teori dan praktik semacam itulah yang tersua dalam buku ini. BACALAH!”
~ Andrias Harefa, Pembelajar Mindset Transformation dan Penulis 30 Buku Best-seller.

“Buku tulisan Victor Asih ini bagaikan angin segar di tengah tantangan yang semakin sarat. Dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, ia memaparkan faktor-faktor penting penyumbang terbesar atas kesuksesan seseorang dan cara meningkatkan mutu kehidupan apapun latar belakang dan bagaimanapun kondisi kita. Yang terpenting bahwasanya paparan ide-ide Victor Asih ini bukan teori semata, tetapi sudah teruji dan mudah diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Pahami isinya, terapkan, dan bersiaplah menyongsong kehidupan yang lebih baik dan seimbang.”
~ Andrew Ho, pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku bestseller.

“Aku dengar, aku lupa. Aku lihat, aku ingat. Aku lakukan, aku paham. Pepatah itu sangat tepat menggambarkan apa yang ada di dalam buku ini. Victor bukan hanya menyajikan sederet norma dan kerangka konseptual yang mengerenyutkan dahi dan belum teruji secara operasional, namun ia telah melangkahkan kakinya di setiap lembaran yang ditulisnya. Melalui simbolisasi ‘8′, ia mengkristalkan seluruh pengalaman empirik hidupnya dalam buku yang inspirasional dan motivasional ini. Baca, alami dan bersiaplah berselancar dalam lorong kesuksesan seperti penulisnya!”
~ Ponijan Liaw, Penulis Buku-buku Bestseller “Komunikasi” dan “Zen”

“Ketika membaca buku ini, saya ibarat naik ke langit. Dari satu impian sukses ke puncak perwujudan yang nyata. Dan buku ini menawarkan sesuatu yang praktis, realistis, bahkan dicontohkan detail-ringkas. Tidak banyak yang bisa melakukannya seperti Victor Asih kalau tidak memiliki hati dan pikiran yang jernih. Jangan sampai Anda tidak membacanya!”
~ Bambang Trim, Praktisi Perbukuan Nasional dan Direktur MQS Group

“Buat saya adalah ‘ajaib’ bila setelah membaca dan melakukannya anda masih ada di ‘bumi’. Penulis memberi tuntunan praktis dan mem’bumi’ tanpa konsep se’langit’. Pengalaman pribadinya bukan hanya memperkaya isi tetapi membuat iri pembacanya. Kalau dia bisa kenapa saya tidak. Sentuhan spiritual makin memperdalam makna untuk apa sampai ke ‘langit’. Imago Dei. Ternyata setelah sampai di sana kita bukan apaapa dan bukan siapa-siapa. Providentia Dei.”
~ Paulus Bambang WS, Kolumnis dan Penulis Buku Bestseller “Built to Bless”, Bekerja di PT. United Tractors Tbk sebagai Wakil Presiden Direktur.

“Inilah buku motivasi yang sungguh-sungguh memberikan pedoman sukses secara detail, praktis, dan teruji. Jika anda sepenuhnya sadar akan arti kesuksesan dan menginginkannya, baca dan ikuti pedoman dalam buku ini. Sukses ada di tangan Anda.”
~ Edy Zaqeus, Bornrich Consulting, Penulis Bestseller

“Kalau Anda merasa hidup Anda saat ini kacau atau tidak sukses, baca buku ini. Anda bukan hanya akan tahu mengapa begitu, tetapi juga akan tahu bagaimana mengatasinya.”
~ Her Suharyanto, Trainer, Konsultan, Penulis Independen, dan Editor Ekonomi.

“Jika anda benar-benar punya kerinduan untuk mengalami kehidupan yang lebih maksimal; miliki, renungkan dan Praktekkan 8 Langkah Ajaib Menuju Langit, anda akan mendapatkan perluasan Visi dan Perkembangan Kapasitas yang akan membuat kehidupan anda mengalami TEROBOSAN Baru! Selamat, Kawanku Victor Asih, buat karyanya yang sangat Inspiratif, Komunikatif, dan Aplikatif…, saya Percaya buku ini akan menjadi Berkat untuk Generasi ini!“
~ Timotius Adi Tan, Writer, Trainer, Counselor, Penulis buku bestseller Dare To Change

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox