Aleysius H. Gondosari: Untuk Sehat Tidak Perlu Biaya Besar

Aleysius H. Gondosari

Aleysius H. Gondosari

Kebanyakan orang beranggapan bahwa untuk memperoleh kehidupan yang sehat dan berkualitas itu mahal sekali biayanya. Bisa dimaklumi, mengingat setiap kali kita pergi berobat ke dokter, biayanya tidaklah murah. Terlebih kalau keluhannya adalah penyakit-penyakit “mahal”, yang artinya obatnyalah yang mahal sekali. Sementara, untuk menjaga kesehatan tubuh sehari-hari dengan mengonsumsi makanan-makanan tambahan (food supplement), biasanya juga perlu biaya tidak murah.

Namun, Aleysius Hanafiah Gondosari, yang menekuni metode Energi 5 elemen, jelas-jelas menyatakan bahwa untuk hidup sehat itu sesungguhnya tidak perlu biaya besar. “Setiap orang bisa menjadi sehat dengan mengonsumsi makanan sehat, segar, sederhana, murah. Dan, bahan makanannya juga mudah ditemukan dalam menu sehari-hari,” jelasnya. Aley, panggilan akrabnya, menyebut contoh makanan sehat seperti beras merah, tape segar, tempe segar, air kelapa tua, pepaya, semangka, mentimun, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Dari mana Aley mengetahui jenis-jenis makanan yang menyehatkan tersebut? Ternyata, pria kelahiran Padang, 12 Juli 1961 ini mengembangkan sebuah metode deteksi energi yang punya akar panjang dalam sejarah ilmu kesehatan dunia. Metode itu ia sebut Energi 5 Elemen yang berakar pada filosofi maupun praktik kesehatan sejak zaman Asia dan Eropa kuno. “Metode Energi 5 Elemen adalah ilmu pengetahuan universal yang telah dikenal di berbagai belahan dunia, sejak ribuan tahun yang lalu,” kata Aley yang beristrikan Lilyana, seorang dokter umum.

Sesungguhnya, background Aley yang jebolan Teknik Elektro ITB (1984) dan Magister Manajemen Internasional Sekolah Tinggi Manajemen PPM, Jakarta (1995), ini adalah dunia industri yang kental dengan berbagai praktik bidang manajerial. Bapak dari dua anak ini, Vidya Cecilia dan Angela Karina, kariernya memang dihabiskan di perusahaan manufaktur dan berulang kali berhasil mendesain rancang produk yang sukses di pasaran. Tak ayal, kepiawaiannya di bidang manajerial membuatnya sering diundang sebagai dosen tamu di almamaternya maupun perusahaan-perusahaan mitra kerjanya dulu. Belakangan setelah pensiun, Aley lebih menekuni hobinya membuat berbagai website informasi, dan terutama lagi mengembangkan metode Energi 5 Elemen yang begitu menantang itu.

Nah, kepada pembaca setia website motivasi ini, secara khusus Aley membeberkan rahasia hidup sehat secara murah dengan metode deteksi Energi 5 Elemen itu. Di Indonesia, tampaknya baru Aley yang mengembangkan, bahkan mungkin memanfaatkannya secara sistematis, untuk mendapatkan informasi akurat tentang cara hidup sehat yang alami. Berikut petikan wawancara tertulis Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Aleysius belum lama berselang:

Bagaimana ceritanya sampai Anda menemukan metode Energi 5 Elemen ini?

Sejak kecil saya sudah tertarik dengan pengobatan alami. Waktu SMP, saya pernah berlatih Yoga Asanas. Kemudian saya tertarik berlatih Tai Chi waktu SMA. Waktu kuliah, saya mulai vegetarian, berlatih meditasi, dan mulai belajar pengetahuan 5 elemen. Setelah bekerja, saya sempat berlatih prana, reiki, dan belajar pijat refleksi. Dari semua yang saya pelajari, akhirnya saya memilih mendalami Energi 5 Elemen karena cukup lengkap, alami, dapat menjelaskan sebab akibatnya, dan menyelesaikan masalah kesehatan dalam keluarga.

Kapan mulai serius mendalami metode ini?

Saya mulai serius mendalami energi kesehatan 5 Elemen ketika Ibu saya terkena stroke pertama kali tahun 2003. Selain itu, anak-anak saya hampir setiap bulan sakit flu. Istri saya juga terkena hipertiroid dan benjolan di dada. Paman saya pernah sakit mag bertahun-tahun dan tidak sembuh-sembuh. Kejadian-kejadian tersebut memicu saya mencari makanan sehat melalui analisis Energi 5 Elemen. Sejak itu, saya mulai rajin memeriksa jenis-jenis energi kesehatan 5 Elemen pada tumbuh-tumbuhan yang secara alami bisa membantu kesehatan Ibu, anak, dan istri. Ternyata, dengan mengubah pola makan dengan menu makanan yang lebih sehat, semuanya menjadi lebih sehat. Setelah itu, keluarga dan teman-teman juga mulai sering menanyakan tentang energi kesehatan mereka, juga bagaimana cara menyembuhkannya secara alami.

Akar dari metode yang Anda temukan ini dari mana atau dari ilmu apa?

Ilmu pengetahuan ini saya peroleh ketika saya mulai belajar meditasi. Energi 5 Elemen yang dikenal dengan elemen Ether, Udara, Api, Air, dan Bumi, sebenarnya telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu di Yunani, India, Tibet, China, dan Jepang. Di Yunani, 5 Elemen dipelajari oleh para filsuf yang sudah kita kenal seperti Empedocles, Hippocrates, yang juga dikenal sebagai Bapak Kedokteran, juga Plato, Aristoteles, dan Archimedes, yang terkenal dengan Hukum Archimedes. Kata ether berasal dari kata aether yang diperkenalkan oleh Archimedes, dan diartikan sebagai esensi.

Kalau akar metode ini di negara-negara yang Anda sebut tadi?

Di India, 5 Elemen sudah dikenal dalam filsafat Hindu, filsafat Buddha, Sistem 7 Chakra, dan dalam pengobatan kuno Ayurveda. Di Tibet, 5 Elemen dikenal dalam Bön, yaitu filsafat kuno Tibet. Di China, 5 Elemen dikenal dalam Kitab Klasik China, yaitu I Ching, dan dalam filsafat Tao di mana 5 Elemen disebut sebagai Wu Xing. Tradisi Jepang juga mengenal 5 Elemen sebagai Go Dai, yang terlihat dari arsitektur pagoda bertingkat lima di sana. Jadi sebenarnya, 5 Elemen adalah ilmu pengetahuan universal yang telah dikenal di berbagai belahan dunia sejak ribuan tahun yang lalu.

Jadi, esensi Energi 5 Elemen itu apa?

Sebenarnya, 5 Elemen adalah bentuk-bentuk materi dan energi dalam berbagai tingkatan. Dalam ilmu pengetahuan modern, Einstein telah membuat rumus persamaan materi dan energi, di mana materi dan energi sebenarnya adalah sama, hanya bentuknya berbeda. Dalam ilmu pengetahuan modern, energi dikenal dalam berbagai bentuk. Misalnya; energi potensial, energi kinetik, energi panas, energi cahaya, energi bunyi, energi listrik. Dan, ada juga energi elektromagnetik yang diaplikasikan dalam radio, televisi, handphone, WiFi, dan alat komunikasi lainnya.

Sementara, para ilmuwan dan filsuf zaman dahulu membuat tingkatan materi dan energi dalam istilah yang lebih spesifik, yaitu dalam bentuk Energi 5 Elemen itu tadi. Penjelasan begini: Bumi adalah energi dalam bentuk paling padat, yaitu dapat dilihat, dirasakan, dan dapat dipegang. Air adalah energi dalam bentuk cair, dapat dilihat, dirasakan, dapat dipegang, dan dapat berubah bentuk. Api adalah energi dalam bentuk yang lebih halus, dapat dilihat, dirasakan, tetapi tidak dapat dipegang, dan mudah berubah bentuk. Udara adalah bentuk energi dalam bentuk yang lebih halus lagi, dapat dirasakan, tetapi tidak dapat dilihat, dan tidak dapat dipegang. Misalnya, emosi atau perasaan yang lebih halus dan lebih tinggi. Ether adalah entuk energi dalam bentuk yang paling halus, hanya dapat disadari, tetapi tidak dapat dirasakan, tidak dapat dilihat, dan tidak dapat dipegang. Contohnya adalah imajinasi, ide, konsep, sistem, atau pemikiran.

Aley bersama tim desain di pabrik

Aley bersama tim desain di pabrik

Lalu, dari mana sumber Energi 5 Elemen itu?

Sumbernya Energi 5 Elemen yang sehat berasal dari sinar matahari pagi, udara segar, air sehat, dan makanan sehat. Selain itu, juga bisa berasal dari terapi sehat, seperti pijat refleksi, olahraga sehat, yoga asanas, kata-kata dan motivasi positif, doa, dan meditasi. Selain 5 Elemen yang bersifat fisik atau duniawi, dikenal juga elemen keenam yang bersifat spiritual, dikenal dengan nama Elemen Kesadaran dalam Sistem 7 Chakra, dan Chi atau Qi dalam Wu Xing.

Secara umum, cara kerja metode Energi 5 Elemen ini bagaimana?

Prinsipnya adalah kelancaran energi, keseimbangan energi, dan kekuatan energi 5 Elemen pada manusia. Bila energi pada seluruh elemen mengalir lancar, seimbang, dan kuat, maka berarti orang tersebut sehat. Semua benda merupakan sumber energi, termasuk manusia. Manusia memancarkan berbagai jenis energi termasuk Energi 5 Elemen itu tadi. Dengan mendeteksi Energi 5 Elemen pada manusia, maka kita dapat mengetahui kondisi kesehatan orang yang bersangkutan. Sebab, manusia mempunyai pusat-pusat energi untuk elemen Ether, elemen Udara, elemen Api, elemen Air, dan elemen Bumi.

Bisa dijelaskan lebih detail lagi?

Begini, elemen Ether terpusat pada tenggorokan dan mewakili organ kepala dan tenggorokan. Elemen Udara terpusat pada dada dan mewakili organ dada. Elemen Api terpusat pada bagian perut, mewakili organ pencernaan dan hati. Elemen Air terpusat pada bagian bawah perut, mewakili organ ginjal dan reproduksi. Sedangkan elemen Bumi terpusat pada bagian bawah tulang ekor, mewakili organ kaki dan tangan. Pada orang yang sehat, energi kesehatan akan mengalir dari elemen Ether, turun ke elemen Udara, ke elemen Api, ke elemen Air, dan terakhir ke elemen Bumi. Bila energi mengalir lancar, maka energi pada seluruh elemen ini akan kuat dan seimbang. Bila ada gangguan kesehatan, maka aliran energi akan terhenti, dan akan ada kekurangan energi pada elemen tertentu.

Misalnya, energi pada elemen Api berkurang. Akibatnya, orang tersebut mengalami gangguan pencernaan. Untuk mengobatinya, kita dapat menggunakan kencur yang mempunyai energi penyembuh untuk elemen Api. Selanjutnya, kita dapat menggunakan wortel atau bengkuang segar untuk melancarkan kembali energi yang terhenti. Selain terhenti, efek yang lebih berat adalah terbaliknya arah energi, misalnya energi mengalir dengan arah terbalik dari elemen Api ke elemen Udara. Hal ini berarti sakit akibat gangguan pencernaan naik ke jantung, sehingga fungsi jantung terganggu. Untuk itu, kita seharusnya mengobati penyebabnya, yaitu pencernaan, dengan menggunakan kencur supaya gangguan jantung otomatis berkurang.

Apa beda metode Energi 5 Elemen ini dengan misalnya tenaga prana, tenaga cakra, terawang aura, atau bahkan tenaga gaib, misalnya?

Manusia memancarkan berbagai macam energi. Ini dapat diumpamakan seperti gelombang radio atau TV dari pemancar yang mempunyai frekuensi berbeda-beda. Semua bisa ditangkap oleh penerima seperti radio atau TV yang melakukan tuning atau penalaan pada frekuensi tersebut. Demikian pula energi-energi ini bisa dideteksi oleh praktisi. Energi prana bisa dideteksi oleh praktisi prana. Aura bisa dideteksi oleh praktisi aura. Demikian pula, Energi 5 Elemen juga bisa dideteksi oleh praktisi 5 Elemen.

Setiap metode tentunya mempunyai kelebihannya masing-masing. Ada metode yang melakukan transfer energi secara langsung kepada penderita sakit seperti prana. Pada metode Energi 5 Elemen, tidak ada transfer energi secara langsung kepada orang yang sedang sakit. Pengobatan dilakukan secara alami. Orang yang bersangkutan dapat mengobatinya sendiri dengan mengonsumsi makanan sehat, yaitu makanan yang mengandung Energi 5 Elemen. Tentunya makanan yang sesuai untuk meningkatkan energi pada elemen tertentu yang sedang kekurangan energi, dan melancarkan energi yang terhambat tadi.

Aley bersama partner di Jepang

Aley bersama partner di Jepang

Apa sebenarnya fungsi-fungsi utama dari metode Energi 5 Elemen?

Fungsi utamanya membantu kelancaran Energi 5 Elemen pada manusia, dan juga meningkatkan energi yang kurang pada elemen tertentu dengan mengonsumsi makanan sehat yang sesuai. Bila energi lancar dan meningkat, maka sakit pada elemen tersebut akan berkurang, dan otomatis organ-organ pada elemen tersebut juga akan sembuh.

Apakah ada dukungan data atau penelitian ilmiah yang menguatkan metode ini?

Saat ini saya belum ada kerja sama dengan badan penelitian ilmiah, khususnya di bidang kesehatan. Jadi, orang yang sakit menginformasikan langsung kepada saya, bahwa sakitnya telah berkurang atau sembuh. Misalnya, sakit kaki pada lutut sudah sembuh, gangguan pencernaan sudah tidak terjadi lagi, jantung sudah tidak berdebar-debar. Lalu, ada yang bengkak di lehernya sudah hilang, bisul di mata sudah kering, benjolan di dada sudah hilang, gangguan sakit kepala dan insomnia sudah tidak ada lagi. Seperti itu.

Persisnya, apa yang Anda lakukan untuk membantu penyembuhan mereka?

Yang saya lakukan saat ini adalah mendeteksi dan mengukur energi sehat orang tersebut dengan menggunakan Indeks Sehat. Ini adalah indeks yang saya formulasikan sebagai parameter ukur relatif untuk kesehatan manusia dan penyakit. Indeks ini saya peroleh dengan mengukur perbandingan kuat lemahnya energi yang diukur melalui metode Energi 5 Elemen. Indeks ini akan diwakili oleh angka yang menunjukkan perbandingan relatif antara energi yang diukur dengan energi yang paling sehat atau paling sakit.

Indeks Sehat mempunyai nilai relatif dari minus 100 hingga plus 100. Angka minus menunjukkan sakit atau tidak sehat. Angka nol menunjukkan kondisi tidak sehat dan tidak sakit. Sedangkan angka plus menunjukkan sehat. Walaupun demikian, dalam kasus-kasus yang luar biasa, angka indeks ini bisa saja lebih besar dari 100. Misalnya, penyakit kanker yang paling berat akan mempunyai Indeks Sehat minus 200. Saya akan membandingkan Indeks Sehat orang tersebut sebelum dan setelah mengonsumsi makanan sehat. Biasanya, Indeks Sehat akan meningkat dari minus menuju plus. Bila orang tersebut mengatakan dirinya sudah sehat, maka Indeks Sehatnya biasanya juga sudah plus.

Sebelum lebih jauh lagi, apa ada kemungkinan metode ini melanggar atau bertentangan dengan keyakinan agama, misalnya?

Menurut saya, tidak ada. Sebab konsep 5 Elemen bersifat universal, dan sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu di pusat-pusat filsafat dan ilmu pengetahuan di dunia, seperti saya singgung di muka tadi. Jadi, 5 Elemen tidak mengacu pada agama tertentu. Jadi, aplikasi metode ini antara lain adalah cara sehat dengan mengonsumsi makanan tertentu. Makanya, orang yang mengonsumsi makanan sehat 5 Elemen, dia tidak perlu melakukan ritual tertentu. Dia hanya perlu lingkungan sehat, seperti sinar matahari pagi, udara segar, air sehat, serta mengonsumsi makanan sehat dan segar lainnya.

Baik, saya akan fokus pada pertanyaan tentang deteksi bahan makanan sehat. Terkait dengan hal itu, apa manfaat terbesar Metode 5 Elemen ini?

Manfaat terbesarnya adalah bahwa setiap orang bisa menjadi sehat dengan mengonsumsi makanan sehat, segar, sederhana, murah, dan mudah ditemukan dalam menu sehari-hari. Untuk sehat tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar. Yang penting adalah kemauan untuk menjadi sehat. Sehat adalah hak semua orang, dan semua orang bisa mempelajari cara sehat melalui metode Energi 5 Elemen.

Aley bersama partner di Taiwan

Aley bersama partner di Taiwan

Menurut artikel-artikel yang Anda tulis, ternyata bahan-bahan makanan yang sederhana dan murah itu bisa menyembuhkan penyakit-penyakit yang sering diderita masyarakat kita, benarkah?

Memang benar. Saya sendiri mengonsumsi beberapa makanan tersebut secara rutin. Misalnya, beras merah, kencur, tempe segar, tape segar, wortel, bengkuang, dll. Demikian juga saudara-saudara dan teman-teman saya. Setelah mengonsumsi air tajin beras merah, sejak beberapa tahun lalu, kedua anak saya hampir tidak pernah sakit flu. Bila sakit, paling hanya flu ringan dan mereka masih bisa bersekolah. Sebelumnya, hampir tiap bulan sakit karena ketularan teman-teman sekelasnya. Demikian pula kencur. Beberapa saudara yang sakit mag berat bisa sembuh dengan mengonsumsi kencur. Sementara, dengan mengonsumsi tempe segar dan tape singkong segar, itu bisa membantu menghilangkan sakit kepala, migrain, dan orang insomnia jadi lebih mudah tidur. Mentimun pahit misalnya, itu ternyata dapat membantu menstabilkan kelenjar tiroid, sehingga tidak terjadi hipertiroid atau hipotiroid. Demikian pula, air kelapa tua atau matang, ternyata dapat menyehatkan ginjal dengan membersihkannya dari asam urat dan racun. Lalu wortel segar, itu dapat menyembuhkan sakit kaki dari asam urat.

Wah, bahan-bahan makanan sehari-hari yang mudah didapat itu punya manfaat sangat besar seperti itu, harusnya untuk jadi sehat secara murah dan alami itu tidak sulit, dong?

Logikanya memang demikian. Tetapi, biasanya kita terbentur pada kebiasaan makan. Sebab, orang akan terpaksa memilih antara makan enak atau makan sehat. Memanjakan lidah atau memelihara kesehatan otak, jantung, pencernaan, hati, ginjal, pankreas, dan kaki. Sebenarnya manusia adalah makhluk kebiasaan. Jadi, mengonsumsi makanan sehat bisa dibiasakan.

Persoalannya, bagaimana tetap bisa memanjakan lidah, sementara makanan yang dikonsumsi tetap menyehatkan?

Makanan sehat, sebetulnya juga cukup banyak yang enak-enak. Misalnya, buah-buahan,bengkuang segar, jus wortel dan tomat, atau tape singkong segar. Lalu, sayur-sayuran yang dilalap dengan sambal, misalnya. Berikutnya, ada jagung, ubi, singkong, dan kentang yang dikukus. Tempe segar itu juga enak dimakan, kalau sudah biasa. Untuk beras merah, kalau belum biasa makan, bisa minum air tajinnya saja. Ini juga sehat. Nah, untuk mengatasi antara enak dan sehat, kita bisa mengambil jalan tengah. Misalnya, mengombinasikan antara makan enak dengan makan sehat. Selain itu, juga melalui variasi menu makan harian.

Apa makanan yang sehat dan baik untuk mengatasi stres?

Stress umumnya mempengaruhi organ otak pada elemen Ether, selain itu juga dapat mempengaruhi organ-organ pada elemen lain seperti dada pada elemen Udara, atau pencernaan pada elemen Api. Beberapa makanan sehat elemen Ether untuk mengatasi stres atau gangguan ketegangan psikis antara lain tape singkong segar, tempe segar, susu yoghurt, dan mentimun, terutama bagian yang pahit.

Kalau minuman seperti kopi dan teh, apa bahayanya?

Teh tanpa gula pada umumnya bersifat netral. Tetapi, bila diminum dengan air panas, teh akan memengaruhi kesehatan pencernaan pada elemen Api. Selain itu, bila diminum dengan gula secara rutin setiap hari, teh juga akan memengaruhi kesehatan pankreas pada elemen Air, dan juga memengaruhi kesehatan kaki pada elemen Bumi. Ini karena efek negatif gula. Hampir sama dengan teh, kopi tanpa gula umumnya juga bersifat netral. Tetapi, bila kopi diminum dengan air panas, itu akan memengaruhi kesehatan pencernaan pada elemen Api. Selain itu, bila diminum dengan gula secara rutin setiap hari juga akan memengaruhi kelenjar tiroid pada elemen Ether, dan juga pencernaan pada elemen Api. Jadi, kalau teh dan kopi itu tidak manis namun diminum secara rutin, sebenarnya tidak begitu bermasalah.

Kalau minuman berkarbonasi, bir, atau arak itu bagaimana?

Minuman berkarbonasi umumnya bersifat asam. Sehingga, bila diminum secara rutin setiap hari, itu akan memengaruhi kesehatan pencernaan pada elemen Api. Bila minuman berkarbonasi menggunakan gula berkalori, maka kesehatan kaki pada elemen Bumi dan pankreas pada elemen Air juga akan terganggu. Sementara kalau bir itu jelas berbahaya untuk jantung pada elemen Udara, dan ginjal pada elemen Air. Orang yang sering minum bir akan kekurangan energi pada elemen Udara dan elemen Air. Kalau arak itu berbahaya untuk kelenjar tiroid pada elemen Ether, jantung pada elemen Udara, dan kaki pada elemen Bumi. Orang yang sering minum arak akan kekurangan energi pada elemen Ether, elemen Udara, dan elemen Bumi.

Orang berobat ke dokter kemudian didiagnosis menderita penyakit tertentu, lalu diberi obat yang sama. Namun anehnya, mengapa pada kasus pasien tertentu obatnya manjur, pada kasus pasien lain bisa tidak manjur sama sekali? Apa yang menyebabkan hal itu?

Hal ini bisa terjadi karena kondisi tubuh mereka tidak sama. Sebagai contoh, ada pasien A yang sudah kebal dengan antibiotik-1, sehingga harus diberi antibiotik-2. Pasien B, sebaliknya mungkin sudah kebal dengan antibiotik-2, sehingga harus diberi antibiotik-1. Ada juga faktor alergi, sehingga pasien yang menderita alergi tertentu, tidak cocok dengan obat tertentu. Selain itu, ada juga pasien yang selain sakit utama yang didiagnosis, juga sebenarnya menderita sakit mag, sehingga tidak cocok dengan obat yang bisa mengganggu pencernaan. Bila hal ini diperiksa dengan metode Energi 5 Elemen, maka bisa diketahui energi pada elemen apa saja yang kurang, dan apakah pasien tersebut cocok atau tidak dengan obat tersebut. Tentunya tetap dengan memerhatikan kecocokan energinya.

Aley bersama keluarga yang semakin sehat

Aley bersama keluarga yang semakin sehat

Bicara makanan sehat, mengapa Anda sama sekali tidak mengupas soal daging yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan akan protein dan lemak dalam tubuh?

Memang, ada yang menyebutkan bahwa daging dan telur juga dapat digunakan sebagai obat. Tetapi, dari analisis Energi 5 Elemen, ternyata energi daging dan telur tidak cocok dengan Energi 5 Elemen pada tubuh manusia. Yang cocok dan mempunyai Indeks Manfaat positif adalah energi tumbuh-tumbuhan, udara segar, air sehat, dan sinar matahari pagi. Energi daging binatang berkaki empat mempunyai Indeks Manfaat yang negatif terhadap kesehatan. Demikian pula energi daging binatang berkaki dua dan telur. Hanya ikan yang bersifat netral dan mempunyai indeks manfaat nol.

Jadi, dalam hal ini, sebenarnya kita perlu melihat efek jangka panjangnya. Mungkin, dalam waktu singkat kita melihat seolah-olah ada manfaat kesehatannya. Tetapi, dalam jangka panjang, akan merugikan kesehatan kita. Sementara, mengenai kebutuhan protein, Hiromi Shinya, dalam bukunya yang terkenal The Miracle of Enzyme mengatakan bahwa dengan menu 100 persen vegetarian sekalipun, orang tetap dapat memperoleh cukup protein.

Jadi, alasan Anda ini bukan semata karena Anda vegetarian?

Bukan, tetapi karena memang hasil analisis Energi 5 Elemen menunjukkan makanan daging ini tidak cocok dengan kesehatan manusia. Sebagai vegetarian, saya tentu saja boleh mengonsumsi gula, santan, mentega, dan margarin. Juga boleh minum kopi, meminum minuman berkarbonasi, atau makan goreng-gorengan. Tetapi, saya tetap memasukkan makanan-makanan ini dalam golongan makanan tidak sehat karena memang tidak cocok dengan kesehatan manusia.

Dari penjelasan Anda, saya tahu efek negatif sejumlah bahan makanan. Persoalannya, kalau saya misalnya terlampau menggemari makanan tersebut, lalu bagaimana cara menanggulangi, atau setidaknya mengurangi dampak negatifnya?

Ini hal yang umum terjadi. Anak saya juga masih senang makan daging, ikan, dan telur. Jalan keluarnya, kita bisa mencoba membuat menu makanan yang lebih seimbang. Maksudnya seimbang antara makanan sehat dengan makanan enak yang tidak begitu sehat itu. Sebagai contoh, diet makrobiotik menganjurkan adanya keseimbangan antara 20 persen makanan hewani dengan 80 persen makanan nabati yang sehat dan segar. Lagi, Hiromi Shinya, setelah meneliti kesehatan pencernaan dari ribuan orang Amerika dan orang Jepang, bahkan menganjurkan makanan ideal yang terdiri dari 15 persen hewani dan 85 persen nabati yang segar dan sehat.

Selain itu, bila makanan tersebut memang kurang baik untuk kesehatan, sebaiknya jumlahnya dikurangi atau frekuensi menunya dikurangi. Sebagai contoh, pada waktu kuliah, saya senang makan mi instan karena memang praktis. Sekarang juga tetap suka. Tetapi, ternyata bumbu mi instan kurang sehat bila dikonsumsi setiap hari. Jalan keluarnya adalah dengan mengurangi bumbu pada saat memasak mi. Saya biasa mengganti sebagian bumbunya dengan garam dan gula, lalu juga mengurangi frekuensi makan mi instannya. Atau, kadang saya mengombinasikan mi instan dengan makanan sehat seperti sayur-sayuran.

Kabarnya Anda sedang menulis buku mengenai topik yang kita bicarakan ini. Apa tujuan Anda menulis buku atau membuka masalah ini ke khalayak?

Betul. Menjadi sehat adalah hak semua orang. Sehat itu juga dapat dilakukan oleh semua orang dan tidak diperlukan biaya yang besar. Yang penting adalah keinginan untuk menjadi sehat. Di Indonesia, makanan sehat berlimpah seperti saya katakan sebelumnya. Hanya, yang perlu lebih diperhatikan adalah kesegarannya dan cara memasaknya.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Memerdekakan Pikiran dalam Menulis

Edy ZaqeusOleh: Edy Zaqeus*

Hampir enam tahun lamanya saya tidak bertemu Bob Sadino, pengusaha agrobisnis yang kondang dengan bendera Kemchick, Kemfarm, dan Kemfood. Beberapa waktu lalu, saya kembali bertemu Om Bob (panggilan akrabnya) untuk sebuah wawancara. Dan, setelah wawancara selama hampir enam jam, ternyata semangat pengusaha gaek nan nyentrik ini masih saja seperti yang dulu; provokatif, kontroversial, sangat merdeka dalam berpikir, dan gemar meneror mental orang lain.

Mengapa saya angkat Bob Sadino sebagai pembuka tulisan ini? Tak lain karena satu gagasannya yang begitu memprovokasi orang untuk berwiraswasta. “Kalau saya mau bisnis, saya tidak perlu mikir kayak orang pintar. Bikin rencana begini-begitu. Kalau mau bisnis ya bisnis saja, tidak usah terlalu banyak mikir. Kalau terlalu banyak mikir kayak orang-orang pintar itu, percayalah, nanti enggak bakalan jadi berbisnis! Jadi, merdeka sajalah!” ujar Bob bersemangat.

Nah, kalau pernyataan-pernyataan di atas saya kaitkan dengan dunia kepenulisan, rasanya ada hal yang nyambung. Apa itu? Ya, kalau mau menulis terlalu banyak berpikir, bisa-bisa malah tidak jadi menulis. Terutama kalau yang dipikirkan adalah bayangan-bayangan negatif yang kita ciptakan sendiri, seperti yang saya tulis pada artikel terdahulu “Mengapa Orang Pintar Takut Menulis?”.

Sebagaimana di dunia wiraswasta, saya sepakat bahwa dalam dunia kepenulisan, semangat dan keberanian memulai adalah hal yang teramat penting. Makanya, kalau ada orang pintar yang takut menulis, saya sangat menyarankan supaya mengingat-ingat betul provokasi Bob Sadino di atas.

Persoalannya, dari mana semangat dan keberanian menulis itu berasal? Setelah saya renung-renungkan dan saya hubung-hubungkan dengan keberanian Bob Sadino dalam memprovokasi pikiran orang, maka saya punya kesimpulan pasti. Bahwa, semangat dan keberanian menulis itu akan tumbuh manakala kita berani memerdekakan pikiran kita. Merdeka dari apa? Ya, merdeka dari segala macam rasa takut atau segala macam bayangan negatif, baik yang kita ciptakan sendiri atau sudah terkonstruksi dalam pola komunikasi kemasyarakatan.

Saya ingin menekankan arti penting pernyataan ‘merdeka dalam pikiran’ di sini. Yang saya maksudkan tak lain adalah pentingnya menumbuhkan kesadaran, bahwa siapa pun diri kita ini—tidak peduli dari usia berapa pun, jender, agama, ideologi, suku bangsa, latar belakang sosial ekonomi, dan tingkat pendidikan apa pun (atau bahkan tanpa pendidikan sama sekali)—sungguh-sungguh memiliki hak paling hakiki untuk berpikir, berpendapat, dan bersikap sesuai dengan yang kita inginkan.

Ini sungguh prinsip yang sangat mendasar dan saya anggap sangat penting dalam dunia kepenulisan. Berdasarkan prinsip tersebut, setiap orang memiliki hak mendasar untuk menuangkan setiap gagasannya dalam bentuk tulisan. Ketika kita bicara pada konteks hak, maka seharusnya tidak ada perintang apa pun yang bisa meredam, mengurangi, atau bahkan menghilangkannya.

Nah, kalau kita sudah sadar akan hak kita tadi, apa lagi yang bisa menghambat kita untuk menulis? Makanya, kalau kita masih tetap saja takut menulis, saya justru curiga bahwa diri kita sendirilah yang sejatinya sedang menindas hak akan kebebasan dalam menuangkan gagasan. Jadi, bukan wilayah eksternal yang menjadi penjajah pikiran kita, tetapi kita sendirilah penjajahnya. Kita sendirilah yang tidak mau bebas, tidak mau memerdekakan pikiran!

Saya sering bertanya-tanya, apa sejatinya yang membuat orang-orang pintar di kampus-kampus atau di sekolah-sekolah, tidak produktif atau bahkan tidak menulis sama sekali? Sebagian sudah berhasil kita identifikasi dan kupas dalam tulisan saya sebelumnya. Tetapi, yang paling prinsip—setidaknya menurut keyakinan saya—ternyata adalah soal cara penyikapan terhadap tradisi akademik serta tidak adanya kemerdekaan berpikir pada kebanyakan orang.

Saya akan berikan contoh klasik bagaimana pikiran bisa terjajah oleh sebuah pranata akademik. Bagi Anda yang pernah duduk di perguruan tinggi, pasti tidak asing dengan aturan baku yang mengharuskan insan akademik untuk hanya menulis berdasarkan teori atau rujukan ilmiah. Tanpa rujukan teori yang ilmiah, maka sebuah gagasan tidak ada makna akademiknya. Gagasan-gagasan itu akan dianggap sebagai opini spekulatif. Padahal, justru gagasan-gagasan spekulatiflah yang selama ini menjadi fondasi ilmu filsafat, induk dari segala macam ilmu di muka bumi ini.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan aturan akademik ini. Sebab, setiap lingkungan atau institusi pasti punya pranatanya sendiri-sendiri. Hanya saja, tradisi akademik semacam ini ternyata bisa menumbuhkan pemahaman yang justru membelenggu kemerdekaan berpikir para civitasnya. Maka, jangan heran kalau melihat fakta begitu banyak civitas akademik yang gamang, menunggu, berhenti, atau bahkan membatalkan niatnya untuk menuliskan gagasan-gagasan orisinal, semata karena tidak memiliki rujukan ilmiah.

Manakala mengurai pemikiran di atas, saya tidak sedang berusaha mengajak kita semua untuk meninggalkan sama sekali tradisi akademik. Sama sekali tidak! Sebab, tradisi tersebut juga menjadi keniscayaan untuk melestarikan sebuah disiplin keilmuan. Saya hanya mengingatkan bahwa pada titik-titik posisi atau area tertentu, tradisi bisa menguatkan tetapi juga bisa melemahkan. Dalam konteks penulisan gagasan, maka sudah seharusnyalah kalau kita lebih arif menyikapinya.

Ketika yang kita butuhkan adalah sebuah pengukuhan, kesahihan, kevalidan, legitimasi, dan pranata kelembagaan, maka tradisi akademik tidak bisa ditinggalkan. Sebab jika ditinggalkan, yang terjadi adalah anomali kelimuan. Tetapi, saat yang kita butuhkan adalah area kebebasan demi memperlancar penuangan gagasan, maka tradisi akademik tertentu bisa jadi justru kontra produktif.

Sebagai penulis profesional, editor, dan penerbit, saya sering mendapati beragam tulisan dari beragam latar belakang. Tidak semuanya ditulis dengan baik. Apabila saya menerapkan standar akademik sebagai satu-satunya alat saring tulisan, maka jelas saya akan melewatkan begitu banyak tulisan bagus lainnya—sekalipun itu bukan bagus dalam artian akademik.

Saya yakin, tulisan akademik pun ditulis dengan suatu disiplin tertentu yang sangat pantas untuk dihargai. Bahkan, untuk beberapa jenis tulisan, pendekatan inilah yang rasanya bisa menjadi yang terbaik. Tetapi, tulisan-tulisan nonakademik yang sifatnya hanya opini, atau sering dianggap spekulatif, pun bisa bermanfaat dan menambahkan sesuatu kepada kita. Setidaknya, saya sering menemukan kearifan-kearifan dan kebijaksanaan dalam tulisan-tulisan jenis ini. Dan, itu pun layak mendapatkan apresiasi yang positif.

Nah, sekarang bila Anda merasa terhambat, terbelenggu, takut, atau gamang untuk memulai aktivitas penulisan gagasan, cobalah untuk mengorek sebab-musababnya. Apabila Anda merasa hambatan itu berasal dari luar diri Anda, maka segera sadari akan hak hakiki setiap orang untuk berpikir, berpendapat, dan bersikap. Ideologi demokrasi dan konstitusi kita menjamin hal tersebut.

Namun, bila hambatan itu terasa datangnya dari dalam diri sendiri, segera gedor kesadaran Anda bahwa menjajah pikiran sendiri sama artinya dengan menghina dan merendahkan martabat kita sebagai manusia merdeka. Ingat, Tuhan menciptakan manusia lengkap dengan kemuliaan martabat, kemerdekaan, dan hak-hak azasinya. Jadi, jangan cabut kemerdekaan berpikir Anda sendiri.

Saya yakin, salah satu hal yang membuat dunia ini menjadi begitu dinamis adalah karena adanya kemerdekaan berpikir. Kemerdekaan berpikir ini dinikmati oleh orang-orang yang mau menyadari, memperjuangkan, menggunakan, bahkan menikmatinya. Dari merekalah muncul beribu-ribu, bahkan berjuta-juta gagasan lisan maupun tertulis yang kemudian memperkaya peradaban manusia. Saya berharap, Anda adalah salah satu di antaranya. Selamat menulis dengan merdeka![ez]

* Edy Zaqeus adalah seorang trainer, editor profesional, writer coach, dan konsultan penulisan/penerbitan. Usai menjadi editor Pembelajar.com 2004-2008, ia mendirikan sekaligus menggawangi www.andaluarbiasa.com. Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing, penulis beberapa buku bestseller, di antaranya “Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller Edisi Revisi” (Fivestar, 2008) dan “Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila!” (Kintamani, 2009). Jangan lewatkan workshop-nya bersama Andrias Harefa dan Her Suharyanto dengan judul “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Angkatan ke-X pada 19-20 Juni 2009 nanti. Info selengkapnya di blog Edy Zaqeus on Writing. Edy dapat dihubungi melalui pos-el: edzaqeus[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Rike Amru: Presenter Harus Selalu Fresh, Fisik Maupun Mental

Rike Amru

Rike Amru

Mungkin Anda adalah sebagian dari pemirsa yang dalam satu dekade terakhir disuguhi penampilan para presenter atau penyiar berita yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Dan, salah satu wajah cantik yang mungkin sering Anda saksikan di SCTV melalui program Liputan 6 dan Barometer tersebut adalah Rike Amru. Ya, perempuan kelahiran Banda Aceh pada 7 Juli 1973, ini tidak menampik sinyalemen persaingan yang sangat ketat di antara stasiun-stasiun televisi yang ada, khususnya dalam menampilkan para presenter yang rupawan.

Tak heran bila kini, pemirsa bisa melihat sejumlah presenter berita khususnya, yang sempat menjadi semacam ikon di suatu stasiun televisi dan juga berpenampilan menarik serta berwajah rupawan—tentu saja diikuti dengan kemampuan profesi yang sangat baik—seperti menjadi rebutan stasiun-stasiun televisi lain yang ingin menonjol dalam persaingan. Bagi Rike, hal seperti itu lumrah saja, sebab setiap presenter juga membutuhkan tantangan lebih. Yang penting, setiap presenter memiliki modal yang cukup untuk bersaing dan mendapatkan tantangan lebih tersebut.

Walau begitu, menurut Rike, modal penampilan saja sebenarnya tidak cukup memberikan bobot lebih kepada seorang presenter. Menurut jebolan Fakultas Ekonomi USU dan STIE Perbanas ini, kecantikan seorang presenter haruslah terpancar dari intelektualitas dan personality-nya. Nah, kombinasi intelektualitas dan kepribadian yang menawan itulah yang bisa menjadikan penampilan sang presenter memiliki roh, dan itu pula yang memikat maupun mengikta pemirsa. “Sebaliknya, jika betul-betul mengandalkan kecantikan fisik, saya kira penonton tidak bakal betah,” ujar Rike.

Sementara melihat sejumlah rekannya terjun ke dunia politik, Rike menyatakan bahwa hal itu juga wajar-wajar saja. Sebab, dunia jurnalistik memungkinkan seorang jurnalis bersentuhan dengan banyak persoalan riil masyarakat. Dan mungkin saja, itulah yang mengetuk mereka untuk kemudian terjun ke politik. Namun, Rike mengaku akan tetap fokus dan menekuni dunia jurnalisme televisinya. “Jurnalistik adalah end of mind saya,” jelasnya. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Rike Amru, perihal pernak-pernik jurnalistik televisi di Indonesia, yang dilakukan melalui komunikasi via Facebook dan pos-el:

Sekarang ini hampir semua stasiun televisi swasta berlomba-lomba untuk menghadirkan para penyiar berwajah cantik. Komentar Anda?

Wajar saja. Karena itu salah satu cara yang ditempuh oleh stasiun televisi untuk merebut dan mempertahankan atensi pemirsa.

Apakah ini berdampak baik atau buruk?

Berdampak baik, jika kecantikan si penyiar atau presenter itu juga berasal dari intelektualitas dan kepekaannya. Artinya, si presenter tidak sekadar memperlihatkan kecantikan fisik, tapi juga merepresentasikan personality-nya. Dengan begitu, citranya akan memberi roh ke layar stasiun televisinya. Dan, penonton juga merasa nyaman. Sebaliknya, jika betul-betul mengandalkan kecantikan fisik, saya kira penonton tidak bakal betah.

Perpindahan penyiar dari satu stasiun televisi ke stasiun lain juga sering terjadi. Padahal, mereka ini seringnya sudah menjadi semacam ikon bagi stasiun televisi lama. Pandangan Anda?

Banyak faktor yang menyebabkan penyiar pindah ke stasiun televisi lain. Salah satunya, kebutuhan akan tantangan baru. Saya pikir, soal tantangan ini, bisa menjadi lebih penting ketimbang ikon.

Rike Amru: Liputan kebun ganja di Aceh

Rike Amru: Liputan kebun ganja di Aceh

Sebenarnya, modal apa saja yang idealnya dimiliki oleh penyiar televisi?

Yang paling penting memiliki sensitivitas, kepekaan terhadap lingkungan sekitar, sesama, dan isu-isu di tengah masyarakat. Lalu intelektualitas, kemampuan berbahasa yang memadai, serta kepribadian yang luwes, dan low profile. Ini semua modal yang akan membuat seorang penyiar selalu menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari pemirsa televisi.

Di tengah persaingan penampilan para penyiar sekarang ini, menurut Anda, apa yang mesti menjadi tonjolan, hal khas, atau unggulan masing-masing?

Saya pikir…. setiap presenter berita memiliki kekhasan dan daya tarik yang spesifik. Tapi, apa pun kelebihannya, harus selalu bisa diintegrasikan pada prinsip-prinsip jurnalistik, yang direpresentasikan melalui penampilannya. Artinya, prinsip jurnalistik itu yang paling utama untuk ditonjolkan. Seperti, tidak menghakimi dan tidak beropini. Dengan begitu, saat tampil di layar televisi, presenter tidak boleh membawa diri sebagai “selebritis”.

Ada rumor bahwa sejumlah penyiar televisi memaksa diri untuk tetap hidup single untuk mempertahankan penggemarnya. Benarkah itu?

Sama sekali tidak benar! Banyak penyiar menjadi makin matang performanya setelah menikah. Dan, penggemarnya juga menjadi semakin setia.

Dalam masa pemilu seperti sekarang, apakah kalangan penyiar atau jurnalis televisi sering mendapatkan pesan-pesan sponsor, atau bahkan tekanan tertentu?

Secara langsung atau eksplisit sih tidak. Karena, bisa jadi lingkungan jurnalistik justru yang paling disegani. Dan, jangan sampai jadi blunder dan bumerang untuk mereka sendiri. Secara implisit, mungkin ada juga. Tapi, karena kami berpijak pada jurnalisme, kami menjadi tidak peka dan tidak peduli dengan hal-hal semacam itu.

Rike Amru: Presenter harus selalu tampil fresh

Rike Amru: Presenter harus selalu tampil fresh

Sejumlah penyiar, baik yang senior maupun yang masih muda, mulai merambah ke dunia politik. Pandangan Anda?

Saya rasa, pilihan dan keputusan terjun ke politik itu dilandasi oleh keterikatan dan rasa tanggung jawab rekan-rekan tersebut terhadap masyarakat. Selama menjadi jurnalis, mereka selalu bersentuhan dengan persoalan-persoalan masyarakat. Barangkali, ini menjadi langkah konkret mereka untuk bisa berperan lebih banyak. Boleh jadi, ini juga terkait kebutuhan akan tantangan baru tadi.

Dengan tingkat popularitas Anda sekarang ini, apa Anda juga tertarik untuk melebarkan sayap ke dunia politk nantinya?

Tidak…. Jurnalistik adalah end of mind saya.

Anda sering memandu program debat untuk isu-isu yang cukup panas. Pernah punya pengalaman tak terlupakan?

Salah satu pengalaman paling penting, bagi saya, adalah waktu memandu debat para jurnalis senior mengenai kebijakaan pemberitaan eksekusi Amrozi dkk.

Bagaimana cara Anda mengendalikan situasi debat yang memanas itu?

Menghadapi debat yang memanas, yang paling saya pikirkan adalah pemirsa. Informasi apa yang berhak diperoleh pemirsa? Hal ini menempatkan saya sebagai “filter” untuk tidak membiarkan suhu panas menjadi satu-satunya daya pikat program itu. Artinya, saya akan menginjak pedal rem, jika perdebatan keluar dari koridor dan tidak lagi proporsional. Tapi, saya juga memberikan ruang yang leluasa bagi masing-masing panelis, jika dalam debat banyak informasi penting yang bisa dipetik pemirsa.

Kesimpulan apa yang bisa Anda petik dari situasi-situasi debat dalam itu? Apakah masyarakat atau tokoh-tokoh kita siap dan bersedia menerima perbedaan pendapat?

Jujur saja, kadang kala ada tokoh yang tidak siap berdebat, sekaligus tidak siap menerima perbedaan. Kadang kala, ada panelis yang berpikiran sempit, yang memandang forum debat menyerupai arena gulat, dan maunya menang. Tapi, jika presenter yang memandunya melakukan tugasnya dengan baik, masyarakat tentu bisa menilai masing-masing tokoh secara fair.

Rike Amru: Bersama rekan-rekannya di SCTV

Rike Amru: Bersama rekan-rekannya di SCTV

Apa pengalaman paling berkesan yang pernah Anda alami selama tugas jurnalistik?

Hmm, banyak ya. Salah satu yang saya ingat, saat meliput ladang-ladang ganja di lereng pegunungan Leuser. Liputan itu untuk program investigasi Sigi-30 Menit. Anda bisa bayangkan… Saya hampir ‘pingsan’ saat mendaki dan menuruni pegunungan di hutan, untuk mencari ladang ganja bersama tim. Sama sekali tidak mudah bagi saya. Kami stay di sana hampir dua pekan.

Dalam setiap penugasan di lapangan, penampilan tetap menjadi perhatian utama penyiar. Bagaimana Anda menyiasati hal ini, semisal tetap menjaga penampilan selagi tugas di daerah yang sulilt seperti di Aceh…?

Menurut saya, yang paling penting adalah tampil sesuai dengan keadaan dan lingkungan saya berada. Di wilayah sulit, apalagi di daerah yang dilanda bencana, tentu malah tidak wajar kan jika tampil kenes? Tapi, saya selalu memberi “warning” pada diri sendiri, bahwa presenter harus selalu fresh. Fisik maupun mental. Ini penting, supaya selalu siap memberikan informasi yang komprehensif dan detail pada pemirsa. Cara menyiasatinya? Ya, sekurang-kurangnya cukup istirahat dan cukup tidur. Dan, harus bisa istirahat dan tidur di mana pun. Di tenda maupun di kandang….

Penyiar-penyiar baru yang lebih muda dan menarik nantinya pasti akan terus berdatangan. Bagaimana Anda menghadapi situasi semacam ini ke depannya?

Saya sama sekali tidak memandang rekan-rekan muda sebagai pesaing. Saya juga tidak ingin menempatkan diri saya sebagai senior, yang lebih tahu segala hal. Jadi, menghadapi mereka, saya justru mempersiapkan diri, bagaimana supaya saya bisa menjadi rekan kerja dan partner yang ideal. Yang bisa saling berbagi dan belajar satu sama lain.

Siapa penyiar televisi idola Anda?

Banyak. Semua punya spesifikasi dan keunikan masing-masing. Saya juga banyak belajar dari senior saya di Liputan6 SCTV, seperti Ira Koesno dan Rosianna Silalahi.

Rike Amru: Sebuah aksen

Rike Amru: Sebuah aksen

Selain sebagai penyiar, apa yang sehari-hari Anda lakukan, atau yang menyibukkan Anda?

Baca koran, nonton berita maupun program-program dokumenter. Dan, current affairs dari stasiun televisi nasional lain, sampai CNN. Lalu, baca buku dan diskusi dengan rekan-rekan jurnalis maupun dari lintas bidang.

Anda punya mimpi-mimpi ke depan di bidang kehidupan pribadi dan karier? Menuliskan pengalaman jurnalistik dalam sebuah buku, misalnya?

Dalam karier, semoga bisa menjadi wartawan televisi seperti Lara Logan atau Christianne Amanpour, meskipun masih sangat jauh. Menulis buku? Ya, will do.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi Rike Amru, dan koleksi Gangsar AJ, Widhi Anthony, Kun GFX, dan Lee Kwangsung.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 1.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Mengapa Orang Pintar Takut Menulis?

Edy ZaqeusOleh: Edy Zaqeus*

Saya sering menemui sahabat yang punya minat sangat besar untuk mulai belajar menulis. Mereka datang dari beragam usia serta latar belakang profesi, pendidikan, bahkan status sosial-ekonomi. Tak sedikit di antaranya yang sudah membaca sekian banyak buku tentang teknik menulis, mengikuti seminar, dan lokakarya (workshop). Tak sedikit yang sudah memiliki dasar-dasar kemampuan menulis cukup memadai sebagai konsekuensi pekerjaan, profesi, atau tugas-tugas di masa studi. Sebagian lagi malah sudah sampai pada tahap sikap seperti ini, “Pokoknya apa pun akan saya lakukan, asal saya bisa menulis dengan baik!” Luar biasa!

Tapi, apakah para sahabat ini serta merta langsung belajar menulis? Ternyata tidak! Ini yang membuat saya sering bertanya-tanya, “Apa lagi ya yang kurang?” Selidik demi selidik, bagi sebagian dari kita ternyata menulis itu memang bukan perkara mudah. Mengapa tidak mudah? Ternyata, soal menulisnya sendiri sih bisa mudah, tapi perkara ‘beban mental’-nya itu yang tidak mudah. Wah, apa lagi ini?

Begini, bagi sebagian dari kita, aktivitas menulis itu sering dilingkupi oleh berbagai bayangan, persepsi, atau mitos keliru. Entah dari mana munculnya dan kapan bersarang di otak kita, tapi anggapan-anggapan yang keliru itu mampu menelikung semangat untuk menulis—bahkan semangat yang paling membara sekalipun. Saya akan perinci beberapa di antaranya.

Pertama, ada orang yang berpikir bahwa tulisan itu mencerminkan kemampuan, pengalaman, wawasan, intelektualitas, bahkan kepribadian si penulisnya. Dalam derajat tertentu, anggapan ini jelas ada benarnya. Memang, sebuah tulisan pastilah dihasilkan berdasarkan kecakapan atau keahlian si penulisnya. Intensitas dalam sebuah proses penulisan, kadang memang terekam dengan baik dalam hasil tulisan.

Makanya, orang awam pun kadang dengan mudah mengenali sejumlah hal—baik itu tingkat kemampuan, banyaknya pengalaman, luasnya wawasan, kadar intelektualitas, bahkan kepribadian si penulis—selain gagasan-gagasan dalam tulisan itu sendiri. Orang-orang ‘pintar’ pada umumnya, justru sangat paham akan konsekuensi ini. Dan, kepahaman ini pula yang justru jadi biang masalah dalam kepenulisan.

Makanya, akan salah besar jika kemudian muncul ketakutan menulis, semata-mata karena ngeri kalau-kalau tulisan kita nanti diadili orang lain, yang kita anggap lebih pintar dalam bidang yang ditulis. Kadang yang membuat ngeri bukannya pengadilan terhadap gagasan-gagasan dalam tulisan itu sendiri, tapi lebih karena ‘ancaman’ pengadilan kepada siapa yang menulis.

Jadi, ini soal ego yang ‘terancam’ oleh pikiran, persepsi, atau anggapan sendiri, yang belum tentu benar adanya. Benar sedikit atau seluruhnya, ternyata perasaan terancam ini pula yang menjadi sumber ketakutan untuk menulis.

Kedua, mirip-mirip dengan permasalahan pertama, tak jarang orang yang baru belajar atau memutuskan menulis mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri secara ‘kejam’: “Siapa sih aku, kok berani-beraninya menulis?” Kalau mau dipanjanglebarkan, maka akan muncul rentetetan gugatan pada niatan menulis, “Apa orang mau baca tulisanku?”, “Apa iya ide saya yang minim pengalaman ini layak ditulis?”, “Apa orang tidak akan menertawakan saya kalau saya menulis soal ini?”, dan masih banyak lagi.

Jadi, ini soal ancaman pengadilan terhadap ‘siapa’ si penulis itu. Percaya atau tidak, sindrom semacam ini—kalau boleh disebut begitu—menghinggapi bukan saja para calon penulis yang baru pada tahap belajar, tapi juga membelenggu kalangan intelektual, akademisi, atau para profesional yang sangat well educated dan well informed. Sindrom ini sangat berbahaya sekali. Mengapa? Kreativitas bisa macet gara-gara kita terlalu berfokus pada soal siapa diri kita dan layak tidaknya kita menulis.

Menurut saya, sindrom ini adalah soal psikologis, sementara gagasan yang hendak ditulis sama sekali tidak bertautan dengan hal tersebut. Orang bisa saja takut ini-itu ketika hendak menulis, tapi ketakutan itu sendiri tidak otomatis mengindikasikan kualitas gagasan yang hendak ditulis.

Ketiga, ancaman ‘pengadilan’ terhadap gagasan sendiri dan masalah ini juga masih bersambungan dengan persoalan-persoalan sebelumnya. Tak jarang karena pertanyaan-pertanyaan kritis soal siapa yang menulis, maka gagasan yang brilian sekalipun sering dipendam atau tidak diperbolehkan mekar.

Bagus tidaknya intisari gagasan seseorang tidak ditentukan oleh siapa pencetusnya ataupun kondisi-kondisi psikologis seseorang. Gagasan tetaplah gagasan, sekalipun ditulis oleh siapa saja dan dalam kondisi tidak percaya diri, ketakutan, dan ragu-ragu sekalipun.

Dari premis ini pula, dalam hal kepenulisan saya termasuk ‘penganut’ nilai gagasan an sich, bukan soal siapa yang menulis. Saya menghargai gagasannya, bukan siapa yang menulis. Gagasan atau tulisan seorang pembantu rumah tangga sama berharganya seperti pendapat seorang guru besar atau pakar. Gagasan tukang sol sepatu sama-sama layak diapresiasi sebagaimana ide-ide para direktur perusahaan maupun pejabat pemerintahan. Jika gagasannya bagus dan ditulis dengan baik pula, itu pantas dipuji dan diapresiasi, siapa pun penulisnya.

Bagaimana dengan gagasan buruk (bad idea)? Saya sendiri selalu bertanya-tanya, apa benar ada yang namanya gagasan buruk? Dalam ranah fungsional, mungkin ada (dalam pengertian gagasan yang tidak aplikatif). Tapi dalam ranah ide, rasanya tidak ada gagasan buruk. Yang ada mungkin hanya gagasan yang tidak disampaikan atau ditulis secara sistematis dan logis sehingga menguatkan ciri ketidakbaikannya itu.

Keempat, tak jarang bayangan atau anggapan-anggapan yang keliru tentang kepenulisan itu datang dari lingkungan di mana kita belajar sebelumnya. Maksudnya, tempat kita menyerap pengetahuan dan belajar menulis (SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, kursus-kursus, tempat kerja, atau mentor) memberikan pedoman kepenulisan yang ternyata tidak efektif bagi diri pribadi kita.
Dalam hal menulis, memang banyak strategi, teknik, atau cara menulis yang diserap dari beragam praktik, yang kemudian dibukukan, diajarkan, atau diaplikasikan dalam kelas.

Menariknya, sekalipun banyak metode tersebut efektif untuk kebanyakan orang, tapi selalu saja ada pribadi-pribadi unik yang butuh lebih dari pedoman yang ada. Saya percaya setiap orang punya cara belajar dan berkarya sendiri-sendiri, sehingga sebuah pedoman untuk berkreasi—secanggih dan seampuh apa pun itu—tidak otomatis cocok untuk semua orang.

Saya misalnya, pernah menghadapi adik sendiri yang sedang belajar menulis artikel. Ia punya kegemaran menulis paragraf panjang-panjang, kadang hampir satu halaman penuh hanya untuk satu paragraf, yang membuat si pembaca merasa kelelahan membaca tulisannya. Ketika saya sampaikan teknik menulis paragraf yang efektif, adik saya ini merasa tidak sepaham karena—menurut apa yang pernah dia terima dari guru bahasa di SMA dan beberapa dosen yang pernah dia tanyai—teknik itu dianggap menyalahi ‘aturan’.

Maka dari itu, sekalipun teknik penulisan yang saya tawarkan saya anggap efektif, tapi karena dianggap adik saya menyalahi aturan, ya akhirnya jadi tidak efektif lagi, alias tidak dipergunakan. Ketakutan melanggar ‘aturan’ inilah yang mungkin membuat banyak orang enggan beranjak ke cara penulisan yang bisa jadi lebih cocok dan efektif bagi proses kreatifnya.

Persoalannya, apa gunanya ‘aturan’ atau pedoman kepenulisan—yang belum tentu benar keseluruhannya dan pas dengan kebutuhan kita—bila justru menghambat proses kreatif? Pada titik ini, tak ada salahnya mulai berpaling ke cara-cara baru yang lebih mendukung proses kreatif dan produktivitas kita. “Lurus tak selalu bagus,” kata saya pada adik saya ini.

Kelima, soal motif menulis. Dalam hal menulis, sebagian orang sejak dini sudah membentengi diri dengan sekian banyak pantangan. Misalnya, pantang menulis karena motif finansial. Pantang menulis untuk kepentingan personal branding. Pantang menulis karena bau pasar atau industri. Dan, masih banyak lagi pantang lainnya. Manakala berhadap-hadapan dengan tuntutan aktivitas menulis yang menuntut kompromi, maka sikap pantang ini bisa jadi penghambat yang serius.

Saya pernah berhadapan dengan seorang profesional yang menurut pandangan saya sudah cukup kaya dengan pengalaman di bidangnya. Jika sudah sampai pada tahap seperti itu, maka menuliskan gagasan-gagasan terbaiknya dalam bentuk buku adalah sebuah pilihan yang menantang. Tapi, karena idealisme untuk menulis buku masterpiece—sementara waktu dan kemampuan menulis belum padu padan—si profesional ini memilih untuk tidak menulis dulu. Baginya, pantang menulis (buku) sederhana (yang dalam pikiran saya, itu bisa jadi solusi sementara bagi para profesional nonpenulis). Akhirnya, sejumlah pilihan teknik menulis yang lebih praktis dan mudah pun diabaikan.

Sesungguhnya, menulis adalah alat untuk berkomunikasi atau penyampai pesan. Karena hakikatnya alat maka tulisan itu netral. Tulisan baru punya value tertentu begitu diberi motif oleh si penulisnya. Karena di dunia ini ada beribu kepentingan, maka akan ada beribu motif pula dalam memanfaatkan tulisan. Orang bisa menulis karena motif uang, popularitas, kesuksesan, pengaruh, legitimasi, keilmuan, keagamaan, propaganda politik, dan masih banyak lagi. Motif tersebut bisa berdiri di titik ekstrim idealis sampai di titik ekstrim pragmatis. Semuanya sah-sah saja, sama bermaknanya satu dengan yang lain.

Sebagai editor dan penulis profesional, saya sering mendapati problem motif ini lumayan membelenggu sebagian orang yang hendak menuliskan gagasannya. Betapa motif bisa memacu tapi juga bisa membelenggu. Idealisme sering bertarung dengan pragmatisme. Sebagian orang bisa berkompromi dan melanjutkan aktivitas menulis, sebagian lagi berhenti pada niat dan melupakannya. Menulis akhirnya menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit sifatnya.

Jika menghadapi dilema semacam ini, kita tidak perlu takut untuk berkompromi. Idealisme tidak boleh menghambat gerak kreatif kita, sebaliknya pragmatisme juga tidak boleh membuat kreativitas kita jadi liar nirmakna. Gagasan-gagasan terbaik seharusnya tidak menguap hanya karena kita takut dengan motif atau idealisme menulis.

Sejauh ini kita sudah mengurai akar masalah kenapa orang awam maupun orang yang paling berkompeten sekalipun bisa takut menulis. Lalu, adakah cara-cara atau teknik untuk menaklukkan rasa takut menulis itu? Jawabannya, ada dan banyak sekali. Kita akan diskusikan pada tulisan berikutnya. Salam bestseller![ez]

* Edy Zaqeus adalah seorang trainer, editor profesional, writer coach, dan konsultan penulisan/penerbitan. Usai menggawangi Pembelajar.com selama empat tahun, ia kemudian menjadi pendiri dan editor www.andaluarbiasa.com. Edy juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing, penulis beberapa buku bestseller, di antaranya “Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller Edisi Revisi (Fivestar, 2008) dan “Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila!” (Kintamani, 2009). Jangan lewatkan workshop-nya bersama Andrias Harefa dan Her Suharyanto dengan judul “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Angkatan ke-X pada 19-20 Juni 2009 nanti. Info selengkapnya kunjungi blog Edy Zaqeus on Writing di http://ezonwriting.wordpress.com. Edy dapat dihubungi melalui pos-el: edzaqeus[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Alexandra Dewi: Pernikahan yang Bahagia Butuh Proses dan Kerja Keras

Alexandra Dewi

Awalnya, Alexandra Dewi Aryani Hermanus, begitu nama lengkapnya, tidak cukup percaya diri untuk menganggap coretan-coretannya sebagai tulisan. Maklum, semula ia merasa tulisan-tulisan itu hanya curhatan perempuan pada umumnya. Semata merupakan tulisan-tulisan lepas hasil olah perasaan di sela-sela kesibukan bisnisnya. Tetapi, seorang rekan kerja memperlihatkan karyanya tersebut ke sejumlah rekan. Ternyata, tidak seorang dua orang yang menganggap tulisan Dewi punya “isi”, ada yang khas, merekam realitas masyarakat, dan tentu saja ada nilai jualnya.

Tidak meleset. Debutnya diawali dengan menerbitkan buku nonfiksi bersama Cynthia Agustina berjudul I Beg Your Prada (GPU, 2006) cukup mendapat sambutan publik, sehingga buku itu sempat cetak ulang. Tak lama berselang, Dewi meluncurkan buku kedua yang ditulisnya sendiri berjudul Queen of Heart (GPU, 2007). Ini buku kiat-kiat bagi para lajang untuk mendapatkan pasangan idaman, sekaligus sambil tetap mempertahankan jati diri sebagai perempuan yang elegan, berkelas, dan bermartabat. Kini, Dewi segera hadir dengan karya ketiga berjudul The Heart inside the Heart (GPU, 2009), yang akan diluncurkan pada 23 April 2009 ini di Jakarta.

Apa pesan yang dibawa perempuan kelahiran Jakarta, 11 Mei 1974, dalam buku terbarunya ini? Ternyata, isinya merupakan “kelanjutan” dari buku sebelumnya, Queen of Heart. Kalau di buku sebelumnya banyak bercerita tentang bagaimana cara menemukan pasangan sejati, maka buku terbaru ini berkutat pada masalah menjaga keutuhan rumah tangga. Pesannya sangat jelas, kehidupan perkawinan ternyata tidak selalu seindah yang dibayangkan. “Banyak masalah muncul, dan mungkin kita tidak memikirkan itu sama sekali, dulu waktu memutuskan menikah,” tutur Dewi yang menikah sepuluh tahun yang lalu dengan Peter Chen.

Singkat kata, membangun, merawat, dan mempertahankan biduk rumah tangga itu sungguh-sungguh perlu kerja keras suami-istri. “Seperti berdansa, masing-masing harus tahu kapan maju dan kapan mundur, supaya tidak saling injak,” kata alumnus American College for the Applied Arts, Los Angeles, California, USA, yang kini menjadi Managing Director PT Sun Hope Indonesia itu. Dewi seperti hendak mengingatkan para pasangan muda yang hendak menikah, supaya sejak awal mau memberi porsi lebih banyak memikirkan berbagai kemungkinan problem rumah tangga ke depannya. Harapannya, mereka bisa menjadi lebih realistis dalam mengarungi perkawinan atau menghadapi terpaan beragam persoalan nantinya.

Tetap sibuk mengurus perusahaan bersama sang suami, mengurus kedua putra-putrinya Elizabeth Jessie Chen dan Joseph Mason Chen, dan mengembangkan sebuah butik, Dewi masih sempat aktif menulis untuk sejumlah website, seperti website motivasi www.andaluarbiasa.com, www.curhat.com, dan www.kabarindo.com. Berikut adalah petikan wawancara Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Alexandra Dewi melalui pos-el belum lama ini:

AD: Menjalin persahabatan di mana saja

AD: Menjalin persahabatan di mana saja

Apa judul buku terbaru Anda dan secara garis besar apa isinya?

Judulnya The Heart inside the Heart. Isinya apa saja yang perlu diketahui wanita sebelum menikah. Soal selingkuh, soal bercerai. Secara garis besar tentang kehidupan pernikahan yang realistis, dan berbagai macam dinamika atau liku-liku kehidupan berumah tangga.

Mengapa tertarik menggunakan judul tersebut?

Buku saya sebelumnya, Queen of Heart, garis besarnya berisi dinamika wanita ketika masih single serta tahap mencari pacar atau calon suami. Sedangkan The Heart inside the Heart ini soal dinamika yang lebih dalam. Karena masa kencan atau pacaran jauh berbeda dengan kehidupan berumah tangga. Banyak orang menghabiskan waktunya untuk memikirkan pesta pernikahannya. Tapi, tidak banyak yang berpikir soal kematangan dan kesiapan mental untuk menjalankan kehidupan rumah tangga, yang idealnya untuk seumur hidup. Sementara, pesta pernikahan hanya satu hari saja, kan?

Banyak juga yang menikah karena alasan alasan lain, di luar sebab saling mencintai. Mungkin menikah karena tekanan sosial. Mungkin juga terlalu terbuai fantasi soal indahnya kehidupan berumah tangga, seperti yang ada di film-film itu. Realitasnya, pernikahan yang bahagia butuh proses dan kerja keras.

Dari buku tentang gaya hidup kelas menengah-atas, lalu ke kiat-kiat untuk para lajang. Sekarang, terjun ke buku perkawinan. Ada kaitannya satu sama lain?

Secara tema buku, kaitannya memang tidak ada. Ini cuma hasil pengamatan saya terhadap kehidupan di sekitar kita. Gaya hidup kelas menengah atas, perjuangan para lajang untuk menemukan “soul mate”, yang mana menurut saya pribadi tidak ada itu yang namanya soul mate. Semua pasangan, terutama yang baru saja jatuh cinta, rasanya pasti seperti menemukan soul mate. Tapi, setelah beberapa tahun, kok malah memilih bercerai?

Buat saya, lebih realistis kalau kita jatuh cinta lalu kalau memutuskan menikah dan meraih bahagia. Sementara, awetnya pernikahan itu tidak segampang mengetik kata soul mate. Tapi, benar-benar butuh proses. Ya, proses belajar kompromi, proses mengerti artinya pernikahan, dan yaitu tadi, lagi-lagi kerja keras.

Dapat dorongan dari mana sehingga Anda mau menulis buku ini?

Teman-teman saya di sekitar saya. Bahkan, yang jauh lebih muda, rata-rata pada sudah menikah. Dan, ketika kami saling tukar pikiran secara jujur, menikah itu ternyata ada enak dan tidaknya. Ada suka dukanya. Dan, banyak hal harus dihadapi, yang mana tidak pernah terlintas di benak kami sebelum memutuskan menikah dulu. Kalau waktu masih single dulu sih, kami sama-sama mengakui kok. Walaupun kami sudah mencoba realistis, sudah pacaran bertahun-tahun sebelum menikah, di tengah-tengah pernikahan, ada saja ‘kejutan’-nya. Itu baru kami alami ketika sudah menjadi suami istri. Dan, di zaman sekarang ini, cerai sudah merupakan hal yang lumrah. Begitu juga soal penyebabnya. Yang tidak mengherankan lagi, ya soal pihak ketiga itu. Atau, sebab-sebab lainnya yang saya tuangkan di buku ini.

AD berlibur ke Eropa

AD berlibur ke Eropa

Dari mana Anda gali sumber-sumber penulisannya?

Tentunya dan utamanya adalah pengalaman pribadi. Karena, kebetulan saya sudah menikah sepuluh tahun lamanya. Sisanya, ya dari bertanya kepada siapa saja yang rela menjawab. Atau tanya sama siapa saja yang mau cerita, ya dari teman-teman, juga segala persoalan teman-teman mereka juga. Kadang bahan juga saya dapat dari pertanyaan-pertanyaan yang masuk ke saya melalui www.curhat.com. Jadi ya, semua ditulis berdasarkan bahan atau cerita nyata.

Sejauh yang Anda amati, sebenarnya persoalan-persoalan pokok apa saja yang siap menghadang setiap perkawinan?

Tergantung di usia ke berapa pernikahannya? Juga berapa lama pacarannya? Dan, tentu ke individu masing-masing, persoalannya akan berbeda-beda. Ada yang masalah utamanya mertua, ada yang susah menyatukan dua hati, dua pikiran, dan dua keinginan menjadi satu. Dan, tidak sedikit yang ribut karena masalah uang atau rasa saling percaya soal ini. Yang lain soal kejenuhan terhadap pasangan, atau harapan terhadap pasangan yang tidak terpenuhi.

Padahal, kalau kita terlalu berharap dapat kebahagiaan dari sarana eksternal, walaupun itu suami atau istri sendiri, mood kita akan menjadi sangat tidak stabil. Karena, kita itu hampir tidak mungkin mempunyai remote control terhadap apa yang orang lain lakukan atau rasakan.

Masalah orang ketiga sering jadi faktor pengganggu yang paling menakutkan. Anda sendiri memandangnya bagaimana?

Yah, menikah itu mudah, kalau hanya untuk mencari status menikah. Tapi lagi-lagi, membangun pernikahan yang bahagia itu justru tantangan sesungguhnya. Nah, namanya saja tantangan, tentu kedua belah pihak, baik suami dan istri, harus fokus seratus persen untuk mendapatkannya. Itu saja, sudah tantangan tersendiri, kan? Kalau ditambah dengan kehadiran orang ketiga, kita semua bisa bayangkan…. Tingkat kesuksesannya akan bagaimana? Apalagi kalau salah satu pihak, atau bahkan dua-duanya hanya ada separuh di dalam pernikahan hitu. Ya, karena separuh hatinya sudah ada di hati orang lain, misalnya.

Karier seorang istri, yang misalnya jauh lebih melejit ketimbang sang suami, juga bisa jadi biang keretakan rumah tangga. Menurut Anda?

Pastinya akan jadi masalah. Itu kalau keduanya tidak tahu artinya bersyukur. Si Istri akan merasa lebih superior, dan si suami akan merasa tertekan, atau harga dirinya turun. Sedangkan si istri, tanpa disadari akan lupa bagaimana rasanya dilindungi. Rasanya menjadi seorang wanita. Tanpa dia sadari, bisa saja wanita itu yang membuat rasa itu datang. Caranya, dengan merendahkan suaminya. Jadi, seperti lingkaran setan. Istri dominan, suami tertekan dan kehilangan wibawa. Dari situ istri merasa tidak ada yang melindungi. Dan, dari situ pula sudah ada suatu hubungan yang disfungsional. Si istri merasa jadi suami, dan suami merasa terpaksa jadi istri.

Saya kenal seorang teman, yang juga seorang istri yang kariernya jauh lebih baik dari suaminya. Tapi, dia tetap hormat kepada suaminya. Karena, si istri merasa bahwa tidak penting siapa yang bawa income. Yang penting mereka berdua bisa bersyukur ada income yang baik untuk rumah tangga mereka. Tetap saja, si suami dalam hatinya masih tidak bisa make a peace dengan kenyataan itu. Bukan karena tingkah laku si istri, tapi karena tekanan sosial, yang standarnya menuntut seorang suami harusnya lebih sukses kariernya dibanding si istri.

AD bersama keluarga

AD bersama keluarga

Masalah lain, kalau karier kedua pihak sama-sama bagusnya, tapi sayang waktu untuk keluarga jadi minim. Itu juga bisa merusak keharmonisan rumah tangga, kan?

Betul! Kalau keduanya sama-sama super sibuk. Apalagi tidak ada dorongan untuk memelihara connection antara suami istri. Tentu, akhirnya bisa seperti room mate belaka. Tinggal satu atap, tapi kok sudah tidak menemukan rasa kebersamaan. Orang yang saling mencintai itu, bukan berarti seharian bermesra-mesraan melulu, lalu melihat satu sama lain seperti masa honey moon stage. Tapi, saling mencintai itu kalau mereka melihat ke arah yang sama terhadap masa depan keluarga.

Saya berpendapat, salah satu sumber masalah utama rumah tangga, yang mungkin jarang terdeteksi, adalah sulitnya menekan ego. Akibatnya, muncul perilaku mau menang sendiri dan tidak peka terhadap pandangan pasangan. Menurut Anda?

Kalau kita sudah menikah dan ingin bahagia , mau tidak mau kita harus belajar mengontrol ego. Saya setuju, kalau istri atau suami masih tidak bisa saling kompromi dan belajar “berdansa di pernikahan, tentu akan saling menyakiti. “Berdansa maksudnya adalah, kadang istri mundur, suami maju. Dan sebaliknya, ketika istri maju, suami belajar melangkah mundur, seperti pasangan berdansa. Mana ada yang bisa dansa kalau dua-duanya melangkah maju? Yang ada saling menginjak kaki lawan dansanya, kan? Jadi, kalau sudah saling kenal, irama dan ritme dansa pernikahansama seperti dansa yang kita lihat di televisi itu, akan terlihat kompak dan berasa sekali indahnya.

Ada yang berpendapat, masa kritis perkawinan suka muncul pada dua atau tiga tahun pertama perkawinan. Menurut pengalaman Anda, atau apa yang Anda tulis di buku ini?

Setiap pasangan berbeda situasinya. Tidak bisa disamakan. Ada yang baru pacaran enam bulan kemudian menikah. Ini beda dengan yang sudah pacaran enam tahun, lalu baru menikah. Begitu juga faktor usia ketika menikah. Kalau untuk saya pribadi, masa kritis perkawinan itu terjadi kalau salah satu sudah mulai mempersiapkan surat cerai, atau pisah ranjang, atau pisah rumah. Karena itulah, saya tulis di buku ini, saya pantang bilang mau cerai sebelum saya yakin sekali. Mudah-mudahan saja saya tidak harus mengalami masa kritis itu. Kebetulan suami saya orangnya santai , kalau perlu mundur 3 langkah dia akan lakukan itu karena dia tahu saya tidak akan mendorong nya mundur mundur terus sampai namanya bukan dansa lagi tapi jajahan.

Anda membuat buku ini supaya pasangan-pasangan muda siap dengan segala konsekuensi perkawinan mereka. Bagaimana kalau karena buku ini, malah banyak pasangan yang justru enggan menikah?

Buat saya, menikah itu harus dilandasi oleh rasa saling mencintai. Hari gini… menemukan orang yang kita cintai, dan yang balik mencintai kita, itu lebih susah dari cari uang, lho hahaha…. Jadi, kalau sudah menemukan pasangannya, yang bisa membuat mereka merasa menemukan soul mate, walau ditakut-takuti seperti apa pun, tetap saja mau menikah. Apalagi kalau proses menemukan pasangannya ditempuh dengan segala macam rintangan. Pasti, mereka akan tetap mau menikah. Yang takut menikah itu, justru kemungkinan besar pada dasarnya memang belum ketemu dengan yang pas hahaha… Atau, sederhana saja, mungkin mereka memang belum siap menikah, atau malah sudah nyaman hidup single.

AD bergaya di sebuah gereja di Eropa

AD bergaya di sebuah gereja di Eropa

Berapa lama Anda menyelesaikan penulisan buku ini?

Proses menulisnya kira-kira dua bulan saja. Tapi, banyak tambahan pikiran dan cerita, sehingga makan waktu keseluruhan sekitar enam bulan, termasuk editing-nya, membuat cover, persiapan cetak, dan juga launching.

Anda sudah disibukkan dengan berbagai aktivitas bisnis. Ternyata Anda sudah menghasilkan tiga buku dan menulis kolom di berbagai website secara rutin. Bagaimana cara Anda membagi waktu?

Saya baru mulai menulis ketika perusahaan yang saya kelola bersama suami sudah melewati masa 10 tahun. Saya juga beruntung, di kantor saya mendapatkan tim kerja yang sudah tahu apa tanggung jawab mereka. Tahu apa yang harus dilakukan, walau misalnya saya harus sering bepergian keluar negeri. Jadi, kalau hanya meluangkan waktu menulis hari minggu, atau malam hari ketika belum mengantuk, rasanya tidak akan banyak menggangu kegiatan lainnya.

Ini juga yang kadang membuat saya heran sendiri. Biasanya, kok malah ibu-ibu atau wanita yang bekerja itu yang suka ditanya soal bagaimana membagi waktu. Kaum pria yang berkarier, sepertinya jarang ditanyakan bagi waktu ini. Kalau wanita, mungkin selain berkarier dia juga harus memandori rumah tangga, kan? Hahaha….

Kalau soal variasi tema yang Anda tuliskan. Dari mana Anda memanen ide-ide sehingga sepertinya Anda selalu bisa menulis tanpa kehabisan tema?

Dalam kehidupan ini, kalau kita mau mendengar, mau memerhatikan, coba mengerti perasaan orang lain, dan juga belajar mengerti diri sendiri, saya rasa kita tidak akan kehabisan tema. Kita manusia ini, sebenarnya kompleks. Karena, dari kecil sampai sekarang, kita hidup bersosialisasi dengan orang lain. Bergaul, bermasyarakat, pastinya otak kita akan menyerap berbagai informasi. Dan, itu semua menerbitkan emosi. Dari sana pula bisa ada ide. Masalahnya, tinggal apakah kita mau menuangkannya ke dalam tulisan atau tidak.

Pandangan Anda terhadap pengusaha atau pebisnis perempuan yang juga menulis buku. Apa sih kenikmatannya menulis buku itu?

Menulis buku pastinya soal kepuasan batin. Dari sana saya belajar dari orang lain. Karena, informasinya kan kumpulan pengalaman orang lain juga? Tapi, ketika kita berbagi lewat tulisan, kita seperti berbagi kepada diri kita sendiri juga. Mau percaya atau tidak, jawaban dari masalah kita banyak ditemukan dari dalam diri kita sendiri. Bukan dari di luar sana. Walaupun, punya sahabat dekat, di mana kita bisa menjadi diri sendiri, itu juga merupakan anugerah yang tidak bisa dinilai dengan uang.

Baik, buku-buku berikutnya apa sudah Anda siapkan?

Buku yang berikutnya adalah tentang fashion. Sama seperti buku pertama, buku berikut saya tulis bersama seorang teman. Judul sementaranya “Little Pink Book of Fashion”. Dan, isinya soal dunia belanja dan tip-tip mengenai fashion. Seperti buku kuning”, tapi dengan twist dan tips. Setelah buku itu diterbitkan, kalau Tuhan mengizinkan, saya mau coba menulis sebuah novel, yang buat saya adalah tantangan yang luar biasa. Karena, sampai saat ini saya adalah penulis nonfiksi. Tapi, saya tidak mau terlalu banyak rencana. Lebih baik saya mengucapkan syukur dulu saat ini, detik ini, buku ini sudah selesai.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.8/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Naomi Susan: Ambisi Itu Penting, Seperti Mesin yang Harus Tetap Menyala

ns1Namanya mudah diingat, Naomi Susan atau suka disingkat NS. Usianya, pada 15 Januari 2009 lalu, baru juga menginjak 34 tahun. Namun, investor sekaligus pemilik Ovis Group dan direktur pada tujuh perusahaan ini sudah menorehkan berbagai prestasi, yang mencatatkan namanya di jajaran para pengusaha muda paling sukses di negeri ini. Ia menguasai bisnis kartu diskon, merchant network berbasis Short Message Service (SMS), biro perjalanan dan penerbangan, properti, restoran dan kafe, hingga ke bisnis salon kecantikan.

Tak heran, bila kemudian media massa tampak memanjakan Naomi dengan publisitas yang melambungkan namanya, serta beragam apresiasi atas prestasinya. Tahun 2002, ia masuk dalam daftar 50 Tokoh Wanita Paling Berpengaruh di Indonesia versi majalah SWA. Tahun yang sama, masuk dalam deretan 18 Pengusaha Sukses di Bawah 35 tahun di Indonesia versi majalah Warta Ekonomi.

Lalu, pada tahun 2003, Naomi kembali masuk deretan 100 Tokoh Sukses Menurut Diagram Robert T. Kiyosaki versi SWA. Majalah DEWI juga memajang namanya ke dalam daftar 10 Wanita Sukses Profesi dan Prestasi. Berlanjut tahun 2004, kembali majalah Warta Ekonomi memasukkan namanya dalam daftar 20 Pengusaha Sukses di Bawah Usia 35 Tahun di Indonesia. Terus-menerus, Naomi mendapatkan aneka predikat penyandang prestasi dari majalah ekonomi bisnis; Srikandi Tangguh, Bukan Wanita Biasa, Entrepreneur Muda, Simbol Prestasi Disiplin 2005, dan sebagainya.

Muda, cantik, terpelajar, smart, energik, bergaya, dan sukses dalam bisnis, itulah gambaran sosok ideal seorang perempuan masa kini. Dan, itu semua dimiliki oleh Naomi, lulusan University of Portland, Oregon, USA, ini. Sukses Naomi menjadi semakin lengkap, setelah belum lama berselang ia menemukan pasangan hidupnya, seorang obstetrician bernama Yusfa Rasyid, seorang dokter spesialis Obgyn. “Saya kan senang dengan pria berseragam, tuh! Tetapi, seragam putih, tukas Naomi.

Akhir 2007, Naomi dibantu Agoeng Widyatmoko, seorang penulis buku wirausaha bestseller, merilis buku laris berjudul Be Negative (iNSpired Books). Buku yang sepintas menentang arus dan dikemas secara populer itu, ternyata penuh dengan gagasan-gagasan bernas nan unik a la Naomi Susan. Tak heran jika, selain menarik, buku yang sudah dicetak ulang tersebut juga mendapat pujian di mana-mana, termasuk dalam salah satu episode talkshow Kick Andy di Metro TV. Berikut petikan obrolan Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Naomi Susan mengenai Be Negative, yang berlangsung melalui medium Facebook:

Anda sangat sibuk dengan segala aktivitas bisnis. Bagaimana cara Anda mengatur waktu sampai bisa menulis buku Be Negative?

Sebenarnya, tidak ada waktu khusus untuk menulis ya. Semua hanya diambil dari ingatan saja. Karena, mayoritas isi buku tersebut adalah pengalaman sendiri maupun pengalaman teman-teman. Jadi, saya hanya merekam suara saya dengan menggunakan recording mobile, yang saya bawa ke mana saja. Pas teringat, saya rekam. Kemudian, ada teamwork saya yang mengetiknya. Yah, saya baca kemudian dipersingkat, dijadikan bahasanya sedikit lebih rapi, walaupun tatanannya tetap saja bukan dari seorang penulis hahaha.... Then, Mas Agoeng membantu mengompilasikan.

Buku perdana Anda itu langsung memancang label session 2. Apa maksudnya, atau ada apa di balik pengemasan seperti itu?

Tadinya sih saya pikir, saya mau mengisahkan perjalanan saya, yang mana saya ada di tengah-tengah. Sehingga, edisi ketiga merupakan pencapaian-pencapaian yang sudah saya ciptakan. Nah, baru yang kesatu, cerita negative saat awal-awal saya memulai berbisnis. Di samping itu, juga dari sisi marketing sendiri. Hal itu sangat membantu bagi pasar. Mereka membeli dan mencari yang awal atau menunggu yang akhirnya. Jadi, ide awal tersebut, tentunya dengan harapan yang optimis, buku diminati oleh pembaca.

Kapan Be Negative berlabel session 1 akan diluncurkan?

Sebenarnya kapan saja bisa diluncurkan hahaha.Semua materi, bahan, sangat banyak dan jelas. Tapi masih di kepala saya. Tinggal direkam saja. Sebenarnya, justru sesi tiga yang sudah selesai. Cuma masih belum sempurna. Saya sudah mencoba menyelesaikannya semua. Tetapi, tetap saja kan saya bukan penulis… Saya hanya ‘kambing percobaan’ hahahaha…. Yang siap cuap-cuap dengan gaya nyeleneh, yang bisa saya pergunakan dalam berbicara sesuatu yang berbau negative.

ns2Buku Anda penuh dengan ide-ide yang tampak kontroversial. Sepertinya sungguh-sungguh mengajak orang supaya berpikir negatif, walau sejatinya tetap mendorong orang untuk berpikir positif, tapi melalui cara pandang yang berbeda. Ada strategi apa di balik ini semua?

Hmmmm…. Saya pribadi sudah cukup sesak dengan semua motivasi-motivasi untuk menjadi berhasil, menjadi positif, dll. Yang seperti itu, akhirnya malah membelenggu orang, jadi jenuh. Keberhasilan atau kesuksesan yang mereka raih itu adalah milik mereka. Sedangkan saya, saya memiliki kapasitas, kualitas, kekuatan, daya dan upaya yang berbeda dengan mereka. Istilahnya,Don’t push anybody to wear your dress! Nah, saya seperti berbicara kepada diri saya sendiri kok, saat menulis buku itu. Apa yang sama mau dengar dari seseorang, bukan lagi mendorong dan memotivasi dengan cara yang umum. Misalnya,Ayo, bangkitlah, kamu pasti bisa kok!Yang kayak begitu sudah tidak mempan buat saya hehehe.... Sudah kebal.

Maunya yang bagaimana?

Saya justru mau diperlakukan seperti Mike Tyson, pada saat dia jatuh di ring. Pelatihnya bukan memotivasi supaya bangkit, tapi justru memaki-maki. “Hey, kamu adalah niger, sampah masyarakat! Kalau kamu tidak mampu, jangan pernah bangkit, dan jangan memenangkan pertandingan. Karena kamu adalah anjing yang mengambil makanan dari tong sampah!” Then, what happen? Mike marah, bangkit dengan penuh kemarahan, memukul lawannya sampai KO, menang, deh hehehe.

Saya juga begitu. Saat orang bilang,Ah, you cant make it, you just a woman bla…bla...bla Then, saya sangat marah. Saya ambil semua strategi, dan lakukan sesuatu. Di Indonesia, sesuatu yang negative lebih bisa dijual daripada yang positive. Contohnya saja lagu-lagu yang populer, melejit di pasaran. Mayoritas kan yang negatif, misalnya Si Jablai, Kamu Ketahuan, SMS Siapa, dan lain-lain.

Coba jelaskan maksud dari rumusan di buku Anda, bahwa “Negative + Positive = Negative” dan “Negative + Negative = Positive”!

Gampang, kok! Misalnya, dari kata-kata saja sudah dapat merumuskannya. Misalnya, ragu, malas, takut itu negatif. Kemudian, mencoba, memulai, bertindak itu positif. Kalau digabungkan menjadi sesuatu yang negatif. Ragu mencoba, malas memulai, takut bertindak…. Hal ini bisa dijabarkan dengan mental seseorang, digabung dengan kondisi dan keadaan, atau orang-orang di sekitarnya, yang memiliki macam-macam sosok. Ada yang negatif, ada juga yang positif.

Kebalikannya adalah, saya sendiri mengalami bagaimana mentalitas saya yang negatif. Karena, orang-orang di sekitar saya keadaannya juga semua serba negatif. Dan, kami terbiasa menggabungkannya. Misalnya, saat saya marah, kesal, tidak punya daya upaya, dikecilkan karena ketidakmampuan saya. Kata-kata seperti takut, gagal, malas, pesimis, marah, tidak mampu, dll semua negatif. Gabungkan saja, maka justru akan menjadi positif. Tapi harus dilakukan, bukan hanya dibaca hehehe

Sekarang ke soal bisnis dan gaya hidup. Anda dipandang sebagai salah satu pengusaha sukses yang mampu mengemas atau memasukkan unsur gaya hidup dalam bisnis Anda. Menurut Anda sendiri?

Sebenarnya sih, saya selalu mau mengemas bisnis saya supaya to make everybody happy”. Misalnya, waktu saya chartered pesawat memprakarsai liburan ke Bali dengan fasilitas maksimal, namun hanya dengan membayar minimal. Pastinya people will be happy with that. Dan, kerenanya, market menerima product atau services dari tiap bisnis saya dengan welcome. Salon misalnya. I want to make all women looks beautiful hehehe…. Jadi, buatkan beberapa paket kecantikan.

Poinnya adalah, saya mau being treated and being serve as I am the only one customer. Dan, hal tersebut saya terapkan di setiap bisnis saya. Bila kebetulan setiap bisnis saya terkesan memasukkan gaya hidup, mungkin lebih tepatnya adalah, saya selalu melihat peluangnya. Bila kuenya masih besar, saya akan ambil bagian.

Apa inovasi-inovasi terbaru yang telah, sedang, dan akan Anda luncurkan untuk mendorong perkembangan semua bisnis Anda ke depan?

At the end of the day, ya hanya ada tiga elemen penting supaya saya survive. Yaitu, pertama, database, connection, dan network. Kedua, branding position, image, atau reputation. Ketiga, advance in technology, follow the trend. Jadi, dari dulu sampai sekarang, untuk mempertahankan perkembangan bisnis, saya mengarah ke ketiga element tadi. Dan, mengarah ke masa depan yang jelas. Masa inovasi untuk menjadi yang pertama, terbaik, dan berbeda sudah bukan zamannya saya lagi hehehe.

Saya sudah pernah di sana. Sekarang justru oposite dari itu, menjadi yang kedua atau ketiga, atau sepuluh besar terbaiklah. Terus, tidak perlu yang berbeda. Saya happy sekarang, bila harus menjadi follower. Bukan the breakthrough. So, apa pun itu, yang dapat mendorong perkembangan semua bisnis saya adalah CRM. Maintain... maintain… maintain….

Bagaimana Anda memandang marketing communication sebagai bagian penting dalam sukses bisnis Anda?

ns3Wooow! Marcomm bagi saya sih, senjata utama untuk membangun persepsi, citra, dan merek yang harus diedukasikan, disampaikan, dan dikomunikasikan kepada market. Dengan perkembangan teknologi saat ini, media komunikasi menjadi banyak pilihannya. Kalau dulu, kan kita berharap kepada iklan di televisi, media cetak, radio, pokoknya outdoor and indoor. Sekarang, sudah further, ya… Internet, SMS, video, call center, events, semua bisa dijadikan alternatif pola marcomm.

Hebatnya, dan yang saya suka, globalisasi telah membuka komunikasi tanpa batas, tanpa terhalang oleh geografis. Coba saja, komunikasi yang ditempatkan di YouTube, mampu menjangkau konsumen di semua negara. Marcomm diperlukan, bukan hanya untuk mendapatkan new customer, tetapi juga untuk maintaining the existing one.

Oh ya, marcomm bagi saya akan mengarahkan ke sebuah integrasi dan sinergi. Maka, saya harus bisa membuat satu ditambah satu menjadi sama dengan tiga atau empat. Bayangkan, kalau tidak ada sinergi, maka satu ditambah satu menjadi lebih kecil dari dua, atau bahkan lebih kecil dari satu.

Anda masih muda, tetapi sudah menangguk kesuksesan dalam kehidupan dan bisnis. Bagaimana Anda memandang nilai penting dari masa-masa produktif seseorang?

Pada dasarnya, masa produktif buat saya sih tidak terlekang masa. Walaupun nanti sudah tua, saya tetap mau produktif. Saya tidak mau membiarkan otak dan tubuh merasa tua. Umur dan kualitas pasti akan tersesuaikan. Namun, saya tidak mau menanamkan kesan tersrbut untuk menajadikan diri saya lemah. Ya, tidak bisa dinihilkan. Banyak yang beranggapan, memasuki usia lansia, let say 50 tahun, dianggap tidak lagi produktif. Karena, sudah sakit-sakitan, demensia alias pikun, depresi, dan penyakit-penyakit degeneratif lainnya. Saya enggak mau kayak begitu. Lihat saja Om Bob, beliau 75 tahun. Dan, bagi saya beliau sangat produktif sampai hari ini.

Makanya, mumpung saya masih muda hahaha.... Saya memiliki kebiasaan baik dalam menjaga kesehatan. Misalnya, banyak mengonsumsi makanan, sayuran, dan buah-buahan yang mengandung vitamin, kalsium, karbohidrat, dan lainnya. Dan rutin berolahraga. Juga banyak melakukan aktivitas olah pikir dan olah tubuh. Supaya apa? Nanti, masa tuanya tentu akan lebih baik, dan bisa tetap produktif, kan?

Bagaimana Anda memaknai peran ambisi dalam menggapai kesuksesan?

Ambisi, buat saya sangat penting. Seperti mesin yang harus tetap menyala untuk menghasilkan sesuatu. Sesuatu itu adalah mimpi-mimpi yang selalu mau saya capai. Itu untuk menambah semangat dalam mencapai tujuan hidup. Saya tidak mau kehilangan ambisi, karena jalan saya mencapai tujuan bisa tersendat-sendat. Tidak memiliki motivasi mencapai apa yang saya inginkan. Akhirnya, karena terlalu pelan, saya akan ter-ninabobo-kan dalam arus yang lamban.

Di buku Anda tertera pernyataan “Bunuhlah Kreativitas”. Bagaimana Anda menjelaskan pernyataan itu di tengah tren ekonomi kreatif, yang dipandang oleh sejumlah pakar menjadi kunci kemenangan dalam persaingan di masa krisis ini?

Hihihi… Ampuunnn, deh. Pengalaman pribadi, tuh! Banyak kreativitas yang jadi stock dan tidak terlaksana. Karena hanya ada ide dan cukup kreatif, tapi tidak executed. Jadi, saya tidak lagi menanggapi kreativitas tersebut, tapi menghilangkannya. Kembali ke rencana awal, merapikan satu per satu. Kemudian, beberapa tim yang menjadi ‘kerikil’ di sepatu saya, yang membuat saya sulit berjalan bahkan berlari, saya berikan kondisi terminasi. Poinnya, sih… banyak buanget orang briliant dengan banyaknya ide, kreativitas, inovasi, luar biasa banyaknya! Namun, hanya sedikit yang bisa menjadikannya nyata. So, better compete with the real creativities.

Naomi, Anda baru saja melepas masa lajang. Coba jelaskan, bagaimana Anda akan mempertahankan ide-ide gila seperti “Boroslah”, “Perbanyak Masalah”, “Berontaklah”, “Paranoidlah”, “Langgarlah Janji”, di hadapan pasangan Anda?

Hahaha…. Asli, lhopertanyaan ini membuat saya tertawa terbahak-bahak hahaha.Ini wawancara atau mau mengajak berantem, toh? Backfire-nya tajam amat… hahaha. Gini deh, yang saya alami saja saat ini, deh! Saya mau boros untuk membuat suasana rumah tidak membosankan. Saya membuat diri senyaman mungkin dengan membuat kantor pribadi di lantai dua. Beberapa gadget sudah saya incar untuk membuat mobilitas saya terpenuhi. Hmmm boros itu boleh, apalagi untuk me-maintain pasangan, agar tidak monoton, toh? Dinamis gitu, walaupun renovasi sana sini memang boros hahaha.

ns4Kalau “Perbanyak Masalah!” …?

Tanpa mau memperbanyak masalah, tapi justru saya me-listed semua masalah yang ada, yang belum terjadi, yang sudah terlanjur, wuiihhh pokoknya buanyak masalah yang ter-provideI don’t want to create it nor make it gone, but I want to handle it and solve it also inticipate itMemang, agak berbenturan juga, sih. Tetapi, konteks yang diambil adalah mau saling mengenal dan mengantisipasi masalah apa pun. Membiasakan untuk berkomunikasi dengan terbuka, separah apa pun masalah tersebut hihihhi….

Kalau “Berontaklah!” …?

Saya jadi geli hahaha. Saya memang berontak waktu saya harus diubah menjadi sosok ‘orang lain’ hehehe Saya tetap mau berkarier, berbisnis, beredar. Tapi, beberapa hal bisa dinegosiasikan. Pemberontakkan terjadi apabila saya harus dijadikan sebagai pantulan symbol dari apa yang tidak saya miliki. Karena saya mau diterima apa adanya, bukan ada apanya… Thanks God… pasangan saya cukup liberal, domokratis gitu hehehe.Komunikasi adalah kunci yang paling baik. Tapi, ada banyak kesadaran, kok bahwa ternyata si NS itu bagus di bidang ini, tapi yang lain masih jauh dari kata baik hehehe….

Sekarang kalau menganjurkan supaya paranoid, maksudnya?

Saya paranoid untuk sesuatu yang tidak berjalan dengan baik. Apalagi pasangan saya cukup banyak penggemarnya hahaha…. Nah, untuk menjadikan diri saya sebagai wanita tepat yang telah dipilihnya, maka paranoid ya supaya bisa menjadi yang ‘tepat’ itulah. Itu yang memicu saya untuk mengoreksi, instrospeksi diri, menjadi ‘wanita’ yang tidak tomboy lagi. Memberi kenyamanan, bahwa pasangan saya adalah leader, walaupun saya cukup tegas di keseharian saya dalam memimpin bisnis.

Apalagi, pasangan saya ini dunianya kan perempuan hehehe…. Semuanya wanita cantik, pintar, sempurna sebagai wanita, naaaahhhh… paranoid dong hahaha.... Nanti pasangan saya diambil orang, piye?! hahaha…. Saya sendiri masih harus banyak belajar, bagaimana mengagumi dan menghargai betapa hebatnya pasangan saya, yang selama ini tdk pernah saya perhatikan detailnya. Karena memang saya memilih dia hanya sebagai sosok seorang ‘Yos’, si lelakiku hehehe…. bukan aksesorisnya dia siapa, apa, dan bagaimana….

Nah, kalau melanggar janji, bagaimana ini?

Nah, konteks…. Ini sebenarnya soal jangan obral janji bila tidak mampu menepati. Langgarlah bila mau dikategorikan sebagai OPUD. Dalam aplikasi ke pasangan saya, maka tidak ada yang banyak berubah di diri saya dalam hal ‘janji’. Saya jarang dan hampir tidak mau membuat janji. Cause, for me DO is better than PROMISSES. Untung pasangan saya tahu dari dulu, tuh.Makanya, if I already saidyes”, pasangan saya akan tenang. Karena saya sangat menjujung tinggi tiap kata dari mulut saya hehehe.

Ok, sebagai perempuan muda dengan beragam bisnis dan sukses yang sudah Anda raih, pada sisi mana Anda meletakkan posisi pasangan hidup Anda?

Pertanyaan tricky, ya…… Seperti quotes yang famous itu, lho! Don’t walk in front of me, I might not follow, don’t walk behind, I might left you, but please walk beside me… bla…bla… kalau tidak salah, ya kayak begitu bunyinya. Memang, tidak bisa totally seperti itu. Tetapi, saya juga agak perang batin, nih hahaha…. Tetap masih banyak belajar supaya bisa lebih baik dalam menempatkan posisi kepala rumah tangga, as a leader adalah pasangan saya, bukannya saya hahaha.So far so good… pasangan saya lumayan sabar.

Jadi, tidak ada semacam… yang satu memerintah yang lain?

Hubungan saya dengan pasangan bukanlah hubungan antara atasan dan bawahan. Tetapi, kami ingin menjadi pasangan yang saling melengkapi, seperti tangan kanan dan tangan kiri. Saya sangat menghargai pasangan saya. Oh ya, saya kan senang dengan pria berseragam, tuh! Tetapi, seragam putih, jadi saya sering bermimpi bisa menjadi istrinya seorang dokter, pilot, atau kapten kapal hahaha…. Kesamaannya, selain seragam, mereka cukup tough dalam menghadapi hidup. Tingkat adrenalin terhadap nyawa orang lain sangat erat. Sehingga, semoga tingkat kesadaran hidupnya akan lebih peka lagi.

Sebenarnya, apa yang Anda inginkan dari seorang pasangan?

Saya tidak ingin memiliki pasangan yang pintar, tetapi juga tidak yang tidak pintar. Saya berharap dapat pasangan yang sabar…. Dari dia itulah, saya mau punya ketenteraman batin. Mau hidup nyaman, mau di setiap gusar dan resah saya, ada yang bisa menjadi tempat menitipkan batin. Saya menginginkan deposito di surga. Dan, tangga menuju ke sana adalah jalan yang akan terpimpin dengan baik oleh pasangan saya. Jadi, jelas sudah bahwa posisi pasangan saya, adalah sebagai belahan dan ketenangan jiwa. Yang memiliki kepekaan terhadap kehidupan ini. Yang menjadi pemimpin dengan tujuan yang sama, yaitu menabung di surga hehehe….

Mimpi-mimpi yang sedang Anda kejar dalam 5-10 tahun ke depan?

Mimpi yang sangat dekat… Saya mau punya anak hehehe…. Yang lainnya sih, hanya menjaga kualitas dan stabilitas dalam mengikuti perkembangan teknologi. Mau menjadi bagian dalam perkembangan bisnis di Indonesia. Sama seperti sekarang, tidak berubah, lima tahun yang lalu dan lima tahun yang akan datang…. Naomi Susan seperti ini saja, kok! Berharap akan lebih baik, dan baik lagi dalam pencapaian-pencapaian berikutnya.

Terakhir, masih akan menulis buku lagi?

Mauuuuuuu…. Tapi, tetap tidak mau nulisnya hehehhe… Inspirasi dan dikompilasikan saja oleh teman-teman, yang mau membantu menjadikan buku tersebut layak dibaca.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi Naomi Susan.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Nani Sakri: Saya Ingin Menulis Sejarah Fashion Indonesia

nanisakri-alb2Tahun 1970-an, orang sering menyaksikan lenggak-lenggok sosok ini di atas catwalk yang glamour nan gemerlap. Namun belakangan, orang acapkali menyaksikan kepiawaian sosok ini saat tangannya asyik menari-nari dan berimajinasi dengan kuas di atas kanvas. Dialah seorang perempuan yang lahir di Yogyakarta, pada 25 Maret 1948, sang empunya nama lengkap Nani Prihatani Sakri Soenarto, atau lebih dikenal dengan nama Nani Sakri.

Ya, pada tahun 1970-an, Nani Sakri berkibar sebagai seorang peragawati papan atas, dan nama maupun fotonya sering kali nampangd di berbagai media. Namun, sejak tahun 1996, ia mulai memainkan imajinasinya dalam kombinasi cat, kuas, dan kanvas. Pada tahun 1998, Nani mulai serius menekuni dunia lukisan, dan sejak saat itulah lahir banyak karya lukis yang khas dari tangannya. Tak kurang dari 15 pameran lukisan tunggal maupun bersama, di dalam maupun di luar negeri, telah memajang karya-karya Nani yang memiliki corak khusus. Orang mengenal pelukis ini suka menggambarkan nuansa keelokan perempuan, batik, buah, dan binatang dalam sajian yang simple.

Sekalipun kini publik mungkin lebih mengenal namanya sebagai pelukis dan mantan model ternama, namun dunia keperagawatian atau modelling tetap saja merupakan domain seorang Nani Sakri. Penguasaannya akan pengalaman langsung dan pengetahuan atas perkembangan dunia keperagawatian Indonesia sempat mengantarkannya menjadi konsultan media maupun penulis kolom-kolom fashion di sejumlah media massa. Hingga kini, selain aktif melukis dan berpameran, mengembangkan usaha, dan mengajar di sejumlah universitas, Nani juga masih sering menerima undangan untuk hadir maupun tampil di berbagai peragaan busana. Dunia catwalk tidak sepenuhnya lenyap dari genggamannya, sekalipun generasi yang lebih muda telah menggantikannya.

Bagi Anda yang demen menjelajahi dunia Facebook, Anda akan dengan mudah menjumpai dan berkomunikasi dengan Nani Sakri, melihat sebagian dari hasil karyanya, dan mengenal jejak dunia modelling yang pernah dikuasainya. Nani memang seorang figur yang telah mewarnai panggung sejarah fashion Indonesia, dan kini terus menorehkan karya di dunia seni lukis. Selain ingin menjadi pelukis yang mumpuni dan diakui oleh masyarakat seni, saya juga ingin menulis buku tentang perjalanan sejarah industri fashion Indonesia,” ungkap Nani kepada Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com, dalam sebuah wawancara melalui pos-el dan dilanjutkan dengan komunikasi via Facebook. Berikut adalah petikannya:

Bagaimana gambaran dunia modeling atau keperagawatian dulu pada masa-masa awal Anda berkiprah di era 1960-1970-an?

Pada saat itu, model belum dikenal sebagai profesi. Jadi, kami merupakan perintis yang masih harus membuktikan, bahwa model itu sama dengan profesi-profesi lainnya, seperti dokter, wartawan, sekretaris, dll.

Siapa saja peragawati dan fashion designer paling top pada periode tersebut?

Rima Melati, Sumi Hakim, Elly Schaefer, dan Titi Qadarsih. Perancang busananya adalah Non Kawilarang, Ibu dari Rima Melati, lalu Peter Sie, Iri Supit, dan kemudian Prayudi.

nanisakri-alb3

Nani Sakri: Malam Dana Galunggung Hotel Hilton

Saya rasa, hingga kini pun tren fashion di Indonesia masih terpengaruh oleh fashion internasional. Karena, busana yang kita kenakan memang busana modern, yang awalnya dari Barat.

Era 60-70-an sangat kental dengan dimensi politis di berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dunia keperagawatian juga kena imbasnya?

Akhir tahun 1960-an terasa sekali arus pengaruh Barat yang membanjir sesudah era Presiden Soekarno. Di saat itulah, industri fashion mulai tumbuh. Pada era Soekarno, segala sesuatu yang berbau Barat, hingga ke musiknya pun, dilarang untuk ditiru maupun didengar.

Sebagian orang yang beranggapan, dunia keperagawatian selalu memiliki “sisi gelap” di balik sisi glamour yang tampak dari luar. Pandangan Anda, dengan konteks masa tersebut?

Saya rasa, sisi gelap itu ada di mana-mana, tergantung dari manusianya. Tetapi, karena profesi model masih sangat baru, anggapan itu jadi sangat lekat dengan peragawati di saat itu.

Pada zaman itu, susah enggak mencapai posisi peragawati terkenal itu. Apa ada jalan pintas atau apa?

Tentu, lebih sulit dari sekarang, karena industrinya masih baru. Lapangan pekerjaan tidak sebanyak sekarang. Jalan pintas? Mungkin memiliki hubungan baik dengan perancang busana, istilah ini pun masih baru. Disiplin yang tinggi sangat diperlukan.

Bekal-bekal apa saja yang harus dimiliki oleh seorang peragawati?

Kemahiran bersikap luwes dan anggun, terutama di atas catwalk. Selain itu, kita juga harus mahir menata rias wajah dan rambut sendiri. Karena, industri make up dalam negeri masih sedikit sekali.

Anda sendiri, belajar di mana sampai kemudian bisa menjadi peragawati terkenal?

Saya mengikuti kursus modelling di PAPMI, asosiasi Perancang Busana Indonesia yang pertama, selama tiga bulan, dan lulus dengan nilai terbaik.

Baik, kita bedah dunia keperagawatian masa kini. Menurut Anda, apakah masa sekarang lebih kondusif situasinya?

Jelas. Industri fashion dalam negeri sudah sangat maju, selain membanjirnya produk luar negeri yang berkaitan dengan gaya hidup. Sehingga, lapangan pekerjaan bagi model menjadi semakin luas.

Apakah Anda melihat sekarang ada kesinambungan antara era-era sebelumnya sekarang? Atau, justru ada missing link?

Mungkin para pelaku fashion, baik perancang, produsen maupun modelnya tidak kenal siapa pendahulu-pendahulu mereka. Dan, mungkin juga karena pengetahuan tersebut tidak dianggap perlu.

Soal peragawati muda, siapa-siapa saja yang menurut Anda ada di posisi puncak saat ini?

nanisakri-alb3b

Nani Sakri: World Trade Center 1980, Busana Iwan Tirta

Banyak sekali. Tapi, yang saya tahu hanya Luna Maya, Catherine Wilson, Karenina, dan Aline.

Dibanding era Anda dulu, apa kelebihan dan kekurangan para peragawati muda sekarang ini?

Kelebihannya ada di posture yang jauh lebih memenuhi syarat, dibanding zaman kami dulu. Mereka memiliki tinggi badan dan proporsi yang lebih bagus, karena gizi yang lebih baik. Tetapi, dari sisi kepribadian dan style-nya, saya rasa lebih menonjol model era terdahulu, karena model-model dulu dituntut untuk lebih berjuang dan bertahan di puncak.

Menurut Anda, mengapa peragawati kita sedikit sekali atau bahkan nyaris tidak ada yang sukses ketika go international? Kita belum punya catatan bahwa peragawati asal Indonesia bisa jadi ikon model internasional…?

Bekerja di dunia fashion internasional itu dituntut untuk tahan banting secara fisik. Harus rajin audiensi, sehingga disiplin tinggi merupakan syarat mutlak. Baik dalam waktu maupun menjaga kondisi tubuh.

Apakah para desainer muda sekarang ini jumlahnya cukup memadai untuk mendorong perkembangan dunia fashion dan keperagawatian di Indonesia?

Ya.

Ekonomi kreatif sedang naik daun saat ini. Bagaimana Anda melihat peluang dan tantangannya dilihat dari kacamata pelaku dunia keperagawatian yang Anda geluti sejauh ini?

Selama promosi masih dibutuhkan, lahan pekerjaan bagi seorang model akan selalu ada.

Anda punya pandangan atau aspirasi menyangkut peran pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif, tentu saja dari sisi industri Anda sendiri?

Saya rasa, dari masa ke masa pemerintah sudah banyak membantu industri fashion. Akan tetapi, bantuan tersebut lebih banyak salah tempat. Salah pengelolaan dan juga disalahgunakan, baik oleh oknum-oknum pemerintahnya maupun yang menerima bantuan.

Baik, kalau ditanya, apa yang sejauh ini Anda dapat dari dunia keperagawatian, jawaban Anda?

Banyak sekali. Selain popularitas, yang masih saya nikmati hingga sekarang, yang memudahkan saya memperoleh pekerjaan lain. Profesi ini juga mengantar saya berkunjung ke tempat-tempat indah dan menarik, baik di dalam maupun di luar negeri. Selain itu, saya juga banyak menimba ilmu dari dunia fashion-nya sendiri.

nanisakri-alb4

Converse the Heritage

Dulu, saya memang tercatat sebagai mahasiswa seni rupa ITB. Walaupun bukan jurusan seni lukis. Dan, saya memang sangat suka menggambar sejak kecil. Saya selalu bercita-cita untuk melukis, walau hanya sekadar hobby. Akan tetapi sesudah saya lakukan, ternyata saya langsung jatuh cinta sehingga memutuskan untuk terjun total sebagai seniman. Bahkan, hingga kuliah lagi untuk mengambil S-1 di IKJ, jurusan seni lukis, yang baru saya tuntaskan tahun 2007 yang lalu. Batik sudah saya kenal sejak kecil. Karena, dulu Ibu saya adalah pembuat dan pembaharu batik yang cukup terkenal di era Soekarno, seangkatan dengan Ibu Bintang Soedibyo, nenek dari perancang busana Carmanita. Akan tetapi, membuat batik sudah diwariskan kepada adik saya, dan saya sendiri cukup puas dengan memakai corak batik di atas karya lukis saya. Karena, corak batik Indonesia itu memiliki kandungan filosofi yang tinggi…

Ada hal lain yang masih ingin Anda lakukan ke depannya?

Selain ingin menjadi pelukis yang mumpuni dan diakui oleh masyarakat seni, saya juga ingin menulis buku tentang perjalanan sejarah industri fashion Indonesia. Karena, banyak perintisnya sudah tiada. Tante Non Kawilarang misalnya, selain seorang perancang busana, beliau juga mempunyai peran penting atas tumbuhnya lapang pekerjaan bagi para peragawati dan peragawan. Tante Non lah yang pertama membuka agen model di Indonesia, Indonesia Model Agency, sekaligus memberi arahan-arahan pada anggotanya agar bersikap profesional. Jerih payahnya merupakan hal yang patut dicatat dan diketahui masyarakat fashion.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Indari Mastuti: Penulis Sukses Tidak Pernah Berhenti Menulis

iin2a

Indari Mastuti

Usianya sih belum genap 29 tahun. Tetapi, soal karya dan produktivitas, jangan ditanya. Sudah lebih dari 50 judul buku dia tulis, mulai dari novel, buku pengembangan diri remaja, buku agama, buku keluarga, buku pertanian, sampai buku cerita dan seri pengetahuan untuk anak-anak. Hebatnya lagi, ke-50 judul buku itu ditulis hanya dalam kurun waktu 2004-2009!

Ya, dialah si pemilik nama pena Indari Mastuti, atau lengkapnya bernama Indari Mastuti Rezki Resmiyati Soleh Addy. Iin, demikian nama panggilannya, sudah menulis sejak SD. Ayahnya, Jumeno Addy Karso (almarhum) yang multi-talenta; seorang sastrawan, ahli bahasa, pelukis, penyanyi, dan olahragawan, tahu persis bakat Iin. Maka, jadilah sang ayah sebagai motivator utama dalam perkembangan keterampilan Iin dalam hal tulis-menulis.

Dan, sang ayah tidak pernah salah. Satu per satu tulisan Iin mulai dimuat di sejumlah media cetak. Honor dari menulis pun makin memotivasi Iin untuk terus menulis. Sambil sekolah maupun saat kuliah, alumnus Universitas Pasundan ini terus produktif menulis, demi menghasilkan honor. Sebab, kondisi ekonomi keluarganya saat itu sempat terpuruk, sementara menulis ternyata telah memberi mereka jalan keluar. Kini, Iin tumbuh menjadi salah satu penulis perempuan yang sangat produktif dalam menghasilkan buku-buku populer.

Jika Anda bepergian ke toko buku, mungkin akan menemukan judul-judul buku seperti; Jadi Petani, Siapa Takut?, Jika Penghasilan Suami Anda Lebih Kecil, Bagaimana Membangkitkan Motivasi Bekerja, Sukses Menjalankan Peran Ganda, SHOPAHOLIC, JANJIHOLIC, Bahasa Baku Vs bahasa Gaul, Biar Hobby jadi Duit, 50 Kiat Percaya Diri, Kalo Bisa Jadi Bos Kenapa mesti Jadi Karyawan, Menulis Kok Dibilang Sulit!, dan masih banyak lagi.

Pernah menjadi wartawan dan freelancer di sejumlah media massa, kini Iin benar-benar dapat hidup dari menulis. Ia juga mengembangkan bakat wiraswastanya dengan mendirikan Indscript Creative, lembaga yang melayani jasa kepenulisan. Sejumlah penulis dan editor kini berada dalam tim kepenulisannya. Selain itu, istri dari Deky Tasdikin dan ibu dari Qanita Muthmainatunnisa (9 bulan) ini juga menjalankan usaha dagang online maupun offline.

Sudah banyak karya ditorehkan oleh Iin, namun ia merasa harus terus bergerak maju. Menurut Iin, penulis itu sukses jika dia tidak berhenti menulis, “…tidak pernah puas menulis! Dan, tentu saja bisa menghasilkan uang dari menulis hahaha…. Semangatnya untuk bisa mandiri dan berkarier di bidang yang ditekuni jelas layak untuk diapresiasi. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Iin melalui email dan disambung melalui chatting:

Sejak kapan Anda mulai berlatih menulis?

Menulis sebetulnya adalah hobi. Sejak SD, saya sudah membiasakan menulis. Namun, menulis yang sesungguhnya alias benar-benar belajar menulis, mungkin baru saya lakukan ketika SMA. Ketika itu, artikel pertama saya dimuat di majalah GADIS, dan otomatis dapat honor. Itu menjadi faktor motivasi saya. Dari kemunculan karya pertama itu, makin kuatlah keinginan lebih serius terjun ke dunia penulisan.

Peran orang tua dalam mendorong Anda supaya rajin berlatih menulis?

Barangkali, peran ayah yang paling menonjol. Ayah saya membudayakan membaca sejak saya masih kecil. Ayah sering memperlihatkan karya-karyanya pada saya. Secara tidak langsung itu mendorong saya aktif dan senang menulis. Dari mesin ketik kuno ayahlah karya pertama saya dimuat di majalah. Bagi saya, beliau adalah yang terbaik dalam hidup saya. Novel pertama saya didekasikan untuk beliau. Beliau sangat berjasa dalam hidup saya, tentu dengan cara beliau mendidik saya.

Dulu, ketika beliau terserang stroke, ekonomi keluarga kami jatuh terpuruk…. Ayah mengatakan, untuk mendapatkan uang, bisa saja saya memaksimalkan potensi menulis saya. Itulah awalnya, saya menyakini bahwa menulis bisa menjadi salah satu cara mencari uang. Tanpa teladannya, mungkin saya tak akan mampu melangkah sejauh ini.

Masih ingat, kapan pertama kali tulisan masuk ke media massa?

Tahun 1996, di majalah GADIS. Majalah favorit yang banyak digandrungi remaja, cewek khususnya.

Bagaimana perasaan Anda saat itu?

Tidak bisa terbayangkan, betapa senangnya! Luar biasa!!

Berapa besar honor menulis Anda saat itu?

Honor pertama yang saya dapatkan… waktu itu Rp 100.000, tahun 1996. Kebayang kan anak SMA udah dapat honor segede itu? Pastinya, seneng banget hehehe….

Ketika kuliah, Anda juga rajin mencari uang dengan menulis?

Ya. Selain kuliah, saya bekerja sambilan sebagai wartawan pemula di tabloid Indonesia-Indonesia dan beberapa majalah lokal di Bandung. Gajinya sih memang kecil. Tapi, keinginan belajar menulis sangat tinggi, keinginan mencari uang juga sama besarnya. Menjadi wartawan terus saya lakonin hingga dua tahun. Dari menjadi wartawan juga, saya sering kali mendapat tawaran menjadi notulis di banyak seminar atau rapat. Alhamdulillah, menulis ternyata memang menjadi sebuah pekerjaan yang menyenangkan.

Menulis 50 buku lebih

Menulis 50 buku lebih

Apa saja yang Anda tulis sewaktu masih kuliah?

Sewaktu kuliah, saya mengikuti beberapa kegiatan kemahasiswaan di kampus. Bidangnya pun tentang kepenulisan. Tulisan-tulisan itu berupa liputan berbagai kegiatan, notulis rapat-rapat, artikel koran, paper teman kampus.

Saat kuliah, Anda juga sudah mulai berwiraswasta, benarkah?

Benar. Kebetulan saya memang punya hobi berdagang. Sebenarnya, saya kuliah karena tuntutan pekerjaan. Bekerja sambil kuliah, sehingga peluang untuk berwiraswasta jauh lebih besar. Ketika kuliah sambil kerja, saya sudah memiliki usaha penjualan produk-produk fashion dan beberapa line KBU (telepon umum) yang tersebar di beberapa wilayah di Bandung.

Saya sangat suka dunia remaja. Remaja memiliki kesempatan yang sangat lebar untuk berprestasi. Sayangnya, saya sering kali miris ketika melihat begitu banyak hal negatif berseliweran di dunia mereka. Beberapa buku yang saya tulis, tak lain untuk satu tujuan agar remaja tidak sekadar menjadi remaja biasa, tapi luar biasa! Luar biasa dalam segala hal! Jujur, selain suka pada dunia remaja, buku-buku saya juga banyak bersumber dari kenyataan-kenyataan yang pernah saya alami, waktu remaja dulu.

Jadi, ini sebagai motivasi bagi remaja, bahwa kesulitan ekonomi tidak boleh menjadikan mereka berhenti melangkah. Justru ini menjadi motivasi untuk terus maju. Saya tumbuh dan besar dalam situasi yang sungguh menantang dalam segala hal. Satu hal yang membuat saya terus berkembang adalah satu keyakinan, masa depan ada di tangan saya, bukan orang lain.

Bagaimana Anda menilai kreativitas dan produktivitas remaja kita sekarang ini?

Di sisi yang lain, ada remaja yang sangat berprestasi dan luar biasa! Tapi di sisi lainnya, ada begitu banyak remaja yang menyia-nyiakan masa remajanya, untuk hal yang sia-sia. Kerap kali kreativitas dan produktivitas remaja terpaku hanya pada satu hal, yang bersifat fun atau kesenangan sesaat. Tetapi, pada hal lainnya yang juga membutuhkan sentuhan kreativitas, mereka sama sekali tak ada.

Kalau remaja berwiraswasta, bagaimana menurut Anda, perlukah?

Jiwa entrepreneur sebaiknya memang diasah sejak dini. Remaja berwiraswasta bagus, asal tidak melupakan tugas penting mereka, yaitu belajar di sekolah. Jangan sampai keasyikan dapat duit, mereka lupa mencari ilmu lainnya. Untuk remaja sih, wiraswasta bisa dilakukan sebagai kegiatan sampingan, yang mengasyikan sekaligus menambah wawasan.

Kabarnya Anda sudah menulis lebih dari 50 buku. Bagaimana caranya supaya bisa seproduktif itu?

Terdapat begitu banyak ide di kepala, dan kerap kali langsung saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Dengan pede saya kirimkan kepada penerbit. Dan ternyata… dimuat. Siapa pun bisa produktif menurut saya, asal percaya diri dalam menulis, dan tidak malu mengirimkan karya yang sudah ditulis.

Anda suka menulis buku-buku pengembangan diri. Mengapa?

Moto menulis saya adalah menulis bisa menjadi pembelajaran bagi diri sendiri. Selain itu, menulis merupakan salah satu cara saya belajar, yaitu belajar dari tulisan yang dibuat dan bisa terus mengembangkan diri ke hal-hal yang positif. Itulah motivasi saya mengapa suka menulis buku-buku pengembangan diri.

Anda juga menelurkan banyak sekali judul buku anak. Bagaimana bisa menulis buku anak sebanyak itu?

Buku anak baru bisa saya tulis ketika saya sudah memiliki anak. Sebelumnya, saya kurang terampil membuat cerita anak. Walaupun waktu SMA, cerpen anak saya beberapa kali dimuat di harian Pikiran Rakyat Bandung. Nah, ketika memiliki anak, saya seolah membuat cerita untuk anak saya, sambil meninabobokannya dengan cerita, dan hasilnya ternyata lebih ada sense-nya.

Indari Mastuti bersama tim editor Indiscript

Indari Mastuti bersama tim editor Indscript

Dari sekian banyak karya Anda, karya mana saja yang paling mengesankan dan mengapa?

Yang paling mengesankan adalah buku saya yang diterbitkan oleh penerbit Grasindo, Jakarta, judulnya Berubah, Kenapa Nggak? Di buku itu, saya benar-benar menulis dengan semangat perubahan. Buku yang berkonsep day by day itu memotivasi saya untuk terus berubah. Hari-hari yang ditulis dalam buku itu, benar-benar saya praktikkan dalam keseharian. Saya merasa luar biasa ketika menulisnya.

Dalam waktu dekat, karya apa saja yang hendak Anda luncurkan?

Buku parenting yang akan diterbitkan akhir Februari 2009 ini, oleh penerbit Luxima, Jakarta. Judulnya Becoming A New Mother—Cara Cepat Jadi Ibu Hebat!. Kemudian, menyusul Being A Great Wife—Cara Cepat Jadi Istri Hebat! yang diterbitkan penerbit Luxima juga.

Baik, kalau menurut Anda, penulis sukses itu yang seperti apa, sih?

Penulis sukses adalah penulis yang tidak pernah berhenti menulis, dan tidak pernah puas menulis! Dan, tentu saja bisa menghasilkan uang dari menulis hahaha…. Jadi, semangatlah jadi penulis….!

Ok, sukses ya…![ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi Indari Mastuti.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.2/10 (10 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Avanti Fontana: Indonesia Perlu Membangun Sistem Kreativitas Sosial dan Sistem Inovasi

Avanti Fontana Ph.D

Avanti Fontana Ph.D

Agaknya, apa yang hendak dikatakan Avanti adalah bahwa untuk menghadapi persaingan di tengah situasi krisis saat ini, tidak ada satu strategi pun yang lebih ampuh selain menyatukan segenap kekuatan kreativitas untuk melakukan inovasi-inovasi baru. Kreativitas individual itu penting, tetapi akan kurang memadai manakala keberadaannya tidak bisa diseiramakan dengan strategi organisasi. Sebab, pengeloalaan dan penyatuan potensi-potensi individual dalam sebuah tim maupun strategi organisasi dipandang akan memberikan output yang lebih unggul.

Barangkali, itulah pesan-pesan penting Avanti dalam bukunya yang berjudul Manajemen Inovasi dan Penciptaan Nilai, yang sebentar lagi terbit dan beredar di pasaran. Menurut staf pengajar Universitas Indonesia ini potensi kreativitas individual maupun kreativitas sosial masyarakat kita sangat besar. Ia juga sepakat, bahwa local genius atau kearifan lokal kita sangat berpotensi untuk mendorong daya gerak kreativitas sosial. Persoalannya, besarnya potensi kreativitas masyarakat kita masih belum bisa dikembangkan secara optimal.

“Perlu kerja sama erat semua pihak, di antara semua pemangku kepentingan di Indonesia,” tegas Avanti, yang telah melakukan riset di berbagai perusahaan top Asia, Eropa, dan Amerika tersebut. Sekali lagi, perekonomian kita sekarang, yang bakal terguncang-guncang oleh krisis global, mungkin saja malah bisa terselamatkan oleh gerakan kreativitas sosial dan inovasi yang dihasilkannya. Untuk mengetahui lebih dalam menyangkut kreativitas sosial dan inovasi, berikut disajikan petikan wawancara Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Avanti Fontana baru-baru ini:

Dari mana ide penulisan buku Anda ini?

Idenya muncul dari keinginan saya untuk menyatukan percikan-percikan tulisan saya di media massa. Yaitu, tentang manajemen inovasi, kewirausahaan, dan coaching ke dalam format yang lebih compact. Juga ditambah dengan hasil refleksi saya atas situasi krisis yang mulai bertubi-tubi mewarnai zaman kita. Keyakinan saya, bahwa salah satu solusi menghadapi atau keluar dari krisis adalah dengan berinovasi yang mengandalkan kreativitas sosial. Keyakinan ini telah mendorong saya untuk segera menyelesaikan buku ini.

Berapa lama Anda menuliskannya dan apa saja hambatannya?

Saya selesaikan dalam waktu efektif delapan bulan. Tidak banyak hambatan yang saya hadapi. Ada saat-saat di mana jadwal menulis perlu “dikorbankan” dengan jadwal aktivitas lain. Ada saat-saat di mana hasil yang sudah ada dirasa belum cocok untuk disebut hasil final. Sehingga, seorang penulis membutuhkan waktu lebih banyak untuk melakukan penyempurnaan di sana sini. Walau penulisan buku ini sudah selesai pada Oktober 2008, saya baru menyerahkan kepada penerbit pada Desember 2008. Ada waktu sekitar satu bulan untuk membaca ulang, menambah bagian-bagian yang penting, dan menghilangkan yang kurang penting.

Apa temuan-temuan terpenting dari buku Anda?

Pembaca dapat menemukan dalam buku hal-hal terpenting seperti: Pertama, bahwa inovasi masa kini dan masa depan menuntut keberadaan kreativitas sosial. None of us is as smart as all of us! Dan, itu juga butuh kolaborasi di antara banyak pihak. Kedua, bahwa untuk berinovasi, individu atau organisasi, atau juga masyarakat memerlukan manajemen. Dan, mereka juga perlu menerapkan prinsip-prinsip manajemen inovasi dan prinsip inovasi itu sendiri. Memang, dalam buku ini saya lebih banyak memfokuskan pembahasan pada inovasi di tingkat organisasi. Ketiga, implementasi inovasi perlu difasilitasi, baik oleh perangkat lunak maupun oleh perangkat keras dalam organisasi. Pemerintah berperan penting dalam mendorong inovasi di tingkat society atau komunitas. Para pemimpin di berbagai organisasi juga berperan dalam memfasilitasi proses inovasi, baik di tingkat organisasi maupun individu. Dan keempat, saya menekankan pengertian inovasi tidak saja sebagai keberhasilan ekonomi, tetapi juga keberhasilan sosial yaitu dengan diperkenalkannya cara-cara baru, atau kombinasi antara cara-cara lama dalam mentransformasi input menjadi output sedemikian rupa, sehingga dihasilkan nilai manfaat bagi masyarakat, konsumen, atau pengguna. Dan, nilai manfaat itu jauh lebih besar daripada uang yang harus mereka keluarkan untuk memperoleh barang, jasa, atau layanan hasil inovasi tersebut.

Apakah temuan-temuan tersebut didasarkan pada riset atau studi literatur?

Memang lebih banyak didasarkan pada hasil studi literatur dan refleksi saya sendiri. Namun, buku ini juga merujuk pada riset-riset manajemen inovasi yang pernah saya lakukan.

Salah satu tesis utama Anda menyatakan pentingnya membangun kreativitas dalam organisasi. Bukankah selama ini, yang kita kenal adalah kreativitas pada tataran individual?

Betul! Bahwa, kreativitas dikenal pada tataran individual. Dan betul juga, bahwa kreativitas pun muncul pada tataran organisasi, bahkan komunitas. Untuk tataran organisasi, kita akan melihat bahwa organisasi dipimpin dan dijalankan oleh orang-orang yang kreatif. Kreativitas dalam organisasi ini tidak hanya dimiliki oleh satu dua orang. Kalau cuma satu dua orang, itu belum menjadi kreativitas organisasi. Begitu juga berlaku dalam tataran komunitas. Kita bisa bayangkan, hidup dalam suatu komunitas yang kreatif, atau bahkan sangat kreatif. Prinsip “tidak seorang pun dari kita sepandai semua dari kita”, berlaku pada kreativitas tataran organisasi dan komunitas. Rancang atau desain organisasi dan komunitas perlu dibangun sedemikian rupa, agar kreativitas sosial tumbuh subur. Nah, kaitannya dengan inovasi, kreativitas itu adalah pemicu inovasi.

Sebagian orang menganggap kreativitas, yang berkarakter individual, sulit didamaikan dengan karakter organisasi yang menuntut keberaturan dalam sistem. Menurut Anda?

Kesulitan itu akan terjadi bilamana, orang-orang dalam organisasi itu, tidak memiliki karakter positif tentang perlunya kreativitas dalam organisasi. Karakter positif yang saya maksud itu mengedepankan integritas. Kejujuran. Tidak ada iri hati. Tidak ada agenda tersembunyi, dan hal-hal lain yang positif. Organisasi perlu memiliki suasana kebebasan berkreasi. Organisasi juga perlu punya semangat, bahwa berpikir berbeda itu dihargai. Perlu semangat berkolaborasi, semangat berkarya untuk kepentingan yang lebih besar, bukan kepentingan individual belaka.

Avanti (duduk nomor tiga dr kanan) dalam sebuah forum

Avanti (duduk nomor tiga dr kanan) dalam sebuah forum

Bagaimana memberdayakan individu-individu dalam tim atau organisasi supaya mereka mampu mengembangkan kreativitasnya?

Caranya? Pertama, manajer mendorong anggota tim untuk menyumbang ide demi kemajuan organisasi. Pemimpin dan manajer bukan satu-satunya sumber ide, lho! Kedua, membasmi mitos, bahwa penemuan brilian hanya berhasil dengan usaha soliter (baca: upaya sendiri). Ketiga, mengundang individu-individu dengan keahlian dan latar belakang berbeda untuk bekerja sama. Keempat, menciptakan keamanan psikologis untuk mengkreasikan pembelajaran dari setiap kegagalan. Kelima, membiarkan orang-orang melakukan pekerjaan yang baik, “good work”. Keenam, memberi independensi sebanyak mungkin. Hal-hal ini saya ulas lebih jauh dalam bab tiga buku saya.

Saat ini, organisasi dalam sektor-sektor industri apa saja yang bisa lebih digerakkan dengan kreativitas dan inovasi?

John Howkins, dalam bukunya The Creative Economy: How People Make Money from Ideas, 2002, memberi tampilan sektor-sektor perekonomian kreatif pada awal abad ke-21. Di antaranya, Advertising, Architecture, Art, Craft, Design, Fashion, Film, Music, Performing Arts, Publishing, R&D, Software, Toys and Games, TV and Radio, Video Games. Per Januari 2000, total nilai ekonomi perekonomian kreatif adalah 2,2 triliun dolar Amerika Serikat, dengan tingkat pertumbuhan 5 persen per tahun. Untuk 15 sektor tersebut, data nilai perekonomian kreatif tahun 1999 saja menunjukkan bahwa Amerika Serikat dan Inggris masih mendominasi pasar. Pada tahun 2020, nilainya diperkirakan mencapai 6,6 triliun dolar Amerika Serikat.

Saya lihat, sektor-sektor dalam perekonomian kreatif akan melebar, tidak hanya mencakup 15 sektor di atas. Saya lihat semua sektor membutuhkan kreativitas dan inovasi. Dan, pertumbuhan perekonomian kreatif akan tergantung pada meningkatnya penawaran, maksudnya ketika lebih banyak orang menciptakan lebih banyak pekerjaan, dan pada meningkatnya permintaan, yaitu ketika lebih banyak orang mengalami perubahan prioritas kebutuhan dan/atau peningkatan kebutuhan dalam hierarki kebutuhan. Dan juga pada manajemen produk serta manajemen distribusi produk dari produsen kepada konsumen.

Dari sisi pasokan, membangun kewirausahaan dan inovasi pada tingkat individu, organisasi, dan society itu sudah menjadi salah satu tuntutan perekonomian kreatif. Pada saat yang sama, hal ini pun dilakukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen atau pengguna, baik yang sudah diketahui dari hasil identifikasi kebutuhan pasar oleh produsen inovator, hasil komunikasi konsumen atau calon konsumen kepada produsen, maupun hasil temuan ”unarticulated needs” oleh produsen inovator pendaya tarik.

Dalam masa-masa krisis global seperti sekarang, yang didengung-dengungkan adalah kreativitas dan inovasi supaya survive. Menurut Anda, kreativitas dan inovasi yang seperti apa?

Sekali lagi, kreativitas yang sosial, atau sebut itu kreativitas sosial. Lagi-lagi, prinsipnya tidak seorang pun sepandai semua dari kita. Bukan sekadar kreativitas soliter. Kreativitas sosial ini memicu aktivitas penciptaan nilai sosial dan ekonomi, berpikir besar, dan sistemik. Untuk apa? Untuk kepentingan banyak orang. Harus ada inovasi yang berprinsip dan berkarakter. Bukan hanya berkompetensi. Jadi, hormati prinsip-prinsip manajemen inovasi. Hormati prinsip-prinsip inovasi. Saya kupas habis dalam bab enam dan tujuh.

Anda sudah melakukan riset maupun pengamatan pada banyak perusahaan multinasional di Eropa dan Amerika. Apa penyebab-penyebab utama dari perusahaan-perusahaan yang berhasil maupun yang gagal berinovasi?

Antara lain, tidak adanya kolaborasi dan integrasi di dalam organisasi. Atau juga, kurangnya karakter individu-individu dalam organisasi, sehingga tingkat kepercayaan dalam organisasi tidak cukup tinggi.

Baik, kalau Anda menilai, seberapa besar potensi kreativitas dan inovasi masyarakat kita?

Potensi kreativitas dan inovasi masyarakat kita besar, kalau tidak mau dikatakan sangat besar.

Sejumlah pengamat menyatakan, kita memiliki potensi local genius yang luar biasa untuk menopang pengembangan daya kreativitas masyarakat. Menurut Anda?

Saya sepakat dengan pernyataan tersebut. Tantangannya, bagaimana membangkitkannya? Bagaimana membangunkannya? Perlu kerja sama erat semua pihak, di antara semua pemangku kepentingan di Indonesia. Bukan hal sederhana, tetapi tidak mustahil, bukan?

Avanti bersama suami

Avanti bersama suami, Philip Gobang

Pada titik-titik mana kreativitas dan inovasi masyarakat itu tersumbat dan bagaimana cara mengatasinya?

Jika tersumbat, kita mengandaikan sudah ada salurannya, kan? Atau, jangan-jangan salurannya pun belum ada? Buatlah saluran-saluran kreativitas dan inovasi masyarakat. Tata saluran-saluran tersebut agar tidak tersumbat. Dorong kreativitas dan inovasi masyarakat, agar mereka berjalan, dan tidak berhenti di tengah jalan saluran.

Dalam era serba kompetisi secara global, salah satu daya saing sebuah negara adalah pada keunggulan daya kreativitas dan inovasinya. Bagaimana caranya supaya kita memiliki keunggulan seperti itu?

Indonesia perlu membangun sistem kreativitas sosial dan sistem inovasi baik pada tingkat society dan organisasi.

Pada titik keunggulan negara ini, di mana Anda meletakkan relevansi buku Anda?

Buku ini relevan dalam mengondisikan perlunya inovasi di berbagai organisasi di Indonesia, dan perlunya inovasi pada tingkat komunitas, society, dan negara-bangsa.

Terakhir, apa aktivitas terbaru Anda? Apakah sudah punya rencana menulis buku berikutnya?

Saya sedang mengembangkan model coaching untuk inovasi dan mempersiapkan riset tentang manajemen inovasi di Indonesia. Saya juga sedang menulis buku kedua tentang pentingnya integrasi dalam organisasi. Sementara bersama enam rekan coach, kami sedang meracik buku tentang coaching dan perannya bagi organisasi dan komunitas.[ez]

Foto-foto: dokumentasi pribadi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Antara Perkawinan, Berwiraswasta, dan Menulis

ez2Oleh: Edy Zaqeus*

Seorang sahabat lama curhat kepada saya tentang perkawinan. Gara-garanya dia enggak tahan saya tanya terus, “Kapan kamu menyusul kami-kami yang udah married?” Setelah komentar pujian, ucapan terima kasih, pengantar, dan pendahuluan di sana-sini, akhirnya sampai juga ke “isi buku” sebenarnya. Ternyata, sahabat saya ini bukannya tidak ada penggemar berat atau calon pendamping yang serius. Tetapi, hasil bacaan saya lho ya, persoalannya lebih disebabkan oleh beberapa hal yang sepintas tampak sangat sepele.

Rupanya, sahabat ini ragu dengan “dunia rumah tangga” yang tidak dia kenal. Seperti biasa, informasi dari sana-sini begitu memengaruhi. “Ntar kalau sudah punya suami, wah… ribet mengurus anak dan suami,” begitu katanya, sembari membandingkan betapa kenyamanan berlebih yang dia dapat bersama keluarganya. Zona nyaman dan “daerah antah berantah” itu mungkin saja sangat memengaruhi sahabat saya ini, sekalipun saya menduga pastilah ada faktor-faktor lain yang ikut berperan.

Tetapi okelah, apa pun itu faktor-faktor lainnya, saya jadi teringat dengan curhatan teman-teman saya yang lain, namun dalam dimensi yang lain juga hehehe… Maksudnya, ranah wiraswasta dan kepenulisan. Ternyata, saya juga temukan persoalan yang sama. Manakala orang mau memasuki “dunia baru”, persoalan zona nyaman dan medan yang tidak dikenal itu sebegitu mengganggunya. Banyak “hantu” bergentayangan di sekeliling ketiga hal di atas; perkawinan, wiraswasta, dan kepenulisan.

Apa saja itu? Simak hasil duga-duga saya berikut ini.

Pertama, selalu ada hantu modal. Sahabat yang pingin menikah tapi belum juga terlaksana, sering mengeluhkan ini; “Zaman sekarang memang susah cari pasangan yang bisa dipercaya, yang secara materi aman, dan yang tidak memendam masalah lainnya. Modal cinta saja kan enggak cukup, ya toh?”

Yang mau berwiraswasta juga mengeluh, tanpa modal, apa yang bisa dilakukan? “Emang cukup modal dengkul dan niat doang? Berapa banyak sih yang bisa jalan cuman dengan modal niat?” Begitu keluhannya, terutama bagi calon wiraswastawan yang berstatus pegawai atau kebetulan minim modal materi.

Sementara, yang mau menulis (entah artikel, buku, atau materi tertulis apa pun) suka mengeluh, “Wah, saya enggak punya bakat deh!” Yang lain bilang, “Enggak pede kalau tulisan dibaca orang lain!” Jadi, ini soal hantu modal yang jadi penghambat; modal kepercayaan, self-confidence, modal materi, modal bakat, dll.

Kedua, ada hantu perfeksionisme. Tak jarang orang yang hendak memutuskan menempuh perkawinan terhalang oleh kekurangan-kekurangan yang dimiliki sang pasangan. Kurang terbuka, kurang supel, kurang pengertian, kurang tegas, kurang bertanggung jawab, kurang romantis, kurang pendidikan, atau juga kurang modal dan persiapan.

Yang mau berwiraswasta juga sama saja, kadang menghendaki perencanaan yang sesempurna mungkin demi menghilangkan kemungkinan gagal atau merugi. Kadang, kesempurnaan juga ditunjukkan pada posisi menunggu waktu yang paking tepat atau paling pas untuk berwiraswasta.

Nah, yang sedang belajar menulis juga begitu, takut berbuat kesalahan dalam menulis. Oleh sebab itu, orang berusaha menulis sesempurna mungkin dan mencoba menihilkan kekurangan sekecil apa pun. Hasilnya, lebih banyak tulisan yang tidak jadi, atau lebih parah lagi, banyak orang tidak jadi menulis. Dan, asal tahu saja, hantu perfeksionisme inilah yang paling banyak menggagalkan usaha para orang pintar ketika akan menuliskan gagasannya.

Ketiga, cengkeraman hantu risiko. Yang mau menikah takut risiko kehilangan zona nyaman yang didapat dalam keluarga, takut suami atau istrinya nanti menyeleweng, takut dipoligami, takut risiko gagal membangun rumah tangga dan bercerai, termasuk takut tidak bisa merawat dan menghidupi keluarga dengan baik. Intinya, takut ambil risiko dalam perkawinan.

Yang mau berwiraswasta juga takut setengah mati pada kerugian, takut risiko usahanya tidak untung, takut risiko ditipu pegawai atau mitra usaha, takut situasi krisis tidak juga mereda, takut dikejar-kejar petugas pajak, dll.

Sementara yang belajar menulis juga sama takutnya dengan risiko bakal dicela orang, takut tulisannya dinilai jelek atau tidak bermutu, takut kredibilitasnya merosot kalau ketahuan tulisannya kurang bermutu, takut menerima risiko kritikan, termasuk takut dimejahijaukan kalau tulisannya dinilai memfitnah orang.

Nah, kalau masalahnya sudah terpetakan seperti itu, terus bagaimana dong pemecahannya? Ya, sebelumnya saya tegaskan saya memang sudah menikah tetapi bukan konsultan perkawinan. Saya pun sudah coba-coba dan memang berwiraswasta, tetapi belumlah ada apa-apanya dibanding para wiraswastawan hebat lainnya.

Satu-satunya yang saya anggap paling saya kuasai adalah soal kepenulisan, utamanya nonfiksi. Jadi, izinkanlah saya melakukan penyederhanaan-penyederhanaan yang—mohon maaf sebelumnya—apabila tidak bisa dipertanggungjawabkan kualitasnya.

Jadi, kalau menurut analisis saya, ketiga “hantu” di atas sesungguhnya bisa dikristalkan pada masalah risiko. Mau kawin ada risikonya, mau wiraswasta ada risikonya, pun menulis pasti ada risikonya. Ini mengingatkan saya pada statement Bob Sadino, “Orang hidup saja ada risikonya, apalagi berbisnis…” (selengkapnya, baca di buku terbaru saya ya, Bob Sadino: Orang Bilang Saya Gila!). Makanya, apa pun yang kita lakukan maupun apa yang tidak kita lakukan sama saja, selalu mengandung risiko.

Hanya saja, sebaiknya kita cukup fair dalam memandang risiko. Ada risiko gagal, ada risiko berhasil, kan? Ada risiko buruk, ada juga risiko baik, kan? Jadi, ketika menghadapi hantu-hantu dalam perkawinan, wiraswasta, dan kepenulisan, usahakan bisa memiliki perspektif yang seimbang. Nah, bagaimana caranya?

Sahabat saya, Alexandra Dewi, dalam buku ketiganya yang sebentar lagi terbit menyatakan, “Kalau bertanya soal perkawinan, atau curhat soal itu, ya jangan tanya sama orang yang belum pernah menikah, dong!”

Bob Sadino menyatakan, “Kalau mau berwiraswasta, jangan baca buku tentang wiraswasta, dong! Apalagi kalau buku itu ditulis oleh orang yang tidak pernah berwiraswasta.” Intinya, Bob menyarankan supaya orang belajar dengan terjun langsung dan mengalami sendiri semua prosesnya.

Nah, kalau soal kepenulisan, saya sering sampaikan kepada para penanya, “Hehehe… kalau tanya soal cerpen atau novel, lebih baik kepada Gola Gong, Pipiet Senja, Asma Nadia, atau Naning Pranoto. Sebab, saya ini penulis nonfiksi, yang masih saja tergagap-gagap dalam menikmati karya fiksi.”

Anda menangkap maksud saya, bukan? Untuk mendapatkan preferensi terbaik—yang bisa kita jadikan sebagai bahan atau landasan mengambil keputusan dan bertindak—bertanyalah, berdiskusilah, atau belajarlah kepada orang yang menguasai persoalannya. Orang yang kompeten karena memang pernah mengalami, mendalami, belajar dari situ, dan memang hidup di bidang tersebut.

Oke, Anda sudah memahami risikonya, sudah mengambil posisi pada derajat mana risiko siap Anda tanggung, dan juga sudah mendapatkan preferensi darfi sumber yang berkompeten. Selanjutnya, silakan melangkah dengan lebih tenang diiringi dengan doa. Terima saja semua risikonya, dan biarkan Tangan Tuhan ikut campur tangan dalam kehidupan Anda. Dan, lihat saja hasilnya.

Selamat menulis, selamat berwiraswasta, dan selamat menempuh hidup baru hehehe….[ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku bestseller, trainer dan konsultan penulisan/penerbitan, dan seorang writer coach. Ia dapat dihubungi melalui web: AndaLuarBiasa.com, BukuKenangan.com, atau blog http://ezonwriting.wordpress.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox