Risfan Munir: Kita Harus Kembangkan Mindset Appreciative!

Risfan Munir

Risfan Munir

Sadar atau tidak, setiap hari kita disuguhi bahkan terpenjara oleh berbagai macam informasi dan pemberitaan yang sifatnya negatif. Karena begitu dominannya model pemberitaan dan arus informasi sejenis itu, mau tak mau persepsi dan pemikiran kita terpengaruh pula sehingga menjadi ikut negatif. Akibatnya, bisa saja kita terbawa kepada pilihan-pilihan sikap dan perilaku negatif pula. Padahal, perspektif negatif sangat sulit diandalkan untuk menyelesaikan masalah dengan baik karena memang sifatnya yang selalu “mengkritisi” atau bahkan menyabotase optimisme.

Risfan Munir adalah seorang trainer, fasilitator, dan motivator yang mengajukan gagasan tentang pentingnya pengembangan karakter dan mindset yang lebih fokus pada kemajuan dan perbaikan dengan rasa syukur, pikiran jernih, apresiasi atau penghargaan, serta optimisme. Sebab, menurut Munir, untuk menghadapi deraan pengaruh negatif dari berbagai penjuru di atas, yang harus dibangkitkan saat ini adalah rasa optimisme di segala bidang.

“Seni mengapresiasi keberhasilan, walau itu kecil, akan lebih efektif untuk mendorong perbaikan di semua bidang, daripada kritik misalnya. Karena, kebanyakan orang kalau dikritik akan mencari kambing hitam dan mereka kian apatis,” ujar Risfan Munir memberikan contoh penyikapan berdampak positif dan solutif.

Risfan Munir sehari-hari adalah seorang konsultan di bidang perencanaan, manajemen, dan pengembangan kapasitas organisasi swasta, LSM, dan pemerintah baik di pusat maupun daerah mulai dari Sabang hingga Merauke. Pria kelahiran Malang Jawa Timur tahun 1955 ini menamatkan studi Strata Satu dan Strata Dua di Institut Teknologi Bandung (ITB), dan sempat belajar Real Estate Finance pada University of Texas at Arlington, USA. Risfan Munir juga aktif sebagai di bidang pengembangan kewirausahaan, dinamika klaster ekonomi lokal, peningkatan kinerja manajemen usaha maupun pelayanan publik.

Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com ini sudah menghasilkan beberapa buku, yaitu Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif, Skema Tindakan Peningkatan Pelayanan Publik, Good Practices dalam Pengembangan UMKM, Good Practices dalam Peningkatan dan Pelayanan Kesehatan, dan yang terbaru berjudul Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati (GPU, 2009). Buku yang digali berdasarkan kombinasi nilai-nilai ala bushido samurai dengan pendekatan Neuro Linguistic Program (NLP) tersebut cukup menarik untuk didiskusikan. Berikut petikan perbincangan Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Risfan Munir pada Januari 2010 lalu:

Apa isi buku Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati ini?

Ya, buku saya ini mengenai bagaimana mencapai kemenangan, dalam karier, pekerjaan, ataupun dalam kehidupan sehari-hari.

Ini buku motivasi atau buku how to?

Boleh dibilang keduanya. Motivasi, karena bicara mencapai “kemenangan” kan berarti memotivasi diri untuk selalu menuju kepada cita-cita dan tujuan dengan selalu bersemangat. Juga tentang how to. Karena, dalam tiap bab atau jurus, saya selalu memaksudkannya supaya dapat diterapkan secara langsung. Ada jurus atau langkah pada tiap akhir bab yang saya beri istilah katana atau pedang.

Risfan Munir bersama kolega

Risfan Munir bersama kolega

Bagaimana sampai Anda begitu menggemari filosofi para samurai dan membuatnya menjadi buku panduan dan motivasi?

Memang sejak masa sekolah saya suka baca kisah tentang ksatria seperti Nogososro Sabuk Inten. Juga kisah bersambung samurai Musashi. Umumnya bacaan ini mengisahkan kepahlawanan dan keteguhan dalam meraih cita-cita, atau membela apa yang diyakini. Belakangan, saya membaca lebih jauh tentang kisah samurai termasuk The Book of Five Rings yang ditulis sendiri oleh pendekar samurai Musashi. Di situ saya baca bagaimana “permainan persepsi” begitu banyak diungkapkan sebagai kunci kemenangan. Saya pikir ini sesuai dengan perkataan pakar marketing Al Ries, “We are not in the battle of product, but perception.” Kita semua sekarang merasakannya, betapa perang persepsi yang disampaikan lewat media, baik dalam pemasaran, iklan, atau debat politik telah “memusingkan” kita semua.

Menurut Anda, apa istimewanya filosofi para samurai tersebut?

Yang saya jadikan acuan adalah kisah dua tokoh. Pertama, Musashi yang dijuluki sebagai the Lone Samurai, yang merupakan pendekar yang secara mandiri unggul. Dalam buku yang ditulisnya sendiri, The Book of Five Rings, dia menegaskan pentingnya “bermain persepsi” untuk mencapai kemenangan. Ini yang menurut saya sesuai dengan situasi masa kini di mana “permainan persepsi”, terutama via media massa, telah memengaruhi pikiran kita, fokus kita dalam mencapai tujuan, dan semangat atau optimisme kita. Karena itu, saya ingin berbagi dalam “bermain persepsi” ini melalui jurus-jurus menang itu. Tokoh samurai kedua yang saya jadikan acuan ialah Hideyoshi Toyotomi. Dia tokoh nyata dalam sejarah bangsa Jepang yang kepemimpinannya telah berhasil mempersatukan Jepang setelah masa perang antarklan lebih dari seabad. Hideyoshi disebut sebagai “Samurai Tanpa Pedang”. Mengapa? Karena dia tidak mengandalkan kekerasan dalam kariernya, melainkan persuasi dan sifat kepemimpinannya. Karena itu, jurus-jurus persuasi yang dia contohkan saya pikir layak diangkat dalam situasi bangsa kita yang cenderung suka bertikai saat ini.

Berbagi pengalaman menulis buku

Berbagi pengalaman menulis buku

Balik lagi ke proposisi Al Ries, semua ini soal permainan persepsi. Apakah ini terkait dengan bidang NLP yang Anda tekuni?

Betul. NLP (Neuro Linguistic Programming: red) dalam hal ini saya gunakan sebagai alat bantu untuk lebih mudah menanamkan apa yang dipelajari pembaca ke dalam “pikiran bawah sadar.” Perubahan sikap dan perilaku akan lebih cepat dan efektif kalau apa yang kita pelajari masuk ke “pikiran bawah sadar” sehingga menjadi refleks spontan saat dibutuhkan.

Bagaimana ceritanya sampai filosofi samurai bisa dikait-kaitkan dengan NLP? Yang satu tradisional dan berusia ratusan tahun, satunya lagi ilmu yang baru saja dikembangkan?

Di situlah menariknya. Sebetulnya tidak terlalu aneh ya karena keduanya, baik pendekatan tradisional maupun yang masa kini, kan menyangkut aspek psikologi. Kalau soal nilai-nilai kesatria, sportivitas, itu kan universal, tak mengenal waktu. Tapi menyangkut pendekatan, metode, kan mestinya kalau ada metode lebih baru juga bisa dimanfaatkan. Sekali lagi ini menyangkut aspek psikologisnya ya. Kan saya tidak bicara tentang ilmu fisik bermain pedangnya. Poin yang paling menonjol yang ditunjukkan oleh Musashi adalah “kejernihan pikiran” atau persepsinya dalam menanggapi segala sesuatu.

Soal kejernihan pikiran ini, kalau dari kacamata NLP apakah juga penting untuk pengembangan diri seseorang?

Tentu. Karena, NLP secara praktis adalah teknik memainkan pikiran. Bagaimana agar kita bisa menguasai dan mendaya gunakan pikran kita sendiri? Baik “pikiran sadar” maupun “pikiran bawah sadar”. Betapa sering kita seperti berpikir. Padahal, sesungguhnya kita hanya bereaksi atas bujukan atau provokasi pihak lain terhadap kita. Contohnya, tiap pagi kita memulai hari dengan perasaan segar karena baru bangun dari istirahat. Namun, kita awali kegiatan dengan baca koran, melihat televisi yang menampilkan berita tidak menyenangkan. Maka, suasana pikiran kita berubah seketika. Kita jadi murung, kurang optimis, atau ikut-ikutan bicara, diskusi, seolah kita ahli politik, ahli hukum. Seperti berpikir, padahal hanya bereaksi saja atas berita. Padahal semua yang kita tonton itu belum tentu berpengaruh.

Risfan sebagai trainer, fasilitator, dan motivator di lapangan

Risfan sebagai trainer, fasilitator, dan motivator di lapangan

NLP penting untuk membedah sistem berpikir seseorang, apakah mengarah ke efektivitas atau inefektivitas. Betul begitu?

Betul. NLP sebagai teknik psikologi praktis dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas berpikir. Ini supaya seseorang bisa menjadi “tuan bagi pikirannya sendiri”. NLP berguna untuk menata pikiran dan motivasi diri agar efektif. NLP juga penting untuk berkomunikasi dengan orang lain, baik individu maupun audiens. Bagusnya, selain mengungkap aspek verbal, NLP juga mempelajari perasaan dan tingkah laku yang “tak disadari” seseorang. Misalnya, untuk memvisualisasi visi atau sasaran yang ingin dicapai seseorang. Dengan metode NLP, kita tidak cukup hanya membayangkan rupa mobil dan jumlah uang yang ingin kita raih. Tetapi, kita juga harus tahu “bagaimana perasaan waktu itu, apa warna-warna yang muncul, bagaimana wajah orang yang kita cintai saat memberi selamat”. Ini penting agar pikiran bawah sadar kita juga merasakan “sukses” yang kita idamkan itu. Mengapa? Ini supaya setiap saat—tanpa kita sadari—gambaran tersebut akan senantiasa mengingatkan dan “memandu” kita menuju sasaran.

Menggabungkan perspektif NLP dengan filosofi samurai jelas bukan perkara mudah. Anda menemui kendala dalam penulisan buku ini?

Ada seninya dalam hal ini. Yaitu, bagaimana menangkap pesan atau pengalaman psikologis samurai. Terutama Musashi yang menulis sendiri pengalaman psikologis dan pemikirannya dalam bukunya. Kemudian, saya coba mengaitkannya dengan beberapa jurus atau program NLP yang biasa saya gunakan sebagai praktisi. “Berpikir tanpa persepsi” atau “Jadilah lawanmu”, memahami pikiran lawan bicara misalnya. Ini pesan Musashi. Ini justru akan lebih efektif dan mudah kalau menggunakan jurus NLP, seperti yang saya tulis dalam buku ini.

Menurut Anda, siapa saja yang paling membutuhkan buku ini sekarang dan mengapa demikian?

Buku ini bisa bermanfaat bagi siapa pun. Baik wirausahawan, eksekutif, karyawan, mahasiswa, pelajar, maupun orang tua. Tiap orang bisa membaca dan menerapkan jurus-jurus atau metode yang disarankan dalam buku ini sesuai kebutuhannya. Membacanya pun tidak harus urut dari awal sampai akhir. Karena, pada intinya buku ini didasarkan pada asumsi bahwa setiap orang, apa pun perannya di keluarga dan masyarakat, dia punya cita-cita dan keinginan tetapi juga punya “hambatan internal” dalam dirinya. Apa saja? Takut, ragu, malu, merasa tak pantas, dan seterusnya. Juga ada “hambatan lingkungan” seperti tekanan atasan, orang tua, dan olok-olok teman. Jurus-jurus dalam buku ini dimaksudkan untuk menepis hambatan internal, menembus hambatan lingkungan, bahkan mendapatkan dukungan dari teman atau orang yang kita anggap lawan.

mengembangkan gagasan mindset appreciative

mengembangkan gagasan mindset appreciative

Baik, apa yang Anda dapat dari menulis buku ini?

Banyak nilai yang saya peroleh dari menulis buku ini. Pertama, perjuangan menulis hingga diterbitkannya buku ini oleh Gramedia merupakan bukti “kemenangan” atas diri sendiri, tentunya dengan menggunakan jurus-jurus yang saya sarankan dalam buku ini. Kedua, proses menulis di tengah kesibukan kerja rutin sungguh merupakan perjuangan tersendiri. Penerapan jurus dalam berkomunikasi menghasilkan dukungan dari teman, terutama dari Proaktif Writer Schoolen (lembaga pelatihan menulis untuk profesional: red), dan sesama Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com. Ini sungguh merupakan nilai tinggi yang tak saya duga sebelumnya. Ketiga, undangan untuk berbicara, untuk men-training-kan jurus-jurus dalam buku ini di perusahaan swasta, kelompok swadaya masyarakat, dan komunitas sosial. Ini merupakan kebahagiaan yang juga tak saya duga sebelumnya. Keempat, datangnya syukur saat orang menyampaikan bahwa jurus tertentu telah membantu dia untuk mengatasi persoalan yang dia hadapi, membantu gugus kerjanya menyusun resolusi tahun baru, atau membantu kelompok UKM yang dia bina, dan lain sebagainya.

Apa profesi Anda dan sebenarnya apa yang sehari-hari Anda lakukan?

Profesi saya sehari-hari adalah konsultan perencanaan kota atau daerah, manajemen pelayanan publik dan pengembangan ekonomi atau kelompok UMKM setempat. Dalam hal ini saya sering berkunjung ke berbagai daerah di Tanah Air dan melakukan perbandingan dengan yang terjadi di beberapa negara. Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa “seni mengapresiasi” keberhasilan, walau itu kecil, akan lebih efektif untuk mendorong perbaikan di semua bidang, daripada kritik misalnya. Karena, kebanyakan orang kalau dikritik akan mencari kambing hitam dan mereka kian apatis. Saat ini, masyarakat kita perlu dibangkitkan optimismenya sehingga persepsi apresiatiflah yang sebaiknya kita sebarkan.

Kalau untuk profesi tersebut, hal teknis apa yang biasa Anda lakukan?

Pada saat ini, sebagai konsultan perencanaan ataupun menajemen, kita tidak bisa bekerja di belakang meja. Kita harus bertindak sebagai fasilitator, moderator, dan mau tak mau jadi motivator juga dalam memfasilitasi stakeholders. Mereka adalah pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat. Kita memfasilitasi dalam merumuskan masalah dan secara partisipatif merumuskan solusi, menyusun rencana, baik rencana pembangunan, peningkatan pelayanan publik serta pemberdayaan kelompok UMKM.

Persoalan-persoalan paling krusial seperti apa yang Anda temui di kota-kota atau daerah yang Anda tangani?

Masalah paling krusial saat ini terutama karena terjadinya perubahan yang cepat, akibat pertumbuhan penduduk perkotaan yang tinggi, namun tidak diimbangi kesempatan kerja. Akibatnya adalah besarnya angka kemiskinan perkotaan dan masalah sosial ikutannya. Sementara, pemerintah daerah masih “kaget” dengan otonimi daerah. Kebanyakan sumber dayanya terbatas sehingga banyak yang kebingungan akan melakukan apa. Akhirnya, yang dibuat malah yang bukan kebutuhan warganya. Sementara itu, mengingat potensi sumber daya yang dimiliki masyarakat dan swasta, mestinya mereka diajak berpartisipasi dalam pembangunan kota atau daerah. Tetapi karena sikap mental atau persepsi yang masih belum bisa berubah, potensi tersebut tak bisa dilibatkan kontribusinya secara optimal. Masalah lain terkait sikap psikologis yang cenderung tidak positif.

Bersama para Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com

Bersama para Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com

Apa yang kira-kira bisa disinergikan antara permasalahan-permasalahn tersebut dengan “ilmu tambahan” yang Anda tulis dalam buku samurai ini?

Yang pokok ya itu tadi, ada jurus-jurus yang menyarankan kita untuk menginventarisir “keberhasilan”. Walau masih kecil, sedikit, daripada berfokus pada identifikasi atau menggali “persoalan”. Persepsi atau cara pandang inilah yang banyak saya ambil dari buku yang saya tulis ini. Ini pula yang saya terapkan dalam memfasilitasi stakeholders pemerintah daerah ataupun klaster UMKM di daerah.

Apa mereka tahu prinsip-prinsip tersebut diambil dari filosofi samurai dan NLP?

Kepada audiens atau konsumen akhir tidak saya sampaikan. Karena, bagi mereka yang penting masalah mereka terpecahkan, rencana tersusun. Tapi kepada para jaringan fasilitator, baik dari perguruan tingi, LSM atau individual, metode termasuk jurus-jurus dalam buku ini saya sampaikan. Dan, para fasilitator itulah pembaca dan pengguna buku ini. Namun, banyak juga audiens yang akhirnya tertarik membaca buku ini karena sudah merasakan manfaatnya. Kepada mereka saya jelaskan nilai hiburan dan manfaat praktis buku ini.

Ada pengalaman menarik pascapenerbitan buku Anda ini?

Ya, undangan untuk men-training-kan buku ini. Padahal, tadinya saya pikir hanya hanya untuk dibaca. Pengalaman menarik yang masih datang hingga hari ini ialah apresiasi pembaca via Facebook, email, dan SMS. Ini di luar dugaan saya. Saya pikir setelah menulis, buku terbit, ya selesai. Tadinya saya ragu apakah saya bisa dan berani menulis di luar bidang profesional konsultan. Ternyata, dengan sambutan dari kalangan akademisi pula, membuat penulisan bidang baru ini menjadi “bagian dari diri saya” juga. Apalagi setelah banyak kenalan “minta advice” untuk masalah-masalah motivasi, komunikasi, dan psikologi praktis lainnya. “Bagaimana pendapat Samurai Sejati?” tanya mereka misalnya. Pertanyaan seperti main-main tapi jadi pengalaman menarik pula…

Apa rencana Anda ke depan terkait dengan profesi maupun dunia kepenulisan yang sudah Anda masuki?

Ke depan yang saya pikir adalah bagaimana terus mendorong meningkatkan kualitas manajemen pelayanan publik, good governance, pemberdayaan klaster UMKM, dengan menanamkan persepsi yang lebih “appreciative”, menghargai apa yang sudah dicapai walau masih kecil. Untuk penulisan buku, target saya ialah menulis buku tentang Manajemen Apresiatif  untuk menyebarkan “virus” apresiasi dan mempertajam kemampuan “bersyukur”. Harapan saya, buku ini akan meraih predikat bestseller. Sebuah buku yang punya pengaruh besar dalam meningkatkan nilai kemenangan dan kesejahteraan pembaca serta lingkungannya.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi Risfan Munir

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: -1 (from 3 votes)

Wilson Arafat: Satu Menit Kita Tidur, Satu Tahun Negara Lain Sudah Berlari

Wilson Arafat

Wilson Arafat

Wilson Arafat adalah seorang Corporate Governance and Corporate Culture Specialist, penulis buku-buku manajemen, dan professional writer. Sekarang, pria kelahiran Palembang, 21 Maret 1972, yang sehari-hari bekerja di BTN ini semakin sering memberikan pelatihan-pelatihan tentang GCG di berbagai perusahaan, termasuk birokrasi pemerintahan. Belakangan ini, selain sedang bersemangat memberikan seminar-seminar dan pelatihan mengenai pentingnya penerapan GCG, Wilson juga terus menelurkan konsep-konsep dan model-model aplikasi GCG, baik dalam format ratusan artikel, paper atau makalah ilmiah, dan buku popular.

“Sepuluh tahun terakhir saya ber-‘asyikmasyuk’ dengan GCG. Dan, saya melihat hal ini penting untuk dibumikan di negeri ini,” jelas Wilson dalam sebuah wawancara online. Selain demi menyongsong ketatnya persaingan global, Wilson melihat urgensi penerapan GCG adalah untuk menciptakan keseimbangan di antara berbagai kepentingan semua pihak terkait dalam korporasi. “Apalagi di perusahaan, ketika enggak imbang antara kepentingan pemegang saham dengan kepentingan manajemen, maka akan terjadi kerusakan. Pada akhirnya, tidak ada check and balances. Tinggal tunggu waktunya, perusahaan atau apa pun akan hancur, KKN menggurita,” jelas alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini.

Namun, bukan soal GCG saja—sebagaimana akan kita kupas dalam paruh pertama wawancara ini—yang dia kuasai. Suami dari Ina Marlina dan ayah dari Fathir Filbert Fahrudin ini sudah menelurkan enam buku manajemen/marketing serta dikenal piawai sekali menulis untuk perlombaan karya tulis. Tak kurang sepuluh award atau penghargaan dia raih dari berbagai perlombaan menulis artikel maupun karya ilmiah popular untuk bidang manajemen, pemasaran, dan perbankan. Soal kiat-kiat memenangkan perlombaan menulis inilah yang akan menjadi fokus paruh kedua wawancara ini.

Wilson Arafat adalah sosok pemikir muda berbakat yang seolah muncul meneruskan tradisi intelektual dan keilmuan dari para tokoh pemikir andal dari Tanah Sriwijaya. Dia tinggal menunggu waktu saja untuk semakin bersinar dalam kiprah profesional maupun pengabdiannya kepada masyarakat. Ide-idenya terus mengalir dan semangatnya tidak pernah padam untuk senantiasa berkarya. Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari semangat maupun gagasan-gagasan Wilson. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Wilson Arafat belum lama berselang.

Sudah berapa buku yang Anda tulis dan apa saja temanya?

Sudah enam buku, buku kesatu dan kedua bertema marketing, ketiga manajemen perbankan, keempat dan kelima tentang Good Corporate Governance atau GCG, dan keenam saya sebagai ghost writer buku tentang leadership.

Bagaimana ceritanya, selain berkarier di perbankan Anda akhirnya menekuni bidang GCG?

Kalau boleh bercerita sedikit, petualangan ‘intelektual’ saya cukup berliku hehehe… Mulanya saya berminat menjadi marketer sejati. Studi S-2 saya fokus ke marketing. Cuma dalam perjalanan karier, saya menemui banyak jenis pekerjaan. Misalnya, mengelola manajemen perbankan dan manajemen strategik. Namun, sepuluh tahun terakhir saya ber-‘asyikmasyuk’ dengan GCG. Dan, saya melihat hal ini penting untuk dibumikan di negeri ini. Ide-ide saya cukup banyak yang ingin saya tuangkan sebagai sumbangsih pemikiran saya. Artikel, makalah, dan paper saya sudah dimuat di berbagai media, diapresiasi sejumlah lembaga, dan saya tuangkan juga menjadi buku. Jadinya saya sekarang fokus menjadi corporate governance and corporate culture specialist.

Dari tema-tema buku GCG yang sudah Anda tulis, masing-masing apa bedanya?

Buku How to Implement GCG Effectively mengungkap horizon delapan langkah strategis dalam membumikan sistem dan budaya GCG. Buku ini menguraikan secara big picture bagaimana membumikan GCG secara efektif. Buku Smart Strategy for 360 Degree GCG: Simple, Clear, and Applicable. Buku ini mengupas tuntas bagaimana strategi melaksanakan GCG dengan sebaik-baiknya. Lengkap diuraikan tahapan dan langkah-langkahnya sesuai best practice. Dan, sekarang saya lagi proses memuat buku GCG ketiga berjudul How to Assess GCG Effectively: To be A trusted Company. Ini merupakan pedoman komprehensif untuk mengukur kinerja penerapan GCG.

Anda mahir membuat model-model teoritikal. Bagaimana cara mengasah dan mengembangkan keterampilan tersebut?

Kata Einstain, maestro yang sangat saya kagumi, “Belum dikatakan seseorang itu pakar kalau orang itu belum bisa membuat sesuatu yang rumit menjadi sederhana.” Ini yang saya pegang. Saya berupaya membuat sesuatu yang teoritikal, kata orang rumit, bisa jadi model. Cukup satu gambar, tidak lebih dari satu halaman. Jadi, kuncinya adalah berpikir sederhana dan membuat sesuatu yang rumit itu jadi simple.

Untuk buku-buku GCG, model apa saja yang sudah Anda ciptakan?

Ada Model Indeks/Peratingan GCG, ada model implementasi strategi yang saya namakan GCG Strategy Map 3, Road Map Implementasi GCG, Model Peta Sukses Meraih Tata Kelola yang Baik, Model Transformasi Budaya GCG, dan ada beberapa yang lain.

GCG

GCG

Sebagai awam, pertanyaan saya apa urgensi GCG bagi perusahaan/organisasi yang baru berkembang maupun yang mapan?

Urgensinya terletak pada esensi dari penerapan GCG itu. Yaitu menciptakan keseimbangan antara kepentingan sosial versus ekonomi. Imbang antara kepentingan internal versus eksternal. Imbang antara kepentingan stakeholders versus shareholders. Imbang kepentingan jangka pendek versus jangka panjang. Imbang antara tujuan komunal versus individual. Menurut saya, semua kehancuran di Republik ini adalah karena ketidakseimbangan di berbagai bidang. Contohnya, banjir itu karena kesimbangan terganggu, habitat alam sudah rusak. Apalagi di perusahaan, ketika enggak imbang antara kepentingan pemegang saham dengan kepentingan manajemen, maka akan terjadi kerusakan. Pada akhirnya, tidak ada check and balances. Tinggal tunggu waktunya, perusahaan atau apa pun akan hancur, KKN menggurita. Nah, GCG akan memberikan keseimbangan, itulah urgensinya.

Apakah aplikasi GCG masuk juga ke ranah organisasi birokrasi pemerintahan?

Kalau ranah organisasi pemerintah namanya Good Public Governance. Prinsipnya sama, variabelnya yang beda, scope-nya juga lebih luas karena melibatkan tiga pilar; pemerintah itu sendiri, dunia usaha, dan masyarakat luas. Ketiga pilar itulah yang nantinya akan menentukan terciptanya Good Public Governance. Semua memainkan peranannya masing-masing. Jadi, pada organisasi pemerintahan juga menjadi keniscayaan.

Birokrasi pemerintahan selalu dipersepsi sebagai organisasi lamban dan tidak inovatif. Apakah bisa ditransformasikan ke birokrasi modern yang punya sikap setanggap korporasi-korporasi modern misalnya?

Wah, pertanyaan yang sungguh luar biasa panjang jawabannya hehehe…. Namun untuk Indonesia, kata kunci sangat signifikan—kalau mau berhasil mentransformasi birokrasi mendekati ketanggapan korporasi—menurut saya itu di sisi leadership. Penting sekali di Indonesia. Beberapa gubernur di Tanah Air, karena punya visi entrepreneurship, mereka bisa melaksanakannya. Sayangnya, mereka sangat kecil jumlahnya. Yang ada adalah leadership yang kental dengan ‘darah politik’. Menurut saya, perlu birokrat-birokrat yang berjiwa entrepreneur sehingga leadership-nya kental juga ke visi inovasi. Jangan habiskan waktu kita hanya untuk politik yang menguras tenaga, pikiran, dan biaya yang luar biasa. Ini era informasi dan abad globalisasi, Bung hehehe…. Satu menit kita “tidur”, satu tahun negara lain sudah berlari. Jadi menurut saya, pada saat ini leadership-lah yang menentukan “hitam-putih” organisasi pemerintahan.

Apakah model GCG mampu mengakomodasi pandangan Anda tersebut. Atau, Anda berminat mengembangkan model-model baru untuk modernisasi birokrasi?

Saya ada ‘mimpi” ke sana. Mudah-mudahan juga bisa memberi sumbangsih yang signifikan untuk masyarakat kita. Model GCG tentu mampu mengakomodirnya. Tentunya diperlukan political will untuk itu. Dengan kata lain, prinsip GCG adalah meletakkan ‘kamar’ masing-masing organ organisasi sesuai pada tempatnya. Jadi, prinsip-prinsip GCG sangat diperlukan untuk modernisasi organisasi pemerintah. Doakan kerja saya itu ya….

Ok, kalau ada permintaan pelatihan-pelatihan untuk birokrasi pemerintahan daerah misalnya, apakah tertarik dan siap meladeni?

Itu sudah saya jalani itu. Misalnya, di Permerintahan Daerah Sabang. Sangat menarik itu. Menata Good Governance di daerah istimewa, di wilayah yang istimewa juga. Saya sangat siap.

Profesi

Profesi

Untuk menyelesaikan setiap buku yang Anda tulis, rata-rata butuh berapa lama?

Lebih kurang satu bulan, itu sudah draf final. Jadi minus layout, editing, advice konsultan, cover, minta endorsement, dsb.

Buku-buku Anda padat dengan referensi teori. Bagaimana teknik menulis buku semi ilmiah seperti itu dalam waktu singkat?

Pertama, jadikan menulis sebagai ‘darah daging’ kita, denyut jantung kita. Itu untuk menorehkan sejarah emas selama kita masih bisa berkarya di dunia ini. Dengan demikian, kita akan mencintai pekerjaan kita sebagai penulis. Akan ada sejumlah energi yang sungguh dahsyat yang membuat kita dibimbing dari Langit untuk menulis dengan lancar. Kayak air mengalir hehehe… Dengan demikian kita tidak pernah merasa lelah menulis. Dan, apa yang kita dengar, apa yang kita lihat, apa yang kita baca, semuanya bisa jadi referensi untuk menulis. Alam semesta adalah guru, bertemu kolega adalah guru. Bahkan, bertemu pengemis dan minta tolong sama pembantu adalah guru juga. Mereka juga profesor-profesor saya, selain buku-buku yang saya baca.

Dan, kata Anda menulis juga perlu berdoa?

Ya, jangan pernah lupa berdoa ketika menulis. Mohon kepada-Nya supaya dibimbing untuk menulis dan hanya memberikan hal yang berharga kepada ‘dunia’. Percaya atau tidak, ini adalah kekuatan yang paling dahsyat. Menurut saya, itu soft side kita dalam menulis. Selain itu, kita perlu hardside-nya. Kita harus piawai dengan ilmu menulis dan harus menguasai ilmu yang kita tulis. Belajar ilmu menulis di antaranya ikut workshop menulis, bergaul dengan komunitas dan penulis andal seperti Edy Zaqeus hehehe….

Kalau cara menguasai bidang kepenulisan kita, ada kiatnya?

Kiat menguasai ilmu yang ditulis, saya juga punya. Kita harus paralel dengan apa yang kita kerjakan sehari-hari. Sepuluh tahun terakhir saya bergelut dengan GCG. Menjadi narasumber workshop, seminar, dan juga langsung terjun ke lapangan. Saya merasakan ‘denyut nadi’ berbagai persoalan yang terjadi di lapangan. Selain itu, kita harus membaca banyak literatur. Dengan demikian, pekerjaaan sukses dan bisa pula berkarya lewat goresan pena, malah bertambah lancar. Intinya adalah bekerja dan menulis dengan smart, itu orang-orang sukses yang bilang.

Smart Talk Show

Smart Talk Show

Satu-satu saja, ya. Penghargaan untuk tema GCG antara lain; pertama, dari Center for Good Corporate Governance, FE UGM. Kedua, dari Bank Indonesia. Ketiga, dari BPKP. Keempat, dari Bank BNI dapat dua kali penghargaan. Kelima dari Universitas Trisakti. Sedang untuk tema marketing; pertama, dari Nokia Marketing Award saya menang dua kali penghargaan. Kedua, dari Bank BTN. Sementara untuk tema perbankan; pertama, dari LP3ES dan Yayasan Damandiri, dan kedua dari Universitas Indonesia.

Apa rahasianya bisa menang kompetisi penulisan begitu seringnya?

Rahasianya ada empat. Pertama, tulisannya harus sistematis, mengalir, dan pilihan katanya ada “kekuatan” besar. Kedua, tulisan harus original. Hal ini dapat kita tuangkan melaui model, inovasi, dan tak lupa harus applicable serta cost effective. Ketiga, tulisan harus memberikan value yang berharga, misalnya mengandung usulan yang bermanfaat bagi perusahaan yang menerapkkannya. Keempat, jangan lupa berdoa sebelum enter atau mengirim ke panitia lomba hehehe….

Dalam karya-karya seperti itu, bagaimana peran dan proporsi referensi teori, analisis, kasus, dan opini pribadi?

Semua memainkan peranan yang sungguh besar, seperti mobil ada stir, ban, velg, rem, dashboard, dll. Semua memainkan peranan penting. Bagaimana mobil BMW yang mahal itu kalau tanpa ban tanpa stir? Teori membentuk kerangka berpikir kita, framework yang terarah. Kasus akan melihat best practice atau benchmarking yang sangat penting untuk aplikasi konsep atau teori yang ada. Analisis dan opini adalah ‘value‘ yang kita tawarkan berdasarkan teori dan kasus yang kita kuasai tadi. Di sinilah letaknya nilai tulisan kita. Kita bicara teori dan konsep yang diselaraskan dengan data dan fakta. Lalu kita lontarkan value yang menurut kita bermanfaat.

Setiap lomba penulisan pasti punya persyaratan tema dan teknis penulisan. Bagaimana Anda mencermati itu sehingga Anda selalu berhasil memenangkan penjurian?

Cermati dengan sangat saksama persyatannya. Prediksikan apa yang diinginkan oleh lembaga penyelenggaranya. Itu harus kita pahami benar. Setelah itu, baru kita kumpulkan segenap informasi yang akan memenuhi persyaratan dan keinginan lembaga penyelenggara. Baru kemudian menulis dengan bahasa yang punya power, mengalir. Dan, buatlah sesuatu value yang berharga sebagai saran yang kita lontarkan sehingga karya kita dihargai oleh penyelenggara. Jangan lupa, itu harus beda dengan yang sudah ada, harus orisinal, ada inovasi dari penulis. Kalau kita berhasil membuat tulisan seperti itu, biasanya juara hehehe….

Keluarga

Keluarga

Dengan kata lain, harus ada riset untuk setiap tulisan?

Iya, bisa dikatakan begitu. Terutama untuk karya ilmiah. Kalau berbentuk tulisan atau artikel pendek, kita cukup menjalin riset ‘kecil-kecilan’ berdasarkan apa yang dilihat, didengar, dibaca, dan ditulis dengan bahasa yang padat.

Apakah harus selalu ada ide-ide inovatif dan kreatif dalam setiap karya tulis untuk perlombaan?

Penyelenggara mau memberi hadiah yang besar tentu untuk ‘membeli’ ide, bukan? Menurut saya, itu keharusan kalau mau juara hehehe…. Ide yang kreatif dan inovatiflah yang dicari.

Bagaimana cara menyemaikan ide-ide kreatif dan inovatif itu? Susah dipaksa muncul kalau memang tidak ada?

Menurut saya, ide itu seluas langit dan bumi. Terlalu banyak, di Indonesia ini, yang harus diinovasikan dan dikreatifkan. Berpikir saja bagaimana supaya lebih mudah, lebih murah, lebih cepat, lebih reliable, lebih… lebih… dan lebih, itu ‘pasti’ akan inovatif dan kreatif. Kita paparkan teori, fakta, kita tawarkan ide dan value, kita tunjukkan caranya, lalu kita buktikan itu bisa lebih murah, lebih cepat, lebih, lebih, dan lebih…. Begitu kalau dari pengalaman saya.

Apakah dalam menulis karya untuk lomba Anda juga sudah mengantisipasi tulisan-tulisan kontestan lain akan seperti apa, sehingga mungkin dari situ Anda bisa menyajikan nilai lebih tersendiri?

Kalau peserta lain saya ‘tidak peduli’ hehehe…. Tanda petik, ya. Cuma saya mencari artikel di luar yang terbaik, kata Tung Desem (motivator: red) bergurulah pada orang nomor 1. Makanya, saya cari yang terbaik di bidang yang saya tulis. Kalau GCG namanya Sir Adrian Cadbury, dialah yang dianggap sebagai salah satu suhunya. Kalau menulis, ya berguru pada Edy Zaqeus hehehe…. Jadi, saya berusaha ‘menyaingi’ penulis terbaik di bidang yang ditulis. Kalau bisa saya harus lebih. Soal peserta lain, biarin saja mereka mau menulis apa hehehe….

Sejauh ini, apa manfaat yang bisa Anda petik dari proses penulisan buku maupun karya-karya ilmiah?

Sangat sinergis, saling mendukung. Menulis adalah salah satu bagian dari ‘menorehkan’ track record penulisanya. Menulis akan membentuk image yang baik. Terlebih lagi, kata Publilius Cyrus, “Good reputable is more valuable than money.” Lebih berharga dari tumpukan pundi-pundi, lho…. Jadi, manfaatnya banyak sekali. Dari segi ilmu kita bertambah, dari image itu menopang kita, dari penghasilan cukuplah hehehe…. Dari sisi teman, tambah banyak network. Kata orang, high risk high return. Maka, menulis itu high return no risk. Bahkan, pekerjaan saya sebagai pembicara publik dan konsultan jadi mudah dipercaya orang. Intinya, menulis sangat menopang karier kita.

Kalau menulis buku seperti George Aditjondro itu high risk, enggak?

Hahaha…. Itu bukan ranah saya. Apa lagi saya belum baca….

Iya, bercanda. Ok, terima kasih wawancaranya. Sukses untuk Anda!

Baik, mudah-mudahan bisa mengispirasi dan bermanfaat bagi teman-teman semua. Terima kasih. Salam bestseller![ez]

Foto-foto: dokumentasi pribadi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.9/10 (8 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Anang Y.B.: Berpenghasilan Layak dengan Berusaha dari Rumah, Why Not?

Anang Y.B.: Memperkenalkan profesi geografer

Anang Y.B.: Memperkenalkan profesi geografer

Anda pernah tahu atau mendengar tentang profesi sebagai geografer? Barangkali, ini bukan profesi yang sering Anda dengar, walau mungkin Anda bisa mereka-reka bidang kerjanya karena namanya. Profesi geografer memang benar ada dan penghasilannya pun lumayan. Kebetulan, nama profesi ini diciptakan serta ditekuni oleh Anang Tri Nugroho, seorang bloger atau ‘pabrik blog’ yang lebih dikenal dengan nama pena Anang Y.B.

Anang Y.B. lahir pada 4 Februari 1970 di Bantul, DIY, dan lulusan tercepat Fakultas Geografi, UGM. Ia mengawali kariernya sebagai staf konsultan pemetaan selama lima tahun dan setelah itu memutuskan menjadi tenaga ahli geografi secara self employed. Di sinilah, suami dari Tjandra Susi (yang bekerja di sebuah surat kabar nasional) dan ayah dari Geofani Nerissa Arviana (10 tahun) dan Justin Ananta (5 tahun), ini mengembangkan profesinya sebagai seorang geografer.

Saya bisa masuk dalam tim studi AMDAL. Bisa juga menjadi tenaga penilai lapangan untuk EKOLABEL produk kehutanan. Bisa juga masuk dalam tim perencanaan tata ruang,” jelas Anang tentang profesinya. Menurut Anang, melalui profesi geografer yang ditekuninya dengan berkantor di rumah itu, ia bisa mendapatkan penghasilan rata-rata Rp 9 jutaan per bulan. Tentu saja, di sela-sela itu, Anang masih bisa menekuni hobinya yang lain, yaitu menjadi “pengembang blog” dan menjalankan internet marketing.

Bukan itu saja, buah dari ketekunannya menulis di sejumlah blog sejak 2001, Anang sampai memiliki lebih dari 500 posting tulisan. Hasilnya, kini tulisan-tulisan tersebut bisa dikemas ulang untuk diterbitkan menjadi buku. Dan, dalam lima bulan terakhir ini saja, Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com ini telah menelurkan empat judul buku. Jadi, hampir sebulan sekali Anang menerbitkan buku baru. Untuk penulis pemula di dunia perbukuan, ini cukup membanggakan juga.

Nah, untuk mengetahui lebih detail tentang apa itu profesi geografer serta proses kreatif Anang dalam melahirkan buku-bukunya, Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com mewawancarai Anang melalui chating beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Bagaimana deskripsi profesi atau pekerjaan sehari-hari Anda?

Saya suka menyebut diri saya sebagai seorang geografer. Istilah ini unik, dalam arti tidak banyak yang mau memakai. Geografer dalam artian orang yang mencari duit dengan mengurusi manusia, lingkungan, dan hubungan keduanya. Profesi ini saya tekuni sejak 2001, hingga saat ini. Untuk satu semester terakhir ini, profesi ini sedikit saya rem, karena saya menemukan keasyikan baru, menjadi penulis naskah buku.

Contoh pekerjaan yang Anda lakukan sebagai geografer apa?

Geografer adalah profesi generalis. Dosen saya menyebutnya profesi Rhemason. Dia bisa mengobati mulai dari sakit kepala, salah urat, hingga asam urat. Saya bisa masuk dalam tim studi AMDAL. Bisa juga menjadi tenaga penilai lapangan untuk EKOLABEL produk kehutanan. Bisa juga masuk dalam tim perencanaan tata ruang. Tapi, rata-rata positioning serang geografer adalah sebagai seorang analis keruangan berbekal peta dan foto satelit.

Kalau misalnya saya mau buka tambang atau perkebunan yang luas, perlukah seorang geografer?

Oh, ya. Klien saya selain dari sektor kehutanan, juga dari pertambangan dan perkebunan. Setiap kali mereka akan memulai usaha, pastilah mereka akan melakukan feasibility study. Mereka perlu seorang analis keruangan. Mereka butuh informasi mengenai jenis penggunaan lahan yang ada sekarang. Berbatasan dengan milik siapa? Apakah peruntukannya sesuai dengan tata ruang? Apakah jenis tanahnya sesuai? Apakah lerengnya ideal untuk membuka usaha? Dan lai-lain. Semua itu bisa dikaji dengan melakukan overlay atau tumpangsusun peta-peta tematik. Trennya, mereka akan membeli foto satelit untuk mengetahui kondisi terkini dari lokasi yang akan diusahakan. Di sinilah peran seorang geografer bisa masuk.

Kalau awam mungkin bertanya, kan sudah ada Google Earth untuk foto satelit gratis?

Foto satelit di Google Earth (GE) sebagian besar menggunakan citra bernama QUICKBIRD. Karena gratisan, maka yang muncul di GE adalah versi lawas. Tertinggal sekitar dua tahunan, dan resolusinya sudah diturunkan. Dalam versi berbayar Anda bakal melihat kedetailan yang lebih tajam, dan umur foto satelit yg lebih baru. Bila mau, Anda bisa memesan untuk dipotretkan Istana Negara dalam tampilan terkini dengan resolusi 60 cm. Artinya, mobil pun bakal tampak jelas, padahal pemotretan dilakukan ribuan kilometer di angkasa sana.

Profesi sebagai geografer cukup menantang dan penghasilan pun lumayan

Profesi sebagai geografer cukup menantang dan penghasilan pun lumayan

Sebagai seorang geografer, Anda juga berperan sebagai konsultan yang memberikan solusi dalam bidang tersebut? Atau hanya menjual data-data semata?

Dua-duanya saya lakoni karena dua-duanya menghasilkan duit hehehe.... Kedua-duanya juga saya jalani secara self employed.

Bagaimana penghasilan profesi ini?

Karena proyek-proyek yang saya terima bergantung pada proyek pemerintah, maka pasti ada masa pacekliknya. Biasanya instansi pemerintah merealisasikan proyek pada periode Juli hingga Desember. Pada masa itulah kontrak biasanya berdatangan. Periode Januari hingga Juni tak banyak pekerjaan. Biasanya saya isi dengan mengadakan pelatihan survei dan pemetaan. Penghasilan cukup lumayan. Bisa buat bantu-bantu istri cari nafkah. Sebetulnya, penghargaan untuk seorang tenaga ahli yang ditetapkan Bapenas cukup tinggi, bisa sekitar Rp 9 jutaan per bulan untuk yang mengantongi pengalaman kerja 9 tahunan. Kalau kita beruntung mendapat pekerjaan dari pemberi kerja yang jujur dan konsultannya jujur, kita bisa memperoleh angka sekitar itu per bulan dari satu pekerjaan.

Dan, itu Anda lakukan dengan berkantor di rumah atau di dunia maya saja?

Ya, menjadi konsultan self employed dari rumah. Mengandalkan kartu nama, laptop, akun email, weblog, pengalaman kerja, dan tentunya nama baik.

Seorang geografer sering menjelajahi berbagai pelosok medan

Seorang geografer sering menjelajahi berbagai pelosok medan

Bagaimana caranya supaya seorang alumni jurusan geografi bisa menjadi seorang geografer seperti Anda?

Pertama, jangan lama-lama menjadi karyawan. Di perusahaan konsultan, seorang geografer berada pada kasta yang relatif rendah dibandingkan seorang sarjana teknik maupun programer. Kalau mau dihargai, jadilah seorang freelancer saat Anda sudah memiliki bekal cukup. Kedua, upgrade ilmu Anda. Saat saya lulus th 1996, kemampuan mengoperasikan GPS dan software SIstem Informasi Geografis adalah sebuah keunggulan. Sekarang tidak. Anak SMA pun sudah bisa. Kita mesti selangkah di depan soal keahlian. Ketiga, jalin relasi dengan siapa pun. Jangan cuma dengan alumni, sebab geografer bakal dapat kerja justru dari bidang ilmu lain. Keempat, bangun personal branding sebaik mungkin. Keempat, jujur dan profesional.

Rupanya, pengalaman pribadi inilah yang mendorong Anda menulis buku Kerja di Rumah Emang ‘Napa?, ya?

Yap, saya ingin berbagi. Saya sadar, mungkin pilihan dan jalan yang saya tempuh bukan yang paling ideal. Tapi, di luar sana masih banyak rekan lain yang belum cukup beruntung. Bukan karena mereka tidak pintar atau kurang berusaha. Tapi karena belum ada yang menunjukkan bahwa di luar jalur yang biasa dilalui orang, masih ada “jalan-jalan tikus” dan jembatan kecil yang bisa dititi untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

Sudah berapa buku yang Anda tulis?

Sudah empat buku yang diterbitkan dalam lima bulan ini. Pertama buku biografi berjudul Santo Arnoldus Janssen Abdi Yesus Yang Setia, terbit Juli 2009 oleh OBOR. Kedua, buku rohani popular berjudul Sandal Jepit Gereja, terbit Agustus 2009, juga oleh OBOR. Ketiga, buku internet berjudul 88 Mesin Uang di Internet, terbit September 2009 oleh Best Publishing. Dan keempat, Kerja di Rumah Emang Napa?, terbit November 2009, oleh Gramedia Pustaka Utama.

Hebat. Bagaimana seorang geografer bisa seproduktif itu. Apa rahasianya?

Mungkin ada saatnya ide saya akan kering walau saya tidak mengahrapkan itu terjadi. Tiga dari empat buku tersebut saya gali dari kehidupan dan keseharian saya. Betul-betul saya alami dan tinggal copy-paste dari harddisk di otak saya. Saya beruntung memiliki blog www.jejakgeografer.com dan www.anangyb.blogspot.com. Kedua blog ini telah memiliki 500 posting dan merupakan harta karun saya. Memori saya yang sudah melemah karena faktor usia hehehe… terbantu dengan catatan sejarah yang tertulis di dalam kedua blog tersebut.

Cara Anda meramu tulisan-tulisan yang sudah siap olah menjadi naskah buku itu bagaimana?

Tulisan di blog memang mesti diolah, karena ditulis secara spontan dan sangat kontekstual dengan issue yang ada. Panjang pendeknya pun sesukanya. Agar menjadi sebuah naskah buku yang layak, saya awali dengan menentukan frame naskah. Sudut pandang penceritaan, apakah sebagai “aku/subjek” atau sebagai orang lain. Ini harus disamakan. Panjang pendek juga mesti disamakan. Kalau terlalu pendek, saya akan menambahkan paragraf baru yang relevan, atau kalau memungkinkan, saya akan gabungkan dua posting di blog menjadi satu bab.

Anang bersama keluarga tercinta

Anang bersama keluarga tercinta

Mengenai produktivitas Anda dalam menulis di blog. Apa yang memacu atau memicu Anda sehingga selalu punya tema tulisan?

Jujur saja, masih ada sekitar lima atau bahkan lebih tema buku yang mendesak otak saya untuk segera dituangkan. Bahkan, outline yang saya buat semasa mengikuti pelatihan di ‘Writer Schoolen’ belum juga saya garap. Sejauh ini, ide dan tema belum menjadi persoalan buat saya. Mengenai produktivitas, saya bersyukur karena mengenal sosok Indari Mastuti lewat paparan profil di web ini. Demikian pula dengan misalnya Gregorius Agung, pemilik Jubilee Enterprise. Produktivitas kedua orang inilah yang melecut saya untuk terus menulis. Tentu saja saya membuat strategi agar dapat menyelesaikan naskah secara rutin dan cepat.

Bisakah dibagi strateginya?

Saya berkaca dari buku-buku saya yang sudah beredar. Buku pertama yang berjudul Santo Arnoldus bisa saya kebut dalam waktu sepuluh hari. Sedangkan buku 88 Mesin Uang di Internet, karena lebih tebal dan mesti cari gambar, baru selesai dalam waktu 14 hari. Artinya, kalau mau, sebulan saya bisa bikin dua naskah. Dari sinilah akhirnya saya membuat time schedule naskah apa yang saya mau selesaikan setiap bulannya. Time schedule ini saya lengkapi dengan judul buku, jumlah halaman, dan target penerbit yang mau saya todong. Tidak tanggung-tanggung, sengaja saya buat target yang musykil: sebulan membuat dua naskah buku. Mengapa dua naskah? Ya, kalaupun saya sangat malas dan hanya mampu memenuhi separuh target, maka saya sudah menghasilkan satu naskah dalam satu bulan!

Apa kiatnya sehingga setiap naskah yang Anda selesaikan selalu disambut baik oleh penerbit?

Apa ya? Keberuntungan? Bisa jadi. Kebaikan hati penerbit? Bisa juga. Tapi bisa jadi juga karena kebiasaan menjual diri saat menjadi konsultan, yang membuat saya menyodorkan naskah dalam kondisi dan tampilan yang terbaik. Setiap naskah yang saya sodorkan selalu dalam kondisi siap baca dan lengkap. Setiap naskah juga mesti saya beri kaver full colour. Saya pun belajar membuat layout naskah sehingga biarpun masih berupa dummy book, tapi saya pingin editor atau redaksi merasa nyaman, senyaman membaca buku yang sudah jadi. Saya juga membekali diri dengan terus membaca ilmu editor. Di luar itu, saya pasti menyertakan surat pengantar yang saya buat secara serius.

Sekarang mengenai buku 88 Mesin Uang di Internet, garis besar isinya apa?

Buku tersebut berisi review sekumpulan situs internet yang menjanjikan penghasilan kalau kita bergabung di dalamnya. Bedanya dari buku-buku sejenis, cara bertutur yang saya pakai adalah story telling agar tidak kering dan membuat pembaca bosan. Kebetulan saya cukup aktif dalam bisnis internet sehingga punya beberapa kiat dan trik untuk bisa, paling tidak, meraih sejuta dua juta rupiah dengan mengikuti program peraup dollar di internet. Saya lampirkan juga foto anak saya yang tersenyum lebar sambil merentangkan kiriman cek dollar yang saya terima dari program Google Adsense.

Bisnis internet bak rimba raya yang belum baku bahkan belum ada rambu-rambunya. Bagaimana menghindari penipuan di internet yang berkedok bisnis?

Banyak bergaul, itu kuncinya. Rajin-rajinlah menyambangi blog pelaku bisnis internet yang sudah sukses dan punya reputasi/nama baik yang baik. Ikutlah forum diskusi online. Yang paling praktis, gunakan Google untuk mengetahui apakah program yang mau kita ikuti tersebut sekadar omong kosong atau tidak. Tuliskan saja nama program dan ikuti dengan kata scam dalam mesin pencari Google. Kita bakal dapat referensi dari sana. Yang pasti, saya cenderung tidak mengikuti program yang musti menyetor uang atau menuntut kita untuk memasukkan nomor kartu kredit.

Sekarang, hampir semua orang bisa akses internet. Bagi awam kadang mudah sekali tergiur oleh iklan-iklan bisnis online yang sangat menggiurkan. Komentar Anda?

Itu baik kalau kita lihat dari terbukanya mata orang bahwa cari uang tidak mesti dilakoni dengan berangkat pagi dan pulang petang. Banyak orang sudah sukses walau banyak juga yang akhirnya frustrasi, dan lantas mengeluarkan fatwa pribadi: ‘bisnis internet adalah omong kosong’. Sekali lagi, banyaklah bergaul dan cari referensi dari sumber terpercaya. Kalau mau lebih cepat sukses, carilah mentor atau pembimbing. Ada beberapa pelaku bisnis internet yang menawarkan program mentoring. Ini sekadar alternatif saja agar tidak keblinger.

Kalau buku terakhir, kiat-kiat apa yang anda sodorkan ke pembaca supaya bisa mencari penghasilan dari rumah?

Kalau sudah berkeluarga, tanyalah siapa dari suami dan istri yang paling siap untuk bekerja di rumah? Papa atau mama? Jangan takut juga untuk bekerja yang tidak sesuai gelar pendidikan kita. Bila kesulitan modal, rangkullah orang lain atau pihak lain untuk berkolaborasi. Pertajamlah kemampuan bernegosiasi sebab bekerja di rumah menuntut Anda untuk menjadi panitia tunggal. Jujurlah selalu dan jadilah seorang rekan bisnis yang menyenangkan.

Bagi sebagain orang, kerja di rumah tidak ada gengsinya….!?

Benar. Seorang calon mertua pun bakal berpikir ulang bila calon mantunya tidak punya kantor yang bukan rumah. Ini soal kultur. Ini juga soal mindset. Serasa belum diakui bekerja kalau belum bersepatu dan menuntun motor keluar rumah setiap pagi. Dalam kalimat yang membosankan, orang lebih cenderung memilih keamanan finansial. Aman secara duit dan aman dari sisi citra diri di mata tetangga. Tapi sepanjang kita bisa membuktikan bahwa kita bisa berpenghasilan layak dengan berusaha dari rumah, why not? Di kota-kota besar kesadaran ini sudah muncul, dan bahkan menjadi impian. Sedikit kerja, sedikit keluar rumah, rapi penghasilan oke. Tanyalah orang-orang yang sudah terbius oleh kata-kata manis Robert Kiyosaki. Mereka pasti setuju soal ini.

Anang dalam sebuah acara diskusi buku "Sandal Jepit Gereja"

Anang dalam sebuah acara diskusi buku "Sandal Jepit Gereja"

Anda juga menulis buku agama atau renungan agama. Apa tujuan atau idealisme menulis buku-buku sejenis itu?

Tidak peduli apakah buku saya bertema agama maupun bukan. Saya memiliki satu kesadaran bahwa talenta menulis yang saya genggam berasal dari Sang Ilahi. Jadi, sudah sepantasnya talenta itu saya gunakan dan kembalikan untuk-Nya. Semua yang saya tulis adalah cerita keseharian saya. Menjadi seorang internet marketer, menjadi pekerja rumahan, dan menjadi bagian dari komunitas agama. Saya mesti adil berbagi cerita untuk semua sisi kehidupan saya. Bila pada akhirnya, ada bisikan dari-Nya untuk menuangkan tulisan bertema religi, pastilah itu juga karena kemaun Dia. Saya bersyukur menjadi kepanjangan tangan-Nya. Moga-moga maunya Dia menjadi kenyataan lewat tulisan saya.

Jenis atau tema buku apa yang masih mengganggu pikiran Anda untuk menuliskannya suatu saat nanti?

Belum tahu. Saya masih pemula banget. Belum setengah tahun saya menekuni profesi sebagai penulis. Saat ini saya nekat untuk menulis semua tema yang saya bisa. Saya juga berusaha menembus sebanyak mungkin penerbit yang berbeda. Itulah sebabnya dari empat buku saya yang sudah terbit, memiliki tema yang beragam, dan diterbitkan oleh tiga penerbit yang berbeda. Saya masih hijau dan terlalu memalukan untuk buru-buru mengambil spesialisasi. Bukankah seorang dokter mesti khatam dulu di strata satu sebelum berhak mengambil spesialisasi? Namun bila saya ditanya, buku apa yang sulit dan menantang untuk ditulis, maka jawaba saya adalah buku yang mesti ditulis dengan teknik wawancara. Saya paling grogi menanyai orang. Itulah sebabnya, untuk calon buku kelima, yang bertema kisah nyata, saya mesti memaksa istri saya untuk selalu menelepon nara sumber hehehe….

Ke depan Anda akan terus mengawinkan profesi sebagai geografer dengan penulis, atau menceraikannya dan memilih salah satunya?

Profesi penulis tampaknya mesti jalan terus. Konon usia empat puluh adalah titik balik untuk memperoleh jati diri yang sesungguhnya. Berhubung bulan Februari nanti saya genap berkepala empat, maka predikat sebagai penulis akan saya jadikan sebagai jati diri saya yang baru. Menjadi geografer semoga saja dapat terus jalan juga. Semoga kecakapan saya masih layak jual. Ide menulis pun banyak mengalir saat saya menjelajahi pelosok Tanah Air ketika menjalani profesi sebagai seorang geografer. Jadi, selama bisa “rangkap profesi” saya akan menjalaninya secara paralel.[ez]

Catatan: Foto-foto dokumentasi pribadi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 5 votes)

Personal Branding Melalui Buku

ez1Oleh: Edy Zaqeus*

“Awali branding Anda dengan tulisan.”

~ Edy Zaqeus

Suatu kali ada seorang trainer datang kepada saya untuk mendiskusikan strategi membangun personal branding dan debutnya di ranah publik Indonesia. Trainer ini lulusan luar negeri dan mengaku telah berkiprah selama bertahun-tahun di berbagai bidang bisnis. Jaringan atau fondasi internasionalnya sudah terbentuk, namun yang saat itu ingin dia bidik justru jaringan dan fondasi di Tanah Air. Alasannya sederhana, pasar di Indonesia dipandangnya masih “menyilaukan” mata, sangat prospektif, dan sangat sayang bila diabaikan.

Infrastruktur berupa tim kerja sudah dibentuk, termasuk event organizer. Sementara website berciri company profile sebagai sarana mass communication dan wadah jejaring juga sudah disiapkan. Rencana-rencana dan budgeting “penampakan” ke ranah publik juga sudah disusun dan dipersiapkan sedemikian rapinya, baik berupa sejumlah preview seminar, seminar inti, termasuk segala macam marketing tools yang dibutuhkan. Sepintas, semua persiapan tersebut bakal memudahkan si trainer ini untuk menggaet perhatian dalam belantara pelatihan dan permotivasian di Indonesia.

Tetapi, dari kacamata saya pribadi sebagai konsultan kepenulisan dan penerbitan, tampaknya ada satu alat personal branding yang tidak dia prioritaskan. Apa itu? Tak lain adalah branding melalui tulisan, dan lebih khusus lagi melalui buku (baik buku panduan, kajian profesi, atau memoar). Mudah saja bagi saya untuk menyatakan bahwa tulisan atau buku adalah alat personal branding yang luar biasa, terlebih bila dipersiapkan dengan baik dan profesional.

Mengapa saya katakan buku ini ampuh untuk mem-branding seseorang? Bahkan, mengapa bisa menjadi medium yang sungguh-sungguh mampu menjadikan ‘si bukan siapa-siapa’ menjadi ‘si seseorang’ yang diperhitungkan? Ya, jawabannya cukup sederhana, yaitu karena sudah banyak contoh membuktikan hal tersebut. Kita pasti tidak asing dengan nama-nama beken seperti Hermawan Kartajaya, Renald Khasali, Ary Ginanjar, Mario Teguh, Andrie Wongso, Andrias Harefa, Safir Senduk, dan masih banyak lagi.

Mereka ini contoh konkrit para penikmat fungsi dan manfaat buku sebagai alat personal branding. Dan saya bisa pastikan, saat ini buku menjadi pilihan terfavorit bagi para profesional untuk branding dan mengangkat reputasi dan kredibilitas profesi. Para motivator, trainer, coach, sales agent, broker, banker, termasuk para juru dakwah pun sudah memanfaatkan buku sebagai alat meraih popularitas.

Nah, apa untungnya memanfaatkan buku sebagai alat personal branding? Mengapa tidak memilih iklan atau advertorial di berbagai media massa? Mengapa tidak memakai jasa konsultan PR saja untuk itu? Saya ada beberapa alasan yang semoga bisa menjadikan preferensi awal untuk melihat potensi buku sebagai pilihan strategi branding Anda. Berikut di antaranya:

Pertama, buku memiliki citra (atau dipersepsi) sebagai “barang intelektual”. Artinya, seorang penulis buku hampir pasti dipersepsi oleh publik sebagai orang yang pandai dan ahli (expert) di bidang yang dia tulis. Sebagai barang intelektual, buku maupun penulisnya akan menuai gengsi tersendiri sebagai bagian dari komunitas terpelajar.

Nah, di belahan dunia dan sistem sosial mana pun, komunitas terpelajar begitu dihormati sehingga kadang seperti mendapatkan priveledge sosial tertentu. Sebut misalnya, kalangan pers pasti lebih menyukai narasumber yang sudah memiliki track record tertentu, yang mana informasi itu bisa mereka rujuk dari buku yang ditulis.

Kedua, persepsi sebagai ahli ini memunculkan efek berupa pengakuan awal atas kredibilitas si penulis. Kredibilitas seseorang menentukan tingkat pengaruh maupun kepercayaan publik terhadapnya. Tokoh atau figur yang memiliki kredibilitas di ranah publik seperti memiliki ‘kartu pas’ untuk masuk ke berbagai lingkungan, sasaran, atau target pengaruh. Mau bukti, simak saja menjelang pemilihan jabatan-jabatan publik, biasanya akan muncul buku-buku profil dari para kandidat.

Nah, buku memang cenderung menghasilkan persepsi automatis. Maka, panjang-pendek usia atau kuat-lemah pengaruh pun tergantung pada isi buku itu sendiri.

Ketiga, buku itu sejatinya bersifat egaliter dan demokratis. Lho, apa maksudnya? Nah, beda dengan persepsi awam selama ini yang memandang buku sebagai perwujudan olah intelektual yang eksklusif. Dalam beberapa kasus bisa jadi demikian, tetapi sesungguhnya buku merupakan salah satu instrumen mobilitas pengaruh yang paling egaliter dan demokratis. Artinya, siapa pun Anda dan dari latar belakang apa pun, tidak ada hambatan struktural untuk mewujudkan sebuah buku, termasuk menggunakannya sebagai bagian dari strategi-strategi branding Anda.

Jadi jangan heran, mulai dari yang SD saja tidak tamat, sopir taksi, pembantu rumah tangga, tukang sol sepatu, pemulung, mantan narapidana, sampai para konglomerat maupun pakar bergelar profesor doktor berhak menuliskan pikiran-pikirannya menjadi sebuah buku. Buku adalah instrumen pengaruh yang inklusif sifatnya. Setiap orang yang berhasil menerbitkan buku akan memiliki kesempatan yang sama untuk masuk dalam public discourse, dan ada efek pengaruh di situ.

Keempat, buku adalah instrumen branding yang relatif mudah untuk dikreasikan. Saya katakan begitu karena ada berbagai macam teknik praktis yang bisa digunakan untuk menyusun atau menulis buku. Ada teknik kompilasi tulisan, ada teknik menulis cepat, ada teknik interview, ada juga teknik co-writing dan ghost writing. Berdasarkan pengalaman saya, hampir semua tema maupun problem kepenulisan tetap bisa dicarikan solusinya.

Nah, dari segi waktu misalnya, penulisan buku pun bisa disesuaikan dengan rencana atau target-target tertentu. Percaya atau tidak, ada buku yang bisa ditulis dalam waktu 2,5 jam! Saya pernah mengkreasikan buku jenis ini (Mengukir Kata Menata Kalimat; Gradien, 2007) bersama Andrias Harefa, seorang trainer dan penulis buku-buku bestseller.

Kelima, dari segi efisiensi biaya, tak jarang (atau malah lebih sering) proses penggarapan buku menjadi lebih kompetitif dibanding iklan-iklan  di televisi maupun media cetak. Beberapa tokoh atau perusahaan rela menghabiskan ratusan juta rupiah untuk sekali pasang iklan di media massa cetak. Padahal, dengan budget yang sama mereka bisa menghasilkan buku-buku dengan kualitas yang sangat baik serta memiliki efek pengaruh yang relatif lebih lama.

Baik, saya sudah sampaikan beberapa alasan dasar mengapa Anda perlu melirik buku sebagai pilihan membangun personal branding Anda. Barangkali ada di antara pembaca tulisan ini yang mulai terusik perhatiannya dan ingin tahu bagaimana mempraktikkannya. Saya ada saran sederhana yang saya yakin bisa mulai dijalankan oleh siapa saja, khususnya kaum profesional. Apa itu? Mulai saja menulis. Ya, mulailah menulis apa saja, khususnya bidang yang memang menjadi keahlian atau kompetensi Anda.[ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku bestseller, editor profesional, writer coach, trainer, dan konsultan kepenulisan dan penerbitan. Dua karya terakhirnya (dari delapan buku yang ditulisnya) yang laris di pasaran adalah Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller (Fivestar, 2008) dan Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila (Kintamani, 2009). Edy juga menjadi pendiri sekaligus editor website motivasi AndaLuarBiasa.com dan BukuKenangan.com. Ia dapat dihubungi di nomor: 08159912074/021-59400515 atau pos-el: edzaqeus[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Mempertahankan Gairah Menulis Pascapelatihan

ezOleh: Edy Zaqeus*

“Inti dari upaya menjaga kegairahan pascapelatihan menulis adalah berinteraksi secara langsung maupun virtual dengan para mentor dan rekan-rekan sesama peminat bidang kepenulisan.”
~ Edy Zaqeus

Dua hari lalu (8-9 Agustus 2009) saya mengisi pelatihan menulis bertema Writing Skills for Executives and Managers di BTN Writer’s Community, Jakarta. Acara yang diikuti para staf dan manajemen Bank BTN Jakarta ini berlangung penuh gairah dan memperlihatkan ada talenta-talenta istimewa dalam komunitas ini. Hampir semua peserta sesungguhnya punya modal yang cukup untuk menjadi penulis-penulis andal. Bahkan, beberapa di antaranya memang sudah jadi penulis duluan.

Kegairahan menulis dalam setiap pelatihan menulis memang berlimpah-ruah. Masalahnya, bagaimana mempertahankan kegairahan tersebut pascapelatihan? Tema ini saya angkat mengingat berdasarkan pelatihan-pelatihan yang saya isi maupun yang saya kelola selama ini, soal pasang surut kegairahan atau mood menulis sering menjadi problema tersendiri bagi para peserta pelatihan. Bahkan, saya berani katakan usia mood dari semua jenis pelatihan menulis—yang biasanya sangat menggebu-gebu dan membakar semangat—sesungguhnya hanya bertahan seminggu!

Saya ada beberapa kiat praktis untuk mengatasi masalah di atas. Berikut penjelasannya dan semoga ada manfaatnya:

Pertama, ikutlah bergabung dan aktif dalam forum-forum yang dibentuk pascapelatihan. Ada beragam jenis forum pascapelatihan. Yang paling umum adalah mailing list khusus alumni atau kelompok-kelompok diskusi lanjutan. Mailling list sering dianggap lebih mudah diikuti karena tidak mengharuskan kehadiran secara fisik dalam setiap diskusi-diskusi yang diadakan. Sementara diskusi-diskusi kelompok, sekalipun memiliki efektivitas tersendiri namun membutuhkan komitmen waktu yang lebih banyak. Kadang ini mempersulit alumni pelatihan yang sehari-harinya memiliki kesibukan tinggi.

Belakangan kita dikenalkan dengan Facebook sebagai media jejaring yang sangat bermanfaat. Setiap orang yang memiliki account Facebook dapat berinteraksi langsung maupun tidak langsung secara lebih intensif dan atraktif. Ada fasilitas chating, e-mail, termasuk forum berdiskusi/berkomentar dengan tampilan foto. Ini jelas lebih menarik sehingga Facebook bisa diandalkan untuk memelihara jaringan atau komunitas.

Kedua, aktiflah menulis untuk media-media publik seperti media massa cetak, media massa online, website kepenulisan/motivasi, media internal, blog atau website pribadi, atau minimal mem-posting tulisan dalam note Facebook. Untuk pemula, kadang memang terasa sulit sekali menembus media massa. Akan tetapi, tetaplah berusaha menulis dengan standar media massa. Kemudian, bila dikirim ke media massa tetapi tidak dimuat, Anda toh masih bisa membidik media-media massa online yang memberikan ruang bagi tulisan-tulisan pembacanya (kanal citizen journalism).

Semisal Anda sulit menembus media nasional seperti Kompas, maka jangan ragu-ragu untuk mengirim ke media nasional lain atau media lokal. Kalau itu juga tidak dimuat, jangan patah arang karena tulisan Anda tetap masih bisa dibagikan ke publik melalui note Facebook atau memasukkannya ke kanal-kalan public blog seperti Kompasiana.com, blog Detik.com, atau kanal jurnalisme warga di Vivanews.com, Kompas.com, Okezone.com, Inilah.com, dll.

Anda pun juga bisa membidik sejumlah website motivasi yang kredibel seperti AndaLuarBiasa.com, Pembelajar.com, dan Andriewongso.com. Web-web ini sudah dikelola secara profesional, dikenal luas, dan tak sedikit kolomnisnya yang aktif menulis di sana telah melahirkan buku. Memang tidak ada honor pemuatan tulisan di sana. Tetapi, efek branding yang diperoleh berdasarkan penayangan tulisan rasanya cukup bermanfaat.

Ketiga, teruslah berkomunikasi dengan mentor-mentor atau trainer yang telah melatih Anda. Cara terbaik adalah dengan selalu terhubung dalam jejaring online semacam mailing list atau Facebook. Khusus untuk Facebook, setiap kali mem-posting tulisan dalam note, jangan lupa men-tag mentor/trainer Anda, juga teman-teman alumni, atau sahabat-sahabat lain yang memiliki minat membaca maupun mengapresiasi tulisan Anda.

Satu hal yang saya amati, bahwa komunikasi dengan mentor lumayan bisa menjaga kegairahan alumni pelatihan dalam melanjutkan proses belajar menulis maupun meningkatkan kemampuan kepenulisan. Sementara, forum-forum diskusi di mailing list maupun di Facebook juga sangat membantu dalam mendapatkan feedback secara on the spot. Yang menarik, segala macam komentar atas tulisan kita, baik dari mentor maupun rekan-rekan lainnya, biasanya cukup menyuntikkan semangat untuk terus menulis artikel-artikel berikutnya.

Keempat, teruslah produktif menghasilkan tulisan apa pun bentuknya. Seperti halnya keterampilan teknis lainnya, sesungguhnya keterampilan menulis juga akan meningkat sejalan dengan frekuensi aktivitas menulis itu sendiri. Semakin jarang diasah—khususnya untuk pemula—semakin sulit berkembang pula kemampuannya. Bahkan, penulis-penulis senior pun, apabila terlalu lama tidak menulis, kadang perlu re-conditioning lagi supaya mampu menulis secara cepat dan efektif.

Ada jenis penulis yang suka menulis tema apa saja karena memiliki multi-minat. Ini boleh-boleh saja. Walau begitu, saya menyarankan supaya Anda mencoba mencari fokus tema dalam setiap artikel yang Anda tulis. Semisal, apabila Anda sudah menghasilkan lima hingga sepuluh artikel tentang financial planning, maka tidak ada salahnya Anda mulai fokus menghasilkan tulisan-tulisan dengan tema yang sama tetapi dengan stressing yang lebih bervariasi.

Kelima, punyai target kepenulisan yang lebih tinggi. Produktivitas menulis perlu dibarengi dengan visi untuk membuat karya yang lebih tinggi atau lengkap sifatnya. Misalnya, dari semula hanya menulis artikel, tidak ada salahnya kemudian ditingkatkan ke arah penulisan sebuah naskah buku. Dengan tambahan visi atau target semacam itu, aktivitas berlatih atau meningkatkan kemampuan menulis mungkin bisa lebih menggairahkan lagi.

Dari pengamatan saya, ada penulis-penulis artikel produktif menuliskan artikelnya, tetapi tidak terpikir untuk menulis buku. Padahal, menulis artikel dan menulis buku bisa menjadi suatu aktivitas yang sifatnya setali tiga uang. Maksudnya, sambil menulis artikel demi artikel pun sebenarnya kita juga bisa menulis buku. Lebih jelasnya, kita bisa menempatkan artikel-artikel yang terpisah itu sebagai bakal naskah buku kita. Kiat lengkapnya bisa Anda baca di buku saya yang berjudul Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller (2008)

Inti dari upaya menjaga kegairahan pascapelatihan menulis adalah berinteraksi secara langsung maupun virtual dengan para mentor dan rekan-rekan sesama peminat bidang kepenulisan. Semakin jauh jarak kita dengan mereka, kemungkinan semakin jauh pula energi atau motivasi kita dalam menulis. Semakin dekat jarak kita dengan mereka, kemungkinan semakin mudah pula kita teraliri motivasi yang hidup dalam diri orang-orang seminat dan seperjuangan. Jadi, berkaryalah, berinteraksilah, dan tetap semangat menulis![ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku bestseller, writer coach, trainer, dan konsultan penulisan dan penerbitan. Ia sudah menulis delapan buku laris dan saat ini menjadi editor website motivasi AndaLuarBiasa.com. Edy juga mendirikan Bornrich Consulting, Bornrich Publishing, Fivestar Publishing, dan BukuKenangan.com. Tulisan-tulisan maupun wawancara-wawancara Edy tentang kepenulisan dapat dilihat di blog: http://ezonwriting.wordpress.com. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: edzaqeus[at]gmail[dot]com atau telepon: 021-59400515/Hp: 08159912074.

Catatan: 1) Artikel ini saya selesaikan dalam waktu 25 menit, berbarengan dengan saat peserta pelatihan penulisan sedang mengerjakan tugas menulis artikel.

2) Ikuti pelatihan “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller Batch XI” pada 14-15 Agustus 2009 di Hotel Menara Peninsula pkl 08.00-17.00 wib. Info selengkapnya baca di iklan workshop di blog ini.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.8/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 4 votes)

Two Days Workshop: Writing Skill for Executives and Managers

BTN Writer’s Community bekerjasama dengan Bornrich Consulting, AndaLuarBiasa.com, BukuKenangan.com, dan didukung oleh Skyrocketing Business akan mengadakan workshop dua hari bertajuk “Writing Skill for Executives and Managers” pada hari Sabtu-Minggu, pukul 08.00-16.00 wib, tanggal 8-9 Agustus 2009, di R. Jasmine Lt.3, Hotel Menara Peninsula, Slipi – Jakarta Barat. Workshop akan dipandu dan dimentori oleh Edy Zaqeus (bestseller writer, editor, trainer, writer coach, & publishing consultant) dari Bornrich Consulting dan Wilson Arafat (pengamat perbankan, pakar GCG, & penulis 6 buku manajemen) dari Skyrocketing Business.

Program pelatihan “Writing Skill for Executives and Managers” ini dirancang khusus untuk membekali para peserta supaya memiliki keterampilan menulis praktis yang langsung bisa diaplikasikan dalam kebutuhan-kebutuhan kepenulisan sehari-hari. Lebih jauh lagi, program ini dirancang untuk memberikan keterampilan kepenulisan supaya nantinya peserta dapat selalu memberikan nilai tambah berarti, baik bagi individu sendiri maupun perusahaan pada umumnya.

Dalam program khusus angkatan pertama yang diikuti oleh para eksekutif dan manajer Bank Tabungan Negara (BTN) ini, peserta akan diajak untuk menguasai materi dan praktik menulis sebagai berikut:

Hari Pertama:

* Mengetahui berbagai manfaat keterampilan menulis

* Membongkar hambatan dan membangun motivasi menulis

* Menguasai teknik-teknik dasar kepenulisan

* Menguasai teknik-teknik menulis artikel pendek

Hari Kedua:

* Menguasai teknik menggali dan mengeksplorasi ide tulisan

* Menguasai teknik-teknik memperkaya tulisan

* Menguasai teknik dasar penyuntingan tulisan

* Mengenal strategi memublikasikan tulisan di media massa

Program khusus “Writing Skill for Executives and Managers” semacam ini juga dibuka bagi semua perusahaan peminat lainnya. Setiap materi yang dipresentasikan akan senantiasa disesuaikan dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan spesifik institusi atau perusahaan yang membutuhkan. Untuk info program lebih lanjut, silakan hubungi Bornrich Consulting/AndaLuarBiasa.com di nomor: 021-59400515/Hp: 08159912074.

DAFTAR ALUMNI/ANGGOTA BTN WRITERS COMMUNITY:

  1. Dwiyana Apriandini
  2. S Iman Nugraha
  3. Irmika Ngesti Handayani
  4. Holiosri
  5. Sahat Sihombing
  6. Rega Natara
  7. Moh. Amru Reza
  8. Lisa F. Sitepu
  9. Ike Kusumawati
  10. Satya Wijayantara
  11. Nony Alkhovifah
  12. Edi Junaedi
  13. Perdananing Tyas
  14. Budi Zulfikardin
  15. Sri Yuliati
  16. Rini Suryani
  17. Sarwoto
  18. Ali Hasymi
  19. Franky Ariyadi
  20. Naiwan
  21. Esti Purnomo
  22. Hisar Hutasoit
  23. Bekti Supriyatin
  24. Adi Presetyo
  25. Eva Ardiantha
  26. Purba Satria
  27. Ardhi Wijayanto
  28. Denni Nugraha
  29. Chandra Buana
  30. Arum Marbawani
  31. Yudhistira D.A.K.

BTN Writers Community: Menara Peninsula, Jakarta, 8-9 Agustus 2009

BTN Writers Community: Menara Peninsula, Jakarta, 8-9 Agustus 2009

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 3 votes)

Johanes Ariffin Wijaya: Apa pun Profesinya, Kita Bisa Menjadi Motivator

Johanes Ariffin Wijaya: Menerima Posmo Award

Johanes Ariffin Wijaya: Menerima Posmo Award

Ia dikenal sebagai seorang inspirator dan motivator muda yang suka menggabungkan permainan sulap dan hipnosis dalam setiap acara seminar dan pelatihan. Johanes juga dikenal sangat rajin menelurkan karya berupa buku. Dalam usianya yang relatif masih muda, lelaki kelahiran Jakarta 14 Oktober 1977 ini sudah menghasilkan 15 judul buku laris. Bukan itu saja,  ia juga pernah menerima penghargaan Muri, Posmo Award, penghargaan Citra Generasi Pembangunan Indonesia, penghargaan Citra Eksekutif dan Profesional 2009, dan masih banyak lagi.

Terakhir, Johanes meluncurkan dua judul buku sekaligus, dan salah satunya yang berjudul The Secret of Hypnosis cukup mendapat perhatian dan sambutan positif dari pasar. Tampaknya, demam acara sulap dan hipnosis di televisi ikut memengaruhi kegairahan publik dalam menerima karya tersebut. Namun, sesungguhnya buku yang ditulis Johanes bareng dengan Setia I. Rusli (ahli hipnosis) itu sendiri memang berisi berbagai hal dasar dalam bidang hipnosis yang layak diketahui masyarakat luas.

“Hipnosis dapat digunakan oleh orang-orang untuk menjadi lebih percaya diri, lebih luar biasa, sehingga jika dirinya menjadi percaya diri dan luar biasa, pastilah motivasinya akan tinggi,” jelas Johanes tentang buku terbarunya itu. Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa selama ini masyarakat masih suka salah paham terhadap pengertian dan pemanfaatan hipnosis itu sendiri. Masih banyak orang beranggapan hipnosis itu seperti ilmu hitam. Padahal menurut Johanes, hipnosis sesungguhnya merupakan ilmu manajemen pikiran yang bisa dimanfaatkan sepenuhnya bagi kesuksesan seseorang.

Bicara mengenai dunia permotivasian, suami dari Mimi Kurniasari ini mengaku optimis bahwa ke depannya peran motivator akan semakin dibutuhkan oleh masyarakat kita. Terlebih melihat fakta bahwa jurang antara sebagian masyarakat yang sudah ber-mindset positif dengan yang ber-mindset tidak positif masih teramat lebar. Bahkan, ia berkeyakinan bahwa apa pun profesi yang kita tekuni, di situ kita bisa menjadi motivator. Dari titik ini, sesungguhnya banyak orang bisa mengambil peran positif dalam menggerakkan dan memajukan bangsa ini.

Masih banyak hal yang bisa didiskusikan bersama motivator yang juga seorang pengusaha ini. Semua hal menyangkut penulisan buku dan permotivasian selalu menarik perhatiannya. Berikut petikan wawancara Johanes Ariffin Wijaya dengan Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com yang berlangsung akhir Juli 2009, melalui percakapan online:

Apa judul buku karya terbaru Anda?

The Secret of Hypnosis dan juga buku EO - 7 Langkah Jitu Membangun Bisnis EO karena terbitnya bersamaan.

Kabarnya judul yang pertama mendapat predikat buku terbaik. Apa isi buku tersebut?

Ya, buku tersebut mendapatkan predikat buku motivasi terbaik booth Penebar Swadaya (sebuah grup penerbitan: red), ketika Jakarta Bookfair 2009. Karena, rupanya hipnosis dapat digunakan oleh orang-orang untuk menjadi lebih percaya diri, lebih luar biasa, sehingga jika dirinya menjadi percaya diri dan luar biasa, pastilah motivasinya akan tinggi.

Apa latar belakang Anda menulis buku tersebut?

Pertama, hipnosis itu adalah ilmu tentang manajemen pikiran. Kedua, menulis untuk mempraktikkan ilmu dan bisa membagikan kepada para pembaca. Ketiga, memang lagi demam acara The Master di televisi. Keempat, memberitahukan tentang rahasia-rahasia di balik hipnosis. Mungkin anggapan sebagian orang, hipnosis itu ilmu hitam, pakai magic, mantra, dll. Tetapi nyatanya tidak. Hanya dengan kekuatan pikiran dan komunikasi saja, salah satu bentuk ilmunya adalah NLP atau Neuro Linguistic Programming. Lalu kelima, memberitahukan kepada masyarakat tentang bagaimana cara mencegah kejahatan hipnosis. Dan keenam, dengan hipnosis orang bisa memaksimalkan potensi dirinya, lho. Ini yang membuat buku ini dapat predikat terbaik, di bawah buku Hillary Clinton, lho!

Buku tersebut terbit kapan dan sejauh ini bagaimana pasar menanggapinya?

Terbit Juni 2009. Dan buku ini diterima oleh pasar karena demam The Master. Sudah cetak ulang dan dalam satu bulan penjualannya sudah mendekati angka 10.000, efektif bulan juni 2009. Sekarang Juli 2009, baru satu bulan sudah cetak ulang dan penjualannya good-good-good. Laporan dari toko-toko buku juga sangat memuaskan.

Johanes dalam sebuah acara peluncuran buku terbaru

Johanes dalam sebuah acara peluncuran buku terbaru

Ini buku yang keberapa dan berapa lama proses penulisannya?

Ini buku ke-15 saya, yang The Secret of Hypnosis ya. Menulisnya kurang lebih tiga bulan bersama dengan Setia I. Rusli, teman saya yang pakar hipnosis juga. Cuma ke penerbitnya memakan waktu sekitar satu setengah tahun. Saya harus sabar menunggu momen yang tepat. Ssaya tidak menyerah. Buku ini pun sempat ditolak oleh beberapa penerbit. Namun saya percaya, semangat, semangat, semangat, dan tetap antusias. Akhirnya buku ini berhasil terbit, malah sukses dan diterima oleh pasar. Kebetulan momenya sangat tepat, ya. Pembacanya ada dari anak kecil sampai dewasa, mereka yang suka nonton The Master. Ada juga yang mau ikut audisi hehehe….

Tampaknya Anda banyak menggunakan teknik co-writing untuk menulis buku. Apa kurang dan lebihnya cara itu?

Menurut saya, sekarang kita harus kolaborasi karena masing-masing sudah punya pangsa pasarnya. Saya tidak melihat ada kekurangannya dengan sistem kerjasama. Malah sangat bagus. Tetapi saya kerjasama selama naskah itu masih dalam lingkup pengetahuan saya saja. Memang, lebih cepat pembagian tugas lebih enak. Misalnya, rekan saya tentang A sampai H, saya selanjutnya. Kalau ide, selama bahan dasarnya untuk menulis buku sama, memang ada terjadi sedikit perbedaan. Tetapi ketika dibahas, akhirnya sama lagi tuh. Ini menggunakan teknik negosiasi yah, terhadap rekan dan penerbit hehehe….

Cara ini juga bagus untuk mem-branding penulis baru. Menurut Anda?

Buat saya ndak apa. Saya senang bisa membantu teman-teman penulis baru. Mereka terbantu dengan saya kok, saya senang-senang saja. Hidup ini indah kalau kita bisa membantu orang lain, kan? Anda sudah baca buku Motivmagic yang ada permainan sulap di sana? Ada video tentang “King Make King”. Nah, orang sukses adalah orang yang bisa membantu orang lain untuk sukses.

Kalau dari sisi penulis, bagaimana proses penulisan semacam itu, mulai dari pemunculan ide sampai eksekusi penulisannya?

Kadang-kadang saya yang munculkan ide, terus ajak kerjasama dengan teman atau rekan, yang punya visi dan misi sama, gitu lho! Kalau Motivmagic dan The Secret of Hypnosis karena kebetulan bercerita tentang dunia misteri hehehe…. Ndak tahu pas ketemu Pak Bobby langsung saja, yuk kita buat motivasi dengan magic. Dengan Pak Setia, pas ketemu yuk kita buat hipnosis. Eh, Pak Setia bilang, “Ayo, gua juga mau bikin tuh sama lu.” Begitu.

Anda dikenal sebagai motivator yang sering memasukkan hipnosis dalam seminar-seminar Anda. Mengapa demikian? Nilai tambahkah?

Yes, salah satu training saya adalah berjalan di atas api dan beling. Itu menggunakan hipnosis. Pastinya untuk menambah percaya diri, semangat, dan antusiasme. Jika seseorang pede (percaya diri: red) dan antusias, segala sesuatunya akan menjadi lebih mudah. Dan, itu pastinya nilai tambah bagi saya, termasuk permainan sulap dan hipnosis.

Hipnosis dalam seminar atau pelatihan motivasi itu sebagai jalan pintas untuk mendapat motivasi, atau ada alasan lain?

Salah satunya. Semua pembicara sebetulnya tanpa sadar menggunakan hipnosis massa. Termasuk Anda juga, kan? Hehehe.… Itu juga memasukkan pikiran-pikiran positif, itu pun menggunakan teknik hipnosis juga. Salah satunya afirmasi positif atau pembayangan jalan di atas beling atau api, bahwa jika kita mau kita pasti bisa.

Nah, ini penjelasan yang bagus tentang hipnosis. Apa semua orang yang tidak secara langsung belajar hipnosis pun bisa menghipnosis?

Begini, sejak kecil sebetulnya kita menghipnosis diri kita sendiri. Coba bayangkan, kalau kita pakai baju itu kan biasanya mulai dengan memasukkan tanggan kiri dulu atau kanan. Nah, coba diubah, sekarang kebalikannya. Nah, itu sangat sulit, gitu lho! Tetapi kalau mau diubah kebiasaan itu, lakukan selama 21 hari berturut-turut, pasti bisa. Contoh, kalau bangun tidur jam 5 ya. Kita mau bangun tidur lebih awal, misalnya jam 4.30. Kita perlu setel jam weker. Tetapi cukup selama 21 hari kita lakukan terus-menerus. Nanti setelah itu tanpa weker pun kita akan bangun jam 4.30. Itu contoh untuk menhipnosis diri sendiri. Tetapi kalau menghipnosis orang lain, memang ada cara dan teknik-teknik tersendiri.

Bersama istri tercinta Mimi Kurniasari

Bersama istri tercinta Mimi Kurniasari

Minta contoh self instant hypnosis lagi. Bagaimana menghipnosis diri sendiri supaya tidak malas?

Kata-katanya yang harus diubah hehehe…. Misalnya, “saya rajin”, “saya seorang yang rajin”, “saya rajin”. Caranya, sebelum tidur katakan seperti ini, “Saya akan tertidur dengan pulas, besok saya akan bangun pada pagi hari—sebutkan jamnya, misalnya jam 05.00—saya bangun dalam keadaan segar, sehat, berenergi positif, dan rajin.” Bangun tidur katakan pada diri sendiri, boleh sambil lihat di kaca, “Saya seorang yang rajin. Saya rajin, saya berenergi, saya bersemangat, saya pede!”

Menarik sekali. Bagaimana menghipnosis diri supaya tidak stres atau setidaknya mengurangi stres…?

Kalau yang ini harus dengan bantuan dari agama dan keyakinannya. Misalnya, afirmasinya seperti ini: “Saya selalu bersyukur kepada Tuhan atas nikmat yang Tuhan berikan. Apa pun yang Tuhan berikan kepada saya, saya sangat mensyukuri dan berterima kasih.” Tetapi, ini jangan diterima mentah-mentah seperti itu. Kalau stresnya, misalnya, ndak ada duit, ndak mau kerja ya bagaimana bisa bersyukur hehehe…. Maksudnya, ini stres kalau kita sudah kerja maksimal, tetapi hasilnya masih kurang, nah itu lho caranya. Katakan kita selalu bersyukur atas karunia yang Tuhan berikan. Ini juga ada teknik tentang pikiran positif afirmasi, hipnosis. Segala sesuatu itu diambil hikmah positifnya, begitu….

Bagaimana Anda memandang peran orang-orang seperti Anda sendiri dan juga kolega Anda yang bergerak di bidang motivasi? Apa sumbangsih profesi motivator ini bagi masyarakat kita?

Dengan menjadi motivator, kami pasti sangat senang sekali. Karena, selain kami bisa memotivasi orang lain, kami sebetulnya juga sedang memotivasi diri sendiri. Karena sebagai manusia, wajar saja bila hidup ini pasti ada yang namanya turun naik. Tetapi, bagaimana caranya supaya ketika kita turun kita bisa naik lagi, itu kan permasalahannya? Kalau ditanya apakah saya tidak pernah down, saya katakan dengan jujur, saya pernah dan sering sekali down.

Tahun 2008, saya belajar rugi sebesar ratusan juta. Tetapi buat saya, memaknai rugi itu sebagai proses belajar. Saya buat mindset saya belajar yang memang mahal. Kalau saya terus-menerus terlena, apakah saya bisa maju? Saya langsung putuskan untuk: “Ayo bangkit!” Jadi, saya tidak ada waktu untuk sedih karena pembelajaran itu karena saya langsung semangat lagi. Ketika saya mengajar di kelas, saya pun ikut semangat lagi, membakar diri sendiri.

Menurut Anda, bagaimana masyarakat kita memandang peran dan profesi motivator itu?

Menurut saya, apa pun profesinya, kita bisa menjadi motivator. Siapa saja. Saya terkesan dengan seorang office boy yang berhasil menyekolahkan anak-anaknya ke perguruan tinggi. Caranya, dia sangat rajin sekali membelikan makanan staf kantor. Lalu, uang (upah atau kembalian yang diberikan kepadanya: red)  ditabung, terus dibelikan sebuah motor. Dia kasih sewa ke temannya untuk mengojek, sementara dia sendiri naik angkot. Mengojek kan temannya setor terus-menerus? Berikutnya uang setoran ojek temannya dan juga upah di kantornya dia belikan motor kedua, motor ketiga, motor keempat. Memang sih kredit, tetapi sekarang motornya yang sudah lunas ada tiga buah dan lima buah motor kreditan. Ojeknya pun berkembang, luar biasa! Nah, itu pun sudah jadi motivasi buat saya. Terus orang tua kita adalah motivator juga. Saya lihat ayah saya yang terkenal disiplin dan ibu saya yang penuh dengan cinta kasih. Karena itu saya menulis buku I Love U dan dapat MURI.

Kisah office boy tadi merupakan bukti bahwa siapa pun dengan latar belakang apa pun dapat mengubah kehidupannya menjadi lebih baik, asal ada kemauan berbuat?

Yes!

Kalau menurut Anda, dari titik mana kita bisa mengubah kehidupan kita?

Sebetulnya, banyak sekali. Ketika di titik terendah, kita juga bisa seperti kawan kita yang menulis The Power of Kepepet. Kita juga bisa ketika kita lagi senang di posisi puncak. Ada juga ketika titik biasa-biasa saja. JK Rowling adalah orang miskin harta, pertamannya. Tetapi dia kaya ide. Akhirnya, Harry Potter luar biasa. Menurut saya, di segala titik kalau mau lebih sukses ya harus tinggalkan comfort zone. Seorang yang sudah sukses ingin sukses, harus tinggalkan zona nyamannya.

Memberikan motivasi untuk mengubah mindset masyarakat

Memberikan motivasi untuk mengubah mindset masyarakat

Untuk bisa meraih hidup yang lebih baik, mana yang harus berubah dulu; tindakan atau mindset kita?

Pastinya mindset. Mindset yang dilakukan dengan tindakan. Saya melihat seperti tukang becak yang melakukan tindakan-tindakan, kemudian bekerja keras. Tetapi, kalau mindset tidak mau sukses, tidak akan sukses. Kalau tukang becak yang mau sukses dia pasti akan punya dua sampai tiga becak. Dia bisa sewakan becak-becaknya. Jadilah suatu saat dia tukang becak yang sukses, punya puluhan becak yang disewakan. Kalau tindakan-tindakan kemudian mindset-nya ndak jalan, tidak akan pernah sukses. Memang keduanya harus sejalan ya. Kalau mindset doang, tidak ada tindakan, juga tidak bisa jalan ya.

Mindset seperti apa yang harus diubah dan diganti dengan mindset macam apa?

Mindset budaya nerimo, sudah cukup, ndak bisa, dll. Harus diubah dengan serba bisa, masih ada peluang, masih ada kesempatan, dll. Yang penting ada unsur RA, receiveable dan achieveable. Maksudnya bisa dicapai selama itu bisa dengan RA, kita lakukan terus-menerus.

Bagaimana Anda memandang peran para mahasiswa dalam kebangkitan masyarakat kita? Tentunya dikaitkan juga dengan motivasi dan semangat untuk hidup menjadi lebih baik….

Pastinya para mahasiswa ini harus memiliki mental atau mindset positif. Karena lima, sepuluh, atau dua puluh tahun ke depan mereka adalah penggerak-penggerak di berbagai bidang. Mindset untuk hidup positif, bebas dari KKN, sehingga kalau mahasiswa sudah baik atau berpikiran positif, negara akan lebih maju. Saya sudah memulainya dengan memberikan seminar training citra diri kepada anak-anak SMU dan SMK. Saya minta dukungan dan bantuan Anda untuk sosialisasi kepada teman-teman. Harus dimulai dari SMU, bahkan SD. Penanaman mental di Tiongkok sudah sejak SD. Ada buku budi pekerti namanya Di Ti Kuei. Jadi, budi pekerti ditanamkan dari kecil.

Mereka harus lebih banyak disentuh oleh para motivator kita?

Pastinya. Walaupun mereka kadang-kadang berisik pas di kelas, kita maklumin hehehe…. Namanya juga masih kecil. Tetapi, kita beri sentuhan kasih sayang, cinta kasih. Cinta kasih kepada negara, kepada Ibu Pertiwi. Mana mau dia berbuat curang kepada negara kalau ditanamkan rasa Ai Kuo, cinta negara, seperti di Tiongkok. Memang ada sih satu dua orang, tetapi akan mengurangi banyak. Bentuk curang kan bisa korupsi dan menyelundupkan barang-barang ilegal, dll. Kalau ditanya kenapa rakyat Tiongkok bisa maju seperti sekarang ini, jawabannya ini; ketika saya ke sana belajar dari Mr Yang Kwang, dia katakan satu, cinta pada negara, cinta pada orang tua, cinta pada diri sendiri, cinta pada budi pekerti. Cinta pada budi pekerti termasuk bagaimana sih caranya berhadapan dengan guru, dengan saudara, dengan atasan, dengan bawahan, dll.

Menurut Anda, motivasi masyarakat kita untuk maju bagaimana? Tinggi atau rendah?

Masih terkotak-kotak. Ada yang sudah tinggi dan sudah maju, ada yang masih rendah. Jurangnya sangat lebar sekali.

Indonesia harus belajar dari China

Indonesia harus belajar dari China

Pada posisi mana Anda akan menempatkan diri di tengah-tengah situasi demikian?

Ya, saya sebagai motivator harus bisa ke kedua sisi. Kami sering membuat kelas-kelas dengan harga yang terjangkau biar yang di posisi rendah bisa ke posisi yang lebih tinggi.

Bagaimana Anda melihat dunia permotivasian 10-20 tahun ke depan?

Pasti rame nih. Kita memang perlu banyak motivator, lho! Nah, siapa saja bisa jadi motivator, kan? Seperti di AS, kan banyak tokoh-tokoh motivasi dunia dari Indonesia. Dengan budaya-budaya daerah kita, dengan “semangat 45” kita.

Terkait dengan mindset kolektif yang tadi dan peran para motivator, bagaimana kondisi mental bangsa kita 10-20 tahun ke depan?

Pastinya akan lebih maju, ya. Makanya tugas kita untuk memberikan mindset dengan buku-buku. Karena, dengan buku kita bisa menyebarkan mindset positif sampai ke dalam-dalam daerah yang mungkin kalau kita datangi butuh waktu berjam-jam.

Baik terakhir, mimpi-mimpi Anda ke depan terkait dengan pencapaian diri maupun masyarakat kita?

Saya ingin membuat suatu seminar yang bisa dihadiri oleh 100.000 orang dengan harga tiket yang murah, misalnya Rp 5.000 atau Rp 10.000. Mengapa harus bayar? Karena kalau bayar mereka akan lebih serius dibandingkan dengan gratis. Itu agar mindset manusia Indonesia bisa lebih maju. Mimpi saya juga terus-menerus berkarya untuk bangsa dan negara Indonesia. Termasuk ide kreatif saya, membuat motivitamin; vitamin motivasi dalam bentuk buku dalam kemasan botol.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.8/10 (12 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +12 (from 16 votes)

Cacuk Wibisono: Walk the Talk, Mari Wujudkan Tekadmu!

Cacuk Wibisono

Cacuk Wibisono

Anda suka bingung mencari tayangan televisi yang berkualitas pada hari Minggu pagi? Cobalah sesekali mengarahkan saluran televisi Anda ke stasiun Trans 7 pada pukul 10.00 wib. Anda akan temukan sebuah program berlatih bahasa Inggris bertajuk Walk the Talk dengan host “bule gile” Jason Daniels. Inilah salah satu program berlatih bahasa asing yang kini jadi favorit pemirsa televisi, baik dari kalangan dewasa sampai remaja dan anak-anak.

Ya, mungkin Anda sudah pernah atau sesekali menonton tayangan sarat nilai edukasi sekaligus sangat menghibur tersebut. Tahukah Anda, siapa otak di balik program edutainment televisi yang belakangan mendapat apresiasi dari berbagai kalangan tersebut? Sang kreator, anak muda itu bernama Cacuk Wibisono, Direktur PT Paradigma Visi Gracia, yang pernah menjadi penulis skenario sejumlah sinetron laris seperti Jin & Jun, Tuyul & Mbak Yul, Catatan Si Boy, Istana Impian, Ada-Ada Saja, dll.

Lahir pada 20 Desember di Jakarta, dan dari keluarga seniman, Cacuk memang selalu dihantui kerinduan untuk menghasilkan karya-karya yang punya pengaruh dan berkesan di benak khalayak. Sejak kecil cacuk memang bercita-cita jadi penulis, maka tak heran pula bila kariernya cukup mulus di dunia penulisan naskah sinetron. Namun, industri televisi yang membesarkannya pun telah mengusik hatinya untuk membuat karya-karya yang tidak semata-mata mengabdi pada kepentingan modal. Ada kerinduan untuk menghasilkan program televisi yang langsung dirasakan manfaatnya oleh pemirsa. “Saya tertantang,” ujar suami dari Rugun Sibarani ini.

Berawal dari sebuah sayembara pendanaan program pendidikan bahasa melalui televisi oleh Kedubes AS di Indonesia, Cacuk dan timnya mengadu untung dengan ide kreatif mereka. Ternyata, proposal atau pilot program mereka diterima dan mengalahkan sejumlah production house besar. Lebih membanggakan lagi, program Walk the Talk—jenis program edukasi yang biasanya kurang mampu bersaing di televisi—ternyata kini disambut antusias oleh masyarakat dan mendapat apresiasi positif dari media massa. Semangat pun terpacu untuk terus mencari dukungan agar program ini berlanjut dan terus dapat mendatangkan manfaat bagi publik.

Nah, mungkin Anda adalah salah satu dari “sedikit” pemirsa kita yang masih merindukan tayangan-tayangan televisi berkualitas. Walk the Talk adalah tawaran Cacuk dan kawan-kawannya untuk menghibur, mendidik, sekaligus menekankan betapa pentingnya masyarakat kita menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa pergaulan dunia. Dukungan bisa Anda berikan dengan menonton, mengomentari, atau memberikan usulan melalui website mereka yang beralamat di www.walkthetalk-indonesia.com. Berikut apresiasi AndaLuarBiasa.com terhadap program tersebut, yang dihadirkan dalam petikan wawancara tertulis Edy Zaqeus (Editor) dengan Cacuk belum lama berselang:

Sebenarnya, apa latar belakang pembuatan program Walk the Talk ini?

Sebuah kerinduan untuk melihat program yang terasa manfaatnya bagi pemirsa secara langsung. Saya sering mendengar bahwa pemirsa tidak suka program yang berat. Mereka ingin tertawa, mereka ingin relaks…. Nah, saya tertantang Sekalipun tertawa dan relaks, tetapi ada value-nya. Begitulah hasrat saya. Program ini ingin menumbuhkan kerinduan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris kepada pemirsa.

Ada idealisme tertentu?

Saya menganut prinsip berikan kepada viewers apa yang mereka perlu. Dan bukan apa yang mereka mau. Walk the Talk memberikan apa yang masyarakat perlu. Sementara, banyak acara televisi lebih memberikan apa yang masyarakat mau.

Menurut Anda, apakah benar program-program televisi yang bernuansa pendidikan saat ini sudah jauh berkurang? Atau, memang tidak pernah cukup?

Masyrakat terus berkembang…. Perubahan demi perubahan terjadi. Dalam situasi seperti ini, program pendidikan harus juga berkembang. Coba kita tengok program 2 Pendidikan yang ditayangkan di TVRI. Apa kesan pertama yang mampir di kepala kita? Terasa lampau, ya? Terutama dalam sentuhan gambar dan kreatifnya. Jadi, memang harus terus dilakukan pengembangan, baik jumlah maupun kualitasnya.

Cacuk: Kehidupan "orang kecil" selalu memberikan inspirasi

Cacuk: Kehidupan "orang kecil" selalu memberikan inspirasi

Bagaimana prosesnya sampai program ini lahir?

Awalnya sebuah fax berisi tawaran sayembara dari US embassy untuk membuat program pemasyarakatan bahasa Inggris kepada masyarakat. Lalu, saya mengajak dua orang staf cameraman untuk membuat sebuah pilot. Kisah pembuatan pilot ini juga lucu. Sejak semula, saya memang sudah mengenal Jason, host program ini. Dan, setelah saya tahu bahwa dia sedang di Bandung, saya bersama tim kecil ke Bandung juga untuk membuat pilot saya. Seperti biasa, saya menunda memikirkan konsep. Saya pikir, “Ah… sambil jalan ke Bandung saja, deh…!” Sampai di Bandung, saya belum juga memiliki ide, blank! Kami kemudian memutuskan makan siang saja karena hari memang sudah siang saat itu. Nah, ketika makan siang itulah saya melihat ada seorang bapak, Pak Nanang namanya, yang memiliki wajah lucu. Secara naluriah saya minta izin melakukan interview singkat. Pertanyaannya, “Apa kata dalam bahasa Inggris yang Bapak tahu…?”

Apa jawaban si Bapak itu?

Jawaban si Bapak itu salah-salah dan sangat lucu, dengan guyon khas orang Bandung. Tetapi, sorot matanya itu yang begitu menancap di benak saya. Sorot mata yang penuh kesungguhan dan senang karena diberi kesempatn “praktik” berbahasa Inggris. Dia bilang juga kalau dipenuhi penyesalan karena tidak belajar Inggris dengan serius. Daar!!! Eureka!!! Saya tertawa, namun juga terharu. Saat itulah saya menyadari, program bahasa Inggris ini harus dilakukan dengan straight talk, bicara langsung. Karena begitu segar, begitu jujur, begitu tulus.

Akhir dari perjalanan kami di Bandung menjadi mudah dan menyenangkan. Karena sudah ide yang membara di dalam pikiran. Saya bertemu Jason di Bandung siang itu dan menuju Dago untuk pembuatan pilot. Sebagai penghargaan kepada orang yang telah menyulut ide Walk the Talk, saya ajak Pak Nanang ikutan shooting sorenya, dan malam hari kamu sudah di editing room di Jakarta. Tiga hari kemudian saya sudah menyerahkan pilot ke US Embassy.

Dan, pilot Anda sukses memenangkan sayembaranya?

Ya, kira-kira seminggu US Embassy menghubugi kami dan memberitahukan bahwa kami memenangkan sayembara, dan kami mendapatkan dana produksi untuk memproduksi program ini. Kami menyisihkan 50 kontestan lainnya. Banyak di antara para kontestan adalah raksasa dalam bidang program televisi.

Lalu, dari mana ide nama program Walk the Talk?

Nama Walk the Talk sendiri berasal dari hasil pengamatan saya terhadap orang-orang yang kami temui dan interview. Kebanyakan mereka mengatakan penyesalannya karena tidak belajar bahasa Inggris dengan serius. Nah, mulai sekarang mereka akan serius belajar bahasa Inggris. Itu kan tekad? Nah, Walk the Talk berarti mari wujudkan kata-katamu atau tekadmu. Jadi, Walk the Talk itu bukan berarti berjalan dan berbincang, lho! itulah sebabnya kami di Paradigma, jika menegur sesama kami yang sedang lesu, kami berteriak, “KEEP WALKING THE TALK!”

Soal dana program, apakah tidak ada pesan-pesan sponsor?

Pesan sponsor dari US Embassy boleh dibilang tidak ada. Semua diserahkan kepada kami. Hanya satu yang dititipkan kepada kami, yaitu bahwa segmen dari program ini adalah adult learner. Namun, suatu ketika saya mengamati setiap episode Walk the Talk, dan menangkap sebuah pesan yang halus…. Kok ada bule mau ngomong dan ngajarin orang dengan spontan? Tiba-tiba perasaan saya menjadi hangat. Mudah-mudahan perasaan saya ini dirasakan juga oleh setiap pemirsa.

Cacuk bersama Rugun sang istri dan Jason Daniels

Cacuk bersama Rugun sang istri dan Jason Daniels

Ide dasar kemasan program ini sebenarnya seperti apa?

Saya ini orang yang suka bercanda dan humor. Jadi, sejak semula saya tidak ingin membuat program yang kaku dan formal. Nah, ketika membuat pilot, saya menyadari bahwa format semi reality adalah bentuk terbaik dari program ini. Jadilah Walk the Talk seperti saat ini. Namun, saya sepenuhnya menyadari bahwa program televisi adalah sebuah dialektika antara pembuat program dan pemirsa. Dari minggu ke minggu kami mencoba mengerti apa yang diinginkan oleh pemirsa. Dan, kami men-develop apa yang kami rasa “diperlukan” oleh pemirsa kedalam bentuk yang pemirsa inginkan. Sebuah usaha yang tidak pernah berhenti. Menarik namun menguras banyak energi. Terkadang air mata, dan tentu saja keringat. Namun, ini sebuah usaha yang layak.

Sasaran pemirsa program ini?

Adult learner karena segmen inilah yang biasanya melupakan bahasa Inggris, yang dulu mungkin pernah mereka perlajari. Iya, kan? Setelah kita lulus sekolah atau kuliah, begitu masuk dunia kerja, kebanyakan dari kita tidak lagi mendapatkan kesempatan mempraktikkan bahasa Inggris.

Tapi tampaknya Walk the Talk juga oke buat anak-anak?

Ya, lucunya program ini ternyata juga sangat menarik bagi anak-anak dan remaja. Sementara, penonton dari kaum wanita juga banyak sekali. Ada e-mail yang masuk kepada kami dari seorang ibu. Dia menceritakan betapa bahagianya dia karena untuk pertama kalinya bisa menyuruh anaknya nonton Walk the Talk. Biasanya, dia melarang keras anaknya nonton televisi.

Sejauh yang sudah Anda pantau, bagaimana respon masyarakat terhadap acara ini?

Respon terhadapada acara ini bagus sekali. Rata-rata share adalah 3,2, sementara rating 0.5. Saya melihat ke mana pun kami pergi dan shooting, ternyata masyarakat mengenali program ini. Kami pun mendapat banyak supprort melaui Facebook, dan dari hit di website kami juga tampak minat yang besar terhadap program ini. Kompas dan Tempo memuat program ini dalam liputan mingguan mereka. Hal ini menujukan bahwa proram ini menarik dan bagus.

Apa pengalaman-pengalaman paling menarik saat menggarap episode-episode Walk the Talk?

Saya tidak bisa mengingat pengalaman tidak menarik saat shooting. Cobalah ikut bersama Tim Paradigma saat shooting. Setiap orang akan terkesan, karena memang begitu menarik. Suatu ketika terjadi dialog seperti ini di sebuah taman di RT 07, Sawo Ujung, Cipete. Sekelompok ibu sedang menyiram tanaman, Anda bisa saksikan adegan ini di episode Farmer. Begini dialognya:

Jason, memegang jahe, “Apa ini, Bu?

Si Ibu sambil berpikir, “Ooo...

Jason menggigit daun jahenya, “It taste like ginger…!

Si Ibu, “Oh, no….no danger… mister…

Atau lihat contoh dialog Jason dengan penjual parcel yang terjadi di Pasar Cikini dalam episode Entrepreneur.

Jason, “Bapak bisa bicara bahasa Inggris?

Penjual parcel, “No…little…sedikit…

Jason tanya lagi, “Apa kalimat bahasa Inggris yang Bapak tahu?

Penjual parcel menjawab, “Saya enggak tahu… Yang saya tahu cuma… I want to kiss you!!

Jason sontak menjawab, “Oh, no I don’t want to kiss you!

Sebagai seorang penulis, saya takjub dengan keindahan dialog yang begitu fresh dan tidak terduga ini. Saya seperti sedang disuguhi adegan-adegan ciptaan sang maestro penulis, setiap kali shooting. Bagi saya pribadi, proses shooting Walk the Talk adalah sebuah pertunjukan drama manusia yang indah. Ikutlah sekali-sekali….

Kalau tema-tema yang diangkat dalam program ini, ide-idenya dari mana?

Tema-tema di setiap episode memang dibuat dengan alasan strategis, yaitu bagaimana menjangkau dan memperluas segmen. Itulah sebabnya setiap topik selalu adalah topik yang dekat dengan kehidupan masyrakat. Ide-ide setiap tema datang dari saya sendiri, dan saya menyusunnya sebelum Walk the Talk dimulai. Menyenagkan karena tema-tema yang sudah disusun terasa actual di masyarakat.

Tim Paradigma dengan Merah Putih di dada mereka

Tim Paradigma dengan Merah Putih di dada mereka

Kalau tema-tema wisata dan budaya apa digarap, kan menarik juga?

Wisata dan kebudaayaan selama ini saya lekatkan dengan setiap tema. Contohnya dalam episode mingu ini. Kami bisa realisasikan, dan Jason selalu memuji keindahan setiap kota. Oh ya, kami juga mendengar berbagai masukan dari pemirsa. Misalnya, ada yang minta lebih banyak vocabulary. Kami aplikasikan dengan menempatkan stickies di pojok kiri. Atau, ada juga pemirsa yang meminta daerahnya didatangi, dan kami senang saja melayaninya. Jadi, dialektika ini sudah tercipta.

Sejauh ini, tema apa saja yang sudah digarap?

Yang sudah ditampilkan tentang transportasi, guru, extreme sport, green life style, coffee, farmer, film industry, small medium enterprise, antique, dan minggu ini globalisasi!

Profesi-profesi yang sifatnya membangkitkan semangat, kreativitas, dan inovasi masyarakat, seperti yang dijalankan para motivator dan trainer, juga menarik….?

Itu yang sedang masuk ke benak saya. Profesi-profesi yang menarik, yang kontemporer, yang tidak terpikirkan 20 tahun lalu. Mudah-mudahan di season kedua kami bisa merealisasikannya.

Mengenai pemilihan Jason Daniels, ‘si bule’ sebagai host, bagaimana ceritanya?

Jason adalah sosok yang buat saya penuh dengan kontradiksi. Pertama, dia tidak cakep. Kedua, dia itu “kampungan hahaha…. Ketiga, he is very smart. Ketiga hal ini membuatnya pas untuk membawakan karakter host Walk the Talk yang–sama seperti jiwa sayakampungan, blusak-blusuk ke mana-mana. Saya begitu terkesan dengan kemampuan alamiah Jason dalam menghacurkan pemisah, yang biasanya tercipta antara bule dan orang Indonesia… Bukan saya saja, seluruh isi Paradigma jatuh cinta sama bule yang satu ini. Dia mengajar bahasa Inggris di Seskoad. Saya yakin, dengan Jason sesuatu bisa jadi seru, dan itulah kenyataannya.

Berdasar pantauan Anda, bagaimana tingkat penerimaan pemirsa terhadap penampilannya?

Saya mengatakan kepada Jason, untuk meninggalkan kesan “bule gile” yang menancap di pemirsa , dan menjadi seorang dengan image “educator”. Dia sangsi karena menurutnya orang sudah menyukai dia gila-gilaan. Tetapi, kini dia malah berterimakasih. Karena, belum pernah dalam kariernya di televisi, dia menerima begitu banyak respon positif. Jika kami mengajak Jason ke mal, maka banyak ibu atau bapak yang mendorong anaknya untuk berbicara bahasa Inggris ke Jason. Penerimaan masayarakat atas Jason sungguh membesarkan hati.

Target-target apa yang hendak Anda capai dari program ini?

Sungguh naïf ya bila mengatakan dengan menonton program ini orang akan bisa berbahasa Inggris. No! Program ini bertujuan menumbuhkan motivasi kepada setiap penonton, betapa pentingnya meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, dalam segala skala. Bahkan, jika hanya passive atau patah-patah sekalipun, berbahasa Inggris bisa membuka peluang.

Inilah yang kami ingin share kepada pemirsa. Yang kedua, yang kami lihat dari shooting atau off air, betapa senangnya masyarakat berkesempatan bicara dengan Jason dalam bahasa Inggris. Jadi, kami memperbanyak street talk untuk memberikan pengalaman berbahasa Inggris kepada orang biasa. mereka mendapat kesempatan ngobrol dengan bule. Saya yakin, ini akan berkesan mendalam. Dan, suatu ketika anak mereka minta uang untuk kursus bahasa Inggris, mereka akan merestui, karena mereka menyadari kepentingannya.

Langkah-langkah apa saja yang sudah dijalankan oleh tim Anda supaya program ini terus mendapat dukungan dan apresiasi masyarakat?

Kami sudah mendatangi beberapa pihak dan juga meminta waktu untuk beraudisi dengan Departemen Pendidikan Nasional. Begini, lho... saya tuh malu, karena pihak-pihak dalam negeri sendiri enggan atau belum mau membiayai program-program semacan ini. Sejauh ini, usaha kami masih kecil sekali hasilnya. Dan, untuk season 2, jika tidak ada pihak dalam negeri yang mau mebantu, kami terpaksa baru bisa memulainya di bulan Desember 2009. Sayang sekali.

Baik, Anda punya mimpi apa dengan program ini?

Saya memimpikan program ini bisa bertahan pada skala rating dan share yang tinggi sehingga para brand mau memasang iklan di program ini. Saya juga memimpikan program pindah jam tayang ke jam sore, 18.30 wib. Ini untuk mendapatkan pemirsa yang lebih banyak. Saya berharap suatu ketika program ini tidak diperlukan lagi. Karena masyarakat sudah menyadari pentingnya meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris mereka. Impian yang terakhir inilah yang saya begitu rindu melihat perwujudannya.

Ada pesan untuk target pemirsa Anda?

Walk the Talk adalah sebuah kalimat yang berat, satu kata dengan perbuatan. Ini juga jadi masalah di kepemimpinan nasional kita, kan? Pesan saya, ayo kita terus belajar bahasa Inggris. Biar sedikit, biar enggak sempurna belajarnya, ayo kita terus bersemangat. Dan, terapkan bahasa Inggris kapan pun, di mana pun.

Kalau pesan atau harapan untuk sesama kreator program-program pertelevisian?

Waduh… berat nih pertanyaannya…! Oke, sebagai kreator program, kami diberi previledge untuk menuntun masyarakat. Sehingga, memang kita seharusnya mebuat program yang selalu bernilai positif. Pesan kedua, mari terus berkarya dan belajar, dan ciptakan program dari hati….

Ok, makasih wawancaranya dan sukses ya….

Baik, terima kasih. Saya sangat menghargai kesempatan ini. Mudah-mudahan bermanfaat dan membuka wawasan. Salam Walk the Talk! Sukses untuk Anda![ez]

Walk the Talk digemari oleh orang dewasa, remaja, hingga anak-anak

Walk the Talk digemari oleh orang dewasa, remaja, hingga anak-anak

Foto-foto: Dokumentasi Paradigma.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.0/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 2 votes)

Wuryanano: Banyak Orang Menjadikan Tuhan Itu Seperti Budaknya!

wurd0Doa adalah sesuatu aktivitas yang paling dianjurkan dalam kehidupan berdoa versi agama apa pun. Tetapi diakui atau tidak, dalam dunia nyata doa juga merupakan ajaran agama yang paling diagungkan sekaligus yang paling sering “diprotes”. Bagi orang yang sangat meyakini bahwa doa adalah jembatan emas dalam berkomunikasi dengan Tuhan, doa sungguh-sungguh menjadi bagian tak terpisahkan dari iman, sesuatu yang diyakini kemutlakannya. Sementara bagi sebagian lainnya, doa dipersepsi tak lebih dari sekadar anjuran yang indah di teori, tetapi sulit dalam realitas. Penilaian yang belakangan ini muncul dan menjadi dilema di mata orang-orang yang merasa doa-doanya tidak pernah dikabulkan oleh Tuhan.

Seolah ingin menjawab persoalan itulah, terbit buku dengan judul yang sangat impresif, Mengapa Doa Saya Selalu Dikabulkan (GPU, 2009), karya Wuryanano. Bagi pemilik nama lengkap Raden Mas Panji Wuryanano ini, ternyata kunci terkabulnya doa-doa kita adalah justru pada penyikapan kita sendiri. Dengan kata lain, orang mesti paham betul bagaimana harus bersikap di hadapan Tuhan dalam doa-doanya. Orang harus pula tahu bagaimana meyakini sebuah doa yang dipanjatkan. Pun orang harus bagaimana menyambut terkabulnya doa itu dengan serangkaian tindakan pasti dan terarah untuk mewujudkan keinginan dalam doa tersebut.

“Kita harus ada daya upaya untuk mengambil atau meraih doa yang sudah terkabul itu. Antara lain dengan rencana dan tindakan nyata, bukan hanya secara lisan atau di dalam pikiran dan hati saja,” ungkap pria kelahiran Surabaya, 22 Mei 1964 itu. Selain itu, kita seharusnya juga menyadari bahwa Tuhan sering kali menjawab doa kita dengan “bahasa” yang berbeda dengan bahasa doa kita. Sama-sama menunjukkan bahwa Tuhan mengabulkan doa kita, tetapi mungkin kita perlu kepekaan, kearifan, kebesaran hati, serta kedalaman jiwa untuk bisa menyadarinya.

Sehari-hari, Wuryanano dikenal sebagai pengusaha di berbagai bidang, seperti peternakan, garmen, merchandising, butik, supermarket, restoran, percetakan, rumah herbal dan spa, serta lembaga pendidikan dan pelatihan profesi. Kesuksesannya sebagai pengusaha telah mendorong Wuryanano untuk terus berbagi pengalaman, keterampilan, dan semangat ke berbagai kalangan. Suami dari Christine Wuryanano serta ayah dari Riyadh Ramadhan dan Rafidh Rabbani ini sendiri aslinya adalah seorang dokter hewan. Namun, perjalanan hidup yang penjang serta sukses yang diraihnya ternyata telah menempa dia menjadi seorang motivator dan inspirator yang berperan bak seorang “dokter mental”.

Melalui karya keempatnya ini, Wuryanano hendak menguatkan semua orang akan pentingnya bertekun dalam doa dalam “sikap doa” yang benar. Karya ini juga menjadi bukti keyakinannya bahwa Tuhan selalu mengabulkan doa-doa kita. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari www.andaluarbiasa.com dengan Wuryanano yang dilakukan melalui pos-el belum lama berselang:

Sudah berapa buku yang Anda tulis?

Sudah empat buku saya tulis sejak terbit buku pertama saya pada Oktober 2006. Buku pertama saya berjudul The Touch of Super Mind yang mengetengahkan tema berdasarkan keyakinan saya. Bahwa, setiap orang pasti dianugerahi kekuatan pikiran super. Kekuatan pikiran yang dahsyat pengaruhnya bagi kehidupan kita masing-masing. Keyakinan saya, bahwa apa pun yang saya pikirkan terbukti menjadi kenyataan. Itu semakin membuktikan, bahwa pikiran manusia punya kekuatan untuk menarik apa pun yang telah mendominasi pikirannya itu.

Pikiran kita bisa mewujudkan apa saja?

Kita bisa melakukan apa pun dengan pikiran kita. Seperti, menjalani kehidupan lebih baik dan lebih bahagia. Itulah sebabnya saya menyebut Super Mind Power alias Kekuatan Pikiran Super. Karena, kekuatan super itulah yang akan menyeret kehidupan kita sesuai dengan apa yang telah mendominasi pikiran kita; baik ataupun buruk, semuanya akan menjadi kenyataan. Bergantung pada apa yang mendominasi pikiran kita.

Buku ini juga bukti gagasan Anda tersebut?

Ya, buku pertama saya ini juga sebagai bukti, bahwa apa yang saya pikirkan akan segera menjadi kenyataan. Nama saya sebelumnya tidak pernah dikenal sama sekali oleh penerbit mana pun di Indonesia, apalagi oleh penerbit besar. Dan, di buku pertama cetakan pertama, tidak ada nama lain selain nama saya, itu juga semacam test and measurement atas apa yang saya lakukan. Terbukti! Buku pertama saya diterbitkan oleh Elex Media Komputindo, kurang lebih dua minggu setelah naskah saya diterima penerbit.

Karya Anda selanjutnya?

Sebulan setelah buku pertama terbit, muncullah buku kedua saya berjudul Super Mind for Successful Life. Buku ini mengupas lebih dalam tentang bagaimana memanfaatkan kekuatan pikiran super yang memang dianugerahkan oleh Tuhan ke dalam diri setiap manusia. Saya tegaskan di buku kedua saya itu, bahwa jika kita ingin mengubah nasib lebih baik, lebih sukses, maka terlebih dulu kita harus mau mengubah pola pikir kita menjadi lebih baik pula. Sehingga, itu akan membentuk sikap, tindakan, dan kebiasaan lebih baik. Akhirnya, kita akan punya karakter diri yang juga lebih baik. Dan, itu dipastikan akan membuat nasib kita menjadi baik pula.

Inti gagasan yang melandasi buku kedua Anda ini apa?

Saya sangat meyakini bahwa kesuksesan itu selalu hanya tertarik kepada orang-orang yang pikirannya—dengan sengaja—sudah dipersiapkan untuk menarik sukses itu sendiri. Pikiran sukses akan bersifat seperti ‘magnet sukses’, yang hanya akan menarik segala bentuk kesuksesan.

Buku ketiga Anda judulnya apa?

Juni 2007 terbit buku ketiga saya, The 21 Principles to Build and Develop Fighting Spirit. Buku ini berisi prinsip-prinsip pribadi saya dalam menjalani kehidupan yang harmonis, sejahtera, dan selalu bersemangat setiap saat. Ada 21 prinsip yang telah saya jalankan dan terbukti menyelamatkan saya dari keterpurukan secara ekonomi maupun mental.

Wuryanano: Berbagi pengalaman dan semangat

Wuryanano: Berbagi pengalaman dan semangat

Apa saja di antaranya?

Berani bermimpi besar, berani bertanggung jawab, berani bertindak, dan fokus pada sasaran. Lalu prinsip kekuatan keyakinan, kekuatan ketekunan, kekuatan keuletan, kontrol emosi diri, rasa empati, komunikasi efektif, dan kebiasaan sukses. Berikutnya adalah sikap positif, disiplin pribadi, integritas diri, skala prioritas, sifat adaptif, senang humor, rasa syukur, wawasan ilmu pengetahuan, pilihan sukses, dan komitmen pribadi.

Judul buku Anda ini sangat mengena dan indah sekali. Bagaimana sampai menjatuhkan pilihan pada judul tersebut?

Naskah saya ini awalnya berjudul The Secret of Successful Prayer, Rahasia Doa yang Terkabul. Tetapi, karena pertengahan 2008 sudah muncul buku dengan judul The Secret, maka saat akan mengirimkan naskah ke penerbit pada 2009 ini, terpaksa harus mengganti judulnya. Karena saya tidak ingin dianggap ‘mengekor’ buku The Secret. Akhirnya, secara cepat, spontanitas saja, dan tidak berpikir lama, saya menggantinya dengan judul Mengapa Doa Saya Selalu Dikabulkan. Saya kirimkan Selasa 24 Pebruari 2009, dan dua hari kemudian diterima oleh redaksi penerbit GPU. Dan, spektakuler! Tanggal 13 Maret 2009 saya dapat informasi buku saya sudah diterbitkan dan sudah diterima kantor cabang Gramedia Surabaya. Wow… luar biasa prima! Buku launching Sabtu 14 Maret 2009, saat acara Show Off UKM Jawa Timur di Royal Plaza Surabaya. Ini juga bukti lagi terkabulnya doa saya. Alhamdulillah.

Apa latar belakang Anda menulis buku ini?

Ide saya menulis buku ini karena saya sering melihat dan mendengar, betapa banyak orang yang mengeluhkan rumitnya kehidupan yang mereka jalani. Banyak orang selalu mengeluh dan merasa tidak berhasil dalam kehidupannya. Bahkan, sering juga menghujat Tuhan Yang Maha Esa, bahwa Tuhan telah pilih kasih dalam memberikan rahmat dan rezeki-Nya.

Apa gagasan besar atau pokok-pokok isi buku ini?

Lewat buku ini, saya ingin berbagi ke banyak orang, bahwa sesungguhnya Tuhan Yang Maha Esa itu Mahaadil kepada setiap makhluk ciptaan-Nya. Dan, Dia selalu mengabulkan setiap keinginan manusia, karena Dia itu Mahakaya-Raya, Maha-Segalanya di jagad raya ini. Orang yang merasa tidak dikabulkan doa atau keinginannya, bisa jadi karena mereka belum bisa berbaik sangka kepada Tuhannya. Dan, mereka juga tidak menyadari, bahwa Tuhan sudah berjanji kepada manusia, apa pun yang diminta oleh manusia akan selalu dikabulkan oleh-Nya. Ini pemikiran yang ingin saya bagikan kepada banyak orang lewat buku saya tersebut.

Semua orang pasti ingin doanya dikabulkan. Berkaca pada pengalaman Anda sendiri, apa sebenarnya rahasia dari doa-doa yang selalu dikabulkan itu?

Tidak ada rahasia dalam berdoa kepada Tuhan. Paling penting saya tekankan di buku ini adalah mengenai sikap kita pada saat kita berdoa kepada Tuhan. Rahasianya adalah bagaimana kita bersikap pada saat memohon kepada-Nya.

Sesungguhnya, apa ada sih doa yang bagus dan doa yang jelek itu?

Sebenarnya, inti berdoa itu untuk kebaikan bukan untuk keburukan. Doa yang bagus semestinya untuk kebaikan diri sendiri maupun untuk orang lain. Kalau berdoa untuk keburukan itu namanya bukan berdoa, tetapi mengutuk dan sumpah serapah. Jadi, semua doa itu bagus, tidak ada yang jelek.

Ada anggapan begini, bahwa sebagai si pemohon alias orang yang berdoa, kita seharusnya tidak boleh “memaksa” Tuhan untuk selalu memenuhi atau mengabulkan apa yang kita minta. Pendapat Anda?

Ya, etika berdoa kita itu seperti apa? Banyak orang bahkan menjadikan Tuhan itu seperti ‘budaknya’, meminta segala sesuatu dengan cara memaksa-Nya agar cepat mengabulkan keinginan orang itu. Tidak ada sopan-santun pada saat berdoa. Inilah sikap yang harus diubah!

Logikanya, pada saat kita mau bertemu dengan orang yang lebih tua, atau orang yang punya posisi sosial dan jabatan lebih tingi dari kita, pastilah kita akan bersikap sopan-santun kepadanya. Apalagi jika mau bertemu dengan Allah, Tuhan Yang Maha Esa, tentunya sikap kita harus sangat sopan-santun. Jauh lebih baik lagi dibandingkan jika kita bertemu dengan sesama manusia.

Wuryanano: Andil menggerakkan masyarakat dengan memotivasi

Wuryanano: Andil menggerakkan masyarakat dengan memotivasi

Ada lagi yang namanya doa “egois” yang isinya hanya permohonan-permohonan pribadi kepada Tuhan. Komentar Anda?

Sering kali manusia memang egois, maunya diri sendiri yang enak. Sehingga, jika berdoa selalu hanya keinginannya saja yang diutarakan kepada Tuhan. Oleh karena itu, di dalam agama kita, ada petunjuk bagaimana sebaiknya berdoa kepada-Nya. Ada semacam tata krama di dalam berhubungan dengan Tuhan lewat doa kita, termasuk petunjuk untuk ikut mendoakan orang lain.

Menurut Anda, apakah ada batasan waktu bagi terkabul atau tidaknya doa kita?

Batasan waktu terkabulnya doa? Hanya Tuhan yang berhak tahu. Ini sesungguhnya berkaitan dengan sopan-santun berdoa kepada Tuhan. Itu bukan hanya berdoa secara lisan saja, melainkan juga harus meyakininya di dalam lubuk hati terdalam. Sehingga, dengan demikian kita juga akan membuat rencana-rencana tindakan yang berkaitan dengan keinginan doa kita itu. Jadi, berdoa itu juga harus dilakukan dengan tindakan nyata untuk meraih apa yang menjadi doa keinginan kita tersebut.

Jadi kita sendiri juga mesti berusaha mewujudkan doa kita itu atau bagaimana?

Ini karena kita hanya manusia biasa. Meskipun memang Tuhan selalu mengabulkan doa kita, tetapi doa yang sudah dikabulkan-Nya itu masih digantungkan di atas kita. Sehingga, kita harus ada daya upaya untuk mengambil atau meraih doa yang sudah terkabul itu. Antara lain dengan rencana dan tindakan nyata, bukan hanya secara lisan atau di dalam pikiran dan hati saja.

Adakalanya Tuhan juga mengabulkan doa kita dengan cara menggantikan doa kita dengan hal yang lebih baik bagi kita nanti. Ini juga pemikiran yang saya sampaikan di buku saya itu. Kadang kala kita minta duit banyak kepada Tuhan. Dan, Tuhan mungkin menggantikannya dengan cara menyelamatkan nyawa kita dari musibah, misalnya.

Jadi, Tuhan mengabulkan doa kita melalui beragam cara dan bentuk perwujudan?

Memang, Allah bisa saja langsung mengabulkan doa sama persis seperti yang dipanjatkan kepada-NYA. Tetapi, itu menurut saya hanya fasilitas untuk para Nabi dan Rasul, atau orang-orang pilihan Tuhan sendiri. Dan, itu bukan fasilitas untuk kita manusia biasa. Ini juga penting untuk dipahami oleh kita semua. Termasuk juga mengenai kapan batasan waktu terkabulnya doa kita. Semuanya itu urusan dan hak prerogatif Tuhan. Kalau kita sudah bisa berprasangka baik kepada Tuhan, maka itulah yang akan terjadi pada diri kita. Tuhan itu sesuai dengan apa yang diprasangkakan oleh hamba-Nya kepada-Nya.

Sesungguhnya, apakah ada yang salah sih dengan meminta apa saja kepada Tuhan?

Sebagai manusia ciptaan-Nya, kita memang dianjurkan oleh Tuhan agar senantiasa berdoa memohon kepada-Nya, dan hanya kepada-Nya. Bukan berdoa kepada selain Tuhan. Jadi, boleh saja kita meminta apa pun itu kepada Tuhan Allah.

Selain menjadi seorang pengusaha, Anda juga dikenal sebagai motivator. Apa yang menarik atau apa makna dari menjadi seorang motivator itu?

Saya terjun menjadi pembicara publik sebagai motivator baru pada tahun 2004. Dalam aktivitas keseharian sebagai pengusaha, saya melihat betapa banyak orang—tidak peduli latar belakang pendidikan dan ekonomi—ternyata sering merasa kurang atau bahkan tidak merasakan kebahagiaan serta keberlimpahan hidup. Itu yang mendasari saya untuk ikut terjun di dunia motivasi ini. Saya ingin berbagi, menginspirasi, dan memotivasi banyak orang agar bisa selalu menikmati indahnya kehidupan ini.

Biasanya hal-hal pokok apa saja yang menjadi materi pelatihan atau aktivitas motivasi Anda?

Saya lebih sering membawakan materi motivasi di bidang personality development, positive attitude, dan entrepreneurship.

Wuryanano: Bersama keluarga tercinta

Wuryanano: Bersama keluarga tercinta

Kalangan mana saja yang sudah Anda motivasi?

Saya sering tampil berbicara kepada masyarakat umum, masyarakat dunia pendidikan, maupun perusahaan-perusahaan yang menginginkan peningkatan kualitas sumber daya manusianya. Juga bicara untuk perusahaan-perusahaan yang ingin mempersiapkan calon pensiunan agar bisa menjadi entrepreneur di masa pensiunnya, dan tidak terjangkit penyakit post power syndrome.

Pada masa sekarang ini, masyarakat kita sangat butuh dorongan yang kuat untuk terus bergerak maju. Menurut Anda, apa yang bisa mempercepat pergerakan ke arah kemajuan masyarakat kita?

Era globalisasi memang bisa memengaruhi mentalitas kita secara positif maupun negatif. Kita semua memang punya kewajiban untuk ikut serta memajukan negeri ini. Oleh sebab itu, menurut saya, masyarakat Indonesia ini masih memerlukan figur-figur yang bisa dijadikan sebagai contoh dan teladan dalam menjalani kehidupan yang bahagia dan sukses sejahtera. Masyarakat Indonesia tetap butuh figur-figur sukses yang bisa menginspirasi dan memotivasi untuk terus bergerak maju dalam menjalani kehidupan.

Sudah semestinya kalau setiap orang terlibat dalam upaya memajukan negeri ini. Menurut Anda, pada sisi atau aspek mana kita bisa ikut ambil bagian dalam gerakan tersebut?

Sebenarnya, jika setiap orang yang bisa dimasukkan ke dalam kategori sukses secara finasial maupun secara mental attitude, mau ikut terjun memberikan inspirasi dan motivasi kepada masyarakat negeri ini, saya yakin tidak akan ada lagi keterpurukan hidup. Tidak akan ada lagi kesengsaraan maupun kekejaman di kehidupan ini. Saya pikir di sinilah kita bisa ikut berperan. Namun, ini memang diperlukan kesadaran secara hati nurani dari para insan sukses negeri ini, untuk ikut berbagi pengalaman hidup sukses kepada masyarakat, tanpa terlalu berhitung bisnis. Ya, ikhlas berbagi tanpa tendesius pada rupiah… hahahaha…. Semoga saja segera terwujud kebahagiaan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sebagai motivator muda, masih panjang jalan dan ladang kiprah Anda ke depan. Apa saja yang masih ingin Anda lakukan?

Memang dari sisi usia, saya masih tergolong muda. Baru 45 tahun dari total jatah usia 150 tahun, hahaha…. Ini yang saya doakan kepada Allah agar saya selalu dikaruniai kesehatan, awet muda, kebahagiaan sejati, dan keberlimpahan dalam setiap aspek kehidupan saya. Sehingga, dengan demikian saya bisa lebih lama lagi berbagi pengalaman dan pengetahuan saya untuk kebaikan umat manusia di bumi ini.

Di samping itu, saya ingin lebih banyak lagi bisa berperan menyantuni banyak anak yatim piatu, fakir miskin, maupun anak-anak terlantar di negeri ini. Serta yang juga menjadi obsesi saya adalah saya semakin banyak bisa mencetak eksekutif profesional andal dan para entrepreneur sukses. Yang mana itu sudah saya lakukan dengan mendirikan Lembaga Pendidikan Profesi Swastika Prima Entrepreneur Campus. Sejak saya dirikan pada tahun 2000 silam, lembaga itu telah melahirkan ribuan eksekutif profesional dan entrepreneur sukses.

Baik, terima kasih untuk wawancara yang luar biasa ini!

Semoga wawancara dengan Anda ini membawa berkah dan manfaat untuk menginspirasi dan memotivasi banyak orang. Juga agar orang senantiasa bergerak maju terus dan bersemangat luar biasa prima dalam menjalani kehidupan yang penuh kebahagiaan dan keberlimpahan ini. Amin.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.3/10 (11 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 4 votes)

Ibu Habibie: Mendidiklah dengan Hati, Bukan dengan Emosi dan Ambisi

Endang Setyati atau juga dikenal dengan Ibu Habibie

Endang Setyati atau juga dikenal dengan Ibu Habibie

Semua orang mengakui, bukan hal yang mudah membesarkan anak berkebutuhan khusus atau cacat. Tantangannya bukan sekadar tantangan fisik, finansial, namun juga mental dan spiritual. Itulah yang dialami oleh sebagian orang tua di dunia ini, yang mungkin tidak “seberuntung” kebanyakan orang tua lainnya yang dikaruniai anak-anak yang sehat dan tak kekurangan apa pun. Namun, di antara sedikit orang yang harus menanggung tantangan tersebut, ada nama Endang Setyati atau juga dikenal dengan sebutan Ibu Habibie, yang mampu memandirikan Habibie anaknya dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Sama seperti para orang tua pada umumnya, yang merasa harus menanggung beban sangat berat karena dikaruniai anak berkebutuhan khusus. Dalam benak perempuan kelahiran Yogyakarta, 17 Desember 1951 ini, bahkan sempat pula muncul pertanyaan kepada Tuhan, “Apakah ini adil bagi kami?” Namun, berbekal hasil didikan orang tua, semangat yang pantang meredup, serta hasrat sangat besar untuk memandirikan sang anak, pensiunan Perum Perhutani ini pun sanggup menanggung semua beban tersebut. Bahkan, akhirnya ia melihat kenyataan bahwa semangatnya untuk membimbing anak dengan hati dan cinta itu pun telah menumbuhkan semangat baru di antara sekian banyak orang di negeri ini.

Tak ayal lagi, ketika orang melihat keberhasilan Habibie dengan bisnis online-nya, serta karya-karya website-nya maupun buku yang dia tulis, orang tetap tidak bisa mengabaikan peran sang ibu. Seperti kisah-kisah lainnya tentang anak penuh keterbatasan tetapi sanggup melakukan hal yang luar biasa, selalu saja figur seorang ibu juga hadir di balik itu semua. Dan ternyata, untuk kasus Ibu Habibie ini, kuncinya adalah pada sikap ikhlas, rasa bersyukur, kesanggupan untuk terus menempa dan mengembangkan diri, belajar tanpa kenal lelah, dan berpikir optimistis menghadapi masa depan.

Barangkali Anda pernah melihat penampilan Ibu Habibie dan sang anak di sejumlah seminar atau di berbagai talkshow di radio maupun televisi. Mungkin juga, ada banyak pertanyaan tentang rahasia keberhasilan perempuan tangguh ini dalam mendidik dan menjadikan anaknya pribadi yang mandiri. Untuk itulah Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com mewawancarai Ibu Habibie. Berikut petikan wawancaranya yang dilakukan melalui pos-el belum lama ini:

Sebenarnya, apa bisnis yang dijalankan Habibie itu?

Habibie mengawali bisnis online sebagai affiliate di Amazon.com, suatu perusahaan online terbesar di Amerika. Menjualnya di Amerika, pembelinya juga orang Amerika, tetapi Habibie mengelola usahanya dari Indonesia. Dari hasil penjualan produk tersebut, Habibie mendapat komisi penjualan. Besar komisinya jika terjual produk elektronik 4 persen, jika nonelektronik antara 6,5 persen. Kurang lebih selama 1,5 tahun, komisi yang terkumpul 5.986 dollar AS.

Sampai sekarang masih fokus sebagai affiliate Amazon.com?

Ya, tapi sejak awal semester tahun 2008 kan terjadi krisis ekonomi di Amerika. Dan, diprediksi akan berlangsung lama, setidaknya sampai akhir 2011. Makanya, penghasilan di Amazon.com mengalami penurunan drastis. Karena itu, Habibie mencoba mencari peluang pasar dalam negeri. Jadi, mulailah bisnis online di dalam negeri awal tahun 2008. Produknya e-book hasil penulisan pengalaman belajar dan bisnis di Amazon, bisnis properti online, memasarkan ponsel dengan konten utamanya Alquran dan handphone GSM dengan double SIM-ON. Lalu juga memasarkan dan memberikan pelayanan ibadah haji maupun umroh, dan memasarkan madu murni dari Pusbahnas Perum Perhutani.

Apakah hasil bisnis tersebut sungguh menghasilkan seperti yang diharapkan?

Alhamdulillah, hasil di bisnis online-nya sudah bisa menutupi kebutuhan atau biaya hidup sehari-hari. Penghasilan per bulan rata-rata tidak kurang dari Rp 5 juta. Dari amazon, sejak April 2007 sampai dengan Agustus 2008, selama 16 bulan itu telah mencapai  5.986 dollar AS. Penjualan e-book misalnya, sejak 27 Mei sampai 31 Juli 2008 yang dilakukan secara manual, ada 107 pembeli masing-masing seharga Rp 150.000,-. Yang pembayarannya melalui rekening BCA, terakumulasi Rp 16.050.000,-, dan yanng via PayPal sebesar 580 dollar AS. Penghasilan tadi belum termasuk dengan honor-honor yang diterima sebagai pembicara di seminar-seminar, atau undangan lain sebagai bintang tamu di stasiun TV.

Sejauh ini, di mata Anda, apa saja prestasi yang sudah dihasilkan oleh Habibie?

Sejalan dengan kemandirian Habibie, dia juga banyak membantu UMKM untuk membuat toko online untuk produk-produk mereka. Juga dengan semangat berbagi yang dimilikinya, dia banyak men-support dan memberdayakan teman-teman senasib. Mencari potensi yang dimiliki untuk dikembangkan. Itu sebagai upaya untuk memerdekaan diri dari ketergantungan pada orang tua, saudara, dan orang lain.

Dengan hasil bisnis tersebut, Anda melihat Habibie sudah berhasil meraih sisi kemandiriannya?

Tentu saja, untuk kebutuhan primer, seperti sandang, pangan, biaya belajar atau seminar, dia bisa membiayai sendiri. Untuk kebutuhan lainnya seperti sarana kerja, akses internet setiap bulannya dia bayar sendiri. Laptop dan perangkat-perangkat lain untuk menunjang bisnis online-nya, seperti beli domain, hosting, dll, sampai merawat giginya dengan bekhel yang tidak murah, juga dibiayai sendiri. Alhamdulillah, semua sudah bisa ditutup dari penghasilannya.

Habibie yang semakin lemah fisiknya, tetapi semakin menyala semangatnya

Habibie yang semakin lemah fisiknya, tetapi semakin menyala semangatnya

Mari flashback sebentar. Ketika tahu kondisi anak Anda berkebutuhan khusus, apa yang pertama kali sempat terlintas dalam benak Anda?

Awalnya, dalam hati tidak percaya dan berharap diagnosis dokter salah. Kan sering terjadi kesalahan pada diagnosis, kan? Namun demikian, masih berpikir juga mungkin dokter benar. Tidak seorang dokter pun gegabah mendiagnosis pasiennya. Pikiran saya saat itu, ya boleh dibilang tidak keruan, ya kacau, bingung, percaya dan tidak percaya bercampur jadi satu. Sekalipun dalam ketidakpastian, apa kata dan perintah dokter yang merawatnya selalu saya ikuti. Berapa pun biaya pemeriksaan dan perawatan saya bayar, saya tidak pernah hitung-hitung. Dan bahkan, saya merasa royal untuk kepentingan pemeriksaan dan tindakan demi kesehatan dan kesembuhan Habibie.

Saya bermaksud, paling tidak selama masa balita, saya harus berjuang keras dan semaksimal mungkin. Siapa tahu Habibie masih bisa tertolong? Saya tidak berani membayangkan kelak, kalau sudah besar Habibie tidak bisa berjalan. Bahkan, sampai pada kelumpuhan fisik….

Seperti ibu-ibu pada umumnya bila menghadapi situasi semacam itu, Anda diganggu bayangan-bayangan negatif?

Ya, namun pikiran-pikiran seperti itu selalu saya usir jauh-jauh. Dalam bayangan dan pikiran saya, kelak Habibie bisa jalan, entah kapan, saya masih punya harapan besar.

Pasti ada saat-saat paling menekan…?

Ya. Kadang kalau saya sedang sedih memikirkan nasib Habibie kecil, saya suka menangis sendiri. Yang sering sih menangis dalam hati. Apalagi kalau sedang salat malam, tahajud. Sering kalau Habibie sedang tidur, saya pandangi tidurnya sampi puas. Dan akhirnya, saya pun tertidur tanpa sadar. Saya sering bertanya pada Allah SWT, mengapa nasib Habibie dan nasib saya jadi begini, ya Allah? Apa yang kurang pada diri saya? Oh, mungkin saya kurang dekat pada-Nya….  Itu jawaban yang ada.

Anda terus berusaha mencari kesembuhan bagi Habibie?

Ya, pada tahun 1990, saat itu Habibie berusia sekitar 2 tahun, saya berangkat melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci. Ingin sekali rasanya saya memohon rida Allah untuk kesembuhan Habibie. Yah, tentu saja mohon mukjizat-Nya, Allah Aja wa Jalla. Selama di Tanah Suci, pikiran saya kacau karena saat saya mau berangkat, Habibie sedang sakit dan dirawat di RS St Carolus sampai dua kali dalam sebulan. Hampir saja saya memutuskan tidak jadi berangkat haji. Tidak tega rasanya meninggalkan Habibie dalam kondisi sakit dan dirawat inap.

Tidak semua orangtua bisa serta merta menerima begitu saja, atau menerima dengan ikhlas, atas kondisi tersebut. Pandangan Anda?

Saya rasa itu manusiawi. Pasti semua orang—termasuk juga saya—merasa sulit menerima hal ini. Kita semua selalu menginginkan segala sesuatu, apalagi anak, pasti ingin yang sempurna. Cantik, bagus, cakap, pandai, dam semua tangan, kaki, jari-jari utuh dan komplit. Tapi ternyata Allah tidak memberi apa yang saya harapkan. Namun, apa pun dan bagaimanapun, pemberian Allah harus kita terima, tidak mungkin saya menolak.

Saya sadar, inilah rida Allah pada saya. Saya harus ikhlas menerima amanah-Nya. Walaupun sudah lama saya ingin melahirkan dan  punya anak sendiri, saya tidak boleh kecewa atas pemberian dan amanah ini. Saya harus bisa menerima amanah ini dengan ikhlas. Saya sendiri tidak berani berharap banyak pada anak saya Habibie. Namun, apa pun dia, dan bagaimanapun dia, saya akan dan tetap mencintai, menyayangi, memerhatikan, mengasuh, merawat dia, dan juga mendidik dia sebaik-baiknya, dan semaksimal yang bisa saya lakukan.

Apakah ada perasaan semacam…. ya rendah diri atau malu, semisal pergi bersama Habibie?

Jujur ya, saya ini enjoy saja dengan Habibie. Saya tidak canggung tampil di depan umum, di mana pun saya berada. Saya tidak pernah merasa rendah diri atau pun malu kalau saya punya anak yang berkebutuhan khusus atau cacat. Belajar dari lingkungan, saya sering melihat kejadian orang tua yang tidak siap mental menerima anaknya yang berkebutuhan khusus. Saya sering kecewa melihat sikap orang tua yang tampak menolak anaknya. Dan, saya sangat sedih dan iba melihat anak yang diperlakukan tidak adil, bahkan terkesan diperlakukan semena-mena oleh orang tuanya.

Kasihan anak ini, dia akan mengalami penderitaan ganda. Di satu pihak dia sudah sangat menderita batin atas ketidaksempurnaanya, di lain pihak dia juga harus menderita terhadap ketidakberpihakan dan penolakan orang tuanya. Rasanya, saya bahagia dan bersyukur kalau melihat orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus namun mau menerima dan memperlakukan anaknya dengan baik. Jadi, anak tersebut akan tetap mendapatkan kebahagiaan yang utuh dari kedua orang tuanya. Dia juga akan terbebas dari perasaan tertekan atas ketidaksempurnaannya itu.

Bagaimana kemudian Anda bisa menerima hal tersebut dengan sepenuhnya. Bahkan, kemudian bergerak memberikan perhatian dan bimbingan konstruktif pada Habibie?

Saya ini seorang ibu yang telah ikhlas dan sabar mengasuh maupun merawat kakak-kakak Habibie, bawaan dari suami sebanyak tujuh orang. Terus, saya sendiri dengan suami dikaruniai seorang anak saja. Masak sih saya tidak urus dan tidak rawat dia baik-baik? Saya akan merasa berdosa kalau saya sampai menelantarkan anak kandung saya sendiri. Apalagi dia dalam kondisi lemah. Siapa yang akan peduli pada Habibie kalau ibunya sendiri tidak memerhatikan?

Sejak Habibie kecil, saya sudah bertekad untuk menyayangi dia dengan sepenuh hati, tanpa alasan. Dokter yang merawat dia, Profesor Teguh Asaat Ranakusuma, juga pernah mengatakan pada saya, bahwa penyakit Habibie ini tidak ada obatnya. Pesan beliau, “Limpahi kasih sayang.” Saya pikir, ya kasih sayang inilah obatnya. Berbekal kasih sayang inilah saya mendidik Habibie, layaknya anak normal. Bukan kasih sayang yang memanjakan, karena memanjakan anak bisa jadi racun dalam hidupnya. Habibie harus mendapat pendidikan yang utuh dari kedua orang tua, dalam kondisi rumah tangga yang tenteram, damai, bahagia, dan harmonis.

Apa yang Anda ajarkan pada Habibie?

Kami mengajarkan tentang penegakan iman dan Islam. Dari kecil dia telah belajar mengaji dan salat. Selama ini, dia lebih banyak belajar di lingkungan anak-anak normal. Tentu saja hal ini tidak mudah. Dia harus berani bersaing dengan anak-anak normal. Bisa dibayangkan bagaimana dengan tingkah polah yang aneh-aneh dari anak-anak sebayanya.

Anda tidak perlakuan istimewa pada Habibie?

Tidak ada perlakuan istimewa pada Habibie! Yang istimewa, sehari-hari di sekolah dia selalu didampingi pengasuh di luar kelas. Yang selalu siap kapan saja dipanggil untuk membetulkan duduknya maupun kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Pendidikan Habibie sampai jenjang apa?

Terakhir Habibie hanya sampai SMA. Namun, saya juga tidak rela kalau dia hanya  menghabiskan waktu untuk bermain yang didak ada jluntrungan-nya. Saya ingin dia punya kegiatan yang positif dan produktif, sebagai bekal hidupnya kelak. Saya tidak rela melihat dia direndahkan atau diremehkan oleh orang lain maupun saudara-saudaranya. Biasanya, anak-anak dan orang-orang cacat itu suka dianggap sebagai “sampah masyarakat”.

Nah, saya ingin membekali Habibie dengan ilmu, bukan dengan harta. Hanya orang-orang yang berilmu yang akan mampu mengelola hartanya. Karena tanpa ilmu, berapa pun harta yang diberikan akan habis. Dengan ilmu dia akan menjadi manusia yang produktif dan mandiri. Dengan ilmu dia akan mampu memiliki harkat dan martabat dalam masyarakat. Sebenarnya, saya juga tidak banyak harta yang bisa saya berikan dan saya tinggalkan untuk Habibie.

Kompak dalam mengembangkan diri dan memacu prestasi

Kompak dalam mengembangkan diri dan memacu prestasi

Anda tampaknya lebih terfokus pada sisi-sisi kelebihan anak ketimbang pada kelemahannya. Bagaimana bisa sampai pada sikap seperti itu?

Lha, iyalah… Saya lebih fokus pada masa depan. Saya, dulu waktu Habibie masih kecil, pernah berjuang keras untuk kesembuhan dia. Saya rasa itu sudah cukup. Saya langsung mengubah pikiran saya, lebih baik saya berjuang keras dan cerdas untuk masa depannya. Selama ini, saya berharap masih ada kekuatan yang tersisa yang masih dimiliki Habibie. Karena, yang saya tahu kelemahannya lambat laun akan menggerogoti otot-ototnya, yang sudah lemah menjadi semakin lemah. Kekuatannya yang masih ada inilah yang ingin saya kembangkan untuk bekal hidupnya kelak, jika saja Allah SWT memberikan umur panjang padanya.

Benar lho, saya masih tetap berharap anak saya panjang umur dan bahagia. OK, otot-ototnya akan menggerogoti tubuhnya yang makin melemah. Tapi, semangatnya harus saya jaga agar tetap kuat. Saya berikan energi-energi positif melalui seminar-seminar pembelajaran, motivator, dan inspirator. Ya, saya selalu ke mana-mana berdua, saling menyemangati satu sama lain. Alhamdulillah, tampak ada hasilnya. Habibie makin tegar dan percaya diri menatap masa depannya yang cerah, secerah sinar matahari pagi dan senyumnya.

Apa sejak awal Anda sudah melihat semangat, bakat-bakat, serta potensi Habibie untuk bisa berkembang dengan baik?

Ya, tentu saja tidak. Semua ini hanya bagian dari upaya dan perjuangan menjadikan Habibie lebih baik saja. Prinsip saya adalah satu keharusan buat saya, ibunya, untuk berjuang keras mengatar Habibie meraih masa depan lebih baik. Itu saja…sederhana, kan? Karena, saya tidak bisa berharap pada orang lain. Sekalipun itu ayahnya maupun saudara-saudaranya. Mungkin orang lain melihat kelemahan Habibie ini suatu hal yang mustahil untuk bisa diberdayakan dan mandiri. Bahkan, eyang-eyangnya semua mencemaskan masa depannya. Tapi, tidak demikian dalam pikiran saya. Saya masih punya harapan besar dan rasa optimistis. Andai saja saya mau berjuang dan mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya, saya yakin Habibie bisa berprestasi. Tapi, saat itu saya juga masih malu untuk mengatakan Habibie bisa sukses. Ada keraguan walau hanya sedikit.

Sejak kapan Anda mulai membina mental Habibie?

Saya menanamkan disiplin pada Habibie sejak dia masih kecil, kurang lebih usia 2 tahunan. Setiap sore saya membiasakan Habibie duduk di kursi dan meja untuk anak TK, yang sengaja saya beli untuk melatih dia. Melatih disiplin setiap sore harus selalu belajar, dan juga bermain bersama dengan saya dan kakak-kakaknya. Main lempar bola untuk melatih otot-ototnya, dan bermain plorotan di tempat tidurnya. Harapan saya, semoga kebiasaan ini akan menjadi kebiasaan dia sehari-hari. Di tahap ini saya memang sedang mencari bakatnya di mana. Saya berikan kerta-kertas folio, crayon, atau sepidol warna untuk mencari bakat menggambar. Ternyata, dia tidak punya bakat menggambar, karena dia hanya bisa membuat benang ruwet. Gambarnya tidak pernah memiliki bentuk yang spesifik, walau sudah diberikan contoh-contoh.

Pernah mengarahkan Habibie ke pendidikan agama?

Dalam hati kecil, saya pernah ingin mengarahkan Habibie ke arah agama. Barangkali suatu saat dia bisa jadi kyai atau ustaz. Caranya dengan memberi dia kesempatan belajar mengaji pada guru ngaji di sebelah rumah maupun mengundang guru ngaji ke rumah. Kita semua seisi rumah mengaji bersama supaya lebih semangat belajarnya. Sering saya diskusi dengan seluruh keluarga tentang apa sih sebetulnya yang menjadi cita-cita masing-masing anak. Saya bilang, “Kalau nanti Habibie gede, jadi kyai saja, ya?”

Dan, jawaban Habibie….?

“Dede enggak mau, Dede mau jadi pocici aja…” Waktu kecil dia memang senang kalau melihat mobil polisi patroli dengan lampu blizt dan sirine. Saya sering ngledekin dia dengan canda, “Mau jadi polisi yang berdiri di pojok jalanan—maksud saya patung polisi—atau polisi tidur?” Jawabnya, “Pocici tidung.”

Kabarnya Anda menggembleng semangat Habibie melalui game?

Ya, sejak usia 3 atau 4 tahun, Habibie telah biasa bermain game watch, kemudian Nitendo. Saya tidak pernah membatasi dia bermain. Kapan saja dia boleh bermain, pokoknya sesuka hatinya saja. Bahkan, kalau perlu saya undang teman-temannya untuk bermain bersama di rumah. Nitendo, kemudian Play Station 1 dan 2, ini adalah mainan yang cocok untuk Habibie, karena permainan ini memerlukan kerja sama yang baik antara mata, kekuatan otot tangan, pemikiran, atau olah pikir untuk saling memenangkan pertandingan. Nitendo, PlayStation, dan Internet Game ini tidak jauh beda dengan orang menyetir mobil. Semua indera bersinergi dari mulai telinga, mata, tangan, dan pikiran bekerja dalam tempo yang hampir bersamaan.

Mengapa memilih game, padahal kebanyakan orang tua justru takut membebaskan anaknya bermain game?

Dunia anak adalah bermain. Karena bermain inilah dia juga sambil belajar. Belajar bergaul dengan teman sebaya, belajar jujur, dan bisa juga curang dengan sesama teman. Dia juga bisa belajar berargumentasi dan menyampaikan pendapatnya. Bahkan, dia juga belajar berantem untuk mempertahankan pendapat dan kebenarannya.

Dari game itu pula mungkin terpupuk semangat Habibie untuk berkompetisi?

Ya, jadi sejak kecil Habibie sudah terbiasa dan terlatih untuk berkompetisi dalam hidupnya. Di sekolah pun dia sudah harus berkompetisi berat melawan teman-temannya yang sehat. Selama dia belajar bersama anak-anak sehat, dia menunjukan prestasi yang gemilang dalam belajar. Paling tidak the Best 3 selalu diraihnya. Prestasi paling jelek diraih Habibie ada diposisi the Best 5. Setelah lulus dari SMA, perjuangan Habibie malah lebih berat lagi karena dia harus berani berbaur belajar dengan kelompok yang lebih berat lagi. Mereka umumnya sudah mengantongi gelar S1, dan bahkan ada yang S2. Bahkan, untuk lulusan D3 dan SMA itu sedikit sekali, bisa dihitung dengan jari.

Terakhir, dia belajar di Asia Internet Academy awal Maret 2007 dengan peserta sebanyak 130 orang. Instrukturnya Mr. Fabian Lim dengan bahasa Inggris, sementara dia sendiri tidak pernah belajar bahasa Inggris secara khusus. Alhamdulillah, dia bisa melanjutkan ketingkat advance bersama 15 orang peserta. Prestasi yang diraih Habibie selama belajar, yaitu sering disebut sebagai The First Affiliate Amazon.com from Indonesia.

Membesarkan, membimbing, dan mendidik anak berkebutuhan khusus jelas bukan perkara yang mudah. Bisa Anda ceritakan tantangan-tantangan terberatnya?

Pastinya memang sangat berat, bahkan saya katakan sejujurnya saja berat sekali. Terutama masalah mobilitas. Habibie ini ke mana-mana harus pakai kursi roda dan seumur hidupnya mesti harus ada pendamping atau pengasuh. Kondisi kesehatan yang rapuh, mudah sakit, pokoknya perlu perwatan prima. Biaya hidupnya mahal, makannya harus cukup gizi, obat-obatan rutin untuk merangsang syaraf, juga vitamin dan mineral. Lalu, kontrol dokter, pemeriksaan laboratorium. Belum lagi masalah pendidikan, ke sekolah juga harus pakai mobil antar jemput. Terus urusan fisioteraphy, pernah beberapa kali pengaobatan alternatif, sampai jasa para normal.

Alhamdulillah, Allah kasih saya semangat yang menggebu-nggebu, tidak mudah capai, dan tidak mudah menyerah. Juga kesehatan yang prima buat saya. Subhanallah, Allah melimpahkan rezeki yang cukup, hampir tidak pernah kekurangan sampai parah seperti masa kecil saya. Hanya saja, saya harus kerja keras, pagi kerja kantoran di Perum Perhutani, di rumah juga mesti harus cari tambahan. Terus terang saja, kalau tidak ada tambahan pengahasilan, di rumah saya pernah buka warung tegal. Sampai sekarang saya masih buka warung sembako. Pokoknya, apa saja saya lakukan untuk menambah penghasilan. Sampai pernah juga kalau ke kantor sambil nenteng dagangan lontong sayur.

Ibu Habibie bersama Andi F. Noya

Ibu Habibie bersama Andi F. Noya

Apa rahasianya sehingga Anda mampu menaklukkan tantangan tersebut?

Yah, pokoknya spirit saya, saya ingin melihat Habibie bisa mandiri. Sebuah tantangan memang, tetapi tantangan ini kan harus kita hadapi, bukan malah kita hendari ya. Maka, saya lebih suka mencari solusi untuk mengatasi masa-masa sulit, barang kali suatu saat dia datang menghampiri kehidupan kami. Mungkin ini bagian dari tindakan preventif, makanya saya dan Habibie menggali potensi diri untuk dikembangkan bersama.  Alhamdulillah, saya bertemu dengan kawan, sahabat, guru, juga penerbit besar yang sangat memberi dukungan. Banyak fasilitas dan support hebat. Nah, makin bersemangatlah kami.

Anda tampaknya tipe orang tua yang pantang menyerah untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak Anda?

Dari kecil hidup saya sudah ditempa oleh banyak kesulitan, berkubang dalam kemiskinan. Latar belakang kehidupan yang pahit sekali ini yang membuat saya kuat menghadapi tantangan. Dan, karena itulah saya merasa pasti memliliki semangat juang lebih. Tekad pantang menyerah ini mungkin, dan hampir pasti, yang mengantarkan saya menjadi ibu yang kuat menghadapi berbagai masalah pelik. Biasanya, orang atau anak-anak yang hidup dalam zona kritis, dia akan lebih kreatif dan lebih tahan bantingan. Berbeda kalau orang dan anak-anak yang biasa hidup dalam berkecukupan. Seperti hidup selalu dalam ketenangan, tanpa pergolakan, pasti semangat tempurnya ya kurang seru. Apalagi ditambahi dengan menipisnya iman, bisa jadi putus asa itu sahabat karibnya.

Banyak orangtua seperti menyerah kalah ketika menghadapi tantangan-tantangan dan kesulitan dalam membesarkan anaknya. Padahal, keadaan anak-anak mereka barangkali jauh lebih ‘beruntung’ ketimbang Habibie misalnya. Pesan Anda untuk mereka?

Harapan saya pada ibu-ibu dan bapak-bapak, para orang tua: Jadikanlah diri kita orang tua yang pantas dan layak sebagai panutan, teladan, atau contoh nyata bagi putra-putri kita. Mendidik anak sejak dari dalam kandungan dan buaian. Orang tua adalah guru dan pendidik terbaik bagi putra-putri sendiri. Guru, ustaz, dll, adalah pendidik kedua setelah orang tuanya. Mendidiklah dengan hati, bukan dengan emosi dan ambisi. Dekatkan hati orang tua pada putra-putrinya, agar jangan sampai putra-putri kita dididik atau diambil alih oleh lingkungan yang negatif. Berikan hak-hak dasar anak seperti, anak berhak memperoleh kasih sayang, pendidikan, dan perhatian. Berikan hak hidup, berkembang, dan kembangkan diri anak dengan adil. Jangan memandang atau membedakan gender. Berikan hak yang sama kepada anak kita, baik yang sehat maupun yang cacat. Perlakukan anak sesuai dengan fase-fase usianya, dan hargai anak sesuai dengan apa yang kita harapkan darinya. Jangan lupa memberikan penghargaan apabila putra-putri kita berprestasi.

Ibu Habibie: Ketegaran dan ketekunan itu membuahkan hasil nyata

Ibu Habibie: Ketegaran dan ketekunan itu membuahkan hasil nyata

Anda bersama Habibie sangat suka mendatangi kegiatan-kegiatan seperti seminar atau pelatihan pengembangan diri, termasuk pelatihan menulis. Apa yang sesungguhnya Anda cari dari forum-forum semacam itu?

Yang pasti ada sesuatu yang saya cari dari forum-forum yang saya datangi. Terutama dalam seminar-seminar dan pelatihan pengembangan diri. Karena, saya sedang menggali potensi yang dimiliki Habibie, juga potesi yang ada pada diri saya. Saya ingin bersinergi antara ibu dan anak, untuk saling menyukseskan satu sama lain. Di samping itu, kami juga memerlukan banyak ilmu yang akan bermanfaat dalam hidup kami.

Dalam hati, saya tidak rela kalau anak saya hanya sekolah sampai tingkat SMA saja, seperti Emaknya. Sudahlah, cukup saya saja yang bodoh, tapi anak saya harus pintar. Badan Habibie saat ini makin melemah, tidak mungkin dia kuat tiap hari harus pergi kuliah. Saya ingin memberikan pendidikan yang yaman tapi enjoy buat anak saya, belajar sambil bermain, dan cari rezeki. Pendidikan atau pembelajaran ini bukan saja transfer ilmu, melainkan juga transfer energi-energi positif buat Habibie. Makanya, saya lebih senang datang ke seminar-seminar motivasi dan inspirasi.

Apa dampak riil yang dirasakan Habibie dari forum-forum inspiratif semacam itu?

Pada kenyataannya, semangat Habibie memang luar biasa! Bergabung dengan orang-orang yang berkualitas dan bersemangat tinggi yang ada di negeri ini, ternyata telah memacu andrenalinnya untuk melawan penyakit yang menggerogoti syaraf dan otot-ototnya.

Siapa tokoh-tokoh yang menginspirasi Anda dalam mendidik anak?

Ibu dan kakek saya. Kakek saya seorang tua yang moderat, impiannya tinggi, dan tercapai. Keenam putranya tidak ada yang miskin, kecuali Ibu saya satu-satunya yang termiskin. Kelima putranya semua sukses dan kaya. Sementara, Ibu saya yang lahir tahun 1922 dan meninggal tahun 2006 dalam usia 84 tahun, adalah seorang ibu yang cerdas walau sekolahnya rendah. Pemikirannya jauh ke depan. Cara mengasuh dan mendidik putra-putrinya bagus. Keras, disiplin, tapi penuh kasih sayang dan menanamkan budi-pekerti luhur pada putra-putrinya. Beliau selalu memotivasi kami semua untuk belajar dan bekerja keras. Berangkat dari cara pengasuhan dan pendidikan Ibu saya itulah, saya menyontek pola dan cara-cara pendekatan emosional  dan kasih sayang.

Tokoh lainnya?

Ada cerita True Story yang sebelumnya sering saya baca dan saya dengar diradio SmartFM, tentang Nancy Elliot Matheus, ibunda Thomas Alfa Edison yang telah berhasil mendidik puteranya menerangi dunia. Edison divonis oleh gurunya bahwa dia adalah anak yang bodoh, bahkan dikatakan berotak udang. Ibu mana yang tidak meradang jika putranya dikatakan seperti itu? Maka, sejak saat itu Nancy menarik putranya keluar dari sekolah, lalu berusaha dan berjuang mendidik putranya di rumah, karena kebetulan Nancy ini adalah seorang pendidik. Hasilnya, pola pendidikan dan pengasuhan dengan hati itu telah melahirkan seorang anak genius dan sukses besar.

Anda juga ingin menulis buku? Apa temanya kira-kira?

Ya, betul. Kira-kira dua tahun yang lalu Habibie meminta saya menuliskan pengalaman saya mendidik dia sampai sukses. Habibie meminta saya menulis sebuah buku fisik agar tulisan saya bermanfaat untuk orang lain. Dia minta judulnya “Pengalamanku Mengasuh Anak Cacat jadi Sukses.” Sampai sekarang, saya baru sempat membuat konsepnya saja. Ada misi yang lebih indah dan istimewa dari sekadar menerbitkan sebuah buku. Harapan agar umur saya dan Habibie akan panjang ya dari karya buku dan situs-situs saya.

Harapan Anda untuk masa depan Habibie?

Biarlah dia menjadi manusia yang pandai memanfaatkan sisa umurnya dengan baik, menjadikan umur yang bermanfaat untuk dirinya sendiri, dan bermanfaat untuk orang lain. Kami orang tua hanya bisa berdoa dan memberikan dukungan total lahir dan batin. Habibie sendiri menyatakan, awalnya harapan dan cita-cita dia sangatlah sederhana. Dia hanya ingin memenuhi kebutuhannya sendiri, dengan hal yang bisa dia kerjakan, ingin bisa mandiri. Itu telah tercapai, tapi dia tidak mau merasa puas. Dia harus membangun cita-cita yang lebih besar lagi, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain, dan terutama memberikan kebanggaan kepada orang tua dan keluarga. Dia juga ingin mendirikan yayasan yang bisa memperdayakan orang-orang yang berkebutuhan khusus.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.4/10 (10 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +7 (from 7 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox