Kreatif Itu Anti Mati Gaya

E. Setyo HartonoOleh: E. Setyo Hartono*

Masih ingat dengan bunyi salah satu iklan operator seluler “Anti Mati Gaya”? Ya, petikan iklan ini begitu mudah diingat, terdengar menggoda, dan membuat penasaran. Anti Mati Gaya dalam iklan itu mengajak pemirsa untuk menjadi manusia yang benar-benar “TIDAK KUPER”. Tahu teknologi dan dapat memanfatkan perkembangannya. Punya HP, blog, Facebook, e-mail, chatting, dan berbagai fasilitas baru lain dalam teknologi. Begitulah kira-kira ciri-ciri orang yang tidak mau disebut anti mati gaya.

Sebagai insan yang tidak ingin ketinggalan semua perkembangan informasi dan teknologi, saya pun mencoba memanfaatkan seluruh fasilitas itu. Jadi, saya pun termasuk kategori orang Anti Mati Gaya. Bagaimana dengan Anda? Pastilah termasuk dalam kategori itu.

Bicara tentang Anti Mati Gaya, sebuah kreativitas juga menganut paham Anti Mati Gaya. Bagi saya kreativitas tak ubahnya sebuah teknologi yang terus berkembang, berputar, dan terus berubah untuk mencapai hasil yang berbeda, namun dapat memancing pemerhati dan penikmatnya untuk ingin tahu lebih, ingin mengenal lebih, hingga ingin memiliki.

Tampaknya, kreativitas sedang gencar-gencarnya digali di negeri ini. Meskipun sebenarnya banyak orang kreatif pada masa-masa lalu, terutama pada masa sebelum berkembangnya teknologi informasi seperti maraknya media televisi, media cetak, dan media elektronik lainnya. Negeri kita saja pada tahun lalu telah mencanangkan tahun 2009 sebagai tahun Indonesia Kreatif. Di Solo, di mana-mana terpampang spanduk bertuliskan Solo Kreatif Solo Sejahtera. Hampir semua perkantoran dari balaikota, rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi, hingga pinggir-pinggir jalan terpajang tulisan itu.

Dalam terjemahan saya tulisan itu tidak sekadar slogan baru ataupun sebuah tema tahunan yang didelegasikan dari pusat ke daerah. Lebih dari itu, tulisan Solo Kreatif Solo Sejahtera atau Indonesia Kreatif merupakan ajakan bagi masyarakat untuk menjadi masyarakat yang kreatif sehingga akan terwujud ekonomi kreatif dan industri kreatif.

Meminjam istilah Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu, yang dimuat di Kompas beberapa waktu lalu, diakuinya bahwa perencanaan Bulan Indonesia Kreatif dilakukan untuk memberi gaung dan ruang yang lebih besar dalam sosialisasi ekonomi kreatif 2009 sampai 2025. Artinya, sepenuhnya pemerintah mendorong dan menyarankan masyarakat untuk mau menjadi masyarakat yang kreatif, bukan stagnan.

Sementara, Presiden Susilo Bambang Yudoyono menegaskan lebih rinci bahwa dalam kreativitas diperlukan ide, seni, dan teknologi. Ketiga komponen ini saya rasa memiliki keterkaitan satu sama lain. Menjadi orang kreatif membutuhkan ide. Ide bisa datang kapan dan di mana saja. Tentunya ide tidak akan dinilai kreatif kalau ide itu tidak dituangkan ataupun diwujudkan. Karena, ide yang diwujudkan itu diharapkan mampu dirasakan dan dinikmati orang lain.

Kreatif juga membutuhkan nilai seni atau art. Semakin tinggi nilai seni yang dikandung dalam sebuah karya akan dihargai semakin tinggi pula. Suatu hari pada masa kuliah, sebuah lukisan instalasi bertema lingkungan yang saya buat mendapat penghargaan dari Seniman Kondang Nyoman Gunarsa. Penghargaan ini membuat saya begitu bangga dan merasa berharga. Tak hanya itu, karya saya tersebut juga mendapat respon yang luar biasa bahkan ada yang menawarnya dengan nilai nominal yang sangat tinggi, bernilai jutaan rupiah untuk ukuran dolar yang waktu itu hanya Rp 2.500,-.

Pengalaman saya ini merupakan salah satu contoh betapa berharganya sebuah kreativitas yang memiliki unsur seni yang tinggi. Sedangkan teknologi merupakan penyempurna dari sebuah kreativitas. Teknologi merupakan alat di mana sebuah karya dapat dilihat, dipahami, dirasakan, dan dinilai oleh masyarakat. Bisa juga dikatakan bahwa teknologi merupakan ramuan terakhir dari proses penciptaan kreativitas. Dengan teknologi yang semakin berkembang ini kita bisa mengekspresikan karya kita, melakukan sentuhan akhir, hingga menjual karya kita ke mana pun kita mau menjualnya.

Kreatif jadi sejahtera

Kembali pada istilah Anti Mati Gaya, bagi saya kreatif itu berarti juga Anti Mati Gaya. Kreatif tidak pernah berhenti sampai kapan pun. Orang kreatif dituntut menjadi orang yang bisa berkembang. Orang kreatif itu mampu membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin. Orang kreatif itu bisa membuat sampah menjadi harta berlimpah.

Jadi, benarlah bahwa slogan Indonesia Kreatif, Solo Kreatif Solo Sejahtera. Karena, sebuah kreativitas itu mahal. Seseorang yang mampu menjadi orang kreatif itu akan mendapatkan penghargaan yang tak ternilai harganya. Sebuah karya yang dikerjakan secara kreatif hasilnya akan berbeda dengan sebuah karya yang dikerjakan secara asal-asalan. Di beberapa media televisi, kita sering melihat profil orang sukses yang mampu memanfaatkan yang tidak mungkin menjadi mungkin. Mampu memanfaatkan sampah menjadi uang berlimpah.

Contoh sebuah kulit telur. Orang yang tidak memiliki kreativitas akan membuang kulit itu begitu saja ke tong sampah. Sementara, orang kreatif mengelola kulit telur itu menjadi karya yang bernilai jutaan rupiah, yang pada akhirnya mampu mengubah kehidupannya menjadi orang yang sejahtera. Dari miskin menjadi jutawan. Tidak ada yang mustahil.

Jadi, hanyalah yang Anti Mati Gaya saja yang bisa menjadi orang kreatif dan sejahtera. Andai saja di negeri ini banyak orang mau menjadi kreatif, pastilah tidak ada lagi kemiskinan di mana-mana. Tidak ada lagi orang yang hanya menggantungkan bantuan orang lain. Bahkan, bisa jadi tidak ada lagi pengangguran.

Dalam masa krisis ekonomi seperti sekarang ini, kreativitas menjadi sesuatu yang sangat berguna dan menguntungkan. Banyak orang mulai kehilangan mata pencaharian yang berdampak pada rendahnya kesejahteraan.

Sebuah kreativitas tidak memerlukan modal yang besar. Jika kita memiliki kreativitas dan mampu melihat segala sesuatu sebagai peluang emas, maka tidaklah mustahil kalau dengan dibekali kemauan keras dan doa kita mampu menjadi manusia sejahtera. Banyak orang sukses yang lahir dari ketidakberdayaan dan keterpurukan ekonomi. Namun, orang-orang ini memiliki kemauan keras untuk berubah. Mengubah nasib dengan mengandalkan kreativitas, ketekunan, dan doa.

Anda ingin berubah? Jangan mau menjadi mati gaya. Anda bisa menjadi kreatif. Masih banyak karya yang bisa kita ubah, bahkan masih banyak sampah yang bisa kita manfaatkan. Banyak ide yang masih bisa kita wujudkan. Anda siap? Segera lakukan dan siap pula untuk berkata Stop mati gaya!”. Katakan saja Anti Mati Gaya untuk menjadi kreatif.[esh]

* E. Setyo Hartono lahir di Bandung, 25 Februari 1971. Ia adalah dosen Multimedia dan Animasi di STMIK AUB, Solo, dan sejumlah lembaga lainnya di Surakarta. Tinggal di Perum Pondok Karangsari A-11, Jongkang, Buran, Tasikmadu, Karanganyar, Surakarta. Karya-karya tulisnya dapat diikuti di blog http://benayaanimasi.blogspot.com atau http://benayakursus.blogspot.com. Setyo dapat dihubungi melalui HP: 08882942374 atau pos-el: hartono_setyo[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.8/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

PR Besar bagi Klub Guru “Bangsa”

eshOleh: E. Setyo Hartono*

Tanggal 11 April 2009 lalu, sebuah organisasi profesi baru, yakni Klub Guru Surakarta diluncurkan. Kehadirannya memang tertinggal jika dibandingkan dengan daerah lain seperti Surabaya, Malang, dan Bandung. Kehadiran Klub Guru baik di Surakarta ataupun di kota lain tentunya akan menjadi langkah terbaik para guru untuk dapat mengemban misi dan visinya. Saya sangat yakin, bahwa dibentuknya Klub Guru di Surakarta ini bukanlah sekadar ikut-ikutan daerah lain, atau juga bukanlah sebagai proyek terbaru bagi guru-guru.

Klub Guru diharapkan, paling tidak, mampu menjembatani peningkatan kesejahteraan dan profesionalitas guru di masa depan. Akhir-akhir ini, sebelum ada Klub Guru, pemerintah memang sudah mulai memerhatikan kesejahteraan guru. Dari mulai peningkatan gaji guru, sertifikasi, dan lain sebagainya.

Di Malang, Klub Guru juga mampu membuat terobosan baru, yaitu bekerjasama dengan Telkom. Di mana seorang guru dapat memanfaatkan internet melalui Speedy hanya dengan biaya abonemen Rp 50.000 per bulan. Langkah ini memang begitu nyata dan sangat bermanfaat bagi anggota Klub Guru. Saya yakin Klub Guru akan mampu melakukan terobosan baru. Mengingat saat ini perkembangan dunia dan teknologi bergerak begitu cepat dan terbuka, sehingga mau tidak mau seorang guru juga harus berlomba mendapatkan ilmu terbaru secepat mungkin. Bahkan, bisa jadi akan berlomba dengan anak-anak muda yang notabene adalah murid-murid sendiri.

Namun sebaliknya, selain memerhatikan peningkatan kesejahteraan guru, Klub Guru diharapkan juga mampu menjadi penggerak dan motivator sehingga para guru benar-benar menjadi guru yang profesional di bidangnya. Sertifikasi yang sudah dijalankan para guru, alangkah baiknya memerhatikan kebutuhan dari masing-masing guru. Sehingga, tidak asal mengejar sertifikasi yang notabene banyak suara sumbang, bahwa ada kepentingan dan keuntungan materi lain di balik keikutsertaan dalam mengejar sertifikasi.

Guru bangsa yang siap melakukan perubahan

Selain dikenal sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, guru juga merupakan “Guru Bangsa” yang mendedikasikan hidupnya untuk mendidik murid agar mampu menjadi tunas-tunas bangsa yang dapat menjalankan berputarnya roda perjuangan dan kehidupan di negeri ini. Memetik tulisan Satria Darma, salah seorang pakar pendidikan, yang ditulis di Tempo Interaktif (2008), yang mengatakan bahwa guru merupakan pemimpin sejati yang sebenarnya. Gurulah yang memegang peranan sebagai pemimpin perubahan.

Dan, untuk dapat menjadi pemimpin perubahan, guru haruslah melakukan perubahan dulu dari dalam dirinya sendiri. Guru tidak selayaknya meminta pihak mana pun untuk mengubah guru. Perubahan harus datang dari dalam diri guru itu sendiri. Sekali para guru melakukan perubahan dalam dirinya, selanjutnya roda perubahan akan bergerak dengan sendirinya. Guru tidak bergantung pada pemerintah dalam mengelola pendidikan dan justru pemerintahlah yang bergantung pada guru dalam hal ini.

Permasalahan bangsa termasuk masalah pendidikan begitu kompleks, dan mustahil dapat diselesaikan sendiri oleh pemerintah. Ada lebih dari 2,7 juta orang yang menyandang status sebagai guru di negeri ini. Berarti, 2,7 juta orang ini pula yang sebenarnya memegang kunci solusi dari permasalahan bangsa. Jika para guru tersebut dapat menjadi guru bangsa, semua permasalahan bangsa akan dapat terselesaikan dengan mudah.

Menurut pandangan saya, guru memang harus menyelesaikan masalah pendidikan, bukan dilakukan para birokrat. Sependapat dengan Satria Dharma, bahwa pemerintah hanya menjadi lembaga yang mengurus dan mengelola administrasi pendidikan.

Sebagai dosen yang juga merupakan seorang guru, saya sering bertanya dalam hati, apakah saya mampu menjadi guru bangsa bagi negeri ini? Paling tidak, sebagai guru bangsa saya harus menjadi guru yang tidak hanya mentransfer ilmu saya kepada anak didik saya. Tetapi lebih dari itu, yakni memberikan pengabdian dengan hati. Merangkul anak didik agar terjalin hubungan yang baik. Memberikan contoh kehidupan yang baik bagi anak didik. Bukan sebatas mengajar atau memberikan ilmu, tetapi juga mendidik mental, perilsaya, dan kehidupan.

Memahami arti guru bangsa, lalu saya teringat dengan beberapa kejadian pahit yang sempat mencoreng nama dan status guru. Beberapa media massa pernah dihiasi dengan berita-berita tentang kejahatan yang dilakukan oknum guru terhadap anak didiknya. Mulai dari penganiayaan sampai pencabulan. Kalau masih ada guru-guru seperti demikian, lalu akan jadi apa bangsa ini? Selain memiliki tugas yang teramat mulia, tugas guru sangatlah berat. Namun menurut saya, seberat apa pun tugas guru untuk mendidik bangsa ini, jika dilandasi dengan rasa syukur, serta tetap memegang teguh tujuan menjadi guru, pasti tugas ini akan berjalan dengan baik.

Sebagai organisasi profesi, Klub Guru diharapkan akan mampu meningkatkan kompetensi dan profesionalitas guru agar dapat menjadi pelaku perubahan. Jika setiap guru bangsa mampu menyadari dan melakukan perubahan dari diri sendiri, pastilah para pihak lain akan membantu proses berjalannya perubahan. Saya yakin, setiap guru di mana pun guru itu menjalankan profesinya, mau melakukan perubahan yang datang dari dalam diri sendiri, tanpa harus dipaksa atau didorong-dorong. Sebab, pendidikan sebuah bangsa sangat bergantung pada kualitas gurunya.

Klub Guru perlu perjuangkan siswa

Klub guru memang menjembatani peningkatan kesejahteraan serta profesionalitas guru di masa depan. Namun, perlu juga diperhatikan bahwa peningkatan kesejahteraan guru bukan tujuan utama. Ibarat sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Artinya, bersamaan dengan memperjuangkan kesejahteraan guru, para guru juga wajib memperjuangan siswa-siswa. Saya merasa kasihan dengan keadaan anak-anak didik sekarang. Beban pelajaran begitu besar, sementara waktu untuk mempelajarinya terasa begitu sempit. Rasanya sungguh sangat jauh dan berbeda dari keadaan waktu saya masih berstatus sebagai murid.

Perjuangan siswa-siswa sekarang memang banyak dipengaruhi oleh semakin pesatnya perkembangan zaman dan teknologi. Sehingga, mau tidak mau siswa-siswa juga harus mengejarnya agar tidak tertinggal. Tetapi sayangnya, ketika mereka telah letih belajar dan berjuang, mereka harus menghadapi ujian nasional yang pelaksanaannya seakan-akan masih terlalu banyak meninggalkan kesia-siaan.

Bagaimana tidak, mata pelajaran yang dipelajari begitu banyak, sementara yang diujikan tidak semua. Suatu hari, saya mengobrol dengan keponakan yang sedang menghadapi UN SMA. Selama tiga tahun mempelajari beberapa mata pelajaran, tetapi ia begitu kecewa karena yang diujikan tidak semua mata pelajaran. Keponakan saya berkelakar, sambil sedikit protes, kenapa bukan mata pelajaran yang diujikan saja yang diajarkan sehari-hari? “Coba selama tiga tahun saya belajar mata pelajaran yang hanya diujikan di UN. Pasti pikiran saya tidak seberat ini,” ujarnya.

Saya pikir, betul juga keponakan saya itu. Selama ini siswa terlalu banyak beban pelajaran, tetapi yang diujikan tak sebanding jumlahnya. Masalah-masalah seperti ini, saya rasa perlu menjadi agenda Klub Guru. Mungkin, dengan mengurangi jam pelajaran untuk pelajaran yang tidak diujikan, serta menambah jam untuk pelajaran yang diujikan. Pelajaran yang membutuhkan penalaran logika saya rasa lebih diperlukan dibandingkan dengan pelajaran yang membutuhkan banyak hafalan. Mutu pendidikan kita akan dapat dilihat hasilnya melalui penalaran, cara siswa mengutarakan penalaran, logika, serta pendapatnya. Bukan pada kemampuan hafalan-hafalan pelajaran. Saya rasa, catatan ini juga perlu diperjuangkan Klub Guru di mana pun.

Sebenarnya, masih banyak masalah pendidikan di negeri ini yang dapat kita pecahkan, termasuk mahalnya biaya pendidikan, banyaknya guru bantu yang merindukan statusnya diperbaiki, kurangnya kesejahteraan guru swasta, dan masalah-masalah lain. Hadirnya Klub Guru, termasuk di Surakarta, saya yakini akan dapat bersinergi pula bersama PGRI serta organisasi profesi guru lain.

Klub Guru bukanlah pesaing PGRI. Tetapi kehadirannya justru akan membantu dan berjalan seiring dengan PGRI, yaitu meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru. Meskipun terlambat, saya ucapkan selamat atas diluncurkannya Klub Guru di Surakarta. Untuk semua Klub Guru di Indonesia, selamat berjuang menjalankan tugas sebagai GURU BANGSA, yang memerangi KEBODOHAN, KEMALASAN, KETIDAKJUJURAN, DAN KEBERGANTUNGAN.[esh]

* E. Setyo Hartono lahir di Bandung, 25 Februari 1971. Ia adalah dosen Multimedia dan Animasi di STMIK AUB, Solo, dan sejumlah lembaga lainnya di Surakarta. Tinggal di Perum Pondok Karangsari A-11, Jongkang, Buran, Tasikmadu, Karanganyar, Surakarta. Setyo dapat dihubungi melalui telepon 0271- 6820674 atau HP: 08882942374.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox