Kita Memang Luar Biasa

dwiOleh: Dwiatmo Kartiko*

Setelah menjalani hidup lebih dari empat dasawarsa, barulah saya bisa tercerahkan dan bisa memahami makna kata ‘Kita Memang Luar Biasa’. Bisa jadi saya terlambat dalam memperoleh pencerahan ini, tetapi saya tetap bersyukur karena masih mendapat kesempatan untuk memahaminya hingga sepenuh hati.

Memang benar manusia itu memang luar biasa, mempunyai kemampuan untuk menjadi apa saja yang diinginkan. Sejujurnya saya sudah membuktikan bahwa manusia bisa menjadi solusi atas persoalan apa saja yang terjadi di dunia ini. Berikut sharing saya mengenai pemahaman saya tentang bagimana kita ini memang luar biasa, yang kami peroleh dari berbagai sumber dan hasil perenungan.

Semesta dan Manusia

Untuk memulai sharing ini, sekilas saya akan membahas dua hal yang paling dekat dengan diri kita, yaitu manusia dan semesta. Kita mulai dari diri kita. Kita semua ini diciptakan oleh Yang Widhi sebagai manusia. Manusia diberi kesempatan oleh-Nya untuk hidup di dunia. Di dunia ini, manusia ditugaskan sebagai pengelolanya agar dunia ini bisa semakin hari semakin lebih baik. Yang dikelola oleh manusia meliputi binatang, tumbuhan, daratan, lautan, gunung, lembah, sungai, gurun, ekosistem, dsb. Dalam mengelola bumi, manusia diberi teman yang banyak sekali, yaitu sesama manusia.

Dalam hal sesama manusia ini, tugas kita juga sama, yaitu membantu sesama kita agar kita semua semakin hari bisa semakin lebih baik. Untuk mengelola sesama ini banyak hal yang perlu diperhatikan, antara lain ilmu sosial, psikologi, ekonomi, leadership, politik, dsb. Kalau diuraikan akan banyak sekali. Tetapi, yang penting untuk diingat adalah bahwa kita akan bisa hidup di dunia ini bila semua makhluk bisa berbahagia, damai, dan sejahtera. Seperti bermain kartu domino itu lho, kalau salah satu kartunya tidak memperoleh kesempatan hidup, ya kartu-kartu yang lainnya juga tidak bisa hidup. Maksudnya, kalau ada salah satu makhluk atau spesies yang punah, bisa jadi beberapa makhluk atau spesies yang lain juga ikut-ikutan punah. Kalau ada kejadian seperti ini kan hidup jadi kurang enak, benar? Begitulah kurang-lebihnya tugas manusia selama masih diberi kesempatan untuk hidup di Bumi ini.

Lebih lanjut, Bumi kita ini tidak pernah diam, selalu bergerak, selalu berotasi pada porosnya. Berputar pada porosnya ini memerlukan waktu selama 24 jam lebih sedikit. Selain itu, Bumi ini juga selalu mengelilingi Matahari. Lama waktu mengelilingi Matahari sekitar satu tahun atau lebih tepatnya 365,25 hari.

Bagaimana dengan Bulan yang selalu bersinar purnama di pertengahan bulan? Ya, Bulan statusnya sebagai planet Bumi, artinya gerakan Bulan itu mengelilingi Bumi. Lamanya mengelilingi Bumi sama dengan namanya, yaitu satu bulan.

Lebih meluas lagi, ternyata selain Bumi ada juga planet-planet lain yang mengelilingi Matahari, antara lain: Merkurius, Venus, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto. Matahari beserta seluruh planet yang mengelilinginya disebut Tata Surya.

Kalau kita gambar di atas selembar kertas, sebuah Tata Surya itu cuma sebuah lingkaran, dengan titik pusatnya Matahari dan lingkaran terluar adalah jalur planet yang paling jauh dari Matahari, dalam hal ini Pluto. Misalnya, kertas yang kita pakai ukuran A4, kemudian Tata Surya digambarkan dengan sebuah lingkaran berdiameter 2 cm tepat di tengah-tengah kertas, maka kita mungkin akan berkomentar: “Lha kok banyak ruang yang kosong di kanan-kiri-atas-bawah lingkaran tersebut?” Kita pun akan bertanya: “Bagaimana dengan keadaan yang ada di luar Tata Surya? Di luar Tata Surya itu apakah kosong atau bagaimana?”

Jawabannya: “Tidak!” Di semesta ini tidak pernah ada tempat yang benar-benar kosong. Kalau ada suatu lahan yang kosong misalnya, silakan diperhatikan, dalam beberapa minggu kemudian lahan tersebut pasti sudah tidak benar-benar kosong, tetapi mulai ditumbuhi rumput-rumput liar atau tanaman pengganggu. Benar? Begitu juga di luar Tata Surya yang kita gambarkan tadi, juga tidak kosong, tetapi di situ terdapat tata-tata surya yang lain yang banyak sekali.

Di setiap tata surya pasti mempunyai matahari. Karena jarak kita dengan matahari-matahari tersebut amat sangat jauh sekali, maka matahari yang berada di tata surya yang lain tersebut hanya terlihat sebagai lingkaran-lingkaran kecil atau titik-titik yang bersinar. Lha, yang ini namanya bintang-bintang yang bisa kita lihat pada malam hari. Mungkin ada baiknya kalau pas malam hari langit tidak berawan, kita menengok ke atas mencoba menghitung berapakah banyaknya bintang-bintang di langit?

Jarak antara sebuah bintang dengan bintang yang lainnya amat sangat jauh sekali. Ukurannya jarak ini menggunakan kecepatan cahaya, yaitu 300.000 km/dtk. Jarak antara 2 bintang ini ada yang 100 tahun cahaya, tetapi ada juga yang lebih jauh lagi. Kalau misalnya jarak antara 2 bintang 100 tahun cahaya, maka berapa jarak tersebut bila dikonversi ke dalam kilometer? Jawabnya: Jarak 100 tahun cahaya = 300.000 km/dtk x 100 tahun x 12 bulan x 30 hari x 24 jam x 60 menit x 60 detik = ………. km. (Silakan dihitung sendiri).

Atau, bisa juga digambarkan seperti ini: Jarak 100 tahun cahaya itu, seandainya kita mempunyai pesawat yang bisa melesat dengan kecepatan cahaya (300.000 km/dtk), maka jarak tersebut akan kita capai selama 100 tahun. Artinya, kalau umur kita bisa mencapai 100 tahun, maka seumur hidup kita melakukan aktivitas sehari-hari; makan, tidur, kerja, dll, hanya di dalam pesawat. Kira-kira begitulah jauhnya.

Itu baru jarak antara satu bintang dengan bintang yang lain. Lha, kalau bintangnya amat sangat banyak sekali, terus sebarapa jauh jaraknya? Kemudian, bisakah kita menghitung luas semesta raya ini?

Jadi, kalau kita kembali menengok diri kita, di dalam semesta raya ini, manusia itu sebesar apa? Silakan direnungkan sendiri.

Kekuatan Utama Manusia

Dari cerita semesta dan manusia di atas, setidak-tidaknya kita bisa menangkap tiga premis yang bisa menjadi perhatian kita, yaitu:

1. Manusia diberi kesempatan oleh Sang Pencipta untuk hidup di dunia.

2. Manusia ditugaskan oleh-Nya sebagai pengelola dunia. Suatu tempat yang merupakan salah satu komponen dari semesta raya ciptaan-Nya.

3. Manusia tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan semesta raya.

Yang pertama, memang benar manusia hidup di dunia ini cuma karena diberi, sekali lagi cuma diberi kesempatan untuk hidup, bukannya karena punya permintaan atau memilih untuk bisa hidup di dunia. Pengalaman saya inilah yang saya rasakan. Saya pernah bertanya, mengapa saya dilahirkan sebagai orang Jawa, kok sebelumnya saya tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih (misalnya multiple choices) lahir sebagai orang Melayu, orang Eropa, orang India, atau super hero misalnya. Setahu saya, saya hadir di dunia ya tahu-tahu sudah besar. Banyak kejadian-kejadian waktu bayi yang saya tidak bisa mengingatnya lagi.

Yang kedua, manusia lahir di dunia dengan memperoleh tugas yang mulia, yaitu menjadi pengelola bumi, atau leader merangkap manajer agar bisa menjadikan dunia ini semakin hari semakin lebih baik. Tugas ini tidak bisa di-handle oleh spesies-spesies yang lain. Mengapa? Karena hanya spesies manusialah yang mempunyai jiwa. Kalau bertanya yang dimaksud jiwa itu apa? Uraiannya nanti di alinea selanjutnya.

Kemudian yang ketiga, ini tampaknya berkebalikan, manusia mempunyai tugas mulia mengelola bumi, tetapi tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan semesta raya. Inilah kenyataannya, secara fisik yang bisa dideteksi oleh pancaindera, memang manusia itu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan luasnya semesta raya. Tetapi, untuk tugas mulia tersebut manusia diberi kesempatan untuk menjadi apa pun yang diinginkan. Kok bisa?

Ini karena manusia adalah semesta itu sendiri dalam bentuk mikro. Semesta raya yang amat sangat besar sekali itu mempunyai unsur-unsur yang sama dengan manusia, baik itu unsur-unsur yang kasatmata, maupun unsur-unsur yang tidak kasatmata. Unsur yang kasatmata itu diwakili tubuh/jasmani dan yang tidak kasatmata itu disebut roh/rohani, sedangkan jiwa berada di antara keduanya.

Mari kita deskripsikan tiga unsur dalam diri manusia, yaitu roh, jiwa, dan tubuh. Roh itu adalah sumber atau tuk (bahasa Jawa) kehidupan, roh kita berhubungan erat dengan Sang Pencipta, wujudnya tidak kelihatan (maya) namun bersifat kekal. Sedangkan jiwa itu adalah kekuatan untuk memproses dari yang tidak ada menjadi ada, dari yang rusak menjadi baik, dll. Jiwa kita merupakan perpaduan dari kekuatan pikiran, perasaan, dan keinginan (atau cipta, rasa, dan karsa), yang wujudnya berupa visualisasi atau bayangan di pikiran, yang bisa terbaca dari tindakan dan perbuatan kita, dan sifatnya bisa berubah-ubah. Dan, tubuh itu adalah hasil proses dari jiwa kita, wujudnya berupa hal-hal yang duniawi, materi, fisik, nyata, kasatmata, namun bersifat tidak kekal.

Dengan kata lain, kunci utama keberhasilan manusia dalam mengelola bumi ini tergantung pada bagaimana kemampuannya dalam mangelola jiwanya. Kemampuan yang paling penting dalam hal ini adalah bagaimana agar ia mampu memproses hal-hal yang tidak kelihatan (rohani) menjadi hal-hal yang kelihatan (tubuh/jasmani). Jiwa yang sehat dan selaras dengan semesta raya ciri-cirinya bisa menciptakan yang tidak ada menjadi ada, yang rusak menjadi baik, yang sakit menjadi sembuh, yang tidak punya makanan bisa mempunyai makanan yang cukup, bahkan melimpah, dst.

Atau, dengan kata lain, jiwa seseorang sehat dan selaras dengan semesta raya adalah jiwa yang selalu mempunyai solusi di dalam berbagai situasi yang terjadi di dalam kehidupan dirinya atau orang-orang di sekitarnya.

Bagaimana mangelola jiwa, yang terdiri dari cipta (pikiran), rasa (perasaan), dan karsa (keinginan), agar bisa menciptakan segala sesuatu yang kelihatan (tubuh/jasmani) yang bersumber dari yang tidak kelihatan (rohani)? Mengenai hal ini sudah banyak dibahas oleh teman-teman sekalian di Andaluarbiasa.com. Termasuk juga telah dibahas mengenai pengelolaan fisik/tubuh/duniawi yang merupakan prioritas berikutnya setelah pengelolaan jiwa.

Berikut ada beberapa catatan yang perlu kita simak dalam kaitannya dengan pengelolaan jiwa kita, (saya berterima kasih sebesar-besarnya kepada teman saya Yosandy Lip San yang telah menulis tentang hal-hal berikut ini):

1. Berapakah jumlah sel otak manusia? Jawabannya adalah 1 triliun sel otak, yang terdiri dari 100 miliar sel aktif dan 900 miliar sel yang menghubungkannya. Jumlah sel otak manusia ini bila dibandingkan dengan jumlah sel otak lebah yaitu 1 triliun berbanding 7.000 sama dengan 142.857.143 kali lipat.

2. Otak manusia diibaratkan alam semesta. Pernyataan ini tidak berlebihan. Hal ini berhubungan dengan potensi atau kapasitas otak itu sendiri.

3. Ilmu pengetahuan berhasil membuktikan bahwa kualitas elektromagnetik jantung (pusat perasaan) 5.000 kali lebih kuat daripada otak (pusat pikiran). Medan ini dapat diukur dengan magnetometer dengan jarak lebih dari 3 meter di luar badan fisik.

Selain itu, ada juga beberapa catatan berikut yang perlu juga kita simak bersama:

1. Siapa saja yang bisa hidup selaras dengan hukum-hukum semesta, maka ia dapat mencapai apa pun dengan usaha minimal. Karena, hukum-hukum alam akan membantunya mewujudkan tujuannya. Salah satu hukum-Nya adalah Law of Attraction (LOA), yang bekerja siang malam untuk memelihara dan menjaga keharmonisan alam semesta.

2. “Kita ini adalah hasil dari apa yang kita pikirkan. What you have become is what you have thought,” demikian Sang Buddha.

3. “Manusia adalah apa yang ia pikirkan sepanjang hari,” demikian Ralp Waldo Eemerson.

4. “Tak seorang pun yang berkata bahwa kesulitan tidak pernah menimpanya. Tak ada orang yang berkata hidupnya tidak pernah mengalami kesusahan. Tetapi setiap saat kita dapat menikmati hidup ini dengan cara yang berbeda, namun selaras alam, yaitu dengan cara selalu bersyukur,demikian Hua Ching Ni.

5. “Perubahan terbesar dalam generasi kita adalah pada saat kita mengetahui bahwa manusia dapat mengubah aspek luar kehidupan mereka dengan cara mengubah sikap yang berada dalam pikiran mereka,demikian William James.

6. “Penelitian menunjukkan bahwa para bintang super sukses melakukan pemikirannya pada tingkat gelombang otak alpha, yaitu dalam keadaan relaksasi sehingga mereka bisa menggunakan kedua wilayah otak mereka secara sinkron; otak kiri yang bersifat logis-matematis dan otak kanan yang intuitif dan kreatif. Ketika Anda belajar menggunakan dua wilayah otak secara sinkron untuk berpikir, Anda akan memulai melakukan sesuatu yang akan Anda sebut keajaiban dibandingkan saat Anda hanya menggunakan wilayah otak kiri Anda untuk berpikir. Anda akan melihat peluang-peluang yang sebelumnya bahkan tidak pernah Anda pikirkan,demikian Stephen Barnabas.

7. “Dengan mengubah cara berpikir kita, maka segala faktor eksternal yang sering menjadi atribut orang sukses akan datang dengan sendirinya bagaikan arus sungai,demikian Jennie S. Bev.

8. “Albert Einstein sering berkata bahwa teori relativitasnya muncul lebih karena pikiran yang berkelebat, bukan karena pola pikir logis yang disajikan oleh para peneliti di laboratorium yang berorientasi pada data. Walaupun selanjutnya teori itu dimatangkan dengan berbagai studi dan perenungan. Tetapi, faktor awal yang paling menentukan dalam penemuan teori ini adalah intuisi,demikian Mortimer R. Feinberg dan Aaron Levenstein.

9. Often you have to rely on your intuition. Sering kali Anda harus bersandar pada intuisi Anda,” demikian Bill Gates.

10. “Ada metoda untuk mempertajam intuisi, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Makin sering digunakan, intuisi juga akan semakin tajam,demikian Richard Wiseman.

Sebagai penutup, saya mengucapkan selamat kepada pembaca sekalian karena Anda Memang Luar Biasa! Terima kasih, semoga bermanfaat.[dwi]

* Dwiatmo Kartiko bersama teman-teman mengelola Kelompok pengembangan SDM di Yogyakarta, dengan nama Kelompok Karunia Semesta (KKS), kegiatan utama kelompok ini melayani masyarakat yang bermasalah dengan sosial-ekonominya serta memberi pelatihan mind-set untuk kesejahteraan dan leadership. Ia bisa dikontak melalui HP/SMS: 08157933667 atau 08886829663, pos-el: bioaccess98[at]yahoo[dot]com atau tim_karunia[at]yahoo[dot]com, dan web: http://karuniasemesta.indonetwork.co.id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 4.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox