Mengontrol “Puncak” dan “Lembah” Kehidupan Sendiri

drOleh: Dewi Rhainy*

Pada suatu senja di New York, Michael Brown bergegas menemui seseorang yang—menurut temannya—mungkin dapat membantunya mengatasi kesulitan yang tengah dihadapinya. Pada saat dia melihat Ann Carr, dia terkejut karena tadinya dia berharap akan menemui seorang wanita yang terlihat penuh beban. Karena, dia tahu Ann Carr juga tengah mengalami masa yang berat. Ternyata, Ann Carr yang dia lihat adalah wanita yang terlihat ceria dan penuh energi.

Micahel Brown lalu bertanya pada Ann Carr, mengapa wanita itu terlihat baik-baik saja walaupun sedang ditimpa kesusahan. Lalu, Ann Carr menjawab bahwa setahun sebelumnya dia mendengar sebuah cerita. Dan, cerita itu mengubah cara pandangnya tentang masa-masa susah dan masa-masa senang. Cerita itu juga membuatnya menjadi tenang dan lebih sukses, dalam keadaan apa pun.

Bagian-bagian berikutnya dari buku ini berisi cerita Ann Carr tentang seorang pemuda yang tinggal di lembah dan seorang Pak Tua yang tinggal di puncak. Sang pemuda yang merasa tidak bahagia tinggal di lembah, sampai dia berjumpa dengan seorang lelaki tua yang tinggal di sebuah puncak.

Sang pemuda yang hanya mengenal lembah sebagai tempat tinggalnya dari kecil, merasa tidak bahagia—walaupun dia tidak tahu pasti apa alasannya—sampai suatu saat dia memandang ke barisan puncak gunung yang berdiri anggun di atas lembahnya, dan bertekad untuk pergi ke puncak. Teman-teman dan orang tuanya melarang pemuda itu pergi dengan membahas bagaimana sulitnya mencapai puncak, dan betapa nyamannya tetap berada di lembah. Mereka semua menahannya untuk tidak pergi ke tempat yang mereka sendiri belum pernah kunjungi.

Di dalam perjalannya inilah sang pemuda merasakan segalanya. Mulai dari harapan, perjuangan, kesenangan karena merasakan sesuatu yang berbeda, ketakutan, juga kebanggaan karena berhasil menaklukan ketakutannya tersebut.

Sampai akhirnya setelah di puncak, dia bertemu dengan Pak Tua. Dan, pembicaraannya dengan laki-laki itu, yang terlihat sangat bahagia, arif, dan bijaksana, telah memberikan suatu pencerahan bagi dirinya. Bahwasannya sudah merupakan hal yang lumrah bagi siapa pun, di mana pun, untuk mengalami masa di puncak dan masa di lembah dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadinya.

Dalam buku ini, puncak sebenarnya adalah masa ketika kita menghargai apa yang kita miliki dan lembah adalah masa ketika kita merindukan apa yang telah terlepas dari kita. Puncak dan lembah berkaitan, karena kekeliruan yang kita lakukan pada masa senang sekarang ini menciptakan masa susah di kemudian hari. Dan, kearifan yang kita jalankan pada masa susah sekarang ini juga menciptakan masa senang di kemudian hari. Kita memang tidak dapat mengontrol berbagai kejadian di luar diri kita. Tetapi, kita dapat mengontrol puncak dan lembah kita sendiri, dengan apa yang kita yakini dan lakukan.

Berbagai hal positif yang kita temukan dan gunakan pada saat susah dapat mengubah lembah kita menjadi puncak. Bagaimana kita mengelola lembah kita menentukan seberapa cepat kita akan mencapai puncak. Demkianlah, beberapa inti pembicaraan Pak Tua dengan sang pemuda, sampai akhirnya sang pemuda dapat mengatasi kesulitannya di lembah dan menjadi pemuda sukses.

Sang pemuda lalu membuat ringkasan hasil pembicaraannya dengan Pak Tua, dituliskan dalam sebuah kartu, sebagai pengingat yang sangat berguna baginya. Ringkasan itu mengingatkannya untuk lebih sering menerapkan prinsip-prinsip dan perangkat luar biasa; “Pendekatan Puncak dan Lembah”. Dan, dalam hari-hari serta bulan-bulannya berikutnya, dia mendapatkan banyak kesempatan untuk membantu orang lain dengan membagikan ringkasannya. Karena, salah satu syarat kesepakatan sang pemuda dengan Pak Tua adalah jika sang pemuda mendapatkan manfaat dari cerita-ceritanya itu, dia harus menceritakannya kepada orang lain yang membutuhkan.

Begitulah ceritanya, sampai akhirnya berpuluh tahun kemudian anak muda itu telah berubah menjadi orang tua. Dia pindah ke puncaknya sendiri tempat dia menghabiskan sebagian besar waktunya, meski kadang-kadang dia masih kembali ke lembahnya. Dengan penuh kasih dia selalu mengenang Pak Tua yang telah berbagi cara yang begitu berharga untuk mengatasi gelombang kehidupan yang dialaminya. Dia dikenal sebagai tuan rumah yang baik hati dan teman yang peduli, serta menikmati pernikahan yang bahagia dengan istri yang sangat mengasihinya.

Cerita Pak Tua dan sang pemuda inilah yang menginspirasi Ann Carr untuk mengatasi semua keruwetan yang dialaminya. Dan, Michael Brown juga berusaha untuk menerapkan cerita Ann Carr dalam kehidupannya, sampai akhirnya dia juga berhasil menyelesaikan masalah dalam pekerjaan dan rumah tangganya.

Buku karangan Spencer Johson , M.D. ini sangat bagus dan enak dibaca. Karena, alur ceritanya terasa tidak menggurui. Membacanya seperti membaca sebuah buku cerita biasa, tetapi mengandung banyak nilai kearifan di dalamnya. Poin-poin penting dalam buku ini ditulis dalam huruf indah yang diketik besar-besar dan miring. Ini membuat pembacanya lebih mudah untuk mengingat inti setiap bab.

Namun kelemahannya, kadang ‘pengandaiannya’—seperti lembah adalah masa sulit, puncak adalah masa senang, dataran adalah tempat yang menggambarkan orang-orang yang tanpa semangat, kosong—membuat kita harus “menerjemahkannya”.[dr]

* Dewi Rhainy, 18 November 1970, Ibu Rumah Tangga, Teknik Industri Universitas Trisakti, 1989, : alauddino@yahoo.com.

peaksvallesDATA BUKU

Judul : Peaks and Valleys

Penulis : Spencer Johnson, M.D.

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : Pertama (Juni 2009)

Tebal : 146 halaman

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.0/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: -1 (from 1 vote)

9 Resep Cespleng Menjadi Ibu Rumah Tangga Bahagia dan Sejahtera

drOleh: Dewi Rhainy*

Kadang-kadang, kita sebagai ibu rumah tangga ada rasa seperti ini, “Kenapa kok aku cuma begini-begini saja, ya?” Atau, “Duh, bolak-balik cuma ngurusin anak sama suami saja!” Atau lagi, “Coba kalau dulu aku tetap kerja… Ehm…pasti deh enggak kayak gini!”

Setiap muncul “sang rasa minder” itu, badan jadi lemas tak bertenaga, tak bersemangat, dan semua terlihat buruk. Dan biasanya, rumah jadi berantakan, anak-anak tidak terurus…. Malah lebih buruk lagi, penampilan jadi semerawut karena jadi malas mandi hahaha….

Hampir semua orang, di dunia ini—terutama ibu-ibu rumah tangga yang full-time mengurus rumah dan anak-anak seperti saya—pernah mengalami hal seperti ini, termasuk saya (saya tahu hal ini dari curhatnya teman-teman saya yang juga memilih profesi menjadi ibu rumah tangga). Karena minder, dulu biasanya saya menunggu sampai ada sahabat yang menegur. Saya pun harus berusaha melewati masa-masa minder dengan bersusah payah. Tetapi sekarang, tidak lagi…! Mau tahu resepnya?

Mudah-mudahan resep saya ini bisa dipakai oleh semua sahabat yang sedang merasa just the ordinary housewife. Atau, mungkin malah sahabat yang desperate housewife hehehe.… Resep ini hanya berdasarkan pengalaman saya semata. Jadi, jika terasa biasa-biasa saja atau tidak bermutu, maaf, saya hanya berusaha sedikit berbagi.

Resep pertama, jangan pernah membandingkan suami, anak-anak, dan rumah yang kita miliki dengan suami, anak-anak, dan rumahnya ibu-ibu lain. Karena seperti pepatah “rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau”, suaminya ibu-ibu lain pasti terlihat lebih ganteng dari suami kita yang setiap hari kita lihat hehehe…. Sadari bahwa suami, anak-anak, juga sahabat-sahabat Anda hanyalah manusia biasa. Mereka punya kelebihan juga punya kekurangan, sama seperti Anda.

Jadi, jangan terlalu berharap mereka akan sempurna seperti yang Anda harapkan. Maklumi saja…. Dan, yang paling penting adalah bagaimana caranya kita menjadi istri yang baik, yang dapat dipercaya oleh suami dan anak-anak, tanpa menuntut mereka terlalu banyak.

Resep kedua, jangan pernah mengeluh, karena keluhan bukannya menyelesaikan masalah, malah makin membuat kita merasa “terpuruk”.

Resep ketiga, STOP menonton sinetron! Karena, walaupun kadang berdasarkan kisah nyata, sinetron akan membuat kita makin tidak berpijak ‘di dunia nyata’. Kalaupun mau menonton televisi, cari acara-acara yang ‘positif’ seperti acaranya Oprah Winfrey mungkin. Di acara itu kadang-kadang ada cerita tentang perjuangan seorang ibu yang anaknya divonis tidak dapat berjalan, ternyata dengan keyakinan dan kerja keras serta doa sang ibu malah vonis itu tidak berlaku. Dengan kisah-kisah seperti itu, mungkin kita dapat lebih bersyukur karena ternyata ‘di luar sana’ banyak orang yang tidak seberuntung kita.

Resep keempat, perbanyaklah membaca, bukan hanya resep-resep makanan sehat yang membuat suami betah di rumah, atau membuat anak-anak sehat saja. Bukan hanya buku-buku tentang mengatur bagaimana supaya gaji suami cukup untuk dihabiskan sebulan. Tetapi bacalah juga buku-buku yang isinya ‘memotivasi’ kita untuk lebih percaya diri. Contoh, buku-buku kisah sukses ordinary people yang berubah menjadi extra-ordinary people, melalui hobi mereka menulis, hobi mereka belanja, dan lain-lain.

“Gimana mau beli buku? Wong untuk belanja lauk sehari-hari saja mesti diirit-irit?” Nah, ini dia… Jawabannya adalah pinjam sama tetangga (kayak saya). Atau, baca buku di rumah baca sambil menunggu anak-anak pulang dari sekolah. Yang lain, mendaftarlah jadi anggota perpustakaan terdekat dengan sekolah atau rumah.

Resep kelima, perbanyaklah peduli pada orang-orang yang ‘kelihatannya’ lebih susah dari kita (saya bilang ‘kelihatannya’ karena kadang yang kita lihat susah, ternyata bisa lebih bahagia). Contohnya, pembantu rumah tangga kita yang harus meninggalkan anak-anaknya di rumah untuk membantu mencuci atau membersihkan rumah kita. Resep ini hampir sama dengan resep ketiga, intinya adalah ‘menyadari bahwa ada orang lain yang lebih tidak beruntung dari diri kita.

Resep keenam, banyak bersedekah karena bersedekah membuka jalan yang tertutup. Bukannya sombong, lho! Tetapi, setelah saya bersedekah, biasanya lalu ada ‘sesuatu yang baik’ yang terjadi pada diri saya, anak-anak yang sakit jadi sembuh, dapat rezeki ‘tambahan’ yang tidak terduga, atau hal-hal baik lainnya. Lagi-lagi ini maaf, berdasarkan pengalaman pribadi saya, lho ya… Tetapi, bukankah semua agama di dunia ini menganjurkan kita untuk bersedekah/berbagi?

Resep ketujuh, buat hobi baru. Yang senang membaca, coba belajar untuk menulis. Yang senang menjahit atau memasak, coba tawarkan jahitan atau masakan ke tetangga-tetangga. Siapa tahu setelah coba-coba malah menghasilkan sesuatu. Bukan hanya meningkatkan rasa percaya diri tetapi juga menambah penghasilan.

Resep kedelapan, bergabunglah dengan kelompok-kelompok kegiatan yang anggotanya ibu-ibu rumah tangga. Atau, buat kelompok sesama ibu rumah tangga yang berhobi sama, misalnya kelompok ibu yang senang menanam, kelompok membaca, kelompok menulis, dan kelompok memasak, tetapi jangan kelompok arisan ya, hehehe…. Sehingga, kita bisa saling bertukar pendapat, bertukar pengalaman, dan saling menyemangati.

Resep kesembilan, dan ini adalah resep paling manjur (buat saya), BERSYUKURLAH kepada ALLAH. Dengan bersyukur atas segala karunia-Nya dalam setiap keadaan, susah maupun senang, semua masalah akan terasa ringan. Semua kendala pasti akan terlihat pemecahannya, semua rasa minder akan sirna, karena ternyata Allah pasti akan memberikan ‘hanya’ yang terbaik buat kita umat-Nya. Dan, bersyukurlah karena kita ditakdirkan menjadi ibu rumah tangga, yang dari tangan-tangan kitalah terbentuk generasi mendatang yang lebih baik.

Semoga resep saya manjur juga ya buat Anda. Salam Pro Ibu Rumah Tangga![dr]

* Dewi Rhainy lahir di Koln, Jerman Barat, pada 18 November 1970 dan alumnus Teknik Industri Universitas Trisakti, Jakarta. Ibu rumah tangga dengan dua orang putra-putri ini tinggal di Graha Pratama Blok V11 No.23, CitraRaya, Tangerang. Ia dapat dihubungi di pos-el: alauddino[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.7/10 (55 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +42 (from 44 votes)

Kalau Berdoa Jangan Ragu-Ragu!

dewi-rhainy-rOleh: Dewi Rhainy*

Setiap orang, agama apa pun yang dianutnya, pasti pernah berdoa. Kadang kala doa yang dipanjatkan kepada Tuhan, langsung terjawabkan, langsung dikabulkan. Tetapi ada juga orang – orang yang merasa doanya jarang sekali atau malah tidak terkabulkan. Sehingga, kemudian muncul pertanyaan-pertanyaan, kekecewaan, bahkan prasangka-prasangka buruk kepada Tuhan.

Dan Dialah yang menjadikan kamu khalifah di muka bumi. Dan, Dia meningkatkan (meninggikan) sebagian kamu dari yang lain, beberapa tingkat karena Tuhan hendak menguji kamu, sampai di mana kamu mempergunakan dan memanfaatkan akal pikiranmu dan lain-lain nikmat, yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. Al – AnAam , 165)

Berdasarkan ayat Alquran ini, Wuryanano sang penulis buku Mengapa Doa Saya Selalu Dikabulkan (Gramedia Pustaka Utama, 2009) meyakinkan kita, bahwa Tuhan selalu berharap kesuksesan dan kebahagiaan buat semua orang di muka bumi ini. Tuhan tidak ingin kita hidup susah. Tuhan tidak mungkin hanya “iseng-iseng” atau hanya “uji coba” membuat manusia di muka bumi. Tuhan telah memberikan “komando” bahwa manusia harus dan wajib sukses, dan kita diberikan kebebasan untuk memilih. Dengan logika inilah penulis berusaha meyakinkan pembacanya bahwa semua orang pasti dikabulkan doanya.

Lalu, kenapa masih ada saja orang-orang yang sudah berdoa, berusaha sekuat tenaga, meminta kesuksesan, kekayaan, bahkan kesehatan buat diri atau keluarganya, tetapi malah mendapat hal-hal yang sebaliknya? Sukses dan bahagia yang tidak kunjung tiba atau sakit yang tidak sembuh-sembuh? Ternyata, doa tidak bisa hanya dilakukan begitu saja. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi sehingga doa-doa terkabulkan.

Wuryanano, penulis buku ini, merasa doa-doanya SELALU dikabulkan. Dan, melalui buku ini penulis mencoba berbagi pengalaman dan pengetahuannya tentang bagaimana cara Tuhan mengabulkan doa manusia.

Ide dasarnya sebenarnya cukup sederhana. Menurut penulis, setiap orang yang berdoa—dan semua doa sudah pasti memohon/meminta kebaikan, kesuksesan, kebahagiaan—pasti akan dikabulkan oleh Tuhan. Dan, semua doa akan terkabulkan jika semua orang yakin bahwa Tuhan memang mewajibkan kita untuk sukses atau bahagia. Lalu, setiap orang wajib untuk berusaha mewujudkan kesuksesannya, karena doa memang perlu dilanjutkan dengan tindakan nyata.

Buku ini mengajak kita untuk mengenal diri kita melalui konsep dasar nasib, memahami diri kita sendiri secara lebih baik, mengetahui “tempat” kita yang sebenarnya, dan menerima diri kita sepenuhnya. Buku ini juga mengajak kita untuk menentukan tujuan hidup kita dan membuat rencana-rencana pencapaian tujuan. Karena sesungguhnya, setiap orang berkuasa untuk menentukan pilihan hidup masing-masing. Dengan memahami diri kita sendiri, lalu kita berusaha selalu berpikiran positif. Maka sesungguhnya, doa atau harapan-harapan setiap manusia akan tercapai.

Lalu, mengapa ada doa yang tidak terkabulkan? Ketidakyakinan dan keraguanlah yang membuat sebuah doa tidak terkabulkan. Karena, keraguan itu sendiri juga sudah merupakan suatu doa.

Wuryanano, yang sebelumnya sudah menulis buku The Touch of Super Mind, Super Mind for Succesfull Life, dan The 21 Principles to Build and Developfighting Spirit, berusaha menyampaikan kepada pembaca bahwa kekuatan pikiran, baik positif maupun negatif, ternyata sangat berpengaruh terhadap terkabulnya suatu doa. Oleh karena itu, berdasarkan pengalaman pribadinya, disusunlah langkah langkah dan tahapan-tahapan—yang kemudian dituangkan ke dalam buku ini—sehingga diharapkan setelah membacanya setiap orang dapat mewujudkan doa-doanya.

Langkah-langkah seperti: jangan cuma percaya bahwa kita berkuasa atas kehidupan, bersyukur karena segala sesuatu pasti memiliki arti, mau berkorban, melakukan perbaikan diri, lalu mengevaluasi diri kembali, mengembangkan pikiran bahagia, menjaga keseimbangan ‘roda kehidupan’, selalu meluangkan waktu untuk berpikir, dan pikirkan hanya masa depan bukan masa lalu, merupakan langkah-langkah untuk menguasai kehidupan.

Setelah menguasai kehidupan, sentuhan Super Mind juga dapat membantu untuk bereaksi lebih cepat dan menyerap informasi lebih banyak. Pada akhirnya, hal tersebut dapat meningkatkan kemampuan berpikir sehingga akan lebih memudahkan kita dalam meraih dan mendapatkan keinginan atas pilihan-pilihan hidup kita sendiri.

Kesan lain adalah cover buku ini, yang dibuat tidak tegak seperti cover buku lain pada umumnya, ternyata membuat buku ini terlihat menarik.[dr]

* Dewi Rhainy lahir di Koln, Jerman Barat, pada 18 November 1970 dan alumnus Teknik Industri Universitas Trisakti, Jakarta. Ibu rumah tangga dengan dua orang putra-putri ini tinggal di Graha Pratama Blok V11 No.23, CitraRaya, Tangerang. Ia dapat dihubungi di pos-el: alauddino[at]yahoo[dot]com.


bk-wuryananoDATA BUKU

Judul : Mengapa Doa Saya Selalu Dikabulkan (Memahami Keajaiban Doa)

Penulis : Wuryanano

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : Pertama (Maret 2009)

Tebal : 140 halaman

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.2/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +5 (from 5 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox