Siswandi, Bukan Guru Biasa

dkaOleh: Deni Kurniawan As’ari*

Siswandi, seorang guru sekaligus kepala sekolah, ini merupakan salah satu Pembina Agupena (Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia) Jawa Tengah. Ia lahir di sebuah desa yang sepi, pada tanggal 4 Juni 1959, tepatnya di desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas. Ayahnya bernama Hadi Aswan (Mantan Guru) dan ibunya Suprihatin. Menurut ibunya, Siswandi saat lahir memiliki tubuh yang amat kecil dan kurus sehingga sering dijuluki seekor kucing kecil. Anak kedua dari delapan bersaudara (empat orang meninggal dunia) ini memiliki semangat kepenulisan yang luar biasa dan perlu ditiru oleh segenap keluarga besar Agupena.

Berlatih Menulis

Siswandi mulai belajar menulis artikel saat ia sudah masuk semester dua di SPG (Sekolah Pendidikan Guru) Muhammadiyah, Purwokerto. Awal konsep ditulis tangan, setelah itu diketik di balai desa Kaliori atau meminjam mesin ketik milik SD Kaliori 1. Biasanya ia mengetik pada hari Sabtu sore sampai Minggu siang. Konon, mengetik naskah selembar saja harus menghabiskan waktu hampir dua jam. Setelah naskahnya selesai, kemudian ia kirimkan ke Redaksi SKM (Suara Karya Minggu) Jakarta dengan perangko biasa sebesar Rp 50 kala itu.

Menurut penuturannya, “Entah berapa puluh naskah yang dikirimkan ke Redaksi Suara Karya Minggu, namun tak pernah terpampang tulisannya, di setiap edisi terbaru.” Ia juga rajin menulis puisi, artikel remaja, dan gambar vignette, tetapi berbulan-bulan tetap tak ada satu pun tulisannya yang dimuat.

Dengan kenyataan tersebut, teman dekat sekolahnya, Bambang sempat berujar, ”Buat apa kirim tulisan terus kalau tidak dimuat? Sudah payah, pusing, uang untuk beli perangko melayang sia-sia. Untuk beli bakso jelas ada gunanya.”  Mendengar kata-kata temannya itu, Siswandi sungguh merasa sedih dan sakit. Ia katakan, “Seperti ditusuk ribuan jarum.”

Namun, bukan Siswandi namanya kalau harus patah semangat. Ia terus menulis dan menulis sampai akhir kelas 3 SPG. Namun rupanya, “dewi fortuna” masih belum mau menghampirinya, sehingga sampai kelas 3 SPG itu tidak ada satu pun naskah yang dimuat. Sekali lagi, ia tidak putus asa dan sempat terhibur ketika mendapat informasi melalui kontak pembaca SKM bahwa setiap minggunya ada sebelas ribu naskah yang masuk ke redaksi, dan berarti  banyak teman lainnya yang ditolak dan  memiliki nasib yang sama.

Akhirnya Siswandi banting setir karena gagal terus di SKM. Ia memilih berlatih mengarang menggunakan bahasa Jawa. Ia menulis dongeng untuk koran berbahasa Jawa, namanya Parikesit yang diterbitkan di Solo. Rupanya, dari sinilah debut kepenulisan Siswandi dimulai ketika naskah dongengnya dimuat dalam satu halaman penuh. Betapa bahagianya Siswandi kala itu karena mendapat honor Rp 500 yang setara dengan harga bakso lima mangkuk. Dia pun mendapat uacapan selamat dari keluarga dan teman-temannya.

Kesuksesan pertama ternyata menjadi pendorong Siswandi untuk terus menulis. Selanjutnya, ia menulis lagi beberapa dongeng yang dikirim ke Majalah Jawa Penyebar, hasilnya naskahnya kembali dimuat dan selanjutnya setiap naskah yang dikirim ke Parikesit pun hampir setiap minggu dimuat.

Debut Kepenulisan

Bakat dan kemampuan kepenulisan Siswandi terus diasah, termasuk ketika pertama kali mendapat tugas sebagai guru SD di tempat terpencil, tepatnya SD Negeri Cikakak 4 (6 km jalan kaki dari ibukota kecamatan). Di rumah dinas guru, Siswandi menghabiskan masa mudanya untuk mengajar siswa sekaligus mengembangkan bakat kepenulisanya di tempat yang sepi dan sunyi. Mengingat di sekolahnya belum ada mesin ketik, maka Siswandi membuat konsep tulisan tangan untuk kemudian diketik di rumah. Ia merencanakan kalau sudah mendapat gaji pertama akan membeli mesin ketik.

Bulan pertama, Siswandi berhasil menyelesaikan cerita bersambung bahasa Jawa dengan judul Ati Kang Keri (Hati yang Tertinggal). Cerita itu dimuat secara bersambung di koran Parikesit. Koran itu oplahnya besar karena hampir semua SD di Jawa Tengah dijatah untuk berlangganan.

Naskah Siswandi akhirnya sering muncul dan membuat honornya semakin banyak. Sebelum rapel gaji ia terima, ia sudah berhasil membeli mesin ketik merek Fish yang harganya Rp 27.000 pada awal tahun 1980. Honor penulisannya datang silih berganti dari berbagai penerbitan. Konon, ia tidak pusing lagi dengan masalah keuangan karena belum gajian pun duitnya masih banyak.

Tempat mengajarnya yang sunyi dan terpencil itu seolah membawa hoki tersendiri, karena dari sana lahir berbagai karya Siswandi. Inspirasinya terus mengalir dan mengalir bagaikan air sungai. Aktivitasnya adalah mengajar dan mengetik naskah. Sampai tiba saatnya, SKM yang dulu selalu menolak tulisannya, akhirnya luluh tak berdaya dan mau menerbitkan karyanya.

Sejak itulah Siswandi mulai dikenal dan menjadi pembicaraan orang banyak, terutama di wilayah Wangon. Hampir setiap minggu rekan sejawatnya membaca tulisannya. Sebagian honor tulisannya digunakan untuk mentraktir makan bakso teman-temannya dan jalan-jalan ke Purwokerto.

Siswandi, dari Lomba ke Lomba

Setelah sukses menulis di media, Siswandi yang telah lama menjadi guru mencoba peruntungannya dengan mengikuti lomba. Ia mulai mengikuti lomba atas desakan Kepala Dinas Pendidikan Wangon, saat itu tahun 1992. Waktu itu ada pengumuman lomba mengarang cerita anak berbahasa Jawa yang diadakan oleh Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Akhirnya, “dewi fortuna” itu mau mendekatinya. Dengan judul naskah Langite Biru Resik (Langit Biru Bersih) ia berhasil menjadi pemenang pertama setelah menunggu pengumuman selama tiga bulan. Hadiahnya berupa Tabanas sebesar gaji selama satu bulan ditambah tropi.

Tahun berikutnya, Siswandi megikuti lomba yang sama dan berhasil menjadi juara dua. Menurut Siswandi, “Saya senang membaca majalah Jawa sejak SMP.” Sehingga, kebiasaan itu menjadi modal tersendiri dalam memenangkan perlombaan.

Tahun 1993 Siswandi kembali mengikuti lomba dan kali ini lomba mengarang guru tingkat nasional. Awalnya, dia tidak mau iku karena merasa kurang percaya diri karena dari Banyumas belum ada satu pun guru yang berhasil menjadi pemenang.

Bukan Siswandi namanya kalau tidak mencoba. Akhirnya, Siswandi menulis karangan yang berjudul Pelangi di Atas Taman Hati. Dan sungguh menggembirakan, karyanya masuk final enam besar dan harus ikut bertanding di final yang diadakan di Jakarta. Lomba itu akan dibuka langsung oleh Mendikbud kala itu, Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro.

Siswandi memang bukan guru biasa. Dia kembali menunjukkan kemampuannya dengan menggondol juara ketiga Lomba Mengarang Guru Tingkat Nasional dengan membawa pulang tropi dan Tabanas senilai Rp 600.000 ditambah uang transport dan jalan-jalan ke tempat rekreasi secara gratis. Padahal, gajinya waktu itu hanya Rp 275.000!

Kerinduan untuk meraih juara selalu membuat Siswandi makin bersemangat mengikuti lomba mengarang. Pada bulan Maret 1994, ia mendapat brosur tentang Sayembara Penulian Naskah Buku Bacaan dari kantor Depdikbud Kecamatan Wangon. Semangat menulis Siswandi memang tiada duanya. Saat itu ia langsung menulis naskah buku dan hanya membutuhkan waktu tiga hari untuk menyelesaikannya. Naskah kali ini diberi judul Lambaian Seribu Bunga, dan lagi-lagi Siswandi beruntung karena berhasil menjadi juara ketiga dengan hadiah sebesar Rp 750.000.

Setahun meraih Tiga Gelar Juara

Tak puas dengan prestasi yang telah dicapai, Siswandi terus mengikuti lomba. Tahun 1995 ia mengikuti lagi sayembara penulisan naskah buku bacaan dengan pilihan buku bacaan fiksi SD. Dengan menulis cerita mengambil setting perkampungan nelayan dengan tokoh utamanya Gunawan dan diberi kudul Senandung Ombak. Untuk karya kali ini berhasil mendapat juara harapan kedua dengan hadiah Rp 1.000.000.

Boleh jadi, tahun 1995 itu menjadi tahun keberuntungan bagi Siswandi karena berhasil menggaet juara sampai tiga kali berturut-turut. Selain juara harapan nasional, juga masuk nominasi Provinsi Jawa Tengah dan mendapat hadiah Rp 1.250.000 ditambah juara kedua mengarang cerita anak berbahasa Jawa tingkat provinsi Jawa Tengah.

Keberuntungan Siswandi berikutnya, buku Senandung Ombak tak lama kemudian terbit dan Siswandi mendapat royalti Rp 5.400.000. Menurut penuturannya, “Dengan satu buku itu saya bisa membangun dapur keramik, kamar mandi, dan ruangan tingkat dua ukuran 3 x 6 meter.”

Masih banyak prestasi kepenulisannya lainnya yang berhasil dia raih. Namun karena banyaknya, maka penulis akhiri sampai di sini. Pelajaran yang dapat dipetik adalah bahwa menulis merupakan keterampilan yang perlu diasah dan dikembangkan terus-menerus. Sosok Siswandi ini barangkali bisa menjadi spirit bagi kita untuk terus belajar menulis. Selamat untuk Pak Siswandi atas capaian prestasinya. Dan, terima kasih atas kesediaanya untuk berbagi.[dka]

* Deni Kurniawan As’ari adalah Ketua Umum Agupena, Jawa Tengah. Sejak masa mahasiswa hingga sekarang, ia aktif di berbagai organisasi kependidikan, pelatihan, dan kepanitiaan. Ia pernah menjadi juara 1 Lomba Karya Tulis Pendidikan Tingkat Nasional, PC Al Irsyad, Surabaya, tahun 2003. Sejumlah tulisan sering dimuat di Pikiran Rakyat, Radar Banyumas, Suara Merdeka, Bhinneka Karya Winaya, Suara Guru, Pendidikan, serta di jurnal maupun media online.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 3 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox