Kapan Terakhir Anda Mengatakan I Love you kepada Pasangan?

dkOleh: Daniel Kurniawan.*

Demikian pertanyaan yang saya lontarkan kepada peserta ketika memulai sebuah diskusi mingguan keluarga. Tanpa memerlukan waktu yang lama, saya sudah mendapatkan banyak jawaban. Beberapa jawaban yang diberikan:Barusan tadi pagi”, “Sudah lupa, tuh”, “Seminggu yang lalu, “Ketika pacaran, “Dua puluh tahun yang lalu”.

Bila saya memerhatikan, rata-rata pasangan tampak harus berpikir cukup panjang untuk memberikan jawaban. Entah kenapa, kata-kata yang sering kita ucapkan ketika pacaran seperti ditelan bumi. Sulit sekali untuk mengatakannya. Terasa kata “I love you” ini menjadi sesuatu hal yang sangat langka di dalam hubungan suami istri. Tidak jarang terasa hambar. Coba bayangkan ketika Anda masih pacaran. Begitu banyak kata-kata bombastis dan fantastis yang sering diucapkan ketika menyatakan perasaan cinta kepada pujaannya.

Hal ini juga saya katakan kepada pasangan Agus dan Anita (bukan nama sebenarnya). Ketika mereka meminta pendapat saya,Apakah ada tip untuk menambah keharmonisan hubungan keluarga?” Sebenarnya, tidak ada tip khusus. Saya hanya menyarankan supaya mereka memperbaiki kata-kata yang selama ini mereka pakai untuk berkomunikasi. Khususnya kata-kata yang sering mereka pakai dalam menyatakan cinta. Setiap hari, setiap waktu, dan di mana pun mereka berada.

Coba kita ubah kata-kata kita. Kesampingkan dulu perasaan egois kita. ”Ma, semakin hari kok aku semakin mencintaimu? Ma, kamu adalah wanita terbaik bagiku. Ma, kamu kok tahu seleraku aja? Ma, I love you….” Anda dapat mencoba dengan menggunakan kata-kata sendiri yang dapat membangkitkan memori cinta kepada pasangan.

Coba perhatikan saat hubungan kita mulai menjadi kaku. Itulah saat yang paling TEPAT bagi kita untuk mulai membanjiri pasangan kita dengan kata-kata cinta.

Begitu sederhana, bukan? Mengapa kita malas, egois, kurang berani mengatakannya, kurang tulus memuji, dan tidak jujur terhadap diri sendiri maupun pasangan? Akibat itu semua, hubungan kita terhadap pasangan menjadi kaku seperti robot. Mari mulai sekarang, kita harus berani mencoba kembali membina hubungan kita dengan menggunakan kata-kata cinta yang benar-benar tulus dari hati![dk]

* Daniel Kurniawan adalah alumnus Teknik Elektro Universitas Tridinanti. Ia berprofesi sebagai Personal Development and Mindset Coach yang juga merupakan seorang pembicara, trainer, motivator, dan penulis yang memfokuskan diri untuk pengembangan pola pikir manusia dengan pendekatan NLP. Ia memberikan pelatihan di berbagai perusahaan nasional/multinasional, kampus-kampus, yayasan sosial, dan sejumlah organisasi lainnya. Ia dapat dihubungi melalui nomor Hp: 0815 328 53 889, pos-el: kata_ajaib[at]yahoo[dot]co[dot]id, atau blog pribadinya di http://danielkurniawan.wordpress.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Nilai Sebuah Sepatu

dkOleh: Daniel Kurniawan

Pernah menonton film yang berjudul Children of Heaven? Film ini diproduksi oleh negara sahabat kita, yaitu Iran. Cerita film ini sangat menguras emosi penonton. Diceritakan bagaimana perjuangan seorang anak lelaki bernama Ali. Dia ingin mengganti sepatu adiknya, yang tidak sengaja dihilangkannya. Akibatnya, setiap kali mau pergi sekolah, sang kakak harus menunggu adiknya dulu pulang sekolah untuk bergantian memakai sepatu. Masalah muncul, Ali selalu terlambat. Mempunyai sepatu baru merupakan jalan keluar terbaik bagi mereka berdua.

Akhirnya, Ali mempunyai kesempatan untuk memiliki sepatu baru dengan mengikuti perlombaan lari di sekolah yang mana hadiah untuk pemenang ketiga adalah sepasang sepatu. Singkat cerita si kakak berhasil menjadi juara, tetapi bukan juara ketiga melainkan juara pertama. Si kakak kecewa karena juara pertama hadiahnya bukan sepatu.

Dalam film ini diajarkan sebuah proses perjuangan bagaimana seorang anak lelaki mempunyai sebuah tujuan. Sepatu baru. Hasil yang dicapai jauh lebih baik. Tetapi dia kecewa. Mengapa? Karena, tidak sesuai dengan tujuannya. Sesuai bunyi sebuah kata bijak, ”Arah lebih penting daripada kecepatan.” Memiliki sepatu baru adalah arah yang mau dicapai si anak lelaki tersebut, bukan juara. Lain halnya bila dia mau mengejar juara, tentu saja hadiah apa pun yang diterimanya pasti oke. Karena, arahnya kepada prestasi, bukan hadiah….

Tetapi, apabila kita mempunyai sebuah tujuan, apakah sudah berarti kita bisa sukses? Jawabannya, belum tentu. Tujuan penting. Tanpa adanya suatu tindakan maka tujuan tersebut menjadi sia-sia belaka.

Belum lama ini kami memberikan pelatihan bagi anak-anak prasejahtera di Bumi Cibodas, Puncak. Salah satu tujuan yang ingin dicapai adalah para peserta bisa menentukan tujuannya. Karena si Eyang Putri, si pemilik dan pengurus panti asuhan ini ingin supaya para cucunya ini bisa mandiri dan bisa mewujudkan cita-citanya. Fondasi awal untuk membuat sebuah tujuan adalah kita harus mempunyai sikap mental yang kuat, seperti berani gagal, berani percaya diri, total, dan optimis.

Maka, tercetuslah sebuah ide. Pelatihan dimulai dengan memperdengarkan lagu kebangsaan, Indonesia Raya. Memang benar saat lagu dikumandangkan, tidak ada satu pun di antara mereka memberikan hormat. Bahasa tubuhnya santai, cuek bebek. Ada yang masih ketawa-ketiwi. Dan, lebih parah lagi tidak ada satu pun di antara mereka yang menyanyikan syair lagu Indonesia Raya. Sangat hebat anak zaman sekarang. Lagu kebangsaan diperlakukan seperti sebuah lagu pop atau dangdut. Pertanyaanya, apakah mereka tidak hafal? Pasti, jawabannya TIDAK! Karena, lagu ini merupakan lagu wajib yang sudah ribuan kali mereka dengar sejak dari awal masuk sekolah taman kanak-kanak.

Bagaimana ini bisa terjadi? Jawabannya, SIKAP mereka masih lemah. Begitu melihat gejala awal seperti ini kami langsung menekankan tujuan training ini adalah proses penanaman sikap mental yang kuat. Baik melalui ceramah maupun permainan yang kami rancang untuk memudahkan proses penanaman sikap mental tersebut. Tugas kami menjadi lebih ringan ketika hambatan yang selama ini menghantui mereka berhasil kami bongkar. Istilahnya adalah blok mental. Betul sekali. Apabila blok mental ini tidak bisa kita bereskan, mereka sulit berubah. Blok mental ini terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan sejak kecil sampai dengan umur mereka saat ini, yang mana kebiasaan yang terbentuk itu bisa jadi berasal dari lingkungan, keluarga, adat istiadat, atau sekolah.

Pada hari kedua, proses perubahan pun terlihat. Mereka bangun pagi sesuai dengan jadwal. Lebih disiplin. Ya, ini baru awal bagi mereka. Kemudian kami baru mengajarkan kepada mereka bagaimana membuat sebuah tujuan. Dalam membuat sebuah tujuan diperlukan suatu keyakinan untuk memulai. Mulailah tujuan kecil dulu, istilahnya start small but think big. Contohnya, ya film Children of Heaven yang mana tokohnya ingin memiliki sepatu baru. Lakukan secara bertahap, sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi gunung. Setelah itu barulah meningkat ke tujuan yang lebih besar.

Dan, penting juga memiliki prioritas tujuan. Tanpa adanya prioritas mana tujuan yang mau didahulukan, pikiran kita menjadi bingung. Ingat, kekuatan fokus sangat berperan di sini. Bila kita fokus maka energi yang kita gunakan bisa total. Energi fokus ibaratnya mengarahkan sebuah kaca pembesar pada satu titik. Terus-menerus kita lakukan pada titik tersebut maka kertas pun bisa terbakar. Prioritaskan tujuan berdasarkan waktu dan kepentingannya. Rencanakan sekarang juga tujuan Anda.

Kunci yang paling penting adalah tindakan. Tanpa tindakan itu hanya sia-sia belaka. Apakah Anda pernah mempunyai sebuah ide? Mungkin sebuah ide yang sederhana, seperti memiliki sebuah sepatu baru. Ide akan sia-sia bila hanya di pikiran saja. Ali mempunyai ide mengganti sepatu adiknya, dan dia langsung bertindak mewujudkan idenya. Ikut lomba adalah satu tindakannya. Walaupun hasil akhir belum sesuai dengan tujuannya, tidak masalah karena yang penting dia sudah bertindak.

Ada tiga orang tukang batu ditanya mengenai pekerjaan mereka. Tukang batu pertama menjawab, ”Aku sedang menyusun sebuah dinding.” Tukang batu kedua menjawab, ”Aku sedang mencari nafkah untuk hidup.” Dan, pertanyaan yang sama pun dilontarkan kepada tukang batu ketiga yang menjawab, ”Aku sedang membangun gedung tertinggi di kotaku.”

Pertanyaannya, Anda pilih yang mana dan apa alasannya?[dk]

* Daniel Kurniawan adalah alumnus Teknik Elektro Universitas Tridinanti. Ia berprofesi sebagai Personal Development and Mindset Coach yang juga merupakan seorang pembicara, trainer, motivator, dan penulis yang memfokuskan diri untuk pengembangan pola pikir manusia dengan pendekatan NLP. Ia memberikan pelatihan di berbagai perusahaan nasional/multinasional, kampus-kampus, yayasan sosial, dan sejumlah organisasi lainnya. Ia dapat dihubungi melalui nomor Hp: 0815 328 53 889, pos-el: kata_ajaib[at]yahoo[dot]co[dot]id, atau blog pribadinya di http://danielkurniawan.wordpress.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox