
Oleh: Avanti Fontana*
Tulisan saya kali ini untuk menanggapi komentar balik Zee Cardin (16/09/09) atas artikel yang saya tulis untuk www.AndaLuarBiasa.com berjudul “Lenturkan Tubuh Inovasi Organisasi Anda!”. Komentar Zee yang sudah diedit ala kadarnya bunyinya begini:
“Mencermati senam-senam inovasi yang dijabarkan, kurang menarik dan menantang bagi organisasi yang sedang menikmati ‘mentari hangat’ kejayaannya. Mereka mungkin sudah terlalu tambun untuk menyadari betapa berat tubuh organisasinya perlu dirampingkan sebelum dapat melakukan senam-senam kelenturan organisasi untuk dapat mengkuti arus perubahan pasar dan global. Mungkin organisasi yang sudah terlalu tambun dan jaya ini sebaiknya dibuatkan suatu progam ‘diet’ dan olahraga otot yang lebih berat untuk mengurangi lemak organisasi yang bergelambir dan membuat lamban untuk bergerak. Mungkin didahului dengan fokus pada anggota-anggota ujung tombak organisasi—bagian penjualan dan pemasaran—buatkan program latihan yang lebih berat seperti ’sepak bola’ target, di mana di antara mereka dilempar satu target utama dengan skala kerumitan tinggi untuk memicu mereka untuk berebut, bekerjasama, dan membuat goal ‘target’ yang cantik bagi ‘team work’ mereka. Tempatkan seorang ‘kapten’ dari salah seorang pucuk pimpinan, sebagai penganalisis dan pengatur serangan yang terarah dan efektif. Harapannya latihan yang keras dan khusus bagi anggota-anggota terpilih ini dapat ditularkan pada seluruh bagian ‘tubuh’ organisasi. Teruslah berlari dan fokus pada tujuan.”
Membacanya, pikiran saya dibawa menerawang kepada metafora-metafora yang dipakai Zee untuk menggambarkan pentingnya latihan otot yang lebih berat lagi agar inovasi dalam perusahaan dapat dilaksanakan dan berhasil. Saya membayangkan dan berkata, “Kalau begitu, senam-senam saja tidak cukup untuk melenturkan otot-otot inovasi perusahaan yang sudah lama terlena oleh kejayaannya dan menjadi ‘malas’ atau ‘lupa’ bahwa kejayaan perusahaan tidak akan lama bila perusahaan tidak melakukan perubahan atau berubah dan melakukan inovasi. Ya, senam-senam saja tidak efektif jika tidak didahului dengan detoksifikasi tubuh organisasi yang kemudian diikuti dengan diet ‘makanan-makanan’ tertentu, dan tetap latihan-latihan atau senam-senam tertentu, aerobik misalnya.”
Metafora detoksifikasi dalam inovasi dapat digunakan untuk menggambarkan proses pembuangan racun-racun dalam tubuh yang cenderung atau akan menolak inovasi. Seperti misalnya kecenderungan mengatakan “Kita masih yang terbaik”; kecenderungan berpikir negatif dan pesimistis terhadap inovasi (tanpa inovasi kita bisa); kecenderungan bekerja sendirian dan bersaing tanpa etika; gaya manajemen top-down; organisasi sangat mekanistik; organisasi lebih mementingkan hasil daripada proses; motivasi eksternal mendominasi organisasi; organisasi menganggap orang-orang atau anggota organisasi sebagai pekerja tanpa perasaan dan tidak butuh sentuhan manusiawi; rendahnya daya kreativitas orang-orang dalam organisasi; mementingkan hasil jangka pendek; suka mencari jalan pintas; korupsi-nepotisme; tidak senang bekerja sama dalam tim; “malas” melihat perilaku konsumen dan berbicara dengan mereka; senang berada pada situasi mapan-terlena; dan lain sebagainya.…
Anda mungkin bertanya, “Bagaimana melakukan detoksifikasi ini, mengurangi bahkan menghilangkan racun-racun dalam tubuh organisasi, agar ia dan orang-orangnya siap melakukan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan perusahaan?”
Lebih dari sembilan perusahaan yang saya teliti melakukan detoksifikasi tubuh organisasi mereka dengan cara diet “makanan-makanan” dan perilaku-perilaku tertentu. Bermati-raga. Contoh diet untuk detoksifikasi yang dilakukan antara lain:
1. Kepemimpinan untuk inovasi. Ada dan menerapkan kepemimpinan yang andal, menginsipirasi, dan visioner dengan banyak memakai pendekatan bertanya alih-alih memerintah atau mengarahkan.
2. Strategi inovasi. Strategi perusahaan jelas, fokus, selaras dengan visi dan misi perusahaan maupun tujuan-tujuan strategis yang spesifik, dapat diukur, dapat dicapai, realistis, dan bertenggat waktu. Arah jelas. Fokus dan tepat sasaran.
3. Kredibilitas. Karakter dan kompetensi yang tepat untuk inovasi membantu dan mengatur struktur tubuh organisasi yang mau berinovasi. Karakternya: penuh integritas, tidak ada agenda tersembunyi, dan jujur. Kompetensinya: punya kemampuan, keterampilan, rekam jejak baik, dan performa yang kontinu.
4. Struktur pola komunikasi. Berkomunikasi dalam banyak arah dan melibatkan banyak pihak.
5. Sistem imbal jasa: sifatnya yang melibatkan, mendorong, dan menghargai kreativitas serta inovasi yang belum berhasil (baca: gagal) maupun yang sudah berhasil.
Diet “empat sehat lima sempurna” ini (kepemimpinan, strategi, kredibilitas, struktur pola komunikasi, sistem imbal jasa dalam manajemen manusia karya) perlu dilakukan secara teratur dan tanpa batal. Dalam 3-6 bulan, bila rutin dan intensif dilakukan, kita bisa berharap bahwa diet tersebut sudah kelihatan hasilnya, seperti:
1. Tubuh organisasi menjadi lebih ramping dan segar-cantik. Ia siap melakukan inovasi. Ia bebas dari racun, lebih dapat berpikir jernih, dan bertindak cerdas.
2. Organisasi lebih lincah, lebih cepat berlari, lebih awas mata, telinga, penciuman, maupun pendengaran. Dan, ia juga lebih cepat mendengar keluhan maupun saran konsumen, sekaligus lebih berhati-hati dalam menerima pujian.
3. Layaknya permainan atau pertandingan sepak bola baik organisasi, orang-orangnya, atau tim akan lebih piawai dan andal di lapangan pertandingan. Tak peduli apakah itu pertandingan persahabatan atau pertandingan resmi.
a. Stamina pemain (baca: anggota-anggota organisasi) luar biasa. Tahan banting.
b. Penjaga gawang andal karena kelihaiannya dalam menghalau bola (hambatan atau serangan inovasi dari “lawan”).
c. Pemain-pemain andal ada di posisinya masing-masing (right men, right places) dan sekaligus andal bila harus pindah posisi karena situasi yang tidak diantisipasi sebelumnya. Mereka fleksibel, adaptif, lincah.
d. Kapten yang inspiratif dan people-action-result-oriented memastikan semua anggota berkomunikasi dengan baik dan mampu mendukung pencapaian tujuan bersama, goal(s)! “Goal! Goal!” seru para suporter dan pemain cadangan serta pelatih (pemimpin, coach) saat melihat timnya memasukkan bola ke gawang lawan; saat melihat tim pengembangan produk menghasilkan produk yang bermanfaat bagi konsumen atau masyarakat yang dilayaninya; dan pasarnya semakin melebar karena konsumen yang belum tersentuh mencari produk dan mendapatkan; atau pasar meluas karena upaya pemasaran yang baik dan gencar yang banyak menghasilkan penjualan.
Diet untuk detoksifikasi itu perlu, bahkan harus dilakukan secara rutin untuk memperoleh hasil optimal. Yang juga penting dan kita perlu bersiap-siap, detoksifikasi yang berhasil kadang—dalam prosesnya—dapat menimbulkan efek-efek kurang nyaman, seperti “pusing kepala” yang menyimbolkan adanya pergolakan dalam organisasi; “ekskresi (pengeluaran) cair” yang menyimbolkan adanya orang-orang yang tidak tepat keluar dari organisasi; natural selection karena bertentangan, terancam, atau adanya beberapa atau sebagian orang yang “mules” karena isi “perut” diobrak-abrik—akibat sistem tubuh sedang merapikan bagian-bagian yang rusak, yang sakit, yang meracuni tubuh organisasi; dan lain sebagainya.
Detoksifikasi, diet, dan senam (DDS) untuk inovasi perlu dilakukan secara rutin dalam perusahaan. Jika tidak maka organisasi atau tubuh organisasi akan kembali ke posisi atau suasana semua: malas dan kesulitan berinovasi—atau bahkan berpikir untuk berinovasi pun tidak. Berita baiknya, DDS itu dapat diikuti dan dilengkapi dengan rekreasi-rekreasi bersama anggota organisasi atau tim-tim inovasi untuk penyegaran, ganti udara, isi yang baru, atau kreasi ulang (re-creation)!
Namun, kita juga perlu berhati-hati. Begitu banyak program detoksifikasi yang ditawarkan di pasaran. Pilihlah yang baik dan tepat sesuai dengan kondisi perusahaan. Saya sendiri menawarkan program detoksifikasi delapan hari, delapan minggu, hingga delapan bulan yang merujuk pada delapan tahap detoksifikasi dan diet delapan menu utama:
1. Tinggalkan kepemimpinan otoriter dan tidak inspiratif-visioner. Lakukan atau terapkan kepemimpinan bergaya coaching, mengayomi, memberdayakan, dan inspiratif-visioner.
2. Tinggalkan cara bekerja tanpa fokus. Bangun keunggulan manajemen proyek.
3. Tinggalkan paradigma berpikir seragam. Bangun kreativitas individu dan kelompok atau tim dalam organisasi.
4. Tinggalkan kebiasaan menghindari risiko atau mengambil risiko tanpa kalkulasi yang benar. Lakukan manajemen risiko yang terkalkulasi.
5. Tinggalkan kebiasaan bekerja sendiri-sendiri, mono-fungsi. Lakukan integrasi organisasi, antarfungsi atau lintas fungsi, dan bekerja sama.
6. Tinggalkan kebiasaan menyimpan informasi atau menganggap diri/perusahaan sudah OK, sudah pandai. Lakukan atau desain organisasi Knowledge Management, kreativitas sosial, dan meta design. Lakukan value co-creation dari berbagai sumber dan pelaku! Camkan, para konsumen adalah sumber-sumber berharga untuk inovasi. Libatkan mereka.
7. Tinggalkan kebiasaan mengkopi atau melakukan imitasi produk, barang, jasa, atau cara-cara berinovasi tanpa bertanggungjawab. Hargai karya pihak lain.
8. Tinggalkan kebiasaan hanya mengandalkan data sekunder. Lakukan survei pasar, berbicaralah dengan pelanggan, pemasok, distributor, dan lain-lain. Gunakan pendekatan yang melibatkan (engaged approach).
Detoksifikasi, diet, senam atau olah raga lainnya yang dilakukan dengan teratur pada gilirannya akan melenturkan dan menguatkan serta meluweskan otak maupun otot inovasi perusahaan. Organisasi atau perusahaan dapat juga menetapkan rutinitas “pertandingan” antartim inovasi, misalnya dalam “sepak bola” inovasi. Hal ini digambarkan oleh Zee Cardin dalam komentarnya:
“Mungkin didahului dengan fokus pada anggota-anggota ujung tombak organisasi—bagian penjualan dan pemasaran—buatkan program latihan yang lebih berat seperti ‘sepak bola’ target, di mana di antara mereka dilempar satu target utama dengan skala kerumitan tinggi untuk memicu mereka untuk berebut, bekerjasama, dan membuat gol ‘target’ yang cantik bagi ‘team work’ mereka. Tempatkan seorang ‘kapten’ dari salah seorang pucuk pimpinan, sebagai penganalisa dan pengatur serangan yang terarah dan efektif. Harapannya latihan yang keras dan khusus bagi anggota-anggota terpilih ini dapat ditularkan pada seluruh bagian ‘tubuh’ organisasi. Teruslah berlari dan fokus pada tujuan.”
Selamat menjalankan Program DDSO (Detoksifikasi, Diet, Senam/OlahRaga) untuk mempersiapkan inovasi Anda, organisasi atau perusahaan Anda, dan untuk melanggengkan inovasi menuju performa luar biasa.[af]
* Avanti Fontana, penulis Innovate We Can! adalah fasilitator dan coach untuk inovasi, pengajar dengan pendekatan Participant-Centered Learning pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Avanti dapat dihubungi di 081310182099 atau avantifontana[at]gmail[dot]com atau www.imedcoaching.com.
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]