Bahan Bakar Pekerjaan Anda

asOleh: Andrew Abdi Setiawan*

Apa yang membuat seseorang rela bekerja dalam situasi yang sulit, penuh risiko, bahkan terkadang tidak menguntungkan bagi dirinya? Apa yang membuat seseorang tahan banting ketika harus menghadapi tantangan pekerjaan yang maha berat? Itu bukan lagi soal bakat, itu bukan lagi soal talenta, tapi soal gairah! Gairah lebih penting dibandingkan suatu program atau agenda pekerjaan. Gairah menciptakan dan memelihara api semangat untuk bekerja. Dengan kata lain, gairah adalah bahan bakar pekerjaan Anda, dan saya pula!

Apa itu gairah? Apakah gairah adalah keinginan? Masih belum pas! Gairah adalah keinginan yang AMAT BESAR! Izinkan saya menggambarkannya sebagai berikut: Satu kali seorang pemuda yang sombong datang kepada filsuf Socrates. Dengan wajah menyeringai ia berkata, “Socrates yang mulia, aku datang kepadamu untuk mendapatkan pengetahuan.”

Karena melihat kesombongannya, Socrates menuntunnya ke dalam air laut setinggi pinggang. Ia bertanya, “Katakan sekali lagi, apa yang kamu inginkan?”

“Pengetahuan,” jawab pemuda itu.

Ia lalu mencengkram pemuda tadi dan menenggelamkannya selama 30 detik. “Apa yang engkau inginkan?” tanya Socrates.

“Pengetahuan!” jawab pemuda itu sambil terbatuk-batuk.

Socrates kembali menenggelamkannya, kali ini lebih lama. Sewaktu pemuda tersebut muncul di atas air, Socrates bertanya, “Apa yang kamu inginkan?”

“Pengetahuan,” kata pemuda itu sambil menarik napas sebelum ia ditenggelamkan lagi.

Untuk terakhir kalinya, Socrates kembali menenggelamkannya dan lebih lama lagi waktunya. “Apa yang kamu inginkan?” Socrates bertanya saat pemuda itu muncul di atas air lagi.

Dengan batuk-batuk dan megap-megap, ia menjawab, “Udara . . . udara! Aku membutuhkan udara!”

Lantas Socrates berkata kepadanya, “Jika kamu menginginkan pengetahuan seperti kamu membutuhkan udara, maka kamu akan mendapatkan pengetahuan itu.”

Gairah adalah keinginan yang AMAT BESAR sebesar kebutuhan kita untuk menghirup udara setiap saatnya.

Seorang penulis dan editor, Norman Cousins, berkata, “Kematian bukanlah kerugian terbesar dalam hidup. Kerugian terbesar adalah apa yang mati dalam diri kita sementara kita masih hidup.” Tanpa gairah, maka pekerjaan kita akan bersifat rutinitas dan ritualitas. Amat membosankan! Tanpa gairah, maka pekerjaan kita akan mati terlebih dahulu sebelum kita mati. Amat ironis!

Bagaimana caranya membangkitkan dan memelihara gairah dalam bekerja? Renungkan ini, masalah apakah yang ada di tempat usaha/kantor yang paling membuat Anda prihatin? Apa dampaknya bila masalah tersebut dibiarkan terus-menerus? Kemudian, bayangkan dan rasakan bila Anda bisa menjadi salah satu alat yang dipakai Tuhan untuk menjawab masalah tersebut. Be available untuk membawa solusinya. Yang terakhir, senantiasalah bergaul dengan rekan-rekan yang memiliki keprihatinan yang sama. Mengapa? Sederhana, yaitu agar gairah bekerja Anda, khusus dalam menyelesaikan suatu masalah tetap terpelihara. Selamat bergairah![aas]

* Andrew Abdi Setiawan, seorang rohaniwan di kota Surakarta. Ia sedang menggeluti pelayanannya sebagai seorang WTC—writer, trainer/teacher, counselor. Tulisan “Mitos-mitos Hidup Lajang” tadi merupakan salah satu cuplikan dari sebuah buku saku yang segera diterbitkan oleh Penerbit Kanisius dalam waktu dekat. Selain itu, lewat Penerbit Kanisius, ia sudah menerbitkan buku tentang spiritualitas Kristen dalam Lebat tetapi Tak Berbuah. Untuk berhubungan lebih lanjut, silakan kirim pos-el ke: becomingwtc[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Mitos-mitos Hidup Lajang

aasOleh: Andrew Abdi Setiawan*

Apakah hidup lajang itu mengerikan sehingga patut dihindari semua orang? Saya kira, bagi kebanyakan orang, hidup lajang memang hal yang mengerikan. Mengapa demikian? Salah satunya karena mereka termakan oleh beberapa mitos yang sudah berurat berakar dalam budaya kita. Meskipun mitos diartikan sebagai sebuah kepercayaan yang tidak benar, namun toh masyarakat tetap menerimanya.

Beberapa mitos tentang hidup lajang, antara lain: Pertama, melajang artinya tidak sempurna. Masyarakat cenderung memercayai bahwa orang yang menikah adalah orang yang mencapai kesempurnaan. Bagi mereka, adalah lebih baik menikah ketimbang tidak menikah. Apalagi dalam dunia kekristenan, kita sering mendengar ayat terkenal yang mengatakan, “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja.” Dan entah mengapa, ayat ini sering dikhotbahkan dalam konteks kebaktian pernikahan. Akhirnya, ayat tadi dimengerti sebagai perintah Allah agar semua orang menikah. Itulah sebabnya, bukan hanya masyarakat di luar gereja, tetapi warga gereja pun juga percaya bahwa hidup melajang akan membuat pribadi seseorang tidak sempurna.

Kedua, orang lajang adalah orang yang aneh atau bermasalah. Tidak jarang orang berpikir bahwa orang lajang adalah orang yang tidak lolos seleksi. Maksudnya, orang lajang mungkin sudah beberapa kali menjalin relasi namun toh tidak bisa melanjutkan ke jenjang pernikahan. Dari sini orang-orang berpikir mengapa ia tidak kunjung menikah setelah beberapa kali pacaran; lalu orang-orang mulai mengaitkan dengan kepribadiannya. Mereka menduga-duga bahwa orang lajang adalah orang yang memiliki kepribadian bermasalah sehingga tidak ada orang yang mau menikahinya. Ia adalah orang aneh di dunia ini.

Ketiga, orang lajang adalah orang yang tidak kompeten. Sebagian orang menganggap bahwa pernikahan itu seperti sebuah permainan yang membutuhkan keahlian. Mereka yang menikah dianggap berhasil menunjukkan keahlian dalam memilih dan mengikat pasangannya. Biasanya, anggapan ini lebih ditujukan kepada kaum Adam. Dalam permainan pernikahan, pria berperan sebagai pemburunya, sedangkan wanita adalah target yang diburu. Bila pria tidak menikah sampai masa tuanya, maka ia dianggap tidak kompeten untuk memburu wanita. Dengan kata lain, ia tidak kompeten dalam menjalin relasi dengan wanita.

Keempat, orang lajang adalah orang yang sulit untuk membina keintiman. Oleh karena pernikahan dipercaya sebagai hasil perjumpaan dua insan yang memiliki kedekatan emosi, maka tidak jarang orang lajang dianggap sebagai pribadi yang sulit untuk membina keintiman. Masyarakat berpikir bahwa orang lajang adalah individu yang takut menjalin kedekatan emosi, khususnya dengan teman-teman lawan jenis.

Kelima, orang lajang adalah orang yang egois. Cukup banyak orang di sekitar kita berpikir bahwa orang lajang adalah orang yang tidak mau berbagi hidup dengan orang lain. Orang seperti ini terlalu berfokus pada dirinya sampai-sampai ia tidak ingin berbagi kasih dengan orang lain, termasuk teman-teman lawan jenisnya. Misalnya, ada orang yang tidak mau menikah demi meneruskan karier atau ambisi pribadinya. Kepada orang inilah, label egois diberikan. Biasanya, mitos ini sering ditujukan kepada kaum Hawa.

Keenam, orang lajang adalah orang yang kesepian. Tidak jarang orang berpikir bahwa orang yang melajang adalah orang yang paling kesepian di dunia ini. Seolah-olah ia tidak memiliki siapa-siapa untuk berbagi cerita atau untuk menolong dirinya bila ia dalam kesusahan. Atau, siapakah yang menemani sisa hidup di masa tuanya? Rasanya, orang seperti ini hidup dalam keadaan yang mengenaskan. Itulah sebabnya, waktu saya menikah ada sebuah lagu yang pernah dinyanyikan oleh seorang penyanyi cilik. Cuplikan lagunya demikian: “Takkan mungkin kita bertahan, hidup dalam kesendirian.”

Setidaknya keenam mitos di atas sudah cukup membuat nada miring terhadap orang-orang lajang. Rasanya betapa mengerikan dan memalukan hidup lajang itu. Tidak heran bila semua mitos tadi memberikan dampak negatif pada beberapa pihak. Pihak orang tua, misalnya, akan merasa khawatir bila anaknya (terlebih khusus wanita) tidak kunjung menikah. Sampai-sampai orang tua turut sibuk mencarikan jodoh buat anaknya. Seakan-akan mereka tidak rela meninggalkan dunia ini sebelum melihat semua anaknya menikah. Sedangkan, pihak pria atau wanita lajang sendiri juga menerima dampak negatif. Tidak jarang mereka akhirnya merasa minder dengan dirinya. Mereka merasa ada sesuatu yang salah dengan kepribadiannya. Akibatnya, ada sebagian orang lajang yang merasa tertekan/stres dengan status lajangnya.

Padahal, ingat ini hanyalah MITOS! Sebuah kepercayaan yang tidak sepenuhnya benar. Waspadalahwaspadalah, kawanku![aas]

* Andrew Abdi Setiawan, seorang rohaniwan di kota Surakarta. Ia sedang menggeluti pelayanannya sebagai seorang WTC—writer, trainer/teacher, counselor. Tulisan “Mitos-mitos Hidup Lajang” tadi merupakan salah satu cuplikan dari sebuah buku saku yang segera diterbitkan oleh Penerbit Kanisius dalam waktu dekat. Selain itu, lewat Penerbit Kanisius, ia sudah menerbitkan buku tentang spiritualitas Kristen dalam Lebat tetapi Tak Berbuah. Untuk berhubungan lebih lanjut, silakan kirim pos-el ke: becomingwtc[at]gmail[dot]com

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox