Keajaiban dari Sebuah Tulisan Positif

Anang Y.BOleh: Anang, Y.B.*

Kebiasaan pamer foto lewat situs Facebook tanpa saya sadari merembet juga ke kehidupan nyata. Minggu (19/4) dengan diiringi gerimis kecil, saya ambil dua foto buah hati saya dari studio foto. Kedua foto itu memuat dua peristiwa penting bagi keluarga kami. Bingkai foto pertama memuat senyum lebar Justin—anak saya yang kedua—sedang mendekap piala pertamanya. Biarpun seorang cowok, tetapi nyatanya dia bisa memenangi lomba peragaan busana daerah di sekolahnya yang diadakan hari Sabtu, sehari sebelumnya.

Foto kedua yang saya bingkai dalam ukuran 10R adalah foto sang kakak. Usianya baru beranjak 10 tahun saat ini. Jauh lebih kalem dari adiknya, sang kakak belakangan lebih suka bermain internet dan memainkan alat musik. Kami pun sebagai orang tua semampunya menyediakan apa yang dibutuhkan anak kami ini. Satu buah keyboard Yamaha PSR -S700—biarpun bukan tipe keyboard terbaik—nyatanya cukup membuat anak pertama kami ini bersemangat menarikan jarinya di atas tuts setiap sore.

Foto yang hendak saya pasang adalah foto saat si kakak pentas di salah satu Mal. Saya sendiri yang memotretnya. Sengaja saya pilih foto dalam pose setengah badan agar wajah si kakak lebih terlihat. Dengan mengenakan gaun tanpa lengan warna putih, si kakak terlihat mantap memainkan nada-nada dari lagu “Love Story” dan “Love Theme” bersahutan dengan gesekan biola dari tiga rekan di sampingnya.

Di dinding ruang tamu, tersisa sedikit ruang untuk memasang foto si kakak. Setelah mencoba beberapa posisi, akhirnya saya putuskan memasang bingkai foto itu sedikit di atas bingkai foto lama yang sudah terpasang entah sedari kapan.

Saya baru mengetukkan palu dua kali dan paku belum menancap sempurna di dinding saat mata saya tergoda untuk melirik bingkai foto lama di bawahnya.

Deg!!

Bingkai yang sedikit berdebu itu tidak berisi foto, tetapi sebuah tulisan yang saya buat tahun 1999! Sepuluh tahun silam? Yap, benar! Tulisan terbingkai itu sengaja saya potong secara rapi dari tabloid Nakita. Kertasnya mulai menguning namun dua kolom tulisan yang mengapit foto kami (saat itu tentu saja anak kami baru satu) masih jelas terbaca. Si kakak yang sehari-hari kami panggil dengan saapan “Fanny” masih terlihat polos di foto sepuluh tahun silam itu. Rambut nyaris tak terlihat di kepala bulatnya.

Dan… judul tulisan pendek itulah yang membuat saya tercenung hingga sesaat menghentikan ayunan palu. Saya baca lirih, “MUSIK - SAHABAT SETIA FANNY”! Astaga…!

Jadi, sepuluh tahun silam—tanpa saya sadari—jemari saya telah menorehkan satu harapan, satu doa, satu impian lewat sebuah tulisan postif tentang anak kami ini! Sungguh saya sudah sekian lama tak hirau akan tuisan pendek itu. Namun ajaib! Kini impian sepuluh tahun silam, dan kepiawaiannya si kakak memainkan nada musik yang awalnya saya pandang sekadar dua bingkai kejadian yang tak berhubungan nyatanya telah terangkai dalam satu dinding yang sama! Satu dinding kokoh kehidupan yang dibangun-Nya untuk kami!

****

Sebuah kebetulankah? Bagi saya bukan.  S. Quire Rushnell, penulis buku “When God Winks” telah berhasil memaksa saya untuk memercayai satu hal. Katanya, hidup kita bukanlah suatu kumpulan dari pengalaman acak yang membawa kita bagaikan setangkai ranting yang hanyut di aliran sungai ke tujuan yang tidak diketahui. Kita adalah bagian dari sebuah rencana yang jauh lebih besar. Sebuah peristiwa kecil dan terlihat sepele, bisa jadi adalah sebuah kedipan dari Sang Pencipta sebagai pengingat atas atas yang bakal terjadi di kehidupan nanti.

Dan, bila ke dalam hidup Anda, telah disematkan-Nya sebuah talenta berupa kepiawaian membuat tulisan, mengapa Anda masih menunda-nunda untuk merangkai kata? Susunlah tulisan-tulisan yang mengalir deras dari hati bersih Anda. Memang, membuat tulisan dengan aroma positif sering kali lebih tersendat daripada menumpahkan rangkaian kata berupa kritik, hujatan, maupun keluh kesah.

Namun, kini ingatlah sebuah tulisan positif—entah kapan—akan tiba saatnya mengalirkan keajaiban-keajaiban yang bahkan Anda pun mungkin tak berani memimpikannya! Tulisan positif Anda apa pun wujudnya, tak peduli andai itu hanya empat baris pantun dalam blog pribadi Anda, bisa jadi adalah satu ranting kecil yang tersambung dalam satu pokok kehidupan yang mengantar Anda ke kehidupan yang lebih baik.

Jadi, teruslah berbagi tulisan inspiratif dan positif. Biarkan jemari Anda menjadi kepanjangan tangan-Nya dalam menyempurnakan alam semesta![ayb]

*Anang Y.B. dikenal sebagai penulis bergaya story telling. Pria ini menyebut dirinya sebagai blogger yang geografer. Menjadi geografer memungkinkan dia untuk berkeliling Indonesia dan memperoleh banyak inspirasi menulis dari catatan perjalanannya. Seluruh kisah unik dan opininya dia tuangkan dalam blog beralamat di www.jejakgeografer.com, yang kini telah memiliki lebih dari 500 cerita. Anang dapat dihubungi melalui pos-el: anangyb[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Papa “Menganggur” dan Mama Bekerja, Emang ‘Napa?

Anang YBOleh: Anang, Y.B.

Anak saya pernah tidak mendapat nilai seratus saat ulangan karena tersandung satu pertanyaan normatif. Jujur saja, pertanyaan di ulangan tersebut sangat simpel: Apa bedanya tugas seorang ayah dan seorang ibu? Tentu saja dengan polosnya anak saya menuliskan apa yang selama ini dia saksikan. Mama bekerja mencari nafkah sedangkan papa mengasuh anak di rumah. Hahaha….

Tentu saja, bu guru tidak bisa disalahkan saat membubuhkan coretan garis panjang pada jawaban anak saya tersebut. Itu hak dia. Emang siapa yang bikin soal? Ya, begitulah norma normal yang masih dipegang teguh oleh sebagian besar masyarakat kita. Yang namanya suami, ya mestinya cari nafkah (dengan kerja kantoran), sedangkan istri cukuplah di rumah menjalankan tugas mulia, mengasuh anak sambil beres-beres rumah.

Oh ya, ada satu kejadian yang membuat istri saya tertawa terpingkal-pingkal saat saya tunjukkan satu rekaman video yang dibuat anak saya dengan menggunakan ponsel miliknya. Rekaman itu dibuat di suatu siang sepulang anak saya dari sekolah. Dengan isengnya, kamera ponsel diarahkan ke diri saya yang sedang ongkang-ongkang kaki menikmati pisang ambon. Layaknya seorang reporter, anak saya terus merekam adegan saya memakan pisang sambil berkomentar nakal, “Inilah wajah orang yang ngakunya sukses padahal pengangguran…!”

Hahaha.... Sejuta topan badai! Walau muka saya merah padam, tetapi tawa saya betul-betul tak terbendung. Sungguh, komentar yang menyentak dan jauh dari dugaan saya. Jadi, seperti itukah persepsi anak saya terhadap jati diri ayah kandungnya? Grrh! Awas kau!

Anak saya memang lumayan menggemari tulisan-tulisan saya. Wajarlah bila dia tahu kalau saya sering kali mengaku-ngaku sebagai orang sukses lewat tulisan di beberapa blog yang saya miliki. Orang lain bisa saja “terkecohdengan cerita-cerita sukses yang saya tebar, tetapi kepolosan dan keluguan anak saya, ditambah indoktrinasi dari para guru di sekolah, nyatanya tak mampu menciptakan pencitraan yang klop tentang sosok orang sukses. Sukses kok lebih banyak di rumah, pakai celana pendek, saban hari main komputer, dan tiap siang kerjaannya mbolak-mbalik jemuran biar kering. Bukan seperti itu ciri orang sukses. Itu penganggur namanya!

Terimalah nasib bila saat ini banyak di antara tetangga kita mencap orang rumahan sebagai penganggur. Sama anehnya dengan orang-orang dan lembaga yang masih juga menganut patokan bahwa semua pekerja yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu sepantasnya diberi sebutan penganggur terselubung. Alamak! Jadi, kalau kita kerja lima hari dalam seminggu, maka bekerja 7 jam setiap hari masih dianggap pekerja pas-pasan, ya?

Duh, teganya! Jangan-jangan ukuran bekerja minimal 35 minggu dibuat berdasarkan standar pada zaman industri di abad pertengahan. Duh, zaman sudah berubah. Kini, seseorang dapat dengan mudah memperoleh duit Rp 15 juta hanya dengan bekerja seminggu dengan membuat sebuah program aplikasi komputer sederhana. Tegakah Anda mencap pekerja lepas seperti itu sebagai penganggur?

***

Tak peduli dengan bakal datangnya cap sebagai penganggur terselubung, kini banyak pasangan suami istri tergiur untuk bekerja di rumah, setidaknya saya salah satu di antaranya. Ada seribu satu alasan mengapa bekerja di rumah lebih didamba daripada kerja rutin di kantor. Tak hanya itu, saat ini juga makin banyak jenis pekerjaan yang bisa dikerjakan dari dalam rumah dengan penghasilan yang mampu membuat senyum mengembang lebar. Sayangnya, persoalan sering muncul saat kita dihadapkan pada pilihan sulit: Siapa yang mesti kerja di rumah dengan risiko dicap “penganggur”? Suamikah? Atau, istri saja?

Saya punya beberapa tip yang semoga saja dapat menjadi panduan bagi Anda, pasangan suami-istri yang ingin meninggalkan kerja kantoran:

a. Tanyalah, siapa yang lebih siap?

Jika Anda dan pasangan Anda sudah bertahun-tahun terbiasa dengan lingkungan kerja di kantor, lantas mendadak menjadi orang yang “saban hari di rumah”, bersiaplah untuk mengalami “gegar budaya”. Jenuh, uring-uringan, bosan bahkan frustrasi siap menunggu Anda di setiap sudut rumah. Secara mental, siapa di antara Anda dan pasangan Anda yang lebih siap menghadapinya?

b. Tanyalah, gaji siapa yang saat ini mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga?

Saat salah satu dari Anda keluar dari status karyawan kantor, maka otomatis satu keran nafkah menjadi mampet. Pertimbangkan kondisi terburuk di mana bisa jadi usaha yang bakal Anda tekuni di rumah tidak segera menghasilkan uang. Dalam kondisi demikian, cukupkah penghasilan dari satu orang menopang kebutuhan sehari-hari? Jadi, gaji bulanan siapa yang cukup untuk hidup (ngirit) bersama seluruh anggota keluarga? Cukup untuk membayar kredit rumah, uang sekolah, uang transport, membayar gaji pembantu, dan mungkin mengisi stok rokok di kantong suami. Gaji Andakah, atau gaji pasangan Anda?

c. Tanyalah, tempat kerja siapa yang di masa depan lebih langgeng?

Jika Anda dan pasangan Anda saat ini masih berstatus karyawan, pandai-pandailah mengambil keputusan. Telitilah, dalam situasi dunia yang tidak menentu ini, tempat kerja siapa yang bakal lebih langgeng dan memberikan jaminan hidup yang lebih cerah? Anda boleh saja mempertimbangkan posisi jabatan yang saat ini sedang Anda dan pasangan Anda pegang. Tetapi hati-hati, hitunglah dengan cermat. Dulu saat saya memutuskan kerja freelance, posisi saya yang tertulis di kartu nama adalah manajer pemasaran, sedangkan istri saya masih capeg (calon pegawai). Untunglah, keputusan yang kami ambil tidak salah. Setahun setelah saya keluar kantor, perusahaan tempat saya bekerja ditutup karena tak ada order sama sekali.

d. Tanyalah, siapa yang lebih memiliki skill untuk bekerja secara mandiri?

Seseorang yang bekerja di rumah, selain dituntut memiliki jaringan pertemanan yang luas, juga mutlak untuk punya kemampuan bekerja secara mandiri. Tidak mengandalkan tuntunan atasan karena kita adalah bawahan sekaligus pimpinan. Tidak mengandalkan kenaikan gaji, karena tebal-tipisnya dompet kita tergantung dari kemampuan kita mengatur ritme pekerjaan. Karena tak peduli apakah Anda berprofesi sebagai seorang programmer, pelatih tari, agen pulsa, penjual anturium, ataukah penulis siluman (ghost writer), kemampuan mengurusi urusan pekerjaan dari alfa sampai omega yang seabreg mesti dimiliki. Siapa yang sudah terbiasa dengan keadaan semacam ini? Andakah? Atau pasangan Anda?

Keempat tip di atas tidak saya urutkan menggunakan angka karena setiap orang boleh sesukanya menempatkan salah satu di antaranya sebagai pertimbangan paling utama. Diskusikan dengan pasangan Anda agar keputusan yang dihasilkan benar-benar membuat Anda dan pasangan Anda merasa nyaman dan ridho.

Bagaimana kalau ujung-ujungnya adalah sang suami yang pantasnya tinggal di rumah merajut impian bekerja di rumah? Yah, syukurilah itu. Tak usah risih andai buah hati Anda suatu ketika mengerutkan kening melihat papa dan mamanya memainkan peran yang berbeda dengan kebanyakan tetangga. Goda saja dia dengan bisikan di telinganya, sambil mengerlingkan mata nakal Anda, “… kalau papa menganggur dan mama bekerja, emang napa?”[ayb]

*Anang Y.B. dikenal sebagai penulis bergaya story telling. Pria ini menyebut dirinya sebagai blogger yang geografer. Menjadi geografer memungkinkan dia untuk berkeliling Indonesia dan memperoleh banyak inspirasi menulis dari catatan perjalanannya. Seluruh kisah unik dan opininya dia tuangkan dalam blog beralamat di www.jejakgeografer.com, yang kini telah memiliki lebih dari 500 cerita. Anang dapat dihubungi melalui pos-el: anangyb[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Bekerja dari Rumah, Emang ‘Napa?

aybOleh: Anang, Y.B.*

Seri tulisan “Work at Home”

Hari ini (4/2/09) ada dua hadiah ulang tahun yang saya terima. Hadiah terbesar diberikan oleh istri saya, yakni berupa foto keluarga yang dibuat karikatur seukuran setengah meter. Karikaturnya lucu dan bagus banget, maklum istri saya memesan khusus pada karikaturis yang biasa bikin ilustrasi di koran tempat dia bekerja. Karikatur itu menggambarkan kami berempat (saya, istri saya, dan kedua anak saya) sedang jumpalitan di bulan dalam kostum astronaut. Mengapa di bulan? Ah, tampaknya istri saya hendak mengingatkan sekaligus mensyukuri jalan hidup saya sebagai seorang geografer. Sebuah profesi yang saya jalani sambil lalu di pojok rumah setiap hari. Apakah karikatur itu hendak menyampaikan pesan bahwa dengan bekerja dari rumah pun, saya bisa membawa keluarga saya melayang di angkasa? Hus, saya ngelantur! Dasar penulis!

Hadiah satu lagi saya terima dari Google. Ukurannya jauh lebih kecil daripada yang diberikan istri saya, walaupun sama-sama dalam wujud kertas. Hadiah itu berupa cek upah keikutsertaan saya dalam program Google Adsense. Tak banyak nilanya, hanya sejutaan saja. Tetapi, itu pun saya syukuri, setidaknya uang kaget dari Google bisa untuk melunasi ongkos pesan karikatur dan memborong beberapa loyang pizza.

Adakah benang merah dari kedua hadiah ulang tahun itu? Bila bekerja diartikan secara dangkal sebagai upaya mencari nafkah, maka keputusan kami–saya dan istriuntuk memosisikan saya sebagai pekerja self employed dari rumah sudah tepat. Setidaknya grafik penghasilan saya sebagai seorang geografer sekaligus pemulung dolar di internet relatif menanjak, tidak naik turun seperti yoyo mainannya Mbak Mega.

Namun, bila bekerja diartikan sebagai upaya “pemanusiaan” dari diri saya yang notabene sebagai makhluk pekerja, maka saya pun merasakaan harkat saya terangkat saat saya dalam posisi bekerja dan menghasilkan sesuatu. Sebab diakui atau tidak, saat seseorang tak lagi bekerja, tak lagi produktif, tak lagi berpenghasilan, maka proses dehumanisasi pun terjadi. Dalam kalimat sarkastis, penganggur lebih tidak bernilai daripada mereka yang bekerja.

Pilihan bekerja dari rumah sudah menjadi trend di beberapa kota besar. Robert Kiyosaki bisa kita tuding sebagai biang keladi dari gaya cari uang seperti ini. Anda pun mungkin pernah terinspirasi oleh buku-buku bestseller tulisan Kiyosaki. Tak terkecuali saya. Siapa sih yang tak punya pikiran untuk buka usaha sendiri? Siapa sih yang mau jadi orang upahan dan setiap subuh sudah bersolek untuk sekadar melayani bos hingga magrib menjelang? Siapa sih yang tidak tersindir saat banyak orang mengampanyekan slogan “bekerjalah secara smart, bukannya bekerja keras”. Duh, rasanya slogan itu sengaja diteriakkan untuk memerahkan wajah orang-orang kantoran!

Motivasi Bekerja dari Rumah

Jika ada seribu orang yang bekerja dari rumah, bisa jadi ada seribu alasan pula yang bisa kita kumpulkan atas pertanyaan mengapa mereka memilih mencari uang dari rumah. Jennie S. Bev lewat buku Rahasia Sukses Terbesar secara indah menggambarkan betapa merdekanya bekerja tanpa bos. Uang berlimpah bisa kita kumpulkan di sela-sela jadwal shopping atau mengurus kebun di belakang rumah. Bekerja dari rumah bisa juga terdorong oleh ketidakrelaan kita atas tidak sepadannya receh yang kita terima dibandingkan timbunan harta yang dikumpulkan oleh bos dengan mengendarai kita. Bayangkan, saya dulu pernah bekerja di sebuah perusahaan konsultan. Untuk proyek-proyek AMDAL yang nilainya ratusan juta, saya harus ikhlas dibayar dengan gaji bulanan plus sebungkus nasi goreng saat lembur!

Pilihan bekerja dari rumah juga sering muncul karena kita sadar diri bahwa kita memiliki keahlian yang layak jual. Teman-teman saya yang bekerja di bidang TI bisa memperoleh honor sepuluh jutaan untuk pembuatan satu program aplikasi komputer sederhana. Anda tentu tahu, belum tentu mereka akan menerima gaji separuh dari angka itu bila bertahan sebagai karyawan kantor biasa.

Bagaimana Memulai?

Untuk Anda yang masih gamang memasuki komunitas pekerja rumahan, berikut ini ada tiga alternatif yang bisa anda pilih untuk mulai bekerja dari rumah.

Alternatif pertama: tetap bekerja pada orang lain.

Lho, katanya bekerja dari rumah akan membebaskan diri dari kita dari ikatan bos? Tenang, alternatif ini tetap nyaman kok biarpun Anda masih mengandalkan orang lain. Mengapa nyaman? Ya, karena hubungan Aanda dengan pemberi kerja adalah sebagai mitra bukan hubungan layaknya pekerja dengan atasan. Sebagai contoh, sebagai seorang geografer saya seringkali mendapat job untuk membuat peta. Untuk pekerjaan model seperti ini saya sudah memiliki mitra beberapa anak lulusan STM atau SMU yang saya sebut sebagai drafter. Para drafter ini bekerja di rumah mereka masing-masing dengan bayaran saya hitung untuk setiap peta yang mereka selesaikan. Adil, kan? Dan biarpun mereka bekerja pada saya, pastinya upah yang mereka kumpulkan jauh lebih tinggi di atas UMR.

Alternatif kedua: kolaborasi dengan orang lain.

Tidak selamanya Anda bisa bekerja sendiri, jadi apa salahnya mempercepat kesusksesan Anda dengan melibatkan rekan Anda? Pelibatan bisa didasarkan pada kesamaan keahlian, misalnya sesama penyuka musik yang kemudian membuka kursus musik. Bisa juga kita melibatkan rekan yang memiliki keahlian berbeda sehingga tercipta satu sinergi yang saling menguntungkan. Sebagai contoh, saya memiliki rekan yang ulet dan memiliki jaringan ke banyak instansi pemerintah di seluruh Indonesia. Kami pun berkolaborasi menyelenggarakan berbagai pelatihan pembuatan peta maupun pengolahan foto-foto satelit. Rekan saya sibuk mencari peserta dan menyiapkan tempat, dan saya kebagian menjadi trainer. Hasilnya? Ehemm…

Alternatif ketiga: jalan sendirian.

Ada banyak peluang bekerja dari rumah yang bisa dijalankan sendirian. Selain berburu uang lewat berbagai program internet marketing yang sekarang mewabah, Anda pun bisa memilih ribuan peluang usaha yang walau tampak sederhana namun sebetulnya hasilnya lebih dari sekadar lumayan. Yang pasti, bukalah mata lebar-lebar, dan jelilah membaca kebutuhan orang-orang di sekitar Anda. Anda bisa mencoba membuka usaha sablon mok yang menjanjikan keuntungan hingga 50 persen, atau cetak banner mumpung banyak caleg lagi butuh poster. Atau, bukalah kursus origami, kursus memasak, kursus melukis. Tak cukup bergengsi? Kemaslah latar belakang pendidikan Anda dan buatlah brand baru! Itulah yang saya lakukan dengan kartu nama saya yang bertuliskan “geografer”.

Rasanya, tak banyak atau mungkin sayalah satu-satunya orang di Indonesia yang tanpa malu mem-banding diri dengan mengaku sebagai geografer. Ratusan rekan saya lebih suka menyebut diri sebagai ahli hidrologi, ahli remote Sensing, ahli GIS… dll tapi saya mantap dengan positioning sebagai geografer sejati. Hasilnya, saya lancar-lancar saja berburu proyek mulai dari pemetaan puskesmas, mengerjakan studi AMDAL, memetakan persebaran agen koran, hingga ikut menyelesaikan sengketa dua perusahaan kehutanan yang berebut lahan.

Dan pastinya, semua itu saya kendalikan dari rumah bermodalkan laptop, internet, dan setumpuk kartu nama. Jadi, bekerja dari rumah, emang ‘napa?[ayb]

*Anang Y.B. dikenal sebagai penulis bergaya story telling. Pria ini menyebut dirinya sebagai blogger yang geografer. Menjadi geografer memungkinkan dia untuk berkeliling Indonesia dan memperoleh banyak inspirasi menulis dari catatan perjalanannya. Seluruh kisah unik dan opininya dia tuangkan dalam blog beralamat di www.jejakgeografer.com, yang kini telah memiliki lebih dari 500 cerita. Anang dapat dihubungi melalui email: anangyb[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Buku adalah Dendam Saya!

aybOleh: Anang Y.B.*

Kapan terakhir Anda merasa sedemikian miskin dan tak berdaya?

Kalau saya, saat saya tak mampu membeli buku! Keluarga saya bukanlah keluarga yang teramat miskin. Biarpun Bapak saya (cuma) kepala sekolah SMP swasta dan Ibu saya guru SD inpres, tapi soal pendidikan dan biaya sekolah selalu ditempatkan di urutan teratas. Jadi, pantaslah bila sampai kedua orang tua saya tutup usia, kami sekeluarga belum pernah merasakan punya mobil. Ya, punya lima anak yang semuanya kuliah pastilah bukan beban ringan yang mesti disangga kedua orang tua saya.

Saya dan saudara-saudara saya selalu mendapat jatah uang transport dan uang jajan setiap bulan. Ini sudah menjadi kebiasaan sejak kami masih duduk di bangku sekolah dasar. Jatah saya saat sudah kuliah tak banyak. Cukup Rp 25.000 untuk beli bensin, makan siang, beli buku, dan fotokopi. Sangat sedikit? Ah, saya tidak memusingkannya.

Suatu ketika, ada satu buku wajib yang mesti saya punya. Saya ingat betul judul buku itu adalah Interpretasi Foto Udara. Sayangnya, buku itu tak terbeli dengan uang saku saya yang tak banyak. Buku itu terasa mahal bagi saya. Saat itu, tahun 1992 dan harga buku itu Rp 14.000, ya empat belas ribu rupiah. Andai saya mau meminta ke orang tua saya, pastilah mereka akan mengusahakannya. Entah dari mengambil jatah uang belanja, atau mungkin dengan menunda pembayaran cicilan sepeda motor. Tapi, saya memilih untuk tak menceritakannya. Kasihan.

Untunglah, di perpustakaan kampus buku itu ada meski sebetulnya juga menjadi rebutan. Saya berhasil memperoleh satu. Buku itu saya pinjam… saya pinjam lagi… dan lagi… dan lagi…. Setiap minggu saya datang ke perpustakaan untuk memperpanjang peminjaman buku itu. Dan, itu berlangsung terus hingga satu semester!

***

Kejadian itu membekas betul dan menyisakan satu dendam: Jangan sampai keturunan saya tak mampu membeli buku! Saya pun bersumpah untuk memiliki perpustakaan sendiri di dalam keluarga saya. Biarlah anak-anak saya terkenyangkan dengan buku yang berlimpah.

Dendam itu sudah terbalas. Saya sudah memiliki satu perpustakaan. Awalnya, buku-buku saya masih tersimpan di lemari setinggi pundak. Sekarang, saya sudah memiliki dua lemari setinggi dua meter yang penuh dengan buku. Dendam pada buku juga membuat saya ingin menyebarkan buku ke lebih banyak orang. Bila ada kawan yang menikah, saya pun menghadiahkan buku Mars dan Venus. Demikian pula bila ada rekan mendapat momongan, atau anak tetangga berulang tahun, buku selalu saya jadikan sebagai hadiah. Tak hanya itu, door prize untuk acara Tujuh Belasan, Natalan, dll, selalu saya wujudkan dalam bentuk buku.

Biarlah kebiasaan membaca buku menjadi habit bagi siapa pun juga.

***

Belakangan saya sadar, ternyata ada jalan bagi siapa pun untuk bisa memiliki buku murah atau bahkan gratis. Berikut ini beberapa tip yang bisa anda terapkan:

1. Kawinilah orang penerbitan

Tentu anjuran ini hanya berlaku untuk Anda yang masih lajang. Bila Anda sudah terlanjur kawin dengan orang nonpenerbitan, setidaknya berkawanlah dengan mereka. Istri saya, tanpa dinyana, bekerja di group penerbitan besar. So, setiap ada bazaar buku, pastilah dia selalu mendapat informasi lebih dulu. Tak hanya itu, sering kali obral buku juga dilakukan secara internal, hanya untuk orang dalam. Anda masih ingat bursa buku KKG dengan obral 5 buku hanya 10 ribu rupiah? Saya dan istri saya termasuk yang paling berkeringat berebut buku saat itu.

2. Berhentilah merokok

Andai sehari Anda menghabiskan sebungkus rokok seharga sepuluh ribu, cobalah berpuasa satu bulan, dan di akhir bulan tukarkanlah dengan satu set buku Robert Kiyosaki. Anda masih punya uang kembalian!

3. Berkawanlah dengan penulis

Banyak penulis dan penerbit yang butuh popularitas. Berkawanlah, tak peduli bila itu lewat email atau milis. Katakan bahwa Anda tertarik dengan bukunya dan siap untuk meresensinya. Lebih bagus lagi bila Anda punya blog khusus tentang perbukuan. Jennie S. Bev mengirimi saya buku elektronik lengkap berjudul Mindset Sukses Jalur Cepat Menuju Kebebasan FInansial . Saya pun membuatkan satu resensi yang terbaik yang bisa saya buat. Untunglah Jennie suka dan memberi saya bingkisan.

4. Carilah buku gratis di internet

Buku gratis banyak bertebaran di internet. Anda bisa mencarinya baik yang dalam format ebook maupun buku tercetak.

5. Belilah buku di internet

Ini tip terakhir. Cobalah sambangi toko buku online di internet. Cukup banyak toko buku online lokal bertebaran di internet. Carilah lewat Google. Sebagian besar di antaranya memberikan diskon kekal hingga sebesar 30 persen. Cukup menggiurkan, bukan?

Okey? Selamat berburu buku![ayb]

* Anang Y.B. lahir di Bantul tahun 1970. Ia dikenal sebagai penulis bergaya story telling yang memikat. Pria ini menyebut dirinya sebagai blogger yang geografer. Menjadi geografer memungkinkan dia untuk berkeliling Indonesia dan memperoleh banyak inspirasi menulis dari catatan perjalanannya. Seluruh kisah unik dan opininya dia tuangkan dalam blog beralamat di www.jejakgeografer.com, yang kini telah miliki lebih dari 500 cerita. Inilah yang mengasah kemampuan pria ini dalam menulis bergaya cerita. Anang dapat dihubungi melalui email: anangyb[at]gmail.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox