Saya Bersyukur, Buku Saya Sudah Ketinggalan Zaman

aybOleh: Anang Y.B.*

Anda seorang penulis buku dan bermimpi buku Anda akan abadi alias menjadi produk yang ever green? Saya pun begitu. Kalau bisa, buku-buku saya abadi di hati pembaca, syukur-syukur abadi di rak toko buku alias tidak tertendang buku-buku baru yang terus menerobos tumpukan buku-buku lama. Abadi di hati pembaca artinya, setelah sekian bulan buku saya masuk pasar, masih saja ada yang menyampaikan komentar atau pujian kepada saya entah secara lisan maupun lewat surat elektronik.

Saya sadar, tidak semua buku yang pernah saya tulis bakal abadi. Sebut saja buku yang bertema bisnis internet. Saya yakin buku tersebut bakal sekadar seperti kembang api saja. Sesaat bersinar terang selepas itu padam karena trend tidak bisa kita ikat agar berhenti menurut ego kita. Buku bertema entrepreneur, mungkin bisa berumur agak lama sepanjang kita jeli untuk membuang dan menyisihkan pokok bahasan yang lekas usang. Saya masih ingat betul bagaimana editor saya “merayu” saya supaya mau membuang beberapa bagian dari naskah buku Kerja di Rumah Emang Napa? agar tetap enak dibaca dalam waktu lama. Bagian yang diminta untuk dibuang adalah suatu kalimat yang kurang lebih berbunyi “… seperti yoyo mainannya Mbak Mega.” Ya, membicarakan Mbak Megaeh, maksud saya yoyomemang sudah tidak musim lagi.

Tapi… tahukah Anda, ternyata ada saatnya saya harus mensyukuri bahwa buku saya tidak perlu abadi. Saya lega saat sadar bahwa buku saya yang berisi kumpulan cerita inspiratif kini tidak relevan lagi. Biarlah untuk buku yang satu ini, saya ikhlas buku saya ketinggalan zaman!

Sore itu, saya bertemu dengan Pak Totok. Seperti biasa, dia masih setia dengan topi dan sepeda tuanya. “Mau ke mana Pak Totok? Cari nasi, ya?” tanya saya.

Pak Totok tersenyum lebar sambil menghentikan sepedanya. “Ya, biasalah,” jawab dia ramah.

Saya sengaja menggunakan kata ‘cari nasi’ dan bukannya ‘beli makan’ karena memang hanya nasilah yang bakal dia beli. Saya sudah hafal itu. Setiap menjelang magrib dia pasti membeli nasi untuk anjingnya, kecuali hari Kamis karena pada hari itu anjingnya berpuasa. Pak Totok sendiri jarang makan nasi. Paling banter seminggu tiga kali saja dia menikmati nasi. Bahkan mungkin kini dia semakin jarang makan nasi sejak dia diberhentikan dari pekerjaannya sebagai satpam oleh pengurus RT tanpa sebab. Bahkan, empat bulan gajinya yang hanya Rp. 300.00 per bulan pun dikemplang pengurus RT.

“Maaf ya, kemarin saya enggak bisa ikut sembahyangan,” tutur Pak Totok masih dengan senyumnya.

“Lho, Pak Totok malam Minggu kemarin juga nggak ikut sembahyangan masa advent, to?” tanya saya.

“Saya juga enggak datang kok Pak Totok. Anak saya si Fani dilantik jadi Putri Sangkristi, jadi saya harus datang mengantar sekaligus nonton dia dilantik,” papar saya.

Pak Totok mengucapkan ‘O’ panjang.

“Lha, Pak Totok emang kemarin ke mana? Kan biasanya rajin ikut sembahyangan?” tanya saya.

“Anu… anak saya nikah,” jawab Pak Totok singkat namun memancarkan suatu kebahagiaan yang sengaja tidak ingin dia perlihatkan.

Pak Totok punya anak? Hem, soal ini tidak banyak yang tahu. Saya tahu pun belum lama tahu. Kalau tidak salah, Pak Totok punya dua atau tiga anak. Satu kerja di BCA, dan satu lagi di RS Elizabeth, Bekasi.

“Yang mana yang nikah, Pak? Yang kerja di BCA?”

“Iya… wah saya malu datang di acara nikahan,” jawab Pak Totok sambil tersipu.

“Lha, anak nikah kok malu?” tanya saya sambil ikutan nyengir.

“Lha, masak saya pakai disuapin segala. Padahal saya sudah ngumpet bahkan nggak niat mau datang. Eh... malah pakai dijemput segala…,” papar Pak Totok.

“Itu kan tandanya dia sayang saya Pak Totok,” lanjut saya.

Pak Totok memang misterius. Bukan cuma kemiskinannya yang tidak ketulungan, tinggal di gubuk yang lebih jelek dari pada kandang ayam, tidak pernah protes walau sejak sekian tahun lalu digaji hanya Rp 300.000 per bulan sebagai satpam. Uang itu kerap dia pakai untuk mengganti lampu jalan sepanjang empat gang yang sering mati dan warganya tidak pernah peduli untuk menggantinya. Sampai akhirnya pertengahan tahun ini dia diberhentikan dari profesinya sebagai satpam tanpa tahu sebab musababnya.

Anda yang sudah membaca buku Sandal Jepit Gereja khususnya cerita berjudul “Pondok Untuk Pak Totok” tentu sudah mafhum betapa akhirnya Pak Totok bersyukur karena kamiberbekal kekurangan yang kami milikiberhasil melakukan bedah rumah dan bisa memberikan satu rumah sederhana untuk Pak Totok yang miskin, tua, tidak menikah, dan misterius ini.

Sekali waktu saya pernah memergoki Pak Totok dibonceng seorang cewek sepulang gereja. Pak Totok selingkuh? Tentu tidak, karena Pak Totok tidak menikah hingga usianya nyaris kepala tujuh (atau malah sudah kepala tujuh?). Belakangan saya baru tahu, cewek yang memberi tumpangan Pak Totok adalah salah satu dari beberapa anak angkat Pak Totok! Dua yang masih saya ingat tentang anak angkat Pak Totok adalah kesuksesan mereka kini, menjadi karyawan BCA dan karyawan RS. Elizabeth, Bekasi.

Dan hari Sabtu kemarin Pak Totok yang memiliki masa lalu misterius, yang sedemikian miskin namun penuh kepasrahan pada penyelenggaraan Allah, telah menyaksikan salah seorang anak angkatnya menikah. Pak Totok terlihat sangat bergairah menceritakan hal itu. “Yang datang di nikahan sampai lima perusahaan.” paparnya. Saya pun mengangguk-angguk ikut senang.

Saya biarkan Pak Totok melanjutkan kayuhan sepedanya karena azan magrib sudah berkumandang dan mungkin anjingnya sudah lapar menanti nasi yang harus dia beli setiap petang. Saya bersyukur mengenal dan semakin dekat dengan sosok tua itu. Yang rela menghabiskan uang recehnya untuk membeli nasi bagi anjingnya walau dia sendiri tak punya cukup sisa untuk membeli makan untuk dirinya sendiri. Yang menolak untuk tinggal bersama anak-anak angkatnya dan ikhlas mendiami rumah sederhana tanpa plesteran yang dua setengah tahun lalu kami buatkan.

Pak Totok bukan sekadar objek yang mengantar tulisan saya di http://bit.ly/4PVtHx memenangi kontes menulis online bertema “Why I’m So Special” dua tahun lalu yang digelar oleh Jennie S. Bev, Pak Totok adalah satu di antara sekian banyak tanda-tanda yang Dia hadirkan di depan mata saya untuk lebih arif, lebih peka, dan lebih panjang mengulurkan tangan bagi sesama.

Pertemuan sore itu dengan Pak Totok membuat saya mensyukuri bahwa buku saya Sandal Jepit Gereja telah ketinggalan zaman karena kisah hidup Pak Totok tidak lagi sebatas belasan paragraf yang saya rangkai dalam tulisan berjudul “Pondok Untuk Pak Totok”. Moga-moga, kalau bisa, 22 kisah lainnya, entah itu yang berjudul “Murtad”, “Anak di Luar Nikah”, Selingkuhlah Kau Kutunggu” maupun kisah lainnya, juga bakal ketinggalan zaman karena ada ending lanjutan hasil skenario sang Ilahi yang tidak pernah berhenti![ayb]

* Anang Y.B., dikenal sebagai penulis bergaya story telling. Menekuni hobi menulis sejak kecil dan saat ini mulai serius menjalani profesi sebagai penulis buku bertema entrepreneur dan rohani populer. Empat buku terakhir yang sudah dia hasilkan adalah Santo Arnoldus Janssen (OBOR, 2009), Sandal Jepit Gereja (OBOR, 2009), 88 Mesin Uang di Internet (BEST, 2009) dan Kerja di Rumah Emang Napa? (GPU, 2009). Anang, Y.B. dapat dikontak lewat http://facebook.com/anangyb.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Kerja di Rumah Emang ‘Napa?

bk-anangyb

Judul: Kerja di Rumah Emang ‘Napa?

Oleh: Anang Y.B.

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009

ISBN: 978-979-22-5104-3

Tebal: xxiii +152

Asyiknya Meraup Uang Sambil Mengasuh Anak Tersayang

Inilah buku yang bakal membakar semangat Anda untuk segera banting stir kerja di rumah. Menapaki langkah awal menjadi entrepreneur sukses. Menikmati indahnya meraup uang sambil memeluk anak!

Pujian untuk Buku Ini

“Sejujurnya saya terprovokasi—atau lebih tepatnya terintimidasi—oleh buku ini untuk segera ‘bekerja di rumah’. Meski sebagian di antaranya terlihat sebagai tuntutan praktis bagaimana menjadi pekerja rumahan yang sukses, saya justru merasa seluruh isi buku ini merupakan pembuka wormhole menuju pilihan kita.”

~ Titus Kitot

Pusat Penelitian dan Pengembangan Bisnis Kompas

“Hidup ini penuh dengan pilihan. Bahkan kita bisa selalu membuat pilihan yang lebih baik setiap hari untuk jadi lebih sukses, lebih bahagia. Begitu banyak dari Anda yang sudah mendapatkan panggilan jiwa agar lebih banyak memiliki uang dan waktu untuk keluarga, namun rasa takut membelenggu Anda. Anang Y.B. dalam buku ini memberi motivasi, inspirasi, dan ide-ide yang bisa Anda terapkan. Begitu banyak sejarah manusia BERUBAH hanya karena membaca buku. Jangan merisikokan diri dengan tidak membaca buku ini.”

~ Hari Subagya

Motivator Perubahan, Founder Bisnispartner.com

“Bekerja di rumah, apalagi sambil membesarkan anak—sebagaimana dianjurkan oleh buku ini—adalah sebuah pengalaman yang luar biasa. Saya melakukannya, menikmatinya, dan sungguh-sungguh merasakan manfaatnya bagi keluarga.”

Edy Zaqeus

Penulis buku-buku bestseller

Writer Coach, Trainer, Editor,

Pendiri AndaLuarBiasa.com dan BukuKenangan.com

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +6 (from 6 votes)

Anang Y.B.: Berpenghasilan Layak dengan Berusaha dari Rumah, Why Not?

Anang Y.B.: Memperkenalkan profesi geografer

Anang Y.B.: Memperkenalkan profesi geografer

Anda pernah tahu atau mendengar tentang profesi sebagai geografer? Barangkali, ini bukan profesi yang sering Anda dengar, walau mungkin Anda bisa mereka-reka bidang kerjanya karena namanya. Profesi geografer memang benar ada dan penghasilannya pun lumayan. Kebetulan, nama profesi ini diciptakan serta ditekuni oleh Anang Tri Nugroho, seorang bloger atau ‘pabrik blog’ yang lebih dikenal dengan nama pena Anang Y.B.

Anang Y.B. lahir pada 4 Februari 1970 di Bantul, DIY, dan lulusan tercepat Fakultas Geografi, UGM. Ia mengawali kariernya sebagai staf konsultan pemetaan selama lima tahun dan setelah itu memutuskan menjadi tenaga ahli geografi secara self employed. Di sinilah, suami dari Tjandra Susi (yang bekerja di sebuah surat kabar nasional) dan ayah dari Geofani Nerissa Arviana (10 tahun) dan Justin Ananta (5 tahun), ini mengembangkan profesinya sebagai seorang geografer.

Saya bisa masuk dalam tim studi AMDAL. Bisa juga menjadi tenaga penilai lapangan untuk EKOLABEL produk kehutanan. Bisa juga masuk dalam tim perencanaan tata ruang,” jelas Anang tentang profesinya. Menurut Anang, melalui profesi geografer yang ditekuninya dengan berkantor di rumah itu, ia bisa mendapatkan penghasilan rata-rata Rp 9 jutaan per bulan. Tentu saja, di sela-sela itu, Anang masih bisa menekuni hobinya yang lain, yaitu menjadi “pengembang blog” dan menjalankan internet marketing.

Bukan itu saja, buah dari ketekunannya menulis di sejumlah blog sejak 2001, Anang sampai memiliki lebih dari 500 posting tulisan. Hasilnya, kini tulisan-tulisan tersebut bisa dikemas ulang untuk diterbitkan menjadi buku. Dan, dalam lima bulan terakhir ini saja, Kolomnis Tetap AndaLuarBiasa.com ini telah menelurkan empat judul buku. Jadi, hampir sebulan sekali Anang menerbitkan buku baru. Untuk penulis pemula di dunia perbukuan, ini cukup membanggakan juga.

Nah, untuk mengetahui lebih detail tentang apa itu profesi geografer serta proses kreatif Anang dalam melahirkan buku-bukunya, Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com mewawancarai Anang melalui chating beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Bagaimana deskripsi profesi atau pekerjaan sehari-hari Anda?

Saya suka menyebut diri saya sebagai seorang geografer. Istilah ini unik, dalam arti tidak banyak yang mau memakai. Geografer dalam artian orang yang mencari duit dengan mengurusi manusia, lingkungan, dan hubungan keduanya. Profesi ini saya tekuni sejak 2001, hingga saat ini. Untuk satu semester terakhir ini, profesi ini sedikit saya rem, karena saya menemukan keasyikan baru, menjadi penulis naskah buku.

Contoh pekerjaan yang Anda lakukan sebagai geografer apa?

Geografer adalah profesi generalis. Dosen saya menyebutnya profesi Rhemason. Dia bisa mengobati mulai dari sakit kepala, salah urat, hingga asam urat. Saya bisa masuk dalam tim studi AMDAL. Bisa juga menjadi tenaga penilai lapangan untuk EKOLABEL produk kehutanan. Bisa juga masuk dalam tim perencanaan tata ruang. Tapi, rata-rata positioning serang geografer adalah sebagai seorang analis keruangan berbekal peta dan foto satelit.

Kalau misalnya saya mau buka tambang atau perkebunan yang luas, perlukah seorang geografer?

Oh, ya. Klien saya selain dari sektor kehutanan, juga dari pertambangan dan perkebunan. Setiap kali mereka akan memulai usaha, pastilah mereka akan melakukan feasibility study. Mereka perlu seorang analis keruangan. Mereka butuh informasi mengenai jenis penggunaan lahan yang ada sekarang. Berbatasan dengan milik siapa? Apakah peruntukannya sesuai dengan tata ruang? Apakah jenis tanahnya sesuai? Apakah lerengnya ideal untuk membuka usaha? Dan lai-lain. Semua itu bisa dikaji dengan melakukan overlay atau tumpangsusun peta-peta tematik. Trennya, mereka akan membeli foto satelit untuk mengetahui kondisi terkini dari lokasi yang akan diusahakan. Di sinilah peran seorang geografer bisa masuk.

Kalau awam mungkin bertanya, kan sudah ada Google Earth untuk foto satelit gratis?

Foto satelit di Google Earth (GE) sebagian besar menggunakan citra bernama QUICKBIRD. Karena gratisan, maka yang muncul di GE adalah versi lawas. Tertinggal sekitar dua tahunan, dan resolusinya sudah diturunkan. Dalam versi berbayar Anda bakal melihat kedetailan yang lebih tajam, dan umur foto satelit yg lebih baru. Bila mau, Anda bisa memesan untuk dipotretkan Istana Negara dalam tampilan terkini dengan resolusi 60 cm. Artinya, mobil pun bakal tampak jelas, padahal pemotretan dilakukan ribuan kilometer di angkasa sana.

Profesi sebagai geografer cukup menantang dan penghasilan pun lumayan

Profesi sebagai geografer cukup menantang dan penghasilan pun lumayan

Sebagai seorang geografer, Anda juga berperan sebagai konsultan yang memberikan solusi dalam bidang tersebut? Atau hanya menjual data-data semata?

Dua-duanya saya lakoni karena dua-duanya menghasilkan duit hehehe.... Kedua-duanya juga saya jalani secara self employed.

Bagaimana penghasilan profesi ini?

Karena proyek-proyek yang saya terima bergantung pada proyek pemerintah, maka pasti ada masa pacekliknya. Biasanya instansi pemerintah merealisasikan proyek pada periode Juli hingga Desember. Pada masa itulah kontrak biasanya berdatangan. Periode Januari hingga Juni tak banyak pekerjaan. Biasanya saya isi dengan mengadakan pelatihan survei dan pemetaan. Penghasilan cukup lumayan. Bisa buat bantu-bantu istri cari nafkah. Sebetulnya, penghargaan untuk seorang tenaga ahli yang ditetapkan Bapenas cukup tinggi, bisa sekitar Rp 9 jutaan per bulan untuk yang mengantongi pengalaman kerja 9 tahunan. Kalau kita beruntung mendapat pekerjaan dari pemberi kerja yang jujur dan konsultannya jujur, kita bisa memperoleh angka sekitar itu per bulan dari satu pekerjaan.

Dan, itu Anda lakukan dengan berkantor di rumah atau di dunia maya saja?

Ya, menjadi konsultan self employed dari rumah. Mengandalkan kartu nama, laptop, akun email, weblog, pengalaman kerja, dan tentunya nama baik.

Seorang geografer sering menjelajahi berbagai pelosok medan

Seorang geografer sering menjelajahi berbagai pelosok medan

Bagaimana caranya supaya seorang alumni jurusan geografi bisa menjadi seorang geografer seperti Anda?

Pertama, jangan lama-lama menjadi karyawan. Di perusahaan konsultan, seorang geografer berada pada kasta yang relatif rendah dibandingkan seorang sarjana teknik maupun programer. Kalau mau dihargai, jadilah seorang freelancer saat Anda sudah memiliki bekal cukup. Kedua, upgrade ilmu Anda. Saat saya lulus th 1996, kemampuan mengoperasikan GPS dan software SIstem Informasi Geografis adalah sebuah keunggulan. Sekarang tidak. Anak SMA pun sudah bisa. Kita mesti selangkah di depan soal keahlian. Ketiga, jalin relasi dengan siapa pun. Jangan cuma dengan alumni, sebab geografer bakal dapat kerja justru dari bidang ilmu lain. Keempat, bangun personal branding sebaik mungkin. Keempat, jujur dan profesional.

Rupanya, pengalaman pribadi inilah yang mendorong Anda menulis buku Kerja di Rumah Emang ‘Napa?, ya?

Yap, saya ingin berbagi. Saya sadar, mungkin pilihan dan jalan yang saya tempuh bukan yang paling ideal. Tapi, di luar sana masih banyak rekan lain yang belum cukup beruntung. Bukan karena mereka tidak pintar atau kurang berusaha. Tapi karena belum ada yang menunjukkan bahwa di luar jalur yang biasa dilalui orang, masih ada “jalan-jalan tikus” dan jembatan kecil yang bisa dititi untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

Sudah berapa buku yang Anda tulis?

Sudah empat buku yang diterbitkan dalam lima bulan ini. Pertama buku biografi berjudul Santo Arnoldus Janssen Abdi Yesus Yang Setia, terbit Juli 2009 oleh OBOR. Kedua, buku rohani popular berjudul Sandal Jepit Gereja, terbit Agustus 2009, juga oleh OBOR. Ketiga, buku internet berjudul 88 Mesin Uang di Internet, terbit September 2009 oleh Best Publishing. Dan keempat, Kerja di Rumah Emang Napa?, terbit November 2009, oleh Gramedia Pustaka Utama.

Hebat. Bagaimana seorang geografer bisa seproduktif itu. Apa rahasianya?

Mungkin ada saatnya ide saya akan kering walau saya tidak mengahrapkan itu terjadi. Tiga dari empat buku tersebut saya gali dari kehidupan dan keseharian saya. Betul-betul saya alami dan tinggal copy-paste dari harddisk di otak saya. Saya beruntung memiliki blog www.jejakgeografer.com dan www.anangyb.blogspot.com. Kedua blog ini telah memiliki 500 posting dan merupakan harta karun saya. Memori saya yang sudah melemah karena faktor usia hehehe… terbantu dengan catatan sejarah yang tertulis di dalam kedua blog tersebut.

Cara Anda meramu tulisan-tulisan yang sudah siap olah menjadi naskah buku itu bagaimana?

Tulisan di blog memang mesti diolah, karena ditulis secara spontan dan sangat kontekstual dengan issue yang ada. Panjang pendeknya pun sesukanya. Agar menjadi sebuah naskah buku yang layak, saya awali dengan menentukan frame naskah. Sudut pandang penceritaan, apakah sebagai “aku/subjek” atau sebagai orang lain. Ini harus disamakan. Panjang pendek juga mesti disamakan. Kalau terlalu pendek, saya akan menambahkan paragraf baru yang relevan, atau kalau memungkinkan, saya akan gabungkan dua posting di blog menjadi satu bab.

Anang bersama keluarga tercinta

Anang bersama keluarga tercinta

Mengenai produktivitas Anda dalam menulis di blog. Apa yang memacu atau memicu Anda sehingga selalu punya tema tulisan?

Jujur saja, masih ada sekitar lima atau bahkan lebih tema buku yang mendesak otak saya untuk segera dituangkan. Bahkan, outline yang saya buat semasa mengikuti pelatihan di ‘Writer Schoolen’ belum juga saya garap. Sejauh ini, ide dan tema belum menjadi persoalan buat saya. Mengenai produktivitas, saya bersyukur karena mengenal sosok Indari Mastuti lewat paparan profil di web ini. Demikian pula dengan misalnya Gregorius Agung, pemilik Jubilee Enterprise. Produktivitas kedua orang inilah yang melecut saya untuk terus menulis. Tentu saja saya membuat strategi agar dapat menyelesaikan naskah secara rutin dan cepat.

Bisakah dibagi strateginya?

Saya berkaca dari buku-buku saya yang sudah beredar. Buku pertama yang berjudul Santo Arnoldus bisa saya kebut dalam waktu sepuluh hari. Sedangkan buku 88 Mesin Uang di Internet, karena lebih tebal dan mesti cari gambar, baru selesai dalam waktu 14 hari. Artinya, kalau mau, sebulan saya bisa bikin dua naskah. Dari sinilah akhirnya saya membuat time schedule naskah apa yang saya mau selesaikan setiap bulannya. Time schedule ini saya lengkapi dengan judul buku, jumlah halaman, dan target penerbit yang mau saya todong. Tidak tanggung-tanggung, sengaja saya buat target yang musykil: sebulan membuat dua naskah buku. Mengapa dua naskah? Ya, kalaupun saya sangat malas dan hanya mampu memenuhi separuh target, maka saya sudah menghasilkan satu naskah dalam satu bulan!

Apa kiatnya sehingga setiap naskah yang Anda selesaikan selalu disambut baik oleh penerbit?

Apa ya? Keberuntungan? Bisa jadi. Kebaikan hati penerbit? Bisa juga. Tapi bisa jadi juga karena kebiasaan menjual diri saat menjadi konsultan, yang membuat saya menyodorkan naskah dalam kondisi dan tampilan yang terbaik. Setiap naskah yang saya sodorkan selalu dalam kondisi siap baca dan lengkap. Setiap naskah juga mesti saya beri kaver full colour. Saya pun belajar membuat layout naskah sehingga biarpun masih berupa dummy book, tapi saya pingin editor atau redaksi merasa nyaman, senyaman membaca buku yang sudah jadi. Saya juga membekali diri dengan terus membaca ilmu editor. Di luar itu, saya pasti menyertakan surat pengantar yang saya buat secara serius.

Sekarang mengenai buku 88 Mesin Uang di Internet, garis besar isinya apa?

Buku tersebut berisi review sekumpulan situs internet yang menjanjikan penghasilan kalau kita bergabung di dalamnya. Bedanya dari buku-buku sejenis, cara bertutur yang saya pakai adalah story telling agar tidak kering dan membuat pembaca bosan. Kebetulan saya cukup aktif dalam bisnis internet sehingga punya beberapa kiat dan trik untuk bisa, paling tidak, meraih sejuta dua juta rupiah dengan mengikuti program peraup dollar di internet. Saya lampirkan juga foto anak saya yang tersenyum lebar sambil merentangkan kiriman cek dollar yang saya terima dari program Google Adsense.

Bisnis internet bak rimba raya yang belum baku bahkan belum ada rambu-rambunya. Bagaimana menghindari penipuan di internet yang berkedok bisnis?

Banyak bergaul, itu kuncinya. Rajin-rajinlah menyambangi blog pelaku bisnis internet yang sudah sukses dan punya reputasi/nama baik yang baik. Ikutlah forum diskusi online. Yang paling praktis, gunakan Google untuk mengetahui apakah program yang mau kita ikuti tersebut sekadar omong kosong atau tidak. Tuliskan saja nama program dan ikuti dengan kata scam dalam mesin pencari Google. Kita bakal dapat referensi dari sana. Yang pasti, saya cenderung tidak mengikuti program yang musti menyetor uang atau menuntut kita untuk memasukkan nomor kartu kredit.

Sekarang, hampir semua orang bisa akses internet. Bagi awam kadang mudah sekali tergiur oleh iklan-iklan bisnis online yang sangat menggiurkan. Komentar Anda?

Itu baik kalau kita lihat dari terbukanya mata orang bahwa cari uang tidak mesti dilakoni dengan berangkat pagi dan pulang petang. Banyak orang sudah sukses walau banyak juga yang akhirnya frustrasi, dan lantas mengeluarkan fatwa pribadi: ‘bisnis internet adalah omong kosong’. Sekali lagi, banyaklah bergaul dan cari referensi dari sumber terpercaya. Kalau mau lebih cepat sukses, carilah mentor atau pembimbing. Ada beberapa pelaku bisnis internet yang menawarkan program mentoring. Ini sekadar alternatif saja agar tidak keblinger.

Kalau buku terakhir, kiat-kiat apa yang anda sodorkan ke pembaca supaya bisa mencari penghasilan dari rumah?

Kalau sudah berkeluarga, tanyalah siapa dari suami dan istri yang paling siap untuk bekerja di rumah? Papa atau mama? Jangan takut juga untuk bekerja yang tidak sesuai gelar pendidikan kita. Bila kesulitan modal, rangkullah orang lain atau pihak lain untuk berkolaborasi. Pertajamlah kemampuan bernegosiasi sebab bekerja di rumah menuntut Anda untuk menjadi panitia tunggal. Jujurlah selalu dan jadilah seorang rekan bisnis yang menyenangkan.

Bagi sebagain orang, kerja di rumah tidak ada gengsinya….!?

Benar. Seorang calon mertua pun bakal berpikir ulang bila calon mantunya tidak punya kantor yang bukan rumah. Ini soal kultur. Ini juga soal mindset. Serasa belum diakui bekerja kalau belum bersepatu dan menuntun motor keluar rumah setiap pagi. Dalam kalimat yang membosankan, orang lebih cenderung memilih keamanan finansial. Aman secara duit dan aman dari sisi citra diri di mata tetangga. Tapi sepanjang kita bisa membuktikan bahwa kita bisa berpenghasilan layak dengan berusaha dari rumah, why not? Di kota-kota besar kesadaran ini sudah muncul, dan bahkan menjadi impian. Sedikit kerja, sedikit keluar rumah, rapi penghasilan oke. Tanyalah orang-orang yang sudah terbius oleh kata-kata manis Robert Kiyosaki. Mereka pasti setuju soal ini.

Anang dalam sebuah acara diskusi buku "Sandal Jepit Gereja"

Anang dalam sebuah acara diskusi buku "Sandal Jepit Gereja"

Anda juga menulis buku agama atau renungan agama. Apa tujuan atau idealisme menulis buku-buku sejenis itu?

Tidak peduli apakah buku saya bertema agama maupun bukan. Saya memiliki satu kesadaran bahwa talenta menulis yang saya genggam berasal dari Sang Ilahi. Jadi, sudah sepantasnya talenta itu saya gunakan dan kembalikan untuk-Nya. Semua yang saya tulis adalah cerita keseharian saya. Menjadi seorang internet marketer, menjadi pekerja rumahan, dan menjadi bagian dari komunitas agama. Saya mesti adil berbagi cerita untuk semua sisi kehidupan saya. Bila pada akhirnya, ada bisikan dari-Nya untuk menuangkan tulisan bertema religi, pastilah itu juga karena kemaun Dia. Saya bersyukur menjadi kepanjangan tangan-Nya. Moga-moga maunya Dia menjadi kenyataan lewat tulisan saya.

Jenis atau tema buku apa yang masih mengganggu pikiran Anda untuk menuliskannya suatu saat nanti?

Belum tahu. Saya masih pemula banget. Belum setengah tahun saya menekuni profesi sebagai penulis. Saat ini saya nekat untuk menulis semua tema yang saya bisa. Saya juga berusaha menembus sebanyak mungkin penerbit yang berbeda. Itulah sebabnya dari empat buku saya yang sudah terbit, memiliki tema yang beragam, dan diterbitkan oleh tiga penerbit yang berbeda. Saya masih hijau dan terlalu memalukan untuk buru-buru mengambil spesialisasi. Bukankah seorang dokter mesti khatam dulu di strata satu sebelum berhak mengambil spesialisasi? Namun bila saya ditanya, buku apa yang sulit dan menantang untuk ditulis, maka jawaba saya adalah buku yang mesti ditulis dengan teknik wawancara. Saya paling grogi menanyai orang. Itulah sebabnya, untuk calon buku kelima, yang bertema kisah nyata, saya mesti memaksa istri saya untuk selalu menelepon nara sumber hehehe….

Ke depan Anda akan terus mengawinkan profesi sebagai geografer dengan penulis, atau menceraikannya dan memilih salah satunya?

Profesi penulis tampaknya mesti jalan terus. Konon usia empat puluh adalah titik balik untuk memperoleh jati diri yang sesungguhnya. Berhubung bulan Februari nanti saya genap berkepala empat, maka predikat sebagai penulis akan saya jadikan sebagai jati diri saya yang baru. Menjadi geografer semoga saja dapat terus jalan juga. Semoga kecakapan saya masih layak jual. Ide menulis pun banyak mengalir saat saya menjelajahi pelosok Tanah Air ketika menjalani profesi sebagai seorang geografer. Jadi, selama bisa “rangkap profesi” saya akan menjalaninya secara paralel.[ez]

Catatan: Foto-foto dokumentasi pribadi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 5 votes)

Bahkan Seorang Master Engineering Lulusan Jerman Pun Berjualan Batik

aybOleh: Anang Y.B.*

Awalnya, saya tidak mengira bila kawan lama saya ini adalah seorang pedagang batik. Dulu sekali, saya begitu dekat dengan dia. Pekerjaan dan ketidaksukaan kepada bos di kantor mempersatukan kami. Perpisahan kami menjelang perusahaan bangkrut sempat membuat saya dan dia tak begitu intens. Kami pun berpisah. Saya memilih mengejar receh sebagai seorang geografer freelance, sedangkan dia melayang ke Jerman memburu impian meraih gelar master, Gatic Engineering.eom

Sampai kini, saya dan dia belum ketemu lagi secara langsung. Tetapi, SMS dari dia beberapa minggu lalu memaksa saya mengerutkan kening. “Enggak salah, tuh?” kata saya dalam hati. Buru-buru saya tenteng ponsel jadul saya ke dekat laptop dan segera berselancar ke alamat situs yang dia akui sebagai situs dia untuk berjualan batik. Edan, ternyata betul!

Batik-cirebon.com… itu dia situs yang membuat saya geleng-geleng kepala. Kok bisa kawan perempuan saya yang master lulusan Jerman dan sempat mengantongi International Certified Trainer untuk GPS Survey dan Mapping berjualan batik? Penasaran yang menggumpal di otak saya membuat saya mantap untuk segera membuatkan satu wawancara online untuk dia. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Niat awal sekadar menggali inspirasi untuk melengkapi naskah buku keempat saya akhirnya justru menemukan satu mutiara yang harus segera saya gosok! Ini unik dan harus segera tulis!

***

“Kenapa batik cirebon? Hahaha… Coz I ‘m 100 persent Cireboneese,” jawab dia saat saya tanya kenapa dia memilih hanya menjual batik cirebon. Dasar tukang ngomong, daftar pertanyaan wawancara online yang awalnya cuma beberapa lembar akhirnya setelah dia jawab menggelembung menjadi 21 halaman. Dan, saya tidak tega untuk menyunat bahkan mengganti kata-kata yang dia tuliskan. Saya tidak mau “luapan optimis” dia saat memaparkan kecintaan pada batik cirebon—batik leluhurnya—menjadi pudar gara-gara saya mengedit dengan semangat sok tahu.

“Saya hafal betul motif batik cirebon, tempat asalnya, pengrajinnya, ikatan emosi secara kultural lebih kuat. Saya bisa seharian ngobrol dengan pengrajin saya tanpa ada rasa curiga, karena saya mengerti bahasa mereka dan mereka mengerti bahasa saya. Karena saya tahu persis keluarga mereka, dan mereka tahu persis pula di mana saya tinggal, siapa orang tua saya, teman-teman saya yang juga teman mereka,” tutur kawan saya ini penuh rasa bangga.

Kawan saya ini pun tak memandang pengrajin batik sekadar bagian dari mata rantai bisnisnya. “Beri pengrajin penghargaan,” lanjut kawan saya berbagi kiat. “Misalnya, ketika batik saya dipakai Pak Menteri Pekerjaan Umum, saya bilang ke mereka, batik mereka dipakai sampai pak menteri, lho…. Atau ketika seorang perancang terkenal membeli batik saya, saya bilang si perancang itu pakai batik kalian, lho. Atau ketika kain saya dipinjam untuk pemotretan majalah, saya tunjukkan majalahnya. Ini lho batik kalian, jadi mereka juga punya pride karyanya dihargai. Tidak hanya sekadar dari harga yang saya beli, tetapi dari prestasi-prestasi yang saya dapat adalah bagian dari kerja keras mereka juga.”

***

Situs Batik-cirebon.com tidaklah terlalu elok apalagi kalau Anda terbiasa berselancar di dunia maya. Sekali pandang, Anda bakal langsung tahu kalau situs—persisnya saya sebut sebagai blog—tersebut dibuat di layanan blog gratisan bernama blogger. Template atau desain tampilannya pun masih menggunakan template standar. Kalau dia mau, lewat Google.com kawan saya ini bisa mencari ribuan desain tampilan blog yang labih menawan. Biarpun begitu, jangan tanya seberapa serius dia menangani situs sekaligus etalase ini.

“Untuk batik, biasanya Rabu sesi foto, kemudian kamis editing, dan Jumat di-upload. Maksudnya, karena biasanya customer kami orang kantoran, Jumat sore kadang mereka suka banyak waktu luang. Nah… di saat waktu itulah kami masuk, atau pas weekend, ibu-ibu kan suka banyak waktu ya browsing pada saat weekend,” cerita dia soal jadwal mengelola situs.

Yang unik, web ini menggunakan dua bahasa sekaligus. Inggris dan Indonesia. Trik agar bisa go international?

“Oya, pasti itu. Alhamdulillah sih, customer kami bisa dibilang worldwide, dari ujung Eropa sampai Afrika.” Saya pun cuma bisa geleng-geleng kepala membaca penuturan dia, yang bagi saya ini adalah sebuah miracle. Batik cirebon yang dijajakan di web sederhana digandrungi orang sejagat…? Ck…ck….

***

Tak sabar rasanya saya menunggu buku saya yang berjudul Kerja di Rumah Emang ‘Napa? menjadi kenyataan. Saya yakin, 21 halaman di dalamnya bakal membawa inspirasi dan motivasi bagi siapa pun untuk bekerja dengan sepenuh hati. Novi Trihastuti—kawan saya tadi—tak sekadar menjadi bumbu penyebab dari buku saya.

Optimisme yang dia pancarkan saat mengurai kesuksesan berjualan batik di sela-sela profesi dia sebagai seorang geodet dan pengurus Ikatan Surveyor Indonesia (dan mengurusi butik di ITC Kuningan, Jakarta) saya yakini bakal membakar semangat para entrepreneur yang terkadang melemah semangatnya.[ayb]

* Anang Y.B. dikenal sebagai penulis bergaya story telling. Menekuni hobi menulis sejak kecil dan saat ini mulai serius menjalani profesi sebagai penulis buku bertema entrepreneur dan rohani populer. Dua buku yang dia tulis berdasarkan catatan harian dalam blog www.jejakgeografer.com adalah buku Sandal Jepit Gereja (OBOR, 2009) dan 88 Mesin Uang di Internet (BEST, 2009). Anang, Y.B. dapat dikontak lewat http://facebook.com/anangyb.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Sandal Jepit Gereja

bk-anangkJudul: Sandal Jepit Gereja

Oleh: Anang Y.B.

Penerbit: Obor, 2009

ISBN: 978-979-565-519-0

Tebal: xiv + 208 halaman

Format: Buku saku

Dalam struktur Gereja Katolik yang dhasyat dan dipelihara secara kukuh, posisi seorang ketua lingkungan berada di lapisan terendah, sedangkan Paus tentulah menempati struktur nun jauh di atas. Jadi, andai diperkenankan berandai-andai, Paus pantaslah kita sebut sebagai “Mahkota Gereja”, sedangkan seorang ketua lingkungan di lapis dasar cukuplah menjadi …. “Sandal Jepit Gereja”.

Melalui buku Sandal Jepit Gereja, Anda diajak masuk lebih dekat untuk menyelami persoalan-persoalan yang dihadapi umat beriman—yang bahkan Anda pun mungkin tidak membayangkan sebelumnya.

Sandal Jepit Gereja ditulis dengan kalimat-kalimat jernih, ringan, dan jenaka. Namun, jangan kaget jika di beberapa penggal kisah—tanpa Anda sadari—air mata Anda akan menetes haru!

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.3/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Menjadi Rekan Bisnis yang Menyenangkan

aybOleh: Anang Y.B.*

Saat mati gaya dan tak tahu mesti ngapain, apa yang Anda lakukan? Kalau saya, paling sering membuka browser Opera Mini di ponsel butut saya. Terkadang satu dua pesan elektronik bisa membantu mengusir rasa bosan. Kegiatan iseng lain yang kadang saya lakukan adalah memencet ponsel dan membuka phonebook, selanjutnya menelepon beberapa nomor khusus. Setidaknya ada lima nomor telepon yang sering saya isengin, biarpun saya tahu bahwa nomor-nomor telepon itu hanya akan memberi saya nada dering panjang tanpa sahutan dari seberang sana.

Saya bukanlah pemaaf yang baik, termasuk saat berbisnis. Sejak melakoni kerja di rumah yang saya mulai pada bulan Agustus 2001, tidak sedikit rekan bisnis yang menelikung saya. Dan … nomor telepon yang sering saya isengin tersebut adalah milik orang yang awalnya saya sebut rekan bisnis. Rata-rata mereka kabur dan menghindari saya karena masalah uang. Ada yang ngemplang tidak membayar jasa saya membuatkan proposal tender, ada juga yang menilap uang honor saya selama dua bulan. Bahkan, yang lebih parah lagi yakni memakai nama dan ijazah saya untuk ikut tender. Tentu saja mereka menggunakannya tanpa memberitahu maupun memberi kompensasi kepada saya.

Setelah sekian kali gagal mengajak orang-orang tersebut untuk bicara baik-baik, biasanya saya akan melupakan mereka dan menganggap saya sedang apes dan tidak hati-hati. Melupakan kasus mereka tetapi tidak menghapus nama mereka dari ponsel saya. Itulah sebabnya, bila iseng sedang merasuki saya, maka  saya pencet saja nomor telepon mereka. Setidaknya panggilan dari telepon saya akan menjadi lengkingan srigala yang akan mengganggu mereka barang sedetik dua detik!

***

Apakah saya adalah pecundang karena gampang kena kibul? Mungkin jawabannya adalah iya, paling tidak menurut orang-orang yang pernah menipu saya. Bukankah banyak dari pebisnis meyakini ungkapan yang berbunyi “orang baik adalah pecundang”? Tidak sedikit juga yang punya prinsip  orang lugu mudah ditipu, orang kampung  gampang ditelikung.  Saya berharap Anda bukan bagian dari pebisnis yang menganut paham seperti itu.

Pertanyaan mendasar yang bisa kita ajukan ke diri sendiri adalah: “Rekan bisnis macam apa yang ingin saya cari? Bila jawabannya adalah mitra bisnis yang jujur maka terapkanlah itu juga dalam perilaku Anda saat menjalankan bisnis. Sebab, timpanglah dunia ini bila Anda menerapkan standar ganda: Anda bermimpi memiliki sederet mitra bisnis yang jujur, namun di sisi lain Anda hanya jujur saat dirasa perlu saja!

Mencari mitra bisnis tidaklah mudah, jadi jangan sia-siakan setiap mitra bisnis Andabarang satu orang pundengan berperilaku tidak menyenangkan. Jangan Anda pikir dengan melepas satu mitra bisnis Anda hanya akan kehilangan satu orang saja. Dunia tidaklah sesempit batok kelapa yang ditelungkupkan. Keburukan dan perilaku tidak menyenangkan dari seorang pelaku usaha akan cepat menular melebihi kecepatan debu melayang di musim kering.

Ketika saya tertipu oleh seorang bos konsultan pemetaan, tanpa sadar saya telah menyebarkan perilaku buruk mitra tersebut, yaitu saat saya mengontak teman si bos itu untuk minta informasi mengenai nomor telepon lain yang bisa saya hubungi. “Emang ada apa?” tanya kawan yang saya mintai nomor telepon rekan bisnis yang telah membawa kabur uang saya. Tentu saja saya masih berkilah dengan mengatakan tidak ada apa-apa. Berhubung kawan yang satu ini tidak memiliki  informasi yang saya cari, maka dia pun dengan suka rela berburu informasi lewat milis, Facebook, dan e-mail. Dan… saya pun tidak bisa mencegah setiap konfirmasi balik yang menyertakan kalimat tanya, emang ada apa sih?

Tak ingin persoalan tersebut melebar ke mana-mana dan menyeret orang yang tidak terkait, akhirnya dengan terpaksa saya membenarkan persolaan yang saya alami kepada beberapa orang yang saya percaya. Perilaku tidak terpuji yang menimpa saya pun akhirnya menjadi bola salju yang menggelinding cepat menuruni lereng curam. Dan, saya pun tidak kuasa menahan kabar miring itu, sebab akhirnya korban-korban lainnya pun turut masuk gelanggang! Anda tahu sekarang betapa ngerinya saat pepatah “karena nila setitik rusak susu sebelanga” menjadi nyata dalam kehidupan (bisnis) Anda?

Jujur Bukan Sekadar Tidak Berbohong

Menutupi fakta hingga orang lain tergelincir pada penilaian salah adalah juga perilaku tidak jujur.  Saat saya menjual foto satelit (bukan foto bergambar satelit tetapi foto permukaan bumi yang dipotret menggunakan satelit) bisa saja saya berlagak bloon, dan menjawab lantang ADA!” saat klien menanyakan adakah koleksi foto untuk kota Tarakan. Bila saya buru-buru mengirim barang  dan membuat invoice, mungkin bisnis saya dalam bidang jual-beli foto satelit hanya seumur jagung. Sebab, klien pastilah akan menahan geram karena data yang mereka terima biarpun benar tetapi belum tentu tepat.

Untuk itulah, karena saya tidak ingin buru-buru gulung  tikar, saya selalu memberikan informasi sedetail yang bisa saya sampaikan. Saya akan katakan seberapa baik atau seberapa buruk kualitas foto satelit tersebut. Bila memang lokasi pada foto yang dicari klien sebagian tertutup awan, saya pun akan menyebutkan dengan angka pasti berapa prosen area yang tertutup. Mereka pun biasanya tidak buru-buru kabur dan mencari penjual lain, suatu tindakan yang ditakui kebanyakan penjual. Mereka akan bertanya apakah ada foto untuk lokasi yang sama namun direkam  pada tanggal yang berbeda. Saya pun dengan senang hati akan kembali membuka internet dan mengakses situs mitra saya di Amerika sana untuk mencek seluruh koleksi foto satelit di lokasi tersebut.

Klien pun menjadi betah dan saya pun malah mendapat tambahan berkah. Bisakah beberapa foto yang direkam pada tanggal berbeda dibuat mozaik untuk menghilangkan awan? Saya pun mengangguk mantap sambil menjelaskan berapa nilai rupiah yang harus ditambahkan untuk tambahan jasa semacam itu. Ketidaksempurnaan produk yang saya jual sudah saya buka secara blak-blakan sebelum transaksi terjadi. Dan, justru hal itu menjadi pembuka bagi saya untuk tidak sekadar menjual barang tetapi sekaligus jasa. Klien pun menjadi respek, lebih-lebih setelah mereka tahu bahwa saya berjualan foto satelit karena saya memang memiliki kompetensi keilmuan di bidang tersebut.

Bila sudah demikian, maka saya pun bisa memastikan bahwa klien-klien saya bakal menjadi sahabat saya. Mereka meng-add akun Facebook saya, mengirimkan ucapan saat hari raya, dan pastinya bakal mengirimkan order berikutnya kepada saya. Tidak hanya order dari klien lama tersebut, tetapi dari klien-klien baru yang mendengar cerita positif mengenai layanan saya.

Inilah pelumas paling manjur bagi bisnis foto satelit yang saya jalani dari rumah. Saya pun tak perlu mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk mengikuti pameran, menjadi sponsor aneka seminar bertema foto satelit, ataupun menjalani road show dari satu kota ke kota lain untuk menjajakan dagangan saya. Sama seperti berita buruk, layanan yang memuaskan pun bisa menyebar  dengan cepat tanpa Anda perlu bersusahg-payah mengeluarkan banyak uang.

Terbukti sekarang bahwa jujur tidak membuat klien kabur. Kejujuran yang polos  dan tanpa prasangka juga tidak bakal menggagalkan transaksi. Kejujuran malah membuat kita makin mujur dan bisnis makin tumbuh subur. Sekarang, kembali kepada Anda. Apakah kejujuran dalam bisnis  memang sudah selaras dengan kepribadian Anda, ataukah bagian dari strategi bisnis yang Anda terapkan, yang penting lakukan itu terus-menerus. Biarpun banyak pebisnis tertawa terkekeh-kekeh melihat Anda berlaku jujur layaknya orang yang masih awam, tetapi yakinlah kejujuran akan membuahkan predikat baru untuk Anda: Seorang mitra bisnis yang ideal dan menyenangkan![ayb]

* Anang Y.B. dikenal sebagai penulis bergaya story telling. Menekuni hobi menulis sejak kecil dan saat ini mulai serius menjalani profesi sebagai penulis buku bertema entrepreneur dan rohani populer. Dua buku yang dia tulis berdasarkan catatan harian dalam blog www.jejakgeografer.com adalah buku Sandal Jepit Gereja (OBOR, 2009) dan 88 Mesin Uang di Internet (BEST, 2009). Anang, Y.B. dapat dikontak lewat http://facebook.com/anangyb

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Sang Negosiator

ayb1Oleh: Anang Y.B.*

Bekerja secara self employed ibarat bertarung di ring tinju, dan bukan seperti berperang bersama satu peleton pasukan. Saat bel tanda mulai berlaga dibunyikan, Anda bakal mempertahankan hidup mati sendirian, ya sendirian. Tak ada yang bisa andalkan selain gerak cepat Anda sendiri. Kegesitan Anda, kemampuan berkelit, taktik jitu, dan sederet pengalaman sebelumnya adalah modal yang bisa Anda kerahkan untuk memenangi pertandingan. Semuanya harus berasal dari diri Anda sendiri, bukan dari orang lain!

Mengerikan? Mungkin ya bagi Anda yang terbiasa bekerja dalam sebuah tim semasa masih menjadi karyawan. Anda hanya perlu menekuni dan berkonsentrasi pada bidang tugas Anda saja. Semisal Anda berada pada posisi accounting di sebuah perusahaan trading, Anda tidak perlu pusing soal bagaimana stock barang mesti disiapkan, bagaimana proses negosiasi pengadaan barang, tidak ada urusan soal mobil deliveri dan tetek-bengek di luar soal keuangan. Kini saat Anda banting setir kerja di rumah, Anda mendadak menjadi panitia tunggal dari semua urusan. Dari A sampai Z dan balik lagi ke A. Terus berputar.

Taruhlah Anda punya usaha rumahan berupa jasa sablon mug. Maka, urusan Anda bakal menjadi sederet persoalan dari yang remeh hingga yang rumit memusingkan kepala. Awalnya, Anda mesti mencari bahan baku mug, tinta sablon, dan kertas sublim. Belum selesai urusan itu Anda mesti juga memutar otak untuk mencari klien, merayunya, dan bernegosiasi soal harga. Barang siap, Anda pun harus segera memikirkan cara pengiriman apakah diantar langsung, klien mengambil sendiri, atau Anda menggunakan jasa kurir. Bagaimana sistem packing-nya? Dari sepuluh mug yang dipesan mungkin keuntungan Anda berasal dari satu mug saja. Jadi, kalau sistem pengepakan kedodoran hingga salah satu atau salah dua mug retak maka Anda hanya bisa gigit jari atau gigit bibir sambil menangis sesenggukan.

Karena dalam setiap tahap Anda berhubungan dengan pihak lain, maka satu jurus yang mutlak Anda kuasai adalah jurus bernegosiasi. Negosiasi tak sekadar bersilat lidah karena bukan cuma lidah yang Anda manfaatkan untuk memenangi sebuah negosiasi. Otak dan seluruh gerak tubuh Anda turut memberi andil pada hasil negosiasi. Anda bisa menang tetapi Anda bisa juga mati kutu tak berkutik karena salah memanfaatkan lidah dan otak Anda.

Nyaris seluruh hidup kita dilewati dengan bernegosiasi. Saat Anda memutuskan untuk resign dan kerja di rumah saja, pastinya Anda perlu bernegosiasi dengan pasangan Anda atau malah dengan mertua Anda juga. Pagi hari mungkin Anda perlu bernegosiasi soal menu sarapan pagi. Anda pun perlu bernegosiasi dengan tukang sayur keliling untuk mendapatkan harga ikan asin yang termurah. Saat memegang remote control televisi, negosiasi menjadi mutlak ada karena setiap kepala punya acara televisi yang diidolakan. Untuk urusan berapa mau punya anak, jaraknya masing-masing berapa tahun, pingin anak cowok atau cewek dulu, mau diikutkan les apa, semua perlu negosiasi. Hidup Anda dikelilingi dengan sejuta negosiasi. Dan, jalan menuju kesuksesan ditentukan pula oleh kemahiran Anda memainkan peran saat berada di panggung negosiasi.

Lantas, apa sebetulnya pengertian dari kata “negosiasi”? Secara gampang, negosiasi bisa kita pahami sebagai proses di mana kita memenuhi persyaratan untuk mendapatkan yang kita inginkan dari orang lain yang sebaliknya juga menginginkan sesuatu dari kita. Negosiasi adalah juga proses mencapai kompromi. Ukurannya adalah sama-sama bisa menerima walau tidak selalu kedua belah pihak menerima keuntungan yang sama besar.

Bernegosiasi bisa dipelajari dan tidak perlu bakat. Hal pertama yang harus Anda ingat adalah:

1. Negosiasi bertujuan demi keuntungan kedua belah pihak, bukan mengalahkan satu sama lain.

2. Negosiasi mengantar kita pada satu hubungan yang lebih baik, bukan malah memutus hubungan yang sudah terjalin.

3. Negosiasi yang baik berakhir pada satu kesepakatan, walau tidak selalu begitu. Dalam hal ini bisa saja dua belah pihak bersepakat untuk tidak sepakat.

Menjadi negosiator perlu persiapan. Terlalu bodoh bila Anda terburu-buru membuka negosiasi tanpa melakukan persiapan dan penelitian terlebih dahulu. Keuntungan dan kredibilitas Anda bakal melayang dalam sekejap bila Anda masuk dalam ruang negosiasi tanpa persiapan. Pasti diperlukan sederet pertemuan yang melelahkan dan membosankan bila negosiasi hanya berputar-putar tak menentu. Apalagi kalau Anda bernegosisi asal cuap karena tidak siap. Ingat, waktu dan energi Anda terbatas. Lebih baik buang sedikit energi dan waktu Anda untuk melakukan persiapan sebaik-baiknya sebelum berlaga.

Jadi, Apa yang perlu disiapkan sebelum Anda melakukan negosiasi? Ini dia yang perlu Anda tahu sebelum masuk meja perundingan:

1. Apa tujuan yang ingin Anda raih?

Tulis secara detail semua hasil yang ingin Anda dapat. Urutkan dari yang paling minimal hingga hasil bonus atau yang paling menggembirakan dan tak terduga karena lawan Anda mati kutu. Menetapkan tujuan secara tertulis dan menuliskannya secara konkret akan menghantar Anda pada pemilihan taktik dan strategi bernegosiasi nantinya.

2. Siapa lawan atau mitra dalam negosiasi?

Anda bisa saja menganggap pihak yang Anda ajak bernegosiasi sebagai lawan atau bisa juga sebagai mitra. Apa pun itu, Anda harus penuh selidik terhadap mereka. Cari tahu apakah lawan Anda itu seorang diri atau satu tim yang terdiri dari pimpinan, ahli marketing, sales, accounting, atau bahkan penasihat hukumnya bakal ikut nimbrung? Bila sendirian, lelaki atau perempuankah mereka? Anda tentu tahu bagaimana mencoloknya perbedaan bernegosiasi dengan lelaki dibandingkan bernegosiasi dengan perempuan yang penuh senyum sambil menegakkan kepalanya!

Anda juga harus tahu betul apa yang pingin diraih oleh lawan negosiasi. Strategi apa yang bakal dia terapkan. Tebak juga karakter atau temperamen lawan bicara Anda. Seorang yang bermuka manis namun penuh muslihat, ataukan seorang yang sangar namun penuh kompromi?

3. Bagaimana model pertemuan untuk melakukan negosiasi?

Pastikan Anda melakukan pertemuan dengan memanfaatkan waktu secara produktif. Bila satu pertemuan saja cukup untuk mencapai kesepakatan, tutup saja segera dan jangan membuka peluang baru untuk mementahkan apa yang sudah Anda raih. Pastikan bahwa pertemuan negosiasi membahas persoalan yang sesuai dengan yang Anda persiapkan. Sering kali lawan negosiasi memelesetkan agenda suatu pembicaraan dengan menggunakan kalimat yang diawali kata, “Ngomong-omong….” Bila itu terjadi, waspadalah. Untuk itu sebelum pertemuan dimulai Anda perlu membuat penegasan, apa agenda pembicaraan pada pertemuan itu. Bila perlu, sodorkan agenda yang sudah Anda rancang pada kesempatan pertama. Jangan ragu dan malu untuk melakukan itu. Sebab, bila lawan Anda memiliki agenda pembicaraan yang berbeda maka segala persiapan Anda bakal berantakan.

Sekarang tiba saatnya untuk bernegosiasi. Debat adalah salah satu makanan utama dalam proses negosiasi, bahkan mencapai 80 persen dari waktu yang Anda siapkan. Kecakapan Anda dalam berdebat bakal menentukan apakah negosiasi akan berjalan alot atau cukup satu ronde saja. Kemampuan berdebat juga membuka pintu gerbang pada pemahaman mengenai apa yang pingin diraih lawan Anda. Teknik memancing jawaban “tidak” bisa Anda terapkan untuk mengetahui sederet argumen lawan Anda. Semakin banyak Anda menemukan hal-hal yang terkait dengan minat dan kemauan lawan Anda, maka semakin besar pula Anda untuk memenangi perdebatan.

Adakah trik untuk memenangi perdebatan? Coba saja beberapa langkah mudah berikut ini:

1. Ajukan argumen yang tak terbantahkan

Semua orang tahu, hanya mereka yang paham persoalan yang bakal menjadi pemenang. Ingatlah itu. Menyiapkan diri dengan membuat daftar semua yang ingin Anda raih plus argumennya menjadi hal yang tidak bisa dianggap enteng. Lakukan itu sebaik mungkin. Bila perlu rancanglah argumen-argumen secara bertingkat mulai dari yang paling sederhana hingga argumen ilmiah sesuai kaidah perdagangan.

2. Pancing emosi lawan

Emosi berbanding terbalik dengan rasio. Manfaatkan teori ini saat argumen tidak lagi cukup ampuh untuk memenangi perdebatan. Semakin terpancing emosi lawan, maka dapat dipastikan dia bakal mengajukan argumen-argumen yang enteng untuk dipatahkan. Pandai-pandailah saat memancing emosi lawan. Bersikap tenang dan tetap santun adalah nasihat terbaik. Gunakan pilihan kata-kata yang baik namun menohok lawan Anda.

“Sebenarnya yang saya sampaikan tadi adalah sesuatu yang sepele, namun baiklah saya akan ulangi bila memang Bapak sulit untuk menangkap maksudnya….”

“Apakah kami harus menjelaskan hal sesederhana ini?”

“Bila tidak keberatan, apakah saya bisa mendapat penjelasan dari tim Bapak yang lebih paham mengenai masalah ini?”

“Saya kira terlalu menggelikan bila saya harus memenuhi permintaan Anda.”

3. Buatlah lawan kelelahan

Lelah berdebat berjam-jam bisa membuat Anda atau lawan bicara Anda kehilangan mood dan konsentrasi. Manfaatkan itu! Pancinglah lawan Anda sampai pada titik kelelahannya. Anda bisa datang dengan mengajak kawan sehingga bisa saling susul bergantian menyerang lawan Anda. Sering kali Anda harus berbicara panjang lebar hingga membuat lawan bicara Anda menatap Anda dengan pandangan kosong. Lakukan itu. Dan, bila lawan debat Anda terlihat kuyu, seranglah dia dengan tawaran yang tidak bisa dia tolak. Kemungkinan besar Anda akan sukses hari itu juga!

Nah, Anda sudah tahu manfaat dari kemampuan bernegosiasi? Asahlah dari sekarang. Bila perlu pancing pasangan Anda untuk bernegosiasi dalam banyak hal. Boleh pakai teknik yang membuat dia kelelahan, namun tentu saja jangan pakai teknik memancing emosi. Bisa gawat nanti![ayb]

*Anang Y.B.  dikenal sebagai penulis bergaya story telling. Pria ini menyebut dirinya sebagai blogger yang geografer. Menjadi geografer memungkinkan dia untuk berkeliling Indonesia dan memperoleh banyak inspirasi menulis dari catatan perjalanannya. Seluruh kisah unik dan opininya dia tuangkan dalam blog beralamat di www.jejakgeografer.com, yang kini telah memiliki lebih dari 500 cerita. Anang dapat dihubungi melalui pos-el: anangyb[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Bekerja Tidak Sesuai Gelar, Emang ‘Napa?

aybOleh: Anang Y.B.*

Sadarkah Anda bahwa bumi ini disesaki oleh orang berpendidikan namun terlantar? Bila tidak percaya, tengoklah acara-acara job fair yang banyak digelar di berbagai sudut kota. Ribuan orang mengantri membentuk deretan mengular sambil mengempit map berisi bukti bahwa mereka adalah kaum berpendidikan. Mungkin, Anda pernah menjadi bagian dari mereka. Ya, itulah nasib lulusan kita. Sepuluh orang lulus, lowongan hanya tersedia dua, dan sayangnya hanya satu lowongan yang terisi karena tak ada orang lain yang punya kemampuan untuk mengisinya. Tragis? Memang iya!

Bersyukurlah bila Anda sukses meniti karier yang sejalan dengan gelar yang melekat di dada Anda. Sarjana kehutanan bekerja di sektor kehutanan, sarjana akuntansi berkecimpung di sektor keuangan, sarjana pendidikan mantap sebagai pendidik. Hem betapa idealnya bila semua orang bisa seperti itu. Sayangnya, yang mulus-mulus saja seperti itu cuma ada di dongeng atau acara mimbar agama di televisi saja. Di kehidupan nyata, terlalu banyak contoh pemilik gelar mencari nafkah tidak dengan mengamalkan textbooks yang dia terima selama menuntut ilmu. Salahkah? Tentu tidak. Dan bila Anda satu di antaranya, Anda saya hibur dengan kalimat: Tidak usah gusar!

Ya, Anda tidak usah sedih karena Anda tidak sendiri. Pernah ke Solo? Sekali waktu mampirlah di trotoar di sepanjang kota Solo Baru. Bila Anda jeli, Anda akan menemukan warung makan lesehan yang selalu ramai. Saking ramainya, Anda mungkin hanya kebagian tempat duduk berupa tikar tanpa meja. Pengunjung akan semakin membludak bila akhir pekan datang. Selain muda-mudi yang sengaja nongkrong di sana secara berpasangan, tempat makan itu juga selalu disesaki oleh rombongan, entah keluarga maupun pelancong. Dan, rata-rata mereka adalah pembeli setia yang selalu ketagihan untuk datang dan datang lagi.

Padahal apa sih istimewanya tempat itu? Karena murah? Memang iya sih, tetapi bukankah masih banyak tempat makan lain yang sama murahnya di sepanjang kota Solo? Karena masakannya khas? Ah, tidak juga. Entahlah, saya juga tidak tahu persis. Mungkin kombinasi antara harga murah, makanan yang bervariasi, suasana lesehan yang nyaman serta keramahan dari pemilik warung yang membuat tempat itu tak pernah sepi.

Bagi saya, satu hal yang membuat unik adalah gelar akademis yang disandang pasangan suami istri pemilik warung itu. Yang laki-laki adalah sarjana hukum, dan yang perempuan kalau tidak salah adalah wisudawati dari akademi sekretaris. Dan… kini mereka dengan bangga membuka warung lesehan.

Saya tidak tahu bagaimana perjuangan pasangan ini dalam meyakinkan kedua orang tua mereka yang notabene sudah punya impian dan gambaran mengenai profesi yang bakal disandang anaknya selepas toga dilepas. Menjadi penasihat hukum, mungkin. Atau, meniti karier di kejaksaan. Atau, entah profesi yang membanggakan lainnya. Pun halnya dengan pihak perempuan yang menamatkan akademi skretaris. Mungkin ibunya sudah terbayang-bayang memasuki kantor anaknya yang adem dan penuh aroma wangi yang merebak dari sela-sela balutan seragam sekretaris yang menawan.

Dalam ukuran bergengsi dan tidak bergengsi, tentu pilihan menjadi pemilik warung lesehan pastilah berada dalam tingkatan paling buncit. Mana bisa keanggunan profesi sekretaris disepadankan dengan pengaduk wedang jahe? Mana bisa kegagahan seorang penasihat hukum disandingkan dengan profesi pemilik warung lesehan yang musti membongkar pasang tenda dan mengelar tikar setiap kali hendak mengumpulkan duit?

Hidup adalah pilihan, dan sering kali penonton hanya bisa bersorak dari luar gelanggang. Mencemooh saah kita salah pilih, dan memalingkan muka saat kita menggenggam sukses. Anda mungkin bisa bersikukuh meniti karier sesuai gelar Anda. Bulan ini Anda mungkin bisa berujar, lowongan memang belum ada jadi saya semestinya sabar. Setengah tahun kemudian mungkin Anda bakal berujar lagi, nasib manusia hanya Tuhan yang bisa menentukan, yang penting tabah dan terus beriktiar. Dan, bila setahun Anda masih juga tak berpenghasilan berdasarkan gelar Anda, mungkin Anda akan kembali mengulang nyanyian penghibur diri seperti yang Anda lantunkan sebelumnya. Banyak dari kita yang sepasrah ini. Namunseperti contoh pemilik warung lesehan tadibanyak juga yang tetap bersemangat dan lebih realistis.

Bekerja di ladang yang tidak sesuai dengan gelar pendidikan bukan berarti Anda telah murtad dan berkhianat. Ketika isu bekerja tidak sesuai gelar ini saya lempar dalam diskusi di Facebook, banyak pendapat yang muncul. Rata-rata mereka mengangap hal ini sebagai kewajaran, bukan sesuatu yang tabu untuk dilakoni. Mengapa musti malu? Siapa tahu kita memang salah jalan saat memilih jurusan di kampus! Kata salah seorang pemberi komentar. Benar juga.

Yang lain berpendapat, menuntut ilmu di kampus tidak melulu untuk meraih kerja. Banyak orang memanfaatkan kampus untuk membangun jaringan pertemanan dan koneksi yang lebih kuat. Banyak juga yang menjadikan kampus sebagai wadah untuk menempa kemampuan manajerial dan berorganisasi. Jadi, biarpun profesi yang ditekuni sekarang tidak paralel dengan gelar yang terpampang di foto wisuda, bukan berarti Anda telah salah jalan. Anda telah mendapat manfaat berupa kemampuan intelektual. Jadi, tidak ada yang sia-sia. Begitulah komentar yang lain lagi.

Dan, seperti pasangan pedagang lesehan di Solo Baru yang terlihat rukun dan adem ayem, Anda pun bisa menepis kegundahan Anda bila saat ini profesi Anda jauh dari gelar yang melekat pada nama Anda. Sebaliknya, bila Anda saat ini belum juga bekerja dan masih menunggu ada surat panggilan kerja sesuai profesi yang Anda dan orang tua Anda idam-idamkan, cobalah realistis. Menunggu sambil memperpanjang masa menganggur Anda barang satu dua tahun lagi menurut saya sungguh tidak realistis. Ingat, hakikat manusia adalah sebagai makhluk pekerja. Terlalu lama menganggur pastilah merupakan pengingkaran atas hakikat itu. Dalam bahasa kasar, menganggur adalah proses pembusukan dari nilai kemanusiaan Anda.

Bila membuka warung lesehan memberi penghasilan yang jauh lebih yummy dibandingkan menjadi sekretaris yang duitnya hanya pas untuk membeli bedak dan pulsa, mengapa kita mesti ragu untuk menjalani? Bila dari deretan pelanggan di warung bisa memberi penghasilan bersih setiap hari hingga tiga ratus ribu, mengapa mesti berharap-harap menjadi pegawai kejaksaan yang bahkan untuk menabung tiga puluh ribu sebulan saja belum tentu bisa?

Senyum dan keridaan pasangan penjual warung lesehan saat menghitung untung selepas warung tutup mungkin bisa memotivasi Anda untuk segera bangkit dari mimpi tanpa ujung. Keuntungan dari warung lesehan diputar untuk membuka kebun anturium. Keuntungan dari kebun anturium diputar lagi untuk kulakan beras kualitas super dari Klaten. Dan ujung-ujungnya, hanya yang beriktiar yang dapat menjadi manusia sesuai hakikatnya!

Terlalu lama terlela dalam tidur panjang menanti pekerjaan yang sebungkus dengan gelar bukan zamannya lagi. Tiap tahun ribuan orang menambah panjang saingain Anda di dunia kerja. Jadi, pastikan Anda tidak menghabiskan umur dengan mimpi kerja sambil bertoga. Bila saya kerja di tempat yang tidak sesuai gelar, emang ‘napa? Yang penting bisa kaya dan enjoy aja![ayb]

*Anang Y.B.  dikenal sebagai penulis bergaya story telling. Pria ini menyebut dirinya sebagai blogger yang geografer. Menjadi geografer memungkinkan dia untuk berkeliling Indonesia dan memperoleh banyak inspirasi menulis dari catatan perjalanannya. Seluruh kisah unik dan opininya dia tuangkan dalam blog beralamat di www.jejakgeografer.com, yang kini telah memiliki lebih dari 500 cerita. Anang dapat dihubungi melalui pos-el: anangyb[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Bekerja dari Rumah Secara Efektif

aybOleh: Anang, Y.B.*

Saat bekerja di kantor, mungkin Anda perlu mencuri-curi pandang untuk menonton acara infotainment lewat TV di sudut ruangan. Soal dorongan untuk berselancar di dunia maya pun terkadang musti kita tahan-tahan saat masih berada pada jam sibuk di kantor, khawatir bos tiba-tiba nongol di belakang punggung kita. Bahkan, untuk urusan kecil seperti mencomot makanan kecil yang kita bawa dari rumah, tak jarang kita musti mencari waktu yang paling pas. Yah, sederet kesenangan yang menggoda memang musti kita tunda saat semua orang berada pada sepenggal waktu bernama “jam kerja”.

Bagaimana halnya dengan bekerja di rumah? Hem, mungkin Anda akan berkata, wow... enak banget, tak seorang pun mengawasi saya! Mau nonton Oprah? Ayuk aja.  Kita tinggal menyeret kaki barang satu dua langkah saja. Pingin membuka Facebook, chatting, nonton video klip di Youtube, ah... gampang. Toh semua kendali di tangan kita. Bahkan, kalau mau rebahan barang 15 menit, siapa bakal melarang?

Ups, jangan kebablasan dong! Coba ingat kembali tujuan Anda bekerja di rumah. Bukankah Anda memilih bekerja di rumah agar dapat bekerja lebih efisien di dekat keluarga? Nah, jangan cuma kata kunci “di dekat keluarga” saja yang  ditonjolkan. Masih ada satu kata kunci lagi yang harus dipenuhi yakni “bekerja lebih efisien”. Tanpa perlu berdebat pun kita (walau malu mengakui) sadar kalau tontonan TV, kerling genit dari dunia maya, termasuk panggilan dari bantal lembut di samping Anda adalah godaan paling seksi yang bakal memerosotkan efisiensi kerja Anda di rumah. Niat mengecek e-mail yang awalnya kita toleransi dengan kalimat, “lima menit saja”, bisa membengkak menjadi satu jam dan tahu-tahu sudah mampir di Facebook teman. Keinginan untuk mengecilkan volume TV ternyata hanyalah alasan di bawah sadar untuk mengintip gossip terbaru di dunia infotainment.

Memang tidak semua orang bisa galak terhadap dirinya sendiri. Itulah sebabnya mengapa banyak orang justru menjadi tidak produktif saat bekerja sendiri tanpa diawasi, tanpa diingatkan terus, bahkan ada orang yang harus ditekan agar menghasilkan sesuatu. Moga-moga Anda tidak termasuk satu di antaranya, lebih-lebih bila Anda adalah seseorang yang bekerja di rumah secara self employed. Bekerja secara mandiri dan disiplin adalah satu tugas berat yang musti ditanggung bila Anda sudah memutuskan bekerja dari rumah. Tanpa perlu menunggu bel berdentang, Anda mesti tahu kapan harus mulai duduk di depan meja kerja Anda. Tanpa perlu dipelototi Anda pun mesti sadar kalau bekerja sambil membiarkan Yahoo Mesenger dan Facebook online, bakal membuat Anda tidak bakal bisa berkonsentrasi secara penuh. Anda patut menjadi bos yang galak bagi diri Anda sendiri.

Bekerja secara efektif di rumah bisa Anda mulai dengan membuat aturan main yang jelas. Tentu saja niatnya bukan untuk membuang kenyamanan, sebab bukankah kenyamanan adalah salah satu pendorong Anda untuk memilih bekerja dari rumah? Aturan main perlu Anda buat agar Anda memiliki alat ukur yang bakal menakar seberapa efisien Anda bekerja di rumah, seberapa kedodoran Anda menggunakan waktu setiap harinya, serta seberapa banyak Anda menghasilkan sesuatu dalam satu putaran hari.

Berikut ini sedikit tip yang sudah saya terapkan sendiri dan lumayan manjur. Semoga ampuh juga buat Anda:

1. Pastikan Anda akan bekerja berapa hari dalam satu minggu

Biarpun bekerja di rumah terbilang flksibel termasuk urusan mengatur waktu, tetapi Anda mesti tegas, hari apa saja Anda bakal bekerja sepenuh hari, dan kapan Anda akan “melepaskan pekerjaan” dan mengisi waktu dengan keluarga Anda. Cara paling pas untuk menentukan berapa hari musti bekerja di rumah adalah dengan menyesuaikan dengan waktu libur keluarga. Bila istri Anda bekerja lima hari dalam seminggu, dan Anak Anda pun libur sekolah pada hari Sabtu dan Minggu, maka patutlah bila Anda mengambil hari Senin hingga Jumat saja untuk bekerja seharian di rumah. Selebihnya Anda bisa berlibur dan mengabdikan waktu Anda untuk istri dan Anak Anda.

2. Pastikan berapa jam Anda bakal bekerja dalam satu hari

Jangan mau dicap sebagai penganggur terselubung dengan hanya bekerja sejam dua jam dalam sehari. Buatlah target layaknya manusia produktif lainnya. Taruhlah Anda sanggup bekerja 8 jam sehari, ya buatlah itu sebagai komitmen Anda kepada diri Anda sendiri. Taati komitmen itu secara tegas dan tidak kolokan biarpun tak ada satu malaikat pun bakal memeloroti Anda saat melalaikannya.

3. Pastikan berapa kali Anda akan beristirahat dalam satu hari

Bekerja layaknya kalong yang mengambil saat gelap tak ada matahari untuk bekerja mungkin saja bisa Anda lakukan. Tetapi bagi kebanyakan orang, pagi hari adalah saat paling efektif untuk bekerja. Secara pribadi saya terbiasa mengambil waktu kerja antara pukul 08.00-17.30 setiap harinya. Mengapa jam delapan pagi? Ya, karena pada jam segitu istri saya sudah berangkat ke kantor, anak-anak sudah dalam asuhan bapak-ibu gurunya, saya sudah puas dengan menonton berita pagi dan infotainment terbaru, perut sudah kenyang, dan badan segar sehabis diguyur air dingin. Untuk istirahat, saya sengaja mengambil waktu satu jam mulai dari jam 13.00 dan bukannya jam 12.00 karena rasa lapar biasanya baru menyerang saat jam menunjukkan jam 13.00. Layaknya acara seminar, sore pun saya perlu mengistirahatkan otak barang 15 menit mulai jam tiga sore walau sekadar untuk mondar-mandir dari kamar ke halaman depan rumah, atau terkadang mencuil segelas es krim milik anak saya di kulkas.

4. Pastikan kapan saja Anda akan menengok internet

Menjauhkan remote control TV gampang saja dilakukan, tetapi menjauhkan internet yang menyatu dengan komputer sungguh mustahil dilakukan karena dari situlah nafkah saya berawal. Cara paling kompromis adalah dengan mengatur kapan kita musti berselancar di situs-situs penggoda seperti Facebook dan Gmail. Untuk sekadar mengecek e-mail, saya patok tigal kali sehari untuk menengoknya. Sekali saat mulai bekerja. Biasanya untuk mengetahui e-mail yang masuk hari sebelumnya yang terlewatkan. Cek e-mail kedua saya lakukan menjelang istirahat siang. Dan, cek e-mail ketiga menjelang saya mengemasi laptop di sore hari. Bagaimana dengan Facebook? Wah, ini juga biang penggoda. Pada awalnya jam bekerja saya begitu berantakan karena jeratan dari situs pertemanan ini. Untunglah lambat laun saya bisa menjaga jarak. Kini Facebook hanya saya buka saat benar-benar di luar jam bekerja saya. Entah saat jam istirahat maupun selepas jam resmi bekerja usai.

5. Pastikan apa saja yang Anda butuhkan saat bekerja

Tak cuma di rumah, di kantor pun banyak waktu kita terbuang sekadar untuk mondar-mandir mengambil kertas, membuat kopi, atau mengangkat telepon. Bila Anda sudah bertekad untuk bekerja secara efektif, pastikan semua yang Anda perlukan berada tak jauh dari tempat Anda duduk. Segelas air putih letakkan dalam jangkauan tangan Anda. Sebab sering terjadi niat mengambil segelas air berubah menjadi keasyikan menonton TV. Demikian pula mengenai alat tulis dan buku-buku yang mungkin Anda perlukan selama bekerja dalam sehari itu. Pastikan semuanya tersedia dalam jarak yang tidak perlu Anda beranjak dari tempat duduk.

6. Pastikan apa yang menjadi prioritas pertama

Delapan jam sehari terasa kurang untuk menyelesaikan pekerjaan dalam sehari? Ah, siapa bilang! Coba selidiki apa yang sudah Anda lakukan selama delapan jam di hari kemarin. Tulis semuanya dan dengan hati bersih coba Anda cek mana yang sebetulnya memang harus Anda lakukan di hari itu, dan cek juga mana aktivitas-aktivitas yang sebetulnya adalah sekadar aktivitas yang muncul secara spontan serta tidak mesti Anda lakukan di hari itu. Evaluasi atas hari kemarin menjadi patokan bagi Anda untuk mengisi aktivitas Anda di hari berikutnya dengan lebih terencana.

Nah, bekerja di rumah ternyata bisa juga dilakukan secara efektif, kan? Sebab biarpun dilakukan dengan santai berkaos oblong dan tanpa alas kaki, sudah semestinya bekerja dari rumah dilakoni dengan penuh kesungguhan dan profesional.[ayb]

*Anang Y.B.  dikenal sebagai penulis bergaya story telling. Pria ini menyebut dirinya sebagai blogger yang geografer. Menjadi geografer memungkinkan dia untuk berkeliling Indonesia dan memperoleh banyak inspirasi menulis dari catatan perjalanannya. Seluruh kisah unik dan opininya dia tuangkan dalam blog beralamat di www.jejakgeografer.com, yang kini telah memiliki lebih dari 500 cerita. Anang dapat dihubungi melalui pos-el: anangyb[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Orang Manggarai yang Berbelas Kasih

aybOleh: Anang Y.B.*

“Bahkan andai tak seorang pun melihat kebaikan Anda,

selalu terbuka pintu untuk mengenang Anda.”

~Anang Y.B.

Sabtu (13/6) malam kemarin, sebuah obrolan dengan kawan karib membuka sebuah tabir yang tertutup selama hampir setengah tahun. Sebuah serpihan puzzle yang nyaris terlupakan. Sebuah kisah yang beberapa bulan tersimpan dan tak tersampaikan kepada orang yang sungguh menantikan kisah itu.

“Awalnya saya hanya heran dan berkata dalam hati, apa-apaan ini orang-orang kok pada tiduran di tengah jalan,” tutur Pak Siga sahabat karib saya itu. “Jalanan di perumahan yang belum selesai dibangun itu memang lebar namun gelap. Listrik penerangan jalan  belum terpasang. Saya perlambat sepeda motor saya dan lewat sorot lampunya, saya bisa melihat dengan lebih jelas, lima orang terkapar di aspal bersanding dengan dua sepeda motor yang rubuh di samping mereka!”

Pak Siga sahabat saya yang kelahiran Manggarai, Nusa Tenggara itu menarik napas sejenak sebelum melanjutkan ceritanya. Kamisaya dan sekitar lima belas orang yang mengeliling Pak Sigamenunggu kelanjutan cerita dengan debaran jantung yang lebih kencang.

Saat itu, Pak Siga bergegas turun dari motor dengan tetap membiarkan mesin menyala agar ada cahaya yang cukup untuk menerangi tempat itu. Jalanan begitu sepi walau azan isya belum lama berlalu. Orang pertama yang didekati Pak Siga adalah seorang anak muda usia tanggung, mungkin dua puluhan tahun. Posisinya agak terpisah dari keempat korban lainnya.  Tampaknya satu sepeda motor yang ditunggangi pemuda ini telah menabrak tanpa ampun satu keluarga yang berboncengan mengedarai sepeda motor berempat. Dipegangnya nadi anak itu, tak ada denyut yang terasa. Ditepuknya kepala dan digoyang beberapa kali tetap saja kepala itu lunglai tanpa reaksi.  “Saya pikir orang itu sudah mati. Ya sudah, mau apa lagi?” Pak Siga pun beranjak menuju pada empat orang lainnya. Seorang ibu membujur  tanpa gerak walau tak banyak luka. Tetapi tetap saja tidak bergerak saat Pak Siga menggoyang-goyangkan badannya. Benturan yang teramat keras mungkin telah menghilangkan kesadaran (atau nyawanya?) dalam hitungan sepersekian detik.

Di sisinya seorang bapak terkapar dalam posisi tengkurap. Ada genangan darah selebar wajah menggenang di bawah wajahnya. Alirannya berasal dari bagian kepala si bapak. Si bapak pun tak ada reaksi apa pun saat ditepuk-tepuk. Dua korban lainnya adalah dua orang putri, kemungkinan kakak dan adik. Si kakak tak beda jauh dari kondisi kedua orang tuanya, diam dan tak bereaksi. Satu-satunya yang bisa merintih lirih adalah putri yang lebih kecil. Merintih walau tanpa mampu menggerakkan tubuh.

Lima korban terpakar. Tak tahu mana yang masih selamat.  “Kendaraan yang pertama kali melintas adalah sepeda motor,cerita Pak Siga lagi kepada kami. “Saya panggil-panggil, motor itu hanya melambat sebentar dan langsung tancap gas begitu melihat saya berdiri di antara lima orang yang terkapar di jalan.”

Pak Siga tidak mungkin meninggalkan kelima orang malang itu begitu saja. “Akhirnya ada taksi lewat. Saya teriak sekeras yang saya bisa. Sial! Taksi itu pun kabur, bahkan tanpa membuka kaca jendela satu senti pun.”

Pak Siga masih mendengar rintihan dari salah satu orang yang terkapar ketika ada satu sepeda motor yang melintas. Untunglah pengendara itu mau berhenti. Tanpa minta persetujuan, sepeda motor itu pun dia ambil alih dan dipasangnya melintang di tengah jalan. Tak lupa diraihnya satu kepalan batu dan digenggamnya kuat-kuat.

Ketika sesaat kemudian ada mobil melintas, buru-buru Pak Siga menghadangnya. Mobil itu pun terpaksa berhenti karena terhalang sepeda motor. Mobil itu berusaha untuk beringsut-ingsut terlebih saat melihat ada beberapa orang terkapar di jalan. Pak Siga pun membentak, “Pilih mana, menolong orang-orang ini atau mobil kamu aku hancurin pakai batu ini?”

Turunlah pengemudi itu dengan ketakutan.  Mungkin juga karena dia tidak rela mobilnya lecet. “Baik Pak... saya tolong. Tetapi saya tidak tanggung jawab soal ini, Pak,katanya.

“Saya yang tanggung jawab!” hardik Pak Siga.

“Lantas siapa yang mau ngangkat ke mobil?”

“Saya!” kata pak Siga dengan nada keras.

Satu per satu tubuh-tubuh tak bergerak itu diangkatnya ke dalam mobil. Tak peduli baju dan darah beralih ke pakaian Pak Siga. Salah satu korban, anak yang lebih besar kini bisa mengerang kesakitan saat coba diangkat. Dipegang kakinya mengerang. Dipegang punggungnya mengerang. Lebih-lebih saat diangkat kakinya. Tampaknya tulangnya–entah bagian yang manatelah patah.

“Kamu buruan ke rumah sakit di sana itu,perintah Pak Siga tegas kepada pengemudi mobil. “Ikutin saya. Saya naik motor!”

Untunglah pihak rumah sakit cekatan. Kelima korban diurus dengan baik walau kelimanya harus segera dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap. “Siapa keluarganya? Surat rujukan ini harus ada yang menyetujui?” kata petugas rumah sakit. “Tak ada orang lain, saya pun pasang badan,” tutur Pak Siga.

Saya dan belasan orang lain yang mendengar penuturan Pak Siga seperti tersihir. Sungguh suatu kejadian yang mengenaskan.

“Jadi, sejak kejadian itu Bapak tidak ketemu dengan orang-orang yang Bapak tolong?” tanya saya.

Pak Siga menggeleng. “Saya tidak pernah ketemu mereka lagi. Bakhan, saya tidak tahu bagaimana kondisi mereka sekarang.  Memang,  saya tahu kalau mereka tinggal di sekitar sini. Anak yang terkecil sempat mengucap lirih… griya… griya…. Mungkin maksudnya perumahan Griya Timur.”

***

Apa yang dituturkan Pak Siga adalah kejadian di hari Natal tahun lalu. Jadi, sudah berlangsung sekitar enam bulan lalu. Cerita Pak Siga mengejutkan saya dan semua yang hadir malam itu. Termasuk Pak Siga.

Ya, siapa mengira kalau yang ditolong Pak Siga adalah keluarga Adel sahabat saya juga? Siapa juga membayangkan bahwa Pak Siga adalah satu gereja dengan keluarga Adel? Bahkan, andaikata Sabtu itu keluarga Adel memenuhi undangan saya untuk latihan kor, pastilah mereka akan bertemu dengan sang dirigen pemilik suara emas. Pak Siga penolong mereka! Ya, rumah Keluarga Adel tak lebih dari seratus meter dari tempat Pak Siga melatih kami kor selama beberapa minggu ini.

Sekian lama keluarga Adel menyimpan keinginan untuk bertemu dengan penolong nyawa mereka. Setengah tahun berlalu, dan titik terang itu kini telah memancar. Pak Siga pun tampak berseri-seri saat saya kabari bahwa kelima orang yang ditolongnya bisa terselamatkan nyawanya.

Latihan kor usai, malam itu juga saya  mengantar Pak Siga yang didampingi istrinya bertandang ke rumah keluarga Adel. Sayangnya, rumah mereka sepi. Mungkin sedang gereja, atau pulang kampung. Andai pertemuan itu terjadi, bisa jadi kisah ini akan lebih panjang lagi. Dan, lebih mengharukan tentunya. Semoga Sabtu ini, Pak Siga masih memimpin kor sekali lagi, agar ada hari untuk bertemu dengan orang-orang yang telah merasakan kebaikan hatinya.

Pak Siga dan kisah nyatanya telah menambah satu kekayaan batin buat diri saya. Saat berbagi kasih, lakukan sepenuh hati dan setulus hati. Tak peduli siapa Anda dan siapa yang Anda tolong. Apakah Anda orang Manggarai atau orang Samaria sekali pun. Teruslah berbagi kasih tanpa pamrih. Biarpun orang yang Anda tolong tak bisa menjabat tangan Anda, biarpun yang Anda selamatkan tak bisa mengucap terima kasih walau dengan suara lirih sekalipun. Teruslah berbagi kebaikan, bahkan andai tak seorang pun melihat kebaikan Anda,  sebab selalu terbuka pintu untuk mengenang Anda.[ayb]

* Anang Y.B. lahir di Bantul tahun 1970. Ia dikenal sebagai penulis bergaya story telling yang memikat. Gemar menulis di blog www.jejakgeografer.com, yang kini telah miliki lebih dari 500 cerita. Inilah yang mengasah kemampuan pria ini dalam menulis bergaya cerita. Anang dapat dihubungi melalui Facebook dan pos-el: anangyb[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox