Mau Jadi Orang Baik Saja Kok Susah!

Alexandra DewiOleh: Alexandra Dewi*

Katanya semua agama mengajarkan kita untuk berbuat baik, saling mengasihi sesama. Tetapi ternyata, berbuat baik dan menjadi orang baik itu tidak semudah teorinya. Kalau kepada orang yang baik kepada kita, lantas kita balas baik kepadanya. Tentu saja ini jauh lebih mudah, walau ada juga yang, istilahnya, membalas air susu dengan air tuba. Istilah itu timbul sebagai refleksi tentang bagaimana susahnya menjadi seorang manusia yang… ya itu tadi dia, baik.

Wong ada kan orang yang dikasih air susu beneran membalas dengan air tuba? Saya heran, kalau dikasih air tuba, membalasnya dengan air apa, ya? Mungkin saya naive, tetapi saya percaya awalnya kita semua manusia dilahirkan baik. Dari bayi yang tidak tahu apa apa—anak-anak yang bagaikan kertas polos—bagaimana tiba-tiba bisa menjadi jahat?

Jangan jahat, deh! Tetapi, kehilangan motivasi dan prinsip untuk tetap berbuat baik. Misalnya, mungkin ketika beranjak dewasa dikecewakan, ditipu, atau di bohongi orang sehingga akhirnya orang yang baik pun bisa menjadi orang yang penuh curiga dan waspada.

Sering saya berkata sendiri, “Ngapain saya baik baik dengan dia kalau dia tidak baik dengan saya?” Tetapi, setelah saya cerna lagi–saya berkesimpulan–yah… OK, dia tidak baik dengan saya, saya belum sampai tahap akan bisa seperti malaikat yang tidak ingin marah. Tetapi, kalau saya tidak bisa baik kembali kepada orang itu karena orang itu pun tidak baik kepada saya—MINIMUM—saya tidak akan mencelakakan orang tersebut.

Karena, apa yang orang lakukan kepada saya, jahat atau baik, bagi saya itu adalah karma mereka, sedangkan dengan apa saya membalasnya–baik berlaku sama baiknya atau malah berbuat balas dendam atau perbuatan jahat lainnya? Nah, itu yang menjadi karma saya.

Kadang saya melihat orang yang berlaku curang, kehilangan hati nurani, atau sudah tidak bisa mendengar bisikan batin mereka sendiri untuk memilih berbuat yang baik daripada yang jahat. Atau, memilih melakukan hal yang benar (walau tidak ada yang melihat) daripada melakukan yang jahat (walaupun ada atau tidak ada yang melihat), ibaratnya seperti sudah berubah menjadi “setan”. Tetapi, yang lebih parah lagi adalah seperti judul film horor yang belum lama ini saya tonton preview-nya; Setan Budek.

Jadi, sudah kebiasaan melakukan hal-hal yang tidak baik (ibarat jadi setan), tetapi kali ini “budek” pula. Maksudnya, teguran baik yang dari kata hari atau nurani sendiri, atau teguran dari teman/sahabat atau siapa saja deh, sudah tidak terdengar. Makanya, istilahnya kalau sudah sampai pada tahap tersebut adalah menjadi “setan budek”. Amit-amit….

Namun, realitasnya “setan budek” itu tidak sedikit jumlahnya. Di Facebook saya saja suka ada orang-orang yang mengajukan Friend Request dengan nama dan gambar yang tidak layak. Ada yang pakai nama belakang bispak alias bisa pakai, lalu fotonya adalah dirinya dengan menunjukkan alat kelaminnya. OMG. Saya heran, apa yang membuat mereka sampai jadi seperti ini?

Lalu, ada lagi orang orang yang memang manis mulutnya, tetapi kelakuannya sama sekali bertolak belakang. Suka membuat janji, tetapi tidak pernah ditepati, malahan membual. Saya heran lagi, apa yang dialaminya di masa kehidupannya sampai mereka menjadi seperti ini?

Saya bukan sok suci–saya juga banyak dosanya–dan saya tidak menghakimi siapa siapa. I always try to be kind as I know everyone is fighting a hard battle. Maksudnya, kita semua juga pastinya kalau masih “normal” dan ditanya, apakah kita mau jadi orang yang baik atau jahat, saya yakin kalau bisa maunya senantiasa menjadi orang yang baik.

Tetapi, justru jadi orang baik itu cobaannya banyak. Semakin baik kita, semakin ada timbul orang orang yang sengaja atau tidak sengaja memanfaatkan kebaikan kita, atau mungkin malahan memanipulasi kebaikan kita. Dan akhirnya, kita bisa goyah karena capai benar rasanya menghadapi orang-orang yang mau menjahati kita, tetapi kita tetap tegas bahwa kita tetap ingin menjadi orang baik.

Contoh, cerita seorang istri tentang yang suaminya suka memukulinya kalau kebetulan sedang tidak ada uang. Suaminya memang bekerja sebagai pelayan restoran dan gajinya pas-pasan. Si suami selalu melampiaskan kekurangan uang kepada istri sendiri, bukan saja verbal abuse tetapi sudah main tangan atau physical abuse. Dalam keadaan kepepet seperti ini, ada kenalan sang istri yang mengajak untuk menjadi transporter obat-obat terlarang. Job description-nya adalah dengan membawa narkoba di koper dari airport A ke airport B.

Kita sebagai pembaca tahu ini salah, dan hal ini tidak baik. Tetapi, demi anak, demi suami, akhirnya itu dikerjakan juga. Kalau tidak ketangkap sih tidak akan ada yang tahu istri ini sedang melakukan apa. Tetapi, kalau beritanya sampai tercertak di koran–kita semua tidak mau tahu kenapa dan apa alasannya—hanya tahunya ada seorang wanita yang melakukan tindakan yang bukan saja tidak baik, tetapi juga melanggar hukum.

Bagi saya, kalau saya tahu alasan kenapa wanita ini memilih menjadi “setan budek”–saya pastinya akan lebih compasionate atau lebih berempati dengannya—dan memaklumi bahwa kadang desakan dan cobaan untuk berbuat melawan hati nurani datang dari hal-hal yang di luar keinginan si pelaku.

Nah, sama dengan segala jenis kasus “setan-setan budek” lainnya, saya yakin ada suatu proses di kehidupannya yang membentuk individu-individu ini menjadi orang jahat. Dengan bekal pengertian itu, saya mempunyai rasa syukur dan juga motivasi untuk terus berbuat baik. Akhirnya saya sadar, berbuat baik—bahkan asal masih ada semangat, keinginan untuk berbuat baik—kita tidak usah menunggu, “Mana sih hadiah atau reward-nya? Aku kan sudah jadi orang baik, niiiih… mana reward-nya?”

Biasa tanpa disadari, kita merasa demikian. Namun, justru rasa ingin berbuat baik–kalau masih ada dalam diri kita–itu saja sudah HADIAH. Begitu kita kehilangan rasa ingin menjadi baik, kita sebenarnya sudah dalam tahap sangat amat menderita atau dilukai orang sedemikian rupa, dan membiarkan luka terus ada di sana. Ada memang istilah “nasi sudah menjadi bubur”, kalau sudah jadi bubur saya pikir masih enggak apa, ‘kan? Masih bisa di makan. Tetapi, kalau nasi telah menjadi basi–mau diapakan lagi? Dimakan juga sudah tidak bisa.

So, apa pun yang terjadi di kehidupan kita, ditipu orang atau di kecewakan–itu sudah terlanjur–seperti nasi sudah menjadi bubur, mendingan buburnya kita nikmati daripada kita berkeras hati membuat nasi menjadi basi, dan akhirnya kehilangan semua motivasi untuk melakukan hal yang baik.

Besok, dan seterusnya, suatu kebaikan apa saja yang saya terima, saya mau mencoba untuk melakukan / meneruskannya kepada orang lain. Mungkin, orang itu sangat butuh ‘angin segar’ dengan diberi kebaikan (air susu) setelah seharian minum air tuba.[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan, penulis buku The Heart inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Saat ini sedang menantikan penerbitan bukunya yang keempat tentang fashion.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Soul Searching

Alexandra DewiOleh: Alexandra Dewi*

Kita cukup sering mendengar istilah soul searching . Maksudnya apa kadang kurang jelas, sebab soul kan kira-kira artinya roh kita, sedangkan searching maksudnya mencari. Jadi, kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah mencari roh.

Tetapi, kemungkinan besar ketika orang mengatakan “I want to do some soul searching adalah maksudnya mau menemukan di dalam dirinya sendiri suatu pesan, kepastian, atau jawaban dari apa yang sedang dialami, sehingga dapat membuat keputusan yang tepat, keputusan yang paling bijaksana, keputusan yang terbaik.

Biasanya, baik saya atau orang lain yang sedang soul searching tengah mengalami suatu kejadian dalam hidupnya, yang butuh ketenangan luar biasa untuk bisa mengumpulkan pikiran dan hati, serta meramunya menjadi suatu ketenangan batin. Lantas, kondisi itu dapat digunakan untuk membuat keputusan akan langkah apa yang mau kita ambil dalam menghadapi dinamika kehidupan yang sedang dialami.

Tidak sedikit orang pergi ke luar kota, bahkan ke luar negeri untuk melakukan soul searching itu tadi. Berdiam diri, di luar hiruk-pikuk lingkungan yang bisa tambah membingungkan, dan lebih pusing lagi kalau ditambah hiruk-pikuk pikiran sendiri. Intinya: berdiam diri.

Berdiam diri , untuk sebagian orang mungkin mudah dilakukan karena sudah menjadi habit. Tetapi, sebagian orang menemukan berdiam dirimendekatkan diri kepada Tuhan, apa pun agama yang dianut, ternyata susah-susah gampang, gampang-gampang susah. Ketika pergi ke luar kota, tetap saja tidak berdiam diri–wong bawa laptop, bawa HP, atau bawa BlackBerry. Atau akhirnya, pergi dengan teman malahan, wisata di kota tersebut.

Belum lama ini, saya berangkat ke Singapura dan ke Bangkok bersama suami saya, dan kebetulan BlackBerry saya mati di sana. Tidak bisa jalan walau diapakan saja. Hari pertama saya kesal sekali, tetapi lama-lama saya malah bersyukur BlackBerry tersebut tidak jalan. Karena, saya bisa benar-benar fokus akan apa yang ada di sekeliling saya, dan juga akhirnya dapatwalaupun awalnya terpaksaberdiam diri.

Ketika berdiam diri bukan artinya saya meditasi, bukan juga saya mengurung diri di kamar, tetapi saya benar-benar ada di saat itu. Pikiran, batin, dan semua panca raga ya ada di situ, di detik itu, di tempat itu, di saat itu. Sebenarnya, itu pengalaman yang berharga. Kita selalu mau semua serba cepat, sibuk membuat rencana, dan tanpa disadari lupa bahwa sekarang ya sekarang. Makanya, ada perkataan,Yesterday is history, the future is mystery, today is the present.” Makanya, today atau hari ini adalah hadiah.

Kembali ke soul searching dan berdiam dirisebenarnya bisa kita lakukan di hari Minggu misalnya, tanpa harus ke luar kota atau ke luar negeri. Saya masih belajar bagaimana bisa berdiam diri. Ayah saya berkata, bahwa mengendarai mobil pelan-pelan ternyata lebih susah daripada mengendarai mobil dengan tancap gas, alias fast and furious. Sama dengan kehidupan sehari-hari, anxiety, keinginan semua cepat beres, membuat kita kadang mengambil keputusan terburu-buru, atau bahkan melakukan aktivitas ini dan itu, yang belum tentu ada faedahnya. Yang ada malahan distraction/pengalihan perhatian daripada berdiam diri, dan ‘mendengarkan emosi/roh kita yang sebenarnya bisa memberikan pesan-pesan kepada kita, terlebih kalau kita peka dan mau latihan mendengarkannya.

“Mendengarkan emosi diri bicara kepada diri kita belum tentu merupakan pengalaman yang selalu menyenangkan. Kita bisa sedang merasa kosong, merasa takut, atau mungkin marah, kecewa dan lain sebagainya, yang mana semua emosi negatif. Namun, emosi yang positif pun seperti rasa content, rasa senang, rasa tenang, juga tidak bisa benar-benar kita nikmati kalau kita tidak berdiam diri sejenak . Semua emosi tadi ternyata menyampaikan pesan yang sangat penting untuk hidup kita, atau tepatnya earth school/sekolah dunia.

Di dunia kita diberi berbagai macam tes dan berbagai macam ujian lewat pengalaman kita, baik pengalaman menyenangkan atau pengalaman kurang menyenangkan. Kalau kita sudah lulus dari suatu tantangan di sekolah dunia ini, maka akan ada tantangan baru. Terus demikian, karena kita di dunia ini ternyata ada untuk belajar. Tetapi, pada umumnya orang mengeluh, “Masalah itu tidak ada habisnya, habis masalah ini selesai, lantas ada masalah itu. Habis itu selesai…. Ada lagi dan ada lagi!” Padahal, sebenarnya masalah itu, ya itu dia tadi tes, ujian, atau pelajaran buat kita semua selama alamat kita masih di dunia ini.

Dan kita diberi emosi–makanya orang perlu soul searching segala–adalah sebagai guidance/petunjuk untuk kita lulus dari segala ujian tersebut. Hanya saja, karena kita sibuk membuat rencana, sibuk melakukan ini dan itu, mencari jawaban dan kepuasan eksternal, lama-lama kita akan merasa berdiam diri itu juga menjadi suatu tantangan.

Akhirnya, saya coba berlatih. Pertama, apa yang saya lakukan saat itu, saya coba benar-benar ada di moment tersebut. Bukan hanya badan dan pikiran saya saja, tetapi hati saya pun ada di sana. Kedua , latihan berdiam diri. Teman saya yang sudah menemukan yang dia sebut keintiman dengan penciptanya bersaksi bahwa setelah ia benar-benar merasa intim dengan penciptanya, ia merasakan hidup ini indah luar biasa. Saya benar-benar harus ngantri ikut program itu.

Teman saya ini pulalah yang mengatakan bahwa berdiam diri, mendengarkan emosi kita sendiri bicara kepada kita, jujur kepada diri sendiri, dan membangun kedekatan dengan yang Mahakuasa, itulah yang perlu kita lakukan. Walaupun tidak jarang dorongan semacam ini ditemukan ketika seseorang mengalami masalah yang cukup berat.

Jadi, akhirnya berputar-putar: Masalah terjadi sebagai bagian dari sekolah dunia/earth school. Untuk lulus kita harus belajar berdiam diri dan mendengarkan emosi kita yang mau menyampaikan pesan kepada kita. Bagian dari berdiam diri dan mencari kedekatan kepada Tuhan, mencari petunjuk akan apa yang Tuhan inginkan dari kita (bukan melulu minta kepada Tuhan apa yang kita inginkan supaya terjadi) sering kali bukannya dilakukan dan malah kita hindari dengan melakukan berbagai macam aktivitas, belanja, nonton, kerja atau apa saja deh, asal tidak diam untuk merasakan emosi kita yang tentunya tidak selalu emosi positif.

Karena diam, merasakan emosi negatif bukan pengalaman yang menyenangkanakhirnya segala distraction kita lakukan, yang ujung-ujungnya menimbulkan banyak masalah lagi.

Dan lama-lama, masalah bisa semakin berat sehingga ujung-ujungnya ya tetap juga harus soul searching atau berdiam diri, entah dengan doa di dalamnya atau tidak—tetapi biasanya, siapa lagi yang kita cari kalau sudah dapat masalah yang berat, kalau bukan Tuhan?

Jadi saya coba urut-urut, daripada toh ujung-ujungnya saya harus berdiam diri dan berdoa (tapi dengan suka paksa karena masalah sudah sangat rumit), bukankah lebih baik, kalau tidak yang terbaik, untuk latihan berdiam diri sejenak dan latihan mendengarkan emosi kita? Dan, kita bisa minta petunjuk kepada Tuhan lewat roh kita untuk bisa lulus dari segala macam ujian di earth school ini? Kalau tidak dengan suka cita kita lakukan, kemungkinan besar dengan suka paksa, soul searching mencari tahu apa yang Tuhan mau kita lakukan, akan tetap harus jadi jalan satu-satunya.[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan, penulis buku Queen of Heart dan co-writer buku I Beg Your Prada. Saat ini sedang menantikan penerbitan bukunya yang ketiga tentang fashion, dan yang keempat tentang kehidupan rumah tangga.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Alexandra Dewi: Pernikahan yang Bahagia Butuh Proses dan Kerja Keras

Alexandra Dewi

Awalnya, Alexandra Dewi Aryani Hermanus, begitu nama lengkapnya, tidak cukup percaya diri untuk menganggap coretan-coretannya sebagai tulisan. Maklum, semula ia merasa tulisan-tulisan itu hanya curhatan perempuan pada umumnya. Semata merupakan tulisan-tulisan lepas hasil olah perasaan di sela-sela kesibukan bisnisnya. Tetapi, seorang rekan kerja memperlihatkan karyanya tersebut ke sejumlah rekan. Ternyata, tidak seorang dua orang yang menganggap tulisan Dewi punya “isi”, ada yang khas, merekam realitas masyarakat, dan tentu saja ada nilai jualnya.

Tidak meleset. Debutnya diawali dengan menerbitkan buku nonfiksi bersama Cynthia Agustina berjudul I Beg Your Prada (GPU, 2006) cukup mendapat sambutan publik, sehingga buku itu sempat cetak ulang. Tak lama berselang, Dewi meluncurkan buku kedua yang ditulisnya sendiri berjudul Queen of Heart (GPU, 2007). Ini buku kiat-kiat bagi para lajang untuk mendapatkan pasangan idaman, sekaligus sambil tetap mempertahankan jati diri sebagai perempuan yang elegan, berkelas, dan bermartabat. Kini, Dewi segera hadir dengan karya ketiga berjudul The Heart inside the Heart (GPU, 2009), yang akan diluncurkan pada 23 April 2009 ini di Jakarta.

Apa pesan yang dibawa perempuan kelahiran Jakarta, 11 Mei 1974, dalam buku terbarunya ini? Ternyata, isinya merupakan “kelanjutan” dari buku sebelumnya, Queen of Heart. Kalau di buku sebelumnya banyak bercerita tentang bagaimana cara menemukan pasangan sejati, maka buku terbaru ini berkutat pada masalah menjaga keutuhan rumah tangga. Pesannya sangat jelas, kehidupan perkawinan ternyata tidak selalu seindah yang dibayangkan. “Banyak masalah muncul, dan mungkin kita tidak memikirkan itu sama sekali, dulu waktu memutuskan menikah,” tutur Dewi yang menikah sepuluh tahun yang lalu dengan Peter Chen.

Singkat kata, membangun, merawat, dan mempertahankan biduk rumah tangga itu sungguh-sungguh perlu kerja keras suami-istri. “Seperti berdansa, masing-masing harus tahu kapan maju dan kapan mundur, supaya tidak saling injak,” kata alumnus American College for the Applied Arts, Los Angeles, California, USA, yang kini menjadi Managing Director PT Sun Hope Indonesia itu. Dewi seperti hendak mengingatkan para pasangan muda yang hendak menikah, supaya sejak awal mau memberi porsi lebih banyak memikirkan berbagai kemungkinan problem rumah tangga ke depannya. Harapannya, mereka bisa menjadi lebih realistis dalam mengarungi perkawinan atau menghadapi terpaan beragam persoalan nantinya.

Tetap sibuk mengurus perusahaan bersama sang suami, mengurus kedua putra-putrinya Elizabeth Jessie Chen dan Joseph Mason Chen, dan mengembangkan sebuah butik, Dewi masih sempat aktif menulis untuk sejumlah website, seperti website motivasi www.andaluarbiasa.com, www.curhat.com, dan www.kabarindo.com. Berikut adalah petikan wawancara Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Alexandra Dewi melalui pos-el belum lama ini:

AD: Menjalin persahabatan di mana saja

AD: Menjalin persahabatan di mana saja

Apa judul buku terbaru Anda dan secara garis besar apa isinya?

Judulnya The Heart inside the Heart. Isinya apa saja yang perlu diketahui wanita sebelum menikah. Soal selingkuh, soal bercerai. Secara garis besar tentang kehidupan pernikahan yang realistis, dan berbagai macam dinamika atau liku-liku kehidupan berumah tangga.

Mengapa tertarik menggunakan judul tersebut?

Buku saya sebelumnya, Queen of Heart, garis besarnya berisi dinamika wanita ketika masih single serta tahap mencari pacar atau calon suami. Sedangkan The Heart inside the Heart ini soal dinamika yang lebih dalam. Karena masa kencan atau pacaran jauh berbeda dengan kehidupan berumah tangga. Banyak orang menghabiskan waktunya untuk memikirkan pesta pernikahannya. Tapi, tidak banyak yang berpikir soal kematangan dan kesiapan mental untuk menjalankan kehidupan rumah tangga, yang idealnya untuk seumur hidup. Sementara, pesta pernikahan hanya satu hari saja, kan?

Banyak juga yang menikah karena alasan alasan lain, di luar sebab saling mencintai. Mungkin menikah karena tekanan sosial. Mungkin juga terlalu terbuai fantasi soal indahnya kehidupan berumah tangga, seperti yang ada di film-film itu. Realitasnya, pernikahan yang bahagia butuh proses dan kerja keras.

Dari buku tentang gaya hidup kelas menengah-atas, lalu ke kiat-kiat untuk para lajang. Sekarang, terjun ke buku perkawinan. Ada kaitannya satu sama lain?

Secara tema buku, kaitannya memang tidak ada. Ini cuma hasil pengamatan saya terhadap kehidupan di sekitar kita. Gaya hidup kelas menengah atas, perjuangan para lajang untuk menemukan “soul mate”, yang mana menurut saya pribadi tidak ada itu yang namanya soul mate. Semua pasangan, terutama yang baru saja jatuh cinta, rasanya pasti seperti menemukan soul mate. Tapi, setelah beberapa tahun, kok malah memilih bercerai?

Buat saya, lebih realistis kalau kita jatuh cinta lalu kalau memutuskan menikah dan meraih bahagia. Sementara, awetnya pernikahan itu tidak segampang mengetik kata soul mate. Tapi, benar-benar butuh proses. Ya, proses belajar kompromi, proses mengerti artinya pernikahan, dan yaitu tadi, lagi-lagi kerja keras.

Dapat dorongan dari mana sehingga Anda mau menulis buku ini?

Teman-teman saya di sekitar saya. Bahkan, yang jauh lebih muda, rata-rata pada sudah menikah. Dan, ketika kami saling tukar pikiran secara jujur, menikah itu ternyata ada enak dan tidaknya. Ada suka dukanya. Dan, banyak hal harus dihadapi, yang mana tidak pernah terlintas di benak kami sebelum memutuskan menikah dulu. Kalau waktu masih single dulu sih, kami sama-sama mengakui kok. Walaupun kami sudah mencoba realistis, sudah pacaran bertahun-tahun sebelum menikah, di tengah-tengah pernikahan, ada saja ‘kejutan’-nya. Itu baru kami alami ketika sudah menjadi suami istri. Dan, di zaman sekarang ini, cerai sudah merupakan hal yang lumrah. Begitu juga soal penyebabnya. Yang tidak mengherankan lagi, ya soal pihak ketiga itu. Atau, sebab-sebab lainnya yang saya tuangkan di buku ini.

AD berlibur ke Eropa

AD berlibur ke Eropa

Dari mana Anda gali sumber-sumber penulisannya?

Tentunya dan utamanya adalah pengalaman pribadi. Karena, kebetulan saya sudah menikah sepuluh tahun lamanya. Sisanya, ya dari bertanya kepada siapa saja yang rela menjawab. Atau tanya sama siapa saja yang mau cerita, ya dari teman-teman, juga segala persoalan teman-teman mereka juga. Kadang bahan juga saya dapat dari pertanyaan-pertanyaan yang masuk ke saya melalui www.curhat.com. Jadi ya, semua ditulis berdasarkan bahan atau cerita nyata.

Sejauh yang Anda amati, sebenarnya persoalan-persoalan pokok apa saja yang siap menghadang setiap perkawinan?

Tergantung di usia ke berapa pernikahannya? Juga berapa lama pacarannya? Dan, tentu ke individu masing-masing, persoalannya akan berbeda-beda. Ada yang masalah utamanya mertua, ada yang susah menyatukan dua hati, dua pikiran, dan dua keinginan menjadi satu. Dan, tidak sedikit yang ribut karena masalah uang atau rasa saling percaya soal ini. Yang lain soal kejenuhan terhadap pasangan, atau harapan terhadap pasangan yang tidak terpenuhi.

Padahal, kalau kita terlalu berharap dapat kebahagiaan dari sarana eksternal, walaupun itu suami atau istri sendiri, mood kita akan menjadi sangat tidak stabil. Karena, kita itu hampir tidak mungkin mempunyai remote control terhadap apa yang orang lain lakukan atau rasakan.

Masalah orang ketiga sering jadi faktor pengganggu yang paling menakutkan. Anda sendiri memandangnya bagaimana?

Yah, menikah itu mudah, kalau hanya untuk mencari status menikah. Tapi lagi-lagi, membangun pernikahan yang bahagia itu justru tantangan sesungguhnya. Nah, namanya saja tantangan, tentu kedua belah pihak, baik suami dan istri, harus fokus seratus persen untuk mendapatkannya. Itu saja, sudah tantangan tersendiri, kan? Kalau ditambah dengan kehadiran orang ketiga, kita semua bisa bayangkan…. Tingkat kesuksesannya akan bagaimana? Apalagi kalau salah satu pihak, atau bahkan dua-duanya hanya ada separuh di dalam pernikahan hitu. Ya, karena separuh hatinya sudah ada di hati orang lain, misalnya.

Karier seorang istri, yang misalnya jauh lebih melejit ketimbang sang suami, juga bisa jadi biang keretakan rumah tangga. Menurut Anda?

Pastinya akan jadi masalah. Itu kalau keduanya tidak tahu artinya bersyukur. Si Istri akan merasa lebih superior, dan si suami akan merasa tertekan, atau harga dirinya turun. Sedangkan si istri, tanpa disadari akan lupa bagaimana rasanya dilindungi. Rasanya menjadi seorang wanita. Tanpa dia sadari, bisa saja wanita itu yang membuat rasa itu datang. Caranya, dengan merendahkan suaminya. Jadi, seperti lingkaran setan. Istri dominan, suami tertekan dan kehilangan wibawa. Dari situ istri merasa tidak ada yang melindungi. Dan, dari situ pula sudah ada suatu hubungan yang disfungsional. Si istri merasa jadi suami, dan suami merasa terpaksa jadi istri.

Saya kenal seorang teman, yang juga seorang istri yang kariernya jauh lebih baik dari suaminya. Tapi, dia tetap hormat kepada suaminya. Karena, si istri merasa bahwa tidak penting siapa yang bawa income. Yang penting mereka berdua bisa bersyukur ada income yang baik untuk rumah tangga mereka. Tetap saja, si suami dalam hatinya masih tidak bisa make a peace dengan kenyataan itu. Bukan karena tingkah laku si istri, tapi karena tekanan sosial, yang standarnya menuntut seorang suami harusnya lebih sukses kariernya dibanding si istri.

AD bersama keluarga

AD bersama keluarga

Masalah lain, kalau karier kedua pihak sama-sama bagusnya, tapi sayang waktu untuk keluarga jadi minim. Itu juga bisa merusak keharmonisan rumah tangga, kan?

Betul! Kalau keduanya sama-sama super sibuk. Apalagi tidak ada dorongan untuk memelihara connection antara suami istri. Tentu, akhirnya bisa seperti room mate belaka. Tinggal satu atap, tapi kok sudah tidak menemukan rasa kebersamaan. Orang yang saling mencintai itu, bukan berarti seharian bermesra-mesraan melulu, lalu melihat satu sama lain seperti masa honey moon stage. Tapi, saling mencintai itu kalau mereka melihat ke arah yang sama terhadap masa depan keluarga.

Saya berpendapat, salah satu sumber masalah utama rumah tangga, yang mungkin jarang terdeteksi, adalah sulitnya menekan ego. Akibatnya, muncul perilaku mau menang sendiri dan tidak peka terhadap pandangan pasangan. Menurut Anda?

Kalau kita sudah menikah dan ingin bahagia , mau tidak mau kita harus belajar mengontrol ego. Saya setuju, kalau istri atau suami masih tidak bisa saling kompromi dan belajar “berdansa di pernikahan, tentu akan saling menyakiti. “Berdansa maksudnya adalah, kadang istri mundur, suami maju. Dan sebaliknya, ketika istri maju, suami belajar melangkah mundur, seperti pasangan berdansa. Mana ada yang bisa dansa kalau dua-duanya melangkah maju? Yang ada saling menginjak kaki lawan dansanya, kan? Jadi, kalau sudah saling kenal, irama dan ritme dansa pernikahansama seperti dansa yang kita lihat di televisi itu, akan terlihat kompak dan berasa sekali indahnya.

Ada yang berpendapat, masa kritis perkawinan suka muncul pada dua atau tiga tahun pertama perkawinan. Menurut pengalaman Anda, atau apa yang Anda tulis di buku ini?

Setiap pasangan berbeda situasinya. Tidak bisa disamakan. Ada yang baru pacaran enam bulan kemudian menikah. Ini beda dengan yang sudah pacaran enam tahun, lalu baru menikah. Begitu juga faktor usia ketika menikah. Kalau untuk saya pribadi, masa kritis perkawinan itu terjadi kalau salah satu sudah mulai mempersiapkan surat cerai, atau pisah ranjang, atau pisah rumah. Karena itulah, saya tulis di buku ini, saya pantang bilang mau cerai sebelum saya yakin sekali. Mudah-mudahan saja saya tidak harus mengalami masa kritis itu. Kebetulan suami saya orangnya santai , kalau perlu mundur 3 langkah dia akan lakukan itu karena dia tahu saya tidak akan mendorong nya mundur mundur terus sampai namanya bukan dansa lagi tapi jajahan.

Anda membuat buku ini supaya pasangan-pasangan muda siap dengan segala konsekuensi perkawinan mereka. Bagaimana kalau karena buku ini, malah banyak pasangan yang justru enggan menikah?

Buat saya, menikah itu harus dilandasi oleh rasa saling mencintai. Hari gini… menemukan orang yang kita cintai, dan yang balik mencintai kita, itu lebih susah dari cari uang, lho hahaha…. Jadi, kalau sudah menemukan pasangannya, yang bisa membuat mereka merasa menemukan soul mate, walau ditakut-takuti seperti apa pun, tetap saja mau menikah. Apalagi kalau proses menemukan pasangannya ditempuh dengan segala macam rintangan. Pasti, mereka akan tetap mau menikah. Yang takut menikah itu, justru kemungkinan besar pada dasarnya memang belum ketemu dengan yang pas hahaha… Atau, sederhana saja, mungkin mereka memang belum siap menikah, atau malah sudah nyaman hidup single.

AD bergaya di sebuah gereja di Eropa

AD bergaya di sebuah gereja di Eropa

Berapa lama Anda menyelesaikan penulisan buku ini?

Proses menulisnya kira-kira dua bulan saja. Tapi, banyak tambahan pikiran dan cerita, sehingga makan waktu keseluruhan sekitar enam bulan, termasuk editing-nya, membuat cover, persiapan cetak, dan juga launching.

Anda sudah disibukkan dengan berbagai aktivitas bisnis. Ternyata Anda sudah menghasilkan tiga buku dan menulis kolom di berbagai website secara rutin. Bagaimana cara Anda membagi waktu?

Saya baru mulai menulis ketika perusahaan yang saya kelola bersama suami sudah melewati masa 10 tahun. Saya juga beruntung, di kantor saya mendapatkan tim kerja yang sudah tahu apa tanggung jawab mereka. Tahu apa yang harus dilakukan, walau misalnya saya harus sering bepergian keluar negeri. Jadi, kalau hanya meluangkan waktu menulis hari minggu, atau malam hari ketika belum mengantuk, rasanya tidak akan banyak menggangu kegiatan lainnya.

Ini juga yang kadang membuat saya heran sendiri. Biasanya, kok malah ibu-ibu atau wanita yang bekerja itu yang suka ditanya soal bagaimana membagi waktu. Kaum pria yang berkarier, sepertinya jarang ditanyakan bagi waktu ini. Kalau wanita, mungkin selain berkarier dia juga harus memandori rumah tangga, kan? Hahaha….

Kalau soal variasi tema yang Anda tuliskan. Dari mana Anda memanen ide-ide sehingga sepertinya Anda selalu bisa menulis tanpa kehabisan tema?

Dalam kehidupan ini, kalau kita mau mendengar, mau memerhatikan, coba mengerti perasaan orang lain, dan juga belajar mengerti diri sendiri, saya rasa kita tidak akan kehabisan tema. Kita manusia ini, sebenarnya kompleks. Karena, dari kecil sampai sekarang, kita hidup bersosialisasi dengan orang lain. Bergaul, bermasyarakat, pastinya otak kita akan menyerap berbagai informasi. Dan, itu semua menerbitkan emosi. Dari sana pula bisa ada ide. Masalahnya, tinggal apakah kita mau menuangkannya ke dalam tulisan atau tidak.

Pandangan Anda terhadap pengusaha atau pebisnis perempuan yang juga menulis buku. Apa sih kenikmatannya menulis buku itu?

Menulis buku pastinya soal kepuasan batin. Dari sana saya belajar dari orang lain. Karena, informasinya kan kumpulan pengalaman orang lain juga? Tapi, ketika kita berbagi lewat tulisan, kita seperti berbagi kepada diri kita sendiri juga. Mau percaya atau tidak, jawaban dari masalah kita banyak ditemukan dari dalam diri kita sendiri. Bukan dari di luar sana. Walaupun, punya sahabat dekat, di mana kita bisa menjadi diri sendiri, itu juga merupakan anugerah yang tidak bisa dinilai dengan uang.

Baik, buku-buku berikutnya apa sudah Anda siapkan?

Buku yang berikutnya adalah tentang fashion. Sama seperti buku pertama, buku berikut saya tulis bersama seorang teman. Judul sementaranya “Little Pink Book of Fashion”. Dan, isinya soal dunia belanja dan tip-tip mengenai fashion. Seperti buku kuning”, tapi dengan twist dan tips. Setelah buku itu diterbitkan, kalau Tuhan mengizinkan, saya mau coba menulis sebuah novel, yang buat saya adalah tantangan yang luar biasa. Karena, sampai saat ini saya adalah penulis nonfiksi. Tapi, saya tidak mau terlalu banyak rencana. Lebih baik saya mengucapkan syukur dulu saat ini, detik ini, buku ini sudah selesai.[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 5.8/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Nasihat dari Mesin Waktu

alexandra dewiOleh: Alexandra Dewi*

Belum lama berselang saya bepergian ke New York dan menyempatkan diri pergi ke toko buku. Dari sekian banyak buku yang saya temui, ada salah satu di antaranya yang isinya mengenai surat yang ditulis oleh wanita-wanita hebat di usia 50 tahun ke atas kepada dirinya sendiri, yang mereka harap bisa dibaca ketika mereka di usia 20 atau 30 tahunan.

Artinya, sejalannya umur kita, tentu kita semua mempunyai pengalaman dan hikmah dari pengalaman kita tersebut. Seandainya hikmah itu sudah kita kuasai dan pahami ketika kita di usia yang jauh lebih muda, kemungkinan besar kita bisa membuat keputusan-keputusan yang lebih bijaksana. Tidak heran orang berkata, “Orang tua pasti lebih bijaksana.” Tentu, saya harus tambahkan di sini, asal orang tersebut mau membuka pikiran dan hati, bahwa perjalanan hidup ada suka dan duka, dan dari situlah kematangan maupun kedewasaan kita terbentuk.

Saya jadi berpikir, apabila saya tahu apa yang saya tahu sekarang di usia pertengahan 30-an, dan seandainya saya ada kesempatan masuk ke dalam mesin waktu, adakah hal-hal yang saya ingin ubah? Setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata selain saya hanya akan menggunakan mesin waktu itu untuk tahu saham mana yang harus saya beli (sehingga sudah pasti untung), atau kalau saya ke kasino nomor apa yang saya harus letakkan (sehingga saya pasti menang), atau mungkin cara berbusana saya dan cara tata rambut saya yang zaman jebot (sehingga bikin saya jadi super culun itu) akan saya perbaiki. Lain dari itu, saya tidak banyak ingin mengubah diri saya yang dulu.

Setiap dekade, misalnya usia remaja, saya tentu membuat banyak kesalahan, baik besar maupun kecil. Saya kena peer presure atau tekanan sosial sehingga saya memilih ikut teman-teman ke Dufan daripada ikut les piano. Sekarang, ya saya menyesal jadi tidak bisa main piano. Tetapi, dari situ saya jadi punya memori mengenai bagaimana rasanya punya tekanan sosial, dan bagaimana menghadapinya di usia saya yang sekarang. Bahwa, saya lebih baik memikirkan apa pendapat saya tentang diri saya sendiri daripada pendapat orang lain. Dan, berdamai dengan diri sendiri jauh lebih berharga daripada pengakuan dari orang lain. Karena, kalau hanya itu tok yang saya kejar, maka hidup saya akan jadi sangat njelimet, dan mungkin saya akan stres berat karena we can not please everyone.

Namun, karena saya tidak memahami hal ini ketika saya remaja, tentu saja saat itu saya cukup stres mengenai bagaimana membuat semua orang tidak membenci saya. Padahal sekarang, saya tahu bahwa asal kita berbuat baik dan kalau kita tidak bisa atau belum bisa berbuat baik, minimal kita tidak membuat orang lain susah. Atau lebih parah lagi, jangan sengaja mempersulit orang, maka kita seharusnya sudah merasa damai dengan keadaan kita.

Jadi akhirnya, pengalaman setelah kita dewasa sebenarnya bukan soal keputusan apa yang telah kita ambil itu yang salah. Tetapi, itu soal bagaimana kita menyikapi keputusan yang kita ambil. Saya boleh memilih selesai kuliah di usia 22 tahun, lalu bekerja sementara teman-teman saya masih istilahnya berleha-leha sekolah sampai ada yang di usia 28-29 tahun. Tetapi, attitude yang saya ambil untuk keputusan saya itu tidak saya jalani dengan menggerutu. Bahwa misalnya,Kok, anak orang lain enak bisa sekolah sepuasnya?”, melainkan melihat sisi positifnya, bahwa saya mulai berkarier di usia yang lebih muda dibanding teman-teman saya pada umumnya. Dan, dari sana saya mendapat banyak pengalaman autodidak yang tidak diajarkan di buku atau di sekolah.

Saya boleh menikah di usia 24 tahun dan punya anak di usia 26 tahun, yang mana teman-teman saya pada usia itu umumnya mereka kalau tidak masih sekolah ya masih pacaran. Sementara, saya sudah ribet dan bingung soal bagaimana caranya memimpin perusahaan dan punya anak bayi pada saat yang sama. Saya tidak bisa curhat dengan teman-teman seangkatan saya karena mereka belum mengerti soal bagaimana sih rasanya menikah dan bekerja. Apalagi menikah, bekerja sambil mengasuh bayi. Dan, saya bisa pilih sikap mengasihani diri saya sendiri atau saya pilih enjoy dengan semua kesempatan yang Tuhan berikan kepada saya, yang mana semua ada di depan mata saya.

Saya bisa belajar menjadi dewasa dan saya bisa hargai kesempatan untuk punya pengetahuan yang luas dari dunia bekerja. Dan, saya bisa mendapat serta memberi kasih sayang kepada keluarga baru saya, daripada saya sirik habis dengan teman-teman single saya, yang cerita dengan hebohnya soal bagaimana serunya mereka pergi ke klub atau pergi main ski di Amerika.

So, semua yang terjadi di kehidupan kita, semua adalah pilihan. Pilihan soal bagaimana kita mau menyikapi, pilihan dari sudut pandang mana kita mau melihatnya, dan dari sana kita bisa membentuk suatu kedamaian dari dalam diri kita sendiri. Apakah kita menjalani kehidupan ini dengan penuh semangat positif, atau dihabiskan dengan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, yang mana selama kita belum menjadi orang itu, kita tidak tahu bagaimana sebenarnya apa yang mereka rasakan.

Ternyata teman-teman saya, walaupun diberi banyak waktu untuk sekolah, mau tidak mau dan suka tidak suka, suatu hari tetap saja harus bekerja dan mengalami segala jenis culture shock. Mereka juga harus belajar menyesuaikan diri dan benar-benar merasakan bagaimana susahnya mencari uang. Lalu, mau menikah di usia 30-an pun tetap melewati segala jenis masalah yang dialami setiap pasangan yang menikah. Lagi-lagi, tinggal bagaimana mereka menyikapinya, apakah mau menyesal karena terlalu lama di sekolahan, atau bersyukur bahwa mereka punya kenangan masa muda yang dijalani sepuas puasnya?

Bagaimana dengan Anda? Seandainya saja sekarang Anda sudah tahu lebih baik tentang banyak hal, dan ada sebuah mesin waktu yang bisa membawa Anda balik ke masa yang Anda inginkan, apakah ada hal-hal yang ingin Anda ubah atau diulang kembali, dengan keputusan-keputusan yang lebih baik?[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan, penulis buku Queen of Heart dan co-writer buku I Beg Your Prada. Saat ini sedang menantikan penerbitan bukunya yang ketiga tentang fashion, dan yang keempat tentang kehidupan rumah tangga.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Sopan atau Tidak Sopan?

ad1Oleh: Alexandra Dewi*

Namanya kita sebagai mahluk sosial, tentu kita harus menghadapi berbagai macam orang, dengan berbagai macam latar belakang keluarga yang berbeda beda.

Saya yakin, bahwa setiap keluarga membesarkan anak-anaknya dengan bekal sopan santun. Misalnya, hal-hal sederhana saja dari “terima kasih atau “apa kabar?”. Setelah kita dewasa ternyata sopan santun itu tidak saja soal mengucapkan “terima kasih” atau “apa kabar?”, tetapi meluas mengenai bagaimana menjaga perasaan orang lain.

Sebagai contoh, ketika kita sudah dewasa dan kenal dengan yang namanya uang, ternyata topik ini benar-benar topik yanng sensitif. Menanyakan kepada teman kita, berapa gaji/penghasilan mereka misalnya. Walaupun sekadar informasi berapa besar penghasilan profesi teman kita itu, saya kadang heran, ini sopan atau tidak?

Lalu, kalau kita misalnya sedang banyak uang, sedangkan teman kita sedang bokek. Kalau kita mau membeli barang yang kebetulan mahal harganya, apakah sopan jika kita lakukan di depan teman kita, yang kita sudah tahu kalau dia sedang tidak punya uang?

Dan sebaliknya, apakah ini ide yang baik, semisal kalau kita sedang tidak punya uang, lalu kita meminjam uang kepada teman kita? Saya sering dengar nasihat, “Jangan pinjamkan uang kepada teman, karena gara-gara uang persahabatan bisa jadi masalah!” Ini terjadi pada teman saya yang baik hati dan keras kepala. Dia tetap meminjamkan uang kepada sahabatnya. Suatu hari, mereka jalan-jalan di ma. Sahabatnya yang berutang padanya, membeli sebuah tas yang cukup mahal harganya. Teman saya berpikir, “Lho, bukannya kamu masih utang kepada saya? Bukankah kamu harusnya lunasi dulu utangmu, baru kamu belanja?

Saya tanya kepada teman saya, “Apakah kamu memerlukan uang itu segera untuk dipakai keperluan yang penting? Lalu, teman saya itu menjawab , bahwa tentu dia belum memerlukan uang itu, dan kalau ia tahu ia dalam posisi tidak bisa meminjamkan uang, tentu ia tidak akan berani meminjamkan. Tetapi masalahnya, bukan soal teman saya ini perlu uang yang dipinjamkan atau tidak. Namun, ini soal mana yang sopan, mana yang benar, dan mana yang salah.

Apakah karena dia tidak sedang memerlukan uang maka sahabatnya yang berutang tidak usah buru-buru melunasi, sehingga bisa mendahulukan membeli tas daripada melunasi utang?

Contoh lain adalah sopan santun soal titip-menitip. Kalau kita kebetulan pergi ke luar negeri, dan ada teman yang mau menitip barang kepada kita, apakah sopan bila misalnya barang titipannya berat, lalu besar dan makan tempat separuh dari koper kita? Atau, apakah sopan kalau barang yang dititipkannya kepada kita itu bisa di dapatkan di Jakarta, tetapi alasan menitip adalah karena di negeri yang mau kita kunjungi harganya lebih murah? Apakah sopan kalau kita berhermat dengan harga tetapi dengan menyusahkan teman kita?

Untuk semua pertanyaan yang saya timbulkan di atas, saya benar-benar tidak tahu jawabannya. Sehingga, untuk amannya saya usahakan bagaimana cara untuk tidak pinjam uang kepada teman, dan kalau bisa tidak titip barang-barang yang mana saya bisa dapatkan di sini. Karena, bagi setiap orang mana yang sopan dan tidak sopan ternyata beda-beda.

Teman saya ada yang rela dititipi vitamin yang kemasannya gelas dari Singapura, walaupun vitamin itu ada di Hero, tetapi harganya beda Rp 25.000 lebih mahal. Tetapi, ada juga teman saya yang, walaupun mau, tetapi ngomel-ngomel di belakang. Dan, ada juga yang dengan diplomatis bilang, “OK“ lantas pura-pura lupa beli. Apakah benar atau salah berjanji akan membelikan, tetapi tidak dilakukan?

Lalu, soal arisan misalnya, apakah sopan kalau kita sudah “narik”, lalu pada acara-acara berikutnya kita tidak perlu datang lagi? Dan bahkan kita lupa bayar setoran arisan? Lalu, apakah sopan kalau soal jemput-menjemput, tebeng-menebeng, tetapi tidak mau patungan membeli bensin?

Apakah sopan kalau kita membanggakan karier dan kesuksesan kita di depan teman yang baru saja kena PHK? Apakah sopan kalau kita hanya hadir di undangan orang kaya dan tidak datang kalau yang mengundang kita bukan orang berada?

Apakah sopan kalau teman kita menanyakan pendapat soal apakah karyanya bagus atau tidak, lalu dijawab dengan jujur bahwa karyanya adalah karya pas-pasan, atau lebih sopan kalau kita berbohong ‘putih (white lies) bahwa karyanya bagus? Atau, ketika teman kita tanya pendapat kita apakah dia gemuk, baju dia bagus atau tidak, mana yang benar…? Bilang jujur apa adanya, walaupun jawaban jujurnya tentu tidak enak diterima, atau lebih benar kalau kita gunakan semua “white lies kita?

Apakah sopan kalau kita terlambat satu jam lebih ketika sudah sama-sama buat janji di suatu jam yang sama? Apakah sopan kalau ketika makan bersama, walau kita pesan tiga macam makanan dan teman kita hanya pesan secangkir kopi, lalu kita minta bonnya dibagi dua?

Apakah sopan kalau karena kita pikir kita lebih kebelet pipis, maka kita menyerobot antrian di kamar mandi? Apakah sopan kalau kita ke salon dan tidak memberi tip? Apakah sopan kalau seorang pria ketika bicara dengan wanita bukan melihat matanya, tetapi menatap dadanya? Apakah sopan kalau kita nonton di bioskop, lalu kita mengobrol dengan handphone? Apakah sopan kalau lawan bicara kita sedang menjelaskan sesuatu kepada kita, lalu ketika handphone berbunyi tanpa basa-basi kita angkat handphone kita sehingga memotong pembicaraan lawan bicara kita?

Apakah sopan kalau kita sebenarnya saling kenal, tetapi karena lupa namanya kita pura-pura tidak lihat? Apakah sopan kalau kita bergosip? Apakah sopan kalau kita menerima kado yang tidak kita sukai, lalu kado itu dibungkus ulang untuk diberikan kepada orang lain yang berulang tahun?

Ternyata, soal sopan dan tidak sopan, having common decency atau manners itu tidak semua orang tua bisa ajarkan kepada kita. Di sepanjang hidup kita, akhirnya kita harus pakai kompas pengalaman seberanjaknya kita bertambah usia. Katanya, older means wiser, maksudnya semakin tua umur kita semakin dewasa. Tetapi, apakah paket dewasa itu isinya ada sopan santun, sensitivitas dalam menjaga perasaan orang lain, dan kebijaksanaan?

Sebentar lagi saya umur saya akan bertambah satu tahun lagi. Jadi, saya mau coba analisis diri sendiri, apakah kadang sadar atau tidak sadar saya sudah sopan?[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan, penulis buku Queen of Heart dan co-writer buku I Beg Your Prada. Saat ini sedang menantikan penerbitan bukunya yang ketiga tentang fashion, dan yang keempat tentang kehidupan rumah tangga.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.3/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Do Simple Things with Great Love

ad1Oleh: Alexandra Dewi*

Selama kita masih menjadi manusia dan berdomisili di bumi, pastinya kita akan punya yang namanya keinginan, masalah, tujuan hidup, desire, atau apalah namanya, yang membuat kita setiap pagi bangun tidur dengan suatu tujuan atau pekerjaan.

Setiap manusia, siapa pun itu, punya kisah hidup yangbilamana kita simakada pelajaran atau hikmah di dalamnya yang bisa kita ambil, dari cerita kehidupan setiap manusia.

Contoh, seorang anak kecil yang berjualan koran, yang saya dan suami temui suatu hari, menolak menerima uang yang ingin kami berikan kepadanya. Ketika kami mengeluarkan uang sepuluh ribu untuk uang ekstra dari harga koran yang kami beli, si anak menjawab, “Saya tukang koran, bukan pengemis. Hebat! Kecil-kecil sudah tahu bahwa walau miskin, walau hanya jualan koran, tapi dia tetap punya yang namanya dignity atau harga diri.

Sedangkan cerita lain adalah orang yang sudah kaya raya, sudah umur kepala 8. Bukannya menggunakan uangnya untuk menikmati masa tua dengan anak cucu, masih ibaratnya serakah main saham besar-besaran sehingga ketika global economy crisis datang, hampir semua sahamnya anjok, bahkan ada yang sampai habis sama sekali .

Jadi, apakah benar orang semakin berumur semakin bijaksana? Bisakah ada kemungkinan bahwa manusia berumur 21 tahun lebih dewasa dan bijaksana dari pada seseorang yang berumur 41 tahun? Is it older means wiser?

Kembali ke si anak kecil yang punya dignity tadi. Saya jadi berpikir bahwa siapa ya yang mengajari anak itu? Saya berasumsi bahwa ia mungkin tidak ada uang untuk sekolah sehingga harus jualan koran. Tapi, dengan tidak berpendidikan pun, karakternya bisa lebih dari mereka yang berpendidikan.

Contoh lain yang membuat saya tersentuh adalah pembantu rumah tangga saya, Mbak Ti. Mbak Ti kerja dengan sungguh-sungguh dan saya hampir tidak pernah harus menyuruh. Dia sudah tahu apa yang harus dikerjakan. Tapi, yang membuat saya tersentuh adalah suatu kejadian ketika Mbak Ti membawa keranjang berisi baju kotor yang harus dicuci di rumah Mama saya. Waktu itu, saya masih tinggal di apartemen yang tidak ada mesin cucinya. Mbak Ti jalan kaki membawa keranjang berisi baju dan handuk kotor. Pada hari itu, ketika ia sedang berusaha menyeberang jalan, sebuah motor menabraknya. Dan, Mbak Ti terkapar di pinggir jalan dengan kepala bocor, berdarah, dan perlu dijahit.

Si pengemudi motor bertanggung jawab dengan mengantarkan Mbak Ti berobat ke puskesmas. Setelah itu dia juga mengantarkan Mbak Ti pulang ke rumah Mama saya. Pulang kantor saya kaget mendengar kabar itu, dan langsung saya ke kamar menengok Mbak Ti. Bukannya saya yang minta maaf karena dia kecelakaan selagi bekerja untuk saya, tapi Mbak Ti malahan yang menangis begitu melihat saya. Serta merta dia minta maaf soal keranjang baju dan handuk kotor yang tidak bisa dia selesaikan dengan baik, karena hilang tercecer di pinggir jalan ketika tertabrak motor!

Saya tidak pandai menghibur orang, tapi saya segera katakan bahwa saya tidak peduli dengan baju dan handuk kotor saya. Saya LEGA bahwa Mbak Ti tidak apa apa. Maksud saya, dia tidak sampai cacat, atau lebih parah lagi koma, atau pindah alamat ke surga.

Sekarang, Mbak Ti masih bekerja di keluarga saya. Dan, ketika saya naikkan gajinya awal tahun ini, Mbak Ti malah bilang, “Tidak usah…!” Katanya, kalau dia bekerja hanya karena gaji tok, dia sudah ke mana-mana.

Baru sekali ini saya dapat orang yang menolak gajinya dinaikkan!

Justru karena Mbak Ti orang yang penuh rasa syukur, saya jadi kekeuh bahwa saya mau naikkan gajinya. Diam-diam saya mengkhayal, Mbok ya orang-orang yang lebih berpendidikan itu bisa punya rasa bersyukur seperti Mbak Ti, yang paling-paling tidak sampai lulus SMP….”

Kadang saya bingung, dengan segala keterbatasannya, si anak kecil yang jual koran dan Mbak Ti pembantu rumah tangga saya, kok bisa tetap baik hatinya ya….? Sedangkan orang-orang yang berpendidikan (tinggi) belum tentu punya kebijaksanaan seperti mereka.

Contoh: Seorang teman saya komplain soal pegawainya yang ketika di-PHK malah membawa kabur kendaraan kantor. Padahal, tittle-nya Sarjana Hukum, lho! Atau, kenalan saya yang punya pegawai kantoran, yang kerjanya malah chatting di jam kantor, atau bahkan download situs-situs porno. Atau juga kenalan saya lainnya yang komplain soal pegawainya yang ahli desain grafis, tetapi korupsi budget cetakan. Dan ketika ketahuan, si pegawai ini malah menuntut perusahaan teman saya itu untuk tidak menggunakan hasil desain grafisnya, yang mana sudah jasanya sudah dibayar penuh oleh perusahaan.

Yang lebih aneh lagi, dari ketiga pegawai yang ‘korup’ itu, semuanya juga selalu menanyakan kapan perusahaan mau menaikkan gaji mereka. Padahal, jika penghasilan ketiga pegawai itu saya bandingkan dengan penghasilan Mbak Ti sebagai pembantu rumah tangga, atau dibandingkan dengan hasil jual koran si anak kecil tadi, tentu penghasilan para karyawan berpendidikan itu jauh lebih besar.

Jadi, kadang saya jadi berpikir, “Mungkin, semakin berpendidikan seseorang, semakin banyak pengetahuannya, dan semakin banyak pula keinginannya. Dan, semakin banyak keinginan, semakin stres pula kalau tidak kesampaian.” Tentu saja, mereka akan semakin sulit untuk merasa bahagia.

Namun, di sisi lain saya bersyukur bahwa orang tua saya menyekolahkan saya sehingga saya punya pengetahuan dan keinginan. Makanya, saya suka wondering, “Apa yang Mbak Ti atau si anak penjual koran kecil itu miliki, tapi tidak saya miliki?

Saya intropeksi diri, mungkin saya kurang sederhana dalam berpikir. Hidup Mbak Ti, saking sederhananya, membuat dia stay in a moment. Dia tidak berpikir banyak soal masa depan. Hari ini ya hari ini. Dan setiap hari, saya lihat dia bisa tertawa-tawa dan raut wajahnya tidak pernah mencerminkan orang lagi stres. Tapi kalau saya, dengan pengetahuan yang saya tahu sekarang, disuruh kerja seperti Mbak Ti, pastinya saya akan bersungut sungut. Aneh juga dunia ini!

Apakah berpendidikan artinya lebih bahagia? Apakah yang uangnya lebih banyak pasti lebih bahagia? Apakah berpendidikan pastinya tahu mana yang baik serta benar, dan tahu juga mana yang salah? Apakah orang kaya pastinya lebih pintar dari orang yang tidak punya uang? Tidak ada suatu teori yang pasti, tidak ada pukul rata akan suatu formula tentang bagaimana mendapatkan rasa bahagia dan rasa syukur.

Akhirnya, saya seperti bertanya jawab dengan diri saya sendiri. Bagaimana caranya supaya saya sendiri bisa tahu yang namanya rasa bersyukur? Bagaimana saya bisa jadi manusia yang ada gunanya? Dengan segala pengetahuan saya, kok rasanya saya tidak bisa berbuat hal-hal besar atau gebrakan yang membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik?

Akhirnya, saya belajar dari Mbak Ti, dan anak kecil si penjual koran tadi. I learn to do small things with great love.

Penjual koran jasanya adalah mendistribusi koran di jalan, di mana pekerjaan itu dia lakukan dengan pride. Dari pride dan dignity yang dipunyainya saja dia bisa menyebarkan kekaguman dan menghapus pandangan atau stereotype bahwa penjual koran pastinya mengemis juga. He is doing simple thing – menjual koran, but he do it with great love–asal halal dan bisa membantu kehidupan rumah tangga orang tuanya.

That is great love. Karena banyak anak yang orang tuanya kaya tapi malah bersungut-sungut ketika ulang tahunnya tidak dipestakan oleh orang tuanya. Atau, mereka malah membentak orang tuanya ketika orang tuanya membelikan handphone, tapi handphone-nya bukan merek Nokia yang terbaru, atau bukan Blackberry Bold. Haiya...!

Mbak Ti kerjanya ‘hanya’ pembantu rumah tangga, tapi pekerjaannya dilakukan dengan teliti dan suka cita. Wong saya enggak pernah suruh, Mbak Ti malah dengan kreatifnya menyusun sepatu saya di lemari. Padahal, saya biasa copot sepatu seenaknya sehabis pulang kantor. Dan bahkan, Mbak Ti mau mencuci sandal gym saya yang kotor, yang mana saya sendiri sebagai si pemilik sandal malah tidak sadar, bahwa sandal itu bisa dicuci. She is doing simple thingsbut with great love.

Akhirnya, saya taruh pesan itu di Blackberry saya, di Face Book saya, dan di Yahoo Messanger saya. Do simple things with great love. Supaya saya ingat, setiap kali saya bayar gaji karyawan tepat waktu, bukan saja tanggung jawab, tapi saya lakukan dengan suka cita dan rasa syukur, bahwa saya bisa membantu keuangan rumah tangga para karyawan saya.

Waktu tahun baru Cina lalu, semua karyawan saya beri amplop merah, masing masing Rp50 ribu, tidak peduli posisi manajer atau satpam, semua dapat sama rata, yaitu Rp 50 ribu. Mungkin,—mana saya tahumanajer saya mengumpat saya pelit. Tapi saya tidak peduli. Yang penting, walau kecil saya rela memberi. Do simple, litte things with great love. Biar kecil asal datang dari hati yang tulus.

Kalau ada teman yang curhat, walau buat saya masalah itu sepele, saya dengarkan dengan penuh perhatian. Saya tahu, biasalah kalau bukan kita sendiri yang mengalami, kita akan anggap remeh. Sedangkan bagi yang mengalami, pastinya itu hal yang sangat berarti.

Saya buang sampah pada tempatnya, supaya yang harus membersihkan tempat itu minimal saya enggak menambah kerjaan mereka. All in all, tiap hari saya membaca pesan di handphone sayato do simple things with great love. Saya jadi berpikir, apa yang bisa saya kerjakan supaya setiap hari saya masih diberi kesempatan untuk bangun tidur dengan sehat oleh Tuhan, maka hari itu saya membuat suatu yang bermanfaat buat keberadaan saya di dunia ini, sekecil apa pun itu.

Karena saya tidak bisa melakukan hal-hal yang besar, seperti menghilangkan macet di kota Jakarta, atau menguatkan kurs rupiah terhadap mata uang asing, dan saya tidak bisa jadi pawang hujan, bukan berarti saya tidak ada gunanya. Semua orang ada gunanya, kalau dia mau jadi berguna. Selama kita masih diberi kesempatan tinggal atau berdomisili di dunia ini, dan selama Tuhan masih memberi kita kemampuan untuk bangun dari tidur setiap harinya, saya yakin hari itu kita diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari rencana-rencana Tuhan.

So, I start with small, simple things but always with great love. Seperti diberi tanggung jawab: Kalau tanggung jawab kecil saja kita tidak mau menjalankannya, bagaimana kita bisa mendapat tanggung jawab yang lebih besar? Siapa tahu suatu ketika saya bisa-bisa jadi pawang hujan beneran? Hey, you never knows…! J[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan, penulis buku Queen of Heart dan co-writer buku I Beg Your Prada. Saat ini sedang menantikan penerbitan bukunya yang ketiga tentang fashion, dan yang keempat tentang kehidupan rumah tangga.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Alone, But Not Lonely?

ad163x2001Oleh: Alexandra Dewi*

Belum lama ini saya berkesempatan untuk bertemu teman-teman lama saya, bekas teman saya kuliah dulu di Los Angeles. Mereka adalah teman-teman wanita saya, yang sudah saya kenal sejak secara legal saya belum boleh masuk ke club dan minum minuman beralkohol di Amerika. Seseorang apparantly secara hukum belum boleh masuk ke club, beli, atau minum minuman beralkohol kalau belum mencapai umur 21 tahun. Namun, kami semua menggunakan fake ID , dengan bangganya dan dengan penuh keinginan tahu, sebelum umur 21 pun sudah hang out dan drink alcohol beverage di sana.

Bisa dibayangkan dong, sudah berapa lama kami tidak ketemu. Well, sekarang saya sudah kepala 3, jadi sudah jadi lebih dari satu dekade kami belum ketemu. Its so exciting. So many things to catch up with. Sekarang, kami sudah jadi mami-mami. We are a married women now. Bahkan, beberapa dari kami punya anak lebih dari satu.

Ngobrol punya ngobrol, kami saling mengenang masa lajang. Betapa dulu kami pernah pacaran dengan siapa, atau sekadar date dengan siapa, dan saling bertukar info (jika ada yang tahu), apakah yang terjadi kepada manusia-manusia tersebut. Well, sekadar gossip, entertainment, penasaran dicampur dengan harapan, semoga hidup kami lebih baik daripada hidup mereka. Setiap pasangan yang sudah putus biasanya punya ’Secret competition’ dengan ex- boyfriend /ex-girlfriend. Setelah mereka putus, hidup siapa yang lebih baik? Siapa yang lebih sukses dari segala aspek kehidupan? Terutama, siapa yang mendapatkan pasangan yang lebih baik?

Anyway, ketika kami membicarakan masa lajang, jadul (zaman dahulu) kami ingat, kadang kami accept a date, hanya sekadar karena kami kesepian (lonely). Daripada enggak ada date, walaupun yang mengajak kami date ketika itu, sebenarnya kami enggak terlalu pengen, ya sudahlaaaah Hitung-hitung buat hiburan akhir minggu, walaupun some of those dates bisa dikategorikan sebagai a bad date. Loneliness, alias kesepian can make us do some stupid things.

Sekarang kami sudah menikah, harusnya kamilega, karena tidak pernah lagi harus put up dengan bad dates, dan rasa kesepian. Is that right? Pertama-tama sih karena sudah lama enggak ketemu, pada jaga image, kami semuanya mengaku that our marriage is perfect. Pokoknya, semuanya serba fine, serba OK. Pokoknya, apa pun pertanyaannya, jawabannya:Fine, atau enggak “Great, atau enggak sekalian Wonderful’. Tapi, setelah beberapa gelas wine, after all, we then still admit, even married people, can still be lonely.

Jadi, kalau dulu masih lajang dan umur 20 tahunan bisa kesepian, jangan berpikir kalau sudah married tidak akan pernah lagi merasakan yang namanya kesepian. Dan, yang namanya kesepian itu its so human. Nothing to be ashamed off, actually.

Biasanya, kami nonton film di bioskop sendirian, malu. Pergi makan malam atau lunch duduk di restoran sendirian, juga malu. Khawatir kalau orang nanti pikir kami a loner, a loser, atau enggak tahu deh, what else will people think. Padahal, siapa juga yang mikirin? Sometimes, its good and enjoyable to spend some time alone.

Saya tanya kepada teman-teman saya yang sudah married ini, “Kesepian macam apa yang kita maksud di sini? Mereka bilang, kadang kalau suami keluar kota atau harus kerja lembur; atau kadang soal anak-anak; atau issue pribadi yang memang tidak bisa atau lebih baik tidak dikomunikasikan dengan suami; atau kadang, sad but true, sudah malas saja mau ngomong apa. This is whole other topic (its about marriage), so I am not gonna discuss it further.

Maksud saya di sini adalah, single atau married, young or old, we all human. We get lonely. Ada teman saya yang single, dia bilang,I am alone, tapi saya tidak lonely. You know what?Kalau memang benar demikian, saya salut. Tapi, bisakah? Benarkah? Seseorang bisa alone dan tidak merasakan yang namanya kesepian?

Secara theory, harusnya kita bisa enjoy dengan kesendirian kita. We need to be happy, spending time with ourselves. Makanya, kita harus punya hobby, harus mencintai diri sendiri, dan whole other nine yards of theories yang bisa kita dapatkan dengan membaca buku-bukunya Deepak Coprah. Maksud saya, theory-nya bisa didapatkan di berbagai macam buku, sehingga harusnya kalau ada theory-nya, tinggal mempraktikannya saja yang bagaimana. How?

Saya sih masih dwelling on the subject, soal apakah mungkin kita manusia kalau sendirian tidak merasa kesepian? Saya yakin, kalau sudah sampai tahap itu, berarti kita sudah mulai mendekati enlightment, yang mana tadinya saya pikir untuk mendapatkan hal itu saya harus make a trip ke Tibet untuk ketemu Dalai Lama, kalau betul beliau tinggal di sana.

Is it soooooooooo bad for someone to be lonely sampai-sampai berbagai macam buku di self help aisle mengajarkan bagaimana mendapatkan pasangan, bagaimana supaya tidak kesepian, dan topik topik sejenis lainnya? Salah satu teman pria saya pernah bilang,Lonely... is bad, lonely and horny, you are in trouble.” Funny, isnt it? No wonder all these books suggest us how not to be lonely, as we all do not want to be in any kind of trouble.

Tapi, setelah saya renungkan kembali, kesepian itu tidak selalu buruk. Itu kalau kita mau menyadarinya, dan mengisi rasa ‘kosong’ itu dengan hal-hal yang positif. Misalnya, kita bisa isi dengan cari kegiatan yang baik untuk kita, entah itu socializingkarena terbukti bahwa kita sebagai mahkluk sosial perlu teman-temanatau dengan olahraga, karena juga terbukti olahraga itu sehat buat jiwa dan raga. Atau, dengan mencari hobby yang bisa kita tekuni, bisa dengan hobby ringan seperti membaca, nonton film, atau hobby lainnya yang lebih mendalam, misalnya belajar hal-hal baru, mulai dari belajar bahasa asing atau memainkan alat musik seperti piano.

Yang lebih saya mengerti sekarang juga, bahwa apa pun agama kita, jauh dari doa alias berkomunikasi dengan Sang Pencipta kita, ternyata benar-benar merupakan suatu kunci, di mana kita bisa menghilangkan rasa ‘kosong’ atau kesepian yang tidak baik.

Banyak dari kita yang berdoa hanya kalau sedang susah. Tapi, apakah kalau dalam keadaan biasa-biasa saja kita bisa tetap setia mendekatkan diri kepada Tuhan? Bukannya saya sok suci, lho. Coba deh kita sama-sama mengulas di dalam hati kita, ketika kita sedang tidak dekat dengan Tuhan, pasti ada rasa bagaimana…gitu. Yang mana rasanya hanya bisa dihilangkan dengan beribadah secara pribadi. Building a connection with God.

Kenalan saya yang rajin berdoa, sharing kepada saya bahwa, kalau kita benar-benar dekat dengan Tuhan, kita bisa beneran alone tapi tidak lonely. Dia katakan kepada saya, “Kita tidak usah banyak berpikir soal banyaknya keinginan kita. Tapi, pikirkan saja Tuhan maunya apa. Sisanya, soal apa yang kita mau, Tuhanlah yang akan mengaturnya. Seperti perkataan, “Jangan tanyakan apa yang negara ini bisa berikan kepada saya, tapi tanyakan apa yang bisa kita berikan untuk negara ini.” Sama juga, hubungan kita dengan pencipta kita, jangan tanyakan apa yang Tuhan bisa berikan kepada kita, tapi tanyakan apa yang bisa kita lakukan untuk Dia?

Nah, dari hasil ngobrol dengan teman-teman itu akhirnya ada kesimpulan, bahwa ketika kita sedang merasa kesepian, atau ada masalah apa pun, justru dengan menolong orang lain, banyak yang mengaku bahwa akhirnya mereka malah bisa keluar dari rasa kesepian, atau rasa terbebani dalam menghadapi masalah. Mau coba?[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan, penulis buku Queen of Heart dan co-writer buku I Beg Your Prada. Saat ini sedang menantikan penerbitan bukunya yang ketiga tentang fashion, dan yang keempat tentang kehidupan rumah tangga.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Badai Pasti Berlalu

ad163x200Oleh: Alexandra Dewi*

Setiap kali ada masalah besar di dalam kehidupan kita, biasa teman kita memberi semacam semangat dengan berkata, “Badai pasti berlalu…” yang mana maksudnya, betapa pun beratnya kesulitan atau beban hidup yang kita alami saat ini, layaknya badai... ya, pasti berlalu. Tapi, saya pun berpikir, setelah badai itu berlalu, tentu ada yang namanya after math atau sisa-sisa kerusakan dari hadirnya badai tersebut.

Misal, daerah yang terkena gempa, atau yang terkena banjir, atau tornado. Iya betul, badai, gempa, dan banjir pasti berlalu. Habis gelap terbitlah terang. That, is I know for sure. Tapi, tentu setelah badai ada rumah yang hancur. Setelah banjir, banyak furniture baru yang harus dibeli. Belum lagi penyakit kulit dan lain sebagainya. Itu saja contoh “badai pasti berlalu dalam arti harfiah.

Bagaimana dengan “badai dalam kehidupan kita? Itu pun saya yakin, seyakin-yakinnya, pasti berlalu pula. Namun, apa efeknya dalam kehidupan kita setelah badai tersebut berlalu? Bedanya, badai dalam arti harfiah dan badai dalam kehidupan kita, kalau badai dalam arti sesungguhnya tentu lebih banyak kerugian dalam sisi trauma atas kerugian finansial. Karena, misalnya kita harus membangun rumah baru setelah gempa. Sedangkan badai dalam kehidupan kita, misalnya, ditinggal orang yang kita cintai. Atau, tiba-tiba mendapat kabar bahwa diagnosis dokter menyatakan kita terkena penyakit yang cukup kronis. Atau, anak kita kecanduan narkoba, dan hal-hal lain yang sangat menyeramkan untuk dibayangkan.

Tentu, itu semua akan meninggalkan suatu ‘scar atau hal-hal yang harus diterima oleh jiwa kita. Kita harus sadar dan kuat untuk terus menjalankan kehidupan ini dengan keyakinan, bahwa semua hal yang terjadi di kehidupan kita pasti ada arti, makna, dan hikmahnya. Dan, kita harus terus menjalankan hidup ini, tetap dengan kacamata yang positif.

Ada seorang kenalan wanita saya yang pacaran dengan pria yang umurnya delapan tahun lebih tua darinya. Teman saya ini datang dari keluarga sederhana. Dan, untuk menunjang kehidupannya, dia bekerja sebagai seorang guru di taman kanak-kanak. Orangtua pacarnya, yang kebetulan dari keluarga berada, ternyata kurang menyetujui hubungan teman saya ini dengan anak mereka.

Wajar, di dunia yang serba materialistis ini, memungut mantu saja perlu berpikir keras; apakah sama-sama datang dari keluarga berada atau tidak? Mirip seperti dagang! Padahal, kalau saya pikir-pikir, kalau punya anak laki-laki, wajarlah kalau pastinya laki-laki yang harus keluar modal. Baik dapat mantu anak dari keluarga berada, atau dari keluarga yang kurang mampu. Coba kita sama-sama berpikir, kalau kita punya anak laki-laki, dan mantu (perempuan) kita datang dari keluarga kurang mampu, tentu biasanya yang dikhawatirkan adalah semua harus ditanggung oleh keluarga laki-laki. Mulai dari rumah sampai dengan (mungkin) kebutuhan keluarga mantunya.

Contoh, seperti kenalan saya yang saya ceritakan di atas. Dia harus membagi sebagian gajinya sebagai guru di taman kanak-kanak kepada orangtuanya yang tinggal di kota kecil. OK, misalnya dengan kejadian demikian, keluarga laki-laki akan keluar uang banyak. Karena, selain harus membelikan rumah, ia harus kasih donasi juga ke keluarga mantunya.

Nah, kalau dapat mantu dari keluarga berada (misalnya wanita ini sudah biasa hidup enak karena datang dari keluarga mampu), tentu dia kenal merek-merek terkenal dan pasti sudah biasa pakai barang-barang mahal. Setelah dia menikah, siapa yang harus membelikan barang barang tersebut, kalau bukan suaminya? So, either way, kalau anak kita laki-laki, mau mantu kaya kek, miskin kek, tetap saja ujung-ujungnya suami yang harus keluar duit, bukan?

Anyway, kembali ke teman saya tadi, yang pacaran dengan pria yang datang dari keluarga berada, namun sayang tidak mendapat restu. Tentu, akhirnya mereka harus putus. Buat teman saya yang cimat alias cinta mati terhadap pacarnya, tentu adalah suatu ‘badai’ yang harus dia lalui. Ada masa dia benci orang kaya, ada masa dia benci kenapa dia tidak lahir dari keluarga berada, dan ada masa di mana dia takut jatuh cinta lagi. Lalu, ada pula masa dia malas melihat hari baru, karena setiap hari rasanya seperti zombie, hidup rasanya hampa, dan tidak ada arah maupun tujuan.

Buat kita yang membaca, mungkin kita akan menanggapi dengan,Yaaa…, gitu aja kok repot?!” atau “Sudahlah, terima nasib!” atau intinya menganggap enteng. Intinya, asal problem itu bukan kita sendiri yang merasakan, tentu kita hanya bisa berempati kira-kira 5 menit lamanya, lalu lupa? Tapi, kalau kita sendiri yang mengalami, 5 menit rasanya seperti 15 menit, alias tiga kali lebih lama dari waktu normal, karena kita yang sedang merana atau menghadapi badai kehidupan.

Setelah masa ‘berkabung putus dengan pacarnya, kenalan saya ini mengaku bahwa dia akhirnya bisa mendapat hikmahnya. Ketika saya tanya apa hikmahnya, dia menjawab bahwa hikmahnya adalah, dia tahu bahwa Tuhan akan memberikan dia yang terbaik, lebih dari apa yang dia ketahui. Katanya, “Kalau bekas pacarku itu benar-benar sayang padaku, walau aku datang dari keluarga tidak berada, dan orangtuanya tidak merestui, dia pasti tetap mau memperjuangkan hubungan kami dan rela hidup sederhana sekalipun, daripada kehilangan saya.” Lanjutnya, “Saya yakin, saya akan diberi Tuhan seseorang yang lebih baik untuk saya. Seorang suami yang mengutamakan kepentingan istrinya lebih dari kepentingan dirinya sendiri.

Saya tanya apakah dia masih benci orang kaya? Dia bilang tidak. Dia bilang, “Benci kepada siapa pun hanya membuat diri sendiri sengsara!” Orang yang kita benci tidak peduli, bahkan tidak merasa apa-apa. Tapi, kita yang membenci akan menjadi orang yang pahit. Yang judulnya pahit ya pasti tidak enak dimakan atau dirasakan.

Saya tanya, “Apakah kamu siap jatuh cinta lagi?” Dia jawabnya, “Tadinya sangat takut untuk jatuh cinta lagi. Jangankan siap, mau jatuh cinta lagi saja rasanya tidak mau. Sekarang, aku tetap masih belum bisa bilang siap. Tapi, aku mau membuka hati, apa yang di masa depan akan terjadi, aku hadapi dengan hati yang terbuka, bukan dengan hati yang terluka.”

Well, badai memang pasti berlalu. Saya harap ketika badai di kehidupan kita berlalu, kita bisa seperti kenalan saya ini, yang tegar menghadapi hidup, menemui kemanisan makna hidup setelah kepahitan yang dilalui. Di dalam kehidupan, pasti kita mengalami masalah; besar, kecil , medium…. Tapi intinya, dalam menghadapi masalah tersebut, pergumulan dalam jiwa kita tentu terjadi. Tapi, kita selalu punya pilihan dalam menghadapinya. Apakah kita ingin menjadi orang pesimis, pahit, dan takut? Atau, kita pilih menjadi orang yang keluar dari suatu masalah dengan menjadi lebih kuat dan bijaksana? Bukan hal yang mudah untuk memilih yang baik dan benar. Namun, pilihan itu selalu ada. There is always a choice, to do the right thing.[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan, penulis buku Queen of Heart dan co-writer buku I Beg Your Prada.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox