Underestimate, Over Estimate, Cover Up

adOleh: Alexandra Dewi*

Istilah jaim (jaga image) sudah menjadi istilah pembicaraan sehari-hari. Kita semuakalau mau jujurpastinya cukup sering melihat orang melakukan pekerjaan jaim tersebut, dan pada saat yang sama juga melakukan aktivitas jaim di kehidupan kita sehari-hari. Contohnya, saya tidak mungkin tertawa terbahak-bahak selepas ketika saya sedang tertawa di depan teman-teman dekat saya sendiri. Saya tak mungkin tertawa terbahak-bahak ketika, misalnya, saya sedang berada di depan kumpulan group ibu-ibu orang tua murid di sekolah anak saya, di mana saya tidak kenal dengan mereka. Dan, saya sangat tidak berharap ada kesan bahwa Mamanya si Jessie (nama anak saya) tidak bisa menjaga sikap, urakan, agak enggak beres, atau ketiga kesan itu kumpul menjadi satu.

Saya yakin, kita semua ada cerita sendiri-sendiri mengenai kapan dan mengapa aktivitas jaim ini kita lakukan. Namun kalau mau jujur, sebenarnya jaim itu adalah suatu aktivitas yang lumayan meletihkan. At least bagi saya. Capek deh kalau setiap saat harus jaim. Dan lagian, ternyata apa yang menurut kita sudah jaim belum tentu di pandangan orang lain yang melihatnya sudah seperti itu.

Contoh, suatu ketika saya pernah di-interview oleh wartawan sebuah majalah traveling. Mungkin, karena saya dianggap cukup sering traveling. Namanya interview, bohong-benar kalau on some level kita yang sedang di-interview tidak melakukan aktivitas jaim. Namun, terserah Anda mau percaya apa tidak, ada masa-masa di kehidupan kitamungkin dengan bertambah usia kita lama-lama tidak sadar sedang jaim atau memang itulah kita apa adanya.

Ketika copy majalah sampai di rumah, yang melakukan interview menulis mengenai  saya bahwa baginya kualitas terbesar saya adalah ‘her humble sincerity’. Anehnya, banyak orang bilang kalau enggak kenal saya beneran kelihatannya saya ini orangnya sombong. Jadi, Anda bisa bayangkan kalau kita harus jaim terus-menerus memikirkan apa pendapat orang mengenai diri kita. Betapa letihnya kita dan belum tentu juga ngefek. Sebab, kalau orang sudah ada pendapat tersendiri mengenai kita, rasanya akan cukup sulit mengubah image tersebut.

Anyway, tak lama kemudian wartawan yang begitu baiknya menyebut saya memiliki kualitas sebagai manusia yang humble (rendah hati) dan sincere (tulus) itu menghubungi saya. Dia bertanya apakah saya bersedia menjadi kontributor di  majalah tersebut. Saya jawab saya lihat dulu tulisan seperti apa yang dibutuhkan, dan beliau menjawab akan mengirim e-mail mengenai hal itu. Ketika e-mail saya buka, singkat kata wartawan tadi benar-benar over-estimate kemampuan saya, baik dari sisi menulis dalam bahasa asing maupun pengetahuan saya mengenai traveling. Sedangkan saya sendiri under-estimate pengetahuan sebagian orang mengenai apa yang mereka ketahui. Dan, pada saat yang sama over-estimate mengenai sebagian kelompok orang lagi mengenai apa yang mereka tahu.

Saya over-estimate bahwa kalau orang bisa menulis buku mengenai kesehatan, artinya dia pasti olahraga teratur tiga kali sehari. Saya over-estimate bahwa kalau orang memimpin suatu perusahaan pastinya dia serba tahu. Saya under-estimate bahwa orang yang baru lulus kuliah pasti tidak banyak tahu apa-apa. Ternyata tidak semuanya selalu seperti itu.

Saya pun akhirnya mencoba tetap humble dan sincere. Saya membalas e-mail wartawan itu dan berkata bahwa sepertinya kemampuan saya dalam hal ini sudah di-over-estimate. Saya belum sanggup menulis seperti contoh yang diberikan, namun saya bisa memberi beberapa tips lepasyang bila ada yang mau merangkumnya kembali dalam tulisan ke bahasa Inggrisminimal saya bersedia membantu, tulus tentunya.

Setelah kejadian itu saya berpikir, berapa kali saya over-estimate orang lain atau under-estimate dan mana yang lebih baik? Di-over-estimate atau di-under-estimate oleh orang lain? Well, jika orang lain over-estimate kita, artinya apa yang sebenarnya kita adalah KURANG dari apa yang dipikirkan orang, dan juga diharapkan dari orang itu. Sedangkan jika kita di-under-estimate oleh orang lain, artinya apa yang sebenarnya diri kita ini LEBIH dari apa yang orang pikir.

Maka dari itu kalau dipikir pikir lagi, walau dianggap remeh oleh orang lain, yang pasti lebih menyebalkan daripada dianggap  lebih dari apa adanya kita. At the end of the day, hanya kita yang tahu sesungguhnya kita itu seperti apa.

Sebagai penutup, ada kenalan saya yang cerita bahwa hobinya mengumpulkan mobil dan jam. Mungkin itu benar, mungkin itu jaim. Mungkin dengan ceritanya itu sebagian orang akan menganggap dia kaya raya, sebagian lagi akan menganggap dia suka pamer. Lalu, sebagian lagi mungkin hanya sirik, tapi lagi-lagi at the end of the day, hanya diri kita sendiri yang tahu, sebenar-benarnya dan sesungguh-sungguhnya kita itu siapa, bisa apa, dan tidak bisa apa. Dan, bila kita enggak suka dengan apa adanya kita itu, hanya kita juga yang tahu mesti diapakan dan apakah kita mau melakukannya.[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan pemasar suplemen makanan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Dewi baru saja meluncurkan bukunya keempatnya tentang fashion yang ditulis bersama Fitria Yusuf berjudul Little Pink Book. Ia juga sedang menyiapkan buku-buku berikutnya. Dewi dapat dihubungi melalui pos-el: inthelalaland[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.4/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 7 votes)

Menariknya Mengambil Jalan yang Jarang Dilalui Orang

alexandra-dewi-rOleh: Alexandra Dewi*

Kita sering mendegar bahwa manusia senangnya mengambil jalan pintas. Daripada capek-capek sekolah dan belajar tahap demi tahap, dan karier merangkak dari bawah, mendingan jadi gigolo kalau ada modal tampang. Kan lebih cepat dapat uang? Itu soal pilihan karier. Jalan singkat lainnya adalah daripada diet sehat dan olahraga, capek, mendingan kalau ada dananya liposuction saja. Langsung kurus. Saya sendiri kalau ada jalan pintas, jalan cepat jadi kaya, cepat kurus, cepat ini dan itu, kemungkinan besar saya akan mengambilnya, terutama apabila sudah kefefet.

Namun ternyata, mengambil jalan pintas selain penuh dengan resiko; jadi gigolo bisa kehilangan harga diri belum lagi kalau ditangkap pihak berwajib, liposuction selain menguras kantong tentu merupakan operasi  besar berisiko tinggi. Nah, selain penuh risiko ternyata mengambil jalan pintas juga secara faktor kematangan mental kita akan membuat kita menjadi manusia yang kurang bahagia.

Pertama, apa pun yang kita dapatkan dengan usaha minimum atau gratisan, atau pada intinya didapatkan tanpa usaha keras, biasanya tidak kita hargai sepenuh hati. Makan dengan perut yang tidak lapar tidak akan seenak makan ketika kita sedang kelaparan. Jalan keluar dari suatu permasalahan yang kita temukan tidak akan membawa begitu rasa bahagia apabila masalah itu tidak muncul pada awalnya. There is no joy without sorrow. Tidak bisa dibedakan mana terang apabila tidak pernah melihat gelap.

So, all the process untuk menikmati kehidupan, seperti sebuah cycle, cycle kematian dan kehidupan. Tanpa pernah merasa kesepian (kematian) saya tidak akan tahu menghargai rasanya ditemani oleh teman-teman (kehidupan). Tanpa mengalami kesukaran finansial saya tidak akan tahu bagaimana menghargai uang. Tanpa kehilangan orang yang kita cintai kita tidak tahu bagaimana  bahagianya setelah kita berhasil melakukan proses letting go dan moving on. Tidak akan ada suatu transformasi yang significant dalam kehidupan kita apabila kita tidak bersedia melewati PAIN.

Hidup ini tidak bisa dibilang gampang. Life is hard. Begitu kita menyadari bahwa tidak pernah dijanjikan kepada kita bahwa hidup kita akan mudah, begitu kita menerima bahwa hidup ini memang sudah normal dan lumrah adalah susah, maka kita tidak akan merasakan lagi bahwa hidup ini susah. Inilah kehidupan, tidak lebih tidak kurang. Dan dalam menaunginya, apabila kita menyadari bahwa setiap pain and suffering bila kita lewati dengan kebijaksanaantidak mengambil jalan pintas dan dilalui dengan cara yang menyakitkan namun yang paling efektifjustru dari proses yang menyakitkan itulah kita dibentuk, ditransformasi menjadi manusia manusia yang luar biasa. Semakin kita bertambah usia, maka bertambahlah kebijaksanaan kita.

Bukan hanya bertambah angka usia tapi kematangan mentalnya ya segitu-gitu saja karena tidak pernah mau mencoba melalui tantangan hidup dengan cara yang menyakitkan. Realitas kehidupan dan kebenaran (truth) biasanya kita hindari apabila hal itu menyakitkan. Dan dari menghindari itu, kita hanya mengganti suatu realitas dengan jalan pintas. Cobalah kita mengambil jalan yang orang jarang lalui. Jalan pintas sudah penuh dengan orang. Jalan yang orang jarang lalui akan menuju ke suatu tempat yang tidak banyak orang yang bisa melihat, apalagi merasakan bagaimana rasanya tiba di tempat itu.[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan pemasar suplemen makanan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Dewi baru saja meluncurkan bukunya keempatnya tentang fashion yang ditulis bersama Fitria Yusuf berjudul Little Pink Book. Ia juga sedang menyiapkan buku-buku berikutnya. Dewi dapat dihubungi melalui pos-el: inthelalaland[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.8/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +8 (from 8 votes)

Automatis Diplomatis

adOleh: Alexandra Dewi*

Kalau mau sukses dalam menjalankan usaha, katanya harus bisa berdiplomasi. Tidak boleh menunjukkan perasaan atau pikiran kita secara terang-terangan. Bahkan, kepada yang berutang kepada perusahaan sekalipun, surat yang isinya menagih utang saja tidak berbunyi kasar. Isinya menagih tapi secara diplomatis. Yang berutang saja masih disebut YTH (Yang Terhormat). Sama seperti menulis surat penawaran harga atas jasa/barang yang kita perdagangkan.

Dalam menjalankan pertemanan, ternyata sama seperti perusahaan, kita harus diplomatis. Mengerti mana yang harus dikatakan, mana yang tidak, dan kalau dikatakan pun harus secara diplomatis. Mengapa saya menulis soal diplomatis ini? Karena saya baru mendengar cerita dua orang kawan lama, yang gara-gara kurang diplomatis, malah menjadi kurang harmonis hubungannya.

Begini ceritanya. Kedua kawan saya ini sebut saja Amanda dan Cindy. Mereka sudah saling kenal sejak SMP. Saya dengar Amanda sudah lama dalam keadaan ekonomi yang bisa dikatakan cukup sulit. Kalau tidak salah selepas SMA Amanda tidak sempat kuliah tapi langsung menikah dan punya anak. Lalu dia bercerai dan menikah lagi. Namun, karena satu dan lain hal, dari suami pertama ke suami yang sekarang, keadaan ekonominya belum bisa dibilang berkecukupan.

Cindy sempat kuliah dan sekarang bekerja di suatu perusahaan milik keluarga. Ketika Amanda bertanya apakah ada lowongan di perusahaan tempat Cindy bekerjatentu saja secara diplomatisCindy bisa menjawab bahwa soal menerima karyawan atau karyawati baru bukan wewenang Cindy. Toh, walau perusahaan milik keluarga, Cindy bukan pemilik atau pimpinan perusahaan yang berwenang menerima pegawai baru. Untung, jawaban diplomatis Cindy diterima dengan baik oleh Amanda.

Amanda kadang curhat kepada kawan lamanya bahwa biaya hidup di rumah tangganya sangat pas-pasan, dan berat sekali rasanya memenuhi kebutuhan dasar sekalipun. Kasihan dengan kawan lamanya, Cindy menawarkan penghasilan tambahan kepada Amanda. Caranya dengan memesan kue-kue untuk acara staff gathering yang akan diadakan oleh perusahaan tempat Cindy bekerja.

Amanda sendiri mengakui bahwa dirinya tidak bisa membuat kue. Tetapi omanya pandai memasak kue dan dari hasil masakan omanya itulah yang akan dijual kepada Cindy. Namun, karena tujuan memesan kue ini sebenarnya adalah untuk menolong teman, tentu Cindy tidak banyak bertanya. Ia memesan beberapa jenis kue yang mana salah satu jenis kuenya adalah tiramisu (yang harus diletakkan di lemari es sebelum disajikan).

Beberapa hari sebelum acara staff gathering, Cindy baru sadar bahwa di kantornya tidak ada lemari pendingin (kulkas). Ia pun segera meghubungi Amanda lewat telepon untuk membatalkan pesanan tiramisu. Setelah Amanda mendengar bahwa Cindy membatalkan pesanan salah satu jenis kue itu, Amanda marah “Lho, Cin! Aku udah order, lho!” Yang fatal, setelah berkata penuh amarah, Amanda menutup telepon secara tiba tiba. Mungkin di tengah-tengah rasa kecewa dan amarah, juga panik atau rasa tidak enak kepada omanya, dicampur lagi desakan kebutuhan keuangan keluarga. Akhirnya, Amanda kehilangan apa yang namanya diplomasi atau lebih simpelnya penguasaan diri.

Cindy yang merasa telah mencoba membantu tentu tidak terima teleponnya ditutup seperti itu oleh Amanda. Tapi hebatnya, teman saya si Cindy ini meneliti dulu apa yang salah pada dirinya sendiri. Ia mengakui ketika menjelaskan kepada Amanda bahwa kantornya tidak ada kulkas, ia sempat juga berkata, “Sorry, perusahaan aku bukan menjual kue. Jadi, aku enggak kepikir soal kue mana yang harus dikulkasin. Aku kan bukan tukang kue, Amanda…!” Cindy mengakui, kata-katanya itu pastinya menyinggung perasaan Amanda sehingga Amanda menutup telepon.

Akhirnya, Cindy menelepon Amanda kembali, “Amanda, sorry aku tadi mungkin berkata-kata kurang baik. Orderanku semua aku teruskan, termasuk yang tiramisu. Tapi, aku harus juga menerangkan bahwa ini adalah pesananku yang pertama dan terakhir yang aku pesan darimu. Sebab, aku enggak mau kita menjadi seperti ini…. berkelahi dan berselisih paham.”

Amanda juga berkata,Sorry Cindy, tadi aku tutup telepon.”

Cindy menjawab,Iya, enggak apa, sama-sama. Sorry, salah aku juga…”

Dari kalimat saling meminta maaf sepertinya urusan sudah selesai. Tetapi, seperti yang Cindy katakan tadi, ia tidak akan memesan kue lagi ke Amanda. Dilihat dari sisi usaha, bad for business. Dilihat dari sisi pertemanan, bad for friendship.

Itu dia. Diplomatis. Enggak heran tidak semua orang bisa jadi diplomat.

Dari mendengar cerita ini, yang mana saya tidak terlibat emosi di dalamnya, saya jadi berpikir bahwa berlatih penguasaan diri, berdiplomasi ternyata sangat amat penting dalam segala aspek kehidupan. Ada orang yang sepertinya memahami sekali dalam berdiplomasi. Mungkin nenek moyangnya sampai dianya semuanya keturunan diplomat tujuh turunan. Jadi, lahir-lahir memang dia sudah diplomatis. Namun, bagi saya atau Anda yang lahir-lahir bukanlah anak diplomat, ada baiknyakalau bukan sangat pentinguntuk menguasai ilmu diplomasi ini.

Cerita lain soal pemilik perusahaan A yang berutang kepada pemilik perusahaan B. Bila keduanya bertemu person to person secara tidak sengaja di sebuah restaurant, nasihat dari seseorang yang saya anggap sangat diplomatis menganjurkan yang diutangi untuk tidak menyebut apalagi menagih utang secara langsung. Bapak A yangwalau jengkel kepada Bapak Byang bisa enak-enaknya makan sushi tapi utang kepadanya. Bila mau diplomatis, harus pura-pura lupa soal itu dan berinteraksi biasa-biasa saja. Soal utang harus orang lain yang menagih, baik itu surat dari bagian keuangan di kantor, baik itu pihak ketiga lain seperti bank atau debt collector company. Kalau mau jengkel dan tidak bisa menahan jengkel dan langsung hajar bleh dengan mengutarakan apa yang plek-plekan ada di hati, maka tidak dianjurkan untuk menjadi pengusaha, apalagi jadi pengacara.

Anyway, mudah-mudahan cerita saya di atas mengingatkan kita semua bahwa setiap kali kita sedang emosi, atau sedang dalam keadaan yang kurang stabil (stres, letih, dll) sebaiknya kita yang bukan automatis diplomatis untuk menunda hal-hal yang mau kita katakan atau lakukan semalam saja. Pengalaman saya, kebanyakan kali, satu malam tidur yang nyenyak sering kali menyelamatkan saya dari hal-hal bodoh yang bisa dengan mudahnya saya ucapkan dengan secara tidak diplomatis.[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan pemasar suplemen makanan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Dewi baru saja meluncurkan bukunya keempatnya tentang fashion yang ditulis bersama Fitria Yusuf berjudul Little Pink Book. Ia juga sedang menyiapkan buku-buku berikutnya. Dewi dapat dihubungi melalui pos-el: inthelalaland[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +6 (from 6 votes)

All Pain is The Same

adOleh: Alexandra Dewi*

Selama kita masih menjadi yang namanya manusia, tentu kehidupan kita akan mengalami pasang surut, up and down, joy and pain, tawa dan air mata. Tidak ada yang namanya tra la la tra lili terus. Namun kebalikannya, on more positive not, tentu tidak ada yang namanya nelangsa seumur hidup. Hanya saja tidak tahu kenapa yang sering diingat adalah masa-masa nelangsa yang membuat banyak dari kita berubah.

Banyak sudut pandang ketika kita sedang diberi cobaan oleh yang Mahakuasa dalam jalan kehidupan kita. Ada pendapat begini, cobaan membuat kita lebih dekat kepada Tuhan. Ada yang berkata supaya kita menjadi lebih dewasa. Ada juga pendapat, mungkin itu karma. Namun, apa pun itu jenis cobaannya, dalam masa itu we experience: Pain.

Dalam keadaan mengalami pain, orang-orang yang dekat dengan kita biasa memberikan kalimat-kalimat yang tujuannya adalah untuk menghibur. Salah satu cara menghibur adalah dengan menceritakan kasus lain yang sama parah atau lebih parah dari sudut pandang si penghibur.

Contoh soal, seorang teman saya yang kehilangan pekerjaan. Dia dihibur oleh temannya dengan menceritakan bahwa ada kenalannya yang kena penyakit jantung dan harus dioperasi sehingga, jangankan kehilangan pekerjaan, tetapi si teman itu juga harus menguras isi tabungannya untuk biaya berobat. Tujuan membanding-bandingkan masalah si A dan si B ini adalah untuk memberi perspektif atau sudut pandang yang membuat si pemilik masalah merasa better; bahwa masalah yang dia alami tidak ada apa-apanya dibanding masalah orang lain (yang tentunya akan diberi contoh masalah orang lain yang lebih besar).

Namun, mungkin kita semua pernah mengalaminya. Walaupun teman kita sudah menceritakan pengalaman orang lain yang lebih parah dari keadaan yang sedang kita alamikita tentunya bersyukur masalah tidak separah atau seberat masalah pembandingtetapi bersyukurnya hanya sejam atau maksimal hari itu saja. Setelah itu, kita biasanya kembali tenggelam dalam masalah kita sendiri.

Tentu saja kita sadar jika kita harus memilih masalah mana yang harus dihadapi: kehilangan pekerjaan atau mengalami sakit jantung dan harus dioperasi? Tentu kita akan memilih kehilangan pekerjaan karena pekerjaan masih bisa dicari lagi sedangkan kesehatan tidak bisa di ganti. Namun, walau sadar akan pilihan itu, yaitu kehilangan pekerjaan, tetap saja painfull dan berat untuk kita, simply karena masalah itu adalah masalah kita.

Kita yang mengalami kepusingan, kemumetan, dan segala kekhawatiran akan masa depan. Masa depan dalam hal ini adalah bagaimana membayar segala biaya kehidupan di bulan yang akan datang. Belum lagi kalau sudah berkeluarga, tentu beban tersebut akan lebih berat lagi. While, kita bersimpati kepada cerita si orang yang sedang berjuang melawan penyakit jantung, tetapi dengan bersimpati kepadanya pun masalah kita masih ada di sana.

Sehingga, suatu kali saya membaca salah satu tulisan Dr. Phil, “I was in the hospital with my broken leg while I saw a guy came in with no leg. That is terrible! But, it doesnt make my broken leg hurt any less.” Maksudnya, “Saya sedang berada di rumah sakit dengan kaki yang patah dan saya melihat seorang lain masuk dengan kaki yang baru diamputasi. Itu sangat menyedihkan, tetapi tidak membuat kaki saya yang patah menjadi tidak sakit.”

Ketika saya membaca kalimat sederhana itu, akhirnya saya mulai berpikir bahwa membandingkan diri kita dengan orang lain, terutama dari sisi masalah, ternyata hanya akan membantu kita sejenak. Kasarnya seperti, Oh, puji Tuhan itu tidak terjadi terhadap saya.Tetapi, tetap saja kita akan kembali menggerutu soal masalah kita sendiri karena besar kecilnya, how painfull it is, small pain, big pain, it is pain and that pain is even more important because it is our pain. Sangat manusiawi, sangat real. Dan, it is time to get real.

Masalah kita harus kita hadapi, harus kita selesaikan, bukan hanya dengan membandingkan masalah kita dengan orang lain yang lebih parah. Tetapi, menyelesaikan masalah dengan segera, melakukan segala upaya, damage control, dan upaya lain yang menyelesaikan masalah itu. Dan, God bless you, jika anda sudah tidak bermasalah lagi, mudah-mudahan Anda terketuk hatinya untuk membantu orang lain yang bermasalah.

Sudah menjadi contoh umum bahwa kita harus tahu bagaimana untuk take good care of ourselves dulu. Harus bisa menolong diri kita sendiri dulu baru kita bisa menolong orang lain. Ada analogi begini, jika pesawat terpaksa akan melakukan pedaratan darurat, kita harus mengenakan alat bantu pada diri kita sendiri dulu, baru kemudian kepada anak kecil yang traveling bersama kita di pesawat itu.

Namun, pengalaman saya pribadi pun memberi saya pelajaran tentang bagaimana menolong orang lain pada saat kita bermasalah. Ternyata, langkah itu justru menolong diri kita sendiri juga. Dan, it is my personal belief that kindness, never go out of style and this world goes around. Saya baik kepada Anda, tidak pasti saya akan mendapat kebaikan yang sama dari Anda. Namun, somehow, someway, karena dunia ini berputar, saya akan menerima kebaikan dari orang lain.

Nah, jadi mana yang benar dalam hal ini? Should we care for ourselves first and foremost atau tetap membagikan kebaikan dalam keadaan apa pun yang sedang kita alami?

Akal sehat berkata, kita tidak bisa membantu orang lain kalau diri kita sendiri sedang sungsang sumbel atau gundah gulana. Tetapi, misteri kehidupan menunjukkan bahwa kadang di tengah badai dan kenelangsaan kita, kita malah bisa keluar lewat upaya kita untuk tidak terlalu memfokuskan kepada diri sendiri dan membantu sesama. So what should we do? Inilah yang namanya diperlukan instict, judgement call, dan kebijaksanaan dalam bertindak.

Manakah yang bijak? Baik terhadap orang lain apakah selalu benar? Kalau dilihat dari cerita orang yang diberi air susu lalu membalas dengan air tuba, apakah bijak bila kita tetap berbuat baik terhadapnya? Tentu, terlepas dari segala urusan agama, apakah sebaiknya kita mengorbankan kepentingan diri sendiri demi orang lain?

Anehnya, jawaban dari semua pertanyaan ini , yaitu dibutuhkannya instict, judgement call, dan ilmu bijak, ternyata hanya bisa didapat dari kita melalui berbagai macam pain dan membantu orang lain yang sedang experience pain in their life.

Saya tidak percaya orang lahir lahir langsung jadi bijaksana. Saya ragu ada orang lahir dengan instict dan judgement call yang selalu pas dan tepat untuk dipakai di setiap situasi dan setiap dilema kehidupan. Jadi, kalau sekarang Anda atau saya, from one time to another mengalami somekind of pain, apa pun masalah Anda, masalah saya, tidak ada salahnya menyadari kita bersama sedang dibentuk dan dibekali dengan segala yang kita perlukan untuk menjadi sesuatu yang lebih baik, di luat dugaan kita semua.[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan pemasar suplemen makanan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Dewi baru saja meluncurkan bukunya keempatnya tentang fashion yang ditulis bersama Fitria Yusuf berjudul Little Pink Book. Ia juga sedang menyiapkan buku-buku berikutnya. Dewi dapat dihubungi melalui pos-el: inthelalaland[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.3/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 4 votes)

Ada Tembok China di antara Saya dan Dia (1)

ad1Oleh: Alexandra Dewi*

Saya mencoba menceritakan sebuah kisah percintaan yang saya harap nanti bisa dijadikan sebuah kumpulan cerita dan dibukukan. Cerita pertama ini berasal dari salah satu kenalan saya. Supaya saya tidak menggunakan nama samaran, saya menulis seolah-olah orang ini yang menceritakan langsung dan mudah-mudahan juga bisa lebih mudah dimengerti.

Here it goes.

Saya datang dari keluarga sederhana. Orang tua saya bukan orang melarat, tetapi bukan pula yang kaya raya sampai bisa menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri. Sehingga, ketika sepupu jauh saya menawari saya sekolah ke Amerika dengan biaya dari keluarganyawalau awalnya saya sempat shock, that this is seems too good to be trueakhirnya saya berangkat juga. Usia saya ketika itu 17 tahun.

Di Amerika saya tinggal dengan kakak perempuan saya yang juga dibiayai oleh sepupu kami. Tidak lama kuliah di sana, saya sudah mendapat seorang pacar bernama Hans, tiga tahun lebih tua dari saya. Kami amat sangat saling mencintai. Waktu yang saya lewatkan bersama Hans, bagi saya adalah masa-masa terindah dalam kehidupan saya. Semula saya tidak percaya ada surga. Tetapi, dua tahun pertama saya di Amerika bersama Hans itu berarti surga. Tidak ada yang bisa lebih baik dari saat itu.

Setelah dua tahun berjalan, kakak perempuan saya Cindy yang berusia 23 tahunwalau belum punya pacar yang cocokpun sangat menikmati masa muda kami kuliah di negara itu. Suatu hari, Cindy berkata, “Sepupu (yang selama ini membiayai semua kebutuhan kami) mau melamar dan menikahiku.

Cindy berkata kepada saya, kalau ia menolak lamarannya, sepupu kami itu akan berhenti membiayai sekolah kami dan semua biaya lainnya. “Aku sama sekali tidak ada rasa cinta sama dia. Apa yang bisa kita lakukan?” tanya Cindy.

Saya duduk terdiam. Betapa bodohnya saya selama ini. Saya pikir ada orang atau sanak saudara yang begitu tulus membiayai pendidikan kami, ternyata semua ada syaratnya. Saya melihat Cindy sangat tertekan. Dan, ketika ultimatum diberikan kepadanya, akhirnya saya berkata,OK, kalau begitu biar kita cari kerja saja di sini!

Cindy bertanya, “Bagaimana bisa cari kerja? Kita bukan penduduk? Kita tidak punya green card? Kita harus pulang!”

Alangkah mudahnya kalau Cindy bisa menerima lamaran dari saudara jauh kami itu. Tetapi, alangkah egoisnya saya menyuruh atau bahkan merelakan kakak saya sendiri menikah dengan pria yang tidak dicintainya.

Ketika saya sampaikan masalah ini kepada Hans, dia pun terdiam. Saya tahu dia sedih, tetapi saat itu pun dia masih hidup dengan dibiayai orang tuanya. Usianya baru jalan 23 tahun. Kuliahnya masih di tengah-tengah. Setelah segala sudut kami telaah dan tidak ada jalan keluar, akhirnya saya dan Cindy pulang ke Singapura. Saudara jauh kami ternyata benar-benar sudah tidak mengirim uang sekolah maupun biaya sewa apartemen kami.

Ketika saya berpisah dengan Hans, kami berdua masih saling berjanji. Saya berjanji untuk cari kerja di Singapura dan menabung untuk mengunjunginya. Sementara, Hans menjanjikan hal yang sama, dan apabila selesai kuliah dia akan melamar saya.

Ketika tiba di Singapura, saya benar-benar seperti orang terkena depresi. Rasa rindu saya kepada Hans lebih sakit daripada rasa belum makan berhari-hari. Setiap kali kami bicara lewat telepon, saya selalu menangis. Di antara tahun-tahun pertama kami berpisahsaking tidak tahannya tidak bertemusaya rela menjual semua perhiasan saya untuk tiket mengunjungi Hans di Amerika. Gaji saya tidak pernah cukup ditabung karena untuk hidup sehari-hari saja sudah sangat pas-pasan.

Hans pun sempat datang mengunjungi saya di Singapura. Saya tidak tahu bagaimana dan dari mana Hans dapat uang untuk membeli tiket. Sebab, saya tahu semua biaya hidupnya di sana masih dari orang tua, dan dia pun belum punya mata pencaharian. Waktu berjalan dan terasa semakin berat karena orang tua Hans mulai keberatan dia bolak-balik ke Singapura mengunjungi saya. Apalagi kuliahnya juga belum selesai. Saya tidak menyalahkan orang tuanya. Orang tua mana pun tentu ingin anaknya selesai kuliah dengan baik.

Di tempat kerja saya berjumpa dengan Ron, pria mapan asal Amerika yang usianya 20 tahun lebih tua dari saya. Saya tahu Ron berminat pada saya, tetapi ketika saya berjumpa Ron, dia sudah menikah. Saya tidak pernah menanggapi, apalagi saya masih berharap Hans akan menepati janjinya; selesai kuliah dia akan melamar saya.

Tetapi, lama kelamaan Hans tidak bisa berkunjung lagi walau dia masih sering menghubungi saya lewat telepon. Mungkin, orang tuanya melarang atau dia tidak tahu harus pinjam dan dapat uang dari mana lagi untuk menemui saya. Sementara kami begitu jauh, saya kesepian, letih bekerja, dan fake a smile everyday. Saya amat sangat kangen pada Hans tetapi tidak tahu lagi harus bagaimana….

Ron berkata bahwa dia bersedia menceraikan istrinya jika saya mau menikah dengannya. Saya lihat kegigihan dan keseriusan Ron dengan mata kepala saya sendiri. Ron berkata jika bercerai dengan istrinya, dia harus memberikan hampir semua yang dia miliki kepada istrinya. Karena angan-angan saya bisa hidup bersama Hans semakin pupus dimakan habis oleh realitas kehidupan, akhirnya saya coba membuka sedikit celah hati kepada Ron.

Sebelum bercerai dengan istrinya Ron punya rumah, mobil, dan aset yang cukup. Tetapi ketika menikah dengan saya, hampir semua harta bendanya harus diserahkan kepada (mantan) istrinya. Ron tidak banyak cerita mengapa harus terjadi demikian itu. Yang saya tahu, ketika saya akhirnya menikah dengan Ron, kami tidak hidup berkelimpahan. Ron harus mulai dari awal. Tetapi, saya cukup bersyukur karena pekerjaannya sebagai GM di sebuah club golf internasional cukup untuk menghidupi rumah tangga kami.

Pada hari pernikahan saya, semua seperti blur. Saya masih punya rasa cinta untuk Hans. Tetapi, rasa itu saya tepis karena harapan untuk bersamanya tinggal angan-angan belaka. Saya tidak sadar bahwa saya masuk ke suatu pernikahan, yang mana hati saya masih bersama pria lain. Hans, hanya dia yang saya cintai sepenuh hati.

Karena usia Ron sudah 45 tahun, kami memutuskan segera punya anak. Anak pertama kami laki laki, Josh luar biasa lucunya. Darah Asia saya yang terkombinasi dengan Ron yang caucasian, Josh really a handsome litte boy. Tidak lama kemudian lahir putra kami yang kedua dan yang ketiga.

Menjadi seorang ibu buat saya merupakan pengalaman yang sangat indah. Saya suka anak-anak. Dan, saya menilai diri saya sebagai seorang wanita yang sangat berbakat dalam menjadi seorang ibu. Semua amat sangat natural bagi saya. Proses hamil pun bagi saya indah terasa. Saya menjadi full time mother, full time wife.

Ketika usia pernikahan kami menginjak tahun kedelapan, Ron kehilangan pekerjaannya karena mulai sering sakit-sakitan. Memang, usianya sudah lebih dari 50 tahun. Ketika kehilangan pekerjaan Ron jadi sangat down. Setiap hari dia mulai minum-minum dan saya hampir tidak pernah bisa bicara dengannya ketika dia tidak sedang mabuk. Saya pun mulai harus lebih berhemat lebih dari dari sebelumnya. Memotong kupon discount di koran bukan hal yang baru buat saya, malah sekarang menjadi kerjaan saya sehari-hari. Uang pensiun Ron tidak cukup untuk menghidupi kami sekeluarga.

Bukannnya saya tidak pernah membayangkan bahwa masa-masa seperti ini akan benar-benar tiba. Akhirnya, saya toh harus membesarkan ketiga anak saya yang masih kecil-kecil dengan suami saya yang sudah kelihatan sangat tuadan dengan kebiasan minumnya yang di luar dugaan saya. Kadang saya pergi naik bus malam-malam ketika anak-anak dan Ron sudah tidur, hanya untuk menunggu penumpang terakhir turun, dan bus berputar satu kali lagi, dan saya bisa menangis sendiri.

Saya tidak bisa menangis di depan anak-anak atau di depan Ron. Anak-anak masih terlalu kecil untuk mengerti dan saya tidak ingin mereka melihat ibunya menderita. Saya tidak ingin Ron semakin down karena dia tahu saya amat sangat merana. Karena, usia kami berbeda 20 tahun, maka saat saya menceritakan kisah ini, saya sudah 38 tahun dan Ron sudah 58 tahun. Usia 38 tahun bisa dibilang tidak muda, tetapi saya masih ingin pergi makan dengan teman-teman. Saya kadang masih ingin beli baju baru. Tetapi, Ron sudah tidak ada semangat untuk melakukan semua itu. Ia sakit-sakitan dan tidak ada hasrat untuk meninggalkan rumah, kecuali untuk hal-hal seperlunya seperti ke toserba atau ke dokter. Saya melihat pasangan pergi nonton, makan di restoran, dan saya hanya bisa menghela napas.

Berkali-kali terlintas di pikiran saya untuk bercerai. Lebih gila lagi saya ingin mencari di mana Hans berada. Hans. Tidak ada satu hari pun terlewat tanpa teringat kenangan indah kami di Amerika.

Pada tahun-tahun pertama saya menikah dengan Ron, tentu saya masih mendengar kabar soal Hans dari teman-teman lama kami. Saya dengar dia punya pacar. Saya coba cari fotonya, saya bandingkan diri saya perempuan itu. Buat apa saya begitu, saya tidak tahu. Lalu, beberapa tahun kemudian saya dengar Hans putus dengan pacarnya. Diam-diam saya berharap dia akan mencari saya. Itu bahkan sampai terbawa bawa dalam mimpi. Saya sangat berharap itu terjadi, tetapi saya lupa bahwa saya bukan saya yang dulu. Sekarang saya sudah menjadi milik Ron dan ketiga anak saya.

Saya coba melupakan angan-angan gila itu tadi, tetapi saya tidak bisa. Karena saya tahu, Hans masih sendiri dan saya berharap, siapa tahu minimal Hans masih mau berteman dengan saya? Tidak lama kemudian, Hans menikah. Lagi-lagi saya membanding-bandingkan diri saya dengan istrinya. Saya juga sadar itu tidak ada gunanya, tetapi masih saja saya lakukan. Saya dengar istrinya pun pernah menikah dan bercerai sebelum menikah dengan Hans. Sakit hati saya, kenapa bukan saya? Kalau sama-sama menikah dengan janda, saya pun bisa menjanda dan menikah dengannya, jika dia masih menginginkan saya.

Herannya, setelah dia menikahwalau sakit mendengar kabar itusaya mulai bisa menerima kenyataan bahwa Hans tidak akan pernah hadir dalam kehidupan saya. Mungkin, itu karena kali ini dia sudah beristri. Kenyataan ini seperti tamparan buat saya, dan terbangunlah! Kenyataan… habis sudah harapan saya untuk bisa bersamanya, walaupun sekadar berteman.

Akhirnya, saya tetap jalankan kehidupan hasil pilihan saya sendiri dengan suami seusia ayah saya, dengan keadaan ekonomi sangat minim, dan saya harus bertahan demi anak-anak. Setiap hari hanya mereka yang masih bisa membuat saya tersenyum. Lain dari itu, saya sadar surga jelas-jelas bukan di dunia ini. Terbalik 180 derajat dengan ketika saya jumpa Hans puluhan tahun lalu.

Tiga tahun setelah Hans menikah, saya mendapat kabar dari teman kami bahwa dia mau datang berkunjung ke Singapura bersama temannya itu, dan bahkan mau bertemu saya. Sejak saya dengar kabar itu, saya tidak bisa tidur. Saya menangis karena saya ingin sekali jumpa dia. Sudah puluhan tahun sejak menikah saya inginkan kesempatan itu. Tetapi, saya malu karena rupa saya sudah tidak seperti dulu lagi, dan keadaan saya pun tidak sedang baik-baik. Saking malunya, saya hampir berpikir untuk tidak usah berjumpa dengan Hans nantinya. Tetapi, rasa kangen saya begitu besar dan mengalahkan segala-galanya.

Hari itu ketika kami membuat janji bertemu di sebuah coffee shop, saya datang tepat waktu. Saya bersolek sebisa saya karena saya sudah tidak punya dana ke salon. Makanya, saya sampai mengantri di department store ketika mereka menggelar promosi “Free Make Over. Dan, karena saya tidak punya uang untuk membeli baju baru, saya pinjam sebuah gaun sederhana dari seorang teman—mama temannya Josh di sekolah. Saya sudah berada di tempat janjian dan tidak satu menit pun terlalu pagi, karena saya tidak ingin memberi kesan bahwa saya yang menunggu-nunggu. Juga tidak terlambat satu menit pun karena saya tidak mau memberi kesan bahwa saya tidak menghargai waktu.

Begitu banyak persiapan baik luar maupun dalam hanya untuk pertemuan ini. Hans. Tidak tahukah dia, hanya dia yang saya cintai? Tentu dia tidak tahu, dan sampai kapan pun lebih baik dia tidak tahu. Saya wanita menikah dan dia juga sudah beristri. Bisa bertemu saja sudah anugerah buat saya. Apa pun kenangannya, biar buat saya simpan di hati saya yang paling dalam.

Ketika kami bertemu saya pun terperangah…. Hans juga sudah berumur sekarang. Sudah 15 tahun lebih kami tidak jumpa. Rambutnya sudah menipis dan badannya tidak seramping dulu. Herannya, betapapun tubuh luar bisa dimakan usia, essence dari manusia yang kita cintai masih ada saja di sana. Kami duduk di cafe itu setelah sebelumnya kami saling berpeluk sebentar. Saya harus menahan diri untuk tidak memeluknya seperempat detik lebih lama dari yang sepantasnya. Kami membicarakan hal-hal lucu mengenai orang-orang yang sama-sama kami kenal dari masa sekolah dulu. Apa pun pembicaraannya, asal bukan soal apa yang terjadi dulu di antara kami.

Walau dalam hati saya ingin sekali bertanya, mengapa dia tidak pernah menepati janjinya dulu? Apakah dia bahagia di pernikahannya sekarang? Apakah dia pernah atau sering memikirkan soal saya walau kami jelas-jelas sudah tidak berjodoh? Sering kali saya tidak bisa menangkap kata-kata kasual yang keluar dari mulutnya karena saya terlalu terserap atas semua pertanyaan terpendam itu.

Ketika Hans berpamit, saya pun tersenyum dan berkata bahwa senang bisa jumpa kembali. Dan, saya titipkan salam untuk keluarganya. Saya adalah seorang ‘kawan lama’ yang sedang bertemu ‘kawan lama’, dan sekarang pertemuan itu sudah berakhir. Time to say Good Bye. Tetapi Tuhan tahu, hanya dia yang saya cintai sepenuhnya, dan saya sadar saya tidak akan pernah bisa bersamanya. Saya kadang berpikir apakah hanya saya seorang yang punya perasaan dan nasib seperti ini.

–Cecilia –[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan pemasar suplemen makanan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Dewi baru saja meluncurkan bukunya keempatnya tentang fashion yang ditulis bersama Fitria Yusuf berjudul Little Pink Book. Ia juga sedang menyiapkan buku-buku berikutnya. Dewi dapat dihubungi melalui pos-el: inthelalaland[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Mengubah Rasa Berat Menjadi Berkat

adOleh: Alexandra Dewi*

Saya baru pulang dari liburan ke Bali. Karena Bali itu consider dekat dari Jakarta, saya sudah lupa berapa kali saya ke sana. Seingat saya setahun sekali saya ke sana, walau ada bom atau apa, saya tidak pernah merasa Bali tempat yang menyeramkan. Boleh dibilang saya agak kurang balance, tetapi saya selalu merasa kalau Tuhan mau saya meninggal, saya kok rasanya punya suatu keyakinan sudah dari dulu-dulu saya dipanggil. Entah apa yang Tuhan pikirkan, tetapi saya merasa kok masih ada tugas yang Tuhan masih suruh saya lakukan.

Anyway, sambil mengetik ini saya pun dalam hati minta maaf kepada Tuhan YME kalau saya ke-pede-an soal apa yang saya baru ketik di atas. Tahu-tahunya kapan saya ke mal lalu kena bom, sama sekali enggak lucu, kan? Akhirnya, saya tambahkan sedikit doa supaya saya masih dikasih kesempatan untuk menjadi alat-Nya seumur hidup saya. Dan, tentu saya tidak ada banyak pilihan sampai kapan Tuhan inginkan saya jadi alat-Nya. Dan, sementara saya masih bisa duduk di sini dan mengetik artikel ini, saya ingin sharing pengalaman demi pengalaman, dari satu trip ke Bali ke trip berikutnya.

Dengan segala kejujuran dan kerendahan hati, setiap kali saya ke Bali saya ganti hotel. Tetapi, pemandangan masing-masing hotel itu tidak kalah bagusnya. Semuanya indah. Breath taking. Tetapi lagi, rasa di dalam hati saya dari tahun ke tahun, dari hotel ke hotel, tidak selalu sama.

Pernah saya ke sana dalam suasana hati tenang. Namun, justru pemandangan tidak begitu saya hargai. Laut? Pantai? Laut ya laut, pantai ya pantai. So what? Aneh kan saya? Sedangkan kalau saya sedang kalut, saya lihat pantai dan laut itu justru punya nilai lebih, seperti ada the higher power there. OK, please jangan bilang saya gila. Yang saya maksud di sini adalah, Bali tetap Bali, tetapi apa yang sayadan mungkin sebagian dari Andabisa relate adalah bahwa apa yang kita rasakan dari tempat yang sama dengan apa yang kita rasakan ketika di sana hasilnya beda.

Sok ahli matematika: A = saya, B = Bali, ternyata A dan si B bersama di waktu yang berbeda dan dengan perasaan yang berbeda hasilnya bisa AB, bisa ABB, bisa BB, bisa AA, dan lain sebagainya. Maksud saya, ada kalanya yang saya lihat hanya Bali-nya dan tidak ada kenangan apa-apa kecuali waktu kena sun burn (terbakar sinar matahari karena lupa mengenakan sun block/tabir surya). Justru perasaan yang paling berkesan ketika saya di sana adalah ketika saya sedang mumet. Bukan ketika saya sedang tidak merasa ada masalah.

Pernah suatu kali saya ke sana sedang, istilahnya, broken hearted alias patah hati. Aduh, kalau sedang patah hati lebih baik tidak ke sana dan melihat tempat-tempat romantis. Kalau Anda enggak kuat nanti Anda bunuh diri. Dan, di Bali ada berbagai macam cara untuk melakukan itu, kan? Misalnya, naik perahu pura-pura mau snorkling, di tengah lautan Anda tinggal lompat tanpa ban. Atau, Anda bisa naik flying fish (sejenis balon udara), lalu Anda lepaskan tali pengamannya dan terjun bebas. Atau lagi, Anda sign up mau melihat shark, lalu terjun ke tempat shark itu. Atau yang lain, bisa juga bungy jumping dengan membawa gunting untuk memotong talinya sehingga Anda, lagi-lagi, terjun bebas tanpa safety net. Waduh, banyak juga ya cara mau bunuh diri di Bali hahaha….

Tentu, setelah saya ke sana dengan tidak ada rasa patah hati lagi, saya mau enggak mau harus teringat dengan rasanya dulu. Teman saya ajak pergi makan, saya tanya dulu, “Romantis enggak tempat itu? Kalau romatis gue enggak mau. Gue maunya ke pasar atau warung pinggir jalan.” Sekarang, saya bisa tertawa menertawakan apa yang sudah lewat. Tetapi dulu, ketika sedang nelangsa, ke Bali seperti disuruh membajak sawah rasanya hahaha….

Apalagi melihat pengantin baru atau pasangan yang lagi mesra-mesraan di tempat romantis. Ditambah ada pertunjukan di lobi yang mengalunkan lagu-lagu atau irama musik yang sebenarnya sangat teramat romantis (bagus). Rasanya malah membuat saya ingin memberi tip kepada pemain piano atau gitarnya supaya stop dan jangan main musik romantis lagi. Ya, begitulah namanya orang yang sedang kehilangan.

Kehilangan, nah ini dia. Berat rasanya. Kehilangan pekerjaan, kehilangan orang yang kita cintai, kehilangan harapan, pokoknya kehilangan. BERAT! Waktu rasanya seperti digeret semut. Mau menggerakkan badan seperti angkat barbel. Berat! Walau semua orang memotivasi: Time heals. God loves you. This is the best. Badai pasti berlalu. Yada yada yada, bla bla bla. Itu yang masuk ke telinga saya ketika itu.

Nah, trip yang saya ceritakan kali ini, ceritanya saya lagi duduk di lobi untuk mengetik artikel (bohong ding, sebenarnya untuk mengecek Facebook). Di sana saya duduk melihat ke arah pantai, dan persis di belakang saya ada seorang penyanyi wanita duduk sambil main piano. Lagu-lagunya adalah With or Without You (U2), lalu ada lagu Will You Still Love Me Tomorrow, dan You Are Still the One, dan lagu-lagu romantis lainnya. Saya duduk di sana dengan laptop saya sambil memandang ke pantai dan lobi yang open door, memberi angin sepoi-sepoi dan lilin di sana sini serta bisikan dan desiran pantai masih terdengar dari situ.

Mau enggak mau saya jadi mengenang sekilas jalan hidup saya, alias kebawa suasana. Buktinya, begitu musiknya stop karena penyanyinya lagi istirahat, saya kembali meng-email karyawan saya di kantor mengenai masalah pekerjaan yang ada. Anyway, apa yang saya coba sampaikan di sini adalah bahwa menjadi berkat itu berat-benar berat, berat untuk dipercaya ketika kita sedang kehilangan.

Umpama Anda sedang kehilangan dompet, handphone, dan seluruh isi ATM Anda. Lalu, saya kasih Anda tiket gratis ke Bali dan tiga malam menginap di hotel pilihan Anda di sana. Anda pasti tidak akan excited soal Bali. Itulah bedanya melihat dunia ini ketika sedang ‘normal‘ atau ‘tidak normal‘.

Saya duduk di meja itu dan berpikir, “Bagaimana aku bisa menyakinkan orang yang sedang kehilangan ketika aku sendiri sedang ‘kehilangan’?” Berat bisa menjadi berkat. Wong tinggal tambah huruf K di tengah huruf R dan A. Bagaimana saya bisa memberi sedikit harapan kepada mereka, yang rasanya, kalau besok kiamat juga mereka sama sekali tidak keberaratan?

Akhirnya, saya memutuskan menulis sebuah buku lagi. Kumpulan cerita orang-orang yang saya kenal, yang hidupnya bisa dibilang cukup berat tetapi masih bisa semangat, dan kebetulan kebanyakan ya wanita.

Cowok yang curhat ke saya rata-rata juga jaim banget soal perasaan dia yang katanya mau mati saja. Ada kenalan saya, seorang pria yang ditinggal pacarnya empat kali gara-gara dia masih belum bisa beli mobil (konon ceritanya seperti itu). Tetapi, kalau dilihat tampilan luarnya, sepertinya sangat amat normal. Saya pernah lihat dia mabuk suatu malam, baru deh warna aslinya keluar. Berat. Anda bisa mencoba membayangkannya sendiri.

Mudah-mudahan kenalan pria saya ini mau curhat kepada saya suatu saat, supaya saya lebih jelas apa sih yang dia rasakan dan bagaimana sehari-harinya dia membawa diri. Apakah dia mendemonstarsikan FAITH? Atau, dia sedang jadi academy awards nominee alias aktor sebagai orang kuat, padahal dalamnya seperti kuda lumping (seperti makan beling?). Kalau dia mau sharing kepada saya bagaimana dia masih bisa sampai di kantor jam 7 pagi dan pulang jam 7 malam dengan penuh semangat, dan saya bisa tuliskan, betapa tidak sia-sianya segala rasa berat yang dia rasakan. Karena dengan ceritanya, dia bisa menyemangati orang lain yang amat sangat membutuhkannya.

Banyak training motivasi ditawarkan saat ini. Pendapat saya pribadi, training motivasi adalah untuk orang-orang yang sudah somewhat punya semangat. Mereka sadar memelihara semangat itu penting sehingga mereka pergi ke sana. Bagi yang sedang kena malapetaka, patah hati, atau kehilangan, jangankan pergi ke training motivasi, mau mandi saja hampir tidak ada tenaga.

These people need other people who understand. Orang-orang yang mengerti apa yang sedang mereka lalui, menerima mereka apa adanya, bahkan percaya lebih dari diri mereka sendiri bahwa mereka akan bangkit lagi. Orang-orang ini perlu waktu, perlu teman yang menyemangati dengan memgerti bahwa beban dia berat, namun yakin bahwa berat tersebut pasti menjadi berkat. Mungkin dengan kenal orang yang pernah melewati masalah yang sama, atau bahkan lebih berat lagi dan berhasil melewatinya. It is not an easy job, untuk menyemangati orang yang merasa tidak ada lagi light at the end of the tunnel. Mudah-mudahan tulisan saya kelak bisa sampai ke mereka yang membutuhkannya.[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan pemasar suplemen makanan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Saat ini, Dewi sedang menantikan penerbitan bukunya yang keempat tentang fashion dan sedang menyiapkan buku-buku berikutnya. Dewi dapat dihubungi melalui pos-el: inthelalaland[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.4/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Minta Amnesia

adOleh: Alexandra Dewi*

Mulai dari buku saya yang kedua Queen of Heart: Kartu Andalan untuk Memenangkan Hati Pria Idaman, hingga buku lanjutannya Heart inside the Heart: Apa yang Perlu Diketahui Wanita sebelum Menikah, Selingkuh atau Bercerai, pertanyaan yang paling banyak saya dapat dari pembaca adalah: “Bagaimana caranya saya melupakan orang ini?

Kasus soal cinta yang tidak kesampaian dan kandas atau soal hubungan yang tidak bisa dilanjutkan ini ternyata membuat orang menjadi kecewa, trauma, sakit hati, dan lain sebagainya. Orang sering meremehkan masalah perasaan, cinta, dan hati. Padahal saya yakin, kalau orang patah hati, hanya the brave, the strong willed, dan orang yang minta kekuatan iman dari Tuhan saja yang bisa survived.

Baru-baru ini negara kita kena bom. Saya yakin kalau tukang bomnya sedang patah hati atau sedang jatuh cinta, bomnya tidak jadi karena yang tukang bom kalau sedang jatuh cinta tidak bakalan mau repot-repot membuat bom. Sebab, dia bakalan sibuk pacaran, sedangkan kalau si tukang bom sedang patah hati, dia akan terlalu lemas dan tidak ada semangat bikin bom. Tetapi, kalau si tukang bom sungguh-sungguh patah hati dan patah semangat, saya enggak heran jika dia mau bawa bom dan bunuh diri, karena judulnya udah ogah hidup.

Saya sungguh tidak becanda dalam hal satu ini. Patah hati saja sudah lemas, tetapi itu masih OK kalau tidak dibarengi dengan patah semangat. SEMANGAT. Suatu kata yang Papa saya bilang, “Dewi, kamu boleh kehilangan segalanya asal kamu tidak hilang semangat!” Sehingga, yang namanya semangat saya enggak mau tahu bagaimana caranya, saya pelihara itu seperti saya memelihara kulit saya atau memelihara kesehatan saya. Pokoknya biar bagaimanapun, saya berdoa “Tuhan, apa gunanya kalau aku hilang semangat dan mati suri, bagaimana aku bisa menjadi alat-Mu?

Bohong kalau saya bilang tidak ada one of those days“ yang rasanya saya malas, lemas, tidak ada semangat untuk ngapa-ngapain. Bohong kalau saya tidak kena penyakit malas. We all just human and its OK to have one of those days. Tetapi, setelah saya menggeret pantat saya ke kamar mandi sambil mengimani bahwa kalau Tuhan masih kasih saya suruh bangun hari ini, berarti Dia belum selesai dengan saya. Tentu ditambah dengan memasang lagu Kek Apa Kek, dan yang paling menolong buat saya adalah teman-teman baik saya. Mereka tahu apa yang saya rasakan karena saya ceritakan apa adanya, dan akhirnya saya menertawakan segala kelemahan, kelemasan, dan apa pun ciri khas manusia yang hidupnya penuh dinamika.

Saya tidak bisa membayangkan orang yang tidak punya sahabat sejati itu akan seperti apa rasanya. Kenalan saya, kalau ketemu saya enggak tahu basa-basi atau apa, suka memuji bahwa saya awet muda. Dan, resep orang dulu bilang bahwa tertawa bikin awet muda itu mungkin ada benarnya juga (di samping saya spend a fortune on my skin), dan kebetulan saya usaha di bidang makanan kesehatan. Tetapi, saya punya habit menertawakan masalah dan diri saya sendiri (Dan, kadang tentu menertawakan orang lain).

Menangis juga sangat diperbolehkan. Kalau kita kehilangan orang yang kita cintai, sayangi, baik karena yang bersangkutan dipanggil Tuhan atau meninggalkan kita, monggo, Anda disilakan menangis. Sangat diizinkan untuk berkabung! Wong di perusahaan dan peraturan tenaga kerja saja ada izin cuti tiga hari tanpa potongan uang hadir jika ada keluarga yang meninggal. Hm mungkin kelak ada cuti patah hati juga tiga hari, kali ya? Anyway, apa pun emosinya, mau menangis silakan, mau menertawakan God’s sense of humor juga boleh. Asal: SEMANGAT tetap ada. Lose your heart to love, keep your SEMANGAT to you!

Kembali ke pertanyaan klasik: “Mbak Alexa, bantu saya Mbak. Bagaimana caranya supaya saya normal kembali dan bisa melupakan…?Yang dimaksud pembaca di sini kadang soal melupakan orang yang menyakiti mereka atau melupakan soal kejadian pacar, suami, atau istri yang ketahuan selingkuh.

Karena saya sendiri pernah sakit hati, dan saya pernah patah hati, saya tidak akan mengeluarkan jawaban-jawaban mengesalkan dan membosankan seperti;Time heals” atau “Aduh, cowok berengsek begitu saja dipikirin“ atau “Hey, move on!”. Karena, saya yakin pembaca sudah tahu soal itu dan mereka hanya bertanya soal “ How?” atau bagaimana?

Akhirnya, saya menulis soal ini dengan suatu jawaban yang menurut saya layak dicoba: Jangan dilupakan. Biarkan saja. Let it be.

Kenapa malah jangan dilupakan? Karena, Tuhan sudah memberi kita otak, memberi memory atau daya ingat. Ya, mau lupa? Kena amnesia dulu baru bisa lupa. Hal hal ini tidak bisa dilupakan. Sampai mati juga enggak bakalan lupa, teman-temanku.

Justru semakin dipaksa apa yang lumrah, sudah dasar dan intinya diberikan Tuhan, secara tidak langsung kita menentang kehendak Tuhan. Atau, setidaknya menentang pemberian-Nya. Jangan dilupakan, apalagi dipaksakan untuk dilupakan. Apa yang perlu dicoba dilakukan dan masih bisa besar harapan untuk terjadi adalah: Memaafkan dan berdamai dengan keadaan yang terjadi.

Terima saja bahwa kita mencintai orang itu dan orang itu bukan jodoh kita. Terima saja bahwa misalnya kita mencintai orang yang salah. Terima saja bahwa kita dikhianati oleh orang yang kita cintai dan coba pertama; menerima, kedua; memaafkan. Menerima semua akan membuat kita tenang karena kita tidak berontak akan keadaan yang sedang menghampiri kita, let it be. Sedangkan OMG…. Memaafkan itu enak sekali! Kalau kita benci sama orang, saya umpamakan adalah kita menjadi seperti seorang budak. Budak dari sifat tidak bisa memaafkan itu sendiri, atau bahkan budak dari orang yang kita benci.

Ketika kita sedang benci (tes ini sudah saya lihat di berbagai jenis kasus dan orang yang berbeda-beda); mereka mengutuk, memaki, bahkan ada yang mendoakan orang yang mereka benci supaya kena karma! Lha, kena kecelakaan, kena ini dan itu (yang jelek-jelek tentunya), dan tidak jarang yang bela-belain mau ke dukun kalau bisa diguna-gunain atau diapain deh untuk melampiaskan dan menghakimi orang yang menyakiti mereka.

Lalu, saya bertanya kembali: Lho, katanya CINTA kepada orang itu… kalau cinta beneran, doain dong yang baik-baik, bukan malah dikutuki? Hah! Kadang kata CINTA itu dipakai sembarangan juga. Kalau orang yang katanya kita CINTAI menyakiti kita, bisakah kita memaafkan dia, dan bahkan mendoakan serta mengaharapkan hal baik buat dia, walau apa pun rencana hidupnya tidak melibatkan kita?

SEMANGAT – kalau itu kita masih punya, kenapa takut dia bahagia? Kita pun masih bisa bahagia, mulai dari diri kita sendiri: Maafkan! Jangan remehkan ilmu menerima dan memaafkan. Itu obat yang jauh lebih manjur daripada memaksa otak kita untuk melupakannya.

CINTA—buka definisi dan kamusnya serta artinya, dari berbagai ahli agama saya rasa enggak ada yang mengajarkan bahwa cinta itu artinya membenci. Malah, bukankah diajarkan rasa amarah itu harus pupus sebelum matahari terbenam? Jangan pas matahari terbit lagi, ya marah lagi, malahan dua kali lipat dari hari sebelumnya. Ya, itu dia namanya juga manusia.

Kalau teringat dia terus ya biarkan saja. Yang penting sudah salam damai di dalam hati dan hei, kata orang dulu, kalau jodoh tidak ke mana. Sementara belum jodoh, mendingan hidup damai dan terima saja orang atau kejadian pahit itu apabila masih ada di memori kita. Entar sudah tua, sudah jompo pasti juga lupa sendiri hahaha….[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Saat ini sedang menantikan penerbitan bukunya yang keempat tentang fashion. Dewi dapat dihubungi melalui pos-el: inthelalaland[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.7/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +6 (from 6 votes)

Typical Tetapi kan Real…

ad1Oleh: Alexandra Dewi*

Dalam kehidupan, kita diajarkan untuk selalu mempunyai mimpi atau goals. Katanya, semakin tinggi cita-cita kita, semakin bagus karena kalau tidak punya cita-cita, kita tidak punya impian dan goals. Artinya, kita tidak punya tujuan hidup. Bahkan, sebaiknya cita-cita kita setinggi langit, karena kalau separuh saja dari cita-cita itu tercapai, itu menunjukkan bahwa kita sudah sukses. Kalau cita-cita hanya menjadi tukang cuci sepatu, bagaimana mungkin bisa menjadi direktur sebuah perusahaan, misalnya.

Namun, dalam menjalankan kehidupandi mana faktor timing, faktor keselarasan rencana Tuhan dengan apa yang kita rencanakan misalnya belum sesuaitidak jarang apa yang kita rencanakan dan kita impikan akhirnya tidak sama dengan hasil nyatanya. Akhirnya, banyak orang yang frustrasi, stres, atau bahkan dua-duanya.

Belum lama berselang anak saya yang bungsu baru saja wisuda dari Taman Kanak Kanak (TK). Dan, saya dengan senang hati menerima tawaran untuk menjadi pembicara tamu dalam acara wisuda tersebut. Walau hanya wisuda TK, bagi saya wisuda tetaplah wisuda. Saya coba susun suatu speech sederhana yang mudah-mudahan memberikan partisipasi. Syukur-syukur kalau ada efek positif bagi yang hadir di sana. Dorongan lain mengapa saya terima tawaran ini adalah untuk kenang-kenangan buat anak-anak saya ketika mereka dewasa nanti.

Anyway pada acara wisuda tersebut masing-masing anak ditanya apakah cita-cita mereka ketika dewasa nantinya. Alangkah menggemaskan, lucu, dan entertaining mendengar semua jawaban yang anak-anak umur 6 tahun itu berikan. Anak saya sendiri menjawab bahwa kalau nanti sudah dewasa ia ingin menjadi fire fighter (petugas pedaman kebakaran).

Kebetulan sekali! Speech saya hari itu tanpa saya kong kalikong dengan panitia , juga mengenai cita-cita masa kecil serta apa yang terjadi ketika kita sudah menjadi dewasa. Saya ceritakan bahwa ketika saya kanak kanak, saya banyak cita-cita. Kalau ditanya, Nanti kalau sudah besar mau jadi apa?” Jawaban saya beraneka ragam, mulai dari mau menjadi perawat atau pramugari. Alasannya ketika itu adalah karena saya suka dengan seragamnya.

Dan, saya juga pernah ingin jadi pengacara karena Mama saya pernah berkata, jika sedang berdebat dengan beliau, selalu saja saya ada sejuta alasan, dan tahu kata-kata apa yang harus saya lontarkan untuk balik menyerang. Layaknya seorang pengacara memang. Sampai akhirnya, saya ganti lagi cita-citanya, yaitu ingin menjadi penterjemah bahasa asing yang menguasai lima bahasa sekaligus.

Tetapi sekarang setelah saya dewasa, jadi perawat tidak pernah kecuali pakai seragam perawat ketika pesta Hallowen. Saya juga tidak pernah jadi pramugari. Suami saya bahkan berkomentar, dengan level kesabaran saya yang masih serba minim, saya tidak bakalan tahan satu bulan jadi pramugari. Bahkan, bisa-bisa saya menyuruh penumpang yang menuangkan teh kepada saya hahaha…. Dan, saya pun tidak pernah masuk sekolah hukum. Boro-boro jadi pengacara betulan, iya kali kalau pengacara yang artinya pengagguran banyak acara hahaha…. Dan, jangankan bisa lima bahasa asing, bisa dua bahasa saja ini sudah puji Tuhan.

Akhirnya, saya berpikir bahwa apa pun yang kita cita-citakan ketika kita masih anak-anak, dan apa jadinya kita sekarang tidak membuat kita frustrasi. Karena, kita bisa menerima kenyataan bahwa dalam perjalanan hidup, kesempatan apa yang ada di depan mata kita, yang REAL, itulah yang kita jalankan dulu. Walau saya juga tahu, ada orang-orang yang benar-benar mengerjakan cita-cita masa kecilnya. Tetapi, lebih banyak saya tahu yang sekolah guru malahan akhirnya jadi pedagang, atau yang arsitek tetapi malah punya sekolah musik. Wah, macam-macam deh.... Tidak semua yang direncanakan terjadi dan dalam hal ini saya pikir tidak ada buruknya sama sekali.

Boleh saja kita sekolah lulusan sastra, tetapi jika kesempatan yang terbuka di depan kita tidak ada sangkut pautnya dengan sasta dan bidang disekitarnya, toh itu REAL dan itu masih namanya kesempatan. Kalau kita terlalu kaku dengan cita-cita kita, dan tidak menghiraukan kesempatan yang datang di depan mata kita, alangkah sayangnya…. Bisa-bisa kesempatan itu hilang, cita-cita pun tidak dapat. Saya pikir, dalam hal ini lebih baik kita flexible.

Saya jugakalau boleh pilihingin coba rasanya jadi Paris Hilton, seperti apa ya? Tetapi, kalau saya kekeuh cita-cita saya harus seperti Paris Hilton, elooooh orang tua saya saja tidak punya hotel, bagaimana mau jadi Paris Hilton, gitu lhoooo!

Mendingan saya melihat apa yang ada di depan mata saya saja, dan saya coba kerjakan kesempatan, baik kecil maupun besar. Dan dari situ, lihat ada jalan apa lagi yang Tuhan sediakan untuk saya. Lagipula saya pribadi berpendapat, kalau kita tidak bisa hargai rezeki kecil, bagaimana mau langsung dapat rezeki besar?

Balik ke acara wisuda anak saya. Saya sempat katakan dalam speech sederhana itu, setelah dewasa saya baru sadar bahwa kualitas hidup kita sebenarnya tidak seratus persen dibilang sukses atau tidak, semata dari label pekerjaan dan berapa digit angka penghasilan kita. Banyak orang sudah berkelimpahan tetapi masih saja tidak tahu bagaimana menggunakan anugerah itu untuk live well. Sebaliknya, ada juga yang sudah tidak punya uang namun masih saja foya-foya (pakai uang pinjaman) dan malas bekerja. Semua itu tergantung kepada diri kita sendiri, bukan soal apa label dan title kita. Tetapi, itu soal apakah kita bisa hidup bahagia, apa pun pekerjaan atau mata pencaharian kita.

Saya ingin anak-anak saya tahu bahwa punya uang dan punya ‘class’ bukan hal yang sama. Saya ingin mereka tahu mana benar mana salah, dan mudah-mudahan most of the time, mereka akan pilih mana yang benar walaupun tidak ada yang melihat kecuali Tuhan tentunya. Dan, saya juga ingin mereka tahu kadang being kind can be more important than being right.

Saya ingin anak perempuan saya mendefinisikan “sexy sebagai: “Saya ingin bersama pria ini karena saya mau, bukan karena saya tidak ada pilihan atau jalan lain.” Saya ingin anak laki-laki saya kelak menjadi seorang pria dewasa yang berani mengambil risiko, bertanggung jawab, dan tahu bagaimana mencintai serta menghormati wanita. Karena, teman-teman wanita saya sering komplain bahwa zaman sekarang susah sekali cari pria yang “bener“, mudah-mudahan saat ini setidaknya saya sedang berusaha membesarkan anak laki-laki saya supaya menjadi salah satu pria yang “bener”, sehingga stok pria “bener“ di masa depan setidak-tidaknya akan bertambah satu.

Itu semua cita-cita, dan seperti semua cita-cita lainnya, tentu harus diperjuangakan. Namun, anak-anak saya jadi apa pun kelak, saya sebenarnya hanya ingin mereka REALLY…HAPPY. Itu saja. Suatu wishing yang very typical typical tetapi real. Biar saja dibilang typical alias pasaran yang penting real dan enggak neko-neko, daripada heboh tetapi hanya ada di fantasi kita saja.[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Saat ini sedang menantikan penerbitan bukunya yang keempat tentang fashion. Dewi dapat dihubungi melalui pos-el: inthelalaland[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.5/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Networking, Buat Apa?

Alexandra DewiOleh: Alexandra Dewi*

Saya baru saja menggunakan jasa Google untuk mencari definisi dari istilah networking. Dua dari definisi yang saya dapat adalah:

The developing of contacts or exchanging of information with others in an informal network, as to further a career.”

“The interconnection, as over communication lines, of computer system.”

Untuk yang pertama, kira-kira saja artinya adalah mengembangkan banyak kontak atau bertukar informasi dengan orang lain secara informal, seperti untuk mengembangkan karier. Dan, arti yang nomor dua kira-kira adalah pertukaran hubungan, misalnya garis komunikasi dari sistem komputer.

Well, kalau digabungkan definisi pertama dan kedua, zaman sekarang ini networking sangat mendapat banyak bantuan dari teknologi. Chatting lewat internet, baik Yahoo Messanger, MSN, Google Chat, wah banyak, deh! Belum lagi Facebook.

Tetapi, belum lama ini saya jadi berpikir soal networking lewat komputer ini. Karena, waktu saya jalan-jalan ke luar negeri, ada teman saya yang menitip postcard. Saya sampai lupa kalau di zaman serba email, chatting, iPhone, dan BlackBerry, di mana gambar bisa dikirim instan, kok masih ada orang yang menggunakan postcard. Begitu juga kartu ucapan ulang tahun, sekarang bisa dikirim lewat e-card atau lewat Facebook Greeting Card. Saya sendiri tidak ingat kapan terakhir menulis postcard, dan mengirimkannya lewat pos dengan menggunakan perangko. Padahal, dulu kalau ada yang kirim postcard ke saya dari luar negeri, saya senang sekali. It is so personal.

Lalu, soal social networking, di dunia nyata, tanpa komputer. Saya melihat wajah dan menempelkan nama kepada pemilik wajah tersebut, dan kemudian harus mengingatnya saja sudah berkali-kali gagal. Jadi, bagi para netwokers sejati, saya benar-benar kagum akan social skills mereka. Orang yang punya networking yang bagus tentunya akan banyak manfaat untuk karier mereka. Namun, jujur saya rasa hal ini seperti talenta, siapa yang bisa dia bisa, siapa yang tidak bisa ya tidak bisa. Dan, ada juga yang bisa tetapi tidak mau, mungkin seperti saya ini salah satunya.

Dari lingkaran teman dan kenalan yang saya tahu, mungkin saya salah bergaul atau memang semua seperti ini; semakin banyak orang tahu Anda, semakin sering berita yang muncul soal Anda. Bisa mulai dari kesan pertama. Misalnya, “Wah, si Anu orangnya kayaknya sok atau pilih-pilih teman!” Atau begini, “Ah, kalau si Anu memang pandai menjilat atasan, makanya gajinya naik terus!” And so on, and so on, sampai ke hal-hal yang di luar urusan karier. Misalnya, urusan rumah tangga atau pribadi akan menjadi ‘berita hangat jika social network Anda semakin luas. Itu sudah satu paket, kalau mau terkenal ya harus mau diomongin orang. Saya saja yang tidak terkenal kadang-kadang kena sambit gosip, apalagi mereka mereka yang terkenal.

Ada kenalan saya yang cukup terkenal dan network-nya pun luas. Suatu kali kami makan siang bersama, tahu-tahu ada seorang wanita yang menghampiri dan mengaku sudah berteman di Facebook dan ingin foto bersama. Lalu, teman saya ini tentu dengan ramahnya bergabung di meja si wanita tadi dan berfoto bersama. Setelah selesai, acara selebritas-selebritisannya dia berkata, “Makanya, Wi, loe jangan aja mau jadi terkenal!”

Saya jadi berpikir, kalau saya terkenal seperti Angelina Jolie atau Brad Pitt enggak apa, deh! Pertama, sekali main film saja honornya konon bisa 20 juta dollar AS, dan tentu digosipkan secara internasional di majalah majalah gosip dunia. Tetapi, yang membaca kan kita tidak kenal. Yang saya tidak berminat adalah kalau terkenal di Indonesia ini. Bukan kenapa, sudah honornya tentu enggak ada apa-apanya dibandingkan dengan Angelina Jolie atau Brad Pitt, tetapi astaga ribetnya dan gosipnya, saya enggak tahu, apakah worth it atau tidak. Apalagi yang menggosipkan adalah kenalan-kenalan sendiri.

Selain itu, kalau Angelina Jolie atau Brad Pitt yang menggunakan keterkenalannya untuk, misalnya, membuat yayasan (charity) tentu dampaknya akan lebih terlihat daripada orang terkenal di Indonesiayang setulus-tulusnya susah payah membuat suatu yayasan—tetapi tidak ada dukungan. Mengapa? Karena, pertama, sudah ada pikiran negative jangan-jangan uangnya mau dipakai sendiri alias dikorupsi. Kedua, memang tidak ada yang peduli. Dan ketiga, tidak ada yang nge-fans dengan yayasannya atau dengan orangnya. Padahal sama-sama terkenal, sama-sama hidupnya dipakai untuk infotainment.

Tetapi, tetap saja banyak orang ingin terkenal. Saya sebagai penulis misalnya, bagaimana mungkin saya tidak ingin tulisan atau buku saya diterima baik oleh masyarakat and soujung-ujungnya akan terkenal sebagai penulis. Tetapi, embel-embelnya kalau beneran suatu ketika saya terkenalsaya yakin anjuran teman saya tadi, “Makanya, Wi, loe jangan aja mau jadi terkenal!” akan saya tambahkan dengan dua kata lagi, yaitu ‘di Indonesia’.

Jadi terkenal di Indonesia ini, kalau saya pikir-pikir lagi, akan lebih banyak tidak enaknya dibanding enaknya. Kalau boleh, saya mau punya uang sebanyak Bill Gates (namanya saja manusia– jadi maruk) tetapi saya tidak mau dikenal orang. Karena, kalau saya seterkenal Bill Gates, saya lupa kasih tip saja misalnya, bisa jadi berita dunia. Kalau uang saya sebanyak Bill Gates, tetapi tidak ada yang kenal saya, saya bisa lenggang kangkung ke mana pun saya pergi, dan tidak ada yang menggosipkan saya. Wah, alangkah enaknya. Kalau saya ada kesempatan bertanya kepada Bill Gates, mungkin enggak ya, dia setuju dengan sayabahwa keterkenalan itu bisa jadi anugerah, bisa juga jadi beban. Yang pasti, di negara kita ini, saya pribadi masih melihatnya sebagai beban daripada anugerah.

Kembali ke soal networking initentu networking adalah hal yang positifnamanya kita makhluk sosial, alangkah baiknya kalau kita bisa saling kenal dan saling berbagi informasi. Tetapi, di Indonesia ini, karena kesenjangan sosial sangat senjang, netwokers harus membuat network dengan golongannya sendiri. Sebaiknya jangan berharap dengan networking ke ‘atas’ akan ada manfaatnya dalam karier kita. Apalagi kalau itulah senjata utama Anda satu satunya. Tidak ada orang di dunia ini yang—baik kaya maupun miskin—mau istilahnya “dimanfaatkan. Tetapi, karena sad but true, yang tidak terkenal dan miskin memang tidak banyak yang bisa “dimanfaatkan dari mereka, yang ada adalah orang pada berlomba-lomba mendekati mereka yang bisa “dimanfaatkan.

Networking idealnya berkembang secara alami dan tidak serba instan. Seperti postcard itu menurut saya sederhana dan ada personal touch. Kalau lewat Facebook saja dan tidak pernah ketemu langsung serta berkawan di dunia nyata, saya rasa sejauh ini tidak begitu efektif. The trust factor its not there, kalau hanya lewat dunia maya. Wong yang kenal di dunia nyata saja, walau sudah ketemu person to person, kadang tetap enggak nyambung, lha tidak ada chemistry, atau enggak tahu kenapa, istilahnya enggak klik saja satu sama lainnya.

So, intinya saya melihat sebagian orang kerja keras melakukan networking ini (futher up) alias ke atas, tetapi kalau judulnya sedang susah, yang menolong ya kalau enggak keluarga sendiri, ya justru teman-temannya yang tidak terkenal. Jadi, saya tanya lagi, seberapa bergunanya keterkenalan dan networking di Indonesia ini bila pada dasarnya: pertama, kita sendiri tidak punya modal? Kedua, kita tidak ada bakat atau skill yang menunjang?[ad]

* Alexandra Dewi adalah seorang eksekutif sebuah perusahaan, penulis buku The Heart Inside the Heart, Queen of Heart, dan co-writer buku I Beg Your Prada. Saat ini sedang menantikan penerbitan bukunya yang keempat tentang fashion.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

The Heart Inside the Heart

bk-dewiJudul: The Heart Inside the Heart

Oleh: Alexandra Dewi

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009

Tebal: xx + 136 hal

ISBN: 978-979-22-4440-3

Kisah Cinderalla yang happily ever after membuai banyak pasangan yang akan menikah. Mereka seakan lupa bahwa mereka dua pribadi yang berbeda sifat, minat, kebiasaan, latar belakang, kondisi finansial, dan sebagainya.

Perselisihan yang terjadi umumnya berakar dari perbedaan cara pandang dan cara menyikapi hal-hal tersebut.

Cinta memang dasar utama untuk membangun rumah tangga yang bahagia, namun realitas kehidupan memberi banyak tantangan dan ujian untuk mempertahankan pernikahan. Pada akhirnya pernikahan itu adalah suatu kompromi dan toleransi antara suami istri untuk menjaga komitmen berdua, yang di dalamnya terkandung apresiasi dan kasih sayang terhadap satu sama lain.

Melalui buku yang ditulis dengan gaya tutur yang enak, akrab, dan tanpa kesan menggurui ini, Alexandra Dewi mengingatkan kita bahwa pernikahan bukan sesuatu yang instan, tetapi suatu proses yang perlu diupayakan setiap hari. Dan usaha-usaha untuk membuat pernikahan kita lebih bahagia, mau tidak mau harus dimulai dari diri kita sendiri.

”Bacaan mengasyikkan untuk para wanita di kancah pergaulan masa kini. Membuka evaluasi diri untuk tetap fashionably exist, sebagai a happy married woman.”

~ Fitri Wiana

Deputy Chief Editor Harper’s Bazaar Indonesia

”Dengan gaya tuturnya yang santai dan bersahabat, Dewi mengingatkan kita bahwa pernikahan bukan suatu hal yang instan, melainkan suatu proses yang perlu diupayakan bersama. Bagaimana perlunya selalu berusaha mengembangkan konsep ’kita’ tanpa kehilangan keunikan pribadi ’aku’ masing-masing. Dengan demikian, tujuan dan visi bersama, yaitu menjadi pasangan dan membangun keluarga yang bahagia, akan tercapai.”

~ Clara Kriswanto

Psikolog dan coach keluarga,

Penulis Keluargaku Permataku dan Seks, Es Krim, dan Kopi Susu: Ngobrolin Seks di Ruang Keluarga

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.2/10 (6 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox