Mendidik Hati Agar Tetap Terkendali

asOleh: Akhmad Sirodz*

Kita sebagai manusia kebanyakan hanya memikirkan kepentingan atau keuntungan pribadi atau kelompok. Ini karena kita menuruti sudut pandang dari ego kita. Tetapi, kalau kita coba memakai sudut pandang dari pihak ketiga (orang yang tidak berkepentingan dalam segi untung rugi), pandangan atau asumsi kita akan berubah. Ini yang disebut hati nurani.

Di antara mahluk hidup di dunia ini, manusialah yang paling kreatif. Bukan manusianya yang cerdas, melainkan hatinya yang peka. Hati yang menjadi motor penggerak sehingga menimbulkan keinginan (nafsu). Nafsu mengintruksikan pada otak dan seluruh organ tubuh untuk berupaya atau melaksanakan apa-apa yang diinginkan oleh hati.

Dengan demikian, kita mengetahui bahwa hatilah yang menjadi komando dari seluruh keinginan dan perasaan kita. Karena itu, dalam pembinaan diri pokok utamanya adalah belajar mengendalikan hati kita. Jangan membiarkan hati kita mempunyai perasaan atau keinginan apa-apa yang negatif, sehingga pikiran menjadi jernih dan hati pun tenang. Bahkan, A.A. Gym pakar manajemen qolbu dalam setiap ceramahnya selalu mendendangkan syair: Jagalah hati jangan kau kotori; Jagalah hati lentera hidup ini. Ini mendandakan bahwa hati perlu terapi agar tetap terkendali.

Berikut ini adalah beberapa cara memdidik dan menerapi hati kita agar selalu mampu mengendalikan dari perbuatan tidak terpuji.

1. Berteman dengan seksama: Teman punya pengaruh yang signifikan pada diri kita. Dia akan memberikan warna dalam kepribadian kita. Nabi Muhammad saw. memberi perumpamaan. Teman yang tidak baik itu seperti “pandai besi”. Andai tidak terbakar pun minimal kita—mau tidak mau—pasti mendapatkan udara yang panas. Karena itu, kita harus mampu mengendalikan diri dengan baik agar tidak terjebak dalam pertemanan dan pergaulan yang tidak bermanfaat.

2. Berbicara yang perlu: Sering sekali kita membicarakan hal-hal yang kadang-kadang tidak ada manfaatnya, baik untuk dunia maupun akhirat kita. Hati-hati dengan bahasa lisan kita, salah omong urusannya berabe. Apakah kita lupa bahwa Allah swt. telah memberikan lidah hanya satu dan telinga ada dua, dengan tujuan yaitu supaya kita lebih banyak diam untuk mendengar daripada bicara. Jadi, perlu pengendalian kata agar tidak percuma dan sia-sia. Oleh karena itu kebiasaan gosip harus dikurangi, bahkan dihilangkan.

3. Mengatur pandangan mata: Tidak mengatur pandangan yang kita lakukan akan menimbulkan tiga dampak negatif yaitu; pertama, setan masuk seiring pandangan untuk menyalakan api syahwat; kedua, membuat hati lupa dan menyibukkannya sehingga terjerumus mengikuti hawa nafsu; dan ketiga, menjadi lalai. Oleh karena itu, Nabi Muhammad saw. Menyatakan, “Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.(HR: Ahmad).

4. Makan tidak berlebihan: Imam Syafi’i rahimahulloh mengatakan, “Selama 16 tahun aku hanya pernah kenyang sekali saja, yang akhirnya kumuntahkan. Karena kenyang itu membuat badan terasa berat, hati menjadi keras, kepandaian menjadi hilang, menyebabkan ngantuk dan membuat orang loyo dalam beribadah”. (Diwan Imam Syafi’I hal. 14). Sehingga, makan itu sekadarnya saja, kalau bisa jangan sampai kekenyangan. Kekenyangan tidak sehat dan membuat malas.

5. Tidur tidak berlebihan: Coba kita renungkan komentar Nabi Muhammad saw. tentang orang yang tidur satu malam penuh, bangun-bangun sudah pagi tanpa salat malam. “Itulah orang yang telinganya atau kedua telinganya dikencingi setan.” (HR: Bukhari dan Muslim).

Semoga Allah swt. selalu membimbing hati kita untuk dapat menghindarkan dari perbuatan tidak terpuji, karena Dialah yang mengendalikan hati-hati hamba-Nya.[as]

* Akhmad Sirodz adalah Widyaiswara/Fasilitator Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur (PKP2A) III, Lembaga Administrasi Negara, Samarinda. Saat ini, ia bekerja sama dengan SFGG-GTZ memfasilitasi peningkatan pelayanan publik di beberapa daerah Kota/Kabupaten, khususnya Wilayah Kalimantan. Akhmad Sirodz dapat dihubungi melalui email: sirodz_as[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Lunturnya Kesantunan dalam Komunikasi Politik

asOleh: Akhmad Sirodz*

Perihal kesantunan dalam komunikasi politik mencuat tajam belakangan ini. Salah satu contohnya bertalian pernyataan Andi Alfian Mallarangeng yang cenderung berbau SARA” dalam kampanye calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Makassar, Sulawesi Selatan, beberapa waktu menjelang pilpres 8 Juli 2009 lalu.

Yasraf Amir Piliang menyatakan, berkembangnya turbulensi dalam sebuah sistem yang tengah membangun sebuah proses demokrasi adalah hal biasa. Namun, jika turbulensi tidak beraturan, keacakan, dan ketidakpastian nilai berkembang ke arah hiper-demokrasi serta lenyapnya kekuatan pengendalian, maka turbulensi tersebut akan menjadi ancaman bagi demokrasi itu sendiri.

Dalam kehidupan demokrasi, kita memang berhak dan bebas berpendapat tanpa takut terhadap setiap tekanan dari pihak mana pun. Namun, agar setiap pribadi maupun kelompok komunitas tertentu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara memiliki kekuatan pengendalian, kita harus memiliki kebebasan yang bertanggung jawab dan dikomunikasikan dengan kesantunan. Jika tidak, maka yang terjadi ketidakberaturan, keacakan, bahkan ketidakpastian nilai yang tak terkendali.

Komunikasi pemikiran yang dikembangkan sebagian elit politik justru sering tidak rasional sehingga masyarakat juga sulit menyikapinya secara santun dan partisipatif. Mereka tampaknya terbiasa mengembangkan rasionalitas politik, seperti dinyatakan Habermas, hanya sebagai rasionalitas “akal-akalan” sekadar memperjuangkan kepentingan pribadi/kelompok/partai dengan cara menjatuhkan atau memojokkan pihak lain. Padahal, salah satu tugas elit politik dan pemimpin bangsa adalah mengembangkan keberadaban politik berupa wacana dan komunikasi politik yang konstruktif, memberikan inspirasi, santun, dan mendekatkan pada upaya penyelesaian masalah.

Penyampaian Gagasan

Dalam psikologi komunikasi dikenal tiga cara penyampaian gagasan. Pertama, cara permisif yakni sikap mengalah. Meski kadang diperlukan, namun jika terus bersikap mengalah memungkinkan orang lain untuk menginjak-injak hak-haknya, dan secara tak langsung akan mengondisikan munculnya tiran. Kedua, cara agresif atau sikap menyerang. Jika seseorang terlalu sering menyerang dengan kritikan tajam, akan memperbanyak lawan dan masalah. Ketiga, cara asertif yang dipakai seseorang dengan mengomunikasikan pemikirannya secara jelas, lugas, dan tegas, tetapi tanpa menyakiti/merendahkan pihak lain. Hal ini dibutuhkan dalam kesantunan komunikasi politik.

Namun, sebagian para elit politik dalam penyampian gagasan atau wacana dan informasi, banyak memilih cara kedua (agresif), yang dapat dikatakan sebagai politik porno, di mana digambarkan sebagai suatu situasi politik yang diwarnai praksis politik yang menjurus kasar atau yang lebih kerap disebut politik minus etika.

Menurut ahli politik Yves Michaud dalam Violence et Politique, secara sarkastis menulis, segala bentuk dan cara berpolitik yang menjurus pada “ketidakjujuran”, “kekerasan”, alias politik pemaksaan kehendak untuk memperoleh tujuan tertentu kekuasaan, merupakan politik-porno. Porno berasal dari bahasa Yunani, berarti tidak senonoh atau yang bertolak belakang dengan nilai-nilai sopan santun/kesantunan, kejujuran, atau norma-norma etika yang dianut masyarakat.

Politik Porno

Masuk dalam kategori politik-porno adalah politik saling menyalahkan, politik mementingkan diri atau kelompok, politik yang tidak jujur, politik pemaksaan kehendak, politik yang hanya berorientasi kekuasaan, demonstrasi yang menjurus anarkis, politik yang dibarengi intimidasi, teror, penculikan para aktivis, dan lain-lain.

Hal tersebut seperti kata Machiavelli, “Menipu adalah cara yang paling efektif bagi politisi untuk menaklukkan massa. Jarang sekali terjadi orang naik dari status rendah ke status tinggi tanpa melakukan kekerasan atau kecurangan. Penguasa yang ingin mencapai hal-hal yang besar harus belajar menipu.

Sepertinya di negeri ini, mencari politisi yang sungguh-sungguh jujur, berintegritas dan santun, yang melakukan praksis politik dalam koridor moral dan etika, dianggap ibarat mencari perawan di lokalisasi pelacuran. Sebuah pandangan sinisme pragmatis. Tetapi, itulah realitas, minimal sesuai pandangan filsuf sekaligus politisi asal Italia, Machiavelli itu. Bahwa, berpolitik itu akrab dengan permaian kotor sehingga tidak ada politisi yang benar-benar suci.

Karena itu, tinggi rendahnya integritas moral seseorang dalam berpolitik menentukan tinggi rendahnya integritas kepribadian dan kualitas berpolitik dari sang politisi tersebut. Dengan masih adanya politisi kita yang bermoral, memungkinkan kita bisa berharap akan adanya perbaikan politik dan moral bangsa yang sedang bobrok jatuh di titik nadir.

Sebab, apa artinya kita mendengar begitu banyaknya politisi atau pimpinan eksekutif terus-menerus mengkhotbahi masyarakat mengenai manusia yang utuh, manusia yang berkualitas, nilai-nilai kebangsaan, kerelaan berkorban, tanggung jawab, bila dari diri mereka sendiri tidak mencerminkan citra yang terpuji?

Harapan

Harapan kita semoga di negeri ini masih ada politisi-politisi yang jujur, berintegritas, kredibel, dan santun, yang senantiasa memerhatikan etika dan moral dalam berpolitik. Sebab, moral merupakan pusat orientasi sikap dan perilaku manusia. Atau bisa dikatakan, bahwa inti dari seluruh dinamika politisi adalah moral. Insyaallah.[as]

* Akhmad Sirodz adalah Widyaiswara/Fasilitator Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur (PKP2A) III, Lembaga Administrasi Negara, Samarinda. Saat ini, ia bekerja sama dengan SFGG-GTZ memfasilitasi peningkatan pelayanan publik di beberapa daerah Kota/Kabupaten, khususnya Wilayah Kalimantan. Akhmad Sirodz dapat dihubungi melalui email: sirodz_as[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.4/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Hati-Hati Memilih dan Menjadi Pemimpin

Akhmad SirodzOleh: Akhmad Sirodz*

Dalam menghadapi musim penggantian kepemimpinan legislatif maupun eksekutif, baik di daerah maupun tingkat nasional melalui pemilu, dan pilpres 2009 yang semakin dekat dan semakin hangat, sebaiknya kita berhati-hati memilih sosok pemimpin. Sebab, baik buruknya kehidupan masyarakat, tergantung kepada peminpinnya.

Prof. Dr. Achmad Mubarok, MA mengemukakan, seorang pemimpin harus memiliki kelebihan dibanding orang kebanyakan, dan kelebihan itulah yang diberikan kepada yang dipimpinnya. Apa yang bisa diberikan? Bisa kesejahteraan, rasa aman, petunjuk, pengetahuan, dan yang terpenting keteladanan.

Risiko pemimpin

Namun kenyataannya, beberapa pemimpin dan mantan pemimpin kita—baik pemimpin daerah maupun tingkat nasional—berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), karena dalam kepemimpinannya belum memberikan keteladanan yang baik.

Meskipun beberapa dari mereka belum tentu terbukti bersalah secara hukum, namun berurusan dengan KPK tersebut telah membuat yang bersangkutan maupun yang lainnya jadi layu atau lunglai, baik itu teman sejawat, keluarga, maupun kaum kerabat.

Setiap orang hakikatnya merupakan pemimpin. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban dari kepemimpinannya itu.” Sehingga, penyidikan mapun penyelidikan sampai penjemputan oleh aparat hukum terhadap beberapa pemimpin kita, hakikatnya merupakan konsekuensi logis dari pertanggungjawaban seorang pemimpin pada saat kepemimpinannya.

Bila penjelasan di atas dikaji dengan hadist, maka dapat dikatakan bahwa keberhasilan seorang pemimpin, pada dasarnya ditentukan oleh bagaimana keberhasilan yang bersangkutan dalam memimpin dirinya sendiri.

Pepatah mengatakan, orang yang mampu memimpin diri sendiri, ia akan mampu memimpin keluarganya, dan insya Allah akan mampu memimpin masyarakat, lingkungannya, malah memimpin bangsa dan negaranya.

Menjadi pemimpin itu berat risikonya. Pada zaman sekarang, masih banyak orang yang belum mampu memperlihatkan prestasi memimpin dirinya sendiri dan keluarganya, namun sudah berani dan berusaha menjadi pemimpin masyarakat, memimpin bangsa dan negara. Sehingga, untuk menunjukkan ambisinya, tak segan-segan mereka mengumbar janji demi menarik perhatian masyarakat. Bahkan, mereka berlomba-lomba menobatkan diri sendiri sebagai pemimpin, membuat tim sukses, mengadakan kampanye besar-besaran, pasang poster diri, politik uang, dan lain sebagainya, yang semuanya mencerminkan ambisi serta arogansi mereka sendiri. Karena, menjadi pemimpin identik dengan fasilitas melimpah dan pemanjaan hidup yang luar biasa.

Seandainya tingkat pengetahuan publik sudah matang, mengetahui apa dan bagaimana sosok pemimpin, tentu publik pun akan berhati-hati memilih seorang pemimpin. Mereka tidak akan gegabah mengangkat seseorang menjadi pemimpin, sebelum melihat sendiri kemampuan si tokoh itu dalam memimpin diri sendiri dan keluarganya.

Begitu pula jika seseorang ingin menjadi pemimpin, dia harus mengerti akan peran, fungsi, dan tanggung jawab seorang pemimpin, baik itu di dunia maupun di akhirat nanti. Dan, yang pasti si calon pemimpin itu akan berhati-hati dalam mengejar jabatan kepemimpinan di tingkat mana pun, serta yang terpenting ia tidak hanya mengincar fasilitas, gaji tinggi, dan kekuasaan yang besar.

Jika orang hafal dan mengerti fungsi dan peran pemimpin, serta sanksi apa yang akan didapat jika tidak mampu menjalankan kepemimpinan, mereka pasti tidak akan mau mengejar posisi pemimpin, terutama bila itu ditinjau dari sudut ajaran agama.

Sesungguhnya, membantu orang yang membutuhkan, baik akibat kemiskinan, maupun desakan oleh hal-hal lain, lebih baik daripada mengejar-ngejar jabatan yang belum tentu dapat dijalankan dengan baik dan benar (al hadist).

Padahal, baik buruknya kehidupan masyarakat, tergantung kepada peminpinnya. Sebuah kaidah lama menyebutkan, Rakyat tergantung kepada yang memimpinnya. Jika bagus, ikut bagus, dan jika jelek, terbawa jelek.

Akhirnya, kita sebagai masyarakat pemilih berharap supaya pada priode mendatang, semoga Indonesia tercinta ini dapat dipimpin oleh seorang pemimpin yang lebih amanah dan dapat dijadikan teladan yang baik. Amin.[as]

* Akhmad Sirodz adalah Widyaiswara/Fasilitator Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur (PKP2A) III, Lembaga Administrasi Negara, Samarinda. Saat ini, ia bekerja sama dengan SFGG-GTZ memfasilitasi peningkatan pelayanan publik di beberapa daerah Kota/Kabupaten, khususnya Wilayah Kalimantan. Akhmad Sirodz dapat dihubungi melalui email: sirodz_as[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox