Bulatkan Tekad dan Tawakal

arOleh: Agus Riyanto*

Suatu hari seorang sahabat bertanya melalui e-mail, “Kalau ada orang yang terlahir dengan otak yang cerdas, mereka mudah meraih kesuksesan yang mereka impikan. Lha, bagi orang yang pikirannya pas-pasan, bagaimana saya bisa sukses dalam hidup ini?”

Sahabat pembaca, sering kali kita mendengar orang lain di sekitar kita menceritakan dirinya. Namun, jika kita amati mereka lebih menonjolkan kekurangan atau rasa ketidakberdayaan yang mereka rasa ada padanya. Mereka berfokus pada sesuatu yang “negatif” dari diri mereka sendiri. Saya sengaja memberi tanda petik pada kata “negatif” karena ini sebenarnya hanya persepsi mereka saja. Kalau menilai keterbatasan diri, rasanya banyak orang yang lebih punya alasan. Alasan yang menguatkan bahwa dirinya tidak bisa ini, tidak bisa itu dan sebagainya.

Dalam kitab suci-Nya, Allah SWT telah berfirman yang artinya, “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.

Jadi, ada dua unsur yang harus kita miliki sebelum kita melakukan sesuatu yang diharapkan memberikan perubahan lebih baik terhadap kehidupan kita—tidak peduli keterbatasan apa pun yang ada pada kita. Pikirannya pas-pasan ataupun kurang pandai secara akademik, semua itu bukan hambatan untuk sukses. Dengan kedua unsur yang disebutkan dalam ayat di atas, apa yang kita lakukan menjadi lebih berenergi dan dengan target yang jelas dan terukur, keberhasilan bisa lebih kita harapkan akan tercapai.

Unsur Pertama: TEKAD

Tekad adalah awal dari sebuah komitmen. Tekad adalah saudara kembar niat. Tekad adalah niat yang bulat untuk melakukan atau meraih sesuatu. Tekad adalah sesuatu yang timbul dari dalam diri, dari hati yang terdalam, yang mana dengan itu seluruh sumber daya yang ada pada diri kita akan bergerak mengikuti untuk mendapatkan atau mewujudkan apa yang kita tekadkan.

Tekad adalah tonggak sebelum kita melangkah. Dengan tekad yang bulat, kita sadar akan apa yang menjadi tujuan kita. Misalnya tekad: Saya akan meraih sukses! Sukses sesuai definisi kita sendiri. Dengan tekad yang bulat niscaya akan terbuka jalan untuk mewujudkannya.

Mungkin pada saat niat itu terpatri dalam hati, kita bingung memikirkan mekanismenya agar bisa terwujud. Tetapi, jika niat itu sudah menjadi janji hati dan terekam di pikiran bawah sadar, maka gelombang pikiran kita akan mencari cara untuk mewujudkannya, menyelaraskan diri dengan kekuatan tak terbatas, yang dengan kehendak-Nya segala sesuatu akan terjadi.

Tentukan dulu goal-nya, dan kita tekadkan untuk meraihnya.

Unsur Kedua: TAWAKAL

Tekad saja tidak cukup untuk mewujudkan impian, karena akan kita jumpai berbagai hal di sekitar kita yang membuat apa yang kita tekadkan lama-lama surut dan pudar. Sering juga orang-orang di sekitar kita membuat motivasi dan antusiasme kita dalam meraih impian menjadi kerdil. Mereka seringnya meyakinkan bahwa sesuatu yang bisa kita raih itu hanya mimpi belaka. Dari situ akan timbul keraguan-keraguan akibat dari pengaruh negatif yang dihembuskan oleh para vampire penghisap optimisme tersebut.

Kebanyakan orang kadang lebih senang melihat kita susah daripada melihat kita maju. Maka, bergaullah dengan orang-orang yang positif dan yang bisa membuat kita termotivasi atau terinspirasi untuk terus maju dan mengoptimalkan potensi diri. Orang-orang seperti itu bisa menjadi sahabat dan penasihat di saat kita terpuruk dan hampir putus asa. Bersama mereka, kita akan melihat bahwa ada secercah harapan yang terbentang di depan sana.

Ketika Wright bersaudara sedang bermimpi ingin terbang dan menciptakan pesawat maka orang-orang di sekelilingnya saat itu menganggap dia gila. Menerbangkan besi pada saat itu merupakan sebuah ide gila yang tidak bisa diterima kebanyakan orang pada saat itu. Namun, justru karena kegilaan itulah, sekarang kita bisa bepergian melewati laut, samudera dan benua dalam waktu yang sangat singkat. Bahkan, manusia telah mendaratkan kakinya ke satelit bumi, yakni bulan, karena daya kreatif yang digunakan tersebut. Dan ke depan, pasti akan ada penemuan-penemuan baru yang lebih spektakuler lagi. Sebelum dunia ini kiamat, proses kreatif tidak akan berhenti.

Dan, sesuai dengan judul artikel ini, kita tentu juga memiliki daya kreatif karunia Allah SWT yang telah mencipta sejarah hidup kita. Kita memiliki imajinasi, impian dan tujuan yang ingin kita wujudkan dalam hidup kita. Tentu saja itu semua kita harap memiliki nilai, tidak hanya keduniawian, tetapi juga yang bernilai ibadah untuk bekal pulang ke akhirat. Ketika kita harus mempertanggungjawabkan perbuatan kita ketika di dunia di hadapan mahkamah Allah SWT.

Untuk itu, selain harus memiliki unsur pertama, yakni TEKAD yang kokoh, kita juga harus menyempurnakan ikhtiar atau usaha lahir dan kemudian memasrahkan hasil akhir ikhtiar kita kepada Allah SWT, atau ber-TAWAKAL.

Kenapa kita harus bertawakal?

Karena kita hanya makhluk yang lemah. Kita tidak memiliki daya dan kekuatan selain dari Allah SWT. “Laa haula wa laa quwwata illa billaah….” Kita hanya bisa menyempurnakan ikhtiar, sedangkan hasilnya tidak bisa kita jamin 100 persen sesuai keinginan kita. Namun, jika kita sombong bahwa hasilnya pasti sesuai kehendak kita maka di saat hasil akhir yang kita nanti tidak sesuai keinginan maka tidak ada lagi yang tersisa selain kehampaan dan keputusasaan. Untuk itu, tugas kita memang berusaha secara lahir dan batin, namun mengenai hasil akhirnya kita serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT karena Dia-lah yang tahu mana yang terbaik untuk kita.

Jadi, setelah kita memiliki tekad yang bulat dan kuat, kemudian kita berusaha secara nyata untuk mewujudkan goal yang kita tekadkan maka hasilnya kita pasrahkan kepada Yang Mahakuasa. Dengan demikian, kita akan selalu merasa bahagia dan optimis jika hasil yang kita dapatkan belum sesuai keinginan. Dan, kita tidak akan putus asa, namun tetap berusaha, bangkit dan berjuang lagi sampai akhir menyongsong takdir terbaik hidup kita.

Bulatkan tekad, sempurnakan ikhtiar dan bertawakallah… semoga keberhasilan menjadi milik kita. Semoga bermanfaat.[ar]

* Agus Riyanto adalah penulis buku Born To Be A Champion, pernah menjalani profesi sebagai seorang TKI, guru, tenaga penjual, dan lain-lain, dalam upaya pencarian dirinya. Kini kecintaannya jatuh pada dunia kepenulisan, motivasi, character and spiritual building, serta pengembangan diri. Di sela-sela kesibukannya sebagai administrator di sebuah institusi pendidikan, Agus juga mengembangkan diri sebagai seorang motivator muda. Kepeduliannya pada kemajuan generasi muda negeri tercinta dituangkannya, salah satunya dalam bentuk tulisan, diberbagai website motivasi papan atas negeri ini. Agus bisa dihubungi di blog pribadinya, http://agusriyanto.wordpress.com atau melalui pos-el: agus4ever[at]gmail[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.8/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +5 (from 5 votes)

Memahami Keunikan Diri

arOleh: Agus Riyanto*

Artikel ini saya tulis untuk mencoba menjawab pertanyaan sahabat pembaca yang sudah masuk via email dan baru bisa saya jawab setelah pulang dari Bontang, Kalimantan Timur, untuk memenuhi undangan seminar motivasi di sebuah perusahaan di sana. Terima kasih bagi sahabat yang telah mengajukan pertanyaan, sehingga kita bisa sharing yang semoga ada manfaatnya. Pertanyaan yang diajukan cukup panjang sampai satu halaman, namun akan saya kemukakan di sini intinya saja.

Inti pertanyaan yang dimaksud adalah: Apakah manusia itu dilahirkan dengan kemampuan otak yang sama atau berbeda? Tentang kreativitas seseorang, kenapa antara yang satu dengan yang lain berbeda? Kenapa ada yang “wah” dan ada yang “biasa-biasa” saja? Tentang beberapa bangsa di bumi ini; kenapa ada yang bisa menciptakan peradaban dan teknologi tinggi, tapi kita tidak atau belum bisa demikian? Apa karena makanannya, lauknya, minumannya, orangtua atau keluarganya, atau semua itu karena takdir? Begitulah kira-kira rasa penasaran yang diungkapkan oleh sahabat tersebut.

Sebelum menjawab, ada hal yang menarik, yakni sahabat tersebut ternyata seorang gadis yang baru lulus SMA dan sedang magang kerja di sebuah perusahaan. Itu artinya pemikiran dia sudah cukup maju, karena kebanyakan gadis seumurannya yang dipikirkan hanya tentang pacar atau hal-hal sepele dalam pergaulan.

Kemajuan hidup bisa kita peroleh dari seberapa besar atau seberapa sulit pertanyaan yang ingin kita jawab dalam kehidupan ini. Maksudnya, diri kita yang menjadi jawaban pertanyaan kita sendiri. Misalnya pertanyaan, “Apakah semua orang memiliki kesempatan sukses yang sama?” Kita bisa menjawabnya dengan apakah diri kita bisa sukses dengan segala hambatan dan keterbatasan yang ada. Jika kita bisa menjadi diri yang “sukses” maka pertanyaan itu akan terjawab dengan sendirinya. Demikian juga sebaliknya, jika ternyata “gagal”, pasti kita juga memiliki data penyebab kenapa kita “gagal”.

Untuk mulai menjawab pertanyaan di atas, saya akan mengutip apa yang pernah dikatakan Buckminster Fuller sebagai berikut: All children are born geniuses; 9.999 out of every 10.000 are swiftly inadvertently degeniusized by grownups.

Jadi sebenarnya, pada awalnya kita semua memiliki kejeniusan atau bisa dikatakan memiliki kemampuan otak yang sama. Namun sayang, seiring dengan pertumbuhan, kejeniusan itu terkikis atau menjadi terpendam secara tidak disadari karena pengaruh lingkungan, baik lingkungan keluarga, masyarakat, dan terutama pendidikan.

Untuk lebih jelasnya, saya akan mengisahkan seperti apa yang saya peroleh dari talk show Nasional bersama Kak Seto Mulyadi, Ketua Komnas Perlindungan Anak, tanggal 24 Januari 2009 lalu. Tentunya di sini dengan gaya cerita dan daya ingat saya.

Alkisah, di sebuah hutan—sebut saja Alas Robanyang dihuni beragam jenis hewan, menteri pendidikan Alas Roban memberlakukan kurikulum sekolah yang sama untuk semua jenis hewan. Semua penghuni Alas Roban dianggap sama, sehingga harus belajar pelajaran yang sama dengan porsi yang sama pula.

Maka di sekolah, ketika pelajaran memanjat pohon, sang harimau dengan mudah naik, sementara itik harus bersusah payah memanjat dan tidak juga berhasil. Si monyet juga hampir menangis ketika mengikuti pelajaran menyelam, sementara katak dengan mudahnya masuk ke air. Demikian juga harimau, hampir tenggelam ketika mati-matian mengikuti pelajaran renang, sementara itik dengan gembiranya beranang di atas air. Ketika pelajaran bergantung di pohon, monyet dengan senangnya berayun-ayun di dahan, sementara si buaya dengan susah payah hanya bisa meraba-raba akarnya.

Begitu seterusnya, dengan hewan-hewan lain hingga lambat laun mereka lupa tentang keahlian unik yang ada pada dirinya sejak lahir, karena harus mempelajari sesuatu yang bukan bakat atau bidangnya, dan terkadang dipaksakan. Akhirnya, itik menjadi tidak bisa berenang, katak lupa dengan keahliannya menyelam, monyet lupa caranya memanjat pohon, dan harimau hanya bisa mengaum.

Demikianlah, dahulu kita menjalani masa pertumbuhan. Karena kita dianggap sama dengan yang lain dan harus belajar sangat banyak hal yang belum tentu itu sesuai dengan keunikan diri kita, akhirnya jadilah diri kita yang sekarang; yang ketika ditanya, “Apa cita-citamu?” Kita hanya geleng-geleng kepala. “Apa bakat atau talentamu?” Kita juga menjawab, “Tidak tahu….

Yang harus kita pahami di sini adalah keunikan diri yang masing-masing pribadi berbeda. Bahkan, pada anak kembar sekalipun, tidak bisa disamakan dalam segala hal. Tetap saja ada perbedaan bawaan lahir yang harus diperhatikan.

Adi W. Gunawan dalam artikelnya yang berjudul “Born To Be A Genius but Conditioned To Be An Idiot” menjelaskan bahwa anak dilahirkan dengan potensi menjadi seorang jenius, namun proses pendidikan yang salah telah membuat anak tidak mampu mengembangkan potensinya secara optimal. Kita tidak menyadari potensi diri yang sesungguhnya. Kalaupun kita tahu dan sadar akan potensi ini, kita merasa tidak mampu untuk mengembangkannya secara optimal.

Hal di atas, masih menurut Pak Adi, menyebabkan anak memiliki konsep diri yang buruk. Adapun cirri-cirinya yaitu:

· Pertama, anak tidak atau kurang percaya diri.

· Kedua, anak takut berbuat salah.

· Ketiga, anak tidak berani mencoba hal-hal baru.

· Keempat, anak takut penolakan.

· Kelima, anak tidak suka belajar dan benci sekolah.

Kemungkinan besar karena proses pendidikan dan pengaruh lingkunganlah, kita yang pada awalnya memiliki kejeniusan yang sama, namun setelah dewasa menjadi berbeda kualitasnya. Bisa diibaratkan seperti benih tanaman, jika ia tumbuh di tanah yang subur dengan iklim yang sesuai maka bisa dipastikan tanaman itu akan tumbuh seperti yang diharapkan. Beda kasusnya jika meskipun benih unggul, import pula, namun jika ditanam di tanah yang tandus dan iklimnya tidak sesuai maka bisa dipastikan benih itu tidak akan tumbuh atau mati. Saya juga pernah menanam pohon apel di depan rumah, namun akhirnya mati juga. Ya, karena struktur tanah dan iklim di daerah saya bukanlah tempat yang tepat untuk menanam apel.

Tentang kreativitas seseorang atau suatu bangsa sekalipun; kenapa ada yang bisa menciptakan teknologi tinggi sementara yang lain tidak demikian, menurut saya itu karena kebudayaan, sejarah sosial dan ekonomi, sistem pendidikan, nenek moyang, dan nilai hidup yang dianut masing-masing orang atau bangsa itu berbeda. Kita tidak bisa menyamakan diri dengan bangsa Amerika, Eropa, ataupun Jepang karena bangsa kita juga memiliki ciri khas sendiri.

Bangsa kita dijajah sekitar tiga setengah abad, dan dahulu berasal dari kerajaan-kerajaan yang bernuansa Hindu, Budha, dan Islam. Nenek moyang kita juga petani dan pelaut sesuai dengan keadaan alam Indonesia. Jadi, kita boleh kagum dengan Amerika yang bisa membuat satelit, roket, dan mendaratkan manusia di bulan. Namun, kita juga tidak boleh melupakan Candi Borobudur yang masuk dalam tujuh keajaiban dunia.

Kita mungkin kagum dengan bangsa Jepang yang bisa merajai dunia industri elektronik dan kendaraan bermotor. Namun, kita juga harus bangga memiliki kekayaan budaya dan etnis yang beragam. Mungkin rasa bangga kita kian sirna karena kepribadian kita sebagai bangsa yang besar telah tenggelam oleh laju globalisasi, dan lupa bahwa kita juga memiliki keunikan tersendiri. Hanya kita belum mengoptimalkannya, dan lebih memilih meniru budaya atau teknologi dari luar yang kita nilai lebih canggih.

Boleh-boleh saja kita melakukan alih teknologi agar tidak terlalu ketinggalan dengan bangsa-bangsa lain. Tetapi, kita juga tidak boleh melupakan bahwa negara kita juga masih berbasis pada pertanian dan kelautan; jika kita masih mau melihat potensi alam kita yang ada di ribuan pulau dan luasnya perairan laut yang kita miliki.

Adapun tentang makanan, lauk, minuman, orangtua, atau keluarga, menurut saya tidak ada kolerasinya secara langsung dengan “keluarbiasaan” seseorang atau suatu bangsa. Kita bisa bercermin diri mengapa bangsa kita masih tertinggal dari bangsa lain. Mungkin, itu karena kita sebagai bangsa masih malas, kurang belajar, terlalu pasrah pada keadaan, dan kurang maksimal menggunakan kejeniusan otak kita.

Saya juga sering mendengar gurauan bahwa kalau otak manusia itu ada yang menjual maka yang paling mahal adalah otak orang Indonesia. Tahu alasannya? Katanya, karena otak orang Indonesia masih orisinil, dengan artian “tidak pernah atau jarang dipakai”. Sungguh menyedihkan, ya…?

Atau, semua itu karena takdir?

Apalagi yang ini, tentu tidak masuk akal. Kata seorang mentor saya, “Takdir akan turun jika kita telah berusaha semaksimal mungkin.” Jadi, tentang hal ini tidak usah dibahas lebih jauh.

Yang ingin saya kemukakan di sini adalah firman Allah SWT dalam Al Qur’an surat Ar Ra’d ayat 11 yang artinya, “…Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Demikianlah jawaban yang dapat saya kemukakan. Jadi, sudah seharusnyalah kita bisa memahami keunikan diri kita masing-masing. Melihat bahwa kita—sebagai individu maupun bangsa—memiliki potensi dan keunggulan tersendiri yang bisa kita berdayakan agar bisa menjadi manusia atau bangsa yang luar biasa.

Jika kita berfokus pada kelebihan yang melekat pada diri kita maka kemajuan bisa kita peroleh. Namun, jika kita hanya melihat kekurangan atau keterbatasan yang ada pada diri kita, bisa dipastikan kemajuan atau kesuksesan akan semakin jauh dari jangkauan kita.

Semoga bermanfaat![ar]

* Agus Riyanto adalah penulis buku Born To Be A Champion, pernah menjalani profesi sebagai seorang TKI, guru, tenaga penjual, dan lain-lain, dalam upaya pencarian dirinya. Kini kecintaannya jatuh pada dunia kepenulisan, motivasi, character and spiritual building, serta pengembangan diri. Di sela-sela kesibukannya sebagai administrator di sebuah institusi pendidikan, Agus juga mengembangkan diri sebagai seorang motivator muda. Kepeduliannya pada kemajuan generasi muda negeri tercinta dituangkannya, salah satunya dalam bentuk tulisan, diberbagai website motivasi papan atas negeri ini. Agus bisa dihubungi di blog pribadinya, http://agusriyanto.wordpress.com atau melalui email: agus4ever@gmail.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.1/10 (7 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +6 (from 6 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox