Supaya Pede Berbicara di Depan Umum (1)

apOleh: Agung Praptapa*

Ada suatu fakta yang mengejutkan! Di Amerika Serikat, ketakutan berbicara di depan umum menduduki rangking yang lebih tinggi dari pada takut kepada ketinggian. Berbicara di depan umum bahkan dianggap lebih menakutkan dari pada kematian. Bagi kebanyakan orang, berbicara di depan umum memang sangat menakutkan. Mereka tidak percaya diri untuk berbicara di depan umum. Orang yang kesehariannya cerewet luar biasa, dan kalau berbicara hampir-hampir tidak bisa dihentikan, dalam banyak kasus tidak mampu berbicara di depan umum. Begitu menakutkankah berbicara di depan umum?

Banyak orang beranggapan bahwa kemampuan berbicara di depan umum adalah bakat alam. Ada orang yang memang berbakat dan ada orang yang tidak berbakat. Orang-orang ini beranggapan bahwa para pembicara terkenal sudah dari kecil pandai berbicara di depan umum. Namun, fakta menunjukkan lain. Banyak pembicara hebat yang sebelumnya takut berbicara di depan umum. Mereka menjadi hebat karena belajar serius, mengamati pembicara sukses, mencobanya, dan belajar dari kegagalan maupun keberhasilan.

Tidak hanya sebagai pembicara, dalam kehidupan secara umum juga banyak orang sukses karena mencoba, berusaha, dan belajar dari pengalamannya. Jadi di sini, tampaknya kita bisa mengambil kesimpulan bahwa untuk menjadi pembicara hebat kita bisa belajar. Nothing is impossible. Every thing can be learned. Kalau begitu, untuk menjadi percaya diri juga bisa dipelajari? Iya benar. Untuk itu, mari kita pelajari bagaimana supaya kita percaya diri (PeDe) saat berbicara di depan umum.

Mengapa Tidak Pede?

Orang yang tidak pede adalah orang yang memiliki keyakinan bahwa mereka tidak akan mampu mengerjakan dengan baik sesuatu yang mereka akan kerjakan, sedangkan kondisi sebenarnya tidaklah seburuk itu. Mereka juga merasa bahwa mereka tidak tepat pada suatu kondisi dan situasi tertentu. Dengan kata lain, orang yang tidak pede adalah orang yang menilai dirinya sendiri lebih rendah dari situasi sebenarnya (down grade, undermine). Jadi, orang yang tidak pede tidak mampu secara objektif menilai dirinya sendiri.

Orang yang tidak pede biasanya memiliki konsepsi yang keliru tentang diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Mereka melihat keberadaan manusia seperti mass production yang manghasilkan produk dengan kualitas yang berbeda-beda. Ada kualitas 1 (kw1), kw2, dan seterusnya, bahkan ada produk yang dianggap rusak (defect).

Pandangan ini jelas keliru. Manusia tercipta dengan keunikan sendiri-sendiri. Bisa saja seseorang lebih unggul di satu sisi, tetapi tidak akan ada manusia yang unggul di segala hal. Setiap manusia memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Kelebihan manusia bisa menjadi kekurangan, dan sebaliknya, kekurangannya bisa juga menjadi kelebihannya.

Kearifan manusia dalam memosisikan dirinya sendiri akan berdampak pada bagaimana manusia memosisikan orang lain. Kalau diri sendiri adalah unik, maka perbedaan haruslah dipandang sebagai keunikan pula. Orang lain juga memiliki keunikan sendiri. Manusia satu dengan lainnya tidaklah harus sama, karena masing-masing memiliki keunikan sendiri. Nah, kalau sudah begini, maka sudah tidak pada tempatnya lagi kita memandang orang lain serba lebih dari kita, dan kita serba kurang dari mereka.

Yang ada adalah kita memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda, tidak harus sama antara satu orang dengan orang lain. Jadi, tidak perlu kita melihat orang lain sebagai standar tunggal. Boleh saja kita menempatkan orang lain sebagai benchmark (bandingan), namun itu semua dalam kerangka tidak untuk menghakimi diri sendiri bahwa orang lain selalu lebih baik dari kita.

Lingkungan juga harus kita terjemahkan dengan bijak. Tuhan menciptakan alam dan seisinya untuk kepentingan manusia, bukan untuk kepentingan si A saja, atau si B saja. Dengan demikian, tidak pada tempatnya kalau kita selalu menyalahkan lingkungan dan keadaan sebagai kambing hitam atas kesalahan kita dalam menempatkan diri sendiri maupun orang lain.

“Keadaan tampaknya tidak memihak pada kita,itu kata-kata yang sering kita dengar untuk menjustifikasi bahwa sudah pada tempatnyalah kalau kita tidak pede pada suatu lingkungan tertentu. Ini keliru. Kitalah yang harus bisa mengendalikan lingkungan, bukan kita yang dikendalikan oleh lingkungan. Hal ini bukan berarti lingkungan harus menuruti apa saja yang kita mau. Bukan begitu. Ini berkaitan dengan bagaimana kita harus merespon keadaan pada suatu lingkungan.

Sebagai contoh, seseorang dari golongan ekonomi lemah harus bekerja di suatu lingkungan di mana hampir semua orang yang ada di sana adalah dari golongan ekonomi kuat. Pada keadaan seperti ini orang yang tidak pede memiliki alasan untuk minder, sehingga berikutnya semakin kuatlah ketidakpedean mereka. Tetapi, mungkin ada orang yang merespon dengan cara lain. Saat seseorang yang miskin harus berada di lingkungan orang-orang kaya, bisa saja orang miskin tersebut justru bersyukur mendapatkan kesempatan untuk berada di antara orang-orang kaya.

Nah, di sinilah pentingnya kita mengasah kemampuan dalam menterjemahkan keadaan. Yang jelas, hal ini bisa dilatih dan dipelajari. Suatu keadaan yang sama apabila diterjemahkan dengan cara berbeda bisa menghasilkan hal yang berbeda pula.

Dalam suatu training untuk meningkatkan kepercayaan diri saya meminta semua peserta menuliskan sebanyak-banyaknya hal-hal yang bisa dijadikan alasan yang jitu sehingga kita tidak pede. Setelah peserta memiliki daftar ‘alasan jitu sehingga kita layak untuk menjadi tidak pede’, para peserta saya minta untuk menerjemahkan hal tersebut dengan cara yang berbeda sehingga yang sedianya menjadikan ‘tidak pede’ agar diputar menjadi ‘pede’. Dan hal tersebut saya minta untuk dilakukan terus-menerus kapan pun dan di mana pun saat kita tidak pede.

Ini suatu keterampilan, sehingga semakin sering dan semakin terlatih kita dalam melakukan hal tersebut, semakin kita memiliki amunisi alasan yang cukup agar kita menjadi “pede”. Mau mencoba latihan ini? Silakan. Rasakan perubahannya. Selamat mencoba.[ap](Bersambung).

* Agung Praptapa adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga Direktur AP Consulting, yang memberikan jasa konsultasi bisnis dan training di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Kolumnis tetap di andaluarbiasa.com. Tulisan ini untuk mendukung training “Empowering Your Confidence in Public Speaking”. Website: www.praptapa.com, pos-el: praptapa[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.5/10 (15 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 4 votes)

Manusia Entrepreneur

Agung PraptapaOleh: Agung Praptapa*

Seperti apa sih seorang entrepreneur itu?

Terserah!

Lho, kok terserah?

Iya, karena seorang entrepreneur tidak suka definisi!

Terus, apa yang mereka suka?

Mereka suka hasil! Result!

Jadi, seorang entrepreneur adalah orang yang berorientasi pada hasil?

Terserah!

Lho, kok terserah lagi?

Iya, karena entrepreneur adalah juga pencari peluang!

Oke. Kalau begitu seorang entrepreneur adalah seseorang yang selalu mencari peluang dan berorientasi pada hasil?

Itu juga terserah!

Waduh, kalau begini dah mulai rumit, nih! Apa lagi?

Seorang entrepreneur juga seorang pengambil risiko!

Kalau begitu tinggal ditambahkan lagi dong definisinya!

Ya, terserah!

Terserah lagi?

Cuplikan percakapan di atas bukan untuk mengatakan bahwa entrepreneurhip adalah sesuatu yang tanpa konsep, serba terserah! Bukan seperti itu! Tetapi, kata “terserah” di atas memberikan “kesempatan” kepada siapa saja untuk memberikan definisi! Karena, begitulah hakikat entrepreneurship! Bisa mengambil kesempatan pada peluang yang ada. Jadi, kata “terserah” di atas bermakna positif? Nah, kalau Anda sudah mulai berpikir seperti itu, artinya Anda sudah mulai berpikir sebagai seorang entrepreneur! Karena, Anda sudah mulai memberi makna pada sesuatu di mana orang lain memberikan makna yang lain. Saat orang lain menginterpretasikan kata “terserah” sebagai sesuatu yang negatif, Anda justru melihat ini sebagai peluang!

Saya akan pertegas dengan contoh berikut yang saya pinjam dari cerita kuno Cina. Pada suatu musim di negeri Cina datanglah tiupan angin kencang yang tidak kunjung berhenti. Tentu saja banyak orang yang terganggu. Kebanyakan dari mereka membangun tembok yang tinggi di seputar rumahnya agar tidak lagi terganggu oleh angin kencang tersebut, sambil berharap agar angin segera berhenti. Namun, ada sebagian orang lagi yang bertindak lain. Mereka membangun kincir angin. Kemudian mereka manfaatkan untuk mengolah hasil pertanian, untuk menciptakan listrik sehingga bisa menghangatkan ruang, dan juga kincir angin tersebut dibuat megah dan indah sehingga dapat dijadikan tontonan yang menarik! Nah, kelompok yang membuat kincir angin itulah para entrepreneur. Mereka melihat masalah sebagai peluang!

Memahami entrepreneur

Seorang entrepreneur adalah seseorang yang berorientasi pada hasil. Mereka dalam mengerjakan sesuatu tidak hanya sekadar menjalankan tugas. Untuk itulah kita sering melihat mereka melakukan sesuatu yang kelihatannya tidak pantas, tidak derajatnya, tetapi toh mereka melakukannya juga. Mengapa? Karena mereka bisa melihat hasilnya. Seorang sarjana dari perguruan tinggi terkenal mau saja berjualan di kaki lima. Orang lain mungkin melihat tidak sepantasnya seorang sarjana dari perguruan tinggi terkenal tersebut berjualan di kaki lima. Kalau cuma jualan di kaki lima lulusan SD saja bisa! Begitu pikir mereka dalam hati. Tetapi, sang penjual di kaki lima tersebut sekarang sudah jadi miliarder, karena telah memiliki ratusan outlet di dalam negeri maupun di luar negeri, dan telah mewaralabakan bisnisnya tersebut. Nah, ini kemudian juga menjadi ciri-ciri berikutnya dari seorang entrepreneur, yaitu mereka bisa melihat sesuatu hal kecil sebagai sesuatu yang besar.

Seorang entrepreneur tidak melihat sesuatu sebagai “what it is” tetapi di dalam benak mereka akan terpikirkan “what it will be”. Rekan saya pernah membeli sebidang tanah di tepi sungai yang kalau musim hujan selalu banjir. Saat itu, banyak orang yang menyarankan agar tanah tersebut tidak usah dibeli saja karena dalam separuh tahun akan digenangi air. Rekan saya tersebut mencoba memandang dengan cara lain. Separuh tahun digenangi air? Wah, ini hebat untuk dijadikan kolam ikan. Akhirnya, tanah tersebut dibeli. Tinggal dibuatkan tanggul yang sekaligus sebagai kolam ikan. Sekarang, tanah itu menjadi kolam ikan yang luas yang tidak pernah kesulitan air.

Entrepreneur jeli menangkap peluang. Beberapa tahun yang lalu sangat sedikit orang Indonesia yang makan burger. Hukum ekonomi konvensional mengatakan, kalau tidak ada demand mengapa harus memberi supply? Akan percuma saja. Tetapi, hukum ekonomi ini tidak berlaku bagi seorang entrepreneur. Tidak adanya demand ini mereka pandang sebagai peluang, yaitu peluang akan muncul demand baru. Jadi, mereka mencoba mengedukasi pasar untuk mengonsumsi burger. Sekarang bisa kita lihat, burger yang bukan makanan orang Indonesia ini sudah menjadi barang biasa bahkan sampai dijual di kota-kota kecil.

Kita sudah sering membaca kisah dua orang yang datang ke suatu pulau di mana tidak seorangpun memakai sepatu. Orang pertama, yang bukan entrepreneur mengambil kesimpulan bahwa percuma saja kita menjual sepatu di pulau tersebut karena tidak seorang pun mengenakan sepatu. Sedangkan orang satunya lagi, yang entrepreneur, melihat bahwa ini peluang luar biasa karena tidak satu pun orang di pulau tersebut yang bersepatu, sehingga kalau mereka bisa diyakinkan bahwa bersepatu itu perlu dan menyenangkan, mereka akan berbondong-bondong membeli sepatu. Jadi, entrepreneur memiliki kepekaan membaca peluang.

Yang jarang diamati orang adalah kemauan entrepreneur untuk belajar. Ternyata, entrepreneur sejati adalah seorang pembelajar sejati. Belajar disini bukan berarti belajar membaca buku seperti mahasiswa membaca buku sehari sebelum ujian (?). Mereka belajar sambil bekerja (learning by doing). Mereka memiliki keyakinan bahwa “Nothing is impossible. Every thing can be learned”. Tidak ada yang tak mungkin. Segala sesuatu bisa dipelajari. Untuk itulah mereka tidak menunda untuk bertindak. Mereka siap belajar. Mereka yakin bahwa sambil melakukan mereka bisa sambil belajar. Kesulitan adalah kesempatan untuk belajar. Demikian pula kegagalan. Kegagalan mereka pandang sebagai bagian dari proses pembelajaran, sebagai bagian dari proses menuju keberhasilan.

Tidak semua yang kita mau pasti akan terwujud. Ini harus disadari oleh siapa saja. Ini hukum alam. Jadi, ada peluang berhasil, konsekuensinya ada pula resiko tidak berhasil. Bagi seorang entrepreneur, risiko dipandang sesuatu yang sudah semestinya. Tidak ada seorang pun yang bisa hidup tanpa harus menghadapi risiko. Mengapa kita harus takut dengan risiko? Maka, seorang entrepreneur adalah pengambil risiko yang cerdas.

Menyimpulkan ketidakpastian

Tulisan di atas tentunya bukan rumus yang pasti untuk menggambarkan seorang manusia entrepreneur. Seorang manusia entrepreneur terbiasa dengan memberikan interpretasi yang berbeda-beda pada suatu hal. Berbeda-beda? Ini ketidakpastian, dong? Buat manusia entrepreneur, ketidak-pastian berarti peluang![ap]

* Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Agung Praptapa juga seorang entrepreneur di bidang konsultasi bisnis, pendidikan, dan minuman sehat. Web: www.praptapa.com, pos-el: praptapa[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Thailand, Memberikan Arti bagi Wisatawan Asing

Agung PraptapaOleh: Agung Praptapa*

Dalam suatu kunjungan ke beberapa universitas dan sekolah di Thailand, saya beserta rombongan dari Indonesia dikejutkan dengan tulisan besar di gerbang kampus suatu sekolah, yang bernama Saravitaya Public School, di kota Bangkok. Tertulis dengan huruf yang berukuran besar nama lembaga tempat saya bekerja di Indonesia. Nama sekolah itu sendiri tertulis dengan ukuran yang lebih kecil, sedangkan nama lembaga “tamu” justru ditulis lebih besar. Bukan tertulis di spanduk sebagai ucapan selamat datang seperti yang biasa digunakan di Indonesia, tetapi tercetak di papan besar di depan kampus, yang “seolah-olah” permanen. Sebagai tamu, kami merasa dihargai luar biasa.

Kami sengaja datang pagi-pagi sebelum kelas dimulai. Tujuan kami mengunjungi sekolah tersebut adalah untuk mengetahui proses belajar mengajar di suatu sekolah di Thailand, termasuk kebiasaan murid sebelum masuk kelas. Kebetulan saat itu ada semacam apel pagi atau semacam “upacara” bendera. Rombongan tamu dipersilakan berdiri di depan bersama para guru. Kami pikir para murid akan berbaris seperti lazimnya upacara di sekolah-sekolah di Indonesia, ternyata tidak. Mereka dengan tertib duduk bersila di lantai halaman sekolah.

Selanjutnya, upacara siap dimulai. Ada pembawa acara, dan petugas upacara seperti halnya di Indonesia. Hari itu acara dibawakan dalam bahasa Inggris. Saat saya tanyakan kepada guru apakah setiap upacara mereka menggunakan bahasa Inggris, mereka katakan tidak. Hari itu menggunakan bahasa Inggris karena ada tamu yang tidak berbahasa Thailand. Sekali lagi, kami merasa dihargai. “Sekalian melatih mereka berbaha Inggris,” kata guru yang mendampingi kami.

Upacara dimulai. Pembina upacara naik ke podium untuk menerima penghormatan. Kami pikir kepala sekolah yang akan bertindak sebagai pembina upacara, ternyata perkiraan kami salah. Murid pula yang menjadi pembina upacara. Dengan bahasa Inggris yang masih belum lancar, murid yang menjadi pembina upacara tersebut memberikan sambutannya. Saya tanyakan kepada guru yang mendampingi kami apakah memang begini cara mereka melakukan upacara, bukan kepala sekolah atau guru yang menjadi pembina upacara?

Ia katakan memang demikian. Nanti setelah upacara selesai, baru kepala sekolah atau guru diberi kesempatan untuk memberikan sambutan. “Tetapi, itu kalau memang ada yang harus disampaikan kepada murid-murid,” katanya. Kalau tidak ada hal penting yang harus disampaikan oleh guru atau kepala sekolah, maka cukup sambutan dari murid saja.

Hari itu saya mewakili rombongan diberi kesempatan memberikan sambutan. Saya memberikan sambutan dalam bahasa Inggris, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Thailand oleh salah seorang murid yang sangat bagus bahasa Inggrisnya. Setelah turun dari podium, saya tanyakan kepada guru pendamping, mengapa sambutan saya harus diterjemahkan dalam bahasa Thailand? Dikatakan bahwa kemampuan bahasa Inggris para murid tidak merata, sehingga mereka memilih ada penerjemah.

“Mereka kan ingin tahu negeri Anda, mereka sangat tertarik apabila mendapatkan penjelasan tentang negeri orang,” kata guru tersebut.

“Apakah banyak orang asing datang ke sini seperti kami ini?” tanya saya.

“Iya, sering. Sering sekali!” katanya.

Dalam hati saya berpikir, mungkin kunjungan ke sekolah seperti ini juga merupakan usaha untuk menarik wisatawan asing. Ternyata dugaan saya tidak salah.

Acara demi acara di sekolah tersebut kami lalui dengan menyenangkan, dengan guru pemandu yang sangat profesional. Kami diberi kesempatan untuk mengunjungi kelas dan melihat-lihat fasilitas. Para petugas, guru kelas, dan murid-murid tampaknya sudah tidak asing lagi dengan kunjungan semacam ini. Saat kami akan pulang, kami diminta mengisi buku tamu. Dari daftar tamu saya bisa lihat bahwa memang banyak kunjungan wisatawan asing ke sekolah ini. Dalam perjalanan pulang untuk menuju tujuan wisata lain saya diberitahu oleh local tour guide bahwa dalam kunjungan tadi kita memberi sumbangan.

“Kata halus dari membayar,” kata tour guide tersebut sembari tersenyum. “Sumbangan dari wisatawan asing merupakan salah satu pos penerimaan bagi sekolah tersebut,” tambahnya. Luar biasa! Sekolahan pun menempatkan sumbangan dari wisatawan sebagai salah satu sumber penerimaan!

Penghasilan utama Thailand memang berasal dari sektor pariwisata. Saya yakin orang Thailand tahu bahwa dari wisatawan asinglah mereka mendapatkan penghidupannya. Bisa dikatakan bahwa melayani wisatawan asing sebaik-baiknya sudah menjadi semacam way of life bagi orang Thailand. Saya jadi membayangkan seandainya orang Indonesia memiliki kesadaran yang tinggi untuk melayani sebaik-baiknya wisatawan asing, mungkin kita bisa lebih hebat dari Thailand. Kalau mereka bisa, mengapa kita tidak?[ap]

* Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Alumni Universitas Diponegoro, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Saat ini sedang menikmati profesi barunya sebagai penulis manajemen populer. Hoby: travelling. Website: www.praptapa.com Email: praptapa@yahoo.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Menjadi Manusia “Luar Biasa”

ap1Oleh: Agung Praptapa*

Saya mempunyai hobi unik, yaitu senang mengamati orang sukses. Tidak henti-hentinya saya pelajari,Mengapa ada orang yang sukses dan ada orang yang tidak sukses?” Begitu hebatkah orang sukses? Benarkah mereka luar biasa?

Ukuran sukses memang relatif, tidak ada ukuran yang pasti. Namun demikian, orang sukses ada ciri-cirinya, yaitu mereka “di atas rata-rata”. Ini pula yang saya jadikan pegangan untuk mendefinisikan kata “luar biasa”. Orang yang biasa-biasa saja adalah orang yang “rata-rata” saja, sedangkan orang yang luar biasa adalah orang yang “di atas rata-rata.” Nah, sekarang mari kita pelajari siapa saja orang-orang yang kita sebut “luar biasa” itu.

Setiap manusia memiliki pilihan, menjadi biasa-biasa” saja atau menjadi “luar biasa”. Yang memilih menjadi biasa-biasa saja pada umumnya adalah orang-orang yang suka bermain aman, yang suka menghindari risiko, yang memilih mengalah dari pada mendapat saingan, yang tidak mau kerja ekstra, dan yang mementingkan kenikmatan saat ini daripada harus mencadangkan kenikmatan untuk masa datang.

Di dalam kelompok ini juga termasuk orang-orang yang tidak memilih menjadi luar biasa. Mereka memilih menjadibiasa-biasa” saja, kemudian dalam pemikirannya, kalau memang nasibnya baik, toh bisa jadi luar biasa pula. Orang yang berada dalam kelompok ini membiarkan dirinya mengalir saja, terserah ke mana alam ini akan membawanya. Ini memang tidak salah, hanya seperti saya katakan tadi, ciri-ciri orang yang biasa-biasa saja adalah mereka menempatkan dirinya di dalam kelompok rata-rata. Atau bahkan di bawah rata-rata dan membiarkan dirinya menjadi “objek” yang bisa tertiup angin ke mana pun alam ini membawanya. Bukan sebagai “subjek”. Mereka “diperankan” bukan “memerankan”.

Namun, ada pula orang yang memang dengan sengaja memilih dirinya menjadi “luar biasa”. Orang yang ada di kelompok ini biasanya memiliki impian untuk menjadi luar biasa, mau belajar dari orang lain maupun belajar dari pengalaman hidupnya, dan selalu ingin menentukan keputusan pada dirinya sendiri, “Mau ke mana aku pergi?”

Dari sini kita bisa melihat bahwa menjadi luar biasa bukanlah tentang “where are you from, tetapi tentang “where are you going to go”. Pendapat saya ini bukanlah tanpa dasar. Saya mengamati hal ini bertahun-tahun termasuk mempelajari kisah sukses banyak orang. Keluarga Bakrie yang sempat masuk sebagai 100 orang terkaya di dunia bermula dari tukang rongsok kelilingan.

Bill Gate, yang sekarang dinobatkan menajadi orang terkaya di dunia, tadinya seorang mahasiswa yang “biasa-biasa” saja. Dia bahkan tidak pernah menyelesaikan kuliahnya alias dropout. Robert Kiyosaki, orang kaya yang konsep bisnisnya sangat memengaruhi orang , saat sekolah bahkan sering dianggap sebagai anak bodoh. Yang mengherankan justru Einstein, sang ilmuwan yang tak tertandingi ini juga termasuk anak yang dianggap bodoh di sekolah. Lantas, mengapa mereka menjadi luar biasa?

Mereka yang tadinya biasa-biasa saja, dan kemudian tumbuh menjadi luar biasa, ternyata memiliki cara pandang yang berbeda dengan orang-orang yang kemudian menjadi biasa-biasa saja. Yang pertama, mereka tidak melihat apa yang mereka miliki sebagai “harga mati”. Jadi, kalau mereka saat itu miskin, mereka tidak melihat miskin itu akan selama-lamanya. Saat mereka dianggap bodoh, itu pun bukan sesuatu yang tidak bisa berubah. Saat mereka lemah, mereka berpandangan pada suatu saat akan bisa berubah. Di sini mereka melihat bahwa sesuatu tidak ada yang abadi, termasuk kelemahan (disadvantages) yang mereka miliki.

Yang kedua, mereka yang menjadi luar biasa memiliki kekhasan yang jarang dimiliki oleh orang yang biasa-biasa saja, yaitu: mereka tahu yang mereka mau. Di sini mereka tahu ke mana mereka mau pergi, apa yang akan menjadikan mereka memiliki kepuasan hidup, dan apa yang ingin mereka miliki.

Ini memang sedikit bersifat imaginatif. Tetapi, memang begitu cara mereka mendapatkan yang mereka inginkan. Bahkan, dalam buku-buku manajemen populer kontemporer, sering dibahas apa yang disebut sebagai visioning. Visioning maksudnya menggambarkan dengan jelas apa yang kita inginkan, sehingga ada getaran dan energi yang akan membawa kita menjadi benar-benar seperti apa yang kita gambarkan tersebut. Ujungnya adalah, kita mendapatkan apa yang kita mau.

Ketiga, orang yang kemudian menjadi di atas rata-rata pada umumnya memiliki semangat yang tinggi untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Ini bukan berarti ngeyel atau mau menangnya sendiri, namun dengan kesadaran penuh mereka terus bersabar, satu demi satu langkah mereka bergerak menuju arah yang mereka mau. Mereka ada keinginan kuat dan kesabaran yang luar biasa untuk mendapatkannya. Kondisi seperti ini sering disebut sebagai passion.

Jadi, di sini kita bisa melihat bahwa untuk menjadi luar biasa kita tidak perlu luar biasa. Apa pun keadaan awal kita, sekali lagi itu bukan harga mati. Memahami apa yang kita mau menjadi kunci berikutnya agar kita menjadi luar biasa. Dan kemudian, seberapa besar keinginan kita untuk mewujudkan apa yang kita mau akan menentukan apakah kita bisa menjadi “luar biasa”.

“Anda Luar Biasa!”[ap]

* Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Ia adalah alumni Universitas Diponegoro, Semarang, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Agung telah mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam maupun di luar negeri, termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Saat ini, ia sedang menikmati profesi barunya sebagai penulis manajemen populer. Website: www.praptapa.com, Blog: www.praptapa.unsoed.net Email: praptapa[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Jangan Menyerah: Ada Strategi Jitu Agar Kita Tidak Pernah Gagal

apOleh: Agung Praptapa*

Anda pernah gagal? Jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan kalau Anda pernah gagal. Mari kita tinjau kembali apakah benar Anda gagal. Jadi, yang pertama-tama harus kita lakukan adalah, kita pahami dengan lapang dada, apa sebenarnya gagal itu?

Secara sederhana, gagal berarti kita tidak berhasil mendapatkan apa yang kita ingin dapatkan. Hendra ingin memacari Dewi, tetapi Dewi tidak mau menjadi pacar Hendra. Maka dapat dikatakan bahwa Hendra gagal memacari Dewi. Benarkah Hendra gagal? Sudahkah Hendra menyatakan maksudnya pada Dewi? Apabila sudah, dan Dewi menolak maksud Hendra, sudahkah Hendra mencoba lagi dengan menyatakan maksudnya?

Dalam banyak kasus orang sudah memvonis dirinya gagal, padahal mereka belum pernah mencobanya sekalipun. “Mana mungkin? Rasanya aku bukan kelasnya! Sainganku luar biasa, enggak mungkin aku yang akan jadi juaranya!” Kata-kata tersebut sering muncul dari orang yang hobinya mengatakan dirinya gagal, padahal dia belum pernah mencobanya sama sekali. Jadi, di sini orang baru pada tahap ‘merasa’ gagal. Belum ada kepastian bahwa orang itu benar-benar gagal, karena memang belum mencobanya sama sekali. Ini adalah kelompok orang gagal karena tidak ada nyali!

Tingkatan berikutnya adalah orang sudah mencoba dan belum berhasil, kemudian mereka mengatakan bahwa dirinya gagal. Pada tahap ini orang sudah mencoba, belum berhasil, tetapi tidak mencobanya lagi. Baru mencoba sekali! Memangnya ada orang yang sempurna yang bisa menjamin bahwa sekali coba pasti berhasil? Kok, sombong sekali baru sekali mencoba dan belum berhasil, kemudian kita mengatakan bahwa kita gagal? Kelompok orang yang merasa gagal pada tahap ini adalah termasuk golongan orang gagal karena sombong!

Ada pula orang yang mencoba sekali belum berhasil, kemudian mencoba lagi, belum berhasil pula. Tetapi kemudian, dia mencoba lagi dan belum juga berhasil. Kemudian, dia berhenti mencoba dan menyatakan dirinya gagal. Lho? Kok, berhenti mencoba? Iya, sudah berulang kali mencoba tetapi belum berhasil juga! Memangnya kita yakin kalau mencoba sekali lagi, dijamin akan tidak berhasil lagi?

Kasus seperti ini pernah terjadi pada penggagas minuman bersoda yang sekarang kita kenal dengan 7UP. Pada mulanya, manusia kreatif ini mencoba ramuan minuman bersoda yang kemudian diberi nama 1UP (First Up). Merek 1UP saat itu belum berhasil diterima oleh pasar sehingga dimodifikasi lagi ramuannya, dan kemudian diberi nama 2UP (Second Up). Ini pun belum diterima oleh pasar. Maka, dicoba lagi 3UP, 4UP, 5UP, sampai 6UP. Sampai di sini dia menyerah.

Dia merasa sudah cukup mencoba dan ternyata belum berhasil juga. Dia menyatakan dirinya gagal! Nah, ada orang lain yang melihat modifikasi ramuan yang sudah enam kali tersebut sangat sayang apabila dihentikan. Maka, orang lain ini mencoba memodifikasi lagi minuman bersoda tadi, yang kemudian diberi nama 7UP (Seven Up). Ternyata, 7UP berhasil! Bayangkan, sebenarnya tinggal satu langkah lagi berhasil!

Orang yang merasa gagal pada tahapan ini disebut orang gagal karena menyerah! Ini menyerah yang cukup terhormat karena sudah berulang kali mencoba. Hanya saja kita dihadapkan pada risiko rugi! Bagaimana tidak rugi, karena kalau saja kita mencoba sekali lagi, kita akan berhasil, bukan? Tetapi, kalau mencoba sekali lagi, tidak ada jaminan akan berhasil, bukan? Ya, benar. Makanya, mencoba lagi ataupun berhenti mencoba pada tahapan ini sama-sama menghadapi risiko, yaitu risiko rugi. Kalau kitasetelah mencoba berulang kali dan mencobanya sekali lagiternyata belum berhasil juga, maka keputusan berhenti tersebut cukup dapat diterima. Kok, hanya cukup dapat diterima? Iya, karena kalau dicoba sekali lagi mungkin juga akan berhasil. Siapa tahu?

Tentang seberapa mudah orang menyerah dapat diilustrasikan dengan tipe-tipe pendaki gunung. Ada pendaki gunung yang baru melihat tingginya gunung tersebut kemudian langsung menyerah. Mereka memastikan dirinya sendiri tidak akan mampu mendaki walaupun belum dicoba. Tipe pendaki gunung ini sering disebut sebagai quiter, yaitu belum apa-apa sudah menyerah.

Tipe pendaki gunung berikutnya adalah camper, yaitu pendaki gunung yang sudah mencoba mendaki, tetapi pada saat memperoleh hambatan ataupun saat mulai kelelahan mereka lebih memilih pasang tenda, istirahat, dan besoknya turun gunung. Mereka merasa cukup mencoba, segitu saja cukup!

Tipe ketiga yaitu climber, adalah tipe pendaki gunung sejati. Mereka akan terus mendaki sampai puncak. Apa pun yang terjadi mereka tidak akan menyerah.

Benarkah kita bisa tidak pernah menyerah? Kalau sudah mencoba berkali-kali tetapi belum berhasil, haruskah kita terus mencoba sampai mati? Tentunya tidak! Ada titik di mana kita harus ganti haluan. Ganti haluan? Iya, ganti haluan. Kita tetapkan tujuan baru, kita tetapkan keinginan baru, kita berfokus pada suatu hal yang baru, dan kita tinggalkan apa yang kita belum berhasil tetapi sudah kita coba berkali-kali tersebut!

Kita sekarang berfokus pada keinginan baru. Kita pergi meninggalkan keinginan atau tujuan yang belum kunjung kita dapatkan! Ibarat pacaran, kita tidak biarkan pacar kita yang memutuskan kita, tetapi kitalah yang memutuskannya, karena ada gebetan baru! Jadi, enggak ada kata gagal? Iya, benar! Orang cerdas tidak perlu kata menyerah, tidak perlu kata gagal. Yang ada adalah, kita ganti keinginan baru. Kita berfokus pada tujuan baru![ap]

~ Purwokerto, 24 Februari 2009

* Agung Praptapa adalah dosen UNSOED dan Direktur AP Consulting. Kunjungi website-nya yang beralamat di: www.praptapa.com atau blog-nya di: www.praptapa.unsoed.net.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox