Menulislah!

apOleh: Agung Praptapa*

Sewaktu kuliah saya sangat kagum kepada seorang dosen yang kalau memberikan kuliah sangat atraktif, mudah dimengerti, dengan contoh kasus yang sangat relevan dan terkini. Beliau pintar bercanda sehingga selama mengikuti kuliah hampir semua mahasiswa tetap segar dan semangat. Beliau dosen yang dikagumi banyak mahasiswa. Terkenal. Menjadi konsultan di sana-sini. Sebagai pembicara di dalam dan di luar negeri. Dosen ideal. Luar biasa!

Sayang sekali dosen yang hebat tersebut sekarang telah meninggal dunia. Masih membekas pesan-pesan dan motivasi beliau pada diri saya. Demikian pula saat saya tanyakan kepada teman-teman kuliah dulu, mereka memiliki kesan yang sama. Dosen tersebut telah banyak membantu membentuk diri kita semua yang pernah diajar oleh beliau. Namun sayang, saat saya tanyakan kepada adik kelas yang sudah tidak lagi diajar oleh beliau, mereka bahkan tidak mengenalnya sama sekali. Apa lagi menikmati pemikiran-pemikiran dan pesan-pesan hebat beliau. Jadi, pesan-pesan hebat dosen tersebut hanya sampai pada generasi saya. Dosen yang hebat untuk yang pernah diajar, namun tidak dikenal sama sekali oleh yang tidak pernah diajar.

Saya kemudian berpikir, seandainya dosen tersebut menulis buku, maka pemikirannya, motivasinya, dan kata-kata bijaknya dapat dinikmati oleh generasi-generasi adik kelas saya, bahkan generasi-generasi sesudahnya. Sayang sekali, dosen tersebut tidak menulis buku. Beliau seorang yang sangat ahli di bidang investasi. Namun sayang sekali, beliau lupakan satu hal, yaitu investasi melalui tulisan, atau lebih spesifik lagi adalah investasi melalui menulis buku.

Budaya menulis di negeri kita ini masih tergolong memprihatinkan. Di kalangan intelektual seperti dosen misalnya, mereka lebih cenderung banyak mengajar dari pada banyak meneliti. Atau kalau lebih general dapat dikatakan budaya bicara lebih kuat dari pada budaya menulis. Ini tentunya bukan tanpa sebab. Lingkungan dan sistem insentif yang ada lebih berpihak pada pembicara hebat, dari pada penulis hebat. Di samping itu, faktor pembentukan kebiasaan sejak pendidikan dini juga berpengaruh.

Saat saya tinggal di Australia beberapa tahun yang lalu, anak-anak saya yang masih duduk di sekolah dasar (elementary school) setiap minggu selalu mendapatkan tugas dari gurunya untuk menulis yang berkaitan dengan “theme of the week”, yaitu tema-tema tertentu yang menjadi prioritas dalam satu minggiu tertentu. Misalnya theme of the week pada saat itu adalah “courtesy” atau sopan santun, maka murid-murid diminta menuliskan sopan santun yang mereka lakukan selama satu minggu tersebut. Murid sudah dilatih melakukan riset sejak dini, dan kemudian dituangkan dalam laporan yang tertulis. Jadi, mereka terbiasa menulis sejak dini.

Yang paling heboh adalah apabila para murid liburan sekolah. Mereka akan mendapatkan tugas menulis “my holiday”. Saya amati hal ini merupakan proyek yang menggairahkan untuk mereka. Mereka membuat laporan tentang liburan mereka dengan sangat serius, bahkan beberapa sampai membuat semacam buku, dengan ketebalan seperti layaknya sebuah buku. Buku made in anak-anak SD yang masih lucu-lucu tersebut dibuat semenarik mungkin. Tulisan yang mereka buat disertai ilustrasi dan foto-foto atau gambar yang mereka buat sendiri.

Hari pertama masuk sekolah, presentasi tentang “my holiday” merupakan saat yang sangat mereka tunggu-tunggu. Mereka mempresentasikan pengalaman masing-masing dengan teknik presentasi yang bervariasi. Buku mereka tentang “my holiday” dibaca teman-teman sekolahnya. Anak-anak dibiasakan untuk menulis dan membaca tulisan orang lain, yang ujung-ujungnya adalah mereka dilatih menghargai karya orang lain.

Kembali lagi ke dosen hebat yang tidak menulis tadi. Kisahnya hanya berhenti sampai beliau mengajar yang sebagian besar dilakukan dalam bentuk lisan. Dosen berbicara mahasiswa mendengarkan. Memang sangat efektif untuk zamannya, namun sayang sekali ajaran-ajarannya tidak diabadikan dalam bentuk sebuah buku. Akibatnya, generasi berikut tidak mendapatkan warisan dari kehebatan dosen tersebut. Sayang sekali memang. Seandainya beliau saat itu menulis buku, maka saat karyanya dibaca orang dan bermanfaat bagi orang lain, hal tersebut juga akan menjadi ladang ibadah walaupun beliau sudah meninggal dunia.

Buku yang bermanfaat akan menjadi amal jariyah, yang terus bergulir walaupun penulisnya telah meninggal dunia. Dalam hati saya sering bercanda dengan diri sendiri, “Wah, kalau begitu menulis bisa mengurangi masa hukuman di neraka hehehe….”

Zaman sudah berubah. Budaya lisan tampaknya mulai tersisihkan oleh budaya tulisan. Telepon yang tadinya digunakan untuk berbicara secara lisan dengan lawan bicara, saat ini sudah bergeser fungsi menjadi alat komunikasi melalui tulisan, yaitu dengan maraknya penggunaan SMS. Komunikasi melalui tulisan digencarkan lagi dengan teknologi internet melalui fasilitas chating. Maraknya penggunaan Facebook juga menunjukkan bahwa saat ini sebenarnya kita memiliki kesempatan luas untuk mengungkapkan pemikiran, ide, bahkan perasaan melalui tulisan.

Facebooker sudah terbiasa mengungkapkan perasaan, pemikiran, ide, dan menyampaikan informasi mereka melalui menuliskan pada status” yang ada pada Facebook. Mereka menulis satu dua kata, satu dua kalimat. Jadi, mereka sudah sangat terbiasa dengan menulis. Kalau sudah begini, tampaknya tidak zamannya lagi para intelektual tidak menulis. Dosen mesti menulis. Mahasiswa mesti menulis. Kyai mesti menulis. Pendeta mesti menulis. Manajer mesti menulis. Siapa saja mesti menulis. Saat ini, hampir semua orang menjadi penulis. Minimal penulis SMS. Ini good start! Tinggal dikembangkan menjadi kalimat yang lebih utuh. Kalimat digabungkan dan dirangkai akan membentuk paragraf, dan seterusnya yang akhirnya akan menjadi tulisan, bukan?

Sekarang zamannya menulis. Maka, menulislah![ap]

* Agung Praptapa adalah penulis buku “The art of controlling people” (Gramedia, 2009). Seorang dosen, konsultan, dan trainer pengembangan diri maupun pengembangan organisasi. Kolumnis tetap andaluarbiasa.com. Dapat dihubungi melalui email di praptapa@yahoo.com. Web: www.praptapa.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Time Management that Works (2): Sederhana!

ap

Oleh: Agung Praptapa*

Waktu terus berputar. Ungkapan tersebut untuk menunjukkan kepada kita bahwa waktu adalah sumber daya (resources) yang sangat berharga. Satu detik saja kita lewati, itu akan menjadi sejarah. Saat kita sedang menyetir mobil misalnya. Kita mengantuk, tetapi kita memutuskan bertahan menyetir mobil tersebut karena tanggung, sebentar lagi sampai. Ternyata, dalam satu detik kita terlelap, tertidur. Dan, crash! Mobil kita menabrak pohon. Keputusan yang salah dalam “satu detik” saja membuat kita berbeda.

Tadinya kita adalah orang kuat yang sedang menyetir dan satu detik kemudian sudah berubah menjadi “korban kecelakaan” yang tidak berdaya. Demikian seterusnya, waktu terus berjalan. Keputusan demi keputusan harus kita buat. Salah mengambil keputusan akan membuat kita menjadi manusia yang berbeda. Di sini kita bisa melihat bahwa menajemen waktu pada hakikatnya adalah manajemen diri.

Manajemen waktu yang efektif harus disertai dengan manajemen diri yang baik. Mari kita mulai dengan perencanaan waktu yang juga harus disertai dengan perencanaan diri tentunya. Kata kunci agar perencanaan waktu efektif adalah bahwa perencanaan tersebut harus “sederhana”. “Tugas kita adalah berusaha sedangkan keputusan final ada ditangan Tuhan.” Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa di dunia ini tidak ada kepastian yang 100 persen karena keputusan terakhir ada di tangan Tuhan. Untuk itulah, perencanaan yang sangat rumit akan menjadi tidak berarti apabila ternyata apa yang terjadi dalam jangka pendek ternyata sudah berbeda dengan apa yang direncanakan.

Kalau hal tersebut terjadi, berarti kita harus menyusun kembali rencana yang rumit tersebut dengan rencana berikutnya. Tetapi, kalau perencanaan yang kita buat sederhana, perbedaan yang kecil dalam pelaksanaan tidak menuntut perubahan perencanaan. Seperti apa perencanaan yang sederhana itu?

Pertama, perencanaan yang sederhana adalah yang mengandung gambaran masa depan yang bisa diungkapkan dalam kalimat sederhana. Saat anak kecil ditanya, “Ingin jadi apa kamu kalau besar nanti?” Mereka akan menjawab dengan sangat jelas, “Aku mau jadi dokter”, “Aku mau jadi pilot. Jelas dan sederhana sekali gambarannya. Coba kita tanyakan pada diri sendiri, ingin menjadi apa kita nanti? Jawabannya akan sangat rumit. Padahal, seharusnya sudah semakin jelas karena keadaan kita saat ini sudah tergambar jelas. Tetapi, yang kita inginkan di masa depan kita kan banyak?

Boleh saja. Kita boleh saja ingin menjadi profesor dan menjadi penulis. Boleh juga menjadi pengusaha, pembicara, dan penyanyi. Silakan, mau sedikit boleh, mau banyak juga boleh. Yang penting di sini bukan banyak atau sedikit, tetapi mudah digambarkan.

Kedua, perencanaan yang sederhana adalah yang mudah didokumentasikan. Beberapa penulis maupun trainer mengenai manajemen waktu sering memberikan metode manajemen waktu dengan menggunakan tabel-tabel yang rumit. Kita diwajibkan untuk selalu memegang pena, untuk mengisi kolom ini dan itu, membuat analisis dengan metode ini dan itu, yang hanya membuat kita sibuk melakukan pekerjaan administrasi tentang bagaimana kita akan “mengisi” waktu kita.

Saya tidak menyalahkan metode tersebut, karena kalau kita mampu mengerjakan, itu memang akan membuahkan dokumentasi manajemen waktu yang baik dan rapi. Hanya saja, pengalaman menunjukkan bahwa kebanyakan orang yang disibukkan dengan masalah dokumentasi dan administrasi biasanya hanya mampu melakukannya di awal-awal program pelatihan saja. Setelah beberapa waktu mereka akan merasa kerepotan.

Untuk mengatasi kerepotan ini sebenarnya kita bisa dibantu dengan teknologi handphone. Saat ini, hampir semua orang memiliki handphone. Fasilitas note, calender, atau task yang ada di handphone akan membantu kita agar tidak kerepotan mendokumentasikan rencana kita. Bagaimana memanfaatkan fasilitas tersebut akan kita bicarakan kemudian.

Ketiga, perencanaan yang sederhana harus menempatkan diri kita sebagai “manusia”, bukan mesin. Sebagai manusia kita perlu istirahat, perlu menyapa orang, terkadang gelisah, terkadang sangat optimistik, suka makanan dan minuman yang enak, ingin menonton TV, dan sebagainya. Keadaan tersebut tidak memungkinkan kita untuk “diprogram” seperti mesin. Kalau mesin bisa kita program dengan presisi yang sangat tinggi, jam sekian harus menyala, setelah jam sekian dan sekian detik harus mati. Perencanaan yang manusiawi tidak mungkin dengan presisi yang demikian tinggi. Ada toleransinya. Hanya saja, yang harus kita jaga adalah jangan sampai toleransi tersebut membuat kita menjadi sembarangan, tanpa target waktu.

Memang beberapa orang pernah mencoba perencanaan waktu yang sangat presisi, disertai dengan menit dan detik. Dari satu rencana ke satu rencana dirancang dengan sangat kaku sehingga seperti manusia robot. Dalam satu atau dua hari mungkin orang tersebut bisa bertahan dengan perencanaannya, namun setelah beberapa hari akan kecapaian. Dan, bisa jadi malahan membenci perencanaan waktu karena merasa sangat terikat dan tertekan. Jangan sampai karena sedang dalam suatu misi pekerjaan dengan presisi yang sangat tinggi, kita malah tidak punya waktu untuk menyapa dan bersalaman dengan teman kantor.

Tiga hal tersebut merupakan landasan untuk perencanaan waktu yang sederhana. Perencanaan waktu harus mudah digambarkan, mudah didokumentasikan, dan manusiawi. Perlu contoh yang konkret? Baik! Mari kita ikuti contoh ini. Ikuti langkah-langkah yang disarankan di sini.

Pertama, gambarkan dengan jelas Anda ingin menjadi apa dalam 10 tahun yang akan datang. Gambarkan saja dengan jelas, tidak usah malu-malu. Toh itu juga gambaran untuk diri sendiri. Misalnya, Anda ingin menjadi penulis terkenal. Gambarkan saja penulis terkenal itu seperti apa. Menulis, memublikasikan buku, menjadi pembicara tentang bukunya, dan seterusnya. Pentingkah ini? Sepuluh tahun kan masih lama? Memang masih lama, tetapi waktu juga berjalan begitu cepat.

Tanpa gambaran cita-cita—misalnya menjadi penulis hebat—yang jelas, bisa-bisa kita terperanjat karena setelah 10 tahun berlalu, kita kok belum pernah menghasilkan tulisan. Belum pernah nulis buku. Gambaran yang jelas tentang ingin menjadi apa kita nantinya merupakan referensi utama kita untuk perencanaan tahunan, bulanan, mingguan, dan harian.

Kedua, setiap Anda mendapatkan informasi yang mengharuskan Anda hadir atau menyelesaikan pekerjaan tertentu, langsung dicatat. Ingat, catatan harus sesederhana mungkin. Kalau demikian, perlukah kita selalu membawa catatan ke mana pun kita pergi? Idealnya memang demikian, tetapi kita kok menjadi seperti wartawan ya, ke mana-mana bawa buku catatan. Beberapa orang juga tidak nyaman dengan selalu membawa catatan ke mana pun mereka pergi.

Untuk itu, saya sarankan Anda memanfaatkan fasilitas yang ada dalam handphone Anda. Kecenderungan sekarang hampir semua orang setiap saat membawa handphone. Kebiasaan ini sangat menguntungkan untuk mengelola waktu Anda. Gunakan fasilitas tersebut, sesederhana apa pun handphone Anda, pasti ada fasilitas untuk mencatat. Apalagi kalau Anda terbiasa dengan PDA (Personal Digital Assistance), handphone yang memang dirancang untuk menjadi sekretaris pribadi Anda.

Fasilitas pengaturan waktu (calendar) yang ada pada setiap PDA harus Anda manfaatkan. Catatan minimal yang harus Anda tulis adalah tanggal dan jamnya. Pada saat sekarang, semurah apa pun HP kita sudah difasilitasi dengan fasilitas calendar. Jadi, tidak anda alasan lagi untuk tidak mencatat apa yang harus kita kerjakan pada waktu-waktu tertentu.

Ketiga, luangkan waktu setiap hari untuk melihat catatan Anda hari ini dan beberapa hari mendatang. Kalau jadwal Anda penuh, aturlah sejak pagi agar semuanya bisa dilaksanakan dengan baik. Dengan baik? Ya, kita harus memiliki target untuk mengerjakan jadwal kita dengan hasil yang baik, tidak sekadar melaksanakan. Jadwal harian merupakan kunci utama kesuksesan Anda dalam mengatur waktu.

Bagaimana kalau pada hari tersebut kita tidak memiliki acara tertentu yang harus kita kerjakan? Nah, di sini pentingnya kita memiliki gambaran yang jelas kita ingin menjadi apa. Kalau tidak ada skedul yang sifatnya “harus”, segera skedulkan pekerjaan-pekerjaan yang akan menuju tercapainya tujuan kita, yaitu kita ingin menjadi apa di masa yang akan datang.

Keempat, sesibuk apa pun kita, kita harus bisa mencanangkan target untuk menuju tercapainya apa yang kita inginkan. Saya berikan contoh, seorang penulis terkenal yang saya kenal, Andrias Harefa, menargetkan dirinya menulis satu halaman dalam satu hari. Gunanya sistem target ini adalah adanya fleksibilitas saat kita menjalankan aktivitas kita. Seperti target Andrias Harefa tadi, misalnya dalam satu hari ia mampu menulis sampai tiga halaman. Itu berarti dalam dua hari ke depan ia bisa free tidak menulis karena targetnya sudah tercapai. Jadi, orientasi target di sini bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi juga untuk mencapai hasil. Result oriented!

Kelima, laksanakan dengan penuh disiplin. Sekali sudah kita jadwalkan, kita harus penuhi. Ini adalah bagian dari menghargai diri sendiri. Dalam nanajemen waktu kita membuat perintah kepada diri sendiri untuk mengerjakan sesuatu pada waktu tertentu. Jadi, penuhi perintah kita sendiri. Kalau kita sendiri tidak menuruti perintah yang kita keluarkan, apa lagi orang lain?

Setiap kali kita selesai mengerjakan sesuatu sesuai dengan jadwal, hela napas sebentar. Anda boleh memuji diri sendiri bahwa “You do a good job!” Boleh kan memberi penghargaan pada diri sendiri? Ini akan mengisi semangat Anda kembali (recharging the spirit) untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berikutnya dengan baik.

Selamat mencoba dan atur waktu Anda sebaik-baiknya, kerjakan sebaik-baiknya, dan kemudian lihat apa yang terjadi. Sukses![ap]

* Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga Direktur AP Consulting, yang memberikan jasa konsultasi bisnis dan training di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Kolomnis tetap di andaluarbiasa.com. Website: www.praptapa.com Email: praptapa@yahoo.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +2 (from 2 votes)

Agung Praptapa: Buku adalah Warisan untuk Putra-Putri Terbaik Negeri Ini

Agung Praptapa: Controlling People is My Area

Agung Praptapa: Controlling People is My Area

Sebagai akademisi, menulis artikel atau makalah untuk jurnal-jurnal ilmiah adalah “kewajiban akademik” yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Nah, yang tidak kalah penting, menurut Agung Praptapa, adalah menulis buku yang kelak bisa diwariskan kepada generasi terbaik di negeri ini. Dengan semangat itulah, Agung meluncurkan buku perdananya yang berjudul The Art of Controlling People pada acara Writer Schoolen Gathering II (Sabtu, 3 Oktober 2009) di JDC, Jakarta.

Sesuai kompetensinya, Agung membedah berbagai pendekatan pengendalian manusia dalam organsisasi dengan tujuan mendapatkan hasil-hasil sesuai yang ditargetkan. Menurut Agung, sebuah organisasi akan sukses manakala perilaku anggotanya dapat dikontrol sesuai dengan tujuan-tujuan dan target organisasi. Walau begitu, bukan hal yang mudah mengontrol individu-individu dengan beragam latar belakang, sifat, karakter, tujuan, dan kepentingan.

“Mengontrol itu tidak sama dengan mengekang!” tegas Agung, alumnus University of Central Arkansas, USA, dan University of Wollongong, New South Wales, Australia. Yang terbaik menurut Agung, orang harus bisa dikontrol tanpa dia merasa dikontrol. Makannya, pengendalian orang butuh seni yang pas agar tidak terjadi konflik, namun goal organisasi maupun individu juga bisa dicapai secara efektif dan optimal.

Sehari-hari, pria kelahiran di Semarang tahun 1963 ini berprofesi sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Ia juga menjabat sebagai Direktur Program Magister Manajemen universitas yang sama periode 2006-2009, dan sekarang menjadi pengelola Program Pascasarjana MM-MSi di universitas yang sama. Selain itu, ia juga mendirikan sekaligus menjabat direktur kantor konsultan AP Consulting sejak 1995. Dan, sejak menekuni dunia kepenulisan, suami dari Restu Wardhani yang sudah dikaruniai dua putri bernama Handini Audita dan Nadila Anindita ini, juga menjadi Kolomnis Tetap di situs motivasi AndaLuarBiasa.com. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com dengan Agung Praptapa melalui chating di internet.

Bagaimana perasaan Anda setelah buku pertama ini terbit?

Waduh, rasanya seperti saat kelahiran anak pertama…. Iya, menjadi penulis adalah obsesi saya sejak kecil. Dan, baru kali ini saya ada bukti bahwa saya sudah menjadi penulis. Jadi plong rasanya. Dalam setiap kesempatan, saat ditanya cita-cita Anda apa… saya kok selalu menjawab mau menjadi penulis. Tetapi, sampai umur saya kepala empat kok enggak ada produk tulisan. Nah, sekarang lahir bayi pertama. Saya akan bikin bayi-bayi berikutnya. Enak to mantep to... hehehe.

Apa hebatnya jadi penulis itu?

Hebatnya jadi penulis? Kita seperti meninggalkan “sesuatu” seperti amal jariyah. Yang sampai mati pun akan tetap terus mendapatkan pahala selama masih dimanfaatkan orang.

Apa manfaat lainnya dari aktivitas berbagi ilmu dengan menulis?

Yang jelas, saya bisa membangun personal branding. Kebetulan pekerjaan utama saya kan dosen, yang bidang konsentrasinya adalah management control system. Maka, dengan adanya buku tersebut, saya lebih mantap menyatakan kepada publik bahwa control is my area!

Agung Praptapa: Launching buku "The Art of Controlling People"

Agung Praptapa: Launching buku "The Art of Controlling People"

Dalam proses penulisan buku pertama tadi, apa bagian tersulit dan termudahnya?

Bagian tersulit adalah memulai menulis dengan gaya bahasa yang seperti saya angankan. Saya kan sudah terlanjur biasa menulis untuk kalangan akademik. Padahal, saya pingin tulisan saya bisa dibaca orang banyak, baik dari kalangan akademisi mapun praktisi. Nah, saat memulai masih terseok-seok. Kalimat pertama bisa gaul... eh, lama-lama kembali lagi ke bahasa jurnal ilmiah. Bagian termudahnya adalah mengisi tulisan, terutama pada bagian-bagian yang saya ambil dari pengalaman pribadi. Terutama dalam memberikan jasa konsultasi manajemen. Di situ rasanya mengalir karena saya alami, saya resapi, dan saya yakini akan bermanfaat kalau saya sharing-kan.

Apa kiatnya sehingga Anda bisa keluar dari jerat bahasa akademik dan masuk ke bahasa popular?

Pertama, saya selalu membayangkan sedang berbicara kepada publik, yang terdiri dari berbagai kalangan. Yah, membayangkan seperti sedang memberi training atau kuliah umum. Saya bayangkan bahwa saya sedang bercanda, sedang meyakinkan, sedang memberikan contoh supaya mereka mudeng, sedang ditanya, sedang menjawab…. Pokoknya, bayangan sedang bicara yang lancar, santai, dan bermanfaat. Bukan membual, tetapi berbagi dengan ikhlas. Tentu saja, saya juga belajar dari tulisan-tulisan yang saya anggap pas dengan gaya penulisan yang saya bayangkan. Saya belajar dari tulisan orang lain. Yang jelas, dalam setiap kalimat harus ada “nada”-nya… Harus mengandung “gairah” supaya orang membacanya nyaman.

Garis besar isi buku The Art of Controlling People ini?

Pada prinsipnya tentang bagaimana kita mengendalikan diri kita dan orang lain agar kita mendapatkan apa yang kita mau, sekaligus mendapatkan apa yang dimaui oleh organisasi.

Apa manfaat yang bisa dipetik pembaca dari buku ini?

Seperti yang saya sajikan di dalam Pendahuluan. Setelah membaca buku tersebut, diharapkan pembaca memiliki perspektif baru tentang bagaimana mengajak orang-orang yang berada dalam organisasi atau perusahaan, untuk bersama-sama membawa sukses bagi perusahaan maupun orang-orang yang berada dalam perusahaan. Pembaca akan lebih memahami bagaimana peran manusia dan peran sistem pengendalian manajemen di dalam membawa sukses perusahaan.

Agung dalam sebuah acara musik di televisi

Agung dalam sebuah acara musik di televisi

Umumnya, bukankah setiap individu itu adalah pendamba kebebasan alias tidak suka dikontrol?

Nah, ini kuncinya. Mengontrol bukan berarti mengekang! Mengontrol adalah membawa orang menuju apa yang kita maui. Kalau saya mau menjadi penulis bestseller, kemudian Anda bisa mengendalikan semangat saya, memberikan arahan, mendorong, memberi sarana, dan kemudian saya benar-benar menjadi penulis bestseller, berarti Anda berhasil mengendalikan saya untuk bisa menjadi penulis bestseller.

Persepsi umum atau respon otomatis orang kebanyakan terhadap kata ‘kontrol’ adalah penghilangan kebebasan. Bagaimana menghilangkan persepsi itu, supaya pendekatan controlling people efektif?

Seperti kita mengendalikan kuda, kudanya juga senang kok kalau kita kendalikan ke sana dan kemari. Makanya, saya menggunakan istilah “the art supaya kata “kontrol” yang kesannya keras bisa menjadi lunak.

Apakah kontrol yang efektif terhadap orang itu bisa memberikan hasil-hasil yang tinggi presisinya dalam organisasi seperti perusahaan?

Kontrol yang efektif adalah yang memberikan jaminan tertinggi bahwa apa yang kita inginkan akan kita dapatkan. Untuk itu, di dalam buku ini disajikan berbagai strategi pengendalian, seperti result control, action control, dan people control. Kontrol yang efektif pada suatu jenis pekerjaan belum tentu efektif bila diterapkan pada jenis pekerjaan lain. Yang efektf untuk tipe-tipe orang tertentu belum tentu efektif bila diterapkan pada orang dengan tipe yang lain. Jadi, melakukan kontrol itu penuh dengan “art. Bisa keras, bisa lembut, bisa ketat, bisa longgar….

Penerapan prinsip-prinsip dalam buku itu lebih condong untuk karakter organisasi apa saja, profit dan nonprofit?

Keunggulan konsep yang ditawarkan dalam buku ini bisa diterapkan oleh organisasi profit maupun nonprofit. Bahkan, bisa pula diterapkan bagi individu. Gampangnya, para istri yang ingin sukses mengontrol suaminya juga perlu membaca buku inihehehe.

Untuk organisasi nonprofit, apa yang bisa dipakai untuk mengikat individu-individu itu dalam suatu sistem kontrol, manakala tidak ada reward material yang pasti?

Itulah apa yang disebut dengan goal congruency, yaitu kita harus menyelaraskan tujuan organisasi dengan tujuan individu. Dan sebaliknya, kita menyelaraskan tujuan individu dengan tujuan organisasi. Makanya, diperlukan suatu sistem agar keselarasan tersebut terjaga. Dengan demikian, sistem kontrol yang baik justru akan menjamin proses demokrasi di organisasi. Di samping itu, juga meritocracy, yaitu suatu sistem yang memberikan penghargaan yang tinggi bagi siapa saja yang berprestasi.

Agung bersama rekan-rekan kolomnis AndaLuarBiasa.com

Agung bersama rekan-rekan kolomnis AndaLuarBiasa.com

Pernah menangani kasus yang mana ada resistensi terhadap upaya-upaya controlling people dalam organisasi?

Tentu saja sudah pernah, karena itu tugas utama saya. Beberapa pengalaman berpraktik sebagai konsultan manajemen juga saya sajikan dalam buku ini. Coba baca bab yang membahas tentang pengendalian melalui kompensasi. Di situ saya berikan contoh bahwa sistem kompensasi yang tidak tepat akan menimbulkan resistensi. Setelah sistem kompensasi saya sarankan untuk diubah… wow dukungan karyawan luar biasa. Sampai-sampai produktivitasnya meningkat 300 persen!

Baik, kita singgung sedikit soal birokrasi. Anda pasti setuju dengan penilaian umum bahwa birokrasi kita belum sepenuhnya efektif di era reformasi ini. Apakah Anda juga mencium aroma lemahnya hal controlling people di sini?

Iya, tetapi mohon dipahami bahwa ada bentuk kontrol negatif, dan ada pula bentuk kontrol positif. Bentuk kontrol yang negatif ada unsur mengekang dan membatasi. Sedangkan bentuk kontrol positif mengandung unsur mendorong atau encouraging, memotivasi, dan memberikan jalan atau enabling. Nah, di birokrasi kita masih tidak berimbang antara kontrol positif dan negatif. Yang lebih ditekankan adalah kontrol negatif. Sehingga, orang lebih cenderung dari pada salah, mendingan tidak berbuat. Ini yang membuat birokrasi menjadi beban!

Untuk menjadi efektif, birokrasi sering berhadapan dengan sikon lemahnya resources SDM, finansial, dll. Lalu, pada titik mana bisa ditumpukan harapan supaya organisasi tetap bisa berfungsi efektif?

Sistem kontrol harus memerhatikan aspek cost and benefit. Jadi, tidak pada tempatnya kita membuat sistem kontrol yang rumit dan mahal, bila kondisi resource tidak memungkinkan. Sistem pengendalian tidak selalu harus mahal. Bisa dibentuk melalui kultur organisasi, dan juga contoh atasan. Memang, sistem kontrol akan meliputi mekanisme dan peralatan yang mendampinginya. Sesuaikan saja. Mengapa di negara maju orang patuh terhadap peraturan, yang artinya terkendali? Apakah karena mereka lebih kaya? Apakah karena mereka lebih pintar? Apakah karena sistemnya lebih canggih? Tidak, kan? Tetapi, karena mereka hidup dalam kultur taat aturan.

Agung bersama para mentor dan peserta Proaktif Writer Camp

Agung bersama para mentor dan peserta Proaktif Writer Camp

Gaya kepemimpinan, apakah juga menentukan result dari sebuah sistem kontrol? Termasuk, apakah itu juga bisa jadi solusi efektivitas birokrasi?

Iya, gaya kepemimpinan juga sangat berpengaruh dalam pola pengendalian. Tetapi, yang perlu ditekankan di sini adalah “pemimpin yang baik harus bisa membawa suskes organisasi maupun sukses orang-orang yang berada dalam organisasi”. Jadi, kalau organisasinya saja yang sukses tetapi orangnya gagal, kecewa, tidak sukses, itu sama saja tidak sukses.

Kalau begitu, kita bisa menumpukan solusi efektivitas organisasisalah satunyapada soal rekrutmen pemimpin atau pola suksesinya?

Dua-duanya. Pilih orang yang tepat untuk posisi yang tepat. Berikan posisi yang tepat untuk orang yang tepat. Right man in the right place, and right place for the right man. Tadi maksudnya right man for the right place and right place for the right man.

Mari singgung sedikit soal birokrasi di kampus, yang jelas tidak kekurangan SDM. Bagaimana Anda melihat persoalan efektivitas mereka, apakah ada potensi masalah yang sama?

Hahaha…. Mengendalikan orang kampus juga ada keunikannya sendiri, terutama dosen. Birokrasi kampus harus dirancang untuk mengelola orang pintar dan independen, jangan seperti mengelola birokrasi pemerintahan. Tidak akan klop. Maaf, kalau saya katakan bahwa jenis manusianya berbeda. Orang kampus lebih berani SAY NO dari pada orang-orang dalam birokrasi pemerintahan. Kalau menggunakan konsep strategi pengendalian yang saya tawarkan dalam buku saya tersebut, mengendalikan orang kampus sebaiknya lebih condong ke result control daripada action control. Kebetulan saya juga sedang menulis tentang managing smart people, why different? yang akan saya publikasikan melalui Andaluarbiasa.com. Maaf, bukan berarti orang kampus selalu smart, mohon jangan dipelintir kaya wartwan koran… hahaha

Kasih bocoran dikit dong…!

Para profesional yang yakin akan kemampuan dirinya tidak akan suka dikontrol tindakannya dari langkah satu ke langkah berikutnya. Mereka lebih result oriented dari pada sekadar menjalankan tugas. Kalau dikaitkan dengan orang kampus atau dosen, mereka akan lebih bergairah kalau diberi target menulis satu buku setiap tahun, daripada misalnya dikontrol dengan cara diharuskan masuk jam delapan dan pulang jam empat.

Terakhir, sudah terpikir untuk melanjutkan buku-buku berikutnya?

Ada tiga buku yang sedang saya selesaikan hehehe. Kok jadi nafsu begini, ya…? Yang pertama adalah Local Wisdom Global Action, yang sebagian besar sudah saya publikasikan melalui Pembelajar.com, yang ke dua adalah Managing Yourself yang sebagian sudah saya publikasikan melalui Andaluarbiasa.com, dan yang ketiga adalah The New Art of Controlling People yang merupakan pengembangan dari buku pertama saya ini. Saya bisa bergairah menulis ini juga antara lain karena dukungan dan bimbingan Edy Zaqeus, yang terbukti berhasil mengontrol saya untuk menulishehehe.

Terakhir lagi, anjuran untuk rekan sesama dosen, terkait dengan kepenulisan dan buku?

Dosen ya harus menulis…. Menulis di jurnal itu sudah pasti enggak bisa ditawar. Tetapi, menulis buku tidak kalah penting. Ini warisan untuk putra-putri terbaik di negeri ini. Daripada “omong doang” mendingan “nulis doang” hehehe….[ez]

Foto-foto: Dokumentasi pribadi, koleksi Vina Tan, dan Maria Agatha Catursari.

Agung bersama para mahasiswa

Agung bersama para mahasiswa

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

The Art of Controlling People

bk-agungpkJudul: The Art of Controlling People

Oleh: Agung Praptapa

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009

ISBN: 978-979-22-4963-7

Tebal: xix + 153 hal

Di balik semua proses organisasi atau perusahaan ada orang. Karena itu, mengontrol proses organisasi pada dasarnya adalah mengontrol orang. Bagaimana mengontrol orang tapi mereka merasa tidak dikontrol? Buku ini menyajikan seninya.

PUJIAN UNTUK BUKU INI

“Siapa saja yang terlibat dalam proses manajemen akan mendapat manfaat dari buku ini. Diperkaya dengan sejumlah kasus dan cerita, membuat buku ini enak dibaca. BACALAH!”

~ Andrias Harefa

Penulis 35 buku bestseller, trainer, coach berpengalaman 20 tahun

“Saya terperangah membaca buku ini, karena ternyata keberhasilan bisa dipastikan, dan buku ini memberitahu caranya. Dari sisi penulisan, buku ini memiliki kedalaman khas seorang dosen sekaligus gaya bercerita yang lancar.”

~ Her Suharyanto

Editor Independen & Ghost Writer

“Buku ini memberikan penekanan pada pentingnya faktor manusia dalam sistem pengendalian organisasi… penting dibaca oleh para pemangku kepentingan bisnis, di dalam dan di luar organisasi.”

~ Avanti Fontana

Author “Innovate We Can!”, Facilitator & Coach for Innovation

“’Thanks, Sir. It works!’ kata seorang direktur perusahaan yang gembira dengan kenaikan produktivitas kerja karyawannya sampai 300% setelah menerapkan usulan Pak Agung Praptapa. Buku The Art of Controlling People ini memuat banyak sekali pemikiran dan ide yang bisa Anda terapkan. Kalau Anda memiliki tim, Anda wajib baca buku ini.”

~ Hari Subagya

Motivator Perubahan

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Time Management that Works (1)

apOleh: Agung Praptapa*

Orang sukses mengendalikan waktu, bukan dikendalikan oleh waktu.

~ Agung Praptapa

Hari gini masih bicara manajemen waktu? Pertanyaan tersebut menggoda saya untuk tidak menulis topik ini. Masalah manajemen waktu tampaknya sangat klasik dan sudah banyak orang yang membahas. Namun demikian, dari hari ke hari bahkan sampai sampai saat ini pun, saya masih sering mendapatkan pertanyaan berkenaan dengan bagaimana mengatur waktu agar efektif.

Tidak hanya itu, saya sendiri masih saja sering menghadapi problema tentang mengatur waktu. Sampai sekarang, saya terus mencari formula yang tepat agar waktu yang terbatas ini dapat saya manfaatkan secara efektif. Jadi, masih mau membahas mengenai manajemen waktu? Saya nyatakan YA. Karena ini perlu!

Manajemen waktu yang sudah sering dibahas sejak dahulu kala ini ternyata terus diminati banyak orang. Kursus mengenai manajemen waktu tetap eksis sampai saat ini di Amerika. Hampir semua perguruan tinggi di Amerika memberikan materi manajemen waktu pada masa orientasi mahasiswa baru. Hal itu juga dilakukan di perguruan tinggi di negara lain, termasuk di Indonesia. Tampaknya, topik manajemen waktu tidak pernah usang.

Manajemen waktu berkenaan dengan bagaimana kita mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari waktu yang terbatas ini. Sehari adalah 24 jam, tidak kurang dan tidak lebih. Satu minggu hanya tujuh hari. Tidak bisa kurang dan tidak bisa lebih. Pertanyaannya sekarang, seberapa besar kita bisa menghasilkan nilai dan manfaat (value and benefit) dari apa yang kita kerjakan dalam kurun waktu yang terbatas tersebut?

Manajemen waktu bukan sekadar merencanakan dan melaksanakan apa yang akan dikerjakan pada saat dan kurun waktu tertentu. Yang lebih penting, akan menghasilkan apa pada kurun waktu yang telah ditentukan tersebut? Jadi, manajemen waktu tidak sama dengan sekadar mengisi waktu. Manajemen waktu berkenaan dengan seberapa besar nilai dan manfaat yang akan kita hasilkan dalam kurun waktu tertentu. Manajemen waktu harus result oriented.

Ciri-ciri Waktu

Waktu adalah sumber daya yang apabila tidak dimanfaatkan akan segera menjadi usang. Sebagai ilustrasi misalnya, kita diberi makanan yang harus dimakan saat itu juga, yang kalau tidak dimakan akan segera busuk. Kita akan diberi barang berharga, uang yang banyak misalnya, tetapi apabila kita tidak menerima pemberian tersebut pada saat itu juga, maka uang tersebut akan diberikan pada orang lain. Ilustrasi tersebut menggambarkan bahwa sekali kita tidak memanfaatkan waktu, waktu tersebut akan sirna.

Waktu tidak bisa diputar ulang. Waktu yang telah berlalu akan segera menjadi sejarah. Oleh karenanya, tinggal kita ingin tercatat dalam sejarah sebagai apa. Kalau kita dalam satu jam yang baru saja berlalu kita tidak mengerjakan apa-apa, sejarah akan mencatat bahwa kita dalam satu jam tersebut tidak mengerjakan apa-apa. Bayangkan saja bahwa perjalanan hidup kita selalu terekam atau tercatat dengan baik dan detail. Kemudian lihatlah catatan apa yang kita kerjakan. Tonton rekaman tentang apa yang kita perbuat. Itulah sejarah hidup kita. Tidak bisa diulang. Apa lagi dihapus.

Waktu tidak bisa dihentikan. Unstopable. Tidak bisa di-pause. Ia akan terus menggelinding dan tidak ada titik berhentinya. Mungkin waktu hanya berhenti saat kiamat nanti. Semua keputusan hidup kita berada di dalam bola waktu yang terus mengelinding. Kita tidak bisa menghentikan waktu, tetapi waktu bisa menghentikan perjalanan hidup kita (sorry to say ditandai dengan kematian manusia).

Meskipun waktu terus menggelinding tanpa henti, waktu tetap bisa kita kendalikan. Sekuat-kuatnya gajahapabila kita mampu mengendalikannyagajah tersebut dapat kita manfaatkan untuk tujuan kita. Seganas-ganasnya singakalau kita bisa mengendalikannyajuga akan dapat kita manfaatkan. Waktu juga demikian. Meskipun waktu begitu konsisten dan terus melaju, tetapi kalau kita bisa mengendalikannya, waktu bahkan akan menjadi alat kita untuk mendapatkan apa yang kita mau. Orang sukses mengandalikan waktu, bukan dikendalikan oleh waktu.

Mengendalikan Diri dalam Putaran Waktu

Benarkah waktu bisa kita kendalikan? Bukannya waktu akan berjalan terus tanpa seorang pun bisa menghentikannya? Iya, benar. Kita tidak bisa menghentikan perjalanan waktu. Oleh karenanya, mengendalikan waktu bukan berarti waktu bisa kita percepat atau kita perlambat. Yang dimaksud mengendalikan waktu adalah mengendalikan diri di dalam putaran waktu yang ada. Sama halnya dengan manajemen waktu. Manajemen waktu adalah manajemen diri dalam putaran waktu yang ada.

Saya sering berimajinasi melakukan akrobat, di mana saya harus bergelantungan pada sebuah kincir yang terus berputar. Sementara, saya bersama tim akrobat lain harus berpegangan pada kerangka kincir tersebut agar tidak jatuh. Kincir terus berputar, sedang kami harus melakukan atraksi pada kincir tersebut. Kita harus pandai-pandai mengendalikan diri agar tidak terjatuh. Mengendalikan waktu logikanya sama dengan melakukan atraksi pada kincir yang sedang berjalan. Agar selamat kita harus pandai-pandai mengendalikan diri pada putaran waktu yang ada.

Seberapa jauh pentingnya mengendalikan diri dalam manajemen waktu? Manajemen waktu tidak jauh berbeda dengan konsep manajemen pada umumnya. Secara umum proses manajemen meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian. Manajemen waktu juga demikian. Manajemen waktu meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian waktu. Kita akan bahas satu-persatu dalam tulisan seri berikutnya.[ap](bersambung)

* Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga Direktur AP Consulting, yang memberikan jasa konsultasi bisnis dan training di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Kolomnis tetap di andaluarbiasa.com. Website: www.praptapa.com Email: praptapa@yahoo.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Berhentilah Khawatir pada Kelemahan Diri

ap1Oleh: Agung Praptapa*

Tak ada manusia yang sempurna. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Inilah yang membuat seseorang itu “khas”, unik, atau berbeda antara satu dengan lainnya. Di samping memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda, cara orang memandang kelebihan dan kekurangannya juga berbeda-beda. Ada orang yang sangat khawatir dengan kelemahan dirinya. Sedangkan di lain pihak, ada juga orang yang memiliki kelemahan yang sama, tetapi tidak begitu memikirkannya. Sebaliknya, ada orang yang mendayagunakan kelebihan yang dimilikinya semaksimal mungkin, namun ada pula orang yang tidak menyadari kelebihannya.

Dalam beberapa kasus ada orang yang sadar dengan kelebihan dan kekurangannya, namun ada pula yang tidak sadar akan kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Ada pula orang yang menyadari kelebihan dan kekurangannya secara tidak seimbang. Bisa sadar tentang kelebihannya, namun tidak sadar atas kekurangan yang dimilikinya. Sebaliknya, ada orang yang sadar pada kekurangannya, tetapi tidak sadar atas kelebihannya. Jadi, bagaimana seharusnya?

Yang paling baik tentunya kita sadar atas kelebihan maupun kekurangan yang kita miliki. Selanjutnya, kita harus pandai-pandai mengelolanya. Jadikan kelebihan kita sebagai pendorong. Jadikan kelebahan kita sebagai pemacu.

Mangonversi Kekurangan Menjadi Kelebihan

Dalam suatu pelatihan personal empowerment saya minta kepada para peserta untuk membuat daftar kelebihan dan daftar kekurangan yang mereka miliki. Saya minta mereka membuat daftar yang sebanyak-banyaknya dalam waktu yang telah saya tentukan. Hasilnya beragam. Beberapa peserta menulis seimbang antara kelebihan dan kekurangan. Beberapa peserta lainnya mendapatkan kelebihan lebih banyak dari kekurangannya. Dan, sebagian lainnya menulis kelebihan lebih sedikit dari kukurangannya. Yang mengherankan, sebagian besar peserta mampu menulis daftar kekurangan begitu banyaknya, tetapi tidak mampu menuliskan daftar kelebihan yang dimilikinya.

Di sini saya bisa melihat bahwa banyak orang yang terlampau berfokus pada kekurangan atau kelemahan yang dimilikinya. Mereka ahli dalam melihat kekurangannya, berfokus kepada kelemahannya, melupakan kelebihannya, sehingga mereka menjadi gelisah, tidak percaya diri, dan bahkan sampai depresi. Kekurangan yang mereka miliki rasanya seperti seperti sesuatu yang abadi yang tidak bisa berubah dan diperbaiki.

Seharusnya, kita bisa menyikapi kekurangan yang kita miliki secara arif. Bukankah semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan? Semestinya kita adil terhadap keduanya. Kekurangan yang kita miliki adalah sesuatu yang wajar. Kita terima saja bahwa itu adalah kekurangan. Namun, harus pula diingat bahwa tidak ada sesuatu yang abadi. Kalau kita benar-benar mau sekuat hati, apa sih yang tak bisa? Jadi, setelah kita terima dengan lapang dada kekurangan yang kita miliki, langkah berikutnya adalah berkomitmen pada diri sendiri bahwa kita ingin mengubah “kelemahan” yang kita miliki menjadi sesuatu “kekuatan”. Bisakah kita mengubah “kekurangan” menjadi “kelebihan?” Bisa saja kalau kita tahu caranya.

Langkah yang pertama untuk mengubah “kelemahan” menjadi “kekuatan” adalah dengan menemukan “lawan kata”-nya. Misalnya, kelemahan kita adalah “tidak bisa” berbicara dalam bahasa Inggris dengan lancar, maka lawan katanya adalah “bisa” berbicara dalam bahasa Inggris dengan lancar. Kalau kelemahan kita adalah “takut” membuka usaha, lawannya adalah “berani” membuka usaha. Lakukan seterusnya dari daftar kekurangan atau kelemahan yang kita miliki. Cari lawan katanya.

Langkah berikutnya adalah membayangkan kenikmatan yang bisa kita peroleh apabila kita memiliki kelebihan yang merupakan konversi dari kekurangan seperti yang telah kita lakukan pada langkah pertama. Bayangkan saja! Enyahkan perasaan tidak bisa. Biarkan pikiran kita “liar” berimajinasi tentang nikmatnya apabila kita memiliki kelebihan tersebut. Imajinasikan dengan sebebas-bebasnya. Kalau hati kita sudah mulai bertanya “Apa bisa?”, langsung saja bentak kata hati itu dengan tegas bahwa kita pasti bisa. Pasti bisa!

Dalam hal mengubah dari “tidak bisa” berbicara dalam bahasa Inggris menjadi “bisa”seperti dicontohkan di ataskita bisa bayangkan bahwa kita sedang berdiskusi dengan orang bule dengan menggunakan bahasa Inggris. Bayangkan kita berbicara dalam seminar memakai bahasa Inggris. “Uff, hebatnya gue!Mungkin begitu kita bisa katakan pada diri sendiri tentang hebatnya dan nikmatnya saat kita bisa berbicara dalam bahasa Inggris dengan lancar.

Selanjutnya, temukan cara bagaimana supaya kita bisa pada keadaan seperti yang kita bayangkan. Dalam contoh menjadi bisa berbahasa Inggris, kita coba temukan cara supaya kita menjadi bisa berbahasa Inggris. Tentu banyak cara untuk bisa berbahasa Inggris. Kita bisa menghafalkan lagu barat, menghafalkan percakapan, menghafalkan satu kata baru setiap hari, selalu berbahasa Inggris saat berbicara dengan orang lain yang bisa berbahasa Inggris, dan masih banyak lagi. Menemukan cara cerdas untuk “bisa” adalah suatu keterampilan tersendiri. Semakin sering dilatih semakin mudah kita melakukan. Cari cara kreatif untuk bisa.

Berikutnya adalah kita lakukan “eksekusi” terhadap cara-cara yang telah kita temukan tersebut. Di sini lakukan dulu yang paling mudah, yang bisa kita lakukan segera. Misalnya, cara yang paling mudah untuk berbicara dalam bahasa Inggris adalah dengan menghafalkan lagu, kita tinggal “laksanakan”. Hafalkan lagu, nyanyikan berulang-ulang, tiru bagaimana penyanyi aslinya melafalkan setiap kata. Dengan demikian kita menjadi tidak asing dengat kata-kata yang ada dalam lagu yang kita hafalkan tadi. Kalau kita nyanyikan berulang kali dengan lafal seperti penyanyi aslinya maka otot-otot mulut kita akan terbiasa dengan kata-kata tersebut.

Kita bisa juga sambil mencoba cara lain untuk bisa berbahasa Inggris. Dengan menghafalkan percakapan misalnya. Saya punya teman yang hebat dalam berbahasa Inggris yang cara belajarnya adalah dengan menonton film dan menghafalkan percakapan-percakapan yang menarik. “Mau berapa banyak sih kata-kata yang kita gunakan dalam berkomunikasi?” begitu kata dia saat menjelaskan kiat-kiatnya belajar berbahasa Inggris. Menurut dia, dalam berkomunikasi kita akan menggunakan kata-kata yang sebenarnya itu-itu saja. Ada variasinya tentunya, tetapi tidak banyak. Apa pun alasannya tidak masalah. Yang penting bagaimana kita bisa berbahasa Inggris dengan baik dan benar.

Sebagai kesimpulan, berhentilah khawatir tentang kelemahan kita. Stop worrying about your weaknesses. Mari kita konversi kelemahan menjadi kekuatan. Kita konversi dari kekurangan menjadi kelebihan. Kalau kita mau, apa sih yang tidak bisa? Kita pasti bisa![ap]

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 7.2/10 (10 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Mau Jadi Manajer Hebat? Ini Kiatnya!

apOleh: Agung Praptapa*

Anda mau menjadi manajer yang hebat? Yang dihormati kawan maupun lawan? Yang memotivasi anak buah? Yang selalu dibutuhkan? Hahaha. Saya punya tips-nya. Tetapi, ini RAHASIA ya… khusus buat Anda. Mengapa rahasia? Karena rumusnya sangat mudah. Kalau semua orang tahu, entar ditiru. Jadi, ini khusus buat Anda saja.

Memangnya, apa sih rahasia menjadi manajer yang hebat itu? Nah, ini yang akan saya sampaikan. Tetapi, karena ini RAHASIA, maka Anda jangan main-main dalam memahami dan mempraktikkannya. Karena, ini cespleng! Enggak sabar menunggu? Hahaha ayo kita mulai.

Rahasianya sederhana tetapi powerful, yaitu dengan menggunakan teknik “seperti”. Apa itu? Berpenampilan seperti manajer, berpikir seperti manajer, bertindak seperti manajer, dan bekerja seperti manajer. Jadi, serba “seperti”. Untuk itulah maka cara ini disebut teknik “seperti”.

Berpenampilan Seperti Manager

Berpenampilan seperti manajer? Iya. Kalau sekarang Anda sudah manajer ya… sudah pasti harus berpenampilan seperti manajer. Kalau Anda sekarang belum manajer, berpenampilan seperti manajer akan membawa Anda mendekat ke posisi manajer. Yang bener saja? Iya. Ini bukan main-main. Berpenampilan seperti yang Anda inginkan merupakan magnet tersendiri. Akan ada kekuatan yang menarik Anda ke posisi yang Anda inginkan.

Apakah ada peraturan khusus di kantor Anda tentang berpakaian atau pemakaian atribut antara yang manajer dengan yang bukan manajer? Kalau ada, tentu saja Anda jangan memaksakan diri. Ambil saja yang bisa. Misalnya, di kantor Anda hanya tingkatan manajer yang boleh berdasi. Kalau memang demikian, Anda tidak perlu memaksakan diri berdasi, tetapi berpakaianlah yang rapi seperti manajer. Gunakan parfum yang elegan seperti manajer. Bersepatu yang bersih dan berkilat seperti sepatu manajer.

“Tetapi manajer di tempat saya bekerja tidak rapi. Tidak berparfum. Penampilannya apa adanya,” begitu mungkin keadaan di beberapa kantor atau tempat Anda berkerja. Kalau memang demikian, kembalikan pada imajinasi Anda tentang penampilan seorang manajer itu seperti apa. Penampilan manajer sebuah bank akan berbeda dengan penampilan seorang manajer produksi suatu pabrik. Penampilan mereka berbeda karena jenis pekerjaannya juga berbeda. Yang terpenting di sini adalah bukan melihat “apa yang sekarang ada” di tempat kerja Anda, tetapi lebih kepada “apa yang seharusnya ada”.

Berpikir Seperti Manajer

Kalau Anda mau menjadi seorang manajer yang hebat, berpikirlah seperti halnya seorang manajer yang hebat. Pelajari cara berpikir para manajer hebat. Tidak harus manajer yang sudah ada di tempat kerja Anda. Bisa juga manajer dari tempat kerja lain, yang menurut Anda layak dijadikan standar sebagai manajer yang hebat. Harus mempelajari cara berpikir manajer secara langsung dengan melihat orangnya? Tidak. Kita bisa mempelajari dari buku, kisah sukses yang dipublikasikan di berbagai media, dan cerita orang lain yang menginspirasi Anda.

Seorang manajer hebat pada umumnya berpikir cerdas, cermat, tegas, kritis, mengandung solusi, kreatif, dan silakan Anda buat daftar sendiri seperti apa sebenarnya cara berpikir seorang manajer yang hebat itu. Tidak perlu ragu meniru hal-hal yang baik, yang positif. Amati, tiru, dan modifikasi untuk menjadi yang lebih baik.

Bertindak Seperti Manajer

Coba kita amati bagaimana manajer hebat bertindak? Mereka pada umumnya bertindak cepat, tegas, tidak membuang-buang waktu, melibatkan orang lain, memuji orang yang berprestasi, memberi arahan kepada yang memerlukan, memasang target yang jelas kapan pekerjaan harus selesai, lebih tenang dalam bertindak, percaya diri, dan silakan Anda teruskan!

Bertindak seperti manajer bukan berarti kita harus 100 persen meniru manajer di tempat kita kerja atau manajer lain yang menginspirasi kita. Yang diperlukan di sini adalah meniru cara bertindak mereka yang kita anggap positif. Kalau manajer di tempat kita bekerja memiliki kebiasaan negatif seperti menggaruk-garus kepala saat berbicara misalnya, hal ini tentu saja jangan ditiru.

Bekerja Seperti Manajer

Kalau Anda mau menjadi manajer yang hebat, bekerjalah seperti manajer yang hebat. Amati bagaimana manajer hebat bekerja. Tidak hanya cara mereka bekerja, tetapi juga bagaimana mengatur waktunya, bagaimana mereka melakukan kerja sama, bagaimana mereka berani bertanggung jawab atas bagian yang dipimpinnya, dan sebagainya. Manajer hebat pada umumnya bekerja sistematis, menepati janji, memiliki acara yang terencana dengan baik, memiliki catatan yang baik walaupun tidak harus dikerjakan sendiri, lebih berorientasi kepada hasil dari pada sekadar menjalankan tugas.

Bekerja seperti manajer bukan berarti kita bisa meniru 100 persen apa yang dikerjakan para manajer. Tugas dan wewenang antara manajer yang satu dengan lainnya berbeda. Demikian pula tugas dan wewenang antara yang manajer dan yang bukan manajer. Yang terpenting di sini adalah bagaimana kita bisa mengambil sisi postif dari bagaimana para manajer hebat bekerja yang bisa kita tiru dan kita kembangkan sesuai dengan tugas dan wewenang kita.

Aplikasi pada Kasus Lain

Teknik “seperti” bisa diaplikasikan pada kasus-kasus yang lain. Kalau kita ingin menjadi penulis yang hebat misalnya, bisa saja menggunakan cara ini. Kalau mau menjadi penulis yang hebat berpenampilanlah seperti penulis hebat, berpikir seperti penulis hebat, bertindak seperti penulis hebat, dan bekerja seperti penulis hebat. Kalau kita sudah bisa lakukan seperti apa yang dilakukan oleh penulis hebat bukannya kita juga sudah menjadi penulis hebat pula?

Teknik ini tentunya ada batasan etika dan aspek legalnya. Tidak bisa tentunya kalau kita ingin menajdi polisi yang hebat kemudian kita berpakaian seperti polisi. Jangan diterapkan secara hitam putih seperti itu. Terjemahkan hal ini dari sisi bagaimana kita bisa menjadi seperti apa yang kita inginkan.

Jangan ragu-ragu menggunakan teknis “seperti” karena sudah banyak terbukti keberhasilannya. To be a good manager you should look like a manager, think like a manager, act like a manager, and work like a manager. Selamat mencoba, kita buktikan bahwa kita bisa menjadi manajer yang hebat![ap]

* Agung Praptapa adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga Direktur AP Consulting, yang memberikan jasa konsultasi bisnis dan training di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam maupun luar negeri, termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Agung adalah Kolomnis Tetap di Andaluarbiasa.com dan saat ini sedang menantikan penerbitan buku perdananya. Ia dapat dihubungi melalui: www.praptapa.com atau pos-el: praptapa[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.3/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Mengapa Berubah Tidak Mudah?

ap1Oleh: Agung Praptapa*

Motivasi untuk barubah tampaknya akan terus menjadi primadona sepanjang masa. Toko buku dipenuhi oleh buku-buku yang intinya mengajak pembacanya untuk berubah. Bahkan, kata perubahan atau change sering mampu menyihir orang untuk melihat harapan baru. Hampir semua orang ingin berubah. Tentunya berubah untuk menjadi yang lebih baik. Orang pada prinsipnya memahami bahwa bila perubahan itu benar-benar terjadi, maka ada harapan baru untuk menjadi lebih baik. Jadi, apa lagi kurangnya kata perubahan? Sangat powerful, bukan?

Sayangnya kekuatan kata perubahan itu tidak selalu seiring dengan aktivitas untuk berubah (action to change). Orang ingin perubahan tetapi orang juga tidak suka perubahan. Ini yang menjadikan perubahan itu rumit! Kita sadar bahwa kita harus bangun lebih pagi agar kita lebih produktif karena memulai aktivitas lebih dini. Namun, yang terjadi adalah tidak mudah untuk kita mengubah kebiasaan untuk bangun lebih pagi. Banyak hal yang kita ingin ubah. Kita ingin berubah dari suka menunda pekerjaan menuju tidak suka menunda pekerjaan; dari boros ke hemat; dari penakut ke pemberani; dari miskin ke kaya; dan masih banyak lagi daftar perubahan yang kita ingin lakukan. Tetapi, mengapa kita sendiri cenderung tidak mau berubah? Mengapa berubah tidak mudah?

Banyak pakar manajemen perubahan yang memberi resep untuk berubah, baik untuk perubahan diri maupun perubahan organisasi. Namun, jarang diteliti mengapa resep perubahan sering tidak dapat bekerja dengan baik. Secara konsep sudah luar biasa, tetapi hasilnya tidak juga menggembirakan. Mengapa?

Profesor John P. Kotter, pakar manajemen perubahan dari Harvard Business School, mengatakan bahwa orang maupun organisasi gagal berubah yang pertama-tama dikarenakan mereka tidak dapat melihat faktor kemendesakan (sense of urgency) dari perubahan tersebut. Semakin kita melihat suatu hal itu mendesakapa lagi yang akan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup seseorang maupun organisasiakan semakin serius hasrat kita untuk berubah.

Saat kita ingin mengubah kebiasaan untuk bangun paginamun apabila kita tidak jadi bangun pagi tidak akan ada efek yang serius untuk kitamaka di sini kita tidak melihat adanya kemendesakan mengubah kebiasaan dari bangun siang ke bangun pagi tersebut. Namun, misalnya kita dihadapkan pada kondisi bahwa karena suatu alasan maka kantor kita harus buka pukul 5 pagi, dan bagi karyawan yang belum hadir pada pukul 5 pagi akan langsung dipecat tanpa alasan! Maka, di sini bagun pagi menjadi hal yang sangat penting, sangat menentukan hidup mati kita, sangat urgent!

Kondisi mana yang akan mendorong kita untuk cepat berubah? Tentunya kondisi yang kedua karena bila kita tidak bisa bangun sebelum pukul 5 pagi maka PHK menanti! Ini urgent!

Jadi, agar perubahan efektif kita harus pandai-pandai menciptakan sense of urgency. Kita harus bisa secara cerdas merumuskan bahwa perubahan yang sedang kita lakukan ini sangat menentukan kelangsungan hidup kita. Namun, harus diingat bahwa kita tidak boleh hanya berpura-pura mendesak! Jangan lakukan ini karena hanya membohongi diri sendiri. Sense of urgency harus asli, yang didapatkan dari perenungan yang mendalam, dan ada gambaran yang gamblang di depan mata kita bahwa perubahan tersebut benar-benar mendesak.

Alasan berikutnya mengapa berubah itu tidak mudah adalah karena perubahan selalu menimbulkan ketidaknyamanan. Hampir semua perubahan akan menjadikan kita lebih baik, namun untuk menuju ke sana harus ada perubahan kebiasaan, perubahan proses, bahkan mungkin perubahan filosofi. Sangat tidak masuk akal kalau kita mengharapkan perubahan hasil tanpa mengubah proses untuk mendapatkan hasil tersebut. Kalau kita sudah terbiasa makan dengan tangan kanan kemudian kita ubah menjadi makan dengan tangan kiri, bisa kita bayangkan betapa tidak nyamannya. Nah, di sini kita harus pandai-pandai meyakinkan diri sendiri bahwa ketidaknyamanan itu sifatnya hanya sementara. Apabila perubahan yang kita lakukan sudah menjadi kebiasaan akhirnya akan menjadi nyaman pula.

Orang memang tidak mudah untuk meninggalkan comfort zone, yaitu suatu zona ataupun kebiasaan yang selama ini telah kita rasakan nyaman. Confort zone bukan suatu hal yang objektif. Ini menyangkut perasaan. Orang yang sudah terbiasa hidup di kota metropolitan akan tetap nyaman di tengah hiruk pikuk kota yang serba ada. Mereka merasa tidak nyaman bila harus hidup dalam suasana sepi di desa yang tentunya tidak didukung fasilitas yang sebaik di kota metropolitan. Jadi, orang kota memiliki kenyamanan tersendiri untuk hidup di kota, dan orang desa memiliki kenyamanan tersendiri pula untuk hidup di desa. Namun, mengapa ada orang desa yang kemudian nyaman hidup di kota metropolitan, dan sebaliknya ada pula orang kota yang kemudian hidup nyaman tinggal di desa? Ya, benar. Itu karena mereka akhirnya menemukan comfort zone yang baru.

Di sini kita bisa melihat bahwa sebenarnya perubahan itu, kalau kita sabar, kita akan menemukan comfort zone baru yang mungkin lebih nyaman. Masalahnya di sini, cukup sabarkah kita untuk meninggalkan comfort zone lama menuju comfort zone yang baru? Jadi, kekurangsabaran juga merupakan salah satu alasan mengapa berubah itu tidak mudah. Kesabaran jangan disalahartikan menjadi menerima apa adanya dalam kondisi apa pun. Kesabaran harus diartikan dalam koridor keteguhan hati untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Orang yang sabar akan terus berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Sebagai kesimpulan, perubahan itu tidak mudah kalau tidak ada unsur kemendesakan dalam perubahan tersebut. Perubahan juga tidak mudah karena pada mulanya perubahan akan menimbulkan ketidaknyamanan. Orang cenderung enggan meninggalkan comfort zone walaupun sebenarnya perubahan adalah perjalanan menuju comfort zone yang baru. Sayangnya, tidak banyak orang yang cukup sabar dan konsisten berjuang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Berubah? Siapa takut![ap]

* Agung Praptapa adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga Direktur AP Consulting, yang memberikan jasa konsultasi bisnis dan training di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Kolumnis tetap di andaluarbiasa.com. Tulisan ini untuk mendukung training “Empowering Your Confidence in Public Speaking”. Website: www.praptapa.com, pos-el: praptapa[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

Supaya PeDe Berbicara di Depan Umum (3)

apOleh: Agung Praptapa*

Pada tulisan yang pertama sudah kita bicarakan alasan-alasan mengapa orang tidak percaya diri untuk berbicara di depan umum. Kemudian, pada tulisan kedua kita membicarakan tentang gangguan fisik dan gangguan mental yang menyebabkan seseorang menjadi tidak percaya diri saat berbicara di depan umum. Dalam tulisan terakhir ini kita akan diskusikan bagaimana kita membangun kepercayaan diri dalam berbicara di depan umum.

Kepercayaan diri bukanlah suatu bawaan, tetapi hasil dari suatu proses dan pengalaman yang akhirnya memberikan kepercayaan seseorang kepada diri sendiri seberapa jauh ia akan berhasil melakukan suatu pekerjaan dengan baik. Kepercayaan diri sifatnya tidak permanen, bisa naik turun. Dengan demikian, pada dasarnya kepercayaan diri bisa diatur (managed). Jadi, bagaimana agar kita pede berbicara di depan umum? Mari kita bahas terlebih dahulu bagaimana kita bisa mengubah pikiran kita yang tadinya tidak percaya diri menjadi sosok yang percaya diri. Pertama-tama kita bicarakan membangun kepercayaan diri secara umum, dan kemudian disusul dengan membangun kepercayaan diri saat berbicara di depan umum.

Untuk menjadi percaya diri, pertama kita harus mampu mendefinisikan diri sendiri maupun orang lain secara postif. Hal ini bisa dilakukan dengan cara memandang diri sendiri maupun orang lain sebagai orang yang baik. Pada dasarnya semua orang baik, sehingga tidak ada alasan buat kita untuk tidak percaya diri. Kita juga dapat melakukan self hypnotize (menghipnosis diri sendiri) untuk meyakinkan diri sendiri bahwa kita adalah seorang profesional yang selalu memberi yang terbaik. Sebagai seorang yang profesional mengapa harus tidak percaya diri?

Yang kedua, kita harus menyadari adanya hukum aksi reaksi. Reaksi sangat bergantung pada aksi. Dengan demikian aksi kita merupakan kunci untuk mendapatkan reaksi yang kita harapkan. Kalau kita bersemangat, orang lain akan bersemangat pula. Kalau kita memberi perhatian, orang lain akan memberikan perhatian pula. Jadi, reaksi yang akan kita dapatkan sangat bergantung kepada aksi yang kita berikan.

Ketiga, kita harus berani membuat ketetapan diri untuk menghalau dan menghadang perasaan-perasaan negatif yang akan mengganggu kepercayaan diri kita. Misalnya, kita membuat keputusan untuk menerima hal positif saja dan tidak akan mau menerima pengaruh negatif. Ketetapan ini sebaiknya diuangkapkan dalam bahasa yang menurut kita gaul dan komunikatif agar raut muka kita tidak tegang seperti orang sedang menantang. “Maaf, gue cuma doyan positive thinking, gue enggak doyan negative thinking!” “Gua enggak bakalan mati walau apa pun elu bilang!” Cara ini bukan berarti kita membohongi diri sendiri. Bukan. Tetapi, kita sedang membuat ketetapan diri untuk menjadi positif.

Cara yang ke empat adalah memancing dengan gerakan tubuh. Artinya, gerakan tubuh kita harus dikondisikan seperti halnya seorang pembicara yang percaya diri. Misalnya, kita memberikan senyum yang ikhlas, badan kita tegakkan dan relaks, dan napas teratur. Badan dan pikiran pada dasarnya menyatu. Kalau pikiran kita loyo, badan kita akan loyo pula. Namun sebaliknya, gerakan badan dapat pula memengaruhi pikiran kita. Kalau pancaran muka kita optimis, pikiran kita juga akan terpengaruh menjadi optimis pula. Gerakan tubuh yang mencerminkan orang yang percaya diri akan membuat pikiran kita menjadi percaya diri pula. Jadi, pancingan gerakan tubuh sangat penting untuk mengendalikan pikiran kita.

Cara berikutnya adalah dengan memberikan sentuhan jenaka pada diri sendiri maupun pada orang lain. Maksudnya di sini bukanlah kita harus melucu. Bukan. Tetapi kita harus belajar mencari aspek jenaka dalam segala kejadian. Misalnya, seorang yang menganggu kepercayaan diri kita bayangkan sebagai seorang bayi lucu dengan wajah tua seperti dia! Sehingga, kita tidak sempat tersinggung, tidak sempat terganggu, tetapi harus tertawa dalam hati karena geli melihat orang yang mengganggu kita tadi. Nah, dengan melihat aspek jenaka dalam setiap kejadian, ekspresi muka kita akan menjadi relaks dan tidak tegang karena pikiran kita sedang melihat sesuatu yang lucu.

Uraian di atas adalah berkenaan dengan membangun kepercayaan diri secara umum. Sekarang bagaimana kita dapat membagun kepercayaan diri dalam public speaking?

Untuk membangun kepercayaan diri sebagai public speaker kita harus memiliki persiapan yang baik. Persiapan yang baik akan membuat kita tenang karena kita sudah mendapatkan gambaran yang jelas tentang materi yang akan diberikan, kurun waktu yang kita perlukan, urutan dari satu bahasan ke bahasan berikutnya. Persiapan di sini tidak hanya persiapan materi presentasi saja, namun juga persiapan secara teknis. Misalnya, apakah microphone yang akan kita gunakan dapat dipastikan berfungsi dengan baik, apakah layout ruangan sudah seperti yang kita inginkan, apakah LCD projector telah tersedia, dan beberapa hal teknis lainnya.

Berikutnya, sebelum kita mulai berbicara, kita usahakan untuk bisa menggambarkan kejadian “public speaking” di dalam pikiran kita. Saat menggambarkan di dalam pikiran ini, kita gambarkan saja bahwa kita sedang berbicara dengan penuh kepercayaan diri. Saat benar-benar berbicara, kita lakukan saja seperti yang telah kita gambarkan tadi. Seorang pembicara yang percaya diri.

Selanjutnya jadikan berbicara atau presentasi sebagai suatu tantangan yang menarik dan menggairahkan, yang merupakan kesempatan emas bagi kita untuk mengembangkan diri. Kita tidak perlu memungkiri bahwa banyak hal dapat membuat kita tidak percaya diri. Namun, kalau hal tersebut berhasil kita taklukkan satu-persatu kita akan menjadi pahlawan untuk diri sendiri. Ini adalah tantangan yang harus kita taklukkan.

Tuntunan berikutnya agar kita menjadi percaya diri saat berbicara di depan umum adalah dengan belajar untuk tenang saat stres. Memang benar manusia tidak bisa 100 persen terhindar dari stres, tetapi harus kita ingat bahwa stres yang ter-managed dengan baik justru positif bagi kita. Kebanyakan orang yang panik akan tergesa-gesa, dan ini akan berakibat buruk bagi presentasi kita. Kita perlu calm and slow down. Kalau kita tenang, kita akan kelihatan percaya diri. Kalau kita kelihatan percaya diri, kita akan benar-benar menjadi percaya diri.

Senyum juga merupakan senjata yang ampuh untuk mengalahkan ketidakpercayaan diri. Orang yang tersenyum akan kelihatan lebih pede. Senyum juga akan memancing pikiran kita lebih tenang dan lebih jernih.

Yang terakhir adalah kita harus latihan mengendorkan otot dan menghilangkan tekanan pada badan kita. Jadi, ini merupakan latihan fisik. Coba latih badan kita untuk lebih tenang, lebih relaks, dan lebih tegap. Kalu perlu jadikan hal ini sebagai senam pagi. Tegakkan badan, tegakkan kepala, senyum, otot dikendorkan, tatap mata dengan tajam tetapi bersahabat. Lakukan latihan fisik ini setiap pagi. Akan lebih baik lagi apabila dilakukan di udara terbuka dengan cermin ada di depan kita. Kita akan mendapatkan udara yang segar dan kita mendapatkan pula gambaran wajah dan sikap badan kita melalui cermin.

Semoga tip-tip tentang mambangun kepercayaan diri ini berguna dan dapat diaplikasikan dengan mudah dan efektif hasilnya. Selamat mencoba, selamat berlatih, dan sukses untuk kita semua.[ap] (selesai)

* Agung Praptapa adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga Direktur AP Consulting, yang memberikan jasa konsultasi bisnis dan training di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Kolumnis tetap di andaluarbiasa.com. Tulisan ini untuk mendukung training “Empowering Your Confidence in Public Speaking”. Website: www.praptapa.com, pos-el: praptapa[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Supaya Pede Berbicara di Depan Umum (2)

ap1Oleh: Agung Praptapa*

Pada tulisan sebelumnya sudah digarisbawahi bahwa untuk menjadi pede kita harus mampu melihat diri sendiri apa adanya, harus bijak memosisikan diri sendiri maupun orang lain, dan mampu menerjemahkan lingkungan sewajarnya. Kemampuan kita melihat diri sendiri secara manusiawi akan menempatkan diri kita maupun orang lain serta lingkungan ke dalam porsi yang benar. Hal tersebut akan melandasi kita supaya bisa pede dengan wajar, tanpa dibuat-buat. Namun, pede secara umum (in general situation) tidak menjamin akan pede pula saat harus berbicara di depan umum (public speaking). Mengapa demikian? Karena adanya unsur gangguan fisik dan gangguan mental dalam berbicara di depan umum.

Keadaan tidak pede saat berbicara didepan umum akan mengundang gangguan fisik maupun gangguan mental. Gangguan fisik dapat berupa tiba-tiba merasa gatal, gemetar, jantung berdebar keras, berkeringat yang tidak wajar, tangan dingin, suara parau bahkan tidak keluar, tenggorokan kering, kaki rasanya lemas, perut mulas, dan selalu ingin buang air kecil. Gangguan fisik ini kalau tidak berhasil kita atasi akan semakin membuat kita down, semakin tidak pede.

Gangguan fisik harus kita atasi secara fisik pula. Caranya adalah dengan mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Ini tidak harus dilakukan di ruang tempat kita berbicara, tetapi bisa dilakukan di luar gedung. Selanjutnya adalah kita harus mencoba tersenyum saat menarik napas maupun menghembuskan napas, sembari mengendurkan syaraf yang tegang. Saat kita tersenyum, syaraf akan terpancing untuk mengendur. Lakukan beberapa kali sampai kita merasa relaks.

Teknik lain untuk mengatasi gangguan fisik adalah dengan cara memberikan kejutan pada tubuh kita. Ini bisa kita lakukan dengan melompat yang tinggi kalau perlu sambil berteriak keras, saling menggenggam erat antara tangan kanan dan tangan kiri, atau membuat gerakan ekstrim yang membuat seolah badan kita tersengat. Malu dong melakukan gerakan kejutan di depan umum? Jangan khawatir. Ini ada triknya. Kita justru bisa mengajak peserta (audience) untuk melakukan bersama sama kita. Pernahkah Anda menjumpai pembicara yang mengajak peserta berjingkrak-jingkrak bersama sambil berteriak? Nah, ini adalah salah satu cara supaya kita memiliki kesempatan untuk menciptakan kejutan bagi fisik kita. Dengan cara ini peserta maupun pembicara menjadi lebih relaks.

Gangguan lain yang akan muncul saat kita tidak pede untuk berbicara di depan umum adalah gangguan mental. Gangguan mental muncul dalam bentuk perasaan khawatir secara berlebihan, grogi, minder, merasa akan diterkam oleh peserta, merasa disepelekan, merasa kecil, merasa bodoh, merasa kurang siap, dan perasaan-perasaan negatif lainnya. Gangguan mental ini juga harus kita atasi dengan menggunakan pendekatan mental pula.

Salah satu teknik yang bisa kita gunakan untuk mengatasi gangguan mental adalah dengan membuat keputusan kepada diri sendiri untuk tidak khawatir, tidak grogi, tidak minder, dan sebagainya. Perintahkan diri sendiri untuk tidak khawatir. Katakan dalam hati dengan lembut pada diri sendiri bahwa kita tidak perlu khawatir karena situasi akan membaik dan memihak pada kita. “Don’t worry, you will be fine.” Katakan berulang-ulang. Hipnosis diri sendiri. Kondisikan hati kita akan menerima saran baik dari kita sendiri. Lakukan lagi sampai kita merasa lebih baik.

Gangguan mental dapat pula kita atasi dengan cara melakukan reposisi pada diri sendiri maupun orang lain. Caranya adalah dengan memberikan posisi yang serba positif kepada peserta. Posisikan peserta sebagai pemaaf, orang yang menyenangkan, penuh pengertian, dan akan memberikan perhatian pada acara ini. Cara ini akan efektif karena saat kita grogi misalnya, karena ada peserta yang lebih tinggi pangkatnya atau lebih hebat gelarnya, adalah posisi yang kita pilih untuk diri sendiri. Saat itu kita memosisikan sebagai lebih rendah maka mereka menjadi tampak lebih tinggi.

Di sini perlu kearifan untuk menempatkan segala sesuatu pada porsi yang semestinya. Apa sih salahnya kalau ada peserta yang memiliki gelar lebih hebat dari pada pembicara? Apa pula salah pembicara kalau pangkatnya lebih rendah dari pada peserta? Posisikan diri sendiri maupun orang lain pada porsi yang wajar, maka kita akan mampu mengatasi gangguan mental.

Teknik lain untuk mengatasi gangguan mental adalah dengan cara yang disebut unfreezing, atau mencairkan kebekuan. Ini bisa kita lakukan dengan cara melakukan komunikasi awal dengan peserta. Kita bisa menanyakan sesuatu yang ringan-ringan saja yang untuk menjawab mereka tidak perlu berpikir keras. Misalnya kita menanyakan, “Siapa yang hadir di sini yang ingin kaya?” Mintalah mereka mengangkat tangan apabila ingin kaya. Pertanyaan seperti ini tentunya memiliki jawaban pasti karena semua orang ingin kaya. Tetapi, dengan kita tanyakan kepada peserta kita memiliki kesempatan untuk berinteraksi. Interaksi ini akan mencairkan suasana sehingga gangguan mental bisa kita atasi. Tentu saja pertanyaan yang kita ajukan harus ada hubungannya dengan topik yang akan kita sampaikan. Kalau kita sedang berbicara tentang kesehatan kita bisa menanyakan “Siapa di antara yang hadir di sini yang ingin sehat?”

Haruskah unfreezing dilakukan dengan bertanya? Tidak. Kita bisa juga melakukan unfreezing dengan menyapa peserta yang kita kenal, memuji baju yang dikenakan salah satu atau beberapa peserta, menyampaikan kata-kata bijak yang sesuai topik, dan kemudian menanyakan kepada peserta setuju atau tidak dengan kata-kata bijak tersebut. Atau cara-cara lain, yang penting kita bisa membuka interaksi dengan peserta agar kebekuan bisa cair.

Unfreezing bisa juga dilakukan dengan bertanya kepada peserta suatu pertanyaan yang sudah kita atur jawabannya. Misalnya, apabila ditanya apa kabar, mereka harus menjawab “luar biasa”, “fantastik”, “super”, dan jawaban lain yang membangkitkan semangat.

Ada pula yang mengatasi gangguan mental dengan cara humor, yaitu dengan memberikan sentuhan jenaka bagi peserta yang membuat kita grogi. Cara ini bukan berarti kita harus melucu, tetapi kita membayangkan mereka dalam posisi lucu sehingga kita bisa tertawa dalam hati. Misalnya, peserta yang matanya besar kita bayangkan bahwa matanya lebih besar lagi, lebih bulat, seperti mata Bagong, tokoh pewayangan yang selalu melucu. Peserta yang berjenggot kita bayangkan seperti seekor kambing, dan seterusnya.

Ini memang butuh kreativitas. Membayangkan wajah jelek dan lucu tidaklah mudah. Dalam training public speaking, untuk mendapatkan gambaran tentang wajah jelek dan lucu saya sering minta kepada peserta untuk berekspresi yang sejelek mungkin dan kemudian selucu mungkin. Peserta lain mengamati sehingga peserta memiliki inventory bayangan wajah jelek dan lucu. Inventory ini akan berguna dikemudian hari saat mereka harus mendapatkan sisi lucu dari peserta. Tertarik untuk mencoba? Silakan. Asyik juga cara ini.[ap](bersambung)

* Agung Praptapa adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga Direktur AP Consulting, yang memberikan jasa konsultasi bisnis dan training di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Kolumnis tetap di andaluarbiasa.com. Tulisan ini untuk mendukung training “Empowering Your Confidence in Public Speaking”. Website: www.praptapa.com, pos-el: praptapa[at]yahoo[dot]com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.6/10 (14 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +7 (from 7 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox