No Mind, Hidup dengan Inspirasi
Editor | Kolom Lepas | June 22nd, 2009 | 5 Comments »
Oleh: Ade Asep Syarifuddin*
Suatu hari si Rendah Hati duduk di taman belakang rumahnya. Di kejauhan terlihat sebuah gunung tinggi menjulang. Sambil menikmati sejuknya hawa sore ia merenung tentang perjalanan hidupnya dari kecil sampai dewasa. Dia merasa bahwa hidupnya belum betul, masih banyak kesalahan-kesalahan yang dilakukan. Hatinya belum merasa plong, belum lega. Terasa masih ada ganjalan ketika memegang dadanya.
Dia memiliki cara-cara sendiri untuk mengukur apakah yang dilakukannya itu sudah benar atau belum. Ia coba tarik napas dalam-dalam berulang kali, apakah setiap tarikan napas itu terasa lembut dan lega, atau setiap tarikan napas terasa seperti ada kerikil yang menyumbat. Kalau napas yang keluar masuk terasa lega, ia bisa menyimpulkan bahwa sampai hari itu dia telah berbuat yang benar. Sementara, ketika tarikan napas terasa seperti ada endapan, sesak, atau sesuatu yang tidak enak lainnya, ia bisa memastikan bahwa sampai hari itu perbuatan dan pikirannya sedang kacau. Paling tidak berpikir yang negatif.
Ia mencoba untuk meneliti segala perbuatannya yang selama ini dia lakukan. Pertanyaan yang pertama yang dia lontarkan pada dirinya adalah, apakah segala perbuatan yang telah dilakukannya sudah benar atau belum? Ah, ini pertanyaan sulit. Kalau benar menurut siapa? Dan, kalau salah menurut siapa? Selama ini yang bisa mengatakan benar dan salah hanyalah Pak Hakim, Pak Polisi, KPK, atau bahkan Pak Hansip. Tetapi, itu terjadi pada perbuatan yang jelas-jelas melanggar undang-undang atau KUHAP. Terus yang mengadili pikiran negatif siapa, ya?
Wah, itu belum ada hukumnya dan belum ada yang dirugikan. Siapa bilang belum ada yang dirugikan. Ketika kita berniat jelek pada seseorang sekecil apa pun jelas-jelas akan merugikan tubuh kita. Misalnya saja iri kepada kekayaan orang, dengki kepada prestasi tetangga. Ini jelas merugikan kita sendiri. Dalam waktu yang cukup lama iri dengan dengki serta benci itu bisa jadi penyakit kalau tidak dilepaskan. Mestinya ada hukum yang memvonis niat. Kalau kita berniat buruk maka harus ada vonisnya. Siapa hakimnya? Ya, kita sendiri. Hukumannya apa? Bermacam-macam, yang jelas dengan hukuman tadi membuat kita kapok dan tidak mengulangi lagi.
Si Rendah Hati mencoba-coba mengidentifikasi apa saja sih yang membuat seseorang itu berbuat kesalahan. Kesalahan bukan dalam pengertian hukum positif, tetapi kesalahan yang bisa membuat seseorang terhambat atau tersabotase. Ia berpikir keras sebenarnya siapa yang paling bertanggung jawab terhadap perbuatan kita. Kaki kita? Bukan. Tangan kita? Bukan. Mata kita? Bukan. Terus siapa? Pikiran? Ya… ya…. betul pikiran kita. Sumber segala sumber persoalan adalah pikiran kita. Pikiran persis seperti serigala liar, atau tepatnya apa ya…. Yang jelas sangat liar, dalam satu waktu bisa berpikir bermacam-macam hal. Dan, sama sekali tidak bisa dikendalikan. Ketika pikiran memikirkan sesuatu siapa yang bisa mencegah dan menghentikan yang dipikirkan?
Terus kesalahan pikiran di mana? Tanya si Rendah Hati pada dirinya lagi. Coba saja evaluasi dosa-dosa besar pikiran. Pernah melihat orang yang pakaiannya compang-camping? Apa pendapat pikiran kepada orang yang berpakaian compang-camping tadi. Wah… hati-hati ada orang gila, awas diserang. Ternyata, dulu pernah punya pengalaman diserang orang gila dengan pakaian yang persis sama. Ini berarti, pengalaman yang pernah terjadi menjadi rujukan kebenaran. Padahal, tidak semua pengalaman yang pernah terjadi dan terjadi lagi di kemudian hari menjadi sama akibatnya. Jadi, belenggu pertama pikiran yang perlu dikoreksi adalah belenggu pengalaman.
Terus, kesalahan pikiran yang lainnya apa? Dosa pikiran yang kedua adalah, keterikatan pada materi. Coba lihat seorang kaya raya yang bergelimang harta. Bagaimana sikap mental orang-orang yang memiliki harta banyak? Apakah dia semakin rendah hari atau malah sebaliknya. Kalau dilakukan penelitian, hampir 70 persen orang yang memiliki harta lantas dia berubah sikap. Apalagi kekayaan yang dia miliki tidak dibarengi dengan kekayaan mental. Cenderung sombong, merendahkan orang lain, apabila ada orang yang terlihat miskin datang ke rumahnya dia akan berpikir bahwa orang tersebut akan meminta hartanya.
Si Rendah Hati terus mencari lagi kesalahan-kesalahan pikiran. Dan dia berhasil menemukan yang ketiga, dosa besar pikiran adalah belenggu persepsi atau tafsiran yang keliru. Pernah melihat sebuah gambar gadis cantik usia 17 tahun dan nenek tua 70 tahun di buku Seven Habit karya Steven R. Covey? Dari satu persepsi atau sudut pandang gambar itu adalah gadis cantik usia 17 tahun, sementara dari sudut pandang yang lain gambar itu adalah nenek-nenek tua. Mana yang benar? Dua-duanya benar, jelas kita tidak bisa mengatakan satu pendapat saja.
Ini baru terjadi pada sebuah gambar, bagaimana kalau terjadi pada tafsiran agama? Bisa-bisa semua orang yang berbeda tafsir dengan dirinya dianggap kafir semua, atau salah semua. Wah, bisa bahaya ini. Bencana dan perang bisa terjadi di mana-mana, bahkan anak bisa memusuhi orang tuanya gara-gara memiliki tafsir yang berbeda atas ajaran agamanya. Ini sudah terjadi di sekeliling kita. Pikiran dalam kasus ini benar-benar menjadi bumerang bagi lingkungnanya.
Terus masih adakah kesalahan-kesalahan pikiran yang lain? Nah, ini yang berikutnya, terlalu percaya kepada pikiran Anda juga merupakan kesalahan dari pikiran. Dengan kata lain, kita menuhankan pikiran kita sendiri. Kok, begitu? Kalau bukan percaya kepada pikiran lantas kepada siapa? Bukan itu masalahnya, kita boleh percaya kepada pikiran tetapi jangan 100 persen percaya. Setelah diteliti pikiran itu memiliki banyak kelemahan-kelemahan, pikiran itu memiliki kekurangan-kekurangan. Bahkan, untuk kelompok-kelompok tertentu sering kali pikiran digunakan untuk memprovokasi kelompok-kelompok yang berbeda untuk mendukung dan menghujat kelompok lain. Wah… ini sudah permusuhan. Tidak ada lagi perdamaian.
Pertanyaan terakhir, ketika kita sudah tidak lagi percaya kepada pikiran yang sering kali memanipulasi fakta dan data, lantas kita percaya kepada siapa? Ini pertanyaan sulit yang tidak bisa langsung dijawab. Si Rendah Hati merenung, dia tidak berpikir, dia mencari kedamaian, dia pasrah, dia ikhlas, dia meminta petunjuk, dia tertidur. Dalam tidurnya itu ia bertemu dengan seorang sepuh yang arif bijak. Dalam gambarannya orang tadi berpakaian serba putih dan selalu memancarkan sinar bahagia dan senyuman.
Si Rendah Hati bertanya, “Bapak yang bijak… saya sedang bingung. Saya meminta pencerahan. Setelah dievaluasi secara seksama, ternyata pikiran adalah sumber persoalan negatif di dunia ini. Padahal, saya tidak bisa lepas dari pikiran barang sedetik pun. Lantas apa yang harus saya lakukan. Saya seperti terbelenggu pikiran dan tidak bisa lari darinya.”
Si Bapak Bijak tersebut tersenyum dan menatap dalam-dalam si Rendah Hati. Dia tidak lantas menjawab, dia menghela napas dalam-dalam. Dia menatap langit yang mendung. Terlihat mendung tersebut diterpa angin dan menghilang. “Anakku…. Engkau melihat langit dan awan di atas sana? Langit dan mendung itu seperti menyatu, tetapi sadarilah bahwa langit tersebut sama sekali tidak merasa memiliki awan tadi. Suatu hari awan tadi seperti menyatu dengan langit, tetapi ketika yang lain awan tersebut pergi entah ke mana.”
“Apa hubungannya dengan pertanyaanku, Bapak Bijak?” tanya si Rendah Hati makin bingung. “Engkau memiliki pikiran, memiliki pendapat, memiliki pengalaman, memiliki tafsir dan persepsi, memiliki literatur dan referensi yang cukup banyak. Tetapi, jangan sekali-kali semua itu menjadikan engkau lupa bahwa semua itu hanya sebuah tangga cerita, hanya sebuah file yang pernah terjadi. Karenanya, semuanya itu jangan dijadikan satu-satunya sumber dan rujukan kebenaran.”
“Kalau begitu siapa yang dijadikan rujukan kebenaran kalau pikiran ini sumber persoalan?” tanya si Rendah Hati lagi.
“Ini spirit hidup yang harus menjadi pegangan kita. Jadikan inspirasi sebagai petunjuk hidup, dan janganlah memori baik dalam bentuk pengalaman, persepsi, tafsir, dan belenggu-belenggu lainnya dijadikan pegangan hidup. Inspirasi itu ada dalam hati yang bersih, rasa yang bersih, maka bersihkanlah dirimu setiap saat supaya inspirasi itu juga datang setiap saat. Inspirasi itu adalah kabar yang benar sampai-sampai pikiran terkadang tidak bisa menangkap apakah yang muncul itu inspirasi atau memori,” katanya.
“Tetapi…,” lanjut Bapak Bijak tadi. “Memori itu berasal dari kejadian masa lalu, pengalaman masa lalu, pengaruh masa lalu yang ikut serta mempengaruhi keputusan kita pada masa sekarang. Sementara, inspirasi adalah berupa suara atau bisikan atau ada yang mengatakan ilham, indra keenam, dll. Tetapi, memang inspirasi itu bisa datang dengan beberapa catatan. Catatan yang pertama kalau kita sudah berusaha terus-menerus membersihkan diri kita dengan berbagai macam cara. Kalau Joe Vitale dalam bukunya Zero Limits dengan cara mengatakan secara berulang-ulang kata-kata pembersihan berupa kata-kata ‘Saya mengasihi Anda, saya menyesal, maafkan saya, dan terimakasih’.”
“Dalam ajaran yang lain, Islam misalnya, juga mengajarkan istilah istighfar (maafkan saya), syukur (terimakasih), mencintai sesama, menyesal terhadap segala dosa. Juga ajaran agama yang lain hampir-hampir sama. Itulah proses pembersihan diri secara terus menerus untuk menolkan pikiran (No Mind). Bukan tidak punya pikiran, tetapi pikiran sudah sangat bersih, sehingga yang keluar hanyalah inspirasi, kata-kata bijak penuh makna yang dalam untuk kebaikan dan kedamaian dunia ini.”
Si Rendah Hati terbangun. Ia bermimpi tetapi seperti tidak bermimpi karena yang dia lihat sangat jelas. Tetapi, dari sana dia menemukan jawaban atas segala gundah gulana pikirannya. “Saya memiliki pikiran yang sangat hebat, tetapi saya harus menjaga pikiran agar sesuai dengan tujuan penciptaan awal, menyebarkan perdamaian, cinta dan kasih sayang, dan rasa syukur. Saya harus menolkan pikiran terus-menerus sehingga yang keluar adalah inspirasi dan bukan hawa nafsu.”
Salam kedamaian, saya mencintai Anda, saya mengasihi Anda, saya menyesal, maafkan saya, terima kasih. Sukses selalu buat Anda.[aas]
* Ade Asep Syarifuddin adalah Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan, surat kabar harian lokal di bawah naungan Jawa Pos Group. Awal kariernya di Harian Radar Cirebon tahun 1999 selama 4 tahun, kemudian ke Radar Banyumas 3 tahun, dan terakhir pada tahun 2007 menerbitkan Harian Radar Pekalongan. Profesinya adalah sebagai jurnalis yang juga hobi menulis persoalan-persoalan pengembangan diri, mindset, NLP, pendidikan, dll. Ade bisa dihubungi di asepradar[at]gmail[dot]com dan blog http://langitbirupekalongan.blogspot.com.
Oleh: Ade Asep Syarifuddin*
