Makna di Balik Derita

aasOleh: Ade Asep Syarifuddin

Seorang psikiater, Victor Emil Franklin, suatu hari dipaksa hidup di camp konsentrasi NAZI. Ayah, ibu, saudara, dan isterinya dibunuh semua. Ia sendiri dipaksa menyaksikan berbagai bentuk penyiksaan dan penderitaan. Satu hal yang ia amati dalam pengalaman tragis itu adalah banyaknya tawanan yang meninggal dunia karena ketakutan dan putus asa, bahkan sebelum disiksa. Sementara ada sekelompok tawanan yang disiksa bagaimanapun, dalam penderitaan seperti apa pun, mereka tetap tegar bertahan dan bahkan akhirnya selamat seperti dirinya.

Orang-orang yang bertahan ini kemudian diteliti oleh sang psikiater. Dan ternyata ditemukan fakta bahwa mereka bisa bertahan karena memiliki meaningful life. Mereka bisa menemukan makna di balik penderitaan. Mereka bisa mengatasi ketakutan karena ada makna di balik ketakutan tersebut. Dalam bahasa Nietzhe, “If you know the why, your can bear any how“. Jika Anda tahu untuk apa Anda menderita, maka Anda akan bisa menahan penderitaan seberat apa pun.

Cerita di atas benar-benar menginspirasi kita untuk memberikan makna terhadap segala hal yang terjadi pada diri kita, terutama hal-hal yang tidak enak dengan sebuah gambaran yang menyenangkan. Setiap hari silih berganti datang sesuatu yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Kebanyakan kita akan tertawa apabila menemukan kebahagiaan, dan sebaliknya akan menangis apabila menemukan hal-hal yang menyedihkan. Itu tidak keliru karena orang pada umumnya memaknai sesuatu persis seperti yang dirasakan oleh perasaan pada saat itu.

Namun apabila kita memaknai sesuatu seperti yang dilihat dan didengar dan dirasakan apa adanya, maka akibatnya hidup kita akan sangat rentan untuk berubah setiap saat. Pagi hari mendengar kabar mendapat hadiah, langsung gembira tiada tara. Beberapa jam kemudian mendengar keluarga ada yang sakit langsung menangis. Sore hari bisa jadi tertawa kembali, begitu seterusnya.

Kita hidup dibagi dua, yang pertama hidup jangka pendek dan yang kedua jangka panjang. Agar kita memiliki pola hidup yang konstan, semangat yang stabil dan mental yang kokoh, maka setiap orang harus membuat rancangan dan gambaran hidup di akhir nanti akan seperti apa.

Seseorang yang dicap teroris tidak lagi memiliki ketakutan berhadap-hadapan dengan senjata dan bom. Makna apa di balik kenekatan mereka tersebut? Mereka memiliki keyakinan bahwa melawan Amerika itu adalah jihad fi sabilillah. Sementara jihada balasannya adalah surga. Barangsiapa yang meninggal karena jihad, dia akan bertemu dengan bidadari di surga. Tidak heran kalau mereka menjadi sangat nekat dan tidak lagi memiliki rasa takut, karena makna di balik itu sangat mendalam.

Atau contoh sederhana lain, seorang ibu yang hamil selama 9 bulan, bukan tanpa penderitaan. Di awal-awal kehamilan, biasanya struktur tubuh berubah, dan dengan sendirinya kimia tubuhpun memengaruhi fisik secara langsung. Ada rasa mual, rasa tidak nyaman, muntah, tidak enak badan, dan lain-lain. Bulan semakin berjalan bukannya tidak ada risiko tambahan, bebanpun semakin bertambah. Tapi mengapa seorang ibu tetap masih bertahan, bahkan tersenyum ketika hamil? Itu karena dia membayangkan bayi mungil yang lucu sebentar lagi akan menemani dia dan menjadi teman hidupnya. Harga kehamilan 9 bulan dengan diiringi rasa sakit dan tidak nyaman nyaris tidak terasa karena memiliki makna lain.

Atau seorang ayah yang nekat masuk ke dalam kobaran api yang sedang menyala. Ia langsung masuk tanpa tanya sana sini. Ternyata dia mau menolong anaknya yang ada di dalam rumah yang terbakar tersebut. Bagi kita yang tidak memiliki niat di balik kenekatan tersebut, rasa-rasanya tidak akan coba-coba mendekati api yang sedang berkobar. Dan banyak lagi cerita-cerita lain yang menunjukkan heroism, dan secara logika tidak masuk akal orang tersebut melakukannya.

Kalau dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, kitapun bisa melakukan hal-hal yang agak nekat tersebut untuk kepentingan dan kebaikan kita di masa mendatang. Seseorang yang bekerja sangat disiplin—bangun pagi-pagi, berangkat ke kantor, mengadakan rapat, dan pergi menemui klien. Kemudian sore harinya rapat kembali. Dia melakukannya berulang kali setiap hari. Ada dua kemungkinan reaksi karyawan yang melakukan rapat dan disiplin tiap hari. Karyawan pertama akan merasa terbebani karena merasa lelah dan capek. Sementara karyawan kedua merasa sangat bersemangat karena dia sadar dia akan mendapatkan reward atau penghargaan dari perusahaannya.

Kasus para pekerja Jepangpun menjadi contoh lain yang patut ditiru. Di Jepang memang memiliki jam kerja yang sama dengan di Indonesia, 8 jam, termasuk istirahat 1 jam. Tetapi bukannya 8 jam-1 jam, melainkan 8 jam + 1 jam istirahat. Alhasil jam kerja totalnya adalah 9 jam. Hanya memang ketika bekerja, mereka benar-benar bekerja, tidak lagi dibarengi dengan kegiatan lain yang tidak mendukung pekerjaan. Sementara orang Indonesia, ketika jam kerja masih menyempatkan diri untuk berleha-leha—entah itu untuk merokok, ngegosip, dan ngobrol tidak karu-karuan dengan teman-temannya. Para pekerja di Jepangpun memiliki makna bahwa dengan bekerja mereka memiliki harga diri dan kebanggaan yang tinggi karena bisa membangun negaranya lewat pekerjaan mereka. Tidak heran dengan semangat bekerjanya, Jepang menjadi negara yang sangat diperhitungkan di dunia.

Satu contoh lagi yang bisa dijadikan analogi betapa penderitaan yang kita alami bisa memiliki makna yang sangat dalam. Hal ini terjadi pada orang yang berpuasa. Logikanya tubuh membutuhkan nutrisi untuk aktivitas dan kegiatan sehari-hari. Tapi karena ingin meraih sesuatu makna yang lebih dalam, seseorang melakukan puasa seharian, tidak makan, tidak minum. Hanya kekuatan makna di balik puasa tersebut sajalah yang bisa membuat seseorang bertahan dan bahkan gembira menjalankan puasa. Bahkan sebagian orang sama sekali tidak merasakan lapar atau haus secara berlebihan karena sudah biasa.

Pertanyaan selanjutnya, apa tujuan Anda di masa mendatang? Apakah Anda benar-benar yakin bahwa tujuan hidup tersebut memberikan arti yang sangat dalam bagi Anda? Kalau ya, pasti Anda akan mau membayar harganya, apa pun itu dan tidak ada tawar menawar. Ini bukti dari kesungguhan seseorang untuk mengejar makna yang berefek pada eksistensi diri, dan harapan yang akan datang. Semua pekerjaan menjadi sangat ringan ketika ada pemaknaan di balik penderitaan. [aas]

* Ade Asep Syarifuddin adalah Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan, surat kabar harian lokal di bawah naungan Jawa Pos Group. Awal kariernya di Harian Radar Cirebon tahun 1999 selama 4 tahun, kemudian ke Radar Banyumas 3 tahun, dan terakhir pada tahun 2007 menerbitkan Harian Radar Pekalongan. Profesinya adalah sebagai jurnalis yang juga hobi menulis persoalan-persoalan pengembangan diri, mindset, NLP, pendidikan, dll. Ade bisa dihubungi di asepradar[at]gmail[dot]com dan blog http://langitbirupekalongan.blogspot.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 10.0/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

No Mind, Hidup dengan Inspirasi

aasOleh: Ade Asep Syarifuddin*

Suatu hari si Rendah Hati duduk di taman belakang rumahnya. Di kejauhan terlihat sebuah gunung tinggi menjulang. Sambil menikmati sejuknya hawa sore ia merenung tentang perjalanan hidupnya dari kecil sampai dewasa. Dia merasa bahwa hidupnya belum betul, masih banyak kesalahan-kesalahan yang dilakukan. Hatinya belum merasa plong, belum lega. Terasa masih ada ganjalan ketika memegang dadanya.

Dia memiliki cara-cara sendiri untuk mengukur apakah yang dilakukannya itu sudah benar atau belum. Ia coba tarik napas dalam-dalam berulang kali, apakah setiap tarikan napas itu terasa lembut dan lega, atau setiap tarikan napas terasa seperti ada kerikil yang menyumbat. Kalau napas yang keluar masuk terasa lega, ia bisa menyimpulkan bahwa sampai hari itu dia telah berbuat yang benar. Sementara, ketika tarikan napas terasa seperti ada endapan, sesak, atau sesuatu yang tidak enak lainnya, ia bisa memastikan bahwa sampai hari itu perbuatan dan pikirannya sedang kacau. Paling tidak berpikir yang negatif.

Ia mencoba untuk meneliti segala perbuatannya yang selama ini dia lakukan. Pertanyaan yang pertama yang dia lontarkan pada dirinya adalah, apakah segala perbuatan yang telah dilakukannya sudah benar atau belum? Ah, ini pertanyaan sulit. Kalau benar menurut siapa? Dan, kalau salah menurut siapa? Selama ini yang bisa mengatakan benar dan salah hanyalah Pak Hakim, Pak Polisi, KPK, atau bahkan Pak Hansip. Tetapi, itu terjadi pada perbuatan yang jelas-jelas melanggar undang-undang atau KUHAP. Terus yang mengadili pikiran negatif siapa, ya?

Wah, itu belum ada hukumnya dan belum ada yang dirugikan. Siapa bilang belum ada yang dirugikan. Ketika kita berniat jelek pada seseorang sekecil apa pun jelas-jelas akan merugikan tubuh kita. Misalnya saja iri kepada kekayaan orang, dengki kepada prestasi tetangga. Ini jelas merugikan kita sendiri. Dalam waktu yang cukup lama iri dengan dengki serta benci itu bisa jadi penyakit kalau tidak dilepaskan. Mestinya ada hukum yang memvonis niat. Kalau kita berniat buruk maka harus ada vonisnya. Siapa hakimnya? Ya, kita sendiri. Hukumannya apa? Bermacam-macam, yang jelas dengan hukuman tadi membuat kita kapok dan tidak mengulangi lagi.

Si Rendah Hati mencoba-coba mengidentifikasi apa saja sih yang membuat seseorang itu berbuat kesalahan. Kesalahan bukan dalam pengertian hukum positif, tetapi kesalahan yang bisa membuat seseorang terhambat atau tersabotase. Ia berpikir keras sebenarnya siapa yang paling bertanggung jawab terhadap perbuatan kita. Kaki kita? Bukan. Tangan kita? Bukan. Mata kita? Bukan. Terus siapa? Pikiran? Ya… ya…. betul pikiran kita. Sumber segala sumber persoalan adalah pikiran kita. Pikiran persis seperti serigala liar, atau tepatnya apa ya…. Yang jelas sangat liar, dalam satu waktu bisa berpikir bermacam-macam hal. Dan, sama sekali tidak bisa dikendalikan. Ketika pikiran memikirkan sesuatu siapa yang bisa mencegah dan menghentikan yang dipikirkan?

Terus kesalahan pikiran di mana? Tanya si Rendah Hati pada dirinya lagi. Coba saja evaluasi dosa-dosa besar pikiran. Pernah melihat orang yang pakaiannya compang-camping? Apa pendapat pikiran kepada orang yang berpakaian compang-camping tadi. Wah… hati-hati ada orang gila, awas diserang. Ternyata, dulu pernah punya pengalaman diserang orang gila dengan pakaian yang persis sama. Ini berarti, pengalaman yang pernah terjadi menjadi rujukan kebenaran. Padahal, tidak semua pengalaman yang pernah terjadi dan terjadi lagi di kemudian hari menjadi sama akibatnya. Jadi, belenggu pertama pikiran yang perlu dikoreksi adalah belenggu pengalaman.

Terus, kesalahan pikiran yang lainnya apa? Dosa pikiran yang kedua adalah, keterikatan pada materi. Coba lihat seorang kaya raya yang bergelimang harta. Bagaimana sikap mental orang-orang yang memiliki harta banyak? Apakah dia semakin rendah hari atau malah sebaliknya. Kalau dilakukan penelitian, hampir 70 persen orang yang memiliki harta lantas dia berubah sikap. Apalagi kekayaan yang dia miliki tidak dibarengi dengan kekayaan mental. Cenderung sombong, merendahkan orang lain, apabila ada orang yang terlihat miskin datang ke rumahnya dia akan berpikir bahwa orang tersebut akan meminta hartanya.

Si Rendah Hati terus mencari lagi kesalahan-kesalahan pikiran. Dan dia berhasil menemukan yang ketiga, dosa besar pikiran adalah belenggu persepsi atau tafsiran yang keliru. Pernah melihat sebuah gambar gadis cantik usia 17 tahun dan nenek tua 70 tahun di buku Seven Habit karya Steven R. Covey? Dari satu persepsi atau sudut pandang gambar itu adalah gadis cantik usia 17 tahun, sementara dari sudut pandang yang lain gambar itu adalah nenek-nenek tua. Mana yang benar? Dua-duanya benar, jelas kita tidak bisa mengatakan satu pendapat saja.

Ini baru terjadi pada sebuah gambar, bagaimana kalau terjadi pada tafsiran agama? Bisa-bisa semua orang yang berbeda tafsir dengan dirinya dianggap kafir semua, atau salah semua. Wah, bisa bahaya ini. Bencana dan perang bisa terjadi di mana-mana, bahkan anak bisa memusuhi orang tuanya gara-gara memiliki tafsir yang berbeda atas ajaran agamanya. Ini sudah terjadi di sekeliling kita. Pikiran dalam kasus ini benar-benar menjadi bumerang bagi lingkungnanya.

Terus masih adakah kesalahan-kesalahan pikiran yang lain? Nah, ini yang berikutnya, terlalu percaya kepada pikiran Anda juga merupakan kesalahan dari pikiran. Dengan kata lain, kita menuhankan pikiran kita sendiri. Kok, begitu? Kalau bukan percaya kepada pikiran lantas kepada siapa? Bukan itu masalahnya, kita boleh percaya kepada pikiran tetapi jangan 100 persen percaya. Setelah diteliti pikiran itu memiliki banyak kelemahan-kelemahan, pikiran itu memiliki kekurangan-kekurangan. Bahkan, untuk kelompok-kelompok tertentu sering kali pikiran digunakan untuk memprovokasi kelompok-kelompok yang berbeda untuk mendukung dan menghujat kelompok lain. Wah… ini sudah permusuhan. Tidak ada lagi perdamaian.

Pertanyaan terakhir, ketika kita sudah tidak lagi percaya kepada pikiran yang sering kali memanipulasi fakta dan data, lantas kita percaya kepada siapa? Ini pertanyaan sulit yang tidak bisa langsung dijawab. Si Rendah Hati merenung, dia tidak berpikir, dia mencari kedamaian, dia pasrah, dia ikhlas, dia meminta petunjuk, dia tertidur. Dalam tidurnya itu ia bertemu dengan seorang sepuh yang arif bijak. Dalam gambarannya orang tadi berpakaian serba putih dan selalu memancarkan sinar bahagia dan senyuman.

Si Rendah Hati bertanya, “Bapak yang bijak… saya sedang bingung. Saya meminta pencerahan. Setelah dievaluasi secara seksama, ternyata pikiran adalah sumber persoalan negatif di dunia ini. Padahal, saya tidak bisa lepas dari pikiran barang sedetik pun. Lantas apa yang harus saya lakukan. Saya seperti terbelenggu pikiran dan tidak bisa lari darinya.”

Si Bapak Bijak tersebut tersenyum dan menatap dalam-dalam si Rendah Hati. Dia tidak lantas menjawab, dia menghela napas dalam-dalam. Dia menatap langit yang mendung. Terlihat mendung tersebut diterpa angin dan menghilang. “Anakku…. Engkau melihat langit dan awan di atas sana? Langit dan mendung itu seperti menyatu, tetapi sadarilah bahwa langit tersebut sama sekali tidak merasa memiliki awan tadi. Suatu hari awan tadi seperti menyatu dengan langit, tetapi ketika yang lain awan tersebut pergi entah ke mana.”

“Apa hubungannya dengan pertanyaanku, Bapak Bijak?” tanya si Rendah Hati makin bingung. “Engkau memiliki pikiran, memiliki pendapat, memiliki pengalaman, memiliki tafsir dan persepsi, memiliki literatur dan referensi yang cukup banyak. Tetapi, jangan sekali-kali semua itu menjadikan engkau lupa bahwa semua itu hanya sebuah tangga cerita, hanya sebuah file yang pernah terjadi. Karenanya, semuanya itu jangan dijadikan satu-satunya sumber dan rujukan kebenaran.”

“Kalau begitu siapa yang dijadikan rujukan kebenaran kalau pikiran ini sumber persoalan?” tanya si Rendah Hati lagi.

“Ini spirit hidup yang harus menjadi pegangan kita. Jadikan inspirasi sebagai petunjuk hidup, dan janganlah memori baik dalam bentuk pengalaman, persepsi, tafsir, dan belenggu-belenggu lainnya dijadikan pegangan hidup. Inspirasi itu ada dalam hati yang bersih, rasa yang bersih, maka bersihkanlah dirimu setiap saat supaya inspirasi itu juga datang setiap saat. Inspirasi itu adalah kabar yang benar sampai-sampai pikiran terkadang tidak bisa menangkap apakah yang muncul itu inspirasi atau memori,” katanya.

“Tetapi…,” lanjut Bapak Bijak tadi. “Memori itu berasal dari kejadian masa lalu, pengalaman masa lalu, pengaruh masa lalu yang ikut serta mempengaruhi keputusan kita pada masa sekarang. Sementara, inspirasi adalah berupa suara atau bisikan atau ada yang mengatakan ilham, indra keenam, dll. Tetapi, memang inspirasi itu bisa datang dengan beberapa catatan. Catatan yang pertama kalau kita sudah berusaha terus-menerus membersihkan diri kita dengan berbagai macam cara. Kalau Joe Vitale dalam bukunya Zero Limits dengan cara mengatakan secara berulang-ulang kata-kata pembersihan berupa kata-kata ‘Saya mengasihi Anda, saya menyesal, maafkan saya, dan terimakasih’.”

“Dalam ajaran yang lain, Islam misalnya, juga mengajarkan istilah istighfar (maafkan saya), syukur (terimakasih), mencintai sesama, menyesal terhadap segala dosa. Juga ajaran agama yang lain hampir-hampir sama. Itulah proses pembersihan diri secara terus menerus untuk menolkan pikiran (No Mind). Bukan tidak punya pikiran, tetapi pikiran sudah sangat bersih, sehingga yang keluar hanyalah inspirasi, kata-kata bijak penuh makna yang dalam untuk kebaikan dan kedamaian dunia ini.”

Si Rendah Hati terbangun. Ia bermimpi tetapi seperti tidak bermimpi karena yang dia lihat sangat jelas. Tetapi, dari sana dia menemukan jawaban atas segala gundah gulana pikirannya. “Saya memiliki pikiran yang sangat hebat, tetapi saya harus menjaga pikiran agar sesuai dengan tujuan penciptaan awal, menyebarkan perdamaian, cinta dan kasih sayang, dan rasa syukur. Saya harus menolkan pikiran terus-menerus sehingga yang keluar adalah inspirasi dan bukan hawa nafsu.”

Salam kedamaian, saya mencintai Anda, saya mengasihi Anda, saya menyesal, maafkan saya, terima kasih. Sukses selalu buat Anda.[aas]

* Ade Asep Syarifuddin adalah Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan, surat kabar harian lokal di bawah naungan Jawa Pos Group. Awal kariernya di Harian Radar Cirebon tahun 1999 selama 4 tahun, kemudian ke Radar Banyumas 3 tahun, dan terakhir pada tahun 2007 menerbitkan Harian Radar Pekalongan. Profesinya adalah sebagai jurnalis yang juga hobi menulis persoalan-persoalan pengembangan diri, mindset, NLP, pendidikan, dll. Ade bisa dihubungi di asepradar[at]gmail[dot]com dan blog http://langitbirupekalongan.blogspot.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Mengapa LoA Tidak Bekerja?

aasOleh: Ade Asep Syarifuddin*

TEMAN saya yang pernah menonton film The Secret sekaligus membaca bukunya protes kepada saya bahwa Law of Attraction (LoA) atau hukum tarik menarik sama sekali tidak bekerja. Dirinya melakukan semua saran dan tahapan-tahapan yang disarankan di dalam film itu. Mulai dari meminta, menerima, dan merasakan seolah-olah sudah terwujud.

Kemudian saya tanyakan apakah dirinya masih memiliki ganjalan hati sehingga tidak merasa bahagia, tidak merasa damai? Dari situ dia merenung sejenak, kemudian terlihat matanya menerawang masa lalunya. Dengan kalimat yang terbata-bata dia mengatakan bahwa dia memang memiliki dendam kepada seseorang. Sampai sekarang dendam itu belum juga hilang dari ingatannya. Bahkan dia pernah bersumpah, sebelum membalas dendam itu, dia tidak akan melupakan kejadian yang menyakitkan tadi.

Pertanyaan berikutnya, apakah LoA itu memang tidak bekerja atau memang kita sendiri yang menghambat kerja LoA? Dalam kasus ini teman saya memiliki energi negatif yang terus-menerus disimpan di dalam tubuhnya sehingga dia sama sekali tidak merasakan kebahagiaan. Bisa jadi yang menghambat terwujudnya hukum tarik-menarik adalah dendam yang tersimpan tadi. Hukum tarik-menarik ini tidak pernah berhenti bekerja, persis seperti hukum gravitasi atau hukum sebab akibat. Bila terlihat tidak bekerja dipastikan ada persoalan di dalam diri kita.

Coba bandingkan kalau kita memiliki sebuah magnet, tetapi sayangnya magnet tersebut sangat kotor dan penuh dengan tanah dengan ketebalan tidak kurang dari 1 sentimeter. Pertanyaannya, apakah magnet tersebut masih bisa bekerja secara efektif, menarik benda-benda seperti besi atau tidak? Bisa dipastikan cara kerja magnet tersebut sudah berkurang kekuatannya atau bahkan tidak bisa lagi menarik besi. Sebab, terhalang oleh kotoran tadi.

Coba magnet tersebut dibersihkan bisa dengan cara dicuci, dilap sampai kotoran-kotoran dan tanah yang menempel tadi terlepas. Sekarang, coba lagi apakah magnet tersebut bisa menarik besi atau tidak. Ternyata, magnet tadi sudah bisa bekerja sesuai dengan “fitrahnya”. Bahkan, kekuatannya terasa lebih besar. Sama halnya dengan hukum tarik-menarik, kalau di dalam diri kita banyak kotoran negatif apakah itu trauma, dendam, kebencian, atau energi negatif lainnya, bisa dipastikan kita tidak bisa menarik sesuatu yang kita inginkan. Kemudian, bagaimana caranya agar kita bisa kembali menarik segala sesuatu yang kita inginkan sesuai dengan hukum tarik-menarik?

Pembersihan. Benar sekali pembersihan. Persis seperti magnet yang dibersihkan tadi. Di dalam diri manusia juga banyak sekali kotoran negatif, baik yang terasa maupun yang tidak terasa. Apa saja? Bisa luka lama seperti trauma masa lalu, benci kepada seseorang, iri, berburuk sangka, dll. Berapa kali harus membersihkan dan siapa yang tahu kalau kita sudah bersih? Ini bukan membersihkan lantai atau kamar mandi. Kita bisa melihat kotoran dan noda-moda dengan mata kita. Ini membersihkan rasa, kita tidak bisa melihat secara langsung.

Tetapi, ada cara untuk mengetahui apakah yang kita bersihkan sudah benar-benar bersih atau tidak, yaitu lewat perasaan kita. Kalau perasaan kita masih galau, bingung, tidak nyaman, khawatir, itu pertanda bahwa hati kita belum bersih. Tetapi, kalau perasaan kita sudah gembira, damai, bahagia itu adalah suatu pertanda bahwa hati kita berangsur-angsur mulai bersih. Indikator perasaan ini yang harus selalu dikontrol oleh kita untuk mengetahui sejauh mana tingkat kebersihan pikiran dan hati kita.

Pertanyaan lainnya, bagaimana cara membersihkannya? Ini juga hal penting sehingga kita tidak ragu-ragu untuk membersihkannya. Secara sederhana pembersihan luka di hati bisa dikatakan mudah bisa juga sulit. Mengapa demikian, kalau seseorang sudah berniat untuk membersihkan dendam kepada seseorang maka prosesnya menjadi lebih cepat. Secara teknis, carilah tempat yang nyaman, duduk dalam posisi yang enak, tarik napas dalam dalam beberapa kali, dan keluarkan secara pelan-pelan. Lakukan beberapa kali sampai tubuh benar-benar terasa nyaman.

Setelah masuk dalam kondisi yang nyaman mulailah kita meniatkan diri untuk membersihkan segala energi negatif. Sampai di sini kita harus mengidentifikasi ada berapa energi negatif yang menjadi beban pikiran. Kalau kita merasa hanya ada satu energi negatif, benci kepada seseorang misalnya, maka mulailah berniat melepaskan kebencian tadi. “Saya berniat melepaskan kebencian kepada seseorang.” Ulangi beberapa kali sampai merasa ada sesuatu yang keluar dari dalam tubuh kita baik lewat telapak kaki maupun lewat kepala.

Rasakan, apakah beban sudah berkurang? Kemudian dilanjutkan lagi dengan kata-kata, “Saya menyayangi orang tersebut, seperti saya menyayangi diri sendiri dan keluarga. Karena, saya tahu bahwa dia adalah orang yang baik.” Rasakan kembali apakah beban yang ada berangsur-angsur mulai berkurang? Lanjutkan dengan kata-kata, “Maafkan saya kalau selama ini saya membenci Anda. Saya sudah melakukan perbuatan dosa.” Diakhiri dengan kata-kata, “Terimakasih ya Tuhan, Engkau sudah memberikan berkah dan nikmat yang tiada terhingga kepada saya.”

Rasakan apa perubahan yang terjadi dalam diri kita ketika melalui proses pembersihan tadi. Ulangi beberapa kali dalam sehari, kalau sudah merasakan bahagia, damai, lakukan hal tadi untuk kepentingan pembersihan diri atas energi negatif yang nyangkut di dalam pikiran dan hati yang terjadi setiap hari. Ketika hari-hari kita diisi dengan hati dan perasaan yang damai, bahagia, senang di situlah hukum tarik-menarik mulai akrab dengan kita. Dan, niatkan untuk meminta sesuatu, kemudian serahkan kepada Yang Mahakuasa dan lupakan.

Apa yang terjadi? Rasakan saja sendiri, Anda pasti akan menemukan sesuatu yang selama ini Anda idam-idamkan. Salam damai, bahagia. Saya menyayangi Anda, terimakasih, dan mohon maaf.[aas]

* Ade Asep Syarifuddin adalah Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan, bisa dihubungi di asepradar[at]gmail[dot]com atau http://langitbirupekalongan.blogspot.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox