Lebih Baik Diam Ketimbang Berucap Negatif
Editor | Kolom Lepas | May 12th, 2009 | 4 Comments »
Oleh: Abidin Noor*
“Silent is golden, positive thinking is platinum.”
Pada waktu saya berumur delapan tahun, seingat saya waktu itu saya sudah duduk di kelas dua Sekolah Dasar (SD). Dengan cara tidak sengaja saya mendengar percakapan antara bapak dan ibu di ruang keluarga.
“Bu,” bapak menyapa ibu saya.
“Ya,” sahut ibu.
“Begini, Bu…,” kata bapak saya lagi. “Ayah menasihatkan (maksudnya kakek saya), janganlah sekali-kali mengucapkan kata-kata negatif kepada anak-anak kita atau bahkan kepada diri kita sendiri. Karena, apabila ‘dewa’ sedang lewat bisa menjadi kenyataan,” kata bapak saya.
Kemudian ibu bertanya, “Bagaimana dengan orang yang suka mengumpat atau mengucapkan kata-kata negatif di saat sedang marah?”
Bapak kemudian menjawab, “Apabila sedang marah, lebih baik mengucapkan kata-kata yang positif.”
“Contohnya?” tanya ibu.
“Inilah anak kita kelak yang akan menjadi pemimpin bangsa,” bapak memberikan contoh dan mengakhiri percakapannya.
Ternyata, orang tua bapak atau kakek saya waktu itu sudah mengetahui dampak buruk dari mengucapkan kata-kata negatif. Namun, waktu itu tidak dijelaskan alasannya mengapa. Setelah beranjak dewasa, baru saya mengerti bahwa kata-kata negatif adalah mantera yang mempunyai kekuatan apabila diucapkan berulang-ulang (Repetitive Magic Power). Seperti tukang sihir zaman dahulu, mengucapkan kata-kata yang mereka yakini mempunyai kekuatan sihir.
Mulai saat itu, saya sering mengamati di lingkungan pergaulan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun rumah. Secara tidak sadar, seseorang itu sering terstimulasi mengucapkan “mantera” jahat terhadap dirinya sendiri, yang semestinya harus dihindari, terutama ketika menghadapi suatu keadaan seperti rasa kesal, kecewa, cemas, kawatir, dan takut. Mantera jahat yang sering diucapkan tersebut seperti ini:
· Wah, celaka aku!
· Wah, sialan aku!
· Aduh, pusing aku!
· Aduh, mati aku!
· Aku kurang percaya diri.
· Aduh, bodoh aku!
· Aduh, bingung aku!
· Ah, aku tidak punya bakat.
· Aku selalu merasa lelah.
· Ah, aku tidak akan sukses.
· Aku selalu mempunyai beban pekerjaan yang berat.
· Aku tidak pernah mendapat pekerjaan yang sesuai.
· Aku tidak pernah mendapatkan kenaikan upah.
· Ah, aku tidak pernah berhasil.
· Aku berdoa tetapi tidak pernah dikabulkan.
Sebagai contoh, saya punya saudara, sebut saja namanya Andi, bukan nama sebenarnya. Pada waktu datang ke rumah saya selalu berkata, “Wah, saya memang sial, gagal lagi!”
“Gagal apa?” tanya saya.
“Tidak lulus seleksi ujian masuk kerja,” sahutnya.
Kemudian saya menasihatinya, “Cobalah ubah pandanganmu terhadap sebuah kegagalan, dengan mengatakan, ‘Hari ini aku belum berhasil, akan tetapi besok harus berhasil’. ‘Saya termasuk orang yang beruntung bisa mengikuti seleksi ujian masuk kerja’.”
Sejak saat itu, Andi tidak pernah datang lagi ke rumah. Setahun kemudian, saya menerima sepucuk surat dari Andi, yang memberi kabar mengenai keberadaannya dan ucapan terima kasih atas nasihat yang saya berikan. Andi menjelaskan, “Setelah mengubah pandangan saya, terhadap sebuah kegagalan dan selalu mengucapkan kata syukur setiap menerima kesempatan, saya diterima bekerja pada sebuah perusahaan dan ditempatkan di luar kota, sehingga saya tidak bisa lagi datang ke rumah.”
“Syukurlah,” pikir saya kemudian.
Belakangan ini, Masaru Emoto, peneliti dan pemikir independen dari Jepang, pernah melakukan percobaan yang ditulis dalam buku The Secret Life of Water, yaitu dengan memasukan butiran nasi ke dalam tiga buah stoples. Pada stoples pertama diucapkan dengan kata positif, “Terima Kasih!”, pada stoples kedua diucapkan dengan kata negatif, “Bodoh!”, dan pada stoples ketiga, tidak diucapkan kata apa-apa.
Apa yang terjadi kemudian? Sangat menakjubkan! Pada stoples yang pertama, nasi yang mendapat ucapan kata positif, “Terima kasih!” mengalami peragian yang sempurna dan mengeluarkan aroma yang enak. Pada stoples yang kedua, nasi yang mendapat ucapan kata negatif, “Bodoh!” menjadi berwarna gelap dan membusuk. Sedangkan pada stoples yang ketiga, nasi yang tidak mendapat ucapan kata apa-apa, warnanya berubah menjadi hitam dan baunya yang sangat menyengat.
Masaru Emoto juga melakukan percobaan untuk melihat dampak dari mengucapkan kata-kata terhadap tetesan air. Pada tetesan air yang diucapkan dengan kata-kata positif, didinginkan pada suhu 25 derajat celcius kemudian difoto melalui mikroskop. Hasilnya adalah sebuah foto yang sangat menakjubkan dengan membentuk pola kristal heksagonal yang sangat indah. Sebaliknya, pada air yang diucapkan dengan kata-kata negatif, menghasilkan foto kristal dengan heksagonal yang pecah tidak beraturan.
Percobaan-percobaan di atas, membuktikan betapa dahsyatnya dampak ucapan kata-kata positif maupun kata-kata negatif terhadap butir-butiran nasi maupun tetesan air. Nah, bagaimana dampaknya apabila kata-kata itu diucapkan terhadap seseorang atau bahkan terhadap diri sendiri?
Oleh karena itu, lebih baik diam apabila kita tidak bisa berucap dengan kata positif, sebagaimana yang di diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada ALLah dan Hari Kemudian maka hendaklah ia berkata akan yang baik atau hendaklah ia diam.”
Kebiasaan buruk mengucapkan kata-kata negatif itu tidaklah muncul secara tiba-tiba, namun itu sudah terprogram dan tersimpan di dalam pikiran bawah sadar sejak usia dini hingga dewasa. Pada suatu waktu kebiasaan itu akan muncul kembali ke permukaan ketika menerima stimulasi atau rangsangan dari luar. Program-program itu bisa didapat dari luar dan dalam diri sendiri. Dari luar, misalnya perkataan yang didapat dari lingkungan terdekat keluarga, tempat tinggal dan sekolah. Sedangkan dari dalam diri, bisa berupa ucapan kata-kata negatif terhadap diri sendiri atau self talk yang secara tidak sadar terlontar saat mengahadapi suatu keadaan.
Apabila tidak disadari adanya kebiasaan buruk dan tidak ada keinginan untuk merubahnya, kebiasaan buruk itu akan selalu muncul sebagai perilaku sehari-hari, seperti, “Aduh, celaka aku!”, “Aduh, pusing aku”. Nah, untuk menghilangkan kebiasaan buruk, setiap kali mengucapkan kata-kata negatif, kita dapat melakukan lima langkah seperti yang diperkenalkan oleh teknik Psychocybernetic, dikenal dengan metode ”CRAFT” sebagai berikut:
Langkah Pertama: Batalkan (Cancel), apabila Anda sadar bahwa Anda sudah berpikir akan mengucapkan kata-kata yang negatif, misal ”Saya bodoh,” segera batalkan.
Langkah Kedua: Gantikan (Replace) ucapan Anda dengan kata-kata positif, misalnya saya ”cerdas” saya ”sukses”.
Langkah Ketiga: Tegaskanlah atau afirmasikan (Affirm) uangkapan-ungkapan positif secara teratur sesaat sebelum dan sesudah bangun tidur. Misalnya: ”Saya cerdas,” atau ”Saya sukses.”
Langkah Keempat: Fokuskan (Focus) pikiran dan perasaan Anda pada kata-kata positif sebagai pengganti kata-kata negatif.
Langkah kelima: Lakukan latihan (Train) secara terus-menerus hingga perkataan negatif itu betul-betul terhapus dan telah diganti dengan perkataan yang positif.
KESIMPULAN:
Hindari mengucapkan kata-kata negatif dalam kondisi apa pun, karena kata-kata yang diucapkan mempunyai kekuatan apabila diucapkan berulang-ulang (Repetitive Magic Power). Untuk menghilangkan kebiasaan buruk, setiap kali mengucapkan kata-kata negatif dapat menggunakan metoda CRAFT: Cancel/batalkan, Replace/ganti, Affirm/tegaskan, Focus/pusatkan, dan Train/latih. Selamat mencoba![an]
* Abidin Noor banyak menghabiskan waktu berkarya di sebuah perusahaan minyak asing selama lebih dari 22 tahun. Saat ini, ia masih aktif berkarya pada perusahaan minyak lokal, di Jakarta. Ketertarikannya dalam dunia tulis-menulis memang sudah lama, tetapi karya tulisnya selama ini untuk koleksi pribadi. Abidin menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Ekonomi pada salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta, dan telah mengikuti berbagai pelatihan dan sertifikasi yang berhubungan dengan dunia perminyakan. Ia dapat dihubungi melalui HP: 0811986452, atau pos-el di: abidinn22[at]yahoo[dot]com, atau langsung di tempat tinggalnya Jalan Alam Permai X No. 58, Pondok Indah, Jakarta Selatan.
