Membangun Rumah Kebahagiaan

abdul muid badrunOleh: Abdul Muid Badrun*

Tempo hari saya berkirim SMS ke Arvan Pradiansyah, penulis buku The 7 Laws of Happiness, untuk meresensi bukunya dan disambut dengan baik. Sengaja saya kirim SMS karena memang sejak awal saya sangat menyukai tulisan-tulisannya. Buku pertamanya You Are a Leader (2003), buku kedua Life is Beautiful (2004), dan buku ketiga Cherish Every Moment (2007), semuanya begitu memesona dan menjadi bestseller di pasaran. Sehingga, hadirnya buku The 7 Laws of Happiness (2008) ini semakin mempertebal positioning Arvan sebagai penulis buku-buku laris dan bermutu dalam bidang pengembangan diri.

Ada ungkapan bijak dari Dave Gardner, ”Success is getting what you want, happiness is wanting what you get.” Ungkapan sederhana ini menunjukkan bahwa kesuksesan berbeda dengan kebahagiaan. Jika kita amati secara saksama, sudah begitu banyak buku yang mengupas dan menjelaskan bagaimana cara menjadi orang sukses. Sukses di sini identik dengan pencapaian sesuatu (sifatnya material-kuantitatif). Namun, masih banyak yang belum menyadari, bahwa kesuksesan tersebut ternyata tidak identik dengan kebahagiaan (happiness). Karena, yang terakhir ini lebih bersifat spiritual-kualitatif.

Kebahagiaan memang intangible dan bersifat relatif, tergantung dari sudut mana orang melihat. Perumpamaan pengendara mobil mewah melihat penarik becak dengan enaknya bisa tidur pulas tanpa masalah setelah bekerja, daripada dirinya yang bermobil mewah namun tak bisa menikmati tidur pulas karena tertimpa banyak masalah, setidaknya mengartikulasikan relativitas kebahagiaan itu. Boleh jadi si penarik becak juga akan beranggapan sama, bahwa enak sekali si pengendara mobil mewah itu, ke mana-mana ada yang melayani, sampai buka pintu mobil saja ada yang membukakan.

Melalui buku The 7 Laws of Happiness ini, Arvan menunjukkan kepada kita semua bahwa sifat relatif dari kebahagiaan itu dikendalikan oleh pikiran. Lebih lanjut, Arvan menjelaskan bahwa menjaga pikiran adalah kunci dari kebahagiaan (hal. 35-39). Jika Anda ingin bahagia, maka jagalah pikiran anda agar tetap berpikiran positif terhadap segala sesuatu, begitu saya menyimpulkannya. Karena itu, otak yang menjadi alat (tool) pikiran harus senantiasa dipelihara agar tetap sehat dalam operasionalnya. Bagaimana caranya? Anda bisa baca selengkapnya di halaman 40-60 buku ini.

Sejatinya, cara membaca buku ini tidaklah sulit. Meski tergolong buku tebal (jika dibandingkan dengan buku-buku Arvan sebelumnya), tapi kerangka teori buku ini sudah sangat jelas disampaikan sejak awal. Inilah kelebihan Arvan dibanding penulis-penulis buku pengembangan diri lainnya. Bangunan teori (meski di Pengantar Arvan membantah bukunya bukan buku teori) yang disampaikan penulis buku ini memberikan pesan, bahwa ada tujuh pikiran yang mesti kita pilih untuk mengantarkan kita pada ruang kebahagiaan. Tiga pikiran pertama terkait dengan diri kita sendiri, yaitu sabar (patience), syukur (gratefulness), dan sederhana (simplicity). Tiga pikiran kedua berkaitan hubungan kita dengan orang lain, yaitu kasih (love), memberi (giving), dan memaafkan (forgiving). Satu pikiran terakhir yang menjadi puncak adalah berkaitan hubungan kita dengan Sang Pencipta yaitu berserah (surrender).

Arvan mengakui bahwa bangunan teori praktis yang ditulis di buku ini bukanlah sesuatu yang baru. Jika kita membaca bukunya yang kedua yang menjadi bestseller, yaitu Life is Beautiful, konsep tentang kesabaran, bersyukur, rela memaafkan, pasrah, ikhlas, dan lain sebagainya sudah pernah dibahas. Hanya bedanya, di buku Life is Beautiful konsepnya masih berserakan. Nah, di buku The 7 Laws of Happiness ini, konsep-konsep luhur nan agung tersebut dikumpulkan agar terbentuk bangunan konsep teori yang utuh, mudah diingat, dan ada tahap-tahapannya. Sehingga, penerapannya mudah dilakukan (aplicable) oleh siapa saja. Begitu harapan penulis buku.

Saat ini, di tengah dominasi kultur masyarakat yang serba instan, membangun rumah kebahagiaan, bagi saya bukanlah sesuatu yang mudah. Sabar yang menjadi fondasi utama bangunan bagi kebanyakan orang masih terasa sulit. Orang yang sabar terkesan lambat meski esensinya tidak. Karena jika kita bersabar maka kebahagiaan terasa mudah dirasakan. Sabar di sini saya maknai sebagai sikap proaktif mengendalikan emosi dan nafsu untuk tujuan sesaat.

Arvan menempatkan sabar sebagai fondasi dan pasrah sebagai plafon bangunan, dan bukan tanpa alasan. Bagi saya, dua jalan itulah yang menjadi intisarinya, jika kita mau memeras saripati buku The 7 Laws of Happiness. Jika sabar sudah mewujud dalam perilaku, maka hanya kepasrahanlah tempat mengembalikan segala masalah. Karenanya, sabar dan pasrah bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Hadirnya buku ini, yang oleh penulisnya dianggap masterpiece, akan semakin mempertebal keyakinan kita bahwa sejatinya yang dicari dalam hidup bukanlah kesuksesan, namun lebih pada kebahagiaan yang abadi. Bukankah agama juga mengajarkan pada kita berdoa agar senantiasa hidup dalam kebahagiaan (fiddunyaa hasanah) dan mati pun juga dalam kebahagiaan (aakhiroti hasanah)? Bagaimana menurut Anda?[amb]

*Abdul Muid Badrun adalah seorang peresensi, entrepreneur, dan Associates Researcher Circle of Information and Development (CID), Jakarta.

DATA BUKU

Judul Buku: The 7 Laws of Happiness; Tujuh Rahasia Hidup yang Bahagia

Penulis: Arvan Pradiansyah

Penerbit: Kaifa, Bandung

Cetakan: Pertama, September 2008

Tebal: 423 halaman

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Belajar dari Begawan Entrepreneur

ambOleh: Abdul Muid Badrun*

Alkisah, ada dua orang profesor yang sedang berdebat panjang lebar tentang ilmu mereka. Satu sama lain berusaha mengungguli dan menjadi pemenang dalam dalam debat tersebut. Salah satu profesor menyatakan, Saya sudah tahu banyak hal dalam hidup ini, sudah membaca sekian banyak teori dan buku. Jadi saya tahu semuanya.” Profesor yang satunya juga tidak mau kalah dan menyatakan hal yang sama. Salah satu profesor tadi tinggalnya di seberang sungai. Seperti biasa ketika mau pulang, profesor tadi selalu minta bantuan si tukang perahu.

Ketika mau naik perahu, profesor tadi dengan sombong bilang ke tukang perahu, “Coba tanya apa saja pasti aku akan jawab karena saya tahu semuanya…!”

Namanya juga tukang kayu bodoh yang tidak berpendidikan dan tidak punya pengetahuan, ia asal saja bertanya, “Profesor tahu tentang ilmu berenang?”

Wow, tahu dong! jawab sang profesor dengan sombong dan menerangkan banyak hal tentang bagaimana ilmu berenang. Sepertinya, semua teori berenang yang ia kuasai sudah disampaikan ke si tukang perahu.

Nah, ketika sang profesor sedang menjelaskan semuanya, tiba-tiba angin dan badai datang yang mengakibatkan perahu yang ditumpanginya terbalik ke sungai. Ternyata, si profesor itu kelelep dan megap-megap di sungai serta minta tolong sama si tukang perahu yang dianggap bodoh tersebut. Akhirnya, si tukang perahu menolong sang profesor yang tidak bisa berenang. Padahal, sebelumnya sudah menerangkan ilmu berenang secara detail.

Ilustrasi cerita di atas menggambarkan dengan jelas betapa antara TAHU dan BISA sangat jelas perbedaannya. Hal ini dijelaskan secara gamblang oleh Bob Sadino dalam buku yang ditulis Edy Zaqeus dengan judul Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila! (Kintamani, 2009).

Sekilas, membaca buku ini terasa banget aroma Bob Sadino yang selama ini kita kenal sebagai entrepreneur nyentrik. Ciri khas itu selalu ditampilkan dengan celana pendek jinsnya yang selalu dipakai ke mana saja Bob beraktivitas dan menemui tamu-tamunya. Tak jarang hal ini memunculkan keheranan dari banyak orang yang melihatnya. Hal itu bisa dilihat di lampiran buku ini (hal. 178-199).

Buku yang diangkat secara apik oleh Edy Zaqeus ini, benar-benar menceritakan sosok Bob Sadino sebagai seorang entrepreneur sejati. Bahkan, saya menyebutnya Bob adalah tokoh begawan entrepreneur Indonesia. Jiwa entrepreneurship Bob sudah mulai tampak ketika Bob lulus SMA tahun 1953 (umur 20 tahun). Saat itu, Bob merasa gelisah karena kerja di tempat orang lain (Unilever dan Djakarta Llyod) yang membuatnya tidak merasakan kebebasan yang sebenarnya.

Pertentangan batin ini membuat Bob Sadino muda memutuskan keluar dari perusahaannya dan keluar dari zona kenyamanan hidup yang ia miliki saat itu. Tahun 1967 (umur 34 tahun), Bob memulai hidupnya dari nol lagi. Yang mengherankan, saat itu Bob muda memilih untuk memiskinkan diri” karena menurutnya selama ini ia merasa hidupnya serba kecukupan. Makanya, ia ingin merasakan bagaimana rasanya jadi orang miskin! Sungguh sebuah revolusi mental yang luar biasa yang tidak dimiliki anak muda sekarang.

Dengan pilihan miskin ini, Bob seperti diberikan pelajaran yang berharga. Sampai akhirnya Bob menemukan hidupnya kembali ketika ia mulai berbisnis telur ayam negeri. Dari sinilah kesuksesan bisnis Bob Sadino dimulai. Yang menarik dan bisa jadi pelajaran kita semua adalah ketahanan mental (persistent factor) Bob Sadino yang membawanya sampai ke puncak bisnis seperti saat ini. Inilah yang belum banyak dimiliki oleh pebisnis pemula di Indonesia. Gagal adalah kesuksesan yang tertunda, jika kita punya ketahanan mental yang kuat.

Buku yang tediri dari 11 bab dan 201 halaman (plus 14 halaman pembuka) ini, sarat akan pikiran dan kisah hidup Bob Sadino. Namun, jika kita memerasnya, ada satu saripati yang bisa kita nikmati sama-sama yaitu Roda Bob Sadino (RBS), saya lebih suka menyebutnya The Entrepreneur Quadrant ala Bob Sadino. Di dalam RBS ini dijelaskan perbedaan antara orang TAHU, BISA, TERAMPIL, dan AHLI. Semuanya bisa dibaca di halaman 13-31. Ilustrasi di awal tulisan ini menjelaskan betapa belajar ilmu TAHU tidak cukup jika tidak belajar ilmu BISA. Perguruan Tinggi (PT) Indonesia menurut Bob adalah pabrik ilmu tahu dan bukan ilmu bisa. Akibatnya, PT gagal menjawab masalah pengangguran di Indonesia. Karena, lulusan yang dihasilkannya tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar.

Oleh karena itu, hadirnya buku ini semakin menyakinkan kita semua bahwa pilihan hidup menjadi entrepreneur adalah pilihan tepat untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan di Indonesia. Kita harus menyakini pilihan ini. Ingat petuah bijak what you get is what you believe”, yang artinya; jika Anda yakin maka Anda akan mendapatkan apa pun yang Anda inginkan.

Figur Bob Sadino yang ditulis dalam buku ini menjadi motivasi dan penyemangat hidup. Apa pun kegagalan yang kita alami harus kita lalui dengan baik. Saya sangat terinspirasi dengan pesan Bob Sadino dalam salah satu kesempatan di Jakarta, “Cukup satu langkah awal, ada kerikil saya singkirkan. Melangkah lagi. Bertemu duri saya sibakkan. Melangkah lagi. Terhadang lubang saya saya lompati. Melangkah lagi. Bertemu api saya mundur. Melangkah lagi. Maju dan berjalan terus mengatasi masalah.” Bagaimana menurut Anda?[amb]

* Abdul Muid Badrun adalah alumnus FE UGM, Motivator, Entrepreneur, tinggal di Yogyakarta. Alamat: Jl. Wahid Hasyim 108, Dabag CC Depok Sleman, Yogyakarta, Hp. 0811 335 362, E-Mail: abdulmuidbadrun[at]yahoo[dot]com.

bkbobgilaDATA BUKU

Judul Buku: Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila!

Penulis: Edy Zaqeus

Penerbit: Kintamani Publishing, Bekasi

Cetakan: Pertama, Januari 2009

Tebal Buku: xiv + 201 halaman

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox