Ketenangan dalam Secangkir Teh

abOleh: Abd Basid*

Tidak banyak orang tahu akan asal usul teh. Konon suatu hari Kaisar Shen Nung dari China akan minum air mendidih. Ternyata beberapa daun jatuh dari pohon karena tertiup angin sehingga terjatuh dari panci berisi air mendidih tersebut. Bukannya mengangkat daun dari panci, Sang Kaisar malah memutuskan untuk mencicipi air rebusan itu. Tidak disangka air rebusan itu sedap dan menyegarkan tubuh.

Secangkir teh memang lebih bersahabat ketimbang secangkir kopi. Secangkir kopi mungkin akan dan sering dinikmati para pecandu rokok, akan tetapi secangkir teh sering dinikmati semua kalangan—baik itu pecandu rokok atau bukan, baik itu kaum Adam maupun Hawa. Ketika orang terkena pilekpun dan “bernafsu” untuk menikmati minuman selain air putih, sudah pasti pilihannya akan jatuh pada teh hangat. Bahkan saking akrabnya, tidak jarang kata “teh” sering digunakan untuk menunjukkan keselarasan dan analogi kesemangatan, seperti yang penulis temukan dalam judul salah satu pengantar penerbit buku Sekuntum Nyawa untuk Sahabat, bertuliskan “Secangkir Teh Hangat dari Penerbit”.

Aroma teh memang sangat memesona. Aroma harum teh akan langsung tercium tatkala diseduh. Ketenangan dan kenikmatan akan terasa saat diseruput. Ada aroma dan kenikmatan tersendiri dalam teh. Apalagi diminum di sore hari—baik dalam kesendirian maupun dalam kebersamaan—dikala senja sudah menampakkan merahnya.

Minum teh di sore hari merupakan kebiasaan orang-orang Eropa. Untuk mencari ketenangan di sore hari setelah seharian menyibukkan diri, tidak sedikit dari mereka yang menghabiskannya sambil meminum teh. Bahkan bagi sebagian besar orang minum teh bukan hanya untuk menghilangkan dahaga, melainkan lebih dari itu, untuk mencari ketenangan, apalagi setelah seharian menyibukkan diri. Nikmat sekali.

Di Indonesia hal seperti itu mungkin masih jarang. Masyarakat Indonesia masih lebih memilih jalan-jalan ke toko, mal, dan sejenisnya. Padahal dalam secangkir teh ada ketenangan yang tidak kalah nikmatnya dibanding jalan-jalan ke toko dan mal. Namun, belakangan ini banyak masyarakat Indonesia yang mulai terbiasa bersahabat dengan (secangkir) teh.

Penulispun demikian. Secangkir teh yang menemani penulis dalam menulis kadang mendatangkan ketenangan, yang efeknya dapat mendatangkan imajinasi cemerlang. Namun, bukan berarti penulis menuhankan secangkir teh, akan tetapi penulis rasa setiap sesuatu membutuhkan satu yang lain, baik itu yang bergerak atau tidak. Dan secangkir teh mungkin bisa dikatakan perangkat lunak dalam ketenangan dan bersantai. Tulisan inipun ditemani secangkir teh yang pastinya dibalut dengan doa.

Teh mempunyai banyak jenis. Setiap jenis teh mempunyai pengaruh masing-masing. Sebut saja seperti teh hitam dan hijau. Teh hitam dan teh hijau dengan aroma melatinya dapat menyegarkan. Sementara teh putih mempunyai pengaruh dan memberi efek menenangkan. Bahkan ada beberapa jenis teh herbal dapat berefek dan membuat penikmatnya lebih rileks dan cocok dinikmati sebelum tidur. Hal ini bisa ditemukan seperti pada jenis teh herbal cammomele.

Apakah hal di atas mengada-ada? Tentu tidak. Hal di atas benar adanya. Apabila kita tidak melihat apa yang terkandung pada teh mungkin terkesan mengada-ada. Teh mengandung diantaranya; Pertama, antioksidan. Antioksidan yang dimiliki teh memberikan perlindungan bagi tubuh dari penuaan ataupun efek dari polusi. Kedua, berkafein lebih rendah dari kopi. Kopi biasanya mempunyai kafein 2 hingga 3 kali lipat lebih banyak dari teh. Secangkir kopi mengandung sekitar 135 mg kafein, sedangkan kafein di teh dengan ukuran yang sama, hanya terdapak kafein sebanyak 30-40 mg saja. Ketiga, melindungi tulang. Tidak hanya susu yang ditambahkan pada teh yang dapat memperkuat tulang. Akan tetapi juga ada pada teh. Ada sebuah penelitian yang menemukan bahwa orang yang telah meminum teh lebih dari 10 tahun memiliki tulang yang kuat. Ini mungkin disebabkan oleh phytochemical yang terkandung di dalam teh. Keempat, memberikan senyuman yang indah. Bukan teh yang menyebabkan kerusakan gigi, namun gula yang dicampurkan di dalamnya yang mempunyai efek buruk pada gigi. Teh sendiri mengandung flouride yang menjauhkan plak dari gigi, sehingga seseorang tidak akan malu dan grogi untuk tersenyum. Kelima, meningkatkan pertahanan tubuh. Dalam arti, dengan minum teh tubuh bisa terhindar dari infeksi. Keenam, menjaga tubuh untuk tidak kekurangan cairan. Selama ini minuman yang mengandung kafein dianggap tak dapat dikategorikan dalam minuman yang memberi kontribusi cairan bagi tubuh. Namun para peneliti ternyata menemukan bahwa minuman berkafein dapat memberikan kontribusi cairan yang sama dengan minuman lain.

Itulah salah satu logikanya, mengapa teh dapat mendatangkan ketenangan dan kesegaran pada tubuh dan cocok untuk segala suasana, terlebih lagi suasana nyantai—baik dalam kesendirian dan kebersamaan.[abb]

Oleh: Abd. Basid, jurnalis Ikatan Mahasiswa Alumni Bata-Bata (IMABA) wilayah Surabaya. Selain itu penulis aktif sebagai anggota Forum Lingkar Pena (FLP) ranting IAIN Sunan Ampel Surabaya. Penulis bisa dihubungi lewat http://lingkaran-koma.blogspot.com.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 9.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +4 (from 4 votes)

Nuzulul Qur’an dan Budaya Baca-Tulis

ab1Oleh: Abd. Basid*

Tanggal 17 Ramadhan boleh melalui kita. Akan tetapi, faedah yang tersirat di dalamnya tidak boleh melalui kita juga. Kita harus bisa memetik faedah yang terkandung di dalamnya. Malam tersebut merupakan malam yang mempunyai nilai lebih di bulan Ramadhan, selain malam Lailatul Qadar. Karena, malam itu merupakan malam diturunkannya Alquran (Nuzaulul Qur’an) dari Lauhul Mahfudz ke Samaid Dunya. Pada malam tersebut biasanya umat muslim memperingatinya dengan berbagai macam cara. Salah satunya dengan khataman bersama.

Meskipun para ulama berbeda pendapat tentang penetapan malam Nuzulul Qur’an, tapi penulis tidak akan memperbincangkan perbedaan tersebut. Yang jelas Alquran itu diturunkan pada bulan Ramadhan dan malam itu merupakan malam kemuliaan (2:185 dan 97:1), yang akan penulis komparasikan dengan budaya baca-tulis, guna menvitalisasi budaya baca-tulis kita yang tidak kunjung membudaya.

Sejarah menyebutkan bahwa wahyu pertama yang diturunkan adalah surat Al-‘Alaq ayat 1-5. Tepatnya di Gua Hira. Dalam riwayat pewahyuannya, Nabi dikisahkan dipaksa oleh malaikat Jibril untuk membaca (iqra’ = bacalah), akan tetapi Nabi menjawabnya dengan jawaban Ma ana bi qari’” (saya tidak bisa membacanya).

Ada analisis menaik dari Thariq Ramadhan tentang peristiwa tersebut. Dia mengatakan bahwa, karena ke-ummian Nabi waktu itu, Nabi mengungkapkan ketidakmampuannya secara logis. Dan, bila kemudian Nabi mampu membacanya, hal itu tidak lain karena spritualitas yang terkandung di dalamnya telah membuka akses terhadap dimensi lain dari ilmu pengetahuan.

Dari sekelumit pembahasan di atas, setidaknya ada beberapa hal menarik yang dapat kita petik. Pertama, Nabi yang merupakan seorang ummi (tidak bisa membaca) dipaksa untuk membaca wahyu pertama itu. Hal ini menunjukkan betapa Islam menekankan pentingnya kegiatan membaca sampai dipilih seorang yang ummi.

Kedua, keharusan untuk menyertakan spritualitas dan keimanan dalam aktivitas pembacaan itu. Meskipun demikian, bukan berarti nalar/akal tidak perlu dalam prsoses menafsirkan bacaan tersebut. Nalar tetap merupakan komponen utama, akan tetapi juga tetap tidak boleh mengesampingkan keimanan dan spritualitas dalam proses penafsirannya.

Ketiga, ayat pertama dari surat Al-‘Alaq berupa lafad iqra’ yang tidak ada objeknya (dibuang) mengimplikasikan bahwa objek yang dibaca adalah umum—di samping tentu Alquran yang merupakan kitab yang suci. Oleh karena itu, umat muslim—khususnya—tidak perlu membatasi materi bacaan selama pembacaannya selalu menyertakan ismi rabbik. Pembacaan tanpa menggunakan ismi rabbik—sebut saja seperti filsafat sekular—dapat melahirkan hasil pembacaan yang berbeda dengan yang menggunakan ismi rabbik. Untuk sekadar contoh, bagi seorang rasionalis, keraguan adalah metode epistemolgis yang valid untuk menemukan kebenaran, tetapi hal ini ditentang oleh Alquran (10:36).

Keempat, perintah membaca pada ayat pertama surat Al-‘Alaq dilanjutkan dengan isyarat terhadap pentingnya tulisan (ayat keempat dan kelima). Tentang kaitannya ayat 3-4 dan ayat sebelumnya, Al-Biqa’i menyatakan bahwa Allah mengajarkan pada Nabi, sekalipun beliau ummi sebagaimana Allah mengajarkan pada orang-orang bodoh dengan pena. Di sinilah letak penekanan Alquran akan pentingnya penulisan terhadap transmisi ilmu yang dalam Islam mendapat tempat yang tinggi (58:11).

Karenanya, membaca dan menulis merupakan dua komponen yang tidak dapat dipisahkan untuk menopang fungsi akal dan keduanya merupakan anjuran agama. Kita sulit menemukan—jika tidak mau dikatakan tidak ada—tokoh-tokoh besar terdahulu yang di satu sisi memiliki kemampuan membaca tinggi dan di sisi yang lain meninggalkan budaya tulis. Contoh kecilnya seperti Syaikh Nawawi al-Banteni, dengan tradisi bacanya yang kuat, dalam konteks yang lain karya beliau masih menjadi konsumsi resmi pesantren-pesantren Indonesia.

Kalau dikaitkan dengan negara kita, Indonesia masih terkenal dengan budaya dengar-lihatnya. Di Indonesia membaca masih menjadi kebiasaan kalangan kecil saja. Membaca yang merupakan jantung ilmu pengetahuan tidak banyak diakrabi masyarakat kita. Kata pepatah “Buku adalah jendela dunia” tampaknya tidak begitu berefek di negara kita.

Menurut hasil riset World Bank dan International Association for the Evaluation of Education Achievement (IEA) beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa peringkat kebiasaan membaca anak-anak Indonesia paling lemah jika dibandingkan dengan negara Asia yang lain. Indonesia hanya mendapatkan skor 51,7. Angka itu masih kalah jauh dari Filipina (52,6), Thailand (65,1), Singapura (75,0), dan Tiongkok (75,5). Selain itu, kemampuan membaca rata-rata para siswa SD dan SMP di Indonesia menduduki urutan ke-38 dan ke-34 dari 39 negara.

Merujuk pada fenomena Nuzulul Qur’an dan hasil survei di atas, setidaknya kita umat muslim—khususnya—bisa menjadikannya sebagai sebuah pijakan untuk membudayakan budaya baca-tulis. Bukankah kita percaya bahwa Alquran merupakan kitab suci pegangan kita? Dan, Alquran sangat menekankan akan pentingnya membaca-tulis, seperti yang telah disinggung di atas.

Akhir kata, seiring dengan peringatan Nuzulul Qur’an Ramadhan kali ini—yang baru saja berlalu—semoga kita bisa menjadikannya sebuah pijakan dalam mentrasformasikan budaya baca-tulis kita. Semoga.[ab]

* Abd. Basid, pencinta pena; bergiat sebagai jurnalis IMABA Bata-Bata wilayah Surabaya dan aktif di pesantren IAIN Sunan Ampel Surabaya. Abdi Pena merupakan nama penanya. Bisa dihubungi lewat http://lingkaran-koma.blogspot.com atau basidabd99[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Mbah Surip dan Lagu Tak Gendongnya

abOleh: Abd. Basid*

Berita duka meninggalnya Mbah Surip seakan membius seluruh Tanah Air. Banyak kalangan ikut berbela sungkawa atas meninggalnya seniman asal Mojokerto, Jawa Timur, ini. Orang nomor satu di Indonesia pun, Susilo Bambang Yudoyono (SBY), tidak mau ketinggalan. Penyanyi yang jadi meliuner dengan lagu Tak Gendong-nya itu meninggal dunia Selasa (4/8) lalu. Mbah Surip dikabarkan meninggal karena terkena serangan penyakit jantung.

Mbah Surip merupakan sosok orang yang sederhana. Dengan lagu Tak Gendong-nya Mbah Surip membawa dunia hiburan seakan-akan menemukan jati dirinya. Kalau selama ini dunia hiburan identik dengan kemewahan, glamour, necis, dan sejenisnya, tetapi Mbah Surip datang bersama lagu Tak Gendong dengan format kesederhanaan, baik penampilan maupun lirik lagu yang ia nyanyikan.

Lagu Tak Gendong dihafal banyak kalangan, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Maia Estianti pun tergila-gila dan menyanjungnya sampai dia memprediksi bahwa ring back tone (RBT) lagu tersebut sudah tembus Rp 5 miliar, dan akan bertahan lama. Kesuksesan beliau dan lagu Tak Gendong-nya merupakan kesuksesan yang terbilang unik menurut kacamata umum. Lihat penampilannya yang sederhana, wajah yang tidak seganteng Ariel Peterpan atau Pasya Ungu, suaranya yang pas-pasan, dan lirik lagunya yang sederhana banget. Bahkan lagu keduanya; Bangun Tidur, yang sudah mulai beredar dan rencananya akan difilmkan, juga tidak jauh beda dengan lagu Tak Gendong. Sederhana dan lucu.

Ada apa di balik kesuksesan Mbah Surip dan Tak Gendong-nya? Ternyata Mbah Surip merupakan sosok pekerja keras, pantang menyerah, dan persistent (teguh). Lagu Tak Gendong sebetulnya sudah dibuat pada 1983 atau 26 tahun lalu, saat Mbah Surip bekerja di pengeboran minyak di Amerika. Begitu pulang, dia menawarkannya ke industri musik. Mbah Surip, konon, telah mengirimnya ke Sony BMG, Musika, dan Nagaswara. Namun, ketiga industri musik tersebut menolaknya.

Singkat cerita, akhirnya Mbah Surip bertemu Falcon Music. Dia datang ke Jalan Duren 3, Jakarta, markas Falcon Enterprise, naik motor tua yang dimodifikasi, dan mempertontonkan lagu ciptaannya itu kepada Naven, bos Falcon, yang akhirya diterima dan kontrak pun diteken.

Meskipun sudah diterima Falcon Music, ternyata Tak Gendong tak kunjung muncul. Lagu tersebut tidak langsung muncul di TV. Bahkan, klip videonya pun belum dibikin. Ternyata, Naven sengaja menahannya dengan alasan pencarian pasar yang pas untuk lagu semacam lagu itu. Karena, lagu-lagu yang hit waktu itu masih lagu yang bertemakan cinta dan mellow. Baru setelah grup band Kuburan yang fenomenal dengan lagu andalannya “A Minor D Minor”, yang semua pemain memupuri wajahnya serbaputih itu, lagu Tak Gendong muncul dengan rambut rastanya Mbah Surip. Akhirnya, lagu itu mendapat respon positif di belantika musik Tanah Air. Lagu itu melaedak, laris, dan populer—sampai mengantarkan Mbah Surip menjadi seniman meliuner karena profit RBT lagunya tersebut.

Dari pemaparan di atas, kita bisa menarik benang merah bahwa kesuksesan Mbah Surip tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tidak seenak yang kita lihat sekarang. Dia harus susah payah menawarkan pada banyak industri musik. Dan, setelah diterima pun ia masih harus bersabar dan menunggu lama hingga peluncuran lagu impiannya dilakukan. Subhanallah.

Dari sini kita bisa mengambil hikmah akan pentingnya sebuah perjuangan yang akhirnya membuahkan kesuksesan. Kerja keras, pantang menyerah, dan persistent menjadi kunci sukses keberhasilan setiap insan. Untuk itu, kita dilarang untuk bersikap malas. Tidak mau berusaha dan mudah putus harapan. Kita jangan bermimpi untuk menjadi kaya kalau kita tidak berusaha untuk menjadi kaya. Faktor keberuntungan memang ada pada setiap keberhasilan, tetapi tentu tidak ada sukses yang tidak direncanakan. Tidak ada kemenangan tanpa strategi, kata Sun Tzu. Allah swt. tidak akan memberikan sesuatu pada hamba-Nya kalau tidak dibarengi usaha.

Banyak orang yang tidak percaya mendengar kabar akan kematian Mbah Surip. Namun, ya, yang namanya ajal memang tidak bisa diketahui oleh siapa pun dan tidak bisa ditawar lagi. Kalau sudah saatnya tidak akan ke mana lagi. Kita hanya bisa mendoakan semoga amal ibadah Mbah Surip diterima di sisi Allah swt. dan semua keluarga yang ditinggalnya mendapat kesabaran dan ketabahan. Amien.

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kegigihan Mbah Surip. Mbah Surip, I Love You Full![abd]

* Abd. Basid, pencinta pena; aktif di Pesantren IAIN Sunan Ampel Surabaya dan bergiat sebagai jurnalis IMABA Bata-Bata wilayah Surabaya].

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Verba Valent, Scripta Manent

abOleh: Abd. Basid*

Judul di atas merupakan pribahasa latin yang menggambarkan tentang keabadian sesuatu, yang berarti ucapan itu bisa hilang atau terlupakan, tetapi tulisan akan tetap abadi. Ungkapan tersebut mengafirmasi bahwa ide, pemikiran, ataupun kritik yang dituangkan dalam tulisan tetap abadi.

Berbicara tulis-menulis, maka tidak luput dari pembukuan akan sesuatu yang ditulis. Menulis, bagi sebagian orang, memang mudah. Akan tetapi, tidak bagi orang yang tidak biasa, kendatipun ide-ide sudah ada di otaknya. Kadang-kadang kata-kata sudah terkonsep, namun macet di tengah jalan. Seberapa penting sih menulis itu? Dan, apabila memang sangat penting, bagaimana cara memudahkan kebiasaan menulis? Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya rasa sudah terjawab dengan sejarah diturunkannya perintah membaca dari Allah SWT terhadap Nabi Muhammad SAW.

Wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah SWT pada Nabi Muhammad SAW adalah surat Al Alaq yang diawali kata iqra’ (membaca), dan berisikan anjuran terhadap umat manusia untuk membudayakan budaya baca. Saking pentingnya kata iqra’ hingga diulang sampai dua kali dalam rangkaian wahyu yang pertama kali diturunkan-Nya ini.

Mungkin mengherankan bahwa perintah tersebut ditujukan pertama kali kepada seseorang yang tidak pernah membaca suatu kitab pun sebelum turunnya Alquran. Namun, keheranan ini akan sirna jika disadari arti iqra’ dan disadari pula bahwa perintah tersebut tidak hanya ditujukan kepada pribadi Nabi Muhammad SAW semata, tetapi juga untuk umat manusia sepanjang sejarah kemanusiaan. Karena, realisasi perintah tersebut merupakan kunci pembuka jalan kebahagiaan hidup duniawi dan ukhrawi.

Sejarah umat manusia, secara umum, dibagi dalam dua periode utama. Pertama, sebelum penemuan baca-tulis. Kedua, sesudah penemuan baca-tulis. Dengan ditemukannya baca-tulis, peradaban manusia tidaklah merambah jalan dan merangkak. Tetapi, manusia telah berhasil melahirkan tidak kurang dari 27 peradaban, mulai dari peradaban Samaria sampai dengan peradaban Amerika masa kini. Dari sinilah—sangat rasional kalau muncul kata-kata bijak dan pribahasa-pribahasa penyemangat menulis seperti yang telah disebutkan di atas (verba valent, scripta manent). Setajam-tajamnya pedang, tetapi tak setajam pena penulis, dan sejenisnya.

Dengan menulis, maka pikiran kita akan terbaca dan dibaca orang lain, baik yang terpublikasikan lewat buku maupun lewat sayembabara blog/web pribadi. Dengan dibukukannya hasil karya tulis, maka kendatipun penulisnya sudah tidak ada, hakikatnya penulisnya itu masih ada (abadi).

Dalam dunia sastra siapa yang tidak kenal Buya Hamka? Dia adalah sastrawan yang sudah menulis beberapa buku sastra, seperti Tenggelamnya Kapal Vanderwic, Di Bawah Naungan Ka’bah, dan lain sebagainya. Selain Buya Hamka ada juga Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan besar. Pram, begitu dia disapa, dikenal sebagai sastrawan yang konsisten menulis dalam segala kondisi, bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun. Novel-novelnya yang luar biasa kebanyakan lahir dari masa sepi dan nestapanya: Tetralogi Pram.

Idealisme sebagai seorang sastrawan dan pejuang sosialis tertanam kuat di benak Pram, meski karena idealisme itu dia terpaksa merengkuh segala bahaya. Pada zamannya, dia pernah dianggap keliru memosisikan koordinat diri pada kuadran sejarah. Karena itu, Pram sempat diberi label ”komunis”. (Bahkan, ada pula yang salah kaprah menganggap Pram ateis, tak bertuhan. Untuk itu, dia menelan risiko hidup dengan menyusuri lorong sepi nestapa, tercerabut dari keluarga, masyarakat, dan terutama lingkungannya.

Bagi kalangan santri, siapa yang tidak kenal dengan ranah fikih empat mazhab; Abu Hanifah, Malik, Syafii, dan Hambali? Beliau-beliau terkenal karena karya-karya (mazhab) mereka. Seperti Al-Um karya Imam Syafi’i, Muwattha’ karya Imam Malik, dan Al-Musnat karya Imam Ibnu Hambal. Dalam ranah ilmu alat (nahwu/shorf) ada Imam Muhammad Ibnu Malik Al-Andalusi dengan karya monumentalnya Alfiyah Ibnu Malik.

Di kalangan sufi ada Imam Ghazali dengan karyanya Ihya’ ‘Ulumuddin dan Al-Mungkidz Mina Al-Dzolal. Di kalangan pemikir siapa yang tidak kenal Aristoteles, bapak filsafat, dengan karyanya Canon, Ibnu Rusyd dengan karyanya Bidayatul Mujtahid, dan juga Ibnu Sina dengan karyanya Al-Thib.

Di kalangan tafsir dan hadis ada Imam Suyuti dengan karyanya Al-Itqon (tafsir), Imam Bukhori dan Muslim dengan karya sahihnya, Shohih Bukhori dan Muslim (hadis).

Itulah contoh-contoh bahwa buah pikiran yang dituangkan lewat tulisan memang sangat perlu dilestarikan guna mengenang dan menciptakan khazanah keilmuan yang tidak akan hilang selama-lamanya selagi tulisan (buku) itu masih ada. Bagaimana caranya? Jawabannya tidak lain hanyalah—seperti yang telah disinggung di atas—dengan membaca. Dengan membaca kita akan mengenal dunia.

Sebagai contoh kecil dalam novel karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi, di sana digambarkan ada anak miskin, Lintang, yang sangat pintar dikarenakan sering membaca. Lintang bisa mnjelaskan seperti apa kota Prancis kepada Ikal, temannya, dikarenakan dia banyak membaca. Kemiskinan tidak menjadi hambatan bagi Lintang untuk terus membaca.[ab]

*Abd. Basid adalah seorang penulis lepas. Saat ini sedang bergiat sebagai jurnalis IMABA Bata-Bata wilayah Surabaya dan aktif di pesantren IAIN Sunan Ampel Surabaya. Kontak basidabd99[at]yahoo[dot]co[dot]id atau Hp: 085731924584.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 6.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +1 (from 1 vote)

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya Oleh: Don Gabor Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009 ISBN: 978-979-22-5073-2 Tebal: xviii + 380 hal Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas! Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox