Syukurilah Jika Anda Bisa Memilih

esmtbOleh: Eko Supriyatno*

Dalam banyak perbincangan, apakah itu di kantor, rumah makan, halte bus, dan tempat lain saya lebih banyak mendengar keluhan ketimbang semangat. Yang pertama mengatakan, “Saya sudah kerja sekian tahun tapi hasilnya begini-begini saja.” Yang lainnya berkata, “Sama saja dengan saya.” Beberapa teman mengatakan,Percuma rajin kerja, toh hasilnya sama saja.

Sepanjang yang saya telusuri, fenomena inilah yang menjangkiti sebagian besar masyarakat kita. Kebanyakan dari kita lebih akrab dengan kata mustahil. Mustahil bisa makmur, mustahil bisa kaya, dan mustahil bisa sejahtera. Pantaslah kalau 90 persen dari perbincangan di sekitar kita memang lebih banyak kata-kata negatif daripada positif. Ironisnya, setiap hari kita ‘memproduksi’ pikiran sekitar 60.000 buah. Berarti kalau dikalikan, sekitar 540.000 pikiran yang beredar sebagian besar negatif. Serius sekali, bukan?

Mau pindah kerja takut tidak dapat, mau cari alternatif penghasilan tidak bisa, mau menambah income tidak sanggup. Sepertinya, hidup kita tidak punya pilihan. Pilihannya hanya satu bekerja di tempat yang sesungguhnya tidak nyaman buatnya.

Ketika manusia dewasa berkesempatan memilih, di sanalah harkatnya seorang ditempatkan, yaitu di jenjang kemuliaan atau di level kehinaan. Mulia dan hina, tentu, menggunakan ukuran Sang Mahapemberi Hidup, bukan pemohon hidup seperti kita ini. Dengan demikian, pekerjaan remeh mungkin hina di mata manusia, namun bisa bernilai dan mulia bagi-Nya

Tiap makhluknya dijamin hidupnya, rezeki-Nya. Bahkan, cacing yang lemah dan semut yang kecil, Sang Mahakuasa menjamin rezekinya. Masing-masing menemukan cara memperoleh rezekinya. Begitu pula manusia karena manusia berakal. Bagi makhluk Tuhan yang satu ini ada lebih banyak cara bisa ditemukan, digagas, dan dipilih dibanding hewan dan tumbuhan.

Kalau Anda bukan golongan orang-orang kepepet, masih punya orang-orang dekat yang simpati, rela berbagi gagasan dan senyum, mau menyemangati, bersyukurlah. Anda bisa mulai menetapkan pilihan. Terlalu, kalau Anda memilih jalan yang sesat. Kalau Anda bekerja dengan niat baik, sudah pasti hasilnya akan dinilai baik oleh Yang Mahakuasa. Inilah yang saya sebut pilihan. Tidak bekerja, berarti membiarkan diri kita tidak dilihat, tidak bermakna! Itu, kalau diri kita yakin masih punya sesuatu dari pikiran, emosi, dan jasad yang diamanahkan Sang Mahapemberi kepada kita, yang bisa didayagunakan untuk memberi makna kehadiran kita.

Nabi Muhammad menegaskan, “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bekerja dan berkarya, dan barang siapa bekerja keras demi (menafkahi) keluarganya maka (nilainya) seperti pejuang di jalan Sang Pemberi Hidup.“

Sang Khaliq secara senada memberi makna demikian penting terhadap aktivitas “bekerja”. Dengan demikian bekerja adalah ibadah” sesuatu yang berdimensi ilahiah, vertikal, berimplikasi pada kehidupan akhirat alias hidup sesudah mati nanti. Karena bekerja adalah ibadah, melakukannya sebaiknya juga tidak main-main atau tidak professional.

Andrew Carnegie, pendiri Carnegie Steel (1835-1919) sekaligus seorang multimiliarder baja berujar, “Orang yang biasa-biasa saja hanya mencurahkan 25 persen energi dan kemampuannya dalam pekerjaannya.” Katanya lebih lanjut, “Dunia mengangkat topi pada orang-orang yang mencurahkan lebih dari 50 persen kapasitas mereka, dan membungkuk pada sangat sedikit orang yang mencurahkan 100%”.[esmtb]

* Eko Supriyanto MTB adalah seorang entrepreneur, kolomnis, konsultan, dan motivator.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Motivasi Dunia

Motivasi Dunia

Kolomnis

<
Edy Zaqeus Eni Kusuma Avanti Fontana Alexandra Dewi Miranda Suryadjaja Sofa Nurdiyanti
Anang Y.B. Hartati Nurwijaya Aleysius H. Gondosari Sulmin Gumiri Relon Star Sri Budiastuti
Agus Riyanto Iftida Yasar Fida Abbott Ery Prasetyawan Tanenji Ingrid Gunawan
Maria Saumi Ely Susanti Agung Praptapa Putu Adnyana Fita Irnani Nathalia Sunaidi
M Sebastian Wijaya Abdul Muid Badrun Kak Sugeng Akhmad Sirodz Lisa Nuryanti Abidin Noor
Wuryanano Petriza Giovanni Amelia Devina Tri Wahyuni Endang Setyati Vina Tan
Lianny Hendranata Emmy Angdyani Erawati E. Setyo Hartono Fatma Kartika Sari Supandi Radinal Mukhtar Harahap
Sawali Tuhusetya Gatut Heru Susanto Effendi Budi P. Fajar S. Pramono Ade Asep Syarifuddin Melly Kiong
Guntur Novizal Ida Rosdiana Natapermadi Risfan Munir Sri Julianti Sawiji Farelhana Dewi Rhainy
Deni Kurniawan As’ari Johanes Ariffin Wijaya Indari Mastuti Enggar Kusumaningsiwi Daniel Kurniawan Sayuri Yosiana
A.A. Kunto A. Lina Kartasasmita K. Hanna Fransisca Wahidunnaba Yusuf Tantowi Dwiatmo Kartiko
Meta Sekar Puji Astuti M. Adi Prasetyo Abd. Basid Lily Choo Rina Dewi Lina Berny Gomulya
Zee Cardin M. Iqbal Dawami Sidik Nugroho Emmy Liana Dewi Ridwan Sumantri Dwiyana Apriandini
Andrew Abdi Setiawan Gobind Vasdhev J. I. Michell Suharli Yusnita Rifai Gagan Gartika

Check Google Page Rank

Buku Baru

Obrolan yang Bikin Kamu kaya

Judul: Obrolan yang Bikin Kamu kaya
Oleh: Don Gabor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
ISBN: 978-979-22-5073-2
Tebal: xviii + 380 hal

Jangan hanya membangun jejaring luas-berjejaringlah dengan cerdas!
Obrolan yang Bikin Kamu Kaya menyajikan pendekatan baru revolusioner pada topik berjejaring yang tak lekang waktu. Penulis buku laris dan pelatih komunikasi Don Gabor memperkenalkan Anda pada empat gaya berjejaring—Kopetetif, Supel, [...]

Full Story | February 24th, 2010

Best Viewed With Mozilla FireFox