Surat Cinta untuk Jeshua
Editor | Kolom Tetap | July 28th, 2009
Oleh: Miranda Suryadjaja*
Thank you, Jes….
Rasanya enggak mungkin aku mikir tentang diri-Mu tanpa merasa bersyukur atau mengucap syukur.
Aku cinta padamu, J….
Sesuai ajaran-Mu, aku merasa enggak benar kalau aku bilang aku cinta pada-Mu karena apa yang telah Kamu berikan untukku, atau karena semua yang Kamu lakukan bagiku, atau bahkan karena siapa Kamu sekalipun …. Kamu ajari aku bahwa aku sudah dicinta, penuh cinta, dan tercinta.
Sudah tiga tahun berlalu sejak kita ‘berkenalan’. Dan, lihatlah… bagaimana aku telah sangat berubah lewat perjalanan kita bersama…. Perjalanan tanpa akhir dengan tujuan yang enggak pernah berubah….
Kau ‘taklukin’ aku saat pertama kali kita ‘berkenalan’– ketika aku ‘mendengar-Mu’ untuk pertama kalinya. Sejak itu… aku enggak punya yang lain.…
Aku ingat, waktu itu aku masih berupa si gadis kecil yang penuh ketakutan dan kecurigaan, yang merasa dirinya tidak berarti, yang menganggap dunia siap menerkamnya, menyakitinya… Menderita hidupnya….
Kamu telah mengirimi aku begitu banyak malaikat yang datang sebagai teman dan musuh yang mulia, mereka semua menjadi guruku sekarang….
Ada saat di mana aku menolak cara-Mu mentah-mentah, berdebat dengan-Mu, ngotot memaksakan mauku sendiri…. Kamu enggak pernah sekalipun menghalangi aku, mengejek, atau mengatakan aku enggak pakai otak, enggak pernah…. Alih-alih, Kamu diam-diam di salah satu sudut, dengan senyuman khas-Mu, sabar menunggu sampai aku sadar sendiri siapa diriku yang sesungguhnya.
Dan, ada saat di mana aku melakukan cara-cara Abba dan harus menanggung amarah dunia ini. Ketika aku tersisih, bingung dan tercampakkan, Kamu peluk aku erat, Kamu pinjamkan kekuatan-Mu sampai aku bisa berdiri kembali di atas kedua kakiku. Kamu selalu bisa mencari jalan untuk masuk kembali ke dalam diriku lewat celah-celah hatiku yang yang paling sempit sekalipun. Kamu dorong aku dengan lembut. Kamu bisikkan di telingaku: “Pergilah ke sana, datanglah ke sini. Telepon orang itu. Ambil buku itu, baca halaman itu.”
Atau, Kamu jatuhkan permata mutu manikam ke dalam benakku: “Kau dicintai, pecinta, dan tercinta. Dengan dirimu sendiri kau tak bisa lakukan apa-apa. Tetapi Abba, lewat dirimu, bisa melakukan segalanya.”
Lambat tetapi pasti, aku mulai lebih sering merasakan kehadiran-Mu dalam hidupku. Kamu selalu bersamaku, bahkan ketika aku sedang tidak bersama-Mu. Selalu siaga. Selalu siap.… Selalu mencari dan mencari lubang-lubang bukaan kecil itu. Menunggu aku menurunkan perisai hatiku, sehingga kau bisa menyelinap masuk, tanpa setahuku, ke sudut-sudut gelap pikiranku, mencurahkan sinar-Mu sehingga yang gelap menjadi terang kembali.
Dengan semakin terbukanya hatiku, semakin dalam juga cintaku pada-Mu.
Aku mulai melihat-Mu di setiap orang yang aku temui. Aku mulai merasa berani dan cukup berharga untuk mengundang-Mu masuk ke dalam hati dan benakku, untuk meminta-Mu menjadi diriku, sehingga aku juga bisa merasakan menjadi diri-Mu.
Kadang aku enggak tahu kapan Kamu berakhir dan aku dimulai. Tetapi satu hal yang aku tahu, aku jadi lebih kuat dan lebih jadi diriku yang sesungguhnya. Aku jadi lebih berani dan lebih pengasih. Aku mulai melihat yang Baik, yang Suci, dan yang Indah dalam diriku sendiri – sama seperti yang ada pada diri-Mu. Kamu menantang aku untuk berani masuk ke dalam kerajaan Abba, … aku lakukan itu… dan aku naik ke pangkuan-Nya, merangkak masuk ke sanubari-Nya, untuk serahkan hati dan jiwa ragaku pada-Nya. Dialah kekasihku.
Kamu ajari aku semua itu, Jes… Sering kali Kamu datang padaku ketika hari masih gelap, ketika subuh belum lagi menjelang. Kita bercengkerama, berdiskusi bernapas bersama-sama, kita rasakan dan saling sentuh jiwa kita. Kamu ingatkan aku bahwa aku mahluk tak berbatas, bahwa aku adalah jiwa yang murni, tak bisa dikotori, tak ternoda. Kau bilang bahwa Kau, aku, dan Abba adalah Satu adanya.
Kalau saja aku enggak mengalaminya sendiri, aku enggak bakal percaya bahwa hubungan Cinta di antara kita akan dan bisa terus tumbuh dan bersemi sepanjang waktu. Aku enggak mau kehilangan kamu, enggak untuk sedetik pun. Cinta kita begitu indah, begitu mulia, enggak bisa dilukiskan oleh oleh kata-kata.
Seiring dengan berjalannya waktu, aku belajar untuk mencintai diriku lebih dalam lagi, meskipun tetap belum sebesar cinta-Mu padaku.… Tetapi, aku terus belajar, apalagi aku punya Guru dan Contoh yang luar biasa…. Aku terus membuka diriku untuk mencintai.… Bagaikan kuncup mawar yang merekah oleh sentuhan embun pertama di musim semi… kukecup, kurengkuh, kuteguk.…
Engkau pernah mengatakan bahwa kerinduanku pada-Mu adalah kerinduan-Mu padaku, cintaku pada-Mu adalah cinta-Mu padaku. Betapa Kau mencintaiku, Jes…. Begitu setia, begitu ikhlas.… Kau curahkan cinta ke dalam hatiku tak henti-hentinya. Namun, hausku akan diri-Mu enggak kunjung habis, dan enggak bakalan habis…. Ajari aku, untuk bisa membuka diriku lebih dalam lagi, supaya Kau bisa masuk hingga nadirku.
Terima kasih, Jes.… Sekarang dan selamanya….
Enggak lagi aku kerdil oleh ketakutan.
Enggak lagi aku pakai perisaiku untuk menolak pandangan yang berbeda.
Enggak lagi aku bendung cucuran airmataku tatkala jiwaku ingin mebasuh bersih dirinya.
Enggak lagi aku melihat orang-orang asing dalam mata saudara-saudaraku.
Aku cinta pada-Mu, sayangku, aku kekasih-Mu.
……………………..
16 Juli 2009[ms]
* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putra. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui pos-el: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.
Leave a Reply