Home » Kolom Tetap » Superwoman Kampung

Superwoman Kampung

fiOleh: Fita Irnani*

Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis tema ini, Superwoman Kampung. Berawal dari ketertarikan saya akan sepak terjang seorang hawa di kampung saya. Tidak muluk-muluk tampaknya jika saya menggunakan istilah kampung untuk menyebut pemukiman saya. Sebuah kompleks perumahan yang wilayahnya mengalami perluasan bertahap. Alotnya transaksi pembebasan lahan dengan penduduk lokal rupanya sedikit menghambat pengembang mendulang kesepakatan harga jual. Kawasan pemukimannya sendiri tidak besar. Kawasan ini menginduk pada satu Rukun Warga, yang menaungi tiga Rukun Tetangga, berisi rata-rata lebih dari lima puluh KK disetiap RT.

Tidak bermaksud untuk berhiperbola ketika saya menggunakan istilah superworman. Sosoknya biasa saja, ibu rumah tangga dengan dua orang putri yang sopan dan pintar-pintar. Semula saya tidak mengenalnya, mengingat kami tidak berada dalam lingkungan RT yang sama. Dalam satu RT saja belum tentu 100 persen saya hafal penghuninya, apalagi beda RT? Ditambah aktivitas saya di kantor yang tidak menjamin keberadaan saya setiap saat full day di rumah (bukan bermaksud ngeles, lho). Kesempatan bebas bertemu tetangga hanya terjadi pada akhir pekan, sabtu dan minggu.

‘Kerjasama’ saya dengan ibu ini berawal dari ajakannya mengikuti kegiatan silaturahmi yang dikemas dalam bentuk arisan RW. Supaya lebih saling mengenal, katanya kala itu. Pesertanya tidak banyak. Dua puluh lima orang tapi dari berbagai RT. Ini artinya, sang ibu berhasil mengumpulkan peserta dari ujung ke ujung. Jangan salah, tidak hanya sebatas arisan RW saja, model arisan ekonomis yang bermodal seratus ribu rupiah per orang pun dia selenggarakan. Alasannya supaya mencakup berbagai kalangan.

Tidak berhenti pada arisan, ibu ini juga merambah pada bisnis kecil khas ibu-ibu RT. Segala musim tidak pernah sepi berdagang. Kue kering lebaran, tabungan kurban, buku dan alat tulis, seragam sekolah, semua dijajakan door to door antar-tetangga. Dari alas kaki, pakaian pria-wanita, tas, dompet hingga perlengkapan rumah tangga aneka merek.

Tidak jarang juga, si ibu mengambil peran sebagai event organizer yang mendatangkan aneka demo untuk ibu-ibu rumah tangga. Demo rias wajah, masak-memasak, demo tabung gas hemat energi, demo aneka alat masak. Semua dikoordinir sendiri. Belum lagi untuk perayaan-perayaan hari besar. Andilnya tidak pernah hilang, bahkan untuk menjadi vokalis karaoke pada acara 17-an.

Pernah saya bertanya mengenai kesibukannya ini. Dari sisi materi, saya rasa jauh dari yang namanya kurang. Alasannya hanya satu, aktivitas dan bisnis kecil yang dia jalankan semata-mata untuk menyibukan dirinya. Barangkali ini adalah cara terampuh membunuh kesepian lepas mengantar kedua putrinya bersekolah, sementara profesi suaminya yang seorang pelaut, tentu dapat diprediksi keberadaannya di rumah.

Cinta dan perhatian pada kedua buah hatinya kadang mengundang kecemburuan saya. Setiap pagi telaten menyuapi sebelum mengantar ke sekolah. Malam hari menemani mengerjakan PR. Beberapa kali saya temui jika kebetulan bertandang kerumahnya. Si ibu ini tidak sungkan pula merayakan ulang tahun putrinya pada acara arisan ibu-ibu RW.

Hilir mudik dari klien ke klien, dia lakukan dengan sepeda motor bebeknya. Setiap kali melaju di depan rumah saya, formasi duduknya tidak berubah, berbonceng tiga dengan kedua putrinya. Antar-jemput sekolah, sekadar bertandang ke kerabat, atau mengantar barang orderan klien.

Perannya menjadi ‘toa’ kampung, istilah saya untuk penyebar informasi terkini (seputar kampung tentunya), tidak diragukan lagi. Jadwal arisan, kelahiran, kedukaan, pengajian, hajatan, keamanan lingkungan, produk dagangan baru, setiap saat tersebar secara face to face atau via sms.

Saya sering membaca profil sukses superwoman Indonesia. Pendidikan tinggi, karier cemerlang, anak-anak pintar, keluarga yang bahagia, memimpin lebih dari satu perusahaan, plus social live after office hour. Luar biasanya mereka. Dua puluh empat jam yang dimiliki teralokasi super sempurna. Apa yang saya lakukan saat ini mungkin tidak mampu menandingi kesuperannya.

Hal yang menarik, menjadi super rupanya tidak melulu membutuhkan pendidikan tinggi, tidak perlu jebolan universitas manca negara, tidak perlu memiliki kerajaan bisnis, atau tidak perlu terlahir dari klan ‘berada’. Tergantung pada bagaimana mendefinisikan super itu sendiri. Untuk saya, apa yang dilakukan ibu tetangga saya ini sudah luar biasa bagi perempuan seprofesinya.

Pendidikan yang tidak tinggi, berbekal gaya komunikasi dan kehebatan bersosialisasi (yang entah dari mana belajarnya) dirinya membuka rintisan membangun jaringan, meski hanya seputaran kampung, toh sampai sekarang bisnis kecilnya tidak pernah mati. Kegiatan arisan saja bersambung jilid dua untuk tahun berikutnya.

Inisiatifnya dalam mengadakan acara-acara positif inilah yang menarik perhatian saya. Apa saja dikerjakan, peminatnya juga jangan ditanya. Bahasa gaulnya, “Nggak ada matinya”. Komitmennyalah yang patut dipuji. Bahkan ketika ‘tas kerjanya’ raib dirampas penjahat jalanan, tak kenal lelah beliau mendatangi satu per satu kliennya, sekadar mencatat ulang nomor handphone dan menyalin kembali catatan arisan dan tabungan kurban klien. Salah satu bentuk tanggung jawab si ibu rupanya.

Keberadaan figur seperti ini sesungguhnya sangat diperlukan dalam hidup bermasyarakat. Ketika sekelompok orang disibukkan dengan aktivitas di kantor (seperti saya), fungsi penggerak seperti ini sangat membantu sekali. Ibaratnya kalau semua orang sibuk di kantor, tentu perlu seseorang yang luwes yang mampu dan mau menyemarakkan kampung. Selain Pak RT tentunya, yah.

Ibu rumah tangga yang cerdik, pandai memanfaatkan waktu, percaya diri, mau mencoba dan pintar melihat peluang meskipun dalam skala kecil. Lingkungan kampung. Kelas RT. Kelas Kampung! Superwoman Kampung.[fi]

* Fita Irnani lahir di kota Semarang 13 Juni 1975. Sulung dari tiga bersaudara ini menghabiskan masa kecil hingga SMA di kota kelahirannya. Alumnus workshop Proaktif “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller” Batch VIII, Februari 2009 ini menetap di kota Bogor dan saat ini bekerja sebagai Learning & Development Specialist pada sebuah perusahaan multinasional yang berkantor di Sudirman. Fita dapat dihubungi melalui pos-el: acho_fit[at]yahoo[dot]co[dot]id.

VN:F [1.6.9_936]
Rating: 8.0/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.9_936]
Rating: +3 (from 3 votes)

3 Comments

  1. Puspita W says:

    Kita memang perlu banyak belajar pada ibu-ibu superwomen seperti beliau. Keikhlasannya menolong sesama diantara kesibukannya usahanya membuat kehidupan keluarganya sangat bahagia.

    Mereka bisa memberi contoh tentang perjuangan seorang ibu yang sebenarnya bukan sebatas sebuah teori.

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Menjadi superwoman, dimanapun dan kapanpun dengan segala kondisinya..
    hehe…
    menarik mbak artikelnya…

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Merry H. says:

    Bagus bu artikelnya, Betul2 tipe sanguinis tuh sepertinya, ramah dan supel pasti, Memang harusnya begitu hidup bertetangga karena kebanyakan wanita karir gak mau bergaul dengan tetangganya, sabtu minggu libur kalo ga shopping ya diem aja dlm rumah bener2 ga mau bergaul dg tetangga sepertinya tetangganya ga selevel gitu…ada tamu aja gak mau dibukain pintu…ya..maklum namanya wanita karir kan hari libur dimanfaatkan untuk diri sendiri..

    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    UN:F [1.6.9_936]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Komentar