Sumber Ketakutan
Editor | Kolom Tetap | February 23rd, 2009
Oleh: Miranda Suryadjaja*
When we say ‘I’, who or which I are we talking about?
When we say or think ‘I’, we separate.
Siapa kita, siapa Tuhan? Dua hal yang berbeda, atau menjadi satu? Sebuah paradoks, yang mana pemahaman mengenai hal ini akan memusnahkan penderitaan, atau lebih tepatnya konsep atau persepsi tentang apa penderitaan itu sebenarnya.
Dulu sebelum saya memahami konsep ini, saya selalu menganggap bahwa Tuhan adalah seorang berjenggot yang di duduk di atas singgasana di sebuah kerajaan di langit, yang punya kekuasaan luar biasa. Dan Yesus, Muhammad, Budha, Krishna, dan lain lain adalah manusia-manusia pilihan yang diberi power khusus serta ditugaskan untuk turun ke bumi demi menyelamatkan umat manusia. Dari apa? Sebenarnya, tak pernah terpikirkan oleh saya bahwa ada suatu bahaya yang mengancam manusia, selain daripada dosa—mungkin, yang tak lain adalah kebodohan, kesalahan, atau kekhilafan manusia sendiri?
Saya telah membaca banyak buku suci dari banyak agama, namun mungkin karena tidak ada yang memberi jawaban yang memuaskan, saya tidak pernah memilih suatu agama. Dan, sekarang pun saya adalah Hindu KTP, karena saya berdarah Bali, tinggal di Bali, dan ketika sebagai mahasiswa saya mempelajari comparative religions (perbandingan agama-agama). Pada waktu itu, ajaran agama Hindu bagi saya terasa yang paling gamblang dan logis dalam menjelaskan keberadaan manusia, ada sebelum dan sesudah kehidupan. Dan mohon dicatat, pemahaman saya sebagai mahasiswa berusia 19 tahun masihlah sangat dangkal. Sehingga, ketika ditanya saya harus mencantumkan salah satu agama untuk KTP, saya pilihlah agama Hindu.
Pemikiran saya, meskipun belum memberikan jawaban yang terasa benar-benar pas, penjelasan agama Hindu tentang reinkarnasi paling masuk akal buat saya, pada saat itu. Kenyataannya, saya dilahirkan di keluarga yang menganut agama Konfusius, dengan seorang ayah yang mendeklarasikan dirinya sebagai seorang agnostik. Baru di sekolah menengah atas yang notabene sekolah Katolik saya secara formal ‘belajar’ tentang agama Katolik. Semasa di SMA saya berkenalan dengan orang-orang beragama Advent. Dan, meski tidak tertarik pada ajarannya, saya mencoba menjadi vegetarian total (vegan) selama hampir setahun.
Pada kurun waktu yang sama, saya diperkenalkan pada Transcendental Meditation oleh Ibu saya yang menganggap, atau mungkin berharap, latihan meditasi akan membuat saya lebih damai, atau lebih penurut. Sewaktu mahasiswa saya mempelajari berbagai jenis meditasi, ikut retreat agama Katolik, Kristen, Budha, dll. Saya kemudian menikah dengan seorang beragama Islam yang sangat taat, namun di saat yang sama seorang sekuler, sehingga tidak ada pemaksaan atas diri saya untuk masuk agama Islam. Tetapi, melalui dia saya mengenal karya-karya Jallaludin Rumi dan Ahmad Ghazali, para sufi Islam yang sangat saya kagumi, dan kebenaran-kebenaran yang mereka paparkan beresonansi kuat dengan batin dan hati saya.
Tatkala saya hamil anak pertama dan satu-satunya, kami berdua lagi gandrung membaca dan mendalami Bhagavad Gita serta karya-karya Rumi, yang sampai sekarang merupakan penyair mistik favorit saya. Sampai-sampai ketika anak itu lahir kami namai Govinda Rumi. Sekarang, kami tidak lagi bersama. Ayah anak saya menjadi penganut agama Budha yang sangat taat, sementara Govinda—setelah belajar agama Hindu di sekolah hingga tamat SD—memutuskan agama Budha lebih cocok dengan hatinya, meskipun dia juga sangat sekuler dan terbuka terhadap semua ajaran agama.
Separation atau pemisahan yang bagaimana yang saya maksudkan? Serta apa yang perlu disembuhkan?
Manakala Anda membanding-bandingkan diri Anda dengan orang lain; tatkala Anda merasa yang terjadi di luar diri Anda tidak ada hubungannya atau urusannya dengan diri Anda; tatkala Anda menganggap orang lain melakukan sesuatu terhadap diri Anda (biasa yang diingat dan diperhatikan adalah hal-hal yang tidak menyenangkan bagi diri anda); tatkala Anda menyalahkan orang lain, situasi, kejadian, atas apa yang di mata anda terasa sebagai suatu penderitaan. Ini adalah beberapa contoh pemisahan yang saya maksudkan.
Pemisahan ini antara lain menyebabkan Anda merasa marah, sedih, kecewa, iri, dendam, merasa dunia tidak adil, merasa kecil, terisolasi, dan banyak lagi perasaan negatif lainnya.
Dulu, ketika saya mulai mendalami psikologi spiritual, saya paham bahwa siapa saya disebabkan oleh situasi dan kondisi, serta programming orang tua, lingkungan, sekolah, dan masyarakat. Sementara, ketika saya masih kecil, yang mana omongan dan pesan-pesan mereka—yang tidak lain merupakan program bawaan mereka dari orang tuanya pula—menjadi blueprint dari mindset dan cara saya bereaksi terhadap hidup. Ketika saya memahami mekanisme kebiasaan, pola pikir, serta akibatnya dalam hidup saya, saya sempat terpaku menyalahkan orang tua, menyalahkan diri sendiri, dan merasa bahwa saya tidak berdaya karena telah diprogram begitu.
Contoh lain yang lebih umum, misalnya orang beragama saling merasa bahwa agamanya lebih baik dari agama orang lain. Atau, Tuhannya hanya mengasihi mereka yang seiman dengannya. Atau, yang lebih ekstrem namun tidak jarang terjadi di negeri kita maupun negeri mana saja di dunia ini, melarang anak menikah dengan orang yang tidak seagama. Bahkan, saya tahu ada orang tua yang tidak mau bicara dengan anaknya, membuang, dan mengucilkan anak gara-gara anaknya menikah dengan orang yang beda agama.
Kita bisa berpolemik panjang tak berkesudahan soal pendapat mana yang benar. Bahkan, itu bisa mencetuskan perang dunia gara-gara masing-masing pihak merasa pendapatnya adalah benar secara absolut. Tetapi, hal itu hanya melelahkan dan menguras tenaga, tanpa ada manfaat yang berarti. Kecuali kalau Anda terlibat di suatu politik dan perolehan massa Anda tergantung dari sejauh mana Anda bisa memengaruhi mereka untuk melihat bahwa Anda benar semata.
My friends, bukan itu yang penting di sini. Yang penting, apa yang Anda rasakan dalam hati, batin, dan perasaan Anda. Tatkala Anda ngotot mempertahankan pendapat, dan merasa Anda tidak bisa lagi dekat dengan orang yang pikiran dan pendapatnya beda dengan Anda, perhatikan baik-baik apa yang terjadi di pikiran Anda, di badan Anda, serta perasaan Anda. Ada perasaan tidak enak, pikiran-pikiran negatif berkecamuk di pikiran Anda, menyalahkan, menganggap mereka lebih bodoh, keinginan untuk mempermalukan mereka karena pikiran mereka, serta mengungkit kembali masa lalu mereka yang menurut Anda salah.
Betapa banyaknya penderitaan yang tidak perlu. Dan, semua penderitaan ini timbul hanya bersumber pada satu hal: ketakutan. Ketakutan terhadap apa, Anda mungkin bertanya. “Saya bukan penakut, hadapkan saya pada orang-orang garang, pada malam yang kelam, saya tidak takut, saya seorang pendekar, preman, jagoan, pemimpin.”
Masalahnya, ketakutan itu sebenarnya banyak wujudnya. Kebanyakan orang yang marah sebenarnya takut kehilangan muka, takut merasa tidak dipandang, takut karena tidak didengar, yang notabene sama artinya merasa dianggap tidak penting atau tidak berarti di mata lawan bicaranya. Bisa juga orang marah karena takut dia kehilangan power-nya.[ms]
* Miranda Suryadjaja adalah seorang public speaker dan konsultan bisnis yang berdomisili di Bali. Selain itu, Miranda juga seorang life coach dan jewelry designer yang meminati bidang motivasi dan pemberdayaan perempuan. Peraih gelar MBA dari National University, San Diego, USA yang juga hobi menulis, membaca, mendesain, dan traveling ini telah dikarunia seorang putera. Saat ini, ia tengah menulis sebuah buku tentang pribadi Yesus dalam kacamata seorang penganut agama Hindu. Miranda dapat dihubungi melalui email: sayamiranda[at]gmail[dot]com atau HP: 0811389432.

Leave a Reply