Sukses Tidak Punya Aturan
Editor | Kolom Lepas | October 13th, 2009
Oleh: Gobind Vasdhev*
“Kita menguras habis energi kita untuk mengubah diri daripada memusatkan perhatian kita pada keistimewaan yang kita miliki dalam berupaya meraih sukses.”
~ Gobind Vasdhev
Sukses dan bahagia, mungkin inilah dua hal yang paling diinginkan setiap orang. Sukses sering dikonotasikan dengan pencapaian materi, misalnya rumah besar di perumahan elit, mobil mewah, atau karier yang cepat naik, sejumlah deposito, dan lain sebagainya. Sementara, bahagia sering diartikan sebagai sebuah perasaan yang damai, tenang, atau secara kasat mata kita melihat orang yang berbahagia adalah orang dengan senyum yang selalu menempel di bibirnya.
Tentang arti sukses dan bahagia ini, tidaklah salah kalau kita melihat dari kacamata umum yang ada di masyarakat. Namun secara individu, kacamata yang dipakai beramai-ramai ini tentu tidak selalu cocok untuk setiap penggunanya. Dengan kata lain, sukses sifatnya sangatlah pribadi. Pak Jono misalnya, yang senang berkeluyuran dengan sedan hitam mulus bermerek BMW. Menurut masyarakat yang berdampingan di sekitar tempat tinggalnya, Pak Jono dianggap sebagai orang yang sukses. Namun, menurut Pak Jono sendiri sukses baru dirasakan atau diperoleh kalau dia sudah mempunyai mobil sedan merek Jaguar keluaran terbaru.
Bila sukses ukurannya bisa sangat individu, apalagi dengan kata yang satu lagi, yaitu bahagia. Tanpa ingin masuk di wilayah pribadi setiap individu pembaca tentang ukuran sukses apalagi bahagia, izinkan saya berada di wilayah umum di mana ukuran mengenai sukses dilihat secara dangkal dan samar.
Buku buku tentang bagaimana seseorang bisa menjadi sukses memang banyak sekali di terbitkan, begitu juga dengan seminar-seminarnya. Dalam buku atau seminar tersebut, Anda akan menjumpai sejumlah kumpulan syarat dan apa yang harus dilakukan maupun tidak dilakukan, atau sikap apa yang diperlukan seseorang bila kesuksesan ingin direngkuh. Satu syarat yang sering kita dengar adalah seperti ini: Untuk sukses seseorang haruslah berpikiran atau mempunyai karakter yang positif, bukan yang negatif. Rasa percaya diri akan jauh menghasilkan kesuksesan dibanding seseorang yang selalu merasa minder, atau optimis lebih baik daripada pesimis.
Tanpa ragu lagi apa yang dicontohkan di atas adalah sesuatu yang baik dilakukan untuk meraih kesuksesan. Namun, bagaimana dengan sahabat-sahabat lain yang tidak mempunyai karakter yang seperti diharapkan dari buku dan seminar itu? Atau, sahabat yang susah untuk berubah, apakah mereka semua adalah orang-orang yang tidak sukses atau tidak akan pernah bisa sukses? Atau sebaliknya, mereka yang menerapkan prinsip dari orang-orang sukses yang ditulis dalam buku pasti akan menjadi sukses?
Pada kenyataannya, yang kita lihat di sekitar kita tidak seperti itu, bukan? Banyak juga dari mereka yang mempunyai karakter yang disebut sebagai “negatif” menjadi sukses dalam materi, dan tidak sedikit yang “positif” malah tidak mencapai hasil yang diharapkan.
Mark Twain contohnya. Ia adalah seorang yang sangat pesimis, skeptik, dan sarkastik. Kita bisa melihat dari tulisan-tulisan yang diciptakan, semua bertutur tentang ras manusia yang minus. Namun, kemampuan yang unik dari seorang Mark Twain inilah yang menjadikan dirinya meraih kesuksesan. Sifat negatifnya justru menjadikan seorang sastrawan jenius yang diakui oleh dunia.
Contoh lainnya adalah seorang penulis juga yang telah mengharumkan nama negeri tercinta ini, Pramodeya Ananta Toer. Maestro yang baru saja melepaskan jasadnya dan meninggalkan kita dengan kenangan yang dalam ini pun memanfaatkan “kenegatifannya”, yaitu “kekurang-PD-annya” yang telah ada sejak masa ciliknya. Pram kecil mulai belajar menulis, ia menuangkan semua isi hatinya melalui guratan pena karena ia tidak mempunyai keberanian berbicara. Kekuatan yang terpendam dari ketidakberanian bicara inilah yang menjadi bahan bakar yang dahsyat sehingga menjadikan dirinya seorang penulis Indonesia yang tak tergantikan.
Bukan hanya dalam karakter atau sifat, bahkan dalam bentuk fisik sekalipun sesuatu yang “dicap” jelek pun dapat mengahasilkan rezeki dan kesuksesan yang sama. Anda bisa melihat sahabat pelawak atau komedian yang mempunyai bentuk dan ukuran tubuh yang dianggap di luar batas kewajaran. Mereka dapat memanfaatkan apa yang mereka miliki menjadi ladang penghasilan yang tak terkira sebelumnya.
Kita semua telah “diprogram” oleh peradaban yang kita semua tidak tahu asal muasalnya. Kita telah diprogram untuk meyakini tingkah laku tertentu adalah positif, dan yang lainnya adalah negatif. Orang sukses adalah orang yang positif, sementara negatif pasti gagal. Karena itu, kita menguras habis energi kita untuk mengubah diri daripada memusatkan perhatian kita pada keistimewaan yang kita miliki dalam berupaya meraih sukses.
Anda bisa sukses dengan “positif” dan Anda juga bisa sukses dengan memiliki “negativitas” di dalam diri Anda. Sifat-sifat negatif yang ada dalam diri Anda tidak akan menghalangi usaha Anda dalam meraih kesuksesan di bumi ini. Mereka itu adalah bagian dari diri Anda. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa belajar mencintai, menerima, dan memanfaatkannya.
Apa pun kenegatifan Anda, buatlah itu sebagai lahan untuk mendapatkan nilai tambah dalam hidup Anda. Bila Anda susah untuk bangun pagi maka Anda bisa memanfaatkan kenegatifan Anda dengan mencari pekerjaan yang jam kerjanya malam hari di mana kemungkinan Anda dibayar lebih tinggi. Bila kenegatifan Anda suka melahap makanan lezat saja, carilah pekerjaan sebagai koki atau tulislah buku tentang tempat-tempat makan yang terbaik di kota Anda. Atau, bila sesuatu yang negatif dalam diri Anda adalah suka menonton film, jadilah kritikus film.
Jika Anda belum menemukan pekerjaan seputar “kenegatifan” Anda, maka pikirkan sesuatu yang kreatif,sesuatu yang belum terpikir oleh orang lain. Di dalam setiap hal—baik positif atupun yang negatif—selalu tersimpan aset yang luar biasa yang selalu menanti untuk ditemukan. Misteri kehidupan ini tidak di mana-mana, ia bersembunyi di dalam misteri sifat Anda.
Pencipta kita sangatlah adil. Ia memberikan segala sesuatunya dengan baik. Bila Ia menciptakan orang percaya diri, Ia juga menciptakan seseorang yang minder. Namun, keduanya adalah baik dan keduanya pun sama-sama mempunyai kelebihan. Dan, kesuksesan bisa diraih oleh keduanya.
Kalau seperti ini ceritanya, sepertinya sukses tidak memiliki peraturan, bukan? Sukses dapat menghampiri mereka yang optimis, juga menyapa yang pesimis. Sukses dapat berlabuh pada seorang yang cekatan dan keras, namun sukses juga bisa mendarat pada para sahabat yang lambat dan fleksibel.
Sekarang, apakah Anda ingin membenci sifat-sifat negatif yang melekat dalam diri Anda? Berusaha menyingkirkannya dengan sekuat tenaga atau merangkulnya? Menjadikannya seorang sahabat dan memanfaatkannya? Semua tergantung sepenuhnya pada Anda.[gv]
* Gobind Vashdev adalah seorang trainer, public speaker, dan pesulap. Ia tinggal di Ubud, Bali, dan tengah menantikan penerbitan buku perdananya. Gobin dapat dihubungi melalui pos-el: v_gobind[at]yahoo[dot]com.
October 14th, 2009 at 7:44 pm
Tulisan diatas membangunkan saya dari kesibukan ingin success seperti orang lain. Tapi saya merasa kelelahan karena selama ini ingin menyingkirkan kenegatifan saya. Mulai sekarang saya akan bersahabat dengan diri saya apa adanya , saya akan mencintai diri saya baik dan buruknya ….saya akan berjalan terus dengan potensi yanga saya punya …terimakasih …..
October 15th, 2009 at 1:49 am
Kesuksesan memang bisa diraih dengan menggali potensi pada diri kita apapun itu, saatnya untuk bisa memaknai hal-hal positif dan negatif yang melekat pada diri kita untuk dikembangkan menjadi sarana meraih kesuksesan…
October 30th, 2009 at 9:42 am
luar biasa, anda melihat arti sukses dengan kacamata yang berbeda..