Strategi Menghindari Keluhan
Editor | Kolom Tetap | February 2nd, 2009
Oleh: Hartati Nurwijaya*
Siapa sih yang senang jika menerima keluhan?
Mungkin ada yang senang menerima keluhan dari pelanggan. Seorang CEO akan senang jika mendapat keluhan agar dia dapat melakukan perbaikan di perusahaannya. Keluhan pelanggan tersebut lebih banyak dimaksudkan sebagai kritik dan saran. Masukan bagi perbaikan kinerja dan pelayanan perusahaan.
Tidak semua keluhan dapat menghasilkan perbaikan. Justru semakin banyak Anda mengeluh menunjukkan bahwa Anda tidak bahagia. Individu yang sering mengeluh semakin jauh dari bahagia.
Menurut ilmuwan, setiap hari manusia mempunyai 60.000 pikiran yang muncul di otaknya. Sekitar 80 persen dari pikiran tersebut adalah pikiran negatif. Atau, 45.000 pikiran yang muncul di otak manusia setiap hari adalah negatif. Disebut Dr Daniel Amen, seorang psikiater dan spesialis di bidang otak, 45.000 pikiran negatif yang muncul sebagai ANTs (pikiran negatif otomatis).
Otak kita lebih banyak memunculkan rasa khawatir yang belum tentu terjadi. Kita khawatir anak sakit, khawatir jika besok akan hujan dan banjir, khawatir teman yang diundang tidak datang, dan banyak pikiran buruk lainnya.
Menurut hasil riset, bahwa ada beberapa pasien kanker yang lebih lama bertahan hidupnya. Karena, dia berpikir bahwa alam sekitar, dokter, obat, dan keluarganya terus mendukung kesembuhannya. Sedangkan pasien kanker yang selalu khawatir bahwa penyakit itu tidak bisa diobati, hidupnya tidak bertahan lama.
Sebagai ibu rumah tangga dan istri, setiap hari sering muncul pikiran khawatir. Khawatir anak sakit, tagihan listrik naik, rekening telepon mahal, dan sebagainya. Akibatnya, mengeluh pada suami. Keluhan-keluhan tersebut ternyata menjadi beban bagi suami saya. Suami yang seharusnya fokus bekerja dengan giat agar mendapatkan banyak rezeki, akhirnya menjadi terganggu pikirannya akibat keluhan istri.
Memberi pujian pada seseorang dan menghargai sesuatu terkadang lebih sulit dilakukan. Individu cenderung lebih mudah mengeluh dan mencibir. Alangkah indahnya hidup, jika Anda membiasakan memberi pujian dan senyuman pada anggota keluarga dan rekan sekerja.
Marcy Shimoff, penulis buku Happy No Reason, mengatasi kebiasaan mengeluh dengan cara memasukkan uang 2 dollar AS ke dalam kotak setiap dia mengeluh. Mengeluh bukan saja ditujukan pada suami, anak, ibu, dan individu lainnya. Kita juga bisa mengeluh pada benda-benda, tumbuhan, dan hewan di sekitar kita.
Agar saya tidak mengeluh, saya katakan pada otak saya, bahwa saya tidak mau mengeluh. Saya ingin bahagia, ceria. Ketika saya ingin mengeluh kepada anak atau suami, maka hal pertama yang saya ingat adalah bahwa saya tidak suka jika mendengar keluhan. Sehingga, saya tidak jadi mengeluh pada anak dan suami. Saya atasi masalah yang ingin dikeluhkan. Saya cari solusi, sumber keluhan yang tidak jadi dikeluarkan tadi.
Agar rekening listrik tidak mahal, maka saya matikan lampu yang tidak perlu, mengurangi memanggang roti di oven litrik, mencuci piring dengan tangan, dan tidak menggunakan mesin cuci piring listrik. Agar rekening telepon tidak mahal, kami ganti layanan telekom beserta internet yang mengenakan biaya tetap 35 euro setiap bulan. Agar anak-anak tidak mudah terserang penyakit, saya selalu cek jadwal imunisasinya, dan setiap hari memberi mereka makan banyak buah.
Anda juga bisa mencoba mengurangi keluhan dengan cara menuliskannya sebelum diucapkan. Siapkan selalu pena dan kertas. Ketika muncul keinginan mengeluh, segera tulis apa saja yang menjadi uneg-uneg Anda. Misalnya; “Sayang, kenapa uang belanja hanya segini? Kamu tahu kan harga barang-barang mahal?”
Keluhan seperti ini tidak perlu diucapkan pada suami Anda. Sebab suami Anda sudah tentu mengetahui kondisi harga pasar.
Semakin berkurang keluhan, otomatis hidup berumah tangga lebih aman dan bahagia. Sebab, sejak saya tidak mengeluh, otomatis suami juga tidak banyak mengeluh.[hn]
* Hartati Nurwijaya (41), adalah seorang pemerhati masalah sosial kemasyarakatan dan politik. Ia telah menerbitkan buku Perkawinan Antarbangsa Love and Shock dan Hidangan Favorit Ala Mediterania (Resep Sehat dan Awet Muda). Sejak 2003, alumnus Jurusan Sosiologi, Fisipol, UGM, Yogyakarta ini menetap di Yunani. Ia dapat dihubungi melalui email: tatia41[at]gmail[dot]com.
February 4th, 2009 at 11:19 am
Keluhan juga berakibat menurunkan semangat, membebani pikiran bahkan dapat memicu emosi. Karena itu sebaiknya dihindari semaksimal mungkin mengucapkan kata-kata atau kalimat yang bersifat keluhan, ganti dengan kalimat-kalimat saran terhadap situasi yang tidak diinginkan.
Menghindari keluhan dengan cara lebih banyak berbuat. Jangan hanya berharap orang lain berbuat sesuatu, kenapa bukan kita?